Daftar Blog Saya

Minggu, 27 Agustus 2017

Lima Kisah Mimpi Kanak-kanak

Cerpen Gus tf Sakai (Kompas, 27 Agustus 2017)
Lima Kisah Mimpi Kanak-kanak ilustrasi Nawasanga - Kompas.jpg
Lima Kisah Mimpi Kanak-kanak ilustrasi K Nawasanga/Kompas
Satu, tentang Mukjizat
Engkau tidak melihat mukjizat, tetapi mendengar atau membaca kisah mukjizat. Tetapi, Darwin, dalam mimpi kanak-kanaknya, melihat Darwin dewasa mengamati dua ekor burung yang berasal dari dua pulau berbeda. Darwin kecil tahu kedua burung itu tak sama seperti halnya Darwin dewasa tahu kedua durung itu tidak berbeda. 
“Orang yang tak percaya,” gumam Darwin dewasa, “tentulah akan berkata: Dua Pencipta telah bekerja.” Dan Darwin kecil, dengan perasaan kesal luar biasa, memberontak keluar dari mimpinya. Tetapi tak bisa. Tentu saja, karena kau tak menginginkannya. Karena mimpi kanak-kanak Darwin ada dalam mimpi kanak-kanakmu dan kau tak ingin Darwin terbangun untuk suatu hari sampai ke Galapagos.
Bersama Darwin kecil, engkau butuh perhitungan itu: berlari ke kedalaman laut, laut yang terbelah oleh tongkat Musa, Musa yang sama seperti yang dikisahkan Kitab; melompat ke kobaran api, api yang tak mampu membakar Ibrahim, Ibrahim yang sama seperti yang dikisahkan Kitab; menjelma jadi orang buta, orang buta yang disembuhkan Isa, Isa yang sama seperti yang dikisahkan Kitab.
Tetapi, belum sempat melakukan apa-apa, belum sempat melihat menyaksikan semua, di luar kuasamu engkau terbangun. Tak ada Darwin kecil. Tak ada Darwin dewasa. Yang ada hanya dirimu, diri yang tak lagi sama dengan dirimu yang tertidur satu jam lalu.
Dua, tentang Nyamuk
Orang-orang menyebutnya Aleksander, tetapi kau lebih suka menyebutnya dengan nama yang kau kenal saat ia masuk ke mimpi kanak-kanakmu: Al-Iskandar. Apa yang tidak luar biasa dari Al-Iskandar?
Saat orangtuanya menikah, ibunya bermimpi rahimnya disambar petir dan cahaya lalu memancar menyembur-nyembur menerangi alam raya. Beberapa malam kemudian, ayahnya juga bermimpi bagai menimpali mimpi si ibu. Dalam mimpi itu, si ayah melihat dirinya menyegel rahim sang istri dengan segel berukir singa.
Apa yang tidak luar biasa dari Al-Iskandar? Saat dewasa kelak, ia menyebut dirinya keturunan dewa. Dari pihak ayah ia mengklaim diri keturunan Herakles dan dari pihak ibu ia mengklaim diri keturunan Akhilles. Dalam mimpi kanak-kanak itu, kau melihat bagaimana Al-Iskandar beranjak: belajar bertarung seraya bermain lira, belajar berburu seraya membaca.
Kau lihat juga, ia menundukkan Si Kepala Lembu, kuda yang tak siapa pun bisa menunggangi, pada usia 10 tahun. Pada usia 13, karena tak siapa pun bisa menghadang deras tanya di kepalanya, si ayah mendatangkan seorang filsuf sebagai guru. Filsuf, yang kau kenal sebagai penemu 10 jenis kata, itu dibayar ayahnya dengan membangun kembali kampung si filsuf yang pernah dihancurkan oleh si ayah.
Dari si filsuf, Al-Iskandar menemukan apa yang ia suka: sebuah buku karya seorang penyair buta. Dari si buku, ia tahu apa yang paling ia nikmati: geletar perang yang merayap, menjalar, merambat naik dari telapak kaki ke ubun-ubun. Apa yang tidak luar biasa dari Al-Iskandar?
Dalam mimpi kanak-kanakmu, kau melihat peristiwa itu, saat pertama, pada usia 16, si ayah berangkat perang dan Al-Iskandar menjaga takhta. Pemberontak dari Trakia dan Al-Iskandar menumpasnya. Dan mulailah, dengan mengantongi buku si penyair buta, orang yang kemudian menyebut dirinya keturunan dewa itu merambah, menghamun, menakluk menundukkan dunia.
Apa yang tidak luar biasa dari Al-Iskandar? Ia mendaulat dirinya “Raja Babilonia, Asia, dan Empat Sudut Dunia”. Pada usia 32, di Babilonia juga, ketika kau kemudian terbangun dari mimpi kanak-kanakmu, kaudapati keturunan dewa itu mati, digigit nyamuk.
Tiga, tentang Ladang Buncis
Suatu pagi, ketika kau menyeduh secangkir kopi duduk di beranda melayangkan pandang ke seberang jalan, kau melihat pohon jambu yang sebelumnya tak pernah ada, tak pernah tumbuh di antara dua pohon kelapa itu.
Berkeras kau membuka, membolak-balik lembar ingatan, tetapi satu-satunya pohon jambu yang kau temu hanyalah pohon jambu di mimpi kanak-kanak itu: kau memanjatnya, sampai ke ujung dahan, terpeleset jatuh, tubuhmu melayang, tetapi tak pernah mencapai tanah.
Dalam melayang yang lama, dalam melayang yang jauh, kau malah tertidur dan bagai bermimpi lalu terbangun dalam sesosok tubuh renta pada sebuah “ruang” 15 miliar tahun lalu. Kau segera berpikir itu mustahil. Bukan karena kau menjelma jadi seorang yang tua, seorang yang renta, melainkan karena kau tahu 15 miliar itu adalah nonsens: belum ada semesta belum ada jagat raya belum ada Big Bang si Dentuman Besar.
Tetapi, di “ruang” itulah, dalam mimpi itulah, kau bertemu ia: orang yang mendirikan sekte di Krotona, orang yang menjadikan matematika sebagai agama. Katanya, “Waktu bukan angka. Dan ruang tak selalu bidang.” Lalu, di selembar kertas, ia coretkan garis-garis, lengkung-lengkung, dengan angka di ujung-ujung, yang satu sama lain tak terhubung.
Lembaran itu ia gulung sedemikian rupa sehingga garis-garis dan lengkung-lengkung menjelma jadi sebuah bidang dengan angka-angka yang jauh melampaui angka semula. Katanya, “Gulungan inilah yang kuperagakan ke Zarathustra, yang membuat kami berselisih ihwal Sang Terang.”
Kau ingat, pertemuan dengan nabi dari Persia itulah yang membuat orang ini melahirkan Nisbah Emas, yang menyatakan kebenaran ada pada angka dan, seperti halnya kebenaran, jiwa tak pernah mati—melainkan selalu berpindah dari satu tubuh ke lain tubuh.
Kau juga ingat bagaimana orang dalam mimpi kanak-kanakmu ini, orang yang menjadikan matematika sebagai agama itu, karena tak ingin kelak jiwanya pindah ke tubuh kambing atau sapi, senantiasa sangat menjaga makanan.
Kau juga ingat bagaimana ia berpantang, tak mau makan buncis karena percaya dalam biji buncis bersemayam janin makhluk hidup. Kepercayaan yang serta-merta dianut oleh para pengikut sekte dan, sampai dewasa kelak, sampai kau duduk di beranda menyeduh secangkir kopi itu, tak pernah bisa engkau pahami.
Begitulah sampai suatu hari, suatu pagi, di beranda itu juga ketika kau menyeduh kopi juga saat tubuhmu telah renta, kau seperti mendengar ledakan besar, sangat besar—bagai dentum semesta.
Sesudahnya, setelah semua hening, setelah semua sunyi, di seberang jalan itu, dari titik di mana sebelumnya tegak pohon jambu sampai jauh ke titik yang nyaris tak terjangkau pandang, kau lihat: hanya ladang buncis, ladang buncis semata, dengan sosok-sosok kecil bersayap seperti berebut beterbangan naik dari rerumbul ladang.
Pada satu titik, sosok-sosok itu menyatu, menggumpal, perlahan lalu berpendar, bersinar, menjelma: bulatan cahaya di angkasa.
Empat, tentang Sulung
Apa yang sering menjadi ciri mimpi kanak-kanakmu saat kau memikirkan dan merasa aneh bertahun-tahun kemudian, adalah tempat-tempat yang jauh dan tak terjangkau oleh perjalanan.
Orang-orang yang kau temu juga bukan orang-orang yang kau kenal di masa kini, melainkan orang-orang dari masa lalu yang bahkan nama mereka pun adalah nama-nama kecil yang tak pernah kau dengar atau ketika itu belum kau tahu.
Begitu pulalah, di bukit asing itu, kau bertemu Zong Ni, yang dalam bahasa setempat berarti putra kedua dari Bukit Ni. Sebuah pertemuan singkat. Dalam mimpi yang juga singkat.
Kau diberi dua kata, atau tepatnya sepasang kata yang, karena mimpi itu begitu singkatnya, kau hanya bisa membaca: jen-li, tanpa sempat bertanya apa artinya. Dan sayangnya pula, begitu kau terbangun, kau tidak terbangun ke dunia nyata, melainkan ke dalam mimpi kanak-kanak lain.
Dan memang, demikian pulalah yang sering terjadi. Mimpi kanak-kanakmu adalah mimpi dalam mimpi. Bahkan pernah mimpi dalam mimpi dalam mimpi. Kata jen dan li itu pun lalu hilang. Sampai lama. Sampai bisa dipastikan kau telah lupa andai saja kata-kata itu, suatu hari, tak kembali muncul dalam mimpi kanak-kanakmu yang lain.
Tetapi, itu sungguh mimpi yang aneh. Engkau menyebutnya “mimpi salah tempat”. Tempat asing juga. Tempat jauh juga. Tetapi, itu adalah tempat dewa-dewi. Tempat yang setiap kelahiran diiringi angsa-angsa bernyanyi atau, bila tidak, ditandai dengan kilatan petir yang menyambar dari angkasa ke bumi.
Dan sepasang kata itu, jen-li itu, meluncur keluar dari mulut Isis, dewi “Ibu atas Segala Sesuatu”, “Dewi Penyembuh” untuk hidup yang kekal; ibu semua unsur, yang sulung dari segala dunia.
Lima, tentang Sang Laknat
Di antara semua mimpi kanak-kanakmu, mimpi kanak-kanak inilah yang paling membuatmu heran: bagaimana bisa orang yang terlahir dalam jarak waktu sekitar seribu tahun, dan tak kenal satu sama lain, bertemu dalam mimpimu tepat ketika mereka memikirkan hal yang sama? Bagaimana bisa dua orang dengan latar berbeda, dan mengenal dunia dengan jalan hidup yang bertolak belakang, mengurangi dan menambahi pendapat yang seorang untuk menambah dan mengurangi pendapat seorang lain?
Dan itulah mimpi kanak-kanakmu paling nyata, paling jelas, yang bahkan bisa kau ingat sampai ke percakapan mereka paling rinci.
Tentang kereta perang yang ditarik oleh dua ekor kuda hitam dan putih, misalnya, begini kata yang seorang, “Berbeda dari si kuda putih yang bisa kau perintah hanya dengan kata-kata, Umar, si kuda hitam, harus selalu kau cambuk.” Orang yang dipanggil Umar, tanpa perlu bertanya tentang apa yang beda, enteng menimpal, “Bertahun-tahun kereta itu kubawa, bukan hanya ke Yarmuk atau Qadisya, kuda yang satu tak bisa dikendalikan tanpa kuda lainnya.”
Tentang demokrasi yang harus diganti dengan aristokrasi sejumlah orang kelas wali, misalnya, si seseorang tadi berkata, “Kau lihat guruku, Umar. Ia mati oleh sang laknat, Suara Terbanyak, yang bisa dibeli dan dikuasai oleh sang khianat, para penjahat.”
Umar, orang yang di luar mimpi kanak-kanakmu kau kenal dengan nama Al-Faruq, ringan berujar, “Saat kelak kematian datang, aku menunjuk Para Sahabat, yang memilih seorang di antara mereka sebagai khalifah.”
Tentang dunia indrawi, dunia yang hanyalah bayangan dibanding dunia ide yang abadi, si seseorang itu (kau tahu kini, ia pembenci demokrasi) berkata, “Kesederhanaan adalah ciri keindahan. Karya seni yang hanya menyalin meniru dari alam, ialah sang laknat juga, tak lebih cuma tipuan.”
Umar, sang Al-Faruq, nama yang berarti orang yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, pelan mengangguk, “Ya, bayangan.” Dan sang Al-Faruq itu, dengan pelan juga, menggumamkan sejumlah tanya. Tanya yang, seluruhnya, sangat kau ingat, berkaitan dengan bayangan.
Tanya yang, tentu saja, tak dimaksudkan untuk mendapat jawaban. Salah satu tanya itu, misalnya, “Pernahkah kau melihat rakyatku, karena miskinnya, karena sangat laparnya, mereka lalu merebus batu?”

