Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Sendiri, bukan berarti tak memiliki hati Pada cinta yang selalu datang silih berganti Pada hati yang berharap ingin memiliki Karena inilah cara supaya hati dan fikiran menjadi lebih terjaga agar tak tersakiti lagi Agar tidak terluka kembali Agat tidak salah langkah kembali Agar tidak patah hati kembali
Sendiri, bukan berarti sedang menanti Apalagi mengharapkan ia kembali Tapi ini adalah tahap memperbaiki diri Menata hati demi mendapatkan cinta-Nya kembali
Daripada menanti seseorang yang ternyata bukan ketetapan Sang Ilahi Yang datang menghampiri Memperkenalkan diri Memberi mimpi Mengumbar janji Perlahan pergi Kemudian meninggalkanmu sendiri Tanpa kejelasan yang pasti Menghempaskan semua mimpi Membuang segala janji Dan membiarkan luka tersisa dihati Tanpa perduli bagaimana perasaanmu kini
Sendiri, bukan berarti tak perduli Karena sendiri sebagai tantangan untuk diri sendiri Agar tidak menoleh dan terjun kembali Pada masa lalu yang hanya menggoreskan hati Hanya inilah cara yang paling baik untuk dijalani
Tetap "ISTIQAMAH" menghafal, meskipun TAK HAFAL-HAFAL, barangkali lewat pintu itu, Allah Ingin memberikan banyak karunia-Nya... Satu huruf Al-Qur'an satu kebaikan, dan satu kebaikan 10 pahala. Bagi yang kesulitan melafalkan, satu hurufnya dua kebaikan. Berarti setiap hurufnya 20 pahala. Semakin sulit semakin banyak. Kalikan dengan jumlah pengulangan anda.
Al-Qur'an, seluruhnya, adalah kebaikan. Menghafal tak hafal-hafal berarti Anda berlama-lama dalam kebaikan. Semakin lama semakin baik. Bukankah anda menghafal untuk mencari kebaikan.
Ketika Anda menghafal Al-Qur'an, berarti Anda sudah punya niat yang kuat. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam menyebut 70 syuhada' dalam tragedi sumur Ma'unah sebagai qari (hafizh), padahal hafalan mereka belum semua. Ini karena seandainya mereka masih hidup, mereka akan terus menghafal. Jadi, meski Anda menghafal tak hafal-hafal, Anda adalah hafizh selama tak berhenti menghafal. Bukankah hafizh yang sebenarnya di akhirat?
Menghafal Al-Qur'an ibarat masuk ke sebuah taman yang indah. Mestinya anda betah, bukan ingin buru-buru keluar. Menghafal tak hafal-hafal adalah cara Allah memuaskan anda menikmati taman itu. Terseyumlah.
Ketika anda menghafal Al-Quran, meski tak hafal-hafal, maka dapat dipastikan, paling tidak, selama menghafal, mata Anda, telinga Anda, dan lisan Anda tidak sedang melakukan maksiat. Semakin lama durasinya, semakin bersih.
Memegang mushaf adalah kemuliaan, dan melihatnya adalah kesejukan. Anda sudah mendapatkan hal itu saat menghafal kendati tak hafal-hafal
Adakalanya kita banyak dosa. Baik yang terasa maupun tak terasa. Dan menghafal tak hafal-hafal adalah kifaratnya, di mana, barangkali, tidak ada kifarat lain kecuali itu.
Menghafal tak hafal-hafal tentu melelahkan. Inilah lelah yang memuaskan, karena setiap lelahnya dicatat sebagai amal sholeh.
Cinta itu fitrah , cinta itu menjaga dan cinta itu keindahan bagi yang benar-benar tau makna cinta dari-Nya. ..
