Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Cerpen Hazwan Iskandar Jaya (Kedaulatan Rakyat, 18 Maret 2018) Perempuan Surga ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan RakyatSakinah: Ibu (1)
Tak ada yang lebih membahagiakan, kecuali melihat ia tersenyum
sembari mengusap seluruh rambutku. Senyum itu adalah sekaligus doa
untukku dan juga anak-anaknya. Sebagaimana sudah digariskan Tuhan,
restunya adalah restu Tuhan di dunia ini. Balasan Syurga bila merajuk
padanya. Karena, seluruh alam bertakzim pada senyumnya.
Ia membimbingku dengan sepenuh jiwanya. Merangkai segala keinginan,
kebutuhan dan pengalaman hidup untuk mengabdikan diri pada cinta. Ya,
cinta! Malaikat pun akan bersimpuh, jika ia telah membisikkan kata:
“Hiduplah sederhana, sesederhana aku mencintaimu,” desahnya dengan amat ringan. Tanpa beban.
Aku merunduk malu. Sadar jika tak mampu mengucap satu kata pun.
“Maka jika mencintai, cintailah dengan sederhana. Dengan
kesederhanaan jiwa seorang pengembara merebahkan seluruh lelahnya pada
waktu dan tempat yang tepat. Jangan ada nafsu untuk menguasai. Karena
kekuasaan itu yang akan meruntuhkanmu,” ucapnya datar dengan senyuman
yang dikulum.
Beberapa bulan aku mencucup darahnya. Juga air susunya yang
berlimpah. Hingga semua hasrat dapat kutumpaskan bersamanya. Ia
merebahkan dendamku sampai batas pengasingan yang dalam. Di rahim
kegelapannya. Dibelenggu dalam garba. Dan dipatrikan pada dinding
keniscayaan.
Namun, hampir seluruh mimpi-mimpiku ditangkup dalam genggaman
tangannya yang lembut nan hangat. Membangkitkan gairah kelelakianku.
Bagai kuda yang hendak berlari menunggangi seluruh hasrat.
“Tidurlah dalam dekapanku. Kan kunyanyikan lagu nina bobo untukmu.”
Bisiknya syahdu. Mengecup keningku. Mengusap seluruh rambutku yang mulai tumbuh.
Aku terlena. Aku beranjak menapaki waktu. Bayang-Bayang memanjang di
sepanjang perjalanan yang penuh deru dan debu. Jumpalitan aku mencari
jati diri dalam rindu.
Ialah yang mengajariku arti pengorbanan, kerelaan dan keikhlasan
cinta. Dalam deru doa-doa sepanjang waktu. Pun di setiap mimpiku. Mawaddah: Ibu (2)
Justru yang aku takutkan bosan itu akan menghampirimu. Dan akan
menghempaskanku dalam resah yang berkepanjangan. Dan aku bisa mati
berdiri dibuatnya. Jika kau sudah tak peduli, untuk apalagi hidup dalam
pengembaraan yang beronak duri ini. Seluruh jiwaku sudah tergores.
Luka-luka ini membentuk gambaran hidup yang terpatri di atas batu cadas.
Membekas di saban kenangan yang mengharu biru.
Dialah yang mengusap setiap tetesan air mata dan keringat dengan
sepenuh kasih. Walau terkadang mimpi buruk kerap menghampiri. Mimpi yang
senantiasa mengejarku, bagai bayang-bayang kelam masa lalu.
Ketika ia menyihirku menjadi ulat bulu, maka tak ada lagi daya upaya
untuk menggeliat. Setiap mahluk yang kutemui semua bergegas menyingkir.
Ekspresi menjijikkan dari raut wajah mereka. Bahkan ada yang hendak
membunuhku dengan kekejaman zaman perang. Aku hanya menghindar dari
keramaian dan hiruk pikuk dunia. Aku pun kembali menepi, menjauh dan
mengembara ke entah arah.
Pengembaraan ini amatlah panjang. Telah bertahun-tahun tak
putus-putusnya dirundung segala kemungkinan. Ketidakpastian yang
langgeng dalam haribaan. Bagai suratan garis takdir di telapak tangan.
Dan suatu ketika, saat angin berhembus lembut, engkau pun membisikan
kata:
“Rebahlah dirimu bagai kain yang jatuh di lantai,”
Aku hanya menarik nafas panjang dan dalam. Dialah yang membungkusku,
menyuntikkan tonikum zikir sebagai cadangan santapan rohku, dan
kegelapan ini telah merenggutku dari gemerlap cahaya dunia. Aku pun
menyerah pasrah.
Entah berapa lamanya aku taffakur, tazakkur dan taddabur. Aku tak
peduli lagi akan menjadi apa dan berapa lama akan usai pertapaan ini.
Akupun tak hendak tahu, apakah kelak akan menjadi kupu-kupu, kumbang,
lebah atau bahkan harus tumpas. Biarlah dia yang menyihirku dengan
senyum dan tatapan tanpa ratapan.
Kucintai waktu berlalu, saat terjaga dan tidurku. Rahmah: Ibu (3)
Seorang Kembara tak pernah letih mencari “kebenaran” yang hakiki. Ia
tak peduli dihadang onak dan duri. Hanya keteguhan hati dan kesabaran
dalam diri. Menyangga cintanya sampai mati! Sekali layar dikembangkan,
pantang surut biduk dikayuhkan!
Begitulah kata Engkau padaku di suatu senja. Saat kita bercengkerama dengan jarak dan waktu…
Tapi wahai, Cintaku, aku bukanlah Musa yang mampu membelah lautan.
Bukan pula Nuh yang bisa menantang dan menaklukkan gelombang dan ombak
demi membawa segala bekal kehidupan. Aku hanyalah pengembara biasa yang
sederhana saja. Kadang merasa lelah dan renta. Kadang menangis
sejadi-jadinya. Kadang harus bersandiwara untuk sekadar bermuka-muka.
Betapa susahnya mencari ‘dada’ sekadar untuk tempat bersandar.
Merebahkan kepenatan kata-kata yang kadang menyesak dalam jiwa.
Aku ingin tidur segera. Lalu bermimpi yang indah-indah saja…
Dan Engkau hadir di tengah kegalauan malam. Hampir pada batas akhir
pengembaraan. Kini baru kusadari, Engkau telah mencuri separuh jiwaku! q-g
Yogyakarta-Bengkulu, 2017
(Inspirasi di rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu)
Hazwan Iskandar Jaya, lahir
di Palembang (Tanjung Raja OKI), 27 Agustus 1969. Beberapa karya
tulisan berupa puisi, cerpen, esai dan opini. Beberapa karya masuk
antologi bersama Momentum, Alif Lam Mim, Aku Ini, Begini-begini dan Begitu (Esai FKY 1997), Tamansari (FKY 1998), Embun Tajjali (FKY 2000), Lirik Lereng Merapi (FKY Sleman, 2000), Rumpun Bambu (Teater Sila Bantul, 1999). Tinggal di Desa Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta.
