Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Oleh Pupuy Hurriyah (Kompas, 03 Desember 2017) Lihat Kebunku ilustrasi Regina Primalita/Kompas
SETIAP kali Hilma hendak pulang dari rumah Nenek di Desa Pingku,
Parung Panjang, Bogor, Nenek selalu memberi oleh-oleh berupa tanaman.
“Ini untuk ditanam di kebun rumah,” begitu ucap Nenek.
“Tanaman di kebun rumah sudah banyak, Nek. Ibu menanam banyak bunga di kebun,” jelas Hilma.
Nenek tersenyum. “Tetapi, tanaman seperti ini belum ada di kebun rumah, bukan?”
Lagi-lagi Hilma mengangguk. Setiap kali Nenek memberikan tanaman, pasti tanaman itu memang belum ada di kebun rumah.
“Tanaman Nenek langka-langka, deh.” Hilma mengingat-ingat beberapa
tanaman yang pernah Nenek berikan. Ada kumis kucing, daun jarak pagar,
daun sirih, serai, daun pandan,dan daun mangkokan.
“Untuk itu, kita memang harus membudidayakan tanaman langka tersebut,
Hilma. Agar tidak punah,” jelas Nenek yang kali ini memberikan tanaman
lidah buaya.
“Tapi, bentuk tanaman langka tidak menarik, Nek.” Hilma menggerakkan
bahu. “Tidak seperti tanaman bunga anggrek, bunga matahari, atau bunga
mawar. Tanamannya berwarna-warni cerah.”
“Ya, memang seperti itu adanya,” senyum Nenek. “Tetapi, tanaman
langka itu mempunyai banyak manfaat untuk macam-macam keperluan.”
Hilma mulai tertarik. “Manfaatnya untuk apa saja, Nek?”
“Lihat tanaman lidah buaya ini,” kata Nenek. “Nah! Tanaman yang
memiliki daun panjang dengan daging daunnya yang tebal ini bermanfaat
untuk menyuburkan rambut. Caranya daun tebalnya dibelah lalu dioleskan
pada kulit rambut.”
“Wah! Asyiiik, dong. Nanti di rumah Hilma coba pakai lidah buaya agar rambut Hilma tebal,” ujar Hilma senang.
Saat Hilma sudah pulang ke rumahnya di Jakarta, Hilma baru menyadari,
ternyata keluarganya selama ini sangat merasakan manfaat dari
tanaman-tanaman langka pemberian nenek yang ditanam di kebun rumah.
Sekarang, Ibu tidak pernah lagi membeli obat pembasmi nyamuk. Karena
tanaman serai yang ada di kebun rumah bermanfaat sebagai obat pengusir
nyamuk. Ibu memotong batang-batang sereh menjadi potongan-potongan
kecil, lalu ditempatkan pada mangkuk-mangkuk kecil di setiap ruangan.
Hmm, ruangan menjadi aman dari nyamuk.
“Hilma, tolong ambilkan dua lembar daun pandan. Ibu mau buat bubur kacang hijau,” ujar Ibu di sore hari itu.
Hilma manggut-manggut sendiri. Untung ada tanaman daun pandan di
kebun rumah. Jadi bubur kacang hijau buatan Ibu menjadi sedap beraroma
daun pandan, gumamnya dalam hati.
“Lihat Kebunku….” Hilma bersenandung saat hendak memetik daun pandan
di kebun rumahnya. Ia merasa kebun rumahnya terasa lebih indah. Sebab di
sana, aneka tanaman hias bersanding dengan tanaman langka yang penuh
manfaat.
Cernak Fery Yanni (Suara Merdeka, 03 Desember 2017) Anak Wali Kota ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka
Hari ini Reza datang terlambat, padahal bel tanda masuk sudah lama
berbunyi. Pelajaran pun sudah dimulai sejak tadi. Dengan santai Reza
berjalan masuk kelas tanpa mengetuk pintu, mengucap salam, ataupun
meminta izin duduk. Reza berjalan menuju bangkunya.
“Reza, mengapa tidak mengetuk pintu atau mengucap salam?” tegur Pak Guru melihat Reza yang langsung nyelonong masuk kelas saja.
“Memangnya kenapa?” tanya Reza balik dengan sikap menantang.
“Harusnya kamu mengetuk pintu dan mengucapkan salam dulu sebelum masuk kelas,” jawab Pak Guru dengan sabar.
“Bapak ingin saya hormati? Emang Bapak ini siapa? Bapak tidak kenal
saya? Saya ini anak wali kota. Jadi saya bebas melakukan apa saja yang
saya mau!” ucap Reza dengan congkaknya.
Pak Guru, yang termasuk guru baru di sekolah ini, menghela nafas dan
memilih diam daripada terjadi ribut-ribut di kelas. Pak Guru tidak mau
timbul masalah. Pak Guru adalah guru baru, jika timbul masalah dengan
anak wali kota ini, bisa-bisa dirinya akan dipecat. Dan Reza dengan
angkuhnya duduk, namun tidak mau mengikuti pelajaran dengan serius.
Bahkan Reza menolak mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan oleh
Pak Guru.
Saat istirahat, Reza ingin jajan di kantin. Rupanya antrean anak-anak
yang ingin jajan sudah banyak. Dan seharusnya Reza juga harus
mengantre. Namun…
“Hei! Minggir!” Reza mendorong seorang anak yang sedang mengantre paling depan hingga anak itu terjatuh.
“Reza, apa-apaan, sih? Antre, dong! Jangan main dorong saja!” seorang anak menegurnya.
“Eh, kamu berani, ya? Kamu tidak tahu siapa aku? Aku ini anak wali
kota. Jadi kamu jangan berani macam-macam, ya!” kata Reza marah-marah.
Dia tidak menyangka ada yang berani sama dirinya. Padahal dia kan anak wali kota.
Sambil mengangkat dagunya, Reza melangkah meninggalkan anak-anak lain yang menggerutu.
“Minggir!”
Lagi-lagi Reza yang sedang kesal karena ada seorang anak yang berani
melawannya di kantin tadi, menyeruak mendorong anak-anak yang ada di
pintu kelas karena dia ingin masuk ke kelas. Tentu saja ini membuat
anak-anak lain marah-marah. Tapi lagi-lagi Reza menyombongkan diri
karena dirinya anak seprang wali kota yang membuat anak-anak lain
langsung terdiam.
***
“Hei!Pak Wali Kota datang!”
Seru anak-anak ketika melihat Pak Wali Kota berjalan memasuki ruangan kepala sekolah.
“Nah, ayahku datang. Kalian akan tahu sendiri akibatnya, karena
selama ini kalian berani sama aku,” Reza tertawa penuh kemenangan.
Tak lama kemudian, Ibu Guru memanggil Reza karena ditunggu Bapak Kepala Sekolah dan Bapak Wali Kota.
Dengan langkah mantap dan tersenyum bangga, Reza berjalan menuju
ruang kepala sekolah. Dia merasa bahwa ini adalah saatnya mengadukan
pada ayahnya tentang sikap teman-temannya selama ini.
Di ruang kepala sekolah, tampak Bapak Kepala Sekolah, Bapak Wali Kota, dan Pak Guru sudah menunggu.
“Ayah! Akhirnya ayah datang juga. Lihat! Semua bersikap seenaknya
sendiri pada Reza…” Reza langsung mengadu. Bapak Kepala Sekolah dan Pak
Guru langsung melotot.
“Reza, Ayah sudah tahu semua yang terjadi. Kamu seharusnya tidak
boleh bersikap seperti itu. Kamu memang anak wali kota, tapi bukan
berarti kamu bisa bersikap seenaknya sendiri. Kamu tetap harus disiplin
dan sopan. Ingat itu!” kata Bapak Wali Kota panjang lebar.