Gus tf Sakai lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 13 Agustus 1965. Menulis cerita pendek sejak tahun 1979 dan sampai sekarang telah menerbitkan lima kumpulan cerpen: Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), Laba-laba (2003), Perantau (2007), dan Kaki yang Terhormat (2012).

Dua Wanita dalam Lukisan Tua

Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 26-27 Agustus 2017)
Dua Wanita dalam Lukisan Tua ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Dua Wanita dalam Lukisan Tua ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
UNTUK seseorang yang sudah memasuki usia sepuh, Nyonya Tineke tergolong masih kuat. Ia memang sudah tak sanggup berjalan jauh dengan tubuhnya yang ringkih itu. Langkah kakinya pasti lambat bagai siput purba. Tapi dari keseluruhan dirinya masih terpancar tenaga kehidupan. Ingatannya masih sangat baik dan caranya berbicara menunjukkan ketegasan. Meskipun kecil, suaranya terdengar jelas seperti kicau burung di tengah kesunyian malam. Ketika Sirin menemuinya, wanita tua itu mengenakan kebaya dan kain batik. Perpaduan busana tersebut terlihat ganjil di tubuh wanita tua dengan kulit kemerahan dan rambut pirang sebagaimana orang Eropa pada umumnya.
Sirin menemui Nyonya Tineke atas permintaan ayahnya. Di ranjang kematiannya, ayah Sirin meminta Sirin mengabarkan kematiannya kepada Nyonya Tineke. Itu saja. Tak ada wasiat pemakaman, tak ada pula permintaan maaf. Tapi dari mata ayahnya yang sekarat itu Sirin seperti melihat sebuah kotak rahasia yang kuncinya dipegang oleh Nyonya Tineke.
Sirin tidak cocok dengan ayahnya. Meskipun ia anak bungsu, tidak ada keistimewaan untuknya sebagaimana yang konon dialami setiap anak bungsu. Bagi Sirin, ayahnya terlalu banyak mengumbar alasan untuk keadaan hidup mereka. Ibu Sirin meninggal dunia lantaran tak mendapat pertolongan yang tepat ketika melahirkan Sirin. Cerita itu didengar Sirin dari orang-orang. Setelah lulus SMA, Sirin memutuskan pergi dari rumah. Dengan bekal tabungan hasil mengerjakan ini-itu, ia menuju pulau seberang. Di pulau yang terkenal dengan keajaiban alamnya itu, Sirin merintis kariernya sebagai pelukis. Di samping itu, seperti sudah menjadi kebiasaannya untuk mengerjakan apa saja tanpa pilih-pilih, ia menjadi guide lepas, penjual aksesori, dan bahkan tukang cat. Tapi pelan-pelan ia mulai bisa hidup dengan hasil lukisannya. Namanya memang tidak pernah dibicarakan dalam diskusi maupun tulisan seni rupa di majalah-majalah. Tapi setidaknya ada saja yang meminati lukisannya.
“Jadi ayahmu sudah meninggal?” tanya Nyonya Tineke. “Benar, Nyonya. Seminggu yang lalu.” Sirin teringat, sehari sebelum ia menemui ayahnya, suatu perasaan ganjil menerpanya. Dari jendela kamar yang ia sewa bersama kawan-kawannya Sirin melihat permukaan laut berwarna putih. Ombak yang bergulung pelan membuat laut terlihat seperti kain yang ditiup angin. Sirin mengira dirinya sedang bermimpi. Sensasinya memang seperti itu. Tapi apa yang dilihatnya adalah kenyataan, meski hanya sesaat. Sebab, setelah seorang kawan memanggilnya dan ia memalingkan pandangan dari laut, hamparan air itu sudah kembali seperti biasa. Pada saat itu juga ia teringat akan ayahnya, dan tanpa pikir panjang, Sirin segera berkemas pulang. Sudah lama memang ia mendapat kabar bahwa ayahnya jatuh sakit, tapi ia selalu enggan pulang.
Seorang bujang keluar menyuguhkan teh untuk Sirin dan segelas air putih untuk Nyonya Tineke. “Anak yang malang,” kata Nyonya Tineke. Matanya menerawang sesaat, lalu ekor mata itu mengikuti gerak bujang yang kembali masuk rumah. Bujang itu punya bentuk tubuh yang ganjil. Kepalanya terlalu kecil untuk tubuhnya yang besar. Wajahnya seperti adonan kue yang gagal. Rambutnya nyaris seperti tumpahan cat di kepalanya yang kecil itu. Ia senyum-senyum kepada Sirin seperti anak kecil yang malu-malu. Sirin tidak tahu apakah “anak yang malang” itu adalah dirinya atau bujang tadi.
“Suamiku mencampakkan ibunya ketika ia tahu aku mengetahui hubungan gelap mereka. Apakah ayahmu pernah bercerita tentang ibunya? Ehem, maksudku, nenekmu?” tanya Nyonya Tineke lagi. Sekarang Sirin paham, “anak yang malang” itu adalah ayahnya. “Tidak, Nyonya. Ayah tidak pernah bercerita. Saya tidak dekat dengannya,” jawab Sirin.
“Sofia tinggal bersama suamiku di rumah ini sampai menjelang kedatanganku. Sebagai istri sah, tentu aku marah saat mengetahui hubungan mereka. Apalagi Sofia sampai mengandung benihnya. Setibaku di sini, rupanya suamiku sudah mencampakkan Sofia. Tapi karena aku penasaran seperti apa perempuan yang telah memikat suamiku, diam-diam aku mencari Sofia.” Nyonya Tineke terbatuk di titik itu, tangannya yang keriput meraih gelas dan meneguk air putih sedikit. Gerakannya tenang dan terukur, bahkan dosis air yang diminumnya seakan telah diperhitungkan benar. “Oh, rupanya nenekku bernama Sofia, mungkin nama aslinya Sopiah,” batin Sirin.
“Aku menemui Sofia di sebuah rumah kecil di kampung pandai besi, ia tinggal bersama seorang perempuan yang aku tidak tahu namanya. Aku tidak mengerti kenapa, saat melihatnya, semua kemarahanku langsung luntur.” Ketika mengatakan itu, tangan Nyonya Tineke disapukan ke sekujur tubuhnya seakan-akan tangan itu adalah aliran air yang membersihkan sebuah benda. “Ada keteduhan pada paras Sofia. Caranya menatapku begitu tenang dan dalam. Matanya menyimpan pancaran yang lembut. Aku merasakan kasih sayang yang murni di dalamnya.” Nyonya Tineke terdiam sejenak, seolah menimbang bagian mana dari ingatannya yang mesti diceritakan. “Sofia tidak tampak ketakutan menemuiku,” dia melanjutkan. “Ia sepenuhnya sadar apa yang telah dilakukannya dan siap menghadapi apa saja karenanya. Ia perempuan istimewa.” Sirin merasakan nada kagum pada kata-kata Nyonya Tineke. “Setelah pertemuan pertama itu, aku selalu berhasrat untuk menemuinya lagi. Sofia adalah kawan berbincang yang hangat. Tutur katanya selalu menyenangkan. Untuk memudahkan pertemuan dengannya, aku putuskan untuk mengajak dia kembali ke rumah ini. Tinggal bersamaku dan suamiku. Rasanya memang aneh, tapi simpatiku padanya membuat aku berpikir itu tindakan yang wajar. Lagi pula, aku dan suamiku tak punya anak. Jadi kami bisa ikut merawat anaknya, toh, ehm, anak itu juga adalah anak suamiku.” Nyonya Tineke memijit-mijit lututnya, sementara Sirin membayangkan neneknya tinggal di rumah ini.
