Daftar Blog Saya

Selasa, 06 Maret 2018

Siang Bersama Lana


Cerpen Yulina Trihaningsih (Jawa Pos, 04 Maret 2018)
Siang Bersama Lana ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Siang Bersama Lana ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
APA yang bisa kuingat tentang Lana, selain ia cantik, ceria, dan hangat seperti matahari pukul tujuh? Mungkin, kesadaran bahwa aku bisa begitu merasa terintimidasi—dan karenanya sangat mudah membenci—bila berada di dekatnya.
Atau, mungkin juga, tentang secuil rasa rindu yang secara tak masuk akal bermain-main di pikiranku saat kami tak bersama. Segala hal tentang Lana serupa paradoks. Dan hampir saja aku terbiasa menjalani hidupku yang tenang, jauh dari gelombang yang memorak-porandakan, ketika pesan WA-nya masuk ke ponselku. Dan duniaku kacau balau sekali lagi.
Ini Lana. Berhenti bersembunyi dariku, San. Aku datang menemui ibumu dan sudah memegang alamatmu. Satu-satunya alasan mengapa aku mengirim pesan ini, alih-alih meneleponmu langsung, karena aku takut kau akan langsung menutup telepon bila mendengar suaraku. (Kau tahu, aku sulit menerima penolakan.) Jadi, sambutlah aku di rumahmu. Sabtu, 23 September. Mungkin siang. Aku tak bisa memastikan jam berapa. Kuharap kau tidak melarikan diri.
Saat aku masih berusaha mencerna pesan itu, pesan berikutnya kembali masuk.
Sudah TUJUH tahun, San. (Siapa tahu kau pikun atau amnesia.)
Bahkan setelah tujuh tahun, tetap saja ia mampu mengintimidasi. Tubuhku mulai dingin. Aku memutuskan menelepon ibuku.
“Maafkan Ibu, San. Tapi, Ibu pikir, Lana benar. Sudah waktunya kalian tersambung kembali. Bagaimana jika suatu hari kalian berpapasan di jalan dan tidak saling mengenali?”
Aku tak peduli. Bila itu terjadi, aku sungguh-sungguh tak peduli. Bukankah memang itu yang membuatku meneguhkan hati untuk keluar dari Jakarta dan menetap di kota kecil ini? Menghindari dan menutup setiap akses pertemuan dengan Lana.
Anehnya, Sabtu pagi tanggal 23 September, aku berlari ke pasar untuk membeli seikat sedap malam seharga sepuluh ribu dari nenek penjual bunga langgananku. Ia memberiku bonus setangkai sedap malam yang tak mampu kutolak. Cucunya, seorang pemuda tegap yang baru saja menurunkan puluhan ikatan besar sedap malam dari pick up yang terparkir di depan kios bunga, tersenyum padaku. Pipiku menghangat. Tanpa membalas senyumannya, aku berlalu cepat meninggalkan kios yang menguarkan aroma yang mengingatkanku akan kisah dongeng dan keajaiban di belakangku.
Lana akan datang. Dan aku menemukan diriku bersusah payah merapikan rumah dan memasak untuknya. Aku ingat, Lana selalu menyukai sup ikan patin segar, karenanya, itu yang kuhasilkan di dapurku. Ruang makan terlihat cerah setelah aku memasang taplak meja baru bermotif kotak-kotak merah yang kubeli di sebuah toko online beberapa waktu yang lalu.
Ruang tamuku pun terlihat putih, bersih, serta beraroma sedap malam yang berkumpul di vas bunga tembaga di sudut ruangan. Aku merapikan ikatan tirai di sisi kanan jendela yang terlihat tidak sama tinggi dengan yang kiri. Aku juga mengelap setitik debu di permukaan meja kaca yang sudah kugosok hingga mengilap sehari sebelumnya. Aku, pada akhirnya, juga menggeser lukisan langit malam yang sedikit miring, yang kusadari sudah mengganggu perasaanku sejak lama. Menjelang tengah hari, aku menatap seluruh bagian rumahku dalam desahan puas.
Sungguh menyedihkan. Di hadapan Lana, rasa percaya diriku tak pernah cukup.
Dalam gaun krem halus, panjang sebetis dan bermotif bunga-bunga kecil, aku duduk di ruang tamu menghitung waktu. Angin yang menyelinap masuk dari jendela mengalir di antara helai-helai rambutku. Dinginnya menembus ke dalam pakaian hingga menyentuh kulitku yang tak bisa melemas menanti kehadiran Lana. Aku melirik langit yang terlihat cerah namun tidak terik karena awan putih tebal yang menggantung serupa hiasan dinding.
Saat sedang mengamati semua itu, ujung mataku menangkap bayangan becak yang berhenti di depan pagar. Tak berapa lama, dalam langkah-langkah lebar penuh percaya diri, seorang perempuan, tinggi dan langsing dalam balutan jeans dan kemeja putih, memasuki halaman rumahku. Aku tak perlu menunggu tamuku mengetuk atau membunyikan bel untuk membuka pintu. Dalam keheningan yang membawa kenangan masa lalu, kami berdiri tegak saling berhadapan.
Tak ada yang berubah tentang Lana. Ia masih (selalu) cantik, ceria, dan sehangat matahari pukul tujuh. Dengan senyum lebar, ia merentangkan kedua tangan, lalu membawa tubuh kami merapat selama beberapa saat.
“Coba kulihat,” ia melepaskan pelukannya untuk menatap wajahku lekat. “Sandra yang manis, lembut, dan feminin. Bahkan parfummu tak pernah berubah.”
Ia mengendus di dekat tubuhku. Reflek, aku mundur selangkah menghindarinya. Mata Lana bersinar, dan ia tertawa kecil.
“Apakah kau menyemprotkan parfummu ke seluruh ruangan?”
“Tidak. Buat apa aku melakukannya?” Aku menatapnya sedikit jengkel. “Itu hanya sedap malam.”
Mata Lana membesar. Terkesan saat menemukan tangkai-tangkai sedap malam di sudut ruangan.
“Keretamu terlambat. Dan mendengar suara perutmu, aku yakin kau belum mengisinya dengan makanan sejak pagi tadi.”
“Kau salah. Aku sudah makan sekantong keripik.”
Aku percaya.
***
Usai makan siang yang sepi, kami kembali pindah ke ruang tamu. Duduk berhadapan sambil menikmati angin yang masuk lewat pintu yang kubiarkan terbuka lebar.
“Kau senang di sini? Sendirian. Jauh dari ibumu. Jauh dari keluarga.”
“Aku dan ibuku sudah terbiasa berpisah sejak aku berumur tujuh tahun, kuyakin kau tak ingat bagian itu. Senang? Tidak. Aku bahagia.”
Lana memiringkan kepala, seperti berpikir. “Aku selalu iri padamu, San. Kau memutuskan pilihanpilihan sulit dalam hidupmu sesuai kata hatimu. Meskipun, kau tahu risikonya. Kau tak pernah takut berkonflik dengan keluargamu, mereka yang peduli padamu.”
Aku meremas pinggiran gaunku. Kata-kata Lana seakan menjelaskan dengan terang, bahwa di dalam duniaku, yang kupedulikan hanyalah diriku sendiri. Mungkin benar. Tapi, aku memiliki alasan untuk itu. Bagiku, tak ada lagi yang tersisa, ketika orang-orang di sekitarku—keluargaku—menganggap dan memperlakukanku sebagai seseorang yang berada di luar lingkaran. Serupa orang asing yang tak ingin mereka kenal.
“Tak perlu iri,” suaraku serak. “Kau bisa mencobanya juga. Tak ada yang menahanmu, kecuali dirimu sendiri.”
Lana menggeleng kuat. “Aku berbeda denganmu! Sejak kecil, ibuku yang selalu menentukan arah hidupku. Apa yang boleh dan tak boleh kulakukan. Warna dan jenis pakaian di lemari. Model rambutku. Pilihan jurusan kuliah. Bahkan, pria yang akan kunikahi. Kau tentu tahu hidup seperti apa yang kujalani.”
