Daftar Blog Saya

Sabtu, 16 September 2017

Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangat

Cerpen Doni Ahmadi (Koran Tempo, 16-17 September 2017)
Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangat ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.jpg
Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangat ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo
Sebelum para polisi itu membawa saya ke kantor polisi, bahkan sebelum mereka memukuli saya secara bergantian sampai babak belur, dan jauh sebelum saya diteriaki sebagai orang gila, sinting, dan semacamnya, biar saya beri tahu kepada Anda tentang duduk perkaranya dengan sejujur-jujurnya. Meskipun hal ini terdengar irasional, percayalah, saat itu saya memang berada pada kondisi yang tidak saya mengerti sama sekali. Tapi saya berani bersumpah bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi dan bukanlah karangan semata. Selanjutnya, silakan Anda tentukan sendiri, pantaskah saya menerima pukulan sampai babak belur begini, dan siapakah yang waras dan siapakah yang betulan gila.
Itu bermula ketika Anto Lakban menghubungi saya via telepon pada suatu sore. Ngomong-ngomong, Anto Lakban itu adalah teman baik saya. Kami bahkan sudah berteman puluhan tahun sejak kami belajar di pondok pesantren. Saya dan Anto Lakban bahkan pernah kabur bersama untuk beberapa hari dari pesantren. Lalu, setelah lulus dari pesantren, kami akhirnya pisah. Saya kuliah dan Anto Lakban bekerja. Meskipun begitu, kami tetap berteman.
Oh iya, saat itu saya sebetulnya tidak tahu-menahu apa yang membuat Anto Lakban secara mendadak menyuruh saya menunggu di warkop perempatan tempat kami biasa ngobrol ngalor-ngidul. Hal itu memang sedikit ganjil dan di luar kebiasaan—maklum saja biasanya kami ke tempat ini hanya pada malam hari dan tidak pernah pada sore hari begini—apalagi jam segini adalah waktu Anto Lakban biasanya bekerja dan saya juga biasanya bekerja. Karena saat itu saya sedang tidak ada kerjaan sama sekali, jadi saya mengiyakan ajakannya.
Saya yang saat itu sedang berada di rumah langsung bergegas menuju warkop perempatan dengan berjalan kaki. Saya sebetulnya bisa saja naik motor, namun saat itu motor saya baru saja dicuci. Lagi pula jarak dari rumah saya ke warkop perempatan tidaklah begitu jauh, hanya sekitar lima belas menit jika dilalui dengan berjalan kaki, jadi tidak ada salahnya saya berjalan kaki.
Sore itu cuaca cukup sejuk, dan saya tiba-tiba kepingin teh hangat. Sembari menunggu kedatangan Anto Lakban, saya langsung memesan teh hangat untuk nantinya bisa dinikmati sambil merokok. Belum lama teh hangat saya jadi dan disajikan, Anto Lakban sekonyong-konyong memukul pundak saya. Ayo cepat naik ke motor, katanya. Sial, rencana untuk menikmati rokok sembari minum teh hangat sore itu gagal total. Saya pun langsung menuruti perintahnya dan naik ke motor Anto Lakban. Ia yang mengemudi dan saya diboncengi.
Saat saya baru saja duduk di motor, Anto Lakban langsung tarik gas. Padahal saat itu saya belum selesai memakai helm. Saat saya tanya ke mana tujuan kami, Anto Lakban tidak menjawab dan hanya fokus mengendarai motornya. Saya pun menanyakannya kembali. Saya bilang, saya juga berhak tahu tujuannya. Lalu Anto Lakban pun menjawab, kau jangan banyak tanya dulu, nanti juga kau akan tahu sendiri. Saya semakin curiga, namun saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Anto Lakban, sahabat saya itu, memang memiliki kadar emosi yang tidak wajar. Emosinya bisa tiba-tiba membuncah, baik ketika ia sedang merasa senang maupun sebaliknya, dan saya sangat yakin saat itu ia betul-betul sedang emosi.
Setelah hampir setengah jam jalan, saya kini mulai yakin bahwa tujuan Anto Lakban saat itu sudah pasti menuju rumah Amat Obeng yang terletak di komplek asrama polisi. Dalam kepala saya, saat itu hanya terdapat dua kemungkinan. Pertama, Anto Lakban sedang tertimpa masalah dan membutuhkan pertolongan Amat Obeng—yang tak lain adalah anak kepala polisi. Dan kedua, ia sedang memiliki masalah dengan Amat Obeng. Tapi saya lebih yakin dengan kemungkinan pertama, terlebih siapa yang ingin cari gara-gara dengan anak kepala polisi, melawan polisi kelas coro saja sudah merepotkan, apalagi ini. Lagi pula Amat Obeng juga merupakan teman baik kami sedari kami pesantren, meskipun ia tidak sampai lulus. Saya makin yakin bahwa kemungkinan pertama adalah yang paling tepat.
Karena jalan utama sedang macet-macetnya dan karena saya sudah mengetahui tujuan kami, saya bilang agar Anto Lakban memutar arah untuk lewat jalan tikus. Saya bilang bahwa saya ingat betul jalannya, apalagi saya juga punya saudara yang tinggal di jalan itu. Namun Anto Lakban diam saja. Ia bergeming dan mengabaikan ajakan saya. Mungkin ia tidak dengar dan terlalu berfokus pada jalan, pikir saya. Setelah itu saya juga diam saja dan tidak memberitahunya kembali. Ketimbang saya dan Anto Lakban harus kembali memperdebatkan hal sepele, mending saya diam.
Sesampainya di rumah Amat Obeng, kami pun dipersilakan masuk olehnya. Setelah duduk di ruang tamu, ia pun menawarkan minum. Kebetulan sekali saya baru saja gagal menikmati teh hangat. Saya lalu menjawab ingin teh hangat dan Anto Lakban diam saja. Saya bilang kepada Amat Obeng bahwa bikinkan saja dua, dan ia langsung bergegas ke arah dapur. Ketika Amat Obeng baru saja menyajikan teh hangat di atas meja, tiba-tiba saja Anto Lakban langsung berdiri dan mengeluarkan sebuah bedil dari tas kecil yang ia bawa. Bedil itu pun langsung ditujukan ke arah kepala Amat Obeng. Karena saat itu masih jam kerja, otomatis di rumah Amat Obeng tidak ada seorang pun kecuali kami bertiga, dan itu berarti tidak ada seorangpun yang akan melerai tindakan Anto Lakban.
Kehadiran saya bisa dinyatakan hilang sejenak. Saya begitu kaget dengan peristiwa itu. Lalu mereka berdua terlibat adu mulut. Lewat adu mulut antara Anto Lakban dan Amat Obeng itulah akhirnya saya mendapat sebuah fakta yang menjadi latar belakang ajakan Anto Lakban ini. Ternyata yang membuat emosi Anto Lakban tak lain adalah kelakuan Amat Obeng yang diketahui pernah menggarap kekasih dari Anto Lakban.
Menurut saya, kelakuan Amat Obeng tidak bisa sepenuhnya disalahkan, apalagi kekasih Anto Lakban memang berprofesi sebagai penyanyi di kafe malam yang riskan sekali dengan hal semacam itu. Lalu si pemilik kafe tempat kekasih Anto Lakban bekerja juga merupakan seorang yang sudah terkenal bajingan alias pria hidung belang yang kerap jajan dan gila wanita. Namun pendapat itu tidak saya ungkapkan dan hanya terdapat di dalam pikiran saya. Lagi pula salah bicara pada saat-saat seperti itu bisa berakibat fatal dan berujung pada hal yang tidak diinginkan, dan pilihan untuk diam memang pilihan terbaik.
Oh iya, dalam kondisi terancam begitu, Amat Obeng lantas mengakui perbuatannya dan segera meminta maaf—bahkan ia hampir bersujud di kaki Anto Lakban! Katanya ia melakukan itu secara tidak sadar. Saat itu juga ia dalam kendali alkohol dan sama sekali tak menyangka bahwa perempuan yang digarapnya adalah kekasih Anto Lakban. Amat Obeng juga bilang bahwa ia betul-betul khilaf dan berjanji tidak akan mengulanginya, lalu ia mengungkit-ungkit kisah persahabatan mereka berdua. Bahkan saya juga baru mengetahui ternyata bedil yang kini ada di tangan Anto Lakban adalah bedil milik Amat Obeng. Tapi pembelaan-pembelaan yang dilontarkan Amat Obeng itu tidak ada gunanya sama sekali.
Beberapa detik setelah Amat Obeng selesai bicara, Anto Lakban langsung menembakkan timah panas ke arah Amat Obeng. Saya bahkan tidak menduga akan terjadi penembakan secepat itu. Padahal, seperti yang saya ceritakan barusan, baik saya, Anto Lakban, maupun Amat Obeng adalah teman baik. Karena peristiwa itu terjadi begitu cepat, saya sedikit pun tidak sempat melerainya.