Jika aku katakan semua tentang cinta ,gak akan ada habis nya ,apalagi cinta kepada sang Maha Cinta. Krn cinta dari-Nya yg tiada henti hentinya utk ku, aku menjauh Dia tetap mendekat, aku memberi jarak Dia pun selalu ada utk ku ,walaupun terkadang aku sering melupakan-Nya 😢
Tapi kau tau , krn cinta dari-Nya aku bisa menemukan mu, aku bisa berhenti pada satu titik pencarian kmna hati ini akan tertuju. Ya itu adalah kamu, krn cinta yang kupanjatkan kepda-Nya , krn ada doa diantara cinta ,aku tau tentang mu. Aku dapat mengenal mu. Dan ternyata itu membuat aku semakin cinta kepada-Nya ❤
Terima kasih kau telah menyempurnakan cinta ini , terima kasih kau memberikan arti cinta yang sesungguhnya. Bahwa cinta yang sebenar-benarnya cinta hanya ada Satu. Bahwa cinta tak harus melebihi cinta kpd-Nya. Semua itu kau yg mengajarkan ku. Kau membuat hari-hariku indah dan kau juga yg mengajarkan ku ttg bersyukur atas cinta yg aku punya.
Terima kasih kau mau mengenggam tangan ini utk sama-sama meraih cinta-Nya. Untuk mu kukatakan, Terima Kasih Cinta
Ukhtiku, kalau kamu merasakan sepi, sungguh sepimu adalah sementara saja. Cobalah bercerita lebih akrab dengan orang-orang sekitar. Dengan mereka yang selalu mencintaimu. Yakinlah, sepimu akan berganti ramai, damai, dan bahagia. . Kalau kamu merasa lelah, kadukan pada Allah, bahwa kamu telah siap jika seseorang yang Allah jaga, mengunjungi rumahmu. Menyalam ayahmu dan berniat mengkhtibahmu. Kamu sudah siap tentunya dengan ilmu-ilmu itu. . Kalau kematian yang lebih awal tiba, tidaklah mengapa, barangkali itulah sebaik-baik takdir yang Allah siapkan untukmu. Satu hal yang pasti, selama kamu menjomblo, hari-harimu telah diwarnai dengan kegiatan-kegiatan positif. Semoga dengan demikian, kamu akan tenang saat menghadap-Nya.
Kisah ini tentang rindu yang tak tahu titik temu Yang tak tahu sampai kapan akan menunggu Dalam diam.. Dan pasrah.. Siapapun itu kamu, aku menunggu dalam ikhlas Dalam sabar yang akan membawa kita pada bahagia
Allah tahu apa-apa saja yang tebaik untuk makluknya Termasuk jodoh.. Beginikah rasanya mencintai tanpa tahu rupanya?? Beginikah merindukan tanpa tahu keberadaannya?? Entah itu jauh ataupun dekat Kan ku serahkan pada Sang pembolak-balik hati
Kepada kamu.. Orang yg namanya tertulis berdampingan dengan namaku di Lauhul Mahfuz Ketika kita sudah berjumpa kelak dan di satukan dalam ikatan halal Baca lah.. Aku pernah menuliskan tentang kita Tentang aku yg pernah merinduimu jauh sebelum kita berjumpa Tentang aku yg menantimu dalam keikhlasan Dan tentang doa yg berkelana diatas namamu Siapapun kamu.. Aku mencintaimu karena Allah :) .
Cerpen Zhizhi Siregar (Republika, 13 Agustus 2017) Lalu Sunyi ilustrasi Da’an Yahya/Republika
Kenangan pertamaku tentang Bapak adalah jemarinya. Setengah terlelap,
bisa kurasakan jemarinya yang kasar mengelus-elus rambutku yang
menutupi wajah. “Cantik sekali, ya, anak ini.” Seolah tak percaya
mengapa bisa dikaruniai anak kurus kering berkulit gelap gulita bergigi
tonggos sepertiku.
Juga, tak lupa dentaman langkahnya di rumah masa kecilku yang luas. Dum, dum, dum, langkahnya sepulang kantor. “Oiii, Butet!” aku yang ia cari begitu pulang. Bukan Ibu, bukan pula Abang, tapi aku, sang putri kesayangannya.
Aku akan terkikik bersembunyi. Di bawah kasur, di belakang pintu, di
bawah tumpukan baju kotor. Ia akan selalu menemukanku. Lengannya yang
kokoh mengangkatku ke langit-langit. Diayun- ayunkannya aku hingga
kepala ini terasa berputar, entah karena tawa entah karena bahagia.
Wajahnya yang penuh kumis tajam disorongkan ke pipiku. Matilah aku
diciuminya. Aku menyebutnya hari baik. Hari baik akan selalu jatuh pada
hari Sabtu, di mana ia hanya perlu pergi sebentar mengajar di kampus
lalu sempatkan diri bermain denganku sesekali.
