Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Shalat tahajud emang luar biasa
efeknya, selain membuat kamu dekat dengan ALLAH, membuat tubuh sehat juga dapat
melancarkan rezeki. Waktu yang tepat untuk shalat tahajud adalah di sepertiga
malam terakhir setelah kamu tidur terlebih dahulu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika kalian tidur, syetan
membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan,
“Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah,
lepaslah satu ikatan.
Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia
mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir.
Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti
ini, jiwanya jadi kotor dan malas.” (HR. Al Bukhari)
Hubungan hadist diatas dengan rezeki adalah jika kamu mempunyai semangat dan
hatimu bergembira tentu otak akan berpikir jernih dan lancar, kreatifitas
muncul, ide muncul, hal ini lah yang akan mendatangkan rezeki buat kamu.
Prof. Dr. K.H. Didin Hafiduddin, M.Sc membuktikan, salah satu keajaiban shalat
tahajud adalah Allah melapangkan rezekinya. “Kita harus yakin bahwa Allah
SWT akan mempermudah hamba-hamba-Nya yang selalu ingin dekat
dengan-Nya,” tegas beliau
Ketika engkau remaja, duhai ukhti, telah terekam kuat dalam benakmu untuk
meneruskan perjuangan para syuhada. Bahkan engkau biarkan ragamu menjadi martir
demi menegakkan kalimat tauhid di tanah kiblat pertama muslim sedunia.
Astaghfirrulloh, ukhti.. teman-teman remaja di tanah pertiwi malah sibuk
bergonta-ganti pasangan demi menamai diri sebagai orang modern yang menyerap
tradisi barat.
Ketika engkau ngefans dengan para syuhada, engkau mengenali tokoh-tokoh jihad
yang senantiasa memperjuangkan keesaan Allah SWT, yaa ukhti. Kupandangi
teman-teman remaja di tanah air asyik mengoleksi foto penyanyi, aktor, dan
idola mereka, yang dengan sadar mereka turut menghadiahkan peluru-peluru
buatmu, ukhti. Karena kaum kuffar sengaja menerbitkan artis idola dengan
mendulang dana di setiap acara konser megahnya.
Aku malu padamu, ukhti..Tatkala kalimat Laa ilaha illAllah senantiasa engkau
teguhkan hingga nafas penghabisan, senyummu merekah meski tubuh berdarah-darah,
semangatmu tetap hadir meski peluru-peluru bersemayam dalam raga, perjuanganmu
kian kokoh meski obat-obatan telah habis stoknya, pengorbananmu tiada berhenti
meski hanya sekejap mata, sungguh malu diri ini yaa ukhti! Maafkan aku, yaa
ukhti.
Kini, aku kian malu pada Robb kita, Sang pelindung dan pemelihara semesta,
karena dialog kita waktu itu amat menusuk nuraniku.
Ketika ditanya :
"Kenapa pakai jilbab saat tidur?
Dan kau menjawab :
"Kalau rumah saya di bom, mereka akan menemukan mayat saya masih menutup
aurat." Allahu Akbar.
Aku malu padamu, ukhti..
Kau tetap memperjuangkan kehormatanmu sebagai seorang muslimah. Kau tetap
penuhi perintah Allah. Namun disaat yang bersamaan pula teman-teman remaja di
tanah air sedang terlena oleh perkembangan fasion dunia yang menampakkan aurat
dan mengundang adzab-Nya.
Aku malu padamu, Ukhti. Dan aku lebih malu lagi jika masih belum berubah. .
Ketika Nabi Sulaiman AS tengah berbaring, ada seekor semut berjalan di dadanya.
Kemudian ia ambil semut itu dan dilemparnya jauh.
Dengan marah, semut itu berkata, Wahai Nabi Allah, mengapa kau lempar aku
begitu keras? ucap semut dengan nada tinggi. Apakah kamu lupa pada hari kiamat
nanti kamu akan berdiri di hapanan Pencipta segala kerajaan, yaitu Tuhan langit
dan bumi, yang Maha Adil, yang mengambil hak orang yang dizalimi dari orang
yang menzaliminya? lanjutnya.