Cerpen Rizki Turama (Kompas, 18 Maret 2018) Durian Ayah ilustrasi Bambang Herras/Kompas
Di antara semua pohon yang ditanam ayah, hanya durian yang sampai
sekarang belum berbuah. Padahal tangan ayah setahuku cukup dingin. Ia
hampir selalu berhasil dalam dunia cocok tanam. Hampir semua tanaman
yang mendapat sentuhan tangannya akan jadi subur, menghasilkan apa yang
diharapkan. Karena itulah, perihal durian yang tak kunjung berbuah ini
menjadi sesuatu yang cukup mengganjal hati ayah.
“Pohon ini bisa kau anggap adikmu,” ujar ayah sekitar sepuluh tahun
lalu. Aku masih SMA waktu itu. Ayah memang suka begitu, mengatakan
pohon-pohon tertentu sebagai kakak atau adik dari kami, anak-anaknya.
Tolok ukur yang digunakannya jelas adalah usia. Rambutan di sudut kanan
halaman depan rumah dibilang sebagai kakakku karena dia ditanam dua
tahun lebih dulu daripada kelahiranku. Begitu juga dengan kelengkeng
yang ada sekitar tujuh meter dari rambutan, dia juga kakakku yang lebih
tua empat tahun.
“Dia lebih muda darimu empat tahun,” ayah melanjutkan.
Aku menelengkan kepala ke arah pohon durian yang ditunjuk ayah, “Tapi
anak ayah yang satu ini belum pernah berbuah sekalipun. ‘Kakak-kakak’ku
yang lain tak perlu menunggu sampai sepuluh tahun, sudah berbuah. Cuma
ini yang belum.”
Ayah hanya tersenyum, “Sabarlah. Seperti manusia, pohon tidak matang
dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya perjuangan sendiri-sendiri
menuju sana.”
***
Lima tahun kemudian, sepertinya ayah yang mulai diuji kesabarannya.
Mungkin karena merasa ia sudah melakukan hampir semua yang bisa
dilakukan untuk durian itu, tapi si durian tetap tak mau menunjukkan
tanda-tanda akan berbuah.
“Sudah kusiram, kupupuk, kubersihkan dari gulma-gulma, masih saja tak mau berbuah. Apa kusuntik saja pohon durian ini?”
Tentu aku tak menjawab. Sebab ayah memang tidak sedang berbicara
padaku. Ia lebih cenderung berbicara pada dirinya sendiri. Dan benar,
seminggu kemudian ayah menyuntik pohon durian itu dengan obat yang mampu
merangsangnya agar cepat berbuah.
“Paling lama enam bulan lagi durian ini akan berbunga, begitu kata penjual obat suntik ini tadi.”
Sekali lagi aku tidak menjawab omongan ayah. Hanya mengangguk-angguk
saja. Tentu saja dalam hati aku meng-amin-kan. Toh kalau durian itu
berbuah, aku juga akan menikmatinya. Tapi ternyata sampai satu tahun,
durian itu tak kunjung berbunga, apalagi berbuah. Hanya daunnya saja
yang jadi semakin lebat. Enam bulan kemudian, ayah kulihat sedang
menyayat-nyayat batang durian itu.
“Ada yang mengajariku, pohon buah harus sedikit disakiti agar dia
merasa terancam dan kemudian berbuah,” jelas ayah tanpa kuminta.
Sampai setahun setengah kemudian durian tetap berdiri angkuh dengan
daunnya yang lebat dan batang yang semakin menjulang, tanpa buah.
Di suatu senja, aku terkejut ketika pulang mendapati ayah sedang
memegang kapak. Dengan wajah marah, ayah mengayunkan kapak itu
berkali-kali ke batang durian. Keringat bercucuran dari dahi dan
wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, ayah berhenti. Napasnya satu-satu.
Kapak di tangannya jatuh. Ia pun rubuh, terduduk di tanah.
“Yang tempo hari mungkin ia tidak terlalu merasa terancam,” desis ayah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku hanya berdiri di antara ayah
dan pohon itu. Pohon durian di depannya tetap kukuh. Kulitnya memang
terkelupas di sana-sini. Satu dua tetes getah merembes dari celah-celah
kulit pohon itu. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, pohon itu tetap
kukuh. Malah sepertinya angkuh. Seolah ia sedang mengejek tenaga ayahku
yang sudah jadi pensiunan.
Sampai setahun lagi berlalu, durian itu tetap tak mau berbunga. Ayah merutuk.
Dasar mungkin mulutku memang lancang, aku justru berkata, “Seperti
manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya
perjuangan sendiri-sendiri menuju sana.”
Mata ayah membeliak mendengar kata-kata itu.
***
“Aku menyerah,” ujar ayah suatu waktu seusai makan ma lam.
Dahiku mengernyit tanda tak mengerti.
“Dua puluh tiga tahun, dan durian itu tak kunjung berbunga. Seusai
lebaran nanti akan kupanggil dua atau tiga orang tukang untuk
menebangnya.”
“Ayah serius?”
Ia mengangguk. “Mungkin akan kuganti saja dengan pohon mangga. Aku
tak pernah gagal menanam mangga. Buahnya selalu lebat dan manis jika aku
yang menanam. Mungkin memang durian bukan jenis buah yang sesuai dengan
tanganku.”
Sehabis lebaran, berarti sekitar empat bulan lagi. Aku bisa mengerti
kenapa ayah harus menunggu selama itu untuk menebang pohon besar di
pekarangan kami. Sederhana, ia beranggapan waktu terbaik untuk menanam
pohon adalah setelah lebaran. “Seperti manusia yang puasanya berhasil,
tanaman akan memulai kehidupannya dari nol di masa itu. Suci. Tanpa
dosa.”
Kadang ayah memang aneh.
***
Selama empat bulan itu, aku melihat ayah lebih telaten merawat durian
yang akan ditebangnya. “Sebagai ucapan perpisahan,” kata ayah. Ia ingin
memberi kenang-kenangan yang indah. Memohon maaf jika ada salah. Jangan
sampai ada dendam antara dia dan pohon itu. Begitu paparnya panjang
lebar.
Orang lain mungkin akan mengira ayah sudah tak sehat akal, tapi aku
tahu memang begitulah ayah dari dulu. Setiap ada pohon yang akan
ditebang, ia akan merawat pohon itu dengan lebih baik dan menyiapkan
pengganti yang juga baik.
Sampai akhirnya lebaran telah tujuh hari berlalu. Ayah pun memanggil dua tukang untuk menebang.
“Apa benar Bapak mau menebang pohon ini?” tanya salah satu tukang tebang itu.
Ayahku mengangguk. Mantap.
“Sayang sekali. Kenapa tak ditunggu sampai berbuah dulu, Pak?”
“Sudah lebih dari cukup aku menunggunya. Jangankan berbuah, berbunga saja tidak.”
“Lah. Itu apa kalau bukan bunga durian?” tukang tebang itu berkata lagi sambil menunjuk ke atas.
Ayah dan aku menengadah. Kami baru sadar putik-putik kecil itu tumbuh
di ujung ranting. Bergerumbul. Sedikit tertutupi oleh daun-daun yang
lebat.