Pada hari buruk ia akan mengurung diri di kamar mandi seharian dengan
kaca di kamar. Aku akan berjinjit perlahan, takut menginjak kata-kata
yang salah yang bisa meledakkan seisi rumah dengan teriakan dan
tangisan. Hari-hari di mana aku tidak mau pulang dan lebih memilih untuk
tidak dilahirkan. Memar hilang sehari dua hari, tapi keinginan untuk
mati bertahan lebih lama dari yang bisa kuingat: Mengapa harus dengan
sabetan kalau cukup dengan kata-kata? Apa aku semengecewakan itu?
Mengapa aku tidak mati saja agar semua bahagia? Kadang, Paman akan
memelukku menenangkan, meski aku tak suka dengan pelukan.
Namun, semua kembali terlupakan ketika hari Sabtu muncul lagi.
Kepalan jemarinya akan terbuka sekali lagi dan ia akan lupa apa yang
sudah terjadi. Akan ia gendong aku sambil tersenyum lebar. Menjadikanku
anak tercantik sedunia.Dan aku pun mengikuti permainannya: Kita lupakan saja yang kemarin itu.
Berkali-kali kutanya pada Ibu, apa Bapak sakit? Mengapa tidak ke
rumah sakit? Ibu menyuruhku bungkam. Katanya, di keluarga Bapak, tak ada
yang kenal orang sakit jiwa. Bagi mereka, hanya ada yang lemah dan yang
kuat. Tak apa sesekali Bapak terlihat lemah di rumah, sepanjang di luar
ia terlihat kuat. Bagaimana kalau jiwa sakit tak diobati? Bukankah
lengan yang sakit dan tak diobati akan membusuk? Apakah jiwa bisa
membusuk juga? Ibu menggeleng, lalu melakukan tindakan yang ia paling
kuasai seumur hidupnya: Diam.
Aku pernah membaca buku Bapak yang bercerita bahwa kepribadian dan
segala pilihan yang diambil masa kini terbentuk oleh masa kecil.
Mungkin, karena itu, seperti Ibu, aku terus kembali pada mereka yang tak
cukup menyakiti sekali. Ibu selayaknya nelayan yang mencintai lautan:
Kembali lagi dan lagi meski tahu akan mati tenggelam ditelan badai.
Tahun demi tahun berlalu, selain Sabtu, kami jarang bersentuhan.
Kini, ia hanya mengangguk sopan sembari lewat dari kamarnya lalu entah
ke mana. Untungnya, ada Paman yang tinggal bersama kami. Ia seperti
Bapak, tapi jauh lebih ramah. Tanpanya, mungkin aku akan lupa seperti
apa rasanya kasih sayang keluarga. Suatu hari, kutemukan kembali alasan
yang membuat Bapak tidak keberatan menggendongku: Pohon jambu depan
rumah.
Berawal dari diriku yang masih baru bersekolah mengamati dengan
penasaran jambu-jambu hijau keputihan. Bapak menghampiri dengan langkah
khasnya yang berdentam-dentam. Bapak gendong aku di bahunya, “Ambil yang
kanan, Tet.” Tanpa memedulikan aku yang terbelalak menahan kaget.
Bagiku, kala itu, ia sedemikian mengerikannya, selayaknya Kronos yang
sanggup memakan anak-anaknya. Kontak fisik yang kuingat hanya jepretan
demi jepretan yang muncul karena berbagai kesalahan. Kadang lemparan.
Kadang pukulan. Tapi, kali ini ia menggendongku! Di bahunya! Dengan
telaten, kuturuti maunya, kupetiki satu demi satu jambu di atasku.
“Sudah, jangan semuanya. Untuk besok,” kata Bapak. Besok! Besok ia akan menggendongku lagi!
Keesokannya, aku melesat lari, kutunggu ia di atas pohon jambu sejak
pulang sekolah hingga ia pulang kantor sorenya. Kupamerkan kini aku bisa
memanjat pohon. Padahal, Paman terkadang membantu, ia suka sekali
menggendongku meski kadang aku tak mau dibantu. Dari kejauhan, Abang
hanya mengamati di sisi Paman. Usianya yang tiga tahun lebih tua tentu
sudah tak bisa lagi ditahan oleh pohon jambu ini.
