Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Cerpen Maya Sandita (Rakyat Sumbar, 03-04 Februari 2018) Tanya di Sepanjang Sungai, di Rimbun Hutan ilustrasi Rakyat SumbarSUDAH menjadi obrolan biasa di warung desa sebelah
tentangku. Sebab mungkin menurut mereka aku tak istimewa. Biasa saja.
Sama dengan apa yang ada di desa mereka. Ada air yang mengalir, bukit
yang hijau, dan rumah-rumah panggung di kebun. Bukan sesuatu yang perlu
diributkan mendengar aku diperkosa, karena itu hal biasa. Ya, aku
diperkosa sampai retak seluruh tubuhku dan tangisku dari hulu
menyambangi rumahmu. Aku yakin kau ingat. Kusapa kau ke darat, kutunggu
kau bahkan jika nanti akhirnya hanya sempat melayat.
Hampir sewindu sejak saat itu. Barangkali kau butuh waktu untuk siap
melihat rambut rontokku tersangkut di tepian mandi. Di mana anak-anak
kecil melompat dari batu besar dan ibu-ibu dengan kain cokelatnya
membilas cucian, baju kotor satu keluarga satu hari. Mereka adalah saksi
yang—jika punya waktu untuk menghitung—bisa tahu jumlah helai rambut
rontok itu.
Tahukah kau, suatu waktu pulanglah seorang anakku dari luar desa.
Kusambut kakinya dengan haru lewat sejuk air mataku yang mengalir
sepanjang hidupnya. Lewat telapak hingga mata kakinya yang buta, kubuat
ia mengerti, aku sangat rindu padanya. Lama ia tertegun di tepian,
menghirup napas dalam sambil bahunya naik dan kemudian dilepas bersama
apa yang ada di dadanya. Aku tak tahu ada apa di sana, tapi jatuh
alisnya menjelaskan sesuatu padaku.
“Aku selalu memaafkanmu, Nak. Sama seperti bagaimana aku merindukan
kepulanganmu,” desau angin sore menyampaikan jawabanku untuknya.
Anakku lebih pendiam dari biasa. Jika dulu ia suka melompat dari
batu, menyelam di sungai yang dalam, dan berenang hingga lupa waktu,
kini ia hanya termangu sembari melempar satu dua kerikil. Padahal aku
rindu suaranya, apalagi ketika ia bercerita tentang perempuan desa
seberang yang membuatnya jatuh hati. Berbait-bait puisi dirangkainya,
dibacakannya, dihanyutkannya jadi perahu.
Kupikir perempuan itu alasannya.
Tapi kemudian lirih suaranya terdengar, “Bu, selama aku di kota, aku
menemukan tabib-tabib. Mereka punya penawar untuk sakit yang kau derita.
Esok mereka tiba, Bu. Jangan menangis terlalu keras sebab bahagia, ia
suka jika kau tenang-tenang saja. Pasang wajah ceria untuk menyambut
mereka.”
Ia menyebut namamu dalam daftar tabib-tabib. Jadi merona pipiku. Bisa
kaulihat dari langit senja yang kupantulkan. Itulah mengapa sejak kau
datang sampai saat ini langit dan aku berwarna merah jambu.
Rambutku tak rontok beberapa hari, kupikir karena aku bahagia sebab
kau dan kawan-kawanmu datang ke mari. Tapi maaf, aku belum sempat
membersihkan yang sudah terlanjur tersangkut di tepian sungai. Ah, jadi
tidak enak. Kau menemukan pemandangan tak elok dan segera tahu bahwa
sakitku cukup parah.
Di atas perahu kecil dengan muatan lima sampai sepuluh orang, kau dan
kawan-kawanmu duduk tenang. Beberapa kali perahu kandas di bagian
sungai yang terlalu dangkal. Tapi tenang saja, Datuk yang jadi nahkodamu
sudah paham medan. Aku sangat yakin kau bisa sampai di rumah dan
menemui anakku yang menunggu.
Anakku sudah mempersiapkan yang terbaik agar kau dan kawan-kawanmu
nyaman berada di rumah. Ia siapkan mesin pembangkit tenaga listrik
dengan bahan bakar bensin agar lampu bisa menerangi malam panjang di
desa. Ia siapkan banyak kayu bakar jika kau ingin duduk dan
bercengkerama bersama di luar. Ia juga siapkan tenda di halaman jika
dipan kayu kami tak cukup membuatmu nyaman.
Suatu kali, kau bicara pada anakku. Perkataanmu membuat malam jadi tak berujung.
“Selama ini pemerkosaan telah merusak tubuh ibumu seutuhnya.
Rambutnya rontok, air matanya hampir kering, kulitnya keriput dan retak.
Jika mengandalkan kami saja, sungguh, kami tak cukup menjadi obat.
Sehebat apa pun kami para tabib ini dikatakan orang.”
Malam benar-benar jadi tak berujung meski pagi, siang, dan senja
tetap datang keesokan hari. Selama jalan keluar belum ditemukan, tak
akan ada terang. Anakku dan para tabib itu mencari cara agar tindak
kriminal atas tubuhku diusut sampai ke akarnya. Mereka perlu tahu siapa
dalang pemerkosaan, siapa germonya, dan kenapa tubuh ibunya yang
dieksploitasi?
Sering kudengar anakku bertanya dalam doanya. Sajak untuk perempuan
desa seberang yang kini entah di mana, berganti. “Bukankah ibuku telah
berikan udara untuk napasmu? Bukankah ibuku telah berikan getah karet
untuk jadi rupiah dalam dompet? Bukankah ibuku telah berikan ikan dari
aliran air matanya?”
Sementara beribu pertanyaan muncul di kepala, cerita tentang tabib
yang berusaha menyelamatkanku dari kematian, sampai ke telinga
seseorang. Celoteh warga dari warung desa sebelah agaknya mengancam
dirinya dan bos besar. Anakku tahu itu. Ia tahu dari Datuk pengemudi
perahu yang singgah di tepian menambal papan yang rusaknya makin besar.
Ia butuh bantuan anakku, tak ingin perahunya karam.
Subuh baru saja dijemput pagi, di sepanjang sungai, di rimbun hutan.
Hampir terang. Tinggal kau sekarang, ingin pulang atau meneruskan
perjalanan hingga benderang? (*)
Padangpanjang, 31 Januari 2018
(Selamatkan Hutan Rimbang Baling, Kampar, Riau dari pembalakan liar)
Oleh Yusna Rusin (Rakyat Sumbar, 03-04 Februari 2018) Misteri Penemuan Istana Dewa ilustrasi Rakyat SumbarPERNAH dengar lagu Ragam Pasisia? Sebagian syairnya berbunyi Bayang Sani di Koto Baru/Yo Ngalau Dewa di Koto Ranah/Indak diliek mangko tak tau/ Di puluik-puluik jambatan aka atau Bayang Wisata Ciptaan Zai Sefei dan Tusriadi: Walkum dulu namonyo/ maso dahulunyo/ kiniko banamo Bayang Sani/ aia tajunnyo batingkek tujuah tapian mandi sajauak aianya// Nagalau dewa/ isatano dewa/ kiniko banamo ragam pesona/ indak diliek manggko tak tau di Puluik-puluik jambatan aka.
Di dalam lagu itu disebut-sebut salah satu objek wisata yang bernama
Istano Dewa atau Ngalau Dewa di Koto Ranah Bayang Pessel. Gua dengan
kedalaman 25 meter dan di bibirnya mengalir Sungai Bayang Janiah ini
pernah dikunjungi Nandine sekitar tiga tahun yang lalu.
Di tahun 1991 objek wisata ini diresmikan Bupati Masdar Saisa. Di
sekelilingnya dibangun pondok-pondok dengan atap bundar seperti payung
yang terbuat dari lalang. Gua ini telah ditemukan sejak tahun 1956.
Inilah kisah penemuannya.
Pada suatu hari di tahun 1956 seorang ibu hendak pergi ke sawah.
Begitu bersiap-siap hendak berangkat, salah seorang anaknya yang masih
berumur lima tahun langsung mendahuluinya, berlari ke pintu sambil
berkata, “Aku ikut Mak!”