***
Penebangan pohon dibatalkan. Ayah semringah bukan main. Dua puluh
tiga tahun, dia selalu menyebut angka itu sebagai sebuah tanda penantian
yang begitu panjang. Kerentaan ayah seolah memudar. Ia jadi lebih
telaten lagi mengurusi pohon yang sedang berbunga itu.
Tapi, kadang nasib tak ubahnya hati perawan yang sedang gundah, mudah
berbalik arah. Musim hujan datang. Air dan angin datang silih berganti.
Bunga-bunga yang sedang mekar itu runtuh satu per satu. Begitu juga
semangat ayah.
Hampir setiap pagi, ia terpaksa menyapu reruntuhan bunga durian
dengan wajah yang begitu murung. Hanya tinggal beberapa lagi yang masih
bertahan di atas. Bisa dihitung dengan jari tangan. Dan mungkin karena
berharap bisa jadi sangat menyakitkan, ia membunuh semua harapan yang
tersisa. Merawat tanaman itu seadanya. Tak lagi sebagai sebuah tanaman
istimewa yang bunganya telah ditunggu sekian lama.
Entah ajaib atau kebetulan, tujuh bunga yang tersisa itu terus
bertahan meskipun hujan tak memberi belas kasihan. Akhirnya, waktu juga
yang memperlihatkan bahwa harapan tak boleh dibunuh sebab kehidupan
dimulai dari sana. Sebagaimana kehidupan tujuh bunga durian ayah.
Tujuh-tujuhnya tampak semakin besar seiring waktu. Bahkan satu, yang
paling besar, tampak sudah matang beberapa bulan kemudian.
Senyum ayah kembali tersungging tanpa cela. Menanti durian matang
jatuh dari pohonnya. Hingga akhirnya di sebuah senja yang cerah, kemarau
baru saja hendak bertamu, bunyi yang ditunggu tiba juga.
Bunyi berdebug menghantam tanah cukup keras terdengar dari arah pohon
durian. Aku segera berlari, mencari. Benar saja. Durian ayah yang telah
matang, jatuh. Aromanya menguar menggiurkan. Kutolehkan kepala, ayah
belum keluar rumah. Mungkin tidak mendengar duriannya jatuh.
Dengan penuh semangat, kubawa durian itu ke rumah. Berteriak aku
memanggil ayah. Tapi yang dipanggil tak kunjung menjawab. Aku jadi tak
sabaran, ingin memberi kabar gembira ini. Namun kemudian, setelah
mencari di sepenjuru rumah, kutemukan ayah di kamar. Telentang dan
matanya tertutup. Tersenyum. Tak pernah menjawab lagi. Dari seluruh
tubuhnya, menguar aroma durian matang.
Rizqi Turama, lahir 4 April 1990 di Palembang. Mengikuti Workshop Cerpen Kompas
2016 di Borobudur Writer and Cultural Festival. Ia sehari-hari dosen di
FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sriwijaya, Palembang.
Sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Kampus Elite Berhantu (kumpulan cerpen), Sniper: Operasi Bunuh Dili (novel).
Bambang Herras, perupa
yang pernah belajar melukis di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Bersama pelukis Yuswantoro Adi dan Samuel Indratma membentuk Trio Kirik,
sebuah kelompok yang menggerakkan kesenian di Yogyakarta. Tak jarang
kelompok ini menjadi host dalam berbagai perhelatan seni.
Cerpen Kak Ian (Fajar, 18 Maret 2018) Lelaki yang Mencintai Buku-buku ilustrasi FajarDESAS-DESUS aku mencintai buku-buku yang kumiliki
kini tersebar luas. Bukan hanya sekedar kabar angin apalagi kabar
burung. Semua orang-orang yang mengenalku maupun di sekelilingku sudah
mulai mengetahui hal itu.
Lain hal bila kawan-kawanku di komunitas teater yang aku diami
mengetahuinya. Bagiku itu tidak menjadi soal. Karena mereka satu
‘pemikiran’ denganku. Satu ‘jiwa’ pula.
Aku mencintai buku-bukuku. Jika itu memang kenyataannya bagiku itu
masih wajar. Aku masih belum setaraf paling tinggi dalam keanehan! Aku
masih di batas kewajaran. Aku masih belum apa-apa dibandingkan Seno.
Ya, Seno lebih ‘aneh’ bahkan lebih ‘gila’ lagi bila aku sebut. Dia
adalah temanku sesama pecinta seni apapun. Entah itu seni kata, seni
rupa, seni gerak maupun seni mematung. Pokoknya jika ada yang berbau
seni di sana, dia selalu ada. Itulah dia!
Dia pernah mengatakan kepadaku suatu malam seusai latihan teater di
atas gazebo, di mana tiap saban Jumat kami kumpul. Dia mengatakan
kepadaku. Dia terkadang mencumbui puisi-puisinya tiap kali hasratnya
memuncak. Edan.
Itulah bila kalian bukan ‘sekufu’ dengannya. Kalian akan menganggap dirinya freak atau nerd, silakan saja! Aku tidak melarangnya.
Sebenarnya, jujur aku katakan ketika kali pertama mendengar Seno
berkata demikian aku sempat ingin mual karenanya. Ingin mengeluarkan
segala isi perutku saat itu. Tapi aku tahan saja. Karena aku takut dia
merasa tak diindahkan. Atau, merasa tersinggung. Akhirnya aku tahan saja
sampai usai dia berkata demikian. Hingga keisenganku pun timbul untuk
bertanya padanya saat itu.
“Kalau kamu sedang bercumbu bersama puisi-puisimu itu caranya bagaimana?” tanyaku jahil. “Terus apa kamu menikmatinya.”
He-he. Seno hanya terkekeh ketika aku bertanya demikian.
“Ah, kamu kura-kura dalam perahu saja, Gus!”
“Hei, aku benar-benar tidak tahu, Bung!” pungkasku penasaran padanya.
“Jika kamu tidak tahu. Cari tahu sajalah sendiri bagaimana caranya!” serunya. “Eh, sudah malam nih.
Kita balik saja! Lagi pula anak-anak yang latihan juga sudah pada
pulang. Apalagi malam ini waktunya aku bercumbu padapuisi-puisiku.” Kali
ini aku benar-benar dibuat mual kembali.
Malam itu aku pulang seusai latihan teater bersamanya berlawanan
arah. Aku berjalan menuju arah selatan sedangkan Seno menuju ke utara.
Dalam perjalanan pulang itu aku kembali membayangkan bagaimana cara
Seno mencumbui puisi-puisinya itu. Apakah dia menikmatinya? Dan
bagaimana cara dia menikmatinya? Pikirku gontai menekuri setapak demi
setapak jalan yang saat itu sepi senyap. Tidak ada seorangpun berlalu
lalang lagi. Hanya penerang alam yang menemaniku malam itu.
Sebenarnya apa yang dilakukan Seno bagiku tidak bermasalah. Lagi pula
itu haknya. Aku sebagai temannya tidak patut mencampuri itu semua.
Halnya dia tahu desas-desus aku (telah) menikahi buku-bukuku. Dia diam
seribu bahasa saja. Tidak jahil sepertiku. Lagi-lagi, walaupun dia tahu
kebenaran desas-desus itu.