Bapak sering terkekeh kalau aku melontarkan candaan sesekali selama
kali berburu jambu. Tak memuji, tapi cukup membuat hidungku kembang
kempis. Lagi-lagi, ia gendong aku di bahunya.
Begitulah setiap hari. Dengan patuh, kukunyah-kunyah buah jambu yang
diam-diam rasanya mulai memuakkan. Tak penting, yang kutahu, aku bisa
mengobrol dan bermain dengan Bapak, seperti anak-anak lainnya yang hanya
bisa kusaksikan di TB.
Lengannya yang menjagaku agar tidak jatuh. Usapan di kepalaku.
Tawanya yang tertahan kala mendengar cerita lucuku. Ia tak perlu tahu:
Aku sesungguhnya tak suka buah jambu. Ia pun tebang pohon itu setelah
seminggu mengurung diri di kamar mandi. Tampaknya, hari buruk datang
bertubi-tubi. Ia menangis, meratap, menghabisi silet demi silet untuk
menyayat bagian dari dirinya yang tak semua orang bisa lihat. Kalau
sudah begitu, Ibu pun diam. Karena, untuk diam pun diperlukan
keberanian.
Hari buruk datang lagi. Kali ini lebih dahsyat. Ia mengamuk hanya
untuk terkaget-kaget sendiri. Dengan napas memburu, ia akan
bertanya-tanya, “Ada apa?” Pertanyaannya seharusnya apa yang tidak ada?
Ada darah Ibu yang masih belum berhenti mengucur karena pukulanmu. Ada
memar yang kau titipkan di sekujur tubuhku. Lengannya membuka, gigi-gigi
depan Abang berjatuhan dari genggamannya. Tak perlu kata-kata, bahkan
tak perlu air mata. Diam punya bahasanya sendiri yang mulai kami kuasai.
Beberapa tahun setelah ditebangnya pohon jambu, Abang berhenti bicara
sama sekali. Ia bahkan tidak menggunakan bahasa isyarat sama sekali.
Hanya diam, tak mau berkomunikasi. Seolah mengunci semua orang dari
dunianya sendiri. Seakan, ia memilih ditelan sunyi ketimbang berjibaku
dengan kenyataan. Bajingan beruntung. Ia meninggalkanku berkicau sendiri
tanpa ada yang menanggapi.
Hingga, suatu hari, hari terburuk dari yang buruk datang kembali.
Kali ini, bukan Ibu sasaran pukulnya, melainkan Paman. Aku baru kembali
dari se kolah, sebuah SMA dekat rumah, ketika kudapati Bapak melemparkan
cermin besar ke tubuh Paman yang sudah babak belur. Kali ini, ia garang
luar biasa, tapi tak ada balasan dari Paman. Mencoba bertahan pun ia
tak lakukan sama sekali. Tak pula Ibu berusaha hentikan Bapak yang
nyaris membunuh adiknya sendiri.
Ibu hanya berdiri dengan tangan lunglai menggenggam celana dalam
Abang yang bernoda darah. Aku sungguh tak mengerti. Tapi, tak ada yang
mau berbagi, seolah semua sudah sepakat untuk menutup diri. Kali ini,
Bapak tak bertanya ada apa. Kini, sedari awal sepenuhnya sadar.
Kini, tak ada lagi yang bicara di rumah ini. Peduli setan hari ini
Sabtu atau Minggu atau Jumat terkutuk. Bekas potongan pohon jambu pun
sama diamnya, seolah kami semua dikutuk.
Sunyi punya caranya sendiri untuk menguasai. Di sela-sela sepi,
kadang aku mendengar suara-suara entah dari mana. Mungkin hantu. Ya,
pasti hantu. Atau diriku sendiri, yang lain, bukan yang ini. Atau, bisa
jadi diam-diam aku bisa mendengar suara batin Abang dan Ibu. Bisa saja
aku jadi sakti mandraguna karena Bapak pernah cerita, aku ini keturunan
raja-raja. Makin lama makin riuh. Kian lama kian bising. Mulai dari
celoteh tentang tetangga, hingga teriakan kematian setiap malam.
Lolongan anjing sekali pun berubah menjadi bisikan-bisikan penuh makna.
Aku di kelilingi keramaian di tengah kesunyian ini.
