Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Ketika kita berhenti untuk mengejar apa yang bukan milik kita. Maka
percayalah, Allah akan mempertemukan dengan apa yang terbaik untuk kita
miliki
Terkadang, kita harus melupakan apa yang kita inginkan hanya tuk menemukan apa yang pantas untuk kita dapatkan
Bercinta tidaklah salah, tetapi terlalu MENGAGUNGKAN cinta makhluk itu yang SALAH,
Jatuh CINTA itu tidak berdosa, tetapi bercinta SEBELUM NIKAH itu yang bisa membawa kepada DOSA
Jika Hatimu terasa Lelah, Basuhlah Dengan KESABARAN, Ceritakan Dukamu
Pada KETABAHAN, Usaplah Airmatamu Dengan HARAPAN, JIka Kau Terluka,
Tetaplah TERSENYUM, Kerana ALLAH selalu MENYAYANGIMU.
Orang yang paling lemah ialah orang yang gemar menyimpan amarah,
kebencian, dendam dan tidak dapat memaafkan masa lalu, Menuruti emosi
dan hawa nafsu hanya akan merugikan, dan penyesalan adalah hadiah yang
pasti kelak kan diterima.
Jika yang dirindui belum ditemukan, maka serahkan rindu itu pada
Illahirobi, Jika yang dicinta belum juga berjumpa, maka titipkan saja
cinta itu pada sang pemberi cinta, Jika yang dinanti belum juga ada di
sisi, maka bersabarlah pada ketetapan sang pemberi Cinta.
Kecantikan ABADI seorang wanita, terletak pada Keelokan AKHLAK dan Ketinggian ILMUnya, bukan pada Wajah dan pakaiannya.
Wanita tercantik bagi lelaki bukanlah yang paling jelita dan menawan,
tapi dia yang bila dipandang bisa memberi ketenangan dan Syurga pun
terbayang
Wanita terhebat bagi seorang lelaki, bukanlah dia yang pesonanya memukau
banyak mata, melainkan yang siap menjadi madrasah cinta bagi
anak-anaknya.
1. Menangis karena ingin
bertaubat "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah... (QS. Az Zumar : 53)
2. Menangis karena senantiasa ingat akhirat
“7 macam orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan kecuali
naungannya … dan seorang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya, lalu kedua
matanya berlinangan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Menangis karena amanah yang khawatir tidak tertunaikan
Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, sepontan dia menangis, “Aku
sadar bahwa Allah pasti akan meminta pertanggungjawabanku atas amanah yang aku
pikul. Namun, aku bimbang tidak sanggup memberikan bukti bahwa aku telah
melaksanakan amanah ini dengan baik sehingga aku menangis".
4. Menangis karena dibacakan ayat-ayat Allah
Seringlah banyak membaca Al-Quran, apalagi jika mau memahami arti dan maknanya,
karena itu yang bisa membuat kita menangis. Seperti layaknya para sahabat
Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah Saw, sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki
yang mudah luluh hatinya. Apabila ia membaca al-Qur’an, maka ia tidak akan bisa
menahan air matanya.” (Mutafaq ‘alaih).
5. Menangis karena khawatir ‘terjebak’ dunia
Khalid menangis jelang wafatnya "Aku ingin mati syahid, tapi kini aku akan
mati di atas tempat tidur seperti matinya unta". Kemudian Abu Hurairah
menangis saat sakitnya "Bukan dunia yang kutangisi, tapi panjangnya
perjalanan kuhadapi dan sedikitnya bekal yang kubawa nanti."
6. Menangis karena bersedih
atas nasib kaum muslimin
Dan yang cukup membuat kita harusnya juga menangis adalah ketika melihat nasib
kaum muslimin saat ini. Umat muslim di Palestina, Rohingnya, Syiria dan
sebagainya saat ini mengalami pembantaian yang tiada henti. Menangisnya lebih
karena sedih, jika kita tak bisa ikut bergabung bersama dalam dakwah untuk
merubah semua kemungkaran tersebut.