Mendengar suara tembakan, tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar rumah Amat Obeng pun langsung bergegas menuju sumber bunyi. Mereka yang datang berteriak histeris melihat Amat Obeng sudah terbujur kaku. Anda tahu, saat itu membunuh anak kepala polisi untuk kata keadilan bukanlah hal yang heroik sama sekali, apalagi Anda membunuhnya tepat di rumahnya, di perumahan para anggota kepolisian lainnya.
Selanjutnya Anda bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi. Namun, sebelum Anda menebak-nebak lebih jauh, biar saya beri tahu bahwa hal yang terjadi setelah peristiwa penembakan itu belumlah sempat terjadi. Tepat pukul 17.45, saya mengalami peristiwa aneh yang lambat laun saya pelajari dan saya ketahui sebagai peristiwa gempa waktu. Gempa waktu adalah kerusakan mendadak dalam kontinum ruang—waktu yang mengakibatkan segala sesuatu di dunia ini bertindak persis seperti yang sebelumnya terjadi dalam jangka waktu tertentu. Menurut ilmuwan bernama Kilgore Trout, gempa waktu adalah peristiwa yang akan membawa semua orang dan segala sesuatu kembali dalam sekejap, yang kemudian membuat Anda harus mengulang kembali apa yang terjadi barusan dalam kendali otomatis. Tetapi, tatkala Anda merasakan kehendak bebas, Anda akan menyadari bahwa Anda sedang mengalami hal yang berulang itu (semacam déjà vu, tapi berbeda), dan Anda mampu berhenti menempuh jalan yang dibuatkan untuk Anda dalam waktu yang sebelumnya atau dengan kata lain Anda dapat mengubah apa yang akan terjadi setelahnya.
Karena hal itulah saya kembali berada di warkop perempatan, menunggu Anto Lakban dan belum lama memesan teh hangat. Lalu ketika teh hangat saya baru saja jadi dan disajikan, sekonyong-konyong Anto Lakban memukul pundak saya. Ayo cepat naik ke motor, katanya.
Anda pasti tahu bukan, yang terjadi setelahnya persis seperti apa yang barusan saya ceritakan, saya langsung naik ke motor Anto Lakban, menanyakan tujuan dan persis seperti waktu yang saya lalui sebelumnya. Namun, saat melewati jalan macet, saya sudah tidak ada dalam kendali otomatis, di situlah kehendak bebas muncul. Saya bilang agar Anto Lakban memutar arah untuk lewat jalan tikus. Saya katakan kepadanya tiga sampai empat kali, ya tiga sampai empat kali! Anto Lakban akhirnya menurut karena saya bilang ia akan menghemat sekitar sepuluh menit.
Saya ingat, di jalan tikus itu juga terdapat rumah saudara saya, yakni rumah Bude saya. Kebetulan kami melewatinya dan kebetulan juga Bude melihat saya, lalu memanggil. Saya bilang kepada Anto Lakban supaya ia berhenti sebentar. Awalnya ia menolak dan geram bukan main sembari menggerutu. Lalu saya bujuk agar dia mau berhenti barang sebentar. Ia pun mau dengan memberi saya syarat, tidak lebih dari satu menit! katanya. Namun tiba-tiba saja pikirannya berubah. Anto Lakban langsung mematikan kendaraannya ketika ia melihat sepupu saya bernama Rinai Delima ke luar rumah. Saya yakin betul, apalagi itu tampak sorot matanya. Anda tahu, karena hal inilah peristiwa penembakan Amat Obeng di kediamannya tidak pernah terjadi.
Saat Anto Lakban mematikan mesin motornya, saya langsung turun menghampiri Bude dan sepupu saya, Rinai Delima. Bude bilang agar saya mampir dulu ke rumah. Saya pun mengiyakan dan mengajak Anto Lakban. Tak disangka Anto Lakban juga mau. Tak lama, Rinai Delima pun disuruh Bude saya untuk bergegas kembali membukakan pintu rumah dan membuatkan teh hangat untuk kami. Ketika saya dan Anto Lakban masuk ke ruang tamu dan duduk, tiba-tiba Bude saya meminta maaf karena tidak bisa menemani dan izin untuk pamit, katanya ia hendak pergi sebentar ke supermarket. Berhubung jarak dari rumah Bude ke supermarket harus melewati jalan utama yang macet itu, saya pun menawarkan diri untuk mengantar beliau dengan meminjam motor Anto Lakban. Awalnya Bude saya menolak, namun saya memaksa hingga akhirnya ia setuju. Saya berpikir, mungkin waktu yang saya gunakan untuk mengantar Bude saya tentu akan turut berpengaruh pada emosi Anto Lakban. Dengan menikmati teh hangat sembari ditemani sepupu saya, Rinai Delima, yang anggun itu mungkin Anto Lakban bisa sedikit berpikir jernih atau bahkan berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk balas dendam.
Rencana saya berjalan baik, namun firasat saya berkata sebaliknya. Tanpa menunggu Bude saya selesai belanja, saya langsung tancap gas, kembali ke rumah Bude dan untuk memastikan bahwa firasat saya itu sama sekali tidak benar. Sesampainya di rumah bude, saya langsung masuk menuju ruang tamu dan tidak menemukan siapa-siapa, hanya ada dua gelas berisi teh—yang satu masih utuh dan yang satu lagi kelihatan baru disesap beberapa kali. Pasti ada yang tidak beres, pikir saya, dan benar saja, Anto Lakban kembali berulah. Saya jadi tampak bodoh dengan meninggalkan sepupu saya yang cantik itu bersama seorang gila yang membawa bedil. Saat itu saya melihat dengan kepala saya sendiri bahwa Anto Lakban tengah menggarap Rinai Delima, sepupu saya, tepat di kamarnya sendiri dengan bedil yang diarahkan ke kepala Rinai Delima. Menyadari kedatangan saya, Anto Lakban sekonyong-konyong mengarahkan bedilnya ke arah saya. Kau jangan macam-macam, katanya. Bangsat! Saat itu saya betul-betul geram.
Dalam pikiran saya, kemungkinan yang akan terjadi setelahnya adalah Anto Lakban akan menembak kami berdua, namun kemungkinan itu tidak pernah terjadi. Selanjutnya, tepat pada pukul 17.45, gempa waktu itu kembali terjadi. Saya kembali ke warkop perempatan, menunggu Anto Lakban dan belum lama memesan teh hangat. Lalu, ketika teh hangat saya baru saja jadi dan disajikan, sekonyong-konyong Anto Lakban memukul pundak saya. Ayo cepat naik ke motor, katanya.
Saat itu kendali otomatis berhenti dan kehendak bebas kembali berperan. Yang saya lakukan setelahnya adalah saya ke luar warkop dan melihat ke arah motor Anto Lakban, ternyata tas kecil itu tergantung di motornya. Lalu saya pun kembali masuk ke warkop, mengambil teh hangat dan menyalakan sebatang rokok. Anto Lakban tampak geram dengan tingkah saya yang ia anggap mengulur-ulur waktu. Ia pun memaki saya. Kau ini lama sekali, ayo cepat naik! katanya. Lalu, tanpa membalas makian Anto Lakban, saya langsung menyiram teh hangat saya tepat ke arah wajah Anto Lakban. Tampaknya teh itu masihlah panas. Maklum saja, penjaga warkop memang kadang berbuat begitu. Saat Anda memesan hal yang hangat, ia terkadang membuatnya tidak sesuai pesanan, alias masih betul-betul panas, terserah si penjaga warkop itu. Dan setahu saya, tidak ada yang mengajukan komplain sama sekali atasnya. Hal itulah yang membuat Anto Lakban tampak kesakitan. Ia terlihat menahan perih dengan beberapa kali mengusapkan kedua tangan ke wajahnya sambil mengucapkan makian disertai sumpah serapah. Setelah itu saya langsung berlari ke arah motor, mengambil tas kecil yang tergantung, mengeluarkan bedil, dan langsung mengarahkannya ke Anto Lakban.
Anda tahu, saat itu saya membayangkan wajah Anto Lakban saat ia tengah menggarap Rinai Delima, sepupu saya. Bangsat! teriak saya, yang tak lama disusul letusan timah panas. Setelah penembakan itu, saya lantas melemparkan bedil itu serampangan, lalu berjalan pulang sembari melanjutkan merokok.
Pukul 17.45, tepat saat masjid samping rumah saya membacakan ayat-ayat suci al-Quran—surat yang dibacakan itu adalah surah Al-Furqan ayat 14 [1], saya ingat betul itu, apalagi saat saya dulu ketahuan kabur dari pesantren, saya mendapat hukuman untuk menghafal surat itu—beberapa petugas kepolisian datang ke rumah. Saat itu tidak ada lagi gempa waktu. Saya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Agustus, 2017
Doni Ahmadi. Alumni Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta, pegiat sastra dan seni di komunitas Tembok, redaktur buletin sastra Stomata, serta turut mengurus rubrik prosa di webzine Jakartabet.net. Beberapa cerpennya telah dimuat media dan termaktub dalam antologi Desas-Desus tentang Kencing Sembarangan (2016).