Dia tidak pernah mencampuri urusanku. Apalagi bertanya. Karena itulah
kepribadiannya. Tidak pernah usil dengan urusan orang lain. Sungguh aku
sangat mengapresiasikan sikapnya itu. Bukan hanya untukku saja dia
seperti itu. Semua pun sama rata. Dia lagi-lagi tidak pernah usil pada
siapa pun. Tidak pernah ingin tahu urusan orang lain.
Tapi lain hal jikalau sudah waktunya latihan teater di atas pendepo,
bila ada salah satu anggota yang ikut dalam latihan itu terlihat
main-main. Dia tidak segan-segan menegurnya bahkan bisa memarahinya. Itu
semua dia lakukan, tidak lain untuk memberitahukan ‘keadilan’ menurut
versinya.
Kalau sudah waktunya latihan teater maka hargailah waktu dan
kesempatanitu. Tentu saja para anggota yang ikut latihan saat itu hanya
diam seribu bahasa saja. Tidak berani menyanggahnya dan membatahnya
termasuk aku. Tidak berani melakukan apapun. Boleh jadi saat aku latihan
teater bersama dia sudah sepatutnya menghargai keputusannya dan
arahannya sebagai ketua teater itu. Cukup didengar lalu dipraktekkan.
Aman, kan!
Itulah dia. Dia Seno, ketua teater di komunitasku yang sangat
disiplin dan tegas. Namun‘aneh’dalam kehidupan yang selama ini dia
lakukan. Dia masih mencumbu puisi-puisinya. Tapi aku senang memiliki
teman dan juga menjadi anak buahnya dalam seni gerak sepertinya. Jadi
aku bisa bertukar isi kepala masing-masing.
Akhirnya desas-desus aku mencintai buku-buku itu di dengar juga oleh
Utami. Utami, kekasihku yang baru lima bulan ini aku pacari. Awalnya dia
pertama kali mendengar desas-desusku seperti itu sudah menutup kuping
kirinya. Tapi karena desas-desus itu makin kuat bagai angin tornado saat
didengar sampai juga ke kuping kanannya yang mulai goyah. Ia termakan
juga omongan-omongan dari mulut orang-orang tidak bertanggungjawab itu.
Utami tidak sanggup lagi menahan kuping kanan-kirinya mengenai
desas-desusku itu. Suatu hari di siang bolong dia pun ke kosanku.
Akhirnya peristiwa itu pun jadi. Peristiwa yang membuatku meledak-ledak
padanya.
Di kosanku itu dia menghampiriku tanpa memberi kabar apalagi uluk salam saat memasuki kosku. Dia langsung melabrakku.
“Dasar lelaki tidak tahu diri! Apakah kau tidak puas juga denganku
selama ini. Segala buku-buku yang kau beli kemarin bersamaku di toko
buku itu kau masih cumbui juga!” maki Utami padaku saat itu.
Aku gelagapan. Buku yang baru saja aku buka dari plastiknya seketika
itu lepas dari genggamanku. Suara lekingan Utami benar- benar
mengalahkan konsentrasiku menikmati bau harum dari buku yang kubeli di
kota besar bersamanya. Saat itu aku sedang menikmati harum bau yang
dikeluarkan dari buku itu. Tapi kini sudah terjatuh, tergeletak di
lantai tanpa daya.
“Hei, tunggu dulu! Apa-apaan kau seenaknya memaki aku dengan
seperti itu. Kau tidak mengaca siapa dirimu sesungguhnya. Jika bukan
karena aku nyawamu sudah diangkut oleh Izrail saat kau terlalu banyak
menenggak pil setan itu. Apakah kau lupa?” aku kembali memaki Utami.
Utami sejenak berhenti memaki. Dua mundur beberapa langkah. Lalu
mengamati wajahku serupa Sengkuni saat itu. Dia tidak lagi menganggapku
Arjuna untuknya lagi. Apalagi melihat apa yang aku lakukan untuknya saat
itu. Aku diam sejenak. Kutatap wajah Utami yang mulai memias. Aku lalu
menghampirinya dan mendekatinya. Aku langsung memeluknya sebagai tanda
aku meminta maaf.
“Jangan sentuh aku lagi! Sudah cukup kau ungkit segala apa yang telah
kau lakukan untukku selama ini!” teriak Utami mendorongku hingga
pelipisku terluka oleh sudut kursi.
“Maafkan aku, Utami! Aku tidak bermaksud berkata seperti itu,” lirihku sambil bangkit.
“Buang kata maafmu itu! Kau tidak bersalah. Aku yang bersalah telah
menaruh kepercayaan padamu. Tapi hasilnya seperti ini. Mulai saat ini
kita akhiri hubungan kita. Aku tidak ingin mempunyai kekasih seperti
kau. Kau lelaki aneh yang aku kenal! Inikah hasil dari kau bersama
mereka…!” Utami tidak berhenti memaki.
“Stop! Stop, aku bilang stop! Aku memang lelaki aneh. Puas kau, Utami
Citra Lestari!” seruku makin berapi-api. “Kau boleh mengatakan apapun
tentangku. Silakan! Asal kau jangan bawa-bawa mereka dalam hubungan
kita!”
“Baiklah, hai seniman aneh! Mungkin kau lebih mengutamakan
buku-bukumu itu dan mereka yang membawamu menjadi seniman aneh!” Utami
makin menyudutkan.
“Sekarang kau keluar perempuan jalang!”
“Baik aku akan meninggalkan tempat busuk ini!”
“Cepat keluar…!!!”
Aku tidak tahu apalagi yang aku ucapkan pada Utami. Aku sudah gelap
mata dan pikiran. Aku tidak kuasa saat itu. Aku tenggelam dalam
buku-buku yang aku miliki. Usai peristiwa itu aku pun menemui Seno ke
kosannya.
“Maaf aku tidak jadi. Mungkin lain waktunya saja kita bicarakan hal
ini,” kataku saat aku tiba di kosan Seno. Ia ternyata sedang mencumbui
puisi-puisinya kembali.
“Ayolah, masuk jangan emosi yang kau depankan! Kau janganlah terlalu
rapuh menghadapi kehidupan. Apalagi soal perempuan. Seperti aku ini
selalu bebas tidak seorang pun yang mengekangku apalagi sampai menghina
apa yang selama ini aku lakukan. Karena aku melakukan ini bukan untuk
mereka tapi untuk kehidupanku!” bujuk Seno menenangkanku.
“Kita ini berbeda dengan mereka. Kita tidak bisa memiliki masa depan
menurut mereka. Tapi masa depan kita yang buat! Jadi kau jangan cengeng
begitu,” lanjut Seno mengatakan begitu rupa tentang kehidupannya. Oh, bukan mungkin kehidupanku pula.
“Oya, aku punya buku baru yang aku beli di toko buku di galeri Taman
Ismail Marzuki. Kalau kau mau silakan. Kita bersama-sama mencumbui
masing-masing yang sudah menjadi bagian kita. Bagaimana, Bung?” Seno
menawariku.
Aku tersenyum. “Terima kasih,” ucapku.
