Daftar Blog Saya

Kamis, 26 Oktober 2017

Hujan


Cerpen Aminullah (Waspada, 22 Oktober 2017)
Hujan ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Hujan ilustrasi Denny Adil/Waspada
OKTOBER itu mengingatkanku pada tetesan hujan yang jatuh melalui dahan pohon rindang. Entah kenapa saat malam itu perasaanku sangat buyar, ditambah lagi apa yang terjadi pada diriku sebelumnya.
Aku mencari penghangat jalanan untuk melindungi ragaku yang sedang kedinginan. Ketika di perjalanan aku berhenti tepat di ujung lorong gelap, aku mendengar suara rintihan perempuan sedang menangis, aku mencari suara itu dengan keadaan saat itu sedang sunyi.
Ternyata benar sosok perempuan dengan keadaan compang-camping sedang bersandar di samping tong sampah, ia kedingingan sambil menangis, tapi aku takut untuk mendekat kepadanya, namun dengan hati penuh keberanian aku mendekatinya dengan rasa penasaran.
“Hei…” tanyaku kepadanya.
Namun saat aku bertanya, perempuan itu enggan menjawab pertanyaanku, entah apa yang terjadi aku tidak tau pasti, malam menunjukan pukul 23:30, di sekitar kami tiada orang lain kecuali aku dan perempuan itu. Aku masih bingung apa yang sebenarnya terjadi, aku memutuskan untuk tetap terjaga di sampingnya. Tidak lama berselang perempuan itu mulai berhenti dari tangisannya, aku mencoba untuk bertanya kembali, barangkali pertanyaan keduaku bisa terjawab olehnya.
“Hei…” Tanyaku kembali kepadanya.
Perempuan itu memandangku dengan raut wajah sedikit pucat, aku bertanya pada diri sendiri apakah perempuan itu seorang manusia apakah bukan. Namun aku langsung menepis prasangkaku terhadapnya. Aku sedikit terkejut ketika perempuan itu menjawab pertanyaanku barusan.
“Tolong aku.” jawabnya.
Jantungku bergetar seketika mendengar suaranya, aku ingin berbicara namun bibirku enggan terbuka ditambah lagi malam itu udara sangat menusuk hingga ketulang. Aku mulai mengatur diriku secara perlahan, dan saat itu aku mulai terbiasa dengannya.
“Namamu siapa? Kenapa menangis?” Tanyaku kepadanya.
“Tolong aku, tolong panggilkan Tuhanku ke sini.” Jawabnya.
Aku terkejut kenapa perempuan itu menyuruhku memanggil Tuhan untuknya.
“Kenapa kau menyuruhku memanggil Tuhan? Bukankah Tuhan ada di mana-mana, bahkan mungkin Tuhan ada di sampingmu.” jawab aku dengan sedikit lantang.
“Jika Tuhan ada saat ini, tidak mungkin aku menyuruhmu untuk memanggilkannya, sekarang hanya kita berdua setelah tiga pria telah memperkosaku,” jawabnya.
Perasaanku terpukul saat itu, saat mendengar apa yang barusan terjadi kepadanya. Aku mulai sedikit bingung bercampur sedih, namun bagaimanapun aku adalah laki-laki, aku harus bertindak untuk seorang perempuan apalagi yang sedang terkena musibah seperti ini.
“Lantas jika Tuhan ada di hadapanmu, apa yang kau lakukan?” Tanyaku.
“Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya, biarkan Tuhan melihat kondisiku saat ini, dan aku ingin menyampaikan kepadanya,” jawabnya kepadaku.
“Apa yang ingin kau sampaikan?” Tanyaku kembali.
“Aku sangat berterima kasih kepadanya, hujan yang turun malam ini menenangkan hatiku, menyatukan air mataku dan membawanya ke hilir sungai, apa yang aku rasakan telah dirasakan oleh semesta,” jawabnya dengan raut wajah sedih.
Seketika aku mendekapnya, aku ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya, aku teringat oleh almarhum ibuku, ia sangat mirip sepertinya, apalagi ia seorang perempuan yang suatu saat ia menjadi ibu dari anak-anaknya.
Malam itu hujan mulai reda, kini hanyalah suara jangkrik dari semak-semak yang terdengar, tirai cakrawala mulai membuka bajunya, rembulan mulai mengintip kami, bintang tampak bergandeng tangan di atas sana, apakah Tuhan telah menjawab semuanya.
Di saat tinggal air hujan yang membekas di jalanan, aku berniat membawa ke rumahku untuk sementara. Setibanya di rumahku aku memberikan ia sebuah handuk dan beberapa pakaianku untuk menggantikan pakaiannya yang basah dan lusuh. Aku melihatnya ia lebih tampak tenang ketimbang sebelumnya.
Seusai mandi, aku memberikan beberapa makanan dan segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya, ia sangat cantik malam itu, semoga apa yang terjadi pada dirinya tidak membuat patah semangat untuk kedepannya.
“Nama kamu siapa?” Tanyaku dengan lembut.
“Namaku Bunga Sari Mekar. Nama kamu siapa?” Tanyanya kembali padaku.
“Aku Arimbi, biasa orang memanggilku Abi.” Jawabku padanya.
“Dimana orang tuamu?” tanyanya kembali.
“Kedua orang tuaku sudah meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan,” jawabku dengan sedikit sedih.
“Oh, maaf ya,” ujarnya.
Tidak lama berselang aku memutuskan untuk ia segera istirahat, aku memberikan sebuah kamarku padanya, sedangkan aku cukup tidur di ruang tamu. Keesokaan hari, aku bersiap untuk membuatkan sarapan dan teh hangat untuknya, pagi ini cuaca sangat sejuk, burung-burung menari dan bernyanyi di sekitar rumahku. Aku masih saja ikut merasakan kesedihan yang dialaminya sejak tadi malam, namun bagaimanapun aku harus bisa membawa hati perempuan itu kembali bersemangat.
Kini ia terbangun, wajahnya sangat lucu ketika ia bangun tidur, aku memintanya untuk segera mandi dan sarapan. Seusai mandi, kami berdua duduk di kursi kayu tepat di teras rumahku, dengan beberapa pohon yang membuat suasana sejuk, dan beberapa nyanyian burung kala itu membuat ia menikmatinya.
Aku bertanya tanya kepadanya tentang asal tempat tinggalnya, ternyata ia tinggal bersama orangtuanya, orangtuanya berada di Padang, sedangkan ia di Medan hanya bekerja dan tidak memiliki sanak saudara.
Pagi ini aku berniat di rumah saja bersamanya, seharusnya pagi ini aku kuliah namun aku tidak mau membiarkan perempuan sendirian di rumahku, aku takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kembali padanya.
Tiba-tiba ia berbicara kepadaku, bahwasannya ia ingin pulang esok hari ke rumah orangtuanya, ia tidak memiliki alat komunikasi untuk saling memberi kabar kepada orangtuanya. Mungkin orangtuanya sudah sangat rindu kepadanya. Tanpa memikir panjang aku menuruti yang diinginkan, dan niatnya aku ingin mengantarkannya hingga rumah orangtuanya, namun ia menolak tawaranku, ia takut merepotkanku. Tapi bagaimanapun keputusan darinya, aku sangat menerima.
Hari kemarin telah berlalu, hari ini di mana si Bunga akan berangkat untuk pulang ke kampung halamannya, setelah sarapan aku langsung mengantarkannya ke sebuah terminal, dan aku tidak segan memberi beberapa uangku sebagai ongkosnya. Ia sangat berterima kasih kepadaku, dan ia tidak tau apakah ia bakal kembali menjumpai aku. Yang pasti aku sangat sedih di saat melihat dirinya terakhir kali untukku. Ia tidak segan memelukku di keramaian orang, ia berbisik kepadaku.
“Jangan lupain aku ya, Bi,” ujarnya kepadaku.
Seketika perasaan aku sedih, ialah wanita yang buat aku merasa tidak kesepian selama orangtuaku meninggal, dan kini ia harus meninggalkanku seorang. Aku tidak kuat menahan kesedihan ketika aku melihat bis yang ia gunakan untuk pulang telah berangkat.
Malam-malam kulalui dengan kesendirian, aku masih mengingatnya, aku merindukan sosoknya saat ini. Dan kini, hanyalah sebuah kenangan, kenangan sisa bibirnya yang menempel digelas teh hangat buatanku.
Apakah ia merindukanku? Hujan, turunlah malam ini, datanglah malam ini bersamanya. Aku ingin mendekapnya kembali. ***