Sepertinya rumah ini tidak mengalami perubahan berarti sejak dibangun pada masa kolonial. Jangankan bentuknya, udara yang mengitari rumah ini juga terasa tua. Ketika memasukinya, Sirin merasa melewati pintu waktu dan berhenti di abad ke-19. Pada masa itu, para pengelola perkebunan datang dari Belanda. Sebagian besar dari mereka mengambil gadis-gadis pribumi sebagai pengurus rumah sekaligus teman hidup selama bertugas di sini. Biasanya gadis-gadis itu akan dicampakkan apabila istri-istri sah para pengelola kebun datang. Bahkan apabila mereka telah melahirkan anak dari para pengelola kebun itu.
Waktu Sirin masih kecil, keluarganya tinggal tak jauh dari sini. Karena itu, ketika tadi menyusuri jalan menuju rumah Nyonya Tineke, Sirin merasakan suasana nostalgia yang sendu. Di ujung jalan itu terhampar pantai di mana dulu berdiri pelabuhan. Di sepanjang sisi jalan banyak rumah dan gudang-gudang tua yang sudah tak dipakai. Ketika pelabuhan tersebut masih beroperasi, jalan ini selalu ramai. Banyak penginapan, toko, gudang, juga tempat hiburan. Pelabuhan ditutup beberapa tahun sebelum Sirin lahir. Setelah itu, kawasan tersebut berangsur-angsur ditinggalkan. Oleh perasaan nostalgis itu, satu per satu serpihan ingatan muncul dalam kepala Sirin, seperti benda-benda elektronik yang kembali mendapat aliran listrik. Sirin merasa dirinya menyusut menjadi bocah perempuan 7 tahun yang berpenampilan tomboi dan lebih suka bermain dengan teman laki-lakinya. Karena itu, ketika melihat Nyonya Tineke duduk di beranda rumahnya, Sirin tidak merasa sungkan. Dulu ia sering melihat wanita tua itu berjalan-jalan di sekitar pantai. Kadang-kadang wanita tua itu menyapanya sembari memberi gula-gula.
“Tapi Sofia menolak tawaranku, dan keputusan itu dipertahankan kuat-kuat.” Nyonya Tineke melanjutkan ceritanya. “Awalnya aku sedikit kecewa. Lama-lama aku tahu bahwa keputusan itu lebih bijaksana daripada yang bisa kupikirkan. Rumah tanggaku sebenarnya sudah terasa dingin dan hampa pada saat itu. Sementara Sofia sejak mula telah mengalirkan kehangatan kasih sayangnya padaku. Ia bisa menerimaku. Terus terang, hanya di depannya aku merasa benar-benar bebas. Rasa sayangku padanya kian besar, karenanya aku terus mengunjunginya.”
Sirin memang tidak pernah mendengar cerita tentang nenek atau kakeknya, tapi cerita yang disampaikan Nyonya Tineke sejauh ini sama sekali tidak istimewa. Tidak ada kunci rahasia seperti yang dibayangkannya. Pendek kata, Nyonya Tineke dan neneknya menjalin persahabatan yang erat. Mungkin seperti Kartini dan Stella. “Tapi tentu saja nenekku bukan pejuang emansipasi,” pikir Sirin. Setelah ayah Sirin lahir, Tineke dan Sofia terus menjalin hubungan. Bagi Sirin, wajar saja dua orang perempuan menjalin persahabatan meskipun berbeda bangsa dan kelas sosial. Tapi Sirin berpikir juga, memang ada terasa konflik dalam persahabatan itu. Bagaimanapun juga, keduanya pernah tidur dengan lelaki yang sama. Seandainya peristiwa itu terjadi sekarang, mungkin takkan mengurangi bobot konflik itu.
“Sampai Sofia meninggal, tak lama setelah ayahmu lahir,” ucap Nyonya Tineke, seolah memotong pikiran Sirin. Nyonya Tineke kembali meraih air dalam gelas dan mereguknya sedikit. Sirin, seakan baru ingat, turut menyeruput tehnya. Rasa teh itu pun menyusupkan suasana nostalgia. Sepertinya teh itu merek lama yang masih diproduksi, tapi tak begitu laku. Tiba-tiba seperti teringat akan sesuatu, Nyonya Tineke menghentikan tegukannya, “Oh iya, Sofia itu punya bakat melukis.” Paras Nyonya Tineke terlihat cerah ketika mengucapkan kalimat itu. “Benarkah, Nyonya?” kata Sirin, seperti baru mendapat jawaban atas pertanyaan yang lama disimpan. Meskipun tak terlalu peduli, kadang-kadang Sirin bertanya-tanya, dari mana dirinya mendapat bakat melukis. “Iya, di hari-hari terakhirnya ia bahkan melukis sosok kami berdua,” kata Nyonya Tineke. “Apa nenekku meninggal karena sakit?” tanya Sirin. Nyonya Tineke tak segera menjawab. Dari bibirnya yang keriput seperti keluar bunyi denging. “Dia terserang penyakit secara tiba-tiba. Tapi aku menduga seseorang telah meracunnya, dan aku curiga suamiku ada di balik semuanya. Mungkin suamiku tahu hubungan kami. Namun persoalan itu tidak pernah aku tanyakan padanya. Aku benar-benar kehilangan Sofia. Rasanya seperti kehilangan kebebasan. Ayahmu diambil oleh keluarga jauh nenekmu, lalu dibawa ke Kalimantan. Setelah dewasa, ayahmu kembali ke kota ini, menikah, dan tinggal di dekat sini.” Cerita selanjutnya bisa direka-reka Sirin. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, beberapa tahun kemudian keluarga mereka pindah ke timur pulau.
Sirin mencoba menggali hal-hal lain dari cerita Nyonya Tineke, tapi ia tak bisa menemukannya. Sepertinya cerita memang sampai di situ saja.
“Terima kasih sudah memberi kabar tentang ayahmu,” ucap Nyonya Tineke. “Aku tak punya apa-apa untuk membantu kalian, mohon maafkan.” Kalimat itu terdengar lirih dan sedih. Sirin segera menimpali, “Ah, Nyonya. Jangan berkata seperti itu. Saya cuma datang untuk menyampaikan pesan terakhir ayah saya. Kalaupun Nyonya memberi bantuan, saya akan menolaknya.” Nyonya Tineke tersenyum kecil mendengar kata-kata Sirin. Mungkin ia teringat akan penolakan Sofia di masa lalu. “Tapi ada yang mau saya berikan,” ucap Nyonya Tineke. “Mungkin tak terlalu berharga buatmu, tapi buatku, itu senilai separuh hidupku.” Lalu Nyonya Tineke bangkit dari kursi dan masuk ke rumah. Di pintu ia sedikit terkejut karena si bujang berdiri di balik pintu itu. Nyonya Tineke menggerutu dalam bahasa asing, lalu terus masuk. Bujang itu tampak malu, tapi masih sempat melirik Sirin.
Ketika kembali ke beranda, di tangan Nyonya Tineke tampak gulungan kanvas kira-kira berukuran seperempat meter. Nyonya Tineke memberi gulungan itu kepada Sirin. “Ini lukisan Sofia,” katanya. Seperti memegang benda purba yang rapuh namun berharga, dengan hati-hati Sirin membuka gulungan itu. Di atas kanvas terdapat lukisan tua yang hampir pudar warnanya. Lukisan itu sepertinya belum jadi. Figur dua orang wanita berpelukan erat. Pelukan yang biasa-biasa saja, tapi terasa sesuatu yang erotis memancar dari sana.
“Aku mencintai Sofia…,” ucap Nyonya Tineke. Suaranya seperti meresap ke serat-serat kanvas, seolah Nyonya Tineke sedang memberikan seluruh tenaga kehidupan yang tersisa dari dirinya ke dalam lukisan itu.