Mendengar kata-kata dari semut itu, Nabi Sulaiman AS pingsan. Selang beberapa
saat Nabi Sulaiman AS siuman. Maafkanlah sikap zalimku terhadapmu tadi. Ucap
Nabi Sulaiman AS sambil memandang kearah semut. Aku akan memaafkan perbuatanmu
tadi dengan tiga syarat. Jawab semut. Sebutkan ketiga persyaratanmu tersebut!
ujar Nabi Sulaiman AS dengan sungguh-sungguh.
Baiklah! Syarat pertama bagimu, jangan kau tolak orang yang meminta kepadamu.
Sesungguhnya orang yang meminta kepadamu adalah sedang meminta karunia Allah,
maka janganlah sampai kamu cegah karunia Allah kepada makhlukNya. Ucap semut. .
Sedangkan syarat yang kedua, jangan tertawa berlebih-lebihan sehingga kamu
terlena dengan dunia dan menyangka bahwa kamu telah menjalani semua tugasmu
dengan baik di dunia ini, sehingga hatimu menjadi keras, sedangkan kamu telah
dimuliakan Allah dengan diberikan kerajaan yang besar. Tambahnya. .
Dan yang terakhir, jangan sampai kedudukanmu ini mengahalangimu untuk menolong
orang yang meminta pertolonganmu. Pungkas semut. Insya Allah, semua
persyaratanmu itu akan aku jalani. Jawab Nabi Sulaiman AS dengan sepenuh hati.
Jika begitu aku maafkan kau. Ujar semut membalas perkataan Nabi Sulaiman AS.
Kenapa
kau diberi kesulitan?
Karena Allah ingin memberimu kemudahan di masa depan.
Kenapa kau diberi kesedihan?
Karena Allah ingin memberimu kesenangan di akhirat nanti.
Kenapa kau diberi musibah?
Karena Allah ingin agar kau lebih dekat kepada-Nya.
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah;
dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk
kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
[At-Taghaabun: 11]
jika kau diberi musibah, kesedihan, atau kesulitan, itu tandanya Allah masih
peduli dan masih sayang kepadamu.
Jika Ia tidak sayang, Ia akan membiarkanmu bergelimang dalam dosa dan
kesombongan.
Jika Ia tidak peduli, Ia akan membiarkanmu larut dalam keburukan dan kezaliman.
Dengan kesedihanmu, sebenarnya Allah ingin menghapus dosa-dosamu.
Dengan musibah yang kau alami, Allah sebenarnya ingin memberimu pahala yang
sangat besar.
Lolong Kematian ilustrasi Bayu Wardhana/Kompas
Tangis, mungkin lebih tepat sebagai lolongan putriku tidak berhenti
kendati pun kami sudah berusaha membujuknya untuk mencarikan seekor anak
ayam, pengganti ayam peliharaannya yang mati dengan leher patah. “Itu
bukan patah, tapi digigit binatang dan patah,” katanya bersikeras
menuduh jika tidak kucing, anjing, tikus bahkan juga musang yang sering
berkeliaran di sekitar tempat tinggal kami, penyebab kematian ayam
peliharaannya. Tikus dan musang, tentu saja pilihan paling aman. Menuduh
kucing atau anjing persoalannya jadi lain. Karena hanya tetanga dan
sekaligus kerabat kami yang memelihara kucing. Sementara anjing, itu
punya pak RT. Berperkara dengan Pak RT atau Tante Han, pasti jauh lebih
rumit daripada sekadar mencarikan ayam pengganti.
Anak kami menepis tikus atau musang sebagai penyebab kematian ayam
kesayangannya. “Mana mungkin musang atau tikus mengejar ayam di siang
hari,” ujarnya sambil terisak-isak. “Sudah jelas ayam Deniza digigit
anjing atau kalau enggak kucing,” ujarnya. “Papa takut sama Pak RT dan
Tante Han,” teriaknya. Coba periksa anjing Pak RT atau kucing Tante Han,
pasti akan ketahuan penyebab kematian putri,” tambahnya merujuk nama
ayam kesayangannya.
Istriku yang pura-pura tidak mendengar dan langsung masuk kamar.
