Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 25 Februari 2018) Kalah ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
PAKDE ELVIS yang masih kerabat jauh Bu Pao berkunjung. Ia curhat
mengatakan dirinya kalah. “Aku ini pecundang yang mati separo, Pao!”
Lalu bertanya: “Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengurangi rasa kalah ini, Pao?”
Ia tak mengatakan, kalah apa. Pao pun merasa kurang sopan kalau menanyakan kalah apa.
“Ya, legawa saja, terima kekalahan itu, Pakde. Nanti Pakde perlahan-lahan akan menang.”
“Sudah, aku sudah menerimanya, bahkan 200 prosen, tapi mengapa aku tetap saja kalah?”
“Ya, itu berarti, maaf, Pakde belum cukup legawa, maksud saya masih
belum cespleng tuntas rela ikhlas menerima kekalahannya. Jadi, sekali
lagi maaf, tanpa mengecilkan upaya Pakde, tekad mengakui kekalahannya
masih belum sungguh-sungguh tokcer afdol!”
“Jadi maksudnya aku harus menikmati kekalahan itu?”
“Betul. Persis! Kira-kira lebih kurangnya begitu.” Tiba-tiba saja Pakde marah. Ia berdiri sambil berkata ketus.
“Kau enak saja ngomong begitu, Pao! Coba kau sendiri yang
mengalaminya, kalau kagak modiar, baru tahu rasa, nyahok bagaimana
sakitnya kalah! Remuk hancur luluh sudah jadi bubur perasaanku, Pao! Tai
kucing! Bangsat!”
Ia masih sempat memotong roti gambang yang dibawanya untuk oleh-oleh
dan memakannya sebelum kemudian kembali menggebrak meja: “Tai kebo!
Tikus celurut! Najis! Bangsat!” Dan pergi. Pao bingung. Hatinya
ngedumel, “Aku kok merasa sudah mencoba menjawab sesuatu yang tak jelas,
dengan ikhlas, kok malah disumpahi?” Bu Pao muncul bawa kopi.
“Lho, ke mana Pakde?”
“Bagaimana menjawab kalau kita tidak tahu apa kekalahannya? Dalam
keadaan bagaimana, salahnya berapa fatal, kenapa, di mana, dan mengapa?”
“Ada apa sih kok berkicau?”
“Jangan-jangan sebenarnya Pakdemu itu tidak kalah, hanya merasa kalah
atau mengalah. Jangan-jangan pula sebetulnya beliau bukan kalah, tapi
menang. Hanya merasa kurang menang. Kekalahan itu kan seribu wajah!
Karenanya Pakde patut dicurigai, jangan-jangan hanya mendramatisir. Dia
lupa aku ini kan mantan pemain jenong. Ha-ha-ha!”
Bu Pao tersinggung. “Nggak lucu! Maka dari itu, Bapak jangan asal
cuap saja! Tanya dulu abc-nya sebelum kasih solusi. Kalau perlu jangan
dijawab. Tunggu! Jangan-jangan orang sebenarnya tidak sungguh-sungguh
bertanya.”
“Ya, kalau tidak ada yang mau ditanyakan kenapa mesti bertanya? Mau menguji? Kenapa aku harus diuji? Yang bener saja!”
“Tidak ada yang mau menguji Bapak. Jangan suka menuduh begitu.
Keluargaku memang orang miskin tapi tahu adat semua! Tidak ada yang
tidak sopan. Pakde pasti hanya ingin beramah-tamah. Silaturahmi,
begitu!”
“Silaturahmi dengan cara mengeluh?”
“Ya, Pakde pasti hanya ingin didengarkan saja. Karena tidak tahu
percakapan apa yang bisa nyambung, jadi asal omong saja. Kalau itu
ditanggapi dengan jawaban nyelenehmu yang terinspirasi oleh gaya
Srimulat itu, Pak Pao, jelas Pakdeku itu akan tersinggung. Bahkan
nampaknya sudah mutung!”
“Lho, Ibu jangan linglung. Ini bagaimana? Bapak kan minta dukungan, kok malah disemprot baygon?!”
“Habis Bapak tidak pernah nyimak apa kepentingan orang lain, selalu
ngukur dari perasaan Bapak sendiri. Itu namanya egosentris! Makin tua
harusnya makin bijak, jangan makin terjebak, Bro. Nanti…”
“Sudah, cukup, aku tidak perlu siraman rohani. Sekarang aku perlu dukungan, karena malam Minggu tenangku sudah dizalimi!”
Pao duduk memandangi malam. “Lebih baik aku rembugan dengan malam
yang selalu mengerti apa arti hati yang kelam! Bukan begitu, Ratu
Malam?”
Lolong anjing di kejauhan langsung menjawab. “Nah, itu dengar. Hanya
malam teman setia setiap lelaki yang hatinya gundah karena kalah!”
Bu Pao tersenyum, bisiknya dalam hati: “Biar dia tahu bagaimana kesalnya hati orang yang kalah.”
Lalu ia bersenandung, “Yen ing tawang ono lintang cah ayu”, sambil
nyeruput kopi susu yang dibawanya dan mengambil roti gambang yang dibawa
Pakdenya.
“Roti gambang dan kopi susu di malam Minggu paling enak. Susu murninya nanti menyusul.”
Pao terkejut. “Lho, Ibu lupa ya? Bukannya mantri sudah melarangmu minum kopi?”
“Sekali, sekali, tak apa. Apalagi ada gambangnya!”
“Jangan dulu ngopi, kata mantri.”
“Ya, sudah, ini roti gambangnya saja!”
“Sudah kenyang.”
“Tapi ini dibawa Pakde tadi! Katanya oleh-oleh dari Jakarta roti gambang buatan Tan Ek Tjuan, enak, kok.”
“Aku sudah kenyang!”
“Jadi, tidak mau?!”
“Bukan tidak mau. Hanya masih kenyang!”
“Ya sudah kalau begitu dibuang saja!” Dengan marah Bu Pao mengangkat
gelas kopi dan roti gambang mau dilemparkan ke halaman. Pao cepat
mencegah.
“Sudah, sudah, nanti tak minum! Jangan ditendang nanti roti gambang tak ganyang meskipun masih kenyang!”
“Makanya jangan sok teu! Kalau disayang langsung ngelonjak. Kelakuan!
Yang proporsional saja Pemuda Tua! Itu pernah Pakdeku. Meskipun
orangnya rada nyentrik, tapi dia baik, hormati dia!”
“Siap!”
“Cepat minum kopinya nanti keburu dingin!” Pao langsung menenggak kopi itu meskipun panas.
“Gambangnya? Makan!”
Pao cepat memasukkan roti gambang ke mulutnya sampai megap-megap mengunyah.
“Begitu caranya membuat istrimu yang sudah banting tulang tiga dasawarsa ini tersenyum dan tertawa!”
Bu Pao tertawa lalu masuk ke rumah sambil ngedumel, “Rasakan sendiri
dulu sakitnya kalah, sebelum menasihati Pakdeku menikmati kekalahannya
karena istrinya yang jadi TKW di mancanegara sudah 5 tahun tidak ada
kabar beritanya! Ngarti?!”
Pao terkejut. Berbisik dalam hati, “O, iya! Tiba-tiba aku baru ingat
kisah Ester, istri Pakde. Lantas kontan aku bisa merasakan betapa
sakitnya kalah. Dengan menyesal aku menggumam: Ya Tuhan, sekarang aku
mengerti bagaimana sulitnya menerima kekalahan. Bagaimana tak mungkinnya
menikmati kesakitan. Kecuali kalau kita bisa sedikit ngedhan.”
Tak terduga-duga, Pakde yang sudah ngeloyor pergi tanpa pamit itu,
muncul lagi. Ia nampak bingung, seperti mencari-cari sesuatu yang
ketinggalan.
Tanpa menyapa Pao, ia sibuk mencari. Pao jadi berdiri dan ikut
mencari. Pakde menunduk, melihat-lihat ke seluruh sudut. Lalu jongkok
dan merangkak menelusuri lantai.
“Cari apa, Pakde?”
“Tadi. Yang tadi!”
“Apa?”
“Yang aku buang tadi?!”
“Buang? Pakde tidak buang apa-apa, kok!”
“Masak? Masak kamu tidak lihat?”
“Lihat apa? Saya tidak lihat? Dompet?”
“Bukan!”
“Apa? Perhiasan? Cincin kawin? Atau semacam itu?”
“Bukan!”
“Terus apa?”
“Aku membuangnya dua kali!”
“Apa ya? Kalau tidak tahu apa yang dicari tak akan mungkin ketemu. Tak mungkin mencari yang tidak kita tahu, Pakde!”
“Kamu tidak akan mengerti?”
“Tapi apa? Apa?!”
Pakde menatap hampa ke atas lantai.
Pao menggumam dalam hati, “Ya Tuhan, baru kulihat betapa cekung
mukanya. Betapa dahsyat sakit hatinya. Pasti ini kristal derita karena
harus merawat dan membesarkan ketiga anak yang ditinggal ibunya.
Mendadak aku ditendang perasaanku sendiri hancur. Pasti pikiran Pakde
lagi kacau. Ia telah mengejar berita istrinya sampai ke negara jiran,
tetapi Ester seperti air jatuh ke pasir. Tak ada arah yang bisa ditempuh
Pakde untuk menguntit jejaknya. KBRI sudah dihubungi tapi hasilnya
zero.”
“Sabar, Pakde.”
Pao mengusap pundak Pakde. Pakde bengong dan kecewa.
“Mestinya di sini, tidak ke mana-mana. Kenapa, ya?”
Pao memberanikan diri berbisik, “Sudahlah, Pakde, mungkin Ester sudah
menikah dengan majikannya. Lupakan saja, anggap dia sudah mati.
Sekarang konsentrasi pada anak-anak Pakde saja. Buktikan Pakde bisa
tanpa dia!”
Pakde tersenyum pedih.
“Kamu tidak mengerti, Pao. Ini bukan soal Ester. Aku sudah ikhlas. Kalau tidak, aku sudah lama jadi tape.”
“Bagus begitu Pakde. Itu yang tadi saya bilang legawa. Syukurlah
Pakde sudah bisa atasi semuanya. Ayo kita jalan-jalan, beli oleh-oleh
untuk anak-anak Pakde.”
“Ya, nanti kalau sudah ketemu.”
“Oke, nanti kita cari lagi. Kita pelesir saja dulu. Biar istri saya
yang cari, pasti ketemu. Perempuan lebih pintar cari barang hilang.”
Pakde terkejut. Kelihatan ketakutan. “Jangan! Istrimu tidak boleh tahu. Malu aku, makanya harus ketemu!”
“Harus?”
“Mutlak!”
“Tapi apa? Yang hilang itu apa?”
Pakde mendekatkan mulutnya ke telinga Pao, lalu berbisik: “Tadi aku
sampai dua kali memaki bangsat, bangsat! Itu harus dibuang jauh-jauh
sebelum ditemukan istrimu!”
