Daftar Blog Saya

Minggu, 29 Oktober 2017

Kalau Kau Memandang dengan Mata Terpejam


Cerpen Hajriansyah (Kompas, 29 Oktober 2017)
Kalau Kau Memandang dengan Mata Terpejam ilustrasi Niluh Pangestu - Kompas.jpg
Kalau Kau Memandang dengan Mata Terpejam ilustrasi Niluh Pangestu/Kompas
Birin mengucek matanya yang merah darah. Semakin dikuceknya semakin perih. Jari-jarinya basah. Agak samar ia melihatnya berwarna darah. Sementara pecahan kaca semakin menempel, perih makin parah. Ibunya yang melihatnya terpekik. Hening sesaat, lalu ia berteriak, “Usuuup!” Rumah lanting berayun, tanda seseorang menjejak dengan kaki yang tergesa. Pamannya itu bereaksi cepat, ia tangkap tangan Birin yang masih mengucek, digendongnya anak kecil itu dan berlari membawanya ke mantri terdekat. Ibunya rebah di atas kaki bertelimpuh, hilang tenaga. Ibu-ibu tetangga datang menghiburnya.
Peristiwa hilangnya penglihatan Birin itu terjadi saat umurnya belum genap lima tahun. Menjelang usia sekolah. Kini ia telah memasuki usia remaja, waktu sepuluh tahun berlalu seperti air sungai mengalir menuju muara. Kadang terasa kadang tidak. Birin menjalaninya dengan tabah. Tapi tidak bagi ibunya. Orangtua yang malang itu sering menangis di malam hari. Suaranya samar-samar ditangkap telinga adiknya, Usup, yang tidur berbatas dinding tripleks kusam. “Ya Tuhan, ambillah mataku ini, penglihatanku ini, dan berikan untuk anakku….”
Doa-doa yang perih itu seiring isak tangis ditahan yang menyayat hati. Wanita separuh baya yang baru menikmati menimang anak di usianya yang menjelang 40 tahun itu kehilangan suaminya saat Birin baru berusia belum dua tahun. Buruh penggergajian kayu di tepi Sungai Jagabaya itu tewas di tempat kerja, saat balok kayu besar yang baru digergajinya separuh jatuh menumbuk kepalanya ketika ia sedang makan siang di sisi panggung penggergajian. Kesedihan wanita itu makin dalam saat menyaksikan anaknya tak dapat melihat seperti anak-anak kebanyakan, dan merelakannya tak dapat sekolah. Setahun lewat berjalan setelah Birin kehilangan penglihatan, wanita penuh kasih itu meninggalkan anaknya semata wayang. Usuplah yang kemudian menggantikannya, menjadi ibu-menjadi ayah bagi anak buta yang tak pernah menangis itu.
Usup sendiri bekerja serabutan. Keterampilannya melukis dan menulis puisi membantunya mendapatkan uang. Bila-bila ia jadi tukang cat dinding, di lain waktu membantu temannya yang pemborong membuat taman. Bila tak ada pekerjaan di luar ia membuat lukisan wajah pesanan, dan saat malam sendirian ia menulis puisi atau cerita pendek.
Suatu hari Birin menegurnya dari belakang. Kemenakannya yang buta itu tidur di kamar dulu ibunya tidur, di sebelah kamar Usup yang sama kecil.
“Paman sedang menulis puisi, ya?”
Usup berpaling memandang wajah kemenakannya yang polos itu. Ia menjawab dengan sepenuh kasih yang dapat diberikannya. “Iya. Kenapa semalam ini kau belum tidur?”
“Aku baru berbincang dengan Kakek Jibu.”
Dahi Usup mengernyit, tapi segera ia acuh. Bukan sekali ini Birin berkata ia baru bertemu atau berbincang dengan Kakek Jibu. Usup sudah terbiasa meski awal-awalnya ia heran juga, siapa Kakek Jibu. Pikirnya, Birin hanya berhalusinasi dan mengisi kekosongan waktunya dengan cerita-cerita yang tak mudah dicernanya itu. Konon, Kakek Jibu adalah jelmaan buaya penguasa Sungai Jagabaya.
“Paman, aku ingin menulis buku. Maukah paman membantu menuliskannya untukku?”
“Sangat mau, nak. Sini, duduk di samping paman,” kata Usup menarik tangan Birin. “Berceritalah, paman akan menuliskannya.”
Anak buta itu duduk perlahan di sisi pamannya. Ia menoleh ke arah pamannya yang telah siap meletakkan jemarinya di atas tombol-tombol huruf. Notebook hasil dari honor beberapa juara lomba menulis puisi itu mendongak ke atas, seperti menantang atap rumah mereka yang tak berplafon.
“Kasih ibu seperti sungai yang menampung deras aliran bawah sungai. Tahukah Kau, arus bawah itu sangatlah kencang? Aku tahu. Kakek Jibu yang mengatakannya padaku. Begitu pula yang kurasakan saat merendamkan kaki di sisi buaya tua itu. Bagaimana Paman, menarikkah kata-kata pembuka ini? Sudah kau tulis bukan.”
“Iya. Teruskanlah!”
“Ibuku adalah wanita yang teguh. Seperti sungai yang tebing-tebingnya luruh, ia tetap menjagaku sepenuh hatinya….”
Malam itu luruh bersama cerita Birin. Usup mengetik setiap kata dengan sabar. Air matanya merembes dari ujung kelopaknya. Perlahan, tangis tanpa suara, tanpa sengguk, tanpa jeda. Waktu sekian jam habis untuk satu bab cerita, enam halaman. Tertulis di sana tepat 2.100 kata.
“Mengapa paman menangis?”
“Ah, kata siapa paman menangis.”
“Aku merasakannya. Setiap tetes di pipi paman aroma asinnya sampai ke hidungku.”
“Ah, itu perasaanmu saja. Aku tak menangis.” Usup menyapu pipinya. Tiba-tiba tangan Birin juga menyeka air matanya, Usup terkejut, seketika itu langsung memeluk kemenakannya.
“Paman tak perlu malu untuk menangis. Setiap tetesnya membasuh luka di hati kita. Semua orang, tak besar tak kecil menangis, paman. Orang kaya menangis, yang miskin pun menangis. Yang berilmu menangis, yang bodoh begitu pula. Alasannya bisa berbeda, namun tangis menjadi obat bagi sesak di dada.”
“Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu, anakku?”
“Aku tak pernah berdusta.”
“Benarkah?” Usup menarik tubuhnya, tangannya tetap memegang pundak Birin. Ia mengambil jarak, benar-benar merasa heran. “Sekali pun kau tak pernah berdusta?”
“Ya, aku tak pernah berdusta. Juga tentang Kakek Jibu, meskipun paman tidak memercayainya.”
Kali ini Usup benar-benar kagum sekaligus penasaran. Kemenakannya ini seperti tahu isi hatinya.
“Paman ingin kukenalkan dengan Kakek Jibu? Kemarilah!”
Kali ini Usup yang dituntun Birin. Mereka membuka pintu rumah lanting yang menghadap ke sungai. Kaki Usup yang ragu terasa berat, namun tetap diikutinya langkah kecil di hadapannya. Setiap jejakan iramanya mengayun rumah kecil di atas sungai itu.