Deniza semakin terisak. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Persoalan
kematian ayam peliharaan, harusnya bukan masalah pelik, tapi karena
Deniza gampang menangis dan tangisannya lebih sebagai lolongan,
masalahnya jadi rumit. Setiap persoalan apalagi disertai lolongan anak
kami, bisa menjadi masalah keluarga besar, karena rumah kami hanya
berbatas dinding dengan Tante Han. Dengan WA grup keluarga, jarum jatuh
suaranya bisa kedengaran sampai ribuan mil. Tidak heran, lima menit
setelah Deniza menangis istriku langsung berkata: “Sudah diam, nanti
kita belikan ayam pengganti,” ujarnya setengah berteriak. “Masalah ayam
mati saja bisa ribut seluruh dunia,” tambahnya, tanpa menghiraukan wajah
kami yang kebingungan dan anakku yang langsung terdiam.
Dan persoalan kematian ayam Deniza menjadi topik WA hampir seminggu
lamanya. Tante Han menegaskan kucingnya tidak ada sangkut-pautnya dengan
kematian ayam Deniza. “Emangnya hanya kami saja yang memelihara kucing
di sekitar sini,” tulisnya. Sebagai istri almarhum Om kami, tentu saja
tidak ada yang berani menanggapi WA Tante Han. Masalah kematian ayam
kesayangan Deniza pun tertiup berbagai isu hangat seperti pilkada,
rencana perkawinan anak Tante Mia dan juga kondisi Om Ridwan, adik
almarhum ibu kami yang semakin parah sesudah terkena stroke.
Tidak lama anak kami sudah bermain-main dengan ayam kesayangannya
yang baru, seekor bekisar jantan muda pemberian pamannya. Ayam yang
belum kelihatan jengger dan tajinya itu segera memenuhi kehidupan
Deniza. Kamarnya yang penuh dengan buku dan majalah berserakan, semakin
berantakan dengan bekisar 5 bulan mondar-mandir di ruangan selalu
tertutup, dengan AC yang terus menyala. Istriku hanya menggerutu karena
tidak bisa masuk ke kamar Deniza yang sesekali keluar mengambil butiran
beras.
Tentu saja tidak lama untuk menunggu istriku berteriak ketika ia
masuk ke kamar Deniza yang seperti kapal pecah dan seprainya dipenuhi
kotoran bekisar. Terdengar suara Deniza memprotes mamanya yang
berteriak-teriak meluapkan kemarahannya: “Mama kok harus teriak-teriak,
kalau marah,” ujarnya setengah menggerutu dan berbisik: “Terang saja
Tante Han selalu tahu apa yang terjadi, habisnya Mama selalu berteriak.”
Diskusi mengenai ayam bekisar segera memenuhi WA keluarga kami dengan
postingan Tante Han tentang perlunya sangkar untuk memelihara dan
merawat ayam bekisar. Besoknya Om Randy, sepupu Tante Han, datang
membawa sangkar yang langsung dipasang dekat pohon sawo yang berbatasan
dengan pagar Tante Han. Deniza setiap pagi mengganti air dan makanan
bekisar yang sesekali mencampurnya dengan belalang dan capung.
Tiga bulan setelah itu ayam peliharaan Deniza melantunkan kokok
pertamanya yang membangunkan seisi rumah. Seharian anak kami bermain
dengan bekisarnya yang selalu berkokok setelah menelan habis capung dan
belalang yang disuapkan Deniza. Kokok bekisar tidak pelak lagi menarik
perhatian lingkungan kecil, dan mengundang Pak RT serta anak-anak yang
biasanya main bola di jalan depan rumah kami. Mereka mengerubuti sangkar
bekisar dan sesekali anjing Pak RT melolong mengikuti kokok bekisar.
WA keluarga kami langsung dipenuhi diskusi soal bekisar. Kicauan atau
lebih tepatnya komplain Tante Han karena bekisar Deniza tidak berhenti
berkokok, entah kenapa disambut gembira hampir seluruh keluarga. Dayat,
paman Deniza, memosting betapa spesial dan mahalnya harga ayam bekisar
pemberiannya. Om Randy mengingatkan perlunya menjaga kebersihan sangkar
dan pentingnya bekisar dimandikan serta ditangani oleh pakar bekisar. Ia
menjanjikan untuk memberikan sangkar tambahan dan menyarankan bekisar
dimasukkan ke rumah karena jenis yang sudah berkokok dan nyaring
bunyinya menjadi incaran pencuri.