Patah


Cerpen Dian Nangin (Waspada, 22 Oktober 2017)
Patah ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Patah ilustrasi Denny Adil/Waspada
SETELAH berjalan bersama begitu jauh, bergandengan tangan melewati kerikil hingga batu besar yang menghadang, menapaki jalan yang tak selalu mulus, ia meminta kami berhenti tepat selangkah sebelum tiba di tujuan akhir.
Tujuan akhir yang akan mengantarkan kami pada awal yang baru. Ia memilih berbalik dan pergi. Mustahil bagiku untuk melanjutkan perjalanan seorang diri, sebab perjalanan ini diperuntukkan bagi dua orang.
Tanpa menoleh lagi, ia meninggalkanku beserta sejumlah pekerjaan yang berat untuk dilakukan; menarik ratusan undangan yang telah disebar, membatalkan segala rencana yang telah disusun matang. Tak lupa menguatkan mental untuk menghadapi komentar orang-orang. Barangkali inilah mimpi terburuk yang pernah kualami kala terjaga.
Ponsel yang kulempar jauh dariku berkedip secara berkala. Aku sudah tak menghitung berapa pesan yang masuk ke sana. Cukup lelah aku menanggapi lautan simpati yang entah darimana saja datangnya. Seandainya aku punya cangkang, ingin aku meringkuk di dalamnya tanpa niat untuk keluar dalam waktu dekat. Masih terlalu pahit bagiku untuk membuka diri setelah gagal mencecap kebahagiaan yang tinggal sejangkau lagi di hadapanku.
Namun, bagaimanapun juga hidup harus berlanjut. Hari baru tiba dengan sebuah kesadaran bahwa aku punya profesi yang menuntut untuk kutunaikan. Dunia profesional di negeri ini tak pernah memberi excuse untuk orang yang tengah patah hati. Padahal aku ingin tidur lebih lama dan baru bangun saat aku sudah siap menghadapi semesta.
Aku bangkit dari tempat tidur ketika sayup suara orang yang tengah bercakap-cakap menyentuh pendengaranku. Siapa yang telah datang bertamu sepagi ini? Aroma tanah basah menyeruak dari luar jendela. Semalaman hujan turun dan menyisakan gerimis di pagi yang belum lagi seutuhnya terjaga.
Di ambang pintu aku terpaku. Tampak lelaki itu di sana, duduk rikuh ditemani ibuku yang rautnya tak kalah muram dengan cuaca di luar. Entah apa yang tengah ia sampaikan pada ibuku dengan kepala tertunduk. Ah, wajah itu masih saja memunculkan kenangan yang belum jauh berlalu. Kenangan yang kemudian mematahkan hatiku hingga menjadi kepingan yang tak terhitung. Ia menoleh. Aku membeku. Dingin dari telapak kakiku yang berpijak pada lantai mengirimkan gigil sampai ke hati.
Ibu bangkit, meninggalkanku dengan sebuah isyarat agar aku duduk dan berbicara dengan lelaki itu. Kuteguk teh sembari mengumpulkan kekuatan. Ada rasa asing yang menyelimuti, seolah kami terpisah ribuan mil meski sekarang sedang duduk berhadapan dan baru kemarin membuka simpul hubungan yang telah mengikat kami selama empat tahun.
“Apa kabar?”
Rasanya aku ingin tertawa sembari memaki demi mendengarnya bertanya. Setelah mengacaukan hatiku, masih terpikir olehnya untuk menanyakan keadaanku? Tak adakah basa-basi lain yang paling masuk akal untuk ditanyakan selain ‘apa kabar’?
“Baik.”
Rasanya ingin aku mengutuk bibir ini, karena masih saja sanggup memberi jawaban yang berlawanan dengan kondisiku yang sebenarnya. Aku sekarat, bajingan! Itulah makna yang tersembunyi di balik kata ‘baik’ yang seharusnya kuteriakkan tepat di depan hidungnya.
“Maaf. Aku sadar sudah menyakitimu. Aku juga remuk,” sahutnya sembari menunjuk dada. ”Di dalam sini.”
“Kalau begitu kenapa?” tanyaku. Ia pasti paham tanpa perlu kujelaskan lebih jauh. Luka itu masih cukup basah untuk ia lihat sendiri.
Ia hanya membisu. Lama. Entah sedang menyusun alasan lain, entah memang tak ingin menjawab. Sebab bila ia menjawab, pasti akan terbit debat panjang seperti yang sudah-sudah.
“Apa ada wanita lain yang mengisi hatimu? Kalau ya, katakan padaku siapa dia. Aku ingin mengucapkan selamat. Cinta yang dia beri padamu pastilah lebih besar dari yang kau dapatkan dariku.”
“Tidak,” dia menyangkal cepat. “Tidak ada wanita lain.”
“Lalu apa?” cecarku. “Kau tak yakin padaku? Setelah sekian lama?”
“Bukannya aku tak yakin padamu. Aku hanya masih meragukan diriku sendiri,” sahutnya lirih, mengulang jawabannya yang lalu. Namun rautnya datar. Tak tampak penyesalan atau kesedihan di sana. Apa dia sudah begitu lihai menyembunyikan segala perasaannya? Ataukah… aku yang kini tak lagi mampu membaca wajah itu?
“Aku tahu pernikahan adalah satu ibadah yang mulia. Tapi niat yang mulia itu tak cukup didasari cinta, tak baik pula diawali dengan keraguan,” katanya dengan sikap bijak yang memuakkan.
Aku mendengus. Bagiku, cinta adalah sebuah tombol panas. Ia adiktif dan melenakan. Kadang cinta juga memilih berkhianat, membuat mereka yang mendewakannya jadi sinting.
“Aku akan menunggumu sampai kau yakin,” kataku terbata, kaget mendengar kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku. Terang-terangan mengungkapkan betapa aku masih mendamba dirinya.
“Kau hanya akan membuang waktumu.”
“Tak mengapa,” sahutku bersikeras.
“Jangan keras kepala.”
“Kau tega!!” Aku meledak. Ia telah menekan tombol panas itu tepat pada momen kritis yang melumpuhkanku. Tak ada upaya apapun yang ia lakukan untuk menyembuhkanku, tak juga kata maaf sebab ia tak lagi manjur.
Kedatangannya pagi ini menjadi penegas perpisahan karena ia berkata akan pergi jauh ke tempat yang tak lagi berhak untuk kuketahui.
“Dulu aku memintamu baik-baik. Sekarang aku ingin melepasmu baik-baik. Aku pamit,” katanya. Ia menjabat tanganku sepintas dan berlalu begitu saja.
Ia telah berpakaian teramat rapi, bersepatu, lengkap dengan aroma parfum yang kukenal baik. Ia sungguh akan pergi rupanya. Meninggalkanku dengan tampilan baru bangun tidur dan tanpa antisipasi. Aku tak ingin ia pergi, namun kakiku tak juga bergerak untuk menahannya. Hanya bisa kupuaskan mataku memandang buram punggungnya dari balik pintu kaca yang basah oleh gerimis.
Namun walau demikian aku tak memilih mengambil tindakan huru-hara untuk menunjukkan kalau hatiku tengah terluka. Aku tidak ingin menjerit-jerit, berteriak-teriak. Mengamuk, memecahkan cermin, membakar tempat tidur. Aku hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pagi ini. [1] Menyeret langkah-langkah lambat di bawah rinai yang melayang bersama daun-daun berguguran.
Bersama satu kesadaran yang perlahan merayap, aku membuka pintu dan menyusulnya. Ia sudah berada di luar gerbang. Di bawah rintik hujan yang membasahi rambutku, kuikuti jejaknya. Aku menunggu toleh kepalanya yang tak kunjung kudapatkan walau sekali saja, tak peduli seberapa lama aku menunggu. Hingga ia menghilang di belokan jalan.