Pao tercengang. Dari dalam terdengar langkah istrinya keluar. Dengan panik Pakde kembali mencari.
“Pakkk! Pakde diajak makan dulu, nanti perutnya gembung!”
Pao buru-buru membantu Pakde mencari. Bu Pao muncul. Terkejut. Cemas.
“Astaga! Apa, apa yang hilang?” Langsung merangkak ikut panik mencari sepenuh hati. ***
Jakarta, 21 Juni 2015 – 2 September 2017
PUTU WIJAYA, Sastrawan dan teaterawan, yang Rabu (21/2) menerima gelar doktor honoris causa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.
Cerpen Zhizhi Shiregar (Republika, 25 Februari 2018) Yang Terpenjara Waktu ilustrasi Da’an Yahya/Republika
“Sini, Nak,” senandungku. “Duduk di pangkuan. Ayo kita bercengkerama
tentang hal-hal manis, seperti gula-gula, sejumput awan dan senyum
ayahmu. Cerita-cerita yang akan membuat harimu lebih renyah. Ayo, buka
matamu, bangkit dari tempat tidur.”
Kutatap Limara yang belum membuka mata. Memang bagaimanapun juga hari
masih terlalu pagi. Baiklah, kumulai saja ceritanya, kita tak ada waktu
seharian. Dan apa yang lebih penting untuk diceritakan pada seorang
anak, selain asal muasal namanya?
Sedari pertama bertemu, aku sudah tahu ia langit. Tapi kalau benar ia
langit dan aku bumi, sungguh tak mengapa sesekali bertemu di lautan,
tempat langit dan bumi sesekali berpelukan. Lautanku bernama bumi
Sulawesi.
Mereka sebut ia Dewakinnara. Tapi kita harus beri nama samaran yang
sama heroiknya. Anggap saja nama terbaik yang pernah kau dengar dalam
hidup ditambah satu juta poin lagi, maka kita akan sebut dia itu. Atau
sebut saja dia A. Huruf pertama, tanpa akhiran. Karena tak semua yang
berawal harus memiliki akhir. Atau itu pikiran gilaku saja yang baru
kenal namanya awalan tanpa sudi diberi akhiran.
Tapi apa istimewanya seorang Dewakinnara? Ah. Salah. Seharusnya kau
tanyakan apa yang tidak istimewa dari orang itu. Ia tak lebih dan tak
kurang adalah pemujaku, dan aku tak lebih dan tak kurang dari pemuja
setianya.
Aku bertemu Dewakinnara kala kami berkelana dalam satu kelompok yang
mendapat kehormatan menyaksikan upacara Rambu Solo’, tradisi pemakaman,
di Toraja. Aku mencari inspirasi untuk masakan khas Indonesia di
restoran berbintang-bintang di Dubai sana, ia mencari objek foto untuk
dunia internasional saksikan mengenai Indonesia.
Tak sulit untuk jatuh cinta padanya, bagaimanapun juga ia pribadi
yang unik dengan isi kepala penuh dengan letupan ide. Tapi aku bersimpuh
sepenuhnya karena namanya. Ya, jangan terbahak, ia pernah cerita bahwa
namanya diambil dari dewa penguasa segala nyanyian dan tarian. Entah
benar atau hanya bagian dari rayuan mautnya, tapi aku berani sumpah, ia
memang terlahir untuk menjadi seorang Dewakinnara.
Tepat lima puluh bulan setelah pertemuan pertama, kami bergandengan
di pelosok Sulawesi, kini berdua saja. Dengan lengan mengepit kamera dan
tas-tas yang sesak oleh lensa, ia mengembara serupa layang-layang yang
lupa pulang. Aku genggam lengannya sebagai pengingat. Agar ia tak
seketika menghilang. Kami berjalan bersisian menapaki bumi Sulawesi.
Tanah lengket diam-diam bercengkerama dengan sepatu kami yang sudah
menjejak pedalaman Papua dan Kalimantan sejak bertahun-tahun sebelumnya.
“Mau diberi nama siapa, pemberontak kecil kita?” tanya Dewakinnara
sambil merunduk-runduk mengambil gambar bumi Sulawesi yang megahnya luar
biasa: kadang indah, kadang mengerikan mengancam jiwa. Tapi tak ada hal
yang hebat yang bisa diperoleh tanpa perjuangan.
Aku menghela napas sekali lagi, terlalu gengsi untuk mengakui bahwa
aku hanya manusia biasa. Berat ternyata jalan-jalan membawa perut
sebesar ini, meski hanya ke sisi hutan yang paling datar sambil
menyusuri tapaknya perlahan sekalipun. Entahlah. Aku berani ikut ke sini
semata-mata karena belum nampak tanda-tanda ia berkenan untuk keluar.
Padahal dunia sudah terentang sedemikian luasnya untuk kami jelajahi
bertiga. Sang pemberontak, kata Dewakinnara. Seolah ia tak ingin diberi
tahu kapan harus keluar.
Dewakinnara sudah berkali-kali ditawari beasiswa ke luar negeri,
berkali-kali pula ia tolak dengan santun. Aku ingin membagikan indahnya
bumi Indonesia, aku tak tertarik melirik bumi lainnya, ujarnya dengan
dada terbusung bangga. Ucapannya diamini oleh berbagai fotografer
internasional lainnya yang kerap kami temui berkali-kali di pedalaman
Indonesia.
Aku terantuk. Ketubanku pecah juga. Dewakinnara seperti orang gila,
setengah tertawa, setengah panik histeris. Tertawa semata-mata lega,
akhirnya dewi yang kami tunggu-tunggu hadir juga. Panik karena kami
menjelang malam di tengah hutan yang jaraknya berkilo-kilo jauhnya dari
desa terdekat.
“Berminggu-minggu sudah kita tunggu dia di dalam rumah yang nyaman,
malah memilih ingin keluar sekarang,” Dewakinnara berdecak kagum. Detik
pertama ia mulai tergila-gila pada anaknya sendiri. Entah kekuatan dari
mana, setelah memasukkan kamera ke dalam tas punggung, Dewakinnara
menggendongku sambil berlari menempuh kilo demi kilo hutan yang
menggelap.
“Aku takut,” dalam pelukannya, mataku menjelajah pohon-pohon tinggi
di langit. Pohon-pohon menjulang yang semakin seram seiring dengan malam
yang tanpa ampun mengejar kami.
“Marendeng marampa’ kadadianku,
Dio padang digente’ Toraya Lebukan Sulawesi,
Mellombok membuntu mentanetena,
Nakabu’ uma sia pa’lak na sakkai Salu Sa’dan.”
Dewakinnara nyanyikan Marendeng Marampa, lagu yang sama-sama kami
pelajari di Tanah Toraja. Aku tahu ia bersenandung agar aku tidak takut.
Sempat-sempatnya ia bernyanyi di sela napas yang tersengal.
“Kamu rindu Toraja kah?” tanyaku begitu kami di desa dan aku selesai berperang melawan maut.
“Teramat sangat,” ia seka keringat dari dahiku sambil menggendong sang bayi.
“Nanti kita ke sana bawa Limara ya?”
Dewakinnara terbahak. “Mau kau namai Limara?”
“Limara. Nama pohon eboni yang terus mengiringi lari-lari kecilmu sepanjang hutan tadi.”
“Limara,” ulang Dewakinnara dengan mata berbinar takjub.
Seolah mengiyakan, bayi di pelukannya tertawa girang.
***
“Ah, kau yang kepala batu ini pasti masih pula bertanya apa yang lalu
terjadi,” aku terkekeh, kembali ke masa kini. Baik, kulanjutkan
ceritanya, meski mata Limara masih terpejam.
Sulit untuk tidak jatuh cinta pada Toraja. Alamnya, budayanya,
keramahan penduduknya, namun yang sering terlupakan karena butuh waktu
untuk memahaminya: filosofi hidup mereka. Ada satu hal yang lebih
menarik selain filosofi hidup mereka: filosofi kematian yang mereka
junjung.
Sementara seluruh dunia bertarung dan mengunci pintu rapat-rapat
dengan ide kematian, orang Toraja justru memeluk erat kematian dengan
penuh keakraban. Kematian bukanlah akhir, hanya satu tahap dari proses
panjang. Bukan pula perpisahan yang perlu ditangisi.
Kini, Toraja sudah menjadi bagian dari kami, dan kami pun sudah jadi
bagian dari Toraja. Kemanapun kami mengembara, pulangnya pasti ke tanah
yang sama pula.
Tapi tahun demi tahun melahap bumi Sulawesi dengan tak ramah. Limara,
eboni hitam yang mendunia, telah membutakan mata banyak orang. Kami
bertiga berjalan dalam diam, masing-masing menjinjing sendu. Tak ada
lagi cuitan burung yang bersahut-sahutan. Semakin dalam kami masuk,
bekas-bekas penebangan semakin nyata terlihat. Limara meneteskan airmata
untuk pepohonan yang namanya disandang pula olehnya.
Krekkk!
Dewakinnara bergegas menutup mulut Limara dan menariknya ke balik
semak-semak. Dadaku sesak oleh gemuruh hingga tak terdengar dan tak
terpikir apa-apa lagi. Tanganku gemetar, namun tetap kupeluk erat-erat
Limara dalam lindunganku.
“Kamu tetap di sini,” bisik Dewakinnara. Ia mengganti lensa kameranya
menjadi lensa jarak jauh. Perjalanan singkat ke hutan ini seharusnya
sekedar bertemu burung-burung unik untuk foto Dewakinnara dan bahan
makanan untuk menu baru restoran Indonesiaku. Tapi sialnya kami bertemu
dengan para pembalak yang sudah pasti liar, karena ini hutan lindung.
Kalau masih ragu, senapan-senapan yang mereka sampirkan di dada tentu
bisa memberi penegasan sendiri.
Dewakinnara mendekat hingga jarak yang ia tentukan aman. Ia ambil
foto sebanyak-banyaknya sebagai bukti sebelum kemudian berlari ke arah
kami.
“Kita ketahuan!”
Aku tersandung-sandung menarik Limara yang ketakutan. Dewakinnara
bergegas menariknya dan seketika itu juga menggendongnya sambil terus
berlari begitu cepat.
“Tidak bisa. Mereka akan mengejar kita.”
Tembakan demi tembakan berdesing sedemikian dekatnya di telinga kami.
Ini pasti bercanda, ya Tuhan, ini pasti bercanda. Siapa yang bisa
membunuh manusia lainnya demi kayu! Aku berpikir histeris.
Dewakinnara berbelok mendadak. Ditariknya aku ikut ke dalam sungai.
