Daftar Blog Saya

Senin, 26 Februari 2018

Ziarah Terakhir Gus Dar

Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 25 Februari 2018)
Ziarah Terakhir Gus Dar ilustrasi Sito Pati - Kompas.jpg
Ziarah Terakhir Gus Dar ilustrasi Sito Pati/Kompas 
Setelah shalat tahajud, Gus Dar merasa mendapat pesan yang sudah lama ditunggu: kau akan mati pada saat berziarah di salah satu makam wali.
Kiai 81 tahun itu gemetar. Bukan karena takut. Ia justru takjub pada kedatangan pesan yang terduga itu. Ia sama sekali tidak ingin menghindar dari kematian. Karena itulah, sesungguhnya, ia tak hendak melacak dari mana asal pesan. “Tetapi kalau berasal dari iblis, bahaya juga. Mati dalam rengkuhan tangan perkasa sang iblis bukanlah kenikmatan yang kuinginkan.”
Gus Dar, pemimpin Pondok Pesantren Kalipungkur yang meskipun telah uzur tetap dipanggil dengan sebutan Gus itu, lalu membayangkan bagaimana pesan kematian tersebut sampai kepadanya. Mungkin mula-mula Allah berbisik kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad berbisik kepada merpati. Merpati berbisik kepada angin. Angin mengulang berkali-kali kemudian menyampaikan kepada hujan. Kata Hujan: aku tidak sanggup menyampaikan sendiri. Aku akan segera membisikkan pesan ini kepada Sunan Kalijaga.
Karena itulah, menurut Gus Dar, Sunan Kalijaga pun menerima pesan itu. Sebelum itu, Sunan Kalijaga menyibak kerumunan seribu sunan dan nabi, menembus lapisan tujuh langit, dan akhirnya hanya berhadapan dengan Hujan.
“Di makam wali yang mana ia akan mati?” tanya Sunan Kalijaga.
Hujan tak menjawab. Hujan hanya membisikkan pesan berantai itu.
***
“Bagaimana jika ternyata Hujan merupakan penjelmaan iblis?” batin Gus Dar, “Bagaimana jika ternyata pesan itu berbunyi: kau akan mati sesaat setelah mimpi buruk, sesaat setelah kau pulang dari Makam Sunan Bonang?”
“Tak ada cara lain aku harus sowan ke Pondok Pesantren Kiai Rahtawu,” kata Gus Dar, “Aku harus bertanya apakah aku akan mati pada usia 81 tahun pada saat sujud di Makam Sunan Bonang?”
Gus Dar yakin setelah bertanya kepada kiai berusia 101 tahun itu misteri kematiannya akan tersibak. Gus Dar membayangkan: Allah telah mengi rimkan pesan kematian itu kepada Izrail, sang malaikat pencabut nyawa. Izrail lalu membisikkan pesan itu kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad berbisik kepada merpati. Merpati berbisik kepada angin. Angin mengulang berkali-kali kemudian menyampaikan pesan itu kepada hujan. Hujan lalu berbisik kepada Sunan Kalijaga. Kata Sunan Kalijaga: Hanya Rahtawu yang sanggup membisikkan perihal kematian itu kepada Gus Dar.
“Mengapa?” tanya Hujan.
“Karena Gus Dar berguru kepada Rahtawu.”
“Hanya karena itu”
“Karena Rahtawu itu Al Hallaj dan Gus Dar apinya. Karena Rahtawu itu Simurg dan Gus Dar 30 burung pencari raja. Karena Rahtawu cermin dan Gus Dar sepasang mata.”
Hujan tidak terlalu memahami ungkapan-ungkapan Sunan Kalijaga. Hujan hanya bilang kepada Sunan Kalijaga: di balik kematian masih ada langit, di balik kematian masih ada laut, di balik kematian masih ada hutan. Apakah telah kau siapkan juga semacam buraq semacam cahaya untuk siapa pun yang akan dibunuh Izrail agar ia bisa terbang ke langit? Apakah telah kau siapkan semacam perahu kencana? Apakah telah kau siapkan kereta kuda terindah?
Gus Dar tahu Sunan Kalijaga tidak akan pernah mau menjawab pertanyaan semacam itu. Gus Dar tahu Sunan Kalijaga justru akan segera meminta dia ke Pondok Pesantren Kiai Rahtawu.
***
Diantar sopir terkasih, Gus Dar meluncur ke Kota Suci. Mereka kemudian menuju ke Pegunungan Rahtawu.
Akan tetapi, tidak mudah bertemu Kiai Rahtawu. Untuk bertemu sang kiai, Gus Dar harus berhadapan dengan Jamal Juaim. Jamal adalah penjaga pintu pondok pesantren yang sangat mengetahui situasi Kiai Rahtawu. Jamal tahu apakah Kiai Rahtawu sedang sujud atau membaca A1 Quran. Jamal paham Kiai Rahtawu sedang tidur atau berzikir. Jamal juga paling mengerti apakah Kiai Rahtawu ingin menolak atau berkenan menerima tamu. Namun, Jamal tak tahu Gus Dar adalah murid terkasih Kiai Rahtawu.
“Apakah aku bisa bertemu dengan Kiai Rahtawu?” tanya Gus Dar begitu berada di Pondok Pesantren Kiai Rahtawu.
“Mungkin bisa,” kata Jamal Juaim, “Tetapi menunggu waktu yang tepat.”
“Aku murid Kiai Rahtawu,” kata Gus Dar.
“Murid atau bukan murid tidak bisa bertemu dengan Kiai Rahtawu sekarang.”
“Apakah Kiai Rahtawu sedang berzikir?”
“Bisa, ya, bisa tidak.”
“Apakah Kiai Rahtawu sedang membaca Al Quran?”
“Bisa, ya, bisa tidak.”
“Apakah Kiai Rahtawu tidak pernah berpesan kepadamu: bakal datang seseorang untuk menanyakan kapan ia akan mati dan di mana ia akan dikuburkan?”
“Kiai Rahtawu tidak berpesan apa-apa.”
Gus Dar terdiam sesaat. “Pasti ada yang tak beres,” pikirnya, “Sunan Kalijaga bisa saja belum mengatakan apa-apa kepada Kiai Rahtawu. Bisa juga Sunan Kalijaga sudah mengatakan segalanya tetapi Kiai Rahtawu lupa.”
Gus Dar lalu bertanya lagi kepada Jamal Juaim, “Apakah semalam Kiai Ralitawu tidur?”
“Kiai Rahtawu nyaris tidak pernah tidur.”
“Apakah Kiai Ralitawu tidak bermimpi tentang kematian lelaki berusia 81 tahun?”
“Sejak lima tahun lalu Kiai Rahtawu tak bisa bermimpi lagi.”
Gus Dar terdiam lagi. “Pasti ada yang tak beres,” pikimya, “Barangkali Allah memang tidak pernah mengirim pesan kematian. Barangkali Izrail ingin memainkan nyawaku. Barangkali Nabi Muhammad juga tidak pernah membisikkan apa-apa kepada merpati. Merpati juga tidak pernah berbisik kepada angin. Angin tidak pernah mengulang pesan kematian itu berkali-kali kemudian menyampaikannya kepada hujan. Hujan juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Sunan Kalijaga.
Gus Dar lalu bertanya lagi kepada Jamal Juaim. “Apakah kau pernah bermimpi bertemu Sunan Kalijaga?”
“Pernah.”
“Apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Kalijaga kepadamu?”
“Sunan Kalijaga bilang: seseorang akan mati indah pada saat berziarah di salah satu makam wali.”
“Apakah kau mengenal siapa yang akan mati?”
Jamal Juaim menggeleng. “Kiai Rahtawulah yang tahu siapa yang bakal mati siapa yang bakal hidup hingga sembilan hari mendatang.”
“Kalau begitu,” kata Gus Dar, “Sekali lagi izinkan aku bertemu Kiai Rahtawu. Aku akan bertanya siapa yang akan mati pada sembilan hari mendatang?”
“Mungkin kau akan bisa bertemu Kiai Rahtawu,” kata Jamal Juaim, juga sekali lagi, “Tetapi menunggu saat yang tepat.”
Sebenarnya Gus Dar ingin marah. Akan tetapi, ia memilih bersabar. Malah tiba-tiba Gus Dar merasa Jamal Juaim, sebagaimana Kiai Rahtawu, tahu siapa akan mati siapa akan hidup sembilan hari mendatang.
Karena itu, Gus Dar mengurungkan niat bertemu dengan Kiai Rahtawu.
“Apakah sembilan hari mendatang aku akan mati?”
Jamal Juaim terdiam. Jamal Juaim kaget. “Mengapa tidak kau lontarkan pertanyaanmu itu kepada Kiai Rahtawu?”
Kini ganti Gus Dar yang terdiam. Ia merasa berhadapan dengan tembok yang tidak bisa ditembus. Karena itu, ia ingin pulang saja. Jika masih memiliki sembilan hari untuk hidup, ia memutuskan hari itu juga mulai berziarah ke Makam Sunan Ampel. Lalu meneruskan secara acak ke Makam Sunan Giri, Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, Makam Sunan Drajat, Makam Sunan Bonang, Makam Sunan Muria, Makam Sunan Kudus, Makam Sunan Gunung Jati, dan diakhiri ke Makam Sunan Kalijaga.
***
Akan tetapi, niat Gus Dar terhalang oleh sopir yang tiba-tiba menghilang. Tidak. Tidak menghilang. Sopir itu diusir oleh sepasang laki-laki berusia 40 tahunan, yang sangat tampan. Sopir itu akan ditembak jika tidak segera pergi.
“Tidak perlu mencari sopir Sampean. Kami akan mengantar ke mana pun Sampean pergi,” kata salah seorang kepada Gus Dar.
“Aku akan ke makam para wali.”
“Akan kami antar.”
Mereka kemudian mengantar Gus Dar ke makam para wali. Sembilan hari. Selama itu pula Gus Dar tidak pernah bertanya siapakah mereka. Gus Dar yakin kedua pria tampan itu bagian dari kisah kematian dirinya yang dirancang agak berbelit-belit dan rumit oleh Allah. Hanya, pada hari kesembilan Gus Dar masygul. “Mengapa aku tidak mati-mati?”
***
Kini Gus Dar berada di Makam Sunan Kalijaga. Ia berharap akan mati setelah melakukan wasilah terakhir. Ia berharap pesan Allah terwujud.
“Apakah jika aku mati hari ini kalian akan memakamkan aku di dekat makam para wali?”
“Siapa bilang Sampean akan mati?” tanya salah seorang.
“Aku merasa akan mati.”
“Mungkin Sampean akan mati,” kata salah seorang, “Tetapi menunggu saat yang tepat.”
“Aku akan mati saat berziarah di salah satu makam wali.”
“Siapa yang memberi pesan Sampean akan mati saat mengunjungi makam wali?”
“Tentu saja Allah.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Bukan iblis?”
Gus Dar terperanjat mendapat pertanyaan semacam itu. “Tetapi aku yakin aku akan segera mati. Usiaku sudah 81 tahun.”
“Ya, kau mungkin akan mati,” kata salah seorang, “Tetapi tidak di makam ini.”
“Lalu aku akan mati di makam siapa?”
Kedua pria tampan itu tidak menjawab. Mereka bergegas memapah Gus Dar yang kian lama kian kelelahan. “Akan kalian ajak ke mana lagi aku?” tanya Gus Dar.
Kedua pria tampan itu membisu. Mereka kemudian meninggalkan Makam Sunan Kalijaga. Jip mereka kini menuju ke arah Tanjungrasung. Dalam ingatan samar Gus Dar, di Tanjungrasung memang ada makam kecil. Makam di ujung tanjung.
“Apakah itu Makam Syekh Siti Jenar?” Gus Dar membatin, “Apakah aku akan mati setelah berziarah di makam itu? Apakah Syekh Siti Jenar wali paling wali? Apakah…”
Jip terus melaju ke Tanjungrasung.
“Kami akan membunuhmu sekarang,” kata salah seorang, setelah jip berhenti di ujung tanjung yang sepi.
Meskipun telah cukup lama mempersiapkan kematian, Gus Dar terperanjat juga. Gus Dar tak tahu akan mati dengan cara apa. Apakah kedua orang itu akan berebutan memukul kepala Gus Dar dengan pentungan kasti? Apakah kedua orang itu akan membentangkan tangan Gus Dar di tiang lalu menusukkan lembing di jantung? Apakah seseorang akan meletuskan pistol tepat di lambung atau hanya memintanya tafakur di antara keheningan daun-daun yang gugur? Gus Dar tak tahu. Gus Dar sudah tak berhasrat mengetahui apa pun saat meninggalkan dunia yang fana dan kian karut-marut itu.