Tanpa sadar, aku memejamkan mata. Tahu, percakapan ini harus aku hadapi pada akhirnya. Dalam keheningan, ingatanku berputar ke satu masa yang serupa titik hitam kecil dalam peta hidupku. Hari ketika aku meninggalkan rumah yang biasa memelukku untuk masuk ke sebuah rumah asing yang terasa dingin karena jarak yang memisahkanku dengan ibuku. Aku tak pernah tahu, kehilangan yang paling menyakitkan adalah kehilangan rasa aman, saat kau selalu mencemaskan apa yang akan terjadi keesokan hari.
“Ayo kita jalan-jalan mencari es krim, Sandra. Hari ini, usiamu tujuh tahun,” ujar ayahku di pagi itu. Ia datang setelah lama menghilang, lalu membawaku pergi dengan mobilnya. Tiba-tiba saja, aku terbangun ketika menyadari mesin mobil berhenti. Keheningan yang ganjil, dan langit dipenuhi warna merah tembaga. Lalu, kegelapan merayap cepat di sekitarku. Tangan dan mulutku lengket karena es krim yang kumakan. Dan di hadapanku menjulang rumah yang bukan rumahku.
“Sekarang, ini rumahmu,” ayahku menegaskan. Ia membawaku masuk dan memberiku pemandangan lain.
“Ini Bunda. Dan Lana.”
Ingatan itu membuatku tersentak, menarik kesadaranku kembali. Aku membuka mata dengan cepat, dan mendapati wajah Lana yang sedang menatapku tajam.
“Aku selalu berpikir, kapan tepatnya kau mulai menghilang dari kehidupan kami. Bukan tujuh tahun yang lalu, pastinya. Tapi, jauh sebelum itu. Sejak kau lulus SMA dan memilih kuliah di Malang, kau hampir-hampir tak pernah pulang. Selama ini aku coba melanjutkan hidup. Mencari jawaban mengapa kau pergi. Menyesali beberapa hal yang tak kuubah segera selagi aku bisa.”
“Memangnya apa yang ingin kau ubah?” sergahku, mendadak berdebar.
Lana tak langsung menjawab.
“Kau percaya karma, San?”
Tubuhku kaku. Namun, aku tidak berkomentar apa pun.
“Saat kau pertama kali datang saat aku berusia lima tahun, ibuku berkata bahwa kau adalah kakak yang akan selalu menemani dan mengasuhku. Tentu saja aku sangat senang. Saat itu, aku selalu percaya ucapan ibuku. Kau tentu masih ingat, bagaimana aku selalu bergantung padamu. Mengikuti ke mana pun kau pergi. Merecokimu. Meminta ini dan itu. Tapi, kau selalu sabar menuruti semua keinginanku. Kau tak pernah mengeluh dan memarahiku. Hingga, setelah akalku cukup untuk memahami, aku sadar ada sesuatu yang salah.”
Kata-kata Lana seperti cerita dongeng yang memenuhi kepalaku. Tak bisa kucegah, semua peristiwa masa lalu itu kembali hadir mengusik perasaan..
“Kau harus bersikap baik pada Lana. Turuti semua permintaannya. Jangan membuatnya sedih atau marah. Mungkin, dengan begitu, ayahmu akan mengizinkanmu untuk bertemu ibumu lagi. Mungkin, suatu hari nanti ia akan mengantarmu kembali.”
“Ayahmu kini sudah tiada. Ibumu pun sudah pindah dan tak bisa dihubungi. Kau tak bisa bertemu lagi dengannya, Sandra. Kami keluargamu saat ini. Tak perlu mengatakan apa pun tentang pembicaraan kita pada Lana.”
“Lana mencintai pria itu. Biarkan ia bahagia. Jantungnya yang bocor selalu membuatnya lemah. Kau tahu itu, kan? Menjauhlah dari mereka.”
Suara isakan keras menyelusup ke telingaku. Di hadapanku, segala keceriaan dan kehangatan yang kuingat dari Lana menghilang. Lana terlihat begitu rapuh. Seperti daun kering yang akan seketika luruh dalam genggaman.
“Oh, Sandra. Aku berdosa padamu. Dan juga ibumu.”
“Kau tak mengerti apa yang kau bicarakan, Lana!” Hanya amarah yang mampu menahan air mataku jatuh.
“Biar kujelaskan sejauh mana aku mengerti! Ibuku datang dan masuk dalam kehidupan keluargamu. Lalu, aku lahir. Begitu kecil, biru, dan sakit-sakitan. Ibumu melepaskan ayahmu untuk kami. Lalu, ayahmu juga mengambilmu dari ibumu. Ibuku menjadikanmu orang yang selalu bisa menjagaku. Selalu bisa kusuruh, selalu bisa ia suruh. Ya, Tuhan, setiap memikirkan hal itu, dadaku sempit dan jantungku berdebar kencang. Dan yang paling membuatku sakit…’’
“Hentikan, Lana!” ujarku cepat, meringis ngilu melihat wajahnya yang pucat.
“Aku tahu Reka mencintaimu. Tapi, dengan tak tahu malu, aku menawarkan diriku padanya. Kau ingat kalimat itu? Sisters are different flowers from the same garden. Mungkin kau serupa sedap malam yang lembut dan harum, tapi aku adalah bunga matahari yang harus menemukan cahaya untuk arah tujuanku. Dan, saat itu, Rekalah cahaya itu. Meski, kutahu, ia menerimaku lebih karena kasihan, mengingat mendiang adik perempuannya memiliki kondisi jantung yang sama sepertiku. Aku memanipulasi perasaannya. Memanfaatkannya. Tapi, aku tak peduli. Aku mencintainya. Atau, aku pikir, aku mencintainya. Saat kau pergi dengan hanya mengabarkan bahwa temanmu menawarimu pekerjaan di perkebunannya yang entah ada di mana, aku bahkan bersyukur. Tapi, kau pasti tahu, Tuhan tidak pernah tidur.”
Mata kami bertemu. Mungkin, Lana tak pernah tahu cerita bagianku. Reka sangat mengerti, aku teramat yakin dengan perasaanku. Ia sahabat Lana sejak SMP, dan aku selalu menganggapnya teman yang baik. Adik yang baik. Setelah ibu Lana secara terang-terangan memintaku menjauh, aku pergi dan berniat mencari ibuku. Aku hanya bisa mengingat nama kota kecil yang terasa dekat di hati dan pikiran. Aku berkunjung ke sana, menyusuri jalan-jalannya. Mengumpulkan ingatan masa kecilku satu per satu. Lalu, atas izin-Nya, menemukan kembali rumah tempat aku menerima cinta dan kehangatan ibuku. Betul ibuku telah pindah. Namun, walau melewati jalan yang berputar, aku bisa menemukannya lagi.
“Sesuatu terjadi menjelang hari pernikahanku. Semacam kesadaran yang datang terlambat. Bahwa aku tak mau menjalani hidupku dengan mengandalkan rasa kasihan orang lain. Aku membatalkan pernikahanku. Kau tahu, San, Reka lebih terlihat lega dibandingkan menyesal. Ia melanjutkan rencana studinya ke Inggris. Ibuku terguncang, tentu saja. Ia tak bisa menerimanya, dan terus sakit di sisa hidupnya. Setelah ibuku tiada, aku baru membaca buku catatan yang ia tulis untukku. Semua rahasianya. Bahkan, alamat ibumu yang ia sembunyikan darimu sejak dulu.”
Mata Lana semakin basah. “Maafkan aku, San. Tolong, ampuni juga ibuku. Aku seperti sedang menerima hukumanku. Mengapa hingga kini aku selalu jatuh cinta dan dicintai oleh pria yang salah? Pria-pria yang telah berkomitmen di hadapan Tuhan. Aku tak mau menjalani hidup seperti ibuku, San!”
Aku termenung. Mencoba memahami perasaanku sendiri. Berbeda dengan Lana, aku justru sulit merasakan cinta. Kesendirian dan rasa sakit di hati ibuku seperti tanda permanen yang juga tercetak di hatiku. Saat teman kuliahku menawarkan pekerjaan di perkebunan sedap malam milik keluarganya, aku menerimanya lebih karena keingintahuanku pada apa yang harus kuhadapi. Pada tanah, sinar matahari, tangkai-tangkai hijau berbunga putih, dan aroma serupa negeri dongeng dan keajaiban. Aku kenal baik dengan orang tuanya. Dengan neneknya yang selalu setia menunggu kios bunganya di pasar. Dan saat ia mengutarakan perasaannya padaku, hatiku terasa beku. Membuatku tak nyaman dan ingin segera berlari meninggalkan tempat itu.
Lalu, aku menatap Lana. Adikku. Mata kami mungkin menyorotkan hal yang sama. Bahwa kami adalah perempuan-perempuan yang hidup dalam kesepian. ***