Dua beranak paman dan kemenakan itu duduk mencangkung di atas papan yang disangga bambu dan batangan pohon berlumut itu. Tangan Birin menepuk-tepuk permukaan sungai, mulutnya memanggil lirih, “Kakek Jibu, Kakek Jibu, datanglah. Pamanku ingin berkenalan denganmu.”
Waktu melambat bagi Usup. Pikiran dan perasaannya di antara percaya dan tidak percaya, tapi ia mau bersabar kali ini. Tak berselang lama, permukaan sungai bergelombang. Sebuah benda sebesar batang ulin berdiameter sehampir satu meter menyembul dari bawah sungai. Tepatnya, seekor binatang. Buaya! Warnanya persis batang taradam dengan lumut-lumut hijau tua.
Usup hampir terjatuh dari jongkoknya. Refleks tangannya menahan tubuhnya yang terasa berat. Ia benar-benar percaya, namun tak sepenuhnya ingin percaya. Matanya dikuceknya. Birin menahan posisi pamannya yang ingin berdiri. “Jangan takut, Paman. Kakek Jibu baik, ia tidak memakan manusia. Kitalah manusia, yang sering menakut-nakuti makhluk selain kita. Kemarikan tanganmu, belailah ia!”
Usup benar-benar percaya, meski tak ingin sepenuhnya percaya. Telapak tangannya membelai kepala sebesar ember itu. Binatang itu diam, matanya yang nyalang. Usup seperti mendengar suara yang menjalar lewat tangannya.
“Namaku Kakek Jibu. Kau mungkin sudah sering mendengarnya dari kemenakanmu. Aku pun tahu nama dan kebaikanmu darinya. Aku makhluk Tuhan Yang Esa, sepertimu. Kau mungkin heran, tapi percayalah kuasa Tuhan yang mengalir lewat kepolosan hati kemenakanmu. Aku adalah penjaga keluargamu. Datukmu yang bernama Harun, seorang Paaliran, yang pertama memeliharaku. Sampai ke generasi ayahmu, tak ada lagi yang mau bersahabat denganku. Kakak ayahmu yang tertua yang telah menalak persahabatanku dengan keluargamu. Tak mengapa bagiku.
Aku paham zaman telah berganti. Orang-orang tak perlu lagi persahabatan dan perlindungan makhluk semacamku. Tak mengapa bagiku. Cukuplah kasih dan pemberian keluargamu hingga kakekmu.
Karena kebaikan merekalah, kini aku menemani kemenakanmu. Sebenarnya aku tak benar-benar menjaganya. Aku hanyalah perantara, karena kasih dan kebaikan yang mengalir lewat tangan orang-orang yang baik hati, kasih dan kebaikan Tuhan Yang Esa menjaga keturunan mereka.”
Tangan Birin masih memegang tangan pamannya. Ia turut mendengar suara itu.
“Birin, ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir kita. Setelah ini, pamanmu yang akan sepenuhnya menjagamu sampai kau kembali ke pangkuan ibumu. Selesaikanlah ceritamu, sampaikan kisah tentang kasih dan cinta kepada manusia.”
Birin mengangguk-angguk, ia tampaknya paham maksud pembicaraan itu. Bibir pamannya hanya sanggup menyuarakan “iya”, meski ia tak tahu, “iya” untuk apa dan ke mana maksud tujuan pembicaraan dari suara yang menjalar di tangannya.
Sejak malam itu dua beranak paman dan kemenakan itu tenggelam dalam ketik kata dan suara lirih yang keluar dari mulut kecil penuh cinta itu.
Dari kata-kata yang seperti aliran sungai itu ia baru menyadari, ternyata banyak sekali yang ia tak dapat rasakan dan tahu sementara kemenakannya lebih memiliki kesadaran. Cerita tentang keluarga mereka yang pedih. Tentang ayahnya, Haji Isam, juragan kayu yang bangkrut bahkan jauh sebelum peraturan larangan illegal logging diterapkan pada masa Presiden SBY, karena ditipu. Ya, ia tahu ayahnya dulu orang kaya. Tapi ketika itu ia masih remaja dan tak mau ambil peduli keadaan mereka, mengapa mereka kemudian harus pindah ke rumah lanting yang dihibahkan rekan kerja ayahnya, persis di belakang rumah mereka yang besar di darat. Ia hanya tahu ayahnya meninggal tak lama setelah bangkrut. Ibu tirinya meninggalkan mereka, hingga Isah, kakaknya satu-satunya bersama suaminya, ayah Birin, yang menggantikan ayahnya.
Umar, ayah Birinlah yang bekerja sementara kakaknya membuat anyaman tanggui untuk membantu penghasilan suaminya yang tak seberapa dari memburuh di bekas penggergajian kayu milik ayah mereka. Usup terlalu asyik dengan teman-temannya yang seniman. Ia hanya merasa pedih sesaat dan kemudian tak mau ambil peduli lagi. Ia menjalani hidupnya seperti arus sungai mengalir di bawah rumah mereka.
Tepat pada malam ke-40 cerita Birin selesai. Pandangan anak kecil yang buta matanya itu ternyata lebih dewasa dibandingkan Usup sendiri. Setiap cerita yang didengarnya direkamnya begitu kuat, dan detail. Termasuk cerita ngalor-ngidul di warung tentang keadaan masyarakat dan politik negeri ini. Dan untuk itu semua, Birin hanya punya satu kata: Cinta. Sesederhana itu saja, meski tak sesederhana itu menurut Usup.
Malam-malam berikutnya adalah malam yang penuh panas demam bagi Birin. Keadaan itu tak juga membaik meski Usup telah mencoba membawanya ke mantri atau puskesmas terdekat. Obat telah diminum, tapi kesehatan Birin terus memburuk. Perlahan Usup mulai paham maksud pembicaraan Kakek Jibu. Mungkin, inilah kesudahannya. Birin meninggalkan Usup, untuk selamanya, di pangkuannya.
Orang-orang datang melayat dan membantu penguburannya. Remaja buta yang selalu membawa keceriaan di mana saja ia bersinggungan dengan tetangganya itu diantar orang banyak sekali. Usup bahkan tak menyangka akan sebanyak itu yang datang dan membantu. Ia baru tahu, ketika ditinggal bekerja, ternyata Birin sering keluar rumah beramah-tamah dan membantu orang-orang. Ia yang kecil dan seolah tak berdaya, bahkan lebih kuat dari Usup yang tua membujang itu.
Ketika membaca kembali tulisan Birin, yang dipikirkannya akan diusahakannya dicetak jadi buku ke temannya yang penerbit, Usup berhenti pada dua kalimat, dan benar-benar merenungkannya:
“Kalau kau memandang dengan mata terpejam, akan lebih banyak hal yang dapat kau lihat. Terutama kasih yang datang dari cinta kepada sesama, semuanya memenuhi semesta.”