“Jangan,” kata Maknya. “Nanti cuaca panas. Kalau panas, kamu
menangis-nangis minta pulang. Mak bekerja. Siapa yang akan mengantarkan
kamu pulang?”
“Aku janji tidak akan ganggu, Mak.” Begitu dia menjelaskan supaya permintaannya dikabulkan.
Akhirnya dengan kaki kecilnya dia berlari-lari kegirangan. Senang sekali hatinya boleh ikut ke sawah.
Sesampainya di sawah, Maknya mulai bekerja menebas rumput pematang
sawah yang sudah mulai menebal. Lama-lama bekerja, lupa waktu entah
sudah jam berapa. Dilihat matahari, rupanya lampu raksasa itu sudah
tepat berada di atas kepala, berarti hari sudah kira-kira pukul 12.00.
Burung elang berputarputar di udara, di sekitar dia bekerja. Begitu
melihat burung elang berputar-putar itu, darahnya langsung berdebar dan
hatinya berkata ini pasti ada tanda-tanda.
Memang benar. Dilihatnya anaknya sudah tidak ada lagi. Dia
panggil-panggil, tidak ada sahutan. Dia cari-cari, tidak ketemu.
Akhirnya dia bergegas pulang sambil menangis.
Di sepanjang jalan, setiap bertemu orang dia tanyakan apakah ada
melihat anaknya. Setiap yang ditanya menjawab tidak ada. Hatinya semakin
galau. Sesampai di rumahnya dia juga tidak menemukan anaknya. Dia
semakin cemas lalu menangis-nangis. Orang kampung beramai-ramai
membantu. Tempat-tempat tersembunyi termasuk sungai dan pondokpondok
tengah sawah rasanya tak ada yang terlewati. Pencarian dilanjutkan pada
malam harinya ada yang menggunakan suluh, senter, dan ada pula yang
menggunakan lampu stromkeng, namun anaknya tak diketemukan juga.
Masyarakat Koto Ranah tidak bisa tidur. Mereka dibalut rasa cemas,
takut, dan risau bercampur aduk. Ibu-ibu dan anak-anak tidak ada yang
berani tinggal di rumah sendirian. Mereka semua berkumpul-kumpul.
Anak-anak kecil tak ada yang lepas dari pangkuan ibunya. Takut
kalau-kalau anak mereka akan hilang pula. Untuk menghilangkan rasa takut
itu, mereka ramai-ramai membaca Alquran.
Hari-hari berikutnya pencarian dilanjutkan. Seluruh masyarakat desa
di kecamatan Bayang termasuk para dukun dimintai pertolongan.
Orang-orang biasa diminta mencari di tempat-tempat yang tidak dianggap
angker, sedangkan para dukun diminta mencari di tempat yang dianggap
angker, namun hasilnya masih tidak ada.
Pada hari yang ketiga diadakan musyawarah bersama ninik mamak, alim
ulama, dan cerdik pandai untuk mengetahui tempat-tempat mana yang belum
disilau. Akhirnya, tersebutlah sebuah gua di pinggir sebuah sungai. Maka
didatangilah gua itu beraramai-ramai yang dipimpin Datuk Gamuk dan
Katik Malim Bungsu serta dukun gadang Peto Kayo ditambah dengan
dukun-dukun lain, Pak Wali Syukur, serta Angku Basir.
Sesampainya di sana, mereka masuk ke dalam gua. Begitu masuk, mereka
terkesima melihat pemandangan yang begitu indah dan bersih. Ada meja dan
kusi batu yang tertata rapi. Di tengah-tengahnya terlihat anak sungai
mengalir santai. Pasirnya yang putih laksana mutiara. Setelah mereka
teruskan perjalanan ke dalam, mereka melihat banyak pintu kiri kanan.
Pada pandangan terakhir, mereka melihat sebuah pintu berukuran kecil.
Hanya sebesar kotak korek api, tetapi di dalamnya sangat lapang.
“Coba lihat di atas pasir ada jejak kaki manusia,” teriak Datuk
Gamuk. Semua rombongan menyaksikan jejak kaki manusia, namun setiap
jejak kaki manusia itu selalu diiringi jejak kaki harimau. Dan jejak
kaki anak kecil yang diperkirakan jejak kaki Mahyunar.
“Tidak ada harapan lagi,” teriak Angku Basir. “Sekarang mari kita
berdoa bersama semoga dia bisa kembali lagi.” Selesai berdoa mereka
kembali keluar dengan perasaan sedih.
Tiga tahun setelah kehilangan itu, Mahyunar mendatangi Maknya ke
rumahnya. Hal itu diberitahukan dukun. Menurut dukun, dia akan datang
pada petang Kamis Malam Jumat. Mak Mahyunar disuruh bentangkan tikar
putih di dalam kamar, di atasnya letakkan nasi putih, nasi hitam, dan
nasi kuning, segelas kopi dan kacang goreng.
Petang Kamis malam Jumat berikutnya diulang lagi. Setiap makanan dan
minuman yang sama disajikan, selalu habis, tapi dia tak pernah
kelihatan.
Pernah Maknya merasakan bersalaman dengan dia, suaranya terdengar
menangis meminta maaf. Dan pada tahun 2000, sesudah ayahnya meninggal,
di saat di rumah itu tidak ada orang karena ditinggal sebentar untuk
pergi ke Sago Painan, terdengarlah orang menangis di rumah itu. Sesudah
itu terdengar suara orang mengaji atau membaca Alquran.
Menurut cerita orang pandai atau atau orang pintar atau dukun,
Mayunar itu sudah kawin dengan orang bunian atau di Bayang disebut
“urang aluih” dan tinggal dalam gua tersebut. Maka ketika gua itu akan
dijadikan objek wisata, dia dan istrinya disuruh pergi meninggalkan gua
itu dengan jampi-jampi pengusir jin.
Pada tahun 1990 Koto Ranah dipimpin oleh Kepala Desa Muknis Malin
Sinaro. Dengan kerja sama semua lapisan masyarakat mulai dari remaja
sampai orang dewasa, tidak ketinggalan ninik mamak, alim ulama, cerdik
pandai, serta bundo Kanduang meminta persetujuan Camat Bayang dan Bupati
Pesisir Selatan Masdar Saisa untuk menjadikan gua itu sebagai tempat
wisata.
Setelah mendapat persetujuan, masyarakat melakukan perlombaan membuat
rumah-rumah bulat di sekitar intano dewa. Siapa yang bagus rumah
bulatnya, diberi hadiah. Secara berangsur-angsur jalan ke sana
diperbaiki. Jembatan dibangun sehingga dapat dilewati kendaraan roda
empat. Dan pada tanggal 1 Oktober 1990 objek wisata itu diresmikan oleh
Bupati Pesisir Selatan, Masdar Saisa. Akhirnya tempat itu menjadi
terkenal sampai ke manca negara. Sayang sekarang sudah kurang terawat
dengan baik. (*)
Puisi-puisi Aji Ramadhan dan Inggit Putria Marga (Kompas, 20 Januari 2018) Berkah Ibu II ilustrasi Gigih Wiyono/ Kompas
Melempar Matahari Merekah
Matahari merekah dan
bulan bergegas ke kantung waktu.
Embun-embun kehilangan
bayangan bulan.
Sebelum lenyap di ketinggian daun,
embun-embun
mulai terbuka meminang tanah.
Embun-embun cepat terjun
melengkungi sekuen kehidupan.
Di batas langit dan bumi, pagi
melempar matahari merekah
ke kembang-kembang.
Di tanah, para semut lega
selesai berpatroli memutari
kembang-kembang.
Punggung para semut yang pegal
habis berpatroli
perlu asupan vitamin K
milik matahari merekah.
Matahari merekah sempurna.
Sepasang mawar be rad u argumen
tentang cara terbaik
bersatu dengan matahari merekah.
Melati punya pandangan lain:
Bulan bergegas ke kantung waktu
karena jarak-berjarak, bukan
tersaingi oleh matahari merekah.