Reza hanya bisa menunduk.
“Sekarang kamu harus minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi!” perintah Bapak Wali Kota.
“Tapi, Yah…” Reza sudah mau protes.
Tapi melihat tatapan tajam dari ayahnya, akhirnya Reza meminta maaf
kepada Bapak Kepala Sekolah dan Bapak Guru, serta berjanji akan mengubah
sikapnya menjadi lebih baik. Dan dia juga akan meminta maaf kepada
teman-temannya. Dia tidak akan bersikap sombong lagi terhadap
teman-temannya. (58)
Cerpen Hayu Hamemayu (Media Indonesia, 03 Desember 2017) Penjual Bunga di Clemenstorget ilustrasi Media Indonesia
“Hhhh hhhh hhhh,” aku berlari terengah-engah menuju tempat
pemberhentian bus. Dan saat itulah lagi-lagi aku melihat dia. Dia yang
selalu tersenyum setiap kali mata kami bertemu. Dia yang selalu menyapa
“hej hej ” setiap pagi saat aku terburu-buru mengejar bus dan melewati
kiosnya. Begitu terus setiap hari. Tak peduli aku balas tersenyum atau
tidak. Tak peduli aku membalas sapaannya atau tidak. Awalnya aku risih.
Aku tak merasa mengenalnya. Tapi lama-lama aku terbiasa. Dan sekarang
senyum dan sapaannya sudah menjadi bagian dari keseharianku.
Dialah salah satu dari dua penjual bunga yang ada di Clemenstorget.
Kiosnya berada lebih dekat dengan jalan raya. Karena itu jadi lebih
sering kulewati daripada kios yang satunya. Aku tak pernah tahu siapa
namanya atau kapan dan dari mana dia datang. Setiap kali aku melewati
area itu untuk berangkat kerja, dia sudah duduk manis di belakang
puluhan ember berisi bunga-bunga segar. Kadang mawar. Kadang lili.
Kadang tulip. Tergantung musim. Dia juga masih duduk di situ ketika aku
pulang. Kadang bunga yang dijualnya tak banyak bersisa. Kadang
ember-ember berisi bunga itu tampak tak mengalami banyak perubahan. Dia
tetap berjualan ketika salju atau hujan turun. Juga ketika angin
bertiup kencang mengacak-acak tenda kiosnya. Dia tetap duduk di sana.
Tersenyum manis dan menyapa “hej hej.”
Menurutku dia sudah berjualan di Clemenstorget sejak lama. Minimal
dia sudah ada di sini saat aku pindah enam bulan lalu. Kalau dilihat
dari perawakan dan penampilannya yang khas (dia selalu mengenakan tutup
kepala warna biru), aku menebak dia orang Roma, yang memang cukup banyak
jumlahnya di sini. Aku sendiri belum pernah membeli bunga darinya. Aku
tak merasa perlu menaruh bunga di apartemenku. Demi apa? Aku toh bukan
penggemar bunga juga. Membeli bunga tidak pernah menjadi prioritasku.
Ketidaksukaanku pada bunga barangkali sedikit banyak dipengaruhi oleh
karakter dasarku yang tidak hangat. Selama ini aku memang dikenal
sebagai “si dingin”. Aku tak mudah bergaul. Cenderung penyendiri. Sinis
pada banyak hal. Aku juga tak pandai mengekspresikan perasaan. “Your
face needs deliverance,” kata seorang rekan padaku suatu ketika. Aku
bukan tipe orang yang murah senyum. Apalagi ramah dan suka menyapa. Sama
sekali tidak seperti si penjual bunga itu.
Aku sendiri tak tahu apakah penjual bunga itu hanya menyapaku saja.
Atau dia begitu ke semua orang. Tapi jujur, senyum dan sapaan yang
secara konsisten dia berikan padaku setiap hari pelan tapi pasti mulai
mengubahku. Entah sejak kapan, aku jadi balik menyapanya lebih dulu,
atau melemparkan senyuman lebih dulu. Awalnya karena aku merasa tak
enak. Lama-lama karena aku merasa itu hal yang baik untuk dilakukan. Dan
aku mulai melakukannya tidak hanya pada si penjual bunga di
Clemenstorget, tapi juga pada rekan-rekan di kantor. Pada sopir bus yang
kutemui. Pada penumpang di sebelahku. Hal yang dilakukan oleh penjual
bunga di Clemenstorget itu terasa seperti virus yang menular. Aku
seperti terkena energi positif untuk melihat kehidupan dengan lebih
banyak senyuman. Aku mulai jarang mengeluh. Aku mulai melihat sisi baik
dari hampir setiap hal. Entahlah. Aku merasa tidak pantas mengeluh saja.
Tidak setelah aku pulang kerja dan mendapati si penjual bunga tetap
tersenyum ramah meski dagangannya tak laku. Aku merasa tak tahu diri.
Untuk merutuki sepatu baruku yang basah, misalnya, sementara si penjual
bunga di Clemenstorget itu hanya mengenakan sepatu boots yang sama,tak
peduli hari sedang hujan, panas, atau bersalju.
Di kantor aku tak lagi dikenal sebagai “si dingin.” Aku mulai bergaul. Bahkan mulai mengiyakan ajakan party dari rekan-rekan kantor yang biasanya kuhindari.
“Nah gitu dong, live a life a little bit,” ujar salah satu dari mereka.
Aku hanya tersenyum. Akhir-akhir ini aku memang suka tersenyum. Aku
suka sensasi di wajahku yang tertarik ketika mulutku membentuk sebuah
senyuman. Rasanya seperti ada yang diregangkan di wajahku yang kaku. Dan
itu terasa menyegarkan. Mungkin benar kata orang. Senyum itu olahraga
untuk muka. Sebelum ini, aku tidak menyadari betapa sebuah senyuman bisa
terasa menyenangkan. Masa laluku memang tak memberiku banyak kesempatan
untuk tersenyum. Seringnya,aku justru merasa hidup tak adil padaku.
Lahir tanpa keluarga dan terdampar di negeri asing sebagai lone refugee
(pencari suaka yang datang sendirian) sejak enam belas tahun yang lalu
membuatku lebih suka mengerutkan dahi daripada tersenyum. Tak heran
wajahku jadi lebih tua dari usiaku yang sebenarnya. Awalnya aku juga
merasa hidup ini tak layak untuk disenyumi. Manusia-manusia egois di
mana-mana. Perang. Pemanasan global. Rasisme. Apa yang pantas dari semua
itu untuk dihadiahi senyuman? Tapi sejak hari si penjual bunga di
Clemenstorget rutin memberiku senyuman, aku berubah pikiran.
Barangkali hidup memang tidak sempurna. Barangkali dunia memang sudah
bobrok. Tapi aku tak perlu memperparah kebobrokan itu dengan menjadi
orang yang menjengkelkan. Barangkali aku justru bisa memperlambatnya
dengan menjadi orang baik. Orang yang menyenangkan. Orang yang murah
senyum. Seperti penjual bunga di Clemenstorget itu. Kalau benar semua
orang di dunia ini punya peran dalam kehidupan dan bahwa setiap hal yang
kita lakukan, seberapa pun kecilnya itu, berpengaruh pada dunia, maka
kupikir menjadi orang yang menebar senyum pastinya lebih berkontribusi
positif bagi dunia daripada menjadi penggerutu sepertiku dulu.