Bakarti, 2017
Kiki Sulistyo menulis puisi dan cerpen. Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Di Ampenan, Apalagi yang Kaucari? (2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Kutipan Ruang Hati

Apa masih ada orang yang rela berbagi tempat dengan orang lain yang sudah berdiri kokoh duluan di hati seseorang? (hlm. 364)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Karena kesempatan itu dibuatm bukan ditunggu. (hlm. 40)
  2. Tidak ada kehidupan yang sempurna tampaknya. Yang ada hanya rasa syukur yang dipanjatkan dengan apa yang sudah cukup dimiliki. (hlm. 71)
  3. Bisakah dua orang yang terluka saling mengobati? Bukankah justru perlahan saling menorehkan luka yang lain lagi? (hlm. 114)
  4. Jangan malu punya selera yang nggak biasa. (hlm. 131)
  5. Bukan seberapa jauhnya pergi, tapi seberapa banyak nemuin hal yang baru. (hlm. 191)
  6. Kalo lo rasa dia yang terbaik, perjuangin. Kalo nggak, ya relain aja. (hlm. 204)
  7. Kadang orang punya tujuan hidup kemana tapi nggak tahu apa yang sebenarnya dicari. (hlm. 239)
  8. Katanya harus punya hati seluas langit, nggak berbatas. (hlm. 241)
  9. Nggak semua cinta harus dimiliki. Kadang yang lo kira matahari, tahunya cuma pelangi. (hlm. 260)
  10. Hargai orang yang memberikan hatinya untukmu dengan tulus meski hanya separuh. Karena tidak setiap hari kamu mendapatkannya. (hlm. 313)
  11. Tidak ada yang mengerti. Kadang cinta berwujud ciuman atau pelukan. Kadang cinta hanya berwujud dalam sebuah doa. Dan tak banyak yang menyadarinya. (hlm. 314)
  12. Hidup terlalu indah untuk kamu lewati. (hlm. 389)
  13. Jangan paksakan sesuatu yang nggak bisa kamu sanggupi. (hlm. 395)
  14. Kadang sebagai sahabat, kita perlu member sahabat kita privasi untuk dirinya sendiri. (hlm. 435)
  15. Kebahagiaan itu kita sendiri yang cari, tidak bergantung pada orang lain. (hlm. 438)
Banyak juga selipan sindiran halusnya dalam buku ini:
  1. Liburan kek lo, masa kerja mulu. Pacar nggak punya juga! (hlm. 1)
  2. Suka mah suka aja. Nggak usah mikirin alisnya kayak gimana. (hlm. 4)
  3. Apa bedanya pergantian tahun? Segala perubahan toh tidak langsung terjadi. (hlm. 11)
  4. Emangnya kalau gua ganteng, kenapa gitu? Dijadiin pajangan? (hlm. 16)
  5. Cari cewek mah jangan di kondangan. Mereka bawaannya gatel langsung pengen berdiri di pelaminan juga. (hlm. 20)
  6. Kan lo cewek, biasanya cewek jago kepo. Kata meme 9gag kan keponya cewek ngalah-ngalahin FBI. (hlm. 28)
  7. Kalo orang cantik mah, mau kayak apa juga tetap aja cantik. (hlm. 46)
  8. Hidup itu nggak sempurna, bahwa kenikmatan itu kadang juga merupakan cobaan tersendiri buat orang lain. (hlm. 68)
  9. Orang emang suka gitu kadang. Menganggap apa yang mayoritas sukai lebih benar daripada minoritas. (hlm. 76)
  10. Cara terburuk kehilangan seseorang adalah ketika mereka pergi secara mendadak. Kalau secara mendadak, kadang rasanya mendadak hampa, hilang, kosong, lalu baru terasa sakitnya beberapa minggu kemudian. (hlm. 87)
  11. Itu bikin alis apa mau UAN sih? Repot banget pake penggaris bullet sama pensil 2B? (hlm. 122)
  12. Hebatnya perempuan di karier atau bakat itu nggak ada artinya kalo nggak bisa urus rumah. (hlm. 140)
  13. Kenapa penyesalan itu selalu menyisakan sesuatu yang kayaknya besar banget, mengganjal di dalam rongga dada, ya? (hlm. 142)
  14. Mau sampai kapan menunggu orang yang kita suka, suka balik sama kita kalau dia sendiri nggak tahu ketertarikan kita sama dia? (hlm. 149)
  15. Kalau lagi jatuh cinta, tai kucing juga rasa cokelat! (hlm. 161)
  16. Sometimes the best time to find love is when we’re in the hopeless place, at the hopeless time. (hlm. 259)
  17. First world problem banget kayaknya cewek suka sama siapa, tapi nggak kelihatan. Kita sebagai cowok mana tahu. (hlm. 261)
  18. Ini cinta apa perang? Pake diperjuangin segala! (hlm. 329)
  19. ..sensi. Kayak cewek mau dapet. (hlm. 356)
  20. Cinta dalam dia begitu menyakitkan. Semakin diredam, semakin besar rasanya. (hlm. 362)
  21. Kenapa sih kategori sial untuk perempuan itu cuma sampai jauh dari jodoh? (hlm. 399)
  22. Kalau kenangan yang membandel, ngatasinnya pake apa? (hlm. 441)

