Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Ada hubungan di dunia ini yang tak bisa dijelaskan hanya dengan satu kata ‘suka’ (hlm. 89)
Ada segelintir orang yang tidak bisa ditolong karena tidak mau ditolong, memilih berkubang di dalam lumpur. (hlm. 241)
Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
Jangan ragu untuk mengungkapkan perasaanmu kepadanya. (hlm. 86)
Kau juga berhak untuk bahagia. (hlm. 135)
Kita juga berhak untuk bahagia. (hlm. 141)
Waktu akan menyembuhkan luka. (hlm. 170)
Tidakkah kau berpikir bahwa kau sudah manis untuk makan makanan manis? (hlm. 186)
Lebih baik dikerjakan oleh banyak tangan daripada memikirkannya sendirian. (hlm. 196)
Orang bilang cinta bisa mengalahkan segalanya. (hlm. 272)
Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:
Kadang keadaan terasa rumit. (hlm. 25)
Murung tidak akan menyelesaikan masalah, kan? (hlm. 48)
Ada segelintir orang yang tidak ingin dibantu. (hlm. 51)
Kita tidak bisa melakukan apa-apa jika kita menyukai seseorang, kan? (hlm. 61)
Kebingungan ini tak tertahankan, bagai sebuah benang kusut yang tak
punya ujung dan pangkal, tak punya ujung dan pangkal, tak akan pernah
bisa diuraikan. (hlm. 113)
Apa kau tidak pernah berpikir bahwa bersikap diam itu membuat orang lain tak nyaman? (hlm. 131)
Jangan terlalu percaya diri. (hlm. 161)
Jangan bercanda tentang orang yang sudah berduka. (hlm. 198)
Cerpen Hary B. Kori’un (Jawa Pos, 05 November 2017) Eliana ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa PosMATAHARI hampir tenggelam ketika aku tiba di Plaza
de Espana. Aku duduk di pinggir sungai yang airnya membiru dan bening.
Banyak perahu di sungai itu. Setiap perahunya diisi dua hingga tiga
orang–kebanyakan berpasangan—dan masing-masing saling mengayuh. Aku
merasakan suasana yang romantik penuh emosional.
Ada empat jembatan yang memghubungkan alun-alun luas berbentuk
setengah lingkaran itu dengan bagunan megah yang juga berbentuk setengah
lingkaran. Menurut cerita, masing-masing jembatan mencerminkan empat
kerajaan zaman dahulu di Spanyol. Castille, Leon, Aragon, dan Navarra.
Di sekeliling bagian depan bangunan ada 48 cerukan yang mencerminkan 48
provinsi di negeri matador itu. Arsitektur khas Spanyol yang memanjang
berjejer saling terhubung satu dengan lainnya dengan ratusan pintu dan
jendela yang terbuka. Ada beberapa menara di bagian paling kanan dan
kiri, juga ada beberapa di tengah, terlihat menjulang gagah.
Beberapa pasangan terlihat berfoto mesra tidak jauh dari tempatku
duduk. Mereka mengabadikan momen indah di tempat yang juga indah ini. Di
tempat lain, tidak jauh jaraknya dariku, beberapa rombongan wisatawan
juga terlihat berfoto. Mereka ada yang berbahasa Spanyol, juga terdengar
ada yang berbahasa Inggris.
Di seberang, terlihat monumen sastrawan terkenal Spanyol di abad 14, Miguel de Cervantes Saavedra [1], penulis novel termashur, Don Quixote de la Mancha. Monumen
itu merupakan bagunan yang lumayan tinggi dan terlihat dominan di
tengah alun-alun, dengan beberapa patung di depannya. Letaknya tak jauh
dari taman berpepohonan rindang yang ketika angin semilir datang seperti
di musim semi ini, membuat hawa lumayan sejuk meski matahari yang
hampir tenggelam masih terlihat di barat.
“Aku akan naik kereta api siang ini. Sore nanti sampai di Madrid.
Sekitar lima jam perjalanan dari Barcelona,” katanya dalam pesannya
siang tadi. “Nanti sesampai di Stasiun Atocha [2], aku akan naik taksi
ke sana. Espérame en la Plaza de España…[3],” katanya lagi.
Aku menunggunya sambil jalan-jalan di lapangan luas itu.
Sejatinya aku tak mengenal dan belum pernah bertemu dengan wanita
itu, yang berjanji akan bertemu di sini. Teman sekantorku, Bramono, yang
merekomendasikan agar aku mengontak Maria Eliana Valverde sesampai aku
di Madrid. Yang mengherankan, Barmono juga tak pernah bertemu dengan
wanita itu. Mereka hanya intens berkomuniksi lewat media sosial dengan
bahasa Inggris sekenanya. Maklumlah, Eliana sangat Spanyol, dan Bramono
sangat Jawa.
“Dia tinggal di Barcelona, hanya lima jam perjalanan dengan kereta
api ke Madrid. Ketika kukatakan padanya kalau ada temanku akan ke
Spanyol, dia sangat antusias. Dia bilang, mengapa bukan diriku yang ke
Madrid…,” kata Bramono sambil senyum-senyum.
Aku jadi penasaran. Lalu tanpa sepengetahuan Bramono, kubuka profi l
Eliana di salah satu media sosial. Terlihat fotonya. Muda dan cantik
dengan rambut warna hitam bergelombang. Kemudian aku mengirimkan
pertemanan kepadanya. Setelah diterimanya, aku sering bertanya tentang
Madrid dan Spanyol secara keseluruhan.
“Aku tak perlu bercerita banyak. Datanglah ke Spanyol, kau akan tahu sendiri seperti apa negeriku,” katanya.
“Iya, aku mendapat tugas ke Madrid. Aku segera ke Spanyol…” Aku tak menjelaskan untuk liputan apa padanya.
Aku baru mau duduk di bangku dekat sungai ketika dia datang. Dia
bertanya apakah aku benar-benar orang yang dicarinya. Aku tersenyum dan
mengajaknya bersalaman. Aku merasakan tangannya sangat dingin. Meski dia
berusaha tersenyum lebar, aku juga merasakan senyum yang dingin di
bibirnya. Kedua matanya yang cantik, juga kurasakan dingin pada
tatapannya. “Tarde era yo?” [4] tanyanya dalam bahasa Spanyol. Namun kemudian dia tersadar. “Sorry, apakah saya terlambat?” ulangnya dalam bahasa Inggris.
“Oh tidak. Tidak apa-apa…”
“Begitulah naik moda kereta. Kadang-kadang tidak sesuai waktu yang diperkirakan…”
Dia kemudian mengajakku minum di sebuah kafe tak jauh dari tempat kami bertemu tadi, Chocolateria San Gines. Dia memesan churros con chocolate [5]. Katanya di kafe yang berdiri sejak 1894 inilah churros con chocolate paling
enak dan orisinal. Aku ikut saja apa yang dia pesan. Kafe ini berada di
salah satu sudut di bangunan yang berjejer setengah lingkaran di Plaza
de Espana itu. Kami mengambil satu meja kecil dengan dua kursi di
beranda, tidak di dalam kafe. Banyak orang yang juga berada di sana.
Dia kemudian bercerita banyak hal: tentang Sungai Manzanares, sungai
terbesar yang membelah Madrid menjadi dua bagian—yang di salah satu
bagian di pinggir sungai tersebut berdiri megah Estadio Vicente
Calderon, markas klub terkenal Atletico de Madrid; tentang karya-karya
sastra Spanyol yang menginspirasi banyak orang; atau kota-kota indah
yang membuat banyak turis seakan tak mau pulang dari negaranya.
“Aku suka membaca sastra, tetapi tidak banyak karya penulis Spanyol yang diterjemahkan di negaraku…,” ujarku.
“O, iya?”
“Mungkin aku yang tak banyak tahu. Aku hanya menyelesaikan satu novel karya penulis Spanyol…”
“Novel? Apa judulnya?” “Keluarga Pascual Duarte. La Familia de Pascual Duarte… Camilo Jose Cela.”
“Cela orang sakral di Spanyol. Itu black story…,” katanya.
“Sakral?”
“Maksudku, sangat dihormati… Kalau Miguel de Cervantes?” katanya
sambil menunjuk monumen di seberang kanan tempat kami duduk sekarang.
“Oh iya. Aku juga membaca Don Quixote. Di negaraku diterjemahkan menjadi Don Kisot. Sangat terkenal. Jadi aneh, seperti nama tokoh di Jawa. Semacam nama ejekan…,” kataku sambil tertawa.