Triyanto Triwikromo telah menulis Kematian Kecil Kartosoewirjo yang memungkinkan ia memperoleh penghargaan Tokoh Seni 2015 Pilihan Majalah Tempo. Ia juga menulis Ular di Mangkuk Nabi (pemeroleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa). Selain sebagai jurnalis, ia mengajar Penulisan Kreatif di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Sastrawan ini memperoleh Penghargaan Kesetiaan Berkarya Kompas 2017.
Sito Pati, lahir 6 Agustus 1966 di Pati, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan seni di STSRI/ISI Yogyakarta. Sito menjadi finalis Philip Morris Indonesia Art Award tahun 1995, 1996, dan 1998. Ia juga memperoleh penghargaan Karya Terbaik dalam pameran Rambut Putih, Tahun Mas (2015). Kini menetap di kota Yogyakarta.

Zera

Cerpen Putu Wijaya (Suara Merdeka, 25 Februari 2018)
Zera ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka.jpg
Zera ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka
Bu Raka mengadu lagi pada Bu RT. Suaminya diam-diam punya wanita simpanan.
“Sudah lama uang belanja bulanan saya terus dikurangi. Turunnya juga seret. Kalau sudah saya ancam-ancam akan bunuh diri, baru dia membuka dompet. Tapi sudah siang. Mau masak apa coba. Akhirnya saya sering minta makan ke rumah tetangga supaya tidak mati. Eh, pulang-pulang, dia ngamuk, ribut tidak ada makanan. Padahal kalau ada juga, menoleh sebelah mata pun tidak. Segalanya jadi salah. Saya heran, dia sering marah-marah tanpa alasan. Segalanya dia gampar, tak terkecuali saya. Untung, anak saya Risky selalu melindungi. Dia tidak takut lawan papa tirinya yang kesetanan itu. Saya suruh Risky terus latihan fitnes supaya ototnya kuat. Nanti kalau tiba-tiba berantem supaya tidak kalah. Kalau mulut papanya pedas, harus dia jawab lebih pedas lagi. Kalau papanya banting kursi, Risky juga saya suruh banting kursi. Masa dia nuduh saya sudah morotin sampai dia bangkrut. Saya juga selalu dia tuduh bawa sial. Batu bara hancur, nyalahin saya. Gagal nyaleg, dia bilang saya tidak bawa hoki. Padahal yang selalu bikin perkara kan itu, si Riene anak kandungnya. Perempuan kegenitan itu maksa-maksa papanya menceraikan saya dan menuntut semua warisan jatuh ke dia. Anak saya jadi marah. Kalau saya tidak cegah dia sudah ngamuk. Untung, bisa saya bujuk. Lalu dia hanya mengadu ke LBH. Papanya kaget, mengeluarkan pistol. Entah dapat dari mana, entah ada isinya atau tidak. Tapi saya kan jadi stres. Akhirnya, saya…”
Putus. Bu Raka menyemburkan tangis. Dengan tangkas Bu RT menenangkan seperti biasa, sambil mengusap-usap. Tapi tangis tamunya terus mengucur. Baru setelah disuguh makan, ia anteng kembali.
“Makannya lahap sekali, seperti orang kelaparan, Pak. Masa sih orang kaya begitu kelaparan? Pulang juga minta dibawain, untuk makan malam, katanya!” lapor Bu RT kemudian entah sudah berapa puluh kali pada suaminya. “Kalau kelas dia saja kelaparan, bagaimana kita ini?”
“Ya betul, Bu RT, serius! Sudah enam bulan saya hanya makan mi instan. Yang lain tidak ada yang bisa masuk!”
“Jangan, Bu Raka! Kebanyakan makan mi instan sama dengan bunuh diri.”
“Tapi kan enak!”
“Semua yang enak berisiko tinggi. Enak di mulut, racun di perut!”
“Biarin, yang dalam perut kan tidak kelihatan! Yang tidak kelihatan bukan urusan kita!”
Bu RT tersenyum. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan otak yang lagi kacau. Tetapi ia tak bisa membiarkan warganya sesat terlalu jauh.
“Kalau Bu Raka makan mi instan terus berarti selalu membuang makanan yang saya sering berikan dong?!”
Bu Raka bingung, tak menjawab. Ia loncat ke soal lain.
“Sekarang saya mulai minum pel mengurangi tekanan, karena tekanan saya sering sampai 120. Tinggi kan, Bu RT?”
“Siapa bilang, 120 itu normal.”
“Bukan 120, melainkan 210!”
“Wah, 210? Itu tinggi sekali. Ibu harus ke UGD. Cepat, sebelum kecolongan!”
“Betul, Bu RT. Risky juga bilang begitu. Tapi bagaimana ya, ke UGD kan repot, jauh, belum kalau dimainkan rumah sakit. Periksa sini, periksa sana. Mau bilang mencret saja, pakai periksa jantung, periksa darah, dironsen. Nanti kalau saya dikirim ke rumah sakit gila bagaimana? Memang itu tujuannya! Supaya saya pergi dari rumah. Jadi dia merdeka dengan cemceman-nya dan si Riene ambil alih semua. Tinggal Risky yang akan jadi anak ayam kehilangan induk. Aduh, tak kuat saya. Akhirnya, akhirnya saya….”
Putus lagi. Ibu kaya yang kelaparan itu sekali lagi dilabrak tangis.
Bu RT kemudian menyelipkan selembar 50-an ke tangan Bu Raka. Langsung tangisnya tamat. Lalu ia mau pulang ke rumahnya yang berlantai tiga di ujung.
“Itu dia. Kenapa aku kemarin ngotot menentang kamu jadi ketua RT!” kata Amin ngedumel. “Sudahlah. Mundur saja, Bu!”
“Lo, Pak, kamu ini bagaimana! Mau saya langsir? Jangan berpikir negatif terus! Ini kan risiko. Mana ada jabatan tanpa risiko. Katanya ingin belajar jadi caleg. Sudah, bersihkan rumah, jangan sambat aja, aku nengok saudara dulu! Nanti kalau tetangga baru itu lapor mau bawa tamu untuk nginap, tahan KTPnya, jangan terulang kasus sodomi itu lagi!”
Amin tak bisa membantah. Sejak istrinya jadi ketua RT, ia tak bisa ke mana-mana, karena seluruh kegiatan rumah praktis jatuh ke tangannya. Maka ketika dulu warga mencalonkan dia jadi ketua RT, ia angkat tangan. Tapi istrinya kepengin. Teman hidupnya itu ngiler dipanggil Bu RT.
Menjelang sore, datang Pak Raka. Curhat dia juga tak sedikit. Entah tahu entah tidak istrinya langganan menangis di rumah Bu RT. Ia begitu saja nubruk Amin.
“Pak Amin, payah!”
“Apalagi, Pak Raka? Kan mobil baru ganti!”
“Bapak-bapak menteri ada-ada saja! Masa pembangunan Menara Jakarta kerja sama dengan Tiongkok, pelaksanaannya mau ditumpahkan ke saya!”
“Oh ya? Hebat, Pak Raka! Selamat! Saya bangga!”
“Tapi itu kan berat! Pasti makan bertahun-tahun. Banyak intrik, friksi, kontradiksi, gosip, sikut-sikutan, iri hati. Salah sedikit, saya bisa digantung KPK!”
