Daftar Blog Saya

Minggu, 25 Maret 2018

Jiwa-jiwa Laut

Cerpen Livia Hilda (Bali Post, 18 Maret 2018)
Jiwa-jiwa Laut ilustrasi Citra Sasmitha - Bali Post.jpg
Jiwa-jiwa Laut ilustrasi Citra Sasmitha/Bali Post
Ibu duduk menghadap laut di depan rumah seperti biasa. Di dekat kakinya terdapat canang berisi bunga warna-warni dan dua batang dupa tertancap di pasir. Senja sore itu terlihat berbeda. Tak ada langit kemerahan, tak ada burung camar yang terbang di atas permukaan laut, bahkan matahari juga tak terlihat di langit. Gumpalan awan gelap menghiasi langit sore itu. Ombak liar dan besar mendekat, lalu dengan cepat menggulung canang dan dupa di dekat kaki ibu. Kaki ibu basah. Pasir hitam yang terbawa ombak menempel di kakinya. Namun ibu tetap duduk dengan tenang sambil memejamkan mata, seolah ia menikmati senja yang tak ramah sore itu.
“Ibu kok masih di sini? Anginnya kencang, Bu. Nanti masuk angin lho!” kataku dari balik punggung ibu. Matanya masih terpejam. Roknya basah. Ibu gemetar kedinginan. Kudekati ibu, lalu kutarik tangannya. Kuajak Ibu masuk ke rumah. Ibu malah menatapku tajam dan menarik kembali tangannya.
“Masuk yuk, Bu? Tuh lihat, rok ibu sudah basah!” kataku lagi.
“Ibu masih menunggu seseorang,” kata ibu akhirnya.
“Kakek, ya? Kan nenek bilang kakek sudah diambil laut, Bu?”
Dulu setiap malam kakek selalu pergi ke tengah laut. Saat senja, kakek mendorong sampannya ke lautan, menaiki sampan itu, dan kembali di tengah malam dengan sampan penuh ikan berbagai ukuran, udang, cumi, kepiting, sampai gurita. Namun pada suatu malam laut di depan rumahku menjadi liar. Ombak hampir masuk ke rumah. Angin keras merubuhkan pepohonan di belakang rumah dan membawa lari atap rumah warga. Pantai di depan rumahku jadi berantakan. Sampah berserakan di bibir pantai. Ranting pohon, dedaunan, atap rumah, dan sampan nelayan yang rusak akibat diterjang ombak juga tergeletak di mana-mana. Tetanggaku menangis karena rumah mereka rusak. Keluargaku juga menangis. Tetapi bukan menangisi rumah yang rusak, melainkan karena kakek tak kembali.
“Ombaknya makin besar! Ayo masuk, Bu!” Aku menarik tangan ibu lagi. Tapi ibu malah balas menarik tanganku sampai aku jatuh terduduk. “Kau tahu apa yang membuat ibu betah duduk di sini walau ombaknya besar?” tanya ibu.
Aku diam. Aku tak tahu.
“Ombak ini adalah jiwa-jiwa manusia yang sudah meninggal, Jet,” kata ibu seraya menyentuh ombak yang berdatangan ke kakinya.
“Tubuh orang yang sudah meninggal akan dikubur atau dikremasi, lalu jiwanya akan dibawa malaikat ke laut dan menjadi bagian laut. Kau tahu? Laut sebenarnya bukan berisi air. Setiap tetes air di laut adalah jiwa orang-orang yang sudah meninggal. Kita ditipu laut. Ia menutupi tubuhnya dengan jubah agar terlihat seperti air. Sengaja begitu, agar kita tak sedih ketika melihat jiwa orang yang kita sayang.
“Jiwa yang tinggal di tubuh laut berwarna putih seperti manekin di toko baju. Kulitnya tak berwarna coklat, kuning langsat, atau hitam seperti saat jiwa itu masih hidup di bumi. Malaikat kematian mengecat mereka menjadi putih bersih agar mereka lupa dari ras, etnis, atau golongan mana mereka berasal. Mereka menjadi seragam di sana.” Aku terperangah. Ombak datang silih berganti membasahi kakiku. Aku jadi membayangkan jiwa-jiwa laut itu membelai kakiku.
“Ombak besar itu adalah bentuk dari mereka yang berlomba mencapai pesisir, Jet. Mereka semua merindukan pasir karena pasir adalah batas antara laut, tempat mereka hidup, dan daratan, tempat manusia tinggal. Mereka berharap bisa bertemu dengan manusia yang mereka sayang di pasir itu. Jiwa-jiwa itu bergerak seperti perenang. Tangan kanannya dinaikkan ke atas, diturunkan, lalu ia memegang kepala jiwa yang ada di depannya dan mendorong badannya ke depan dengan kepala itu sebagai tumpuan. Begitu juga dengan tangan kirinya. Kedua tangan itu bergerak bergantian sampai ia berhasil mencapai pasir. Tetapi ketika jiwa itu sudah mencapai pasir, ia hanya bisa mengelus kaki orang yang ia rindukan untuk beberapa detik. Lalu ia akan kembali ke tengah laut dengan cepat karena kakinya ditarik jiwa-jiwa lain.
“Ibu mempersembahkan canang berisi bunga warna-warni untuk jiwa-jiwa itu, Jet. Bunga ini akan menjadi santapan mereka. Sedangkan dua batang dupa yang menyala ini sebagai petunjuk keberadaan ibu. Ibu akan menyebutkan nama jiwa yang ingin ibu panggil sebelum dupanya ibu tancapkan ke pasir. Dari tengah laut itu, jiwa yang ibu panggil akan melihat asap dupa dan mereka akan mengikuti asap itu untuk menuju ibu.”
“Trus kenapa dupanya ada dua batang, Bu? Bukannya satu saja cukup? Nenek biasanya ngajarin Ajet pakai satu dupa saja tiap sembahyang, Bu.”
“Ibu mengirim sinyal untuk dua jiwa, Jet.”
Aku tercengang. Ternyata tak hanya kakek yang ibu tunggu kehadirannya tiap senja. Siapa lagi yang ibu tunggu? Tibatiba ingatanku melompat pada sebuah peristiwa yang aku simpan sendiri dalam kepala.
Malam setelah kakek menghilang, kulihat ibu sendirian di teras rumah dengan sekantong kresek hitam. Di bawah pohon kelapa, diam-diam ibu mengeluarkan isi dari kantong itu. Betapa terkejutnya aku karena yang ibu keluarkan adalah tulang belulang dan tengkorak manusia. Entah tulang siapa itu aku tak tahu. Ibu menggali tanah dan menguburkan tulang-tulang itu di sana. Ibu lalu melihat keadaan sekitar dan berjingkat memasuki rumah. Mungkinkah jiwa orang itu yang ibu tunggu?
