Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
“Semua orang penulis. Seluruh hidupmu adalah sebuah kisah. Pilihan
yang kau buat setiap hari menentukan kisah seperti apa yang kau jalani.
Beberapa orang, seperti dirimu, punya kemampuan lebih dalam menggunakan
kata-kata dibandingkan yang lain.” (hlm. 157)
Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
Katakan apa pun yang kau inginkan tentangku. (hlm. 26)
Tidak ada orang yang begitu saja berubah pikiran tentang sesuatu seperti itu. (hlm. 37)
Kau tidak bisa memberikan situasi apa pun yang akan membuatku berubah pikiran. (hlm. 49)
Menceritakannya mungkin bisa membuatmu merasa lebih baik. (hlm. 57)
Pasti sulit melihat seseorang yang kau cintai meninggal tanpa bisa melakukan apa pun. (hlm. 79)
Jangan ragu untuk memberitahuku kalau dia menyukaimu. (hlm. 185)
Kebanyakan orang hanya bisa melihat sisi buruknya. Kau tidak. Kau
mengakui sisi buruk itu, tapi kau masih bisa melihat sisi baiknya. (hlm.
219)
Setiap momen dalam hidup kita memiliki potensi untuk mengubah hidup.
Beberapa memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan yang lainnya.
Dan kita semua terus bertumbuh saat melewati momen-momen tersebut.
Bahkan momen buruk sekalipun perlu terjadi supaya momen yang
menyenangkan bisa terjadi. (hlm. 345)
Kita bisa mengambil jalan pintas dalam hidup. Kita harus melewati
momen-momen seburuk apa pun, karena semua jalan itu sering kali mengarah
ke jalan lain yang lebih baik. Tidak ada langit yang hanya memiliki
bintang terang. Akan selalu ada beberapa bintang redup di sana-sini,
tersebar di antara bintang-bintang yang terang. Dan karena itulah,
langit menjadi lebih menakjubkan. (hlm. 345)
Semua akan baik-baik saja. (hlm. 361)
Banyak juga selipan sindiran halusnya:
Mengapa disebut jatuh cinta jika jatuh menyiratkan keruntuhan; jika jatu menyiratkan kehancuran. (hlm. 5)
Orang selalu melihat cinta sebagai sesuatu yang besar, sesuatu yang
kita butuhkan. Sejenak kita semua lupa bahwa untuk bisa merasakan cinta,
kita harus jatuh –bukan hanya ke dalamnya, tapi kadang juga ke luar.
(hlm. 5)
Kalau kau ingin bersikap sopan, maka kau tidak akan mengajak bicara teman di bangku sebelahmu saat guru sedang bicara. (hlm. 9)
Senyuman palsu hanya bisa menutupi sejauh itu. (hlm. 25)
Kau tidak punya hak memberitahuku apa yang harus kulakukan. (hlm. 29)
Kau tidak punya hak memberitahuku bagaimana seharusnya perasaanku. Kau bahkan tidak kenal aku. (hlm. 43)
Kau bilang begitu hanya karena dia ada di pihakmu. (hlm. 45)
Tidak ada orang yang dengan gampangnya meminta menginap di tempat lain kalau tidak ada yang salah. (hlm. 57)
Apa yang akan kau lakukan tanpa diriku? (hlm. 65)
Memangnya kita punya hal lain yang lebih baik untuk dilakukan? (hlm. 65)
Kalau kita sampai terluka, kau harus membayarnya. (hlm. 72)
Jangan terlalu menyanjung dirimu sendiri. (hlm. 109)
Kenapa kau melakukan semua ini? (hlm. 109)
Kau percaya bahwa dialah yang ditakdirkan untukmu dan hanya akan dia seorang. Dan tiba-tiba semua itu hilang. (hlm. 141)
Kita melakukan kesalahan dan kita mengacaukan segalanya, dan tidak ada gunanya kau membenci diri sendiri. (hlm. 176)
Memang seperti itulah film. Mereka selalu berakhir dalam momen
bahagia, dalam adegan yang sempurna, di mana semuanya pasti benar dan
tidak mungkin ada yang salah. Ya, hidup tidak berjalan seperti itu,
karena selalu ada sesuatu yang datang setelah ‘TAMAT’. (hlm. 181)
Kau tidak menyebalkan. Kau hanya bersikap menyebalkan untuk menutupi perasaanmu. Semacam mekanisme pertahanan. (hlm. 211)
Tidak ada orang yang menelepon jam satu pagi kalau tidak ada apa-apa. (hlm. 226)
Ada hal-hal yang sulit dipaksakan. (hlm. 339)
Saat kau patah hati, orang lain hanya bisa membantumu memungut
kepingan-kepingan hatimu, tapi hanya kau yang bisa menyatukannya
kembali. (hlm. 398)
erpen Adi Zamzam (Bali Post, 24 Desember 2017)
Lelaki yang Tinggal di Dalam Tanah ilustrasi Citra Sasmito/Bali PostKabut mengubah siang seperti senja beranjak malam. Benakku
dihinggapi perasaan tak enak. Berisik yang tiba-tiba mengusik membuat
dadaku berdenyar. Aku terpaksa keluar mobil demi memastikan rupa suara.
Betapa terkejutnya aku. Di tengah jalan yang membelah perbukitan aku
terpana. Ribuan pohon tiba-tiba saja hidup, menganggukkan badan, seraya
mengucap terima kasih kepadaku. Seseorang, yang entah dari mana
datangnya, sudah berdiri di ujung jalan. Sosok misterius itu sekujur
tubuhnya berupa tanah tanah!
“Kemarilah. Aku ingin berterima kasih kepadamu…” sosok itu turut mengangguk kepadaku.
“Terima kasih atas apa?”
Ia mendekat. Semakin dapat kulihat tubuhnya yang tanah. Sialnya,
kedua kakiku tak bisa kugerakkan. Tubuhku gemetar, terdera ketakutan.
Entah mengapa kemudian aku berteriak memanggil almarhum kakekku.
Namun istrikulah yang kemudian kudapati. Mengguncang bahu dengan wajah
penuh tanya.
***
“Kabar dari keluarga Jono bagaimana, Mas?” istriku datang dengan segelas kopi nasgithel.
Aku hanya menyahut dengan dehaman kecil. Coba menghilangkan yang
tiba-tiba mengganjal di tenggorokan. Lantas kubasahi dengan kopi hangat.
Musibah yang terulang itu selalu saja membuatku kesulitan menelan
sesuatu.
“Sesuai perintah Mas, uang santunan sudah kuserahkan lewat Pak Mijan. Aku belum dapat kabar apa pun,” ujarnya lagi.
Aku sebenarnya tak mau diingatkan dengan musibah itu. Apalagi jika
kemudian teringat bahwa musibah itu terjadi setelah mimpi buruk yang
belakangan sering meneror tidurku. Dua pekerjaku telah tertimpa
longsoran tanah yang mereka gali sendiri.
Aku tak mau menampakkan kesedihan meski sebenarnya aku turut
bersedih. Aku tak mau terlihat kalah di depan mereka yang pada dasarnya
sudah tak menyukai apa yang kulakukan di desa itu. Mengingat segala
kegigihan yang telah kulakukan demi melancarkan usaha. Dari berbaik-baik
dengan para pemegang tampuk kekuasaan, para wakil rakyat tingkat
kecamatan ataupun kabupaten, hingga dengan para warga sekitar yang
membutuhkan pekerjaan.
Toh tak hanya aku yang kenyang. Para penadah kris dari penggilingan
batu milikku, kebanyakan adalah para wakil rakyat. Dan mereka tahu dari
mana aku mengambil bahan baku. Atau beberapa tetangga yang
memperlihatkan kesinisan. Seolah pertambangan milikku sedikit banyak tak
turut menyumbang napas buat mereka.
***
Di sebelah timur tanah kelahiranku perbukitan itu berada. Di dalam
perutnya mengandung banyak batu, sementara tanahnya sangat baik untuk
bahan batu bata dan genting. Di masa kecilku siapa pun bisa dengan mudah
menemukan pisang, jambu biji, mangga, sawo, srikaya, sirsak, rambutan,
atau bahkan durian yang tumbuh liar. Kakeklah yang kerap memarahi siapa
pun yang menebas apa pun yang tumbuh di sana.
“Lelaki yang tinggal di dalam tanah?” pertanyaan ini muncul saat hari pertama cerita ajaib Kakek dituturkan.
“Iya. Dia akan marah jika kau merusak apa pun yang tumbuh di atasnya.
Dialah yang bertugas menyediakan air bersih untuk akar-akar,
menggemburkan tanah, menyimpan persediaan air, hingga menyelamatkan
ikan-ikan dari kemarau dan melepaskannya kembali di puncak penghujan.”
Dengan perasaan aneh dan sedikit takut, aku kerap membayangkan
seperti apa rupa dan bagaimana cara lelaki itu tinggal dan menjaga
tanah. Apalagi ketika kemudian Kakek bilang lelaki itu tak hanya tinggal
di bukit Sendang Perawan. Ia menjaga bumi ini dengan segenap
kekuatannya.
Tapi…
“Banjir terjadi lantaran sungai penuh sampah, sementara hutan
digunduli sehingga tanah tak lagi mampu menahan kadatangan air. Begitu
juga dengan kekeringan, tsunami, gempa bumi, atau gunung meletus.