Pasuruan, Agustus-November 2017
Yulina Trihaningsih, lahir di Jakarta, 22 Juli 1978. Ibu dua putra dan satu putri ini menamatkan kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dari peminatan kesehatan reproduksi. Sangat suka menulis kisah romantis, inspiratif, hingga cerita anak yang manis.

Senin, 05 Maret 2018

Kutipan Second Chance Series: Revenge

Ada banyak hal baik di depanmu, tapi kamu selalu memikirkan hal-hal yang menggerogotimu dari dalam. (hlm. 95)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Ternyata kesempatan kedua itu benar-benar ada. (hlm. 43)
  2. Jatuh cinta selalu diikuti lahirnya harapan-harapan. (hlm. 58)
  3. Lakukan hal-hal menyenangkan. Jangan mikir hal-hal aneh seperti balas dendam. (hlm. 97)
  4. Bukannya perubahan itu penting ya untuk hidup yang lebih baik? (hlm. 132)
  5. Selalu ada cara untuk memperbaikinya kan? (hlm. 177)
  6. Selalu ada saat pertama untuk segala hal. (hlm. 208)
  7. Hanya kamu yang bisa membantu dirimu sendiri. (hlm. 272)
  8. Setiap kejadian selalu ada sisi positifnya. (hlm. 277)
  9. Jalan hidup mirip sungai. Mengalir ke percabangan yang berbeda-beda. Kita hanya bisa mengikuti arus, atau tenggelam karena berusaha melewatinya. (hlm. 323)
Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Mati lebih baik, daripada hidup jadi pecundang. (hlm. 36)
  2. Siapa di dunia ini yang nggak pernah sakit hati? (hlm. 94)
  3. Balas dendam, bahkan cuma dengan memikirkannya saja, membuat energimu habis. (hlm. 96)
  4. Yang pertama selalu jadi yang tersulit. Begitu kau mampu melakukannya, yang kedua akan jauh teramat sangat mudah. (hlm. 109)
  5. Keajaiban bekerja dengan cara misterius. Yang kita pikir kita bisa kendalikan, ternyata mengendalikan kita. (hlm. 134)
  6. Kenapa sih harus takut kelihata single? (hlm. 137)
  7. Single belum tentu nggak bahagia. (hlm. 137)
  8. Jatuh cinta membabi buta akan membuatmu benar-benar buta. (hlm. 170)
  9. Kamu lagi cinta-cintanya dengan dia, mana mau mendengarkan. (hlm. 176)
  10. Memang unik, mimpi itu. Kadang indah. Kadang buruk. Lebih sering tidak ada artinya. Tetapi, ada kalanya, mimpi itu berarti segala-galanya. (hlm. 183)
  11. Apa pun yang kita minta akan selalu kembali kepada kita. (hlm. 265)
  12. Berhentilah menghidupkan kenangan. (hlm. 301)
  13. Orang yang marah, dendam, sakit hati, bisa melakukan apa saja. (hlm. 305)
  14. Kalau jodoh, pasti jadi milik. Kalau bukan jodoh, tidak bisa dipaksa. (hlm. 332)

Terbongkar

Cerpen Mustofa W Hasyim (Kedaulatan Rakyat, 04 Maret 2018)
Terbongkar ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Terbongkar ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
TERJADI percakapan sengit di antara dua karyawan teras perusahaan yang baru saja mendapat direktur baru. Siang hari. Saat istiharat. Mereka sengaja mencari restoran serba ikan yang agak jauh dari kantor. Tujuannya agar apa yang mereka percakapkan tidak terdengar oleh orang lain.
“Apakah dia punya waktu untuk mengurus perusahaan ini?”
“Tidak. Dia hanya punya nafsu.”
“Nafsu apa?”
“Nafsu berkuasa.”
“Apakah dia mampu?”
“Tidak. Tapi dia mau, sangat mau.”
“Apakah dia punya teman atau sahabat yang cerdas dan ikhlas yang dapat dimintai pendapatnya?”
“Tidak punya. Hidupnya menyendiri.”
“Lantas apa dia punya konsep mengelola perusahaan ini?
“Saya belum pernah mendengar itu. Hanya dia pernah bilang, zaman ini uang segalanya. Dia bisa memesan konsep mengelola perusahaan dari siapa pun. Yang penting, semua berjalan lancar. Melaju.”
“Tapi yang menyiapkan konsep itu belum paham sejarah dan karakter perusahaan ini.”
“Sejarah dan karakter tidak penting?
“Lantas yang penting apa?”
“Dia berkuasa. Lantas segalanya berjalan seperti biasa.”
“Kau kok tahu sampai serinci ini sih?”
“Saya kan teman dia sejak kecil. Teman sejak sekolah menengah.”
“Kalau begitu kau aman.”
“Belum tentu juga.”
“Kok belum tentu? Dia kan juga mengenalmu sebagaimana kau mengenalnya.”
“Ya. Tapi kadang dia suka berubah-ubah pikiran.”
Percakapan terhenti. Yang satu tersenyum simpul. Yang satunya heran, kenapa temannya malah tersenyum seperti itu.
“Kenapa kau tersenyum, padahal aku pusing memikirkan rumitnya masalah ini.”
“Tenang, tenang. Kau tadi bilang teman sejak kecil dan dia suka berubah pikiran. Itu dapat kau manfaatkan untuk mengubah situasi.”
“Mengubah situasi yang seperti apa maksudmu?”
“Sebentar. Dia suka makan apa?”
“Lho kok malah percakapan bergeser ke makan segala.”
“Sebentar. Sabar. Dia paling suka makan apa sih?”
“Sate. Segala macam sate dia suka.”
“Nah, bilang padanya kalau kau mau mengundang dia makan sate yang paling enak di kota ini. Bilang kalau kau mentraktir dia untuk merayakan ulang tahunmu. Nah saat makan sate itulah kau harus bisa mengubah pikirannya.”
“Maksudmu?”
“Kau bilang saja padanya, bahwa ada posisi yang lebih mulia dan kerjanya lebih ringan dibanding menjadi direktur perusahaan. Yaitu menjadi komisaris utama.”
“Tapi,masalahnya, komisaris utama sekarang dipegang ayah boss kita ini.”
“Kalau dia yang meminta kedudukan itu, pasti ayahnya akan setuju. Kalau perlu kau yang membujuk ayahnya itu.”
Teman yang teman direktur sejak kecil itu mulai paham dengan alur pikiran temannya. Hanya dia yang belum paham akan langkah selanjutnya. Kalau direktur itu menjadi komisaris. Siapa penggantinya?
“Pasti kedudukan direktur itu akan jatuh ke tanganmu. Karena kau berjasa mengangkat temanmu jadi komisaris dan karena ayahnya tahu kau temannya sejak kecil, apalagi di perusahaan tempat kita bekerja ini, kau adalah karyawan paling senior. Ayahnya sudah mengenalmu dan tahu prestasimu di kantor kita ini.”
Sambil mengangguk-angguk bahagia lelaki calon direktur itu berkata, “Mudah-mudahan begitu.”
“Ya, mudah-mudahan begitu. Saya yakin perusahaan tempat kita bekerja ini akan lebih selamat kau pegang ketimbang dia pegang.”
Tiga bulan setelah itu terjadilah apa yang mereka harapkan. Direktur baru itu naik menjadi komisaris, dan temannya menjadi direktur baru. Saat temannya yang memberi gagasan segar itu masuk ruangan untuk memberi ucapan selamat, sang direktur baru menjabat tangannya lalu menyerahkan map dan amplop berisi uang yang sangat banyak.
“Lho, ada apa ini?”
“Saya terpaksa memecatmu dan memberimu pesangon.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu rencana busukmu selanjutnya. Kau dan ayah temanku itu kan punya dua rencana sekaligus. Temanku akan dibuang ke Jakarta untuk menjadi komisaris perusahaan baru ayahnya. Dan aku akan diangkat jadi komisaris. Lantas, kau yang diplot jadi direktur baru kantor ini.”
Teman itu pucat. Tanyanya, “Kau kok tahu?”
“Karena pemilik warung serba ikan itu adikku. Dia memergokimu ketemu ayah temanku setelah kita ketemu disana. Waktu kau dan ayah temanku merancang skenario untuk mengangkatmu sebagai direktur dan membuang aku di kursi komisaris, adikku sempat merekam percakapanmu itu. Dia lalu memberikan rekaman percakapanmu dan ayah temanku itu padaku. Gimana? Masih mau membantah?”
Lelaki itu diam. Dia mengambil map dan uang dalam amplop. Pergi tanpa pamit. n-e