Suatu hari, hari buruk datang lagi. Entah apa pemicunya, padahal
bicara satu sama lain pun bahkan kami sudah tak pernah. Kali ini, Bapak
sabeti Ibu dengan kabel radio. Abang berdiri dalam diamnya di sudut
sana, tak lagi bergerak, tak lagi hidup, sungguh aku berharap ia mati
saja dengan segala ketidakberdayaannya. Amarah biasa menggelegak, namun
kali ini kubiarkan ia mengambil alih tubuhku.
Lihat, apa yang mampu sebuah derita lakukan: Ia tanamkan
derita-derita lain di tubuh orang-orang yang mencintainya. Betapa tega
Bapak pukuli Ibu yang menahan pukulan saja sudah tak mau. Seolah tak
cukup ia renggut jiwanya, harus pula ia rusak raganya yang sudah renta.
Seketika semuanya sudah terlalu riuh, hingga aku tak mampu mendengar
pikiranku sendiri. Kuambil kapak yang tak pernah tersentuh sejak dipakai
untuk menebang pohon jambu itu. Hanya dibutuhkan satu jeritan untuk
membebaskan Ibu dari rasa takut. Diamnya pecah setelah bertahun-tahun,
lenyap dalam satu teriakan. Suaranya yang kutunggu dengan sabar, tapi
tak kunjung muncul di malam-malam demamku, terdengar kasar di sela
derasnya darah yang berlomba mengucur keluar.
Satu ayunan untuk membebaskan Abang dari entah apa yang
menggerogotinya dari dalam. Satu tatapan tak percaya untuk membebaskan
Bapak dari rasa sakit yang menyiksanya. Betapa mudahnya, hanya butuh
tiga ayunan untuk membebaskan kami semua dari penjara ini.
Lalu, kukejar Paman yang kutahu bersembunyi di lemari Abang setiap
hari Sabtu. Aku tahu karena sebelumnya ia pun selalu bersembunyi seperti
itu di lemariku. Untuknya, kuayunkan kapak itu lagi dan lagi,
berkali-kali, memastikan sepenuh hati bahwa aku berhasil membebaskannya
dari iblis yang merasuki. Aku tahu, kami semua akhirnya terbebas dari
derita masing-masing. Karena, hari ini hari Sabtu.
Aku terduduk menghela napas. Bising itu akhirnya hilang. Lalu sunyi.
Cerpen Daruz Armedian (Suara Merdeka, 13 Agustus 2017) Sepasang Mata Ibu dan Sepasang Mata Bocah Lugu ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka
Sepasang mata anak kecil yang mungil, mata yang tak mengerti
kesedihan apa-apa, menatap tajam pada daun-daun yang berguguran dari
pohon di tengah taman.
“Kenapa daun-daun itu jatuh, Ibu?” tanyanya kepada perempuan yang
sejak tadi terdiam sambil menunjuk daun-daun yang pelan-pelan terlempar
ke tanah basah sebab hujan tadi siang. Wajah polos itu menampakkan
kepolosan.
“Kenapa daun-daun itu jatuh, Ibu?” tanyanya sekali lagi. Kali ini
sambil menatap kedua mata ibunya yang sendu dan wajah yang kusut tak
menentu. Seperti sebuah kebosanan. Seperti sebuah ketidakminatan.
Seolah-olah daun-daun yang dimaksud anaknya adalah kesia-siaan. Lalu,
terdengar pelan embusan napas panjang.
“Karena ada angin yang menerjangnya.” Perempuan itu buka suara
sembari membuang pandangan ke arah pepohonan. Pepohonan yang
lama-kelamaan terlihat buram karena matahari hampir tenggelam. Sejak
kemarin ia kehilangan nafsu bicara. Bahkan walau hanya sepatah kata.
“Berarti angin itu jahat?” Anak itu bertanya lagi dengan kepolosan yang tak ada habis-habisnya.
“Kenapa jahat?” Perempuan itu balik bertanya. Tentu dengan nada agak
menukik. Seperti jalan kehidupan yang selama ini ia lalui. Atau seperti
jalan sebelum menuju taman itu.
“Karena angin telah menjatuhkan daun-daun.”
“Tidak. Tidak jahat. Bahkan angin itu baik. Ia ingin memberi tahu
daun-daun, hidup mesti bergantian. Setelah daun-daun jatuh, pasti ada
pengganti berupa daun-daun lain.” Suara perempuan yang dipanggil Ibu itu
ngelantur. Ia seperti tidak peduli apakah anaknya paham atau tidak.
