Daftar Blog Saya

Rabu, 17 Mei 2017

Shalat Tahajjud



Shalat tahajud emang luar biasa efeknya, selain membuat kamu dekat dengan ALLAH, membuat tubuh sehat juga dapat melancarkan rezeki. Waktu yang tepat untuk shalat tahajud adalah di sepertiga malam terakhir setelah kamu tidur terlebih dahulu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika kalian tidur, syetan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan.

Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir.

Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas.” (HR. Al Bukhari)

Hubungan hadist diatas dengan rezeki adalah jika kamu mempunyai semangat dan hatimu bergembira tentu otak akan berpikir jernih dan lancar, kreatifitas muncul, ide muncul, hal ini lah yang akan mendatangkan rezeki buat kamu.

Prof. Dr. K.H. Didin Hafiduddin, M.Sc membuktikan, salah satu keajaiban shalat tahajud adalah Allah melapangkan rezekinya. “Kita harus yakin bahwa Allah SWT akan mempermudah hamba-hamba-Nya yang selalu ingin dekat dengan-Nya,” tegas beliau


Wanita Gaza



Aku Malu Padamu, Ukhti Palestina..

Ketika engkau remaja, duhai ukhti, telah terekam kuat dalam benakmu untuk meneruskan perjuangan para syuhada. Bahkan engkau biarkan ragamu menjadi martir demi menegakkan kalimat tauhid di tanah kiblat pertama muslim sedunia. Astaghfirrulloh, ukhti.. teman-teman remaja di tanah pertiwi malah sibuk bergonta-ganti pasangan demi menamai diri sebagai orang modern yang menyerap tradisi barat.

Ketika engkau ngefans dengan para syuhada, engkau mengenali tokoh-tokoh jihad yang senantiasa memperjuangkan keesaan Allah SWT, yaa ukhti. Kupandangi teman-teman remaja di tanah air asyik mengoleksi foto penyanyi, aktor, dan idola mereka, yang dengan sadar mereka turut menghadiahkan peluru-peluru buatmu, ukhti. Karena kaum kuffar sengaja menerbitkan artis idola dengan mendulang dana di setiap acara konser megahnya.

Aku malu padamu, ukhti..Tatkala kalimat Laa ilaha illAllah senantiasa engkau teguhkan hingga nafas penghabisan, senyummu merekah meski tubuh berdarah-darah, semangatmu tetap hadir meski peluru-peluru bersemayam dalam raga, perjuanganmu kian kokoh meski obat-obatan telah habis stoknya, pengorbananmu tiada berhenti meski hanya sekejap mata, sungguh malu diri ini yaa ukhti! Maafkan aku, yaa ukhti.

Kini, aku kian malu pada Robb kita, Sang pelindung dan pemelihara semesta, karena dialog kita waktu itu amat menusuk nuraniku.

Ketika ditanya :
"Kenapa pakai jilbab saat tidur?

Dan kau menjawab :
"Kalau rumah saya di bom, mereka akan menemukan mayat saya masih menutup aurat." Allahu Akbar.

Aku malu padamu, ukhti..
Kau tetap memperjuangkan kehormatanmu sebagai seorang muslimah. Kau tetap penuhi perintah Allah. Namun disaat yang bersamaan pula teman-teman remaja di tanah air sedang terlena oleh perkembangan fasion dunia yang menampakkan aurat dan mengundang adzab-Nya.

Aku malu padamu, Ukhti. Dan aku lebih malu lagi jika masih belum berubah. .


Semut



Nasehat Seekor Semut Kepada Nabi Sulaiman AS

Ketika Nabi Sulaiman AS tengah berbaring, ada seekor semut berjalan di dadanya. Kemudian ia ambil semut itu dan dilemparnya jauh.

Dengan marah, semut itu berkata, Wahai Nabi Allah, mengapa kau lempar aku begitu keras? ucap semut dengan nada tinggi. Apakah kamu lupa pada hari kiamat nanti kamu akan berdiri di hapanan Pencipta segala kerajaan, yaitu Tuhan langit dan bumi, yang Maha Adil, yang mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya? lanjutnya.