Ia beri isyarat pada Limara untuk menarik napas. Berbarengan, kami
celupkan kepala ke dalam sungai sambil menarik semak-semak menutupi
kami. Seekor ular sungai lewat. Aku berdoa pada Tuhan, pada Dewa Bumi,
Dewa Sungai, penguasa alam semesta siapa pun itu, beri kami kesempatan
hidup. Jejak-jejak mereka berderap di tepian sungai. Orang-orang itu
melewati kami!
Sesampainya di desa, Dewakinnara segera berlindung di rumah kepala
adat. Masih terengah-engah, ia bercerita tentang apa yang ia temui dan
keluarkan kamera dari tas anti-airnya. Ditunjukkannya foto-foto yang
membuatku paham mengapa kami diserang sedemikian ganasnya: seorang
petinggi negara terkemuka tengah berdiri di atas jeep.
Sementara Dewakinnara berbincang dengan kepala adat, mataku menangkap
seorang anak yang tergesa lewat membawa baki berisi makanan. Limara
mengajaknya bermain. Anak itu menggeleng sambil memberi isyarat, aku
harus taruh ini dulu di kamar Ibu, sambil berjalan menuju loteng. Lamira
yang sudah paham pun mengangguk. Istri sang kepala adat memang sudah
lama berpulang karena sakit dan tengah menunggu prosesi pemakaman.
Percaya atau tidak, butuh waktu bertahun-tahun untuk kemudian
menjebloskan petinggi itu dan membersihkan mereka hingga akar-akarnya.
Seperti bola salju, sekian nama yang tak terduga ikut pula terseret.
Tapi kami sudah tak lagi di sana untuk merayakan keberhasilan itu. Kami
terpaksa mengungsi dari bumi Sulawesi, jauh ke negeri lain, jarak
terjauh dari nusantara yang dibenci Dewakinnara. Semata-mata untuk
melindungi diri dari ancaman dan teror yang menghantui.
***
Sebuah ketukan di pintu mengganggu ceritaku. Disusul dengan
ketukan-ketukan lain yang semakin lama semakin keras. Hari sudah petang.
Ada apa pula orang bertamu. Kulongokkan kepala, Limara tak kunjung
membuka pintu depan. Begitu pula dengan Dewakinnara. Aku mendesah lelah.
Aku rapikan piring-piring makan siang mereka dulu sebelum kubuka pintu.
“Selamat siang, Madam,” sepasang polisi membuka topi mereka sebagai
tanda hormat. “Kami mendapat laporan dari para tetangga. Boleh kami
masuk?”
Tanganku gemetar. Aku menggeleng. Yang kutahu, menggeleng adalah
selemah-lemahnya perlawanan. Kulihat selusin manusia telah berkumpul di
lorong apartemen. Aku menelan ludah susah payah ketika para polisi
tersebut merangsek masuk. Sesosok perempuan separuh baya yang kutahu
berkewarganegaraan Indonesia juga menghampiri, memelukku erat.
“Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Polisi sudah bilang itu
karena racun, bukan karena dirimu,” gumam Maya sambil terus
menenangkanku.
Para polisi mendobrak pintu demi pintu kamar, menghiraukan tangisanku
yang mulai pecah. Tiba di pintu kamarku, semua orang seketika menutup
hidung. Tak apa kalau mereka tak mengerti. Tak ada satupun dari mereka
yang bisa mengerti kenapa aku melakukan ini.
Maya sungguh tak paham bahwa tak ada yang bisa disalahkan selain
kelengahanku yang membiarkan mereka berdua memesan pizza sambil menunggu
aku selesai menutup restoran. Andai waktu itu aku memilih memasak di
rumah saja, takkan sempat para kronco petinggi itu membalas dendam
melalui racun yang mereka tabur di pizza. Takkan tertinggal sendiri aku
di alam ini, sementara mereka telah melanjutkan perjalanan ke alam sana.
Dua ciptaan Tuhan yang paling kupuja.
“Kami sungguh menghormatimu sebagai tetua di sini, Madam,” ujar salah
satu anak muda. “Tapi Madam tidak lagi tinggal di Toraja. Anda bahkan
bukan orang Toraja. Ini negeri yang sama sekali berbeda. Tidak boleh
menyimpan mayat di dalam rumah.”
Zhizhi Siregar aktif membuat karya tulis yang dimuat di berbagai media massa. Dia sudah belajar menulis sastra sejak kecil.
Cerpen Rifat Khan (Media Indonesia, 18 Februari 2018) Kisah Lelaki dan Perempuan Itu ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
LELAKI itu masih duduk di pinggir jalan. Lampu jalan remang-remang,
jam sudah menunjuk angka satu. Lelaki itu menghela napas sesaat.
Dibakarnya satu batang rokok. Dirogohnya saku celana. Hanya ada uang
sepuluh ribu rupiah. Rokok di bungkusnya juga hanya tersisa dua batang.
Sebenarnya Ia ingin tidur saja. Namun matanya selalu ingin terbuka,
lebih sering terbuka sampai pukul enam pagi. Satu botol air mineral di
depannya Ia teguk. Ia merenung.
“Apa rencanamu?” Suara perempuan beberapa bulan lalu terngiang di
otaknya. Ia hanya melenguh. Saat itu Ia sedang mabuk berat. Otaknya tak
mampu menangkap ucapan apa-apa. Setiap suara terdengar seperti dengungan
lebah.
“Apa rencanamu?” Perempuan itu lagi bertanya. Dipegangnya pundak
lelaki itu. Ia menoleh. Matanya hanya menangkap cahaya. “Randuse, kenapa
diam saja? Jawab aku Randuse! Ini anakmu, jangan kau titipkan anjing
ini dalam rahimku” Lagi-lagi perempuan itu bersuara. Lebih keras, begitu
memekakkan telinganya. Masih terdengar seperti dengungan sejuta lebah
di telinga lelaki itu.
Lelaki itu diam. Badannya seperti hendak tersungkur. Ia mabuk sejak
pagi sampai jam tujuh Maghrib. Hingga perempuan itu menemukannya selepas
mencarinya berhari-hari. “Jawab aku Randuse, bangsat, jangan diam
begini…” Perempuan itu wajahnya manis, namun seperti monster di
pandangan lelaki itu. Dalam kondisi diam, perempuan itu meludahinya.
Tepat mengenai wajahnya. Ia hendak menampar perempuan itu, namun masih
ditahan. Ia memang mabuk, tapi Ia sadar otot tangannya akan membuat pipi
perempuan itu lebam. Atau kemungkinan terburuknya perempuan itu bisa
pingsan.
“Bangsat kamu Randuse, mana janji-janjimu? Mana?” Perempuan itu
menangis sambil menjambak rambut lelaki itu. Tubuhnya ikut bergerak,
sebab tarikan perempuan itu begitu keras.
“Aku perlu berpikir.” Lelaki itu bicara untuk pertama kalinya. Suaranya pun putus-putus. Aroma tuak menyeruak dari mulutnya.
“Berpikir apa lagi? Nikahi aku, nikahi aku..!!!” Perempuan itu masih
menggenggam rambutnya. Seakan tak mau dilepaskan. Namun lelaki itu
terlalu kuat, melepaskan diri, dan pergi.
***
Ingatan itu menyeruak kembali. Lampu jalan masih remang, jam sudah
menunjuk angka satu lewat dua puluh menit. Sebuah mobil melintas pelan.
Membuat matanya sejenak silau. Lelaki itu kembali merenung. Di mana ia
musti tidur malam ini? Ia tak pernah tau. Ia akan duduk di tempat itu,
mungkin sampai matahari muncul dan orang-orang sibuk berlalu-lalang. Ia
merenung, uang sepuluh ribu tadi dimasukkan lagi ke dalam sakunya.
“Cinta juga begini. Selalu indah, bukan?” Perempuan itu berbaring di
pangkuannya. Tangan perempuan itu sesekali mengelus dagunya. Dagu yang
agak panjang, dan perempuan itu jatuh cinta padanya sebab dagu panjang
dan berbulu itu.
“Semoga tetap malam. Aku ingin malam selalu seperti ini. Aku tak
ingin matahari datang dan membawamu segera pulang.” Lelaki itu tersenyum
saat berucap. Dielusnya rambut perempuan itu. Rambut hitam nan panjang.
Aroma shampoo menyeruak. Dipagutnya bibir perempuan itu lembut. Di
dekapnya, terasa begitu hangat. Kamar kecil itu seperti surga, penuh
dengan cinta. “Apakah ada yang lebih indah dari malam ini, Randuse?”
Perempuan itu bertanya, lelaki itu masih mengecup pipinya. “Tanya
hatimu.” Lelaki itu bicara dan tetap memberikan kecupan bertubi-tubi di
pipi, kening, dan bibir perempuan itu. Mereka bercinta hingga terlelap.
Ketika matahari datang, perempuan itu harus pergi. Ia harus ke pasar,
membeli beberapa barang untuk dijual pada warung kecilnya. Dan benar,
lelaki itu tak menyukai matahari yang datang terlalu cepat, Ia ingin
berdua saja, tanpa dihalangi waktu.
Sisa air pada botol mineral itu Ia teguk. Malam semakin lengang.
Suara anjing menggonggong di kejauhan. Suara angin berdesir, dingin
menembus tulang. Ia memeluk lututnya sendiri. Besok entah apa. Yang
pasti ada sebuah rencana yang akan Ia kerjakan. Entah rencana itu akan
berhasil atau mungkin gagal total. Ia masih merenung sambil memeluk
lutut sendiri. Ia bakar kembali satu batang rokok, asap mengepul.
Memberi sedikit perih pada matanya yang masih saja terbuka sampai
menjelang pukul tiga. “Ah, hidup ini selalu memberi pilihan.” Batinnya
bicara.
***
Ia adalah seorang perempuan jelita. Banyak pemuda suka, di pasar,
sering Ia digoda. Namun hatinya sudah takluk pada dagu seorang lelaki.
Lelaki itu beberapa hari lalu makan siang di warungnya. Dagu panjang dan
sedikit berbulu itu menyita pandangannya. Sesekali Ia malu jika
pandangannya kebetulan beradu dengan tatap lelaki itu.
“Aku Randuse.” Jawab lelaki itu ketika ditanya nama. Perempuan itu
semakin kesemsem. Dan beranilah dia meminta nomer hape lelaki itu.
Mereka kadang-kadang janji bertemu, kadang duduk di taman dari sore
sampe menjelang senja. Lelaki itu memang bukan penyuka senja, tapi senja
akan selalu menarik untuk menambah romantis sebuah kisah percintaan.
Perempuan itu setiap hari mengirim pesan. Kadang di balas, kadang
tidak sama sekali. Sering lelaki itu makan, gratis, perempuan itu tak
mau mengambil uangnya. Ia memang jatuh cinta dan cintanya kali ini
benar-benar membuatnya tak bisa tidur pagi. Sampai larut, kadang, Ia
melamunkan lelaki itu. Dan pagi hari, Ia selalu berharap bertemu, entah
di jalan mana, entah di tempat mana saja.