“Hemmm… Kau harus tinggal lama di Spanyol. Tak cu kup hanya di
Madrid, kota yang menurutku lumayan membosankan. Kau harus melihat
keindahan kota-kota pantai seperti di kotaku, Barcelona, Valencia,
Tarragona, Murcia, Almeria, Catello de la Plana, Huelva, atau Malaga di
selatan dan tenggara. Di utara ada kota indah seperti Gijon, Coruna,
Bilbao, Oviedo, Santander, Donostia, atau Pontevedra. Kau juga harus ke
Pulau Mallorca. Bisa menyeberang dari Barcelona. Palma de Mallorca
adalah salah satu tujuan utama turis dunia. Di hari-hari perayaan
tertentu, kamu tak akan mendapatkan penginapan di sana dan harus
menggelandang…”
Aku terpesona dengan kecantikannya, baik saat diam, tersenyum, atau
ketika bicara panjang tadi. Angin senja yang sebentar lagi akan habis
menguraikan rambut panjang hitamnya yang seperti siluet diterpa matahari
senja yang tinggal sedikit.
“Kau mendengarkanku?” katanya membuyarkan lamunanku. Aku malu dan agak salah tingkah. Mungkin mukaku seperti kepiting rebus.
“Iya. Maaf… aku mendengar nama-nama kota itu seperti nama-nama klub
sepak bola yang sangat digemari oleh banyak orang di negaraku…,” kataku
mencoba menghilangkan rasa malu.
Dia tersenyum sebelum memasukkan churros ke cokelat panas
itu, kemudian mengunyahnya. Di antara semua yang terlihat dingin di
tatapan matanya maupun senyumnya, kecantikannya yang alami tak bisa
ditutupinya.
“Memang, kota-kota itu memiliki klub-klub sepak bola dengan sejarah
panjang. Aku tak perlu bercerita tentang klub-klub itu, kamu pasti sudah
hapal. Di kotaku, Barcelona, ada pertarungan klasik antara Barcelona
dan Espanyol. Itu kamu juga pasti tahu. Tetapi, kedua pendukung tak
memiliki kebencian yang berlebihan. Setiap kedua tim bertemu, aromanya
biasa saja. Ini mungkin karena kekuatan Barcelona tak diimbangi oleh
Espanyol. Di sini, sejarah, prestasi, dan uang memang memihak
Barcelona…”
“Kamu Barcelonistas?” tanyaku. “Les Cules…,” jawabnya sambil tersenyum. Kali ini senyumnya agak melebar.
“Seorang musisi terkenal di negaraku membuat lagu berjudul Barcelona.
Lagu yang sangat terkenal. Tentang seseorang yang jatuh cinta pada
gadis Catalonia saat berada di Barcelona. Cintanya tertinggal di
Barcelona…” “So sweet… Aku ingin mendengar lagu itu…,” katanya dengan suara manja.
Aku mengambil handphone-ku dan membuka sebuah aplikasi
video. Beberapa saat kemudian terdengar suara Fariz R.M. Eliana
mendengarkan secara seksama, meski mungkin tak tahu artinya. Kemudian,
katanya, “Musiknya enak. Bagus… Pasti dia sangat terkesan selama di
Barcelona. Quiere usted bailar conmigo?” [6]
“Aku? Menari denganmu? Hahahaaa…”
“Malam ini aku akan menginap di Madrid. Aku ingin menemanimu
jalan-jalan. Dari sini, nanti kita bisa ke banyak tempat. Kita bisa
jalan kaki ke Palacio Real de Ma drid. Orang asing menyebutnya Royal
Palace. Tak jauh. Nanti kita juga bisa ke Auditorio Nacional de Musica.
Kabarnya ada pertunjukan musik kontenporer dari kelompok musik asal
Huesca. Tak jauh dari situ ada Parque de Berlin, Taman Berlin. Di sana
banyak orang berkumpul atau sekadar ngobrol. Bisa sampai pagi.”
“Kelompok musisi dari Huesca? Aku ingat sebuah puisi dengan judul itu… And if bad luck should lay my strength, into the shallow grave, remember all the good you can; don’t for get my love…, ” [7] kataku girang sambil membaca bait terakhir puisi itu.
“John Cornford?”
“Ya.”
“Dia pahlawan bagi kami orang Catalonia dan Basque…”
“Tapi dia orang Inggris, kan?”
“Dia mati muda, berjuang melawan fasis Franco. Franco musuh kami. Catalonia dan Basque tak pernah mengakui Franco. Juga Madrid!”
Ada penekanan ketika dia menyebut “Madrid” tadi. Terdengar suaranya
dingin dan agak tertahan. Aku heran, mengapa setiap bibirnya menyebut
“Franco” atau “Madrid”, ada yang terdengar gemeretak pada giginya.
Matanya yang dingin, juga terlihat menyala.
Katanya, bagi masyarakat Catalonia, Barcelona bukan hanya sekadar klub. El Barca Es Mas Que Un Club. [8] Dia juga menjelaskan, kata-kata “Catalonia is Not Spain” yang
ditulis di spanduk-spanduk para pendukung Barcelona baik saat bermain
di Nou Camp maupun stadion lainnya, adalah bentuk perlawanan yang nyata.
Keinginan untuk berpisah dari Spanyol. “El amor es ciego, [9] Martin. Cinta kami memang buta untuk
Barcelona. Buta untuk keinginan kami merdeka dari penindasan dan rasa
terhina! Sesuatu yang mungkin aneh dan tak kau pahami.”
Lagi, suaranya terdengar sangat dingin, tetapi penuh dengan nyala
api. Matanya juga terlihat menyala ke arah kiri, arah barat: Estadio
Santiago Bernabeu. Kami sudah berada di Parque de Berlin. Kami tak jadi
nonton pertunjukan karena tak dapat tiket. Dari Taman Berlin ini hanya
satu blok lagi—dengan jalan kaki ke arah barat—sampai ke Santiago
Bernabeu. Aku dikirim ke Madrid untuk nonton dan sekaligus meliput El Derbi Madrileño antara
Real Madrid melawan Atletico. Ini sekadar hadiah dari prestasiku.
Pertandingannya dua jam lagi. Aku belum mengatakan hal itu kepadanya.
“Dua jam lagi mereka akan bertanding di sana,” katanya sambil
menunjuk Santiago Bernabeau dengan tatapan mata yang membara, hampir
bersamaan dengan kata-kata yang ada dalam pikiranku.
“Aku ke Madrid untuk itu…,” kataku berusaha pelan.
“Impianku sepanjang hidup adalah berada di stadion itu, dalam
pertandingan apa pun, melihat Real Madrid secara langsung…,” sambungku.
Eliana seperti tersengat. Dia berdiri dari bangku taman tempat kami duduk. “Traidor! Fascista [10]!” katanya sambil
berjalan cepat meninggalkanku. Aku tak berusaha mengejarnya karena aku
tahu itu sia-sia. Aku hanya melihatnya dengan rasa kehilangan di dada.
Ada yang hampa di sana.
*** AKU keluar dari Biblioteca Nacional de Espana atau National Library of Spain di
Paseo de Recoletos—bersebelahan dengan Museo Arqueologico Nacional
(Museum Arkeologi Nasional), di seberang Plaza de Colon, masih di
kawasan Salamanca—ketika hari mulai gelap. Udara yang dingin dengan
embusan angin yang agak kencang membuat aku menggigil. Kunaikkan
resleting jaket tebalku, dan kuketatkan tali ransel di kedua pundakku.
Bramono mengingatkanku lewat aplikasi pesan bahwa jangan pernah
merasa pernah ke Madrid kalau belum menginjakkan kaki ke tiga tempat
monumental: Estadio Santiago Bernabeau, Plaza de Espana, dan Biblioteca
Nacional de Espana. Maka sebelum kembali ke Jakarta, kusempatkan
mengunjungi arsitektur megah yang sangat artistik yang dibangun semasa
Raja Philip V berkuasa pada 1712 itu.
Entah mengapa kuat keinginanku—seolah ada yang menuntun—menuju ke
ruang arsip koran-koran lama. Beberapa saat kemudian, dadaku tiba-tiba
berdegup kencang dan pikiranku entah ke mana ketika membaca halaman
depan koran Mundo Deportivo tertanggal 18 Maret 1938, dua hari setelah Barcelona dibombardir oleh tentara Jenderal Franco. Judulnya: Maria Eliana Valverde, Franco víctimas de la bomba [11].