Mendengar kata-kata dari semut itu, Nabi Sulaiman AS pingsan. Selang beberapa saat Nabi Sulaiman AS siuman. Maafkanlah sikap zalimku terhadapmu tadi. Ucap Nabi Sulaiman AS sambil memandang kearah semut. Aku akan memaafkan perbuatanmu tadi dengan tiga syarat. Jawab semut. Sebutkan ketiga persyaratanmu tersebut! ujar Nabi Sulaiman AS dengan sungguh-sungguh.

Baiklah! Syarat pertama bagimu, jangan kau tolak orang yang meminta kepadamu. Sesungguhnya orang yang meminta kepadamu adalah sedang meminta karunia Allah, maka janganlah sampai kamu cegah karunia Allah kepada makhlukNya. Ucap semut. .

Sedangkan syarat yang kedua, jangan tertawa berlebih-lebihan sehingga kamu terlena dengan dunia dan menyangka bahwa kamu telah menjalani semua tugasmu dengan baik di dunia ini, sehingga hatimu menjadi keras, sedangkan kamu telah dimuliakan Allah dengan diberikan kerajaan yang besar. Tambahnya. .

Dan yang terakhir, jangan sampai kedudukanmu ini mengahalangimu untuk menolong orang yang meminta pertolonganmu. Pungkas semut. Insya Allah, semua persyaratanmu itu akan aku jalani. Jawab Nabi Sulaiman AS dengan sepenuh hati. Jika begitu aku maafkan kau. Ujar semut membalas perkataan Nabi Sulaiman AS.


Kasih Sayang Allah Swt



Kenapa kau diberi kesulitan?
Karena Allah ingin memberimu kemudahan di masa depan.

Kenapa kau diberi kesedihan?
Karena Allah ingin memberimu kesenangan di akhirat nanti.

Kenapa kau diberi musibah?
Karena Allah ingin agar kau lebih dekat kepada-Nya.

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
[At-Taghaabun: 11]

jika kau diberi musibah, kesedihan, atau kesulitan, itu tandanya Allah masih peduli dan masih sayang kepadamu.

Jika Ia tidak sayang, Ia akan membiarkanmu bergelimang dalam dosa dan kesombongan.

Jika Ia tidak peduli, Ia akan membiarkanmu larut dalam keburukan dan kezaliman.

Dengan kesedihanmu, sebenarnya Allah ingin menghapus dosa-dosamu.

Dengan musibah yang kau alami, Allah sebenarnya ingin memberimu pahala yang sangat besar.