Surakarta, 2017
Rugi
Kita kembali berjalan setelah berkemah
di perut gunung. Kita harus menemu pagi sebelum
langit mengirimnya. Semoga halimun
tak pergi ketika kita datang. Kita butuh halimun
untuk merangkum keletihan diri ini.
Puncak gunung ternyata jauh dari dugaan, meski
terpandang dekat di mata kita. Api unggun
yang semalam kita buat belum mati
di hati. Jangan kita menyeka peluh. Kita membawa
peluh masing-masing sebagai kado untuk pagi.
Nyanyian perjalanan ke puncak gunung telah kita
nyaringkan. Sesekali kita melihat ke bawah: Aneka
warna lampu menjadi repetisi halus. Murni
direkam mata kita. Kadang kita mengalami sangsi
kenapa bisa sekecil ini.
Di sela-sela pohon sana, kita bertemu ular yang
sedang mengawas. Kita takut tapi tinggal berpuluh
langkah akan sampai ke puncak gunung. Tapi
kita mulai menangis ketika terompet langit telah
mengirim pagi. Kita mematung rugi.
Surakarta, 2017
Datang
Pagi datang menyelamatkan aku
setelah memasang
daur ulang ekor matahari
dan membuang selimut malam.
Hangat sahaja pagi datang:
Aku belqjar menggapai awan
hingga menepuki waktu
biar lambat memasuki gerakku.
Kamar mimpi kehilangan aku
setelah pagi datang. Tapi tersisa
goresan kamar mimpi
di dalam benak lunakku:
Bantal membudak kepalaku dan
hantu kolong ranjang menakut
mataku.
Pagi datang memberi aspirasi
kepadaku lewat moncongnya:
“Kubur masamu yang redup itu,
lalu tinggikan tiang lagu.”
Pagi datang membuka
petualangan baru denganku. Dan
aku berlagu:
Seorang anak enggan lagi tidur karena pagi datang menghiasi dinding hari barunya.
Surakarta, 2017
Aji Ramadhan lahir di
Gresik, Jawa Timur, 22 Februari 1994. Mahasiswa Desain Interior di
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Buku puisinya adalah Sang
Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012).
Festival Purnama
november, entah hari keberapa
setelah kelopak matahari mengatup
dari balik bukit berpohon sedikit
kepala purnama menyembul
matanya menabur cahaya
serupa cakra mata ketiga yang mekar sempurna
seperti tangan petani menebar benih
di tanah yang matang oleh doa
ke yang halus dan yang kasar, cahaya menyebar:
ke tangan istri yang sedang mencengkram leher kekasih suami
ke tangan ibu yang gemetar menghapus keringat dingin di dahi bayi
ke kucing pincang yang tak henti mengeong
usai dilempari batu oleh penghuni rumah yang disinggahi, ke anjing
yang berbaring di rumput menunggu kedatangan tuannya, ke balita
yang lari ke sana ke mari, tanpa berpikir untuk apa ia lahir
dan ke mana kelak pergi setelah detak jantung berakhir, ke lelaki tua
yang sibuk merayu malaikat maut agar tak datang buru-buru
sebab dosa-dosa masa lalu belum sempat tersapu.
selama kelopak matahari terkatup
purnama menebar cahaya
tak seperti petani
tak berharap menuai yang ditabur di bumi.
2017
Tawa Maitreya
beberapa detik setelah dinyalakan, asap dupa meninggalkan dupa
sebagian mengambang di bawah lampu gantung kristal berbentuk padma,
sebagian mencari celali menuju sumber cahaya, menuju langit nila.
memisahkan diri dari keriuhan pengunjung kuil, menjauh dari gelak tawa
para tamu yang berfoto bersama rupang-rupang dewa genta raksasa, barisan lotus
yang sebagian telah tiba masa mekarnya, seorang perempuan berdiri sambil bersandar
di pilar altar, ia pandangi dupa-dupa mengabu, yang meski gerak asapnya menjalar
di dalam dan di luar ruangan, tak sebatang pun ada yang diajak foto bersama,
tak seorang pun peduli makhluk halus itu berpencar ke mana, di hadapan mereka
perempuan menangkupkan tangan, menundukkan kepala, menyembunyikan air mata.
dari atas altar, menyaksikan yang tertawa herbinar dan yang menangis samar,
yang riuh berkelompok dan yang sendiri mematung setegak batang rokok,
garis tawa di bibir maitreya semakin lebar.
2017
Pengasih Kedasih
telah hamba patahkan sepasang sayap kedasih, sebab telur-telur kesedihan
yang bertahun dieram ulu hati hamba, menetas usai teringat takdir sayap
adalah membuat kedasih melayang menuju hutannya sendiri,
memilih ranting tempatnya hinggap sesekali, menembus udara berdebu
yang bisa saja membuat burung itu mati di suatu pagi.
kemelekatan hamba pada burung itu, bahkan pada tiap bulu
yang tumbuh di pori-pori kulit kedasih itu, lebih erat dibandingkan
pada helai-helai uban yang tiap hari, dari kepala hamba, berjatuhan.
maka, hamba lakukan yang dapat membuat hamba dan kedasih tak terpisahkan
terlebih lepas menyaksikan televisi, di penghujung sebuah pagi, hamparkan
pemandangan ini: langit warna melon mengatapi bongkahan awan.
seekor burung besi membara di situ usai melepas ratusan telur
yang jatuh menghantam bumi, menghajar perkampungan, melantakkan hutan,
menumbangkan pepohonan, dari salah satu cabang pohon yang tumbang
helai-helai jerami terbang, seekor kedasih gagal membuat sarang.
beberapa menit sebelum patahkan sayap burung
hamba pandangi pigura-pigura yang berderet di dinding dekat televisi.
benda yang membingkai foto-foto kerabat lama, mereka mati
bersama rumah masa kecil hamba yang hancur tertimpa telur burung besi
saat hamba menggoreskan krayon warna melon
di kertas bergambar ibu bapak
yang tergeletak di meja kelas taman kanak-kanak.
2017
Inggit Putria Marga bermukim di Bandar Lampung. Kumpulan puisinya berjudul Penyeret Babi (2010).
Cerpen Ainun Najib (Rakyat Sumbar, 21-22 Janauri 2018) Gadis yang Menunggu di Tepi Hujan ilustrasi Rakyat SumbarNAMAKU Naya. Nayla nama kecilmu. Ibumulah yang
memanggilmu begitu. Di kampus nama Naya lebih familiar di telingamu.
Setelah kau lulus, kau menikah dengan kekasihmu. Tentu saja kau sangat
mencintainya. Dinda Naya.
Malangnya, bagaimana kau bersedih hari ini?
Barangkali kau tak akan bercerita denganku. Tentu. Bagaimana mungkin?
Tentu kau tak mengenalku. Bertemu pun barangkali tidak. Terlebih
bercakap. Kecuali aku, aku tahu tentangmu. Tuhan telah mempertemukan
kita di sini. Dengan cara ini.
Aku terlalu banyak tahu tentangmu. Maaf. Dari kecil kau suka boneka
india. Betul? Ayahmu selalu memanjakanmu. Mungkin aku tak tahu berapa
banyak koleksi bonekamu saat ini. Ditambah satu boneka yang dibeli
suamimu untuk hadiah ulang tahun pernikahanmu. Tahun lalu. Rupanya ulang
tahun yang kedua. Maka kau terlihat bahagia sekali. Aku terkesan, kau
cantik sekali.
Matamu berbinar. “Terima kasih, Sayang,” ucapmu mengecup keningnya.
Aku baru melihatmu kemaren sore meski sebenarnya sudah lama aku mengenalmu. Benar. Kau manis sekali.
Mengapa kau menangis?
Hari itu kita berdiri berdekatan. Bersebelahan hampir beradu bahu.
Kita tidak saling bicara. Diam. Meski sebenarnya stasiun tak pernah
diam. Bising. Ketika kau melirik ke arahku dan aku berusaha tersenyum
berharap kau juga membalasnya. Setidaknya begitu. Namun tak semudah itu.