“Yang pertama pasti kakek. Yang kedua siapa, Bu?”
“Pembuat cerita ini.”
Bulan menggantung di langit. Di luar ombak mengganas. Deburan ombak terdengar sangat dekat. Suara angin berlarian di atap rumah seperti kucing berkejaran, suara gesekan dedaunan dari pepohonan di belakang rumah, suara dahan patah dan terbanting ke tanah, suara sampan menabrak tiang rumah, dan suara deburan ombak bercampur dalam telingaku. Ingatanku jadi terseret ke malam kakek menghilang. Aku tak bisa tidur. Aku takut keadaan laut akan lebih ganas dari malam itu. Pikiranku juga masih melayang pada cerita ibu tentang jiwa-jiwa laut, orang yang membuat cerita itu, juga kuburan tulang belulang di teras rumahku. Aku sangat penasaran. Kupaksa ibu bercerita lebih banyak, tapi ibu lebih memilih merahasiakannya.
Tengah malam kubangunkan nenek untuk menanyakan rahasia itu. Nenek pasti tahu. Nenek menggeliat, ia tak mau bangun. Ia malah memunggungiku.
“Nek, nenek tau cerita jiwa-jiwa laut?” tanyaku langsung. Kulihat mata nenek terbuka. Namun mata itu terpejam lagi. Nenek merapatkan selimutnya.
“Nek, ini penting! Dulu aku lihat ibu mengubur tulang dan tengkorak di teras rumah. Tadi sore ibu juga cerita tentang jiwa-jiwa laut. Ibu juga bilang kalau ibu menunggu seseorang selain kakek.” Mata nenek terbuka lagi. Ia langsung bangun dan duduk menghadapku.
“Tolong kau rahasiakan ini dari ayahmu. Kalau ayah tahu, ayah bisa marah.” Aku bingung. Kenapa harus dirahasiakan dari ayah? Tapi akhirnya aku mengangguk, menurut.
“Tulang yang dikubur di teras rumah dan orang yang ditunggu ibu tiap senja itu Teja,” ucap nenek. “Teja itu pacar ibumu saat SMA. Dia juga yang membuat cerita jiwa-jiwa laut. Tepat sebelum ia mati, ia berjanji pada ibumu, kalau ia akan datang sebagai jiwa laut saat senja. Itulah kenapa ibumu suka duduk sendiri di tepi pantai tiap senja. Lalu saat kakek menghilang, Ibumu sangat sedih. Ia sudah kehilangan dua lelaki yang ia sayang, Teja dan ayahnya. Ia jadi tak bisa berpikir waras. Ia pun memindahkan kubur Teja ke teras rumah agar ia bisa selalu merasa dekat dengannya. Oh ya, asal kau tahu, ibumu ngotot memberimu nama Ajet karena itu kebalikan dari nama Teja. Ayahmu tidak tahu ini. Kau juga sangat mirip dengan Teja. Caramu berjalan, tertawa, sampai makanan kesukaanmu betul-betul seperti Teja! Tak heran banyak yang berpikir kalau kau ini reinkarnasi dari Teja. Sekarang ayo tidur! Sudah malam!”
Teriakan ibu memenuhi rumah. Aku terbangun dari tidurku. Ibu berteriak lagi. Ia meraung, menangis. Lekas aku keluar untuk melihat apa yang terjadi. Kudapati ibu tersungkur di samping meja makan dan ayah berdiri di depannya dengan wajah geram.
“Dasar kau perempuan tak tahu diri! Rupanya kau mengubur tulang Teja di teras rumah kita, ya? Pantas saja dulu kubur Teja tiba-tiba kosong! Ternyata kau malingnya! Kalau tadi malam tak ada badai yang merusak kubur itu, mungkin sampai tua aku tak akan tahu kau menyimpan mayat Teja!” kata ayah geram. “Kau masih mencintai Teja kan? Pantas saja tiap senja kau selalu duduk di pinggir pantai. Pasti kau menunggu orang itu kan?”
“Tidak, Mas! Sungguh!”
“Aku tak percaya omonganmu, Nari! Kalau kau masih mencintai Teja, biar kubantu kau menyusul Teja!” Ayah mengayunkan tangannya hendak memukul ibu dengan tongkat yang ia genggam. Sontak aku berlari ke arah ibu dan menjadikan badanku sebagai tamengnya.
Aku melihat diriku terkapar di pelukan ibu. Kepalaku berdarah. Ibu menangis. Tongkat di tangan ayah terjatuh.
Di sampingku muncul seorang berjubah hitam. Ia menggandeng tanganku dan mengajakku menyelami lautan seperti ikan duyung. Aku dibawa masuk ke sebuah kerang raksasa. Ia mengambil kuas dan sekaleng cat putih, lalu mengoleskan cat itu ke seluruh tubuh dan setiap helai rambutku. Aku terlihat seperti manekin. Aku menjadi putih seluruhnya.
Kerang raksasa terbuka. Tiba-tiba saja penglihatanku terhadap laut berubah total. Laut bukan lagi air yang berisi ikan dan kawanannya. Laut berubah menjadi miliaran jiwa putih sepertiku yang berenang tak tentu arah. Saat tangannya diturunkan, mereka memegang kepalaku dan mendorongku ke belakang. Mereka menjadikanku tumpuan. Aku tenggelam di antara jiwa-jiwa itu. Aku berusaha menggerakkan tubuhku di tengah himpitan jiwa-jiwa yang terus bergerak. Aku bergerak seperti penyelam handal yang hendak naik ke permukaan. Tanganku menerobos jiwa-jiwa itu. Kakiku mendorong mereka. Hingga akhirnya kepalaku timbul di permukaan.
Asap dupa berbentuk namaku terlihat di permukaan. Di daratan sana, aku melihat seorang perempuan duduk menangis di sebelah dupa sambil memeluk tubuh bocah lelaki. Aku mengenalinya. Lantas aku bergerak seperti jiwa-jiwa lainnya. Aku menggerakkan tanganku ke atas dan ke bawah. Aku menekan kepala jiwa-jiwa sebagai tumpuan untuk maju. Aku bergerak mengikuti asap dupa untuk menuju perempuan yang sangat kukenali itu. Di laut ini aku tak lagi mengenalnya sebagai ibu. Melainkan sebagai kekasihku. Ternyata akulah Teja yang berjanji menemui Nari saat senja.