Medan, 2017

Keterangan:
[1] Petikan puisi Sapardi Djoko Darmono dengan judul “Pada Suatu Pagi Hari”. Puisi telah diedit oleh penulis semata demi kepentingan cerita.

Bocah yang Ingin Melihat Neraka


Cerpen Risda Nur Widia (Radar Banjarmasin, 22 Oktober 2017)

Bocah yang Ingin Melihat Neraka ilustrasi Radar Banjarmasin.jpg
Bocah yang Ingin Melihat Neraka ilustrasi Radar Banjarmasin
AROMA tumpukan sampah meruap dan menyesakan dada setelah hujan turun semalam. Setiap sudut kota terlihat sayu dan pucat karena hujan. Nyamuk-nyamuk mulai menanamkan telurnya di parit-parit, kaleng-kaleng sisa, dan berbagai tempat lainnya. Lalat beterbangan dengan bebasnya dan hinggap ke tempat-tempat dengan membawa penyakit. Namun penyakit yang siap kapan saja menjerat manusia ke penderitan itu seakan-akan dihiraukan. Karena siang setelah hujan itu tampak puak-puak manusia bergerilya di atas gunung sampah. Mereka seperti sedang mencari sebutir emas di balik limbah yang tak dibutuhkan itu.
Di pojokan tempat pembuangan sampah, terlihat seorang bocah terpekur; menyaksikan arakan truk berwarna kuning yang setiap waktu—setiap saat, menuangkan sampah. Truk-truk itu seperti menuangkan air ke dalam gclas. Sampah-sampah pun bertebaran dan sigap diperebutkan oleh para pemulung. Para pemulung itu— di hadapan si bocah—seakan terseret oleh pusaran sampah yang menggunung dan menjijikan. Gancu yang mereka gunakan tampak kelaparan. Tongkat-tongkat berbentuk kail itu cepat merayap memporak-porandakan tumpukan sampah yang menumpuk.
Matahari menyingsing di atas ubun-ubun si bocah. Teriknya membuat si bocah letih. Dan karena itu si bocah memilih beristirahat di bawah pohon bersama ayahnya—yang juga seorang pemulung—mengamati aktivitas para pemulung lain di pusat pembuangan sampah kota.
“Kau tak makan?” Tanya ayah si bocah. “Lekas makan! Tidak setiap hari kita bisa makan telur seperti ini.”
Si bocah mengawasi sudut wajah ayahnya yang sendu. Kerut waktu bersemayam di guratan air mukanya. Kulit ayahnya yang legam tampak begitu tua. Dan sosok itu terlihat semakin kumal karena balutan kaos partai berlubang yang dikenakan. Setelah mengamati ayahnya, si bocah menggerakkan tangannya ke aras nasi bungkus. Tetapi bocah itu tak lekas menyantap. Ia mimikirkan sesuatu.
“Boleh tanya, Pak?”
“Tentang?” Ayahnya menyahut tanpa melirik.
“Sekolah itu seperti apa?”
Ayahnya terpekur dengan mulut menganga. Pria itu seakan dikagetkan dengan penanyaan anaknya yang tak biasa. Bahkan tangan si ayah sempat terhenti di udara dan membuat nasi yang tergenggam tak jadi masuk ke mulut. Pria itu mengawasi anaknya, syahdan menerawang ke kejauhan dengan matanya yang merah. Pria itu memperhatikan keributan jalanan. Di sana terdengar lengking seperti letupan pelur yang bercampur dengan teriakan dari berbagai kendaraan. Pria itu dari tatapannya—seakan mencari jawaban. Pria itu menghela napas lalu memandang anaknya.
“Sekolah itu seperti neraka,” kata ayahnya kemudian.
“Neraka?”
“Kamu di sana hanya disiksa dengan berbagai hal yang tidak kamu suka.”
“Tetapi mengapa anak-anak yang berangkat sekolah tampak senang.”
“Itu hanya tipuan saja.”
“Tipuan seperti apa?”
“Mereka semua dicuci otaknya.”
“Jadi sekolah itu tempat pencucian otak, ya?”
“Betul!” Jawab si ayah melihat air muka lugu anaknya. “Sekolah adalah tempat mengerikan. Apalagi untuk orang-orang tercela seperti kita. Mereka mungkin akan membakar kita hidup-hidup.”
“Kenapa kita tercela?”
“Karena kita hanya sampah di negeri ini. Mereka membenci kita karena itu dan akan membakarnya.”’
Anak itu memanggut samar. Bocah itu tidak dapat membayangkan seperti apa bila dirinya masuk sekolah. Ia pun bergidik membayangkan bila dibakar seperti tumpukan sampah yang setiap sore dilihatnya. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di benak si bocah. Karena ketika melihat ayahnya bercerita, si bocah seperti merasa ada yang dirahasiakan. Bocah itu tak tahu rahasia apa itu. Pun si bocah tak berusah mencari tahu. Ia hanya membuka bungkus makanan, lantas menyantapnya seraya mengingat senyum bocah-bocah berseragam yang dilihatnya pagi tadi—sebelum berangkat memulung.
***
Bocah itu masih merasa penasaran dengan yang dimaksud oleh ayahnya tentang sekolah—tempat yang menurut ayahnya adalah neraka; tempat penyiksaan bagi orang-orang terkutuk seperti dirinya. Apakah benar sekolah itu adalah neraka? Tetapi mengapa setiap pagi ketika akan berangkat untuk memulung dirinya selalu mendapati senyum merekah pada wajah bocah-bocah berseragam itu? Seandainya mereka disiksa di sekolah, pasti hal sebaliknya terjadi. Wajah mereka tak memanggul kebahagian, tetapi kemuraman.
