Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Cerpen Dynna Aslikhatul Kirom (Suara Merdeka, 04 Maret 2018) Bapak, sang Pembohong ilustrasi Suara Merdeka
Kau tahu, aku lupa berapa kali sudah mengajukan kata “kenapa” kepada
pria itu, pria paruh baya yang kusebut Bapak. Belasan? Puluhan? Ah,
tidak! Pasti sudah ratusan. Bahkan aku pun merasa, kali pertama yang
kuucapkan saat keluar dari rahim ibuku adalah kata itu. Kenapa?
“Pak, kenapa Bapak menatapku seperti itu?” ujarku sore itu.
Ia terkekeh renyah seperti biasa. “Karena matamu indah, Mbak,” ucap Bapak sambil terkekeh.
Kubiarkan saja. Luweh, batinku. Ya, hanya dalam batin. Mana berani aku mengatakan langsung pada Bapak. Bisa-bisa nanti dia kutuk jadi batu.
Aku memang terbiasa diam, bicara seperlunya jika Bapak enteng
menjawab kata “kenapa”. Dari ratusan orang yang kukenal, bapakkulah yang
paling ahli menjawab pertanyaan dari siapa pun, tanpa takut dan
kehabisan kata-kata. Bahkan aku berani bertaruh, ia bisa menjawab
pertanyaan rektor dengan enteng dan tanpa beban. Padahal, rektor paling
ditakuti oleh orang sekampus tempat dia mengajar sebagai dosen luar
biasa.
Tentu saja, jika tidak begitu, mana mungkin Bapak bisa mengenal
banyak orang dari berbagai kalangan. Jika bukan begitu, mana mungkin
temannya di Facebook mencapai 4.562—yang mungkin bisa bertambah
lagi. Orang yang ingin berteman, tak bisa mengajukan permintaan
pertemanan. Berbeda jika Bapak yang meminta lebih dahulu.
Bapak kembali menyeruput kopi. Begitu keras seruputan itu, hingga
terdengar jelas di telingaku. Ia memang sangat menyukai air hitam pekat
itu. Huek! Aku sampai malas membayangkan berapa liter air hitam yang
tergenang di lambung Bapak. Mungkin cacing di perut Bapak salah mengolah
makanan pokok. Bukan nasi, melainkan kopi. Ya, saking banyak kopi yang
Bapak minum setiap hari. Atau, bisa saja cacing-cacing itu telah berubah
menghitam karena terlalu sering berenang di kubangan kopi.
Sudahlah, namanya kesukaan. Siapa pula bisa melarang? Apa anak
perempuan semacamku memiliki daya melarang seorang pria yang jauh lebih
tua? Belum selesai aku menasihati, pasti sudah Bapak beri nasihat
sepuluh kali lipat lebih dahulu. Bukankah betapa pun Bapak memiliki
pengalaman hidup jauh lebih banyak ketimbang aku yang baru 13 tahun
menghirup udara di bumi? Walau itu sebenarnya tak ada hubungan dengan
bahaya terlalu sering meminum kopi.
Alasan terkuatku kenapa malas berdebat, karena Bapak jago berdebat.
Sebagai penulis, mana mungkin dia kesusahan merangkai kata-kata. Meski,
misalnya, hanya berdebat perkara sepele.
“Teman-teman Bapak yang baru saja datang menanyakan soal yang sama lagi lo, Mbak,” ucap Bapak tiba-tiba.
“Menapa, Pak?” tanyaku. Anggap saja itu pertanyaan formal. Ya, aku paham betul apa yang akan dia katakan.
Jemari keriputnya meraih sebuah buku. Itulah salah satu buku karya
Bapak yang sudah katam kubaca. Bapak membuka buku itu dan menunjuk satu
baris kalimat di daftar isi. Tepat pada judul cerpen kelima.
“Mereka bersemangat menanyakan kebenaran ‘Tamu dari Masa Lalu’.”
“Ya… dan Bapak pasti menjawab dengan jawaban yang sama bukan? Macam
waktu kutanya kali pertama,” sahutku. “Macam sewaktu kakak kelasku
menanyakan soal itu pada Bapak pas menjemput Mbak kan?”
“Lalu Mbak mau Bapak jawab apalagi?”
Aku hanya mengangkat kedua pundak.
“Tidak ada!” jawabku dalam hati. “Karena, Bapak memang pembohong ulung.”
Bapak memang pembohong, benar-benar pembohong. Dia punya banyak hal
sebagai objek kebohongan. Cerpen itu hanya satu di antara puluhan,
bahkan ratusan, tulisan Bapak yang merupakan kebohongan. Memang banyak
pula kebenaran dia katakan, dia wujudkan, tanpa kebohongan.
Bapak, misalnya, berkata akan menutup kedai kopi. Dan dia memang
melakukannya. Berani mengambil risiko, walau kedai itu merupakan salah
satu kedai yang cukup ramai di lingkungan ini. Lingkungan kami tinggal,
lingkungan kampus tempat Bapak mengajar. Tak jarang pula tamu-tamu jauh
dari kota atau luar kota berdatangan untuk mencicipi secangkir atau
bahkan hanya seteguk kopi di sana.
Seteguk? Ya, banyak orang datang ke kedai alih-alih membeli kopi,
sebenarnya bertujuan utama tak lain menemui Bapak. Itulah salah satu
dampak dari ulah Bapak sebagai pembohong besar.
Namun aku sangat menyayangi Bapak.
Bapak menutup kedai karena pertanyaanku tempo hari. “Kenapa Bapak tak punya banyak waktu untukku dan Adik?”
Hanya karena pertanyaan itu, kedai kopi fenomenal Bapak harus
berganti menjadi kios buah tak beraturan. Namun layaknya tsunami, meski
telah usai melanda, meski tempat yang terkena telah diperbaiki, momen
tsunami itu masih begitu terikat dalam memori orang yang menyaksikan.
Persis ulah Bapak, sang pembohong. Betapapun telah menutup kedai, Bapak
tetap mendapatkan ratusan tamu yang menjadi korban. Setiap hari selalu
ada orang datang, meski sekadar mampir.
“Masih mengira cerpen-cerpen Bapak kebohongan, Mbak?”
“Iyalah, Pak.”
“Mbak kan tahu, penulis tidak bisa menciptakan karya dari kebohongan? Semua itu dari fakta.”
“Fakta dengan kebenaran yang Bapak semukan!” sangkalku dalam hati.
“Mbak ingat coretan Bapak tentang bak kamar mandi?”
Ah, mana mungkin aku lupa. Itu berlebihan dan tak membuatku heran
setengah mati. Waktu itu, memang bak kamar mandi kami bocor. Dan Bapak enjoy saja membuat coretan kecil soal bak kamar mandi yang bocor itu. Heran!
“Becik ketitik ala ketara, Pak.”
Bapak tersenyum kembali. Entah menahan gemas atau hanya meledek atas
pendapatku yang menurut pendapat dia merupakan wujud ketidaktahuan.
Semua orang mengatakan Bapak hebat. Penulis! Ibu yang dulu kuliah di
jurusan bahasa menjadi korban Bapak setiap hari. Namun berbeda dariku,
Ibu menanggapi Bapak secara biasa-biasa saja. Malah Ibu kerap kali
membantu Bapak. Membantu menyikapi secara kritis karya Bapak.
Kau pasti bisa membayangkan bukan bagaimana aku dibesarkan dalam
lingkungan luar biasa ini? Lingkungan tempat Bapak dan Ibu begitu kompak
melakukan hal-hal semu dan palsu. Namun jangan salah. Ibuku beda. Dia
lebih suka jadi penikmat.