Semuanya memiliki penyebab sendiri-sendiri,” bantahan Pak Parji begitu
meyakinkan ketika aku bertanya di dalam kelas. Hingga teman-teman
menjadikanku bahan ejekan setelahnya.
***
“Kira-kira kapan penggilingannya buka lagi, Pak?” lelaki itu
tersenyum dengan ekspresi yang aneh. Dilipatnya uang pemberianku dengan
kikuk setelah sempat keliru menyangka kausnya memiliki saku. Dia baru
saja berhutang.
“Kalau misal penggilingan aku tutup, Pak Badrun kira-kira mau pindah kerja apa?”
“Jangan bercanda lah, Pak,” ia tersenyum lagi. Tapi lagi-lagi senyum
itu menjadi seringai yang aneh. Tanah berjatuhan dari wajahnya.
Ketika lelaki itu membalikkan badan, tubuhnya semakin sempurna
berubah tanah. Aku berniat memanggilnya kembali setelah beberapa langkah
ia beranjak. Namun mulutku langsung mengunci tatkala tubuh itu
tiba-tiba amblas ke tanah dan hanya menyisakan gunungan tanah.
Kukucek mata berkali-kali. Kepalaku pening. Halusinasi itu menguasaiku lagi. Kulihat Pak Badrun sudah jauh meninggalkanku.
“Mas, ziarahnya jam empat sore ya? Aku mau diajak Nani, ambil kue-kue pesanan dulu,” istriku menjawil. Kujawab dengan anggukan.
Sepanjang hari itu aku benar-benar memikirkan usaha apa kiranya yang
manis untuk kujadikan pengganti usaha penggilingan batu. Ketika sampai
di depan makam Kakek, istriku tercekat mendengar aneka ide yang
berlompatan dari mulutku.
“Mas serius? Mas ini kenapa sih?”
Entah mengapa tangan kananku gemetar ketika menyentuh nisan Kakek.
Meski cerita beliau terkesan tak masuk akal. Sudah dua kali mimpi buruk
itu membawa kabar kematian. Mimpi itu seperti ingin mengabarkan sesuatu,
dengan caranya sendiri. Kakek mungkin bisa menjelaskan arti mimpi itu.
Karena itulah aku sering memanggilnya dalam mimpi. Sayangnya beliau tak
pernah lagi muncul setelah mimpi-mimpi aneh itu bertamu.
***
Hari itu perasaan tak nyaman sudah sedemikian hebatnya membelitku.
Bukan lantaran hari itu adalah pesta pernikahan Danar yang
kemarin-kemarin juga turut memusuhi usahaku. Toh sekarang ia sudah diam
dan acuh dengan segala pekerjaanku, setelah jatuhnya dua korban jiwa.
Apa yang menguasai kedua mataku sudah sedemikian hebatnya. Tak hanya
satu dua sosok yang tiba-tiba menjadi manusia tanah, tapi semua. Tak
terkecuali istri dan anak-anakku. Hanya bayanganku dalam cermin saja
yang selamat dari halusinasi ini.
Aku berdiam di salah satu kursi di teras rumah, kehilangan gairah
menggerakkan tubuh. Hilir-mudik orang-orang berubah menjadi
iring-iringan mengerikan di mataku.
“Kapan penggilingannya buka lagi, Pak?” seorang lelaki tanah mendekatiku, dengan seringai yang aneh.
“Bukannya sawah Pak Ipin sekarang sedang butuh banyak tenaga?”
kubalik pertanyaan yang seolah ingin meledek. Puncak penghujan adalah
masa tidur semua penggilingan batu milikku—seiring dengan masa liburnya
proyek-proyek Pemerintah. Meskipun ada beberapa orang yang kadang masih
nekat menggali tanah, menabung pekerjaan kepadaku.
“Tahun depan aku akan mengeruk sawah yang sebelah timur, Pak. Airnya susah.”
“Para tetangganya enggak akan marah tho?”
Dia malah tertawa, “Suka atau enggak suka itu kan hal biasa tho, Pak?”
Dia terus saja berbicara. Sementara aku semakin tak menginginkan
percakapan itu. Kupangkas kalimat menjadi pendek-pendek agar dia tahu
aku benar-benar sedang tak menginginkan percakapan ini. Tapi rupanya dia
sedang menunggui istrinya yang baru saja keluar dari ruang tamu setelah
setengah jam berlalu. Dan sepasang manusia tanah itu kemudian
meninggalkan pesta setelah mengucap pamit kepadaku.
Aku menghitung detik demi detiknya. Menunggu adegan ganjil yang sudah
aku hafal lantaran sudah berkali terjadi. Namun belum sempat dua sosok
itu amblas ke dalam tanah, tiba-tiba telingaku mendengar teriakan
bernada panik.
Aku buru-buru menyusul beberapa orang yang lari berhamburan. Mataku
kemudian menemukan itu, dari arah pertambangan milikku. Aku bisa melihat
sebagian bukit Sendang Perawan yang telah hilang. Dan longsoran
itu—dengan membawa segala yang ada padanya, sedang meluncur deras ke
arah kami!
Aku berteriak memanggil ketiga anakku. Istriku tergopoh keluar dengan
raut penuh tanya. Suasana semakin kacau. Pesta berubah jadi arena
mengerikan. Aku sempat berpikir bahwa ini adalah bagian dari halusinasi
itu, betapa pun istriku kalap menarik-narik lenganku dan akhirnya lari
entah ke mana.
Aku sempat melihat si bungsu dalam gendongan Danar. Aku coba mengejar
mereka setelah sadar bahwa ini memang kenyataan. Hanya dalam sekejap
semuanya berubah jadi lautan lumpur.
Aku coba membebaskan diri. Tapi tanah telanjur menelanku. Mula-mula
sebatas pinggang, dada, leher, menghimpit dan melilit seolah ingin
menjadikanku manusia tanah.
“Tolooong…!” teriakku berkali-kali, dengan segala harap, entah kepada
siapa. Hingga akhirnya kupejamkan kedua mata, menyambut rupa ajal.
Aku sudah tak lagi berharap ketika ada sesuatu yang menyentuhku.
Entah apa atau siapa itu yang melakukannya. Seperti ada tangan yang
mendorong kedua kakiku ke atas hingga kedua mataku bisa kembali
menemukan cahaya. Aku terengah di antara himpitan tanah. Di batas
kesadaran, kulihat seseorang muncul dari balik kelopak mataku. Sekujur
tubuhnya tanah!
“Jika dia sudah marah, tak ada siapa pun yang dapat menolaknya,” ujar sosok misterius itu, mencuri kalimat Kakek.
Aku curiga bahwa dia memang Kakek. Tapi saat perih di sekujur tubuh
mengembalikan sebagian kesadaran, aku mulai sangsi dengan dugaan
sendiri. Tentu saja dia bukan Kakek!
Apakah dia yang menyelamatkanku tadi? Benarkah itu sosoknya? Mengapa dia menyelamatkanku?
Aku berteriak-teriak memanggil Kakek. Air mataku leleh. Penyesalanku
terlambat. Semuanya telanjur terkubur tanah. Hanya tersisa janji-janji
dalam hatiku sendiri. Janji-janji yang terlambat pula. Bahwa aku mesti
memperbaiki semua. Terutama diriku sendiri.*
Cerpen Risda Nur Widia (Bali Post, 03 Desember 2017) Traveling ke Kota Perang ilustrasi Citra Sasmito/Bali PostBerada di puncak kejayaan bagi Tarno benar-benar membosankan.
Tarno merasa tidak ada lagi hal yang menarik untuk dilakukan. Segala
yang ia inginkan—sekarang—akan segara terkabulkan. Tidak harus menunggu
lama. Hanya beberapa jenak saja. Tarno sudah mendapatkannya. Namun
meraih segala tanpa adanya proses sama seperti melakukan mastrubasi. Tak
ada arti. Selain rasa keterasingan dan kesepian yang mendalam. Kini hal
itu terjadi pada kehidupan Tarno; pada tarikan napas, geliat
rutinitasnya, serta segala yang dilakukannya.
Semuanya kini telah dimiliki Tarno: mobil yang jumlahnya puluhan dan
keluaran paling baru, uang di setiap bank dengan nominal enol yang sulit
untuk dieja, kapal pesir, wanita, dan segala perlengkapan lainnya.
Semua telah berada dalam satu genggaman tangannya. Bahkan terkadang
apabila bosan dengan harta yang melimpah dan kecukupan, Tarno diam-diam
mengambil uangnya di bank beberapa koper; membawanya ke dekat perapian;
membakarnya sebagai bahan nyala api. Terkadang juga Tarno dengan sengaja
menabrakkan mobilnya sendiri dengan mobilnya yang lain; sampai
mobil-mobil itu peyot dan bopeng. Namun semua itu akan kembali lagi.
Segala kekayaannya seperti tak pernah habis. Malah bertambah banyak.
Karena hal inilah, Tarno merasa bosan.