Rasa penasaran itu membuncah di hati si bocah. Ia pun—pagi itu sebelum berangkat memulung—dengan sengaja membuntuti seorang anak seumuran yang akan berangkat sekolah. Ia ingin menjawab kegelisahannya itu walau hal buruk nanti terjadi. Memang ketika menguntit beberapa kali terbersit perasaan takut membayangkan sekolah. Tetapi untuk sementara ketakutannya ia buang. Menyingkirkan jauh-jauh. Karena pagi itu ia ingin melihat neraka.
***
Sepanjang perjalanan saat menguntit, terus saja si bocah dibayangi tentang neraka yang diceritakan oleh ayahnya kemarin: api yang berkobar membakar apa pun dan penyiksaan yang tak mengenal batas. Bocah itu—di benaknya mengabstraksikan tangisan yang menguara memilukan seperti derai hujan yang bertampias di atap rumahnya bila badai datang. Sekali lagi tubuh si bocah bergidik mengartikan kalimat yang dipaparkan ayahnya kemarin.
Namun entah mengapa sepanjang jalan—ia tidak melihat kegelisahan pada garis wajah bocah yang sedang dibuntutinya. Di wajah bocah berseragam itu malah selalu menyebulkan senyum yang renyah: bahagia. Si bocah pemulung tak habis pikir tentang kebisaan manusia zaman sekarang yang dapat menikmati siksaan dengan bahagia. Apakah siksaan di zaman sekarang terasa nikmat? Pikirnya. Si bocah pemulung dengan takzim membuntuti bocah itu hingga sampai di sekolahnya.
Ketika benar-benar sampai, si bocah pemulung terpekur menyaksikan setiap tawa yang berdengung di sudut-sudut sekolah. Di sana anak-anak terlihat bahagia. Mereka berlari-lari riang memainkan sesuatu. Selain itu juga banyak penjual makan yang acap dilihatnya berkeliling saat memulung. Si bocah pemulung sama sekali tidak melihat neraka yang diceritakan ayahnya; tempat-tempat penyiksaan yang dikerumi oleh pekik tangis dan kesedihan. Tetapi yang ia lihat adalah taman bermain yang luas. Lonceng mendadak berdengung. Si bocah pemulung tergeragap.
“Pasti itu tanda dimulainya penyiksaan,” pekiknya samar. Matanya jelalatan mengitari tempat; mencari-cari sosok malaikat yang bertugas untuk menyiksa bocah-bocah itu. Tetapi si bocah pemulung tak menemukan. Ia malah menemukan sosok seorang wanita berpakaian coklat, mengenakan sepatu hitam, dan tersenyum kepadanya. Ia berpikir: Malaikat itu telalu cantik untuk menyiksa anak anak!
Setelah lonceng berbunyi, si bocah pemulung melihat anak anak itu melesat seperti anak panah yang dilecut. Anak-anak itu berbaris dengan tertib memasuki sebuah ruangan asing. Si bocah pemulung dengan bergetar memasuki halaman sekolah yang luas. Namun tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Tempat yang ia kira adalah ruangan penyiksaan bagi anak-anak, tidak ditemukannya. Tempat itu bersih. Bangku, kursi, dan papan tulis tertata rapi. Bocah pemulung itu juga melihat seorang wanita berseragam coklat yang tak henti-hentinya membersitkan senyum kepada anak-anak.
Di mana letak neraka yang dimaksud oleh ayah? Batinnya. Pada setiap inci pandangannya tak dijumpai penyiksaan kejam. Bahkan saat melihat di dalam suasana ruang yang ceria, ia merasa iri pada anak-anak yang duduk dengan senang di bangku dan meja yang bersih itu. Ia ingin duduk di sana; mengacungkan jari; melontarkan pertanyaan seperti mereka. Ia termenung meyaksikan semua itu dari jendela. Sampai kemudian seorang bocah menyentaknya.
“Hai lihat ada pemulung di sana!” Seorang bocah menyahut. Seluruh bocah berpaling menatapnya. Si bocah pemulung pun tersipu seperti maling. Anak-anak itu tertawa serentak sampai wanita berseragam coklat menenangkan.
***
Gopah-gopoh si bocah pemulung keluar dari sekolah tersebut. Sepanjang jalan ia menekuri setiap perkataan ayahnya kemarin; tentang neraka yang dijumpai bila ke sekolah. Tetapi neraka itu tidak ada di sana dan ia malah berpikir kalau ayahnya berbohong. Ombak masih berkecamuk di dalam benaknya. Ia bagai terombang-ambing di dalam kebingungan. Bocah itu termenung dengan wajah murung menatap langit yang mendung.
“Dari rnana saja kau! Seharian kau tidak membantu mencari uang! Mau makan apa kamu nanti!” Tegur ayahnya melihat si bocah pemulung baru pulang.
Bocah itu dengan gemetar menatap air muka ayahnya yang berang. Ia kembali mengambil gancu serta karung yang senantiasa menemaninya. Ia beranjak kemudian kembali mengais botol-botol bekas di gunung sampah; mengumpulkannya ke karung goni. Tetapi ia masih merasa penasaran tentang neraka yang diceritakan oleh ayahnya kemarin. Ia sama sekali tidak merasa takut dengan neraka itu. Ia malah ingin duduk di ruang pesakitan itu; mendengarkan seorang wanita berpakaian coklat bercerita tentang rentetan angka-angka dan ilmu-ilmu lainnya. Ia ingin hidup di dalam neraka itu; menikinati siksaan sembari tertawa-tawa. (*)

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-lndoensia UGM (2013). Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Nominator tiga besar buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Peluang Berdatangan

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Ini bukan kata saya ...