Di pasar, pernah mereka sengaja tak bertemu. Lelaki itu hanya
mengenakan singlet putih, sehingga otot tangannya nampak. Itu menggoda
bagi si perempuan. Ia memberi senyum. Lelaki itu pun tersenyum. Kemudian
mereka sarapan pada sebuah warung. Si lelaki gemar gado-gado, perempuan
itu doyan tahu goreng sambal. Mereka bertukar cerita, sesekali lelaki
itu tertawa. Perempuan itu juga tertawa dan tanpa sadar sering
menyandarkan kepalanya pada pundak lelaki itu. Aroma shampoo-nya
menyeruak memenuhi penciuman lelaki itu.
Hingga suatu sore mereka sepakat berjumpa pada sebuah kamar kecil di
ujung jalan. Kamar itu adalah milik si lelaki. Lebih tepatnya sebuah
kamar kost yang sepi. Ada lima kamar, yang terisi cuman satu saja. Hanya
lelaki itu. Kost-kostan itu kotor, seperti tak terurus. Beberapa ekor
anjing berkeliaran di halamannya. Sesekali memasuki satu kamar kosong
yang pintunya selalu terbuka.
Perempuan itu sempat risih, tapi hatinya sudah kedung dipenuhi cinta.
Kamar itu ibarat surga, indah di matanya. Lelaki itu tersenyum lalu
menutup pintu. Mereka hanya berdua. Bercinta dan berbagi sampai pagi.
Sampai matahari datang, dan perempuan itu harus pulang. Dikecupnya
kening lelaki itu sebelum Ia pamit dan berjalan meninggalkan kamar surga
itu. Lelaki itu terdiam, hanya menatap punggung perempuan itu.
Ia hamil. Batinnya dipenuhi rasa takut dan penyesalan. Ia takut
cerita orang-orang, jikalau seorang anak lahir tanpa seorang bapak,
wajahnya akan menyerupai anjing. Dan lelaki itu tak pernah datang. Ia
sering membayangkan, jika nanti melahirkan, anaknya bukan menangis,
malah menggonggong. Sungguh Ia takut. Ia takut anak itu akan memiliki
moncong, pipinya berbulu, dan telinganya lebar.
Ia sering mengutuk diri, sering pula ingin mengakhiri hidupnya. Namun
sial, melompat di jembatan, Ia diselamatkan orang. Menengguk racun, Ia
malah cuman pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Malam-malam Ia hanya
menangis, sambil membelai-belai perutnya. Anak di dalam perutnya sering
menendang-nendang. Kemudian Ia nyanyikan lagu “never let me go”,
satu-satunya lagu bahasa Inggris yang ia hafal. Anak itu berhenti
menendang.
Jika kebetulan perutnya mules, Ia akan berlari-lari kecil. Perutnya
akan lekas membaik. Jika Ia merasa bosan, Ia akan berenang di kolam
kecil yang tiket masuknya hanya dua ribu rupiah. Kandungannya
sehat-sehat saja. Sering Ia memimpikan lelaki itu, namun selalu mimpinya
kabur. Seperti muncul tenggelam, tak pernah ada jalan cerita yang pasti
pada mimpinya tentang lelaki itu. Ujungnya Ia akan memaki lelaki itu
seratus kali ketika terbangun.
Kini, Ia sudah berada pada rumah sakit swasta. Ia merasakan perih di
kemaluannya, perutnya sudah terasa sakit. Ini hari, mungkin saja Ia akan
melahirkan. Perempuan itu berbaring. Tim dokter sudah di depannya.
Keringatnya mengalir, tenaganya hampir saja habis. Sampai pada suara
tangisan seorang bayi terdengar, ada kebahagian menyelimuti dirinya.
Anaknya seorang perempuan, kulitnya putih, wajahnya tampak manis, dan
dagunya panjang. Ia sama sekali belum menyiapkan nama seorang bayi.
Dalam lelah yang sangat, Ia masih terbaring. Dalam kondisi sadar atau
setengah sadar, seorang mengetuk pintu dan masuk. Seorang lelaki dengan
dagu panjang, berjalan pelan. Tangannya membawa seikat bunga. “Ini
bunga sebagai perlambang do’a dan segala sesal.” Lelaki itu bicara
pelan. Namun suaranya lebih terdengar seperti dengungan lebah pada
telinga perempuan itu. Kemudian lelaki itu bergegas pergi, aroma tuak
menyeruak di kamar rumah sakit swasta itu.
***
“Ambil saja seikat bunga itu, bang..” Seorang pedagang bunga bicara.
Tatapannya matanya begitu sendu. “Tak apa, bayar saja sepuluh ribu, ini
untuk Abang.” Pedagang itu bicara lagi.
“Tidak, aku tidak akan mengambilnya jika harus berhutang. Aku masih
memiliki hutang yang teramat besar pada seseorang.” Lelaki itu bicara
sambil menatap tajam ke pedagang tadi.
“Buat Abang, tak perlu membayar sisanya.” Si pedagang bicara lagi,
namun sayang, lelaki itu bergegas pergi. Hanya nampak punggungnya saja.
(***)
Majidi, 2018
Rifat Khan ialah cerpenis asal NTB. Beberapa karyanya telah diterbitkan di sejumlah media massa.
Cerpen Abul Muamar (Republika, 18 Februari 2018) Perempuan XXX ilustrasi Rendra Purnama/Republika
MULANYA, aku sungguh tak menyangka bahwa perempuan XXX itu
betul-betul ada. Siapa saja juga tak percaya ketika kucoba menceritakan
tentang keberadaannya. Aku sulit menjelaskan secara spesifik dan
gamblang, tapi dia, nyatanya, betul-betul ada. Dia muncul di hadapanku,
masuk ke dalam hidupku, dan berbuat sekehendak hatinya.
“Ah, kau ada-ada saja. Mana mungkin ada perempuan XXX!” seorang kawan menanggapi dengan malas.
“Perempuan itu XX, bukan XXX. Kau macam tak pernah belajar Biologi saja!” ucap yang lain.
“Makanya kau jangan terlalu banyak berkhayal!” cecar yang lain lagi.
Aku nyaris putus asa ketika tak ada seorang pun mau menanggapi
penjelasanku, sebelum akhirnya kutemui Pak Arianto, guru Biologiku dulu
semasa SMA.
Kecuali jumlah keriput di sudut matanya yang bertambah banyak, Pak
Arianto belum banyak berubah saat kuperhatikan dia ketika menyambut
kedatanganku. Rambutnya hitam mengkilap, meski barangkali baru disemir.
Ia sempat kesulitan mengingatku, bahkan walaupun cukup lama memindai
wajahku.
“Siapa ya?” ia bertanya dengan mata setengah memicing, mencoba mengingat-ngingat.
“Saya Sukir, Pak. Murid Bapak dulu.”
Lama ia berpikir, menaksir, sebelum ingatannya bergulir.
“O ya, Sukir!” ucapnya akhirnya, sambil merangkul dan menggoncang-goncang bahuku, “wah, wah, sudah lama tidak jumpa. Ayo masuk!”
Dulu, semasa SMA, rumahku dan rumah Pak Arianto tidaklah berjauhan.
Hanya berjarak kurang lebih satu kilometer. Tapi sejak tiga tahun
terakhir, tak lama sejak aku menamatkan sekolah, Pak Arianto pindah ke
kabupaten sebelah. Di sana ia diangkat menjadi kepala sekolah di sebuah
SMA negeri yang baru dibuka.
Rumah Pak Arianto yang sekarang cukup besar. Halamannya lebar. Kursi
bambu yang ada di belakang rumahnya yang menghadap langsung ke pematang
sawah, kami pilih untuk duduk dan mengobrol.
“Apa kabarmu?” tanyanya. “Kenapa datang tiba-tiba begini? Bapak jadi tak sempat menyiapkan apa-apa.”
Kumentahkan rasa tak enaknya dengan penjelasan mengenai tujuanku
mendatanginya. Raut wajahnya berubah serius sesaat, lalu
sekonyong-konyong ketawanya pecah, seusai kujelaskan apa maksud
lawatanku.
“Jadi, kau datang meminta pertanggungjawaban atau berkonsultasi?” katanya setengah meledek. Rasa gelinya tak dapat dibendungnya.
“Atau mau saya mengulang pelajaran itu?” katanya lagi, masih menahan tawa.
“Tapi saya senang. Ternyata kau mendengarkan pelajaran yang saya sampaikan dengan serius.” Tawanya perlahan mereda.
Pak Arianto adalah guru yang baik meskipun aku sebenarnya tak terlalu
menyukai Biologi. Aku lebih suka Fisika atau Kimia. Akan tetapi,
pelajaran tentang genetika yang disampaikan Pak Arianto waktu itu masih
membekas dalam ingatanku sampai sekarang. Bahwa manusia normal terlahir
dengan 46 kromosom, yang terdiri atas 22 pasang autosom dan sepasang
kromosom penentu kelamin.
Kromosom Y memiliki gen untuk sifat laki-laki. Berapapun jumlah
kromosom X yang dimiliki seseorang, asal dia masih memiliki kromosom Y
sebuah saja, maka orang itu tetaplah lelaki. Sebaliknya, jika orang itu
tak punya kromosom Y, berapapun banyak kromosom X yang dia miliki, maka
dia tetaplah perempuan. Sedangkan autosom sama sekali tidak mempengaruhi
kelamin. Makanya dalam sistem penentuan kelamin, laki-laki terlahir
membawakan kromosom XY, sedangkan perempuan membawa kromosom XX.
“Tapi ada juga perempuan XXX. Mereka berpenampilan cewek, tapi watak
dan hati mereka tidak benar-benar seperti cewek. Hati dan darah mereka
dingin. Yang cowok, berhati-hatilah!” begitulah Pak Arianto menerangkan
kala itu sambil berguyon. Seisi ruangan tergelak.
***
“Kau nampaknya sangat penasaran dengan perempuan XXX yang saya bilang
waktu itu,” Pak Arianto memulai jawaban yang kutunggu-tunggu.
“Perempuan XXX itu memang ada,” katanya, memulai penjelasan. Aku menyimak serius.
“Sekarang yang ingin kau tanyakan, perempuan XXX yang bagaimana?” tanyanya.
Pak Arianto sepertinya sudah membaca pikiranku, bahwa aku tidak akan
bertanya soal perempuan XXX seperti yang ada dalam daftar kasus kelainan
genetika–bahwa dalam kasus kelainan genetika, memang ada perempuan yang
terlahir dengan kromosom XXX, yang disebut dengan istilah Sindrom
Triple X atau Sindrom Superfemale; di mana si perempuan XXX bukan
memiliki 46 kromosom, melainkan 47. Jelas bukan perempuan XXX yang
demikan yang kumaksud, batinku.