Aku menganggap itu kebetulan kalau foto hitam-putih yang memang sudah
agak buram tidak memperlihatkan wajah Eliana yang kukenal tiga hari
yang lalu, yang pergi dengan sangat marah—yang menuduhku pengkhianat dan
penganut fasisme—saat tahu aku seorang Madridista. Artikel itu
mengisahkan tentang gadis militan pendukung Barcelona yang
pro-kemerdekaan Catalonia, yang ikut tewas bersama ribuan rakyat kota
itu. Terlihat ada pin berlogo klub Barcelona di sweater yang dikenakannya.
Dan, kakiku seperti tak bisa kugerakkan ketika handphone-ku
bergetar. Sebuah pesan masuk, pengirimnya Maria Eliana Valverde:
“Martin, maafkan aku. Kau tak akan pernah paham arti Barcelona dan
Catalonia bagiku. Bagi kami. Bagi Madrid, kami hanyalah parasit,
dipandang sebelah mata. Melawan adalah cara kami, seperti para pemain
Barcelona yang terus menyerang ketika bermain. Menang atau kalah. Aku
senang bertemu denganmu, meski aku tahu kita berseberangan. Tapi, la vida es así, cada uno dejando… [12].’’
Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Nalar dan pikiran
rasionalku mulai koyak-moyak. Aku teringat segala yang dingin pada
dirinya: genggaman tangannya saat kami bersalaman, dua bibirnya yang
manis, dan tatap matanya yang sering kosong, meski kadang terlihat
membara.
Bayangan pertemuan dengan Eliana tiga hari yang lalu seolah-olah
mengabur dan hilang ketika aku sudah berada di taksi menuju Puerta del
Sol, tempat penginapanku selama di Madrid, yang berada di Titik Nol kota
itu. Aku merasa pikiranku sudah tak normal lagi. Nyatakah wanita
bernama Maria Eliana Valverde itu? Aku benar-benar tak paham. ***
Pekanbaru, Mei 2017
Keterangan:
[1] Monumen Miguel de Cervantes Saavedra didesain oleh dua arsitek
terkenal, Pedro Muguruza dan Rafael Martinez Zapatero, serta pemahat
bernama Lorenzo Coullaut Valera pada tahun 1925. Setelah Lorenzo
meninggal, pemahatan diteruskan oleh anak lelakinya, Federico
Coullaut-Valera Mendigutia. (Wikipedia)
[2] Stasiun Atocha adalah satu dari dua stasiun besar di Madrid.
Stasiun lainnya adalah Chamartin. Stasiun Atocha menghubungkan Madrid
dengan beberapa kota besar lainnya seperti Seville, Toledo, Zaragoza,
Lleida, Barcelona, dan Malaga.
[3] Tunggulah aku di Plaza de Espana (bahasa Spanyol).
[4] Apakah saya terlambat? (Spanyol)
[5] Perpaduan donat dan cokelat panas yang sangat kental. Cara
makannya cukup mencelupkan donat yang bentuknya memanjang ke dalam
cokelat panas tersebut.
[6] Apakah kamu ingin menari denganku? (Spanyol, lirik lagu “Barcelona” oleh Fariz RM)
[7] Puisi “Huesca” karya John Cornford, yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar dengan judul sama.
[8] Sebuah ungkapan perlawanan yang menjelaskan bagaimana Barcelona
sebagai cerminan dari “pemberontakan”, perjuangan dari masyarakat yang
terpinggirkan, tertindas secara sosial politik dari sebuah kekuasaan
Kerajaan Spanyol yang dikuasai Jenderal Franco sejak menang Perang Sipil
tahun 1937-1939. Franco berkuasa secara fasis dan otoriter.
[9] Cinta itu buta (Spanyol).
[10] “Pengkhianat! Fasis!” (Spanyol)
[11] Maria Eliana Valverde, korban bom Franco.
[12] Hidup memang begini, saling meninggalkan… (Spanyol)
HARY B. KORI’UN adalah wartawan Riau Pos (Jawa Pos Group) di Pekanbaru. Buku kumpulan cerpen tunggalnya Tunggu Aku di Sungai Duku (2012). Novel terbarunya, Luka Tanah (2014). Novel lainnya, Nyanyian Batanghari (2005), Jejak Hujan (2005), Nyanyi Sunyi dari Indragiri (2006), Malam, Hujan (2007), Mandiangin (2008), dan Nyanyian Kemarau (2010).
Cerpen A Muttaqin (Kompas, 05 November 2017) Mbah DLimo ilustrasi Jeihan Sukmantoro/Kompas
Bila kau ingin bertemu Kiai Amuni, datanglah ke Warung Kopi Kotok di
sore hari, sekitar jam empat sampai jam lima sore. Di sana, akan kau
dapati lelaki tua, dengan jenggot yang sederhana, memakai sarung
palekat, baju batik dan songkok kuno, duduk di pojok warung dengan wajah
sumringah. Betul, dialah Kiai Amuni. Orang sini biasa memanggilnya Mbah
Dlimo, lantaran ia pemilik pohon delima yang ajaib dan terkenal di
kampung kami.
Tentu semua orang sini mengenal Mbah Dlimo. Ia adalah lelaki tertua
di kampung kami. Umurnya sudah seratus tahun lebih. Bila kau tanya
kepastian tanggal dan tahun kelahirannya, maka orang sekampung kami akan
menggeleng. Atau paling-paling menunjuk Damar Kurung yang dipajang di
pinggir jalan sepanjang kampung kami. Banyak orang percaya, Mbah Dlimo sepantaran dengan
almarhumah Sriwati Masmundari, pelukis asli Gresik pencipta Damar
Kurung, yang oleh Tuhan Pengasih juga dianugerahi umur seratus tahun
lebih.
Kini Mbah Dlimo masih tetap hidup dan sehat. Masih menjadi imam salat, muruk ngaji di langgar, bahkan tiap sore selalu cangkruk di Warung Kopi Kotok ini, dengan rokok klobot-nya
yang berbau khas. Bagi kami, Mbah Dlimo adalah berkah dan kegembiraan
yang melimpah ke warung ini. Kehadirannya selalu dinanti. Setiap masuk
warung, perihal yang tidak pernah ia lupa adalah memberi salam lalu
berucap: “Malaikat memohon ampun untuk para peminum kopi.” Aku tak tahu,
itu sabda Nabi atau hanya karang-karangan Mbah Dlimo sendiri. Tapi,
jika sudah begini, kami biasanya akan senang sekali, menemani Mbah Dlimo
yang duduk di pojok warung.
Mbah Dlimo biasanya akan menceritai kami macam-macam. Dari cangkruk dengan Mbah Dlimo inilah kami tahu kisah para sesepuh yang mbabat alas Gresik,
kisah wali-wali “penjaga” pulau Jawa beserta tempat munajatnya yang
rahasia, atau kisah seorang Kompeni semprul yang suka mengobral zakarnya
pada perawan desa yang sedang mandi. Dari Mbah Dlimo pula kami mengenal
asal-usul nama kampung sekitar sini, nama jalan, nama jajanan, nama dolanan, sampai nama-nama jin yang menurut Mbah Dlimo mbaurekso kampung kami.
Terus terang, kami sering dibuat heran oleh Mbah Dlimo. Kendati
usianya sudah sangat tua, ia memiliki ingatan cukup kuat dan akurat. Ia
bahkan masih menyimak kisruh politik hari ini. Ia tahu cekcok ketua
partai A dan partai B. Ia tahu kiai dan dukun yang malu-malu mendukung
partai C. Ia tahu pelawak yang nantinya bakal dicapreskan partai D. Ia
juga tahu rencana-rencana edan partai E, kongkalikong partai F dan
partai G dan seterusnya. Selain itu, Mbah Dlimo adalah penikmat kopi
yang jeli. Ia bisa menjabarkan secara rinci beda rasa kopi toraja, kopi
aceh, kopi bali sampai kopi arab. Kendati demikian, ia mengatakan kopi
kotok di warung ini tak kalah baiknya. Selain rasanya yang khas,
penyajiannya juga unik, tumbukan biji kopinya dibiarkan kasar, dengan
saringan mini untuk menyaring dedak kopi sebelum diminum.
Kadang kami tak percaya, Mbah Dlimo, orang yang kami temui hampir
tiap sore ini umurnya sudah seratus tahun lebih. Banyak orang percaya,
rahasia umur panjang dan kesehatan Mbah Dlimo adalah delima di depan
rumahnya. Pohon delima yang umurnya mungkin setua pemiliknya itu
tergolong pohon yang langka. Ia berbuah tiada henti. Bahkan, di bulan
Ramadhan, jika kau datang ke kampung kami, kau akan mendapati pohon
delima itu dipenuhi buah hingga ranting dan cabangnya seolah tak kuat
menyangga berkah buahnya. Kendati semua orang percaya hubungan gaib
antara umur Mbah Dlimo dan pohon delima itu, setiap kali kami tanyakan
perihal ini, Mbah Dlimo tak lupa menunjuk ke atas seraya menambahkan
bahwa umurnya memang anugerah Tuhan lewat buah delima yang ia makan
setiap pagi dan sore hari.