Yogyakarta, 2018

Kisah Kera pada Minggu Pagi

Cerpen Jemmy Piran (Haluan, 04 Maret 2018)
Kisah Kera pada Minggu Pagi ilustrasi Haluan.jpg
Kisah Kera pada Minggu Pagi ilustrasi Haluan 
Menatap ladang jagung yang selama ini ia bersihkan dari rumput-rumput liar, membuat dada Teus geram. Jagung muda yang siap dipanen rebah ke tanah. Kulit-kulit jagung berhamburan ke tanah. Tongkol-tongkol jagung yang masih tertempel beberapa biji jagung mengingatkannya pada cerita Tonu Wujo Besi Pare.
Gerahamnya beradu. Darahnya mendidih.
“Sial,” umpatnya. “Kau tunggu.”
Teus memutar badan, kembali ke jalan yang mengarah ke kampung. Kadang di tanah datar ia berlari kecil, Joli dan Mimo, anjingnya nguik-nguik di belakang. Ia tidak peduli pada tajam batu sepanjang perjalanan. Bias matahari mulai tampak di langit bagian timur.
“Kenapa kau pulang awal sekali, Bang?” tanya istrinya.
Teus tidak peduli dengan pertanyaan semacam itu. Tidak penting, pikirnya. Ia langsung ke dapur. Mengambil senapan angin, anak panah, dan busur.
Melihat Teus mengambil benda-benda itu, istrinya menegur.
“Sekarang Hari Minggu, Bang.”
Teus tidak menjawab. Ia mengambil botol aqua, mengisinya dengan air, mengambil tas yang terbuat dari sak semen. Memasukkan botol air ke dalam tas.
“Joli…Joli…Mimo…mimo.” Dua ekor anjing itu menjulurkan lidah dan menggoyangkan ekor. Binatang yang setia itu pun melompat kegirangan mengikuti langkah gegas Teus. Sudah lama sekali Teus tidak menggunakan panah dan senapannya untuk membidik kera di hutan. Entah sepuluh atau belasan tahun ia mengubur naluri berburunya. Tapi hari ini, naluri itu muncul membuncah dalam dadanya.
Sebetulnya ia seorang pemburu hebat. Bakatnya membidik dan memanah babi hutan, kera, musang, rusa, babi landak, ayam hutan, diturunkan dari kakeknya. Tapi sejak binatang hutan itu berkurang, bakat itu pun sedikit menyusut.
Mata panah tampak berkarat tapi masih tergurat ketajaman. Memang selama ini ia tidak menyentuh pusaka berharga itu lantaran bekerja di Kalimantan. Namun, meskipun begitu ia yakin bahwa benda-benda itu bisa menembus kulit babi yang keras.
Ini hanya soal membidik dengan tepat, menarik panah hingga batas terakhir lalu melepaskan tali busur, begitu pikirnya. Apalagi ini hanya kera. Jika ia berada di dahan yang rendah akan ia gunakan panah agar kera-kera itu tahu rasa. Kalau berada di dahan yang tinggi ia membidik dengan senapan untuk melemahkan tubuh kera.
“Saya masih tetap pemburu,” gumamnya geram.
***
Nun di dalam hutan, segerombolan kera berlompat riang dari satu dahan ke dahan yang lain. Ada sepasang yang duduk di dahan rendah sambil mencari kutu. Di ranting yang lain seekor betina dengan anaknya yang masih menempel di dada mengantuk. Pada ranting yang agak kecil seekor penjantan muda terluka di bagian telinga kiri.
Pada sebuah pohon yang menjulang tinggi, segorombolan pejantan muda saling menunjukkan kehebatan di depan betina yang siap kawin. Yang kalah berarti siap menerima bahwa sang pemenang berhak memiliki betina.
Sang pemimpin gerombolan bersama beberapa betina duduk di dahan yang paling tinggi. Dengan bahasa yang mereka sendiri mengerti, mereka bercakap-cakap.
“Beberapa tahun lagi kita akan banyak seperti dulu,” sang pejantan membuka. Dialah pejantan tertua di hutan itu. Dia meraba bekas luka di pahanya. Dulu, dia mulai  membayangkan, suatu pagi, dari kejauhan terdengar anjing menyalak, membangunkan penguni hutan. Babi, rusa, dan semua yang bernyawa berlari menyelamatkan diri. Segerombolan kera berhamburan dan sebagian bersembunyi di pucuk tertinggi.
Saat itulah si kera melihat satu per satu temannya tumbang. Dia diselamatkan sebatang dahan besar. Tubuhnya tidak terlihat. Sebelumnya, kera-kera yang duduk di pucuk pohon itu akan selamat, karena batang pohon cukup besar dan tinggi menjulang. Tapi setelah ada senapan angin, maut begitu dekat setiap kali terdengar anjing menyalak.
***
“Hulau… lau… lau… Sigi…gii…giii…” Teus membakar hasrat anjing sebagai binatang pemburu. Mendengar kata-kata itu, Joli dan Mimo tidak sabar.
Kedua anjing tersebut mengiuk-ngiuk, menerobos semak-semak sambil menyalak. Teus berlari mengikuti suara anjingnya. Semakin menjauh ke dalam hutan, suara anjing semakin menggema. Segerombolan kera tadi berhamburan. Pemimpin kera yang sudah berpengalaman itu memimpin pelarian. Dia tahu tempat terbaik untuk bersembunyi. Ada beberapa kera yang memilih bertahan karena kekenyangan dan di perut masih bergelantungan bayi-bayi kera.
Sementara pejantan dan betina muda sudah menghilang ke dalam lembah yang jauh.
Di bawah pohon, anjing menyalak, mendongakkan kepala. Beberapa kera gemetar di dahan-dahan yang menjulur jauh. Ada niat ingin melompat ke pohon sebelah tapi terlalu jauh untuk sebuah lompatan. Jika saja lompatan itu meleset, anjing siap menyambut. Taring-taring Joli dan Mimo siap menancap ke dalam daging.
Melihat kera-kera seperti tidak berdaya, Joli dan Mimo semakin keras menyalak, berputar-putar di bawah pohon. Lidahnya menjulur-julur, liur meleleh di sudut mulut.
Begitu Teus sampai, anjing mengiuk-ngiuk. Teus mendongakkan kepala ke cecabang pohon. Ia tersenyum setelah menelusuri satu per satu cabang pohon. Setidaknya ada tujuh ekor di atas sana. Ia bergeser ke arah timur. Hanya ada sedikit celah. Ia ke selatan karena melihat seekor yang lebih besar.
Teus tahu mana yang akan ia panah terlebih dahulu. Jika menggunakan busur ia tahu berada sudut yang harus diambil. Melihat arah angin yang menerpa dedaunan. Ia tidak mau membuang percuma anak panahnya.
Seekor kera menggeliat dan seluruh badannya terlihat jelas. Teus tersenyum. Ia memasang panah, mengarahkan ke objek.
Sebelum panah dilepaskan, ia mendengar erangan Joli dan Mimo. Seperti erangan meregang nyawa. Mendengar itu ia tak jadi melepaskan panahnya. Ia letak kembali panah dan busur. Juga senapan di bawah pohon. Lalu mengambil parang, mengendap-endap ke balik gundukan tanah. Di depannya ada dua ekor kera jantan dewasa berdiri dengan mulut berlumuran darah. Joli dan Mimo meregang nyawa.
Teus menjadi geram. Ia memutar arah menuju tenggara, lewat sisi jurang. Sebelum sampai ke bawah pohon tadi ia di cegat tiga ekor kera yang tiba-tiba sudah berada di depan dan sampingnya. Mata kera-kera itu menembakan sengat bara. Mata itu semerah saga. Kera-kera berlompatan turun, berkumpul bersama kawan yang lain membentuk barisan.
Teus menggeretak tapi kera-kera bergeming. Ia mengancungkan parang ke arah kawanan kera tapi kera-kera menyeringai memperlihatkan taring-taring panjang yang berwarna kuning. Teus maju selangkah, tapi kawanan kera tetap di sana menatapnya dengan penuh. Tatapan yang melumurkan dendam panjang.
Teus meraih batu, melempar ke arah kawanan yang bergerak maju itu tapi sekilat batu, kera-kera menghindar dengan cepat. Dari belakang seekor kera berjalan tegap mematahkan anak panah.
Teus menahan napas. Dadanya bergetar hebat. Wajahnya menjadi pucat. Keringat mengalir di wajahnya. Tiba-tiba ingatannya terlempar pada cerita kakeknya. Semua binatang yang ada di hutan punya tuan. Seketika lututnya lemas.
Ia menatap sekawanan kera dengan nanar.
Barisan kera itu maju selangkah. Teus mundur. Kera-kera kembali melangkah dengan pasti. Sekali lagi Teus mundur. Ia tercekat. Ada sesuatu yang kosong di belakangnya. Kakinya persis berada di tubir tebing. Di bawahnya batu-batu seperti menganga siap menyambutnya.
“Kami punya hak hidup,” seekor kera, pemimpim gerombolan itu, berbicara dengan suara lantang. Teus melotot seperti tidak percaya, seperti sedang menunggu maut yang tidak masuk akal. Tepat saat itu di gereja orang-orang sedang menyanyikan lagu Tuhan Kasihanilah Kami.