Catatan:
  • Paaliran: Pawang buaya
  • Batang tarandam: Kayu gelondongan yang terendam di sungai
  • Tanggui: Caping khas Banjar yang biasa digunakan para pengayuh perahu

Hajriansyah, menulis puisi dan cerpen, tinggal di Banjarmasin. Karya cerpennya sudah dibukukan dalam Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami (Frame Publishing, 2009) dan Kisah-kisah yang Menyelamatkan (Tahura Media, 2016). Ia mengikuti program Kelas Cerpen Kompas 2017.

Surga di Formosa

 
 
 
 
 
 
1 Votes

Cerpen Kaka Clearny (Republika, 29 Oktober 2017)
Surga di Formosa ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Surga di Formosa ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Embusan sapu-sapu angin November membawaku terbang kembali memunguti serpihan asa yang pernah terberai. Tergoda oleh iming-iming gaji tinggi yang ditawarkan seorang calo TKI, aku memilih Negeri Formosa, Taiwan, untuk mengadu nasib, menggantungkan harapan-harapan pada koin-koin NT. Dengan semangat super meluber-luber, jiwa dan ragaku lesap menuju negeri empat musim bersama maskapai Eva Air, meliuk di birunya angkasa, menyelinap di antara gumpalan putihnya mega.
Kedua mataku berbinar. Aku merasakan angin daratan Cina menyapa lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu, saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi di Xindian sesaat setelah oto berpelat nomor aksara Han Zi itu memboyongku untuk menemui majikan. Aku tidak sendiri, ada Mr Chen yang notabene sebagai agenku.
Ada sesuatu yang membuncah isi kepalaku, hatiku membelungsing. “Bukankah aku sudah medical check-up, mengapa harus ke rumah sakit lagi?” gumamku dalam hati.
Meski begitu, aku tetap mengekor mengikuti jejak Mr Chen menuju lantai 7, ruangan nomor 23. Aroma pekat obat begitu kuat di dalam ruangan itu. Terdapat tiga ranjang pasien. Langkah kami lurus menuju ranjang yang memangku jendela.
Sontak perhatianku mengarah pada sosok pria yang tergolek pulas di atas ranjang. Terlihat kedua tangannya dalam keadaan terbungkus dan terikat pada masing-masing sisi ranjang. Separuh batok kepalanya terbalut perban dengan bercak darah. Di hidungnya terpasang selang makan. Di lehernya terdapat lubang sebagai saluran sedot dahak. Di dadanya terpasang alat pendeteksi detak jantung. Dan di bagian bawah ranjang terdapat kantong kencing.
Kondisi pria itu sungguh memprihatinkan. Ini pemandangan pertama yang mengerikan sepanjang hidupku. Terdapat dua wanita yang berdiri di masing-masing sisi ranjang. “Selamat petang, Nyonya Ma,” suara Mr Chen menyapa wanita di depannya memecahkan lamunanku akan sosok pria yang tergolek di atas ranjang.
“Petang, Mr Chen.” Salah satu wanita menjawab sapaan agen perekrutku. Wanita paruh baya, bertubuh kurus. Tingginya kurang lebih sama denganku 150 cm kurang sesenti. Tergambar jelas guratan-guratan penuh beban di wajahnya, kusam. Matanya terlihat lelah.
“Namanya Nana, baru datang dari Indonesia pagi ini,” tambah Mr Chen.
“Nana, ini nyonyamu,” ungkap Mr Chen padaku.
“Selamat petang, Nyonya,” sapaku padanya sambil menganggukkan kepala. Ada sedikit rasa gugup meski ini bukan kali pertamanya aku bekerja menjadi pembantu.
“Selamat datang,” jawab Nyonya, diikuti seraut senyuman hambar dari wajahnya.
“Nana, tugas utamamu menjaga Tuan Ma.”
“Beliau baru saja operasi di bagian kepala akibat kecelakaan.” Mr Chen memberi penjelasan singkat padaku.
Perkenalan dilanjutkan dengan penjelasan tugas dan kewajibanku yang Nyonya paparkan panjang lebar. Aku sedikit tergemap. Keadaan seperti ini bagai membeli kucing dalam karung. Aku tidak membaca dengan seksama isi lembar hijau yang telah terbubuh oleh tanda tanganku itu.
Tepatnya, semasa pelatihan di asrama perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI), sebelum terbang ke Taiwan. Yang ada di benakku saat itu hanya ingin segera bekerja di Taiwan, tanpa memilah-milah bagaimana kondisi kerjanya. Pekerjaan kali ini sungguh berbeda dengan sewaktu di Singapura yang kukira berkutat dalam urusan dapur dan kebersihan rumah. Tapi, berurusan dengan pesakit dan rumah sakit.
Meski begitu, aku harus tetap konsisten, semua sudah telanjur. Terikat perjanjian utang bank selama sembilan bulan, aku harus melunasinya. Aku harus tetap bekerja demi pulang membawa uang. Mr Chen pamit undur diri, sepesan wejangan dia wariskan padaku.
“Kerja baik-baik ya.”
“Kalau ada apa-apa, hubungi aku,” pesannya sambil menepuk ringan pundakku.
“Terima kasih,” ungkapku sambil mengangguk.
Mr Chen berlalu meninggalkanku. Semen tara, sesosok wanita lain yang bersama Nyonya adalah yang merawat Tuan sebelum aku tiba. Namanya Ms Anggie. Perawakannya tinggi besar. Wajahnya sinis menatapku. Untuk sementara, dia juga yang akan mengajariku bagaimana merawat Tuan.
“Nyonya, kecil sekali dia!”
“Apa dia mampu menjaga Tuan?” ungkap wanita itu pada Nyonya sambil sesekali melirikku.
“Nana pernah bekerja di Singapura selama empat tahun.” Nyonya mencoba membela.
Maghrib menjelang, senja di ufuk barat menyemburatkan asa yang segera tenggelam dalam dekapan malam langit Negeri Formosa. Nyonya pun telah berpulang ke kediamannya dan memercayakanku merawat tuan di bawah pengawasan Anggie yang memang sudah berpengalaman.
“Kamu bisa sedot dahak kan?”
“Coba kamu praktikkan sekarang!” Suruh Anggie dengan nada agak tinggi. Entah apa yang terjadi, sejak awal kedatangan dia memperlakukanku dengan sinis. Aku cuaikan saja. Toh dia bukan majikan.
“Aku bisa, Nona Anggie,” jawabku lirih.
“Selamat malam, Tuan.”
“Namaku Nana.”
“Nantinya, aku yang akan merawatmu.”
“Permisi Tuan, aku akan membantumu sedot dahak.” Aku memperkenalkan diri pada tuan sebelum melakukannya.
Tuan tak bersuara karena di bagian leher ada semacam lubang napas dan itu dijadikan jalan saat sedot dahak, dia hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Sesekali, dia melirik ke arah Anggi. Sorotan mata Tuan bak pisau tajam, penuh kebencian. Dahinya mengernyit, bibirnya komat-kamit menyumpah serapah, tapi tak terdengar suara.
Kulakukan dengan perlahan penuh kehati-hatian. Aku ingat pesan Nyonya yang menjelaskan mengapa kedua tangan Tuan terikat. Karena otak Tuan bagian pengendali saraf motorik belum benar-benar pulih, hal ini menimbulkan gerak refleks memukul, mencakar, mencabut apa saja yang ada didekatnya dan dia tidak sadar akan hal itu.
Saat aku sedang menyedot dahak pada sedotan ketiga, tiba-tiba pembungkus tangan Tuan sebelah kanan terlepas. Reflek tangan kanannya menampar wajahku sangat kuat, aku tersungkur menepi ranjang.
Tangannya tak terkendali mencabut selang makan, menarik alat yang terpasang pada lehernya. Seketika darah segar muncrat bak air mancur dari lubang sedot dahak itu, tangannya tak berhenti mencakar-cakar tubuhnya sendiri.
“Dokter!”
“Suster!”
“Tolong!” Terdengar teriakan Ms Anggie. Wajahnya menggambarkan ketakutan.
Aku dengan gegas memencet tombol darurat di tepi ranjang agar pertolongan segera datang. Kuraih tangan kanan tuan. Ada sembilan perawat, tiga dokter yang datang menanganinya. Sementara, aku lirik Anggie yang berdiri menepi, terlihat sedang berbicara di telepon.
Tak lama, Tuan dibawa masuk ke ruang ICU. Pada waktu yang bersamaan, Nyonya datang bersama kedua putrinya. Wajah mereka penuh kegelisahan berderai air mata. Tapi, reaksi Nyonya membuatku nanap terpatung. “Pergi kau, aku tak ingin melihatmu!” dengan suara yang begitu lantang hingga beberapa penghuni ruang lantai 7 keluar menyaksikan pengusiranku.
Dia melempar tas yang berisi baju-bajuku, berserakan di lantai. “Tapi, Nyonya…!” Aku berusaha menjelaskan, Nyonya berlalu tak pedulikanku.
“Tak punya pengalaman, jangan ke sini,” ejek Anggie yang mengikuti langkah Nyonya.
Aku punguti baju-bajuku. Beberapa pasang mata mengawasiku penuh iba, ada pula yang mencaci, menyumpah serapah. Selanjutnya, dalam lunglainya tubuh ini, wajahku bagai tersulut api. Dadaku terpanggang.
Rasanya, seperti ada hawa panas berdesak-desak, menggerapai kerongkongan, menggumpal di rongga hidung, berjalar pelan, lalu bermuara di balik kelopak mata. Kubiarkan saja air mataku merembes mengalir pelan di pipi. Mindaku seolah masuk dalam delusi dan berbisik agar aku tak perlu takut.
Tanganku merogoh ke dalam tas, kuraih telepon genggam yang hanya memiliki tiga fungsi, menelepon, mengirim SMS, dan mengajarkan keikhlasan. Kutekan beberapa nomor dan mulai berbicara.
“Selamat malam, Mr Chen!”
“Aku….” Dengan nada terbata-bata aku mengubungi agen, tapi belum selesai berucap dia sudah memotong pembicaraan.
“Ya, aku sudah tahu.”
“Bermalam saja di rumah sakit.”
“Besok aku jemput.” Mr Chen berkata dengan nada ketus. Sepertinya, dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia tak memberiku kesempatan berbicara dan langsung mematikan telepon.
Bulir-bulir bening tak berhenti menetes. Isak tangis lirih memecah keheningan malam yang semakin larut. Bahkan, satu-satunya pelindung di negeri ini menelantarkanku. Aku ingat Ibu, ingin mengadu padanya. Tapi tidak, ini kecerobohan yang kubuat sendiri. Aku tidak boleh membebaninya. Aku tidak memahami isi kontrak kerjaku, ambisi untuk segera mengeruk NT mematahkan nalarku, itu kelalaianku.
“Ibu, aku sudah sampai di Taiwan, majikanku sangat baik. Ibu doakan anakmu ya?” Selayang SMS kukirim untuk Ibu, agar beliau tidak khawatir.
Dinginnya AC ruangan lobi rumah sakit membawa lamunku pada sebuah perenungan. Kejadian hari ini akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidupku. Belajar, belajar, dan belajar dari setiap skenario hidup yang terjadi.
“Kamu pergi mandi dulu!” Seorang perawat tiba-tiba mendekatiku sambil mengulurkan sebungkus roti dan sekaleng susu.
“Malam ini, aku boleh bermalam di kursi ini?” izinku padanya.
Dia mengangguk tanda setuju. Kuhabiskan malam ini di bangku ruang tunggu rumah sakit menunggu pagi menanti agen datang menjemputku. Menjadi TKI itu bagai melempar dua sisi mata uang, mempertaruhkan nasib.
Entah, saat melemparkan mata uang, nasib akan jatuh di salah satu sisi mana, nasib baik atau buruk. Namun, yang paling utama adalah berharap kepada Sang Pencipta agar senantiasa memberikan hidayah dan jauh dari putus asa. Semangat harus tetap ada, meski permasalahan selalu berdatangan.

Hong Kong, 20 September 2016
Cerpen ini berhasil menjadi pemenang pertama Bilik Sastra VOI Award 2017 yang ditulis oleh pemilik nama asli Nila Noviana dengan nama akun Facebook sekaligus nama pena Kaka Clearny. Dara Blitar kelahiran 17 Desember 1986, saat ini, aktif sebagai pekerja migran di Negeri Beton. Pernah menjuarai lomba cerpen yang diadakan KPKers Hong Kong maupun KPKers pusat. Masuk dalam 250 penyair terbaik Indonesia versi Bebuku Publisher. Juara satu lomba menulis puisi tema janji Penerbit Harasi. Karya-karya lain dibukukan dalam antologi bersama baik cerpen maupun puisi. Alamat e-mail yang masih aktif nila00123@gmail.com.