Hampir sama dengan coretan Bapak yang kubaca siang tadi. Coretan yang
sebenarnya ingin kupertanyakan saat ini. Di sana tertulis kisah cinta
mereka. Bapak menulis tentang pengejaran cintanya pada Ibu. Dulu,
berkali-kali Bapak datang ke rumah Ibu. Namun Ibu acuh tak acuh. Sering
pula Bapak meninggalkan secarik kertas berisi puisi cinta. Romantis
memang.
Namun melihat Bapak yang sekarang, dengan rangkaian ribuan kalimat
yang luar biasa, aku merasa Bapak jujur saat menulis cerita itu.
“Tumben tidak belajar di kamar, Mbak?”
Suara Ibu tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Ah, kebetulan Ibu datang!
Kuinterogasi saja. Kurasa Ibu lebih bisa menjadi sumber tepercaya
ketimbang sumber yang satu.
“Ingin menginterogasi seseorang.”
Ibu dan Bapak saling lirik. Aku meraih sebendel kertas, kuluruskan
lipatan-lipatannya dan kuletakkan di meja tepat di hadapan mereka.
“Bu, benar dulu Ibu jual mahal waktu Bapak berkali-kali ke rumah?”
“Tidak.”
“Benar Bapak sering menulis puisi cinta dan Ibu menikmatinya?”
“Puisi cinta? Tidak!”
Aku mendengus lirih, “Terakhir, Bu. Benar Ibu jatuh cinta lebih
dahulu pada Bapak dan karena itulah Ibu menunggu Bapak sekian lama?”
“Mana mungkin! Ibu menerima Bapak berawal dari kegeraman dan rasa kasihan, Mbak.”
Bapak yang sedang meneguk kopi tiba-tiba tersedak.
“Geram?”
“Karena Bapak mengganggu Ibu dan tak pernah bersikap romantis.”
“Kasihan?”
“Karena Bapak tidak laku-laku.”
Aku mendengus lagi. “Mbak tiba-tiba ngantuk.”
Aku berjalan ke kamar. Benar kan? Lagi-lagi kutemukan kebohongan
Bapak. Padahal, hampir saja aku percaya. Sudah kuduga, bapakku memang
pembohong. Kenapa? (44)
– Dynna Aslikhatul Kirom, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang
Cerpen Alim Musthafa (Media Indonesia, 11 Maret 2018) Senja yang Berguguran ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
“SORE ini, akan ada senja berguguran di Gunung Angin. Seperti tahun
lalu, pasti akan ada banyak pasangan kekasih yang berdatangan.” Begitu
kata beberapa warga yang tinggal di kaki gunung itu.
Royhan sebenarnya tidak ingin percaya dengan perkataan warga yang
tidak masuk akal itu. Tapi, mengingat gunung itu bisa menyajikan senja
dengan begitu dekat dan jelas, serta angin yang berkekuatan kencang,
bukan mustahil hal yang terdengar ganjil itu bisa terjadi. Apalagi momen
ini jatuh di penghujung Desember, kekuatan angin bisa berlipat-lipat
dari biasanya.
Namun, Royhan masih belum bisa berpikir, serupa apakah senja yang
berguguran itu? Apakah serupa salju yang mampu menutupi permukaan kota?
Atau serupa daun-daun menguning, yang jatuh perlahan, lalu hilang entah
ke mana? Atau bahkan serupa bulir-bulir cahaya yang bisa dipungut dan
dibawa pulang? Ah, ia tak mau berpikir lebih jauh, juga tak mau bertanya
pada siapa pun, bukankah lebih meyakinkan jika bisa menyaksikan dengan
mata kepala sendiri?
“Bersiaplah Izara, sebentar lagi kita akan berangkat!”
Royhan dan Izara tinggal di desa Pakandangan Barat, desa yang
terletak tepat di kaki Gunung Angin. Entahlah, kenapa warga bisa
menyebut gundukan tanah raksasa itu sebagai gunung. Padahal, sebenarnya
ia lebih pantas disebut bukit, mengingat ketinggiannya hanya mencapai
1500 meter dari permukaan laut. Tapi, Royhan tak mau mempermasalahkan
status gunung itu. Sebab, yang terpenting baginya, gunung itu bisa
memenuhi apa yang mereka butuhkan selama ini: senja yang selalu menyala
setiap sore hari.
Semula, Royhan dan Izara hanyalah sepasang pengembara, yang
berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain hanya untuk menemukan senja
yang bisa bertahan lebih lama. Hingga pada beberapa waktu, di musim
hujan, mereka benar-benar mengalami krisis senja. Setiap sore hari,
selalu saja ada mendung tebal yang menyelubungi langit barat hingga
senja tak terlihat mata. Sementara itu, ia mendapati tubuh Izara semakin
lemah, tak berdaya. Tapi ia terus membopong tubuhnya hingga bertemu
sepasang kekasih yang sepertinya juga menggemari senja.
“Pergilah ke Gunung Angin! Di sana kalian akan selalu menemukan senja
meski langit sedang mendung.” Begitu kata sepasang kekasih itu.
Maka, tanpa membuang-buang waktu, Royhan beserta Izara yang semakin
lemah itu pun pergi. Menyusuri jalan setapak, lembah, sungai, sampai
hutan tak bernama. Melewati pasar demi pasar, dusun demi dusun, hingga
mereka sampai di desa yang dimaksud setelah bertanya pada setiap orang
yang ditemui di jalan.
“Akhirnya, aku bisa menyelamatkanmu, Izara. Di sini, kita akan mampu
merawat kehidupan,” kata Royhan dengan mata berbinar-binar, meski
nafasnya masih tersengal-sengal, merasakan capek yang tak tertahankan.
Royhan dan Izara kemudian membuat tempat tinggal di antara
rumah-rumah warga. Hidup berbaur bersama mereka. Pergi ke pasar untuk
berbelanja sembako, berkunjung ke tetangga untuk meminjam perabot dapur.
Mereka pun bekerja serabutan untuk mendapatkan penghasilan. Menjadi
buruh tani yang menggarap ladang-ladang warga, menjadi buruh bangunan
saat kebetulan diajak tukang, atau menjadi nelayan saat musim ikan.
Oleh para warga, mereka pun dikenal sebagai orang baik dan ringan
tangan. Jika ada para tetangga yang menggelar kenduri, hajatan, atau
selamatan, mereka selalu datang membantu. Menegakkan terop, mengangkut sound system,
menggelar tikar untuk para undangan, dan menyiapkan hidangan ketika
ucara hampir usai. Mereka selalu membantu sahibul hajat cuma-cuma, tidak
mengambil upah dari pekerjaan mereka.
Namun, ada keanehan pada salah seorang dari mereka berdua. Setiap
kali mereka dihidangkan makanan di akhir acara, hanya Royhan yang
berkenan menyantapnya, sementara Izara memilih langsung pulang, tanpa
sedikit pun mencicipinya. Dan itu selalu mengundang tanda tanya di benak
para warga.
“Nak Royhan, kenapa kekasihmu selalu tidak pernah makan saat
dihidangkan makanan? Apakah masakan kami tidak pernah enak?” Begitu
tanya salah satu warga.
“ Maaf, bukan menolak, Bibi, hanya mungkin Izara masih kenyang. Ia
memang terbiasa makan di rumah sebelum bekerja di rumah orang.”
Royhan mencoba menutupnutupi keganjilan Izara, meski ia juga
bertanya-tanya heran, perempuan macam apakah kekasihnya sebenarnya:
tidak makan, tidak minum, dan hanya mencukupkan diri dengan melumuri
tubuhnya dengan berkas-berkas senja?
Mungkin, tidak pernah ada orang yang tahu bahwa Royhan menemukan
Izara di tepian Sungai Mingsoy saat menjelang magrib, setahun yang lalu.
Saat itu, ia hendak mandi di sana setelah pulang dari bekerja. Sungai
dalam keadaan sepi. Orang-orang sudah berada di rumah masing-masing.