Ah, betulkah buah delima yang membuat Mbah Dlimo awet dan sehat
seperti ini? Sebagai buah, delima memang punya daya magis tersendiri.
Buah yang konon aslinya berasal dari Persia ini juga dipercaya bisa
mengobati banyak penyakit, mulai gangguan perut, gangguan jantung,
kanker, rematik, kurang darah sampai diabetes. Bahkan, bangsa Moor
memberi nama salah satu kota kuno di Spanyol, yaitu Granada, berdasarkan
nama buah ini. Kendati begitu, kami tetap ragu dengan pengakuan Mbah
Dlimo. Apalagi pohon delima itu jelas bukan jenis pohon delima
sembarangan. Ia terus berbuah. Tak mengenal musim. Buahnya besar-besar.
Rasa sangat manis, seperti dicampur gula saja. Penduduk kampung ini
pasti pernah mencicipi buah delima Mbah Dlimo. Buah itu biasa
dibagi-bagi kepada orang kampung sini. Dan waktu masih bocah, kami juga
sering mencurinya, saat melewati rumah Mbah Dlimo sepulang ngaji.
Kendati orang kampung kami percaya buah delima itulah rahasia umur
panjang Mbah Dlimo, tapi aku curiga sebaliknya: jangan-jangan Mbah
Dlimolah yang sakti, bisa nyuwuk pohon delima di depan rumahnya menjadi pohon ajaib. Apalagi, setelah mendengar cerita getok-tular sekitar
pohon delima itu yang aneh-aneh. Alkisah, ketika terjadi pelebaran
jalan kampung, pohon delima itu akan ditebang. Namun, tak ada satu pun
alat tebang yang mampu menumbangkan pohon itu. Parang, perkul, bendho dan
gergaji sudah dicoba, tapi pohon delima itu seperti menjelma besi.
Mungkin ini yang menyebabkan cerita-cerita perihal pohon delima Mbah
Dlimo jadi macam-macam.
Menurut sebagian sesepuh kampung kami, di tempat tumbuhnya pohon
delima itu dahulunya adalah makam seorang syekh. Ketika pada suatu malam
makam itu digali oleh gerombolan maling yang hendak mencuri rambut sang
syekh untuk jimat, ternyata tak ada rambut, bekas jasad atau tulang
belulang sang syekh tersebut. Setelah lebih dalam digali, di lubang itu
justru ditemukan biji-biji delima. Gerombolan perampok yang tak
menemukan rambut sang syekh itu pun pergi, meninggalkan makam yang masih
menganga dengan butiran biji delima yang kini tumbuh menjadi pohon
legendaris di depan rumah Mbah Dlimo.
Banyak yang percaya, pohon delima itu tak lain adalah reinkarnasi
sang syekh, yang sepanjang hidupnya juga seperti pohon delima itu,
memberi manfaat tak henti-henti bagi masyarakat sini. Tentu cerita
begini ini sukar dipercaya. Apalagi jika kita melihat fakta bahwa tak
ada warga di kampung kami yang lebih tua dari Mbah Dlimo. Dengan
demikian, tak ada saksi sahih yang bisa menjelaskan asal-usul pohon
delima itu. Namun ketika perkara ini kutanyakan kepada Mbah Dlimo,
dengan enteng ia berkata: “Biasa juga begitu, Mas Takin. Jangan dikira,
syekh atau wali-wali yang sepanjang hidupnya ngabekti itu mati. Tidak. Ia hidup dan Tuhan memberinya rizki.”
Penjelasan Mbah Dlimo ini tentu tidak sepenuhnya kami mengerti.
Ketika aku dan teman-teman yang duduk semeja dengan Mbah Delimo kembali
minta penjelasan tambahan tentang ini, Mbah Dlimo langsung menunjuk
Damar Kurung di seberang warung ini. Mbah Dlimo kemudian menjelaskan
kenapa Masmundari diberi umur panjang. “Selain tentu karena rahmat
Tuhan,” kata Mbah Dlimo, “itu lantaran ia tak beda dengan Damar Kurung
ciptaannya, memberi terang dan keindahan ke jalan yang kita lewati.
Masmundari itu ibarat jalan berhiaskan Damar Kurung. Dan seperti sebuah
jalan yang panjang, umurnya juga panjang, bukan?”
“Lalu, bagaimana dengan umur Sampean Mbah?” tanyaku, mengejar penjelasan Mbah Dlimo yang kian tak kupahami itu.
Tak terasa, warung telah sepi, tinggal kami yang duduk mengapit Mbah
Dlimo, seperti para murid Yesus, dalam lukisan Leonardo da Vinci,
“Perjamuan Terakhir”.
Sayangnya, sebelum Mbah Dlimo memberi jawaban yang memuaskan perihal
ini, terdengar azan maghrib dari langgar. Mbah Dlimo tersenyum, lalu
membayar kopi dan buru-buru meninggalkan warung, sebab ia harus menjadi
imam salat dan muruk ngaji seperti biasanya.
Setelah Mbah Dlimo pergi, kami pun membayar kopi. Teman-temanku yang
tadi datang ke warung memakai sarung, langsung menyusul Mbah Dlimo ke
langgar. Sementara aku yang memakai celana-cekak, menghabiskan
rokokku sembari pelan-pelan berjalan pulang melewati rumah Mbah Dlimo.
Dalam naungan temaram sore hari, aku melihat sepuluh, seratus, atau
mungkin seribu kunang-kunang, mengitari buah-buah delima Mbah Dlimo.
Dalam kitaran kunang-kunang, buah-buah delima itu sungguh mirip Damar
Kurung ciptaan Masmundari.
Sejenak aku berhenti.
Kupandang buah-buah delima yang bergelantungan dikepung kunang-kunang
itu. Kupandang buah itu satu-satu. Kuhadapkan wajahku ke buah yang
lebih tinggi, dan aku tersentak, melihat Mbah Dlimo tengah salat di atas
helai daun-daun delima itu.
A Muttaqin lahir di Gresik
dan tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Ia mengarang puisi dan cerita
pendek. Buku puisinya yang telah terbit, antara lain, Pembuangan Phoenix (2010), Tetralogi Kerucut (2014), dan Dari Tukang Kayu sampai Tarekat Lembu (2015). Cerpennya terkumpul dalam Klub Solidaritas Suami Hilang, cerpen Kompas pilihan 2014.
Cerpen Felix K. Nesi (Koran Tempo, 04-05 November 2017) Mayat-mayat yang Hilang ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Sangkanya anak-anak kampung itu baru saja meringkus pencuri mayat
yang telah mereka sasar berbulan lamanya. Saat langit tak berbintang dan
dingin musim hujan bersekongkol membekukan seisi kampung, saat ia baru
saja akan mendaki puncak kesenangan bersama istrinya, seorang pemuda
tanggung digiring ke rumahnya. Neno, demikian pemuda itu disebut, telah
mendapat hajar sesudah aksi kejar-kejaran yang panjang, sebab mulutnya
nyonyor berdarah-darah dan tubuhnya yang hampir telanjang itu penuh luka
gores, peninggalan semak duri lantana.
“Inikah orang yang mencuri mayat-mayat di kampung kita?” Rafael
mengusap matanya sambil bertanya, sebelum menguap dua kali, berpura-pura
baru saja terbangun dari mimpi malamnya.
Anak-anak muda yang memegang kelewang dan lentera itu saling pandang,
sebab tak sempatlah mereka merencanakan jawaban. Seorang yang
janggutnya dikucir baru saja ingin membuka mulut, ketika istrinya muncul
dari balik pintu kamar dan bertanya dengan suara serak, apakah perlu ia
membuatkan kopi.
“Tidak perlu, Bu Lurah,” seorang yang lain menjawab. “Kami tidak akan lama.”
Tentu saja mereka akan lama, sebab mereka baru saja menggiring kemari
seorang pelaku kejahatan, dan akan ada banyak hal untuk dibicarakan.
Namun mereka tak ingin membuat perempuan muda itu menyalakan api jam
sebelas malam, saat tungku dapur tak lagi menyisakan bara.
Istrinya menyibak kain pintu dan kembali lagi ke kamar. Sementara
Rafael melepas tengkuk halus itu dengan tatapan ingin yang tertunda,
sebab kepalanya masih berdenyut-denyut oleh sesuatu yang tidak sempat
terselesaikan.