Rabu, 13 September 2017

Ingatan Ara

Cerpen Dewi Ria Utari (Jawa Pos, 10 September 2017)
Ingatan Ara ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Ingatan Ara ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
AKU sering mendapati bahwa kenangan kita tentang seseorang seringkali hanya terpaut pada satu dua kejadian yang dengan keberuntungan yang menyertainya, bertengger dengan sukses di salah satu sel-sel kelabu di otak kita. Misalnya, ingatan Imron, tetanggaku, tentang anjing masa kecilnya, selalu tertuju pada satu kejadian ketika anjing Rottweiler miliknya itu kedapatan mengendus-endus pantat Marina, anak Pak Rosyid, pedagang kain gorden, yang suatu hari datang hendak mengantar contoh kain gorden untuk ibunya Imron. Ia tak akan pernah lupa kejadian yang sudah terjadi saat ia masih SMP itu, meski sekarang Imron sudah berusia 40-an tahun, karena ketika itu Marina menjerit-jerit sekencang-kencangnya dan langsung memeluk Imron seerat-eratnya yang membuat Imron merasa mendapatkan hadiah lotre SDSB. Cuma adegan itu yang diingatnya tentang anjing Rottweiler bernama Riko yang pernah dimilikinya waktu SMP. Tak diingatnya sama sekali bahwa Riko pernah berjasa menggigit seorang pencuri yang mencoba mencongkel pintu depan rumahnya.
Kegelisahanku pada ingatan selalu muncul setiap akhir tahun, setiap kali aku merasa terpaksa untuk pulang ke rumah, dan dipaksa untuk mengingat-ingat siapa saja teman-temanku dulu. Ibuku paling rajin untuk memberi tahu tentang si A dan si B atau si C yang katanya dulu teman mainku. Sementara aku hanya bisa berpura-pura menjawab “oh ya?” atau “begitu tho?” sambil terus berpura-pura sekuat tenaga untuk terlihat antusias dan ingat akan nama-nama yang disebutkan ibuku. Dan biasanya setelah itu aku jadi kelelahan nggak ada juntrungnya karena berpura-pura itu melelahkan sekali. Mulut harus menyunggingkan senyum terus-menerus, dan mata harus menyiratkan sedikit semangat dan keingintahuan. Padahal sumpah setengah mati, jangankan ingin tahu, ingat pun tidak sama sekali.
Namun di antara semua teman-temanku saat aku bersekolah saat SMP dan SMA, yang masih kuingat adalah Ara. Aku satu sekolah dengannya sejak SMP hingga SMA. Untuk dia, siapa pun yang pernah bersekolah dengannya pastilah tak sulit untuk mengingatnya. Ara melekat erat dalam ingatan teman-teman sekolahnya karena ia wangi, ayu, dan kemayu. Proporsi wajah dan tubuhnya seimbang. Ia tak terlalu tinggi pun tak terlalu pendek. Sehingga untuk lelaki yang tak terlalu tinggi atau sudah tinggi sekalipun, tinggi badan Ara bukanlah ancaman untuk tampak sepadan jika berjalan bersamanya.
Paras Ara bisa dikatakan manis, tak terlalu cantik sangat, sehingga tak terlalu membuat murid-murid pria di sekolah merasa terlalu minder untuk berusaha mendekatinya. Karena faktor-faktor itulah Ara populer di sekolah. Ia manis, supel, dan tahu bahwa ia akan tetap populer jika bersikap baik kepada siapa pun, sehingga ia tidak pilih-pilih teman.
Bagaimanapun, pada usia remaja, rasa-rasanya akan lebih aman sentausa dan bahagia senantiasa jika kita bisa menempatkan diri untuk disukai banyak orang. Meski untuk itu kita tak bisa menjadi diri sendiri. Namun pada saat usia itu, kita kan tak pernah tahu definisi diri sendiri itu seperti apa. Jadi kupikir wajar saja jika orang-orang seperti Ara memilih untuk bisa menempatkan dirinya diidolai banyak orang. Toh, dengan demikian, Ara terus diingat siapa pun hingga bertahun-tahun kemudian.
Sayangnya itu berkebalikan dengan Ara sendiri. Suatu kali saat bertemu dengan seorang teman masa SMA, ia bercerita bahwa Ara hilang ingatan. Ia tak lagi bisa diajak bicara dengan nalar dan wajar. Lebih suka bengong, melamun, dan senyum-senyum sendiri. Ingatannya tentang teman-temannya pun memudar. Ibunya seringkali harus mengingatkannya tentang siapa mereka-mereka yang mengunjunginya. Makin hari, Ara makin susah diajak berkomunikasi. Dan karena faktor itulah, keluarganya kemudian mulai sulit untuk menerima kunjungan teman-teman Ara. Mungkin lama-lama ibunya capek untuk mengingatkan Ara tentang tamu-tamunya.
Aku tak habis pikir bagaimana masa-masa kegemilangan dalam hidupnya bisa ia lupakan begitu saja. Tidakkah ia ingat, mungkin, beberapa teman pria yang mengejarnya begitu rupa, merayunya dengan surat penuh puja dan puji, atau ajakan malam mingguan di alun-alun kota. Masa sih tidak ada satu dua yang nyantol sekalipun. Bukankah pengalaman diidolai itu sudah sepantasnya diingat hingga kapan pun.
Pertanyaanku selanjutnya sama seperti teman-teman Ara yang baru saja dikabari bahwa ia hilang ingatan. “Apa penyebabnya?” Nah, untuk jawaban ini tak ada yang pasti. Banyak versi jawaban. Dari diguna-gunain orang, putus cinta sehingga patah hati berat, hingga masalah pekerjaan. Apa pun jawabannya, semua serba meragukan. Intinya, tak ada salah satu temanku yang mengetahui penyebabnya.
Barulah karena seolah-olah merasa menemukan petualangan baru, aku memutuskan pulang ke kotaku menjelang akhir tahun. Padahal biasanya selama lima tahun terakhir, aku sudah mulai banyak alasan untuk tak pulang. Jika ibuku merengek menginginkan aku pulang, aku biasanya akan memilih untuk memberinya uang dan memintanya untuk mengunjungiku. Demikianlah akhirnya karena penasaran, aku tiba di rumah, sepekan sebelum tahun baru.
Setelah dua hari memenuhi permintaan ibuku untuk menemaninya pergi ke sana sini, aku akhirnya bisa mengajak salah satu teman untuk mengunjungi Ara. Jika dulu mungkin aku akan bingung memakai baju apa dan sibuk mematut diri di depan cermin supaya terlihat tampan di depan Ara, kini aku tak melakukan persiapan apa pun. Toh orang yang akan kutemui belum pasti mengingatku.
Dengan membonceng sepeda motor yang dikendarai Hardi, temanku, tak butuh waktu lebih dari 15 menit untuk tiba di rumah Ara. Setelah memarkirkan motor di pekarangan rumahnya, kami berdua melangkah masuk ke teras dan mengetuk pintu depan. Tak lama, terdengar suara langkah mendekat dari dalam rumah, dan pintu pun dibuka. Ternyata ibunya Ara. Ia mempersilakan kami duduk di teras begitu Hardi memperkenalkan kami berdua sebagai teman SMA Ara. Setelah mengingatkan kami akan kondisi Ara, ia masuk ke dalam lagi untuk memanggilkan anaknya. Sambil berpandangan tanpa kata-kata, aku dan Hardi hanya bisa berharap-harap cemas, peristiwa seperti apa yang akan muncul di hadapan kami dalam beberapa menit lagi.