Tapi tiba-tiba ia melihat seorang gadis duduk sendirian di atas hamparan
batu. Gadis itu terlihat menangis. Tapi Royhan tak berani mendekat.
Sungai Mingsoy yang merupakan sungai terbesar di Madura memang kerap
menyajikan hal-hal aneh. Beberapa kali Royhan mendengar permainan
kecipak air, tangisan bayi, dan canda-tawa perempuan yang sedang mandi.
Tapi begitu diintip dari balik rimbun semak-semak di tepian sungai,
ternyata tidak ada siapa pun dan hanya air yang mengalir dengan tenang.
Dan di sore yang segera tenggelam itu, apa yang ia lihat benar-benar
kenyataan, benar-benar perempuan. Setelah mengintipnya cukup lama,
barulah ia keluar dan mendekati gadis itu dengan perasaan yang
dikuat-kuatkan.
Royhan mencoba menegur gadis itu, tapi gadis itu tak pernah perduli
dan malah terus menangis, hingga ia pun kebingungan. Ia lantas hanya
mengamati sekujur tubuh gadis itu. Dari warna kulitnya yang tampak
kuning keemasan, ia curiga gadis itu bukan macam gadis pada umumnya.
Mungkinkah perempuan jadi-jadian yang hendak mengusik pemudapemuda desa?
Atau mungkin seorang bidadari yang turun dari kahyangan, mandi di
sungai ini, lalu ditinggalkan oleh yang lain? Namun, hingga cerita ini
usai, gadis itu tak pernah sudi memberitahu asal-usulnya.
Royhan lantas membawa gadis itu ke gubuknya. Ia memang hanya tinggal
sendirian. Istrinya meninggal bersama anaknya saat melahirkan. Sementara
kedua orangtuanya juga meninggal karena kecelakaan. Gubuk reot itu
terpencil dari rumah-rumah penduduk. Oleh karenanya, ia tidak khawatir
ketahuan penduduk bahwa ia sedang tinggal berduaan dengan seorang gadis
tanpa ikatan pernikahan.
Selama beberapa hari, gadis itu tak pernah dikeluarkan dan dipamerkan
pada tetangga. Di gubuk itu, telah Royhan sediakan makanan-makanan ala
kadarnya. Tapi Royhan justru kebingungan saat tahu makanan-makanan itu
tetap utuh, tak berkurang sedikit pun. Dan dari sanalah gadis itu mulai
berbicara.
“Aku tak butuh makanan, Mas. Aku hanya butuh senja.”
Maka, untuk menghindari fitnah, Royhan lantas membawa gadis itu ke
kediaman Pak RT, lalu meminta dinikahkan dengan saksi beberapa tetangga.
Tetangga-tetangga yang hadir merasa takjub akan keberadaannya yang
ganjil.
“Seperti bukan gadis biasa.”
“Betul, jangan-jangan jelmaan bidadari.”
“Tapi, dari manakah dia berasal?”
Ketika dihadapkan pada pertanyaan begitu, mereka mendadak bungkam.
Sebab, Royhan sendiri tak mampu menjawab. Semenatara gadis itu lebih
memilih diam atau menghindar.
Sejak hari itu, Royhan melayani Izara dengan baik. Mengantarnya ke
tempat senja, lalu ia melumuri tubuhnya dengan berkas-berkas senja
hingga kembali segar. Tak lupa Royhan juga mengisi buntalan bawaannya
untuk persediaan esok paginya, saat hendak pulang.
***
Setelah mendaki lereng dengan susah payah, akhirnya Royhan dan Izara
sampai di puncak Gunung Angin. Di sana, senja masih belum menyala dengan
sempurna. Tapi pasangan-pasangan kekasih sudah menjejali permukaan
gunung yang penuh batu besar dan tajam. Pasangan-pasangan kekasih itu
sudah mengambil tempat di mana senja bisa dilihat begitu dekat dan
jelas. Maka, terpaksa Royhan dan Izara mengalah. Mereka berdua mendapat
tempat paling jauh di belakang.
Di sore-sore biasa, Gunung Angin memang sudah menjadi tempat favorit
pasangan-pasangan kekasih menghabiskan kebersamaan. Mereka bercanda-tawa
sepuasnya. Saling menggombal, saling mencubit, lalu saling menyandarkan
tubuh saat bosan. Tapi, begitu senja menyala dengan sempurna, mereka
mendadak terdiam, tenggelam dalam romantisme yang dalam.
Senja yang menyala sudah mendekati sempurna. Royhan sepertinya sudah
tidak sabar menunggu. Ia semakin beringsut, merapat ke sisi
pasangan-pasangan yang berangkulan. Sementara Izara tetap diam terpaku
dengan raut wajah yang sukar digambarkan.
“Izara, kemarilah! Sebentar lagi senja sempurna. Dan kita akan
saksikan, bagaimana indahnya senja yang berguguran itu,” teriak Royahan.
Belum sempat Izara menjawab, tiba-tiba angin berhembus sangat
kencang. Di langit Gunung Angin yang tampak begitu dekat, senja
bergelantungan dengan jelas, berayun-ayun, terpecah-pecah, lalu gugur
perlahan seperti daun-daun yang kemilau. Setiap kali guguran senja itu
menyentuh tanah, mendadak menjelma kunang-kunang, lalu terbang menghiasi
langit Gunung Angin yang mulai petang. Semua pasangan kekasih terbuai
takjub, tak tekecuali Royhan.
Namun, ketakjuban Royhan mendadak berhenti begitu ia menolah ke
belakang. Di sana tubuh Izara juga berguguran. Dan ia hendak meraihnya,
tapi terlambat, gugurannya keburu menjelma kunang-kunang.
Karduluk, 2018
Alim Musthafa tinggal di Sumenep. Alumnus
PBA di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Gulukguluk. Sehari-hari ia
menerjemah dan menulis puisi dan cerpen.
Cerpen Ongky Arista UA (Republika, 11 Maret 2018) Kakek Tidak Akan Mati ilustrasi Rendra Purnama/RepublikaKakekmu tidak akan mati, kata nenek.
***
Sejak kanak-kanak, aku sudah percaya bahwa semua manusia akan mati
tanpa terkecuali. Mula-mula aku percaya karena ustaz di tempatku mengaji
selalu berbicara soal kematian. Mati, akan mati, dan sungguh manusia
akan mati.
Kemudian, kepercayaanku bertambah seratus kali lipat saat ibu
meninggal di depanku–saat umurku belum genap tujuh tahun–karena penyakit
yang tidak diketahui. Dua tahun sebelumnya, bapakku meninggal karena
tenggelam di laut saat menangkap ikan, dan aku tak sempat melihat
jasadnya sampai detik ini.
Jadi, aku merasa perlu protes pada nenek. Ya, kutahu, kakek memang belum mati, tapi dia akan mati. Pasti. Pasti akan mati.
“Mengapa nenek begitu percaya kalau kakek tidak akan mati?” Aku
bertanya pada nenek di dapur, saat nenek sedang menumbuk kopi untuk
lelakinya yang tidak akan mati.
“Tanya pada kakekmu. Dia yang bilang kalau dirinya tidak akan mati,” kata nenek.
“Apa nenek percaya?”
“Jelas percaya, cong (anak muda). Kakek mu tidak pernah berbohong pada nenek.”
“Tapi, mengapa ibu dan bapak meninggal?” Tanyaku lagi. Tanya untuk sekadar memulai protes.
“Tanya pada kakekmu.”
Sungguh pun nenek percaya, seharusnya nenek tidak perlu percaya
segala hal pada kakek, apalagi soal kematian. Lagi pula, kematian itu
bukan urusan manusia. Apa mungkin ada orang yang benar-benar paham atas
sesuatu yang bukan urusannya sendiri?