Sikapmu dingin. Dan itu tak pernah terjadi. Kau hanya memperlihatkan
matamu yang basah. Matamu yang merah. Matamu yang kaulempar ke arah
kereta api yang datang. Barangkali kau sedang menunggu seseorang.
Tidakkah kau mengulang melirikku sekali lagi? Tidakkah kau ingin
mengenalku? Aku sungguh berharap. Itu saja. Kau mengenalku.
Kau menunggu suamimu? Ya, benar. Aku baru ingat itu.
Kemarin, beberapa bulan yang lewat, suamimu pamit padamu. Tengah
malam. Tentu saat itu burungburung masih mendengkur meni mati mimpi yang
belum usai. Pesan singkat yang diterimanya membuatnya terburu-buru. Kau
tahu isinya?
“Urusan kantor. Mendadak,” katanya membenahi kancing bajunya.
“Apa tidak bisa menungu besok?” tanyamu setengah berseru.
“Penting, sayang. Satu minggu paling lama,” katanya, “baik-baik di
rumah,” pesannya meninggalkan jejak ciuman di pipi dan keningmu.
Kau hanya mendesah. Menatap derap langkahnya yang semakin jauh
mendekati pintu. Lalu kau menutupnya kembali dan meredupkan lampu. Kau
melanjutkan tidurmu. Betapa kau tak peduli bintang-bintang harap-harap
cemas di atas sana. Dan sebentar lagi fajar menyingsing. Bisakah kau
ingat mimpi apakah malam itu?
Hingga jam lima sore, siang begitu cepat menghitam. Bongkahan awan
hitam menggantung di atas langit. Harusnya aku masih bisa melihat
rambutmu yang terurai sebahu. Ah, akhirnya gerimis menyayat udara di
depan kita. Semua menjadi remang-remang. Tapi tenanglah, mataku masih
bisa menangkap bayangmu. Hujan semakin deras. Kita berlari menembus
hujan mencari tempat berteduh. Disana! Ya, di bawah pohon perdu kita
sama-sama menepi.
Lalu kau mulai merogoh isi tasmu. Kau mengeluarkan jaket bulu
berwarna cokelat tua lalu memakainya untuk berlindung dari dinginnya
percikan hujan. Saat itu aku mulai menyadari kau sedang mengandung.
Aku tambah iba melihatmu.
Aku semakin sedih, kau sedang hamil sedang suami tak bersamamu.
Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke rumah. Rumahku tidak jauh dari
stasiun. Kau dapat melihatnya dengan jelas andai saja hujan reda. Di
sana rumahku. Bersebelahan dengan toko butik yang cukup terkenal di
daerah ini. Nah, itu dia! Rumah berpagar besi dengan cat kuning
keemasan. Hujan reda, kau bisa beristirahat di sana. Atau kau mau
bermalam? Sungguh. Sungguh aku akan merasa senang. Akan kusuguhkan teh
hangat untukmu. Kau pasti kedinginan.
“Tidak. Terima kasih,” katamu menolak. Kau melangkah. Kau memutuskan
untuk pulang daripada menerima tawaranku (tak usah cemas, aku tidak
marah kau menolaknya). Karena kau memang belum tahu.
Besoknya kita kembali bertemu. Rupanya lebih awal dari kemaren.
Matahari baru saja mencorong lebih ke barat di atas kepala. Kau masih
menunggu suamimu?
Aku senang sekali kau jauh lebih berbeda hari ini. Kau menatapku
dengan tersenyum seolah kau mengenalku. Meski aku tahu sebenarnya matamu
masih terlihat sedih. Aku harap kali ini kau akan terbuka, kita
berkenalan begitu. Akan bercerita denganku betapapun sudah banyak kutahu
tentangmu, Naya. Sekali lagi kutanya, adakah kau tak ingin mengenalku?
Aku menatap parasmu dari samping, tak sepatah kata pun yang mencoba
keluar dari bibirmu. Hanya saja lipstik merah di bibirmu membuatmu
tampak lebih segar. Aku tekesan, kau benar-benar mempesona, Naya. O, ya,
tentang suamimu, sudahkah ia menghubungimu, atau kau menghubunginya?
Mengabarkan kapan ia akan pulang. Ah, kurasa percuma menanyakan padamu.
Kau tetap tak menanggapi satu pun yang kutanyakan.
Terhitung dari kepergian suamimu, sudah delapan bulan kiranya ia tak
kunjung pulang. Aku tahu kecemasan yang kaurasakan sangat menyiksamu,
terlebih kau mengandung janin di rahimmu.
Sore ini tak kelihatan akan turun hujan. Lihat saja langit begitu
cerah sampai nanti akan memerah jingga di ujung langit. Dan begitu mudah
bagimu menyelidiki satu demi satu orang yang turun dari kereta.
Barangkali suami yang kautunggu akan tiba hari ini. Mungkin saja ia
pulang dengan membawakanmu boneka india. Boneka kesukaanmu. Lalu
tersenyumlah sekali lagi. Kau pasti kelihatan lebih cantik daripada
senja yang sebentar lagi akan mengurap dinding langit.
Suara derit kereta terdengar. Tiga kali peluit dibunyikan pertanda
kereta akan segera berhenti. Jelas saja pandanganmu segera tertelan
olehnya. Kau tampak sibuk mengamati mereka yang tiba hari ini. Aku tak
begitu yakin dan menerka-nerka apakah suamimu akan tiba hari ini. Aku
berdiri tepat di sampingmu. Sejenak, aku menatap wajahmu dari samping,
berusaha mengamati sisa-sisa rindu di matamu. Jangan sampai meleleh.
Kita masih sama-sama diam. Hingga beberapa saat mendung kembali terurai
di matamu membentuk sayatsayat di pipimu. Kau kembali menangis, Naya?
Betapa aku harus iba terhadapmu. Dan kau harus tahu tentangku, Naya.
Namaku Laela. Hari itu aku mendapati seonggok boneka di gudang
belakang. Kau tahu? Itu boneka India. Sama persis dengan boneka yang kau
punya. Boneka yang mengenalkanku padamu. Aku tidak bisa menahan
penasaran yang tiba-tiba mengairi di kepala. Tak ada kanak-kanak di
rumah ini. Seorang pun, aku tahu tak ada yang suka boneka di rumah ini.
Suamiku? Kurasa tidak. Bi Nah? Kusangka bukan. Atau aku? Dengan jujur
kuakui tidak.
Aku memutuskan menanyakannya pada siapa pun di rumah ini. Semua
menjawab tidak tahu. Lantas? Kembali aku amati boneka asing tak bertuan.
Kubolak-balik barangkali ada tanda pengenal di sana. Pada saat itulah
mataku dengan jelas mendapati sebuah nama di bagian punggungnya. Dinda
Naya. Dadaku berdebar keras. Tangisku pecah membaca surat yang terselip
gaunnya. Selamat ulang tahun, sayang, aku telah membacanya sebelum kau. Lima tahun aku bersamanya, aku tak pernah tahu hubunganmu dengannya.
Sekarang, setelah sekian lama aku menyembunyikannya, haruskah aku
membencimu? Ah, kurasa percuma menanyakan padamu. Kau tetap tak
menanggapi satu pun yang kutanyakan. Kau lebih suka berdiam diri
meratapi kesesalanmu. Kita tidak saling bicara. Tepatnya, kita hanya
menunggu kereta yang akan membawanya pulang. Suami kita.
Hari sudah gelap, mari kita pulang. Ingin aku berbisik di telinganya, “Sampai jumpa besok, Dinda Naya.”
Suara derit kereta terdengar. Tiga kali peluit dibunyikan pertanda kereta akan segera berhenti. Akankah ia pulang sesore ini?
AINUN NAJIB. Lahir di Gili Raja, 26 Januari 1996. Saat ini aktif bergiat di LPM At-Tsaqafah STIQ Nurul Islam.
Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 04 Februari 2018) Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa PosSEPERTI hewan yang dituntun oleh naluri gelap,
seorang lelaki pergi meninggalkan rumah, bertemu di jalan dengan seorang
gadis dan mengikutinya, dan tak pernah lagi menemukan jalan pulang: ia
disesatkan oleh waktu. Anda tahu waktu adalah pengkhianat paling bengis,
penjahat tak tertundukkan yang menyiksa kita pelan-pelan, menggerogoti
kita sedikit demi sedikit, membuat kita tidur lelap pada suatu malam dan
bangun sepuluh tahun kemudian, dan nanti, pada saat kita sudah
kepayahan, ia akan mengirimkan pukulan terakhir yang membuat kita tidak
sanggup bangkit lagi selamanya.
Saya mendapatkan cerita tentang lelaki yang disesatkan waktu ini dari
Hartanto Ramelan, kawan lama yang saya kagumi kesukaannya berpuasa. Ia
jujur dan melarat dan sejak kecil hidup hanya berdua dengan ibunya,
seorang penjual ikan asap, di rumah kecil dekat tempat pemakaman. Pernah
juga mereka hidup bertiga di rumah itu ketika Hartanto Ramelan menikah,
tetapi hanya setahun. Setelah itu mereka hidup berdua lagi dan sekarang
ibunya hidup sendiri. Tri Rahayu, ketua kelas kami dulu, memberi kabar
tiga bulan lalu bahwa Hartanto Ramelan meninggal dunia. “Senin kemarin,”
katanya.
Saya benci hari Senin.
Belum lama Hartanto Ramelan menelepon saya dan mengatakan, “Aku
sering membaca tulisan-tulisanmu,” dan kemudian menanyakan bagaimana
cara mengirim cerita pendek untuk Jawa Pos. Saya berikan
kepadanya alamat email redaktur koran tersebut dan kepada si redaktur
saya katakan: “Minggu lalu saya memberikan alamat emailmu kepada teman
saya. Apakah ia sudah mengirimkan cerpennya?” Redaktur menjawab belum.
“Ia bisa menulis bagus,” saya meyakinkan si redaktur. “Di blognya ia banyak menulis cerita-cerita aneh.’’
Sampai Hartanto Ramelan meninggal, si redaktur tidak pernah menerima
kiriman cerita pendek darinya. Menurut Tri Rahayu, Hartanto Ramelan
meninggal setelah demam tinggi beberapa hari dan sering meracau.
“Mungkin demam berdarah,” kata Tri Rahayu, “tetapi ibunya mengira ia
kerasukan.” Saya tidak ikut mengantar jenazahnya ke tempat pemakaman.
Pada hari ia meninggal dunia, saya sudah tiga puluh tahun meninggalkan
Semarang.
Cerita tentang lelaki yang disesatkan waktu ini adalah tulisan pertama di blog ramelan2325.com.
Ia bukan cerita terbaik di blog itu, tetapi menurut saya paling aneh.
Karangan terakhirnya, bertanggal 13 Oktober atau sebulan sebelum
Hartanto Ramelan berpindah tempat tinggal dari rumah kecil di dekat
kuburan ke liang tanah di dekat rumah kecilnya, sebetulnya ditulis
dengan mutu yang jauh lebih baik dan masih bercerita soal waktu, tema
yang tampaknya paling ia sukai, namun cerita pertama bagi saya lebih
menarik.
Saya menampilkannya dalam tulisan ini karena saya sendiri ingin
melihat setidaknya ada satu tulisan Hartanto Ramelan yang muncul di
koran. Saya tahu ia suka menulis, selain suka berpuasa, dan kami dulu
sering datang berdua ke acara-acara pembacaan puisi di Semarang, duduk
di pojok ruangan, mengagumi orang-orang gondrong yang berdiri di
panggung, takjub pada gerak tubuh mereka yang seperti gelombang,
terpukau pada kalimat-kalimat mereka yang tidak kami mengerti.
Inilah cerita pertama di blog Hartanto Ramelan, yang ia nyatakan sebagai kisah nyata:
—
Lelaki itu pergi pada Sabtu sore ke tempat ia biasa bertemu
teman-temannya, sebuah rumah kayu di tepi sungai, beberapa puluh meter
dari jembatan besi yang bulan lalu digunakan oleh seorang pelajar hamil
untuk menceburkan diri ke air keruh dan mayatnya ditemukan dua hari
berikutnya di belakang kios tukang cukur, tersangkut akar pohon yang
menjulur dari tebing bersama sampah-sampah. Di rumah tepi sungai itu
semua temannya sudah menunggu, tetapi lelaki itu ti ak pernah tiba di
tempat teman-temannya menunggu. Ia juga tidak pernah kembali ke
rumahnya.
Istrinya sedang telungkup di ranjang memegangi ponsel dengan khusyuk
seperti orang beribadah ketika lelaki itu berpamitan. “Aku ke rumah
Mujiono,” katanya. Perempuan itu seperti tidak mendengar apa-apa.
Sebetulnya ia tidak peduli suaminya hendak ke mana.
Pada sepuluh tahun pertama mereka berumah tangga, perempuan itu
selalu cemas setiap kali suaminya pergi keluar rumah pada waktu-waktu
senggang, entah ke rumah teman atau ke kedai kopi atau ke tempat mana
pun yang ia sebutkan, sebab lelaki itu mudah jatuh cinta. Tepatnya,
Ratih meyakini bahwa suaminya adalah lelaki mata keranjang yang akan
lekas jatuh cinta kepada sembarang perempuan yang mau meladeninya
bercakap-cakap. Ia kokoh dengan keyakinannya dan itu membuat suaminya
suatu hari meledak: “Kenapa kau tak pernah mempercayaiku?” Perempuan
itu, tanpa rasa gentar sedikit pun oleh bentakan suaminya, menanggapi
ledakan dengan enteng: “Kurasa kau pun tidak akan sanggup mempercayai
dirimu sendiri.”
Empat kali mereka hampir bercerai dan pada pertengkaran terakhir
perempuan itu mengadu kepada ayahnya, “Bajingan itu berkali-kali
mengkhianatiku, berkali-kali minta maaf, dan berkali-kali pula
mengulangi perbuatannya. Aku tidak sanggup lagi memaafkan.” Ayahnya
menggumam:
“Lupakan dia, jika kau tak sanggup memaafkannya.”
Sekarang, setelah dua puluh tahun lebih berumah tangga, Ratih tetap
tidak sanggup memaafkan suaminya dan tidak bisa juga melupakannya. Yang
bisa ia lakukan hanya tidak memedulikan segala tingkah polah suaminya.
Kalau pun lelaki itu berniat jatuh cinta setiap hari, kepada perempuan
lajang atau bersuami, ia mau tutup mata saja dan tidak ingin
memikirkannya. Dan ia sudah membuat ke putusan tegas: Seburuk-buruknya
urusan di dunia ini adalah bertengkar setiap hari dengan bongkahan batu.
Tidak ada yang bisa dilakukan terhadap sebongkah batu kecuali
menghantamnya dengan martil hingga pecah berkeping-keping, tetapi ia
tidak melakukannya. Mereka sudah sama-sama tua dan memiliki anak-anak;
menghancurkan bongkahan batu tua itu sama artinya dengan menghancurkan
rumah tangga mereka sendiri.
Perempuan itu memilih jalan tenteram: dalam dua tahun terakhir ia
rajin melakukan tindakan-tindakan penambah pahala, ialah mencari kutipan
dari kitab suci dan menyiarkannya lagi melalui segala saluran yang ada
di ponselnya. Ia pikir lebih baik mempersiapkan diri untuk masa depan
yang mulia di akhirat nanti ketimbang mengurusi batu tua yang sudah
jelas akan menggelinding ke neraka.
Suaminya juga merasa lebih tenteram setelah istrinya tidak lagi cemas
dan berpikir bahwa perempuan itu sudah bisa memahaminya. Hanya satu
kali ia mencoba mengingatkan istrinya agar jangan terlalu sering
berdakwah.
“Mungkin teman-temanmu bisa merasa terganggu jika tiap hari kau berkhotbah,” katanya.
“Tak ada yang akan terganggu,” sahut istrinya. “Teman-temanku bukan iblis.”
“Ya, tapi mereka juga bukan idiot.”
“Kauurus jalanmu sendiri, aku dengan jalanku sendiri.”