“Itu risiko! Tapi proyeknya kan gede, Pak. Untungnya pasti juga gede banget! Ya nggak?”
“Memang.”
“Bapak yang terpilih dari 250 juta rakyat Indonesia. Itu kan tandanya Bapak hebat! Masa sih, bapak-bapak di atas akan memilih saya. Pasti mereka pilih Bapak yang hebat?! Selamat!”
Amin menyambar tangan Raka. Mengguncangnya berapi-api. Tapi muka Raka kelihatan loyo.
“Tapi rumah tangga saya lagi galau, Pak Amin. Tahu kan, istri saya belakangan ini stres, lalu suka berhalusinasi. Dia sudah tahu dari berita koran, TV, ekonomi kita lagi merosot, rupiah terpuruk, semua menjerit. Saya banyak tugas, saya perlu konsentrasi, kok saya dituduh punya simpanan bini muda? Bini muda tahi kucing! Bini muda saya tugas negara! Memang saya jarang di rumah, tapi itu kan karena saya sibuk membantu menteri mau buat Menara Jakarta sebagai ikon Indonesia, proyek mercu suar bersama dengan Republik Rakyat Tiongkok. Uang belanja sudah saya dongkrak, tapi dia terus saja ngaku ke tetangga saya potong sampai tidak bisa makan. Itu bullshit. Bawaannya tegang, curiga, marah terus. Akibatnya, jangankan anak saya, anaknya juga tidak dia urus. Masa si Risky pernah memukul saya! Lo jelek-jelek begini saya kan papanya! Risky sudah jadi liar dan narkobais sekarang! Masa Riene, anak saya, adiknya, mau dia perkosa? Saya laporkan saja dia ke polisi! Eh, dia malah mengadu ke LBH supaya status saya diajukan ke pengadilan berada di bawah pengampuan! Supaya saya tidak berhak melakukan tindakan hukum sendiri! Itu kan sama dengan pembunuhan! Itu otak sesoprenia ibunya! Ternyata dia paranoid, berkepribadian ganda! Bekas Ratu Kebaya kok begitu! Tadinya waktu kami menikah, dia santun, intelek, berkarakter! Sekarang kok tahi kucing, jadi iblis begitu! Kepala saya hampir pecah mikirin kelakuannya. Shit! Shit! Akhirnya, akhirnya….”
Putus. Bu Amin muncul.
“Tumben, Pak Raka pulang sore!”
Raka kaget. Gugup menyapa, “O, Bu RT. Selamat sore. Dari mana? Apa kabar? Apa itu?”
Bu RT mengangkat kurungan kucing yang dia tenteng dari rumah keponakan.
“Ini Zera. Anak kucing persia, punya ponakan. Istrinya mengandung, dokter nyuruh kucing diungsikan dulu, bulunya bisa menyebabkan tokso plasma yang mengganggu janin. Jadi Zera dibuang, cuma sayang harganya mahal. Jadi mending saya tampung.”
Amin terkejut.
“Tapi kalau kita pelihara, aku kan bisa asma?”
Bu RT kaget.
“Astaga, kok saya bisa lupa Bapak alergi bulu kucing?”
“Lagian itu kan kucing ras! Makanannya, dokternya, akan morotin kita. Itu kucing orang kaya. Bukan untuk kita. Itu mainan untuk bos-bos seperti Pak Raka yang mau jadi kepala proyek Menara Jakarta ini.”
Raka ketawa.
“Mau mengadopsi Zera, Pak Raka?”
“Adopsi?”
“Ya!”
“Adopsi kucing?”
“Ya!”
Raka ketawa. Bu RT mengangkat tentengan plastik berisi dokumen Zera.
“Di sini ada akta kelahiran Zera. Buku harian Zera. Jadwal dokter, daftar makanan, kaset lagu kesayangan dan video yang suka dia tonton.”
Raka tertawa geli.
“Mau tidak?”
“Oke, oke, saya adopsi. Tapi saya harus bayar berapa juta?”
“Tidak usah bayar, asal dipelihara selayaknya sebagai anggota keluarga.”
“Oke, oke, deal, akan saya pelihara sebagai keluarga!”
Mereka bersalaman.
“Terima kasih, Bu RT. Hanya satu permohonan kecil. Tanpa mengurangi rasa hormat saya atas kebaikan hati Bu RT, saya mohon, kalau istri saya datang kemari mau curhat, mohon tolak saja. Dia itu sesoprenia, depresi, paranoid, berkepribadian ganda, dan suka berhalusinasi. Kalau ditanggapi, dia akan merasa didukung dan dibenarkan. Dan, maaf, tolong jangan sekali-sekali memberi dia makanan kampung. Perutnya supersensitif. Kemarin sampai dilarikan berobat ke Sing. Oke, terima kasih. Selamat sore!”
Raka cepat menenteng kurungan kucing ke mobil. Bu RT dan Amin ternganga. Tak percaya apa yang mereka alami.
“Itu bukan Pak Raka yang kita kenal, Pak. Itu orang lain!” bisik Bu RT.
“Ya! Kelihatan sekarang, jiwa dia yang terganggu!”
Malam hari Bu RT tetap bengong. Ia menyesal telah menyerahkan Zera pada orang yang lagi sakit jiwa. Lalu ia memutuskan mengambil Zera kembali.
Sembari ngumpat dalam hati, Amin terpaksa ikut. Ternyata rumah Raka gelap gulita. Bu RT berusaha ngintip.
Kedengaran ada suara percakapan di dalam. Amin hampir saja mengetuk pintu. Tiba-tiba lampu teras menyala. Bu RT menyambar tangan suaminya untuk bersembunyi.
Lalu kedengaran derai suara tertawa bersama. Pak Raka memegang sebatang lidi dengan robekan kertas bekas kresek di ujungnya. Ia memainkan kertas itu hingga Zera dengan serius penuh semangat menerkam, mengejar, melompat, jatuhbangun. Semua ketawa histeris.
Kemudian sambil mengeluarkan bujukan dan kata-kata lembut, bergantian pegang lidi. Bu Raka menari-nari, Risky bergulung dan Riene menyanyi.
Bu RT dan Amin ternganga melihat orang dewasa itu jadi lebih dari anak-anak. Ketawa mereka meledak-ledak, terpingkal-pingkal tak putus-putus. Kegelapan rumah itu berubah jadi cahaya kebahagiaan yang lembut dan begitu mengharukan.
Ketika Raka terjatuh karena terlalu bersemangat mengelaki terkaman Zera, kucing itu terkejut, lalu ngibrit masuk rumah. Semua membantu Raka bangun, lalu bersorak tertawa melihat celana calon kepala proyek Menara Jakarta itu robek. Raka cekakakan.
Zera mengeong seperti minta permainan diteruskan. Semua menyusul masuk sambil tertawa. Tapi Raka salah langkah, oleng. Bu Raka menggapai, tapi terlambat. Keduanya jatuh pelukan. Amin tertawa, hampir saja bertepuk tangan. Bu RT cepat menutup mulut suaminya dan segera membawanya pergi. (44)

Jakarta, 10 November 2015
– Putu Wijaya, yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya, adalah sastrawan serbabisa. Pria kelahiran Tabanan, Bali, 11 April 1944, ini menulis esai, cerpen, novel, naskah drama, serta skenario sinetron dan film. Dia juga melukis serta bermain dan menyutradari teater.