Namun, sejak diberikan sangkar tambahan, bekisar Deniza lama-lama
lebih sering menghuni kandang tambahan yang berada di belakang rumah
kami. Yayah, pembantu kami yang biasanya telaten mengurus bolak-balik
pindahnya bekisar, kelihatannya lebih suka membiarkan ayam jantan itu
bertengger di sangkar yang berada persis di pintu kamarnya. Setiap pagi,
setelah membereskan semua pekerjaan rutinnya, ia bermain dengan bekisar
dan terkadang menyemburkan air ke sekujur tubuh bekisar. Bekisar yang
mengepakkan sayap sehabis kena semburan langsung berkokok dengan
nyaringnya.
Mungkin karena lebih banyak diurus Yayah, bekisar kelihatan lebih
dekat dengan pembantu kami dibandingkan Deniza. Setiap Yayah lewat,
bekisar tidak hanya mengepak-ngepakkan sayap, juga berlompatan di
sangkar yang luasnya hanya 1,5 m2 itu. Terkadang kami melihat Yayah
menjulurkan lidah dan bekisar seakan meneguk air ludah dari mulut Yayah.
Deniza yang melihatnya hanya diam, dan mungkin itu menyebabkan ia
semakin jarang mengurus bekisar. Ujian dan berbagai kegiatan sekolah
juga semakin menyita waktu anak kami, sehingga bekisar seakan-akan sudah
menjadi milik Yayah.
Perubahan yang juga mulai menarik perhatian kami adalah batuk Yayah.
Hampir setiap pagi batuknya bersaing dengan kokok bekisar, membangunkan
seisi rumah. Selain itu badannya yang tadinya tinggi besar, lambat laun
kelihatan mengurus. Yayah juga semakin membatasi gerak dan kegiatannya.
Sesudah memasak, ia sering membiarkan peralatan dapur berantakan. Iyah,
pembantu kami yang lebih muda dan hanya bertanggung jawab membersihkan
rumah sering mengomel, membereskan peralatan dapur yang dibiarkan Yayah.
Tapi entah kenapa Yayah tidak pernah lepas dari bekisar, kendatipun
batuknya menyebabkan bekisar tampak sering menghindar. Ia seolah takut
kehilangan bekisar, dan bahkan tidak mempedulikan peringatan Deniza
bahwa terlalu dekat dengan unggas seperti bekisar juga tidak baik bagi
kesehatan. ”Dek, Dek kamu tahu apa tentang bekisar. Mbak Yayah dari
kecil sudah memelihara bekisar. Asal dirawat dan dijaga kebersihan
kandangnya, bekisar tidak gampang terkena penyakit,” tambahnya.
Seperti biasa, jika kalah berargumentasi, Deniza mengadu menyatakan
bahwa perkembangan kesehatan pembantu kami sebetulnya cukup
mengkhawatirkan. Ia bahkan memintaku untuk membawa Yayah ke dokter.
“Bisa jadi Mbak Yayah terkena flu burung,” tegasnya.
Tante Han di grup WA keluarga kami juga memosting maraknya penyebaran
flu burung dan bahayanya memelihara unggas. Sepupu-sepupu kami yang
dokter juga menyarankan untuk memindahkan bekisar kami keluar rumah,
kembali ke sangkarnya semula, serta juga memeriksakan Yayah ke dokter.
Mereka bahkan menyatakan bahwa petugas kesehatan sudah meminta agar
unggas peliharaan dimusnahkan karena penyebaran flu burung sudah dalam
tingkat yang mengkhawatirkan.
Tanpa menunggu diskusi di WA grup memanas, kami menyatakan akan
segera memindahkan bekisar kembali ke sangkarnya di luar dan juga
memeriksakan Yayah ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa pembantu kami
segera meminta Yayah dicek ke lab dan tidak lama kemudian menyarankan
agar ia menjalani operasi pengangkatan payudara. Menurut dia, pembantu
kami terkena kanker payudara, dan jika tidak dioperasi diperkirakan akan
segera menjalar ke anggota tubuh yang lain.