Begitulah. Dalam enam bulan ini aku telah berubah. Kadang memang
dibutuhkan orang lain sebagai cermin untuk melihat ke dalam diri kita
sendiri. Aku membutuhkan seorang penjual bunga di Clemenstorget untuk
melihat betapa kaku hidupku selama ini. Penjual bunga yang secara
konsisten menebarkan pesan yang sama. Semua orang heran melihat
perubahanku. Beberapa dari mereka bertanya dengan setengah curiga. Yang
tentu saja kujawab dengan klise: “People change.” Bahkan ada yang
menebak bahwa aku sedang jatuh cinta. Aku hanya tergelak ketika
mendengarnya. Tapi mungkin dia benar. Aku memang sedang jatuh cinta,
jatuh cinta pada kehidupan. Dan itu semua gara-gara penjual bunga di
Clemenstorget. Penjual bunga yang selalu tersenyum dan menyapa “hej
hej”.
***
“Jadi, begitu yang bisa saya usulkan?” kataku menutup pemaparanku tentang rencana strategis pengembangan kantor.
Hari ini aku memang ada rapat penting. Salah satunya membahas tentang
strategic planning untuk awal tahun depan dengan direktur regional yang
terkenal perfeksionis. Aku terpaksa menggantikan kepala divisiku yang
sedang cuti sakit. Tentu saja aku dan rekan-rekan setimku sempat
khawatir rencana ini akan diterima dengan kurang baik. Apalagi ini
pertama kalinya aku memegang kendali. Tapi tak disangka respons semua
orang, termasuk si direktur regional, cukup positif. Memang ada revisi
di sana-sini tapi minor, selebihnya rencana ini bisa segera masuk tahap
implementasi.
“Hebat kamu ya, bisa meyakinkan si bos perfeksionis!” kata salah satu rekan timku begitu kami selesai rapat.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman.
“Mungkin gara-gara kamu murah senyum sekarang, jadi si bos pun luluh,” timpal rekan yang lain.
Kami semua tertawa.
“I like the new you, by the way,” tambahnya.
“Hahaha, thanks,” balasku. Dalam hati aku membatin, “I like the new me too.”
Di luar sana hari mulai petang. Aku membereskan meja dan isi tasku
lalu bergegas pulang. Seperti biasa, aku naik bus lalu turun di
pemberhentian dekat Clemenstorget. Dari kejauhan, tampak tutup kepala
warna biru milik si penjual bunga. Bahkan dari jauh begini aku sudah
bisa merasakan aura hangat dari senyumannya. Aku melewatinya sambil
memberikan senyuman terbaikku. Dia pantas mendapatkannya setelah apa
yang diberikannya padaku selama ini.
“Hej hej” sapaku lebih dulu.
“Hej,” balasnya. Lagi-lagi sambil tersenyum.
Aku melirik ember-ember berisi bunga di depannya. Sepertinya tak
banyak yang laku hari ini. Aku melangkah dengan perasaan iba. Setelah
beberapa langkah,baru aku tersadar bahwa selama ini aku belum pernah
melakukan sesuatu untuk si penjual bunga itu. Sesuatuyang seharusnya
sudah kulakukan dari dulu.Segera kubalikkan langkah kembali ke arah kios
si penjual bunga.
“Hej hej,” dia langsung menyapa lagi begitu aku mendekat.
“Hai. Aku mau membeli tulip yang oranye itu,” kataku sambil menunjuk
satu buket bunga tulip warna oranye di ember. Persis di depannya. Aku
sendiri tak tahu mau kuapakan bunga itu nanti. Sepertinya aku juga tak
punya vas di apartemen. Tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk si
penjual bunga itu. Dan tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain
melarisi dagangannya.
“Okay, 59 kronor,” jawabnya kemudian.
Tapi tak ada gerakan. Penjual bunga itu tetap diam saja, tak berusaha
meraih bunga tulip di hadapannya. Aku mendongak untuk menatap wajahnya.
Matanya tak berkedip. Sementara bibirnya menyunggingkan senyum yang
sama. Saat itulah aku sadar, ternyata dia buta. Penjual bunga di
Clemenstorget yang setiap pagi menyapaku ramah itu, yang selama ini
mengajariku untuk tersenyum, ternyata tak bisa melihatku.
Cerpen Desy Arisandi (Jawa Pos, 03 Desember 2017) Raidah Kawin! ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
Raidah kawin! Geru suara sumbang di Dusun Ulak mendengar Raidah akan
kawin. Ya, Raidah. Gadis berkerudung yang tahunya mengaji dan memandikan
neneknya yang lumpuh. Mana mungkin Raidah kawin? Tak ada laki-laki yang
mengenalnya begitu dalam. Paling-paling Jaff ar. Itu pun Raidah sering
menolak jika bujang tua itu mengajaknya menonton layar tancap di Laman
Kapuk. BERITA pernikahan Raidah begitu menghebohkan. Tidak
di sungai, di sawah ataupun di surau. Penduduk kampung sibuk
bernyinyir-ria, membincangkan (menggunjingkan, lebih tepatnya) Raidah
yang akan menikah di bulan yang diapit oleh dua hari raya: Idul Fitri
dan Idul Adha.
Ya, pantang bagi penduduk kampung menikah di bulan itu. Bala akan
mengiringi pernikahan, begitu yang diimani. Maka, banyak cibiran
sekaligus rasa menjura (yang tentu saja tak ditampakkan) mengarah pada
Raidah. Alangkah nekatnya Raidah dan calon suaminya; hendak melumat buah
simalakama yang menjuntai di antara dua hari raya! Orang-orang juga
khatam tentang ini: Bila bukan sang istri, suamilah yang akan meregang
nyawa! Sungguh, bergidik seluruh bulu yang tumbuh di sekujur tubuh,
membayangkan hal itu.
Ya ya ya, apalagi Raidah tak begitu jelas pada sosok calon suami yang
akan mendampinginya. Ia mengenal Rahman tatkala ia masih mengajar
mengaji di surau setiap usai magrib. Hanya itu. Perkenalannya dengan
tukang ojek yang mangkal di simpang dusun sebelah itu dapatlah dikatakan
kebetulan. Ketika hendak memarkirkan sepeda motornya di laman surau
karena didesak hajat ingin buang air kecil, tak sengaja Rahman menoleh
ke dalam surau. Matanya menangkap sosok seorang gadis berkerudung di
sana. Rahman pun tak terlalu memanjangkan tatapan. Selain karena kantung
kemihnya mendesak untuk dikosongkan, ia pada dasarnya juga bukanlah
lelaki pemuja wanita berkerudung. Apalagi dari pandangan selintas lalu
itu, paras Raidah tidaklah dapat dikatakan cantik –walau tak dapat pula
dibilang buruk.
Setelah menunaikan hajatnya, Rahman menyalakan sepeda motornya. Suara
knalpot yang kasar memekakkan telinga. Merasa kenyamanan mengajarnya
terganggu, Raidah setengah berlari ke sumber polusi suara.
Dasar tukang ojek, hardiknya dalam hati. Takkan ada perempuan yang
sudi dengan tukang ojek yang berperangai macam itu, gerutunya lagi.
Ternyata itu bukan kali terakhir Rahman numpang buang air kecil di
surau tempat Raidah mengajar. Dan itu sebenarnya bukan masalah bagi
Raidah. Hanya saja ia tak dapat menerima kebisingan yang ditimbulkan
suara knalpot ketika Rahman menyalakan sepeda motornya. Karena sudah tak
tahan, Raidah pun sengaja menunggu si tukang ojek di malam berikutnya.