Ara muncul dengan sedikit gamang. Ia berdiri sejenak di ambang pintu dan mengamati kami berdua dengan tatapan cemas. Ibunya yang ikut berdiri di sebelahnya kemudian menyebutkan nama kami berdua dan mengingatkan Ara bahwa kami dulu adalah teman sekelasnya. Ara hanya mengangguk pelan. Mungkin sepelan kerja ingatannya.
Beberapa menit kemudian, Ara sudah duduk di hadapan kami, dan ibunya masuk lagi ke dalam rumah. Aku coba menanyakan kabarnya, sekaligus memecahkan kekakuan suasana, karena Hardi sendiri ternyata memilih diam saja memandangi Ara yang memang terlihat melantur.
“Mungkin kamu tidak ingat aku, Ara. Tapi aku dan Hardi dulu satu SMA denganmu. Sedangkan aku sebenarnya sudah satu sekolah denganmu sejak SMP,” ujarku dengan intonasi yang penuh tekanan dan tempo bicara yang lambat seolah-olah Ara tuli dan dungu. Barulah setelah Hardi menyepak pelan kakiku, aku mulai tersadar akan cara bicaraku.
“Apa kabarmu Kala?” tanya Ara membuatku dan Hardi terperanjat. Kami tak menyangka ia melihat ke arahku dan bertanya dengan kewajaran yang penuh. Aku menjawab dengan sedikit gugup. “Baik. Kamu masih ingat aku ya, Ara,” tanyaku pelan seolah tak percaya. Ara mengangguk sambil tersenyum.
Ia kemudian memandang Hardi. “Aku juga masih ingat kamu, Har. Juga masih ingat semuanya kok.”
Jawaban Ara ini tentu saja mengejutkan kami. Karena bukan hanya roman mukanya yang terlihat biasa-biasa saja—jauh berbeda dari sebelumnya saat masih ada ibunya—namun juga kata-katanya yang menyatakan bahwa ia mengingat semuanya.
“Kalian pasti berpikir bahwa aku sudah tak punya ingatan tentang teman-temanku dulu seperti kalian, kan? Aku tahu kok kabar tentang aku yang hilang ingatan. Kabar itu bukannya tidak salah sama sekali. Aku memang menghilangkan sejumlah ingatanku. Dan aku memilih melakukannya justru supaya aku tetap waras. Tahukah kalian bahwa orang seringkali lelah pikiran karena ia ingin mengenang. Mengingat semuanya. Kenapa tidak kita membiarkan otak kita melupakan apa pun yang ingin dilupakan. Jika memang otak kita masih mengingat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita kenang, itu berarti bahwa kejadian itu memiliki makna. Entah untuk apa, mungkin baru akan ketahuan di kemudian hari,” kata Ara sambil menyandarkan punggungnya dan menyelonjorkan kakinya. Matanya mengarah ke halaman rumahnya yang luas yang ditumbuhi oleh pohon jambu bol, semak melati, dan kaca piring, pohon manggis, dan beberapa tanaman perdu lainnya.
Aku dan Hardi saling melirik. Kami merasa salah tingkah. Dalam hati, aku merasa konyol karena kulihat tidak ada yang salah pada diri Ara. Meski ucapannya terdengar mengada-ada dan mengawang-awang soal ingatan, tapi jika dipikir-pikir sebetulnya benar adanya. Justru dari kata-kata Ara, aku mulai berpikir apakah kewarasan kita ditentukan oleh ingatan? Apakah ketika ingatan hilang, layakkah seseorang dikatakan tidak waras?
“Hidupku lebih tenang seperti sekarang ini, Kala. Aku dulu sering terganggu ketika orang lain merasa gusar ketika kita tidak mengingat mereka. Bahkan aku sendiri pun demikian. Aku gusar ketika dilupakan. Namun di suatu titik hidupku, aku berpikir kenapa harus memelihara ingatan jika memang kita tak mampu menyimpannya.”
Mendengar perkataannya, aku hanya bisa menunduk dan sesekali melirik Hardi yang kulihat juga tampak gelisah. Meski perkataannya terkesan filosofis, namun justru di situlah letak keanehannya. Baik aku maupun Hardi tak pernah mengingat Ara adalah sosok yang merenungkan peristiwa dengan sebegitu dalamnya. Ara di ingatan kami tak lebih dari anak sekolahan populer yang cuma sekolah, main-main, dan tak perlu memikirkan tentang ingatan, kenangan, dan tetek bengek lainnya. Walaupun kami sadar bahwa kami tak pernah tahu bisa jadi di masa-masa setelah sekolah, ia entah menemukan pencerahan tentang kehidupan secara filosofis, tapi tetap saja buat kami sangat aneh jika kami tak menemukan konteks apa pun dari perkataan Ara.
Seolah merasakan ketidaknyamanan kami, Ara akhirnya berkata, “Sering-seringlah main ke sini selama kalian ada waktu. Tentu saja aku tak bisa menceritakan banyak hal hanya dari satu kali pertemuan dengan kalian. Lagi pula kita sudah lama tidak bertemu, kan.”
Saran Ara ada benarnya juga. Sekaligus menepis sikap canggung kami. Pada akhirnya, setelah beberapa kali kunjungan, baik bersama Hardi maupun sendirian, aku akhirnya mulai mendapatkan penjelasan yang kususun sendiri dari potongan-potongan cerita Ara. Ternyata, sejak sekolah, Ara menyimpan ketertarikan tentang alam berpikir manusia. Ia merasa bahwa kerapuhan manusia seringkali ditimbulkan oleh pikiran manusia sendiri. Ia mempelajari psikologi dan sampai pada titik di mana ia lebih ingin berada di rumah dan mencari teori-teori sendiri tentang ingatan.
Pilihannya ini tentu saja berisiko. Ia tak bisa membuat orang tuanya memahami, sehingga ia lebih mencari cara mudah untuk berpura-pura tak waras. Baginya, anggapan orang lain tak lagi ia pedulikan, karena buatnya, ia lebih peduli untuk membuat tulisan-tulisan ilmiah tentang kerja otak dan memori.
Benar atau tidaknya cerita Ara ini, ibu Ara sendiri punya versi lain tentang Ara. Menurut ibunya, Ara menjadi seperti itu karena ia terlampau sedih ketika tunangannya meninggal bunuh diri pada suatu dini hari setelah membunuh anggota keluarganya sendiri. Sejak peristiwa itulah, Ara pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak waras.
Buatku, apa pun penyebab Ara menjadi seperti itu, aku lebih memilih menyimpan Ara yang cantik, populer, kemayu, dan lincah seperti saat aku mengenalnya di sekolah. Karena seperti halnya Ara, aku juga lebih memilih menggunakan ingatanku untuk mengenang hal-hal yang menyenangkanku. ***