Anehnya Yayah seakan bangga bahwa ia tidak terjangkit flu burung.
Setengah berteriak ia menegaskan kepada Deniza bahwa batuknya tidak ada
kaitan dengan flu burung. “Benerkan Dek, Mbak Yayah tidak terkena flu
burung.”
Kendatipun Yayah tidak memperlihatkan seperti seorang yang terjangkit
penyakit serius, kami terus memantau perkembangan kondisinya serta
langkah-langkah yang disarankan rumah sakit untuk pengangkatan
payudaranya. Namun, setiap kami menyatakan bahwa ia harus siap-siap
operasi pengangkatan payudara, Yayah seolah tidak memperhatikannya.
Bahkan ia pernah menyatakan jika pun harus operasi ia memilih untuk
melakukannya di Yogyakarta, kampung halamannya, didampingi anak serta
saudara-saudaranya. “Biar anak saya yang ngurus, mosok Ibu dan Bapak yang ngurusin saya,” tegasnya.
Anehnya semakin hari kondisi Yayah kelihatan semakin membaik.
Batuknya perlahan menghilang dan selera makannya meningkat seiring berat
badannya. Hubungannya dengan bekisar Deniza semakin kental. Hampir
tidak ada waktu berlalu Yayah tanpa bekisar. Mungkin karena sudah tidak
batuk lagi, bekisar diam saja setiap dipeluk dan dikepit Yayah. Bekisar
peliharaan anak kami bahkan lebih banyak berada di kamar Yayah daripada
di sangkarnya. Kami semua seolah sudah lupa dengan penyakit Yayah,
sampai ketika ia pamitan minta pulang ke Yogya. Ia hanya menjawab
singkat ketika ditanya Deniza kenapa ia tiba-tiba pulang ke Yogya: “Mbak
Yayah mau lihat cucu yang baru lahir Dek.”
Tidak ada yang luar biasa dengan kepulangan Yayah. Sampai sepupu kami
menelepon bahwa Yayah minggu lalu meninggal setelah operasi
pengangkatan payudara dan dimakamkan di Yogya. Deniza separuh histeris
dan setengah melolong menangisi kematian Yayah. Ia berkali-kali
menyalahkan kami tidak serius mengobati penyakit Yayah. “Papa hanya
memikirkan uang tanpa memperdulikan kesehatan Mbak Yayah,” ujarnya
separuh menangis. Penjelasan bahwa kami sudah menyiapkan semuanya,
termasuk biaya operasi Yayah hanya disambut Deniza dengan separuh
mencibir.
Sejak kematian Yayah, bekisar peliharaan Deniza kehilangan
kegembiraan. Ia tidak pernah berkokok lagi dan suaranya semakin aneh
seolah-olah tercekik dan lalu terhenti. Kokokan pendek dengan suara
hampir tercekik semakin sering terdengar. Bekisar anak kami itu juga
kehilangan selera makan. Belalang dan capung yang disuapkan Deniza tidak
disentuhnya. Upaya Deniza untuk membangkitkan semangat bekisar
peliharaan dengan menyemburkan air berkali-kali ke badannya hanya
membuat bekisar semakin menekuk kepala dan mengasingkan diri ke sudut
sangkar.
Perdebatan di WA keluarga soal bekisar dan kaitannya dengan
kemungkinan meninggalnya Yayah semakin memanas. Tante Han mengancam akan
memanggil petugas kesehatan agar bekisar kami dimusnahkan karena
dicurigai terjangkit flu burung dan menjadi salah satu penyebab
meninggalnya pembantu kami. Semua orang yang tadinya sangat senang
dengan kehadiran bekisar bungkam dengan ancaman Tante Han yang akan
memanggil petugas kesehatan agar anak ayam peliharaan anak kami
dimusnahkan. Perdebatan terhenti ketika petugas kesehatan menyita
bekisar bersama dengan burung-burung peliharaan Tante Han. “Burung tidak
kalah bahayanya dengan ayam bekisar sebagai hewan pembawa virus flu
burung,” sergah petugas kesehatan ketika Tante Han bersikeras agar
burung peliharaannya tidak disita.
