Daftar Blog Saya

Selasa, 02 Januari 2018

Melodrama Superhero


Cerpen Teguh Affandi (Tribun Jabar, 31 Desember 2017)
Melodrama Superhero ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Melodrama Superhero ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar
MIMPIKU? Sama. Sejak kecil aku bermimpi menjadi superhero dengan kostum paling gagah yang bisa kubayangkan. Tubuh terjiplak ketat dengan simbol kebanggaan di tengah dada. Aku ingin menjadi superhero. Hingga bisa terbang menyelamatkan gadis yang tergantung di beranda apartemen, membantu kasir toko emas saat ditodong perampok, atau sekadar membunyikan lonceng tahun baru atas undangan khusus wali kota.
Impian itu menjadi kenyataan ketika aku sedang terpuruk akibat persoalan asmara. Kekasihku menikah dan tanpa mengirim pesan pernyataan berpisah. Aku merasa seperti sebentuk bayangan yang tanpa pernah dikehendaki kehadiran. Dia kekasihku yang selalu kukirimi pesan pengingat makan, ternyata lebih memilih orang lain. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidup saja. Tidak ada lagi orang yang akan kukirimi pesan pengingat makan siang.
Aku pergi ke Bukit Golgota. Aku ingat, di sana ada pohon yang lekuk tajuknya mirip bentuk kepala Kumbakarna. Di sanalah salah seorang kawanku menggantungkan diri. Aku ingin mengikuti dia. Meski aku tahu, Bukit Golgota itu sekarang tak lagi sama dengan sepuluh atau lima belas tahun lalu. Lantaran seorang pebisnis batu bara berhasil menemukan kandungan timah yang cukup banyak 300 meter di bawah Bukit Golgota. Akibatnya, mobil pengeruk, kemah penambang, bangunan kantor menutup sebagian Bukit Golgota. Walaupun pohon yang mirip kepala Kumbakama itu masih ada, aku tetap harus memutar jauh agar tidak harus melewati pengamanan tambang timah.
Setelah berjalan lebih dari setengah jam, kakiku kesemutan. Aku duduk di atas batu besar, pohon yang mirip kepala Kumbakarna masih jauh di ujung pandangan. Dua hasta di depan saya, jurang yang menjadi penanda penambangan menganga. Tak dalam. Mungkin 10 atau 15 meter. Napasku satu-dua, keluar seperti seorang kakek yang diminta mengangkut sekarung beras. Mungkin aku akan mengakhiri hidup di sini saja. Bila kehidupan sudah terlalu perih, lantas mengapa harus membiarkan hidup merasakan kesakitan lebih.
Aku tidak membawa pisau, racun serangga, atau senjata tajam. Tali tambang untuk menggantung tubuhku di pohon yang mirip kepala Kumbakarna saja. Sebaiknya aku tali saja sebongkah batu dan aku pukul-pukulkan ke batok kepala. Kalaupun aku tidak mati, pastilah aku kehabisan darah, payah, akibat luka bentur yang aku ciptakan sendiri. Kemudian mati oleh dingin atau ikut tergerus akibat Bukit Golgota yang hancur oleh tambang.
Dalam masa pencarian itulah mataku menangkap sebuah kerlip yang sedikit berbeda. Warnanya hitam mengilat, seperti adonan dodol yang pekat bila terkena sorot matahari. Ukuran batunya tidak besar. Hanya sebesar genggaman tangan. Posisi ada di bawah bongkahan besar yang kuniatkan sebagai senjata untuk melukai diri sendiri. Batu apa gerangan? Mungkinkah itu bagian dari batu bara yang mencelat dari jurang tambang? Kupungut. Kutimang-timang. Debu-debu kuusap dengan kaus bagian dalam. Kemudian kilatnya semakin cerlang.
Batu apa gerangan? Tekstur permukaannya sehalus batu akik yang sudah diasah sekian ratus kali. Begitu jernih seperti kolam ikan yang baru saja dibersihkan. Mataku mengintip sesuatu bentuk yang tersimpan di dalam batu itu. Seranggakah itu? Atau fosil nyamuk purbakala? Andai ini benar-benar fosil seekor nyamuk zaman purbakala, aku akan bahagia karena menjadi kaya meski cintaku tak menghadirkan bahagia.
Saat mata masih mengamat. Mendadak Bukit Golgota diguncang gempa. Aku bisa merasakan skalanya cukup besar. Batu besar menggelinding dan jatuh ke jurang. Kemudian dahan-dahan berguncang. Tubuhku pun ikut limbung. Batu kusakui dan kuikuti goyangan gempa. Tubuh saya jatuh ke dalam jurang.
***
“SELAMAT datang Jason!” suara itu membangunkanku.
Mataku sayup-sayup. Kesadaran belum optimal 100%. Ketika mata sudah terbuka sempurna, aku menangkap sebuah robot kecil dengan bentuk kepala ceper mirip piring terbang dengan lampu-lampu merah berkelap-kelip. Kakinya berbentuk roda dan dua tangan berbentuk supit. Aku terkesiap. Aku berdiri dan kemudian melangkah dua tiga langkah mundur. Mengambil ancang-ancang. Aku lebih memilih untuk mengakhiri hidup sendiri daripada harus mati di tangan robot yang tak punya hati.
“Jason! Selamat datang di Kapal Rangers,” suaranya tersendat-sendat serupa pita kaset yang tergores ujung pena.
“Kalian makhluk apa?” suaraku terbata.
“Tenang Jason! Aku tidak akan membu nuhmu!”
“Bagaimana aku bisa masuk ruangan ini?” tanyaku.
“Kristal Merah yang telah kamu temukan. Bukan. Kristal Merah yang menemukanmu. Kamu terpilih! Kamu terpilih! Kamu yang kedua setelah Zack!”
Kemudian robot itu berkisah dengan bantuan muka seseorang yang terpahat di dinding kapal. Robot itu bemama Alpha 5 dan muka yang terjiplak dalam kapal adalah Zoron. Mereka berdua sedang mengumpulkan satu demi satu Ranger. Sekawanan superhero yang dipilih Zoron untuk mengembalikan Kristal Aurora miliknya, yang apabila tidak, bumi bisa hancur.