“Mayat siapa yang ia curi?” Rafael bertanya kembali, sesudah istrinya menghilang di balik pintu.
Neno tidak mencuri mayat, anak yang baru saja menolak tawaran minum
itu menjawab: “Ia baru saja bersetubuh dengan pisang,” sambungnya.
Rafael merasa kepalanya membesar dan kulit wajahnya menebal. Tak
pernah sebelumnya ia bayangkan, sebagai lurah ia akan ikut memikirkan
hal sekonyol itu. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Tanah Jawa,
dan kembali ke Timor dengan cita-cita mulia ingin menjadi anak yang
mengabdi kepada orang tuanya. Kuliah yang lama telah membuat ayahnya
miskin dan hilang kepercayaan padanya, meski lelaki tua itu tetap
berusaha mencintai anak-anaknya. Setelah dua tahun lamanya ia ikut
mengurusi surat kabar kecil dan memenangi kursi bupati untuk sepupu dari
garis keturunan neneknya, ia ditunjuk menjadi lurah. Bukan di kampung
halamannya, tapi di pedalaman selatan kabupaten itu, di suatu
perkampungan yang baru saja dikukuhkan menjadi kelurahan.
“Tempatnya memang jauh,” demikian sepupunya itu berkata. “Tapi, jika
bekerja dengan baik, kau mempunyai kesempatan untuk menjadi camat.”
Ia tak yakin bisa menjadi lurah, sebab sembilan tahun lamanya ia
belajar ilmu komunikasi, dan selalu bercita-cita menjadi wartawan.
Selain itu, ia dibesarkan di pinggiran kota/kabupaten dan tak begitu
yakin akan mampu berbaur dengan orang-orang kampung. Tapi posisi camat
selalu menggiurkan sejak kecil, sebab hanya pak camat yang mempunyai
mobil dinas dengan seorang sopir, dan tiap hari Natal selalu
membagi-bagikan beras dan kue kering bagi setiap orang yang bertandang.
Jika beruntung, lepas menjadi camat ia akan menjadi bupati, membuktikan
kepada ayahnya bahwa ia bisa dipercaya.
Maka dikuburkannya mimpi dan cita tentang surat kabar itu, dan
dilantiklah ia menjadi lurah. Enam bulan kemudian, ia dinikahkan dengan
seorang bidan desa lulusan sebuah sekolah tinggi di Kediri, dan hidup
berbahagialah ia, setidaknya sampai masalah-masalah konyol ini
menghadang.
Awalnya ia berpikir, menjadi lurah di pedalaman Timor hanya akan
membuatnya berurusan dengan administrasi yang tidak begitu membikin
pusing, selain ikut mengatur masalah-masalah remeh seperti lepasnya sapi
ke ladang, serangan belalang kembar, pencurian kayu cendana, dan
hal-hal kecil lain. Baru setahun sesudah dilantik, ia dikagetkan dengan
kasus pencurian mayat, yaitu kasus yang tidak pernah ada sebelumnya
dalam sejarah orang-orang Timor. Sebelum ini, orang-orang Timor selalu
menghormati mayat, sebab mereka percaya bahwa jiwa orang mati berkumpul
bersama leluhur, dan mempunyai hak untuk mengatur orang-orang hidup.
Tapi waktu berputar sangat cepat dan dunia ikut berubah. Dalam waktu
tiga bulan, sudah ada tujuh mayat perempuan yang hilang.
“Ada ilmu hitam dari Pulau Alor yang pengikutnya membutuhkan mayat,”
demikian Naef Ataet, dukun kampung itu, berkata sesudah meludahkan
sirih-pinang ke tempurung kelapa. “Siapa yang bisa memelintir kepala
mayat dengan giginya, akan kebal pada senjata tajam.”
Ia pernah mendengar ilmu sejenis itu dalam perantauannya di Tanah
Jawa, dan ia tidak begitu yakin bahwa orang-orang Alor mempunyai ilmu
yang sama. Namun, bersikap lebih tahu dari dukun kampung tentang
persoalan mistis hanya akan membuat ia kehilangan wibawa.
“Pertama, mereka membunuh perempuan-perempuan kita. Kedua, mereka mencuri mayatnya,” demikian sang dukun berkata.
Memanglah akhir-akhir ini banyak perempuan Timor yang mati. Baik mati
saat melahirkan maupun mati sebagai tenaga kerja di negeri seberang,
dikirim pulang dalam peti mayat dengan isi perut kosong melompong. Sejak
kehilangan mayat yang ketiga, Rafael selalu memerintahkan penjagaan
ketat, tiap ada perempuan yang mati lagi. Bukan hanya oleh satgas
hansip, melainkan oleh anak-anak karang taruna, yang seharian tidak
melakukan apa-apa selain menjadi ojek dan menunggu jadwal pesta dansa.
Malam ini, anak-anak itu datang kepadanya, di tengah malam buta, bukan
dengan pencuri mayat, tapi dengan seorang pemuda tanggung yang
menyetubuhi batang pisang.
“Apa yang harus kami lakukan padanya?” anak yang janggutnya dikucir itu bertanya.
Rafael melangkah keluar dari rumah dan berjalan ke lopo [1].
Anak-anak muda itu mengikutinya tanpa suara. Ia menyuruh mereka
menyalakan lentera yang tergantung di empat tiang lopo, sementara ia
bersila di dipan. Anjing melolong di kejauhan dan burung hantu menangis
sendu setiap dua menit. Angin berembus pelan dan dingin merasuk sampai
belulang.
“Tutupi Neno dengan bete’ [2]-mu,” katanya kepada seorang
anak yang sedang membetulkan bete’-nya: “Tak pantas membiarkan manusia
telanjang, sejahat apa pun dia.”
Anak yang ia tunjuk itu melepaskan bete’ yang melingkari pinggangnya,
dan bercelana pendek, ia menutupi tubuh Neno. Neno, dengan wajah
bersalah dan ketakutan, tak henti menatap Rafael, meminta kasihan dan
pengampunan. Rafael membuang muka, namun hatinya telah jatuh iba.
“Bagaimana kata kalian?” ia berkata sesudah lentera-lentera bernyala
terang dan anak-anak muda itu mengerumuninya di sekitar dipan. “Ia
bersetubuh dengan pisang. Baik. Ia sudah melakukan hal itu. Jika ia
menyesal, mari kita biarkan ia pergi. Jangan sampailah masalah ini
diketahui lebih banyak orang. Ini sangat memalukan. Bagaimana?
Sanggupkah kalian menanggung malu sebesar itu?”
Neno menatapnya dengan terima kasih, tapi ia bisa melihat beberapa orang mencibir, di antara wajah-wajah yang terangguk-angguk.
“Tadinya kami ingin melakukan hal itu, Pak Lurah,” laki-laki lain
lagi menjawab. Anjing masih melolong di kejauhan. “Tapi bukan pisang
sembarang pisang yang ia kerjai. Itu pisang di mata air suku Ahoenulan,
di dekat lembah sekitar Kali Nunhala. Ia telah menodai tempat keramat
suku Ahoenulan. Taef Ahoenulan, anak Uis Ahoenulan, sang kepala suku
Ahoenulan, tadinya bersama kami. Ia yang menelanjangi dan memukuli anak
ini, dan sekarang sedang memanggil ayahnya. Saat kita berbicara ini,
mungkin mereka sudah setengah jalan menuju tempat ini. Kita tidak bisa
lagi membiarkan Neno pergi begitu saja.”
Rafael menarik napas panjang-panjang dan menatap langit-langit lopo
sebelum mengembuskannya. Kulit jagung menyembul dari celah papan di
langit-langit, yang tua dimakan serangga. Ini lopo peninggalan lurah
sebelumnya dan sebelumnya lagi, dan mestinya ia tidak menaruh hasil
panen di situ, sebelum memastikan bahwa langit-langitnya tidak sedang
digerogoti serangga.
“Pak Lurah,” orang yang tadi memberi bete’-nya membuka suara. “Jika
saya boleh bicara, anjing itu melolong sejak kami memergoki Neno. Kami
pikir, tentulah si Neno ini sedang mencari le’u-le’u [3]. Siktus anak Tua Kolo telah kami suruh memanggil Naef Ataet untuk memeriksanya.”
“Kono!” Neno menghardik. “Aku tidak mencari le’u-le’u. Kau mengenalku, aku tidak mungkin begitu!”
Rafael mengusap wajahnya. Semua tiba-tiba menjadi lebih rumit dari
apa yang ia bayangkan. Saat kuliah di Tanah Jawa, buku-buku membuat ia
berhenti percaya pada segala macam sihir dan le’u-le’u di kampungnya.