Sejak burung-burung peliharaannya disita, kami sering melihat Tante
Han bermain-main di depan sangkar burung peliharaannya yang telah
kosong. Sesekali ia terdengar menggumamkan nama Yayah, seolah-olah
sedang berbicara dengan mendiang pembantu kami. Ketika ada yang
menanyakan bagaimana kabar Tante Han dan benarkah beliau sekarang suka
berkomunikasi dengan Yayah, Tante Han mengamuk dan meng-unfriend
semua anggota grup serta keluar dari WA grup. Sejak itu komunikasi kami
dengan Tante Han terputus, sampai beliau dibawa ke rumah sakit terkena
stroke dan tidak lama kemudian meninggal. Ketika muncul postingan di WA
bahwa kemungkinan kematian Yayah dan Tante Han terkait dengan ayam
bekisar Deniza, diikuti kemudian postingan lainnya, kami mengikuti jejak
Tante Han, meng-unfriend semua anggota keluarga dan keluar dari WA grup.
Des Alwi adalah lulusan FISIP UI (1985) dan
School of Humanities, Asia Research Centre, Murdoch University, yang
kini bekerja di KBRI Roma. Cerpen pertamanya dimuat di majalah SMA II
Padang (1978) dan cerpen keduanya, Ms. Watson, dimuat di Kompas pada 2014 dan masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas 2015.
"Siapapun yang bergosip padamu, akan bergosip tentang dirimu"- Pepatah Spanyol
Dear Hanihyung,
Anda pasti pernah mendengar pepatah
ini; bahwa orang-orang besar senang
berbicara tentang ide-ide, sementara
orang biasa-biasa suka berbicara
tentang diri mereka sendiri dan
orang-orang kecil suka berbicara
tentang orang lain.
Itulah gosip. Gosip membuat orang
menjadi kecil. Tidak ada sesuatu yang
bisa ditawarkan dalam gosip. Gosip
hanya mengurangi kredibilitas orang
membicarakan dan yang dibicarakan
serta bisa menghancurkan orang yang mendengarkan.
Berhenti menyebarkan gosip dan
menjadi penerima gosip. Jika Anda
menghentikan gosip yang diteruskan
hanya sampai pada Anda, Anda akan
memperbaiki kehidupan orang lain dan
diri Anda lebih baik lagi.
Lagipula, orang yang menceritakan
gosip pada kita, biasanya akan
menggosipkan kita juga. Orang yang memiliki integritas tidak suka mengumbar omongan tentang orang lain di belakangnya. Jika memiliki
masalah dengan seseorang, ia lebih
baik mendatangi orang tersebut dan
membicarakan masalahnya, tidak pernah
melalui orang ketiga.
Mereka juga akan memuji orang secara
terbuka dan mengkritik orang secara
pribadi.
Jika Anda adalah orang besar,
berhentilah membicarakan orang lain
dan mari membicarakan ide-ide besar
yang bisa mengubah dunia! :-) Anne Ahira
“Jika
kau merasa bahwa segala di sekitarmu gelap, tidakkah kau curiga bahwa dirimulah
yang dikirim Allah untuk jadi cahaya bagi mereka?” - Salim A. Fillah
Ya.. Kita tak pernah tahu bagaimana kebaikan Allah sampai kepada kita. Kita tak
tahu, mana dari amal ibadah kita yang akan mengantarkan kita pada ridha-Nya.
Yang kita tahu, kita belum lah menjadi seorang hamba yang taat, tak banyak
ilmu, bahkan kadang rendah diri. Banyak kebaikan yang kita tahu namun berhenti
sebatas di ujung lidah tanpa menjadi kata-kata, yang barangkali adalah bakal
pintu hidayah buat seseorang.
Yang kita tahu, kita hanya menerima ilmu tanpa pernah mampu untuk memberi,
untuk berbagi. Barangkali nanti, ketika banyak keburukan mengitari, kita akan
kembali diam dan menyudutkan diri. Kita seperti mati dalam kegelapan tanpa
seorang pun mengetahui.
Maka, nasihat dari gurunda kita di atas, semoga mampu membuka mata hati. Semoga
mampu untuk menerangi sekitar kita; keluarga, teman, saudara, dan tentunya
penerang di dalam hati kita sendiri. InsyaaAllah