Daftar Blog Saya

Minggu, 11 Juni 2017

Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam


Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 28 Mei 2017)
Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar
KENING Darso berkerut melihat istrinya menggunting sehelai kain kafan dan diukurnya sesuai ukuran tubuhnya sendiri.
“Kenapa kau mengukur kain kafan itu ke tubuhmu?” Pertanyaan suaminya cuma dibalas dengan senyuman oleh Simar. Darso semakin tidak mengerti dengan tingkah pola istrinya karena besok mereka akan berangkat umrah. Tetapi, kenapa sang istri sibuk mengurus kain putih pembungkus jenazah itu. Pikiran Darso tak mampu menjangkau cara berpikir istrinya yang usianya hanya lebih muda dua tahun darinya
“Aku mau basuh kain kafan ini dengan air zamzam,” kata Simar kepada suaminya begitu selesai mengukur kain kafan untuk tubuhnya sendiri. Darso terkejut mendengar ucapan istrinya itu dan membuatnya langsung mengatur napas. Laki-laki yang baru dua tahun menikahinya itu langsung berpikir yang macam-macam soal istrinya. Tiba-tiba saja ia seperti diajak untuk membayangkan kematian istrinya yang terasa sebentar lagi.
“Seolah-olah kau akan segera mati setelah ini. Sementara kita tak tahu kapan mati. Kau membuatku cemas,” Darso merasa ada sesuatu yang ganjil di dadanya. Suara jantung yang tak wajar. Namun ia buru-buru beristigfar. Perasaan ini tak lebih dari rasa takut akan kehilangan perempuan yang teramat ia cintai. Hal ini terlihat dari mata Darso yang menampung genangan air di ceruk matanya yang dalam.
“Kematian sesuatu yang niscaya. Karena kita tak tahu kapan mati. Maka tak salah jika kita mempersiapkannya.” Simar mengucapkannya ringan, disusul senyum mengembang dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa pagi itu ingin sekali menyiapkan kain kafan untuk dibasuh dengan air zamzam ketika tiba di Mekah nanti. Tetapi, satu hal yang tak sanggup ia mungkiri adalah bahwa Izrail akan datang kapan saja dan tanpa ia sadari kapan malaikat itu akan menarik nyawa satu-satunya yang dimiliki. Mungkin, karena inilah ia punya nyali mempersiapkan kematiannya sendiri.
Suaminya pun mulai waswas melihat gelagat Simar yang menampakkan tanda-tanda menjelang ajal. Darso lebih dibuat tercengang lagi saat lelaki kurus berwajah teduh itu mengetahui sang istri juga sudah mempersiapkan liang lahat bagi dirinya. Tiga hari yang lalu, Simar menyuruh seorang penggali liang lahat menggalikan lubang kubur untuknya. Ia memberikan ukuran luas tanah yang harus digali dekat makam ayahnya yang meninggal dua tahun lalu, tepat saat azan Isya bergetar di udara.
Keinginan Simar untuk menyucikan sehelai kain kafan dengan air zamzam tidak didasari oleh perihal apa pun. Bukan mimpi atau bisikan gaib yang menyuruhnya. Itu dilakukannya atas hasratnya sendiri. Meskipun begitu, ia sendiri nyatanya tidak mengerti, mengapa hari itu menjelang keberangkatan umrahnya yang pertama tiba-tiba saja ia mengikuti suara nalurinya agar membawa kain kafan untuk dibasuh dengan air zamzam.
Melihat sesuatu yang ganjil dari tingkah istrinya, hati Darso dibalur cemas. Ia kerap bertanya-tanya, pertanda apa yang sedang ditunjukkan Allah ini? Pertanyaan itu ia pendam sendiri di dasar hatinya. Belakangan ini, Simar pun sering ingin bermanja-manja dalam rangkulan suaminya. Bagi Darso, ini tak biasa dilakukan istrinya. Sebab, selama menikah Simar tak semanja sekarang ini. Kalaupun istrinya ingin dimanja, tak pernah terasa berlebih seperti ini.