Akhirnya kuambil Orang-orang Bloomingtonnya karya Budi
Dharma yang kulihat masih bersegel plastik di rak buku milik Seno. Di
sanalah akhirnya kutahu apa tujuanaku sebenarnya berada di dunia ini.
Membahagiakan orang lain atau untuk membahagiakan diri sendiri?
Halnya yang kulihat saat ini Seno begitu menikmati dunianya. Sedang
mencumbui puisi-puisinya yang liar dibuatnya itu. Sedang aku tenggelam
dalam bau harum buku Orang-orang Bloomington.
Usai itu aku diajaknya oleh Budi Dharma melayang ke sebuah negeri bermenara Jam Big Ben. Entah aku sadar atau tidak saat itu. Yang aku tahu kepalaku pusing setelah mencium bau yang dikeluarkan buku itu. (*)
Kak Ian, penulis Fiksi Anak dan Remaja. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.
Cerpen Elfi Ratna Sari (Republika, 18 Maret 2018) Dari Balik Jendela ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Adalah aku, salah seorang yang selalu menantikan sore tiba. Akan
bahagia ketika melihat ujung-ujung pohon berwarna kekuningan. Tapi yang
sebenarnya paling kusukai dari senja ialah ketika ada sosokmu di tiap
jengkal hidupku. Walau kenyataannya kisah itu sudah terlalu usang untuk
dibahas.
Lalu … biarkan saja tetap kugenggam setiap kenangan yang pernah ada.
Yakni tentang kejora di ufuk barat yang berwarna jingga. Yang seolah
selalu menarikan aksara-aksara indah untuk setiap pertemuan kita.
Socaku kini mengembun hebat. Keberadaanku di balik jendela senja ini
tak hanya menyeretku pada kenangan indah, tapi juga menggali kembali
luka lama yang sebenarnya sudah berulang kali kukubur dengan kedalaman
sampai pasak bumi. Kudapati pohon yang ujungnya kekuningan
melambai-lambai diterpa angin sore. Dulu, keadaan begini akan menambah
syahdu pertemuan kita, tapi sekarang terasa lebih mengiris hati.
Menyadarkanku bahwa semua itu tak lagi mungkin terulang, semua itu hanya
ada dalam ruang kecil di hatiku yang disebut kenangan.
***
“Jodohkan saja Khumaira dengan Fajar, Pak. Anaknya baik, sopan, dan mapan. Setara dengan kita.”
Mendengar itu, aku tersenyum malu-malu. Mengangguk sedikit tanpa
seorang pun melihat. Bukan karena tentang statusmu yang mapan, atau
tentang pesonamu yang rupawan. Tidak, sungguh tidak. Melainkan jika
benar kita berjodoh, maka akan ada pahala yang bertumpuk untukku yang
mau mengabdi padamu. Memperlakukanmu menjadi sebenar-benarnya suami,
sebenar-benarnya pemimpin. Yang insya Allah akan membimbingku menyusuri
sirotol mustaqim ke jannatullah. Sungguh teramat menyenangkan meski baru
sebuah bayangan.
“Tapi apa ya Si Fajar mau?”
Bapak bersitatap dengan ibu. Masih ragu. Mengingat anaknya adalah
perempuan. Tak mungkin hendak melamar. Kodrat perempuan hanya menunggu.
Menunggu dan menunggu untuk dipinang.
“Ya jelas mau, keluarga kita kan terpandang. Khumaira juga amat cantik. Tak kalah dengan gadis-gadis kota tempat Fajar bekerja.”
Hentakan perpaduan sendok dan piring membentuk dentingan-dentingan
khas insan-insan yang menikmati santapan malam. Menyaingi pembicaraan
serius Bapak dan Ibu.
“Lelaki desa saja banyak yang mengantre ingin memperistri Khumaira,
Pak. Mana mungkin Fajar sampai hati menolak? Mending segera diijabkan
saja keduanya.”
Ibu masih mengeyel. Bapak sedikit tersedak. Mendengar arah pembicaraan ibu yang makin lama, makin menyombongkan diri.
“Mbok ya ditanyakan dulu pada yang bersangkutan. Ini sudah bukan musim perjodohan lagi, Bu.”
Bapak tak kalah ngeyel. Mencoba menjelaskan pada wanita yang telah
lebih dari dua puluh tujuh tahun menjadi istrinya. Aku yang berada di
antara keduanya hanya memperhatikan. Menoleh kiri saat ibu bicara,
lantas menoleh kanan saat bapak menjawab.
“Bapak kan kiai di kampung ini, tidak mungkin pula keluarga Fajar
menolak kita. Kalau Khumaira sudah pasti menyetujui usulan Ibu. Lha wong
sudah lama kesemsem. Iya kan, Nduk?”
Aku menelan paksa nasi yang sebenarnya belum lembut dikunyah. Terasa
sungsang di tenggorokan. Maka, kudorong secepatnya dengan air sebelum
aku mendelik karena tersedak.
“In-injih, Bu’e.”
Gagap kujawab.
Sebagai Ibu, tak heran jika beliau teramat paham dengan
perkembanganku. Termasuk ketika aku meresapi ada yang terasa ganjal di
hati ketika tak sengaja berpapasan denganmu. Dada terguncang sebab
jantung yang hebat berdebar. Ya, sejak awal kedatanganmu aku memang
telah mememe… ah, entahlah. Hal itu belum terlalu kupahami. Bukankah
yang harus kupahami terlebih dahulu adalah hafalan Alquran yang belum
khatam hingga sekarang?
Suatu waktu, aku memperhatikan sosok yang membuat air bergemericik di
padasan. Tampungan air untuk berwudlu itu tampak ada yang
berbeda—padahal biasanya juga seperti itu, dipakai orang untuk berwudlu.
Tapi lihatlah! Di sana ada sosokmu … iya, itu kau. Apa orang tua kita
telah diam-diam berbicara tentang rencana sunnah Rasulullah itu? Lantas
kita sama-sama tak diberitahu, supaya hingga pada saat tiba waktunya,
kita menganggap itu sebagai hadiah kejutan yang begitu indah.
“Assalamu’alaikum, Jingga.”
Sembari membenarkan peci, kaututurkan itu. Aku kebingungan setengah
mati, menoleh ke sana ke mari, mencari sosok yang kaupanggil Jingga.
Ternyata sejak aku masih melamun, langkahmu sudah sedemikian dekat
menghampiriku yang berdiri mematung di balik jendela
kamar—memerhatikanmu.
“Haha, kau begitu polos, Khumaira. Oh, iya. Assalamu’alaikum. Tadi
belum sempat kau jawab salamku. Bukankah aku mendoakan supaya kau
sejahtera, ayolah … giliranmu mendoakan lelaki yang akan jadi imam di
setiap sujudmu ini untuk sejahtera juga.”
Kau teramat biasa merayu gadis kota sepertinya. Lancar sekali bualan itu kauucapkan.
“Wa-wa’alaikum salam, Kang. Mungkin Kang Fajar salah orang. Di sini
Khumaira sendiri, tak ada Jingga. Dan seingat Khumaira pun tak ada
santri yang bernama Jingga.”