Surga di Kolong Ranjang

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe (Media Indonesia, 25 Februari 2018)
Surga di Kolong Ranjang ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Surga di Kolong Ranjang ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
LAGI-LAGI, saya menemukan Alessa merebah di kolong ranjang di kamarnya. Sudah tiga kali saya temukan ia di sana. Tertidur pulas di lantai keramik berwarna gradasi abu-abu muda. Dengan posisi menyamping, dan telapak tangan yang menyelip di antara lantai dan pipinya, Alessa tertidur sambil tersenyum. Ingin saya membelai dan mengecup keningnya, atau bahkan memeluk tubuhnya, tetapi saya tahan. Saya khawatir, jika itu saya lakukan, saya hanya akan mengganggu tidurnya. Atau malah membangunkannya. Saya tidak mau itu terjadi. Oleh sebab itu, saya merebahkan diri dan mengawasi Alessa hanya dari pinggir kolong. Sambil mereka-reka apa yang sedang dimimpikan oleh keponakan saya tersebut.
Barangkali, Alessa sedang memimpikan sebuah istana yang terbuat dari cokelat, yang di dalamnya terdapat kolam besar yang berisikan madu. Atau, mungkin juga, saat ini Alessa sedang memimpikan sepasang boneka kelinci raksasa yang jarijemarinya dapat diemut bagaikan permen. Sebagaimana yang pernah ia ceritakan kepada saya dua hari yang lalu–ketika saya baru saja tiba di rumah ini, setelah kakak saya (mama Alessa) meminta saya untuk datang menemani Alessa selama beberapa hari ke depan. “Om, apakah di surga ada boneka kelinci raksasa?”
Pertanyaannya itu membuat saya tersenyum. Ia menggandeng saya ke kamarnya. “Tentu saja, Alessa. Di sana, apa pun yang menyenangkan hati kamu, pasti ada.”
“Meskipun boneka kelinci raksasa itu berbeda?”
“Ya, meskipun boneka kelinci raksasa itu berbeda. Asalkan hati kamu merasa gembira, boneka yang bagaimanapun bedanya, di sana pasti ada.”
Dengan senyum kanak-kanaknya yang khas, Alessa memandangi saya cukup lama, kemudian mulai bercerita. Ia mengatakan kepada saya, bahwasanya kemarin siang, setibanya di rumah usai pulang sekolah, ia terburu-buru masuk ke dalam kamar dan tanpa sengaja menjatuhkan botol minumnya. Dan, ketika hendak mengambil botol minumnya tersebut, ia melihat kerlip bintik-bintik cahaya yang beterbangan memenuhi kolong ranjang. Ia terkejut–sekaligus penasaran. “Seperti kunang-kunang?” tanya saya. Alessa lekas mengiyakan, “Iya, maksudku itu, Om, seperti kunang-kunang.”
Alessa kembali meneruskan ceritanya. Ia bilang, dirinya mengamati kerlip bintik-bintik cahaya itu terlebih dahulu—dalam beberapa menit—sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kolong. Dan, ketika dirinya telah berada di tengah-tengah kerumunan kerlip bintik-bintik cahaya—yang entah apa—itu, ia merasakan seperti ada sesuatu yang mengisap tubuhnya kuat-kuat. Hingga ia tersedot dan terlempar jauh ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. “Dan, tempat itu benar-benar indah, Om!”
Ia tampak begitu ceria, saat mengatakan, di tempat itu ia melihat sebuah danau yang tidak terlalu luas, tetapi di tepiannya berderet perahu-perahu karet yang berwarna-warni. Dan, di dekat perahu-perahu karet yang berwarna-warni itu pulalah ia bertemu dengan sepasang boneka kelinci raksasa yang berdiri tegak menghadap ke arah danau. Sepasang boneka kelinci raksasa itu kemudian mengulurkan kedua kelingking mereka masing-masing ke dekat mulut Alessa. Sehingga aroma khas permen mentol yang menguar dari jari-jemari sepasang boneka kelinci raksasa itu tercium olehnya. Alessa pun mengulum satu per satu jari-jemari boneka-boneka kelinci raksasa tersebut.
Selepas menikmati jari-jemari sepasang boneka kelinci raksasa tersebut, Alessa dihampiri oleh seekor merpati yang berukuran besar. Tinggi badan merpati itu setinggi rumah dua lantai, hampir menyamai tinggi boneka-boneka kelinci raksasa tersebut. Merpati itu merebah. Lalu merentangkan sebelah sayapnya, “Naiklah ke punggungku, gadis kecil.” Dengan hati-hati, ia merangkak naik ke punggung merpati yang berwarna putih itu. Kemudian memegangi bulu-bulu yang tumbuh di leher merpati itu erat-erat. Merpati itu membawanya terbang menuju ke sebuah bukit yang sangat tinggi. Dan, di puncak bukit itu, Alessa melihat papanya sedang asyik memetik apel. “Papa? Papa kamu?”
“Iya, Om, papa kandung aku!”
Saya terkejut mendengarnya. Bagaimana Alessa bisa yakin kalau orang yang dilihatnya di puncak bukit itu adalah papa kandungnya? Padahal, saya tahu, sekali pun Alessa belum pernah melihat wajah papanya sejak ia berumur dua tahun. Karena mamanya tidak membiarkan hal itu terjadi. Saya ingat, enam tahun silam, dua minggu setelah kepergian papanya dari rumah yang entah ke mana, mamanya mengumpulkan semua foto yang ada di rumah lalu membakarnya. “Pernikahan dengan laki-laki itu adalah sebuah kesalahan,” kata mama Alessa meradang, “dia laki-laki pecundang.”
Dia bukan pecundang, pikir saya. Dia, laki-laki itu (papa Alessa), hanyalah seorang laki-laki yang kurang beruntung. Laki-laki itu bernasib jelek setelah menikahi kakak saya. Dia di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja, tepat enam bulan sesudah menikah. Dan, nasibnya kian kurang beruntung setelah tidak berhasil memperoleh pekerjaan yang baru. Lamaran-lamaran pekerjaannya selalu ditolak, entah mengapa. Barangkali, perusahaan-perusahaan itu tidak menaruh minat kepada orang-orang yang terkena PHK. Atau, mungkin juga, usianya yang tidak lagi mampu bersaing dengan pelamar-pelamar yang jauh lebih muda. Atau memang, belum rezekinya saja. Ya, apa pun itu, menurut saya, papanya Alessa hanyalah seorang laki-laki yang kurang beruntung dan menikahi seorang perempuan yang kurang bersabar. Padahal, laki-laki itu laki-laki yang baik. Dia bahkan rela bekerja serabutan menjadi juru parkir liar demi anak dan istrinya. Dan, dia juga rela menerima hardikanhardikan istrinya setiap hari. Sampai pada suatu hari, dia menghilang, dan tak pernah kembali.
“Merpati itu yang memberi tahu, bahwa orang yang ada di puncak bukit itu adalah papaku.”
Betapa senangnya Alessa mengatakan hal itu. Saya bisa merasakan kebahagiaan yang berbalut kerinduan dalam getar suaranya.
“Ternyata papaku itu orangnya ganteng, ya, Om.”
Saya memalingkan muka. Saya tidak mau Alessa melihat kedua mata saya berkaca-kaca.
“Iya, sekarang kamu tahu, kan, cantiknya kamu itu nurun dari siapa?”
Ia tidak menjawab. Tapi, saya yakin, Alessa sedang tersenyum-senyum sendiri.
“Kasihan kamu, Alessa,” gumam saya pelan.
Ingin rasanya saya memeluk Alessa dan cepat-cepat membawanya pergi dari sini. Betapa sepinya Alessa di rumah ini. Setiap hari, ia hanya berteman dengan boneka-boneka yang ada di kamarnya. Dan seorang pembantu yang terlalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya, sedangkan mamanya, sungguh, ia tidak pernah peduli. Bagi mama Alessa, tanggung jawabnya hanyalah: menyekolahkan Alessa, memberinya pakaian dan makanan agar Alessa tetap hidup. Cuma itu. Dan itu pun sudah lebih daripada cukup buat seorang anak yang terlahir dari sebuah kesalahan. “Bagaimana dengan perhatian dan kasih sayang yang dia butuhkan?” protes saya kala itu. “Untuk hal-hal demikian, Kakak percayakan sama kamu,” jawabnya ringan.
Dan, ketidakpedulian mamanya itu kian menjadi-jadi setelah menikah lagi, setahun kemarin. Mamanya cuma sibuk mengurusi dan memberi perhatian kepada suami barunya saja. Sedangkan Alessa? Entahlah. Mungkin, baginya, Alessa hanyalah setitik debu di kehidupannya. Ah, seandainya saja kedua orangtua saya (kakek dan nenek Alessa) masih hidup.
Tiba-tiba, ponsel di saku celana saya bergetar. Sebuah pesan pendek dari kakak saya yang memberitahukan bahwa ia dan suaminya akan pulang esok pagi. Saya melihat jam yang tertera di layar ponsel: 19:09 PM. Ternyata, sudah hampir dua jam saya mengawasi Alessa dari pinggir kolong. Saya harus segera membangunkan Alessa untuk mengajaknya makan malam. Saya tidak mau ia masuk angin lalu sakit. Perlahan saya mendekati Alessa.
“Alessa, ayo bangun, kita makan dulu,” bisik saya ke telinganya.
Ia tidak merespons. Alessa masih terlihat pulas dengan senyumnya yang tampak begitu polos. Saya mencoba sekali lagi, “Alessa, ayo kita makan dulu, nanti setelah makan malam, kamu boleh tidur lagi,” bisik saya dengan suara yang agak lebih tinggi.
Alessa tetap tidak menjawab. “Alessa, bangun,” saya mengguncangkan badannya. Tapi, Alessa tetap tidak bereaksi. Saya menyentuh pipinya, kemudian memegangi tangannya. Dan, yang saya rasakan saat ini, pipi dan tangan Alessa terasa sangat dingin. Lalu saya mendekapnya. “Alessa, ayo bangun, sayang….”
Kemudian saya lepaskan dekapan saya dan berbaring di sampingnya. Saya kembali teringat, siang tadi, Alessa berkata: “Om, di tempat yang indah itu, aku melihat sebuah istana yang sangat megah. Dan, di situ, aku melihat banyak bidadari cantik yang berdiri di dekat Papa. Aku juga melihat Kakek, Nenek, dan Om ada di sana. Tapi…, kenapa aku tidak melihat Mama ada di sana, ya?”
Tidak lama kemudian, tiba-tiba, saya melihat kerlip bintik-bintik cahaya bermunculan satu demi satu. Mereka mulai menerangi dan memenuhi kolong ranjang. Kerlip kuning keemasan yang tampak cantik. Membuat saya terlena dan hanyut. Perasaan saya begitu damai. Tenang. Sejuk. Dan, ada rasa bahagia yang merangkul batin saya. Belum pernah saya merasakan kegembiraan seperti sekarang ini. Memaksa saya untuk selalu tersenyum. Hingga, mendadak saya merasakan ada sesuatu yang menarik diri saya dan mengempaskan saya ke suatu tempat. Dan, tempat itu terlihat sangat-sangat indah.
“Alessa?”
***