Bahagia itu
sederhana..
Saat kita mampu untuk bersabar,
Kita akan bahagia..
Seperti kalimat indah dari Khalifah Umar bin Khattab RA :
Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah
diantara keduanya itu yang lebih baik bagiku..
Bahagia itu sederhana..
Saat kita mampu untuk ikhlas,
Kita akan bahagia..
Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216, bisa dijadikan motivasi kita agar
selalu ikhlas, apapun takdir yang diberikan Allah SWT :
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.
Sadarilah bahwa apapun yang terjadi telah diatur oleh Sang Pencipta..
Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit
dan bumi.
(HR. Muslim no. 2653)
Bahagia itu sederhana,
Sesedehana hati mampu untuk sabar dan ikhlas,
Sesederhana hembusan angin yang tak terlihat namun terasa sejuknya...
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
.
Saat mata-mata terlelap dalam indahnya bunga angan..
Saat jiwa-jiwa pergi mencari ketenangan dalam lembutnya angin malam..
.
Disini..
Di atas Mahabbah-Nya..
Di bawah Nur-Nya..
Di samping pengawas sejati-Nya..
Tak lelah aku menatap dua tangan yang setia menemaniku dalam pengharapanku di
setiap malam-Nya..
Pengharapan untuk Orang tuaku..
Pengharapan untuk saudara-saudara seimanku..
Pengharapan untuk diriku..
.
Disanalah pinta kuhaturkan..
Saat bibir mampu menjabarkan satu per satu nama yang tertaut dalam hati..
Namun, ada sebongkah rasa yang menyeruak dalam hati..
Yang ingin menitipkan asa dalam derap juang perbaikan diri..
.
Lantas aku bertanya pada tatapan itu..
"Hei adakah yang terlewat?"
"Adakah nama yang belum kusentuh?"
Bibirpun berkata Tidak..
Namun, bagaimana dengan hati??
Seolah-olah ia tahu bahwa ada satu Nama yang belum teraba oleh Doaku..
.
Siapa dia..??
Siapa nama yang akan melengkapi rentetan nama-nama dalam Doaku..??
Nama itu masih samar..
Bagaimana bisa aku menyebut namanya dalam Doaku..?
.
Ah biarlah..
Biarlah Rabbku yang menjawab.. Biarlah Rabbku yang menjaga..
.
Maafkan bila dirimu belum tercatat oleh hati..
Maafkan bila namamu belum teraba oleh Doa..
Cukuplah Allah yang mencatat dan meraba namamu di lauhul Mahfudz untuk menemani
Perjalanan panjangku kelak..
Mungkin, dengan perbaikan diri ini lah yang Insya Allah akan menghantarkan doa
meski namamu belum teraba oleh Doaku..
Ini antara aku dan Yang Maha
Kuasa
Karena hati tak selamanya tentang cinta
Karena hidup tak selamanya tentang dunia
Karena raga tak akan abadi selamanya
Karena suatu saat, raga akan terpisah oleh ruhnya
Memang cinta didunia sangatlah kuat
Seisi dunia membuat hatiku terpikat
Membuatku lupa tentang akhirat
Padahal jarak antara aku dan akhirat semakin dekat
Namun diri ini terasa sulit untuk bertaubat
Sehingga ku tak tau apa yang harus ku perbuat
Supaya dapat melenyapkan nafsu dunia yang sangat terikat
Saat ku terbangun disepertiga malam
Ku curahkan isi hati yang mendalam
Tentang masa lalu yang sangatlah kelam
Dan kehidupan yang teramat suram
Aku hanya bisa termenung dan terdiam
Menghukum kesalahan yang selalu menikam
Yaa Allah
Segala doa hamba-Mu senantiasa Engkau kabulkan
Terus menerus melipah ruah Engkau curahkan
Kasih sayang yang terus Engkau limpahkan
Serta kenikmatan hidup yang Engkau hadiahkan
Segalanya telah Engkau berikan
Tanpa adanya keraguan
Dan tanpa ada sedikit kekecewaan
Meski diri ini selalu
Melupakan-Mu
Mejauhi-Mu
Namun Engkau tetap selalu mencintaiku
Tanpa henti menyayangiku
Selalu melindungiku setiap waktu
Dan memberikan kesempatan untukku
Kembali mengikuti jalan menuju ridho-Mu
Tikus ilustrasi I Made Wahyu Friandana/Kompas
Kalau malam tiba, ia beringsut ke ruang baca, tepatnya sebuah
perpustakaan pribadinya yang penuh dengan susunan buku yang sejak
dibelinya banyak yang tak terbaca. Setelah berada di dalam ruangan itu,
ia memadamkan lampu, menyalakan rokok, lalu duduk di kursi goyangnya.