Sepeda motor beserta si pengendara yang ditunggu-tunggu tiba. Raidah
menunggu hingga Rahman menunaikan hajatnya. Dengan perasaan dongkol,
Raidah mendatangi Rahman yang baru saja hendak mengengkol pedal sepeda
motornya. Seumur hidup, gadis itu belum pernah bertatap muka dengan
laki-laki selain Jaffar yang hanya menunggu di depan pintu pagar
rumahnya.
Dengan dada bergemuruh, Raidah meminta Rahman tidak menganggu kenyamanannya mengajar.
“Lha, ini motor, motor saya!” Rahman membuang muka.
Mendengar jawaban yang tidak bersahabat bahkan terkesan kurang ajar
itu, Raidah membelalak. Dengan suara berdesis, Raidah berdoa agar
laki-laki tukang ojek itu diberi azab yang setimpal.
Rahman cuma nyengir seolah mengejek kata-kata Raidah. Dengan senyum
sinis Rahman menyalakan mesin sepeda motor sebagaimana biasanya. Asap
knalpot menutupi wajah Raidah.
Sungguh susah payah Raidah menahan onak di dadanya tak melukai
perasaannya, tapi tak bisa. Air matanya tumpah jua. Ia malu dilihat
anak-anak didiknya yang mematung menatapnya. Bersicepat Raidah menyeka
air matanya dengan ujung kerudung. Tak berselang lama, ia sudah
mengibaskan sebelah tangannya ke arah belakang. Seolah memahami bahasa
tubuh itu, anak-anak gegas balik badan, kembali bersimpuh di permadani
surau yang lusuh, menekuri Juz Amma dengan khusyuk, seolah mereka tak melihat kejadian barusan.
Sakit hati Raidah tak jua hilang. Tiap tengah malam ia bangun,
mengabaikan hawa dingin yang menusuk-nusuk. Entah apakah ia yang terlalu
perasa atau memang Rahman yang keterlaluan, peristiwa tempo malam telah
membuat gelisah betah menyambanginya. Ia mengadu tentang rasa sakit
hatinya pada Sang Khalik usai memohon kesembuhan neneknya. Ia tahu
doanya perihal laki-laki itu adalah doa yang mengancam sekaligus
berlebihan. Tapi ia pun tak kuasa berdamai dengan sakit hatinya. Apakah Tuhan juga mengurus perihal remeh seperti ini, Raidah tak peduli. Apakah Tuhan akan mengabulkan doa yang lahir dari dendam yang salah, ia juga tak peduli.
Raidah tak pernah tahu. Dari balik korden kamar, kadang neneknya
menatap Raidah dengan heran. Bukan pada salat malamnya, tapi pada air
mata yang selalu memandikan wajahnya. Ya, salat malam bukanlah hal yang
jarang Raidah lakukan. Tapi, sungguh, neneknya tak pernah melihat Raidah
berdoa dengan air muka seperti itu. Geram dan penuh dendam!
***
SABAN subuh, dengan sabar Raidah mengguyur air yang
ia timba usai tahajud, ke tubuh neneknya yang renta; kepala yang seluruh
rambutnya sudah memutih, bibir yang gigil, kulit keriput yang
menyelaputi tulang. Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya senyum
yang kadang bertabrakan atau gerakan mata yang sesekali bersitatap. Ada
kasih sayang yang tak dapat diterjemahkan dengan kata-kata antara dua
orang yang saling menyangga; seorang gadis yatim piatu yang penurut dan
seorang nenek yang menjadi penanda riwayat nasab.
Usai mandi, Raidah membopong sang nenek ke kamar. Raidah menyisir
rambutnya, menyarungkan pakaian ke tubuh rentanya, dan menyiapkan air
hangat kuku dengan sepotong bipang (sejenis roti yang terbuat
dari ketan) sebagai pengganjal perut di pagi hari. Hati Raidah miris,
sudah hari ketiga neneknya hanya menikmati bipang. Potongan bipang hari ini adalah yang terakhir yang ia siapkan. Raidah menelan ludah. Bergegas ia menuangkan air hangat kuku ke bipang itu lalu menyuapi neneknya. Sedikit demi sedikit. Penuh sabar, cinta, pengabdian, dan doa yang terus memanjang.
Pagi ini Raidah mencoba berjalan ke kebun. Ia pikir, sudah ada
beberapa ubi yang dapat di panen. Dengan semangat ia memasuki kebun
warisan orang tuanya itu. Dari kejauhan, tampak pucuk-pucuk ubi
kehijauan menyambut matanya. Raidah bersyukur seakan menemukan harta
karun. Telah tiga hari ia dipecat Mang Kardi yang menuduhnya mencuri
gabah. Mengingat itu, hati Raidah pedih. Ingin sekali ia mengatakan
bahwa yang mencuri gabahnya adalah Ujang, anaknya sendiri, ketika gabah
sedang dijemur. Tapi Raidah tak kuasa karena Ujang mengancamnya. Ia
hanya pasrah. Sudahlah. Tak ada gunanya mengingat itu. Mang Kardi juga
sudah telanjur menuduhnya.
Dengan senyum tersungging, Raidah mencabut ubi-ubi yang tampak
bernas. Tak luput pucuk daun turut serta dipetiknya. Raidah tampak puas.
Beberapa ubi akan dijualnya pada Wak Odah, penjual tapai di ujung
kampung. Ia akan membelikan roti kacang yang lembut untuk neneknya.
***
JANGKRIK mulai bernyanyi, Raidah bersiap pergi ke
surau. Nenek tampak lahap menikmati roti kacang yang dibelinya. Raidah
pamit di telinganya yang sudah pekak. Dengan bernyanyi kecil, Raidah
menikmati ayunan kakinya yang terasa ringan. Kepedihan hidupnya tak
menyurutkannya untuk terus bersyukur.
Sesampai di surau, Raidah terkejut. Semua anak didiknya hanya duduk
di beranda surau. Dari bibir-bibir mungil mereka, semua mengadu ada
pemuda yang sedang tidur di dalam surau. Segera saja Raidah memasuki
surau.
Pemuda itu lagi! Pemuda itu terbaring dengan berbantalkan jaket
kulitnya. Ingin Raidah berteriak mengusir pemuda yang membuatnya sakit
hati dengan deru motornya yang memekakkan telinga itu, namun yang ia
lakukan justru sebaliknya. Dengan perlahan ia membangunkan pemuda itu.
Mata anak didiknya menatap Raidah seakan memberikan kekuatan untuk
membangunkannya. Tetapi pemuda itu hanya diam tanpa membalikkan
tubuhnya. Raidah semakin kesal. Dengan suara agak keras, ia menegurnya.
Mendengar itu, pemuda itu terbangun dengan agak terkejut.
“Hei, kamu!” serunya sambil tangannya menunjuk ke arah wajah Raidah.
Raidah terkejut. Ia mundur selangkah. Rahman dengan tidak sopan
berdiri dan menghardik Raidah yang sedang berjuang melepas rasa
takutnya.
“Beraninya kamu membangunkanku!” hardiknya.
“Kami ingin mengaji di sini. Kalau kamu ingin tidur, jangan di sini!”
Rahman mengibaskan tangannya ke muka Raidah kemudian berlalu meninggalkan sebongkah luka di hati perempuan itu.
Anak-anak menunggu reaksi Raidah. Mereka kehilangan semangat mengaji
melihat Raidah menyapu lantai dengan wajah tertunduk. Dengan setengah
terisak, Raidah menutup malam itu tanpa lafaz hamdalah.
***
SUDAH sebulan ini surau tenang. Tak ada lagi suara
knalpot memekakkan telinga. Raidah bersemangat menjejakkan kakinya ke
surau. Ia terpaku. Tampak Rahman yang sedang menyapu halaman surau.