Saya kutipkan dari 2 pemikir dunia legendaris

Percaya Diri Adalah Rahasia Pertama Sukses ~ Ralph Waldo Emerson

Tidak akan ada orang yang memberikan perhatian banyak kepada orang yang tidak memiliki kepercayaan diri ~ Napoleon Hill

Apakah Anda memiliki kepercayaan diri saat ini?

Jika Anda pernah mengalami, sebuah kondisi dimana Anda ingin melakukan sesuatu. Padahal jika Anda lakukan sangat baik untuk sukses Anda, baik dalam karir maupun bisnis. Tapi Anda ragu, takut tidak mampu. Takut hasilnya jelek.

Akhirnya ... peluang pun terlewatkan.

Ini SALAH SATU CONTOH akibat jika Anda tidak memiliki kepercayaan diri.

Saat Anda memiliki kepercayaan diri yang tinggi, peluang sukses akan lebih banyak dan mudah Anda raih.

Mengapa Menjadi Orang Yang Percaya Diri Penting Dalam Meraih Sukses Dalam Karir, Bisnis dan Kehidupan Sosial

Sukses itu berkaitan dengan peluang. Dan hanya orang yang percaya dirilah yang akan bisa mengambil peluang. Menjadi orang percaya diri, akan membuka peluang yang lebih banyak. Semakin banyak peluang, semakin besar peluang sukses.
Orang percaya diri akan mengambil
  • Peluang bisnis, maka dia berpeluang meraih sukses dalam bisnis.
  • Peluang karir yang lebih baik, karena dia percaya diri mengambil peluang tampil dan menangani proyek besar.
  • Peluang karir yang lebih terbuka, karena dia percaya diri saat wawancara.
  • Peluang berbicara di depan umum sebagai cara membangun personal branding dan membangun relasi.
  • Peluang penjualan, karena dia percaya diri menjual, menawarkan, dan melakukan presentasi.
  • dan sebagainya.
Semua diatas, membutuhkan apa yang disebut Percaya Diri.
Sekarang bayangkan... Anda sudah memiliki percaya diri yang tinggi. Saat wawancara: Anda begitu tenang sehingga mampu "menjual" diri Anda dengan baik. Saat presentasi: Anda tampil dengan sempurna sehingga apa yang Anda harapkan tercapai.
Begitu juga... Anda melangkah dengan pasti saat memulai sebuah bisnis. Bisnis berjalan dengan baik. Keuntungan mulai datang. Jaringan terbentuk dengan kuat karena Anda percaya diri untuk membangun relasi.
Rasakan nikmatnya bisa berbicara dengan siapa pun penuh rasa percaya diri. Jika Anda penjual, distributor MLM, atau agen asuransi, maka nikmati komisi yang lebih besar berkat percaya diri.
Intinya: Anda bisa melakukan apa yang harus atau perlu Anda lakukan dengan baik. Dengan demikian, potensi diri Anda lebih optimal, peluang bisa diraih, dan keberlimpahan pun ada dalam genggaman Anda.




Apa Jadinya Setelah Anda Memiliki Rasa Percaya Diri?

  • Hidup menjadi lebih "hidup"
  • Membangun relasi yang harmonis dengan siapa pun.
  • Meraih berbagai peluang yang selama ini Anda abaikan
  • Hidup lebih damai
  • Tidak mudah terganggu oleh kritikan orang lain
  • Meraih tujuan Anda, karena Anda mencapainya dengan percaya diri
  • Mendapatkan pekerjaan idaman Anda (hal besar yang saya dapatkan dari percaya diri)
  • Menjadi pembicara di depan umum. Ini juga, padahal saya asalnya mudah grogi dan sulit bicara.
  • Hidup lebih termotivasi
  • Mendapatkan bisnis yang selama ini Anda impikan
  • Tenang menghadapi ujian sehingga mampu mengeluarkan semua kemampuan Anda.
  • Meningkatkan volume penjualan jika Anda seorang penjual
  • Lebih diperhatikan dan diperhitungkan oleh rekan dan atasan di tempat kerja.
  • Mampu memberikan kontribusi yang besar kepada perusahaan.
  • Hidup lebih ceria
  • Menghilangkan kekhawatiran
  • Memiliki kinerja yang tinggi
  • Dan masih banyak lagi...
Pertanyaanya, bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri?

Silahkan baca di halaman website ini:

http://www.zonasukses.club/the-confidence-secret/

Sekali lagi, silahkan baca penjelasan diatas karena akan meningkatkan peluang Anda meraih sukses.

Salam
Rahmat Mr. Power
Author eBook, Audio, dan Video
Pengembangan Diri dan Sukses

Rabu, 25 Oktober 2017

Kutipan Someday

Konsep cinta terlalu rumit untuk dipahami, apalagi untuk dinavigasi. Apakah cinta sejati benar-benar ada? Jika ada, bagaimana rasanya? Apakah dengan jatuh cinta, dua orang akan percaya bahwa bahagia selama-lamanya sungguh ada? (hlm. 21)