Yang jelas, sebagai orang dewasa, ia mesti menghargai anak-anak,
termasuk dalam berbicara. Ia tidak boleh diam jika anaknya bertanya.
Anak itu terdiam. Terdiam sebentar—kalau ditaksir dalam perhitungan
waktu, sekitar satu menit. Satu menit terlihat sebentar jika
dibandingkan satu jam tentu saja. Angin mulai berembus kembali. Kali ini
agak kencang. Menyibak rambut panjang perempuan itu dan menyibak rambut
pendek anaknya. Sejenak, dunia ini hanya terdiri atas angin belaka.
Anak kecil itu memandang orang-orang lalu-lalang yang menggumam entah
apa, barangkali sebuah ketiadaan, barangkali sebuah ketidakabadian. Lalu
kembali ia angkat bicara.
“Aku ingin seperti angin.”
Tak ada tanggapan dari ibunya, perempuan dengan wajah muram dan mata
sendu seolah-olah menggambarkan di dunia ini tidak ada perasaan lain
kecuali kesedihan.
“Ibu, aku ingin seperti angin.” Mulut anak kecil itu, seperti robot otomatis, merentetkan kata-kata, tak habis-habis.
“Alasanmu?” Ibunya menanggapi tanpa selera.
“Aku ingin seperti angin. Aku ingin jadi orang baik.”
“Oh, bagus kalau begitu. Dan memang harus seperti itu.”
“Bisa kan, Bu?”
“Jelas bisa dong.” Perempuan itu tak mengira anaknya sudah sepintar
itu. Siapa mengajari? Apakah di sekolah ada pelajaran seperti itu? Ah,
tidak, tidak. Anak itu belum sekolah. Meski seharusnya sudah pantas
sekolah.
Langit sore mulai menampakkan warna kemerah-merahan. Sebentar lagi
matahari bersembunyi di balik gunung-gunung yang berderet dari utara ke
selatan. Seorang ibu dan anak itu masih duduk di taman. Tak ada cemilan,
seperti cokelat, permen, dan jajanan lain, di samping mereka. Tak ada
minuman, walau sebatas air mineral. Yang ada hanya kekosongan. Kau
dengar, yang ada hanya kekosongan.
Orang-orang timbul-tenggelam di balik pepohonan. Orang-orang
berseliweran di jalan sambil membawa aneka barang. Tas, hape, bunga,
ransel, cangkir kopi, hidangan makanan. Orang-orang berseliweran dengan
apa saja. Semisal, hewan peliharaan, anak kecil, sahabat remaja,
pasangan muda, dan lain-lain yang sebenarnya bisa ditulis di sini,
tetapi tidak terlalu penting untuk menyebutkan semua. Ada yang masuk ke
museum kecil yang berada tepat di pinggir taman. Ada juga yang keluar
dari museum kecil itu.
Namun ibu itu tidak ingin beranjak. Ia mungkin lebih senang duduk di
bangku taman bersama anaknya yang cerewet sambil menikmati menit-menit
berlalu, menunggu hari benar-benar malam.
“Ibu?”
“Ya.”
“Itu pohon apa?”
“Yang mana?”
“Yang itu.” Anak itu menunjuk pohon berbuah segi lima.
“Oh, itu pohon belimbing.”
“Kok buruk gitu?”
“Apanya yang buruk?”
“Daun-daunnya. Tadi berjatuhan.”
“Rapuh maksudmu?”
Anak itu mengangguk-angguk seolah mengerti arti kata “rapuh” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan untuk apa kata itu perlu diadakan di dunia.
“Ya, karena mau berganti daun-daun baru yang lebih hijau, yang lebih segar,” tambah ibunya.
“Bukankah yang jatuh itu juga daun-daun yang masih hijau dan masih segar?”
Perempuan itu diam, mungkin menikmati keheningan dalam dirinya, ah,
kesepian dalam dirinya. Atau mungkin memikirkan sebuah puisi tentang
senja yang sebentar lagi menghilang dan lampu-lampu taman yang menyala
secara bersamaan. Atau mungkin sudah risau dan bosan mendengar ocehan
anaknya. Ah, memang dunia hanya penuh kemungkinan-kemungkinan.
“Ibu?”