Lelaki itu merasa istrinya cantik sekali saat menyampaikan kalimat
tersebut dan ia tidak memiliki keberatan sama sekali untuk menyepakati
usulannya agar mereka mengurus jalan masing-masing. Tidak ada sulitnya
membiarkan perempuan itu beribadah dengan ponselnya.
Begitulah cara badai reda. Langit biru di luar sana. Sesungguhnya
tidak, tetapi lelaki itu merasa di luar sana langit berwarna biru jernih
dan angin bertiup sejuk dan pikirannya terang benderang. Ia merasa
mendapatkan izin dari istrinya.
Pada Sabtu sore saat lelaki itu menghidupkan motor setelah mengatakan
kepada istrinya hendak pergi ke rumah Mujiono, salah seorang temannya
mengirimkan pesan singkat: “Tolong mampir ke warung, rokokku tertinggal
di rumah.” Itu pesan singkat yang menyebabkan ia berbelok arah
selamanya.
Lelaki itu memang mampir ke warung di dekat rumah biliar untuk
membeli rokok yang dipesan temannya, tetapi dari warung itu ia
melanjutkan perjalanannya ke arah lain. Ada seorang perempuan melintas
di trotoar depan warung, wajahnya cemerlang dan perawakannya seramping
Ratih bertahun-tahun lalu sebelum istrinya itu melahirkan anak-anak dan
menjadikan diri sebesar beringin. Lelaki itu terpukau melihat wajah yang
cemerlang dan ingin sekali menyentuh tahi lalat di pelupuk mata kiri
perempuan itu. Ia merasa akan sedih sepanjang hidup jika tidak bisa
menyentuh tahi lalat itu.
Perempuan itu menyeberang jalan, melangkah di antara orang-orang yang
melangkah menuju gereja dan kemudian masuk ke gereja bersama-sama
mereka; lelaki itu masuk ke warung dekat gereja, memesan kopi, dan duduk
di kursi dekat jendela yang menghadap gereja. Sebetulnya ia ingin ikut
masuk ke gereja dan duduk di samping perempuan itu, tetapi ia belum
pernah masuk ke gereja dan tidak tahu tata cara peribadatan di dalamnya.
Ia masih bertahan duduk di warung sampai orang-orang keluar dari gereja
pada pukul tujuh malam. Perempuan itu keluar agak belakangan setelah
orang-orang sepi; mungkin ia jemaat yang taat, atau mungkin ia melakukan
sakramen pengakuan dosa setelah misa berakhir.
Dari gereja, perempuan itu berjalan dengan langkah riang menuju salon
di samping toko swalayan, tetapi tidak lama di sana; ia hanya terlihat
bercakapcakap dengan seseorang di salon itu dan sebentar kemudian keluar
lagi dan masuk ke toko swalayan di samping salon. Lelaki itu masuk juga
ke toko swalayan, melihat-lihat makanan dan minuman di rak, sesekali
mengambil sesuatu dari rak-rak itu, melihat harganya dan
mengembalikannya lagi ke tempat semula. Ia berbuat seolah-olah hendak
berbelanja, tetapi matanya tiap saat memperhatikan perempuan itu.
Akhirnya mereka berdiri bersebelahan di depan lemari pendingin, sebab
lelaki itu sengaja mendekatinya saat perempuan itu melihat-lihat minuman
yang ada di lemari pendingin.
Dengan gerak cekatan, tangan kecil perempuan itu mengambil beberapa
botol minuman dari lemari pendingin dan memasukkannya ke kereta be
lanjaan yang sudah hampir penuh dengan kue-kue, kaleng biskuit, apel,
anggur, pisang, dan kertas tissue.
“Belanjaan Anda banyak sekali,” katanya kepada perempuan itu.
“Ya,” kata perempuan itu, “sebab Anda hendak bertamu ke rumah saya.”
Gadis budiman! Ia cantik dan pandai berkelakar. Lelaki itu tersenyum
menanggapi kelakar si gadis. O, semoga semua dosanya diampuni jika ia
tadi masuk ke gereja untuk melakukan sakramen pengakuan dosa. Ia
benar-benar gadis budiman yang tahu bagaimana menjadikan urusan lebih
mudah bagi lelaki yang dengan penuh kesabaran mengikuti gerak-geriknya
sejak mereka berpapasan di depan rumah biliar. Gadis itu tidak membuat
jarak atau menjadikan dirinya sulit didekati.
“Astaga! Saya hampir lupa kalau hari ini ada janji datang ke rumah Anda,” kata lelaki itu.
“Mestinya besok,” kata gadis itu, “tetapi hari ini pun tidak apa-apa.”
“Terima kasih,” kata lelaki itu. “Saya benar-benar pelupa.”
Mereka keluar dari toko swalayan bersama-sama. Ia membawakan
barang-barang belanjaan dan mereka kemudian berboncengan mengikuti arah
yang ditunjukkan oleh perempuan itu, menem puh ruas-ruas jalan dan
banyak tikungan yang tidak ia kenali, dan pada pukul sepuluh mereka
sampai.
“Untung kita bertemu,” kata lelaki itu.
“Jika datang sendiri besok, aku mungkin tidak bisa menemukan rumahmu.”
Seorang anak perempuan membukakan pintu ketika perempuan itu mengetuk pintu depan rumahnya.
“Kau bilang akan membawa dia kemari besok, Mama,” kata si anak.
“Dia ingin malam ini juga,” kata mamanya.
Lelaki itu tidak menyangka si perempuan sudah mempunyai anak. Ia
pikir masih lajang. Lalu ke pada si anak ia mengatakan: “Aku lupa jika
harusnya besok, anak cantik. Kebetulan kami bertemu di supermarket, aku
langsung ke mari saja sekalian mengantar mamamu.”
“Dia memanggilku anak cantik, Mama, sama seperti dia dulu memanggilmu. Kurasa kau benar, dia betul-betul mata keranjang.”
“Ya,” kata mamanya, “tetapi kau tidak boleh bicara seperti itu.”
Situasi tiba-tiba terasa aneh dan lelaki itu menjadi kikuk dan tegang
oleh percakapan yang didengarnya. Ia merasa baru sekali itu bertemu
mereka, tetapi anak kecil itu menyampaikan sesuatu seolah-olah ia dan
mamanya sudah pernah bertemu.
“Lihat, Mama, dia kelihatan seperti orang tolol. Mungkin dia memang tolol.”
“Kau harus belajar sopan, anak cantik,” kata mamanya. “Kita belum
mempersilakannya duduk, belum menyuguhi apa pun, kau sudah bicara
seperti itu.”
Anak perempuan itu, usianya sembilan tahun, mengamati lelaki di hadap
annya dengan tatapan yang membuat si lelaki menunduk. Anak itu juga
memiliki wajah cemerlang dan tahi lalat di pelupuk mata kiri, persis
seperti ibunya, namun mulutnya membuat lelaki itu merasa pedih. Setelah
beberapa saat mengamati, si anak berkata lagi dengan nada
bersungut-sungut menanggapi ucapan ibunya: “Tapi dia memang terlihat
tolol. Katamu dia pengarang. Sepertinya sulit dipercaya bahwa dia
pengarang. Mukanya terlihat tolol.”
Ibunya meminta anak itu membawa masuk barang-barang belanjaan dan
mempersilakan si lelaki duduk di ruang tamu. “Tolong buatkan sirup untuk
tamu kita, anak cantik,” katanya kepada si anak. Kepada tamunya ia
meminta maaf: Anak saya seperti itu, ia selalu berbicara apa adanya.
“Tidak apa-apa,” kata lelaki itu, “Ia masih anak-anak.”
Ruang tamu berdinding putih tanpa hiasan sama sekali dan tidak ada
tanda-tanda bahwa di rumah itu ada orang lain selain perempuan itu dan
anaknya. Dan, seperti bisa membaca apa yang ada di dalam batok kepala
tamunya, perempuan itu mengatakan bahwa mereka hanya berdua di rumah
itu. “Ayahnya seorang bajingan,” katanya. “Ia memacariku dan membuatku
hamil dan kemudian lari dari tanggung jawab. Sekarang anakku menjadi
kasar, kau sudah melihatnya sendiri. Ia benci sekali pada bajingan itu
dan pernah mengatakan, ‘Aku akan meracunnya kalau ketemu dia.’ Aku tak
bisa melarangnya jika ia melakukan itu.”