Orang-orang yang sama-sama pernah terluka akan dengan mudah saling mengenali, lalu saling tertarik. (hlm. 81)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Saling mengenal hanya urusan waktu. (hlm. 69)
  2. Setiap orang punya rahasia yang dipendamnya rapat-rapat. Sebuah luka yang memborok, terlalu dalam untuk sembuh total tanpa meninggalkan bekas. (hlm. 81)
  3. Sering kali, cinta bersembunyi di tempat-tempat yang nggak terduga. (hlm. 99)
  4. Mungkin, cinta yang sesungguhnya benar-benar ada. Yang sulit adalah memercayainya saat hal-hal lain di dunia membuktikan sebaliknya. (hlm. 100)
  5. Alangkah menyenangkan dapat menentukan sendiri ke mana jalan kita akan berujung. (hlm. 179)
  6. Semua keluarga punya masalah masing-masing. (hlm. 248)
  7. Kapan seseorang akan berhenti merasa hampa? Saat seseorang merasa siap untuk sembuh, maka kehampaan itu perlahan-lahan akan menghilang dengan sendirinya. (hlm. 339)
  8. Perasaan itu sah. Kita nggak selalu bisa mengontrol apa yang kita rasakan. (hlm. 372)
  9. Orang bilang, kita dipertemukan dengan orang-orang yang salah agar kita tahu saat menemukan orang yang tepat. Bukan begitu? (hlm. 373)
  10. Menerima diri sendiri perlu proses dan waktu. (hlm. 381)
  11. Menyanyangi diri sendiri nggak mudah. Selalu ada hal yang tidak kita sukai mengenai diri kita, hal-hal yang ingin kita ubah. (hlm. 381)
Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Nggak pernah ngerti kenapa orang bisa jatuh cinta kayak gitu. Kayak lo nggak bisa berhenti mengagumi dia, bahkan ketika dia bersama orang lain. Bahkan, saat lo tahu mungkin nggak akan bisa melihat dia lagi, perasaan yang lo miliki buat dia tetap ada. (hlm. 9)
  2. Kalau jatuh cinta menyakitkan, kenapa setiap orang berlomba-lomba untuk menyakiti diri sendiri, terseret dalam kegilaan itu? (hlm. 10)
  3. Biasanya, waktu sadar kalau sedang jatuh cinta, semuanya sudah terlambat. (hlm. 10)
  4. Semua tentang cinta rumit dan menyakitkan. Tidak ada hubungan yang bertahan selamanya. Suatu hari nanti, ikatan yang dipuja-puja sebagai sesuatu yang sacral dan indah itu pada akhirnya akan terputus, entah oleh takdir, atau perbuatan salah satu dari dua insan yang terlibat di dalamnya. (hlm. 11)
  5. Jatuh cinta nggak selamanya jadi sesuatu yang buruk. (hlm. 20)
  6. Apakah seperti itu cara kerja sebuah hubungan –dua orang saling menyayangi, lalu mereka terbangun pada pagi hari dan menyadari bahwa rasa itu sudah lenyap begitu saja? Apakah cinta memilih untuk pergi, atau merekalah yang justru mengusirnya jauh-jauh? Siapa yang lebih dulu melukai, dan siapa yang bersiap membalas? (hlm. 24)
  7. Bagaimana bisa seseorang yang masih asing terasa begitu akrab pada saat bersamaan? (hlm. 93)
  8. Di dunia ini banyak orang yang pura-pura tertawa, hanya supaya mereka kelihatan normal dan bisa melanjutkan hidup. (hlm. 151)
  9. Sekali lo bermain api, lo akan selamanya terbakar. (hlm. 172)
  10. Betapa mudahnya berbohong setelah sekali melakukannya. (hlm. 241)
  11. Kebohongan; begitu memulai, kau akan kesulitan untuk berhenti. Dan semakin banyak kebohongan yang diucapkan, semakin besar pula usaha yang dibutuhkan untuk mempertahankannya agar tidak terdengar kontradiktif. (hlm. 259)
  12. Berhentilah menjadi buta akan sekeliling lo. Dia cuma orang yang baru lewat dalam hidup lo, tapi begitu gampangnya lo menyerahkan semuanya buat dia. (hlm. 288)
  13. Nggak gunanya mencari seseorang yang nggak mau dicari. (hlm. 307)
  14. Seperti apa bentuk cinta yang sebenarnya? Apakah sama membingungkannya, sama menyesatkannya, seperti ini? (hlm. 325)
  15. Kadang-kadang, kita semua punya momen saat kita benci kepada diri kita sendiri. (hlm. 354)
  16. Menjadi dewasa bukan berarti segala sesuatunya dapat ditangani dengan mudah. (hlm. 365)
  17. Mungkin dua orang berpisah karena mereka sudah terlalu jauh berjalan kea rah yang berlawanan. Saat sadar, sudah terlamat untuk memperbaikinya. (hlm. 367)
 