Dadaku seketika terkesiap. Aku menjadi superhero. Aku menjadi pahlawan.
“Benar!” sahut Alpha 5.
“Tapi kita harus menunggu tiga kawan lagi. Aku ranger hitam dan kamu ranger merah,” Zack lelaki yang sejak pertama kali kutemui tak sekali pun mau mengenakan kaus itu.
“Sudah berapa lama kamu di sini?” tanyaku kepada Zack.
“Mungkin dua minggu,” jawabnya.
Dua minggu sampai aku datang bergabung. Kepada Zack, aku takkan menceritakan alasan ke Bukit Golgota, hingga menemukan batu merah yang kemudian terpilih secara acak menjadi ranger merah.
Selama masa penantian, Zoron dan Alpha 5 bergantian melatih kami berdua. Zack dan aku diajar bagaimana berubah menjadi ranger. Kami dibekali kekuatan membangkitkan kekuatan dan memanggil robot sebagai bala bantuan. Robot itu adalah potongan-potongan dari bagian pesawat tempat Zoron dan Alpha 5 berdiam.
Ternyata menjadi superhero sama saja dengan menang undian. Aku sendiri tak pernah membayangkan menjadi superhero akan semudah ini. Tanpa sengaja menemukan batu merah, terjerembap dalam kapal, kemudian dilatih mempergu nakan kekuatan dan aneka robot buatan Zoron dan Alpha 5. Bahkan bila kelak dalam pertempuran kami hampir saja mati, Zoron memberitahukan bahwa ada satu tombol yang berfungsi untuk memanggil Zoron, sumber segala kedigdayaan kami. Kemudian Zoron melawan dan memberi jurus paripurna penghabisan musuh. Ah, ternyata begitu gampang menjadi superhero dan pahlawan.
“Zoron baru akan melepaskan kita sebagai pahlawan bila kita sudah genap lima. Power Rangers harus lima,” Zack menegaskan suatu kali seusai latihan.
“Sekarang kita sudah satu bulan di kapal ini,” jawabku.
“Kamu bosan? Menyerah jadi pahlawan?” kalimat Zack penuh sindiran.
“Tidak. Menjadi pahlawan dan superhero adalah impianku. Dan di luar sana, akan banyak orang yang menanti pertolongan Power Ranger.”
Zack berdiri, tangan kirinya menyambar sebotol minuman khusus yang dibuat Alpha 5. Kita tak pernah tahu bahannya apa. Tapi berhubung rasanya nikmat dan membuat badan terasa ringan dan lebih kuat, aku dan Zack tak mengajukan protes.
Meskipun kami disibukkan latihan dan strategi perang, menunggu tiga kristal lain (biru, kuning, dan merah muda) ditemukan adalah pekerjaan yang sangat tidak kusukai. Aku sudah berulang kali bertanya kepada Zack apakah sudah ada tanda akan ada penemu batu lagi. Zack hanya menggeleng.
Apakah di luar sana orang sudah tidak membutuhkan pahlawan? Apakah dunia sudah begitu aman-damai-sentosa sehingga pahlawan dihapus dari kamus besar mereka. Aku takut, impianku menjadi pahlawan justru akan mengurungku di kapal ini dan membuatku mati tua karena menunggu.
“Zack? Apakah superhero dan pahlawan harus menunggu sebegini lama?”
“Seharusnya tidak! Zoron dan Alpha 5 saja yang sepertinya salah perhitungan dan mendarat di Bukit Golgota,” kalimat Zack membuat badanku tegak.
Bukit Golgota pasti sekarang telah hancur oleh penambangan? Batu-batu kecil pastilah sudah lumat atau terendam lebih dalam. Bagaimana tiga batu berwarna lainnya akan ditemukan kalau Bukit Golgota saja sudah raib oleh penambangan. Lantas bagaimana nasib Power Rangers yang aku dan Zack impikan.
“Nasib kita akan semakin tua di sini,” kataku.
“Aku akan protes kepada Zoron dan Alpha 5,” Zack seketika berdiri dan menuju ruang utama di mana Zoron dan Alpha 5 berada.
Protes Zack ternyata hanya ditanggapi untuk menunggu. Aku mengumpat sekali. Zack menyumpahi kemudian menendang meja dan membanting tubuh Alpha 5.
Aku dan Zack menyingkir dari ruang utama. Pertengkaran bukan tabiat seorang superhero. Kami berdua duduk di dapur, tempat kami makan. Zack memilih anggur putih meski siang belum menandakan turun.
“Bajingan mereka berdua!”
“Aku juga bisa merasakan, usaha menjadi superhero ini sia-sia saja. Tidak ada yang butuh superhero.”
“Apalagi kalau semua orang sudah menjadi bandit, tak butuh pengusir bandit,” Zack menenggak segelas anggur sekaligus.
Aku biarkan Zack menghabiskan satu botol anggur putih. Hanya dua gelas yang berhasil aku teguk, itu pun sekadar menemani Zack yang benar-benar kalut. Pikiranku sudah kalut sejak lama. Aku lebih ingin mengingat kembali bagaimana hidupku bisa sedemikian tak beruntung. Semua ini lantaran keinginan mati dan melupakan luka akibat patah hati. Benar kata orang, patah hati adalah luka yang dalam dan terbawa sampai mati.
Sekarang nasib akan kuhabiskan di kapal ranger ini dengan impian menjadi Ranger Merah terwujud. Yang itu entah kapan. Dalam hitunganku sekarang sudah masuk bulan kedelapan. Menjadi pahlawan ternyata melelahkan.
“Jason, apa pernah terpikir mengapa aku bisa terjerembap di kapal ini?” Zack mulai terpengaruh alkohol. Kujawab dengan gelengan.
“Pacarku selingkuh di depan mataku sendiri.”
“Kita sama, Zack!”
“Ternyata superhero orang terpapa dalam asmara,” Zack meniriskan botol anggur putih. Tak ada setetes pun yang tersisa.
“Mengapa tidak kita selesaikan saja persoalan itu sekarang?” Zack mulai mengibul.
Mataku kemudian menatap bibir Zack yang begitu merah oleh sapuan anggur. Kemudian ada sesuatu yang hidup dalam diriku ketika menyaksikan tubuh Zack. Mimpi? Sekarang aku bisa menggenapi mimpi. Bukan superhero, memang. Ini perihal asmara.