Anak-anak mengaji duduk berbaris menyaksikan pemuda yang berusaha
beramah-tamah namun tak dihiraukan. Melihat Raidah, Rahman menghentikan
kegiatannya dan berusaha tersenyum dengan menampakkan luka parutan
berupa codet yang hampir memenuhi separo wajahnya. Raidah bergidik. Tak
nampak lagi kesan garang yang selama ini bergelayut di wajahnya.
Semuanya hilang, berganti dengan wajah memelas. Ketika berpapasan
dengan Raidah, Rahman mengeluarkan kata maaf. Lagi-lagi Raidah
terkejut. Rasanya tak mungkin bisa ia memaafkan pemuda yang menorehkan
luka di hatinya.
Bergegas Raidah berlalu sambil mengajak anak-anak untuk mengaji ke surau. Giliran Rahman yang tertunduk menahan malu.
Rasakan apa yang aku rasakan selama ini, jerit Raidah dalam hatinya.
Ternyata tak cukup sekali pemuda itu menemuinya. Ia terus datang
hingga Raidah tak mampu lagi menghitungnya. Hati Raidah tertutup sudah
untuk memaafkannya. Hingga di suatu malam, Raidah melihat keramaian di
rumahnya. Senyum lebar yang jarang ia lihat di wajah keriput neneknya
pun membuatnya gembira seketika. Tawa riuh perempuan-perempuan paro baya
memenuhi ruang tamu yang pengap.
Dengan dada berdebar, Raidah mengucapkan salam. Semua orang
menatapnya. Raidah terkejut. Sepasang mata menatapnya, tajam namun penuh
harap. Pemuda itu datang membawa kedua orang tuanya. Pemuda itu hendak
melamarnya. Raidah gugup, bagaimana mungkin ia menikah dengan pemuda
yang selama ini didoakannya untuk tidak selamat dunia-akhirat!
Melihat Raidah tercenung, nenek melambaikan tangan agar ia mendekat.
Raidah, dengan menundukkan badannya, melewati mata tetamu. Nenek
mengatakan kalau ia menginginkan Raidah menikah dengan Rahman yang
begitu baik.
“Tadi ia menyuapi Nenek dengan satu mangkok bubur kacang hijau. Dia sangat baik,” ujar nenek dengan mata berbinar.
Raidah menitikkan air mata. Alangkah cepat hati nenek luluh hanya
dengan satu kebaikan yang perlu diteliti lagi kadar ketulusannya. Ingin
sekali ia menceritakan perlakuan Rahman padanya selama ini. Namun
rasanya tak mungkin ia menghanguskan senyuman nenek yang jarang ia lihat
itu.
Pembicaraan pun berlangsung. Keluarga Rahman seolah memutuskan bahwa
Raidah menerima pinangan mereka. Mereka lalu sibuk mencari tanggal
pernikahan di kalender bergambar partai yang telah usang. Cukup lama
mereka berdiskusi hanya karena tak ingin tanggal pernikahan jatuh di
bulan apit (waktu antara Lebaran Idul Fitri dan Lebaran Idul Adha).
Akhirnya Raidah menyarankan agar pernikahan ditunda tahun depan
(setidaknya banyak waktu untuk membuat semuanya berubah, batinnya).
Mendengar itu, Rahman menolak. Ia tak ingin pernikahan ditunda
terlalu lama. Baginya, tak ada hubungan musibah dengan bulan apit.
Raidah terkejut. Ia berharap tak ada yang mengamini kata-kata Rahman.
Tetapi tak di sangka, ayah Rahman menyetujui keinginan anaknya. Karena
melihat tekad Rahman yang begitu besar, Raidah dan neneknya pun tak bisa
berkata apa-apa.
Raidah menghitung hari: Tiga minggu lagi perkawinannya akan diselenggarakan.
Berselang-seling hari tak membuat wajah Raidah merona bahagia. Justru
ia tampak tertekan dan ketakutan. Seribu pertanyaan muncul di
kepalanya. Hingga di suatu senja tatkala Rahman mengantarkan ketan ke
rumahnya, Raidah memberanikan memanggilnya. Rahman menoleh. Senyum
Rahman seolah menciutkan nyali Raidah. Dengan kepala tertunduk, Raidah
menanyakan alasan Rahman ingin menikahinya. Rahman tersenyum berusaha
menyentuh tangan Raidah namun langsung ditepis olehnya.
Melihat itu, Rahman duduk agak menjauh. Raidah pun tenang. Dengan
tatapan kosong ke depan, Rahman mulai menceritakannya. Ia seakan
mengulang kembali peristiwa yang membuatnya ingin menikahi gadis yang
dulu dianggapnya biasa saja itu. Ya, sebuah peristiwa yang tak masuk
akal ketika Raidah mengusirnya dari surau saat dirinya sedang terlelap.
Ia menghardik Raidah tanpa menimbang rasa. Dengan kecepatan tinggi dan
mata yang masih mengantuk, Rahman mengemudikan motornya hingga
kecelakaan itu menimpanya. Ia pingsan.
Selama tak sadar diri, Rahman mengalami kejadian aneh. Ia diikuti
sosok perempuan yang wajahnya mirip Raidah. Perempuan itu menangis dan
tangisannya berupa darah. Rahman ketakutan. Ia lari sejauh mungkin tapi
perempuan itu terus mengikutinya. Ia tampak sangat terluka hingga
akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan kesalahannya. Di saat
itulah, perempuan yang berwajah mirip Raidah menyatakan bahwa ia sakit
hati dan ia minta pertanggungjawaban Rahman. Rahman tak kuasa menolak
walaupun ia tak mengerti, pertanggungjawaban apa yang diminta.
Setelah itu, perempuan itu tak lagi menangis.
Ketika siuman, Rahman masih sulit mempercayai apa yang ia rasakan.
Wajahnya separo tergores hingga menimbulkan bekas codet. Perasaan
bersalah menghampirinya. Ia sadar kecelakaan itu akibat ulahnya yang
kasar pada sosok perempuan yang tak bersalah. Karena keegoisannya
menimbulkan luka batin pada Raidah. Ia tak mencintainya. Tapi perasaan
bersalah lebih besar untuk menikahi perempuan yang juga tak dikenalnya
itu. Semuanya seakan ada yang mengatur dan memberi jalan pada hatinya
untuk bertekad menikahi Raidah.
Raidah diam. Teringat akan doa-doa yang ia lantunkan karena sakit
hati pada Rahman. Semua doanya menyorotkan kebencian dan dendam yang tak
terbalas. Ia memohon kepada Tuhan agar Rahman jauh dari selamat. Dan
semua terjawab. Tuhan Maha Mendengar. Ter kabulkan doa Raidah juga
membawa misteri. Ya, sebuah misteri yang manusia tinggal mengikuti.
Raidah menikah dengan orang yang ia laknat. Terkunci mulut Raidah sampai
Rahman menyudahi ceritanya.
***
PERSIAPAN pernikahan sudah hampir selesai. Bertambah
riuh Kampung Ulak menyambut hari pernikahan Raidah-Rahman. Banyak
penduduk kampung menyatakan Raidah melawan adat, tak tahu bala akan
menimpa karena berani menikah di bulan apit. Ada yang ingin datang di
pernikahan, tapi tak sedikit yang tak mau datang dengan alasan kesialan
yang akan menimpa.
Malam kian hening, tenda sudah terpasang. Tak ada yang mencoba
meramaikan suasana layaknya aroma pengantin yang penuh suka cita.
Beberapa ibu yang kasihan pada Raidah tampak menyiapkan piring. Nenek
tak henti-hentinya memegang tasbih, seolah tak sabar menunggu pagi.