Selasa, 16 Mei 2017

Lolong Kematian


Lolong Kematian ilustrasi Bayu Wardhana - Kompas
Lolong Kematian ilustrasi Bayu Wardhana/Kompas
Tangis, mungkin lebih tepat sebagai lolongan putriku tidak berhenti kendati pun kami sudah berusaha membujuknya untuk mencarikan seekor anak ayam, pengganti ayam peliharaannya yang mati dengan leher patah. “Itu bukan patah, tapi digigit binatang dan patah,” katanya bersikeras menuduh jika tidak kucing, anjing, tikus bahkan juga musang yang sering berkeliaran di sekitar tempat tinggal kami, penyebab kematian ayam peliharaannya. Tikus dan musang, tentu saja pilihan paling aman. Menuduh kucing atau anjing persoalannya jadi lain. Karena hanya tetanga dan sekaligus kerabat kami yang memelihara kucing. Sementara anjing, itu punya pak RT. Berperkara dengan Pak RT atau Tante Han, pasti jauh lebih rumit daripada sekadar mencarikan ayam pengganti.
Anak kami menepis tikus atau musang sebagai penyebab kematian ayam kesayangannya. “Mana mungkin musang atau tikus mengejar ayam di siang hari,” ujarnya sambil terisak-isak. “Sudah jelas ayam Deniza digigit anjing atau kalau enggak kucing,” ujarnya. “Papa takut sama Pak RT dan Tante Han,” teriaknya. Coba periksa anjing Pak RT atau kucing Tante Han, pasti akan ketahuan penyebab kematian putri,” tambahnya merujuk nama ayam kesayangannya.
Istriku yang pura-pura tidak mendengar dan langsung masuk kamar. Deniza semakin terisak. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Persoalan kematian ayam peliharaan, harusnya bukan masalah pelik, tapi karena Deniza gampang menangis dan tangisannya lebih sebagai lolongan, masalahnya jadi rumit. Setiap persoalan apalagi disertai lolongan anak kami, bisa menjadi masalah keluarga besar, karena rumah kami hanya berbatas dinding dengan Tante Han. Dengan WA grup keluarga, jarum jatuh suaranya bisa kedengaran sampai ribuan mil. Tidak heran, lima menit setelah Deniza menangis istriku langsung berkata: “Sudah diam, nanti kita belikan ayam pengganti,” ujarnya setengah berteriak. “Masalah ayam mati saja bisa ribut seluruh dunia,” tambahnya, tanpa menghiraukan wajah kami yang kebingungan dan anakku yang langsung terdiam.
Dan persoalan kematian ayam Deniza menjadi topik WA hampir seminggu lamanya. Tante Han menegaskan kucingnya tidak ada sangkut-pautnya dengan kematian ayam Deniza. “Emangnya hanya kami saja yang memelihara kucing di sekitar sini,” tulisnya. Sebagai istri almarhum Om kami, tentu saja tidak ada yang berani menanggapi WA Tante Han. Masalah kematian ayam kesayangan Deniza pun tertiup berbagai isu hangat seperti pilkada, rencana perkawinan anak Tante Mia dan juga kondisi Om Ridwan, adik almarhum ibu kami yang semakin parah sesudah terkena stroke.
Tidak lama anak kami sudah bermain-main dengan ayam kesayangannya yang baru, seekor bekisar jantan muda pemberian pamannya. Ayam yang belum kelihatan jengger dan tajinya itu segera memenuhi kehidupan Deniza. Kamarnya yang penuh dengan buku dan majalah berserakan, semakin berantakan dengan bekisar 5 bulan mondar-mandir di ruangan selalu tertutup, dengan AC yang terus menyala. Istriku hanya menggerutu karena tidak bisa masuk ke kamar Deniza yang sesekali keluar mengambil butiran beras.
Tentu saja tidak lama untuk menunggu istriku berteriak ketika ia masuk ke kamar Deniza yang seperti kapal pecah dan seprainya dipenuhi kotoran bekisar. Terdengar suara Deniza memprotes mamanya yang berteriak-teriak meluapkan kemarahannya: “Mama kok harus teriak-teriak, kalau marah,” ujarnya setengah menggerutu dan berbisik: “Terang saja Tante Han selalu tahu apa yang terjadi, habisnya Mama selalu berteriak.”
Diskusi mengenai ayam bekisar segera memenuhi WA keluarga kami dengan postingan Tante Han tentang perlunya sangkar untuk memelihara dan merawat ayam bekisar. Besoknya Om Randy, sepupu Tante Han, datang membawa sangkar yang langsung dipasang dekat pohon sawo yang berbatasan dengan pagar Tante Han. Deniza setiap pagi mengganti air dan makanan bekisar yang sesekali mencampurnya dengan belalang dan capung.