Alak, April 2017
Jemmy Piran lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI Universitas Nusa Cendana, Kupang. Puisi dan cerpennya tersiar di berbagai media lokal dan nasional. Kini tinggal di Waimana 1, Nusa Tenggara Timur.

Minggu, 04 Maret 2018

Cupi Si Cupcake

Oleh Tri Ismiyati (Lampung Post, 04 Maret 2018)
Cupi Si Cupcake ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Cupi Si Cupcake ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 
Cupi si cupcake kecil memekik girang di dalam etalase kaca. Seorang gadis kecil berkepang dua sedang berdiri di depannya.
“Ayo ambil aku!”
Cupcake cokelat berhias butter cream putih dan gula warna-warni itu berseru penuh semangat. Si gadis kecil masih kelihatan bingung. Dia melihat dari satu kue ke kue yang lain.
“Mama, aku mau kue yang ini!”
Telunjuk si gadis kecil terarah pada sepotong kue red velvet. Cupi berseru lagi, kali ini mengucapkan selamat jalan pada Vivi si red velvet merah.
“Ternyata sudah hampir sore, ya.”
Cupi mendengar suara lain di belakangnya. Rupanya Blacky si blackforest yang bicara. “Iya, sudah sore, ya. Kamu di sini sejak kapan, Blacky?” tanya Cupi penasaran.
Dia terkejut ketika Blacky bilang sudah dua hari dia berada di dalam etalase kaca itu. Padahal Cupi baru tadi pagi berada di sana, tapi rasanya sudah lama sekali. Cupcake terakhir yang menjadi temannya, si vanila, sudah diambil oleh seorang ibu siang tadi. Maka Cupi pun menjadi satu-satunya cupcake kecil yang tersisa.
“Jangan khawatir, Cupi,” kata Blacky. “Toko ini adalah toko kue paling enak di kota kita. Pasti nanti akan ada yang membawa kita.”
Cupi tersenyum lega mendengar kata-kata Blacky. Dia pun kembali ceria di dalam etalase kaca bening berisi macam-macam kue itu. Banyak orang yang lalu lalang di depan mereka. Toko kue yang baunya harum itu memang selalu ramai.
“Ayo ambil aku! Cupcake cokelat yang lezat!”
Cupi berseru lagi. Seorang nenek berbaju cokelat lewat di depannya. Nenek itu memandang dari balik kacamata, lalu berjalan lagi dan mengambil kue bolu. Ah, barangkali si nenek ingin kue yang lebih empuk.
Cupi tidak menyerah. Dia tetap ceria di dalam etalasenya. Cupi yakin dia adalah cupcake cokelat yang cantik dan lezat karena para koki toko telah membuatnya dengan sepenuh hati.
“Hai! Ayo bawa aku!”
Cupi berseru lagi dengan ceria. Seorang anak laki-laki berpipi gembul berdiri dengan wajah hampir menempel pada kaca etalase. Matanya yang kecil membulat lucu.
“Papa! Sini, Papa!”
Papa anak itu mendekat, ikut melongok ke dalam etalase. Si pipi gembul menunjuk-nunjuk Cupi. Cupi gembira sekali. Sepertinya, sebentar lagi anak itu akan membawanya. Tapi, Papa anak itu menggeleng.
“Kita harus cari kue ulang tahun untuk Mama, Nak. Cupcake ini terlalu kecil.”
Si pipi gembul menengok kembali ke dalam etalase kaca. Senyumnya mengembang. Tangan kecilnya menunjuk-nunjuk ke arah Blacky. Sang Papa ikut tersenyum. Diambilnya Blacky dari dalam etalase. Si pipi gembul bersorak gembira, begitu pun Blacky yang tampak gembira
“Selamat tinggal, Cupi!” serunya. “Semoga segera ada yang mengambilmu juga!”
Cupi membalas seruan Blacky dengan tak kalah kerasnya. Dia ikut gembira karena temannya telah dibawa sebagai kue ulang tahun. Tapi Cupi juga agak khawatir karena hari semakin sore. Sebentar lagi, toko itu pasti akan tutup.
“Aku harus tetap semangat!”
Cupi masih yakin akan ada yang membawanya hari itu. Pengunjung sudah mulai sepi, hanya tinggal beberapa orang. Cupi tidak lelah berseru ceria kepada mereka, menunjukkan dirinya yang paling mungil di antara kue-kue yang lain. Tapi belum ada juga yang mengambilnya dari dalam etalase.
Satu per satu pengunjung mulai keluar dengan membawa kue-kue lezat dari toko. Cupi hampir saja bersedih lagi. Tidak ada seorang pun yang ingin membawanya hari itu. Tiba-tiba saja, lonceng di atas pintu toko berdenting lagi. Seorang gadis kecil berkepang dua melangkah masuk dengan langkah malu-malu. Dia menoleh ke sana ke mari sebelum akhirnya berjalan mendekati etalase. Wajahnya hampir menempel pada kaca. Matanya yang jernih tampak ceria.
“Ambil aku! Ayo!”
Si gadis kecil masih mengamati isi etalase. Matanya mengerjap-ngerjap penuh semangat.
“Dia tidak akan mengambilmu.”
Tiba-tiba saja terdengar suara lain. Oh, rupanya itu suara Nana, si nastar nanas dalam stoples di atas etalase kaca. Cupi pun heran mendengar pendapat Nana.
“Gadis kecil itu sudah seminggu lebih selalu datang ke sini setiap sore. Tapi, dia tidak pernah membeli apa pun,” Cupi kembali memandang si gadis kecil. Padahal wajah gadis kecil itu gembira sekali melihat kue-kue di dalam etalase. Benarkah dia tidak akan mengambil apa pun?
Tiba-tiba si gadis kecil berjalan pergi. Kali ini Cupi benar-benar sedih. Sepertinya kata-kata Nana benar. Anak itu tidak akan membeli apa pun. Barangkali Cupi memang harus berada lebih lama lagi berada di dalam kaca.
“Aku mau kue yang itu.”
Mendadak pintu kaca etalase digeser membuka. Cupi terkejut. Tangan nona penjaga toko terulur ke dalam dan meraih dirinya. Dia baru sadar bahwa dirinya diambil ketika mendengar teriakan Nana yang memberinya ucapan selamat.
“Satu cupcake cokelat untukmu.”
Cupi yang telah dibungkus plastik mika putih berpindah ke tangan si gadis kecil. Si gadis kecil tersenyum gembira sambil mengucapkan terima kasih. Usai membayar dengan beberapa keping uang logam, si gadis kecil berjalan keluar toko dengan riang. Sesekali, terdengar ia bersenandung. Cupi pun ikut senang.
Langkah si gadis kecil terhenti di depan sebuah rumah reyot di pinggir kota. Rumah itu kelihatan sempit sekali. Si gadis kecil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong baju lusuhnya. Oh, rupanya dia memasang sebatang lilin di atas tubuh Cupi. Gadis kecil itu lalu menyalakan api dengan hati-hati.
“Selamat ulang tahun, Ibu!”
Si gadis kecil membuka pintu. Ibu yang sedang menyulam di dalam rumah tampak terkejut. Matanya berkaca-kaca melihat Cupi dengan sebatang lilin menyala di atasnya.
“Aku mengumpulkan uang hasil berjualan koran untuk membeli kue ini. Ayo tiup lilinnya, Bu!”
Sang ibu tersenyum, lalu meniup lilin. Ibu memeluk si gadis dengan erat. Cupi ikut gembira karena dia bisa membuat orang lain berbahagia.