Keinginan Angin


Cerpen Istafid Al Mubarok (Media Indonesia, 29 Oktober 2017)
Keinginan Angin ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Keinginan Angin ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
TERUS saja kupandangi perempuan itu. Rambutnya yang juntai bak jembatan bambu keropos membentang sungai obsesi seorang pemimpin sejati. Lalu, kerutan tipis-tipis di wajahnya yang terlalu dini menampak bagai gumpalan mendung yang mengusik pesona jingganya senja. Sesekali gigil mencuat dari gemetarnya bibir mungil yang mulai ungu dan jari-jemari tangannya mencengkeram mencari perlindungan dari rasa pahit yang membeku. Pandangannya kosong. Namun, tajam. Sejenak mata itu binar-binar. Meleleh butiran-butiran bening nan mutiara. Aku selalu menghormati perempuan itu, meski ia memutuskan untuk menangis.
Aku menyuruh Mega menggendong Jagad, lalu kuhisap dalam-dalam rokok yang tadi sore kupungut dari jalanan sepulang mulung. Sambil kupijat pelan kaki perempuan yang sepantasnya aku panggil kakak. Namun, hampir tiga bulan ini aku sapa dia dengan sebutan ibu. Aku temukan jejak-jejak perih di telapak kakinya. Hanya senyum yang sesekali terpaksa ia lemparkan untuk menutupi setiap tikungan pedih dalam menapaki kehidupan yang misteri. Karena bagi kami ketenteraman hidup dalam kehidupan adalah jauh lebih nikmat dari pada hidup dalam kemewahan hasil penjarahan.
***
HARI sudah mulai malam, Kudengar derap langkah-langkah tergegas waktu. Balik merehatkan tubuh. Ada juga yang bermula menanam mimpi-mimpi. Dari seberang jalan nampak, Banyu dan Bumi menuju ke kediaman kami yang remang-remang oleh biasan lampu jalan.
Kedua bocah yang kupanggil adik ini seperti ketakutan, wajahnya memerah, matanya elang yang siap menikam mangsa, jantungnya bersuara tanpa jeda. Nelungsep di pinggiran ketiak ibu.
“Banyu. Bumi, ada apa? Apa kalian dikejar-kejar segerombolan srigala!” Tanya ibu sambil memposisikan tubuhnya setengah duduk setengah tiduran, bersandar pada tembok kediaman kami.
“Tii…Tidak bu, kami menemukan dompet sewaktu mandi di MCK samping Masjid Gede, dan ini bu.” Kalimat Banyu mengalir tak lancar bagai kali hitam penuh limbah yang tersumbat segelintir pejabat tak punya adab, meraba untuk kelanjutan yang tidak terungkap.
Ibu membuka dompet yang berpenghuni, dua lembar ratusan ribu dan kartu identitas hak milik. Kurasa malam ini perut kami akan terisi makanan yang mengenyangkan dan nikmat. Bukan makanan yang lezat. Orang seperti kami memimpikan makan makanan yang lezat adalah suatu kedhoifan. Cukup, bisa makan kenyang dan bercanda sedikit sebelum nyenyak dalam tidur adalah surga yang terkirim lebih awal buat kami.
Oh…Ternyata persepsiku salah, setelah melihat dua lembar ratusan ribu, Ibu membagikan satu-satu kepada mereka yang menemukannya dan mengatakan besok mau dibelikan jaket di pasar loak agar kalau tidur tidak kedinginan.
Mereka semua sudah pada lelap. Desir sepoi menggerayangi kulit menerobos ke tulang kaki lalu naik ke seluruh tubuh kurusku. Sesekali kulirik perempuan itu dalam ketenangan tidurnya. Ada kejanggalan yang mengusik hati dan otak ini. Padahal kejanggalan semacam ini selalu muncul dan selalu pula aku bisa meredamnya. Entah, kenapa malam ini sesuatu yang mengusik isi batin serta otakku seakan-akan makin berpacu menyeruak bersama dinginnya malam. Napasku putus-putus, jantungku tak punya ritme. Aku coba untuk melangkah keluar, menepis gejolak yang menganga mengalihkan pandangan mata ke ruas jalan nan sunyi menggulita. Namun, beberapa jenak, derasnya hasrat tak lagi tertangkis. “Akankah risalah baru tumpah malam ini, bagai hujan yang dirindukan petani.” Perang dalam batinku bertalu-talu.
***
DENGAN jutaan rasa, aku belai pelan rambutnya mengumal, lalu jemari ini berenang di pipi dan mungil bibirnya, saat tangan ini ingin menyelam ke dasar gundukan salju. Tanganku tak bergerak, mukaku merah saat dingin kurasa meremas jemariku.
“Aak akk aku, aku,” mulutku tertutup jarinya. Kemudian ia duduk dan menawarkan air mineral setelah ia minum. Kugelengkan kepala tanpa kata, jutaan rasa masih memumpa jantung tak berirama.
“Surya, tak usah kau malu, apa yang kau rasakan sebenarnya juga sama selama ini saya pendam.”
Napasnya terasa hangat saat kalimatnya mengurai. Tapi, di setiap kali aku mau ngomong, mulutku selalu ditutup jemarinya. Ia meyakinkanku. Badannya sudah pulih, kuat dan segar, sesegar mukanya yang terbasuh air. Beberapa jenak kami tanpa kata, hanya pandangan mataku tak mau sekedip pun lepas dari apa yang ia lakukan. Sesaat, aku di buat nyinyir, ngeri olehnya. Kulit muka yang sengaja di kelupas tak membuat dia mengaduh.
“Lihat ini Surya!” sobekan kulit di tonjokkan di hatiku.
“Kenapa kau lakukan itu?”
“Tamati wajah saya dan pengang sobekan kulit ini,” pintanya sambil mengusap-usap basah wajahnya dengan kaos yang dipakainya.
“Kenapa saya lakukan hal demikian,” jelasnya dalam kepekatan malam yang mulai memuncak, pipinya basah lagi, kali ini bukan oleh air dalam botol minuman, tapi karena embun kepedihannya tak kuasa terbendung, dalam kalimatnya yang terbata-bata, ia mengurai kepedihan-kepedihannya: Pertama, kepedihan yang amat sangat perih saat ia didustai kekasihnya, mengorbankan harum kelopak bunganya hambar sebelum waktunya merekah. Kepedihan yang sengaja ia kelupas seperti kulit mukanya tadi adalah saat ia memutuskan untuk lari dari rumah memilih mengadu nasib di ibukota. Namun, Nahas, sepulang kerja di perkosa pemuda berandalan.
Ia berhenti sejenak, mukanya lebam memerah, hanya jeritan hatinya yang kudengar menyayat-nyayat saat ia mendekap penuh kasih di tubuhku.
“Apakah kau masih ingin tahu kepedihan saya, Surya?”
Aku hanya diam. Rambutnya pun basah oleh tangisku juga.
“Sakitnya sembilu menusuk jantung mungkin tak seberapa dari pada kepedihan saya saat pimpinan srigala berpura-pura baik membebaskan dari operasi orang-orang gelandangan semacam kita, malam ini pimpinannya, lalu malam berikutnya anak buahnya, hari selanjutnya temannya. Mereka, srigala-srigala itu menikmati saya semaunya, sebebas makhluk menghirup angin, maka itulah nama saya menjadi Angin dan saya tembel lem pada wajah ini seperti dalam peran para aktor atau aktris di televisi.” Tangisnya kembali tumpah, isyaknya yang tertahan memuncratkan darah dari seseguk batuk tekanan, malam menjadi merah.
***
IZINKAN malam ini saya nyaman di pangkuanmu. Angin meminta saat tangisnya reda, setelah menghabiskan minum dan membersihkan mulutnya.
“Inilah kediaman kita, mulai detik ini kau jangan panggil saya ibu, karena kita adalah serpian debu dunia yang berwujud manusia gelandangan yang kebetulan dipertemukan, kau dulunya bukan siapa-siapa saya, Bumi dan Banyu saya temukan saat ia merengek kelaparan di stasiun, Jagad adalah balita yang selalu digendong perempuan tua di bawah lampu merah. Perempuan itu menyerahkan kepada saya saat ia menemui ajalnya. Sedang Mega, kamu yang membawanya.”
“Oh ya, apa yang menyebabkanmu memilih kehidupan seperti ini, Angin?”
“Saya tak pernah memilih. Tapi aneh, di setiap saya mengiat-ingat masa kecil, kepala ini berat rasanya lalu pingsan, pernah saya coba mengingat siapa kedua orang tua saya, lagi-lagi pingsan. Dan anehnya lagi, saya ingat peristiwa yang menyakitkan itu, tapi alamatnya di mana, saya eror. Apa kamu masih ingat masa kecilmu, Surya?” Tanyanya balik.
“Masih, aku sering tidur di pasar-pasar, maling jajanan, bahkan pernah dipaksa….”
“Dipaksa apa, kok tidak dilanjut omongnya, Surya?”
“Emm…mm…dipaksa menindih mbak-mbak, tat, tt, tapi, tapi, waktu itu jika aku tidak melakukan aku dihajar Abang-abang gendeng itu.” Jelasku malu.
“Kok sama saya, kamu anteng. Kamu jijik ya dengan saya, kamu….” Angin memotong kalimatnya lalu membalikkan tubuhnya dan mendekapku, kemudian berbisik lirih dalam tangis yang kesekian kali, kalau dia tidak akan pernah bisa memberi keturan karena pernah aborsi yang mengakibatkan kefatalan di kandungannya yang harus disterilis tobektomi. Aku hanya diam lalu kualihkan perhatiannya. Jujur aku tak kuasa melawan kesedihannya yang secara perlahan membahur di otak dan meredam nafsu kelakianku.
“Tapi kita nyamankan di kediaman bawah jalan tol yang bertembok beton ini?”
“Nyaman. Saya cukup nyaman bersandar dalam dekapmu. Karena, tak akan pernah ada satu orang pun yang mau memedulikan kebahagiaan atau kepedihan dari orang-orang gelandangan semacam kita. Kalau tidak kita yang menciptakannya sendiri keindahan ini lantas siapa lagi, Tuhan pun rasanya lupa kepada kita. Betulkan Surya?”
Tanpa ku balas, aku seakan terhipnotis kalimat-kalimatnya. Di kejauhan kudengar kebisingan kendaraan mulai merangkak. Musik yang dari tadi samar-samar entah dari cafe atau diskotek yang sempat mampir di telinga, kini sudah redup tak terdengar.
“Kalau kamu, menginginkan apa, Angin?” Tanyaku.
“Hehe…Saya hanya ingin hidup layak seperti pada umumnya manusia.” Tawanya hampa. Suaranya pelan sekali. Saat kutanya, apakah mulai mengantuk, hanya gelengan kepala dan batuk-batuknya berkejaran dengan suara angkutan kota. Bolehkah saya memimpikan? Kita bertempat tinggal di rumah yang layak walau masih mengontrak, Surya. Tapi kapan?
Jujur, aku terenyuh dengan keinginan yang mulia itu. Aku mendongakkan kepala sambil melepas keras napas ini. Lama kupandangi langit yang hitam tanpa kerlip satu bintang pun.
Dingin kembali menampar muka, kurasakan genggaman Angin tak lagi sekencang tadi. Lunglai tanpa rasa, kepalanya tak lagi tegak di dadaku.
“Angin! Angiin..! Bangun Angiiin..!” Darah terus kelur dari mulutnya. Puluhan kali kugoncang-goncang tubuhnya, hanya darah dan darah yang tanpa henti mengalir.
“Angiiiiiiiiiin……!” Teriakku disusul jerit tangis adik-adikku. [*]