Keputusan Bapak


Cerpen Kazuhana El Ratna Mida (Banjarmasin Post, 22 Oktober 2017)
Keputusan Bapak ilustrasi Rizali Rahman -Banjamasin Post Group.jpg
Keputusan Bapak ilustrasi Rizali Rahman/Banjamasin Post Group
Aku tidak paham, kenapa bapak akhirnya memilih jalan itu. Jalan di mana bapak akan menjadi orang cacat. Bapak tidak akan bisa berjalan lagi. Bapak akan terkurung dalam sepi—tidak bisa ke mana pun yang dia ingini.
Padahal aku tahu, bapak sangat suka berpetualang ke berbagai tempat sejak hari menyakitkan itu. Namun begitu, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk setiap pilihan bapak.
***
Hari itu aku baru pulang kerja. Hawa dingin menusuk pori-pori tubuhku. Meski jaket kulit yang aku kenakan sudah aku rekatkan sedemikian rupa. Namun tetap saja, aku masih kedinginan. Segera, aku memasukkan kunci duplikat yang aku miliki untuk membuka pintu.
Yah, sejak ibu meninggal, bapak semakin sering bepergian. Aku tidak tahu jam berapa bapak akan pulang. Oleh karena itu, kami sepakat membuat satu kunci lagi untuk kami bawa masing-masing, agar tidak saling menunggu jika pulang sewaktu-waktu.
Dulu karena hanya bapak yang membawa kunci, aku pernah tidur di luar, karena bapak tidak kunjung pulang hingga fajar tiba.
Dan begitu aku memasuki rumah dan memasukkan kunci itu ke dalam tas selempang yang aku kenakan, aku menatap sebuah kejutan yang tidak terduga. Dadaku berdentum tidak keruan. Antara marah, bingung juga sedih. “Apa yang Bapak lakukan?” teriakku panik.
Darah merembasi karpet cokelat yang baru aku pasang dua hari lain. Di sisi lain ada dua potong kaki yang masih mengeluarkan darah segar dan menguarkan bau anyir. Lalu sebuah parang tergeletak tidak jauh dari sana. Dan, bapak terkapar lemah dengan mata terpejam.
Aku menatap pilu keadaan bapak yang mengenaskan itu. Segera aku memanggil ambulans agar segera datang untuk menyelamatkan bapak. Aku sungguh tidak paham kenapa bapak memilih melakukan hal gila ini.
***
“Bapak tidak apa-apa?” tanyaku ketika akhirnya bapak siuman. Dan, bapak hanya menanggapi pertanyaanku dengan anggukan.
“Kenapa Bapak melakukan hal ini? Marni takut, Pak.”
“Bapak pantas mendapat hukuman ini, Mar.”
Selalu itu yang bapak katakan sejak satu minggu lalu.
Aku tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya. Tapi, sejak bapak pulang dari tempat yang sering dia kunjungi—tempat yang memberinya kepuasan sebagai seorang laki-laki, bapak tiba-tiba bilang ingin memotong kakinya. Bapak bilang itu adalah hukuman yang pantas bagi pendosa sepertinya.
Dan, rancauannya itu semakin menjadi-jadi setiap hari. Oleh sebab alasan itulah, yang akhirnya membuat bapak jarang keluar lagi. Bapak jadi murung dan sering meracau aneh-aneh.
“Memangnya Bapak melakukan apa, sampai harus memotong kaki?” Aku sungguh tidak habis pikir.
“Ada, Mar. Bapak melakukan banyak kesalahan. Bapak takut, Mar.” Tiba-tiba bapak tergugu dan aku semakin bingung melihal kondisinya.
Sudah berkali-kali aku bertanya tentang alasan kenapa bapak memotong kakinya sendiri, tapi berkali-kali pula bapak menolak bercerita. Bapak hanya selalu bilang bapak salah, atau bapak pantas mendapatkannya.
“Ayolah, Pak. Ceritakan pada Marni. Siapa tahu Marni bisa membantu masalah Bapak.” Aku masih membujuk.
“Tidak ada yang bisa membantu bapak, Mar. Ini urusan bapak sendiri. Bapak harus bertanggungjawab.”
Maka aku pun memilih diam. Kalau sudah seperti itu pasti akan sulit merayu bapak. Sifatnya memang sudah keras kepala sejak dulu. Aku akhirnya hanya bisa menyuruh bapak untuk istirahat.
Dan, aku juga mencoba tidur sejenak di sampingnya. Tidur dengan menekuk tangan sebagai alas tidur. Karena di kamar yang ditempati bapak tidak ada kasur lebih untuk dipakai. Bagaimana pun aku juga butuh istirahat, setelah kemarin kerja lembur dan disambut dengan kejadian yang tidak terduga.
Aku baru saja memejamkan mata sejenak, ketika aku mendengar suara bapak yang nampak ketakutan—bapak mengigau dengan keras. Dan, detik itu aku akhirnya paham kenapa bapak akhirnya menjadi seperti ini. Aku tersungkur, tergugu dan merasa ngeri.
***
Seperti yang aku katakan sebelumnya, sejak seminggu lalu bapak terlihat aneh. Jika setiap hari, bapak selalu pergi entah ke mana yang aku tahu pasti tempat itu adalah tempat orang-orang bersenang- senang tanpa adanya aturan—meski aku memang tidak mencampuri ke mana bapak pergi—aku hanya tahu saja. Karena memang sudah menjadi kebiasaan.
Dan, tiba-tiba bapak tidak pernah pergi lagi. Bapak bilang dia selalu bermimpi buruk. Sayangnya aku tidak tahu bapak bermimpi apa. Bapak tidak pernah cerita. Sedang aku tidak pernah terjaga lebih lama setelah pulang kerja. Aku akan langsung mandi dan tidur lelap hingga pagi. Mengingat aku terlalu sering lembur kerja. Dan, kalau tiba-tiba hari ini aku tidur tak lelap, mungkin karena efek khawatir yang tengah mendera, melihat bapak yang terkapar lemah.
Maka hari ini aku memaksa bapak untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Dan, mimpi apa yang sampai membuat bapak banjir keringat dan nampak ketakutan.
“Di-di-a da-tang, Mar. Dia ingin menghantam kaki, bapak. Memotong, memukul dan membakar. Dia menakutkan, Mar. Bapak takut.”
“Kaki, Mar …. kaki, jagalah dia baik-baik, Mar. Jangan kau injakkan di tempat haram yang tak diridai Tuhan. Tuhan akan membalas semuanya. Kau mengerti kan? Jangan seperti bapak, Mar.”
Hanya itu yang bapak katakan dan aku langsung memeluknya, antara haru dan sedih. Sedih karena bapak salah penafsiran dan haru akhirnya hati bapak telah terbuka, setelah sekian tahun bapak marah pada takdir Tuhan, menghujat atas kematian ibu hingga membuatnya tersesat di jalan abu-abu.

KAZUHANA EL RATNA MIDA. Kelahiran Jepara, November 1988. Cerpennya dimuat diberbagai media. Karyanya a.l. antologi cerpen Ramadhan in Love (Indiva, 2015), antologi puisi Luka-Luka Bangsa (2015), Lot & Purple Hole (2015), The Power of Believe (2016). Bingkai Kasih Khazanah Jiwa (2016), dan Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik (2017). Alumni Unisnu Jepara ini tinggal di Jepara.