Sabtu, 26 Agustus 2017

Kematian Orang yang Dihormati pada Hari Kemerdekaan

Cerpen Musa Ismail (Suara Merdeka, 20 Agustus 2017)
Kematian Orang yang Dihormati pada Hari Kemerdekaan ilustrasi Suara Merdeka
Kematian Orang yang Dihormati pada Hari Kemerdekaan ilustrasi Suara Merdeka
Ini hari kemerdekaan. Bentangan padi di sawah bagai permadani. Orang-orang mulai menyesaki rumah tua di tepi sawah. Para lelaki ada yang berbaju kurung teluk belanga dan cekak musang. Para perempuan ada yang berkebaya labuh. Selebihnya, mereka berpakaian koko, gamis, dan berpakaian sehari-hari.
Ruang di rumah tua itu sudah makin senak. Orang-orang kini memenuhi halaman. Halaman rumah pun makin sesak. Kursi yang tersedia di bawah tenda sudah ditempati semua. Orang-orang yang tiba belakangan harus berdiri dengan ikhlas. Bahkan tidak sedikit pula di antara mereka harus berjongkok seperti hendak buang hajat. Mereka tidak merasa terpaksa. Terbukti, wajah mereka merekah senyuman sambil berbual kecil masalah sehari-hari yang dihadapi.
Hawa panas hari ini tidak begitu terasa. Angin terus saja berembus ringan sambil menyapa batang padi yang menguning. Pada hari ini, hari kematian, para pelayat masih berdatangan. Mereka tak menyangka Abdullah meninggal dunia. Namun, begitulah aturannya, kematian akan datang juga akhirnya. Kematian merupakan kepastian tiba-tiba datang begitu saja. Kematian pun bisa terjadi karena ketololan, begitu kata orang. Semua sudah suratan takdir Allah Taala. Hanya orang-orang tertentu tak mau mengubah berupaya dan berdoa agar khusnul khasiat. Berbeda dari Abdullah yang dijemput malaikat maut dengan sopan. Abdullah meninggal sesaat setelah salat subuh dan mengaji.
“Dia pergi dengan khusnul khatimah,” cerita ibundanya yang masih berlinangan air mata di ruang tamu.
“Dia pergi tanpa tanda-tanda dan tanpa sakit,” imbuhnya terisak.
“Sabar ya, Bu. Semoga beliau mendapat tempat terbaik,” pesan Ustaz Darwis yang diamini ramai-ramai oleh pelayat. “Begitulah kematian. Ia datang seperti badai yang siap menenggelamkan perahu. Kita adalah orang-orang yang bernapas di dalam perahu itu. Setiap saat, kesiapan kita diajuk oleh kematian,” lanjut Ustaz Darwis.
Suasana hening hari ini begitu mengharukan. Di lapangan kosong di pinggir jalan, tepat di depan surau tak jauh dari rumah tua itu, belum ada keramaian. Beberapa pohon pinang sudah terpacak di beberapa sisi. Hadiah-hadiah pun sudah terpasang di puncak. Pohon pinang yang sudah dilumuri minyak gemuk itu seperti mengejek orang-orang di sekitarnya. Selain batang pinang yang sudah dihiasi beragam hadiah, ada juga kerupuk kemplang yang bergelantungan di rentangan temali. Hiasan umbul-umbul dan bendera kecil merah-putih memenuhi sisi-sisi lapangan. Namun anak-anak pun tak mau menunggu di lapangan peringatan Hari Kemerdekaan.
“Kami semua harus menghormati beliau. Keramaian Hari Kemerdekaan terpaksa kami tunda,” tegas Ketua RT, Rustam.
Pada Hari Kemerdekaan ini, warga kampung seperti berhenti bernapas. Semua bagai menyadari makna kematian. Mereka seakan memahami makna, kemerdekaan sesungguhnya diproklamasikan dengan kematian. Berjuta nyawa melayang. Berlaksa jiwa dan raga tersadai karena semangat kemerdekaan. Semangat kemerdekaan yang meresap itulah yang mampu menutupi ketakutan akan kematian. Ada harapan terbentang luas setelah kematian. Kematian Abdullah pada Hari Kemerdekaan ini merupakan wujud dari bentangan harapan. Abdullah telah memetik harapan selama-lamanya.
Pemakaman Abdullah sudah dilaksanakan. Amal ibadahnya telah mengundang para pelayat datang berduyun-duyun. Kuburannya sederhana saja, tanpa tembok keramik. “Kalau aku mati, kuburkan secara sederhana saja,” begitu pesannya sebulan sebelum meninggal. Karena itulah, pihak keluarga hanya memberi nisan sebagai tanda. Tanda kematian Abdullah yang sebenarnya sudah tertanam di hati warga kampung ini. Kini, Abdullah cuma tinggal amal saleh, ilmu bermanfaat, dan doa anak yang saleh.
Ibunda Abdullah berkisar, ia memiliki lima anak. Abdullah anak pertama. Anak kedua Usman, bertugas sebagai dokter di Ibu Kota. Adinda anak ketiga, berprofesi sebagai pengusaha di Singapura. Yang bekerja sebagai pegawai negeri Rohani, anak keempat. Dia bertugas sebagai pejabat di provinsi. Yahya anak kelima, bekerja di perusahaan minyak negara.
Abdullah tidak bernasib seperti adik-adiknya. Hidup Abdullah penuh air mata. Selain perjuangan fisik, dia pun kaya perjuangan batin. Karena itu, jiwanya menjadi karang.
“Tentu Ibu sangat bahagia atas keberhasilan keempat anak Ibu daripada Abdullah,” kata Ustaz.
“Mereka semua membanggakan kami. Sangat membanggakan. Terlebih lagi almarhum,” ibundanya meyakinkan hadirin.
Di luar, barisan padi terpaku bagai sedang tafakur. Barisan padi beberapa hektare itu laksana sedang hanyut dirundung kesedihan.
Meskipun mayat sudah diurus sesuai dengan syariat, pelayat terus saja bertakziah ke rumah duka. Begitulah kebiasaan warga kampung dalam menghibur keluarga yang sedang berduka.
***
Ibunda mereka, Ramlah, kini memasuki usia kepala enam. Suaminya meninggal dunia ketika Abdullah duduk di bangku SMA. Adik-adik Abdullah ketika itu masih SMP dan SD. Orang tua itu masih ingat ketika suaminya, Yusuf, bertungkus lumus memenuhi nafkah kehidupan sehari-hari. Tekanan hidup ketika itu cukup besar. Apalagi sejak suaminya tiada. Air mata Ramlah nyaris tumpah setiap hari ketika menyaksikan buah hatinya sedang makan atau saat tidur. Tangannya membelai lembut rambut anak-anaknya yang sedang beranjak dewasa dan remaja itu. Kebiasaan itu dia lakukan saban malam.
“Jadilah manusia hebat dan bermanfaat bagi orang lain,” begitu pesan Ramlah tiap malam. Ketika itulah butiran embun bening meleleh dari matanya yang lelah karena menahan pedih.
Malam terus berlari, bermain, dan menjadi bayang-bayang kehidupan. Malam itu Ramlah menangis sejadi-jadinya. Tangisan perempuan itu tertahan tanpa suara. Dia takut kesedihannya diketahui adik-adik Abdullah. Abdullah itulah yang menyebabkan air matanya tumpah.
“Biarlah aku berhenti sekolah, Mak. Aku ingin membantu Emak menghidupi keluarga kita. Adikku masih kecil. Mereka jangan menjadi korban kehidupan ini,” Abdullah mengutarakan isi hati. “Aku kasihan pada Emak.”
Dada Emak sesak menahan kesedihan dan pengorbanan Abdullah.
***
Lapangan perayaan Hari Kemerdekaan seperti lapangan kematian. Umbul-umbul melambai lemah. Hadiah-hadiah yang terpasang di pohon pinang tak bergerak. Hampir semua warga memenuhi rumah tua di pinggir sawah. Anak-anak yang biasanya suka perayaan kemerdekaan pun hanya diam seperti ditegah oleh orang tua mereka. Pada Hari Kemerdekaan ini, warga kampung mengutamakan bertakziah. Ibunda Ramlah terus melayani setiap pertanyaan tentang almarhum dan anaknya yang lain. Senyum perempuan yang sudah bercucu lima itu memberikan kenangan nyaman kepada peziarah.
“Keempat anak Ibu berhasil ya. Kasihan almarhum. Tentu saja Ibu bangga pada keempat adik almarhum yang sukses. Ibu patut menjadi teladan warga,” ujar seorang warga memuji penuh semangat.
“Iya. Almarhum Pak Yusuf pun tentu berbangga karena keempat anaknya sukses. Apa rahasianya, Bu?” Seorang peziarah lain ingin tahu.
Gerimis turun berderai dibawa angin. Peziarah datang dan pulang bergantian. Hari Kemerdekaan dirundung kesedihan berkepanjangan. Pada saat kampung tetangga sibuk dan gembira merayakan Hari Kemerdekaan, warga kampung di pinggir sawah itu masih bersedih atas kematian Abdullah.
“Beliau kebanggaan keluarga kami dan kami sangat menghormatinya. Almarhum sudah kami anggap seperti Abah. Melalui dia, Allah memberi kami makan dan rezeki. Dengan kekuatan tangan, kaki, jiwa, dan pikirannya, kami bisa seperti ini,” ungkap Usman dengan air mata, yang diiyakan adik-adiknya.
Gerimis telah berubah jadi hujan. Lapangan perayaan Hari Kemerdekaan jadi lembar dan berlumpur. Umbul-umbul tampak lusuh. Namun semangat kemerdekaan tak akan luluh. Hanya menghormati kematian Abdullah itu yang lebih diutamakan. Penghormatan terakhir untuk jasad orang yang dihormati, bukan hanya keluarganya, melainkan juga warga kampung ini. Kematian Abdullah bagaikan kematian rakyat yang merdeka.
“Di keluarga kami, almarhum sangat terhormat. Meskipun kami berkedudukan, kedudukan beliau lebih tinggi di hati kami,” ucap Rohani sambil menyeka embun di matanya yang basah.
“Dia telah menyematkan kedudukan adik-adiknya ini atas izin Allah,” tegas emaknya.
Para peziarah yang masih ramai di rumah mengangguk-anggukkan kepala. Emaknya berkisar sejak kematian suaminya, abah mereka, Abdullah memutuskan berhenti dari SMA. Keputusan itu telah memeras air mata Emak.
Sejak itu pula, Abdullah memutuskan diri melanjutkan pekerjaan ayahnya sebagai petani. Berkat ketekunannya, Abdullah menjadi petani berhasil di kampung ini. Awalnya Abdullah hanya berbekal beberapa petak sawah peninggalan almarhum abahnya.
Tanpa rasa keluh-kesah, Abdullah mengubah peluh menjadi kedudukan terbaik bagi adik-adiknya. Ketekunan Abdullah yang membedakan dia dari orang lain.
Akhirnya warga kampung menggabungkan sawahnya di dalam pengelolaan Abdullah. Abdullah menjadi simbol petani. Kematiannya bagaikan kematian para petani pada Hari Kemerdekaan ini. Merdekalah para petani Indonesia! (44)

– Musa Ismail bekerja sebagai aparatur sipil negara Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis. Karyanya antara lain empat kumpulan cerpen, dua novel, dan satu esai sastra budaya. Dia menerima Anugerah Sayang kategori buku pilihan (2010) dan Anugerah Prestasi Seni dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau (2012).