Padahal dahulu—ketika masih kecil—ia harus mendapatkan segala sesuatu
dengan susah payah. Tarno masih ingat betul ketika masih umur sepuluh
dan harus bertengkar dengan kakaknya karena sepotong telur rebus. Ketika
itu ayah Tarno—yang seorang petani kecil di desa—pulang membawa sekotak
kecil makanan dari berkah desa. Di dalam kotak itu terdapat sepotong
telur. Tarno dan kakaknya harus bertengkar untuk menentukan siapa yang
layak mendapatkan bagian lebih.
“Seharusnya orang lebih tua yang mendapatkan bagian banyak,” kata kakaknya.
Bantah Tarno. “Tidak bisa! Seharusnya orang kecillah yang mendapatkan bagian lebih!”
Sejak peristiwa itu akhirnya Tarno berjanji dalam hidupnya untuk
tidak selamanya merana. Tarno bertekad ingin hidup lebih baik dari ayah,
ibu, serta kakaknya. Tarno ingin mendapatkan segalanya yang lebih dari
mencukupi. Hal itu mulai terwujud ketika Tarno terus mendapatkan
peringkat pertama di sekolah; dari sekolah dasar hingga menengah atas.
Prestasi Tarno sangat mengagumkan. Sampai kemudian Haji Ramli—ketika
Tarno lulus—menawarinya untuk kuliah. Haji Ramli menjanjikan kepada
Tarno segala biaya kuliah akan didukungnya penuh.
Begitulah. Tarno hanya butuh waktu tiga tahun setengah dalam
menyelesaikan kuliah dengan otak encernya di jurusan pertambangan. Lalu
setelah lulus, ia bekerja di perusahan minyak besar di Amerika. Lantas
melanjutkan studi S2 dan S3-nya di luar negeri. Karir Tarno terus
menanjak. Tarno mendapatkan apa yang diingkannya: makanan enak, mobil,
uang, wanita, dan masih banyak lainnya. Tarno merasa hidupnya begitu
menyenangkan. Di umur ke-50, Tarno kembali lagi ke Indoensia dan
dicalonkan sebagai wakil rakyat. Karena dianggap terpandang dan penting,
Tarno memenangkan pemilihan umum. Tarno pun menjadi pejabat baru dan
mendapatkan segalanya.
Harta yang dimiliki Tarno semakin banyak. Kini saat umurnya menginjak
ke-65, harta yang dimilikinya tak susut dari berbagai usahnya. Namun
Tarno mulai merasakan ada kejenuhan dalam dirinya. Tarno merasa bosan
dengan apa yang dimilikinya hari ini. Tiba-tiba, Tarno teringat masa
kecilnya yang serba kekurangan. Walau ketika itu sangat kekurangan,
Tarno dapat hidup dengan bahagia. Tarno menikmati ketika dirinya berbagi
dengan kakaknya atau dengan ayah-ibunya yang acap mengalah. Tarno
merrindukan segala peristiwa itu. Bahkan kalau bisa mengulang masa-masa
sederhana itu, Tarno rela membelinya dengan segala harta yang
dimilikinya kini. Sayangnya semua itu tak mungkin terjadi.
Tarno termenung menatap halamannya yang luas. Hati Tarno semakin
kacau. Tarno tak tahu harus berbuat apa. Lalu ketika ia melirik ke arah
koran pagi di meja, Tarno melihat sebuah iklan yang tercetak dengan
huruf kapital: “LIBURAN MENCEGAH BUNUH DIRI”. Tarno
mengamati secara seksama iklan tersebut. Pada iklan itu tertera sebuah
liburan yang berbeda daripada biasanya. Namun Tarno ragu dengan iklan
tersebut. Karena bagi Tarno tak ada tempat yang benar-benar belum
didatanginya. Semua liburan dan tempat paling mewah serta mahal, pernah
dikunjunginya. Tarno berpikir: Apa yang membuat iklan liburan ini berbeda? Karena tidak memiliki kesibukan selain meratapi kebosananya, Tarno menelepon nomer layanan iklan tersebut.
“Selamat pagi!” Sahut seorang wanita lembut. “Kami melayani liburan yang berbeda!”
“Liburan macam apa?” Timpal Tarno tanpa basa-basi.
“Kami memiliki perjalanan ke daerah-daerah perang dan konflik!”
Tarno tergeregap mendengar itu. Belum pernah dirinya mendengar
liburan yang begitu sinting semacam itu. Namun karena memiliki banyak
waktu luang dan harta yang melimpah, Tarno mengambilnya juga.
***
Seperti yang sudah dijanjikan, pesawat Tarno datang ke sebuah kota
perang. Saat pesawat itu terbang, sempat ia melihat pesawat-pesawat jet
melemparkan rudal-rudal ke tengah kota. Lantas dari atas pesawat, Tarno
melihat kepul asap hitam pekat yang menyaput kota dari tembakan serta
api yang menghajar bangun. Tarno melihat itu semua dengan tubuh
bergidik. Ia tidak bisa membayangkan apabila nanti saat berlibur dirinya
kena salah satu rudal dari pesawat-pesawat jet yang ditembakan ke arah
kota. Hal yang sama sebenarnya terjadi pada rombongan pelancong yang
kebanyakan orang kaya tersebut. Mereka terlihat pucat dan ketakutan.
Namun cepat pemandu wisata menenangkan.
“Tidak perlu ada yang ditakutkan,” kata seorang wanita dengan wajah
santai. “Rudal-rudal itu tidak akan mengenai atau menembak kita. Karena
kita tidak terlibat dengan huru-hara mereka. Kita hanya seorang
pelancong saja.”
Pesawat itu mendarat dengan aman sampai di bandara. Sebuah bis
mengilap warna putih sudah menunggu Tarno dan para pelancong lainnya di
lobi hotel. Mereka dipandu untuk naik ke atas bis tersebut. Dan bis itu
melaju dari bandara yang cukup rapi, menuju kota yang terlihat sangat
berantakan. Mula-mula, Tarno melihat gedung-gedung yang menjulang
rongsok; ringsek karena ledakan bom yang dilemparkan ke arahnya. Tarno
juga melihat mobil-mobil berserak peyot; penuh lubang peluru; gosong
akibat terbakar. Di tepi jalan Tarno melihat anak-anak kurus
berlari-lari mengejar bis wisata yang digunakannya. Para pelancong itu
seperti sedang melakukan perjalan ke kebun binatang, dan melihat nasib
penduduk kota yang terkerangkeng kesedihan seperti hewan-hewan melata.
Tarno hanya duduk termangu memandang semua panorama mengerikan itu.
Namun para pelancong lainnya tidak peduli dengan semua diorama tersebut.
Para pelancong memotret dan tertawatawa melihat kejadian itu. Ditambah
lagi ketika seorang pemadu menyeret mereka ke barak pengungsian kumuh.
“Di tenda-tenda itu terdapat anak-anak, ibu-ibu, atau para pria yang
menjadi korban perang,” kata pemandu. “Anda bisa melihatnya sendiri.”
Tarno pun melihat dengan jelas pemandangan mengerikan tersebut. Di
hadapannya tampil orang-orang dengan wajah murung yang lelah. Darah yang
meleleh dari tubuh yang dikoyak peluruh. Ratap tangisan setelah
ditinggal mati keluarga. Lalu anak-anak yang menatap putus asa ke
arahnya. Semua pemandangan itu seakan berbanding terbalik dengan segala
kesenangannya yang didapatkan dari harta-kekayannya yang melimpah.
Kesedihan dan kehilangan itu seakan tidak bisa ditebus oleh uang Tarno
yang melimpah. Bahkan ketika Tarno melihat keluarga yang sedang makan
bersama dengan nasi tanpa lauk, Tarno teringat keluarganya dahulu.
***
Bis terus melaju. Setelah melewati padang pengungsian, Tarno beserta
rombongan lainnya memasuki gurun luas dan gersang. Di tengah gurun itu
tidak ada pemandangan selain tanah tandus. Sempat para pelancong itu
bingung mengapa bis memasuki daerah itu. Pemandu wanita berwajah baik
itu cepat menjelaskan kepada para pelancong mengenai tempat kunjungan
itu.
“Kalian bisa menengok ke arah kanan bis ini!” Kata pemandu cantik itu. “Di sana terlihat orangorang yang berjajar rapi!”
Tarno melihat orang-orang yang dibariskan rapi. Jumlahnya ada 20
orang. Tangan serta mata mereka diikat dengan kain. Dan ada 5 orang
menodongkan senjata ke arah orang-orang yang wajah dan tangannya diikat
tersebut.
“Hari ini orang-orang itu akan dieksekusi!” Kata si pemandu. “Kita
beruntung karena bisa melihat eksekusi ini! Mereka adalah para
pemberontak.”
Tarno melihat dengan jelas ketika orang-orang itu dibunuh dengan keji
dan brutal. Mereka ditembaki dengan membabi-buta; tidak memberikan
kesempatan apapun. Bahkan untuk menanyakan kesalahannya, tak bisa. Tarno
bergidik dan mual. Tarno merasa apa yang dimilikinya selama ini sama
sekali tak berarti setelah melihat segala kemalangan itu. Harta yang
dimiliki Tarno tidak lebih hanya sampah; bisa kapan saja raib dan lenyap
entah ke mana.