Kau masih tetap menatapku tanpa canggung. Menyemburatkan senyum penuh
arti dengan gelengan kepala. Sementara aku makin tertunduk dalam. Malu
kaupandang seperti itu.
“Jingga itu kau, Khumaira. Gadis jendela yang senang melihat keindahan senja yang berwarna jingga.”
Aku tertunduk malu. Bagaimana pun aku tak boleh berlama-lama
berbincang berdua selayak ini. Takut jika hati dikuasai iblis yang
berbisik sembarangan.
“Haduh … haduh ampun, Pak Kiai!” teriakmu tiba-tiba.
Sontak aku mencuri tatap apa yang sebenarnya terjadi. Senyumku tak
kuasa merekah. Satu jeweran mendarat di telingamu. Bapak yang
melakukannya. Dia menarik telingamu menuju tempat shalat laki-laki, mau
tak mau kau mengikuti langkahnya agar kupingmu tak putus. Kejadiannya
persis seperti saat Shihab—adikku—menggoda santriwati yang mondok. Eh,
itu berarti kau sudah setara dengan Shihab, sudah sama dianggap anaknya.
Di kesempatan yang lain, kudengar suaramu. Suara seorang lelaki
dewasa yang masih keteteran membedakan sa, sya, dan shod. Pasti dulu
saat kecil kau senang bolos TPQ, jadinya sebesar itu—bahkan di saat
sudah ada embel-embel akan menjadi imamku—kau masih belajar Yanbu’a.
“Mbok ya kalau belajar itu yang serius to, Le. Apa tidak malu dilihat
anak-anak yang masih kecil itu? Mereka saja sudah lancar membaca
Alquran.”
Celoteh Bapak kentara menyindirmu. Namun memang benar, bukan? Bahkan si kecil Nabila lebih lancar bacaannya dibanding dirimu.
“In-injih, Pak. Sama putri Pak Kiai saja saya serius. Apalagi hanya belajar Yanbu’a.”
Kau dengan ekspresi cengengesan memasang rayuan gombal pada Bapak.
Cari perkara kedua kalinya. Maka mendaratlah jeweran di telinga satunya
biar tidak saling iri.
“Ampun, Pak Kiai Calon Mertua.”
“Kapok?”
Kau tak berdaya menjawab, hanya mengangguk.
“Kau pernah menjadi imam shalat, Le?”
Beberapa minggu setelahnya, kau telah memimpin shalat kami dengan
bacaan fasih. Meski setelah membaca Al-Fatihah hanya terlantun
Al-lkhlas.
***
Namun apa? Malam megah yang kunanti, malam di mana sebelumnya telah
berhasil kau khatamkan satu Qur’an penuh, sehingga kau dapat
menyandingku, malam itu hanya omong kosong.
Aku terperangkap di sebuah ruang yang terasa sunyi, padahal
sebelumnya menjadi tempat menunggumu. Semua orang seolah melupakanku.
Termasuk kau yang memanggilku dengan sebutan Jingga.
Kau menikah hari itu, pernikahan yang katanya denganku, yang
rencananya denganku, ternyata semua dusta. Ternyata kau menikahi gadis
lain. Kau berusaha belajar agama bukan agar bisa menyandingku, tapi
menyanding dia. Lalu kenapa seolah kau beri aku harapan yang menggunung?
Kenapa?
Pelan, pintu kamarku ada yang membuka. Hanya kulirik sejenak. Lantas kembali ke pandanganku semula. Jingga di ufuk sana.
“Ada tamu untukmu, Nduk. Bangunlah. Bangunlah seperti dulu. Ibu sangat merindukanmu.”
Aku mendengarnya, teramat sangat jelas. Namun ketika ingin bangkit
lalu memeluknya, aku tak sanggup. Semua tubuhku mati. Aku lumpuh. Hanya
mataku yang dapat bergerak.
Ya, aku ingat kejadian sebenarnya. Teramat gembira aku ingin
menyambut hari itu, aku berlari riang layak gadis kecil dari lantai
atas. Tak sadar, gamis panjang pernikahan kita, tersangkut paku di
tangga kayu. Aku jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
Kau melangkah masuk, menggendong seorang anak perempuan. Aku jatuh
cinta di pandangan pertama padanya. Hai! Apakah itu buah cinta dengan
istrimu? Lantas mengapa mirip denganku di kala kecil?
Kesemsem : terpesona Nduk : panggilan untuk anak perempuan Injih : iya Bu’e : panggilan untuk ibu Yanbu’a : buku tuntunan metode belajar Alquran dasar Le : panggilan untuk anak laki-laki
Elfi Ratna Sari penulis kelahiran Pati, 8 September 1993. Bukunya yang telah terbit adalah Debur Tasbih Sang Jalang (kumpulan puisi), serta Seribu Kepak Sayap Patahmu (novel).
Cerpen Jamalul Muttaqin (Media Indonesia, 18 Maret 2018) Manusia Cahaya ilustrasi Media Indonesia
PADA kulit malam yang pekat. Aku temukan wajahku sendiri menatap
diriku sendiri dengan titik cahaya yang berputar-putar. Cahaya itu dari
langit seperti bintang yang jatuh berhamburan ke bumi. Ketika mulai
mendekat aku menyapa sebuah kelebat cahaya. Terang dan sangat terang
sekali.
Ya, dari balik cahaya aku belajar tentang sebuah penciptaan jagat
raya. Cahaya mengajariku tentang sebuah arti dan makna kehidupan. Hidup
yang dicipta dari sesuatu yang tak pernah ada, hidup yang berada dalam
perdebatan seorang filsuf, dan hidup yang diajarkan dalam kitab-kitab
agama.
Cahaya memberiku gambaran tentang diriku sendiri karena cahaya memang
diriku sendiri. Pada dasarnya Tuhan tak pernah menciptakan kegelapan.
Kegelapan tak pernah ada di dunia. Itu sebabnya banyak manusia yang
takut akan kegelapan. Di sebuah kegelapan yang sangat mencekap akan ada
setan-setan yang berpesta, kata manusia. Sedang setan-setan sebaliknya,
akan takut ketika kegelapan telah pergi. Di sebuah cahaya yang terang
manusia-manusia akan berpersat, kata setan.
Aku adalah sosok manusia yang bisa melihat dimana setan itu berada.
Tidak semua setan dapat melihat manusia dan tak semua manusia bisa
melihat setan kecuali hatinya telah bersih dari perbuatan-perbuatan
setan. Selagi manusia tidak menyadari keberadaan setan di situlah setan
akan masuk dan menggoda sampai Tuhan mengutuknya. Pekerjaan yang paling
mulia menurut setan adalah bisa menggoda manusia. Raja setan bangga saat
melihat Nabi Adam dilembar ke bumi gara-gara godaan yang paling
dahsyat. Seperti ingin mengatakan bahwa, aku tak akan pernah lelah
melemparmu ke api neraka jahanam. Begitulah setan-setan hidup.
Sudah berapa tahun aku tinggal sendiri di sebuah gua yang gelap.