Ditinggal sebentar, Simar langsung merajuk. Darso merasa sangat bahagia, sebab ia merasa dengan ini betapa sejatinya sang istri sangat mencintainya, tapi di lain sisi ia merasa khawatir. Baginya, tak wajar Simar bertingkah macam itu. Gerimis halus basah di kaca jendela. Darso tak mau berpikir yang bukan-bukan soal istrinya. Ia pun beranggapan, bisa jadi tingkah Simar begitu lantaran perempuan itu tengah hamil tiga bulan.
Bulan sebulat semangka menaiki dinding langit. Dari luar jendela terdengar angin berkesiur pelan. Darso melihat istrinya yang baru saja terlelap di pangkuannya. Dengan pelan ia rebahkan kepala Simar di atas bantal. Ia pandangi pula wajah istrinya yang nampak lebih terang dari sinar bulan yang memantul di bibir jendela. Ia mencium kening Simar sesaat sebelum ia coba memejamkan matanya di sisi istrinya tersebut.
Darso tak ingin liang kubur yang disiapkan Simar adalah pertanda datangnya ajal yang diisyaratkan alam kepadanya. Karena jika hal itu benar-benar terjadi, Darso tak tahu lagi apa yang mesti diperbuat. Walaupun begitu, Darso juga sadar sesadar-sadarnya bahwa betapa kematian sejatinya akan menghampiri siapa pun yang bernapas. Oleh karena itu, ia berusaha meyakinkan dirinya kelak jika Simar benar akan meninggal sepulang dari umrah atau setelah melahirkan anak satu-satunya, Darso akan menerima selapang-lapangnya. Meski pada hari itu mungkin dadanya akan terbelah dan air matanya akan mengucur.
Dengan susah payah Darso berusaha memejamkan matanya yang sedari tadi seolah tak bisa dikatupkan sebab selalu dibayangi oleh ucapan Simar perihal kematian. Darso jadi ingat pada gurunya, Kiai Misbah, seorang pengasuh pesantren di Madura. Dulu, Kiai Misbah melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Simar kali ini. Kepada santrinya, Kiai Misbah meminta digalikan kubur di dekat istrinya yang lebih dulu meninggalkannya. Dan benar saja, tiga hari setelah lubang kubur itu digali Kiai Misbah menghembuskan napas terakhirnya saat ia sedang salat, mengimami santri-santrinya di masjid. Ia tak bangun-bangun dari sujudnya.
“Begitulah manusia pilihan. Setidaknya, ia bisa membaca pertanda yang disuguhkan Allah kepadanya sehingga bisa dipersiapkan kematiannya sendiri.” Darso ingat ucapan ini dilontarkan oleh salah seorang pelayat yang menghadiri pemakaman Kiai Misbah. Mengingat kejadian itu, Darso jadi menerka-nerka. Apa Simar termasuk manusia yang dipilih Tuhan untuk mengetahui pertanda kematiannya sendiri? Sesaat kemudian, ia baru bisa memejamkan matanya setelah kegelisahan di dadanya mulai menghilang sedikit demi sedikit.
***
KEDATANGAN Simar beserta sang suami dari Tanah Suci disambut sukacita oleh keluarga dan tetangga dekat. Wajah Darso tidak terlihat seperti biasanya. Wajah lelaki itu kian menakjubkan. Tetapi, wajah Simar tak kalah menakjubkan pula. Keduanya sudah membasuh wajahnya dengan air zamzam. Kerabat yang datang banyak bertanya soal Kabah, Masjid Nabawi, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tanah Suci. Namun di sela-sela perbincangan itu, secara tiba-tiba Simar berujar. “Aku pun sudah membasuh kain kafan ini dengan air zamzam. Sebentar lagi akan kupakai kain ini.” Sontak semua mata tertuju padanya. Darso berusaha menahan degup jantung yang secara tiba-tiba pula seperti akan lepas dari tangkainya. Sejenak di ruang tamu itu hanya detak jam yang terdengar morat-marit di atas dinding.