***
Usai melihat segala kekacaun dari paket liburannya itu, hati Tarno
semakin hampa. Ia merasa kalau segala yang dimilikinya—harta melimpah
itu—sama sekali tidak berguna di tengah keributan peluru dan bom. Ingin
bertindak melakukan suatu hal, rasanya Tarno tak mampu. Ia tidak bisa
mengubah apapun dengan uangnya. Pun sepualang tamsya, ia hanya
memberikan sebagaian jumlah kekayaannya pada pengungsi dan relawan. Itu
juga dengan cara sembunyi-sembuyi. Begitulah. Pesawat membawa kembali
Tarno ke negaranya. Dan nyaris sepanjang waktu ketika pesawat melintasi
kota itu, ia melihat kekacauan masih terus terjadi.
Risda Nur Widia. Belajar
di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara
menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra
Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Indonesia (2015). Nominator tiga besar buku sastra terbaik
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku kumpulan
cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.
Cerpen Mohammad Ilyas (Banjarmasin Post, 24 Desember 2017) Pintu Belakang ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group
Pintu belakang rumah Monarie ada yang mengetuknya tiga kali. Ia
bergegas mendekati pintu itu, dan membukanya. Ia melihat seorang
laki-laki berbadan tegap berdiri memunggungi pintu. Sebentar kemudian
Monarie menarik tangan laki-laki itu, dan mengajaknya masuk. Tangannya
gemetar. Ia bergegas menutup kembali pintu rumahnya rapat-rapat dan
menguncinya dari dalam.
Sementara di luar hujan masih belum reda. Sesekali petir menyambar
sehabis keredep kilat memecah kegelapan. Monarie memanggil laki-laki itu
dengan sebutan Maddasin. Begitu pula dengan tetangga-tetangganya,
menyebut dengan panggilan yang sama. Dan, Maddasin dikenal sebagai
pedagang sapi.
Monarie beranjak menuju jendela, lantas menarik gorden yang semula
hanya ditutupnya separuh. Selanjutnya ia mematikan lampunya yang
remang-remang itu. Ia pun mendekati Maddasin yang sejak tadi duduk di
atas lincaknya yang tanpa kasur.
“Bagaimana kabar suamimu?” tanya Maddasin dengan suara berbisik.
“Entahlah,” jawabnya Monarie.
“Kamu pasti banyak tahu tentang Jakarta, kalau suamimu menceritakannya?”
“Dia tidak sempat bercerita padaku, sebab di sana katanya sangat
sibuk. Tokonya dibuka selama dua puluh empat jam. Tidak ada waktu untuk
ngobrol panjang. Dia hanya menelponku, kalau kebetulan mengirim uang,
menanyakan masuk tidaknya.”
Maddasin dapat melihat wajah Monarie acuh di remang-remang. Juga
didengarnya suara desah napasnya tidak sabar. Monarie segera merebahkan
tubuhnya dan menarik pundak Maddasin, sampai mereka sama-sama terlentang
di atas lincak yang dingin.
“Kamu tentu capek sehabis kerja seharian mencari sapi yang mau
dijual,” bujuknya Monarie. “Tidurlah meski aku tak punya kasur, dan aku
harap kamu betah rebahan di sini.”
Maddasin tiba-tiba mengurungkan niatnya saat mau menuruti ajakan
Monarie. Dan, Maddasin seketika meloncat dari ranjang saat pintu rumah
Monarie ada yang mengetuknya. Ia meringkuk di gelap pojok bawah ranjang.
Monarie bangkit dari rebahannya. Sebelum beranjak menuju pintu,
terlebih dahulu merapikan rambutnya yang acak-acakan. Kemudian dibukanya
perlahan pintu itu. Di depan pintu anaknya berdiri dan meminta uang
untuk membeli jajan.
“Malam-malam kamu mau jajan?” ucapnya Monarie. “Iya sudah, tunggu di sini sebentar, biar aku ambilkan dulu ke dalam.”
Tanpa banyak basa-basi, Monarie kembali masuk ke dalam dan menuju
lemari yang terletak di pojok kamarnya. Dalam remang-remang tangannya
meraba-raba lipatan baju yang sudah tersusun rapi, sesekali
mengangkatnya susunan baju itu perlahan, dan kembali tangannya
meraba-raba.
“Klak,” tiba-tiba lampu di kamar itu serentak menyala, dan Monarie
tersentak kekagetan. Rupanya anaknya yang menghidupkan lampu. Buru-buru
Monarie menghampiri sakelar dekat anaknya berdiri, dan mematikan
kembali lampunya. Anaknya yang semula berniat untuk membantunya, kini
kebingungan dengan apa yang dilakukan Monarie.
“Sini kamu,” Monarie menjewer telinga anaknya, dan ditariknya keluar.
“Sejak kapan aku mengajarimu kacang?”
Anaknya tidak berani menjawab, ia hanya menunduk sambil
memelinting-lintang ujung bajunya. Monarie terus mendesaknya dan terus
menanyakannya dengan kata-kata yang sama.
“I… i… in… ini,” ucapnya anaknya gugup. “Ini kan rumah, Ibu!” lanjutnya setelah ia menelan ludahnya.
Sebagai hukuman bagi anaknya, Monarie tidak jadi memberinya uang. Ia
menganggap anaknya telah melakukan kesalahan besar. Dengan mata
berlinang, anaknya beranjak pergi, dan Monarie menyuruhnya untuk tidur
di surau tempat ngajinya.
Kembali Monarie masuk ke dalam rumahnya dan memberi isyarat kepada Maddasin untuk keluar dari bawah ranjang itu.
Maddasin segera duduk di dekat Monarie. Ia mengatakan kalau malam sudah benar-benar larut. Ia pun pamit pulang pada Monarie.
Lepas dari pintu belakang rumah Monarie, Maddasin dengan
mengendap-ngendap terus berjalan melewati pagar dan semak-semak yang
rimbun.
***
Sesampainya Maddasin di depan rumahnya, tiba-tiba hatinya berdebar,
ia mulai berpikiran lain ketika melihat pintu rumahnya sedikit terbuka.
Sebab, istrinya mempunyai kebiasaan menutup rapat pintu saat malam.
Maddasin begegas menuju kandang sapinya sebelum masuk ke dalam
rumahnya. Segera, arit yang terselip di celah anyaman bambu diambilnya
dan digenggamnya erat-erat.
Perlahan-lahan Maddasin melangkah menuju kamar istrinya. Diam-diam ia
menangkap suara istrinya yang tengah mengobrol lirih dengan laki-laki.
Kini Maddasin dadanya terasa sesak, tangannya gemetar dan keringatan. Ia
pandangi arit yang digenggamnya dengan pandangan terbelalak, giginya
geretak-geretak menahan geram.
Tanpa ada rasa ragu sedikitpun, Maddasin menendang dan mendorong
pintu kamar istrinya keras-keras sehingga pintu itu seketika terbuka.
Kemarahan Maddasin semakin membuncah ketika dilihatnya ada laki-laki
yang berlindung di balik punggung istrinya. Laki- laki itu ketakutan
saat Maddasin menghampirinya.
“Tunggu, mau apa kamu?” tanya istrinya
“Dasar perempuan gadungan! Pelacur!” cacinya Maddasin pada istrinya.
Ia terus mendekati laki- laki itu dengan desah napas yang
berangsur-angsur. Sementara istrinya terus berhadap-hadapan dengan
Maddasin sehingga laki-laki itu terus terlindungi.
Pada saat laki-laki itu hendak melarikan diri, saat itu pula Maddasin
menyebatkan aritnya dan mengenai pundak laki-laki itu. Darah segar
memuncrat kuyup membasahi bajunya dan setelah sesaat mengerang,
laki-laki itu terkulai tak bernyawa.
“Kamu selingkuh dengan anak kecil, Perempuan sundal!” ucapnya Maddasin geram.
“Bajingan!” tanggapnya istrinya dengan isak tangis iba sambil menatap
laki-laki yang sudah tak bernyawa itu. “Kamu tahu? Ini anak Monarie,
perempuan selingkuhanmu itu! Dia ke sini memberitahuku, kalau kamu ada
di sana. Owh, kasihan anak ini! Setelah dia dimarahi ibunya, harus
mengakhiri hidupnya pula, itu pun di tangan orang yang sama; sama-sama
berhati iblis.”
“Cukuuup!” bentak Maddasin dengan napas tambah berangsur-angsur.
“Kalau kamu kasihan sama dia, aku pun kasihan sama kamu! Maka sekarang
biar kuantar kamu untuk menyusul anak kecil itu.”
“Bajingan kamu!” ujar istri Maddasin. Ia berjalan mundur mendekati
pintu. Istri Maddasin meronta-ronta membuka pintunya yang sudah dikunci
itu, sementara Maddasin terus mendekat dengan senyum dingin.
“Tolong! Tolong! Tolong!” teriaknya
Mbah Saliman yang hendak memutar qiroah di Masjid, terpemnjat saat
mendengar suara minta tolong. Ia pun membangunkan warga yang lain, yang
biasa salat subuh berjamaah di masjid itu. Kemudain berbondong-bondong
menuju suara yang meminta tolong itu.
Akhirnya Mbah Saliman dan para jamaah masjid berhenti di depan
halaman Maddasin. “Dengar!” ucapnya Mbah Saliman, tangannya sambil
menunjuk rumah Maddasin. “Rupanya suara yang minta tolong itu dari sini
sumbernya. Mari kita mendekat,” ajaknya Mbah Saliman.