Jakarta, Januari 2017
Cerpen ini ada dalam buku kumpulan cerpen “Di Dalam Hutan Entah Di Mana” (Arkara Press, 2017).

DEWI RIA UTARI, pewarta dan penulis fiksi, seni, dan budaya. Telah menerbitkan empat buku: Kekasih Marionette, The Swan, Rumah Hujan, dan Di Dalam Hutan Entah Di Mana. Dia beralamat di Instagram @dewiriautari; Twitter @writingria, dan FB: Dewi Ria Utari.

Selasa, 12 September 2017

Kendi Perca Koda

Cernak Artie Ahmad (Suara Merdeka, 10 September 2017)
Kendi Perca Koda ilustrasi Suara Merdeka
Kendi Perca Koda ilustrasi Suara Merdeka
Sudah hampir satu jam Koda berlatih merekatkan kain-kain perca di kendi tembikar. Namun usahanya selalu gagal. Kain-kain perca yang direkatkan menggunakan lem tak bisa menempel dengan baik. Bukannya bagus, kendi tembikar itu malah terlihat kacau. Tapi pagi ini Ibu Guru Ayati meminta Koda untuk mewakili sekolah di perlombaan kerajinan tangan tingkat kota. Semuanya serba mendadak. Baru tadi pagi Ibu Guru Ayati memintanya maju lomba untuk esok hari.
“Ma, besok Koda tidak berangkat lomba saja deh. Soalnya sulit banget ternyata,” ucap Koda ketika dia sudah lelah berlatih merekatkan kain perca ke permukaan kendi.
“Kok begitu? Sekarang masih ada waktu untuk berlatih. Besok Mama yang antar Koda berlomba. Sekarang jangan menyerah dulu dong. Kalau menyerah, nanti jadi mirip kancil pemalas di buku dongeng yang Koda baca kemarin,” kata Mama sembari tersenyum.
Koda mengejap-ejapkan kedua matanya. Dia tidak mau menjadi kancil pemalas yang selalu melupakan tugas-tugasnya. Suara teman-temannya yang sedang bermain bola di lapangan seberang jalan terdengar, tapi Koda tidak berniat ikut bermain. Perlahan Koda menempelkan satu per satu kain perca ke kendi tembikar. Keringatnya bercucuran, sedikit demi sedikit kendi itu mulai tertutupi lembaran kain-kain perca.
***
Dada Koda berdebar-debar ketika melihat banyaknya peserta lomba kerajinan tangan tingkat kota. Di sebuah ruangan yang cukup luas itu, Koda berlomba dengan peserta lainnya dalam menghias kerajinan tangan. Banyak sekali ide kerajinan tangan yang dibawakan para peserta lomba.
Meski sedikit gugup, Koda tetap berusaha sebaik mungkin merekatkan kain-kain perca itu. Kendi tembikar yang awalnya polos terlihat semarak dengan warna-warna dari kain perca yang direkatkan Koda dengan lem. Setelah lomba selesai, Koda menunggu pengumuman siapa saja yang menang dalam lomba dengan sedikit cemas. Dengan gelisah Koda mengintip para juri yang sedang menilai karya para peserta lomba dari jendela.
“Kalah menang tidak masalah, Koda. Yang penting Koda sudah berani ikut lomba ini,” bisik Mama pelan.
Koda hanya mengangguk perlahan. Dari kejauhan dia melihat Ibu Guru Ayati yang sedang berbincang dengan guru dari sekolah lain. Sesekali Ibu Ayati melihat ke arahnya. Melihat senyum ibu guru itu, Koda tahu kalau Mama benar. Yang terpenting adalah Koda sudah berani datang untuk ikut lomba, tidak melarikan diri seperti idenya kemarin.
Pengumuman para pemenang lomba ditempel juri di papan pengumuman. Berbondong-bondong para guru dan orang tua murid yang mengantar berdesakan ingin membaca. Mama dan Ibu Guru Ayati juga turut melihat pengumuman.
“Juara tiga. Selamat ya, Koda. Kendi percamu merebut hati juri,” ujar Ibu Guru Ayati setelah membaca hasil pengumuman lomba.
Koda tersenyum bahagia, latihannya seharian kemarin tidak sia-sia. Kini Koda tahu, yang terpenting adalah mencoba, berusaha, dan tidak lari meninggalkan tanggung jawabnya. (58)