Rabu, 23 Agustus 2017

Tak Perlu Pakai Nasi

Cerpen Zhizhi Siregar (Republika, 20 Agustus 2017)
Tak Perlu Pakai Nasi ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Tak Perlu Pakai Nasi ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Mendung menggantung. Serupa enggan, selayak segan. Seperti ia yang sialnya aku jadikan idaman. Di seberang sana membalas pesan setengah mati ogah-ogahan. Di biarkannya harapan ini tergantung, dipikirnya lucu aku terseok sendiri terkatung-katung.
Aku mendesah. Gelisah. Sekali saja aku ingin bercengkerama dengan Hera dan bertanya, apa pernah ia berputus asa menyaksikan Dewa Zeus berkelana dari satu wanita ke lain wanita? Sungguh, tak ada yang lebih perih dari patah hati oleh suami sendiri. Keluar dari istana mewah, berharap jadi ratu di negeri orang, berujung sekadar jadi kacung.
“Tak perlu pakai nasi,” ujarku pada pramusaji yang sedari tadi menanti. Dicatatnya dengan teliti, seolah aku penguasa yang minta dibukakan pintu langit, bukannya sekadar makan tanpa nasi.
“Oh, itu rahasianya langsing begini?” goda mereka yang duduk mengelilingiku.
“Ah, cuma sekadar yoga dan kurangi gula.”
Tak perlu kusebut tentang puluhan kilo lari di sela-sela pekerjaan dan mengasuh anak-anak. Tak perlu juga mereka tahu perih-pedih perut lapar ini setiap tiga jam sekali. Cukup tahu beratku yang dulu seratus kilo kini ciut diserbu olahraga tanpa jeda. Sebut semua yang kau tahu, tubuh ini pasti sudah jejaki. Lari, maraton, yoga, sepeda, body pump, semua.
“Ini kulitmu mulus begini sekarang karena perawatan atau karena makan sayur buah saja?”
“Rajin facial juga ya?”
“Ih, pasti bangga sekali Adnan, istrinya sudah melahirkan berkali-kali, singsetnya seperti perawan. Makin tua, makin cantik.”
Setengah menggoda, setengah iri, aku biarkan jemari mereka menjelajah. Usia mereka sama denganku, bedanya, mereka biarkan usia menjadi alasan, anak menjadi kambing hitam, kesibukan menjadi penghalang. Tak apa, biar mereka raba pinggang yang takkan mereka dapatkan lagi. Rambut yang hanya ada di sampul majalah langganan mereka.
Telepon bergetar. Kini, tak ada lagi yang penting, kuhiraukan kata-kata tembus begitu saja melewati telinga. Akhirnya, Hermes datang mengantarkan sebuah pesan yang kunanti sedari pagi. Hanya untuk lemparkan sepatah kata: Ok.
Padahal, panjang sudah pertanyaan aku rangkai hati-hati dengan cantik. Pa, sudah makan? Papa lagi apa? Kangen Mama kah? Tadi Zaydan tanya, Papa pulang jam berapa? Inap di kantor lagi kah? Mau Mama bawakan bekal? Kuselipkan pula puisi Neruda agar ia tahu rindu kali ini bersemu sendu.
Hatiku patah sekali lagi, meski ini bukan pertama kalinya, aku yakin bukan pula untuk terakhir kalinya. Lunglai, kucoba menjawab obrolan yang kian tak menarik ini. Aku hanya ingin bergelung di kasur, melilitkan diri dengan selimut yang jauh lebih hangat dari suamiku sendiri.
Sejak anak kami lahir, ia memang semakin asing. Kala malam, kami selayaknya dua orang karam yang terpaksa mengembara bersama. Lebih banyak tidur, jarang sekali ia ajak aku bercengkerama.
Padahal, ingin rasanya aku bicara tentang mimpi, buku-buku puisi, lukisan wajahnya. Atau, tak mengapa aku dengarkan ia cerita. Tentang dunia filosofi, kata-kata, kerumitan hidupnya yang entah semrawut seperti apa. Tapi, setiap pertanyaan diiringi jawaban singkat antara ya dan tidak. Sebagai dosen, seharusnya ia tahu jawaban atas pertanyaan esai yang kulontarkan tak layak mendapat nilai C sekali pun.
“Berhenti bertanya akan hal yang takkan kamu pahami. Sudah, lanjutkan saja memasak atau lari.” Pernah ia tutup pintu sekaligus mulutku dengan dua kalimat itu.
“Tak apa, Nduk. Kamu ini harus tahu di untung. Sing penting dia masih pulang ke rumah. Tugas kita wanita ini mengabdi tok.” Tanggapan Ibu sewaktu aku masih berkenan untuk mengeluh justru semakin membuatku patah hati.
“Lelaki itu pemimpin. Kita ini takdirnya di rumah. Sediakan semua yang ia perlukan, kita ini harus tahu diri. Biarkan ia berkelana, sepanjang masih memenuhi tanggung jawabnya.”
Maka, berjuanglah aku yang dulunya pendaki gunung menjadi anak rumah. Ralat, anak dapur. Kuantar jemput anak-anaknya. Kumasakkan penganan enak untuk orang tuanya. Kusetrika baju-bajunya. Malamnya, aku mengemis untuk sekadar cinta, tapi mungkin terlalu mahal harganya.
Semua orang yang aku tahu memiliki affair. Setengah mati aku berusaha tidak memikirkannya, tapi apa daya. Lagi dan lagi pertanyaan itu muncul di kepala: Apa Adnan memiliki simpanan? Sering kutanya, Adnan selalu menjawab, sumpah tak ada wanita lain! Sungguh sia-sia bertanya, mana ada maling mengaku?
Ibu benar, aku ini sungguh beruntung. Setelah bertahun-tahun bertanya, kini disodorkanlah jawabannya. Langsung ke depan hidung. Kudapati Adnan persis di depan mal. Di sisinya, bergelayut manja sesosok manusia. Kusebut ia manusia karena aku terlalu bermartabat untuk menyebutnya babi, meski sungguh serupa itu penampakannya. Meski berselimut minyak dan jerawat, wajahnya berkali-kali dikecupi Adnan. Kutahan sedemikian rupa agar tidak mati berdiri. Tak pernah ia menciumku sedemikian rupa di depan semua mata.
“Hei, sadar. Kenapa?” tanya temanku setelah cipika-cipiki berpisah dengan yang lain. Lagi-lagi, aku hanya tersenyum. Kulirik sedikit di cermin toko, ah aku pucat pasi seperti orang lihat hantu. Aku menggeleng, beruntung sekali kalau saja yang aku lihat adalah hantu bukannya dua sosok tadi. Aku ucapkan selamat tinggal sekali lagi setengah tergesa. Kali ini, melangkahkan kaki mengikuti Adnan dan dia entah siapa namanya.
Film horor picisan. Itu yang mereka pilih. Sungguh, aku tak percaya. Puluhan tahun tak pernah sekali pun ia mau injakkan kaki ke bioskop, sekali-kalinya aku temui ia nonton film, justru film porno berbungkus horor. Berkali-kali kutegaskan mata, apa sungguh ia Adnan? Berkali-kali pula aku dibuat kecewa oleh fakta yang menampar-nampar tanpa ampun, iya, sudah terima saja.
Kuikuti mereka dengan hati-hati seharian. Mungkin aku sakit jiwa, wanita lain akan mengambil foto sekali, lalu pergi. Atau, dengan beringas mengamuk banting ini dan itu di depan publik. Tapi, aku setengah menikmati. Debaran jantung tak habis-habisnya berdetak menghantam tulang rusuk. Seolah berontak ingin meledak. Sudah lama Adnan tak membuatku merasakan apa-apa selain kecewa. Jadi, kali ini aku biarkan ia membuatku merasa, apa pun itu namanya.
Sehabis film yang setengahnya bahkan tak mereka tonton karena sibuk menjilati wajah satu sama lain, Adnan beranjak ke kafe. Kafe dengan minuman anggur terbaik se-Indonesia. Aku tahu jelas karena aku yang pernah memohon-mohon mengajaknya ke tempat ini. Ajakan yang lagi-lagi di jawab singkat dengan ucapan “terlalu sibuk”.
Lihat, seolah tadi kurang, mereka berciuman lagi di balik buku menu. Tak pedulikan orang lewat yang melongok penasaran. Tak pedulikan sang pelayan yang setengah mati gelisah entah mengapa. Kunikmati pemandangan mereka saling suap sambil sesekali kuambil foto. Setengah sinting aku berpikir, mungkin lebih seru kalau aku ini bukan istrinya melainkan fotografer prewedding mereka.
Aku tiba di rumah dengan mendung masih mengiring. Seolah ia terikat denganku. Atau, mungkin aku yang sebenarnya terikat dengan si mendung hingga hidupku harus sama-sama tanggung. Ingin menangis saja aku tak mampu teteskan air mata. Semacam beku. Seperti ada bagian dari diriku yang hilang setelah melihat mereka berdua dan aku bukan lagi aku melainkan manusia berhati beku yang tak menangis kala menemukan suaminya berselingkuh.
Sesampai di rumah, aku siapkan makan terlebih dahulu. Masakan kesukaannya dan beberapa resep baru. Benar dugaanku, butuh dua jam kemudian untuk ia tiba di rumah. Baru selangkah ia masuk, kusodorkan foto mereka berdua saling bercumbu di mana-mana.
“Aku ingin bicara,” ujarku.
“Aku ingin bercerai,” jawab Adnan lebih cepat lagi.
“Agar kamu bisa menikahi selingkuhan gendutmu?”
Tangannya terangkat. Hendak menampar.
“Jangan sekali-kali kau sebut ia seperti itu.”
Ironis. Aku harus santun pada selingkuhan suamiku. Mungkin kelak aku bertemu, disuruhnya aku cium tangan manusia itu.
“Aku lega akhirnya kamu tahu setelah bertahun-tahun ini.” Ia terdiam sejenak. “Kau tahu kenapa aku selingkuh?” Adnan dengan santainya berjalan ke meja makan yang sudah terisi makanan hangat.
Karena kamu bajingan keparat? Tapi, kutelan jawabanku. Kuangkat bahu seakan tak tahu menahu.
“Ia mengingatkanku akan dirimu yang dulu. Yang galak, penuh cemburu, setengah mati mengesalkan. Sekarang, kau selalu manut, tak pernah cari ribut, takut aku tinggal. Ia membuatku merasa hidup. Kau kini terlalu… sempurna. Tanpa celah. Membosankan.”
Aku mengangguk, terlihat paham, padahal otakku lebih kusut dari sebelumnya. Untungnya, ia terus bicara sambil menyendokkan nasi.
“Baiknya kita berdamai saja. Kau masih muda, masih cantik. Carilah pria lain. Kita hidup masing-masing saja. Bawa anak-anak denganmu, beri aku kesempatan membuat hidup baru.”
Setelah mengambil nasi dan lauk untuknya sendiri, Adnan berhenti sesaat. Ia ambil piring lagi, ia sendokkan nasi, kali ini untukku. Mungkin manifestasi akan rasa bersalah atau caranya memanjakanku agar aku bilang iya. Entah. Kau takkan pernah tahu isi kepala kaum pria.
“Tak perlu pakai nasi,” gumamku. Ia terbahak lama sebelum meletakkan nasi itu kembali.
“Ya, ya, ya. Aku lupa kau takut gemuk,” setengah meledek, dipenuhinya piringku dengan lauk dan sayur.
Adnan sendokkan nasi ke mulutnya. Ditelannya beberapa sendok sebelum kemudian terbatuk. Lagi dan lagi. Ia pukul sekuat tenaga dadanya sendiri. Lalu melambaikan tangan semacam orang yang tenggelam. Aku duduk, dorong sedikit air meski tahu busa di mulutnya takkan hilang hanya oleh beberapa teguk air minum.
Aku sendokkan sayuran tanpa nasiku.
“Sudah kubilang, tak perlu pakai nasi.” Kuelus rambutnya yang kini kotor oleh nasi. Suara tercekik keluar lagi. Aku menghela napas menahan kesal. Sungguh, tidak sopan berisik kala makan. Contoh yang tidak baik untuk anak-anak.
Foto Adnan dan dewa bercumbu masih terpampang di layar ponselku. Pria tua berjambang yang bertubuh gemuk. Mana kutahu Adnan tak suka wanita muda yang langsing penurut. Adnan tak suka wanita muda. Ah, Adnan bahkan tak suka wanita sama sekali.
Mendung masih menggantung. Kini, aku berdiri di penghujung, tapi sungguh beruntung, tak perlu lagi bingung. Tak perlu pula merajuk meraung-raung. Kurapikan posisi duduk Adnan, kepalanya kini lunglai. Kulihat dahinya tengah sibuk bercengkrama dengan nasi. Tak apa, biar kuberi waktu agar ia merenung.
Kutatap langit kelabu dari sisi lain jendela. Hari ini tak perlu joging. Ada olahraga yang lebih melelahkan menanti. Tak perlu lagi berusaha kurus untuk mempertahankan orang yang sedari awal memang tak pernah tinggal. Kuletakkan hatiku di tepian waktu yang menggaung. Biar menggantung. Seperti mendung.
Satu tarikan napas terdengar sekali lagi. Kali ini, untuk terakhir kali. Ah. Akhirnya langit pecah. Hujan pun membucah.