“Saya sedih mendengarnya,” kata lelaki itu.
“Oya?” kata perempuan itu. “Kau tidak kelihatan bersedih.”
Lelaki itu merasa pikirannya mulai buntu, tetapi ia masih mencoba
melanjutkan percakapan dengan kalimat yang terdengar seperti pernyataan
sikap:
“Saya bukan orang yang terlalu baik, tetapi saya bisa merasakan kesedihan Anda.”
“Orang baik,” kata perempuan itu.
“Aku tahu kau orang yang sangat baik. Jika kita bertemu sepuluh tahun
lalu, aku pasti jatuh cinta kepadamu; dan jika aku hamil karena
hubungan kita, kau pasti tidak akan lari meninggalkanku.”
Sekarang buntu sama sekali. Lelaki itu tidak tahu harus melakukan apa
lagi untuk mengembalikan kegembiraan yang ia rasakan kali pertama saat
melihat perempuan itu berjalan di trotoar dan kemudian memboncengkannya
pulang ke rumah. Sekarang ia bahkan tidak berani mengangkat wajah. Ia
tahu perempuan di depannya memiliki tahi lalat di pelupuk mata kiri dan
beberapa saat lalu ia ingin menyentuh tahi lalat itu, tetapi keinginan
itu sudah tak ada lagi. Yang ia pikirkan saat itu hanya pamit dan keluar
secepatnya dari rumah itu dan lagi-lagi perempuan itu seperti bisa
membaca apa yang ia pikirkan: “Kau tidak bahagia dengan pertemuan malam
ini?”
“Saya senang sekali,” kata lelaki itu.
“Kau tidak kelihatan senang,” kata perempuan itu. “Kau bahkan tidak
bertanya apakah boleh menyentuh tahi lalat di pelupukku. Seharusnya kau
senang, anakku ingin sekali bertemu denganmu. Tadi, sebelum aku keluar,
kusampaikan kepadanya bahwa besok aku akan membawamu kemari. Rupanya
kita bertemu hari ini.”
Anak perempuan itu keluar lagi membawa nampan berisi tatakan dan
segelas minuman sirup. Ia meletakkan nampan di meja tamu, lalu mengambil
tatakan dari nampan dan meletakkannya di meja, lalu meletakkan gelas
sirup di atas tatakan. “Minumlah, Pengarang,” katanya. “Kau perlu minum
sirup agar tampak lebih cerdas.”
“Minumlah dan jangan pedulikan kata-katanya,” kata perempuan itu. “Hanya ucapan anak-anak.”
Lelaki itu meminumnya dan berpikir akan mengosongkan gelas dalam
sekali teguk dan langsung pamit, tetapi tiba-tiba ia merasa mengantuk
sehabis minum.
“Tidurlah, anakku sudah menyiapkan kamar untukmu,” kata perempuan itu.
Ia menuntun lelaki itu ke kamar tidur dan merebahkannya di ranjang.
Besok paginya, saat bangun tidur, lelaki itu mendapati dirinya berada di
tepi sungai dan melihat tubuhnya mengapung di permukaan air keruh di
belakang kios tukang cukur, tersangkut akar pohon yang menjulur dari
tebing bersama sampah-sampah. Di tempat itu, sepuluh tahun lalu, seorang
pelajar hamil ditemukan mati dalam cara yang sama mengenaskan. Gadis
itu memiliki tahi lalat di pelupuk mata kiri dan seorang penulis
memperhatikan tahi lalat di pelupuk mata gadis itu. Pada pertemuan
pertama mereka, setelah diskusi buku dengan pembicara seorang penyair
dari Madiun, si gadis mengatakan, “Saya selalu membaca tulisan-tulisan
Anda,” dan si penulis menanyakan: Boleh aku menyentuh tahi lalat di
pelupukmu, anak cantik?
Gadis itu tidak menjawab pertanyaan dan lelaki itu tahu apa artinya.
Dengan ujung telunjuknya ia menyentuh tahi lalat, dan lain-lain, dan
beberapa bulan kemudian gadis itu bersama janin di rahimnya meloncat
dari jembatan besi.
—
Cerita berakhir di situ, namun masih ada yang saya ingin tahu lebih
jelas mengenai lelaki di dalam cerita itu. Saya menelepon Tri Rahayu
untuk menanyakan apakah ia kenal lelaki pengarang yang diceritakan oleh
Hartanto Ramelan. Saya curiga itu cerita tentang saya. Tidak ada orang
lain di antara kami satu kelas yang suka menulis kecuali saya dan
Hartanto Ramelan.
Berkali-kali saya meneleponnya dan Tri Rahayu tidak pernah mengangkat
panggilan telepon saya. Ketika akhirnya mau mengangkat, ia mengatakan:
“Bukan kamu!”
“Pasti itu aku,” kata saya.
Tiba-tiba saya membenci Hartanto Ramelan. Ia teman lama yang saya
kagumi kejujuran dan kesukaannya berpuasa, tetapi ia tega menulis
seperti itu tentang saya. Jika saya ada di Semarang, pasti sekarang juga
saya bongkar kuburannya dan saya obrak-abrik tulang belulangnya.
Sekiranya tidak mungkin membongkar kuburannya, setidaknya saya akan
berak atau kencing di sana.
“Kau mau menunjukkan kuburannya jika aku pulang ke Semarang, Tri?” tanya saya.
“Hartanto Ramelan masih hidup,” kata Tri Rahayu.
“Kau sendiri yang waktu itu memberi tahu aku ia meninggal.”
Tri Rahayu mengatakan tidak pernah menelepon saya. Saya menyebutkan
secara rinci bahwa ia menelepon saya Rabu malam dan mengabarkan Hartanto
Ramelan meninggal hari Senin kemarin dan ia tetap mengatakan tidak
pernah menelepon.
“Tapi itu cerita tentang aku, kan?” tanya saya.
“Aku tidak tahu,” katanya.
“Kau bisa menjawab jujur, Tri?”
“Ya.”
“Lelaki itu aku.”
“Ya.”
“Jadi, aku sekarang sudah mati—.”
Ia menjawab pelan:
“Ya.”
Dengan perasaan pedih saya mengakhiri pembicaraan dan pergi pada
tengah malam ke jembatan besi, meloncat ke air keruh di bawah sana
seperti yang pernah dilakukan oleh gadis itu sepuluh tahun lalu, tetapi
saya sudah tidak bisa mati lagi. Saya masih hidup hingga sekarang, duduk
di bawah pohon di tebing sungai belakang kios tukang cukur, menunggu
gadis itu muncul lagi di sana. Saya akan meminta maaf kepadanya dan
memohon agar diizinkan menyentuh tahi lalat di pelupuk matanya. ***
A.S. Laksana, pengarang kelahiran Semarang. Sekarang tinggal di Jakarta.