Aku Sergio

Cerpen Zhizhi Siregar (Republika, 03 September 2017)
Aku Sergio ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpeg
Aku Sergio ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Mereka menyebutku pecundang. Bintang-bintang kurang ajar itu. Berkelap-kelip mengejek dari kejauhan di setiap kesempatan hanya karena aku kalah dan terdampar di lantai bumi. Aku ini tak lebih dari sisa-sisa kosmik yang tersingkir, ledek mereka.
Apalah artinya kata-kata kalau tak membiarkannya menembus jantungmu? Yang tersingkirkan pasti kalah bila mereka membiarkan label itu menempel, menggelayut di sisa-sisa harga diri. Sering kutuliskan dalam buku yang kelak akan kuberikan pada anak-anakku, bahwa aku ini pejuang. Yang mampu bertahan, yang memilih untuk tetap ada ketimbang rela tergerus ketiadaan.
Aku Sergio. Keluargaku sudah entah di mana, mungkin masih bersama bintang-bintang di sana. Tak pernah sekali pun kudengar mereka memanggil namaku tanda rindu. Padahal kami dulu mengembara dalam ketiadaan yang fana: luar angkasa yang hening. Tak apa. Mungkin sudah terlalu lama bersama, bila salah satu seketika tiada, yang ada hanyalah lega. Untuk beberapa jenis cinta, jarak seringkali menghilangkan sesak.
Ledakan itu terjadi kala kami lewati sebuah bintang yang hendak meledak, agresif luar biasa. Padahal sedari jauh sudah kami katakan, takkan kami ganggu wilayah kekuasannya. Kami hanya numpang lewat. Tapi lagi-lagi, seperti semua hal yang ada di semesta ini, mereka takut akan sesuatu yang tak mereka pahami. Habislah kami diinjak-injak, ditarik-tarik, diledakkan hingga mampus berkeping-keping.
Mereka yang beruntung segera musnah, bergabung dengan ketiadaan. Mereka yang tak beruntung, terluka, terdampar di planet tak bertuan untuk kelak kembali mengembara. Karena bukankah hidup seperti itu? Dari ketiadaan kembali ke ketiadaan. Aku? Aku yang paling sial di antaranya. Tak hanya terpincang-pincang harus melanjutkan hidup, aku malah menjadi hina. Tak lagi menjadi bintang, kini aku hanya sebongkah batu. Mendarat pula di planet bumi yang berisi manusia.
Untuk waktu yang lama sekali, aku duduk sendiri di tepi sungai itu. Sungguh deras arusnya. Seperti tak kenal ampun, menggerus siapa pun yang berniat menghalangi. Sering aku bercengkerama dengan malam yang sama sakitnya dengan bumi. Semakin hari ia kian pelupa karena gelapnya terus tercabik cahaya. Dipenuhi lampu-lampu sedemikian terangnya hingga sering ia bertanya, ia ini malam atau siang.
Angkasa adalah tempat yang sepi. Sempurna untuk berpikir dan merenung tentang segala hal. Namun bumi tempat yang baik untuk menyerap hal baru. Seperti memasak, tak ada yang bisa kau renungkan kalau tak kau kumpulkan dulu bahan-bahan untuk direnungkan. Setelah jutaan tahun bersama, bumi semakin berani berbagi, ia membanjiriku dengan segala keriuhannya.
Ibu bumi bernapas dengan caranya sendiri, meski kini tinggal sepatah-sepatah. Jangkrik-jangkrik usil mulai malu menampakkan diri. Ulat-ulat menggeliat menyembunyikan diri dari jeritan anak-anak kecil yang ngeri akan sesuatu yang tak mereka mengerti.
Pepohonan berlomba-lomba untuk tak jadi tinggi dan besar, karena mereka yang tinggi dan besar harus siap jadi kursi, meja, dan hiasan rumah. Para harimau lebih memilih menggali kubur sendiri ketimbang dikuliti. Bumi menarik napas dengan susah payah dan menghembuskannya dengan lebih susah payah lagi.
Batu-batu di sekeliling enggan bermain denganku. Begitu pula dengan anak-anak kecil yang kini mulai merambah ke sisi sungai tempatku bersemayam nyaman ribuan tahun terakhir. Permainan mereka aneh-aneh. Sungai telah sedemikian ramahnya, kini mereka berwarna-warni. Batu-batu cantik dipunguti, diwarnai, dibawa pulang, dijadikan pajangan. Satu demi satu, lama-lama jadi seribu. Tapi tak ada yang berani memungutku.
Terlalu tajam, kata mereka. Jangankan hanya kulit dan daging, sudutku mampu menggores apapun tanpa ampun. Terlalu berat. Aku berisi hal-hal yang tak mampu ditangkap otak mungil kaum manusia. Kusimpan rahasia yang tak mampu mereka tampung, kusaksikan semesta sedari mula, hal-hal yang tak terbayangkan. Wajar aku berat di lengan mungil mereka. Terlalu menyilaukan, aku bicara terlalu banyak akan hal-hal yang tak mereka pahami, dan lagi-lagi, hal itu cukup untuk membuatku ditakuti.
Hari demi hari, pepohonan di sekelilingku mulai berbaur dengan ketiadaan. Ibu bumi sering merasa bersalah karena tak mampu menyediakan makan yang layak untuk anak-anaknya yang berlindung di hutan. Tak ada yang perlu ditakuti dari kematian, hiburku pada mereka setiap kali menghadapi ajal. Aku tak lagi aman tersembunyi di semak belukar, karena semak belukar pun lama-lama mati mereguk sungai yang justru berkhianat membawa racunnya ke mana-mana.
“Bukan salahku,” sang Sungai meraung menangis bercerita tentang manusia yang lemparkan hal-hal yang mampu lagi ia cerna. Aku memeluk tubuh rerumputan yang sudah tak bernyawa lagi. Puluhan generasi sudah ia lindungiku dari terik panas matahari. Kuletakkan ia kembali ke perut bumi sambil berdoa pada ketiadaan untuk menerima jiwa-jiwa mungil mereka.
Manusia lupa, di setiap hal kecil di hutan ini, bersembunyi jiwa-jiwa yang sama sucinya dengan yang ada di dalam tubuh mereka. Bedanya hutan tak mampu berteriak dalam bahasa yang mereka mengerti. Hutan hanya mampu menangis dalam bentuk longsor. Babi hutan hanya mampu berontak dalam bentuk amukan. Sekali lagi, seperti kami, manusia takut akan hal yang tak mereka mengerti.
Kini hutan ini, bukit ini, dianggap sebagai ancaman. Terlalu banyak hewan liar, kata mereka. Beberapa orang datang, menggali-gali dan mencatat. Emas, mereka berteriak sambil jungkir balik tak keruan. Andai digali lebih dalam lagi, bisa jadi uang.
Datanglah kembali mereka membawa kotak demi kotak berisi peledak. Ini untuk kepentingan bersama, kata mereka menenangkan satu sama lain. Kepentingan siapa? Mereka yang tinggal di sekeliling hutan ini tak tahu menahu tentang emas yang ada. Mungkin disuruhnya mereka menjadi buruh, sisanya emas lari ke pangkuan mereka yang batang hidungnya pun tak muncul di sini.
“Nanti tekan ini kalau peledaknya sudah disebar ya.” Diletakkannya remote control tepat di sisiku. Mereka berkerumun di dekat tumpukan peledak, mengatur strategi.
Bolak balik kutatap remote itu. Manusia-manusia ini juga berjiwa. Kuamati sekeliling. Namun hutan ini juga rumah bagi ribuan jiwa lainnya. Hanya karena mereka tak mampu bicara dengan bahasa yang tidak manusia pahami, nilainya tak lantas kehilangan arti.
Aku tak banyak bergerak jutaan tahun ini, tapi kalau kukerahkan sekian besar tenaga tersimpan, mampulah aku kalau hanya sekadar melompat. Seperti sekarang. Aku melompat sekuat tenaga ke pemicu ledak. Tak ada yang menduga, kelompok itu tercerai berai badannya. Aku sendiri terkena ledakan, tapi apalah artinya ledakan buatan manusia bagiku, bintang meledak depan mata saja kuhadapi.
Kini sudah puluhan tahun lamanya, hutan dan sungai ini aman tentram. Orang-orang memilih pergi dan menjauh dari hutan angker ini. Tiba-tiba sesosok pria memungut tubuhku.
“Akhirnya.” Ia berbisik sambil menghela napas lega. Semacam sudah puluhan tahun mencari-cariku. Matanya sibuk mengamatiku dari balik kaca pembesar.
“Ini berlian yang aku cari.”
“Berlian kok… hitam?” asistennya bertanya.
“Kuberitahu ya, tak banyak berlian hitam di planet ini, bisa jadi ini berasal dari luar angkasa. Luar biasa!” Kutatap wajahnya lekat-lekat yang entah mengapa begitu bahagia meski habis sudah jemarinya kugores-gores dengan tega.
“Kira-kira bisa berapa harganya?”
“Jutaan dollar! Tak ternilai!”
“Kalau begitu, biar kupegang saja.” Pria di belakangnya menarik pelatuk.
Mereka saling tembak. Demi sebongkah batu dari pinggir kali. Ah, manusia. Satu-satunya hal yang semakin kumengerti justru semakin kutakuti. Kututup mata. Lelah sudah dengan tingkah mereka. Mungkin saatnya aku berpaling menuju ketiadaan ketimbang berjibaku dengan keriuhan yang tidak masuk akal ini.
Sebuah tangan akhirnya memungutku tepat beberapa saat sebelum aku memutuskan untuk tinggal bersama ketiadaan. Lengan itu berlumuran darah, nampak tubuh teman-temannya yang tewas bergelimpangan di sekeliling.
Wajahnya yang penuh kepuasan berangsur dipenuhi ketidakpercayaan, semakin dalam aku berjalan menjauh menuju ketiadaan. Sayang sekali ia harus tahu dengan cara seperti ini: berlian yang memilih ketiadaan akan berubah menjadi sekadar batu biasa. Terdengar raungannya menggaung di seluruh penjuru hutan mengiringi kepergianku.