Tina dan Perahu Tua Ege

Cerpen Sabda Langit (Media Indonesia, 20 Agustus 2017)
Tina dan Perahu Tua Ege ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Tina dan Perahu Tua Ege ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
ARUS sungai bergolak kencang, suaranya bergemuruh saat jembatan papan kayu rubuh. Berapa orang anak berseragam sekolah yang baru sampai di seberang sungai, menjerit panik. Tina langsung bangun dari mimpinya. Nafasnya terasa sesak, segera ke dapur mengambil air wudhu, untuk melaksanakan salat subuh.
***
Pagi pukul 06.30 wita. Di pinggiran kota kecil, Kendari, dalam gubuk menghadap sungai, Tina sedang merajut atap dari daun nipah. Anak laki-lakinya, Ege, sedang mengiris kulit rotan untuk dijadikan pengikat atap. Mata anak itu mengamati jembatan papan yang bergetar di dera arus sungai.
“Tina!” Terdengar suara dari samping rumah. “Saya mau beli atap!” Laki-laki paruh baya mengenakan kaos biru, muncul di muka pintu. “Rumahku bocor beh…!” keluhnya.
“Mungkin sudah lapuk atapnya, Somba,” kata Tina seadanya.
“Betul mi itu!” tukas Somba, naik di atas panggung rumah Tina.
“Somba, baru lima lembar yang selesai,” kata Tina, mengikat rambutnya yang panjang dengan karet, lalu menghampar atap di lantai rumahnya. “Berapa lembarkah yang ko perlukan?”
“Hanya tiga lembar ji!” jawab Somba singkat.
“O, pilih mi kalau begitu! Saya kira banyak yang kau butuh!”
Tina berdiri membiarkan Somba memilih tiga lembar atap yang kelihatan sudah kering.
“Lima belas ribu ji toh?” kata Somba.
“Iyo, soalnya itu atap lebar,” tukas Tina.
“Saya tau ji!” balas Somba, menyerahkan uang pada Tina, lalu meloncat turun dari tangga.
“Hati-hati, Somba! Ko sudah tua mi hae itu!” tegur Tina dengan aksen Tolakiya yang kental.
“Hehehe…” Terdengar tawa Somba yang berjalan di samping rumah, dan menghilang masuk ke dalam rumahnya.
Di atas, langit terlihat mendung. Sudah berapa hari ini hujan turun terus. Biasanya dimulai dari sore dan berhenti di waktu malam. Di jembatan, berapa anak berpakaian seragam sekolah SD, melintasi jembatan dengan hati-hati sekali.
“Ina (Ibu), kenapa mereka masih jalan di jembatan itu?”
Tina menoleh sesaat, berapa lembar papan sudah bergeser miring dari tempatnya. “Mungkin mereka belum tau, Ege,” jawab Tina kemudian.
“Bahaya, Ina! Jembatan itu sudah mau rubuh!” tukas Ege, was-was melihat mereka yang sedang menyeberangi jembatan itu. “Kasihan kalau terjadi apa-apa…,” gumamnya.
Ege, sekolahnya hanya sampai di SD. Lahir di pinggir sungai Wanggu, dua belas tahun yang lalu. Amanya (Ayah) seorang Papalimbang (tukang perahu), memperoleh uang dari penumpang perahunya, dan hasilnya pas-pasan untuk makan sehari.
Saat ini Amanya Ege sudah tak ada lagi. Ombu Taala (Tuhan) sudah memanggilnya untuk selamanya. Meninggalkan sebuah perahu kecil sebagai warisan, yang sekarang digunakan Ege mengambil daun nipah, dan menyeberangkan orang dari sungai bila diperlukan.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, desah Tina. Mengenang kejadian dua tahun yang lalu. Ama Ege ditemukan tak jauh dari perahunya, mengambang di sungai, mati dalam keadaan mengenaskan.
Sejak itu pula, Tina belajar mencari nafkah sendiri. Menjual atap dari daun nipah. Bila Ege tidak pergi mappalimbang, anaknya itu yang pergi mengambil daun nipah, lalu dijemurnya sampai kering, untuk dibuat menjadi atap.
Pukul 10.30. Tina melihat Ege menyambar dayung dan meloncat di atas perahu kecilnya. Sementara itu, di permukaan sungai, air mengalir begitu deras. Tina menjadi khawatir…
“Mau kemana, Ege?” teriak Tina, di antara kerasnya suara gemuruh air di sungai.
“Pancing ikan, Ina!” balas Ege.
“Adakah ikan kalau arus kencang begini?!” Tukas Tina ketus.
Ege menggaruk-garuk kepalanya, sedang berpikir mencari alasan yang kuat. “Saya mau cari daun nipah juga, kemarin saya lihat sudah banyak yang lebar!” katanya kemudian, langsung mendayung perahunya mengikuti arus sungai.
Tina tak bisa membuka mulutnya lagi, Ege sudah jauh. Di lekukan sungai yang banyak ditumbuhi pohon nipah, perahu itu menghilang. Tina hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan melanjutkan pekerjaannya merajut atap.
Pukul 11.30. Tina gelisah. Berapa kali kompor dinyalahkan, tapi hanya menyala sedikit lalu pelan-pelan mati. “Mungkin sumbunya basah,” gumamnya. Matanya menoleh sesaat di lekukan sungai, tempat sege menghilang tadi. Tapi belum ada tanda-tanda bila Ege akan muncul di situ.
Tina mengalihkan pandangannya ke jembatan, di bawah jembatan arus mengalir deras sekali. Berapa anak sekolah berseragam SD muncul dari balik pohon mangga, terlihat mereka jalan tergesa-gesa. Awan hitam yang tebal menebar di langit. Sebentar lagi hujan akan turun, keluh Tina.
Baru saja Tina berniat menyalahkan kompornya lagi, matanya melihat jembatan itu bergerak, dan mendengar suara papan yang patah. Hanya berapa detik saja jembatan itu sudah rubuh terbawah arus, dengan seorang anak perempuan yang baru saja akan menginjakkan kakinya di tanah, menghilang di telan sungai dalam sekejap.
“Tati…!!!” Terdengar suara ramai anak-anak sekolah menjerit panik di tepi sungai.
Tina tercekat, langsung meloncat turun dari rumahnya, berlari kencang ke tepi sungai. Matanya tajam mengawasi permukaan air, tapi tak terlihat jejak anak itu sama sekali. Tina langsung merinding. Mimpi buruknya kini menjadi kenyataan.
“Tati…!!!” Tanpa sadar Tina sudah berteriak pula menyebut nama anak itu, nama yang asing di telinganya, tapi begitu jelas dalam mimpinya.
Bersamaan dengan teriakan Tina, hujan turun seketika. Ada rasa putus asa merambat di hati Tina, pandangannya menjadi kabur oleh curah hujan yang menimpa wajahnya. Tina menjatuhkan dirinya duduk bersimpuh di tanah, membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Dengan hati yang menjerit membayangkan anak itu, saat melayang jatuh ke sungai.
Samar-samar teringat perkataan Ege pagi tadi. “Ina, jembatan itu mau rubuh. Kasihan kalau terjadi apa-apa….”
Tina langsung menghapus air matanya yang bercampur hujan. Bangun dan berlari mengikuti arus sungai lagi. menerobos masuk ke semak yang tajam, menatap sungai yang mengalir kencang, lalu berhenti dengan putus asa. Di hadapannya ada sebuah pohon bakau besar, merintangi jalannya. Tina pun mengeluh putus asa. Pencariannya terbatas sampai disitu saja.
Sementara itu, di jembatan yang rubuh, semakin banyak orang berkumpul. Seorang perempuan yang dipeluk kuat-kuat oleh lelaki yang mungkin suaminya, berontak melepaskan pelukan lelaki itu, lalu berlari ke tepi sungai, berteriak histeris memanggil anaknya.
Pukul 12. 45. Hujan mulai redah. Di ujung lekukan sungai, sebuah perahu berjalan lamban, melawan arus sungai yang deras. Ege sudah pulang. Tina mengangkat kepalanya, melihat Ege yang kepayahan mendayung perahu tuanya. Ketika perahu itu sudah dekat, Tina terhenyak. Seorang anak perempuan berseragam sekolah dengan pakaian basah, duduk di perahu Ege.
“Tati!” teriak Tina tanpa sadar. “Allahu Akbar!” teriaknya lagi, sambil melambai tangannya pada orang yang berkerumun di jembatan yang tersisa.
Suara Tina keras menggema, membuat orang yang mendengarnya, langsung berlari menyusuri arus sungai dengan tergesa-tergesa. Saat mereka tiba di tempat Tina berdiri, Tina sedang tertawa menggendong anak itu, mereka pun langsung berteriak heboh.
“Tati sudah ditemukan!” Terdengar salah seorang berteriak keras, disambut dengan teriakan ramai di jembatan rubuh. “Allahu Akbar!”
Hanya dalam sekejap, tempat Tina berdiri sudah dipenuhi orang, dan seorang perempuan yang matanya sembab karena habis menangis, mengambil alih anak itu dari pelukan Tina, lalu menggendongnya erat-erat, sambil menangis terisak-isak.
Tati sudah selamat dari amukkan sungai yang mengalir deras. Semua orang yang ada di situ, terlihat senang. Mereka melupakan Tina sesaat. Tapi Tina sudah ada di atas perahu, membiarkan Ege mendayung perahunya melawan arus, sambil membersihkan bajunya yang kotor akibat percikkan tanah liat.
“Ina, saya lihat Ama di sana tadi,” kata Ege dingin, saat mereka sudah jauh, meninggalkan kerumunan orang yang memeluk Tati secara bergantian.
Tina terhenyak!
“Ama menarik krah bajuku sampai ke darat, saat meloncat turun ke air, menyeret anak itu yang terbawa arus sungai!” kata Ege lagi, sambil mengusap air matanya.
Tina tak bisa bicara. Matanya tajam menatap Ege. Wajah anaknya itu terlihat pucat tak bergairah. Ada rasa sedih yang muncul di hati Tina secara tiba-tiba. Rasa sedih yang hampir membuat kesadarannya hilang. Sebagai ibu yang membesarkan anaknya, dia merasa, bahwa bukan Ege yang mengajaknya bicara saat ini. Suara Ege yang di hadapannya kini, adalah suara yang pernah didengarnya dua tahun yang lalu. Tina pun menjadi geram, dengan sinar mata yang dingin, dia menoleh ke lekukan sungai yang dipenuhi pohon bakau. Di sana, dia melihat Ege dan Amanya, sedang memandangnya dengan tatapan dingin pula. ***