Hari Libur Kebinasaan

Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 24-25 Maret 2018)
Hari Libur Kebinasaan ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Hari Libur Kebinasaan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
SEPULUH tahun lalu Herolena yang beberapa kali disalahpahami sebagai keturunan para nabi, mengharapkan Tuhan menurunkan firman-firman baru tentang kematian. “Tidak adil Tuhan terus-menerus tidak memberi pekerjaan kepada malaikat pencabut nyawa. Tidak adil setiap saat kita menghadapi hari libur kebinasaan. Orang-orang Ranarene makin lama kian takut pada kehidupan. Mereka ingin merasakan kematian yang indah juga,” ujar Herolena kepada diri sendiri.
Saat itu ketika berjalan-jalan di perdesaan penuh rumah-rumah bertaman luas, ia melihat beberapa perempuan tua menggantung diri di pohon-pohon berdaun biru, tetapi tak ada seorang pun yang mati. Beberapa lelaki menusukkan pedang ke perut, tak seorang pun yang menjemput ajal. Kali lain dia melihat puluhan anak terjun bebas dari pohon tertinggi, tetapi mereka justru tertawa riang begitu kepala-kepala mungil itu menghujam ke tanah penuh batu-batu dan koral.
Setahun kemudian ada rombongan pedagang dari luar kota meminta izin Herolena, yang pada waktu itu dipercaya jadi Kepala Desa Ranarene, untuk tinggal di lapangan terluas di perdesaan. Mereka mendirikan tenda-tenda warna-warni.
Warga Ranarene tidak begitu tahu apa yang dilakukan para pedagang. Ketika melewati lapangan, pada saat-saat tertentu-paling tidak tujuh kali sehari-mereka hanya mendengar ada yang berteriak keras-keras melantunkan semacam aba-aba, lalu para pengembara itu berdiri menghadap ke arah selatan, membungkuk, menelungkup, menyungkurkan diri, menelungkup lagi, berdiri lagi, dan mengakhiri tindakan itu dengan menangis bersama.
Mereka baru tahu ada yang bernama Krosakbabikri ketika lelaki bercula lembut dan berjubah merah muda itu menawarkan aneka benda yang bakal menjadikan Ranarene sebagai perdesaan beradab. Menjadi tamu terhormat Herolena, Krosakbabikri memperkenalkan radio.
Tentu saja Herolena takjub mendengarkan aneka suara berupa bisikan lembut, percakapan sengau, teriakan-teriakan tak jelas, nyanyian-nyanyian keras, dan doa-doa serupa racauan yang terdengar dari kotak ajaib itu.
“Kau bisa mendengarkan apa pun yang berasal dari kawasan yang jauh dari benda yang ditemukan oleh para cendekiawan terkemuka ini,” kata Krosakbabikri.
“Apakah kami bisa mendengarkan suara Tuhan?”
“Kau bahkan bisa mendengarkan suara iblis.”
“Suara hewan-hewan di langit?”
“Tentu,” kata Krosakbabikri sambil memutar-mutar tombol, “Kau juga bisa mendengarkan suara orang-orang yang sedang menggali emas di dasar bumi.”
“Berapa harga benda ini?” tanya Herolena.
“Kau hanya perlu menukar radio ini dengan sebidang tanah dan beberapa pohon yang bisa kami gunakan untuk membangun rumah.”
Herolena menyetujui permintaan Krosakbabikri.
Beberapa hari kemudian, Krosakbabikri menawarkan topeng berbahan kulit tipis yang jika dikenakan akan membuat sang pemakai memiliki wajah yang berbeda. Pada saat sama Krosakbabikri juga menawarkan cermin seukuran wajah manusia.
“Semua benda yang kujual akan membawamu ke dunia lain. Apakah kau siap hidup dengan banyak kejutan?”
“Jangan memberiku kemustahilan,” kata Herolena.
“Justru hal-hal yang dianggap mustahil yang selalu akan kutawarkan kepadamu.”
“Kau akan memberi tahu bagaimana aku melihat segala apa pun yang akan dilakukan Tuhan?”
“Pada saatnya nanti kau akan tahu apa pun yang disembunyikan oleh pengetahuan. Kau akan tahu berapa jumlah malaikat dan apa pun yang mereka sembunyikan selama ini. Kau akan tahu berapa jumlah nabi dan apa yang tak boleh mereka lakukan di dunia.”
Herolena tampak masih hendak mendebat, tetapi Krosakbabikri lebih cepat meminta kepala desa itu segera mengenakan topeng dan menggunakan cermin. Herolena lalu memilih salah satu topeng. Dia memilih topeng pria berwajah garang. Dia kemudian bercermin.
“Ya, Tuhan!” Herolena melepaskan cermin, “Siapa dia?”
Krosakbabikri tak segera menjawab pertanyaan, tetapi lebih berjuang menyelamatkan cermin yang jatuh. Hup! Cermin itu terselamatkan.
“Siapa dia?” tanya Herolena.
“Itu kamu juga.”
“Dia lebih garang dari semua lelaki Ranarene.”
“Ya, tetapi dia bukan orang lain,” kata Krosakbabikri, “Tetapi sudahlah kau jangan terlalu kagum pada ilmu pengetahuan yang kuperkenalkan kepadamu. Pada akhirnya nanti semua hal menjadi biasa setelah kau ketahui rahasia-rahasianya. Yang penting sekarang, kau mau membeli topeng dan cermin atau tidak?”
“Berapa harganya?”
“Kau hanya perlu memberiku beberapa bukit dan sebatang sungai.”
Herolena tidak keberatan. Herolena akan keberatan jika para pedagang, meminta segala satwa di langit dan di sungai-sungai. Karena itu dia bilang kepada Krosakbabikri, “Kau boleh minta bukit, tetapi jangan kauminta kupu-kupu, burung-burung, segala satwa melata, dan hewan apa pun yang berkeliaran dan terbang di kawasan itu. Kau boleh minta sungai, tetapi jangan kau minta kepiting, ikan-ikan, belut atau apa pun hewan yang berada di tempat itu. Apakah kau setuju?”
Krosakbabikri mengangguk. Radio, cermin, dan topeng pun berpindah tangan.
***
SUDAH sebulan Herolena asyik masyuk dengan radio. Meskipun ada siaran tentang presiden-presiden dari negeri-negeri jauh yang tumbang akibat kudeta, ia tetap hanya terpaku pada siaran tentang danau-danau yang bisa menyedot orang-orang yang merindukan kematian cepat.
“Tempat mati yang indah ini bernama Danau Megattutek,” kata sang penyiar, “Berbondong-bondonglah menyongsong kematian dengan cara berdiri satu kilometer dari tepi danau. Tunggulah badai datang. Biarkan tubuhmu diterbangkan oleh badai itu hingga ke atas danau.”
“Setelah itu?” Herolena bertanya dalam hati.
Radio tidak menjawab. Tak lama kemudian muncul bunyi krusak-krusek. Herolena memutar tombol untuk mendapatkan sinyal. Hanya sebentar suara radio menjadi jernih kembali.
“Akan tetapi kehendak untuk mati itu racun,” kata penyiar itu, “Siapa pun sebaiknya mati secara wajar. Tidak perlu diburu-buru. Tidak perlu dinanti-nanti.”
“Enak saja bicara seperti itu,” Herolena membatin, “Kami sudah bertahun-tahun menunggu kematian tetapi Tuhan tak pernah berkenan memberikan kematian kepada kami. Tuhan mungkin sudah lupa pernah menciptakan kami. Atau Tuhan hanya memberikan kehidupan tetapi sama sekali tak memberikan kematian kepada kami. Kami takut menjadi abadi.”
Tentu saja penyiar tidak mendengarkan keluhan Herolena. Penyiar yang sepanjang waktu tidak pernah mendengarkan apa pun yang dikeluhkan oleh para pendengar itu dengan santai bilang, “Agama yang baik selalu menyediakan cara-cara menjemput kematian yang indah. Agama yang buruk selalu menganggap kematian hanyalah omong kosong.”
“Omong kosong?” Herolena membatin lagi, “Agama kami tak pernah menganggap kematian sebagai omong kosong. Kematian bagi agama kami ibarat zat asam. Ia ada meskipun kami tidak pernah melihat warga Ranarene menjemput ajal.”
“Tetapi,” kata penyiar, “Telah muncul agama baru yang disyiarkan oleh nabi baru. Agama ini khusus untuk para pemuja kematian. Siapa pun yang ingin segera mati segeralah memeluk agama yang ritualnya selalu dimulai dari berteriak keras-keras melantunkan semacam aba-aba, lalu berdiri menghadap ke arah selatan, membungkuk, menelungkup, menyungkurkan diri, menelungkup lagi, berdiri lagi, dan diakhiri dengan menangis bersama itu.”
Kali ini Herolena agak terkejut. Dia merasa telah mengenal agama itu. “Jangan-jangan ini agama yang dianut oleh Krosakbabikri. Jangan-jangan Krosakbabikri bukan sekadar pedagang. Jangan-jangan Krosakbabikri adalah nabi baru yang disebut-sebut oleh penyiar itu?” Herolena tak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia yakin setelah bertemu dengan Krosakbabikri akan bisa menjawab pertanyaan itu.
***
SAYANG sekali justru ketika sangat dibutuhkan, Krosakbabikri tidak berada di Ranarene. Kata para pedagang lain, Krosakbabikri sedang berada di kota lain.
“Dia bersama para pedagang pengembara sedang menjemput para penemu Kitab Halali di Gua Raelling dekat Sungai Copottati.”
“Kitab Halali?” tanya Herolena sambil mengenang nama kitab yang dia dengar lima tahun lalu.
“Ya. Itu kitab untuk orang-orang yang ingin meninggalkan agama lama. Itu kitab baru yang selama 1.300 tahun menghilang dan dihalang-halangi untuk dibaca oleh siapa pun.”
“Apa keistimewaan kitab itu? Melebihi kitab berisi kisah-kisah para rasul? Berisi kisah-kisah pewahyuan?” tanya Herolena mencoba memancing pengetahuan sang pedagang agar segera menguar.
“Kitab itu mengajari siapa pun untuk mendapatkan cara mati yang indah.”
“Siapa nama nabi paling agung di kitab itu?”
“Aku belum paham benar siapa nabi atau Tuhan di kitab itu. Yang jelas, Krosakbabikri akan menjual kitab itu kepadamu.”
“Apakah Kitab Halali berbeda dari kitab-kitab lama?”
“Tidak terlalu berbeda. Namun ada rahasia-rahasia lain yang jika dibaca 1.300 tahun lalu akan membuat siapa pun tidak percaya pada Tuhan masa kini atau meledek nabi-nabi yang telah memberikan teladan-teladan indah.”