“Sejak kapan kakek bilang dirinya tidak akan mati?” Aku kembali bertanya setelah beberapa detik kepala tercenung-cenung.
“Sejak pertama kali pacaran di sebuah taman kampus.”
“Bagaimana bisa nenek percaya?” Aku terus bertanya meski ingin bertanya hal lain. Apakah dulu nenek masih kacapok (termasuk di dalamnya) ke era pacaran di taman-taman kampus?
“Karena kakekmu mengucapkan itu bersamaan dengan ikrar setia cintanya
pada nenek. Bagaimana nenek tidak percaya? Kakekmu setia, dan pasti
nenek percaya dia tidak akan mati.”
Kepercayaan sepertinya bukan lagi soal apa yang benar. Nenek begitu
percaya bukan karena manusia tidak akan mati, tapi karena cinta yang
mungkin mendekam jiwanya, dan kemudian seperti mengharuskan dirinya
untuk percaya begitu saja. Percaya pada hal yang semestinya tidak
dipercaya.
Kakek sudah beberapa kali masuk rumah sakit. Nenek masih
tenang-tenang saja. Bahkan, dirinya beberapa kali tidak ikut mengantar
kakek berobat ke rumah sakit. Kata nenek masih sama, kakek tidak akan
mati. Apakah kakek adalah manusia berbeda dengan ibuku dan bapakku yang
mungkin tiada akan pernah mati? Tapi, ayah yang lebih dahulu meninggal
adalah keturunan kakek. Apakah benar, atau apakah mungkin, kakek
benar-benar tidak akan mati?
***
Di suatu pagi, kakek berada di depan surau, di sebuah lencak (ranjang
tempat duduk) bambu persegi empat yang cukup untuk menampung tiga
hingga empat orang tubuh manusia. Dia duduk bersila dengan kopi,
tembakau racik, kertas rokok, dan sabuk jimat yang biasa dia kenakan.
Konon, sabuk itu yang membuat kakek kebal kematian. Aku menghampirinya,
mengulang masa seperti ketika masih kanak-kanak.
Pohon kedondong di depan kakek sesekali menyemburkan angin. Beberapa
lipat daun gugur, sebagian hinggap di lencak kita duduk. Burung-burung
pagi berkicau seolah senang dirinya masih hidup dan dapat menikmati
matahari berbau pagi. Aku dan kakek duduk bersila dekat berse belahan.
Sesekali kubenamkan mata dengan khusyuk ke tubuh kakek. Matanya sudah
tidak normal melihat dan telinganya juga sama, tidak normal mendengar.
Wajah kakek sudah keriput seperti disepuh waktu. Apakah waktu bisa
menyepuh tubuh manusia menjadi tua? Lipatan keriput itu terlihat jelas
di tubuhnya. Daging-daging seperti hanya sebuah kain bagi tulangnya.
Pipinya membentuk lesung yang bukan lesung pipi.
Jika kupandang kakek, aku seperti sedang memandang tengkorak di
sebuah laboratorium, atau seperti tubuh manusia yang dironsen, tampak
tulang-tulangnya. Dalam hati aku yakin, kakek akan mati. Walau tidak
akan mati dua tahun lagi, kuyakin akan mati. Tak mungkin masih dua ratus
tahun lagi. Tapi yang pasti, kakek akan pasti mati. Entah kapan.
Tanpa kutunggu waktu lebih lama, aku bertanya pada kakek soal
kematian dirinya yang katanya tiada akan pernah datang. Dia hendak
menyulut rokoknya, kubantu menyalakan koreknya.
“Kakek, apakah kakek tidak akan menemui ajal?”
Aku hanya berpikir, semoga pertanyaan ini tidak terkesan seperti
sedang menyuruh kakek segera mati dan menemui janji umurnya. Kuulangi
pertanyaan itu beberapa kali setelah kupikir kakek tidak mendengar
tanyaku. Nenek-nenek tiba-tiba datang, ikut duduk di lencak.
“Ya, aku tidak akan mati.”
“Bagaimana bisa kakek tidak akan mati jika waktu semakin menyepuh tubuh kakek?”
Tanpa berbicara panjang apakah manusia akan mati atau tidak, melihat
tubuh kakek saja yang kian hari kian sepuh, aku sudah sangat yakin bahwa
akan datang kematian bagi dirinya. Mungkin tak akan la ma lagi. Lalu,
bagaimana jadinya jika tidak ada kematian pada tubuh yang semakin
disepuh waktu seperti kakek? Atau, bagaimana kakek akan bertahan hidup
dengan kondisi tubuh sangat sepuh?
“Dengan begini,” kata kakek.
Aku melempar pandangan ke arahnya, ke seluruh lekuk tubuhnya. Aku tak
paham. Kakek tidak memulai gerak apa-apa atau menjelaskan kata-katanya
lebih lanjut.
“Maksud kakek?”
“Selama aku masih bisa berkata aku tidak mati, maka aku tidak akan mati.”
Aku merasa dipermainkan oleh kata-kata kakek. Kutahu, itu jawaban
yang tak lebih dari sekadar permainan kata. Bukan itu yang kumaksud.
Nenek yang berada di sampingku tak menyambung sepatah kata pun, hanya
menuangkan kopi dari cerek ke cangkir milik kakek yang sudah hampir
habis.
“Apakah kakek sungguh yakin tidak akan mati?”
“Tidak! Tidak akan. Aku sudah lama menunggu kematian dan nyatanya
tidak pernah datang. Aku yakin, kematian tidak akan pernah datang
untukku.”
Dunia tiba-tiba terkesiap. Lamunan-lamunan seperti sedang dijeda oleh
sesuatu yang tak tergambar jelas. Daun kedondong berlipat-lipat gugur
memenuhi lencak. Pagi dan kicauan burung seperti hilang. Angin
yang bertiup seolah-oleh lenyap seperti dihalang sebuah tembok besar.
Kakek tiba-tiba kehilangan napasnya, tubuhnya lemas seperti tiada lagi
tulang di dalamnya.
Kakek meninggal. Nenek menjerit-jerit seperti jeritan anak kecil saat
kakinya terjepit roda sepeda yang dikendarianya, tersentak-sentak
jeritnya. Sepertinya, malaikat maut sudah dari tadi ikut bersama kita di
lencak bambu ini atau di atas dahan pohon kedondong sambil menahan
angin dengan kaki terjuntai tepat di atas ubun-ubun kakek.
Dan kematian bukan lagi tentang manusia yang dapat bertahan hidup
atau tidak, tentang keyakinan atau tidak, umur tua atau tidak dan bukan
pula soal menunggu waktu atau tidak, tetapi kematian adalah soal
kepastian yang tak begitu tepat dipastikan–oleh siapa pun–kapan akan
benar-benar datang atau kapan akan benar-benar tidak datang.
Aku tak dapat melanjutkan protesku pada nenek. Kakek telah menemui
ajalnya. Kupikir akan ada sesak dalam dada nenek yang mungkin tiada
pernah terhingga sebab dirinya merasa telah dibohongi oleh kakek.
Kakekmu tidak akan mati, kata nenek. Dan kini, nenek benar-benar
dibohongi.
Apa yang mungkin terlimpah jatuh ke dalam dada nenek, apakah
kesedihan karena dibohongi atau kesedihan karena kema tian? Dan aku, apa
yang paling membanggakan dari protes yang telah menemui kepastian,
apakah kepastian kematian kakek atau kepastian tentang nenek yang telah
dibohongi kakek? Apa yang pasti dari protes dan kepercayaan yang
diprotes?
“Hanya satu kepastian, semua akan kembali pada yang Satu.”