Puisi-puisi Irwan Segara dan F Aziz Manna (Kompas, 03 Februari 2018) Kebersamaan ilustrasi Januri/Kompas
Perjalanan Menuju Mars
Pada langit matamu
Kulihat sebuah kota dibangun
Di planet merah yang murung
Aku melayang
Kutinggalkan rahim yang melahirkanku
Kutinggalkan putih awan
Kutembus gelap dan hampa
Kupijak kerlip bintang
Bumi biru menjauh
Gugusan pulau-pulau
Gedung-gedung pencakar langit
Mobil-mobil tercepat
Dan ponsel-ponsel terbaru
Bagian dari tubuhmu
Dunia kecil
Yang merenggut dan mengirim sinyal
Pada pikiranmu
Menjauh
Dunia maya yang dibangun
Dalam dunia nyata menjauh
Suara-suara bising penduduk Bumi
Mengucap salam terakhir
Bayang wajah seorang ibu
Bayang wajah seorang bocah
Silih berganti dalam kitab kenangan
Yang terbuka dan tertiup angin nasib
Berpisah adalah melepas dan
Mencintai dari kejauhan
Detik-detik bergeser
Pada jam yang mengikat nadimu
Segala peristiwa
Jadi tugu yang dipahat
Dalam goa ingatan
Duka ini milik siapa
Keheningan ini milik siapa
Kedalamannya mengubur degup jantungku
Dingin dan kelam
Merapat pada kuil jiwa
Tubuh yang mengembara
Mencari surga lain, menghindari neraka
Peperangan, penyakit, dan bencana
Menyeret jantung kita dalam kemusnahan
Namun kita hanya bergerak
Dari sunyi ke sunyi yang lain
Dari lembar khayali semata
Di keluasan ini
Kulihat masa kanakku
Bermain layang
Dalam terik
Bermain lumpur dalam hujan
Aku terbangun
Dari mimpi waktu
Di sini segalanya
Mengambang dalam hampa
Tak ada gema seperti di gunung-gunung
Tak ada jerit klakson
Dari sebuah kendaraan
Tak ada angin berembus
Tak ada cuaca
Tak ada udara
Aku rindu gemericik hujan
Yang membenturkan dirinya
Pada atap rumah ingatanku
Aku rindu pada tangis anakku
Pada senyum dan tawa istriku
Waktu perlahan menjauh
Setiap detak dari detiknya
Menekan jantung kesunyian
Betapa tipisnya selaput
Hidup dan mati
Ajal di segala penjuru
Mengintai
Hidup terkurung
Dalam pesawat angkasa
Kerlip bintang itu
Seperti mata perempuan jelita
Yang menggoda lelaki datang
Ke peluknya
Namun dalam setiap keindahan
Tersembunyi kematian
Di keluasan angkasa ini Tak ada yang lebih indah
Dari keheningan yang syahdu
Betapa aku sebutir pasir
Melayang
Dalam nafas Tuhan
Mu bergurau dengan-Nya
Tuhan yang bergurau dengan nasibku
Aku tersesat dalam pertanyaan-pertanyaan hening
Tuhan dalam bangunan
Apakah sama dengan Tuhan dalam dada?
Aku belum juga sampai
Namun pikiranku telah tiba
Barangkali planet merah itu
Adalah tanah yang dijanjikan
Dalam kitab rahasia-Nya.
Kota yang Kehilangan Salak Anjing clan Suara Jangkrik di Jantung Malam
1.
Di lengan jalan, kusaksikan
Masa depan kota ini
Didirikan dari mal-mal dan hotel-hotel
Serta kendaraan-kendaraan yang padat
Seperti kata-kata memenuhi buku-buku
Yang menyesaki rak-rak pikiranmu
Mobil-mobil merangkak di jalan
Waktu mengalir, tak ada yang mampu
Membendung lajunya
Langit mendekatkan matahari pada kita
Panasnya bergolak di punggung aspal
Membakar peluhmu.
2.
Kota ini seperti sebuah akuarium
Yang diisi ikan-ikan raksasa
Kota ini terlampau kecil
Bagi sebuah mal atau hotel
Atau bagi gerutu kita pada jam-jam kerja
Sementara sepeda-sepeda ontel meninggalkan kita
Mereka bergerak menuju masa lalu
Meninggalkan jalanan sesak
Meninggalkan matahari
Terbenam
Di balik punggung hotel.
3.
Di jantung malam
Tak kudengar lagi salak anjing
Atau suara jangkrik
Menembus nadi keheningan
Tanah ini perlalian kehilangan sunyi hutannya
Yang wingit
Aku ingin pulang ke candi-candi
Yang dibangun para pendahulu
Atau ke ritual-ritual di pegunungan
Demi menemu waktu
Seirama hati dan pikiran.
4.
Aku ingin pulang ke suatu zaman
Sebelum penjuru kota dikerubungi peminta-minta
Karena setiap orang tercukupi
Dengan penghidupan sehari-hari
Sebelum detik-detik dari sebuah jam
Mengalirkan keramaian yang lain
Sebelum waktu mencipta lebih banyak
Kemacetan dan mendirikan gedung-gedung
Yang lampu-lampunya
Perlahan menyingkirkan kerlip bintang
Dari jangkauan pandang kita.
Yogyakarta, 2017
Irwan Segara lahir di Malingping, Lebak, Banten, 17 April 1989. Puisinya termuat dalam beberapa antologi bersama, antara lain Baku Nasib (2016) dan Kavaleri Malam Hari (2017).
Di Pantai Itu
sepasang nyamplung terkelupas kulit luarnya, memampangkan tempurung
keras mengayu seperti matamu mak, seperti matamu pak, memandangi
anak-anakku belajar berenang di pantai itu.
sepasang kol buntet terseret gelombang, terdampar, nyungsep, separuh
terkubur, separuh nyembul di padang pasir seperti matamu mak, seperti
matamu pak, memandangi anak-anakku belajar berenang di pantai itu.
berpokok-pokok kayu (serupa lengan serupa torso serupa kaki) terserak
di sekitar bundar batu karang seperti tubuhmu mak, seperti tubuhmu pak,
memantau anak-anakku belajar berenang di pantai itu.
sedangkan aku (di mana aku?) hanya pikiran karam pada namlima mak,
pada namlima pak, seperti hantu mengintai anak-anak belajar berenang di
pantai itu.
(2017)
Jamur
berpegang ke gagang jamur aku berpayung melangkah memasuki
bangunan-bangunan kota yang baur kabur lebur hancur terguyur hujan
(langit adalah tumpukan jubah yang memburai benang-benangnya) november
yang kacau
di pusat genangan timbunan kubur kegentingan ingatan tersisa
kupanggil kubangkitkan ilusi purba di mana batu dan tanah kukuh
bersekutu membentengi serbuan mata timah besi tembaga dari anak panah
dan tubuh peluru
tubuhmu yang hampir bugil beku kuanyam kembali dengan berlembar kain
hitam merah hijau bergambar pohon burung matahari serupa panji-panji
perlawanan atas penaklukan
di titik lain di musim lain (mungkin) jamur-jamur baru menyembul
serupa sigi, peli, korek api, dan kobaran lain yang mengancam dalam
pikiran dan sewaktu mekar ia serupa ayoman di mana oase areola menyoklat
hangat di pusat lingkar putihnya
di titik itulah aku berbaring melingkar serupa ular memamah ekor sendiri
(2017)
Jarak
/1/
aku hanya meminta sebuah kehendak (cinta!) tapi kau berikan tubuh,
jurang jarak antara suara dan tatapan dan aku merayap dan meratap hingga
kuasa berbalas perkabulan.
/2/
sejak itu aku telah jadi kelana (sewandana cum penjelajah?). tidak
kukira, jarak adalah pikiran yang mencarimu, hingga kuabaikan, kubiarkan
semua orang berebutan lahan, penampang, benda tinggalan, tilasmu,
sedang aku hanya padamu terpaku dan ah, ratapan-ratapanku bukanlah bahan
belas kasihan, perolokan orang lapar, gelandangan, buangan atau
tundungan (dunia-menjijikkan sungguh-yang sia-sia) sebab perbekalan
telah dicukupkan dalam perjalanan tanpa pertemuan ini.
/3/
cinta (cintaku!) telah dibelah dan aku tak bisa mengandalkan, tak
butuh (kaki atau jalan) kehidupan untuk mencari untuk menemukan sebab
cinta (cintaku!) telah sama bersetuju dalam jaminan perintahmu.
/4/
tapi masihkah kau bersamaku di antara kecabulan dunia kini? sedang
aku mungkin lacur, nyunyut-hancur dalam umpatan dalam ancaman dalam
kesombongan, di jarak ini telah kutanyai seluruh keturunanmu: mengapa
cinta (cintaku!) tiada ketemu? serempak mereka ngakak, menudingku:
kaspo, lantas ngelus gluteus maximus dan berjingkrak. krak.
(2017)
F Aziz Manna lahir di Sidoarjo. Jawa Timur, 8 Desember 1978. Di antara buku-buku puisinya adalah Playon (2015), yang mendapatkan Kusala Sastra Khatulistiwa ke-16, dan Dunia dari Keping Ingatan (2017).