Selasa, 24 Oktober 2017

Pulang


Cerpen Lintang Ismaya (Pikiran Rakyat, 22 Oktober 2017)
Floated ilustrasi Nur Istikomah - Pikiran Rakyat.jpg
Floated ilustrasi Nur Istikomah/Pikiran Rakyat
“DI tepi kuburmu ibu, ada rindu yang mencuat ke permukaan saat hati sedang nelangsa. Tetapi aku harus mengerti, ada kalanya kenyataan tak bisa dilawan, bahwa hidup punya aturan yang tak bisa dilanggar. Mawar ini untukmu. Langit dan matahari aku kembalikan pada catatan musim bersama doa yang aku apungkan pada-Nya!” ucap Melati disepuh linang. Selebihnya, hanya sunyi yang menabiknya.
LENTIK api di ujung napasmu
Debur darah di palung rasaku
 Sebuah sajak pendek ia tulis dengan tangan gemetar, dibilas linang air matanya yang jatuh rnewujud hujan. Hujan deras yang tengah berlangsung di dalarn batinnya, kini nampak sudah—jelas terlihat di paras wajahnya, seolah bunga yang mulai melayu dan membusuk. Jamhari dan warga yang melihatnya, yang masih berada di rumahnya, tak berani berkomentar.
***
MELATI, gadis cantik dengan khas senyumnya yang menawan; ia kembang desa yang parasnya mirip Raisa, artis Ibu Kota Metropolitan. Setelah lima tahun dinas di Kota Akulturasi, kini Melati kembali ke kampung halamannya untuk selama-lamanya. Dusun Sidomulyo, nama kampung halamannya tersebut terletak di kota realis. Di awal kariernya sebagai dokter, Melati pun sempat ditugaskan di Kota Suryalis dan di Kota Absurd.
Di Dusun Sidomulyo inilah Melati tumbuh dan besar, sampai usia remaja. Melati sebagai anak petani, terlahir dari rahim Mami yang kini tidur tenang di kedalaman tanah. Sedangkan Darma bapaknya Melati, mati tersambar petir yang datang seketika, ketika tengah membajak sawah di musim hujan. Darma melangit meninggalkan Mami dan Melati, ketika Melati masih berusia balita.
Melati anak tunggal. Pada akhirnya Melati besar dan tumbuh, murni di tangan Mami. Mami sengaja tidak menikah lagi bukan sebab harta warisan yang ditinggalkan Darma untuknya dan Melati lebih dari cukup. Bukan itu pangkal dan sebabnya, melainkan Mami takut jikalau Mami menikah lagi, akankah suami barunya kelak—bisa menyayangi Melati, sebagaimana Mami dan Darma mengasihi Melati sepenuh hati.
Mungkin Tuhan menciptakan Mami memang terlahir untuk menyayangi Melati sampai Izrail menjemputnya. Akhirnya Melati tumbuh dewasa dengan didikan separuh rasa, tetapi Mami cukup berhasil mendidik Melati, sampai Melati menyandang predikat Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang dibutuhkan banyak pasien, di Negeri Badut.
Sebagai Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Melati terkenal santun dengan khas senyumnya yang menawan pada setiap pasien yang datang berobat padanya, baik yang datang langsung ke rumah dinasnya, Klinik dan Rumah Sakit Umum tempat di mana Melati ditugaskan. Selama kembaranya dalam mengemban tugas dari eSKa Negara yang dikeluarkan via Permenkes untuk mengabdikan diri sesuai dengan penempatan daerah kerja, Melati jarang pulang kampung. Tetapi Mami begitu surti akan tugas suci yang diemban oleh anak perawannya yang semata wayang tersebut.
***
JAMHARI, abdi setia sebagai kepercayaan ibunya Melati, ketika Mami mendadak pergi meninggalkan ardi-Nya, tanpa sakit terlebih dahulu; langsung menghubungi Melati di itu pagi. Tetapi Melati tidak bisa pulang dengan seketika, sebab sore harinya ada jadwal operasi yang harus ditangani oleh Melati dan timnya, di samping jaraknya untuk sampai ke kampung halamannya harus melewati beberapa kota dan ditambah lagi belum tersedianya bandara yang memadai di kota kelahirannya.
Kalaulah kali itu ada pesawat udara dengan jurusan ke kota kelahirannya, tentu saja Melati bisa pulang pergi, sekedar untuk mengikuti prosesi penguburan ibunya tercinta. Akhirnya, Melati memberikan mandat pada Jamhari via telefon genggamnya untuk menguburkan Mami dengan segera di tempat pemakaman milik keluarga yang sengaja disediakan almarhum Darma, ketika Darmna rnasih hidup.
Ya, tanpa harus menunggu kepulangannya; Melati menyuruh Jamhari untuk bersegera memakamkan Mami, tepat di samping kuburan Darma. Tempat pemakaman milik keluarga tersebut, terletak tidak jauh dari rumahnya, hanya beberapa meter saja jaraknya dari belakang rumahnya. Semasa hidupnya, Darma, sengaja menyediakan lahan pemakaman tersebut, di samping sebagai tempat pemakaman milik keluarga, pun tiga perempatnya diwakafkan bagi pemakaman umum, khususnya untuk warga setempat.
Di pucuk senja itu, masih di hari yang sama; Jamhari dan beberapa warga yang masih berada di rumah Mami, beberapa menit selepas tahlilan pertama; mendapati Melati yang tengah tersungkur tangis yang disepuh gumam di atas gundukan tanah merah yang masih wangi oleh irisan daun pandan dan bunga rampai. Sepintas ada barisan huruf yang merangkai kata kaget yang terbersit di benak Jamhari; ya, bagaimana mungkin Melati bisa datang dengan secepat itu, kalaulah diperkirakan dengan durasi jam, dari Kota Akulturasi menuju Kota Realis dan sampai ke Desa Sidomulyo, tempat di mana Melati dilahirkan, paling cepat memakan waktu dua belas jam lebih seperempat menit.
Tetapi pikiran Jamhari sirna seketika dengan jawaban yang ditemukannya sendiri, mungkin Melati tidak jadi dalam melangsungkan praktek operasi bagi pasiennya. Ya, ketika itu—di hari itu; memang Jamhari menelefon Melati tepat jam enam pagi. Gerimis tipis mulai merindu bumi, menjengkal tiap sudutnya untuk dibasahi percik rindu air langit. Jamhari menghampiri Melati dengan membawa sebuah payung yang sudah terbuka di genggaman tangan kanannya. Pucuk senja yang kesumba, Jamhari mengajak Melati untuk masuk ke dalam rumah yang disambut beberapa warga yang masih berada di dalam rumahnya Mami.
Sesampainya di rumah; tanpa adanya jeda istirahat, tanpa adanya balik sapa hangat pada warga yang masih berada di rumahnya, Melati langsung meminta selembar kertas beserta bolpoin pada Jamhari. Di bawah sajak pendek yang dituliskannya itu, Melati menulis sepucuk surat pendek: “Kekasih, sungguh tak terduga dalam benak, kau punya hati seburuk Buriswara. Padahal pelaminan melati yang kau dan aku rencanakan tinggal hitungan hari. Ibu, maafkan anakmu yang memilih menjadi Subadra [l]; semoga kau dan aku kembali bertemu di bilik hari!” Usai menulis di atas meja makan, Melati pergi ke kamarnya dengan membawa selembar kertas yang sudah ditulisi jejak tangannya tersebut, dan tak ke luar kamar Iagi.
***
PAGI harinya Dusun Sidomulyo digegerkan dengan kedatangan sebuah mobil ambulans yang menuju kediaman Mami. Di dalam mobil ambulan tersebut, membawa jenazah Melati yang meninggal bunuh diri, berdasar keterangan dari petugas jenazah. Seketika, Jamhari dan beberapa warga yang melihat kepulangan Melati di hari kemarin, tepatnya di pucuk senja; tentu saja syok dengan melihat dua kenyataan yang dialaminya secara langsung tersebut; kemarin dan ini hari—meski berbeda waktu—mereka dan khususnya Jamhari seolah mengalami dua kali disambar petir di siang hari.
Selebihnya, kamar Melati yang masih tertutup rapat dibuka paksa oleh Jamhari dan beberapa warga; tak ada siapa-siapa di sana. Ligar Melati di negeri timur, tiga lambang tak bisa dipisah; kelahiran, perkawinan dan kematian. Hening! ***

[1] Dari kisah Dewi Banowati, dalam cerita Wayang Kulit Jawa, di sana diceritakan: Buriswara suatu saat masuk ke kediaman Arjuna di Kasatrian Madukara dan berusaha memperkosa Dewi wara Subadra, istri Arjuna. Dalam usaha mempertahankan kehormatannya Dewi Subadra mati tertusuk keris Buriswara. Putra Prabu Salyapati ini akhirnya tertangkap dan seharusnya akan dihukum mati, tetapi Dewi Saribanon segera datang dan membujuk Arjuna, sehingga Buriswara diampuni dan akhirnya dibebaskan.