Untuk meyakinkan diri bahwa perempuan XXX yang kutemui bukanlah
perempuan XXX yang diakibatkan oleh Sindrom Superfemale, kucoba
ingat-ingat kembali watak perempuan itu. Tinggi badannya normal, tidak
unggul-unggul amat dibanding perempuan lain. Organ kelaminnya juga
normal.
Kemudian, otaknya juga cerdas. Bahasa dan komunikasinya juga baik dan
lancar. Orientasi seksualnya juga normal. Dia sudah pernah pacaran
beberapa kali. Sama sekali tidak seperti perempuan XXX yang
dideskripsikan dalam Sindrom Triple X itu, batinku meyakinkan.
“Bagaimana pula kau bisa menyimpulkan bahwa dia perempuan XXX?” tanya Pak Arianto.
Ah, aku hampir lupa memberitahunya. Aku bertemu dengan perempuan itu
tepat sebulan sebelumnya, di halaman gedung rektorat universitas negeri
tapi komersil atau yang sering disingkat dengan UNTK.
“Kamu yang bernama Sukir?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Aku Elsa,” dia memperkenalkan diri sambil menjabat tanganku.
“Kok kamu tahu namaku?”
“Tahu dong,” katanya. “Semua orang kenal sama kamu.”
Aku tertawa. Percaya diriku melambung.
“Oke. Ada keperluan apa kamu menemui aku?”
“Tak ada. Aku cuma mau menemui rektor. Kamu kenal, kan, sama rektor? Bisa temenin aku, nggak?”
Aku terdiam agak lama, saat memandangi sepasang matanya yang indah
dan tajam. Aku tak sempat berpikir bahwa statusku sebagai pemimpin
pemerintahan mahasiswa membuatku bisa bertemu rektor dengan mudah.
“Bisa, nggak?” ulangnya, membuyarkan lamunanku.
“Bisa. Kapan?” kataku, tanpa sempat menanyakan apa keperluannya.
“Besok ya,” balasnya.
“Oke. Besok.”
***
Hari kedua. Kami bertemu di halaman depan gedung rektorat. Dia duduk
di bawah pohon ketapang menungguku. Semilir angin berembus menyibakkan
rambut coklat kepirangannya yang pendek tapi halus. Pertemuan dengan
rektor yang kami janjikan berlangsung singkat. Rupanya tiada sesuatu
yang teramat penting yang ingin dia sampaikan. Dia hanya mencoba
menegosiasikan untuk mendapatkan ijazah tanpa mengikuti wisuda.
“Wisuda itu nggak penting,” katanya.
“Aku juga nggak akan ikut wisuda.’
“Tapi, aneh, orang-orang justru lebih semangat mengikuti wisuda.
Wisuda bagi mereka adalah hari yang paling ditunggutunggu. Padahal
sehari-harinya mereka jarang datang, jarang masuk kelas. Cuma datang,
duduk, diam, pulang.”
Aku tertawa. Dia pun tertawa. Kami bertatap-tatapan. Daun ketapang
yang tadi kupungut tak terasa telah remuk di genggamanku. Tulang
tengahnya tanpa sadar kulingkarkan menjadi cincin-cincinan di jariku.
Aku tahu dia kecewa. Rektor menolak permintaannya itu. Betapapun
keras ia menyembunyikan, kekecewaan itu tetap tampak dari wajahnya. Tapi
aku tak hendak mengungkit. Kubiarkan keberduaan kami mengalihkan rasa
kecewanya.
Lalu, tak ada lagi percakapan setelah itu. Diam mengambil alih
pembicaraan kami. Hanya ada tatap yang dibalas tatap dan senyum yang
dibalas senyum. Seakan pembahasan serius mengenai apapun, termasuk soal
wisuda atau gelar atau ijazah atau cita-cita mengenai pekerjaan setelah
tamat, hanyalah basi-basi yang tak penting.
“Kamu mau langsung pulang?” tanyanya.
“Belum,” kujawab, “aku masih mau di sini.”
“Lihat rusa, yuk,” ajaknya.
Kami berjalan menuju halaman fakultas pertanian. Di sana terdapat
hamparan rumput yang cukup luas. Di sana rusa-rusa dan hewan pengerat
lainnya dipelihara.
“Mau ngasih makan? Ini,” kuserahkan padanya batang-batang kangkung
yang tumbuh liar di sekeliling penangkaran hewan-hewan tersebut.
Dia tampak sangat manis sewaktu memberi makan rusa-rusa itu. Kulitnya
yang sewarna susu semakin indah ditampiasi sinar mentari sore.
Memandanginya, dadaku membuncah. Sedang dia diam saja, memberi makan
rusa dengan asyiknya. Seakan tak menyadari bahwa aku dari tadi terus
memelototinya.
***
Hari berikutnya yang diringkas dengan yang hari-hari berikutnya.
Setiap detik dan menit dan jam dalam setiap hari adalah interaksi antara
aku dan dia yang instens dan nyaris tanpa jeda. Kami sering berduaan di
kampus hingga malam dan orang-orang sudah pulang.
“Tapi itu tidak berarti apa-apa,” katanya, pada hari kesekian setelah sekian hari pula ia enyah dan tak berkabar.
“Kesalahan terbesarmu adalah menganggap apa yang kita lewati sebagai
sesuatu yang tak semestinya,” katanya lagi pada hari berikutnya,
menambahkan jawaban-jawaban sebelumnya.
Awalnya, kuanggap dia hanya menguji coba. Rupanya aku salah. Bukan
hanya tak pernah mengenal yang namanya berkasih-kasih, tapi dia juga
sama sekali tak menganggap setiap yang kami lalui itu berarti.
Pak Arianto menyimak tanpa ekspresi. Sesekali mengangguk. Ketika kulihat wajahnya, dia memintaku meneruskan.
Dua minggu lalu sebelum aku kemari, mendatangi Pak Arianto, kulihat
perempuan itu dari jauh, bertengkar dengan seorang laki-laki. Laki-laki
itu sudah tua, dan jelas bukan mahasiswa. Pria itu, jika saja tak
kuenyahkan pikiran burukku, sungguh mirip dengan rektor. Aku menduga,
dia masih bernegosiasi dengan rektor tanpa sepengetahuanku. Tapi ah,
mana mungkin, batinku. Laki-laki berwajah rektor itu seperti menuntut
sesuatu darinya. Lamat-lamat kudengar laki-laki itu marah-marah padanya.
“Semua itu ada alasannya,” dalihnya, ketika menerangkan kepadaku
tentang pertengkarannya dengan laki-laki berumur itu. Jawaban yang
terlontar sama seperti yang sudah entah sekian kali setiap kali
kutanyakan kepadanya. Ketika kutanya tentang siapa pria tua itu, ia
sempat tergagap sebelum melarikan diri dari hadapanku.
Aku bukan tak mau menerima. Aku sudah ikhlas dan akan tetap ikhlas.
Sampai meskipun kutemukan dirinya dengan beberapa pria lain lagi hanya
dalam hitungan hari.
“Perempuan XXX itu memang ada,” Pak Arianto menyahut pelan, setelah
tuntas mendengarkan ceritaku. “Mereka terbentuk bukan oleh kelainan
kromosom,” katanya.
Pak Arianto berkata dengan serius, mafhum bahwa aku membutuhkan jawaban yang demikian.
“X milik mereka yang satu lagi itu muncul oleh pengalaman, oleh keadaan.”
Tapi benarkah ada yang seperti itu? Aku membatin.
“Kamu tidak percaya?” lagi-lagi Pak Arianto bisa membaca pikiranku.
“Memang sulit untuk memercayainya. Tapi itulah mereka. Kau hanya gagal
memahaminya.”
***
Seminggu kemudian, suasana sudah tenang. Aku mulai terbiasa tak
mendengar kabar dari perempuan itu. Hingga pada satu pagi, kehebohan
tersiar di kampus. Aku tak begitu saja memercayai kabar yang kudengar di
sepanjang jalan menuju kampus. Tapi aku akhirnya tak dapat menampik
lagi, keti ka pada halaman pertama koran pagi, kubaca judul kepala
berita berbunyi, “Rektor UNTK Ditangkap Bersama Mahasiswinya di Hotel
Tali Air”, dengan subjudul, “Minta Syarat untuk Ijazah Tanpa Wisuda”.
Penulis kerap membuat cerpen dan karya sastra lainnya yang dimuat di berbagai media massa.
Catatan:
Cerpen dengan judul dan nama penulis yang sama pernah diterbitkan di “Analisa” tanggal 15 Oktober 2017. Di link berikut ini.
Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 18 Februari 2018) Ibuku Perempuan Mong Kap San ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa PosIBUKU, kau tahu, tidak bisa berbahasa Indonesia. Ia
juga tidak menguasai bahasa Melayu lokal, kecuali hanya segelintir kosa
kata umum. Itu pun—sebagian di antaranya—dengan ejaan dan artikulasi
yang jauh dari sempurna. Maklumlah, selain bunyi huruf ‘R’ yang menjadi
momok bagi banyak orang Tionghoa di Indonesia, lidahnya juga tampak
begitu sulit mengeja kata-kata yang berakhiran ‘S’. Contohnya kata
“pedas” yang selalu saja dilafalnya jadi “pedat”.
Tunggu, jangan salah menduga. Seperti yang telah aku ceritakan dalam
kisah-kisah sebelumnya, ibuku sama sekali bukanlah China totok. Bahkan
sebagai China peranakan yang lahir dan besar di Bangka sekalipun,
silsilahnya sudah tak lagi terlacak. Sehingga, tidak seperti pohon
keluarga ayahku yang masih rimbun sampai beberapa generasi ke atas, kami
tak pernah tahu dirinya sudah terhitung generasi ke berapa dari
leluhurnya yang bermigrasi ke Nanyang.
Kukira hal ini karena keluarga besar Mama bukanlah berasal dari
kalangan yang cukup berpendidikan seperti halnya keluarga Papa yang
datang sebagai pedagang. Kemungkinan besar—sebagaimana halnya kebanyakan
nenek moyang orang Tionghoa di Bangka-Belitung—leluhur Mama adalah satu
dari ribuan petani yang memutuskan meninggalkan China Daratan untuk
mengadu nasib ke seberang lautan pada masa-masa sulit selepas Perang
Candu dan Pemberontakan Taiping.
Barangkali kakek dari kakek ibuku ini datang ke Pulau Bangka sebagai
kuli penambangan timah pada awal abad ke-19 atau akhir abad ke-18. Ia
mungkin didatangkan dari pasar-pasar kuli di Singapura atau Penang, yang
pada masa itu memang tercatat sebagai pusat perdagangan tenaga kerja
yang tak hanya mengirim para calon buruh ke daerah-daerah koloni Barat
di Asia Tenggara, tetapi juga ke Macao dan California. Atau, bisa jadi
pula ia direkrut langsung oleh para agen kuli di desanya.