Tapi, baru beberapa waktu menjadi lurah di kampung ini, hal-hal tidak
masuk akal membuat keyakinannya pada buku dan ilmu pengetahuan meluntur
perlahan. Bagaimana menjelaskan patah tulang yang tersambung kembali
hanya dengan mantra dan ludah sirih-pinang? Bagaimana menjelaskan
perihal hujan yang terhenti setelah dihardik Naef Ataet dengan
mengacungkan aluk [4]-nya? Bagaimana menjelaskan perihal
belalang yang menyerang seisi kampung, tepat sesudah suku Anikaliti
merobohkan rumah adatnya tanpa upacara yang benar? Dan masih panjang
daftar hal-hal yang tidak bisa ia cerna, yang tidak pernah ia temukan
penjelasannya di kuliah mana pun.
Dari tikungan dekat kapel kecil, di seberang jembatan kayu yang
hampir roboh dimakan usia, dua lentera berjalan beriringan dengan lima
bayang panjang manusia dalam balutan kaos partai warna-warni dan lilitan
bete’ di pinggang. Uis Ahoenulan berjalan di depan, diikuti Naef Ataet,
dan tiga pemuda yang gegas. Begitu memasuki lopo, tanpa berkata
apa-apa, Uis Ahoenulan, sang kepala suku Ahoenulan, mengangkat tangannya
tinggi-tinggi dan menampar wajah Neno. Barulah sesudah pemuda malang
itu tersungkur di lantai beralas debu tanah, Uis Ahoenulan membuka
mulutnya.
“Kau mempermalukan dirimu sendiri, dan mendatangkan amarah atas nenek moyang kami. Kampung ini akan mendapat kutuk!”
Neno tetap menunduk, kebingungan antara harus membetulkan selimut
atau menghapus darah yang kembali muncrat dari bibirnya. Satu-dua pintu
rumah mulai terbuka, dan orang-orang laki-laki berdatangan oleh
keributan kecil itu.
Setelah seorang hansip dibantu dua anak lain mengeluarkan kursi
plastik dari dalam rumah Rafael, duduk melingkarlah mereka di lopo itu.
Rafael, Naef Ataet, dan Uis Ahoenulan bersila di dipan, sementara Neno
bersimpuh di lantai tanah yang berdebu. Orang-orang laki-laki yang lain
melingkarinya; duduk di kursi atau berdiri di tirisan lopo. Perempuan
dan anak-anak hanya melihat dari kejauhan tanpa ada keberanian untuk
mendekat.
Naef Ataet mengambil sirih-pinang dari aluk-nya, mencampurkannya
dengan kapur dan beberapa akar pohon sebelum mengunyahnya. Uis Ahoenulan
membuka aluk-nya, menawarkan sirih-pinang dan kapur kepada Rafael.
Rafael menolak dengan sopan, sebab ia telah menggosok gigi sebelum
mencumbu istrinya.
Beberapa jurus kemudian, Naef Ataet meludahi telapak tangannya, dan
dengan ludah merah darah itu, ia mengusap wajah Neno. Neno bergeming.
Naef Ataet mendekatkan mulutnya ke telinga pemuda itu, yang kiri dan
yang kanan, meniupnya dalam satu embus napas panjang, membaca beberapa
mantra lagi, meniup lagi, lalu menarik kembali tubuhnya.
“Tak ada kejahatan dalam dirinya,” demikian ia bergumam dalam bahasa Dawan
[5]: “Anak ini tidak bersekutu dengan iblis, sekarang dan kemarin. Ia
tidak bertalian dengan le’u-le’u mana pun. Hatinya bersih bagai kapas
dan para leluhur mencintainya.”
Sesudah Naef Ataet kembali duduk, semua mata tertuju kepada Rafael.
Rafael sadar, itu adalah waktu untuk ia mengambil alih, menunjukkan
wibawanya sebagai lurah. Ia membersihkan tenggorokannya dengan deheman
kecil, tiga atau empat kali, sebelum membetulkan duduknya. Burung hantu
kembali mengirim gidik, tapi anjing telah berhenti melolong.
“Jika hatimu bersih dan kau dicintai leluhur, mengapa kau melakukan hal itu, Neno?”
Antara takut dan malu, Neno mengedarkan pandangannya. Angin dingin
berembus dan mata tiap laki-laki berkilat di bawah lampu, menantangnya.
Beberapa detik kemudian, apa yang keluar dari mulutnya membuat
orang-orang menjadi iba sekaligus geli: “Saya hanya ingin sifon [6].”
“Sifon? Sama pisang?” Rafael bertanya lagi, tak percaya pada apa yang ia dengar.
Tak ada jawaban. Neno melihat ke lantai tanah berdebu dan menggerak-gerakkan kakinya.
“Di mana kau disunatkan?”
Tak ada suara.
“Di mana kau disunatkan, Neno?” Rafael mengulangi pertanyaannya.
“Di Naef Ataet,” Neno menjawab. Lirih dan ketakutan.
Orang-orang melihat Naef Ataet. Naef Ataet melihat aluk-nya dengan wajah setenang sungai, sambil terus memamah.
“Kenapa kau sifon ke batang pisang, Neno?”
Neno menatap Rafael dengan ketakutan.
“Neeta yang biasa menjadi tempat sifon telah mati sesudah
melahirkan,” suaranya pelan dan lirih. “Tak ada perempuan untuk bisa
dijadikan tempat sifon lagi, sementara waktu untuk sifon hampirlah
habis. Luka saya hampir sembuh total. Jika tidak segera di-sifon,
kemaluan saya akan mati membusuk,” sambungnya.
“Tapi, kenapa batang pisang?”
Beberapa laki-laki tersedak menahan tawa, tapi Rafael mulai terlihat marah.
“Naef Ataet menyarankan mayat, tapi saya memilih batang pisang,” Neno menjawab lagi, pelan dan ketakutan.
Rafael merasa puluhan kunang-kunang terbang mendatanginya,
menyerangnya. Gumam orang seramai lebah. Kepalanya berdenyut ingin
meledak. Sempat ia melirik ke samping, melihat Naef Ataet mengucapkan
sesuatu yang tidak ia pahami, yang memuncratkan rintik-rintik ludah
sirih-pinang ke wajahnya. Selebihnya ia tidak ingat apa-apa lagi.
Keterangan:
[1] Lopo: Rumah tradisional penduduk Timor. Digunakan juga sebagai lumbung dan tempat pertemuan.
[2] Bete: Selimut panjang yang biasa dipakai laki-laki Timor.
[3] Le’u-le’u: Jimat.
[4] Aluk: Tas kecil dari kain tenun, digunakan untuk menyimpan sirih pinang dan barang-barang keramat.
[5] Bahasa Dawan: Bahasa daerah masyarakat Dawan, Pulau Timor.
[6] Sifon: Ritual persetubuhan wajib pasca-sunat pada masyarakat Dawan, Pulau Timor. Dilakukan sebelum luka sunat benar-benar sembuh.
Felix K. Nesi lahir di Timor, Nusa Tenggara Timur. Kumpulan ceritanya berjudul Usaha Membunuh Sepi (Penerbit Pelangi Sastra, 2016).
“Terkadang apa yang kamu inginkan sulit sekali digenggam. Justru
yang tak terlalu kamu inginkan, mengemis-ngemis untuk dimiliki.” (hlm.
109)
Beberapa kalimat favorit buku dalam buku ini:
“Cermin tidak pernah berbohong. Dia merefleksikan apa yang tersaji di hadapannya, di dunia ini, di kehidupan ini.” (hlm. 7)
“Tuhan akan mendengar doa-doa ketika kita panjatkan kepada-Nya.” (hlm. 55)
“Kenyataan terkadang terkumpul dari pilihan-pilihan masa lalu kita.” (hlm. 151)
“Cinta itu bukan tergantung pada pasang surutnya hubungan dengan
seseorang, tapi perasaan cinta yang ada di hati itu sendiri.” (hlm. 162)
“Di dunia ini tak ada yang bisa mengenal diri kita seratus persen. Bahkan, diri kita sendiri.” (hlm. 183)
“Hidup memang tak rumit. Jika manusia tetap berpikir positif, selalu
ingin mengubah kehidupannya ke arah yang lebih baik.” (hlm. 214)
Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:
Sebagian besar kegagalan sebuah hubungan dikarenakan rasa ingin
memiliki menduduki peringkat nomer satu sebagai langkah pertama yang
harus dilakukan. (hlm. 15)
Memiliki yang sempurna pun bukanlah memiliki secara utuh. Orang yang
kita cintai itu punya hak atas dirinya. Begitu juga dengan Tuhan yang
menciptakannya. Sewaktu-waktu, Tuhan boleh membolak-balikkan hatinya.