“Apa maksud ucapanmu itu Simar?” Wajah serius yang ditampilkan Simar membuat salah seorang tetangga yang ikut menyambut kedatangannya jadi bertanya sekaligus merasa terkejut.
“Semua orang kelak pada saat kematiannya pasti akan pakai kain kafan. Ini dibasuhnya biar berkah.” Darso mendahului jawaban yang akan dikatakan istrinya. Lelaki itu cuma tak ingin apa yang kerap dilontarkan Simar perihal kematiannya selama ini diketahui banyak orang. Cukup dia yang menanggung waswas jika apa yang diucapkan Simar selama ini benar-benar jadi nyata.
Satu hal lagi yang diinginkan Darso. Simar tak benar-benar jadi meninggal secepat ini. Meski lubang kubur telah digali dan kain kafan sudah dibasuh tiga kali dengan air zamzam, Darso mengharap tak akan terjadi apa-apa dengan istrinya, terlebih Simar sedang mengandung anak pertamanya. Dengan doa-doa yang kerap dipanjatkan Darso agar dipanjangkan umur istrinya, ia yakin Simar akan terus menemaninya hingga usia senja. Darso, yang berencana memiliki tiga anak, tentu tak ingin Simar dijemput Izrail secepat ini. Tiap malam, doa yang dipinta Darso kepada Tuhan cuma satu, yaitu dipanjangkan umur sang istri dan tak jadi nyata ucapan istrinya yang selalu bilang akan meninggal sesegera itu.
Tapi, setelah Simar melahirkan anak laki-laki, kepada Darso ia bilang agar kain kafan yang disimpannya di dalam lemari diambil dan dibungkuskan ke tubuhnya. Laki-laki itu tercengang bukan kepalang. Ia masih menggendong bayi laki-laki yang wajahnya sama persis dengan Darso, cuma hidungnya yang mancung mirip dengan Simar. Darso memandang wajah istrinya tanpa berkedip. Ia tahu ada yang ganjil dari wajah sang istri. Wajah itu tak lagi semringah. Pada detik kesekian Simar meninggalkan anak dan suaminya. Tangan Darso mengusap wajah istrinya, disusul derai air mata yang jatuh ke lantai.
Kain kafan yang sudah dibasuh air zamzam itu diambil oleh Darso. Ada tulisan kullu nafsin dzaiqatul maut yang ditulis pada selembar kertas di dalam sehelai kain putih itu. Darso tahu, jauh-jauh hari Simar memang sudah mempersiapkan kematiannya itu. Walaupun doa yang dipanjatkan Darso tak terkabul, ia yakin seyakin-yakinnya bahwa cuma Allah yang mengetahui rahasia di balik peristiwa ini.
Jenazah akan dikebumikan nanti sore selepas salat Asar. Liang kubur yang sudah digali beberapa bulan lalu digali lagi karena tertimbun tanah. Warga yang datang melayat sungguh tak pernah terduga akan sebanyak itu. Darso sendiri merasa paling cuma sebagian warga yang akan ikut mengantar istrinya ke pembaringan terakhir. Darso bukan siapa-siapa. Bukan ustaz, apalagi kiai. Itulah mengapa ia berpikiran semacam itu.
“Cuma manusia yang dekat dengan Tuhannya yang sanggup mempersiapkan kematiannya sendiri dan mengetahui tanda kematiannya,” kata salah satu pelayat yang ikut menggotong keranda ke pemakaman. Saat jazad Simar dibaringkan di liang kubur, kain kafan itu menebarkan wewangian. Wanginya sangat lembut. Tak pernah ada wewangian sewangi dan selembut itu. Darso tersenyum di dekat pusara. Ia cuma menduga-duga bahwa itu pertanda amal baik sang istri. Bunga-bunga ditabur di atas pusara. Tinggal Darso seorang diri di dekat pusara sedang menyiramkan air zamzam pada kubur sang istri seraya mengecup ujung batu nisannya.