Tiga bulan setelah itu ayam peliharaan Deniza melantunkan kokok pertamanya yang membangunkan seisi rumah. Seharian anak kami bermain dengan bekisarnya yang selalu berkokok setelah menelan habis capung dan belalang yang disuapkan Deniza. Kokok bekisar tidak pelak lagi menarik perhatian lingkungan kecil, dan mengundang Pak RT serta anak-anak yang biasanya main bola di jalan depan rumah kami. Mereka mengerubuti sangkar bekisar dan sesekali anjing Pak RT melolong mengikuti kokok bekisar.
WA keluarga kami langsung dipenuhi diskusi soal bekisar. Kicauan atau lebih tepatnya komplain Tante Han karena bekisar Deniza tidak berhenti berkokok, entah kenapa disambut gembira hampir seluruh keluarga. Dayat, paman Deniza, memosting betapa spesial dan mahalnya harga ayam bekisar pemberiannya. Om Randy mengingatkan perlunya menjaga kebersihan sangkar dan pentingnya bekisar dimandikan serta ditangani oleh pakar bekisar. Ia menjanjikan untuk memberikan sangkar tambahan dan menyarankan bekisar dimasukkan ke rumah karena jenis yang sudah berkokok dan nyaring bunyinya menjadi incaran pencuri.
Namun, sejak diberikan sangkar tambahan, bekisar Deniza lama-lama lebih sering menghuni kandang tambahan yang berada di belakang rumah kami. Yayah, pembantu kami yang biasanya telaten mengurus bolak-balik pindahnya bekisar, kelihatannya lebih suka membiarkan ayam jantan itu bertengger di sangkar yang berada persis di pintu kamarnya. Setiap pagi, setelah membereskan semua pekerjaan rutinnya, ia bermain dengan bekisar dan terkadang menyemburkan air ke sekujur tubuh bekisar. Bekisar yang mengepakkan sayap sehabis kena semburan langsung berkokok dengan nyaringnya.
Mungkin karena lebih banyak diurus Yayah, bekisar kelihatan lebih dekat dengan pembantu kami dibandingkan Deniza. Setiap Yayah lewat, bekisar tidak hanya mengepak-ngepakkan sayap, juga berlompatan di sangkar yang luasnya hanya 1,5 m2 itu. Terkadang kami melihat Yayah menjulurkan lidah dan bekisar seakan meneguk air ludah dari mulut Yayah. Deniza yang melihatnya hanya diam, dan mungkin itu menyebabkan ia semakin jarang mengurus bekisar. Ujian dan berbagai kegiatan sekolah juga semakin menyita waktu anak kami, sehingga bekisar seakan-akan sudah menjadi milik Yayah.
Perubahan yang juga mulai menarik perhatian kami adalah batuk Yayah. Hampir setiap pagi batuknya bersaing dengan kokok bekisar, membangunkan seisi rumah. Selain itu badannya yang tadinya tinggi besar, lambat laun kelihatan mengurus. Yayah juga semakin membatasi gerak dan kegiatannya. Sesudah memasak, ia sering membiarkan peralatan dapur berantakan. Iyah, pembantu kami yang lebih muda dan hanya bertanggung jawab membersihkan rumah sering mengomel, membereskan peralatan dapur yang dibiarkan Yayah. Tapi entah kenapa Yayah tidak pernah lepas dari bekisar, kendatipun batuknya menyebabkan bekisar tampak sering menghindar. Ia seolah takut kehilangan bekisar, dan bahkan tidak mempedulikan peringatan Deniza bahwa terlalu dekat dengan unggas seperti bekisar juga tidak baik bagi kesehatan. ”Dek, Dek kamu tahu apa tentang bekisar. Mbak Yayah dari kecil sudah memelihara bekisar. Asal dirawat dan dijaga kebersihan kandangnya, bekisar tidak gampang terkena penyakit,” tambahnya.
Seperti biasa, jika kalah berargumentasi, Deniza mengadu menyatakan bahwa perkembangan kesehatan pembantu kami sebetulnya cukup mengkhawatirkan. Ia bahkan memintaku untuk membawa Yayah ke dokter. “Bisa jadi Mbak Yayah terkena flu burung,” tegasnya.
Tante Han di grup WA keluarga kami juga memosting maraknya penyebaran flu burung dan bahayanya memelihara unggas. Sepupu-sepupu kami yang dokter juga menyarankan untuk memindahkan bekisar kami keluar rumah, kembali ke sangkarnya semula, serta juga memeriksakan Yayah ke dokter. Mereka bahkan menyatakan bahwa petugas kesehatan sudah meminta agar unggas peliharaan dimusnahkan karena penyebaran flu burung sudah dalam tingkat yang mengkhawatirkan.
Tanpa menunggu diskusi di WA grup memanas, kami menyatakan akan segera memindahkan bekisar kembali ke sangkarnya di luar dan juga memeriksakan Yayah ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa pembantu kami segera meminta Yayah dicek ke lab dan tidak lama kemudian menyarankan agar ia menjalani operasi pengangkatan payudara. Menurut dia, pembantu kami terkena kanker payudara, dan jika tidak dioperasi diperkirakan akan segera menjalar ke anggota tubuh yang lain.