* Untuk film “Power Ranger” (2017).

TEGUH AFFANDI, lahir di Blora, Jawa Tengah. Menulis cerpen, esai, ulasan buku di berbagai media massa. Memenangi sayembara cerpen menulis Femina, Green Pen Award Perhutani, Pena Emas PPSDMS Nurul Fikri.

Kopiah Marbot Marbun

Cerpen Fahri Asiza (Padang Ekspres, 31 Desember 2017)
Kopiah Marbot Marbun ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Kopiah Marbot Marbun ilustrasi Orta/Padang Ekspres
Kopiah itu sudah butut, warna hitamnya mencoklat, tapi Marbot Marbun selalu memakainya penuh kebanggaan, agak miring. Kalau ada yang bertanya, selalu dijawab, “Biar mirip Bung Karno.” Bila Lebaran tiba, bila peringatan kelahiran nabi besar Muhammad SAW menjelang, bila peringatan Isra’ Mi’raj datang, bukan satu dua orang saja yang menghadiahi kopiah baru, tapi selalu kopiah yang tak sedap dipandang mata itu yang bertengger di kepalanya.
Selaku ketua masjid, Iskandar gelisah setiap kali memikirkan kopiah Marbot Marbun yang dipakai penuh kebanggaan. Bolehlah sekali atau dua kali saja dipakai, selebihnya alangkah baiknya bisa sudah harus dipensiunkan.
“Memangnya kenapa, Pak?” tanya Marbot Marbun yang sudah 15 tahun menjadi marbot masjid Al Falah. Usianya kurang lebih 53 tahun dan senyum tak pernah lepas dari bibir tuanya yang agak menghitam karena nikotin yang kini sudah dienyahkan.
“Tidak apa-apa sebenarnya, tapi alangkah baiknya bila Pak Marbun sesekali memakai kopiah yang baru. Seingat saya, banyak yang memberi kopiah pada Pak Marbun, bukan?”
“Seingat saya, ada tiga puluh kopiah, Pak.”
“Nah, pakailah salah satu.”
“Maaf, Pak… kopiah itu sudah tidak ada lagi.”
“Oh, Pak Marbun menjualnya?”
“Saya memberinya pada orang yang lebih membutuhkan.”
Iskandar mengeluh. Catatan hari tinggal tiga hari lagi peringatan kelahiran Rasullah akan dilakukan. Ajudan Pak Bupati seminggu yang lalu datang ke rumah, memberitahu Pak Bupati akan hadir pada perhelatan itu. Digadangkan pula, kalau ini bupati baru yang menggantikan bupati lama.
“Pak Marbun jelas membutuhkannya bukan?”
“Saya sudah cukup puas dengan kopiah ini, Pak,” senyum Pak Marbun. “Maaf Pak, sebentar lagi ashar, saya harus adzan dulu.”
Iskandar mengeluh, masih banyak yang ingin dicurahkan. Intinya, lepas kopiah itu, ganti yang baru, dan saat Pak Bupati datang semua warga sudah siap dengan atribut yang manis dan layak dipandang mata. Iskandar tidak menyerah, dia tetap mencoba membujuk Marbun menurunkan tahta dari kepalanya.
“Memang salah bila Pak Bupati datang saya memakai kopiah ini, Pak?” tanya Marbot Marbun sambil menikmati nasi bungkus yang dibelinya di warung sudut jalan di bawah pohon besar.
Iskandar tersengat beberapa jenak, harus lebih bisa mencari kata terbaik agar dapat dimengerti Pak Marbun. Terlebih agar Pak Marbun tidak tersinggung.
“Tak masalah memang. Namun ada baiknya bila kita semua berpakaian lebih rapih.”
“Berarti menurut Pak Is selama saya pergi dan berada di masjid saya tidak rapih?”
Iskandar lagi tersengat, buru-buru umbar senyum dan nada lebih cepat, “Oh, rapi, rapi sekali.”
“Berarti tak ada masalah, bukan?”
Iskandar tak berkutik lagi, juga tergigit kesal. Catatan telepon hari ini, yang kali kelima ajudan Bupati mengingatkan, “Semua harus tertib. Jangan ada keributan. Terlebih lagi lahan atau jalan kotor. Ini sekaligus buat penilaian. Bila dikaji baik, Pak Bupati akan membuat jalan tembus hingga tak perlu berputar. Ingat, ini bupati baru Pak, barangkali punya tabiat berbeda dengan bupati lama. Cuma jaga-jaga.”
Iskandar pulang. Tria, istrinya yang telah memberinya dua anak, tahu apa yang dipikirkannya. Bila datang dengan wajah menekuk layu, berarti masalah menggayut di hati suaminya. Setelah dituangkan teh manis, hati-hati perempuan berhati lembut itu berujar, “Masih soal Pak Marbun?”
Iskandar menoleh setipis ari, lalu mengambil gelas tersaji, terasa hangat, disodorkan ke mulutnya, perutnya mulai dibuai kehangatan, namun gelisah masih menjalar. Sekilas dianggukkan kepala. “Susah bagiku menjelaskan pada Pak Marbun.”
“Pasti abang berputar, bukan?”
“Tak mau aku melukai hati dia, Dik. Bagi abang, dia pengganti almarhum bapak.”
“Bila memang abang masih menginginkan soal itu, tak mau Pak Bupati memandangn sebelah mata, lakukan lagi penjelasan yang terbaik.”
“Letih aku melakukannya. Dia tetap tak mau mengerti. Yang bikin abang gerah, bila melihat kopiahnya masih miring bertengger di pucuk kepalanya.”
Tria tersenyum. “Makanlah dulu, sejak lepas Zuhur tadi abang belum makan.”
***
Sehari sebelum kedatangan bupati baru, Iskandar mengadakan pertemuan. Kebetulan Marbot Marbun lagi diutus untuk mencek pinjaman permadani di masjid desa seberang. Membuncah gembira hati Iskandar, karena ternyata bukan hanya dirinya yang gelisah tentang kopiah Marbot Marbun, sebagian besar yang hadir pun berkehendak yang sama.
“Ingat tidak waktu pejabat dari Jakarta bertandang ke desa kita?” kata salah seorang. “Malu kita ketika pejabat itu bertanya pada Pak Marbun soal usangnya kopiah yang dipakai. Saya khawatir, sang pejabat menduga kita tak mumpuni menghidupi Pak Marbun sebagai marbot masjid.”
“Jadi solusi apa yang kita terapkan?”
Hening menggelintir. Dinding masjid bertafakur memandang hampa dalam jilatan gelisah. Tiba-tiba ada yang bersuara, “Bila Pak Bupati tiba di sini, beri tugas pada Pak Marbun untuk menghadiri peringatan yang sama di masjid lain.”
Usul itu menyentak dan membuat terperanyak. Usulan lain bertubi-tubi bermunculan, tapi dari kebanyakan usulan, usulan pertama yang disetujui.
“Bagaimana cara mengutusnya?” Iskandar merasa pelita menyala lagi.
“Pak Is yang mengutusnya selaku ketua masjid.”
“Adakah dia curiga?”
“Tak mungkin terjadi, karena kita tahu, perkara akhirat Pak Marbun tak pernah menolak. Gaji yang kita berikan yang jelas hanya bisa buat makan saja diterima lapang dada.”
Pertemuan ditutup setelah ada yang memberitahu Pak Marbun sudah tiba.
Persiapan perhelatan pun dilaksanakan. Dari mulai speaker yang biasanya hanya dua buah, ditambah jadi empat. Tikar yang anyamannya sudah berpecah berai yang biasanya dipasangkan di sudut ruangan masjid sudah terganti dengan yang baru. Permadani pinjaman dari masjid desa seberang digelar di lima shaft terdepan. Khusus buat Pak Bupati dihamparkan pula sajadah milik Haji Gofar yang setelah pulang haji sajadah itu terpisan di almari.
Marbot Marbun selalu bersemangat, pun ketika akhirnya Iskandar berhasil meyakinkan dirinya—tepatnya tak perlu diyakinkan karena Pak Marbun selalu menerima—guna menghadiri acara yang sama di masjid desa lain.
Lega tak terkira Iskandar sekarang. Besok pagi rombongan Pak Bupati akan datang. Semua warga disarankan memakai pakaian terbaik mereka, bila tak punya sangat disarankan pula agar tidak datang ke masjid. Ini demi nama baik desa ini, begitu Iskandar mewanti-wanti dalam surat edarannya. Tak ada yang membantah, bahkan berlomba mengeluarkan uang dengan menjual hasil panen untuk mendapatkan baju, sarung atau kopiah baru.
Salah seorang ajudan Pak Bupati sejak pukul tujuh pagi telah tiba. Beralat handy talky dia selalu memantau perjalanan Pak Bupati. Semua berjajar menunggu di muka masjid, saling berhadapan dengan senyum tak lepas dari bibir. Matahari yang bersorot garang tak membuat warga ingin mundur dari sana. Tata cara bersalaman pun telah diajarkan semalam. Semua dikehendaki untuk mencium tangan Pak Bupati.
Lepas satu jam, kegelisahan mulai tampak. Rombongan Pak Bupati belum pula tertangkap mata. Dari handy talky yang dipegang, sang ajudan memberitahu, kalau rombongan Pak Bupati terhalang jembatan yang agak rapuh bila dilewati kendaraan roda empat. Pak Bupati memutuskan untuk melanjutkan kaki saja menuju masjid Al Falah.
Iskandar tercekat, semua tergugu. Mengapa tak teringat soal jembatan itu? Dan hampir semua menyalahkan Marbot Marbun, bila tak ada urusan dengannya, tentunya masih teringat soal jembatan. Mereka kembali harus menahan sabar menunggu rombongan meski terbunga rasa malu.
Rombongan Pak Bupati pun tiba. Iskandar mengisyaratkan yang lain kembali tegap berdiri. Pak Bupati baru begitu bersahaja, begitu muda dan simpatik diiring seorang lelaki tua yang selalu tersenyum. Senyum yang menghiasi bibir Iskandar dan warga putus serentak ketika menyadari lelaki itu Marbot Marbun! Anehnya, dia tidak berkopiah! Syukur, nila itu tak menghancurkan susu sebelanga.
Pak Bupati kian mendekat, mengucapkan salam yang serentak disahuti dan serentak pula menggigil melihat kopiah yang bermanja di kepala Pak Bupati. Kopiah usang yang sudah mencoklat yang posisinya miring pula.
“Ini kopiah milik Pak Marbun… kopiah saya jatuh ke sungai kala melewati jembatan,” senyum Pak Bupati. “Kopiah yang menarik, diletakkan pula dalam posisi miring. Pak Is tahu mirip siapa?”
Iskandar menelan ludah, sarat beban dia hendak berucap, tapi satu suara membentur keras, “Bung Karno!”
Dan semua memandang Pak Marbun yang sedang tersenyum…