Abdullah Salim Dalimunthe. Kelahiran Medan, Sumut, November 1982. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Kini ia tinggal di Bandung, Jawa Barat.

Minggu, 25 Februari 2018

Kabar dari Semar

Cerpen Daruz Armedian (Banjarmasin Post, 18 Februari 2018)
Kabar dari Semar  ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post.jpg
Kabar dari Semar ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group 
“Raden, saya benar-benar tidak tahu siapa yang menaruh pistol itu di meja ruang tamu rumah saya.”
Semar berkata seperti itu pada suatu ketika tuannya, Raden Said, bertanya muasal pistol dengan peluru yang tinggal tiga itu. Mendengar ucapan Semar sambil memelas, Raden Said cuma manggut-manggut, sesekali meneguk kopinya yang masih hangat. Lalu mencomot pisang goreng yang ada di nampan.
“Menurutmu, siapa?” kata Raden Said sambil menyalakan korek api yang kemudian digunakan membakar ujung rokoknya.
Semar hanya menggeleng. Menggeleng sambil menunduk. Sepasang matanya tidak berani sama sekali menatap tuannya.
Sebenarnya, ia juga ingin menyeruput kopi sambil makan gorengan. Terlebih lagi ketika membaui asap tembakau yang dilinting dengan klobotan, daun jagung kering. Akan tetapi, ia merasa hal itu tidak sopan. Maka, ia hanya menatap perutnya, yang walaupun besar seperti perut orang hamil, tetapi menanggung lapar yang amat sangat. Ia berharap si tuan menawarkan. Tetapi, belum tuntas ia berharap, harapan itu terkabul.
“Jangan takut begitu. Ini, makan dulu gorengannya.”
Raden Said berseloroh sambil menahan geli melihat Semar malu-malu tapi mau.
Dan sejurus kemudian, Raden Said merenung kembali. Ia bingung dan bertanya-tanya, siapa yang berani-beraninya membawa alat modern di zaman yang masih kuno? Perlu diketahui, di dunia, waktu itu, belum ada sama sekali yang namanya pistol. Tentara-tentara, bala perang, masih menggunakan tombak, pedang, panah, dan lain-lain. Lenin, Stallin, Hitler, Mao Zedong, Saddam Hussen, Bush, Osama Bin Laden, Imam Samudra, belum lahir.
“Raden, apa di pikiran Raden, saya yang sengaja menyembunyikan pistol itu?”
Semar memberanikan bicara lagi. Ia takut tertuduh. Takut sekali. Pasalnya, ketika bangun tidur dan beranjak dari kamar, tiba-tlba ia menemukan sebuah pistol teronggok di atas mejanya. Pistol itu masih hangat, seperti baru saja digunakan menembak.
Sebenarnya, kalau cuma pistol teronggok di meja begitu saja, tidak akan serumit itu. Masalahnya, bersamaan dengan pistol tergeletak di meja, ada kabar bahwa telah ditemukan: orang mati dengan kepala yang luka ditembus peluru.
Orang itu diketahul bernama Sengat Ibrahim. Rambutnya panjang, ia pintar dalam hal strategi peperangan. Tetapi, ia sangat miskin. Rumah pun tak punya. Makan di mana saja. Dan, hanya satu yang baik darinya: ia selalu membantu rakyat-rakyat miskin. Seperti namanya, kata-katanya selalu menyengat para penguasa, yang dalam hal ini, para raja.
“Aku tidak menuduhmu apa-apa. Aku hanya bingung, siapa pemilik benda berbahaya ini.” Raden Said angkat bicara lagi.
“Oh, baiklah kalau begitu, Raden!” Semar lega.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba mata Raden Said nanar. Ia dapat ide.
“Mari kita cari sama-sama siapa pemiliknya.” Dengan cepat ia menggenggam tangan Semar. Mereka meluncur ke masa depan. Ke dunia modern. Sebab, Raden tahu betul, pistol hanya ada di dunia modern.
Hanya sekejapan mata mereka sampai pada tempat tujuan.
“Di mana ini, Raden?” Semar mengatakan seperti itu karena terkejut.
Bagaimanapun, ia tidak pernah melihat hal-hal seperti ini: cuaca panas, udara abu-abu seperti berdebu, besi-besi berjalan dengan suara bising, besi-besi terbang bak burung, orang-orang lalu lalang tanpa menyapa sesamanya, dan lain-lain.
Entah bagaimana caranya, Raden Said bisa tahu di mana pistol itu dibuat. Ia langsung menuju ke sebuah tempat yang asing sama sekali bagi Semar. Pabrik pistol. Di sana, Raden Said langsung menemui pemilik pabrik itu. Seorang lelaki tua dengan uban di kepala, dengan penjaga di kanan dan kirinya. Setelah perbincangan agak lama, si pemilik pabrik memberi jawaban pasti mengenai pistol itu.
“Ini buatan tahun enam puluhan. Yang memesan adalah jendral bintang lima. Ya, aku masih sangat ingat hal itu. Tetapi sayang sekali, beliau sekarang sudah mati. Jadi kamu nggak mungkin mewawancarainya, kan?”
“Katanya, beliau butuh pistol yang bisa menembus masa lalu. Sebab, di masa itu ada orang bernama Ibrahim, yang dari keturunannya, akan menggagalkan semua rencana-rencana beliau. Beliau ingin jadi presiden.”
Mendengar penjelasan itu, Raden Said langsung paham. Ia berpikir: Jahat sekali orang yang mengirimkan pistol ini. Bahkan orang yang ada di masa lalu pun mesti dibunuh. Jabatan memang telah banyak membuat manusia jadi gila.
Di samping itu, Semar hanya melongo. Tidak mengerti maksud apa pun. Ia bingung dengan dunia masa lalu dan masa depan yang memang membingungkan itu. Akhirnya, yang ia pikirkan saat itu hanya pulang ke tempat yang teduh. Ngopi dan ngerokok. Ia tidak mau memikirkan kabar apa pun mengenai pistol itu, yang walaupun ia sendiri yang mengabarkannya pertama kali. ***

Daruz Armedian, lahir di Tuban, Jawa Timur. Penggiat Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ini tercatat sebagai mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Penulis tetap di tubanjogja.org ini tinggal di Yogyakarta.