Beberapa kali Raidah meminta neneknya untuk tidur tapi ia selalu
menolak. Hingga kokok ayam berbunyi, nenek tetap dengan mata yang layu.
Raidah bersiap. Petugas rias mulai sibuk menyasak rambut, mengoleskan
wewarna di kelopak mata dan pipinya, memasang sanggul, menyisipkan
bunga melati di sela-sela tanjaan rambut. Raidah tegang. Para tamu sudah
mulai berdatangan. Keluarga Rahman pun terlihat sibuk menyambut tamu.
Entah dari mana muncul rasa bahagia yang menyelinap di hati Raidah. Ia
ingin menyanggahnya tapi tak kuasa. Beberapa kali candaan para tetangga
mengoda Raidah. Semua dinikmatinya persis anak kecil yang sedang dipuji.
Akhirnya selesai sudah riasannya. Dengan balutan kebaya merah jambu
dan kerudung senada membuat semua mata menoleh kepadanya. Rasanya
seperti tak mengenal Raidah yang lugu dan kumal dengan kerudung piasnya.
Kecantikannya seolah memancar dari hatinya yang bersih. Rahman pun
terpana. Ia tak menyangka, gadis yang diajaknya untuk hidup bersama itu
selama ini menyembunyikan kecantikannya. Ia berusaha menahan pandangan
agar ketertegunannya tak terlalu tampak.
Pembawa acara pun memulai acara. Hingga tibalah Raidah untuk
dipanggil agar duduk bersebelahan mendampingi Rahman dalam acara yang
akan diamini oleh para malaikat. Raidah memanggil neneknya. Ya, ia tak
ingin neneknya tak menjadi saksi perkawinannya. Para inang pun sibuk
mencari nenek. Rupanya nenek tertidur di kursi panjang setelah menikmati
semur ayam hangat. Mereka membangunkan nenek, tapi nenek tak bereaksi.
Tubuh perempuan tua itu kaku. Tangannya masih memegang tasbih. Bibirnya
pucat. Orang-orang mulai riuh. Raidah menoleh pada kerumunan suara yang
ribut. Orang-orang berteriak.
Nenek Raidah telah mati!
Raidah berteriak tertahan. Rasanya tak mungkin, nenek tadi sehat-sehat saja, batinnya meringis. Apakah karena nenek tak tidur semalaman?
Pertanyaan demi pertanyaan menyeruak dari pikiran Raidah. Isak
tangisnya memecah kegalauan di rumah. Rahman berusaha menenangkannya.
Para tamu mulai berbisik. Mereka mengaitkan kedukaan itu dengan bala
perkawinan bulan apit. Perasaan Raidah benar-benar campur aduk.
Tiba-tiba saja ia teringat akan sebuah bacaan yang biasa ia lantunkan
selepas langit berwarna keemasan: Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan yang tetap kekal
adalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (Ar-Rahman:
26-27).
Raidah meminta pengurusan jenazah neneknya didahulukan. Orang-orang
mempersiapkan pemandian dan penguburan. Raidah masuk ke kamar dengan
langkah yang di tenang-tenangkan. Ia tahu, di belakang sana, Rahman
memandanginya tak mengerti. Dilepasnya kebaya dan dibasuhnya riasan
dengan air wudu. Tak berapa lama kemudian, ia sudah keluar dan
menghampiri calon suaminya.
“Ini tidak ada hubungannya dengan waktu pernikahan kita, Kak. Usai
pemakaman, kita akan tetap menikah. Nenek pasti bahagia,” bisiknya.
Rahman tertegun. Tiba-tiba ia merasa menjadi laki-laki yang sangat beruntung. ***
DESY ARISANDI lahir di
Biaro Baru, Musirawas, 1 Desember 1984. Alumnus Universitas Bengkulu ini
pernah menjabat ketua Forum Lingkar Pena Lubuklinggau (2009/2010).
Cerpennya Cerita Perempuan Berjoget memenangi Sayembara Menulis
Cerita Pendek se-Sumatera Selatan (2009). Sejak 2010, dia mengabdi
sebagai guru bahasa Indonesia di SMPN Tabarenah Musirawas, Sumatera
Selatan.
Membaca email ini, in syaa Allah Anda akan memahami garis besar bagaimana cara mengubah diri.
Banyak yang bertanya, bagaimana cara berubah, menjadi lebih baik, menjadi lebih sukses? Apa saja yang harus dilakukan?
Banyak ahli yang menjawab, ubah pikiran. Change Your Mind, change your life. Ubah pikiran, maka hidup Anda bakal berubah.
Pertanyaanya, seperti apa sich tepatnya mengubah pikiran itu?
Pikiran yang dimaksud adalah: mindset atau disebut juga dengan pola
pikir atau paradigma. Bukan bagaimana cara melakukan sesuatu, tetapi
yang perlu Anda ubah adalah mindset Anda.
Karena, jika mindset sudah berubah, maka yang lainnya akan berubah.
Jangan khawatirkan dengan berbagai kekurangan Anda saat ini, jika
mindset sudah benar, yang lainnya akan mengikuti.
Mindset itu dimulai dengan kejelasan arah. Kemudian bagaimana
pengkondisian pikiran Anda, lebih tepatnya pikiran bawah sadar Anda agar
sesuai dengan arah tujuan Anda. Dan cara mengubah pikiran bawah sadar
Anda adalah dengan memanfaatkan pikiran sadar Anda.
Pikiran sadar Anda yang mengarahkan tujuan. Pikiran sadar Anda yang
mengkondisikan pikiran bawah sadar. Saat tujuan yang jelas plus kondisi
pikiran bawah sadar Anda sudah mendukung, maka perubahan tinggal
menunggu waktu.
BY Zona Sukses
Cerpen Faris Al Faisal (Padang Ekspres, 26 November 2017) Mayura ilustrasi Orta/Padang EkspresGADIS kecil itu terus berlari menerobos perlintasan
kereta yang sedang ramai, mengejutkan beberapa pengendara mobil dan
motor yang tengah melintas, sehingga membunyikan klakson berkali-kali.
“Cari mati kamu!” maki seorang pengendara mobil yang hampir saja menabraknya.
“Setan kecil!” gerutu pengendara lain yang hampir jatuh karena mengerem paksa motornya, demi menghindari menabrak gadis itu.
Bocah kecil itu tidak mempedulikannya, ia terus berlari menyusuri
jalur rel menuju sebuah jembatan kereta yang kanan dan kirinya berdiri
rumah-rumah kumuh. Keracak hujan sepertinya tak menyurutkan langkah
kakinya yang tanpa alas kaki itu. Mayura ingin segera sampai ke tempat
tinggalnya untuk memastikan bahwa ayahnya yang sedang sakit itu tidak
terbawa arus sungai yang selalu meluap bila hujan turun.
Mayura dan ayahnya, sudah tiga tahun ini menempati kolong jembatan
kereta, setelah rumah sengnya di bantaran sungai terkena normalisasi
sungai oleh Pemda setempat. Karena mereka menempati bangunan liar, tak
serupiah pun uang gusuran diterima. Keluarga Mayura kemudian migrasi ke
tempat yang tidak lebih baik dari semula. Tinggal di kolong jembatan
kereta, yang setiap kali hujan turun, mereka harus segera mengangkut
barang-barang berharganya ke atas jembatan. Barang berharga itu tidak
lain adalah hasil pulungannya yang belum dikilokan.