Tentu, tidak lupa mengunci pintu rapat-rapat.
Ia tak ingin ketika gelap menyelimutinya, istri dan anak-anak atau
seisi rumah mengetahui bahwa ia tengah ditelan gelap yang diinginkannya
sendiri. Dalam ruangan itu hanya tampak setitik api dari ujung rokok di
sela jarinya yang keriput. Sesekali, di tengah malam, dari ruangan lain
cuma terdengar batuknya yang ringkih dan susah sekali untuk ditahan.
Istri dan anak-anaknya pernah mencemaskan hal itu. Akhirnya, setelah
melihat itu sebagai sebuah kebiasaan, ia dianggap laki-laki tua yang
menyukai gelap. Mula-mula, istrinya menganggap dirinya stres karena
beberapa tahun lalu terbuang dari jabatan ketua partai yang dituduh
korupsi, yang dalam persidangan terbebaskan dengan alasan tak terbukti
walau para saksi, media massa, dan rakyat diwakilinya meyakini ia
melakukan tindakan korupsi. Termasuk istrinya, yang selalu
mendampinginya, merasakan bahwa suaminya itu koruptor, dan di masa-masa
jaya dulu diam-diam mendukungnya. Tapi, bagi mereka tak menjadi beban
karena memang mereka hidup dalam lingkungan yang korup di negara yang
prestasi malingnya terbilang tinggi.
Laki-laki itu sudah berusia tujuh puluhan kini. Tapi, sudah
bertahun-tahun ia menikmati malam di ruang baca yang gelap tersebut.
Jika pagi tiba, ia menyalakan lampu, puntung rokok berserakan di lantai.
Pembantunya yang setia selalu menyapu ruang itu sehingga bersih
kembali. Begitu setiap pagi.
Tak ada yang tahu, penyakit apa yang diderita si tua tersebut. Istrinya pernah memaksa ke dokter spesialis, tapi ia menolak.
“Ini bukan penyakit, tapi kesukaanku pada gelap,” katanya, lalu mendelik ketika istrinya akan berkata lanjut.
Begitulah ia. Malam tiba, ke ruang baca, memadamkan lampu, ke kursi
goyang, menyulut rokok hingga pagi berbatang-batang. Dalam gelap, ia
seakan melihat suasana yang tak pernah ia saksikan selama ini selama
masih aktifnya dulu. Kadang ia tertawa, terbahak-bahak. Perilaku itu
mula-mulanya membuat seisi rumah selain heran dan cemas, jangan-jangan
ia telah gila. Kemudian, terdengar ia berbicara sendiri, dan banyak hal
lainnya yang tak normal dilakukannya seorang diri. Karena itu selalu
terjadi, besok paginya biasa-biasa saja, mendengkur sampai tengah hari,
semua menjadi hal yang wajar akhirnya dalam rumah tersebut.
“Sebaiknya kau hentikan bergelap-gelap itu,” kata istrinya suatu kali
di meja makan. Ia cuma menyantap lahap roti tawar yang diolesi selai
nanas. Ditatapnya sang istri, lalu mendelik.
“Sebaiknya kau akhiri bicara soal aku dan gelap di ruang baca. Itu lebih membahagiakan,” jawabnya.