Eustasius

Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Koran Tempo, 23-24 Februari 2018)
Eustasius ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Eustasius ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Lenin mendengar suara berdebum. Ia bergegas keluar dan menemukan dirinya sendiri terkapar di atas rumput-rumput yang belum sempat dibersihkan. Diamatinya sosok itu, bagian-bagian yang tertelungkup di atas rumput tinggi yang menyemak karena telah lama tak dihiraukan. Sosok dirinya yang seperti baru saja terjatuh itu merasakan kakinya dingin, pipinya gatal seperti menyentuh ujung-ujung bunga digitaria; aromanya terhirup lembut. Ia merasa seekor serangga merangkak dari dalam tanah ke lubang telinganya, suara langkah serangga itu menggema di gendang telinganya. Ia bangun terperanjat, menemukan dirinya masih di dalam kamar…
Lenin duduk memiringkan kepalanya dan mulai mengorek-ngorek lubang telinga mencari serangga yang kini sudah terasa menapaki saluran eustasius-nya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rupa saluran eustasius yang sesungguhnya. Ia berharap serangga dalam telinganya kini menikmati perjalanan di dalam sana dan keluar membawa cerita yang mungkin menginspirasi Lenin untuk menjelajahi saluran eustasius orang lain.
Semenjak mendapat gagasan untuk menulis dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, Lenin mulai mendengar suara-suara khayalan-seakan suara itu keluar dari otaknya dan masuk lagi melalui lubang telinga, merambat menghantarkan getar lewat eustasius, memukul gendang telinganya dan kembali masuk ke dalam sumber di mana suara itu berasal. Ia sedikit terkejut karena ternyata tak hanya mendengar suara khayalan. Ia pun mampu melihat wujud khayalannya. Saat itu ia sedang asyik menghitung rumus-rumus fisika dasar yang berhubungan dengan jatuhnya sesuatu yang dipengaruhi oleh gaya tarik bumi. Di pangkuannya ada modul perihal Hukum Newton dengan tinta warna hitam tebal, angka-angka yang hampir tak terbaca, formulasi rumus berjajar membentuk kerumitan tanpa garis, tanpa kalimat yang bisa dieja untuk mengerti dari mana datangnya angka 200 dari akar 400. Sebelum suara itu terdengar, ia sampai pada pengamatan tentang gerak suatu dimensi. Di bagian itu ia tertarik pada prinsip gerak jatuh tanpa hambatan. Prinsip itu menjelaskan, jika sebuah benda jatuh dari ketinggian tertentu dengan besar kecepatan 0, maka seutuhnya benda itu akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi.
Lenin mulai menduga seberapa tinggi gedung apartemen tempat Veronica tinggal. Saat ia masuk ke dalam apartemen wanita itu, ia melihat angka terbesar pada lift berhenti pada 15 dengan menghilangkan angka 13-ia yakin bahwa siapa saja yang merancang atau membuat gedung itu pastilah seorang penderita triskaidekafobia-jadi ada 14 tingkat secara keseluruhan. Jika masing-masing tingkat dari apartemen itu memiliki ketinggian 2,5 m, maka tinggi keseluruhan bangunan itu adalah 35 m. Kemudian ia bayangkan menempatkan dirinya di atap gedung itu dan membiarkan dirinya ditarik gravitasi seperti apel yang jatuh di hadapan Newton. Ia mulai menghitung berapa lama waktu yang diperlukan hingga tubuhnya terhempas di atas permukaan tanah; t =  dengan kecepatan gravitasi sebesar 10 m/s2, ia hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 detik untuk terhempas ke permukaan tanah. 3 detik cukupkah untuk mengingat semua kehidupan yang pernah dijalaninya? Hanya 3 detik dan kematian yang dirindukan akan datang menghampiri? Sesingkat itukah memanggil kematian? Telinganya berdenging mendengar suara dentuman keras melalui lubang telinga, merambat menghantarkan getar lewat eustasius dan memukul gendang telinganya. Lenin terperanjat mendengar betapa nyatanya suara itu. Ia berlari keluar dan menyaksikan tubuhnya sendiri terlungkup di atas rerumputan..
Beberapa malam sebelum Lenin mulai mempelajari rumus-rumus yang berhubungan dengan gravitasi, gerak, dimensi, kejatuhan atau apa pun itu, ia telah terlebih dahulu jatuh cinta pada Veronica. Wanita ini mampu membuat Lenin memikirkan hal-hal yang tak pernah dipikirkan; termasuk memikirkan wanita itu hampir setiap saat meski pada awalnya ia tak pernah memikirkannya sebelumnya, tepatnya tak pernah sekeras itu. Lenin mengeja nama wanita itu bagaikan membaca sebaris ayat suci; dengan lembut dan penuh rasa haru. Pada malam-malam ketika ia tak bisa tidur karena apa pun, bayangan Veronica menjadi selimut lembut menyelubungi dan membuatnya nyaman. Saat dalam kebimbangan dan kesulitannya menemukan pembenaran, Lenin seringkali menemukan perkataan Veronica menjadi fakta yang absolut. Lenin akan selalu terpesona pada apa pun yang dilakukan Veronica; akan selalu mendengarkan perkataan Veronica dengan antusiasme yang terkadang berlebihan. Ia akan selalu mengamati setiap detail pada wajah dan tubuh wanita itu, memeriksa kembali detail-detail yang luput dari perhatiannya sebelum melepas wanita itu dengan pelukan hangat.
Beberapa malam lalu mereka bertemu di “sarang” mereka-Lenin menyebutnya begitu. Veronica telah menyiapkan makan malam dan mereka duduk berhadap-hadapan. Tak ada hujan hari itu. Lenin juga tak bisa melihat bulan karena jendela di belakang Veronica mengarah ke kegelapan. Lenin merasa hatinya penuh.
“Betapa menyenangkan melihat kau menikmati makananmu.”
“Benarkah?” Veronica mengangkat tatapannya ke wajah Lenin, matanya yang coklat bagaikan memancarkan hangat matahari ke dalam hati Lenin.
“Sungguh, aku selalu menyukainya.”
“Kadang aku merasa sedikit aneh jika kau perhatikan seperti itu, kau seolah-olah sedang melihat sekuntum bunga purba yang sedang mekar.”
“Kau benar,” Lenin tersenyum dan melihat Veronica benar-benar menjadi sekuntum bunga purba yang begitu rapuh dan indah dengan semua kenangan yang terkatup dalam kelopak-kelopaknya. Rambutnya menjuntai bagai benang sari yang mengikat nasib para bayi yang belum menemukan pintu masuk ke dunia ini.
“Kau benar. Kau seperti sekuntum bunga purbakala yang sedang mekar dan selamanya akan mekar karena kau tak tersentuh waktu.”
Mereka tersenyum dan kembali menikmati makanan tanpa suara atau percakapan, itu membuat Lenin semakin jatuh cinta padanya; ketenangannya yang lambat seperti ketika langit jingga senja hari berubah gelap. Lenin bersyukur karena mampu menikmati ketenangan itu dari wajah Veronica. Saat acara makan malam yang khidmat itu selesai, mereka akan memulai percakapan perihal apa saja, apa saja bagi Lenin berarti Veronica dan semua hal tentang dirinya. Jadi ia selalu berharap Veronica menceritakan sesuatu tentang buku-buku yang dibacanya, tentang burung yang hinggap pada tali temali yang ia lihat entah di mana, tentang arwah nenek moyang yang menginjak kakinya, tentang seorang laki-laki yang baru kembali dari rantauan dan lupa mengeja nama desanya, tentang sejarah seekor belatung atau nama mahoni, tentang film yang telah ditontonnya malam lalu, tentang seorang sutradara dan aktor serta aktris favoritnya, tentang musik dan keinginannya mengumpulkan semua album yang dimiliki oleh semua musisi yang dikenalnya, tentang seseorang yang memberinya vodka saat udara begitu dingin menusuk hidungnya yang manis. Apa saja berarti kemungkinan yang selalu menggairahkan.
Begitulah, malam itu Veronica bercerita tentang buku yang ia baca, buku itu menyita perhatiannya. Veronica adalah seorang penulis. Jadi, apa pun yang ia katakan tentang buku, cerita, atau puisi akan terdengar begitu hidup dan nyata. Ia mulai bersemangat menceritakan tentang cerita yang sedang ditulisnya. Cerita itu berkisah tentang upaya bunuh diri seorang wanita dengan cara melompat dari jembatan. Dalam cerita itu ia menuliskan bahwa tokoh yang ingin bunuh diri itu berusaha menghindari tatapan orang lain agar tak ada siapa pun yang melihatnya. Secara tidak terduga ia menemukan hal serupa dari buku yang dibacanya malam sebelumnya. Buku itu juga berkisah perihal seorang yang melakukan tindakan bunuh diri dengan melompat dari jembatan. Bedanya, karakter dalam cerita Veronica tidak berhasil melompat karena ada seorang ibu baik hati yang berusaha menolongnya, sedangkan karakter dalam buku itu berhasil melompat dan berusaha mati. Karena Lenin sangat ingin menjadi bagian dari apapun yang Veronica pikirkan, ia mulai berpikir untuk menulis cerita tentang seseorang yang ingin bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan.
Pertemuan terakhir dengan Veronica itu terus mengganggu Lenin hingga ia memutuskan menulis cerita tentang dirinya sendiri.
“Lenin Endrou duduk termenung menatap dahan pohon yang berayun. Di dalam kepalanya keinginan untuk bunuh diri begitu kuat. Ia pernah menyaksikan orang-orang yang begitu putus asa hingga memutuskan untuk bunuh diri, ia memikirkan hal itu hingga tertidur dan ia bermimpi dirinya jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Ia menyadari dirinya jatuh tepat seperti adegan dalam film garapan Federico Fellini di mana tokohnya diikat dengan tali seperti layangan, terbang di atas hamparan laut di bawah langit abu-abu, kemudian jatuh karena orang yang memegang tali itu menarik-nariknya, memaksanya turun. Ia merasa terhempas di atas digitaria dan seekor semut masuk ke dalam telinganya.”
Saat mengetik tanda titik, Lenin tahu ia belum sempat menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan tubuhnya untuk menyentuh tanah, ia juga belum menetapkan di mana tempat karakter-dirinya itu harus melompat; karena jembatan-jembatan telah digunakan oleh Veronica dan seorang pengarang besar yang bukunya telah dibaca Veronica. Hal lain yang membuatnya beralih dari angka-angka dan hitungan adalah alasan apa yang kira-kira masuk akal bagi karakter-dirinya itu untuk melakukan upaya bunuh diri?
I Still Can’t Sleep dari Bernard Herrmann mengalun dari pemutar musik terpantul pada dinding-dinding kamar yang menjaga imajinasinya. Lenin baru ingat ia telah memutar lagu itu berulang-ulang semenjak tadi. Tepat sebelum adegan Robert De Niro mulai bercerita tentang bagaimana buruknya kesepian dan masalah susah tidurnya, Lenin menutup mata. Ia mulai melihat dirinya berada di puncak sebuah apartemen. Angin dingin menggoyangkan tubuhnya sebelum ia terjatuh begitu dalam.