Lahir 23 tahun yang lalu, di Desa Banbaru, Giliraje-Sumenep bernama lengkap Ongki Arista Ujang Arisandi, tepatnya pada 24 Juli 1994. Bernama pena; Ongky Arista UA Domisili di Desa Somalang-Pakong, Dusun Barat RT 001/RW 001 Kab. Pamekasan. Beberapa cerpennya tersiar di Media Indonesia, Radar Surabaya, Riau Pos, Banjarmasin Pos, Nusantaranews.co, dan Haluan. Aktif sebagai mentor di Komunitas Menulis Cerpen di Ponpes Nurul Islam Karangcempaka-Sumenep.
Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 11 Maret 2018) Seraphim ilustrasi Budiono/Jawa Pos“MEREKA datang. Mereka sudah datang,” bisik Suralim
seraya beringsut, memiringkan tubuhnya seperti orang jijik akan sesuatu.
Liar matanya menelusuri kemungkinan jejak di dinding atau di keremangan
yang bukan diciptakan oleh lampu redup di kamar ini.
Perempuan di sisinya tersentak bangun.
“Mereka siapa?” tanyanya cemas.
Suralim buru-buru menaikkan telunjuk dan menempelkan ke bibirnya. Ia
mendesis, meminta perempuan di sisinya itu hening sejenak. Matanya tetap
liar dan berputar-putar aneh, telinganya seperti berusaha menangkap
suara.
Saripah bingung di sisi suaminya. “Mereka siapa?” ulangnya.
Wajah Suralim mengeras. “Bayangan-bayangan hitam dan kata-kata.”
Perempuan di sisi lelaki itu mendadak murung. Saripah sedih. Seperti
malam-malam sebelumnya, tidur Suralim terus terteror oleh sesuatu yang
tak bisa ia lihat.
#1
Saripah tak pernah mempersoalkan bagaimana cara Suralim mendapatkan
semua tempe yang kini tersimpan di lemari. Suaminya itu terus saja
meributkan tingginya harga kedelai. Saripah juga kadang tak peduli jika
suaminya tak mandi berhari-hari dan aroma ketiaknya memenuhi rumah kecil
ini. Tak pernah ada rahasia yang berhasil mereka simpan atau rahasia
yang pergi diam-diam dari rumah petak 42 meter persegi berdinding
semitembok ini.
Dinding yang selalu tak berhasil meredam lenguhan Neneng, tetangga
rumah sebelah, saat didatangi Suryono. Dinding yang juga kerap mengirim
tangis perempuan itu saat ditempeleng oleh lelaki yang sama. “Ia tak
suka sarapan singkong rebus,” isak Neneng esok paginya, tentang alasan
Suryono menamparnya.
Suryono memang bejat. Lelaki itu suka sekali memukuli perempuan.
Padahal, Neneng hanya kekasihnya belaka. Ia kerap datang saat larut,
lalu menginjak paha Neneng yang sedang terlelap. Belum lagi usai geriap
mata perempuan itu, Neneng sudah ia paksa agar membuka kakinya. Tetapi
pagi-pagi, Neneng sudah menangis.
“Mana si Suryono?” tanya Suralim.
“Sudah pergi,” tukas Neneng.
“Kau diapakan?”
“Ia menempelengku lagi.”
“Kenapa lagi dia itu?”
“Ia tak suka saat aku menolak membersihkan muntahan mabuknya.”
Suralim benci melihat Neneng diperlakukan begitu. Ia kemudian
mengomel, mengomentari nasib perempuan tetangganya itu. Dua hal yang
sering membuat Suralim mengomel: saat perempuan itu melenguhkan gairah
dan saat ia menangisi tubuhnya yang dipukuli Suryono.
“Aku akan senang sekali jika nasib Suryono berakhir dalam koper di tempat sampah dan aku membaca tentang itu di halaman koran.”
“Bukankah kau tak suka baca koran?” tanya Saripah.
Suralim mengangguk cepat. “Ya. Walau aku tak suka baca koran.”
Itu keinginan paling mengejutkan dari Suralim selama mereka berumah tangga.
#2
Saat Saripah pulang dari pabrik, tak ditemuinya Suralim. Entah ke
mana suaminya itu. Baru menjelang magrib, Saripah melihat suaminya
melenggang masuk rumah. Suralim mendengus saat istrinya bertanya ke mana
ia seharian ini.
“Mana ada sayur impor yang tak berpengawet. Tahan berminggu-minggu tak busuk dan orang-orang membeli karena harganya murah. Huh, itu tak sehat. Kita semua sedang diracuni,” Suralim mengomel lagi.
Ia seharian di pasar impres. Akibat kenaikan harga BBM, tomat lokal
hilang dari lapak sayur, katanya. Kubis Vietnam Cuma 2.000 rupiah per
ikat. “Gila itu! Petani di sini mana bisa memberi harga seperti itu.
Rugi. Rugiii…!” omelnya.
Saat Saripah datang mengantarkan kopi, Suralim masih sibuk
menjelaskan hitungannya. Harga kubis itu tak masuk akal, rutuknya. Tentu
saja kubis dihargai murah begitu jika pemerintah membebaskan ongkos
impornya. Suralim menduga, harga dasar kubis impor itu tak kurang dari
500 rupiah saja.
“Sebaiknya kau pergi mandi,” saran Saripah.
“Sebentar lagi.”
“Kau tadi memanggul kol busuk!”
“Kol lokal mudah busuk karena tak berpengawet,” sergah Suralim.
“Kau dibayar berapa memikulnya ke pembuangan di belakang pasar?”
“5.000 rupiah per karung.”
Saripah menutup hidungnya. “Mandilah. Baumu sudah persis kol-kol busuk itu.”
Suralim mengendus bau ketiaknya sendiri. Ia sambar handuk dan menuju kamar mandi.
#3
Selain mencemaskan si Neneng, kenaikan BBM dan harga-harga sayuran
lokal di pasar impres, Suralim juga masih sering berteriak malam-malam.
Mimpi yang sama selalu datang meneror tidurnya dan itu membuat istrinya
ikut gusar.
Setiap kali Saripah membangunkannya, wajah Suralim seperti orang
linglung. Tubuhnya mandi peluh. Jika dihitung-hitung, kamar kecil mereka
di rumah petak ini sudah mengumpulkan banyak sekali cerita. Suralim
mengoleksinya hampir tiap malam.
Berkali-kali Suralim harus minta maaf pada istrinya. Malam ini ia
mimpi buruk lagi. Suralim duduk sambil menekuk kaki ke dada, gemetar
ketakutan di ujung ranjang. Wajahnya pias seperti mayat. “Seraphim…!”
desis Suralim.
Jika sudah begitu, Saripah kasihan sekali padanya. “Hah?”
“Mereka mengepung kota-kota dan membakar orang-orang…”
“Hah?”
Suralim mendekat dan bicara pelan di dekat wajah istrinya. “Tubuh
para Seraphim itu menyala-nyala. Orang-orang belum pernah menemui
makhluk cerdas sekaligus penipu seperti mereka. Orang-orang yang
mengikuti, mereka bakar dengan kata-kata. Kau ingat ceritaku tentang
Patmos?”
“Patmos?” Saripah makin bingung.
“Ya. Patmos. Berwujud kerbau, elang, singa, dan manusia.
Masing-masing memiliki empat sayap. Empat makhluk jahat itu dari sebuah
pulau kecil. Tapi mereka sudah di sini.”
Saripah tak tahu seserius apa mimpi-mimpi itu bagi suaminya. Suralim bukan seorang pengidap achluophobia.
Sebagai istri, Saripah bisa memastikannya. “Sudahlah. Tidurlah lagi.
Aku sudah berkali-kali bilang padamu agar tak mengudap ubi rambat
sebelum tidur. Tadi kau menelan apa?”
“Cuma aspirin.”
“Dasar kepala batu! Kau benar-benar keras kepala.”