Manusia mengira diriku berada dalam kegelapan yang tak bisa melihat
apa-apa dan hanya setan yang dapat menemani sekaligus melihat. Semua
dugaan-dugaan mereka salah. Karena diriku adalah cahaya itu sendiri,
maka aku mengusir gelap dan aku menjadi diriku sendiri. Kegelapan hanya
karena ketiadaan cahaya. Begitu Tuhan dalam al-Qur’an menjelaskan, dan
aku telah menemukan cahaya itu sendiri.
***
Malam ini adalah malam yang ke-41 tahun dan 41 bulan lebih 41 satu
hari. Aku berada di ruang yang sangat sempit. Mengasingkan diri dari
hiruk-pikuk dunia yang tiap waktu selalu berkelahi dengan
perdebatan-perdebatan anyir tentang salah dan benar. Aku mengasingkan
diri dari dunia yang penuh dengan onak kebencian dan arogansi.
Di luar tempatku ini, pembunuhan merajalela seiring waktu yang
berlari seperti kilat cahaya. Sering aku temukan pembunuhan antar
manusia karena perbedaan sebuah agama, di lain waktu pembunuhan aku
temukan karena perbedaan ideologi, dan pembunuhan aku temukan karena
manusia menentang terhadap penguasa yang lalim. Itu sebabnya, aku ingin
menjadi cahaya yang tak pernah ditemukan oleh manusia yang kelak mereka
tau dengan sendirinya.
Sampai hari ini, manusia selalu bercerita tentang mitos cahaya di
langit. Padahal, cahaya di langit adalah meteor yang mengejar setan dari
berbagai pintu langit. Setiap detik setan-setan akan mengintip dari
kegelapan tentang rahasia Tuhan di loh mahfudz. Sedang meteor akan
menghantamnya dari arah manapun saat setan muncul. Aku tertawa melihat
banyak setan lari terbirit-birit. Ketika meteor itu membentur tubuhnya
setan akan hancur berkeping-keping.
Lalu manusia akan bertanya-tanya, bagaimana setan-setan hidup
kembali, bukankah Tuhan telah mengutuknya untuk dikekalkan sampai jagat
raya hancur dalam satu tiupan terompet panjang Israfil. Manusia selalu
ingin tahu, bagaimana cara setan melahirkan, dan bagaimana setan
bertahan hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijawab dengan sebuah
pengalaman. Sama ketika nabi menembus langit ke tujuh dan banyak
masyarakat tidak percaya. Karena semua adalah pengalaman. Pengetahuan
manusia ada pada pengalaman yang tampak. Maka manusia akan semakin
dibodohi oleh setan-setan yang halus.
Ada banyak cara yang aku dapatkan di tempat ini. Karena setan takut
mengganggu manusia yang khusuk ketika sampai pada batas-batas baqa’
sehingga bisa melihat segala bentuk kebaikan dan kejelekan. Mulutku
selalu terkunci dari perkataan-perkataan menggunjing. Mulutku selalu
terbuka dengan menyebut nama Tuhan setiap hembusan nafas yang tak pernah
aku hitung jumlahnya. Seandainya manusia mau membunuhku laksana darahku
akan melafalkan nama-nama Tuhan yang aku sebut.
Di tempat ini diriku serupa Khidir yang dicari keberadaannya oleh
manusia, di antara pertemuan sungai dan laut, di antara sumur-sumur, di
antara sumber mata air yang menyembur dari celah-celah batu di gunung.
Saat aku temukan salah satu dari mereka terkagum-kagum pada cahayaku
saat itu pula aku meminta untuk berkhalwat di sebuah tempat yang jauh
dari keramaian manusia.
“Kau akan menghindar dari godaan setan selama kau disini,” ucapku kepada manusia yang berani mendekatku.
“Tuan, aku uzlah.”
“Ya, engkau harus menemukan cahaya Tuhan.”
Pada saat itu, manusia akan sadar bahwa dirinya tak pernah bermusuhan
dengan setan-setan. Karena Tuhan menciptakan setan, jin, dan manusia
hanya untuk menyembah kepadanya. Ketika mereka menemui Tuhannya sirnalah
hatinya, ketika mereka menemui hatinya mereka kehilangan Tuhannya.
Akhirnya, mereka sadar bahwa Tuhan tidak bisa dilepas dari materi-materi
manusia sedang manusia adalah tempat yang paling sempurnah dimana
cahaya Tuhan itu memancar.
***
Kini keberadaanku mulai tersebar ketika salah satu dari manusia yang ber-khalwat
meninggalkan tempatku yang paling sunyi. Bahkan, mereka pergi membawa
kemarahan dan menyampaikan kabar-kabar yang tidak benar. Mereka akan
berkata kepada yang lain tentang manusia sesat yang terkutuk. Kemudian
ramailah orang-orang membicarakan tentang keberadaanku.
Di sebuah pasar, di sebuah masjid, di sebuah kampus, dan di
jalan-jalan raya. Manusia selalu memperdebatkan tentang manusia yang
bercahaya. Anehnya, mereka mengatakan diriku adalah manusia yang mengaku
sebagai Tuhan.
“Dia adalah Tuhan itu sendiri,” kata seorang ulama yang pernah menemuiku di sebuah gua.
“Dia seperti Jibril saat menyampaikan risalah kepada Nabi Muhammad di gua Hira’.”
“Itu sangat konyol. Aliran sesat yang perlu diwaspadai.” Aku melihat
mereka mulai gundah. Bahkan keberadaanku selalu dijadikan tema-tema
diskusi di berbagai kampus. Aku dapat melihat setiap aktivitas manusia
yang membicarakan tentang nasibku di tempat ini. Bahkan aku melihat
setiap ada setan-setan yang terus menggoda manusia untuk mengejarku.
“Kau bunuh Si Manusia Cahaya yang terkutuk itu.” Setan berbisik
kepada salah satu ulama yang paling disegani saat itu. Setan mulai
berbisik kepada para pemuda yang masih sibuk berdebat soal materi kuliah
di kampus. Setan mendatangi setiap kepala manusia dan meniupkan
fitnah-fitnah.
“Mari kita cari Manusia Cahaya itu.” Kemudian aku melihat masyarakat
berduyun-duyun berkumpul di sebuah masjid. Dari para tokoh masyarakat,
pejabat negara, mahasiswa, dan rakyat jelata, semua berkumpul membuat
satu komando. Mereka mulai berjalan mendekatiku ke sebuah gua.
Setan-setan berdansa berputar-putar di atas kepala mereka sembari
meniupkan gairah permusuhan kepadaku. Akh, mungkin karena setan-setan
tak bisa mendekatiku, pikirku dalam hati.
“Keluar kau Manusia Cahaya terkutuk,” teriak mereka. Aku mulai bisa
mendengar suara keramaian di bibir gua. Ada tiga orang yang masuk ke
dalam gua setelah membawa obor. Namun, mereka terkejut melihat gua
dipenuhi cahaya dan tiga orang itu mematikan obornya. Mulai mendekat
kepadaku dan menyeretku yang tengah bersilah di atas batu. Tubuhku
direngkuh dan diseret ke luar gua. Cahaya itu membuat padangan mereka
silau. Salah satu dari mereka mengangkat wajahku sembari berbisik di
telingaku. “Katakan bahwa kau manusia yang berdosa,” katanya. “Bagaimana
kau menyebarkan sebuah paham-paham hingga banyak manusia tidak percaya
kepadaku,” lanjutnya. Aku tidak pernah menghiraukan, mataku terus
terpejam.