“Apa rahasia-rahasia lain itu?”
“Itu yang belum kubaca. Aku hanya mendengar dari Krosakbabikri semua agama yang kita anut hari ini salah. Diperlukan kitab baru agar orang benar-benar mendapatkan surga yang benar-benar surga.”
“Memang ada surga palsu?”
“Semua surga yang dipercayai orang-orang masa kini palsu.”
“Siapa yang bilang?”
“Krosakbabikri.”
“Dari mana Krosakbabikri tahu semua surga yang dipercayai oleh orang-orang masa kini palsu?”
“Dari Kitab Halali.”
Herolena tidak percaya pada jawaban semacam itu. Pengetahuan Herolena tentang Kitab Halali berbeda. Kata para pedagang barang antik, kitab itu sebenarnya lebih ingin menyatakan, dunia tidak diciptakan oleh satu tuhan. Karena tidak diciptakan oleh satu tuhan, tuhan lain bisa menjadikan kehidupan tanpa kematian atau kehidupan sehari dua-hari. Para tuhan juga tidak menciptakan satu surga dan satu neraka. Malah ada juga yang tidak menciptakan surga dan neraka. Adapun nabi utama kitab itu bernama Poo, saudara kembar Kain yang tidak pernah diceritakan di kitab-kitab lama.
Kitab Halali ditulis oleh Bahib Hozameh. Baib Hozameh adalah pria setinggi 2,9 meter yang mengaku mendapatkan wahyu rahasia dari Nabi Poo. Apa ajaran utama Nabi Poo? Ada 13. Pertama, semua manusia diciptakan oleh tuhan yang suka berperang. Tuhan yang meminta para umat bertikai sepanjang masa. Kedua, malaikat diciptakan dari kotoran kuda. Karena itulah derajat para malaikat tak pernah bisa setinggi manusia. Ketiga, musuh utama manusia bukan iblis. Manusia adalah raja-raja yang bertakhta di kerajaan iblis. Keempat, minta mati secepat mungkin kepada tuhan dan nabi adalah kebajikan tertinggi. Hidup sehari-dua hari merupakan tindakan suci. Kelima, Tuhan tak menghendaki manusia berkorban terus-menerus. Keenam, puncak pengkhianatan manusia terjadi jika mereka hanya percaya pada satu tuhan. Ketujuh, berdaganglah dengan orang-orang bodoh. Kedelapan, pilihlah pemimpin yang berani menista agama lama. Kesembilan, jika ingin mati cepat, matilah di bawah pohon pisang. Ke-10, teriakkan nama tuhan dan nabi keras-keras saat berperang. Ke-11, jangan bergurau ketika bercinta. Ke-12, membunuhlah sesuka hati jika agamamu dilecehkan. Ke-13, bakarlah kitabmu jika kau merasa tidak perlu beragama dan bertuhan lagi.
Selesai menulis Kitab Halali, Bahib Hozameh melarikan diri ke Negeri Gurun Muruah. Dia hendak dibunuh oleh para serdadu Kacrut Bokaah. Setelah itu Kitab Halali hilang. Bahib Hozameh juga tidak pernah kembali ke Kacrut Bokaah. Dia juga tidak pernah ke Ranarene, bagian tak penting dari Kacrut Bokaah itu.
Apakah orang-orang Kacrut Bokaah pernah membaca Kitab Halali? Sebagian ada yang membaca. Orang-orang yang tinggal di Gua Raelling dekat Sungai Copottati pernah bertemu dengan Bahib Hozameh. Mereka juga pernah membaca Kitab Halali. Kini, Krosakbabikri sedang menjemput penemuan Kitab Halali dan akan menjual aneka kisah rahasia yang termaktub di buku itu kepada Herolena.
Ada juga Kitab Halali versi Homaz Raceetha. Kitab itu ditulis oleh Raceetha dengan bahasa Hejo, bahasa kuno Kacrut Bokaah. Inti ajarannya: Pertama, tuhan hidup tetapi tidak pernah menciptakan apa pun. Apa pun yang berkait dengan dunia dikreasi oleh manusia. Kedua, kehancuran dunia tidak akibat tangan jahil tuhan melainkan oleh ulah manusia sendiri. Ketiga, manusia pada akhirnya hanya akan jadi budak dari apa pun yang diciptakan oleh manusia.
Yang mengejutkan pernah muncul Kitab Halali versi Huzum Ogreh. Huzum Ogreh menyatakan, “Semua tuhan telah mati. Semua agama telah hancur. Semua nabi hanyalah nonsens. Tuhan, agama, dan nabi bisa diciptakan siapa pun dan kapan pun.”
Hingga saat ini Herolena belum menjadi penganut agama yang disyiarkan oleh Kitab Halali.
***
SEBELUM bertemu dengan Krosakbabikri, Herolena membaca Kitab Halali versi Homaz Raceetha. Herolena heran mengapa di kitab itu tertulis, “Tuhan bersabda pada Nabi Poo: Tinggalkan agama yang sekarang ini. Aku akan memberimu rahasia-rahasia untuk mati secara cepat. Kau juga tidak perlu lagi percaya kepada surga dan neraka.”
Karena itulah begitu bertemu dengan Krosakbabikri, Herolena bertanya, “Apakah Kitab Halali berkisah tentang rahasia-rahasia untuk memperoleh kematian tercepat?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Apakah Tuhan meniadakan dirinya sendiri di kitab itu?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Apakah tak ada surga dan neraka di kitab itu?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Apakah setiap orang bisa jadi nabi?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Apakah kau akan menjual Kitab Halali versi Bahib Hozameh kepadaku?”
Krosakbabikri mengangguk.
“Berapa harganya?”
“Kau tidak perlu membayar sedikitpun untuk kitab ini. Kau hanya perlu menjadi penganut agama yang disyiarkan oleh Kitab Halali.”
“Menjadi penganut?”
“Ya, kau harus meninggalkan agama lama.”
“Kalau aku memberimu setengah Ranarene, apakah kau tetap akan memintaku menjadi penganut agama baru?”
“Kauberi satu desa pun, aku tak akan memberikan kitab itu kepadamu jika kau tidak menganut agama baru.”
“Apakah setelah membaca Kitab Halali dan menganut agama yang ditawarkan, orang-orang Ranarene akan bisa menjemput kematian dengan gampang?”
Krosakbabikri mengangguk.
Tak ada cara lain, demi kematian yang agung, Herolena menerima tawaran Krosakbabikri.
***
AKAN tetapi semua tindakan Herolena hanyalah taktik untuk mendapatkan pengetahuan tentang kematian. Meskipun demikian, Herolena tetap membaca prinsip-prinsip yang termaktub di dalam Kitab Halali. Menurut kitab itu para tuhan ada begitu saja di dunia. Para tuhan tak menciptakan apa pun karena alam semesta juga muncul begitu saja. Meskipun demikian, pada suatu masa, terjadi perang antar-tuhan. Banyak tuhan terbunuh dan muncul satu tuhan yang paling perkasa.
Tuhan yang paling perkasa itu kemudian bersabda kepada Nabi Poo. “Poo kau adalah juru selamat orang Yoalhude yang dikirim oleh Tuhan orang Yoalhude untuk menggenapi Kitab Halali. Kau dan umatmu dari belahan dunia mana pun harus beribadah sesuai yang dilakukan oleh orang Yoalhude. Tak patuh pada ayat-ayat di Kitab Halali akan membuat siapa pun tak bisa mendapatkan kematian yang indah.”
“Mengapa Tuhan orang-orang Yoalhude merupakan tuhan yang mengancam?” pikir Herolena.
Di Bab Horombale Pasal 1 Ayat 12 juga terdapat ancaman. “Aku (Poo, nabimu) tidak menyukai orang-orang yang lemah. Berperanglah demi agamamu. Berperanglah demi nabi dan tuhanmu.”
Herolena tak nyaman membaca ayat-ayat semacam itu. Karena itulah setelah mempelajari ayat-ayat yang berkait dengan cara cepat memperoleh kematian, dia punya gagasan menghilangkan pengaruh Kitab Halali. Pertama, dia tak akan mensyiarkan kitab itu di Ranarene. Kedua, dia akan membunuh Krosakbabikri. Dia tidak akan menusuk jantung Krosakbabikri tetapi hanya akan meracun lelaki bercula lembut itu dengan sorareh, yakni minuman keras khas Ranarene, sebanyak-banyaknya.
***
APAKAH Krosakbabikri bisa mati di Ranarene? Herolena yakin hari libur kebinasaan hanya berlaku untuk warga Ranarene. Karena itulah sebelum Krosakbabikri bertamu ke rumah, Herolena sudah mempersiapkan sorareh. Namun, di luar dugaan, Krosakbabikri datang ke rumah Herolena bersama 13 pedagang berobor yang kini lebih tampak sebagai serdadu itu.
“Aku tahu kau tak akan mensyiarkan Kitab Halali kepada warga Ranarene. Aku sejak dulu tahu kau lebih setia pada agama lama yang dianut oleh warga Ranarene. Tetapi ketahuilah, aku datang ke desa ini bukan untuk berdagang. Aku ke sini untuk menyebarkan agama baru. Aku akan membunuh siapa pun yang menghalangiku,” kata Krosakbabikri, “Aku sendirilah yang akan menyebarkan segala ayat yang termaktub di dalam Kitab Halali.”
Herolena kaget. Meskipun demikian, Herolena menantang Krosakbabikri. “Aku tak takut mati. Mati adalah kebajikan tertinggi warga Ranarene.”
“Kami akan membakarmu,” kata Krosakbabikri.
“Aku tak takut pada apimu. Aku tak takut pada apa pun yang akan kaulakukan kepadaku.”
Lalu, tak menunggu lama, tanpa disuruh oleh Krosakbabikri, sebagian pedagang memborgol tubuh Herolena di tiang dengan tali, sebagian lagi memukul kepala Herolena dengan linggis, sebagian lagi segera membakar kaki, tangan, dan seluruh tubuh Herolena.
Juga tidak perlu menunggu lama, Herolena mulai terbakar. Saat itu Herolena mulai tidak yakin apakah hari libur kebinasaan masih berlaku di Ranarene. Herolena hanya mendengar Krosakbabikri berteriak, “Bunuh tuhan lamamu! Bunuh Tuhan lamamu! Aku akan mengampunimu.”
Membunuh Tuhan? Herolena tidak yakin apakah dia bisa membunuh Tuhan. Meskipun demikian, Herolena masih punya hasrat. Mati atau tak mati, Herolena menentang apa pun yang akan dilakukan Krosakbabikri. Herolena sama sekali tidak takut meskipun dalam gemuruh 13 pedagang yang berteriak-teriak menyebut nama tuhan dan nabi mereka, api terus menjalar ke tubuhnya yang rapuh.
“Aku hanya takut pada keabadian, ya Tuhan. Aku hanya takut jika tak mati-mati sepanjang waktu yang Kauciptakan untukku.”