(hlm. 16)
“Kelamaan kalau harus memahami, memaklumi, memercayai dulu sebelum memiliki, keburu direbut orang nantinya!” (hlm. 16)
“Cinta adalah kebebasan yang berkomitmen, hasrat yang bertanggung jawab, dan kasih yang tak mengenal pamrih.” (hlm. 16)
“Jika cinta luntur, anak-anak yang menjadi beban.” (hlm. 22)
“Lo yang bikin kisahnya lo, lo yang bikin warnanya, dan lo juga yang bikin ancurnya!” (hlm. 24)
“Sudah hukum alam jika laki-laki itu mata keranjang dan perempuan itu mata duitan.” (hlm. 26)
“Hati-hatilah kepada gadis yang sakit hati. Caranya balas dendam selalu tak disangka-sangka.” (hlm. 28)
“Untuk menjadi laki-laki dewasa, carilah hubungan yg tak hanya
membuatmu dewasa hasrat, tetapi juga akal pikiran dan iman.” (hlm. 28)
“Tak ada yang bisa menjamin apakah hati seseorang sudah diselimuti iman atau belum.” (hlm. 54)
“Kalau jalan lurus jelas-jelas tak bisa dipilih, bukankah berarti jalan pintas adalah satu-satunya pilihan?” (hlm. 79)
“Terkadang, orang yang sudah meninggal itu tetap terasa dendamnya di dunia.” (hlm. 100)
“Sesama manusia sombong dilarang saling mengolok!” (hlm. 138)
“Jangan terlalu mencintai seseorang. Hanya ada satu orang yang patut kau sayangi.” (hlm. 161)
“Kau boleh beranggapan bahwa cinta adalah gambling, tapi hati gadis bukanlah dadu atau uang taruhan!” (hlm. 173)
“Bukankah manusia adalah pusatnya dosa dan kesalahan?” (hlm. 185)
“Cinta tak hanya perihal saya cinta kamu atau kamu cinta saya.” (hlm. 201)
Terkadang hati mencoba menutupi apa yang paling mengganggu pikiran seseorang.
Berpura-pura tak merasa, berpura-pura tak terganggu.
Namun, segala kepura-puraan akan sia-sia pada akhirnya.
Yang dirasa tetap akan terungkap, yang menganggu tetap akan diucap.
Aku sudah menjalani setengah perjalananku di sini. Hidup sendiri demi
sebuah ambisi besarku, berjuang dengan semua kekuatan yang aku miliki
untuk membuktikan bahwa aku mampu dan pantas mendapatkan mimpiku.
Sebentar lagi, semua usahaku akan terbayar, impianku akan tercapai dan
ambisiku akhirnya terpenuhi. Aku masih ingat ketika pertama kali akan
melakukan perjalanan ini, dengan segala keegoisan dan sifat keras
kepalaku, aku mengorbankan semua yang sudah aku miliki, aku mengabaikan
semua orang terdekatku, aku hanya menuruti diriku sendiri.
Pengorbananku termasuk meninggalkan orang yang telah lama
mendampingiku, berada di sisiku bahkan di masa-masa paling sulit dalam
hidupku. Seseorang yang tanpa ragu mendukung semua impianku bahkan
ketika impian itu membuatku harus meninggalkannya. Seseorang yang selalu
aku sebut dalam doaku setelah nama kedua orangtuaku. Sebuah pilihan
yang sangat berat untukku di kala itu. Namun, ada keyakinan dalam diriku
yang berkata takdirku adalah miliknya dan begitu juga takdirnya adalah
milikku. Keyakinan itu yang menguatkanku hingga hari ini, menenangkan
hatiku yang terus memupuk rindu padanya. Jikapun keyakinan itu keliru,
pada akhirnya aku hanya mengharapkan kebahagiaan melingkari kami berdua
sebab siapa yang tahu soal takdir? Terlepas dari semua itu, aku
bersyukur pernah menjalani hari-hari indah bersamanya, kini dia adalah
bagian dari perjalananku yang sudah lalu, yang tersimpan rapi bersama
ingatanku tentang rumah.
Saat ini, aku hanya ingin memfokuskan diriku pada perjalanan ini.
Perjalanan yang tidak hanya memberikanku kehidupan baru namun juga
memori-memori baru yang perlahan-lahan menggantikan memori lamaku.
Setengah perjalanan sudah berlalu dan hingga hari ini hanya kebahagiaan
yang mengisi hari-hariku di sini. Semua berjalan lancar tanpa hambatan
yang berakibat fatal. Aku pun sangat mensyukurinya dan berharap semua
akan tetap seperti ini hingga tiba saatnya aku pulang.
***
Aku baru saja terbangun saat membaca sebuah pesan dari teman lamaku
di rumah. Ia memberi kabar tentang seseorang yang tak kuizinkan hadir
kembali ke hidupku. Sakit, katanya dalam pesan itu. Sangat
mengkhawatirkan, begitu yang dijelaskannya dan membutuhkan bantuanku.
Seketika rasa kantukku hilang, berganti perasaan aneh yang menyelimuti
hatiku. Aku membacanya sekali lagi, kemudian aku menghapusnya. Aku tidak
peduli kataku pada diriku sendiri. Aku tak pernah lagi mencari tahu
tentang orang itu. Sedikitpun tak ada celah yang kubuka untuk sekedar
bertukar kabar. Barulah pagi ini, aku mendapat kabar tentangnya. Kabar
yang sama sekali tak kuharapkan. Namun, aku putuskan untuk melanjutkan
hariku seperti biasa. Aku memilih untuk tidak peduli sedikitpun.
Siang hari saat aku sedang beristirahat di kafetaria, ponselku
berbunyi, sebuah panggilan video dari temanku yang aku abaikan pesannya
tadi pagi. Aku memeriksa jam tanganku, sekarang jam 12 siang di
Jakarta. Pantas saja, dia menelpon.
“Hei, aku menganggumu tidak?” katanya sesaat setelah tersambung.
“Tidak kok mba, aku lagi jeda” Jawabku sambil tersenyum.
“Kenapa pesanku tidak dibalas?” Menanyakan pesannya tadi pagi.
“Belum sempat, maaf. Hari ini, kelasku penuh dari pagi” Jawabku sambal menghela napas.
“Dia benar-benar membutuhkan bantuanmu,
cuma kamu yang bisa bantu dia saat ini” Dari raut wajahnya aku melihat
kekhawatiran yang mendalam.
“Tapi aku gak bisa, aku jauh di
sini. Lagipula, kenapa harus aku? Keluarganya lebih memungkinkan untuk
membantunya” Aku berusaha menjelaskan kondisiku.
“Aku gak tahu sejauh apa hubungan kalian dulu. Aku gak
tahu, seberapa membekasnya kamu di hatinya. Sampai-sampai di kondisinya
sekarang ini, cuma nama kamu yang bisa dia sebut” Dia menjelaskan
dengan nada bicara yang penuh pengharapan.
“Kalau begitu, minta saja orang lain
berpura-pura jadi aku” Dengan nada sedikit kesal aku mencoba memberi
solusi yang tak sempat aku pikirkan.
“Hei, jangan begitu. Bagaimana jika ini
seperti permintaan terakhirnya? Bagaimana jika ini terakhir kali kamu
menolongnya?” Dia masih dengan sabar membujukku.
“Mba, yang kamu sebut kali terakhir itu
sudah lampau bagiku. Aku sudah melewati terakhir kali itu dan saat itu
aku minta agar dia tetap menjauh, jangan pernah kembali lagi. Lagipula
sudah ada yang lain yang mendampinginya saat ini kan?” Kataku dengan memberi penekanan di akhir kalimat.
“Dan lagi, kondisiku gak memungkinkan untuk pulang. Jadwalku sedang padat karena sebentar lagi ujian dan mulai penyusunan tesis” Aku menambahkan.
“Hei dengar, semua orang di sini berharap
sama aku untuk bisa membawa kamu ke sini. Karena yang punya kontakmu dan
masih bisa menghubungimu, cuma aku. Dan aku berharap kamu bisa bantu.
Kalau kamu gak mau melakukan ini untuk dia, lakukan untuk
keluarganya, mereka pernah jadi bagian hidupmu juga dan lakukan untuk
kamu juga, untuk ketenangan hati kamu” Dia masih berusaha membujukku
agar mau menolong orang itu.