2017
Penulis lepas yang menetap di Sulawesi. Sejumlah karyanya telah diterbitkan di media massa.

Dinding Berdendang

Dongeng Bisri Nuryadi (Suara Merdeka, 20 Agustus 2017)
Dinding Berdendang ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Dinding Berdendang ilustrasi Suara Merdeka
Meski sudah berbulan-bulan berlatih pencak silat, Sena masih kurang percaya diri. Ia merasa kemampuannya memainkan jurus-jurus pencak belum sempurna. Apalagi Kakek yang sekaligus menjadi guru pencaknya tidak bisa mendampingi Sena di acara Festival Tari Pencak. Sena harus berangkat sendiri.
Sepanjang perjalanan, Sena selalu bersembunyi saat berpapasan dengan teman-temannya. Sena takut ditertawakan oleh mereka. Selama ini Sena sering diejek oleh teman-temannya.
“Ah, anak laki-laki kok menari, seperti anak perempuan saja. Ah anak desa tidak mungkin bisa menang!” kata mereka.
Sesampainya di arena festival, nyali Sena semakin kendur.
“Aku tidak mungkin menang,” ujarnya lirih sambil beranjak pergi.
Sena lalu melangkah gontai menuju dinding pagar belakang kerajaan. Sena menyandarkan tubuhnya pada dinding yang kusam. Kepalanya tertunduk meratapi nasibnya. Sena merasa tak setampan peserta lain yang memakai baju mewah. Pakaian Sena selusuh karung goni. Sena khawatir dirinya tak menarik perhatian penonton. Di tengah kegalauannya, tiba-tiba Sena mendengar suara orang berdendang.
“Hei…hei…hei! Lihat ke kanan, ada ksatria tampan! Lihat ke kiri, ada ksatria pemberani! Lihat ke sini ada ksatria bersembunyi!”
Sena terkejut. Suara itu hilang, tepat saat Sena menoleh ke kiri dan ke kanan. Kepalanya mendongak, menatap ke atas dinding pagar. Tidak ada siapa-siapa. Hmmm…mungkin ia bersembunyi di balik pagar. Sena pun memanjatnya. Matanya menyapu ke segala arah. Sepi!
Sena mengempaskan kembali tubuhnya di dinding. Hatinya dongkol. Suara dendang kembali terdengar berkumandang.
“Lihat, lihat anak yang bimbang! Lihat, lihat ia berwajah muram!”
Sena kembali memandang ke sekelilingnya. Tidak ada orang berdendang.
***
“Lihat, lihatlah si pecundang kebingungan. Lihat, lihat, ia takut masuk gelanggang.”
Seperti semula, suara itu menghilang saat Sena membalikkan badan hendak memanjat dinding. Suasana di balik dinding tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda pemilik suara.
Setelah menunggu cukup lama, Sena kembali turun. Berulang-ulang Sena naik dan turun dinding saat suara dendang terdengar lagi.
“Hei, hei, hei ada pendekar berwajah muram. Hei, hei, hei semangatnya pudar, hilang kepercayaan.”
“Tunjukkan wajahmu!” teriak Sena sambil berkacak pinggang.
Dendang terdiam. Sena kesal dan melangkah pergi. Sesampainya di depan pintu gerbang kerajaan, Sena melihat dua dinding di depannya bergetar. Terdengar suara dendang yang lantang.
Sena tidak percaya. Ia mengucek-ucek kedua matanya. Tapi dinding dan suara itu tak kunjung diam. Sena memberanikan diri menyentuh dinding. Aneh! Setiap tangan Sena mendekat, dinding itu diam dan suara dendang pun menghilang.
Tak lama kemudian, Sena mendengar namanya dipanggil untuk tampil di atas panggung. Sejenak Sena terdiam, ragu.
“Pulanglah, pulang! Jangan permalukan Kakekmu tersayang!”
“Kakek,” gumam Sena lirih.
***
Sena teringat Sang Kakek yang sedang sakit. Sebelum berangkat, Kakek berpesan agar Sena tetap menari, apa pun yang terjadi. Pesan Kakek membuat keberanian Sena tumbuh kembali. Ia segera menuju panggung.
Oouch…tapi apa yang terjadi… Tepat saat Sena mendekati arena, kakinya tersandung anak tangga. Ia terjatuh di atas panggung dan ditertawakan penonton. Sena tersipu malu. Ia nyaris kehilangan keberanian lagi. Panggung terasa bergoyang dan dinding kembali berdendang.
“Aku harus konsentrasi,” batin Sena sambil memperbaiki posisi kedua kakinya.
Sena pun memulai tariannya. Saat ia menggerakkan tubuhnya, terdengar dinding berdendang memberikan pujian. Semakin keras dinding berdendang, semakin larut Sena dalam tarian.
“Lihat ksatria pemberani, menari penuh percaya diri. Gerakannya lincah, tariannya indah. Dialah yang berhak mendapat plakat emas yang mewah.”
Dinding tak lagi berdendang saat Sang Raja memberikan plakat emas kepada Sena sebagai tanda kemenangan. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton terus terdengar sampai Sena meninggalkan panggung.
Sena begitu girang dan bahagia. Apalagi Sang Raja juga memintanya untuk tampil di Pesta Panen Raya. Pada saat itu tari pencak tidak hanya ditampilkan, tapi juga kan dipertandingkan. Namun anak seusia Sena belum diperbolehkan mengikuti pencak silat karena berbahaya. Pesilat bisa terluka bahkan cedera karena pukulan atau tendangan lawan. Dalam pencak silat, seseorang harus mengalahkan lawannya untuk menjadi pemenang. Sementara dalam tari pencak, siapa yang paling baik dalam memainkan jurus-jurus maka merekalah yang menang. Dan Sena nantinya akan menari pencak silat, tanpa dipertandingkan.
Sebelum pulang Sena menghampiri dinding-dinding yang berdendang untuk mengucapkan terima kasih. Jika dinding tak berdendang, mungkin Sena tidak tampil sebagai pemenang.
Sesampainya di rumah, Sena menceritakan pengalamnnya kepada Sang Kakek.
“Mengapa dinding itu mengejek dan memujiku, Kek?” tanya Sena kepada Kakek.
“Ejekan dinding mencerminkan perasaanmu yang kurang percaya diri, sedangkan pujian itu menggambarkan kegembiraanmu saat menari. Itu adalah suara dinding hatimu, Sena,” ucap Kakek sambil memeluk Sena dengan penuh kasih sayang dan keharuan. (58)