Rindu yang Bertemu

Apa yang lebih indah dari rindu yang menuai temu?
Apa yang lebih membahagiakan dari harapan yang sejalan dengan realita?
Aku tak mengerti bagaimana cara kerja semesta dalam memberikan sebuah kejutan. Hari ini saat asaku hampir pudar tergerus waktu, ia datang. Seseorang yang selama ini aku perhatikan dalam diam, yang secara diam-diam menetap di hatiku, yang menjadi rahasia terbesarku dan yang hari ini aku rindukan, duduk di hadapanku.
Ini adalah jarak terdekat antara aku dengannya. Pakaiannya yang basah dan tangannya yang dingin tak mengubah tatapan matanya yang selalu berhasil mengurungku. Akhirnya, kami berkenalan secara resmi. Dia menyebutkan namanya dan aku menyebutkan namaku disertai dengan jabat tangan. Ya Tuhan, terima kasih sudah memberikan hujan hari ini.
Cukup lama, hanya suara hujan yang menemani kesunyian kami. Aku sibuk menyembunyikan wajahku yang memerah karena tatapannya yang menusukku tanpa ampun. Sampai akhirnya, aku pasrah dan memberanikan diri membuka pembicaraan “Basah semua ya?” Wajahku semakin memerah karena malu, ketika aku sadari itu adalah pertanyaan terbodoh yang ditanyakan oleh orang yang baru bertemu kembali.
Lalu, dia tersenyum. Ya Tuhan, aku memang merindukan senyum itu tetapi tolong jangan sekarang. Seketika semuanya hening bahkan aku tak mendengar apa yang dia katakan. Melihat isyaratku yang seperti tak mendengar, ia mengulangi ucapannya sekali lagi. “Kamu apa kabar?” masih dengan senyuman yang sama. Aku mengatur napasku sedemikian rupa agar tak lagi terdengar bodoh “Baik-baik saja, kamu bagaimana?” Kali ini aku sudah bisa tersenyum.
Dinginnya hujan dan pendingin ruangan tak membuatku menggigil seperti biasanya, malam ini ada kehangatan yang kembali aku rasakan lewat setiap kata yang diucapkannya. Perlahan, kecanggungan di antara kami menghilang. Tawanya, senyumnya bahkan setiap bahasa tubuhnya masih bisa aku kenali dengan baik. Semua masih sama seperti yang telah terekam dalam ingatanku.
Hingga hujan reda, masih belum ada di antara kami yang ingin menyudahi pertemuan ini. Malam yang semakin larut pun tak berhasil mengusir kami dari tempat ini. Dalam hati, aku khawatir jika setelah ini tak ada kesempatan bertemu lagi dengannya seperti hari-hari yang lalu.
Tak banyak yang kami bicarakan, entah karena waktu yang singkat atau hening yang berkali-kali menguasai. Pertemuan kami diakhiri setelah sama-sama menyadari bahwa besok masih ada tanggung jawab yang harus kami kerjakan. Kami keluar pintu restoran bersama-sama menuju kendaraan masing-masing. Dari dalam mobil, aku masih memperhatikan dia yang bersiap-siap pergi. Setelah menoleh dan melambai ke arahku dia pun melajukan sepeda motornya. Aku masih tertegun, tersenyum bahagia.
Malam ini, rinduku menuai temu.
Harapanku tak lagi angan-angan belaka.
Indahku telah menemui waktunya.
Sampai jumpa lagi, Arlan.

Senin, 11 September 2017

Kutipan Persembahan Teruntuk Bapak

“Takdir itu harus diupayakan. Apa kau mau Gusti Allah menggerakanmu sepenuhnya seperti wayang-wayang ini? Sementara kau sudah diberi akal, kekuatan, kemauan…”
“Apa bisa?”
“Bisa! Jika kau mau.”
“Nyatanya…”
“Soal hasil, itulah takdir.” (hlm. 1)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Jika kau selalu berburuk sangka, maka hasilnya pun selalu terlihat buruk di matamu. (hlm. 10)
  2. Kabeh dadi semrawut sebab pikiran kusut. (hlm. 19)
  3. Jangan menolak pertolongan orang lain. Itu namanya sombong. (hlm. 36)
  4. “Kita hidup kan memang harus saling tolong-menolong. Tak ada orang yang bisa hidup sendirian.” (hlm. 36)
  5. Jangan menjadi pendendam. Pendendam itu hatinya sedalam gelas, akan langsung habis segala isinya begitu terisi batu. (hlm. 44)
  6. Jangan terlalu menggantungkan diri. (hlm. 52)
  7. Jangan bilang kau sedang naksir cewek. Masa depanmu masih panjang. Lagi pula, pacaran itu justru akan menggagalkan cita-citamu untuk cepat kaya. (hlm. 135)