Segera didengarnya pertengkaran Maddasin dengan istrinya. Beberapa
orang jamaah masjid mengatakan, kenapa pintunya tidak didobrak saja.
Tapi, sebagian orang berpendapat sebaiknya jangan, sebab pertengkaran di
dalam berumah tangga itu sudah biasa.
Di masjid, beduk sudah ditabuh dan adzan segera dikumandangkan.
Sementara dari dalam rumah Maddasin, sudah tidak didengarnya lagi
pertengkaran. Para jamaah masjid pun bubar bersama-sama. Mbah Saliman ke
masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.
Selesai salat, Mbah Saliman mematikan lampu kemudain menutup semua
pintu masjid. Saat menuruni tangga masjid, tiba-tiba salah satu jamaah
menghampirinya dengan napas terengah-engah.
“Ada apa?” tanya Mbah Saliman.
“Anu, Mbah! Saya disuruh memberi pengumuman oleh Pak RT.”
“La, iya pengumuman apa?”
“Ini, istri Maddasin meninggal, Mbah. Saya disuruh memberi pengumuman agar warga di kampung ini tahu.”
“Innalillahi,” ujarnya Mbah Saliman sambil geleng-geleng. (*)
Mohammad Ilyas, lahir di Sumenep, Madura.
Saat ini tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kali Yogyakarta, dan
menimba ilmu di PP. Ibnu Sina Godean Yogyakarta.
Cerpen Jeli Manalu (Haluan, 24 Desember 2017) Melayang Sebutir Cahaya ilustrasi Haluan
Butuh sepuluh menit bagimu untuk melepas pelukannya yang masih
hangat. Kau memandangi matanya, mata itu tertidur dan tampak sangat
nyenyak. Kaukecup lekas-lekas seperti pencuri, meski tadi kau tidak
benar-benar ingat apakah merasakan denyutan halus di bagian kelopaknya
karena pada saat itu ada angin yang menyeberang di antara kalian.
Kau lalu ke dapur menyiapkan makanan yang hanya disukai istrimu
saat-saat ia sedang tidak enak badan. Ia memintamu memasaknya tadi malam
sehabis kalian bercerita panjang dan ia sempat tertidur dengan kepala
bertumpu di dadamu, dan saat terjaga ia berkata, “Kau masih ingat
bagaimana warnanya ‘kan?” tanya istrimu, memastikan kau belum lupa
tentang warna ikan itu nantinya.
Mengenai ikan arsik—ikan mas bumbu kuning dicampur kacang panjang,
kucai, kecombrang yang dimasak hingga mongering—itu, warnanya harus
kuning. Cabainya tidak banyak, kunyitnyalah yang perlu diperhatikan. Ia
harus kuning pekat bak mekarnya bunga matahari. Bukan mirip lukisan yang
warnanya sengaja dipucatkan atau kuning pada kulit yang akan tampak
seperti orang mati, katanya. Aku tidak selera walau sekadar
menyendoknya. Maka, kau menambahkan kunyit satu batang lagi.
Saat kau memukul-mukulnya di atas batu penggilingan, kau berhenti
sejenak melihat istrimu apakah tidurnya terganggu. Nyatanya tidak. Ia
masih di posisi ketika tadi kau meninggalkannya di atas kasur. Masih
berselimut. Wajahnya mendongak. Kedua tangannya di sisi badan. Kakinya
lurus. Tak sedikit pun bengkok. Pulas sekali tidur istriku, pikirmu. Kau
kemudian gegas menghidupkan api kompor agar masakan itu matang sekitar
dua jam lagi karena apinya dibuat kecil saja. Pelan-pelan saja, supaya
tulangtulangnya lunak, dagingnya empuk, serta bumbu-bumbunya meresap.
Sementara itu kau berpikir untuk mengganti sarung bantal dan guling.
Kau pergi lagi ke kamar, ke ranjang. Kaulepas sarung bantalmu. Kau
tertegun menatap wajah istrimu. Wajah itu tenang, damai. Seulas
senyumnya seibarat hamparan bunga yang belum terlalu mekar. Kau
memperhatikan gambar bunga di sarung bantalnya. Bunga matahari yang
ternyata selama ini berukuran sangat besar. Hanya separuhnya yang
tampak. Setengahnya lagi terhalang topi di kepala istrimu, di mana di
dalamnya terdapat rambut yang menyedihkan.
Dulu rambut itu sangat lebat, panjang, dan juga berkilau. Istrimu
rajin mengolesinya lidah buaya bergantian dengan santan kelapa yang
telah diendapkan di dalam botol dan ditaruh di atap rumah pada malam
hari, lalu diambil sebelum ufuk menjadi orange. Tapi lebih dari setahun
ini rambut indah itu perlahan-lahan rontok. Lantai dipenuhi
batang-batang rambut. Kadang ia ada di piring berisi nasi, di dalam
gelas berisi air, dan itu membuat istrimu menangis sambil marah.
Ia akan menarik-narik rambutnya dan di tangannya tampak
helaian-helaian yang berlepasan begitu mudahnya. Kau minta izin
mengguntingnya menjadi pendek. Pendek sekali, sampai kulit kepalanya
tampak. Kini, kau melihat kepala itu ditutup topi rajut berwarna hijau.
Selain kuning, istrimu sangat suka warna hijau. Menenangkan jiwa ragaku,
katanya ketika masih sangat sehat dan ia tak terlalu peduli bila kuku
cantiknya menjadi kotor saat memindahkan batang-batang bunga ke pot yang
lebih besar.
Sewaktu perasaanmu tercabik kembali mengenang hari-hari itu, istri
yang di hadapanmu kini memperlihatkan separuh bunga matahari yang
ditutupi topinya tadi. Kepalanya sudah turun dari bantal. Dari bagian
tengah gambar bunga matahari itu melayang sebutir cahaya. Kau terkesiap,
mengiranya sesosok peri. Sosok itu kemudian mengambang di atas kasur
lalu bergerak-gerak mengitari tubuh istrimu.
Aroma ikan mas arsik: perpaduan antara bawang, kunyit,
jahet, cabai, kucai, kecombrang, asam jawa, dan kemiri menguar. Namun,
kau tidak bisa membedakan aroma apa yang paling dominan, sementara kau
berharap aroma kunyit sebagaimana diminta istrimu. Tahu-tahu istrimu
sudah mati. Ia telah mati beberapa detik ketika kau mengeluarkan tubuhmu
dari pelukannya yang sepanjang malam, di mana saat mengecup matanya kau
lupa apa ada merasakan denyutan halus di kelopak matanya.
Sejauh ini kau berusaha meyakinkan dirimu bila istrimu benar-benar
masih hidup. Kau tak membolehkan pikiran-pikiran aneh merasuki dirimu.
Kau tak terbayang bagaimana mengabari orang-orang apakah dengan cara
menjerit atau menghubungi dokter untuk memastikan denyut nadinya atau
justru mendatangi rumah-rumah tetangga?—pada jam-jam itu tak ada orang
di rumah tetangga, kecuali para pembantu yang sibuk memasak serta
mengurus rumah.
Kau kembali menengok masakan dengan perasaan seperti malam tadi saat kau sayangsayangan dengan istrimu.
“Menggambarlah di sini,” pintanya, menunjuk dada sebelah kanan.
“Kayak mau ke mana saja,” kilahmu.
“Aku serius,” ujarnya lagi yang langsung membuka kancing bajunya dan
menyuruhmu lebih cepat. Seusai kau melakukannya, ia memegangi tanganmu
agar kau membantunya berdiri di depan cermin. Ia senyum haru melihat
bercak abstrak di pori-pori kulitnya.
Di dapur itu sesekali kau memiringkan leher ke arah ranjang yang
seharusnya matamu bisa langsung menatap wajah istrimu. Tadi, kau
menurunkan gorden manik-manik yang gemerincing bila kau menyentuhnya.
Sebulan lalu kau sudah minta izin menggantinya dengan kain biasa agar
tidak mengganggu tidurnya bila kau sedang lewat. Istrimu melarangmu. Ia
bilang tak sesenti pun ada yang berubah di rumah itu meskipun ia pada
akhirnya pasti pergi.
Penutup kuali kaubuka, aroma masakan menyebar di udara. Kau mengambil
sendok, menyiram-nyiramkan airnya ke bagian yang mulai mengering.
Kauambil lagi sendok yang lebih kecil untuk mencicipi rasanya. Kau
menelannya dengan mimik yang tak menunjukkan apa-apa. Segera kaumatikan
api kompor. Kauraih periuk yang lebih besar, mengisinya air dan kembali
menghidupkan api kompor. Namun, hingga air mendidih, hingga kau
mencampurnya dengan air dingin sehingga siap dijadikan air pemandian,
kau tak kunjung menyiapkan badan istrimu. Kau, saat ini duduk menunggu
dan mulai memikirkan perasaanmu.
Di matamu basah menjalar. Kaubiarkan gerimis berubah deras tanpa
berusaha mengeringkannya dengan ujung atau kerah bajumu yang bau bumbu.