“Tapi…?”
“Sudahlah. Kau tak pernah merasakan kenikmatan bergelap-gelap yang
hakiki,” ia berdiri, masuk kamar, dan sesaat kemudian tertidur. Karena
memang, malam ia tak pernah tidur.
***
Kalau siang ruang baca itu terang benderang. Jendelanya dingangakan
serta gorden disibakkan sehingga cahaya matahari dapat menembus ke
dalam. Di ruang itu, terpajang foto-foto di ruang kerja, saat jadi
pejabat, ketika kampanye, saat disalami rekan sejawat ketika ia
dinyatakan tidak terbukti melakukan tindakan korupsi. Bahkan, ada foto
sedang sujud syukur. Kemudian, terlihat pula ia tengah berada di sebuah
ruang sedang berbincang dengan presiden, dengan beberapa tokoh
masyarakat, dan utusan anggota parlemen negara asing. Banyak dan banyak
lainnya foto-foto masa jayanya dalam dunia politik pada sebuah album
yang disimpannya pada sebuah lemari kayu jati.
Kalau ada tamu yang datang ke rumah mewah itu, di siang hari dan
sempat melongok ke ruang bacanya, maka akan ketahuan siapa laki-laki ini
sesungguhnya. Bahwa, ia ternyata dulunya pejabat penting. Oleh rakyat
yang sering diatasnamakannya diyakini sebagai koruptor kakap yang
selamat dari tuduhan.
Kini ia bukan siapa-siapa lagi. Kata orang, lalat pun tak mau hinggap
pada dirinya. Tapi, ia tak peduli itu sebagaimana ia tak peduli ketika
ia mampu mengelabui hukum yang menyeretnya ke pengadilan yang akhirnya
membuat ia busung dada merasa tanpa dosa.
Satu yang dibenci si tua ini, malam bulan purnama. Sebab, pada malam
itu ternyata cahaya bulan mampu mengintip dan menitipkan sebersit cahaya
remang ke ruangnya. Ia kesal dan ingin menembak bulan sebagaimana ia
mengancam akan menembak kepala wartawan yang membuka kasusnya dulu.
Akhirnya, ia tersenyum karena bisa menipu bulan dengan menutup segala
lubang yang bisa menghantarkan cahaya yang lebih terang dari api di
ujung rokoknya. Dalam soal mengelabui, ia termasuk tiada tandingan.
Bulan pun katanya bisa ia redam cahayanya. Ketika itu, ia
terbahak-bahak, “Bulan…. Bulan…. Alangkah dungunya kau! Jangan coba-coba
mengantarkan cahaya ya?!”
Hari selalu melangkah, tentu dengan menghidangkan malam. Malam ia
sempurnakan di ruang baca menjadi sebuah gelap yang utuh. Ketika itulah,
titik api di ujung rokok bergerak mengikuti irama kursi goyang dan
gerakan jarinya yang turun naik ke dan dari mulut.
Dalam gelap, ia ternyata menemukan dunia yang benderang. Baik ia
pejamkan atau melekkan mata, semua bisa terlihat. Melintas begitu saja
di kepalanya. Bahkan, ia bisa melihat hatinya yang berkarat. Barangkali
itulah cerminan dosanya. Tapi, ia justru mendustai dirinya bahwa itu
adalah candu rokok yang merembes dari paru-paru ke hatinya. Kemudian, ia
tertawa, dan gerakan kursi goyangnya seperti mengangguk-angguk kencang
terasakan.
Suatu malam, ia mengejutkan seisi rumah. Istri dan anak-anaknya serta
menantu ataupun cucu yang kebetulan saat itu berkumpul di rumah
mendekat ke arah pintu ruang baca. Tapi, anak-anak dan menantu hendak
mendobrak pintu, sang ibu tergopoh mencegah dengan menegakkan telunjuk
di depan bibir. Semua terdiam, dan menempelkan telinga ke pintu yang
terkunci rapat.
“Ya Tuhan, kenapa aku jadi tikus, hewan pengerat yang rakus…..