Triyanto Triwikromo adalah peraih Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa dan Tokoh Seni 2015 Pilihan Majalah Tempo. Ia antara lain menulis kumpulan cerita Ular di Mangkuk Nabi dan Surga Sungsang.

Rabu, 21 Maret 2018

Apakah Cinta Sepasrah Itu?

Cerpen Danang Cahya Firmansah (Pikiran Rakyat, 18 Maret 2018)
Surat Pagi ilustrasi Mariska Ratri Handayani - Pikiran Rakyat.jpg
Surat Pagi ilustrasi Mariska Ratri Handayani/Pikiran Rakyat
DYASS nama gadis itu. Gadis bertahi lalat di pipi kiri sebesar biji kacang tanah, wajah oval, rambut hitam mengilat itu selalu membuyarkan hari-hariku sejak kali pertama melihat dia dan kemudian berkenalan. Awalnya dalam beberapa diskusi buku di kampus, ia selalu hadir. Ia datang bersama kawan-kawan perempuan, dan aku datang bersama kawan-kawan laki-laki. Dia selalu memandangku, berkali-ulang dalam setiap acara diskusi buku.
Bermula dari gesekan mata kami, kemudian aku memberanikan diri berkenalan. Lalu kami tukar kontak nomor hape. Saat bertemu, kami tak banyak ngobrol, namun mata kami lebih banyak berkata.
Setelah mendapat nomor dia, aku langsung menyapa lewat SMS. Dia pun membalas, dan obrolan pun berlanjut. Obrolan yang membuat hari-hariku terisi lambungan harapan-harapan bahwa dia segera menjadi milikku.
Dyass pun membalas setiap pesan yang kukirim dengan hangat, seperti seseorang yang lama kenal. Kami berdua dengan mengandalkan sinyal, bercakap-cakap banyak hal, tentang perkuliahan, keluarga hingga menjurus soal cinta. Ya, soal cinta.
Obrolan lewat dunia maya terasa kurang mantap. Aku meminta bertemu Dyass keesokan hari. Dyass dengan antusias mengiyakan. Oh betapa indah dunia, aku merasa tak rugi telah membeli pulsa dan paketan internet. Usahaku di dunia maya kuubah ke dunia nyata. Aku ingin bertemu langsung sambil menatap mata, tahi lalat, dan rambut hitamnya.
Kami sepakat bertemu.
Saat bersama di sebuah kedai, aku memendam rasa gugup. Keringat dingin membasahi tubuh. Sesekali aku mencium aroma tubuhku, apakah minyak wangi yang kusemprot ke tubuhku kalah oleh bau keringatku? Aku salah tingkah.
Namun Dyass seperti tak merasa gugup. Dia bicara dengan mengalir diiringi tawa. Saat ia tertawa, aku pun tertawa. Meski tawaku bukan lantaran lucu. Aku tak enak hati pada orang yang tertawa di depanku. Sekaligus agar dia tak tahu kegugupanku.
Setelah berjam-jam di kedai, kami pun pulang ke kos masing-masing. Dan malam- malam berikutnya kami sering bertemu. Intensitas pertemuan itu membuat kegugupanku lenyap. Kini cinta bangkit di jiwaku.
***
PADA hari-hari berikutnya hubungan kami makin akrab, kian dekat mengikat erat. Aku tumbuh kangen jika tak bertemu, tumbuh gelisah jika tak ada kabar dari dia. Dyass menjadi candu yang kian hari membuatku tak bisa lepas. Seperti ada tali mengikat, bagai lem yang merekatkan.
Sebagai lelaki, aku sadar dalam membangun hubungan cinta, lelakilah yang sepantasnya memulai, mengutarakan, bukan malah memendam menimbun rasa yang kian menumpuk. Tergerak atas kesadaran itu, aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku, menyatakan cinta, sekaligus memintanya menerima menjadi pasanganku.
Malam itu juga aku memintanya bertemu. Seperti hari-hari biasa, ia pun mengiyakan. Ya, pada malam itu saat di perjalanan, keringatku keluar membasahi badan. Keringat yang keluar dari rasa gugup seperti kali pertama bertemu. Aku memikirkan rangkaian kata yang pas dari mulutku untuk membungkus ungkapan perasaan. Perasaan yang menggumpal, bermula dari sorot matanya yang tertuju padaku setiap acara diskusi buku.
Sesampai di kedai, dia justru telah datang lebih awal, menungguku. Dyass duduk dengan berpakaian serba merah, bibir berwarna merah darah. Lampu kedai yang remang membuat dia bagai meteor terbakar di langit malam. Bagiku dialah pusat perhatian.
Setelah memesan minum, kami ngobrol. Kegugupanku makin merunyak bangkit seperti kali pertama aku mengajaknya bertemu di kedai ini. Saat aku hendak mengutarakan isi hatiku, tiba-tiba lidahku kelu dan kaku. Kata-kata macet di tenggorokan. Dada sesak.
Dyass malah memegang tanganku yang bergerak-gerak karena salah tingkah. Ya. ketika tanganku di atas meja, dia segera meremas lembut sambil berkata. “Maukah kau jadi pasanganku?” Aku tercekat kaget. Hatiku berdebar-debar hebat, antara bahagia, malu, dan benci menyeruak di rongga dada.
Suka karena dia ternyata menyimpan perasaan sepertiku. Malu, sebagai lelaki sepantasnya aku mengutarakan lebih dulu. Benci karena kejantananku ternyata lebih kecil dari tahi lalat gadis di depanku. Sialan!
“Kenapa melamun? Keberatan ya atas permintaanku?”
Lamunanku buyar. Aku segera mengangguk keras. Dan, ganti meremas tangan Dyass. Dyass pun tersenyum, matanya berbinar-binar bagai bintang berkelipan di langit malam. Oh, betapa bahagia hatiku saat itu, meski masih memendam benci pada diri sendiri.
***
HARI-HARIKU kini tak menggigil lagi. Dyass mewarnai kain kanvas kosong di hatiku dengan lukisan-lukisan indah. Namun segera, lukisan itu tercoret oleh tinta hitam yang membuyarkan keindahan. Aku sebenarnya telah curiga, namun perasaan itu selalu kusingkirkan. Kecurigaanku itu tanpa sengaja menemui titik jelas. Curiga berubah menjadi percaya. Dyass ternyata memiliki pacar selain aku.
Aku sangat cemburu mengetahui perkara itu. Kejelasan itu berawal saat kubuka hape dia dan tanpa sengaja membuka pesan dari seseorang cowok di kontaknya. Kontak itu ia namai Honey. Kuperiksa nomornya dan ternyata bukan nomorku. Hampir saja hape itu kulemparkan ke muka Dyass. Sekuat hati aku mengendalikan amarah. Namun perlahan kubaca pesan itu kembali. Pesan berisi amarah seorang cowok. “Aku sangat cemburu mengetahui kau bersama cowok lain. Sudah lima tahun kita bersama, tapi kau….”
Aku tak melanjutkan membaca pesan itu. Aku justru membayangkan betapa lebih sakit hati si cowok itu ketimbang aku. Aku baru seminggu menjalin cinta dengan Dyass pun merasakan sakit seperti ini! Apalagi jika telah lima tahun? Amarahku pun surut. Meski belum lenyap tuntas.
Aku bertanya pelan dengan nada berat perihal statusnya. Dia pun mengakui. Cowok itu bernama Made, mahasiswa asal Pulau Dewata. Namun dia tak kuasa memilih aku atau Made. Dia tak kuasa. Dyass menangis sesenggukan. Tangisan itu meluluhkan perasaanku. Amarahku bertumpuk oleh belas kasihan.
Sejak kejadian itu aku pun bingung antara memilih melepaskan Dyass atau tetap menjaganya dengan status memiliki pacar selain aku. Setelah berhari-hari, aku menegaskan untuk menjaga Dyass, dengan alasan suatu saat Made tak betah dan menyingkir.
Aku selalu berbuat baik pada Dyass. Sering pula aku menanyakan kabar mengenai Made. Meski penuh kemarahan, namun aku tutupi sekuat hati.
Suatu ketika Dyass bercerita kalau Made sedang sakit. Ya, aku segera mencarikan obat dan memberikan pada Dyass. Dengan langkah semacam itu aku berharap Dyass lebih memilihku karena kebaikanku. Namun hingga berbulan-bulan, Made masih bertahan bersama Dyass.
Di kontak nomor hape Dyass, nama Honey ada dua. Honey 1 dan Honey 2. Honey 1 adalah Made dan Honey 2 itu aku. Hal ini, kata Dyass juga diketahui Made.
***
SAAT bulan memasuki musim pancaroba tepatnya pada Oktober, aku mengalami flu berat. Kukabarkan keadaanku pada Dyass. Ia pun segera datang ke kosku membawakan banyak buah dan beberapa tablet obat. Aku tersipu. Betapa perhatian dia padaku.
“Kaubeli di mana buah ini?”
“Aku nggak beli, Sayang.”
Aku kaget dan bangkit dari rebahan.
“Lantas?”
“Ini dibelikan Made. Dia bilang, ini buat kamu, Sayang.”
Oh betapa mulia hati dia. Lalu sampai kapan ini berakhir? Kataku dalam hati.
Dyass memegang dahiku. “Oh panas sekali suhu tubuhmu, Sayang.”
Tubuhku tetap panas, namun setelah dia mengusap dahiku, amarahku pun reda.
“Bagaimana kabar Made?” tanyaku kemudian sambil merebah lagi.
“Baik kok, Sayang,” katanya sambil mengupas jeruk untukku. ***

Daun yang Sombong, Bunga yang Bodoh, dan Rumput yang Pasrah

Cerpen Adi Zamzam (Tribun Jabar, 18 Maret 2018)
Daun yang Sombong, Bunga yang Bodoh, dan Rumput yang Pasrah ilustrasi M Nurhamzah - Tribun Jabar.jpg
Daun yang Sombong, Bunga yang Bodoh, dan Rumput yang Pasrah ilustrasi M Nurhamzah/Tribun Jabar
ANGIN berembus sepoi, namun cukup kuat untuk menguarkan harum semerbak bunga-bunga yang sedang bermekaran di pucuk pepohonan depan sekolah dasar itu.
“Karena harumku, kalian lihat saja nanti, kumbang-kumbang pasti akan berebut singgah ke sini. Karena kecantikanku, kalian perhatikan saja nanti, kupu-kupu pasti takkan mau kalah untuk mencicipi maduku.”
Aku, yang sering kesepian dalam deraan umur yang sudah sekian lama ini, hanya terdiam. Drama seperti ini sebenarnya sudah sangat aku hafal. Tentu aku sadar bahwa takdir semacam ini harus bisa kami terima dengan lapang dada jika tak ingin terus-menerus merana. Toh sakit telinga ini hanya semusim.
Tapi kalian tentu bisa membayangkan seberapa kadar penderitaan telinga kami ketika musim itu tiada henti mengirimkan angin panasnya.
“Karena kami tidaklah seperti makanan hama semata.”
“Karena kami bukanlah hanya penambah kesuburan tanah sebelum punah.”
Maka ketika musim yang memekakkan telinga itu hampir tiba, kami pun harus sudah mempersiapkan mental untuk mendengarkan kalimat-kalimat menyakitkan semacam itu.
***
KETIKA itu hujan mampir lama di beranda kami. Dengan sifat sejuk dan kebeningan menerjemahkan cahaya kepada mata, ia menitipkan sebuah sajak yang entah bagaimana langsung bisa menghunjam ke dalam kalbu kami.