Kau justru menatap ke atas, meyakinkan itu merupakan tetes dari genangan
air di atap rumah sisa hujan semalam. Atap itu kemarin bocor. Kau
menambalnya. Sekarang kau mengatakan kepada dirimu bahwa air yang
membuat basah matamu saat ini adalah air yang berasal dari sana karena
hasil tambalanmu kurang rapi.
Kini ada yang mengetuk rumahmu. Siapa, tanyamu sambil pura-pura
mengambil handuk, piyama warna hijau, pakaian dalam. Namun seseorang
benarbenar datang.
“Taruli!”
Kau berdebar saat seseorang itu memanggil nama istrimu. Rasa-rasanya
kau mengenali suaranya yang belakangan membuat resah hatimu meski dengan
wanita itu istrimu seolah bertambah-tambah saja umurnya. Bila sudah
bertemu dengannya, wajah istrimu sedikit kemerahan. Istrimu tertawa,
maka bisa kaurasakan betapa semangatnya masih sangat menggelora.
Wanita itu sebetulnya cuma pedagang pakaian keliling. Ia kadang
mengreditkannya sehingga harus sering-sering ke perumahan. Namun ada
saja orang yang tak mau mengutang. Takut bila tiba-tiba mati, siapa yang
nanti membayar utang kita, ujar pelanggannya suatu ketika dan
pelanggannya itu: istrimu. Sedang kepada pelanggan lain yang kadang suka
mengunci rumah bila tahu jadwal ke datangannya, ia suka jengkel. Maka
wanita itu jadi sangat senang berurusan dengan istrimu. Ia mulai pandai
mengambil hati istrimu. Ia minta istrimu membuka telapak tangannya. Ia
membaca di tangan istrimu, tentu saja yang si pedagang kain katakan
adalah yang manis-manis.
Lalu dua minggu silam sewaktu mereka tampak begitu akrab
sampai-sampai istrimu mengajaknya makan siang, istrimu terkagum-kagum.
Ia, sipe dagang pakaian ini menebak pikiran istrimu dan berjanji
membawakan apa yang istrimu pikirkan itu pada kedatangan berikutnya,
yakni sekarang.
“Taruli, ada?”
Kau langsung menutup pintu setelah kebenaran tentang siapa yang
datang hari ini seolah telah disuratkan. Saat ini bukan dari matamu saja
ada basah yang leleh. Lubang hidungmu jadi beringus. Dahi dan telapak
tanganmu dipenuhi keringat dingin dan kau mulai menggigil karenanya.
“Tolong buka pintunya, Abang,” ujar si pedagang pakaian sebab memergokimu dalam keadaan berlinang air mata.
Kau mengelap mata dan berpura-pura menyalahkan debu yang terbawa
angin dari pekarangan karena di sana kelopak-kelopak bunga matahari
sedang berguguran.
“Abang, tolong buka pintunya. Taruli memesan gaun putih padaku. Ia akan memakaikannya hari ini.”
“Tidak. Kau salah,” tepismu, merasa kesal kenapa wanita itu seolah
telah meramalkan masa depan untuk istri yang teramat kaucintai.
“Taruli akan mengenakannya hari ini. Aku bisa membantumu
memakaikannya dan mendandani istrimu secantik mungkin sebelum
orang-orang datang menjenguknya,” katanya.
“Taruli tidur, tak mau diganggu.”
“Semua orang akan mati, Abang. Kebetulan saja Taruli duluan.”
Dengan pasrah kau membuka pintu, membiarkan wanita itu melakukan
tugasnya. Satu-satunya hal yang kau ingin tanya: apa istriku menunggumu
di surga? Maka dalam sekejap sebutir cahaya melayang dari masing-masing
mereka sementara kau masih memikirkan ikan mas arsik apakah akan membungkusnya atau tidak. (*)
Riau, April 2017
JELI MANALU, lahir di Padangsidimpuan, 2
Oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Cerpennya ilir mudik di berbagai
surat kabar lokal dan nasional.
Cerpen Sri Lima Ratna Ndari (Analisa, 24 Desember 2017) Sayur Daun Ubi Tumbuk ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa
MOLOmatua sogot au, ho do manarihon au.
Molo matinggang au inang, ho do namanogu-nogu au
Bila aku besok tua, kau yang memperhatikanku
Kalau aku terpeleset nak, kaulah yang menuntun aku.
Bunda Sofia hanya memiliki satu putri, yang berumur 12 tahun dan duduk di kelas 2 SLTP. Lagu Boru Panggoaran tentang
orang tua yang hanya memiliki satu harapan di hari tuanya. Lagu sangat
menyentuh hati perempuan empat puluh tahunan itu. Tak pelak air mata
sering menetes bila mengingat boru-nya. Kini telah beranjak dewasa dan semakin jarang mendapat perhatiannya sebab kesibukan pekerjaan.
Tambah lagi, surat pemutusan kontrak yang diluncurkan Provinsi tanpa
alasan. Membuat perempuan sarjana Bahasa Inggris itu semakin sering di
kantor, karena menjadi korban kebijakan pimpinan yang dinilai tidak
adil.
“Hasil evaluasi kinerja kita selama ini A. Keaktifan di lapangan juga
A. Pendidikan tidak ada masalah, TOR juga sudah terpenuhi. Jadi apa
lagi penyebabnya?” tanya Bunda Sofia pada sesama rekan yang bernasib
sama di ruangan rapat.
Kontrak seharusnya berakhir pada 31 Desember. Akan diperpanjang satu
tahun ke depan, justru diubah pihak Provinsi dengan pemutusan hubungan
kerja mulai 1 November. Berarti 2 bulan lebih awal dari perjanjian tugas
di bulan Januari tahun 2016.
“Kita ke Medan aja. Ke kantor pusat. Langsung kita tanyakkan. Gimana,
bunda?” tanya Rossi, seorang gadis dengan usia 25-an. Panggilan ‘Bunda
Sofia’ pertama kali terucap darinya dan dengan cepat diikuti oleh yang
lain.
“Kawan-kawan dari Kabupaten lain kabarnya langsung bergerak hari ini.
Kita merapat aja supaya ramai. Gak berjuang sendiri-sendiri,” usul
Kiky.
“Oke. Besok kita bergerak. Enggak ada salahnya kita bawak jugak
berkas-berkas pendukung. Seperti CV, rekomendasi pengalaman kerja dan
hasil evaluasi kinerja,” jawab Darius berubah serius. Semua setuju pada
usulnya. Dinilai lebih paham hukum karena dia memang sarjana hukum.
Bunda Sofia sebagai yang tertua menunjuk beberapa orang menjadi
kordinator dalam rangka keberangkatan ke Medan. Sekaligus menyusun
agenda yang akan dilakukan.
Ho do borukku, tappuk ni ate atekki Ho do borukku, Tappuk ni pusu pusukki
(Kau anakku perempuan, yang di hatiku yang paling dalam.
Kau anakku perempuan, yang ada di dalam hidupku.)
Sofia menendang-nendang batu kerikil pecah yang berserakan di jalan
akibat proyek pelebaran jalan Pemkot Pematangsiantar. Tak dihiraukannya
debu memenuhi udara sekitar. Berulang kali klakson kendaraan mengejutkan
langkahnya, memaksa ABG berseragam putih biru itu untuk menepi.
“Huh!”
Hanya itu perkataan yang keluar dari bibirnya. Sepertinya dia malas
menyapa dan tak ingin cepat sampai ke rumah. Sudah dua hari ini di meja
makan tak terhidang makanan kesukaannya. Sayur daun ubi tumbuk dan ikan
teri disambal dengan kacang tanah goreng. Padahal dia sudah berulang
kali meminta bunda untuk memasakkannya.
“Bunda repot, Nak, sayur bayam aja ya? Besok-besok bunda masakkan
kalok udah sempat,” jawab bunda waktu Sofia mengungkapkan keinginannya. Apa bunda gak tau aku gak sukak bayam?! Rutuknya marah.
Sesampainya di rumah, dia melepas sepatu dan meletakkan tas sekolah asal-asalan. Berlalu tanpa menyapa ayah yang terheran-heran.
“Kenapa cemberut terus boru ayah?”
Sofia tidak menjawab.
“Karena gak diajak bunda ke Medan?”
Sofia tak bergeming. Baru menyadari kalau dari pulang sekolah tidak
ada masakan bunda di atas meja makan. Hanya nasi goreng sisa sarapan
tadi pagi.
“Memangnya Bunda ke Medan ya, Yah?”
“Iya. Tadi pagi sebelum subuh udah berangkat.”
“Kok Sofia gak tau?”
“Orang tidur aja, ya gak tau lah.”
“Berarti tadi pagi waktu berangkat sekolah, bunda udah gak di rumah?” sesal remaja itu menyadari kekeliruannya.
“Bunda lagi repot, nak. Urusannya banyak,” ujar ayah.
“Urusan apa?”
Ayah menceritakan masalah pekerjaan yang sedang dialami bunda.
“Ayah… kenapa baru cerita sekarang? Kenapa gak kasih tau?”
“Boru ayah biasanya lebih duluan tau dari pada ayah kalok bunda punya masalah.”
“Biasanya… kenapa sekarang beda?”
“Bunda gak mau membuat borunya kepikiran di saat tengah ujian mid semester.”
Sofia menyeka air mata yang tiba-tiba tumpah. Rasa bersalah
menggayutinya. Pantasan bunda terlihat berlipat kali lebih sibuk dan tak
banyak bicara. Lebih awal bangun setiap malam untuk sholat tahajjud.