Pagi harinya, mimpi yang menakutkan semalam itu seperti menguap tanpa
bekas dari benaknya. Tetapi Suralim tetap mengerutu. Ia tak menemukan
berita tentang nasib Suryono di koran pagi ini.
#4
Pulang dari pasar hari ini, Suralim menggerutu dengan hebat.
“Kau ini kenapa lagi?” tanya istrinya.
“Menteri blusukan ke pasar. Ia bertanya macam-macam pada pedagang,
bicara yang tak jelas soal mekanisme pasar global pada pedagang sayur
dan ikan.”
“Baguslah itu,” sergah Saripah.
Langsung bengkok mulut Suralim, “Bagus apanya!? Sebelum ia datang dan
setelah ia pergi pun harga-harga sayur masih tak berubah. Tetap tinggi.
Apanya yang bagus itu?”
“Pasti menteri beli sesuatu dari pedagang, kan?”
Suralim menggeleng. “Mana ada menteri yang belanja sayur dan ikan.”
“Berarti yang belanja ibu menteri, kan?”
Raut muka Suralim langsung kusam. “Jangan mimpi! Orang-orang di pasar
nyaris mengiranya wartawan. Ia ke sana-kemari sibuk memotret dengan
kamera besar. Kalau saja tak dikelilingi polisi, ia tak beda dengan juru
foto amatiran yang ikut berkerumun di sana.”
Orang-orang memang sudah meragukan si menteri. Banyak sekali kasus
besar dikabarkan dari kantornya. Menteri yang suka mengeluh pada
wartawan tentang setiap lekukan, sudut ruangan, bunga-bunga yang ia
curigai telah dipasangai penyadap oleh petugas dari komisi anti korupsi.
Menteri itu pernah murka, saat seorang petani tua tak sengaja lewat
di dekat panggung kehormatan di acara yang ia hadiri. Saripah
mendengarkan kejengkelan Suralim, seraya bilang itu wajar, lalu mengutip
sejarah Anwar Sadat yang tewas ditembak dalam sebuah parade militer. Ia
sambung dengan kisah tentang Mahatma Gandhi yang dibunuh seorang lelaki
karena dianggap terlalu memihak golongan tertentu. Saripah juga
mengingatkan suaminya pada nasib John Lennon yang terkapar mati di luar
apartemennya karena kegilaan seorang penggemar fanatik.
Tetapi, sebanyak itupun Saripah memberi contoh, tetap saja Suralim
mengasihani petani tua yang pasti ketakutan setengah mati dan
mengencingi celananya saat ditanyai para polisi. Wajah Suralim mendadak
serius. “Ripah, ingatkah kau tentang Seraphim yang datang di
mimpimimpiku?”
Istrinya mengangguk.
“Aku benar. Sudah kubilang mereka di sini sekarang. Tadi mereka
kulihat ada di pasar. Mereka mengelilingi menteri, tertawa bersama
menteri dan sibuk menjelaskan apa saja pada menteri.”
#5
Seperti pagi sebelumnya, Suralim masih menyukai harapan buruknya
terhadap nasib Suryono. Tetapi di koran pagi tak ia temukan berita
tragis tentang lelaki itu di koran hari ini. Suralim lalu gegas mandi
sebelum pergi setelah sarapan pisang goreng dan segelas kopi.
Saat Saripah ke teras hendak menggantung jemuran, didapatinya Neneng yang sedang menyapu. “Mana Suryono?” tanya Saripah.
“Sudah berhari-hari ia tak ke sini,” jawab perempuan itu tenang. Saripah senang melihat wajah Neneng yang berseri-seri.
Hampir malam, saat Suralim tergesa memasuki rumah dengan koran di
tangannya. Pada Saripah, ia tunjukkan berita yang sukar ia percayai. Di
koran sore, di halaman kota, bersandingan kolom dengan berita
menteri-menteri yang blusukan, ada berita-foto tentang mayat lelaki yang
ditemukan dalam koper di tempat pembuangan sampah. Menurut saksi, koper
itu dibuang seseorang dua hari lalu dan polisi sudah menangkap pelaku
di tempatnya bekerja.
Suralim membanting koran ke meja. “Seharusnya lelaki bejat itu mati di koran pagi,” gerutunya, “Bukan di koran sore!” ***
Molenvliet, Januari 2018
Ilham Q. Moehiddin. Satiris, menggemari Ambrose Bierce Gwinnett. Menulis banyak cerpen.
Jangan fokus sama kerjaan melulu. Enjoy your life, cari pacar, jalan. (hlm. 32)
eberapa kalimat favorit dalam buku ini:
Di balik laki-laki hebat, selalu ada perempuan-perempuan hebat. (hlm. 158)
Sabar ya, rezeki mah nggak kemana. (hlm. 221)
Cinta tidak bisa memilih. Kalau mau tahu, cinta itu bukan dilihat, tapi dirasakan. (hlm. 231)
Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:
Kuliah semester akhir dan bergelut sama skripsi bikin stress. Dosen
susah banget dimintain ACC, ada aja yang kurang. Tanda baca salah satu
doang, langsung ngambek. Boro-boro dibaca selanjutnya. Padahal tinggal
sedikit lagi, bisa langsung ke kesimpulan. (hlm. 15)
Bandung yang dulu bukanlah yang sekarang. (hlm. 21)
Namanya juga mahasiswa, yang gratisan selalu terasa istimewa. (hlm. 22)
Udah lah, resign aja kalau memang enggak betah kerja di sana. (hlm. 26)
Udah sayang-sayangnya, jalan ke mana-mana bareng, apa-apa saling bayarin, ujungnya putus. (hlm. 32)
Barang kan bermanfaat kalau dipakai, kalau dipajang gini nggak ada manfaatnya. (hlm. 46)
Dibandingin sama Kendall. Siapa pun kebanting, lah, kalau dibandingin sama dia mah. (hlm. 49)
Mana ada laki-laki normal yang sama sekali enggak pernah pacaran dengan serius seumur hidupnya? (hlm. 51)
Ngapain dipacarin kalau nggak suka? (hlm. 51)
Penting mana kesehatan dan nyawa lo kalau dibandingin sama duit? (hlm. 53)
Murah amat harga diri lo ya? Permen yupi gini udah bisa bikin lo senyum. (hlm. 63)
Gue nggak bisa bohog, takut kualat. (hlm. 76)
Dasar laki-laki! Enggak ada peka-pekanya! (hlm. 103)
Gue beneran salut sama betis cewek yang kuat berdiri lama buat belanja. (hlm. 107)
Mending diajak nikah muda. Biar nggak banyak dosa. (hlm. 141)
Apa sedang banyak orang yang lagi cemburu hari ini sehingga mereka butuh jus untuk mendinginkan hati? (hlm. 154)
Barang baru terasa berharga kalau udah hilang atau direbut orang. (hlm. 160)
Orang marah rentan kehilangan akalnya, dan memungkinkan dia untuk melakukan hal-hal di luar batas. (hlm. 180)
Cerpen Jemmy Piran (Koran Tempo, 10-11 Maret 2018) Harin Botan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Wanita beraroma kerang, apa kamu masih menunggu saya dalam laut?
Berdiri di bibir pantai ini sambil memandang pada kejauhan, bayangan
perempuan itu memenuhi kepala saya. Pertemuan pertama, secara tidak
sengaja itu, masih saya rahasiakan dari sesama teman penyelam. Memang
sudah saya pikirkan, saya tetap merahasiakan dari mereka. Karena, jika
saya menceritakan, mungkin sekali mereka akan memilih berhenti menjadi
penyelam. Memilih bercocok tanam untuk menyambung hidup, barangkali.