Mutiara Duta, 2017
Fahri Asiza, tulisannya dimuat di berbagai media massa, baik nasional maupun lokal.

Ra dan Tiwi

Dongeng Vendo Olvalanda S (Padang Ekspres, 31 Desember 2017)
Ra dan Tiwi ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Ra dan Tiwi ilustrasi Orta/Padang Ekspres
Suatu hari di zaman kerajaan, hiduplah dua orang saudari kembar yatim piatu yang hanya dirawat oleh rakyat. Mereka berdua dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Besar bersama, bermain bersama. Setelah beranjak remaja, diketahuilah di antara mereka mempunyai sifat berbeda. Ra adalah sosok pendengki, berbeda dengan Tiwi yang baik hati. Hingga akhirnya mereka pun dewasa. Mereka memutuskan untuk melanjutkan hidup sendiri-sendiri, dan akan bertemu kembali setelah sukses nanti. Singkat cerita, mereka berpisah.
BERTAHUN-tahun kemudian, terdengarlah kabar bahwa Ra telah hidup sukses menjadi seorang saudagar yang kaya raya, dan Tiwi senang mendapatkan berita itu. Di satu sisi Ra juga tahu Tiwi belum mendapat kerja, namun Ra malah merasa bangga karena ia berprasangka telah mengalahkan saudarinya. Semakin hari, Ra semakin sukses dan kaya. Berbeda dengan Tiwi yang tidak ada kemajuan. Namun Tiwi tetap bersabar dan berusaha, melanjutkan keahliannya sebagai seorang pelukis, melukis apa saja lalu menjualnya.
Suatu hari. Tak disangka, di saat Tiwi menjajakan lukisannya, ternyata Ratu sedang berkeliling desa untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Langkah sang Ratu terhenti pada deretan lukisan yang dibawa Tiwi. Tanpa pernah ia duga, Ratu menyukai semua buah karya Tiwi. Ratu pun membeli semua karyanya, bahkan Tiwi diminta menjadi seorang pelukis kerajaan. Beberapa hari kemudian, nama Tiwi pun naik daun. Berita itu pun sampai ke Ra. Bukan malah senang akan keberhasilan saudarinya, mendengar kabar itu Ra malah merasa iri dan tidak senang. Ia takut Tiwi malah lebih sukses dari pada dirinya.
Hingga Ra pun merencanakan sesuatu yang buruk kepada Tiwi. Suatu ketika, Ra yang sangat dihargai di kalangan kerajaan mengadakan pesta pribadi dan mengundang Ratu untuk datang bersama pelukisnya yang tidak lain adalah saudarinya, Tiwi. Tiwi merasa bahagia mendengar undangan saudarinya itu. Datanglah sang Ratu dan Tiwi ke pesta Ra. Di tengah pesta, Ra melancarkan siasat jahatnya untuk menjatuhkan Tiwi dari nama baiknya.
Di saat Ratu sedang berada cukup jauh dari Tiwi, Ra berbisik kepada sang Ratu dan berkata,
“Yang Mulia, tahukah Anda barusan sang pelukis kesayangan Anda berkata bahwa Yang Mulia ternyata memiliki nafas yang busuk,” ucap Ra.
Ratu pun kaget. Ia sangat marah dan ingin menghukum Tiwi. Terjadilah peristiwa penangkapan yang menghebohkan pesta.
Tiwi yang tak bersalah dengan segala kebaikan hatinya hanya pasrah dan sedih ketika ditangkap.
Namun tiba-tiba Raja menarik Ratu ke sudut ruangan dan berkata, “Istriku, memang benar mulutmu sekarang dalam keadaan berbau tidak sedap, tak ingatkah engkau kalau sebelum ke sini engkau memakan dua mangkok sup bawang putih,” ujarnya.
Terkejutlah sang Ratu mendengar ucapan Rajanya. Ia pun coba membaui mulutnya sendiri. Dihembuskannya nafasnya kuat-kuat lalu diciumnya dan benar, aroma mulutnya sangat bau. Dengan rasa malu, Ratu pun membebaskan Tiwi dan meminta maaf.
Akibat kejadian tersebut Tiwi malah diangkat menjadi penasihat Ratu. Ratu menganggap kata-kata yang disampaikan Tiwi kepada Ra merupakan kejujuran yang besar dan sangat sopan karena tidak berani meyampaikan sendiri kepada Ratu, takut menyinggung perasaannya.
Ra sangat kesal karena rencananya malah menjadikan Tiwi semakin disayang. Belum menyerah, Ra semakin marah dan kembali merencanakan siasat buruk kepada Tiwi. Tiba-tiba Ra ingat bahwa Ratu pernah cerita kepadanya, bahwa pada hari perayaan pernikahannya nanti, Ratu akan meminta dilukiskan sebuah lukisan paling indah oleh Tiwi.
Lalu, karena Ra bersahabat baik dengan Ratu, Ratu meminta ide lukisan nanti berasal dari idenya. Beberapa waktu sebelum hari perayaan belangsung, Ra mengatakan bahwa Ratu akan diberi lukisan sepasang burung sebagai lambang keabadian hubungan Ratu dan Raja. Dan Ratu pun sangat senang dengan ide tersebut.
Di saat itulah Ra melancarkan siasat buruknya. Ra mengirimkan sepucuk surat kepada Tiwi yang berisi Ratu meminta untuk dibuatkan lukisan sepasang monyet yang sedang berpelukan dan di bawahnya dituliskan kata-kata perumpamaan “Ratu dan Raja”. Tiwi yang hanya ingin mematuhi setiap perintah dan permintaan Ratu akhirnya membuat lukisan tersebut.
Sehari sebelum perayaan, lukisan telah sampai kepada Ratu. Dengan perasaan tidak sabar, Ratu membuka lukisan yang telah dikirim Tiwi kepada Ratu. Ratu benar-benar kaget melihat lukisan yang sangat menghina ia dan suaminya itu. Masih dengan rasa tidak percaya, Ratu terpaksa memutuskan hukuman yang akan diterima Tiwi adalah hukuman mati. Namun dengan cara yang sopan, untuk mengenang jasa-jasa Tiwi. Ratu pun mengirimkan seorang pesuruh untuk mengantarkan surat kepada Tiwi dengan beberapa pesan.
Lalu tibalah pesuruh di kediaman Tiwi dan berkata, “Putri, ada surat dari Ratu. Putri harus mengantarkannya ke pengawal digedung hitam dan Ratu berpesan jangan buka surat itu sampai pengawal gedung hitam membacanya,” sebut pesuruh.
Ra kebingungan karena tak mendengar berita Tiwi akan dihukum. Lalu bersiasatlah Ra mencari informasi, hingga bertemu pesuruh Ratu yang mengirimkan surat kepada Tiwi. Ra tak menyangka, bahwa Tiwi bukan dihukum malah diberi surat untuk diantarkan ke gedung hitam yang merupakan gedung pasukan khusus Ratu. Tempat barang siapa yang bisa bekerja di sana, maka namanya akan terkenal.
Lagi-lagi dengan sifat iri hati, Ra menyusul dan menghentikan Tiwi. Ia pun membohongi Tiwi dengan mengatakan bahwa ia diminta Ratu melanjutkan perjalanannya. Karena Ra adalah saudari yang ia sayangi, maka ia selalu percaya pada perkataan Ra. Tiwi pun berpesan pada Ra agar surat tidak dibuka sampai tempat tujuan. Ra pun mengikuti permintaan Tiwi, dan juga mengatakan pada Tiwi, bahwa ia dipensiunkan dan diberikan tempat tinggal di sebuah pulau terpencil oleh Ratu, yang sebenarnya adalah pulau milik Ra sendiri. Dan pergilah Tiwi, begitu pula dengan Ra.
Sambil tersenyum bahagia, Ra akhirnya sampai di gedung hitam. Penjaga pun lekas membaca surat dari Ratu tersebut. Tiba-tiba Ra ditangkap, lalu ia mempertanyakan kesalahannya.
Ia terkejut saat mendengarkan isi surat itu, “Dinyatakan Ratu, orang yang mengantar surat ini harus dihukum mati,” begitu isi suratnya.
Apapun alasan Ra, tidak ada yang mau mendengarkan. Akhirnya dengan membawa sifat angkuh, sombong, dan iri hati, Ra dihukum mati. Berita kematian Ra dirahasiakan. Di tempat yang tidak diketahui orang letaknya. Sedangkan Tiwi, hidup tentram dan bahagia selamanya. (*)