Anne Ahira Newsletter

Think & Succeed!
----------------------------------

Tidak baik jika kita menutup-nutupi
kelemahan dan kegagalan dengan
banyak alasan. Terimalah, dan hadapilah

kegagalan itu sebagai pengalaman dan
pelajaran berharga, agar bisa jadi
pedoman dan tuntunan untuk mencapai
kemajuan dan keberhasilan yang lebih
berarti di kemudian hari.

Dear Hanihyung,

Kita tahu bahwa dunia ini selalu
berputar. Adakalanya manusia ada di
bawah, atau sebaliknya ada di atas.
Ada orang bertanya kepada saya,
bagaimana dengan kenyataan yang
sering kita lihat begitu banyak
orang-orang yang selalu di bawah?

Bukankah mereka juga tinggal di bumi
yang sama dengan orang-orang yang
mampu dan kuat berada di atas? Sering
kita lihat orang-orang yang sudah di
atas malah semakin ke atas.
Temanku, pandangan itu semua
hanyalah ironi. Kita tidak pernah
tahu apa yang terjadi pada mereka
yang sudah ada di atas. Kebanyakan
di antara kita melihat mereka yang di atas
selalu dari 'materi' atau jabatan.
Namun percayalah, setiap orang
mengalami pasang surut.
Belajarlah dari orang-orang yang
sudah ada di atas, dan orang-orang
yang berada di bawah. Jangan hanya
melihat ke atas.
Banyak pelajaran yang bisa diambil
dari keduanya, yang bisa engkau
jadikan bekal tuk menjadi pribadi
yang luhur bijaksana, sukses lahir
dan batin.

Pepatah mengatakan:

"Kebesaran seseorang tidak terlihat
ketika dia berdiri dan memberi
perintah. Kebesaran seseorang akan
terlihat ketika dia berdiri sama
tinggi dengan orang lain, dan
membantu orang lain untuk
mengeluarkan yang terbaik dari diri
mereka untuk mencapai sukses" - Prof.
G. Arthur Keough

Janganlah suka cari alasan untuk

menutupi kegagalan. Sebaliknya,
carilah terus 'cara' untuk menggapai
keberhasilan.
Salam hangat dari sahabatmu,
~ Ahira

Selasa, 06 Juni 2017

Bersabarlah

Bersabarlah…. .

Diantara hal yang sangat berat diamalkan oleh seorang muslim adalah syukur dan sabar. Sabar dan syukur juga sifat Allah karena Allah menyebut diri-Nya sebagai Yang Mahabersabar dan Mahabersyukur.
.

Saat seseorang sedang ditimpa musibah, maka orang itu bersabar atas segala cobaan tersebut. Namun setelah itu ia pun harus mengucap syukur atas nikmat yang telah Allah berikan selama itu. Karena dengan bersyukur maka Allah akan tambahkan nikmatnya. .

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim [2999] lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim
[9/241]) .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat as-Shahihah [1220]) .

Maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan nilai-nilai kesabaran ini dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadikan sabar sebagai pilar kebahagiaan kita? Sudahkah sabar mewarnai hati, lisan, dan gerak-gerik anggota badan kita? .

Allah berfirman: “Pada hari (kiamat) ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka, terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” QS. Yasin: 65 .


Senin, 05 Juni 2017

Anne Ahira Newsletter

Think & Succeed!
----------------------------------

Dear Hanihyung, temanku yang luar biasa...
Sekalipun engkau hidup berlimpahan
dan berkecukupan dana, tetaplah
hidup dengan sederhana.

Tidaklah sulit menciptakan sifat yang
baik yaitu sikap rendah hati dan
sederhana. Orang yang memiliki sikap
rendah hati selalu berusaha menjadi
pribadi yang bisa menerima orang
lain, tidak sombong, atau terlalu
memperlihatkan kelebihan-kelebihan
yang dimiliki.
Tidak usahlah kita risaukan, jika
orang lain tidak tahu apa yang kita
miliki atau seberapa tinggi kemampuan
kita melakukan segala sesuatu.
Orang lain bisa menilai 'kualitas
seseorang' hanya dengan melihat
sikap, tutur kata, dan perilaku
sehari-hari yang kita lakukan.
Dengan bersikap rendah hati, berarti
kita telah menjaga diri kita sendiri.
Dengan bersikap rendah hati, berarti
kita telah menempatkan diri di posisi
yang nyaman, tenang, damai dan
tentram.
Jika hati sudah merasa nyaman, damai
dan tentram, maka secara otomatis
Anda akan tampak bersahaja dan
bahagia.  Bukankah itu yang kita
inginkan? :-)
Marilah kita bersikap rendah hati,
dan membiasakan diri, untuk selalu
hidup sederhana...


Jumat, 02 Juni 2017

Cukuplah Allah Swt Bagiku

Bila kita tak punya harta, tak mengapa, kita punya doa... Bila kita tak punya wajah cantik/ganteng, Tak mengapa Kita doanya luar biasa... Bila kita merasa tak punya sesuatu yang menarik, Tak mengapa Doa kita menarik disisi Allah... Bahkan saat kita tak memiliki siapapun dalam hidup ini, Tak mengapa, Ada Allah, Allah cukup untuk kita... Allah lah sebaik-baik penolong dan pelindung kita... Selama masih Ada Allah, Selama dekat dengan Allah, Apapun bisa Allah berikan untuk kita, Tetaplah meminta kepada Allah, Jangan berputus asa dari rahmat Allah... Siapa lagi yang mampu mengabulkan segala doa kalau bukan Allah?