Apa-apaan ini,” kata suara dari ruang baca. Semua di balik pintu
tersentak, saling tatap.
“Ayah stres, Ibu….” kata anak sulung yang perempuan.
“Sebaiknya kita hentikan kebiasaan buruknya itu!” jawab yang nomor tiga.
“Itulah akibat buruk dari gelap, karena membawa halusinasi!” si bungsu menekan suara.
“Jangan-jangan ayah tertidur, mimpi jadi tikus!” timpal suami si sulung.
“Coba kamu intip,” ibu memerintah suami si sulung. Kemudian si bungsu
mengambil kursi, dan meletakkan di dekat pintu. Suami si sulung mencoba
menginjak kursi, melubangi dengan jari kertas yang menutup ventilasi
untuk menghindari cahaya masuk.
“Ayah tidak tertidur sebab rokoknya masih menyala dan bergerak,” katanya sambil menatap ke dalam.
Kemudian hening sejenak. Di ruang baca, laki-laki yang meresahkan ini
merasakan tubuhnya berkeringat. Panas dingin. Ia melihat sebuah dunia
yang penduduknya adalah para tikus. Ia ada di antara warga tikus itu
sebagai tikus bongsor. Kali ini, ia merinding. Bangsa tikus tengah
melakukan upacara bendera dengan menyanyikan lagu kebangsaan yang
belepotan.
“Kita adalah bangsa tikus yang mulia, berdasi dan mengerat apa yang
bisa dikerat. Semua yang tak terawasi, segala yang dipercayakan kepada
kita, sesuatu yang bukan milik kita, adalah keniscayaan untuk dikerat,
dimakan tanpa rasa dosa,” kata raja tikus yang tambun dan berbulu kasar.
Ia melihat ke dadanya, berbulu dan berdasi pula.
“Jadi saya seekor tikus, Tuhan?”
Ia menggigil. Lalu memegang mulutnya serta-merta mempertebal
keyakinan bahwa telah ada perubahan pada dirinya yang luar biasa.
Kemudian, ia mencurigai gelap sebagai sumber malapetaka. Jangan-jangan
bermain gelap ini merupakan masa pematangan untuk berubah menjadi seekor
tikus, binatang pengerat, dan jorok yang paling dibenci manusia.
Terutama petani, paling membenci tikus karena suka merusak tanaman padi
mereka, bahkan sampai menjadi beras pun habis digerogoti dari karung.
“Tidak! Ini mimpi buruk, Tuhan!”
Ia berdiri, lalu mencari tombol penyala listrik untuk menyalakan
lampu. Tapi, gelap telah membuatnya melupakan sesuatu pada tempatnya. Ia
panik. Dan teriak, “Nyalakan lampu…. Nyalakan lampu….. Gelap telah
menjadikan aku tikus!”
Tak ada yang berani menyalakan lampu.
***
Pagi-pagi, ketika cahaya matahari telah sempurna menyinari bumi,
pintu ruang baca didobrak. Di luar, angin berembus dan bunga-bunga di
taman tumbuh dengan mekar. Laki-laki tua tujuh puluhan tergeletak di
lantai tak sadarkan diri.
Istrinya menangis tersedu. Para anak dan menantu serta cucu,
melingkar di tubuh tergeletak. Sementara lantai penuh dengan puntung
rokok. Berabu.
“Telepon ambulan!” perintah ibu.
Ambulan pun membawa ke rumah sakit. Setelah diobati, ia sadar dari
pingsannya yang panjang. Laki-laki tua menatap langit-langit berwarna
putih, kemudian seluruh anggota keluarga yang melingkarinya.
Ia meraba kulit tangannya, wajah serta seluruh tubuhnya. Kemudian
menatap kosong ke sekitar. Terlihat air mata merembes dari puncak
hidungnya, meleleh ke pipi yang keriput.
Tiba-tiba ia menutup seluruh tubuh dan wajah dengan selimut. Semua heran dan mencemaskan kejadian itu.