Perempuan dalam Karya Sastra

Oleh Junaidi Khab (Lampung Post, 04 Maret 2018)
Perempuan dalam Karya Sastra ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Perempuan dalam Karya Sastra ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 
PADA Minggu, 28 Agustus 2016, cerita pendek (cerpen) karya N Mursidi berhasil tayang di salah satu koran Jogja. Ia menulis cerpen dengan judul Tiga Wanita yang Menangis untuk Sebuah Kematian (Harian Jogja).
Membaca karya ini, kita akan melewati jalan melankolis dan kesedihan yang tiada henti. Substansinya, sebuah konflik fisik atau batin dalam sebuah kisah sangat lumrah. Begitu pula dengan sosok perempuan yang menjadi ulasan empuk untuk dijadikan kambing hitam dalam cerpen Mursidi.
Sebuah pukulan batin yang benar-benar menyayat hati dan mengiris perasaan. Dengan diksi yang tentunya melalui olah naluri yang tajam tentang sebuah pernikahan yang tidak dikehendaki, Mursidi berhasil membawa pembaca—tentunya—ke alam lara yang meledak-ledak dan penuh empati yang tinggi.
Seorang Lusy yang sudah menanam cintanya selama tujuh tahun bersama Alex harus tumbang setelah kedatangan Handoko. Ayah Handoko memiliki piutang jasa penyembuhan ibu Lusy yang terkena kanker hati. Sehingga, ibu Lusy untuk membalas kebaikan ayah Handoko ia menikahkan anaknya dengan Handoko.
Dalam cerpen karya Mursidi ini, kita bisa menemukan dua dimensi pilu yang terus menghantui diri Lusy. Pertama, di saat malam bulan madu. Meski Lusy sudah berstatus sebagai istri Handoko, ia tak menemukan kebahagiaan di dalam dirinya.
Di saat akan ditiduri, ia merasa sakit di selangkangannya. Tak ada butiran kenikmatan. Ia merasa sangat perih. Namun, ia pura-pura melenguh. Padahal lenguhan itu palsu, tak ada gairah untuk tidur bersama Handoko.
Kedua, hatinya sangat teriris karena kondisi kejiwaan dan hobi anaknya sama seperti Handoko. Bahkan, di saat Handoko sakit, anaknya pun sakit. Begitu juga ketika Handoko sembuh, anaknya pun sembuh. Suatu kejadian di luar nalar yang makin membuat Lusy tidak senang hidup dengan Handoko.
Kisah-kisah kecut semacam itu kadang memang banyak dialami perempuan. Namun tidak semua dari mereka menceritakannya. Di sisi lain, kisah ini mungkin akan sangat penting bagi orang tua guna mencari kesepakatan untuk menikahkan anaknya. Bukan memilihkan orang yang tidak disukai. Sebab siksaan batin sudah tentu dialami oleh anak yang menjalani kehidupan rumah tangga dengan lelaki yang tidak ia cintai, seperti halnya Lusy dengan Handoko.
Masyarakat mungkin beranggapan bahwa karya Mursidi ini menentang otoritas orang tua dalam menjodohkan anaknya. Orang tua kadang dengan tangan besinya menjodohkan anak gadisnya dengan lelaki pilihannya.
Jika dilihat lebih dalam, perilaku demikian sungguh memalukan. Seorang perempuan hanya barang rongsokan yang ditawarkan kepada tukang rombeng. Semua orang tua tentu menyadari pilu yang akan dihadapi anak gadis yang akan menikah dengan lelaki bukan pilihannya.
Namun keangkuhan dan rasa otoritas yang tinggi tetap tidak mampu dibendung, sehingga pernikahan yang tidak didasari rasa cinta pun terjadi. Kadang seorang perempuan menampilkan mimik bahagia, padahal tidak. Dengan kata lain, perempuan tetap dieksploitasi hak-haknya dengan melewati batas norma-norma, agama, dan tatanan sosial yang dibenturkan sebagai senjata ampuh untuk memaksakan kehendak orang tua.
Sebuah Komparasi
Begitu pula Mashdar Zainal, ia tak jauh berbeda dalam menorehkan ide-idenya melalui karya fiksi. Perempuan menjadi tumbal dalam kisahnya. Sosok perempuan memang unik, menarik, dan penuh dimensi eksotis untuk selalu dibicarakan.
Namun kisah pilu yang dibangun oleh Mashdar berbeda dengan kisah yang disajikan oleh Mursidi. Melalui cerpennya yang berjudul Ladang Ubi (KR, Minggu, 28 Agustus 2016), ia menampilkan sosok gadis yang selalu terasingkan, baik saat masih hidup dengan orang tuanya atau saat diadopsi oleh kerabat jauh yang tinggal di daerah lain.
Membicarakan tentang sosok perempuan memang tidak akan pernah akan ada habisnya. Para penulis fiksi berupa drama, cerpen, atau novel, selalu menjadikan sosok perempuan sebagai bumbu penyedap rasa karyanya. Begitu pula halnya Mursidi dan Mashdar Zainal yang menggunakan perempuan sebagai sembilu, guna menghasilkan karya yang benar-benar menyentuh perasaan para pembaca. Bahkan, bukan hanya karya dua penulis tersebut yang menjadikan sosok perempuan sebagai makanan empuk penikmat karya sastranya, tetapi penulis-penulis lainnya pun tak jauh berbeda.
Jika membandingkan dengan karya-karya lainnya, tentu setiap penulis dan karyanya memiliki karakter masing-masing, masih tergolong karya klise. Namun kisah yang dibangun dengan pilihan diksi yang tepat akan tampak menjadi sebuah karya yang aktual, sesuai dengan kondisi sosial saat ini.
Kisah-kisah yang dibangun pun tidak jauh dari persoalan kehidupan yang salah satunya memerankan sosok perempuan. Dilihat dari sudut pandang mana pun, perempuan memiliki eksotisme tersendiri. Sehingga, tak heran jika banyak penulis yang menautkan kisah-kisahnya dengan kehidupan perempuan.
Perempuan bukan hanya tokoh, baik sebagai orang pertama, kedua, ketiga, maupun sampingan, melainkan perempuan menjadi umpan demi menjadikan sebuah karya agar memiliki roh. Memang ada karya-karya yang lahir tanpa melibatkan sosok perempuan, tetapi hal itu masih bisa dihitung dengan jari. Kita dapat menyimpulkan bahwa sosok perempuan lebih tinggi daya tariknya dibanding lelaki dalam sebuah karya sastra. Sosok perempuan memiliki beberapa dimensi yang bisa dijadikan sebuah permenungan karena perangainya yang sangat sensitif.
Kadang, seorang penulis menjadikan sosok lelaki jika ada kaitannya dengan persoalan sosial, politik, dan budaya. Namun kaum perempuan tetap dibutuhkan; sebagai penyedap, penikmat, dan bahkan bisa menjadi racun yang melenakan hingga mematikan.
Begitulah sosok perempuan yang selalu menjadi tumbal (dieksploitasi) dalam sebuah karya menggunakan estetika dan moral yang tinggi. Oleh sebab itu karya yang mengeksploitasi dengan menjadi tumbal sosok kaum perempuan harus dijadikan sebagai kaca cermin bagi peradaban kehidupan umat manusia untuk berbenah diri dan membangun peradaban kemanusiaan yang universal.