Sering Sofia diam-diam mendengar isak bunda di antara doa-doanya.
‘Bunda…maafin Sofia yang tidak mengerti permasalahan yang sedang bunda alami’ bunyi sms yangdikirimnya pada bunda.
Bunda Sofia menyerahkan toa pada Darius. Dia baru saja selesai
berorasi mewakili pekerja dari kabupaten Simalungun. Darius mengoper
pengeras suara tersebut kepada Daniel, orator dari kabupaten Nias
Selatan.
Hari semakin siang. Sebentar lagi matahari akan membakar jiwa. Bunda
Sofia menatap pendemo sambil mengusung spanduk bertuliskan tuntutan
kejelasan kontrak pada pihak terkait. Peluh dan keluh tumpah jadi satu.
Ada secuil pesimis mencuat di hati perempuan itu. Jumlah mereka hanya
berkisar 100-an orang. Tidak cukup banyak untuk sebuah aksi demo.
Teriakan mereka tak begitu memekakkan telinga, tak cukup menggetarkan
hati. Meskipun menggunakan toa, suara mereka tidak mungkin terdengar,
hingga ke puncak gedung dimana ruangan Pimpinan berada. Mungkin dia
pergi makan siang ke luar, acuhkan para bawahan dengan segala
tuntutannya.
Suara orator terdengar mulai serak. Yel-yel penyemangat semakin
samar. Kalah oleh deru dan desing knalpot kendaraan yang lalu lalang di
depan kantor. Tak jua satupun para pejabat berwenang yang perduli.
Wajah-wajah lelah dan penuh harap tergambar jelas di sana. Mereka
datang dari lokasi tugas yang berjauhan. Tersebar di seluruh pelosok
propinsi yang memiliki Danau terindah dan terluas di dunia. Berbeda
suku, agama dan latar belakang pendidikan. Mereka memiliki tujuan yang
sama. Memperjuangkan nasib sebagai pekerja yang dikontrak dalam sebuah
program pemberdayaan.
Suara adzhan dzuhur membuyarkan pandangan perempuan itu. Hanya Allah
tempat mengadu dan harapan satu-satunya. Dia yakin Allah akan menolong
hamba-Nya yang meminta dan mengharap.
Selesai dzuhur, pintu kantor terbuka. Mereka bersedia mediasi dan dua
orang utusan diperbolehkan menemui pimpinan. Bunda Sofia dan Darius
dipilih melalui voting kilat.
Doa dan dzikir terus dilafazkannya untuk menenangkan hati yang
bergemuruh. Beberapa lelaki yang diperkenalkan sebagai pejabat kepala
seksi telah duduk di kursi masing-masing. Setelah basa-basi pembuka
pembicaraan, mereka dipersilahkan menyatakan aspirasi.
Bunda Sofia memperhatikan dada kanan pakaian dinas mereka yang
tercantum nama lengkap dengan berbagai titel kesarjanaan. Pendidikan
tinggi sejatinya menjadikan seseorang pintar secara akademik dan
spiritual. Tau mempergunakan ilmunya untuk kemanfaatan diri sendiri dan
orang lain.
Pembicaan mereka semakin alot. Darius dengan hukum-hukum
ketenagakerjaannya. Bunda dengan teknik bicara yang lembut, namun tegas
berusaha membuka nurani para pejabat tersebut. Akhirnya mereka bersedia
menginput ulang data para pekerja sesuai dengan rekomendasi pengalaman
kerja.
“Apa yang Bunda bilang di dalam tadi? Kok lama kali Bun?” tanya Lina
begitu Bunda Sofia dan Darius kembali menemui rekan-rekan pendemo. Rossi
dan Kiky antusias mendekat.
“Ada kesalahan dalam menginput data pengalaman kerja kita, makanya
kena pemutusan kontrak. Karena dianggap tidak sesuai dengan TOR, Term Of Recruitment.”
“Aku gak pernah memasukkan pengalamanku 0 tahun. Ada filenya di
flahdiskku!” berang Lina yang paling banyak punya pengalaman kerja.
“Aku jugak!” Darius menambahi diamini oleh yang lain.
“Evaluasi kinerja kita juga bagus semua. Gak ada yang jelek. Hanya
pengalaman yang tertulis 0 tahun. Entah siapa yang menginput data
tersebut,” ujar Bunda Sofia lagi.
Wajah mereka memerah menahan emosi. Dugaan adanya manipulasi data, tidak bisa mereka buktikan secara nyata.
“Jadi, sampai kapan kita harus menunggu keputusan diperpanjang atau tidaknya!” tanya Kiky dan Rossi bersamaan.
“Kalau soal itu tidak ada disebutkan tadi. Hanya disuruh menunggu.
Sabar, hingga batas waktu yang tidak bisa dipastikan,” jawab Bunda.
“Iya, sampai kapan!” Daniel dan kawan-kawan dari Nias mulai berang.
“Berapa persen pulak kemungkinannya!”
“Kata mereka sih 80% kemungkinan bagi yang telah menyerahkan data
pengalaman kerja minimal 3 tahun untuk Diploma. Dua tahun untuk sarjana
penuh, serta 5 tahun untuk SMA sederajat,” terang Darius yang dibalas
anggukan oleh Bunda Sofia.
Tiba-tiba entah siapa yang memulai, batu-batu terlempar ke arah
gedung bercat putuh itu. Suara kaca pecah beruntun memenuhi udara.
Situasi berubah kacau dan tak terarah.
***
Sofia memetik daun ubi yang banyak tumbuh di sekeliling rumah. Memetik biji cempokak yang masih muda seperti yang sering dilakukan Bunda. Ayah mengajarinya menumbuk daun ubi dan cempokak dengan alu.
Menghaluskan bawang merah, bawang putih, cabai merah dan udang kering.
Mengupas kelapa, memarut serta memerasnya, hingga menghasilkan santan
untuk kuah sayur daun ubi.
Sofia memasak santan hingga matang. Dimasukkannya bumbu-bumbu.
Setelah itu barulah daun ubi yang sudah dihaluskan sambil terus diaduk
agar santan tidak pecah.
“Ayah rasain asinnya. Sofia gak tau,” ucap Sofia sambil mengaduk
sayur di dalam panci dengan menggunakan sudip kayu. Ayah menyendokkan
sedikit kuah ke telapak kanannya.
“Mantab!” ucap Ayah sambil mengacungkan jempol. Sofia tersenyum puas.
Memasak daun ubi menjadi sayur yang lezat sangat membutuhkan waktu dan
tenaga yang lumayan banyak. Pantas Bunda tidak sempat. Remaja itu tidak
cemberut lagi, puas telah bisa memasak sendiri makanan kesukaannya.
Bunda pasti senang pada kejutan ini.
Pematangsiantar, November 2016
Boru= anak perempuan Boru panggoaran= anak perempuan yang menjadi sebutan orangtuanya Boru sasada= anak perempuan tunggal. Alu = serupa lesung dari kayu Cempokak = rimbang (sejenis tanaman).
Cerpen Robby Julianda (Koran Tempo, 23-24 Desember 2017) Pilihan Ganda dari Tuhan ilustrasi Yuyun Nurrachman/Koran TempoPilihan Ganda Pilihlah salah satu huruf a, b, c, atau d, sesuai dengan jawaban yang Anda anggap paling benar!
Anda sedang berada di atap sebuah gedung 37 lantai, berdiri di salah
satu titik yang mempertemukan sisi gedung agar mata Anda leluasa
memandang kota di bawahnya, seolah Anda sedang memandangi miniatur kota
rancangan seorang arsitek agung: petak-petak rumah dan gedung-gedung
yang menjulang; barisan pepohonan; ratusan kendaran yang bergerak lambat
menyusuri jalan raya bercabang yang membagi pemukiman menjadi
bagian-bagian kecil; lapangan; juntaian kabel yang menghubungkan
tiang-tiang, sebuah sungai lebar yang mengalir tenang menuju laut yang
begitu jauh dari pandangan Anda, membelah kota menjadi dua bagian, serta
sebuah jembatan kukuh yang kembali menghubungkan dua bagian tersebut.
Anda memperhatikan semua itu dengan saksama hingga menimbulkan perasaan
takjub. Segalanya tampak simetris dan tertata. Lebih-lebih usai menatap
kerlip cahaya matahari yang dipantulkan air sungai dan seluruh kota
membuat perasaan tenang menghinggapi Anda untuk sejenak.
Anda kemudian merasakan keringat mengalir di dahi Anda dan tengkuk
Anda terasa panas. Anda mendongak. Matahari yang sejajar dengan kepala
membuat Anda harus mengerinyitkan mata karena silau. Tak ada awan. Hanya
hamparan langit biru yang memayungi Anda.
Tiba-tiba angin bertiup kencang. Gelombang rasa takjub dan tenang
yang menjalari Anda sebelumnya lenyap, berganti dengan rasa khawatir
kalau-kalau angin membuat Anda limbung. Andai jatuh, berapa lama waktu
yang dibutuhkan untuk sampai ke bawah? Anda bergidik memikirkannya
kemudian mundur beberapa langkah sembari melihat jam tangan. Pukul 12
tepat. Empat puluh lima menit yang lalu Anda baru saja dipecat dari
pekerjaan.