“Aku telah menjadi tikus sejak lama. Aku telah menjadi tikus sejak
lama. Gelap itu jahat. Ia datang dengan baik-baik, lalu diajaknya aku
menikmati diri sendiri tentang yang indah, tentang sesuatu yang tak baik
dan tak bisa dilihat dengan mata terbuka atau alam sebenderang apa pun.
Dalam gelap, aku melihat cahaya benderang yang di dalamnya ternyata
lambat laun aku telah berada di sebuah negeri bangsa tikus sebagai
tikus,” rintih suara dalam selimut putih.
“Itu cuma mimpi, Pak! Sudahlah, lupakan! Makanya jangan suka main gelap!” kata istrinya.
“Tapi kau tak pernah memaksaku dengan keras untuk keluar dari tempat gelap nan hitam itu,” ia mempersalahkan istrinya.
Kemudian dokter memberinya obat. Tak lama matanya terkantuk. Sesaat setelah itu tertidur tanpa mimpi.
“Bapak cuma kelelahan,” kata dokter. Semua mengangguk-angguk. Setelah dianggap pulih, ia pun dibawa pulang.
Sejak itu, suasana rumah terang benderang. Segala yang membuat cahaya
tertutup dibuka. Lampu-lampu diperbanyak. Bahkan, dalam sebuah doanya,
ia meminta kepada Tuhan kalau bisa tak perlu ada malam.
Ia mulai bisa menenangkan diri, melupakan gelap. Suasana rumah mulai terasa berjalan wajar. Tak ada kehidupan yang aneh.
Suatu siang, ia melepaskan foto-foto tentang ketokohannya yang
terpajang di ruang baca yang hampir tak pernah dimanfaatkan untuk
membaca itu. Juga di ruang lain. Ia menggantikan dengan foto semasa ia
jadi mahasiswa, foto di kampung waktu kecil, serta foto ketika jadi
pengantin. Setelah semua foto pajangan rumah diganti, ia lega. Ia mulai
menyalakan tape, mendengarkan lagu-lagu klasik. Kadang ia berkaraoke.
Sesekali, ia mengajak istrinya berdansa, seisi rumah tersenyum dan
sesekali bertepuk tangan.
Hari indah yang membahagiakan.
“Inilah keindahan hidup itu,” kata sang istri. Sang suami yang berpacu tua dengan istrinya tersenyum.
Ketika seorang cucu mereka berulang tahun, rumah itu semakin semarak.
Sekeluarga mereka rayakan. Hidup terasa penuh warna. Namun, dalam
suasana meriah, ketika lagu happy birthday dilantunkan sambil
tepuk tangan, tiba-tiba seekor tikus melintas dari ruang baca ke tengah
mereka. Si tua melihat itu terperanjat. Pembantu rumah tangga, Ina, yang
dibawa mereka serta merayakan ulang tahun tersebut, langsung mengambil
sapu dan memburu tikus.
Tikus bersembunyi di bawah kursi. Si tua menggigil. Ia bagai melihat
ribuan tikus, termasuk dirinya di situ. Semua mata tertuju pada tikus.
Ketika kursi diangkat, tikus coba melesat, tangan Ina bertangkai sapu
langsung memukul keras dan cepat. Trap. Kepala tikus pecah oleh pukulan
Ina.
“Ina hebat! Ina hebat!” Mereka bertepuk tangan. Darah tikus meleleh di lantai berkarpet mahal.
Ketika mereka menoleh ke si tua, semua tercekat hebat. Di lantai ia
tergeletak. Lalu terdengar tangis dan teriakan, “Telepon ambulan,
telepon ambulan, ayo cepatan….”
Sementara itu Ina membuang bangkai tikus ke got depan rumah!
Padang 2017 Yusrizal KW, cerpenis kelahiran Padang pada 2 November 1969. Kumpulan cerpennya, Kembali ke Pangkal Jalan, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Saat ini aktif mengelola Ruang Baca Tanah Ombak Padang.