Kutipan The Single Girls to do List

Semua terjadi karena suatu alasan. (hlm. 139)

Beberapa kalimat favorit:
  1. Semesta selalu memberimu apa yang kau butuhkan asal kau terbuka terhadap energinya. (hlm. 140)
  2. Ada yang pertama untuk segala hal. (hlm. 197)

Senin, 01 Januari 2018

Pantai Tatapan

Cerpen Ongki Arista UA (Rakyat Sumbar, 23 Desember 2017)
Pantai Tatapan ilustrasi Rakyat Sumbar
Pantai Tatapan ilustrasi Rakyat Sumbar
DULU, ketika waktu tak pernah tepat, tak pernah benar, tak pernah memihak, tak pernah berbohong dan tak pernah terkubur, kau tak muncul bersama detik atau jam, atau hari atau bulan. Kenapa kau tak ikut waktu berlayar, padahal aku telah menunggumu di pinggir pantai, tempat para pelayar biasanya berhenti meski sedetik, meramaikan waktu, tanyaku tak terselesaikan.
“Mengapa kau tak datang?”
Tanyaku tak pernah berubah, dari tempat dan waktu ke tempat dan waktu yang lain. Tak ada jawab, hingga tak ada tanya. Tanyaku hanya terjawab dengan tanyaku di waktu dan tempat yang lain hingga tak muncul lagi menjadi sebuah tanya. Lalu aku diam saja, berpikir untuk tidak bertanya tentangnya yang tak kunjung datang menghantuiku di pantai, menjawab tanya meski sedetik.
Pantai itu bernama “Tatapan”.
Di sana banyak makna merasuki pasir-pasir. Kadang pasir-pasir membantuku berdoa kau datang dan bersama menjadi pasir-pasir yang abadi bersama pantai tatapan itu, lalu kita bisa menari sepuasnya bersama angin pantai itu. Aku tahu, kau tak suka menjadi pasir, kau lebih suka menjadi laut yang bergemuruh memainkan gelombang. Aku tahu kau tak mau menjadi pasir yang mudah diombang-ambingkan gelombang pantai, yang gemulai bagai tarian di sisiku. Kau memilih menjadi gelombang lautan yang ganas itu.
Apakah karena pasir-pasir itu kau tak mau datang? Aku tak punya teman selain pasir itu. Hanya pasir-pasir itu yang setia mendoakanmu datang.
Aku tak mungkin datang pada pantai yang tak berpasir. Selain aku tak punya ongkos bepergian, aku juga tak yakin ada pantai yang tak berpasir. Datanglah! Jika kau tak suka pasir, tak suka meski sedetik melihatnya, ayolah! Bayangkan yang lain, lalu datang ke pantai ini.
Aku melihatmu, terus melihatmu. Kau menenteng sebuah tas kresek dan berkali-kali kau berhenti dan meletakkan kresek itu, lalu melanjutkan langkahmu mendekat ke arahku. Semakin dekat kau menuju ke arahku, semakin jelas kulihat kau. Aku kira itu kau, ternyata bukan kau. Mataku saja yang mendahului kau datang hari ini. Datang malam ini. Datang bersama harapku yang telah menua di sepanjang waktu.
Entah bagaimana caranya, aku menunggumu datang, meski waktu tak pernah tepat bagimu untuk datang, meski terlambat dan meski tak mungkin.
“Apa yang kau tunggu?” Ombak menyapa, membasahi jemari kaki, mengulum telapak kaki dengan pasir-pasir yang terbawa ombak yang berlari dari tengah lautan sana.
“Aku menunggu kekasihku.”
“Sejak kapan kau punya kekasih?” tanyanya semakin mendekat, mengulum kakiku, lebih dalam dari sebelumnya.
“Aku tidak tahu sejak kapan.”
Kau tidak tahu kalau cinta lebih penting diingat rindunya daripada kapan jadinya, bisikku.
“Bagaimana cara kau menunggu kekasihmu?”
“Diam bersama pasir di sepanjang pantai lalu mengajaknya berdo’a.”
***
SEJAK itu, aku sadar. Pasir hanyalah dan tetaplah pasir. Menunggu yang tak pasti ialah tetap saja ketidakpastian, tetap saja hal gila, tetap saja menunggu, buang-buang waktu, buang-buang harapan.
Sejak itu aku sadar, aku tak punya kekasih selain dalam khayal yang begitu nyata, dalam mimpi yang nyata melebihi kenyataan. Ia berjanji datang di pantai ini. Jelas sekali tatapannya di pantai yang basah ini. Aku tak mungkin menganggapnya mimpi, karena nyata sekali dan aku tak mungkin menganggapnya nyata, karena itu memang nyata sebuah khayalan yang mengeras membentuk mimpi.
Itu tak nyata, tak lama, tak serius dan tak pasti akan nyata terjadi. Aku tak dapat meyakini sesuatu datang melebihi mimpi jika itu memang benarlah mimpi dan aku juga tak akan mengingkarinya sebagai kenyataan karena telah merenggut miliaran konsentrasi dalam hidupku untuk membuatnya nyata selama bertahun-tahun.
Aku pergi meninggalkan pantai, mengusir pasir-pasir yang terlalu semangat mendoakan mimpi itu. Langkahku mulai tak karuan. Aku tertatih karena lelah menunggu lalu kembali tidur untuk memimpikannya, mengembalikan kenyataan. Kini akan aku ajak dia keluar dari mimpiku. Aku akan paksa dia tidak hanya menjadi mimpi belaka.
Akan aku sambut nanti. Tapi kapan? Tentu aku tak tahu. Aku hanya tukang tidur, yang yakin, mimpi akan menjadi nyata. Aku tidur, lalu memaksanya nyata, datang dalam mimpi dan nanti aku akan membawanya keluar menjadi nyata, lebih nyata lagi. Aku seperti ini karena ingin mempertanggungjawabkannya. Aku laki-laki yang selalu berjanji mengabulkan mimpi-mimpi dalam hidup ini.
“Aku datang, Ayo bangun!” Aku tak segera membuka mata. Tidurku terganggu. Kenapa yang datang bukan perempuan? Gadis? Atau serupa gadis yang aku tunggu? Ke mana gadis itu? Ke mana tadi? Ke mana mimpiku?
“Ah!”
Aku melihat wajah lelaki, bukan dia gadis itu. Aku memutar-mutar tubuh, membuka mata pada benda-benda di sekelilingku. Aku tak menemukan apa-apa. Aku pun tidur kembali. Aku tak mampu menahan kenyataan tanpa dia di mimpiku nyata. Lebih baik aku tak nyata saja. Aku kembali tidur, setidur-tidurnya meski di ujung akan terbangun kembali.
Meski tak nyata, cerita tidur selalu lebih indah daripada kenyataan yang tidak pernah seperti indahnya mimpi. Aku memilih tidur, jika tidak bisa, aku memaksa untuk tidur. Mimpi yang diharap tak kunjung muncul. Aku memaksanya. Aku mencari mimpiku, bagai nomor lagu yang dicari pada kaset dan vcd dengan remote control. Aku memencet tombol-tombol next, berkali-kali.
“Eh kelewatan!”
Itulah tidur dan mimpiku. Ia penanda sebuah keterlewatan, keterlambatan, kehilangan, ketidaktercapaian, kepalsuan dan kenyataan.
Kadang, mimpi itu benar-benar nyata, untuk menjemputnya, aku harus tidur, tapi bagaimana mungkin kenyataan hadir dalam tidur-tidur yang begitu pulas meski berselimut mimpi menjadi presiden sekalipun? (*)