Bersama Ibu

Cerpen Makanudin (Republika, 10 September 2017)
Bersama Ibu ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Bersama Ibu ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Nagib tak menghiraukan berkali-kali malaikat meminta menuruti keinginannya. Hanya ia dalam kesedihan memandangi ibunya yang sedang ditarik oleh beberapa malaikat menjauh dari lapangan perkumpulan mereka.
“Saya biar di sini saja, malaikat,” pintanya.
“Kamu harus menuruti permintaanku,” sarannya penuh harap.
“Tidak, Malaikat. Di sini saja.” Ia masih dalam kesedihan.
Malaikat terheran keengganannya menuruti perintah. Tanpa menghiraukan pandangan pemuda itu ke seorang perempuan berusia lima puluhan tahun yang sedang ikut antre menuju sebuah ruang. “Mengapa kamu tidak menerima keinginanku, Nagib?”
Ia diam. Tertunduk. “Kau bisa lebih nyaman di Surga, Nagib.”
Ia mengangkat kepalanya. Ibunya masih terlihat di antara yang lain. Berdesakkan digiring ke ruang kegelapan. Tanpa memedulikan perkataan malaikat, ia berkata, “Ibuku, Malaikat. Ibuku.”
Tanpa mengerti, ia bertanya, “Ada apa dengan ibumu?”
“Ibu saya sedang digiring dalam langkah yang lelah.” Kesedihannya semakin bertambah yang menyesakkan napas.
Ia menoleh. Tidak menghiraukan ibu yang dimaksud. “Biarkan! Mereka sudah mendapat tempat masing-masing.”
Ia tidak bisa membendung kesedihannya. Mengingat ibu yang penuh pengorbanan, mengasuh dan mendidiknya. Ibu akan segera memintanya rapi-rapi bila pagi datang. Tanpa terbebani, dengan sabar, ibunya segera membuka pintu kamar, mendekati. “Ibu akan mengurus pekerjaan rumah, Nak. Bangun ya.”
Ia hanya memandangi ibunya yang dalam lelah setiap hari mengurus rumah. “Kalau kamu butuh Ibu, panggil ya, Nak.”
Lalu setelah Ibu meninggalkannya, ia segera bangkit dari kasur menemani Ibu bekerja yang ia mampu. Ibu juga menyarikan lembaga pendidikan begitu ia sudah menginjak tahun masuk sekolah. Sang ibu harus keliling mancari tempat belajar untuknya. Sampai SMA ibunya juga harus keliling daerah mencari lembaga yang layak.
“Sama saja, Bu, semua lembaga sama,” tegas Ayah. Tapi, ia tak memedulikan pertarungan kata kedua orang tuanya itu.
“Tidak begitu juga, Pak,” tukasnya segera. “Berbeda yang mengurusnya berbeda juga model dan kualitasnya.”
Bapak diam. Seakan menerima keinginan Ibu. Lalu menoleh kepadanya, “Kau turuti ibumu, Nagib.”
Meski keinginan berbeda, tapi Ibu lebih teliti. Setiap pagi Ayah meninggalkan mereka akan bekerja. Ibu bertanggung jawab di rumah. Termasuk mengurus dan membesarkannya. Ibu yang lebih mengerti keinginannya. Maka, ibunya siap menemani, mengarahkan keinginannya. Hingga dewasa. Tapi, wanita itu tak banyak menuruti. Bapak lebih banyak mengalah bila bicara soal rumah dan pengasuhan.
“Saya tidak akan menerima tawaran ke surga, Malaikat,” tegasnya lagi. Ia masih memandangi ibunya di antara sekerumunan yang lainnya digiring oleh beberapa malaikat.
“Banyak manusia menginginkan ke surga, Nagib.”
Ia diam, tapi, dalam kesedihan.
“Tapi, kamu tidak mau.”
Ia masih diam. Tidak menghiraukannya. Tapi, pandangannya ke arah Ibu. Malaikat tak memedulikan arah pandangannya. Memastikan keinginannya tetap ke surga, kembali ia memintanya, “Mari bersama kami.”
Lalu pandangannya ke arah jalan yang terbentang luas dengan permukaannya yang bagus didampingi sungai jernih yang mengalir. Suasana cerah bercahaya di antara rindang pepohonan yang saling merapat. Meneduhi jalan yang tanpa cacat setitik pun.
Burung-burung yang indah memesona. Berlompatan di antara dahan-dahan. Di antara butir-butir buah menggoda. Tapi ia tetap tidak menerima. Hanya ingin Ibu tetap bersamanya. Melintasi jalan yang nyaman itu. “Tidak, Malaikat. Saya ingin bersama Ibu.”
Malaikat diam. Memandanginya lekat-lekat. Setelah memandangi jalan yang ditujukan malaikat, ia menoleh ke ibunya. Semakin menjauh. “Saya ingin Ibu menyertai saya, Malaikat.”
Ia tidak segera menjawab. Menyambut kata-kata yang begitu berkeinginan menyelamatkan ibunya. “Silakan! Temui ibumu.”
Ia segera menemui ibunya yang sedang melintasi jalan gelap. Permukaan jalan yang tak bagus, penuh kesulitan. Tapi, ia akan meminta kepada malaikat yang mengawal Ibu agar bisa membawanya. Namun, sebelum langkahnya menjauh, malaikat pertama yang bersamanya menyarankan, “Kamu ajak ibumu ke sini.” Ia menoleh. Lagi ia mengangguk. Bahagia.
Ia mengerti ibunya akan bahagia bersamanya ke tempat yang akan ia masuki nanti. Sudah terlihat dari lapangan itu keindahan. Sejuk dan nyaman. Tak pernah sebelumnya ia mendapatkan suasana sememesona itu. Ia tak akan menerima siapa pun yang menawarkan, bahkan memaksanya tinggal tanpa bersama Ibu. Tak mungkin ia sendiri sementara ibunya dalam kesulitan. Maka, meski berkali malaikat memintanya, ia tak akan menerima.
Ia buru-buru mengayunkan langkahnya. Menemui ibunya yang dikawal ketat para malaikat. “Ibu!” serunya.
Ibunya tak menoleh. Masih terus berjalan, tapi dalam lemah. Ia melihat tubuhnya banjir keringat. Tak henti- henti. Tubuhnya bagaikan pancuran air yang mengucur. Sebagaimana ibunya, ia pun melalui jalan yang menyulitkan. Lalu mendapati remang, cahaya yang samar. Lalu kembali memanggil ibunya, “Ibu…”
Ia tak mengerti. Ibunya tidak mendengar atau memang tidak menghiraukannya. Malaikat terus menggiring ibunya. Melihatnya ia merasa terpukul, sebagaimana ia menemani Ibu ketika sakit. Tak ada yang mengarahkan hidupnya. “Kau keluar saja, Nak, mencari makan yang baik-baik,” pinta ibunya ketika ia kesulitan harus melayani kebutuhan anaknya. Tapi, meski harus ia lakukan, ia tidak berkesempatan hanya ia tidak bisa meninggalkan ibunya lebih lama sendiri.
Pikirannya tidak tenang ketika sakit ibunya semakin parah. Doa dengan bacaan ayat-ayat Alquran ia bacakan di hadapan ibunya setiap waktu, setiap kesempatan. Hanya ingin ibunya sembuh. Tapi, kali ini ia melihat ibunya sangat lelah. Apalagi dalam tempat sekelam itu yang sangat mencekam, memedihkan pastinya.
Lebih pedih waktu ia melihat ibunya dikurung sakit di dunia. Tak kuat menahan rasa iba, sekuatnya ia berlari meski dalam kesulitan langkah. “Malikat… Ibu. Ibuku.” Ia terus mendekati ibunya.
Malaikat menoleh. “Mengapa?” tanyanya.
“Saya ingin mengajak Ibu.” Ia sudah mendekat, tapi masih melangkah mengikutinya. Ke mana malaikat menggiring mereka.
“Kamu sendiri saja.”
“Tidak mungkin saya sendiri.”
“Lalu, kenapa?”
“Saya ingin bersama Ibu.”
“Tapi, ibumu bukan ke surga.”
Ia mengangguk. “Ya, Malikat, tapi saya ingin mengajak Ibu.”
Malaikat mempertemukan sang ibu bersama anak yang dilahirkannya. “Silakan ajak ibumu,” kata malaikat. Lalu ia meninggalkan keduanya. Sang anak segera membawa ibunya. Sembari menggandeng ibunya yang masih lelah, ia terus berjalan. Namun, suasana sudah lebih cerah. Tidak seperti sebelumnya. Dalam samar. Ia bahagia melihat raut ibunya berseri bahagia seperti suasana yang ia lalui. Ibunya pun terlihat nyaman.
“Ibu diajak mereka, Nak. Berjalan dalam langkah yang berat,” keluhnya.
“Ibu tidak bisa menolak ajakannya?”
“Sulit. Tidak pernah bisa.”
Ia terus melangkah akan menemui malaikat pertama, “Ibu akan bersama saya.”
“Ke mana, Nak?”
“Ke surga, Bu.”
Ia terkejut. “Ke surga?” seakan tak percaya perkataan Nagib.
“Ya, surga Ibu.”
“Surga kamu juga, Nak.” Ia semakin bahagia. Mereka terus melangkah.
“Cepat!” seru malaikat pertama yang mengizinkannya menemui ibu yang sedang digiring menuju kegelapan.
Lalu ia segera mendekatinya. “Lambatkan saja langkah kita, Nak.” Ibunya masih nampak lelah. Tapi, bahagia mendapati suasana yang cerah dan nyaman. “Tegarkan, Bu.”
Ia berusaha mengajak ibunya dalam raut bahagia. Tapi, panas tubuh membuatnya masih dalam diam yang sangat melelahkan. Menoleh ke ibunya di sebelah yang masih termenung. Lalu ia menyodorkan ibunya di hadapan malaikat begitu sampai. Malaikat menoleh ke ibunya. Lalu memandangi Nagib. “Ini ibumu?”
“Ya, Malikat. Ini ibu saya.”
Malaikat tak ingin bicara. Ia mengerti keinginannya segera ke surga bersama ibunya. Lalu menoleh ke jalan yang cerah itu, ke ujung jalan di muka tempat yang mulia. Bercahaya terang. Lalu pandangan Nagib mengikuti arah pandangan malaikat ke sebuah tempat yang sejuk itu. Pohon-pohon rindang dan menawan yang tak pernah ia lihat. Lalu malaikat menoleh kepadanya, “Silakan kau ajak ibumu.”

Cibitung, Juli 2017
Makanudinpernah belajar di pesantren al-Wardayani Warudoyong, Sukabumi.
Kini, selain menulis sehari-hari ia aktif mengajar di lingkungan Bekasi Kabupaten.
Ia bisa dihubungi di surel bangendin@yahoo.com