Semula Mayura tinggal berempat bersama ayah ibu dan adiknya yang
masih balita. Namun peristiwa tragis memporak-porandakan keluarga yang
memang sudah berantakan dari sisi kehidupan sosial, ekonominya dan
budayanya. Adik lelaki Mayura yang ditinggal pergi memulung oleh ayah
dan ibunya hanyut saat air sungai meluap. Mayura sendiri lalai dalam
menjaga adiknya karena ia sendiri ikut terbawa arus namun sebuah tiang
penyangga jembatan kereta dapat diraihnya sehingga ia dapat bertahan
dengan berpegangan tangan pada lenganlengan penyangga jembatan. Mayura
dapat diselamatkan karena ayahnya datang ke kolong jembatan pada saat ia
sendiri merasa akan terbawa arus sungai yang begitu deras. Dengan
perasaan kelam ayahnya berteriak-teriak histeris mencari adik Mayura
yang ikut tenggelam.
Peristiwa tragis itu membuat Ibu Mayura meninggalkan suaminya yang
dianggap tak becus menjadi kepala rumah tangga. Tak mampu memberikan
penghidupan yang layak sebagaimana tugas kepala keluarga. Tak
ketinggalan istrinya juga memaki-maki pemerintah yang bukannya membantu
masyarakat kecil seperti mereka, malah yang ikut serta memiskinkan
orang-orang menjadi lebih fakir lagi. Ayah Mayura terpukul dengan
kepergian istrinya. Dalam enam bulan kesehatannya menurun drastis. Ia
sering sakit-sakitan tanpa mendapatkan pertolongan obat dan tenaga
medis. Sebagai pendatang kota yang diharamkan kedatangannya, ayah Mayura
bersama jutaan urban lainnya sering menjadi buronan Satpol PP.
Sesampainya di jembatan kereta, Mayura menuruni bantaran sungai,
tangannya menyibak-nyibak ilalang yang kuyup karena hujan dan mendapati
tempat ayahnya berbaring telah diluap air sungai yang kian meninggi.
“Ayah… ayah….,” teriak Mayura panik, matanya terus menjelajah air
sungai yang bergelora melibas tempat tidurnya yang merupakan tumpukkan
kardus bekas dan koran-koran ibu kota yang tak pernah memberitakan duka
cita orang-orang pinggiran.
Tak sepotong pun sahutannya dibalas ayahnya, kecuali suaranya sendiri
yang menggema dipantulkan kolong jembatan kereta yang mulai gelap dan
pekat. Mayura menangis meratapi ayahnya, ia bersimpuh dengan lutut
berlumuran lumpur bantaran sungai yang makin tergerus air hujan.
Tangannya memerah karena meremas daun ilalang yang tajam. Mayura
terkulai di tempatnya.
“Mayura, Mayura.” Sebuah suara yang sangat lemah menyeru namanya dari
bawah pohon ketapang yang rimbun, berjarak lebih kurang sepuluh meter
darinya.
Mayura menghambur ke arah suara itu, memeluk lelaki kurus yang
rambutnya kusut dan sudah ditumbuhi beberapa helai uban. Lelaki itu
tengah berkerodong sarung. Tampak di sampingnya sebuah buntalan beberapa
potong baju, yang rupanya itu harta yang masih bisa diselamatkan dari
air bah tadi.
“Syukurlah ayah masih selamat.”
Lelaki itu mencoba tersenyum, sekali pun ia tahu hidupnya tak pernah
bahagia. Mayura terperanjat saat tangannya menyentuh kening ayahnya.
“Ayah demam?”.
“Tidak, Nak, ayah baik-baik saja.”
Tetapi Mayura tahu ayahnya telah berbohong hanya untuk melihat
dirinya agar tidak cemas. Mayura diam-diam mengagumi sosok lelaki di
depannya.
“Kita kehilangan kompor dan beras,” kata ayahnya sedih. “Malam ini kita tidur tanpa makan malam.”
Malam itu Mayura dan ayahnya tertidur sambil berpelukkan melawan
dinginnya udara malam dan gerimis hujan yang belum juga mau reda di
bawah pohon ketapang di dekat bantaran sungai di bawah jembatan kereta.
Sesekali bunyi kereta yang melintas di jembatan membangunkan tidur
keduanya, lalu mereka pun terlelap lagi dengan tetap berpeluk kasih dan
sayang.
Esoknya, Mayura bangun lebih awal dari ayahnya dan lebih pagi dari
kereta pagi yang selalu melintas di atas jembatan itu. Ia bangkit dengan
perlahan dan melepaskan pelukkan ayahnya dengan hati-hati. Tangan
lelaki itu tetap saja merengkuh, sehingga Mayura terpaksa menggelosorkan
tubuhnya agar bisa lepas dari dekapan ayahnya. Pagi masih gelap
sehingga Mayura tak bisa melihat ayahnya dengan jelas.
Di stasiun, Mayura mengais-ngais isi tong sampah untuk memulungi
barang bekas. Beberapa benda ia kumpulkan dengan sebuah karung dan pagi
ini ia merasa beruntung menemukan tiga buah lontong bekas penumpang
kereta api yang dibuang ke dalam tong sampah tersebut. Saat akan
menyisir beberapa tong sampah lain petugas stasiun keamanan stasiun
mengusirnya.
Setengah berlari Mayura segera menyelinap ke sela pagar stasiun yang
memang masih memungkinkan untuk tubuhnya berkelit dari uberan petugas,
sementara karung yang berisi barang bekas itu ia lemparkan keluar pagar
terlebih dahulu. Perlakuan seperti itu memang sudah tidak lagi membuat
Mayura sakit hati. Entah bagaimana hatinya terbentuk, sehingga ia kebal
dengan orang-orang tak lagi memiliki rasa sosial.
Di jalanan kota, Mayura menyaksikan beberapa anak seusianya
berpakaian merah putih lengkap dengan tas dan sepatunya, dibonceng orang
tuanya dengan sepeda motor atau pun naik mobil pribadi. Mayura
berkaca-kaca, hatinya menjerit. Ia tak pernah mencicipi rasanya duduk di
bangku sekolah dengan gelimang ilmu dan pengetahuan.
Kesedihannya mendadak berhenti saat matanya melihat sebuah dompet
perempuan muda berbaju safari, yang melintasinya jatuh dari tasnya yang
tak tertutup rapi. Dompet itu tergeletak persis di depannya. Mayura
melirik ke kanan dan ke kiri. Jalanan sepi. Hatinya gamang, antara
mengambil dompet itu ataukah mengembalikannya. Tiba-tiba ia teringat
ayahnya yang sedang sakit dan butuh pengobatan. Mayura memegang perutnya
karena sejak sore tadi mulutnya belum tersentuh sepotong makanan pun
untuk mengurangi rasa laparnya. Tangan Mayura sudah menyentuh dompet
itu, ia memasukkannya ke dalam karung. Matanya masih memandang perempuan
tadi dengan rasa bersalah.
Di dalam karung, dompet itu dibukanya. Mayura terbelalak karena
tersembul beberapa uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan yang tidak
sedikit. Nampak pula beberapa buah kartu berjejer rapi yang Mayura
sendiri tidak tahu apa fungsinya. Tiba-tiba Mayura teringat pesan
ayahnya untuk tidak pernah memulung barang yang bukan dibuang di tong
sampah, karena perbuatan itu dapat terkategori mencuri atau mengambil
milik orang lain, sekali pun tergeletak di jalan.
Mayura berlari mengejar perempuan itu yang mulai memasuki halaman
sebuah kantor Bank. Karung yang di gendongnya telihat terpontal-pontal.
Beberapa pengguna jalan yang melintas menengok ke arahnya.
“Bu, ibu…,” seru Mayura dengan gugup.