Maywin Dwi-Asmara, penulis cerpen dan peneliti. Tahun 2014 mendapat research fellow dari salah satu universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Ia berkhidmat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Catatan
I Still Can’t Sleep adalah soundtrack untuk film Taxi Driver besutan Martin Scorsese (1976).

Kutipan Go Where Your Heart Takes You

“Jika dipandang dari luar, kehidupan banyak orang tampak tidak bercela, tidak masuk akal, bahkan gila. Jika kita memandang permukaannya saja, mudah untuk salah memahami orang-orang dan hubungan mereka. Hanya dengan memandang ke bawah permukaan, dengan menjalani kehidupan mereka selama tiga bulan, barulah kita bisa berharap memahami motif mereka, alasan mereka, apa yang membuat mereka bertindak dengan satu cara alih-alih lain cara.” (hlm. 211)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Yang membebani kita bukanlah ketidakhadiran mereka yang sudah tiada, melainkan kata-kata yang tak terucap di antara kita dan mereka. (hlm. 12)
  2. Mimpi adalah cara menyusun strategi untuk kelangsungan hidup. (hlm. 19)
  3. Kau perlu mempersenjatai dirimu dengan semua kebajikan, jika ingin menempuhnya hingga akhir. (hlm. 58)
  4. Lakukan jika kau punya kesempatan. Lupakan segala prasangkamu dan amati saja. (hlm. 75)
  5. Takdir punya lebih banyak imajinasi daripada kita: tepat ketika kau merasa tidak ada jalan keluar dari situasi tertentu, ketika kau tealh mencapai dasar keputusanmu, secepat embusan angin segalanya akan berubah. (hlm. 161)
  6. Pemahaman berasal dari kerendahan hati, bukan dari keangkuhan pengetahuan. (hlm. 211)
  7. Jika kehidupan adalah perjalanan, maka perjalanan itu menanjak sepanjang waktu. (hlm. 214)
  8. Satu-satunya guru, satu-satunya guru yang sejati dan bisa dipercaya, adalah hati nurani. (hlm. 215)
  9. Di bawah pohon ek, jadilah pohon ek, alih-alih dirimu; di dalam hutan, jadilah hutan; di atas rumput, jadilah rumput; diantara orang-orang, jadilah seseorang. (hlm. 224)
  10. Diamlah dan dengarkan kata hatimu dalam keheningan. Ketika hati sudah bicara, bangkitlah dan ikuti. (hlm. 245)
Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Ketika penyakit menyerang seseorang yang belum pernah tahu bagaimana rasanya jatuh sakit, maka penyakit itu akan menyerang dengan sangat keji dan mendadak. (hlm. 6)
  2. Selama tubuh kita berfungsi dengan baik, kita tidak menyadari betapa tubuh bisa menjadi musuh mengerikan. Namun, jika meruntuhkan pertahanan sedetik saja, kita akan kalah. (hlm. 9)
  3. Jika hendak meningkatkan dan memperluas lingkungan, kau harus meninggalkan lingkungan mencekik tempatmu dibesarkan. (hlm. 23)
  4. Belum tahukah bahwa seleksi alam adalah prinsip yang mengatur dunia? (hlm. 24)
  5. Adakah cara membebaskan diri dari takdir yang didiktekan oleh lingkungan masa kecil atau diwariskan? (hlm. 41)
  6. Penampilan adalah segalanya; semua hal lain tidak menarik. (hlm. 45)
  7. Ketidakbahagiaan biasanya diwariskan lewat garis keturunan pihak perempuan. (hlm. 51)
  8. Kita terbiasa menganggap masa kecil sebagai periode kebutaan, ketidaklengkapan, alih-alih sebagai masa kekayaan besar. (hlm. 75)
  9. Jangan menganggap menyingkirkan kepribadian dan menerima karakter palsu itu mudah. (hlm. 83)
  10. Karakter dan kepribadian, bertentangan dengan apa yang mungkin kau yakini, bukanlah hal yang sama, bahwa sesungguhnya yang satu mengecualikan yang lain dalam banyak kasus. (hlm. 83)
  11. Pemberontakan bukanlah bagian dari pembawaan. (hlm. 155)
  12. Ketika kau tidak sedang jatuh cinta kepada siapa pun, ketika hatimu sedang bebas dan matamu tidak mencari mata orang lain, maka dari semua lelaki yang mungkin kau anggap menarik, tak seorang pun tertarik kepadamu. (hlm. 182)
  13. Begitu kau direbut oleh seseorang dan orang lain tidak berarti sedikit pun bagimu, kaum lelaki mulai mengejarmu, membisikkan kata-kata manis kosong dan merayumu. (hlm. 182)
  14. Seseorang tidak melakukan apa-apa. Iman itu datang. Kau sudah memilikinya, tetapi keangkuhan mencegahmu untuk mengakuinya. (hlm. 223)