Atau memilih pekerjaan selain menjadi penembak ikan. Atau, jika saya
bercerita, mereka akan menuduh saya tidak beres. Mereka sendiri belum
tentu menerima kenyataan bahwa ada perempuan cantik yang selalu saya
temui setiap kali turun menyelam. Di dalam laut di hadapan saya inilah
segala cerita tentang pertemuan, percintaan, dan perayaan pernikahan
yang meriah telah berlangsung. Semua tetap rahasia dan akan tetap saya
rahasiakan dari siapa pun.
Hasrat saya selalu membuncah setiap menelusuri kedalaman laut
dangkal, karena di sana saya berjumpa dengan perempuan itu. Yang berdagu
tirus dan berbibir lembap beraroma agar-agar ketika saya telusuri
dengan ciuman. Aroma asin selalu membuat saya ingin kembali dan
membiarkan kepalanya bersandar di dada ringkih saya. Atau membiarkan
bibirnya menghunjam sekujur tubuh saya dengan hasrat yang penuh. Tapi,
kini, laut di hadapan saya ini bagai bara dan, ketika saya menyentuhnya,
tubuh saya panas.
***
Mula-mula saya tertegun oleh sekelabat bayang yang melintas cepat.
Dada saya bergetar, dan saya tidak bisa memastikan. Semuanya kembali
seperti biasa. Saya kembali ke permukaan laut. Mengelap kacamata selam
yang sudah tampak tua dan kabur, lantas kembali meluncur ke bawah dengan
cepat. Saya memburu seekor ikan kakap yang terlepas dari mata panah.
Saya menelusuri sisi batu dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Jika
sekelebat ikan dengan gesit berlari menghindar, saya pastikan, tidak
pernah bisa terlepas dari bidikan. Saya belum bisa tenang jika ikan yang
pernah terlepas dari mata panah saya belum menemukan ajalnya di ujung
tombak ini lagi.
Sebagai lelaki yang sudah lama menyelam, saya tahu bagaimana cara
mengambil sudut terbaik untuk membidik seekor ikan yang berada di bawah
terumbu karang. Itulah sebabnya mengapa jiwa ikan selalu berakhir di
tangan saya.
Tapi, ada satu hal aneh yang sampai sekarang belum saya pahami. Bahwa
sepertinya ikan dengan suka rela menyerahkan nyawanya tanpa harus
bersusah memburunya dengan terburu-buru. Semakin ke sini, ikan-ikan
tidak lagi menghindar, malah justru semakin berkitaran di sekitar saya.
Dan, tak sampai sejam, tali sepanjang sedepa sudah penuh dengan
ikan-ikan kakap. Saya tidak bersusah payah mengejar ikan. Atas dasar
itulah hasrat saya selalu membuncah untuk turun ke laut. Dan, melihat
tangkapan saya selalu melimpah, warga lantas menyandar gelar baru untuk
saya sebagai penembak sejati.
Pada suatu petang, saat matahari tenggelam dalam genggaman awan. Saat
memanah ikan terakhir, sebelum saya kembali ke permukaan untuk
mengambil napas, seorang perempuan berdiri di sisi batu, menatap saya.
Saya terkejut. Jantung saya bergetar hebat. Saya mengumpulkan
kekuatan pada kaki, lalu dengan satu hentakan, saya mengambang ke
permukaan. Saya tidak percaya.
Setelah mengambil napas, saya menenggelamkan kepala ke dalam laut. Ia
masih berdiri di sana, menatap saya dan memberikan sebuah senyuman.
Menawan sekali. Saya percaya, siapa pun akan luluh dan bersedia bertekuk
lutut pada kecantikannya.
Begitu saja ia merentangkan tangannya, seperti hendak mengundang saya
agar mendekat. Saya merasa seperti ditarik oleh sebuah kekuatan mistis,
dan begitu saja diluar kendali, saya berenang ke arahnya. Saat saya
hendak mencapainya, ia berenang menjauh, bersembunyi di balik batu,
melongokkan kepala, lalu memberikan senyum yang begitu menawan. Senyuman
mengundang.
Saya mengejarnya. Ia semakin gesit menghindar.
Ia menghilang di balik batu. Saya putus asa, dan hendak kembali ke
permukaan, dari arah belakang ada tangan mungil, lembut, menangkap dan
memeluk saya. Rambutnya beraroma kerang. Wangi yang menenteramkan.
“Dapat kau,” bisiknya dekat daun telinga. Ia tertawa. Saya bergidik.
Tangan saya langsung memegang tangannya. Ia semakin erat memeluk saya.
“Siapa kamu?”
“Kekasihmu.” Tanpa beban ia berujar. Saya agak terkejut, tapi bisa
menguasai diri. Sebelum saya menyeringai, ia sudah mencium saya. Lelaki
mana yang bisa menolak sebuah ciuman dari wanita asing yang berparas
menawan? Wanita yang seolah siap menyerahkan dirinya dengan utuh untuk
dijamah. Saya membalas ciumannya dengan rasa gugup.
Setelah ciuman panjang, ia berujar manja, “Apa kamu mencintaiku?”
“Saya mencintaimu.”
“Apa kamu percaya bahwa ada sesosok makhluk yang menjaga segala
sesuatu di dalam laut? Katakan saja seperti ini, dia yang mengendalikan
alam dalam air. Hmm, ya, semacam makhluk tak kasatmata.”
Saya berpikir sejenak. “Antara percaya dan tidak, Nona. O, ya, kita
belum berkenalan, nama kamu siapa? Apa saya panggil dengan sebutan nona
saja?”
“La Calca. Rerata nama kami di sini menggunakan nama ilmiah. Dari nama Latin.”
“Nama yang manis.”
Kami terdiam cukup lama. Saya tidak tahu apa yang ia pikirkan. Saya hanya diam dan sesekali menatapnya.
“Saya ingin memperkenalkan kamu ke orang tua.”
Usai berkata demikian, ia menggandeng tangan saya, lalu kami berenang
dan terus berenang. Sesekali saya menoleh ke belakang dan menemukan
segerombolan ikan mengikuti kami dari belakang. Ikan-ikan itu tampak
bahagia.
“Apa yang mereka inginkan dari kita?” tanya saya sambil menunjuk ke arah ikan di belakang.
“Mereka bahagia karena kehadiran kita,” ia berkata tapi seperti ada
yang tidak selesai dalam nada kalimatnya. Saya tidak sempat bertanya
lagi karena sudah memasuki sebuah gerbang. Di sisi kiri dan kanan
gerbang, para penjaga menghormat takzim begitu kami lewat. Mereka
menyambut kami dengan wajah berbinar.
Begitu pintu dibukakan, seorang lelaki dan perempuan duduk manis di
atas takhta, menyambut kami. Dari pancaran wajah, saya menduga mereka
sudah mengetahui kedatangan kami. Sang lelaki segera turun dan
merentangkan tangannya. Kami berpelukan, dan begitu juga dengan sang
wanita.
Kami cepat akrab dengan obrolan-obrolan tentang ikan-ikan yang berada
di dalam laut. Sang lelaki mengisahkan kepada saya tentang
perburuannya. Ia pernah menjadi seorang pemukat dan pernah dibenci oleh
orang-orang hanya karena tangkapannya selalu melimpah. Tapi ia tidak
pernah membenci orang-orang yang menaruh benci terhadap dirinya. Dengan
dada terluka karena cacian warga, ia masih sempat menjelaskan kepada
mereka bahwa menangkap ikan itu tidak hanya menggunakan ilmu
pengetahuan, tetapi juga harus memanfaatkan warisan turun-temurun.
Usai bercerita, saya dan La Calca berkeliling. Saya sangat takjub
dengan tata ruang di tempat ini. Dengan singkat kata bisa dikatakan
seperti ini: segala yang ada, yang tampak kasatmata adalah sebuah
perpaduan yang memanjakan mata.
“Sepertinya kamu harus kembali dulu,” ujarnya.
“Ikutlah bersama saya.”