Setelah pemecatan tersebut, hal apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?
a. Mengambil ancang-ancang lalu terjun bebas dari gedung.
b. Turun lewat tangga darurat dan kembali menemui atasan Anda di salah satu ruangan lantai 29.
c. Pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.
d. Menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
Kau tiba-tiba merasa putus asa. Kau sendiri tak yakin apa yang akan kaulakukan andai Tuhan memberikan pilihan semacam itu. a. Mengambil ancang-ancang lalu terjun bebas dari gedung.
Ini bukan pilihan yang sulit sebenarnya. Kau dicampakkan dan dianggap
sudah tak berharga-apa lagi yang pantas untuk dilakukan kecuali
melompat? Andai kau melakukannya, nyaris tak ada peluang untuk hidup.
Kau mampus dan otakmu berceceran di jalanan atau trotoar-beruntung jika
seseorang mau mengumpulkannya dalam kantong plastik. Namun kau masih
mencintai kehidupan meski kehidupanmu tak bisa dikatakan bahagia. Kau
hidup sendiri dan bekerja sedari usia muda. Dua minggu lagi usiamu 46
tahun. Kau tak pernah bergonta-ganti pekerjaan, bekerja selama 21 tahun
terakhir di perusahaan yang sama sebagaimana laku seorang kekasih setia.
Semuanya bercampur aduk. Kau marah dan kecewa dan sedih dan putus asa.
Bukan karena pesangon yang diberikan tak memuaskan, namun harus terpisah
dari pekerjaan yang sudah menjadi identitasmu bukanlah perkara gampang.
Secara tidak langsung pemecatanmu sama saja dengan kematian. Aneh
memang, seseorang yang sudah mati masih mencintai kehidupan.
Bagaimanapun Tuhan masih memberikanmu pilihan yang lain… b. Turun lewat tangga darurat dan kembali menemui atasan Anda di salah satu ruangan lantai 29.
Tentu saja, kembali menemui atasanmu bukanlah demi adegan
memohon-mohon agar ia urung memecatmu dan, sambil berlinang air mata,
mengatakan pemecatan itu adalah sebuah kesalahan. Kau masih punya harga
diri. Kau mungkin melakukannya karena perasaan menyesal dan menyalahkan
diri sendiri sebab kau tak berkutik sedikit pun di hadapan atasan yang
umurnya jauh lebih muda. Kau masih ingat bagaimana ia menyambutmu di
ruangannya dengan wajah murung namun ia tak menyadari cara duduknya di
tepi meja membuat kau merasa direndahkan. Setelah basa-basi atau apalah
namanya, ia mempersilakan kau duduk.
“Bapak M. Azhar Ahmad,” ia berkata dengan suara berat sambil
mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari. “Mungkin Bapak sedang
bertanya-tanya-ada apa? Namun saya akan langsung saja. Alasan kita
melakukan pembicaraan ini adalah karena posisi Bapak di perusahaan ini
sudah tidak tersedia lagi,” ucapnya lancar. “Bapak dipersilakan untuk
pergi mencari peluang dan pengalaman baru.”
Saat itu kau serasa disambar petir.
“Saya masih tak mengerti. Dipersilakan untuk pergi maksudnya?” Kau
bertanya bukan karena tak mengerti. Kau hanya mengulur-ulur waktu.
Percuma saja.
“Ya, Bapak dipersilakan untuk pergi,” ulangnya.
“Apakah saya dipecat?”
“Sebenarnya kami tidak diizinkan menggunakan kata-kata tersebut.
Namun dengan menyesal harus saya katakan: Bapak dipersilakan untuk
pergi. Semoga Bapak mengerti mengingat situasi sekarang tak memungkinkan
kita untuk—”
Ia mulai berceloteh tentang ini dan itu dan kau hanya diam. Kau
memandangi gerak mulutnya sesekali menatap foto keluarga yang dibingkai,
sengaja ditaruh di atas meja. Selama berceloteh ia menggaruk hidungnya
delapan kali. Ketika selesai ia tak lupa mengucapkan terima kasih untuk
kerja keras dan jasamu selama ini bagi perusahaan dan selanjutnya kau
bisa melapor ke bagian administrasi mengambil uang pesangon. Ia kemudian
mengulurkan tangan dan kau menyambutnya dengan perasaan hancur dan
hasrat untuk menumbuk batang hidungnya sekaligus.
Jadi sekaranglah saatnya kembali masuk ke ruangannya, mendobrak pintu
dengan kasar kemudian melabrak meja dan melihatnya menciut ketakutan di
kursi putarnya. Selanjutnya kau bebas menyumpahi omong kosong tentang
peluang baru pengalaman baru tahi kucing yang sebelumnya ia muntahkan.
Sebelum keluar dari sana, tentu saja kau bisa melepaskan hasrat menumbuk
hidungnya lalu meraih foto keluarga bahagia atasanmu kemudian
membantingnya ke lantai atau melemparnya lewat jendela.
Namun kembali lagi ke akar masalah: Apakah semua itu akan membuat
pemecatanmu dibatalkan? Yang kaudapati mungkin dua orang petugas
keamanan sedang memitingmu.
Bagaimanapun Tuhan masih memberikanmu pilihan yang lain… c. Pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.
Pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa
akan membuatmu menjadi seorang pecundang yang paling pecundang. Kau
sudah cukup dipermalukan istrimu ketika delapan tahun yang lalu ia lebih
memilih laki-laki lain. Awalnya rumah tangga kalian baik-baik saja dan
kalian saling mencintai. Namun setahun sebelum ia angkat kaki dari
rumah, kalian lebih sering bertengkar daripada bercinta.
Permasalahannya: istrimu tak bahagia sebab belum memilki anak. Padahal
sebelum-sebelumnya ia tak pernah mempersoalkannya.
“Tolong hentikan tatapan itu.” Kata-kata itu selalu meluncur ketika obrolan mulai memanas dan pertengkaran segera dimulai.
“Tatapan apa?”
“Tatapan itu. Tatapan ini-semua-salahmu itu.”
“Jadi ini semua salahku?” balas istrimu. Ia langsung berada di atas
angin. Lidahmu kelu sebab semua memang kesalahanmu. Kau mandul.
Sekarang istrimu hidup bahagia dengan laki-laki yang tak pernah
kauketahui bentuk wajah atau potongan rambutnya-kabarnya mereka
dikaruniai seorang anak perempuan. Andai saja kau tahu siapa laki-laki
itu, pikirmu geram. Geram. Hanya sebatas itu. Kau tak pernah mencari
tahu mengapa istrimu berubah setahun sebelum meninggalkanmu lantaran
seluruh perhatianmu disedot oleh pekerjaan. Dalam hati kau pun agaknya
mengakui, terlepas dari masalah kejantanan, kalau kau sebenarnya seorang
lelaki lemah. Jika tidak demikian, kau mungkin sudah mencari tahu
tentang laki-laki itu dan menghajarnya hingga babak belur. Setelahnya
mungkin kau menghabiskan tiga empat bulan di penjara sembari berdoa
sipir penjara tidak menggilirmu setiap malam.
Mungkin memang ada baiknya bagimu pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.
Kini kau tak terikat lagi dengan pekerjaan sehingga memiliki banyak
waktu untuk anjing peliharaanmu. Manis, begitu kau memanggilnya. Seekor
anjing golden retriever warna cokelat pudar dan putih pada bagian leher
dan kakinya. Manis kaubeli setelah istrimu pergi. Harga yang mahal untuk
mengusir kesepian.
Kau dan Manis bisa jalan-jalan setiap sore. Menyusuri bantaran sungai
atau duduk di bangku taman sembari menanti matahari tenggelam. Bisa
jadi, di sela-sela jalan sore kalian, kau akan bertemu dengan seorang
perempuan. Kau tahu, perempuan selalu tertarik dengan laki-laki yang
memelihara anjing. Namun kau kembali mengingat kesalahanmu: urusan
kejantanan.
Anggaplah menghabiskan banyak waktu dengan Manis membuat kau lebih
bahagia. Namun apa yang akan terjadi setelah uang pesangonmu habis,
pikirmu. Di umurmu yang sekarang, kau tak akan mendapatkan pekerjaan
seperti sebelumnya. Mustahil untukmu kembali bekerja di kantoran. Kau
bahkan akan ditolak mentah-mentah menjadi penjaga toko karena pemilik
toko hanya butuh anak-anak muda penuh semangat dengan penampilan menarik
dan kuat dan sarjana. Kemiskinan dan kesendirian dan masa tua membuatmu
takut setengah mati.
Dan sekarang kau masih berdiri. Menatap nanar ke arah kota di bawahmu yang sebelumnya membuatmu takjub.
Bagaimanapun Tuhan masih memberikanmu pilihan yang lain… d. Menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
Tetapi… bagaimana mungkin kau menyerahkan semuanya kepada Tuhan sedang Tuhan sendiri memberikanmu pilihan?
Sungai Landia, 2017
*) Bentuk dari cerpen ini dikembangkan dari tulisan Eko Triono, “Cerita dalam Ulangan Harian Kita.”
Robby Julianda lahir pada 1991 dan sekarang menetap di Nagari Sungai Landia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.