Kalah

Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 25 Februari 2018)
Kalah ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Kalah ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
PAKDE ELVIS yang masih kerabat jauh Bu Pao berkunjung. Ia curhat mengatakan dirinya kalah. “Aku ini pecundang yang mati separo, Pao!”
Lalu bertanya: “Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengurangi rasa kalah ini, Pao?”
Ia tak mengatakan, kalah apa. Pao pun merasa kurang sopan kalau menanyakan kalah apa.
“Ya, legawa saja, terima kekalahan itu, Pakde. Nanti Pakde perlahan-lahan akan menang.”
“Sudah, aku sudah menerimanya, bahkan 200 prosen, tapi mengapa aku tetap saja kalah?”
“Ya, itu berarti, maaf, Pakde belum cukup legawa, maksud saya masih belum cespleng tuntas rela ikhlas menerima kekalahannya. Jadi, sekali lagi maaf, tanpa mengecilkan upaya Pakde, tekad mengakui kekalahannya masih belum sungguh-sungguh tokcer afdol!”
“Jadi maksudnya aku harus menikmati kekalahan itu?”
“Betul. Persis! Kira-kira lebih kurangnya begitu.” Tiba-tiba saja Pakde marah. Ia berdiri sambil berkata ketus.
“Kau enak saja ngomong begitu, Pao! Coba kau sendiri yang mengalaminya, kalau kagak modiar, baru tahu rasa, nyahok bagaimana sakitnya kalah! Remuk hancur luluh sudah jadi bubur perasaanku, Pao! Tai kucing! Bangsat!”
Ia masih sempat memotong roti gambang yang dibawanya untuk oleh-oleh dan memakannya sebelum kemudian kembali menggebrak meja: “Tai kebo! Tikus celurut! Najis! Bangsat!” Dan pergi. Pao bingung. Hatinya ngedumel, “Aku kok merasa sudah mencoba menjawab sesuatu yang tak jelas, dengan ikhlas, kok malah disumpahi?” Bu Pao muncul bawa kopi.
“Lho, ke mana Pakde?”
“Bagaimana menjawab kalau kita tidak tahu apa kekalahannya? Dalam keadaan bagaimana, salahnya berapa fatal, kenapa, di mana, dan mengapa?”
“Ada apa sih kok berkicau?”
“Jangan-jangan sebenarnya Pakdemu itu tidak kalah, hanya merasa kalah atau mengalah. Jangan-jangan pula sebetulnya beliau bukan kalah, tapi menang. Hanya merasa kurang menang. Kekalahan itu kan seribu wajah! Karenanya Pakde patut dicurigai, jangan-jangan hanya mendramatisir. Dia lupa aku ini kan mantan pemain jenong. Ha-ha-ha!”
Bu Pao tersinggung. “Nggak lucu! Maka dari itu, Bapak jangan asal cuap saja! Tanya dulu abc-nya sebelum kasih solusi. Kalau perlu jangan dijawab. Tunggu! Jangan-jangan orang sebenarnya tidak sungguh-sungguh bertanya.”
“Ya, kalau tidak ada yang mau ditanyakan kenapa mesti bertanya? Mau menguji? Kenapa aku harus diuji? Yang bener saja!”
“Tidak ada yang mau menguji Bapak. Jangan suka menuduh begitu. Keluargaku memang orang miskin tapi tahu adat semua! Tidak ada yang tidak sopan. Pakde pasti hanya ingin beramah-tamah. Silaturahmi, begitu!”
“Silaturahmi dengan cara mengeluh?”
“Ya, Pakde pasti hanya ingin didengarkan saja. Karena tidak tahu percakapan apa yang bisa nyambung, jadi asal omong saja. Kalau itu ditanggapi dengan jawaban nyelenehmu yang terinspirasi oleh gaya Srimulat itu, Pak Pao, jelas Pakdeku itu akan tersinggung. Bahkan nampaknya sudah mutung!”
“Lho, Ibu jangan linglung. Ini bagaimana? Bapak kan minta dukungan, kok malah disemprot baygon?!”
“Habis Bapak tidak pernah nyimak apa kepentingan orang lain, selalu ngukur dari perasaan Bapak sendiri. Itu namanya egosentris! Makin tua harusnya makin bijak, jangan makin terjebak, Bro. Nanti…”
“Sudah, cukup, aku tidak perlu siraman rohani. Sekarang aku perlu dukungan, karena malam Minggu tenangku sudah dizalimi!”
Pao duduk memandangi malam. “Lebih baik aku rembugan dengan malam yang selalu mengerti apa arti hati yang kelam! Bukan begitu, Ratu Malam?”
Lolong anjing di kejauhan langsung menjawab. “Nah, itu dengar. Hanya malam teman setia setiap lelaki yang hatinya gundah karena kalah!”
Bu Pao tersenyum, bisiknya dalam hati: “Biar dia tahu bagaimana kesalnya hati orang yang kalah.”
Lalu ia bersenandung, “Yen ing tawang ono lintang cah ayu”, sambil nyeruput kopi susu yang dibawanya dan mengambil roti gambang yang dibawa Pakdenya.
“Roti gambang dan kopi susu di malam Minggu paling enak. Susu murninya nanti menyusul.”
Pao terkejut. “Lho, Ibu lupa ya? Bukannya mantri sudah melarangmu minum kopi?”
“Sekali, sekali, tak apa. Apalagi ada gambangnya!”
“Jangan dulu ngopi, kata mantri.”
“Ya, sudah, ini roti gambangnya saja!”
“Sudah kenyang.”
“Tapi ini dibawa Pakde tadi! Katanya oleh-oleh dari Jakarta roti gambang buatan Tan Ek Tjuan, enak, kok.”
“Aku sudah kenyang!”
“Jadi, tidak mau?!”
“Bukan tidak mau. Hanya masih kenyang!”
“Ya sudah kalau begitu dibuang saja!” Dengan marah Bu Pao mengangkat gelas kopi dan roti gambang mau dilemparkan ke halaman. Pao cepat mencegah.
“Sudah, sudah, nanti tak minum! Jangan ditendang nanti roti gambang tak ganyang meskipun masih kenyang!”
“Makanya jangan sok teu! Kalau disayang langsung ngelonjak. Kelakuan! Yang proporsional saja Pemuda Tua! Itu pernah Pakdeku. Meskipun orangnya rada nyentrik, tapi dia baik, hormati dia!”
“Siap!”
“Cepat minum kopinya nanti keburu dingin!” Pao langsung menenggak kopi itu meskipun panas.
“Gambangnya? Makan!”
Pao cepat memasukkan roti gambang ke mulutnya sampai megap-megap mengunyah.
“Begitu caranya membuat istrimu yang sudah banting tulang tiga dasawarsa ini tersenyum dan tertawa!”
Bu Pao tertawa lalu masuk ke rumah sambil ngedumel, “Rasakan sendiri dulu sakitnya kalah, sebelum menasihati Pakdeku menikmati kekalahannya karena istrinya yang jadi TKW di mancanegara sudah 5 tahun tidak ada kabar beritanya! Ngarti?!”
Pao terkejut. Berbisik dalam hati, “O, iya! Tiba-tiba aku baru ingat kisah Ester, istri Pakde. Lantas kontan aku bisa merasakan betapa sakitnya kalah. Dengan menyesal aku menggumam: Ya Tuhan, sekarang aku mengerti bagaimana sulitnya menerima kekalahan. Bagaimana tak mungkinnya menikmati kesakitan. Kecuali kalau kita bisa sedikit ngedhan.”
Tak terduga-duga, Pakde yang sudah ngeloyor pergi tanpa pamit itu, muncul lagi. Ia nampak bingung, seperti mencari-cari sesuatu yang ketinggalan.
Tanpa menyapa Pao, ia sibuk mencari. Pao jadi berdiri dan ikut mencari. Pakde menunduk, melihat-lihat ke seluruh sudut. Lalu jongkok dan merangkak menelusuri lantai.
“Cari apa, Pakde?”
“Tadi. Yang tadi!”
“Apa?”
“Yang aku buang tadi?!”
“Buang? Pakde tidak buang apa-apa, kok!”
“Masak? Masak kamu tidak lihat?”
“Lihat apa? Saya tidak lihat? Dompet?”
“Bukan!”
“Apa? Perhiasan? Cincin kawin? Atau semacam itu?”
“Bukan!”
“Terus apa?”
“Aku membuangnya dua kali!”
“Apa ya? Kalau tidak tahu apa yang dicari tak akan mungkin ketemu. Tak mungkin mencari yang tidak kita tahu, Pakde!”
“Kamu tidak akan mengerti?”
“Tapi apa? Apa?!”
Pakde menatap hampa ke atas lantai.
Pao menggumam dalam hati, “Ya Tuhan, baru kulihat betapa cekung mukanya. Betapa dahsyat sakit hatinya. Pasti ini kristal derita karena harus merawat dan membesarkan ketiga anak yang ditinggal ibunya. Mendadak aku ditendang perasaanku sendiri hancur. Pasti pikiran Pakde lagi kacau. Ia telah mengejar berita istrinya sampai ke negara jiran, tetapi Ester seperti air jatuh ke pasir. Tak ada arah yang bisa ditempuh Pakde untuk menguntit jejaknya. KBRI sudah dihubungi tapi hasilnya zero.”
“Sabar, Pakde.”
Pao mengusap pundak Pakde. Pakde bengong dan kecewa.
“Mestinya di sini, tidak ke mana-mana. Kenapa, ya?”
Pao memberanikan diri berbisik, “Sudahlah, Pakde, mungkin Ester sudah menikah dengan majikannya. Lupakan saja, anggap dia sudah mati. Sekarang konsentrasi pada anak-anak Pakde saja. Buktikan Pakde bisa tanpa dia!”
Pakde tersenyum pedih.
“Kamu tidak mengerti, Pao. Ini bukan soal Ester. Aku sudah ikhlas. Kalau tidak, aku sudah lama jadi tape.”
“Bagus begitu Pakde. Itu yang tadi saya bilang legawa. Syukurlah Pakde sudah bisa atasi semuanya. Ayo kita jalan-jalan, beli oleh-oleh untuk anak-anak Pakde.”
“Ya, nanti kalau sudah ketemu.”
“Oke, nanti kita cari lagi. Kita pelesir saja dulu. Biar istri saya yang cari, pasti ketemu. Perempuan lebih pintar cari barang hilang.”
Pakde terkejut. Kelihatan ketakutan. “Jangan! Istrimu tidak boleh tahu. Malu aku, makanya harus ketemu!”
“Harus?”
“Mutlak!”
“Tapi apa? Yang hilang itu apa?”
Pakde mendekatkan mulutnya ke telinga Pao, lalu berbisik: “Tadi aku sampai dua kali memaki bangsat, bangsat! Itu harus dibuang jauh-jauh sebelum ditemukan istrimu!”
Pao tercengang. Dari dalam terdengar langkah istrinya keluar. Dengan panik Pakde kembali mencari.
“Pakkk! Pakde diajak makan dulu, nanti perutnya gembung!”
Pao buru-buru membantu Pakde mencari. Bu Pao muncul. Terkejut. Cemas.
“Astaga! Apa, apa yang hilang?” Langsung merangkak ikut panik mencari sepenuh hati. ***

Jakarta, 21 Juni 2015 – 2 September 2017
PUTU WIJAYA, Sastrawan dan teaterawan, yang Rabu (21/2) menerima gelar doktor honoris causa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.