“Ketenangan hatiku ada di sini mba. Bukan
di sana. Maaf, aku belum bisa bantu apapun selain doa. Semoga dia cepat
pulih. Aku pamit dulu mba, ada kelas lagi nih. Terimakasih untuk
kabarnya ya” Akhirnya aku memlih untuk menyudahi obrolan dengannya.
“Oke, nanti malam aku hubungi lagi ya. Tolong kamu pikirkan baik-baik, jangan lagi menyimpan dendam. See ya”
Sambungan telepon sudah terputus, namun aku masih menatap layar ponselku.
Seketika sekujur tubuhku lemas, rasa sakit itu kembali lagi,
ingatan-ingatan tentang dia yang telah lama aku abaikan. Dua tahun sudah
berlalu sejak aku memintanya untuk tetap menjauh dariku, membebaskan
aku dari bayang-bayangnya dan membiarkan aku memilih orang lain yang
lebih baik untukku. Tentu saja, aku tidak ingin kembali ke sana kepada
orang yang paling tidak mensyukuri kehadiranku. Hidupku sudah tenang
tanpa dia, hatiku sudah pulih dan sudah dapat ditinggali oleh orang yang
lebih baik. Lalu, sekarang apa lagi yang dia inginkan dariku? Aku
bertanya pada diriku sendiri.
Sebelum bangkit dari kursi dan meninggalkan kafetaria ini, aku
menghela napas panjang dan berdoa semoga sisa hariku tak terganggu oleh
kabar tentang orang itu. Hari ini masih ada sebuah presentasi yang harus
aku sampaikan dan malam nanti ada anak-anak yang menunggu ilmu baru
dariku. Aku mohon, jangan lagi menganggu konsentrasiku atau merusak
mimpi-mimpiku. Aku sudah tenang dengan hidupku sekarang. Aku bicara
dalam hati seolah-olah orang itu dapat mendengarku dan entah bagaimana
aku selalu yakin dia masih mendengarku.
Kadang hidup senang bergurau.
Memberi hiburan entah untuk siapa.
Mungkin untuk dirinya sendiri.
Atau mungkin untuk manusia yang seringkali berpikir dapat mengendalikan semua yang terjadi di dalam hidupnya.
Cernak Ari Vidianto (Padang Ekspres, 29 Oktober 2017) Ide Cemerlang Nadia ilustrasi Orta/Padang Ekspres
Panas yang begitu terik, membuat Nadia mempercepat langkah kakinya.
Anak perempuan yang masih kelas empat SD ini ingin cepat-cepat sampai di
rumah. Pelajaran hari ini cukup menguras tenaganya. Ada olahraga,
matematika dan bahasa Indonesia. Nadia merasa lelah sekali. Akhirnya
setelah lima belas menit perjalanan ia pun sampai di rumahnya yang indah
dan sederhana. “ASSALAMUALAIKUM!” seru Nadia memberi salam saat tiba di rumahnya.
“Waalaikumsalam!” jawab Mama sambil membukakan pintu. Nadia pun langsung bersalaman dengan Mamanya.
“Ma, hari ini Mama masak apa?” tanya Nadia.
“Oseng kangkung sama tempe goreng,” jawab Mama.
“Hmm…enaaak. Kalau ingat oseng kangkung jadi ingat nenek, Ma,”
“Oh, iya! Mama jadi ingat, tadi nenek telepon katanya hari Minggu
besok kamu disuruh main ke rumahnya. Kakek dan nenek sudah kangen sama
kamu. Kamu kan sudah satu bulan lebih tidak ke rumah mereka,” jelas mama
panjang lebar.
“Oh, gitu ya, Ma. Ya sudah Minggu besok aku akan ke rumah mereka,” jawab Nadia bersemangat.
“Ya sudah sebelum makan kamu ganti baju dulu lalu salat Zuhur ya?”
“Oke, Ma! Siap laksanakan perintah bos!” jawab Nadia sambil berlalu menuju ke kamarnya yang bercat pink.
Mama hanya tersenyum melihat Nadia. Memang Nadia anak yang penurut
sekali. Selain itu ia selalu mendapat rangking satu di sekolahnya.
Hari Minggu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah mandi, berdandan
rapi dan sarapan. Ia pun mengeluarkan sepeda berwarna pink
kesayangannya. Rumah kakek dan neneknya hanya berjarak satu kilometer.
Oleh karena itulah Nadia menggunakan sepedanya. Nadia pun telah siap
berangkat, ia lalu berpamitan dengan papa dan mamanya.
“Pa, Ma, Nadia berangkat dulu ya?”
“Iya Nadia, hati-hati di jalan ya?” jawab Mama.
“Salam untuk kakek dan nenek ya?” tambah Papa.
“Oke!” jawab Nadia singkat.
Ia pun bersalaman dengan kedua orang tuanya. Nadia pun segera
mengayuh sepedanya dan berlalu dari rumahnya. Papa dan mama tidak ikut
karena mereka mau menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor papa.
Di jalan menuju rumah kakek dan nenek terlihat hamparan sawah yang
sangat luas. Banyak pohon-pohon rindang dan di sekitarnya juga banyak
burung-burung yang hinggap dan bersarang di sana. Akhirnya setelah
perjalanan hampir setengah jam, sampailah Nadia di rumah kakek dan
neneknya.
“Kakek, Nenek! Nadia datang!” seru Nadia.
“Cucuku yang cantik sudah datang!” seru kakek dan nenek berbarengan.
Nadia pun memeluk keduanya dan berjabat tangan. Setelah itu mereka
segera masuk ke dalam rumah. Bercerita dan bercengkerama melepaskan
kerinduan antara mereka. Sampai-sampai Nadia tertidur di pangkuan
neneknya. Karena Nadia tidur kakek pun berlalu, dia menuju ke teras
rumah sambil memandang hamparan rumput hijau yang mengelilingi rumahnya.
Rumput-rumput itu sudah panjang-panjang dan tumbuh subur. Karena kakek
sudah tua dia pun tidak sanggup lagi memotong rumput-rumput itu dalam
jumlah banyak.
“Pasti kakek lagi memikirkan rumput-rumput itu lagi,” dalam batin nenek.
Hampir satu jam tidur, akhirnya Nadia pun bangun juga. Ia pun melihat
kakek dan neneknya sedang berada di teras rumah. Ia lalu menghampiri
mereka.
“Lagi ngapain sih Kek, Nek?” tanya Nadia penasaran.
“Ini, kakekmu lagi bingung bagaimana caranya memotong rumput-rumput yang ada di sekitar rumah,” jawab nenek.
“Oh,” jawab Nadia singkat. Ia pun melihat hamparan luas rumput-rumput
itu. Sejenak ia terdiam dan memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia mempunyai
ide.
“Kek, Nek, Nadia punya ide nih,” girang Nadia.
“Apa itu Nadia?” tanya Kakek penasaran. Lalu Nadia pun membisikkan
sesuatu ke telinga kakeknya. Neneknya pun tak mau ketinggalan dia
menghampiri Nadia dan minta di bisikkan juga ide Nadia.
“Wah ide yang bagus cucuku,” girang kakek.
“Iya benar tuh,” tambah nenek.
“Terima kasih,” jawab Nadia sambil tersenyum senang.
“ Kalau begitu kakek pergi dulu ya?”
“Iya kek!” jawab Nadia.
Kakek pun berlalu, Nadia dan nenek menunggu di depan rumah. Akhirnya
setelah setengah jam menunggu kakek pun datang bersama rombongan
tetangga yang membawa kambing mereka masing-masing. Memang di sekitar
rumah kakek banyak tetangga yang memelihara kambing.
Lalu kambing-kambing tersebut mereka lepas dan segera memakan semua
rumput-rumput. Ternyata inilah ide cemerlang Nadia. Ia menyuruh kakeknya
untuk membawa kambing-kambing tetangganya dan memakan rumput-rumput
itu. Kambing-kambing tersebut makan begitu lahap, para pemiliknya pun
senang. Karena mereka tidak perlu susah-susah mencarikan rumput untuk
kambing-kambingnya.
Akhirnya setelah satu jam lebih, rumput-rumput itu pun habis. Semua
tetangga segera mengucapkan terima kasih dan mereka bergegas pulang ke
rumah masing-masing. Kakek dan Nenek pun merasa senang. Karena
rumput-rumput itu sudah bersih di halaman rumah mereka. Ini semua berkat
ide cemerlang Nadia.
“Wah cucuku memang pintar,” seru nenek sambil memeluk Nadia.
“Nanti kakek akan kasih es krim!” kata kakek.
“Horee…Asyiik!” girang Nadia. Ia pun merasa senang sekali karena telah membantu kakek dan neneknya. (***)