“Ya.”
“Kalau yang itu pohon apa?” Rupanya anak kecil itu sudah melupakan
pertanyaan mengenai hijau daun-daun belimbing yang berjatuhan. Ia
menunjuk pohon besar dan sulur-sulur seperti akar tumbuh di batangnya.
Terdengar lagi embusan napas panjang.
“Itu pohon beringin.”
“Kok serem banget?”
“Apanya yang serem?”
“Akar-akarnya keluar dari tanah.” Seperti monster mengerikan yang mengeluarkan aroma kebencian.
Perempuan itu hanya terdiam. Ia mungkin sudah sangat kesal atas
ocehan anak itu. Sepasang matanya menyusuri trotoar yang mulai lengang.
Lalu ia pandangi wajah anaknya yang polos, yang tak mengerti arti kata
kesepian. Arti kata kehilangan. Dengan perasaan begitu dalam ia
mengusap-usap rambut anaknya. Setiap kali ada senyuman dari bibir mungil
itu, ia balas dengan senyuman juga. Senyuman getir. Amat getir. Seperti
menahan beban sangat berat dalam kehidupannya.
“Aku tak ingin jadi beringin.”
“Kenapa?” jawab perempuan itu hambar.
“Aku tidak ingin jadi orang yang serem. Aku tidak ingin jadi orang yang menakutkan.”
Ia tidak membalas. Pandangannya kini tertuju ke sebuah rumah megah
yang memancarkan cahaya gemerlapan. Lampu-lampu merah kuning hijau dan
warna-warna lain menyala bergantian. Mungil. Seperti kunang-kunang
beterbangan membelah ilalang.
“Ayo ke sana.”
“Ke mana, Bu?”
“Ke rumah itu.” Tangannya menunjuk rumah dengan beranda yang luas dan ada gazebo di dalamnya.
“Untuk apa?”
“Tidur.”
Anak itu hanya mengangguk-angguk. Tak berapa lama, ia digendong
ibunya. Mereka menuju rumah megah itu. Perempuan itu tertatih-tatih
menahan lapar. Langkah kakinya lemah dan gemetar. Sesampai di depan
rumah megah itu, ia baru sadar, pintu gerbang pastilah terkunci. Dan di
gazebo itu, ia tidak mungkin tidur di sana.
“Mau ke mana lagi, Bu?”
Tak ada jawaban apa pun. Perempuan itu menyeret kaki tanpa tujuan.
Entah akan ke mana ia berjalan. Sampai larut malam, ia tetap berjalan.
Lalu di sebuah toko cat yang tutup dan di sebuah ujung kekuatan
langkah kakinya, perempuan itu berhenti. Duduk dan membiarkan anaknya
berlari ke pinggir jalan yang agak sepi untuk mengambil sepotong roti
yang entah milik siapa terjatuh di sana. Roti, yang walau masih ada
bungkusnya, telah gepeng.
Anak kecil itu bahagia. Matanya memandang ibunya yang tengah
bersandar ke pintu toko. Seperti mengisyaratkan dia sedang menemukan
harta karun. Namun matanya kemudian memandang seorang lelaki yang sedang
mendorong gerobak. Ya, ia dipanggil lelaki itu.
Anak kecil itu berlari menuju gerobak. Seorang lelaki yang sudah
tidak muda tetapi juga tidak terlalu tua memberinya seplastik bakso,
lalu pergi begitu saja sambil mendorong gerobak.
Agak lama anak kecil itu memandangi langkah kaki lelaki itu. Sampai
jauh. Sampai hilang ditelan tikungan jalan. Lalu, kaki mungilnya
menghambur ke arah perempuan yang masih bersandar di emperan toko.
“Ibu?” kata anak kecil itu sambil ngos-ngosan.
“Ya.”
“Bapak yang memberi bakso tadi siapa?”
Perempuan itu hanya diam dan memandangi wajah anaknya yang semringah
sambil menenteng seplastik bakso. Kini, sepasang matanya berkaca-kaca.
(44)
Tuban, 2014-2016
– Daruz Armedian, mahasiswa
filsafat UIN Sunan Kalijaga, alumnus Kampus Fiksi, bergiat di Lesehan
Sastra Kutub Yogyakarta. Bukunya yang akan diterbitkan Penerbit
Basabasi: Sifat Baik Daun.