Doa di Masa Darurat

Cerpen Kim Al Ghozali AM (Rakyat Sumbar, 23 Desember 2017)
Doa di Masa Darurat ilustrasi Rakyat Sumbar
Doa di Masa Darurat ilustrasi Rakyat Sumbar
IA memang begitu percaya pada kekuatan doa, meski ia sendiri sama sekali tidak rajin dan berdoa hanya pada waktu tertentu. Terakhir kali ia berdoa ketika berada di atas kapal di tengah-tengah laut, dan kapal yang ditumpanginya itu sedang diombang-ambing ombak dahsyat. Ketakutan menguasai dirinya, rasa khawatir yang hebat menggerakkan bibirnya untuk berdoa, berdoa demi keselamatannya, untuk lepas dari maut yang tak dikehendaki itu.
Ia berdoa dalam keadaan berada di tengah-tengah antara harapan dan keputusasaan. Ia berdoa karena begitu ngeri melihat ombak yang akan menerkam tubuhnya, melihat laut yang ganas yang akan menjadi kuburan bagi kematiannya. Dan beberapa saat setelah berdoa ombak itu tenang kembali, kapal yang ditumpanginya selamat dan ia bisa melanjutkan hidup. Ia percaya selamatnya kapal dari ombak yang mengamuk itu tak lepas dari peran doa dirinya. Ia begitu mempercayai itu, meski tentu saja tidak hanya dia seorang yang berdoa di dalam kapal itu. Ada begitu banyak penumpang dan semuanya beragama. Tentu semua orang yang beragama akan berdoa ketika ada bahaya yang mengancam.
Ia mempercayai kekuatan doa sebagaimana semua orang yang beragama, tapi jelas ia bukan orang yang rajin berdoa. Berdoa hanya dibutuhkan saat-saat genting, bukan dalam masa tenang, katanya.
Dan ia memang telah beberapa kali membuktikan sendiri keajaiban doanya. Sebelum peristiwa di kapal laut itu, ia pernah menjadi mata-mata di masa darurat. Ia menjadi pemuda yang bergabung dengan tokoh-tokoh pro-republik, menyusun gerakan-gerakan bawah tanah untuk kemerdekaan bangsanya. Dan pada sekali waktu ia tertangkap pasukan musuh, dipenjara dan disiksa. Pada waktu yang ditentukan ia akan menjalani hukuman mati, dipenggal kepalanya. Saat-saat seperti itulah ia berdoa terus menerus. Ia begitu takut membayangkan kematiannya, mengingat umurnya yang masih begitu muda ia masih ingin hidup panjang. Meskipun menyadari konsekuensi perjuangan, toh ia tak ingin dirinya segera berlalu berada di dunia. Ia terus berdoa untuk keselamatannya, untuk cita-cita kemerdakaan bangsanya.
Tiga hari sebelum hari akhir itu tiba, tiba-tiba dari luar penjara menggema kemerdekaan untuk bangsanya. Ia terbebas dari kurungan. Ia selamat dari samurai yang lapar, selamat dari kematian yang ditentukan musuhnya. Dan ia meneruskan hidupnya sampai kemudian hari, juga akhirnya memilih jalan lain yang sukar, yang membawanya pada suatu kedaruratan yang lain.
Sekarang ia hanya bisa mengenang semua itu. Mengenang perjuangan dan keadaan sulit di masa-masa lewat, mengenang gema kemerdekaan bangsanya, mengenang kekuatan doanya, bahkan masa kecilnya di kampung jauh. Ia hanya mengenang dan mengenang, segala sesuatu yang sudah sangat jauh, kehidupan di luar ruang pengap itu.
Apabila pagi tiba, sebentar ia berdiri menengok keluar lewat jendela satu-satunya di penjara itu. Kemudian ia tersenyum, entah tersenyum pada apa atau siapa, sebelum akhirnya kembali duduk dan wajahnya begitu murung. Lalu pikirannya bergerilya, memutar adegan demi adegan kehidupan yang dulu pernah dimainkannya.
“Aku percaya doa mampu membebaskanku dari sini,” ucapnya pada diri sendiri. Tak ada orang yang hirau pada ucapan itu, tidak teman sesama penghuni penjara, tidak pula para penjaga penjara yang mendengarkan.
Ini tahun ketiga ia menjadi penghuni penjara yang dibangun di masa kolonial itu. Jika sebelumnya ia dipenjara oleh musuh, kini ia dipenjara oleh saudara sebangsanya. Tahanan politik. Penjara para pemberontak!
Tahun ketiga di mana semuanya akan segera berakhir. Sahabat-sahabatnya telah dijemput para petugas beberapa bulan sebelumnya, dibawa ke suatu tempat dan timah panas telah menjebol dadanya. Kini ia menjadi satu-satunya orang penting yang tersisa dalam penjara itu. Dan ia terus berdoa, dengan redaksi dan keyakinan yang sama selayaknya saat peristiwa di kapal atau ketika ditangkap musuh pada masa-masa darurat.
Hingga pada suatu malam ia didatangi beberapa orang petugas dan dibawa keluar, ke sebuah tempat di mana tanahnya akan menerima darah segarnya yang menetes. Dan ia tetap berdoa. Wajahnya begitu sedih, tapi mulutnya tetap menggamitkan kata-kata yang pernah diajarkan ibunya sewaktu kanak.
Dan seumur hidupnya ia memang percaya pada kekuatan doa, sampai matanya tertutup setelah tiga benda keras menerjang dadanya, menerjang keyakinannya. (*)

Biodata:
KIM AL GHOZALI AM. Cerpen dan puisinya tersebar di berbagai koran di Indonesia, di media online dan banyak antologi. Buku puisinya yang telah terbit: Api Kata (Basabasi, 2017).

Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar


Cerpen, Koran Tempo, Risda Nur Widia

Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar

 
 
 
 
 
 
4 Votes

Cerpen Risda Nur Widia (Koran Tempo, 30-31 Desember 2017)
Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar ilustrasi Yuyun Nurrachman - Koran Tempo.png
Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar ilustrasi Yuyun Nurrachman/Koran Tempo
Mungkin kau pernah melihat film atau mendengar kisah tentang seekor anjing jenis Akita Inu, kelahiran Ôdate: Prefektur Akita. Anjing setia yang menunggu tuannya: Profesor Ueno; yang setiap hari bekerja pergi-pulang dari Stasiun Sibuya dan mendadak meninggal di perjalanan: tak kembali. [1] Anjing itu menunggu dengan harapan dirinya bertemu majikannya. Kenyataannya anjing itu tak pernah bertemu hingga ajal menjemput. Hawa dingin membunuh anjing itu. Mungkin seperti itulah aku hari ini: berdiri di menara setinggi 170 meter pada distrik Gunwharf Quays, Spinnaker Tower, Portsmouth, pada pengujung tahun. Kedatanganku hari ini menunggumu: orang asing yang kukenal lima tahun lalu, dan aku telah banyak menaruh harapan padamu.
Aku tak ingin bernasib seperti anjing tersebut. Namun bila dipikir: Sedikit gila kedatanganku ke kota yang terletak di bagian selatan London. Baru dua kali aku ke sini. Dan hari ini adalah kesempatan kedua. Aku datang hanya berbekal yang semuanya pas-pasan. Bahasa Inggris yang tak lancar, dan nama-nama jalan atau tempat yang sedikit aku tahu dari film serta buku. Hal besar yang membuatku datang ke Gunwharf Quays ialah harapan. Ada janji diantaranya. Selebihnya kenekatan pria sinting yang ingin menemuimu di akhir tahun ini. Aku menatap langit kota Portsmouth yang biru. Gunwharf Quays yang terletak persis di tepi pelabuhan Portsmouth Harbour menjelma seperti puisi berjudul Senja di Pelabuhan Kecil. [2] Seperti hari itu-lima tahun lalu-saat pertama bertemu denganmu.
Mataku tabah menyisir kerumunan orang yang menghabiskan waktu akhir tahun di tepi laut Britania. Semuanya berpasangan. Mereka berdecak dengan pembahasan yang entah. Portsmouth Harbour memang satu-satunya tempat ramai di kota yang hanya memiliki 400-an penduduk. Gunwharf Quays dapat dikatakan jantung kota Porstmouth. Selain sebagai dermaga, tempat ini merupakan pusat perbelanjaan dengan konsep terbuka. Jumlah toko bisa mencapai angka 95-termasuk 25 restoran bila memasuki akhir pekan. Namun di antara keramaian tahun baru, aku tak menemukanmu: sesosok wanita dengan pipi cembung, mata tipis yang nyaris tenggelam bila tertawa, dan senyum manis serupa Strawberry Cheesecake Bite.
“Masih satu setengah jam lagi,” kataku. “Semoga kau masih ingat janji kita lima tahun lalu.”
Aku mengerling ke arah jam yang melilit tangan kiri. Pukul 17.30. Langit di tepi pelabuhan Portsmouth Harbour meremang. Cahaya jingga menindih langit kota yang sebelumnya biru. Lampu-lampu putih-keperakan mulai menyala dengan terangnya; tidak mencolok mata di sela kafe-kafe kecil di Gunwharf Quays. Dari menara setinggi 170 meter, cahaya-cahaya kecil itu mengingatkanku pada kunang-kunang. Hatiku singup ketika mengingat kedatanganku ke kota ini hanya berbekal harapan kosong. Aku meraba tas kecilku; mengambil novel berjudul: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu [3]; buku yang sebenarnya sengaja aku bawa untukmu.
Tak ingin jengah dilahap bosan, aku membaca novel itu. Sepasang mataku mengurai satu persatu kata yang menjelma kalimat. Namun konsentrasiku selalu pecah di kerumunan orang. Rasanya aku tak ingin melewatkan pandang mengiringi kedatanganmu dari keramaian. Kenyataannya: kau belum tampak. Kau menjelma pengertian yang sulit aku urai seperti dalam buku-buku sejarah; yang sering menghabiskan waktuku setiap malam. Sekali lagi aku melengos pada jam tanganku. Gelisah ternyata lebih pandai menyamak waktu. Sudah tiga puluh menit berlalu. Jadi aku masih memiliki satu jam lagi menunggumu di Spinnaker Tower sebelum tahun yang baru tiba.
***
Kedatanganku ini memang tanpa janji baik pesan singkat, e-mail, atau surat. Kehadiranku persis seperti yang kami janjikan lima tahun lalu. Ini dapat dikatakan sebagai upaya mengingat arti seseorang dalam hidup kami. Begitulah. Aku tiba pagi tadi dalam kecemasan kau melupakanku. Aku menarik napas panjang. Udara pesisir Portsmouth Harbour yang asin menggumpal di dadaku. Perjalanan panjang dari Indonesia-London bukanlah waktu singkat. Bahkan sepanjang perjalanan di tubuh pesawat hingga mendarat di Heathrow International Airport, masygul terus menggelayut.
Aku ingat dahulu bertemu denganmu di tepi Sungai Thames. Perjumpaan tidak sengaja. Waktu itu-pada kedatangan pertamaku-wajahku terlihat pasi. Apabila dibandingkan pasti mirip kisah dalam Alkitab yang dituturkan oleh Yesus kepada murid-muridnya, tentang: seekor domba yang terpisah dari 99 domba lainnya di tengah padang. [4] Peta yang detail tidak berhasil menyelamatkanku dari sesat. Dan kau menjelma menjadi seorang penggembala yang menemukanku. Kau melihat kepanikanku dan menawarkan bantuan. Aku terkejut-sekaligus bersyukur-ketika itu. Yang membuatku tenang, kau adalah orang senegara denganku.
“Kau tersesat?” katamu. “Kau orang Indonesia?”
Mendengar suara lembut dan bahasa yang tak asing cepat menyeret perhatianku. Aku mengerling ke arah suara itu. Aku mendapati dirimu tersenyum dengan sepasang mata yang nyaris tenggelam. Selain itu aku menemukan pipi kenyalmu yang cembung, dan senyum manis yang sampai hari ini sulit aku lupakan. Aku-waktu itu-menatapmu antara linglung dan malu. Rasanya aku tak ingin diselamatkan oleh wanita secantik dirimu. Namun kenyataannya aku bisa tenggelam dalam liang sesaat Lucifer [5] di sepertiga malam.
“Kau mau ke mana?”
“Porstmouth.”
“Porstmouth?” katamu mengulangi. “Kota itu berada di ujung selatan London.”