Demak, 2017
Istafid Al Mubarok, lahir dari sastra Pesantren Mutakhorijein Ponpes Raudlotus-Salikin, Buko-Wedung-Demak.

Kamis, 26 Oktober 2017

Hujan


Cerpen Aminullah (Waspada, 22 Oktober 2017)
Hujan ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Hujan ilustrasi Denny Adil/Waspada
OKTOBER itu mengingatkanku pada tetesan hujan yang jatuh melalui dahan pohon rindang. Entah kenapa saat malam itu perasaanku sangat buyar, ditambah lagi apa yang terjadi pada diriku sebelumnya.
Aku mencari penghangat jalanan untuk melindungi ragaku yang sedang kedinginan. Ketika di perjalanan aku berhenti tepat di ujung lorong gelap, aku mendengar suara rintihan perempuan sedang menangis, aku mencari suara itu dengan keadaan saat itu sedang sunyi.
Ternyata benar sosok perempuan dengan keadaan compang-camping sedang bersandar di samping tong sampah, ia kedingingan sambil menangis, tapi aku takut untuk mendekat kepadanya, namun dengan hati penuh keberanian aku mendekatinya dengan rasa penasaran.
“Hei…” tanyaku kepadanya.
Namun saat aku bertanya, perempuan itu enggan menjawab pertanyaanku, entah apa yang terjadi aku tidak tau pasti, malam menunjukan pukul 23:30, di sekitar kami tiada orang lain kecuali aku dan perempuan itu. Aku masih bingung apa yang sebenarnya terjadi, aku memutuskan untuk tetap terjaga di sampingnya. Tidak lama berselang perempuan itu mulai berhenti dari tangisannya, aku mencoba untuk bertanya kembali, barangkali pertanyaan keduaku bisa terjawab olehnya.
“Hei…” Tanyaku kembali kepadanya.
Perempuan itu memandangku dengan raut wajah sedikit pucat, aku bertanya pada diri sendiri apakah perempuan itu seorang manusia apakah bukan. Namun aku langsung menepis prasangkaku terhadapnya. Aku sedikit terkejut ketika perempuan itu menjawab pertanyaanku barusan.
“Tolong aku.” jawabnya.
Jantungku bergetar seketika mendengar suaranya, aku ingin berbicara namun bibirku enggan terbuka ditambah lagi malam itu udara sangat menusuk hingga ketulang. Aku mulai mengatur diriku secara perlahan, dan saat itu aku mulai terbiasa dengannya.
“Namamu siapa? Kenapa menangis?” Tanyaku kepadanya.
“Tolong aku, tolong panggilkan Tuhanku ke sini.” Jawabnya.
Aku terkejut kenapa perempuan itu menyuruhku memanggil Tuhan untuknya.
“Kenapa kau menyuruhku memanggil Tuhan? Bukankah Tuhan ada di mana-mana, bahkan mungkin Tuhan ada di sampingmu.” jawab aku dengan sedikit lantang.
“Jika Tuhan ada saat ini, tidak mungkin aku menyuruhmu untuk memanggilkannya, sekarang hanya kita berdua setelah tiga pria telah memperkosaku,” jawabnya.
Perasaanku terpukul saat itu, saat mendengar apa yang barusan terjadi kepadanya. Aku mulai sedikit bingung bercampur sedih, namun bagaimanapun aku adalah laki-laki, aku harus bertindak untuk seorang perempuan apalagi yang sedang terkena musibah seperti ini.
“Lantas jika Tuhan ada di hadapanmu, apa yang kau lakukan?” Tanyaku.
“Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya, biarkan Tuhan melihat kondisiku saat ini, dan aku ingin menyampaikan kepadanya,” jawabnya kepadaku.
“Apa yang ingin kau sampaikan?” Tanyaku kembali.
“Aku sangat berterima kasih kepadanya, hujan yang turun malam ini menenangkan hatiku, menyatukan air mataku dan membawanya ke hilir sungai, apa yang aku rasakan telah dirasakan oleh semesta,” jawabnya dengan raut wajah sedih.
Seketika aku mendekapnya, aku ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya, aku teringat oleh almarhum ibuku, ia sangat mirip sepertinya, apalagi ia seorang perempuan yang suatu saat ia menjadi ibu dari anak-anaknya.
Malam itu hujan mulai reda, kini hanyalah suara jangkrik dari semak-semak yang terdengar, tirai cakrawala mulai membuka bajunya, rembulan mulai mengintip kami, bintang tampak bergandeng tangan di atas sana, apakah Tuhan telah menjawab semuanya.
Di saat tinggal air hujan yang membekas di jalanan, aku berniat membawa ke rumahku untuk sementara. Setibanya di rumahku aku memberikan ia sebuah handuk dan beberapa pakaianku untuk menggantikan pakaiannya yang basah dan lusuh. Aku melihatnya ia lebih tampak tenang ketimbang sebelumnya.
Seusai mandi, aku memberikan beberapa makanan dan segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya, ia sangat cantik malam itu, semoga apa yang terjadi pada dirinya tidak membuat patah semangat untuk kedepannya.
“Nama kamu siapa?” Tanyaku dengan lembut.
“Namaku Bunga Sari Mekar. Nama kamu siapa?” Tanyanya kembali padaku.
“Aku Arimbi, biasa orang memanggilku Abi.” Jawabku padanya.
“Dimana orang tuamu?” tanyanya kembali.
“Kedua orang tuaku sudah meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan,” jawabku dengan sedikit sedih.
“Oh, maaf ya,” ujarnya.
Tidak lama berselang aku memutuskan untuk ia segera istirahat, aku memberikan sebuah kamarku padanya, sedangkan aku cukup tidur di ruang tamu. Keesokaan hari, aku bersiap untuk membuatkan sarapan dan teh hangat untuknya, pagi ini cuaca sangat sejuk, burung-burung menari dan bernyanyi di sekitar rumahku. Aku masih saja ikut merasakan kesedihan yang dialaminya sejak tadi malam, namun bagaimanapun aku harus bisa membawa hati perempuan itu kembali bersemangat.
Kini ia terbangun, wajahnya sangat lucu ketika ia bangun tidur, aku memintanya untuk segera mandi dan sarapan. Seusai mandi, kami berdua duduk di kursi kayu tepat di teras rumahku, dengan beberapa pohon yang membuat suasana sejuk, dan beberapa nyanyian burung kala itu membuat ia menikmatinya.
Aku bertanya tanya kepadanya tentang asal tempat tinggalnya, ternyata ia tinggal bersama orangtuanya, orangtuanya berada di Padang, sedangkan ia di Medan hanya bekerja dan tidak memiliki sanak saudara.
Pagi ini aku berniat di rumah saja bersamanya, seharusnya pagi ini aku kuliah namun aku tidak mau membiarkan perempuan sendirian di rumahku, aku takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kembali padanya.
Tiba-tiba ia berbicara kepadaku, bahwasannya ia ingin pulang esok hari ke rumah orangtuanya, ia tidak memiliki alat komunikasi untuk saling memberi kabar kepada orangtuanya. Mungkin orangtuanya sudah sangat rindu kepadanya. Tanpa memikir panjang aku menuruti yang diinginkan, dan niatnya aku ingin mengantarkannya hingga rumah orangtuanya, namun ia menolak tawaranku, ia takut merepotkanku. Tapi bagaimanapun keputusan darinya, aku sangat menerima.
Hari kemarin telah berlalu, hari ini di mana si Bunga akan berangkat untuk pulang ke kampung halamannya, setelah sarapan aku langsung mengantarkannya ke sebuah terminal, dan aku tidak segan memberi beberapa uangku sebagai ongkosnya. Ia sangat berterima kasih kepadaku, dan ia tidak tau apakah ia bakal kembali menjumpai aku. Yang pasti aku sangat sedih di saat melihat dirinya terakhir kali untukku. Ia tidak segan memelukku di keramaian orang, ia berbisik kepadaku.
“Jangan lupain aku ya, Bi,” ujarnya kepadaku.
Seketika perasaan aku sedih, ialah wanita yang buat aku merasa tidak kesepian selama orangtuaku meninggal, dan kini ia harus meninggalkanku seorang. Aku tidak kuat menahan kesedihan ketika aku melihat bis yang ia gunakan untuk pulang telah berangkat.
Malam-malam kulalui dengan kesendirian, aku masih mengingatnya, aku merindukan sosoknya saat ini. Dan kini, hanyalah sebuah kenangan, kenangan sisa bibirnya yang menempel digelas teh hangat buatanku.
Apakah ia merindukanku? Hujan, turunlah malam ini, datanglah malam ini bersamanya. Aku ingin mendekapnya kembali. ***