Anehnya Yayah seakan bangga bahwa ia tidak terjangkit flu burung. Setengah berteriak ia menegaskan kepada Deniza bahwa batuknya tidak ada kaitan dengan flu burung. “Benerkan Dek, Mbak Yayah tidak terkena flu burung.”
Kendatipun Yayah tidak memperlihatkan seperti seorang yang terjangkit penyakit serius, kami terus memantau perkembangan kondisinya serta langkah-langkah yang disarankan rumah sakit untuk pengangkatan payudaranya. Namun, setiap kami menyatakan bahwa ia harus siap-siap operasi pengangkatan payudara, Yayah seolah tidak memperhatikannya. Bahkan ia pernah menyatakan jika pun harus operasi ia memilih untuk melakukannya di Yogyakarta, kampung halamannya, didampingi anak serta saudara-saudaranya. “Biar anak saya yang ngurus, mosok Ibu dan Bapak yang ngurusin saya,” tegasnya.
Anehnya semakin hari kondisi Yayah kelihatan semakin membaik. Batuknya perlahan menghilang dan selera makannya meningkat seiring berat badannya. Hubungannya dengan bekisar Deniza semakin kental. Hampir tidak ada waktu berlalu Yayah tanpa bekisar. Mungkin karena sudah tidak batuk lagi, bekisar diam saja setiap dipeluk dan dikepit Yayah. Bekisar peliharaan anak kami bahkan lebih banyak berada di kamar Yayah daripada di sangkarnya. Kami semua seolah sudah lupa dengan penyakit Yayah, sampai ketika ia pamitan minta pulang ke Yogya. Ia hanya menjawab singkat ketika ditanya Deniza kenapa ia tiba-tiba pulang ke Yogya: “Mbak Yayah mau lihat cucu yang baru lahir Dek.”
Tidak ada yang luar biasa dengan kepulangan Yayah. Sampai sepupu kami menelepon bahwa Yayah minggu lalu meninggal setelah operasi pengangkatan payudara dan dimakamkan di Yogya. Deniza separuh histeris dan setengah melolong menangisi kematian Yayah. Ia berkali-kali menyalahkan kami tidak serius mengobati penyakit Yayah. “Papa hanya memikirkan uang tanpa memperdulikan kesehatan Mbak Yayah,” ujarnya separuh menangis. Penjelasan bahwa kami sudah menyiapkan semuanya, termasuk biaya operasi Yayah hanya disambut Deniza dengan separuh mencibir.
Sejak kematian Yayah, bekisar peliharaan Deniza kehilangan kegembiraan. Ia tidak pernah berkokok lagi dan suaranya semakin aneh seolah-olah tercekik dan lalu terhenti. Kokokan pendek dengan suara hampir tercekik semakin sering terdengar. Bekisar anak kami itu juga kehilangan selera makan. Belalang dan capung yang disuapkan Deniza tidak disentuhnya. Upaya Deniza untuk membangkitkan semangat bekisar peliharaan dengan menyemburkan air berkali-kali ke badannya hanya membuat bekisar semakin menekuk kepala dan mengasingkan diri ke sudut sangkar.
Perdebatan di WA keluarga soal bekisar dan kaitannya dengan kemungkinan meninggalnya Yayah semakin memanas. Tante Han mengancam akan memanggil petugas kesehatan agar bekisar kami dimusnahkan karena dicurigai terjangkit flu burung dan menjadi salah satu penyebab meninggalnya pembantu kami. Semua orang yang tadinya sangat senang dengan kehadiran bekisar bungkam dengan ancaman Tante Han yang akan memanggil petugas kesehatan agar anak ayam peliharaan anak kami dimusnahkan. Perdebatan terhenti ketika petugas kesehatan menyita bekisar bersama dengan burung-burung peliharaan Tante Han. “Burung tidak kalah bahayanya dengan ayam bekisar sebagai hewan pembawa virus flu burung,” sergah petugas kesehatan ketika Tante Han bersikeras agar burung peliharaannya tidak disita.
Sejak burung-burung peliharaannya disita, kami sering melihat Tante Han bermain-main di depan sangkar burung peliharaannya yang telah kosong. Sesekali ia terdengar menggumamkan nama Yayah, seolah-olah sedang berbicara dengan mendiang pembantu kami. Ketika ada yang menanyakan bagaimana kabar Tante Han dan benarkah beliau sekarang suka berkomunikasi dengan Yayah, Tante Han mengamuk dan meng-unfriend semua anggota grup serta keluar dari WA grup. Sejak itu komunikasi kami dengan Tante Han terputus, sampai beliau dibawa ke rumah sakit terkena stroke dan tidak lama kemudian meninggal. Ketika muncul postingan di WA bahwa kemungkinan kematian Yayah dan Tante Han terkait dengan ayam bekisar Deniza, diikuti kemudian postingan lainnya, kami mengikuti jejak Tante Han, meng-unfriend semua anggota keluarga dan keluar dari WA grup.