Junaidi Khab, penulis lepas.

Membalikkan Takdir

Cerpen Syaalma Difatka Qurota’ayun (Lampung Post, 04 Maret 2018)
Membalikkan Takdir ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Membalikkan Takdir ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 
“Mala, kamu sudah ngurus bidik misi untuk SNMPTN?” Sebuah suara mengagetkanku dari belakang, dan kudapati Kalma sedang menatap serius ke arahku.
“Belum Kal, kamu gimana? Bukannya kata Bu Indah sampai bulan September,” jawabku mengingat ucapan guru BK itu setiap kami tanya mengenai bantuan untuk kuliah.
“Belum Mal. Tapi, kata Mia anak IPA 1, mereka sudah selesai ngurusnya, tinggal tunggu pengumuman SNMPTN nanti. Enak banget mereka diurus semuanya sama guru-guru. Gak seperti kelas kita yang gak dianggep dan terbelakang,” ucap Kalma kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ya sudah kita tanya aja yuk ke BK!” ajakku sambil menarik tangannya dan bergegas ke luar kelas.
Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga kecil yang bisa dibilang tidak berkecukupan dalam hal ekonomi. Kakak perempuanku bekerja paruh waktu di sebuah toko swalayan, sedangkan ayahku hanyalah seorang buruh tani. Ibuku sering sakit-sakitan, tapi kami tidak tahu apa penyakitnya karena ia tidak ingin dirawat di rumah sakit dan menghabiskan banyak biaya.
Satu-satunya impianku adalah berpendidikan tinggi agar dapat membalikkan takdir dan menjadi seseorang yang sukses dan membahagiakan kedua orang tuaku. Pilihan pertamaku adalah menjadi dokter, tetapi aku tidak terlalu yakin akan kemampuanku, dan akhirnya memilih farmasi pada pilihanku yang lainnya. Namun tetap saja, apa pun itu aku menginginkan pendidikan yang dapat mengubah takdir keluarga kami.
“Assalamualaikum, Bu, ini Aksamala dan Kalma,” ucapku diiringi salam seusai membuka pintu dan memasuki ruangan BK.
“Ada urusan apa anak IPA 4 ke sini? Buat onar lagi?” suara ketus itu malah menyambut kami tidak senang. Sejujurnya kelas kami tidak setiap hari membuat masalah. Dan lagi, itu semua karena hanya kelas kamilah yang dikucilkan dan seolah tidak dianggap oleh para guru.
“Kami mau nanya soal bidik misi, Bu. Sebentar lagi pendaftaran SNMPTN tutup, tapi kami masih belum diberitahu mengenai hal itu,” jawabku dengan nada kesal.
“Kalian dari mana saja? Kenapa tidak pernah ke sini?! Memangnya kalian sanggup mengisi semua persyaratan dalam waktu yang sebentar?” Guru itu malah membentak kami dengan wajah menyebalkan.
“Bu, kami sudah ke sini berkali-kali dan ibu bilang akan memberitahu kami nanti. Bahkan kemarin saat kami ke sini lagi, ruangan ini dikunci dan kami tidak diperbolehkan masuk,” jawabku sangat kesal. Sudah berkali-kali kami ke sini tapi dengan cueknya mereka tidak menggubris kami sama sekali.
“Kalian jangan bohong, kami ada di sini terus dengan ruangan ini tidak pernah terkunci. Lagipula kalian berdua berada di peringkat 70-an di sekolah atau mungkin hampir 100. Memangnya kalian tidak malu,” jawab guru yang sepertinya salah profesi itu.
“Untuk apa kami malu, Bu, kami kan mau belajar bukan berfoya-foya,” jawabku dengan nada bergetar dan mata yang mulai berair menahan marah. Guru itu tak menjawab atau bahkan mendengar ucapanku, ia hanya berjalan meninggalkan kami entah ke mana dan tak kembali lagi hingga bel masuk berbunyi.
“Udah Mal, sabar aja. Anggap saja kita mandiri dan tidak membutuhkan bantuan guru yang seperti itu,” ucap Kalma mencoba menenangkanku. Aku hanya mengangguk kecil dan memaksakan seulas senyum untuknya.
Akhirnya pendaftaran pun ditutup, dan kami berusaha keras tanpa bantuan dari para guru yang tidak mempedulikan kami. Ujian nasional kami lewati dengan tegang disertai usaha semaksimal mungkin. Hingga pengumuman SNMPTN pun keluar dan kembali membuat kami kecewa.
Aku belum ditakdirkan memasuki Universitas impianku hanya dengan mengandalkan nilai dan keberuntungan. Ini membuatku terpukul dan sempat berpikir untuk menyerah, tapi kuyakini ini hanyalah uji mentalku ‘tuk menjadi lebih kuat. Kali ini aku mencoba lagi dengan usaha yang melebihi sebelumnya, dan mencoba membuktikan bahwa aku bisa dengan usaha keras dan kegigihanku.
“Mala, gimana tadi soal SBMPTN-nya?” sebuah pesan singkat terpampang jelas di layar ponselku.
“Soalnya aja minta dingertiin, apalagi jawabannya. Mereka bekerja sama untuk memperkuat kepekaanku,” candaku pada Kalma yang cepat dibalas dengan emoticon cemberut olehnya.
Aku sudah belajar keras semampuku, walau merasa tidak yakin setelah melihat teman-temanku yang sangat yakin dengan bimbingan belajarnya. Kakakku bahkan sudah mengatakan padaku untuk bersiap menerima kenyataan terburuk bila aku tidak bisa kuliah tahun ini kalau aku tidak lulus pada tes kali ini.
Nilai ujian nasional kami sudah keluar dan ternyata nilaiku sangat pas-pasan. Ini membuatku semakin tidak percaya diri akan kelanjutan pendidikanku.
“Mala, pengumuman SBMPTN kapan?” tanya Kalma yang sudah merangkul bahuku dengan senyum manis terukir di wajah putihnya.
“Minggu depan Kal. Ngomong-ngomong kamu jadi kuliah di UNS?” tanyaku memastikan mengingat keberuntungannya yang dapat lulus pada SNMPTN dan masuk ke perguruan tinggi impiannya.
Dia mengangguk dan tersenyum senang,
“Tentu saja! Aku sudah mengharapkan jurusan Psikologi idamanku.” Aku hanya tertawa kecil melihat kelakuannya yang melompat kegirangan seolah baru menang undian miliaran rupiah.
***
“Udah buka pengumumannya, Dek?” Tanya kakakku membuyarkan lamunanku.