Patah


Cerpen Dian Nangin (Waspada, 22 Oktober 2017)
Patah ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Patah ilustrasi Denny Adil/Waspada
SETELAH berjalan bersama begitu jauh, bergandengan tangan melewati kerikil hingga batu besar yang menghadang, menapaki jalan yang tak selalu mulus, ia meminta kami berhenti tepat selangkah sebelum tiba di tujuan akhir.
Tujuan akhir yang akan mengantarkan kami pada awal yang baru. Ia memilih berbalik dan pergi. Mustahil bagiku untuk melanjutkan perjalanan seorang diri, sebab perjalanan ini diperuntukkan bagi dua orang.
Tanpa menoleh lagi, ia meninggalkanku beserta sejumlah pekerjaan yang berat untuk dilakukan; menarik ratusan undangan yang telah disebar, membatalkan segala rencana yang telah disusun matang. Tak lupa menguatkan mental untuk menghadapi komentar orang-orang. Barangkali inilah mimpi terburuk yang pernah kualami kala terjaga.
Ponsel yang kulempar jauh dariku berkedip secara berkala. Aku sudah tak menghitung berapa pesan yang masuk ke sana. Cukup lelah aku menanggapi lautan simpati yang entah darimana saja datangnya. Seandainya aku punya cangkang, ingin aku meringkuk di dalamnya tanpa niat untuk keluar dalam waktu dekat. Masih terlalu pahit bagiku untuk membuka diri setelah gagal mencecap kebahagiaan yang tinggal sejangkau lagi di hadapanku.
Namun, bagaimanapun juga hidup harus berlanjut. Hari baru tiba dengan sebuah kesadaran bahwa aku punya profesi yang menuntut untuk kutunaikan. Dunia profesional di negeri ini tak pernah memberi excuse untuk orang yang tengah patah hati. Padahal aku ingin tidur lebih lama dan baru bangun saat aku sudah siap menghadapi semesta.
Aku bangkit dari tempat tidur ketika sayup suara orang yang tengah bercakap-cakap menyentuh pendengaranku. Siapa yang telah datang bertamu sepagi ini? Aroma tanah basah menyeruak dari luar jendela. Semalaman hujan turun dan menyisakan gerimis di pagi yang belum lagi seutuhnya terjaga.
Di ambang pintu aku terpaku. Tampak lelaki itu di sana, duduk rikuh ditemani ibuku yang rautnya tak kalah muram dengan cuaca di luar. Entah apa yang tengah ia sampaikan pada ibuku dengan kepala tertunduk. Ah, wajah itu masih saja memunculkan kenangan yang belum jauh berlalu. Kenangan yang kemudian mematahkan hatiku hingga menjadi kepingan yang tak terhitung. Ia menoleh. Aku membeku. Dingin dari telapak kakiku yang berpijak pada lantai mengirimkan gigil sampai ke hati.
Ibu bangkit, meninggalkanku dengan sebuah isyarat agar aku duduk dan berbicara dengan lelaki itu. Kuteguk teh sembari mengumpulkan kekuatan. Ada rasa asing yang menyelimuti, seolah kami terpisah ribuan mil meski sekarang sedang duduk berhadapan dan baru kemarin membuka simpul hubungan yang telah mengikat kami selama empat tahun.
“Apa kabar?”
Rasanya aku ingin tertawa sembari memaki demi mendengarnya bertanya. Setelah mengacaukan hatiku, masih terpikir olehnya untuk menanyakan keadaanku? Tak adakah basa-basi lain yang paling masuk akal untuk ditanyakan selain ‘apa kabar’?
“Baik.”
Rasanya ingin aku mengutuk bibir ini, karena masih saja sanggup memberi jawaban yang berlawanan dengan kondisiku yang sebenarnya. Aku sekarat, bajingan! Itulah makna yang tersembunyi di balik kata ‘baik’ yang seharusnya kuteriakkan tepat di depan hidungnya.
“Maaf. Aku sadar sudah menyakitimu. Aku juga remuk,” sahutnya sembari menunjuk dada. ”Di dalam sini.”
“Kalau begitu kenapa?” tanyaku. Ia pasti paham tanpa perlu kujelaskan lebih jauh. Luka itu masih cukup basah untuk ia lihat sendiri.
Ia hanya membisu. Lama. Entah sedang menyusun alasan lain, entah memang tak ingin menjawab. Sebab bila ia menjawab, pasti akan terbit debat panjang seperti yang sudah-sudah.
“Apa ada wanita lain yang mengisi hatimu? Kalau ya, katakan padaku siapa dia. Aku ingin mengucapkan selamat. Cinta yang dia beri padamu pastilah lebih besar dari yang kau dapatkan dariku.”
“Tidak,” dia menyangkal cepat. “Tidak ada wanita lain.”
“Lalu apa?” cecarku. “Kau tak yakin padaku? Setelah sekian lama?”
“Bukannya aku tak yakin padamu. Aku hanya masih meragukan diriku sendiri,” sahutnya lirih, mengulang jawabannya yang lalu. Namun rautnya datar. Tak tampak penyesalan atau kesedihan di sana. Apa dia sudah begitu lihai menyembunyikan segala perasaannya? Ataukah… aku yang kini tak lagi mampu membaca wajah itu?
“Aku tahu pernikahan adalah satu ibadah yang mulia. Tapi niat yang mulia itu tak cukup didasari cinta, tak baik pula diawali dengan keraguan,” katanya dengan sikap bijak yang memuakkan.
Aku mendengus. Bagiku, cinta adalah sebuah tombol panas. Ia adiktif dan melenakan. Kadang cinta juga memilih berkhianat, membuat mereka yang mendewakannya jadi sinting.
“Aku akan menunggumu sampai kau yakin,” kataku terbata, kaget mendengar kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku. Terang-terangan mengungkapkan betapa aku masih mendamba dirinya.
“Kau hanya akan membuang waktumu.”
“Tak mengapa,” sahutku bersikeras.
“Jangan keras kepala.”
“Kau tega!!” Aku meledak. Ia telah menekan tombol panas itu tepat pada momen kritis yang melumpuhkanku. Tak ada upaya apapun yang ia lakukan untuk menyembuhkanku, tak juga kata maaf sebab ia tak lagi manjur.
Kedatangannya pagi ini menjadi penegas perpisahan karena ia berkata akan pergi jauh ke tempat yang tak lagi berhak untuk kuketahui.
“Dulu aku memintamu baik-baik. Sekarang aku ingin melepasmu baik-baik. Aku pamit,” katanya. Ia menjabat tanganku sepintas dan berlalu begitu saja.
Ia telah berpakaian teramat rapi, bersepatu, lengkap dengan aroma parfum yang kukenal baik. Ia sungguh akan pergi rupanya. Meninggalkanku dengan tampilan baru bangun tidur dan tanpa antisipasi. Aku tak ingin ia pergi, namun kakiku tak juga bergerak untuk menahannya. Hanya bisa kupuaskan mataku memandang buram punggungnya dari balik pintu kaca yang basah oleh gerimis.
Namun walau demikian aku tak memilih mengambil tindakan huru-hara untuk menunjukkan kalau hatiku tengah terluka. Aku tidak ingin menjerit-jerit, berteriak-teriak. Mengamuk, memecahkan cermin, membakar tempat tidur. Aku hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pagi ini. [1] Menyeret langkah-langkah lambat di bawah rinai yang melayang bersama daun-daun berguguran.
Bersama satu kesadaran yang perlahan merayap, aku membuka pintu dan menyusulnya. Ia sudah berada di luar gerbang. Di bawah rintik hujan yang membasahi rambutku, kuikuti jejaknya. Aku menunggu toleh kepalanya yang tak kunjung kudapatkan walau sekali saja, tak peduli seberapa lama aku menunggu. Hingga ia menghilang di belokan jalan.