Toh demikian, aku ingat Mama pernah bercerita kalau salah seorang
kakek buyutnya (entahlah kakek buyut yang ke berapa) memiliki pedati
kerbau…
***
YA, ibuku memang berasal dari keluarga China peranakan telah lama
beranak-pinak di pulau kecil kami. Karena itu, kendati masih memegang
ketat berbagai tradisi Tionghoa, keluarga Mama juga memiliki
kebiasaankebiasaan yang jauh berbeda dengan para pendatang baru seperti
keluarga Papa. Mulai dari bahasa Hakka dan logat yang mereka pergunakan
sehari-hari, pakaian keseharian, sampai pada masakan dan kue-kue.
“Makanan Mong Kap San,” begitulah kata Akong setiapkali ibuku memasak
masakan masakan khas China peranakan atau masakan Melayu Bangka. Ia
biasanya akan mencoba menikmati masakan-masakan yang pada mulanya begitu
asing bagi lidah totoknya namun perlahan akhirnya ia akrabi juga itu
tanpa banyak bicara. Lain halnya kalau yang dimasak oleh Mama tersebut
masakan Hakka Jiaying Zhou, Akong bakal serta merta melontarkan
pendapatnya: Tak pelit memuji jika enak, dan tak segan pula mengkritik
jika rasa masakan itu kurang pas di lidahnya!
Tentu saja aku menyukai semua masakan peranakannya Mama, juga masakan-masakan Melayu. Lidahku kukira adalah lidah terasi (belacan, kata orang Bangka). Karena itu, seperti Mama, aku juga penggemar berat lalapan daun singkong dan kangkung rebus dengan sambal rusip dan calok. Namun begitu, masakan Mama yang menjadi kesukaan di masa kecil tetap saja sup daging babi yang dimasak dengan fung khiuk,
yakni sejenis bumbu sup berwarna merah yang hanya bisa diperoleh di
toko obat China. Sup ini konon merupakan resep khas keluarga Jiaying
Zhou.
Mau tahu apa penganan buatan ibuku yang selalu membuatku ngiler? Tak lain adalah Nyong Theu Fu! Sayang sekali, tahu isi ala Hakka terkenal ini hanya dibuat setahun sekali, yakni pada setiap perayaan Cap Go Me.
Mama juga pandai membuat kue. Bermacam-macam kue. Dari kue-kue kering seperti kue semprit, kue rintak (ia menye butkan kek edung) nastar nanas, kue sagu, kue cokelat (alias bupan atau kue hitam!), kue semprong, kastangel, lidah kucing, sampai bolu gulung dan rajanya kue yaitu maksuba!
Empat belas hari menjelang Tahun Baru China, Mama biasanya sudah
mulai membuat kue-kue Ko Ngian itu. Dan pada usia SD, aku paling suka
“menganggu”-nya dengan alasan ingin membantu. Kerapkali Mama membiarkan
saja aku ikut mencetak adonan kue yang sudah diratakannya di atas dampar kayu
dengan cetakan-cetakan kaleng yang bermacam-macam bentuk (ikan, hati,
burung, ayam jago, lingkaran berlubang, segi empat, mobil) atau
mengolesi kue-kue yang telah tercetak di atas loyang dengan kuning telur
menggunakan sehelai bulu ayam sebelum dipanggangnya dalam belanga tanah
liat besar.
Tentu saja sambil membantu, tanganku juga seringkali memasukkan
kue-kue itu ke dalam mulut. Terkadang Mama sampai mendelik jika
memergokiku melahap kue-kue panas yang baru saja diangkat karena kuatir
aku bisa sakit tenggorokan. Kalau sudah demikian, ia pun akan serta
merta mengusirku keluar dari dapur atau berteriak memanggil Papa atau
Akong agar segera “mengamankan” diriku. Bahkan ia sama sekali tidak
mengizinkanku masuk ke dapur saat ia membuat kue maksuba. Maklum, jenis
kue lapis dengan 20 butir telur ini membutuhkan konsentrasi cukup tinggi
dan waktu yang panjang sampai delapan jam. Adonannya harus benar-benar
terkocok rata, dan api belanga juga mesti benar-benar terjaga: tak boleh
terlalu besar, tak boleh pula terlampau kecil.
Ya, itu semua adalah kue-kue kampung khas Melayu yang lazim tertata
rapi dalam toples di atas meja ruang tamu setiap keluarga Tionghoa di
kampung kami setiap kali Tahun Baru China. Yang niscaya juga bakal kau
temukan di rumah-rumah Melayu ketika Lebaran.
Lantas, bagaimana dengan kue-kue China?
Seingatku, kue-kue khas China yang bisa dibuat oleh ibuku hanyalah Fat Pan alias kue apem dan kue Siak Jan yang
kami santap dengan air jahe pada setiap perayaan Ko Tung alias Hari
Raya Dong Zhi. Sementara kue keranjang untuk menambal langit pada setiap
perayaan Tian Chuan Ngit biasanya jika tidak dibeli Akong di pasar,
akan dipesan Mama dari seorang tukang kue kenalannya.
***
“BAGAIMANA cara ibumu berkomunikasi dengan orang-orang yang bukan
orang Hakka kalau ia tidak bisa berbahasa Indonesia?” tanya seorang
temanku di Taiwan yang merasa heran tatkala mendengar ceritaku. Ah, aku
sudah lupa seperti apa persisnya jawabanku pada saat itu. Kurasa kalian
yang tidak mengenal kampungku secara dekat pun mungkin akan menanyakan
hal yang serupa, bukan?
Ya, dengan kosa-kata Melayunya yang amat terbatas itulah, selama
bertahun-tahun Mama saling bertegur sapa dan mengobrol dengan para
tetangga kami, kenalan, dan teman-teman Melayunya, atau kawan-kawan fan ngin-ku yang datang ke rumah.
“Seperti bebek dan ayam saja!” komentar ayahku nyengir. Tetapi, kau
tahu, Mama akan terus menyerocos tanpa peduli apakah yang ia bicarakan
dipahami orang atau tidak. Begitu santai, hangat dan akrab seolah-olah
tanpa beban. Dan lawan bicaranya pun tampaknya juga tidak terlalu ambil
pusing apakah ibuku mengerti kata-katanya. Toh, menurutku, umumnya
mereka bisa saling memahami secara garis besar apa yang mereka
percakapkan. Bahkan saat aku masih SD, Mama sempat berkawan karib dengan
bibi seorang teman sekelasku yang nyaris tidak mengerti bahasa China.
Keduanya selalu saling mengunjungi, apalagi pada saat Hari Raya Idul
Fitri dan Tahun Baru China.
Namun, untunglah di kota kecilku Belinyu, kau tahu, ada banyak orang
Melayu yang bisa berbahasa Hakka, bahkan dengan logat yang lumayan
bagus. Tentu bukan bahasa “Hakka murni” sebagaimana lazim dipergunakan
oleh mereka yang memang berasal dari keluarga Hakka asli seperti
keluarga besar ayahku, tetapi bahasa Hakka peranakan yang sudah umum
dipakai dalam keseharian oleh sebagian besar orang Tionghoa di Bangka.
Ada sejumlah kenalan dan kawan akrabku orang Melayu yang boleh dikatakan cukup fasih bicara “baso Cin”
ini. Bahkan ada satu keluarga Melayu tetanggaku yang hampir semua
anggota keluarganya bisa bercakap-cakap menggunakan bahasa Hakka
peranakan dengan lancar. Maklumlah, mereka memang sudah lama tinggal di
Jalan Sriwijaya yang merupakan lingkungan Tionghoa, diapit oleh
ruko-ruko; dan sejak kecil mereka berteman akrab dengan anak-anak
Tionghoa. Dua anak perempuan keluarga pensiunan polisi itu, Yuk Jamilud
dan adiknya Yuk Lili misalnya, saban sore kerap duduk-duduk di teras
ruko kami dan mengo brol panjang-lebar bersama Mama memakai bahasa Hakka
peranakan. Dan, kakak mereka, Kak Sir, yang sehari-hari berjualan mie
lontong, sampai sekarang—lantaran ibuku tidak tahu cara menelepon—selalu
membantu Mama menghubungiku setiap kali ada kabar yang ingin
disampaikan beliau. “Pun ti fa” atau bahasa setempat, demikianlah ayahku
menyebut bahasa Hakka keluarga ibuku yang telah bercampur-aduk dengan
bahasa Melayu dan memiliki sejumlah kosa-kata lokalnya sendiri ini.
Bahkan banyak orang Hakka asli, terutama orang-orang tua yang merupakan
pendatang dari China Daratan, enggan meng akui bahasa Hakka lokal yang
dipergunakan di kampung halamanku ini sebagai bahasa Hakka. Paling
banter, jika bukan pun ti fa, mereka akan menyebutnya sebagai tong boi (bahasa orang Tang), atau bahkan Blijong boi (bahasa Belinyu).
Ya, banyaknya orang Melayu yang bisa berbahasa Hakka peranakan di
kampungku ini pun sempat membuat kawanku Wu Ting Kuan, seorang peneliti
muda dari Taiwan, terkagum-kagum tatkala berkunjung ke sana pada tahun
2016 silam.
Ah, kukira sebetulnya bukan hal yang terlalu aneh jika ibuku tidaklah
bisa berbahasa Indonesia atau Melayu. Ia memang tak pernah belajar
bahasa Indonesia sama sekali, dan sejak kecil sampai akhirnya menikah
dengan ayahku, ia pun lebih banyak berdiam di rumah kedua orang tuanya
di perkampungan Tionghoa. Mama memang pernah bersekolah, tetapi di
sekolah China (yang agaknya merupakan cabang dari Tiong Hoa Hwee Koan
Belinyu). Itu juga hanya sampai kelas dua entah kelas tiga sekolah
dasar.
“Aku sudah lupa,” demikianlah jawabannya setiap kali aku bertanya tentang apa yang ia pelajari dulu di sekolahnya itu.
“Nenekmu tidak mengizinkan aku dan kakak perempuanku meneruskan
sekolah. Ia meminta kami mengurus rumah karena ia harus berjualan kain
keliling setelah kakekmu berhenti bekerja karena sakit-sakitan,”
lanjutnya sambil tertawa.
Kecuali angka-angka, Mama nyaris tidak bisa mengingat satu pun huruf hanyu kecuali
namanya sendiri. Sementara alfabet yang bisa ia kenali hanyalah dari A
sampai F, kendati pada usia yang lebih muda ia bisa menulis namanya
dalam huruf latin berkat hafalan belaka.
Setahuku, hal yang paling diingat Mama dari masa-masa sekolahnya yang
singkat itu adalah potret besar Sun Yat-sen dan Chiang Kai-sek yang
tergantung di dinding kelas dan satu-dua lagu anak-anak yang diajarkan
oleh guru-gurunya. Dan itu telah di ceritakannya berulang-ulang
kepadaku.