“Nanti ada waktunya saya akan ikut bersama kamu, Sayang.”
Sepertinya ia tak ingin melepaskan saya, ia cemberut. Tapi cepat ia menguasai diri agar terlihat biasa.
“Besok saya menunggu kamu di sini.”
***
Sejak pertemuan dalam laut yang tidak pernah saya duga itu, saya
merasa ada keterikatan penuh dengan laut. Ketika saya berada di darat,
saya merasa ia seperti terus mengikuti ke mana langkah bergegas. Dan,
setiap kali turun menyelam, saya selalu bertemu dengan wanita itu. Ia
selalu menunggu saya di tempat kami bertemu pertama kali.
Ia senang menemani saya menembak ikan. Dan, yang paling saya senang
dari kehadirannya di sisi saya adalah ikan-ikan seperti begitu jinak. Ia
hanya merentangkan tangan maka segerombolan ikan akan mengitari kami.
Lalu selanjutnya ia akan menyuruh saya memilih untuk menembak ikan yang
mana.
Sesekali ia mengajak saya berkeliling ke tempat-tempat yang belum
pernah saya singgahi. Ia selalu berhasil memenangkan hati saya dengan
keindahan bawah laut. Bahkan pernah saya tinggal bersamanya beberapa
hari. Kami dibiarkan tidur bersama oleh orang tuanya.
Di tanjung, kami duduk berdua sambil memandang senja yang kuning
berkilauan. Saya tidak tahu di mana tepatnya kami saat ini. Tapi, yang
pastinya ini bukan dunia khayalan karena saya bisa mendengar dengan
jelas debur ombak di bawah sana. Sebelum matahari tenggelam tadi bisa
saya rasakan hangatnya.
La Calca melirik ke arah saya, kemudian memandang jauh ke depan,
mendesah, seolah-olah ia seperti sedang menanggung beban yang amat
berat. Setelah diam beberapa saat, ia menarik lengan saya lebih
mendekat.
“Apa yang kamu pikirkan?”
Ia menarik napas panjang, mengembuskan, lalu bertanya, “Apa kamu percaya bahwa dalam hidup ada kebetulan?”
Saya menggangguk tapi ragu.
“Kamu tidak ingin hidup di sini? Maksudnya bersama kami dalam laut.”
Saya tercengang mendengar pertanyaannya. Kenapa sekarang ia meminta
saya tinggal bersamanya di dalam laut? Kenapa? Apa karena kami telah
menikah? Sebelum menemukan jawaban, ia sudah memandang ke arah mata
saya. Lama sekali. Saya juga memandangnya. Dan saya menemukan sesuatu
dalam liang matanya. Mata yang sarat dengan luka.
“Ceritalah apa yang ingin kamu bagikan.”
Sekali lagi ia menarik napas, mengembus ke arah wajah saya.
“Saya tidak percaya akan adanya kebetulan. Perjumpaan kita bukan
kebetulan. Sejak dulu leluhurmu selalu memerhatikan kehidupan kami di
sini. Dan, itu membuat kami cukup bahagia dan tetap melimpahi
berkah-berkah dari laut untuk kehidupan mereka. Tapi, setelah generasi
leluhurmu berlalu, perlahan-lahan orang-orang mulai melupakan kami. Itu
menyedihkan.
“Dan, mungkin ini kedengaran kejam: kamu adalah hadiah atas
keserakahan orang-orang terhadap laut. Itu sebabnya kenapa saya berkata
perjumpaan kita bukan kebetulan. Pernikahan kita adalah perayaan
terbesar yang pernah terjadi karena kamu adalah satu-satunya orang yang
bersedia dengan tulus untuk dinikahkan dengan putri dari ayah saya.”
Ia memberi jeda, menelan ludah.
“Apa kamu tahu siapa saya?”
“Tahu.”
“Lantas?”
“Saya tidak peduli. Saya sudah membutakan dan menulikan mata dan
telinga. Kalau kamu berkenan, kita pergi ke kampung, tinggal di sana.”
“Dunia kita tetap berbeda.”
“Bukankah kita sudah menikah?”
“Kita hanya terikat secara jiwa. Saatnya nanti, jiwamu yang telah
diikatkan itu akan menyatu kembali dengan tubuhmu. Mau tidak mau, kamu
akan meninggalkan sanak kerabat di kampung dan akan bergabung bersama
kami di sini.
“Kami sudah melakukan pertemuan akbar membicarakanmu. Dalam pertemuan
itu mereka menghendaki agar kamu menjadi seperti yang mereka inginkan.
Saya keberatan. Saya meyakinkan mereka bahwa saya bisa berbicara
baik-baik, mengajakmu kemari dan tinggal bersama kami selamanya. Tanpa
harus membuat dirimu terseret arus, atau tali membelit sekujur tubuhmu,
atau menenggelamkan tubuhmu dalam gulungan ombak sampai kamu meregang
nyawa. Mereka setuju dengan usulan saya. Dan, mereka menawarkan segala
kenyamanan untuk kamu. Kamu hanya perlu hilang selama-lamanya dari
kehidupan di kampungmu, dari rutinitasmu sebagai manusia yang
membosankan itu.”
Ia menggenggam tangan saya. Saya menatap matanya, tapi pikiran saya
mengambang. Saya mengusap matanya karena matanya berair. Mungkin
perasaan haru menyergap dirinya.
“Apa kamu tidak ingin hidup dan tinggal bersama kami?”
Sekali lagi saya menatap matanya. Saya temukan ada sesuatu yang pasti
dari sorot matanya. Seperti sesuatu yang bisa membebaskan jiwa saya
dari segala keterikatan. Di ujung bisu saya mengangguk pasti.
Setelah menghilang dua hari dari kampung dan ditemukan kembali oleh
salah seorang warga di dalam tubuh pohon bakau, rumor langsung beredar.
Mereka terang-terangan mengatakan bahwa jiwa saya telah “diikat” oleh
harin botan. Saya tidak menjawab.
Tetua di kampung langsung melakukan ritual pembebasan jiwa saya dan
menangkal agar saya dijauhi dari segala pengaruh. Saya hanya diam. Saya
tahu mereka tidak bisa mengembalikan jiwa saya. Mereka membuang semua
peralatan menyelam milik saya.
Kini, saya tidak lagi melaut karena hamparan laut di depan saya
terlihat bagai bara dan terasa panas saat disentuh. Tapi, hasrat untuk
datang ke pantai ini selalu membuncah, mengalahkan larangan itu. Walau
mereka sudah menangkal dengan ritual-ritual yang tiap bulan dilarungkan
ke laut, saya yakin ia, kekasih saya, akan membawa saya ke dunianya,
dunia bawah air. Sebuah dunia yang tidak perlu menuntut saya untuk
bekerja lebih keras karena semuanya telah disediakan. Bagaimana juga,
suatu saat saya akan ke sana, sebab mereka telah mengikat jiwa saya.
“Apakah ritual yang mereka lakukan membuat jalanmu kepada saya untuk
bertemu di pantai ini secara diam-diam telah tertutup? Jangan khawatir,
saya akan menemuimu dengan cara apa pun, bukan hanya karena kita telah
terikat, tapi sebagai hadiah agar orang-orang saya tahu bahwa ada
kehidupan lain dalam air, yang selalu menjaga keseimbangan laut.”
Wanita beraroma kerang, apa kamu masih menunggu saya dalam laut?
Waimana I, September 2017
Catatan: Harin Botan: makhluk penjaga laut yang berwujud perempuan cantik.
Jemmy Piran lahir di
Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI Universitas Nusa Cendana,
Kupang. Beberapa tulisannya, puisi dan cerpen, tersiar di sejumlah
media. Kini ia tinggal di Waimana 1, Larantuka, Flores, Nusa Tenggara
Timur.