Medan, 2017

Keterangan:
[1] Petikan puisi Sapardi Djoko Darmono dengan judul “Pada Suatu Pagi Hari”. Puisi telah diedit oleh penulis semata demi kepentingan cerita.

Bocah yang Ingin Melihat Neraka


Cerpen Risda Nur Widia (Radar Banjarmasin, 22 Oktober 2017)

Bocah yang Ingin Melihat Neraka ilustrasi Radar Banjarmasin.jpg
Bocah yang Ingin Melihat Neraka ilustrasi Radar Banjarmasin
AROMA tumpukan sampah meruap dan menyesakan dada setelah hujan turun semalam. Setiap sudut kota terlihat sayu dan pucat karena hujan. Nyamuk-nyamuk mulai menanamkan telurnya di parit-parit, kaleng-kaleng sisa, dan berbagai tempat lainnya. Lalat beterbangan dengan bebasnya dan hinggap ke tempat-tempat dengan membawa penyakit. Namun penyakit yang siap kapan saja menjerat manusia ke penderitan itu seakan-akan dihiraukan. Karena siang setelah hujan itu tampak puak-puak manusia bergerilya di atas gunung sampah. Mereka seperti sedang mencari sebutir emas di balik limbah yang tak dibutuhkan itu.
Di pojokan tempat pembuangan sampah, terlihat seorang bocah terpekur; menyaksikan arakan truk berwarna kuning yang setiap waktu—setiap saat, menuangkan sampah. Truk-truk itu seperti menuangkan air ke dalam gclas. Sampah-sampah pun bertebaran dan sigap diperebutkan oleh para pemulung. Para pemulung itu— di hadapan si bocah—seakan terseret oleh pusaran sampah yang menggunung dan menjijikan. Gancu yang mereka gunakan tampak kelaparan. Tongkat-tongkat berbentuk kail itu cepat merayap memporak-porandakan tumpukan sampah yang menumpuk.
Matahari menyingsing di atas ubun-ubun si bocah. Teriknya membuat si bocah letih. Dan karena itu si bocah memilih beristirahat di bawah pohon bersama ayahnya—yang juga seorang pemulung—mengamati aktivitas para pemulung lain di pusat pembuangan sampah kota.
“Kau tak makan?” Tanya ayah si bocah. “Lekas makan! Tidak setiap hari kita bisa makan telur seperti ini.”
Si bocah mengawasi sudut wajah ayahnya yang sendu. Kerut waktu bersemayam di guratan air mukanya. Kulit ayahnya yang legam tampak begitu tua. Dan sosok itu terlihat semakin kumal karena balutan kaos partai berlubang yang dikenakan. Setelah mengamati ayahnya, si bocah menggerakkan tangannya ke aras nasi bungkus. Tetapi bocah itu tak lekas menyantap. Ia mimikirkan sesuatu.
“Boleh tanya, Pak?”
“Tentang?” Ayahnya menyahut tanpa melirik.
“Sekolah itu seperti apa?”
Ayahnya terpekur dengan mulut menganga. Pria itu seakan dikagetkan dengan penanyaan anaknya yang tak biasa. Bahkan tangan si ayah sempat terhenti di udara dan membuat nasi yang tergenggam tak jadi masuk ke mulut. Pria itu mengawasi anaknya, syahdan menerawang ke kejauhan dengan matanya yang merah. Pria itu memperhatikan keributan jalanan. Di sana terdengar lengking seperti letupan pelur yang bercampur dengan teriakan dari berbagai kendaraan. Pria itu dari tatapannya—seakan mencari jawaban. Pria itu menghela napas lalu memandang anaknya.
“Sekolah itu seperti neraka,” kata ayahnya kemudian.
“Neraka?”
“Kamu di sana hanya disiksa dengan berbagai hal yang tidak kamu suka.”
“Tetapi mengapa anak-anak yang berangkat sekolah tampak senang.”
“Itu hanya tipuan saja.”
“Tipuan seperti apa?”
“Mereka semua dicuci otaknya.”
“Jadi sekolah itu tempat pencucian otak, ya?”
“Betul!” Jawab si ayah melihat air muka lugu anaknya. “Sekolah adalah tempat mengerikan. Apalagi untuk orang-orang tercela seperti kita. Mereka mungkin akan membakar kita hidup-hidup.”
“Kenapa kita tercela?”
“Karena kita hanya sampah di negeri ini. Mereka membenci kita karena itu dan akan membakarnya.”’
Anak itu memanggut samar. Bocah itu tidak dapat membayangkan seperti apa bila dirinya masuk sekolah. Ia pun bergidik membayangkan bila dibakar seperti tumpukan sampah yang setiap sore dilihatnya. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di benak si bocah. Karena ketika melihat ayahnya bercerita, si bocah seperti merasa ada yang dirahasiakan. Bocah itu tak tahu rahasia apa itu. Pun si bocah tak berusah mencari tahu. Ia hanya membuka bungkus makanan, lantas menyantapnya seraya mengingat senyum bocah-bocah berseragam yang dilihatnya pagi tadi—sebelum berangkat memulung.
***
Bocah itu masih merasa penasaran dengan yang dimaksud oleh ayahnya tentang sekolah—tempat yang menurut ayahnya adalah neraka; tempat penyiksaan bagi orang-orang terkutuk seperti dirinya. Apakah benar sekolah itu adalah neraka? Tetapi mengapa setiap pagi ketika akan berangkat untuk memulung dirinya selalu mendapati senyum merekah pada wajah bocah-bocah berseragam itu? Seandainya mereka disiksa di sekolah, pasti hal sebaliknya terjadi. Wajah mereka tak memanggul kebahagian, tetapi kemuraman.
Rasa penasaran itu membuncah di hati si bocah. Ia pun—pagi itu sebelum berangkat memulung—dengan sengaja membuntuti seorang anak seumuran yang akan berangkat sekolah. Ia ingin menjawab kegelisahannya itu walau hal buruk nanti terjadi. Memang ketika menguntit beberapa kali terbersit perasaan takut membayangkan sekolah. Tetapi untuk sementara ketakutannya ia buang. Menyingkirkan jauh-jauh. Karena pagi itu ia ingin melihat neraka.
***
Sepanjang perjalanan saat menguntit, terus saja si bocah dibayangi tentang neraka yang diceritakan oleh ayahnya kemarin: api yang berkobar membakar apa pun dan penyiksaan yang tak mengenal batas. Bocah itu—di benaknya mengabstraksikan tangisan yang menguara memilukan seperti derai hujan yang bertampias di atap rumahnya bila badai datang. Sekali lagi tubuh si bocah bergidik mengartikan kalimat yang dipaparkan ayahnya kemarin.
Namun entah mengapa sepanjang jalan—ia tidak melihat kegelisahan pada garis wajah bocah yang sedang dibuntutinya. Di wajah bocah berseragam itu malah selalu menyebulkan senyum yang renyah: bahagia. Si bocah pemulung tak habis pikir tentang kebisaan manusia zaman sekarang yang dapat menikmati siksaan dengan bahagia. Apakah siksaan di zaman sekarang terasa nikmat? Pikirnya. Si bocah pemulung dengan takzim membuntuti bocah itu hingga sampai di sekolahnya.
Ketika benar-benar sampai, si bocah pemulung terpekur menyaksikan setiap tawa yang berdengung di sudut-sudut sekolah. Di sana anak-anak terlihat bahagia. Mereka berlari-lari riang memainkan sesuatu. Selain itu juga banyak penjual makan yang acap dilihatnya berkeliling saat memulung. Si bocah pemulung sama sekali tidak melihat neraka yang diceritakan ayahnya; tempat-tempat penyiksaan yang dikerumi oleh pekik tangis dan kesedihan. Tetapi yang ia lihat adalah taman bermain yang luas. Lonceng mendadak berdengung. Si bocah pemulung tergeragap.
“Pasti itu tanda dimulainya penyiksaan,” pekiknya samar. Matanya jelalatan mengitari tempat; mencari-cari sosok malaikat yang bertugas untuk menyiksa bocah-bocah itu. Tetapi si bocah pemulung tak menemukan. Ia malah menemukan sosok seorang wanita berpakaian coklat, mengenakan sepatu hitam, dan tersenyum kepadanya. Ia berpikir: Malaikat itu telalu cantik untuk menyiksa anak anak!
Setelah lonceng berbunyi, si bocah pemulung melihat anak anak itu melesat seperti anak panah yang dilecut. Anak-anak itu berbaris dengan tertib memasuki sebuah ruangan asing. Si bocah pemulung dengan bergetar memasuki halaman sekolah yang luas. Namun tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Tempat yang ia kira adalah ruangan penyiksaan bagi anak-anak, tidak ditemukannya. Tempat itu bersih. Bangku, kursi, dan papan tulis tertata rapi. Bocah pemulung itu juga melihat seorang wanita berseragam coklat yang tak henti-hentinya membersitkan senyum kepada anak-anak.
Di mana letak neraka yang dimaksud oleh ayah? Batinnya. Pada setiap inci pandangannya tak dijumpai penyiksaan kejam. Bahkan saat melihat di dalam suasana ruang yang ceria, ia merasa iri pada anak-anak yang duduk dengan senang di bangku dan meja yang bersih itu. Ia ingin duduk di sana; mengacungkan jari; melontarkan pertanyaan seperti mereka. Ia termenung meyaksikan semua itu dari jendela. Sampai kemudian seorang bocah menyentaknya.
“Hai lihat ada pemulung di sana!” Seorang bocah menyahut. Seluruh bocah berpaling menatapnya. Si bocah pemulung pun tersipu seperti maling. Anak-anak itu tertawa serentak sampai wanita berseragam coklat menenangkan.
***
Gopah-gopoh si bocah pemulung keluar dari sekolah tersebut. Sepanjang jalan ia menekuri setiap perkataan ayahnya kemarin; tentang neraka yang dijumpai bila ke sekolah. Tetapi neraka itu tidak ada di sana dan ia malah berpikir kalau ayahnya berbohong. Ombak masih berkecamuk di dalam benaknya. Ia bagai terombang-ambing di dalam kebingungan. Bocah itu termenung dengan wajah murung menatap langit yang mendung.
“Dari rnana saja kau! Seharian kau tidak membantu mencari uang! Mau makan apa kamu nanti!” Tegur ayahnya melihat si bocah pemulung baru pulang.
Bocah itu dengan gemetar menatap air muka ayahnya yang berang. Ia kembali mengambil gancu serta karung yang senantiasa menemaninya. Ia beranjak kemudian kembali mengais botol-botol bekas di gunung sampah; mengumpulkannya ke karung goni. Tetapi ia masih merasa penasaran tentang neraka yang diceritakan oleh ayahnya kemarin. Ia sama sekali tidak merasa takut dengan neraka itu. Ia malah ingin duduk di ruang pesakitan itu; mendengarkan seorang wanita berpakaian coklat bercerita tentang rentetan angka-angka dan ilmu-ilmu lainnya. Ia ingin hidup di dalam neraka itu; menikinati siksaan sembari tertawa-tawa. (*)