Toh, ibuku bukanlah satu-satunya orang Tionghoa yang tidak bisa
berbahasa Indonesia di Bangka. Percayalah, apabila suatu hari kalian
sempat bertandang ke kampung halamanku, niscaya akan kalian temukan
banyak orang Tionghoa sebaya dengan beliau, apalagi yang lebih tua, di
kampung-kampung Tionghoa yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Sin Palet. Begitulah Mama menyebut nama kampungnya yang
sebetulnya hanya berjarak sekitar 5 km dari kota kecamatan Belinyu namun
terasa begitu jauh di masa kanak-kanakku itu.
Setiap kali liburan sekolah dan pada hari ketiga Tahun Baru Imlek,
kau tahu, kami wajib mengunjungi kakek-nenekku di sana. Tentu saja aku
senang sekali bisa bertemu dengan sepupu-sepupuku, terutama bakal
mendapatkan banyak angpao dari Ngoi Akong (kakek luar) dan
paman-pamanku. Hanya saja aku tidak suka naik angkutan desa berupa pick-up yang
bak belakangnya diberi atap itu; yang berbau solar dan amis oleh
ikanikan belanjaan para penumpang sehingga kerap kali membuatku mabuk
mobil.
***
AKONG—kendati bisa mengeraskan lidahnya untuk bertutur Hakka
peranakan—kadangkala harus mengoreksi kosa-kata Mama yang
membingungkannya. Hal ini lantaran Mama sering keliru mengeja sejumlah
kata dan istilah. Contohnya, “cho-kin” (sambil) kerap dilafalnya sebagai “kon-kin” (mengawasi) dan koi (membuka) sering kali diejanya jadi hoi sehingga membuat kata itu kehilangan makna.
Ah, jika kupikir-pikir lagi sekarang, tampaknya keluarga Mama
bukanlah keturunan Hakka. Mungkin leluhur mereka adalah orang Hokkien.
Meskipun tidaklah sebanyak orang Hakka, catatan sejarah yang berhasil
aku temukan toh menyatakan terdapat cukup banyak orang Hokkien, menyusul
Tio Ciu dan Kanton, yang bertandang ke Pulau Bangka sebagai kuli
penambang timah pada zaman kolonial.
Aku berani menarik kesimpulan demikian lantaran Mama dan paman-bibiku selalu memanggil Ngoi Akong dengan panggilan A Tia dan memanggil ibu mereka, nenekku yang berkebaya encim dan berkonde besar itu, sebagai A Bek yang kemungkinan me rupakan peralihan lafal dari A Bu.
Pada masa kecilku sampai pada tahun 90-an, penampilan perempuan
Tionghoa mengenakan kebaya encim dan kain sarung dengan konde di atas
kepala seperti Ngoi Apho (nenek luar)-ku ini memang bukanlah pemandangan
yang langka di kampung kami. Sehingga mereka pun dengan mudah dibedakan
dari perempuan Tionghoa dari keluarga totok yang selalu mengenakan
busana tradisional China berupa baju piyama lengan panjang dan celana
panjang ikat.
Ya, orang Mong Kap San. Begitulah para singkek seperti Akong
menyebut kaum peranakan seperti keluarga ibuku. Namun sampai sekarang
aku tidak pernah benar-benar paham apa makna sesungguhnya dari istilah
ini. Dalam bahasa Hakka, Mong artinya memandang, Kap kemungkinan besar adalah Kap yang berarti “dan” atau “bersama”. Sedangkan San jelas
berarti gunung. Menurut bibiku, sebutan ini ditujukan kepada semua
orang Tionghoa yang telah lama beranak-pinak di Bangka, apa pun latar
suku mereka. Tetapi ada pula yang mengatakan bahwa istilah ini memiliki
kaitan dengan Laksamana Chengho yang melihat puncak gunung Maras dari
kejauhan saat melintasi Pulau Bangka dalam pela yarannya ke tanah Jawa.
Kaum peranakan ini juga kerap disebut Pun Ti Ngin (atau orang lokal), bahkan kaum totok yang cukup fanatik dengan ketotokannya suka menyebut mereka sebagai Pan Tong Fan kendati mereka tidak memiliki campuran darah Melayu sedikit pun. Namun demikian, toh mereka tidaklah pernah dipanggil Kiau Sen yang
lazimnya ditujukan kepada orang-orang Tionghoa di Sungailiat,
Pangkalpinang, dan daerah sekitarnya yang sudah nyaris tidak bisa lagi
berbahasa Hakka dan lebih banyak menggunakan bahasa Melayu Bangka dalam
percakapan sehari-hari. Ya, persis seperti orang-orang Tionghoa di
Pecinan Semarang yang selalu meng gunakan bahasa Jawa ngoko di rumah.
“Mama saya masih bisa berbahasa Hokkien dan sering berkomunikasi
dengan kawan-kawannya menggunakan bahasa Hokkien. Tetapi anehnya, ia
juga almarhum Papa saya tidak mau mengajari bahasa Hokkien kepada kami
anak-anaknya dan lebih suka berbicara kepada kami memakai Jawa ngoko,”
aku jadi teringat pada kata-kata buda yawan Tionghoa Semarang, Tubagus
P. Svarajati belum lama ini saat berbaik hati menemaniku mengelilingi
Pecinan Semarang.
Tentu… Tentu saja, ada banyak hal yang barangkali menjadi penyebab
hilangnya bahasa China dari lingkungan masyarakat Tionghoa ini.
Dilarangnya sekolah-sekolah China dan buku-buku berbahasa China dan
dibatasi penerbitan beraksara hanyu hingga tinggal Harian Indonesia selama
masa Orde Baru, kukira adalah pemicu utamanya. Demikian pula halnya
dengan kecurigaan terhadap masyarakat Tionghoa dan berbagai peraturan
diskriminatif lainnya yang terusmenerus dikembangkan secara sistematis
oleh rezim Soeharto.
Tetapi dari pengamatanku, hilangnya kemampuan berbahasa China
(terutama Mandarin) pada komunitas Tionghoa ini umumnya terjadi di
kota-kota besar atau daerah yang jumlah populasi orang Tionghoa tidaklah
sebanding dengan warga pribumi. “Ape kelak luk, heu ko ta cung cuk!” begitulah dulu kami
kerap mengolok-olok pemakaian bahasa Melayu oleh orang-orang Tionghoa
Sungailiat dan Pangkalpinang. Dan, kau tahu, bahasa Melayu Bangka yang
dipergunakan oleh orang-orang Kiau Sen ini pun memiliki keunikannya sendiri, yakni setiap kalimatnya kerap diakhiri dengan tambahan bunyi “wo”. Contohnya: “Ka nak ke mane wo?”
Lalu, seperti pula halnya bahasa Hakka peranakan di kota kecilku,
bahasa Melayu-Tionghoa ini juga bercampur-aduk dengan sejumlah kosa-kata
Hakka dan segelintir istilah baru yang entah dari mana datangnya…
Ah, kukira olok-olokan kami tersebut tentunya cuma sekadar senda
gurau anak-anak yang tak berpotensi menyakiti perasaan. Tidaklah seperti
olok-olok “Tong ngin em hiau kong tong boi, em si ciu boi soi!” dari generasi ayahku terhadap mereka yang cukup sadis itu.
***
YA, dalam keluarga Tionghoa dengan orang tua yang cukup berbeda latar belakangnya seperti inilah aku dilahirkan dan dibesarkan.
Namun demikian, menurutku, kaum peranakan seperti keluarga Mama dan
mayoritas orang Tionghoa di kampungku ini (utamanya mereka yang tinggal
di desa-desa) seringkali jauh lebih kuat memelihara sejumlah tradisi
China lama ketimbang orang-orang Tionghoa dari keluarga totok seperti
keluarga ayahku yang merupakan pendatang baru, cukup terpelajar, dan
hidup di bawah bayang-bayang revolusi Sun Yat-sen…
Meskipun selalu bergaul akrab dengan orang-orang Melayu, tidak
seperti kaum totok yang cenderung tertutup, jarang ada di antara mereka
mau berpindah agama. Kebanyakan kaum peranakan di kampung-kampung ini
lebih memilih bersetia kepada kelenteng dan dewa-dewa China. Apabila
kaum totok, terutama yang terdidik dalam pendidikan China modern ala
Tiong Hoa Hwee Koan lebih suka menggunakan kalender Masehi atau
kadangkala masih suka menandai beragam peristiwa penting dengan
perhitungan Tahun Republik China yang dimulai dari 1911, kaum peranakan
seperti Mama selalu loyal pada kalender lunar. Mereka juga akrab dengan fengshui dan hidup dalam banyak pantangan yang bersifat mistis.
Ah, ada satu pengalamanku sejak kanak-kanak di bawah asuhan Mama yang
sulit untuk aku lupakan dan masih sulit aku pahami hingga kini. Yaitu,
menyangkut keyakinan Mama bahwa pada setiap hari besar para dewa
(entahlah itu hari ulang tahun atau hari moksa sosok-sosok suci itu),
hujan dipastikan bakal tercurah dari langit.
Karena itu, pada masa-masa aku masih SD, tidak peduli langit tampak
begitu cerah atau perkiraan cuaca di TVRI sudah menyatakan bahwa hari
itu tidak akan turun hujan, ia tetap saja ngotot memaksaku membawa
payung ke sekolah, bahkan menjejalkan jas hujan ke dalam tasku.
Kau tahu apa yang terjadi?
Mama ternyata jarang keliru! Walaupun tidak selalu berupa hujan
deras, paling tidak pada hari itu, kau tahu, akan turun gerimis ala
kadarnya yang cukup membasahi seragam sekolahku setiap kali aku mencoba
membantah. Ya, begitulah! ***
Jogjakarta, Tahun Baru China 16 Februari 2018/Hari pertama bulan kedua 2569
*) Cerita ini adalah bagian dari himpunan cerita “Memoar Pulau Timah”.