Aku melirik peta. Benar. Letak Portsmouth jauh dari pusat kota. Aku membuang sepasang mata ke arahmu. Kau melihatku santai. Kau malah mengajakku berkenalan. Kau melampirkan sepucuk tanganmu di hadapanku. Aku menyambutnya. Aku rasakan lembut telapak tanganmu. Pada saat itu-ketika sekali lagi menatapmu-aku melihat sosok Clíodhna atau Queen of the Banshees [6].
“Aku Rinda. Dari Aceh. Aku sudah lama tinggal di sini. Kuliah. Kau?”
“Tarno. Dari Jogja. Ini pertama aku ke sini.”
“Sedang liburan?”
Aku menggeleng dan menjelaskan kedatanganku menemui seseorang penting di kota Portsmouth. Aku di sini mutlak karena pekerjaan sebagai seorang wartawan dari Indonesia. Seperti mengenal lama, kau mengajakku berangkat bersama menuju Portsmouth. Ketika itu kau juga memiliki tugas kuliah menulis artikel mengenai kehidupan orang-orang di ujung selatan London.
Kau menyarankanku menaiki minibus menuju Portsmouth: “Dengan minibus kita bisa lebih menikmati isi kota.”
Karena memiliki banyak waktu, aku mengiyakan ajakan itu. Kami memesan minibus. Kami pergi dengan kecepatan sedang menuju wilayah Hampshire. Sepanjang jalan pohon-pohon tumbuh menghijau. Satu jam kami terkurung. Hingga kemudian kau menyuruh sopir berhenti di suatu bukit. Kau menjelaskan kami sedang berada di posisi paling tinggi kota. Kau menyebut apabila melewatinya malam hari: Perpadauan cahaya lampu kota dan laut menjelma surga kecil di bumi.
“Di Portsdown Hill ketika malam, kita seperti melihat pecahan taman Eden,” ucapmu. “Kau harus melewati jalan ini ketika malam.”
“Oh, mungkin apabila di Jogja seperti Bukit Bintang.”
Kau tertarik dengan nama itu. Lalu aku menjelaskan letak Bukit Bintang. Aku berjanji mengantarkanmu ke sana apabila berkunjung ke Jogja. Hanya 30 menit kami menikmati kota Portsmouth dari bukit. Gerimis turun. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan memesan dua kamar hotel di distrik Southsea Common. Beberapa hari kami disibukkan dengan urusan masing-masing. Ketika pekerjaan selesai, kami kembali membuat janji: bertemu. Kami meluangkan waktu berdua. Kami mendatangi tempat-tempat yang sebelumnya hanya aku tahu di internet. Kau menjadi peta baruku. Seperti ketika kami mengunjungi Old Porstmouth: benteng yang dibangun untuk mempertahankan pelabuhan pada perang dunia kedua.
Selain itu kami mengunjungi Historica Dockyard. Kau menjelaskan mengenai dok kapal raksasa yang masih aktif. Di sana aku menemukan kapal-kapal pribadi. Namun paling mencolok adalah kapal perang milik angkatan laut Inggris yang masih aktif digunakan. Tidak hanya kapal perang yang aktif; di Historica Dockyard terdapat kapal perang Inggris bernama HMS Victory. Kapal itu sudah tidak bisa digunakan lagi dan menjadi museum. Kapal besar itu tinggal menyisakan kejayaan dari beratnya yang lebih dari 3.000 ton. Kau menjelaskan: Kapal itu dahulu dikemudikan Laksamana Nelson [7]. HMS Victory terkenal karena digunakan pada perang laut Trafalgar melawan Spanyol dan Prancis di tahun 1805. Kapal itu merupakan benda favorit raja Henry ke-8.
Aku terdiam mendengarkan kisahmu. Aku terpesona dengan kecerdasanmu mengenai benda-benda tua. Lantas ketika senja sudah matang, kau mengajakku ke Spinnaker Tower. “Kau harus melihat bagaimana senja tenggelam di kota ini. Senja di kota ini mirip dengan lirik puisi Senja di Pelabuhan Kecil,” katamu.
Kami naik ke menara serupa layar. Benar. Terdapat senja yang begitu murung. Kau berkata lagi: “Rasanya sedih berpisah denganmu.”
“Aku juga.”
“Kira-kira apakah kita bisa bertemu lagi?”
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi di sini kelak?”
Kau terdiam lantas berkata, “Bagaimana lima tahun lagi kita bertemu di sini. Ketika tahun baru. Kita tak perlu bertukar alamat atau apapun yang dapat menghubungkan. Kita bekerja dengan filing. Kita lihat seberapa penting diri kita mengartikan seseorang selama lima tahun itu.”
Aku mengangguk. Setelah itu aku mencium bibirmu panjang. Hingga tak dapat aku lupakan selama lima tahun terakhir.
***
Rasanya begitu konyol datang ke kota ini. Aku seperti pungguk yang terlalu tinggi merindukan bulan. Apalagi ketika aku mengingat telah mengorbankan banyak hal. Termasuk-seminggu sebelum datang ke kota ini-memutuskan jalinan cinta dengan kekasihku yang berjalan cukup lama. Aku-sedikit sengit-menghempaskan mataku ke arah laut yang keperakan. Malam ini bulan memantulkan tubuh bulat pucatnya di atas permukaan laut. Syahdan aku berpikir: Mungkin kau telah melupakanku?
Aku benar-benar datang ke kota ini dengan harapan kosong. Ketika menyadari kini telah lima tahun lebih satu setengah jam berlalu, dan tahun yang lama sudah berlalu. Aku mengutuki pendeknya akalku. Aku mengemas novel bacaanku. Aku bergegas pergi meninggalkan Spinnaker Tower. Ketika pintu lift terbuka, sebuah suara memanggilku: ‘Tarno.’ Dan aku termenung tak tahu berbuat apa.

Catatan:
[1] Kisah Hachiko
[2] Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, adalah karya Chairil Anwar
[3] Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, adalah karya Phutut Ea
[4] Perumpamaan tentang domba yang hilang adalah sebuah perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Kisah ini tercantum di dalam Matius18:12-14 dan Lukas15:3-7.
[5] Lucifer adalah nama yang seringkali diberikan kepada Iblis dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya. Secara lebih khusus, diyakini bahwa inilah nama Iblis sebelum ia diusir dari surga.
[6] Clíodhna atau Queen of the Banshees, adalah dewi/peri perang yang memiliki wajah cantik dari mitologi Irlandia
[7] Laksamana Nelson, adalah seorang laksamana Inggris yang terkenal karena jasa-jasanya dalam Perang Napoleon, terutama dalam Pertempuran Trafalgar, di mana ia wafat. Ia menjadi pahlawan angkatan laut terbesar dalam sejarah Britania Raya, melebihi Robert Blake dalam ketenaran.

Risda Nur Widia. Cerpennya tersiar di berbagai media. Buku cerpennya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016).