Sebab kelopak mata
butuh sekian detik untuk terbuka
dan menemukan cahaya

“Persoalan akrobatik bahasa memang selalu menimbulkan kerancuan dalam penyampaian makna,” gumamku, di depan serpihan hujan itu.
“Ah, bias makna itu sebenarnya adalah masalah hatimu sendiri. Segala yang terlihat pada akhirnya menjadi bias lantaran tercampur aduk dengan masalah masing-masing individu.”
Seberkas cahaya yang memancar terang dari bulir tubuhnya membuatku kesilauan, tak mampu berujar apa-apa.
“Apa?” tanyanya.
“Aku tak mengerti. Kau masih saja seperti itu. Seolah kau adalah utusan langit yang butuh kebijaksanaan level tertentu jika ingin memahami bahasamu.”
“Sabarlah,” ujarnya, :kau pasti akan mengerti maknanya, saat waktunya tiba,: jawabnya dengan gaya filosofis lagi.
“Jadi aku harus menunggu, hanya untuk memahami celotehmu yang sok tahu itu? Duh, seolah-olah perkataanmu dapat berkecambah dalam pemahaman saja.”
“Memang,” tangkisnya. Dengan nada amat yakin.
Dan aku mulai mual. Toh ia hanyalah seorang pengembara yang setelah ini akan hilang entah ke mana.
***
KAMI masih menunggu ketika musim kemarau membawa bisikan-bisikan riuh nan jahat. Kami bersorak ketika gerumbul bunga-bunga sudah mulai berguguran, mengering, dan kemudian kembali menyatu dengan tanah. Diam-diam ada doa jahat yang mengendap-endap dalam gelap—semoga bunga-bunga nan sombong itu tak pernah muncul lagi!
Tapi tentu saja aku sadar bahwa doa itu takkan terwujud jika siklus kehidupan masih berjalan seperti biasanya. Mestinya memang ada kebiasaan yang harus diubah untuk mendapatkan perubahan yang pasti.
Ketika kubisikkan hal itu kepada teman-teman, kami sepakat menamainya Revolusi untuk Perubahan Masa Depan. Musim kemarau kali ini pun menjadi musim paling berat yang harus dilewati, hingga tubuh kami terlihat mengerut lantaran kekurangan bahan makanan.
“Apa kalian tak merasa sedang menyiksa diri sendiri?” akar-akarlah yang pertama kali memprotes tindakan kami. Itu wajar saja, sebab bahan makanan yang mereka setorkan sebagiannya kami tolak—hingga konon membuat mereka “hamil palsu”. Tapi bukannya senang dengan beban kerja yang bertambah ringan, mereka justru mengkhawatirkan stamina pohon yang mereka topang.
“Tanpa makanan dan gizi yang cukup, bagaimana ia bisa menopang kehidupannya dengan baik? Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?”
“Kami masih menunaikan tugas kami,” kami pun berkeras dengan rencana itu. Tak peduli kepura-puraan itu telah diketahui.
***
KETIKA pertumbuhan sang pohon tersendat, angin yang lewat terdengar mengeluh sayu perihal bunga-bunga yang tak dapat lagi mereka jumpai. Kami juga bersorak tatkala mendengar lagu-lagu patah hati dari para kumbang yang terdera rindu dan rasa kehilangan.
“Andai saja mereka mau mengakui jasa kita, sedikit saja,” gumam salah seorang sejawatku.
Dan kesedihan yang mereka tanggung itu semakin kompleks tatkala beberapa manusia yang biasa memuji-muji kami (lebih tepatnya hanya memuji-muji bunga) mendadak menyatakan bahwa kami (satu pohon) hanyalah parasit lingkungan yang seharusnya disingkirkan demi kebaikan bersama. Kami baru menyadari bahwa musim ulat telah membawa sejumlah pasukan herbivora yang kembali mengingatkan kami dengan ejekan-ejekan yang amat menyakitkan itu.
Dasar makanan ulat!
Hanyalah daur ulang kotoran ulat!
Didih amarah akhirnya sempurna membakar kesabaran kami. Sampai di sini, ketika kami berhasil membuat bunga-bunga itu tak pernah lagi muncul ke dunia, kami benar-benar merasa senang dan puas. Apakah kalian masih bisa mendengar semua ejekan itu lagi, sekarang?
Seperti ada yang meletus-letus di udara, dan bingarnya memenuhi pendengaran. Diam-diam kami pun bersorak.
“Hidup, para kuli!!”
“Hidup, para budak!!”
Semacam teriakan sarkastis untuk merayakan kemenangan berhamburan tak karuan.
***
SEMUANYA berubah hampa tatkala pohon tempat kami bersemi rebah ke tanah dengan pasrah. Oksigen mulai menciut. Sekujur kulit terasa mengering dengan begitu cepatnya. Kami berlomba tersengal. Sungguh tak disangka jika akhirnya mereka benar-benar memutuskan menebang dan menghilangkan kami.
Dalam perjalanan menuju sekarat itu kami sempat mendengar alunan nyanyian merdu kaum rerumputan, yang persis berada di bawah tubuh kami yang telah tumbang.

Mengapa mesti risau dengan hidup
yang kembangnya hanya mekar satu pekan
Cukuplah dirimu menghirup udara segar
Dan setelah tuntas manfaat
Kematian adalah kado berbungkus biru

Nyanyian yang terdengar seperti ejekan. Tawaku tersulut ketika seekor kambing tiba-tiba datang melahap mereka dengan bahasa kerinduan tak terperi. Seolah nyanyian itulah yang justru memanggil para penguasa rantai makanan itu.
Hampa. Setelah itu aku benar- benar disergap perasaan hampa yang semesta. Aku merasa ada yang telah tersia-sia.
Kubayangkan, andai diriku adalah kaum rumput yang malang itu, pasti diriku sekarang akan menjalani sebuah perjalanan panjang seperti yang pernah dikatakan mereka, “Seharusnya kalian bisa melihat kebahagiaan dari sudut pandang lain. Bahwa kebahagiaan tak melulu bermuara dari pujian semu.”
Lagi-lagi kalimat itu terdengar seperti menyindir. Apalagi kemudian mereka meneruskan dengan…
“Mempersembahkan sekuntum bunga seharusnya adalah kebahagiaan paling besar bagi kita,” sembari menari bersama angin yang sependapat dengan kalimatnya. Bunga nan halus yang baru saja mekar di ujung tubuhnya terlihat seperti mahkota yang menambah keelokannya.
“Bagaimana jika bunga itu justru membuat hidupmu terasa buruk dan tak berarti?” protesku.
“Itu lantaran lagi-lagi kalian tak mau memandang segala sesuatu dari sudut pandang kedua.”
Percakapan itu menghilang seiring dengan perginya seekor kambing yang masih saja mengembik kelaparan.
Sementara dalam detik-detik menjelang padamnya penglihatanku, sebuah doa telah melesat sedemikian cepatnya ke udara. Semoga saja di kehidupan selanjutnya aku dikaruniai bunga-bunga yang tahu berterima kasih dan sadar akan asal-usulnya.

Banyuputih – Kalinyamatan, Jepara, 2017
Adi Zamzam lahir di Jepara, Jateng, 1 Januari 1982. Cerpennya tersebar di Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, dan lain-lain. Bukunya antara lain Menunggu Musim Kupu-kupu-Kumpulan cerpen (Basabasi/DIVA Press Grup, 2018).