Des Alwi adalah lulusan FISIP UI (1985) dan School of Humanities, Asia Research Centre, Murdoch University, yang kini bekerja di KBRI Roma. Cerpen pertamanya dimuat di majalah SMA II Padang (1978) dan cerpen keduanya, Ms. Watson, dimuat di Kompas pada 2014 dan masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas 2015.

Anne Ahira Newsletter

"Siapapun yang bergosip padamu, akan
bergosip tentang dirimu"- Pepatah Spanyol
Dear Hanihyung,
Anda pasti pernah mendengar pepatah
ini;  bahwa orang-orang besar senang
berbicara tentang ide-ide, sementara
orang biasa-biasa suka berbicara
tentang diri mereka sendiri dan
orang-orang kecil suka berbicara
tentang orang lain.
Itulah gosip. Gosip membuat orang
menjadi kecil. Tidak ada sesuatu yang
bisa ditawarkan  dalam gosip. Gosip
hanya mengurangi kredibilitas orang
membicarakan dan yang dibicarakan
serta bisa menghancurkan orang yang
mendengarkan.
Berhenti menyebarkan gosip dan
menjadi penerima gosip. Jika Anda
menghentikan gosip yang diteruskan
hanya sampai pada Anda, Anda akan
memperbaiki kehidupan orang lain dan
diri Anda lebih baik lagi.
Lagipula, orang yang menceritakan
gosip pada kita, biasanya akan
menggosipkan kita juga.
Orang yang memiliki integritas tidak
suka mengumbar omongan tentang orang
lain di belakangnya. Jika memiliki
masalah dengan seseorang, ia lebih
baik mendatangi orang tersebut dan
membicarakan masalahnya, tidak pernah
melalui orang ketiga.
Mereka juga akan memuji orang secara
terbuka dan mengkritik orang secara
pribadi.
Jika Anda adalah orang besar,
berhentilah membicarakan orang lain
dan mari membicarakan ide-ide besar
yang bisa mengubah dunia! :-)
Anne Ahira

Cahaya



“Jika kau merasa bahwa segala di sekitarmu gelap, tidakkah kau curiga bahwa dirimulah yang dikirim Allah untuk jadi cahaya bagi mereka?” - Salim A. Fillah

Ya.. Kita tak pernah tahu bagaimana kebaikan Allah sampai kepada kita. Kita tak tahu, mana dari amal ibadah kita yang akan mengantarkan kita pada ridha-Nya.
Yang kita tahu, kita belum lah menjadi seorang hamba yang taat, tak banyak ilmu, bahkan kadang rendah diri. Banyak kebaikan yang kita tahu namun berhenti sebatas di ujung lidah tanpa menjadi kata-kata, yang barangkali adalah bakal pintu hidayah buat seseorang.
Yang kita tahu, kita hanya menerima ilmu tanpa pernah mampu untuk memberi, untuk berbagi. Barangkali nanti, ketika banyak keburukan mengitari, kita akan kembali diam dan menyudutkan diri. Kita seperti mati dalam kegelapan tanpa seorang pun mengetahui.
Maka, nasihat dari gurunda kita di atas, semoga mampu membuka mata hati. Semoga mampu untuk menerangi sekitar kita; keluarga, teman, saudara, dan tentunya penerang di dalam hati kita sendiri.  InsyaaAllah