SUNLIE THOMAS ALEXANDER Pengarang asal Belinyu, Pulau Bangka. Kini tinggal di Jogjakarta. Buku kumpulan cerpennya, Makam Seekor Kuda, akan terbit akhir Februari ini
Ketika seseorang diberi kelemahan pada satu sisi, berarti ada kekuatan di sisi lain. (hlm. 42)
Banyak sekali kalimat favorit dalam buku ini:
Sukses bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, melainkan sesuatu yang harus diraih dengan kerja keras. (hlm. 30)
Banyak orang bilang itu tidak mungkin. Tapi kenyataannya tidak
seperti itu. Semuanya mungkin, asal kita memang menetapkan dalam hati
bahwa semua itu mungkin. (hlm. 38)
Tidak ada kata tidak bisa, bahwa hidup itu hanyalah persoalan mau atau tidak mau. (hlm. 47)
Jika seluruh dunia mengatakan sesuatu yang buruk pada kita, kita tidak perlu percaya pada mereka. (hlm. 49)
Bahwa tidak ada sesuatu yang dapat disebut sebagai nasib buruk. (hlm. 55)
Setiap kita sesungguhnya diutus Tuhan ke dunia ini untuk sebuah maksud dan tujuan yang khusus. (hlm. 67)
Suatu penderitaan bisa berubah menjadi kebahagiaan jika kita bisa menemukan maknanya. (hlm. 68)
Tak ada sesuatu yang tak mungkin bagi Tuhan. (hlm. 69)
Langit adalah batas dan kita dapat mewujudkan apa yang kita tetapkan
dalam pikiran jika kita mau mencobanya. Jangan stress pada kegagalan
karena hanya dari kegagalanlah datangnya kesempurnaan. (hlm. 70)
Kebebasan bermimpi tidak perlu dilarang atau dibatasi. (hlm. 91)
Jika kau menjalani hidupmu dengan cara yang benar, karma akan
merawat dirinya sendiri. Mimpi-mimpi itu akan datang kepadamu. (hlm. 97)
Hanya dengan memiliki iman yang cukuplah kita bisa menghadapi masalah apapun dalam hidup ini. (hlm. 120)
Hal-hal terbaik dan paling indah di dunia tidak dapat dilihat atau
bahkan disentuh, semua itu harus dirasakan dengan hati. (hlm. 162)
Iman adalah suatu kekuatan dahsyat yang dapat mengubah apapun, serta membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. (hlm. 180)
Tuhan takkan pernah meninggalkan dan mengabaikanmu. (hlm. 185)
Kita harus tetap punya rasa ingin tahu dan pantang menyerah sesulit apa pun keadaannya. (hlm. 253)
Cerpen Danang Cahya Firmansah (Suara Merdeka, 18 Februari 2018) Anjing dan Sebuah Nama ilustrasi Hery Purnomo/Suara MerdekaMESKI pengemis, aku cukup punya belas kasihan.
Setahun lalu, aku melihat seekor anak anjing kurus, ceking, tertidur
lemas di pinggir jalan. Segera kubawa anak anjing itu ke gubukku di
bawah kolong jembatan. Dia kuberi nama Koruptor.
Hari demi hari kurawat Koruptor sepenuh hati. Pagi hari, sebelum
bekerja, kumandikan Koruptor dan kuberi makan seadanya. Kami makan
berdua. Baru setelah itu aku berangkat kerja. Acap kali Koruptor
mengikuti aku.
Namun belum genap sebulan, Koruptor sakit-sakitan. Ia korengan.
Sungguh, aku tak habis pikir. Bukankah dia sering kumandikan serta
kurawat sepenuh hati dan cinta?
Koruptor juga sering apes. Orang-orang yang membenci pernah melempar dia dengan batu dan kayu.
Suatu sore sepulang kerja, aku tak mendapati Koruptor di gubuk. Kupangil-panggil, tetapi dia tak membalsa dengan gonggongan.
Aku mencari ke luar gubuk. Nahas, Koruptor tergolek lemah. Kepalanya
berlumuran darah. Aku sedih. Kenapa dia begitu apes? Apa salah Koruptor?
Di gubuk, hanya Koruptor yang menemaniku. Aku tak berkeluarga. Karena itulah, Koruptor kuanggap anak. Ya, dialah anakku.
Aku tak tega ketika dia sakit parah. Padahal, aku tak mungkin membawa
dia ke dokter hewan. Duit dari mana? Aku merenung-renung, memikirkan
cara mengobati Koruptor.
Akhirnya terbersit jalan keluar. Keesokan hari, aku bergegas menuju
gubuk Mbah Ponidi, tak jauh dari gubukku. Kuceritakan keluh-kesahku soal
Koruptor. Mbah Ponidi mendengar sambil menganggukangguk, lalu terdiam
seraya menghela napas panjang.
Beberapa saat kemudian dia berkata, “Itu karena namanya.”
“Maksud Mbah?” “Asma iku kinarya japa,” sahut Mbah Ponidi.
“Artinya?”
“Nama adalah doa. Anjingmu terlalu suci. Tak cocok kaunamakan Koruptor. Karena itulah, dia sakit-sakitan dan selalu sial.”
Mendengar jawaban Mbah Ponidi, aku mengangguk mantap. Aku segera pulang dan mengganti namanya dengan nama baru: Blaky.
Perkataan Mbah Ponidi ternyata benar. Berbulan-bulan kemudian, Blaky
sehat. Dia tak sakit-sakitan dan tak apes lagi. Aku tersenyum senang.
“Terima kasih, Mbah Ponidi,” gumamku sembari mengusap-usap kepala Blaky. Menanggung Malu
Anjing betina itu paling setia menemani si lelaki tua. Sungguh,
lelaki tua itu tak mengerti mengapa istrinya tak mampu setia? Padahal,
anjingnya tetap rela menemani hingga si lelaki memasuki usia senja.
Kini, dia hanya serumah dengan anjing peliharaan. Kadang lelaki tua itu
berkhayal, “Andai anjingku berubah jadi manusia, pasti kunikahi!”
Sepulang kerja, lelaki tua itu mengajak anjingnya jalan-jalan
menyusuri jalanan kota. Melihat gedung-gedung tinggi menjulang bagai
pohon-pohon berebut sinar. Berlomba-lomba lebih tinggi dari yang lain.
Seminggu sekali, dia mengajak anjingnya lari pagi. Setiap Minggu si
anjing menggonggong tak hentihenti sambil menggoyang-goyangkan ekor.
Hewan itu seperti antusias menyambut hari Minggu. Hari untuk membugarkan
badan.
Namun suatu hari anjing putih itu lesu tak berdaya. Gonggongannya pun
lemah. Tak keras seperti hari-hari biasa. Lelaki tua itu makin bingung,
karena si anjing tak bernafsu makan. Lelaki tua mencoba mengganti
berbagai pakan anjing, tetapi anjingnya tak mau makan sedikit pun.
Tubuh anjing itu mengurus. Hidupnya tampak tak bergairah. Lelaki tua
segera membawa ke dokter hewan. Namun kata dokter, tak ada penyakit di
tubuh hewan itu. Lelaki tua berpikir-pikir, “Apa perlakuanku salah pada
anjingku?” Padahal, dia telah merawat anjing itu sepenuh kasih. Dia
sudah menganggap anjing itu anaknya.
Suatu malam, lelaki tua itu tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi, anjing kesayangannya berbicara.
“Tuan, aku sangat tersinggung! Aku malu dan sakit hati!” ujarnya.
Lelaki tua kaget dan bertanya, “Kenapa?”
“Tuan, akhir-akhir ini banyak orang menyebut anjing negara. Sebutan
itu tertuju pada orang-orang yang meraup, merampas, merampok harta
rakyat. Kenapa bandit-bandit berdasi itu mereka sebut anjing negara?”
“Itu kan cuma istilah.”
“Saya tidak terima, Tuan. Saya rela dikatakan hewan najis. Saya
iklas! Namun saya sangat-sangat tersinggung, malu, dan sakit hati oleh
perkataan banyak orang yang menyebut bandit berdasi sebagai anjing
negara! Senajis-najis saya, saya tak pernah korupsi, Tuan. Tak pernah
memakan harta rakyat jelata. Lalu mengapa orang-orang menyebut perampas
harta rakyat dengan sebutan anjing negara? Apa salah saya?” sergah
anjing itu.
Lelaki tua terbangun. Keringat membasahi badan. Dia beranjak menuju
kandang anjing di sebelah rumah. Sambil mengucek-ngucek mata, lelaki tua
itu berjalan tergesa.
Tiba di depan kandang anjing, lelaki tua tak bertenaga. Badannya
lemas. Otot-otot di tubuh seperti tercerabut. Dia lihat anjing
kesayangan terbujur kaku. Mati menanggung malu. Bersuci
Ada tiga anjing bersaudara di rumah mewah itu. Anjing berkulit hitam,
putih, dan cokelat. Mereka gemuk-gemuk. Kulit mereka bersih karena
sangat terawat. Pemilik ketiga anjing itu seorang pejabat negeri.
Pembantu di rumah acap kali menyuguhkan sate, gule, brongkos pada
ketiga anjing kesayangan sang majikan. Si pembantu, sambil menelan
ludah, menghaturkan makanan setiap pagi, siang, dan sore.
Sungguh, anjing yang penuh kebahagiaan. Namun, sayang, tak lama
kemudian mereka mendengar berita mengejutkan. Anjing-anjing bahagia itu
terusik. Mereka baru tahu sang tuan korupsi.
Mereka segera memuntahkan seluruh makanan dari dalam perut. Namun tak
bisa. Mereka bingung, karena makanan yang selama ini mereka santap
berasal dari merampas uang rakyat. Para anjing itu sekali lagi hendak
memuntahkan seluruh isi perut. Namun tetap gagal.
“Percuma kita keluarkan isi perut. Toh kita makan uang rakyat sejak
dalam kandungan ibu kita. Makanan telah mewujud menjadi kulit, daging,
tulang, mata, hidung, hati, telinga, dan bulu kita,” ucap anjing putih
sambil menggigil.
“Lebih jauh dari itu, bahkan sperma Ayah, asal mula kita, terbentuk
dari sari makanan hasil rampasan terhadap rakyat,” ucap anjing hitam
sambil mundur-mundur ketakutan.
Mereka tak hanya jijik kepada sang tuan. Bahkan kini mereka pun jijik
pada diri sendiri. Mereka hendak melepaskan diri dari tubuh najis
masing-masing. Anjing-anjing itu segera melarikan diri. Saat hendak
meloncati pagar rumah, sang tuan pulang mengendarai Lamborgini.
Sang tuan segera turun dari mobil. Dia heran melihat anjing-anjingnya
seperti ketakutan. Lalu dia segera mendekati hewan-hewan itu.
Mengusap-usap kepala mereka satu per satu.
Anjing-anjing itu sangat jijik atas usapan tangan sang tuan. Setelah
sang tuan masuk rumah, mereka segera melompat. Mereka menggonggong tak
jelas, sambil mencari kubangan lumpur.
“He! Kau tahu niat doa menyucikan diri karena najis?”
“Sudahlah, yang penting kita berniat bersuci untuk menghilangkan
najis. Tubuh kita selama ini tersentuh tangan bandit itu. Niat kita
menyucikan dari dari kenajisan tubuhnya yang menyentuh kita,” ujar
anjing cokelat.
Anjing-anjing itu segera menyucikan diri dengan berwudu lumpur. Namun
setelah selesai, anjing-anjing itu tetap merasa kotor dan jijik pada
tubuh masing-masing. Anjing-anjing itu ingin lepas dari raga yang
terbentuk dari makanan hasil rampasan rakyat.
Mereka depresi. Menggonggong tak jelas, menyusuri jalanan kota. Manusia menyebut mereka anjing gila. (44)
Semarang, 3 & 11 Februari 2018
— Danang Cahya Firmansah, pegiat Lingkaran Studi Kebudayaan Indonesia.