Balada Seorang Gemblak

Cerpen Devi Eka (Radar Surabaya, 18 Maret 2018)
Balada Seorang Gemblak ilustrasi Fajar - Radar Surabaya
Balada Seorang Gemblak ilustrasi Fajar/Radar Surabaya
Klik.
Angger menutup teleponnya. Gamang, kabut hitam menyelimuti semesta batin. Suara adik perempuannya menyadarkan, ia belum terpisah dari masa lalu. Kata-kata merajuk bak aliran derita tiada putus, merongrongnya menghadapi hidup yang ingin ditinggalkan. Haruskah ia pulang ke Ponorogo setelah sepuluh tahun melarikan diri?
Angger merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya terpejam, tetapi pikirannya berkeliaran. Wajah-wajah dari masa lalu berkelebatan. Cerita-cerita terurai dalam alur liku ngilu. Ternyata Surabaya tak membebaskannya. Jarak terentang hanya pilinan bumi yang menyeretnya pada luka menahun. Tubuhnya di sini, tetapi jiwanya tertinggal di sana. Hatinya terus menjerit kecewa, mendendam kenyataan yang tak diinginkannya. Ia ingin menyudahi segalanya. Namun suara-suara liar membentangkan lembaran cerita yang belum tamat, belum ada titik akhir. Dan pelariannya semakin memperdalam beban diri, leluka hati. Barangkali sekarang saatnya.
Masa sepuluh tahun tak memadamkan bara. Tiada guna membakar lebih lama. Biarlah hangus menjadi abu bila itu jalannya. Ia menarik napas dalam, diembuskan sangat pelan. Ia akan menamatkan gejolak ini, mengakhiri jeritan hati. Biarlah yang terjadi biar saja terjadi. Ia pasrah tanpa menyerah, meski hilang arah.
Telepon menyala. Satu pesan masuk.
Kesehatan Warok Sumitro semakin kritis. Hanya nama kamu yang disebutnya, Ngger. Dokter sudah angkat tangan. Pulanglah, Ngger, pulanglah.
***
Bus Restu bergerak meninggalkan terminal Bungurasih, Surabaya. Angger duduk di pojok paling belakang. Ia memejamkan mata, berusaha tidur. Tak bisa. Endapan kenangan terangkat ke permukaan, membentuk jalinan cerita hidupnya, yang kembali terulang di benaknya. Ia menggigit bibirnya sendiri. Getir.
Angger baru lulus Sekolah Dasar. Ia memendam keinginannya melanjutkan Sekolah Menengah Pertama. Bapaknya telah meninggal dunia. Ibunya sakit-sakitan. Adiknya kelas tiga Sekolah Dasar. Ia menjadi tulang punggung keluarga. Entah apa yang akan dikerjakannya. Mungkin menjadi buruh tani, kuli batu, atau tukang kebun. Tak ada pilihan lebih baik. Ia hanya ingin melanjutkan hidup keluarganya. Apa boleh buat, mimpinya sekolah tinggi harus diluruhkan dari pikiran.
Sore itu, perempuan separuh baya bertandang ke rumah. Melihat ibunya terbaring di amben bambu, mengamati rumahnya yang reot, dan mengenaskan. Angger diajak keluar rumah. Duduk di bangku kayu. Perempuan itu mengamati dari kepala sampai kaki. Terlihat puas. Entah apa yang hidup di pikirannya. Lalu melambaikan tangan ke kusir dokar. Kusir turun dari dokar sambil membawa bungkusan besar.
“Angger, Cah Bagus, ini titipan dari Warok Sumitro,” ucapnya sopan.
“Matur suwun.” Ia mengangguk, menunduk-nunduk.
Lalu perempuan itu beranjak naik dokar, meninggalkannya dalam tanya kabur. Tumben Warok Sumitro memberi oleh-oleh? Ia masuk ke dalam rumah, membuka bungkusan berisi bahan makanan dan amplop uang.
Ia menjerang air untuk menanak nasi. Bahagia membalut hatinya. Setelah berhari-hari makan gaplek, hari itu bisa menikmati nasi putih, sambal terasi, dan kerupuk udang. Syukur, berkah hidup.
Seminggu kemudian, perempuan itu datang lagi, mengajaknya ke rumah Warok Sumitro. Ia lekas mandi, pakai baju terbaik. Niat hatinya mengucapkan terima kasih. Di atas dokar, ia menimbang kata, bagaimana mesti mengucapkannya. Krama inggil. Ya, itu yang terbaik. Ia menebarkan pandangan ke kanan-kiri jalan. Hamparan padi menguning, pokok-pokok tebu, kekayaan kampungnya, kemiskinan hidupnya. Ia merasa senasib dengan kuda penarik dokar dan penumpang, berimbal rumput dan air putih. Nasib orang kecil, orang miskin.
Tiba di rumah priyayi itu, ia duduk di ruang tamu dalam takjub sekaligus gentar. Bunyi selop berderik meletupkan hatinya. Ia menundukkan kepalanya, melirik dengan ekor matanya. Warok Sumitro duduk di hadapannya, mengisap rokok. Wajahnya bertabur bulu hitam, perutnya buncit, geraknya menandakan perkasa. Hening. Priyayi itu terus menelisik tubuhnya dari hadapannya. Ia hanya mampu diam gemetaran.
“Angger, Cah Bagus, katanya kamu sudah lulus sekolah?” Suaranya menggelegar mantap.
“Inggih, Ndoro.”
“Pingin sekolah SMP, Ngger?”
“Inggih, Ndoro.”
Sejak detik itu laju hidupnya berubah arah. Warok Sumitro menjadikannya gemblak. Kebutuhan keluarganya dicukupi. Ibunya diobati sampai sembuh. Biaya sekolah adiknya ditanggung semua. Rumahnya diperbaiki. Seekor sapi di kandang belakang rumah, prasyarat pinangan. Ia melanjutkan sekolah, tinggal di rumah sang warok, menapak hidup dengan pemahaman baru. Setiap malam Warok Sumitro ngeloni sambil menembang Jawa. Ia damai. Seolah yang pergi telah kembali, yang kosong terisi. Dekapan hangat mengingatkan pelukan almarhum bapaknya. Kebutuhan batinnya tercukupi. Ledakan gejolak akil baliq terluahkan di dalam kamar. Ia dan Warok Sumitro menggila dalam epos malam banjir keringat. Angger hadir di setiap pagelaran reog, kumpul-kumpul sinoman, atau jalan-jalan keliling kampung. Suara-suara memuji ketampanannya. Sepasang alis tebal hitam, sinar mata jerih, bibir ranum, dan kulit kuning langsat bersih. Ia diam, menatap Warok Sumitro tersenyum bangga. Entah apa yang membanggakan dari dirinya. Terkadang ia tak bisa berkelit dari warok-warok lain yang menggodanya, menjawil bagian tubuhnya. Tetapi, ah, itu sudah risiko menjadi pemuda tampan. Dan perasaan muda menumbuhkan cinta. Angger melihat Warok Sumitro tidak lagi sebagai malaikat penolong, melainkan kekasih. Perasaan memiliki mengikatnya dalam manja, tak ingin terpisah. Di sisi lain, ia tak mampu menyelami kedalaman hati pujaannya. Adakah perasaan sama atau sekadar laku budaya? Taburan bahagia seakan tiada habisnya. Ia mencoba percaya, itu bukti cinta yang sama.
Ada yang tak bisa ditepis: waktu. Tahun-tahun mengalirkan madu cinta. Tibalah akhir muara. Angger masuk SMA. Suara-suara warok di luar rumah menggerogoti batinnya. Seharusnya Warok Sumitro mengakhiri penggemblakan ini. Seharusnya Warok Sumitro mencari gemblak baru yang lebih muda. Ia menepis suara-suara itu. Percaya penuh, Warok Sumitro mempertahankannya. Desas-desus menguat. Para warok menggelar pertemuan untuk membicarakan hal itu. Batas telah dilanggar. Harus diingatkan. Keputusan pun mengacu masa lalu. Gemblak baru harus dihadirkan mengganti gemblak lama. Gemblak lama diwariskan pada warok lain. Begitulah. Akhir budaya. Tiada pertimbangan cinta.
Pripun?” Ia bertanya.
Embuh, Ngger,” jawab tuannya menggantung.
Hatinya panas. Ia tak sudi dimainkan bak bola pingpong. Ia ingin terus bersama sampai tua. Ia menggerutu ngilu, mengunci diri di dalam kamar. Kecewa hatinya menyadari tak ada balasan cinta yang sama, yang diperjuangkan berdua. Cintanya hanya benalu dalam tangguhnya cengkeraman budaya. Apa yang terjadi esok hari, leluka sama dengan gemblak sebelumnya. Apa boleh buat.
Ia terbangun lebih pagi. Kuda meringkik di halaman rumah. Ia menajamkan telinga, mengintip dari celah jendela. Perempuan separuh baya yang dulu menjemputnya, sekarang membimbing anak lelaki bau kencur. Cemburu merobek-robek hatinya. Ia meratap, menangis sejadi-jadinya, sambil memukuli Warok Sumitro yang masih tertidur. Warok Sumitro gelagapan menerima serangan di pagi buta. Begitulah. Cinta muda terluka budaya.
Angger memilih meninggalkan Ponorogo, minggat ke Surabaya, daripada menghancurkan diri dengan warok lain atau menikahi perempuan. Kecewanya meradang tak tertebus perasaan. Lukanya tak tersembuhkan. Ia melarikan diri dari segala masa lalu. Menggantinya dengan cengkeraman hidup metropolitan. Dan ia bersumpah tak akan pulang ke kampung halaman lagi. Sumpah yang ternyata goyah.
***
Setelah enam jam perjalanan, Ponorogo menyambutnya bak kawan lama. Ingatannya tertumpu pada cerita-cerita adiknya setiap kali telepon atau berkunjung ke Surabaya. Cerita tentang penyesalan Warok Sumitro melepas dirinya, tak sudi mengambil gemblak baru, dan hidup sendiri dalam tembang nelangsa Jawa. Ah, kalau pun benar, masihkah ada gunanya? Tak ada. Nasi sudah menjadi bubur. Segalanya telah berubah. Seperti wajah Ponorogo yang menggeliat dengan kosmetik modern bernama kemajuan. Dari atas ojek, ia mengamati setiap sudut kota berbenah. Ya, hidup menawarkan dua hal: mengikuti perubahan atau terlindas zaman.
Rumah itu sepi. Tak seramai dulu. Ia melangkah masuk diiringi tatapan asing para pembantu. Kamar itu terbuka. Ia mempercepat langkahnya. Berhenti di dekat pembaringan, duduk di tepiannya. Di hadapannya, Warok Sumitro terlihat kurus kering, hilang keperkasaannya. Matanya terpejam. Deru napasnya pelan. Ia meraih telapak tangan yang terkulai, mengecupnya lembut. (*)

Penulis tinggal di Purworejo, Kedu. Sejumlah cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak.