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-lndoensia UGM (2013). Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Nominator tiga besar buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Peluang Berdatangan

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Ini bukan kata saya ...

Saya kutipkan dari 2 pemikir dunia legendaris

Percaya Diri Adalah Rahasia Pertama Sukses ~ Ralph Waldo Emerson

Tidak akan ada orang yang memberikan perhatian banyak kepada orang yang tidak memiliki kepercayaan diri ~ Napoleon Hill

Apakah Anda memiliki kepercayaan diri saat ini?

Jika Anda pernah mengalami, sebuah kondisi dimana Anda ingin melakukan sesuatu. Padahal jika Anda lakukan sangat baik untuk sukses Anda, baik dalam karir maupun bisnis. Tapi Anda ragu, takut tidak mampu. Takut hasilnya jelek.

Akhirnya ... peluang pun terlewatkan.

Ini SALAH SATU CONTOH akibat jika Anda tidak memiliki kepercayaan diri.

Saat Anda memiliki kepercayaan diri yang tinggi, peluang sukses akan lebih banyak dan mudah Anda raih.

Mengapa Menjadi Orang Yang Percaya Diri Penting Dalam Meraih Sukses Dalam Karir, Bisnis dan Kehidupan Sosial

Sukses itu berkaitan dengan peluang. Dan hanya orang yang percaya dirilah yang akan bisa mengambil peluang. Menjadi orang percaya diri, akan membuka peluang yang lebih banyak. Semakin banyak peluang, semakin besar peluang sukses.
Orang percaya diri akan mengambil
  • Peluang bisnis, maka dia berpeluang meraih sukses dalam bisnis.
  • Peluang karir yang lebih baik, karena dia percaya diri mengambil peluang tampil dan menangani proyek besar.
  • Peluang karir yang lebih terbuka, karena dia percaya diri saat wawancara.
  • Peluang berbicara di depan umum sebagai cara membangun personal branding dan membangun relasi.
  • Peluang penjualan, karena dia percaya diri menjual, menawarkan, dan melakukan presentasi.
  • dan sebagainya.
Semua diatas, membutuhkan apa yang disebut Percaya Diri.
Sekarang bayangkan... Anda sudah memiliki percaya diri yang tinggi. Saat wawancara: Anda begitu tenang sehingga mampu "menjual" diri Anda dengan baik. Saat presentasi: Anda tampil dengan sempurna sehingga apa yang Anda harapkan tercapai.
Begitu juga... Anda melangkah dengan pasti saat memulai sebuah bisnis. Bisnis berjalan dengan baik. Keuntungan mulai datang. Jaringan terbentuk dengan kuat karena Anda percaya diri untuk membangun relasi.
Rasakan nikmatnya bisa berbicara dengan siapa pun penuh rasa percaya diri. Jika Anda penjual, distributor MLM, atau agen asuransi, maka nikmati komisi yang lebih besar berkat percaya diri.
Intinya: Anda bisa melakukan apa yang harus atau perlu Anda lakukan dengan baik. Dengan demikian, potensi diri Anda lebih optimal, peluang bisa diraih, dan keberlimpahan pun ada dalam genggaman Anda.




Apa Jadinya Setelah Anda Memiliki Rasa Percaya Diri?

  • Hidup menjadi lebih "hidup"
  • Membangun relasi yang harmonis dengan siapa pun.
  • Meraih berbagai peluang yang selama ini Anda abaikan
  • Hidup lebih damai
  • Tidak mudah terganggu oleh kritikan orang lain
  • Meraih tujuan Anda, karena Anda mencapainya dengan percaya diri
  • Mendapatkan pekerjaan idaman Anda (hal besar yang saya dapatkan dari percaya diri)
  • Menjadi pembicara di depan umum. Ini juga, padahal saya asalnya mudah grogi dan sulit bicara.
  • Hidup lebih termotivasi
  • Mendapatkan bisnis yang selama ini Anda impikan
  • Tenang menghadapi ujian sehingga mampu mengeluarkan semua kemampuan Anda.
  • Meningkatkan volume penjualan jika Anda seorang penjual
  • Lebih diperhatikan dan diperhitungkan oleh rekan dan atasan di tempat kerja.
  • Mampu memberikan kontribusi yang besar kepada perusahaan.
  • Hidup lebih ceria
  • Menghilangkan kekhawatiran
  • Memiliki kinerja yang tinggi
  • Dan masih banyak lagi...
Pertanyaanya, bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri?

Silahkan baca di halaman website ini:

http://www.zonasukses.club/the-confidence-secret/

Sekali lagi, silahkan baca penjelasan diatas karena akan meningkatkan peluang Anda meraih sukses.

Salam
Rahmat Mr. Power
Author eBook, Audio, dan Video
Pengembangan Diri dan Sukses