Perempuan muda itu membalikkan badannya yang sangat indah menurut
penilaian anak kecil sekali pun. Ia mengkerut melihat gadis kecil
pemulung mendekatinya. Tangannya yang putih segera merogoh sesuatu dari
tasnya, tetapi ia terkejut seperti merasa ada sesuatu yang tidak
tersentuh oleh jemarinya.
“Ini dompet ibu. Tadi saya lihat jatuh.”
Dengan perasaan terkejut, perempuan itu tersipu. Tadinya ia akan
memberikan uang receh kepada gadis pemulung itu tetapi yang terjadi
justru sebaliknya.
“Iya benar, Nak, itu dompet ibu.”
Mayura tersenyum lalu meninggalkan perempuan itu yang masih ternganga
tak percaya dengan pandang matanya. Butuh beberapa detik untuk
perempuan itu pulih dari kesadarannya.
“Nak, Nak,” perempuan itu mengejar Mayura. “Ini, Nak, sekadar ucapan terimakasih ibu.”
Dua lembar uang seratus ribu ia keluarkan dan disodorkan kepada Mayura.
“Tidak usah, Bu, ayah saya mengajarkan untuk ikhlas menolong orang,”
Mayura melangkah meninggalkan perempuan itu yang makin bertambah
ternganga dengan kebersihan hati anak kecil seusianya.
“Sebentar, Nak! Terimalah, ibu ikhlas memberikannya,” sembari uang itu dilekatkan di genggaman Mayura.
Mayura terdiam. Perempuan itu menganggukkan kepalanya lalu tersenyum meninggalkannya.
***
Mayura bergegas kembali ke bantaran sungai dekat jembatan kereta. Ia
baru saja membelikan obat demam dan sebungkus nasi uduk dengan lauk ayam
goreng untuk ayahnya. Mayura sendiri akan makan lontong yang ia temukan
di tong sampah stasiun. Sementara sisa uang yang diberikan perempuan
muda tadi akan dijadikan simpanan jika sewaktu-waktu hasil memulungnya
tidak beruntung, maka dapat ia pergunakan untuk membeli makanan.
Pagi itu tak seperti biasanya. Jalan menuju jembatan kereta
dikerumuni lelaki dan perempuan serta anak-anak. Tampak beberapa petugas
seperti ikut membaur di tengahnya. Mereka sedang melihat-lihat ke arah
bantaran sungai di bawah pohon ketapang.
“Ayah.”
Seketika Mayura teringat tempat yang dipenuhi orang-orang itu adalah
letak ayahnya tertidur. Gadis kecil itu meletakkan karung yang berisi
barang bekas ke tepi rel kereta lalu berlari menerobos kerumunan
orang-orang. Seorang lelaki tampak meringkuk dengan kedua tangannnya
seolah-olah sedang memeluk, sedang merengkuh, mirip saat pagi tadi ia
dengan hati-hati meloloskan tubuhnya dari dekapan ayahnya itu.
“Ayah, ini Mayura datang membawa sarapan pagi dan obat. Ayo bangun
ayah, nanti ayah pasti sembuh,” berkali-kali Mayura menyeru,
memeluk-meluk dan membangunkan ayahnya.
Akan tetapi lelaki itu tetap diam. Orang-orang terenyuh
menyaksikannya. Seorang petugas mendekati Mayura dan membujuknya dengan
sangat halus.
“Ayahmu sudah tenang dipelukkan Tuhan. Ikhlaskan saja ya, Nak, agar ayahmu segera menuju surganya,”
Mayura kemudian jatuh terkulai. (*)
Cerpen Junaidi Khab (Kedaulatan Rakyat, 26 November 2017)
Tiang Lampu ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan RakyatRUANGAN itu tampak dipenuhi oleh sanak keluarga
Kurnia yang sedang sakit. Tetangga dekatnya pun ikut membesuk ke rumah
sakit. Kurnia kecelakaan di salah satu jalan pelosok saat mengendarai
mobil. Jalan itu tidak ramai, juga ada banyak polisi tidur. Tapi, Kurnia
bisa menabrak tiang lampu. Mobilnya penyok dan Kurnia harus dirawat di
rumah sakit. Sementara teman-temannya baik-baik saja.
“Kamu tak perlu berusaha bunuh diri kalau bawa lari uang ayahmu,”
kata Sumina, ibu Kurnia saat hanya tinggal berdua di rumah sakit. “Kalau
begitu, kan begini jadinya, kamu harus masuk rumah sakit.”
“Iya, Bu,” kata Kurnia merengak kesal. “Tapi, uangnya sudah habis.”
Sumina terdiam mendengar Kurnia berkata jujur. Uang itu bisa buat
kuliah sampai S3. Tapi meski Sumina curiga, saat itu dia tak
membicarakan kecurigaan dalam kecelakaan anak semata wayangnya.
“Untung kamu tak menabrak tiang listrik,” kata Sumina mencoba memancing Kurnia agar bercerita.
“Tiang listrik, Ma…”
“Bukan, itu tiang lampu,” kata Sumina sedikit kesal. “Coba kamu tabrak tiang listrik yang ada gardunya itu. Kamu bisa mampus!”
Kurnia tertegun. Dia tak habis pikir rencananya sebodoh itu. Hanya
menabrakkan mobil pada tiang lampu. Itu pun dilakukan di jalan sepi yang
tak mungkin pengemudi mobil menabrak dengan cepat. Kecuali memang
disengaja. Dia sedikit cemas, takut rencananya terbongkar.
Teman-temannya belum diberi tahu agar tak buka mulut jika ibunya
menanyakan peristiwa ganjil itu.
***
Malam sudah turun ke bumi saat Kurnia baru bisa dibawa pulang dengan
kursi roda ke rumahnya. Suasana rumahnya masih dipenuhi anggota
keluarganya yang tak sempat membesuknya ke rumah sakit. Kekhawatirannya
semakin tinggi saat mendengar suara teman-temannya di luar kamar.
Sakitnya seakan menjadi-jadi.
“Awas, kalian jangan buka mulut!” kata Kurnia geram setengah meringis karena sakit pada dahinya.
“Tenanglah, Kur,” kata Aris berusaha menenangkan. “Tapi, apa tidak
mencurigakan? Hanya kamu yang parah, sementara kami tidak apa-apa.”
“Nah, itu…”
Pembicaraan Kurnia terhenti saat pintu kamarnya terkuak. Ayahnya
masuk dengan raut wajah datar. Sementara teman-temannya yang membesuk
menepi ke pinggir kamar. Mereka seperti sungkan pada ayah Kurnia yang
tampak datar. Wajah mereka tertunduk ke arah lantai.
“Jadi benar itu murni kecelakaan?” tanya Ayah kurnia dengan menatap
ke lantai sembari berdiri dan memasukkan dua tangan pada saku celananya.
“Ayah, itu benar-benar murni kecelakaan!” kata Kurnia.
“Lalu, kenapa hanya kamu yang terluka? Parah lagi. Kalau mau
mencelakakan diri ya di tempat yang pas agar mampus sekalian! Bukan
nabrak tiang lampu. Kalau begini, membuat ribet orang saja kamu ini!”
Keadaan kembali hening. Teman-teman Kurnia seperti tak memiliki
kosa-kata yang tepat untuk dikatakan. Hingga, ayah Kurnia duduk di salah
satu kursi. Lalu, teman-teman Kurnia pamit pulang. Meski tak ada
jawaban, ayah Kurnia tetap memberi nasihat dan seakan tahu rencana yang
dibuat oleh anaknya sendiri. Kurnia hanya diam menyesap kata-kata
ayahnya sendiri yang membuat dia seakan telanjang bulat.
*) Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Tinggal di Yogyakarta.