Bila kita tak punya harta, tak mengapa,
kita punya doa...
Bila kita tak punya wajah cantik/ganteng,
Tak mengapa 
Kita doanya luar biasa...
Bila kita merasa tak punya sesuatu yang menarik,
Tak mengapa
Doa kita menarik disisi Allah...
Bahkan saat kita tak memiliki siapapun dalam hidup ini,
Tak mengapa,
Ada Allah, Allah cukup untuk kita...
Allah lah sebaik-baik penolong dan pelindung kita...
Selama masih Ada Allah,
Selama dekat dengan Allah,
Apapun bisa Allah berikan untuk kita,
Tetaplah meminta kepada Allah,
Jangan berputus asa dari rahmat Allah...
Siapa lagi yang mampu mengabulkan segala doa kalau bukan Allah?!
-murnisetya-
.
@murnisetya_ 
#duniajilbab
#murnisetya_
#muslimahbicara #catatancintamuslimah #calonumishalehah #muslimahberdakwah

Ku Jaga Takdirku Bersamamu

Kebahagiaan yang tak lelah selalu aku pinta padaNya Kesedihan yang selalu setia menjadi teman dalam penantian Serta mimpi mimpi bahagiaku sebagai seorang wanita Perlahan mulai aku dapati Ya... Sedikit demi sedikit.. Meski liku sempat membuatku hampir putus asa Ya Allahku Malam ini Hari ini Doa ku aku terbangkan tentang takdir yang sama seperti kemarin Terimakasih untuk sebuah titipan ketetapan yang indah ini Percayalah Aku tak kan membuatnya menangis karenaku Ya Allahku Sosok yang selalu aku beranikan untuk aku ceritakan Kau hadirkan dalam kisah nyataku Kau sematkan rasa itu Kau wujudkan kesempatan itu Kumohon,bantu kami menjaga takdir ini bersama Kumohon,cukuplah kami yang beradu didalamnya Sebab sungguh Aku tak sanggup jika harus ada aku yang lainnya lagi Engkau pasti lebih tahu ya Allahku Bahwa rintangan yang menyertai takdirku tidaklah sedikit dan akan tetap dalam kadar yang tak diharapkan Tak apa, Sebab aku yakin Ia mengerti akanMu Tak apa, Sebab aku yakin Kau lebih tahu bagaimana menguatkan kasih antara aku dan dirinya Dan untukmu angin Setialah sepertiku diujung sana ya.. Keras kepala lah selalu dalam menyayangi dan menasehatiku Tenanglah Doaku tak henti aku terbangkan untuk cinta kita Agar cinta ini Takdir ini Kisah ini Perjuangan ini Berakhir dengan cara mulia dan bahagia Bertahan dengan kasih sayang dan kesetiaan Pun ini adalah proposal kecilku tentang kita untukNya Angin... Baik baiklah disana ya... . Dan benar Ku Jaga Takdirku Bersamamu

Rasa Ini

Rasa ini hadir sebelum ikatan halal, bukan berarti Allaah memerintahkan untuk memilih jalan yg dimurkaiNya (mendekati zina--pacaran). . Rasa ini hadir untuk menguji keimanan diri ini. Sejauh mana iman ini mampu mengalahkan rasa yg selalu dihembuskan syaiton atas nama cinta suci maupun cinta sejati. Bukankah jika cinta itu memuliakan? . Rasa ini kelak dimintai pertanggung jawabannya. Apa yg telah diperbuat dengan rasa ini? Memilih menahan atau melampiaskan? Memilih jalan yg diridhaiNya atau yg dimurkaiNya? . Hingga sampai tiba saatnya, rasa ini, biarlah tetaplah mulia dengan menjaga dan doa. . Bukankah menjaga akan memuliakan rasa ini? Bukankah dengan doa, mampu mengetuk pintu langit ketujuh hingga mengguncang ArsyNya? . Iya, rasa ini, penjagaan dan doa ini, akan terjawab di waktu yg tepat. Akan terbayar dgn baik ataupun terganti dgn lebih baik. . Kelak, cinta ini bisa kupertanggung jawabkan di hadapanNya... dengan memilih jalan yg diridhaiNya. . .