Ziarah Kawan Lama

Cerpen Basuki Fitrianto (Lampung Post, 18 Maret 2018)
Ziarah Kawan Lama ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Ziarah Kawan Lama ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post
Malam, di sebuah pekuburan. Nisan-nisan itu seakan sepasukan prajurit perang yang sedang tidur pada sebuah tanah lapang. Tidur yang dibalut mimpi kesunyian panjang dan dingin. Cahaya bulan menimpa hamparan nisan, seakan selimut tidur keabadian. Pohon-pohon kamboja dengan angkuhnya berdiri selang-seling di antara nisan. Seperti para penjaga ruh. Kumpulan kunang-kunang, kuku-kuku orang meninggal itu, beterbangan bercahaya.
Dalam kesunyian yang ngelangut itu, terlihat seorang lelaki sedang jongkok di samping salah satu nisan. Terlihat seperti bayangan. Hanya sebagian wajahnya terlihat agak jelas karena tertimpa cahaya bulan. Nama lelaki itu, Harto. Sudah hampir setengah jam ia jongkok di tempat itu memandangi nisan di hadapannya. Sesekali tangan kanannya menepuk-nepuk batu nisan. Kini ia perlahan berdiri. Menggerak-gerakkan kedua kakinya mencoba menghilangkan rasa kesemutan.
“Maaf, baru kali ini aku bisa menemuimu,” kata Harto pelan, seakan ia bicara pada dirinya sendiri.
“Sudah berapa tahun sejak kau meninggal aku tak menemuimu? Sepuluh tahun? Sebelas tahun?” Harto mencoba mengingat-ingat.
“Hemm, mungkin lima belas tahun? Ya, lima belas tahun. Sahabat macam apa aku ini?”
Suara burung hantu terdengar dari kumpulan pohon di seberang pekuburan, diselingi teriakan-teriakan kelelawar yang beterbangan di langit, di bawah cahaya bulan. Harto mendongak melihat tingkah kelelawar berseliweran di langit.
“Apa kabarmu hari ini?” Kembali Harto jongkok menghadapi nisan.
Sejak nisan itu diletakkan di tempat itu, ia tetap seperti semula. Dingin. Hanya kini batu nisan itu terlihat kusam. Lumut-lumut bermunculan di sekeliling, di atas batu nisan.
“Aku berharap kau berada di tempat baik di atas sana. Meski kau tahu, aku tak percaya hal-hal tak masuk akal itu. Mati adalah mati. Tak akan hidup lagi. Tapi, aku menghargai kepercayaanmu. Aku berharap, Tuhanmu menerimamu.” Sesaat Harto tersenyum. “Aku ingat, beberapa kali kau pernah membujukku agar percaya hal gaib yang meracuni otakmu itu.”
“Tak ada salahnya kau percaya hal seperti itu. Tak ada ruginya,” katamu waktu itu.
“Aku tertawa mendengar bujukanmu. Aku bukan anak kecil lagi, sobat. Aku tak tertarik dengan permen lagi.”
Harto berdiri lagi. Kali ini ia membentangkan kedua tangannya. Lalu kemudian ia mengambil bungkusan rokok dan korek api di saku jaketnya. Mengambil satu batang rokok dan menyelipkan di sela bibir dan membakar ujung rokok dengan korek api. Asap mulai mengepul.
Harto berputar mengelilingi nisan sahabatnya dan berhenti tepat di depan papan nama. Kembali Harto jongkok. Ia usap papan bertuliskan nama Karno, tanggal lahir, dan tanggal wafatnya. Beberapa kali ia usap papan itu hingga terlihat agak bersih.
“Aku tak pernah dengar lagi kabar ayah dan ibumu. Entah di mana mereka sekarang.”
Harto mengisap rokoknya dalam-dalam. “Tapi aku pernah dengar tentang penyesalan kedua orang tuamu soal kematianmu yang tak wajar. Kau anak satu-satunya. Kau harapan mereka.” Suara Harto terdengar berat. Asap rokok membuat tenggorokannya terasa kering. Harto pun menelan ludahnya mencoba membasahi tenggorokannya. Harto beranjak berdiri dan duduk di atas nisan sebelah nisan sahabatnya.
“Kala kita masih satu kampus, aku sering bertemu kedua orang tuamu. Ibumu adalah perempuan penyabar. Ia sangat mencintaimu. Ia juga menganggapku seperti anaknya.” Sebentar Harto terdiam. “Sebenarnya, aku pun menyesali kematianmu.”
***
Kini bulan mulai meninggi, tepat tegak lurus. Pohon-pohon kamboja makin terlihat angkuh. Daun-daunnya bergerak-gerak tertiup angin. Bunga-bunga kamboja beberapa berguguran, satu di antaranya jatuh di atas kepala Harto. Harto mengambil bunga itu. Mengamati, menciumi aromanya, lalu mengelupas kelopak demi kelopak, dan ditaruh di atas nisan Karno.
“Meski kita berbeda pikiran, kita tetap bersahabat,” kata Harto. “Soal kesukaan, kita juga berbeda. Soal wanita?” Harto kembali tersenyum, teringat ketika ia dan Karno masih kuliah. “Kau menginginkan seorang perempuan saleh.” Kali ini Harto tertawa geli.
“Istri adalah jalan menuju surga,” katamu di rumah kontrakanku. “Itulah alasanku, kenapa aku mengidamkan perempuan saleh.”
“Aku tertawa waktu itu mendengar alasanmu. Itu kuno, sobat. Perempuan adalah perhiasan dunia. Perempuan adalah tempat berahi lelaki.”
“Kejam sekali kau menilai perempuan seperti itu.”
“Wajahmu tiba-tiba menjadi kaku. Mungkin kau tersinggung dengan pendapatku.
Sobat, setiap manusia pasti mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Seharusnya kau menghargai setiap pendapat, sekalipun pendapat itu tak sesuai dengan pendapatmu dan terdengar kejam.”
“Maaf, aku harus pergi.”
“Mau ke mana?” tanyaku waktu itu.
“Mempersiapkan aksi demo esok hari.”
Harto mempermainkan puntung rokoknya yang tinggal separuh. Memutar-mutarkannya di sela jari. “Juga soal demonstrasi itu. Sungguh, aku tak mengerti soal demonstrasi itu. Kau sepertinya suka sekali melakukan aksi demo.”
“Demonstrasi adalah salah satu alat untuk menegakkan kebenaran,” alasanmu waktu itu. Harto membuang puntung rokoknya. Kembali berdiri dan memutari nisan sahabatnya. “Sekali lagi kita berbeda pendapat. Soal makanan, soal perempuan, soal demo…” Harto membelakangi nisan sahabatnya, menatap jau ke depan, mencoba menembus pekatnya malam.
“Demonstrasi membuat hubungan kita renggang dan akhirnya putus. Kita tak pernah bertegur sapa sama sekali.” Harto terdiam agak lama. “Dulu aku pernah memberi nasihat kepadamu, jangan kau lakukan aksi itu lagi. Itu membahayakan dirimu sendiri. Apa yang kau dapatkan dengan aksimu itu? Ketenaran? Ya, mungkin ketenaran. Kau lihat teman-temanmu yang dulu pernah getol melakukan aksi demonstrasi. Sekarang? Setelah menjadi pejabat? Kini duduk manis di kursi empuknya.” Sesaat Harto tersenyum sinis. “Ironis bukan?”
Handphone di saku celana Harto berbunyi. Harto merogoh dan mengambil handphone-nya. “Halo? Ya, mungkin lima belas menit lagi aku keluar dari tempat ini.” Harto mematikan handphone dan memasukkan handphone ke saku celananya.
“Berita kematianmu menggegerkan satu kampus. Kau ditemukan tewas tenggelam di danau buatan di tengah kampus kita. Semua berkeyakinan bahwa kau tewas dibunuh. Tapi dibunuh oleh siapa? Tak ada yang tahu sampai saat ini. Apakah kau tewas dibunuh karena aksi demonstrasimu? Tak ada yang bisa memastikan sampai hari ini.”
***
Kini bulan sudah memiringkan posisinya. Angin malam berhembus bertambah dingin. Suara teriakan kelelawar sudah jarang terdengar.
“Aku siap menghadapi akibatnya karena aksiku,” katamu dulu.
“Mendengar kematianmu, sebenarnya aku syok juga,” Harto memeluk tubuhnya sendiri, “dan kau menerima akibatnya.”
Nisan itu kini sudah terlihat basah akibat embun, atau mungkin akibat keluarnya air mata dari jasad yang ada di dalam kubur.
“Aku tak lama di kota ini. Hanya mampir saja,” kata Harto. “Soal kematianmu, aku minta maaf.” Sesaat Harto terdiam. “Aksi demonstrasimu sudah membahayakan keselamatan Ayahku. Ayah memang korup. Ayahlah yang telah menyuruh orang-orangnya menenggelamkanmu di danau itu. Dan jauh hari aku sudah tahu soal rencana pembunuhanmu itu. Bukankah aku sudah pernah memberi nasihat padamu, agar kau meninggalkan aksi demonstrasimu?”
Pelan awan bergerak menutupi bulan. Malam di pekuburan semakin pekat.
“Baik sobat, aku harus pergi sekarang. Terima kasih, kita pernah menjadi sahabat.”

Kutipan Call Me Miss J.

Yang namanya orang lagi beranjak dewasa, sah-sah aja punya jerawat. (hlm. 101)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Suatu saat ada, kok, orang yang bakal menerima kamu apa adanya. (hlm. 22)
  2. Apa salahnya sama tiba-tiba? Cinta bisa datang kapa aja. (hlm. 92)
  3. Setiap orang punya orang lain di belakangnya. (hlm. 249)
  4. Orang yang terlibat dalam sebuah persahabatan lambat laun akan memiliki kemiripan. (hlm. 258)
  5. Kesalahan kecil saja bisa membuat hidup seseorang hancur. (hlm. 280)
Banyak juga sindiran halusnya:
  1. Nggak perlu punya tampang buat jadi ketua OSIS. (hlm. 19)
  2. Semua cowok di sekolah ini kayak klon, mereka punya stereotip cewek yang sama! (hlm. 21)
  3. Untuk apa sih lo ngejer-ngejer orang yang nggak bisa nerima lo apa adanya? (hlm. 21)
  4. Kadang-kadang binatang bisa jadi sangat menyenangkan saat mereka hanya diam dan –mungkin- mendengarkan. (hlm. 41)
  5. Serial Amerika memang kadang-kadang membingungkan karena ceritanya hanya berputar-putar soal si ini pacaran dengan si itu, begitu terus sampai musim-musim berikutnya. (hlm. 126)
  6. Cowok nggak pernah ngasih komentar tentang cowok lain. (hlm. 146)
  7. Bego bisa diubah. Tinggal belajar aja. (hlm. 149)
  8. Lo harusnya belajar menerima kemenangan orang lain. (hlm. 160)
  9. Hati cewek emang gampang banget luluh. (hlm. 163)
  10. Lebih enak nggak punya temen. Nggak repot. (hlm. 171)
  11. Lo cuma lagi jatuh cinta. Orang bisa ngelakuin hal yang nggak wajar kalo lagi jatuh cinta. (hlm. 191)
  12. Itu kecanggihan teknologi. Photoshop itu teman baik wanita. (hlm. 244)