“Nanti kak, nunggu Kalma. Aku mau pinjam ponselnya untuk buka internet. Kan di poselku gak bisa.” Jawabku sambil menunjukkan sebuah ponsel tua hadiah ulang tahunku. Tepat saat kalimatku berakhir, suara ketukan diiringi seruan nyaring di pintu rumahku terdengar, dan dapat kupastikan itu adalah Kalma.
“Assalamualaikum, aku masuk ya. Ayo Mal cepetan aku penasaran!” serunya menghambur ke dalam rumahku tepat saat pintu rumah kubuka.
“Pelan, Kal, lagian kan aku yang mau lihat pengumumannya. Kenapa kamu yang histeris,” jawabku pelan sambil mengambil posisi nyaman di samping Kalma yang sudah terduduk manis di sampingku. Ia menyerahkan ponselnya dan menyuruhku untuk membuka sendiri pengumuman yang akan menentukan harapan atau kekecewaanku. Dengan mata terpejam aku menekan tombol enter dan secara perlahan menatap ponsel di hadapanku.
“MALA!” seruan Kalma seketika mengalihkan perhatianku tanpa sempat melihat pengumuman yang kutunggu.
“Masuk gak? Kalma, aku gak yakin! Gak masuk ya?” ucapku gugup dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.
“Ini lihat!” serunya sambil menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajahku. Aku menatapnya secara perlahan dan tak dapat berkata-kata karenanya. Tanganku spontan menutup mulutku seolah takut aku akan berteriak dan mengagetkan semua orang.
“Selamat Mala! Calon bu dokter dari UI!” seru Kalma gembira sambil memeluk tubuhku erat.
“Kenapa, Nak? Keterima di mana?!” seru ibuku menghambur mendekatiku. Ia mengusap pelan wajahku yang ternyata meneteskan air mata. Sungguh aku tidak percaya, ini sebuah keajaiban.
“Mala masuk kedokteran UI, Bu,” Mala mewakiliku menjawab dengan senyum yang masih terhias di wajahnya. Ia terlihat tak kalah gembira dariku, dan aku bersyukur ia adalah sahabatku. Ibu seketika menangis haru dan memeluk erat tubuhku seolah tidak ingin melepaskannya. Aku masih tak dapat berkata-kata, lidahku kelu dan aku takut bila tahu bahwa ternyata ini hanya mimpi.
“Berarti kamu siap-siap lagi urusin persyaratan daftar ulangnya,” ucap Kalma membuyarkan semua lamunanku, dan akhirnya dapat membuatku bersuara.
“Iya, Kal, nanti bantuin lagi ya. Mumpung kamu belum berangkat ke Solo,” ucapku pelan dengan suara yang bergetar.
“Tentu! Lagian juga kalau aku udah berangkat ke Solo, kita masih bisa saling berkomunikasi dan kalau perlu aku akan pulang saat kamu butuh bantuan,” jawabnya cepat sambil mencubit kedua pipi tembamku.
Aku mengangguk kecil dan tersenyum senang mendengar ucapannya. Seketika kuyakini diri bahwa ini bukanlah ilusiku semata, ini nyata.
Tepat sehari sebelum waktunya daftar ulang, ibuku kembali drop karena sakitnya. Uang pas-pasan yang sudah ditabung oleh ayah dan kakakku terpaksa digunakan untuk biaya pengobatan ibuku yang ternyata mengalami stroke ringan dan terpaksa dirawat dengan biaya yang cukup besar.
“Dek, daftar ulang terakhir hari apa?” tanya kakakku tiba-tiba tepat saat aku menghancurkan celengan kecil milikku satu-satunya.
“Lusa, Kak, waktunya hanya 5 hari. Ternyata uang yang kukumpulkan bahkan tidak mencapai seperempat uang yang diperlukan. Sepertinya aku tunda saja dulu kuliahnya. Kedokteran kan mahal,” jawabku lalu memaksakan seulas senyum. Kulihat matanya berkaca-kaca, dan akhirnya ia menangis dan meminta maaf.
“Maafkan kakak dek, kakak tidak bisa berbuat apa pun untukmu,” ucapnya bergetar lalu memelukku erat. Ya, sepertinya takdirku memang seperti ini.
“Mala, ada Kalma datang!” seru ayahku dari luar membuyarkan kesedihan kami.
“Iya, Yah, Mala ke sana!” jawabku cepat menghapus bulir air mata yang masih mengalir di pipiku dan bergegas menghampiri Kalma yang sudah menungguku di depan.
“Mala, hari ini daftar ulang kan? Setahuku online kan? Ayo!” ajaknya menarik tanganku untuk bergegas mendekatinya.
“Sepertinya kuliahku ditunda, uang untuk daftar ulangnya digunakan untuk pengobatan ibuku,” jawabku pelan lalu tersenyum kecil.
“Hei jangan murung gitu! Coba dulu daftar ulang, kan ada beasiswa untuk calon mahasiswa tidak mampu. Kamu bisa mengajukannya!” serunya memukul bahuku diiringi senyum ramahnya.
“Benarkah?” tanyaku bingung, dan ia mengangguk. Aku bahkan melupakannya, dan terlalu mudah putus asa sebelum mencari tahu lebih jauh. Kalma segera saja membantuku mengisikan data diriku dan mencoba mencari tahu mengenai persyaratan untuk mendaftarkan diriku pada program beasiswa tidak mampu. Kami segera mencatatnya dan hari itu juga aku menyiapkan semua yang diperlukan.
Kalma datang keesokan harinya dan kembali membantuku mengisikan semua persyaratan hingga selesai dan menunggu hingga hasilnya tiba. Kegugupan membuat waktu terasa sangat lama. Ibuku sudah mulai pulih dan bisa melakukan kegiatan sehari-harinya, dan akhirnya kini pengumuman pun tiba. Hari ini seusai melihat pengumuman penerimaan beasiswa, Kalma akan langsung berangkat ke Solo dan meninggalkanku. Jadi kuharap, aku tidak akan membuatnya khawatir lagi.
Persis seperti saat aku membuka pengumuman SBMPTN, kini aku dengan gugup menutup mataku dan perlahan membukanya untuk menatap kenyataan di hadapan wajahku. Kalma sedari tadi sudah memukul-mukul bahuku memaksaku untuk segera membuka mata, dan kini akan kuturuti kemauannya.
“Kal, beneran kan ini? Ini gak ada kerusakan sistem kan?” tanyaku tak percaya melihat tulisan dalam ponsel di hadapanku. Kulihat mata Kalma berkaca-kaca dan ia mengangguk pelan.
“Selamat ya Mal, kamu akan bener-bener jadi bu dokter! Gak perlu takut biaya lagi, asal kamu pertahanin IPK dan kegigihan kamu, kamu pasti bisa menggapai mimpimu,” ucapnya tepat setelah tanganku spontan memeluknya.
Aku tidak tahu apakah ini hanya mimpi panjang yang menghiburku ataukah kenyataan yang membahagiakanku. Tapi kuharap, aku benar-benar bisa membalikkan takdir karenanya.