“Orang ini penyebar fitnah permusuhan di antara kita,” ia mulai berteriak di depan orangorang yang tengah menyaksikanku.
“Kita harus membunuhnya sekarang juga. Kumpulkan kayu bakar.” Mereka
pergi ke hutan dan mencari kayu bakar. Sebagian dari mereka ada yang
duduk sembari menunggu kayu-kayu itu ditumpuk. Aku dipertontonkan
seperti nabi Ibrahim yang dibakar oleh Raja Namrud.
“Tuan, siapa namamu?”
“Aku adalah murid Syuhrawardi.”
Api menyala berkobar-kobar sedang diriku hilang bersama cahaya api
yang sampai saat ini aku tetap menjadi metos cahaya. Cahaya itu bernama
cinta.
Yogyakarta, 2018
Jamalul Muttaqin lahir di
Sumenep Jawa Timur. Menulis esai, puisi, dan cerpen. Tulisan-tulisannya
terantologi bersama Penyair Kopi Dunia, The Gayo Institut (TGI), Aceh
Culture Centre (ACC). Ia terpilih sebagai 10 kontributor puisi terbaik
Gebyar Bulan Bahasa 2016.
Cerpen Hendromasto Prasetyo (Jawa Pos, 18 Maret 2018) Setan Kober dan Sapardan ilustrasi Budiono/Jawa PosSejak Penangsang mati teriris bilahku, aku tak lagi meminum
darah. Tak pernah lagi aku memamah nyawa. Pertempuran di Bengawan Sore
itu adalah palagan terakhirku. Itulah perang yang menempatkan aku
sebagai pembunuh tuanku sendiri. Perang memburu mahkota itu bukan arena
terakhirku menjadi saksi pemilikku kehilangan daya. Lebih dari 100 tahun
kemudian, aku masih menyaksikan pemilikku kehilangan kebesarannya, lalu
mati tertimbun nasib. TUMENGGUNG Kartanagara masih bingung dengan
kedatangan tak biasa junjungannya di pagi itu. Tak ada baju kebesaran,
kereta kencana, juga kawalan prajurit layaknya kunjungan seorang raja.
Bupati Klaten itu semakin bingung saat mengetahui perjumpaan tersebut
harus dirahasiakan dari telinga kompeni. Ia paham benar tabiat para
kulit putih. Geger Diponegaran membuat mereka makin tak pernah segan
menghukum siapa pun yang dianggap mencurigakan. Kecurigaan itu berlaku
bagi siapa saja. Bahkan sang raja ikut jadi korbannya dengan tak boleh
meninggalkan istana tanpa sepengetahuan mereka.
Kartanagara yakin bahwa kepergian junjungannya ke Imogiri bukan
sekadar ziarah. Ia tahu sang raja hendak mengikuti jejak Karebet usai
diusir dari Demak. Menepi dari tengah, menyepi dari keramaian,
bermunajat di makam leluhur, menunggu petunjuk Ilahi. Kartanagara sudah
bisa menebak kepergian junjungannya berjuluk Bangun Tapa itu pasti dalam
rangka mencari petunjuk jalan keluar untuk negara yang makin terbelit
kompeni setelah Diponegoro kalah.
“Paduka, izinkan hamba ikut ke Imogiri,” kata Kartanagara.
“Tidak perlu. Berjanjilah untuk merahasiakan kedatanganku di sini dan ke mana pergiku.”
Kartanagara hanya menunduk, lalu menarik napasnya.
“Ampun, Paduka. Hamba mengikuti titah,” ujar Kartanagara.
Sang raja kemudian bergegas meninggalkan rumah Kartanagara. Bersama
Atmasupana dan Atmawiraga yang mengiringnya sejak dari keraton, ia
berkuda ke selatan menuju Imogiri.
Pertemuan yang mestinya menjadi rahasia itu tak urung terdengar
kompeni oleh sebab mulut panjang Kartapiyoga, anak Kartanagara.
Bangsawan muda yang dipecat raja dari jabatannya itu melaporkan
kepergian diam-diam sang raja ke Imogiri kepada Komandan Loji di Klaten.
Sudah tentu komandan itu cekatan mengirim warta kepada Residen
Surakarta Macgillavrij.
***
Sapardan adalah nama raja muda itu. Ia raja yang kesekian menjadi
tuanku setelah Aryo Penangsang tumbang oleh Sutawijaya. Sejak peristiwa
Bengawan Sore dan Sutawijaya menjadi penguasa Mentaok, aku adalah pusaka
Mataram. Semua keturunan Sutawijaya yang mejadi raja Mataram menjadi
tuanku.
Aku menyaksikan bagaimana Mentaok tumbuh menjadi Mataram, pindah ke
Karta, Plered, lalu Kartasura yang hancur oleh terjangan Pasukan Kuning
dan Cakraningrat. Setelah Mataram pecah dua, aku menjadi pusaka yang
berdiam di Kasunanan Surakarta.
Aku menyaksikan bagaimana anak turun Sutawijaya saling tengkar,
berebut kuasa. Kusaksikan juga bagaimana mereka kemudian terjerat siasat
busuk para pedagang negeri seberang bernama kompeni. Sedikit demi
sedikit mereka makin lemah, berkuasa dengan kekuasaan terbatas, dan
kemudian sadar telah masuk perangkap para pendatang. Rasanya sangat
gatal untuk segera keluar dari warangka dan mereguk darah kaum seberang
itu demi menuntaskan kegelisahan pemilikku. Namun, sampai hari ini aku
masih pulas di gedung pusaka.
***
“Apa kau yakin raja pergi ke Imogiri hanya untuk ziarah?” tanya
Macgillavrij kepada Letnan Winer, prajurit andalannya di Benteng
Surakarta, Vastenburg. Di Solo, benteng itu adalah pertahanan utama para
kompeni dalam melindungi kepentingannya di wilayah negara Surakarta.
“Saya tidak yakin. Bukan tidak mungkin ia berusaha bertemu dengan
sisa-sisa pengikut Diponegoro yang kita tahu banyak ia beri dukungan
saat perang dulu,” kata Winer.
Macgillavrij menaikkan napas dalam-dalam. Matanya tajam di antara
dahi yang mengernyit. Jawaban Winer sangat masuk akal. Perang Diponegoro
memang baru selesai setelah pangeran pengobar jihad itu masuk perangkap
di Magelang tiga bulan yang lalu. Pengikutnya masih banyak, tersebar,
dan mereka marah oleh siasat Markus de Kock saat menangkap Diponegoro.
Sewaktu-waktu, hanya butuh sulutan kecil untuk membangkitkan kembali
gelora perang mereka. Apalagi bila penyulutnya adalah Pakubuwono VI,
raja yang banyak membantu Diponegoro. Kompeni pasti kerepotan.
“Di keraton tadi Patih Sasradiningrat menyebut raja tak perlu kembali
ke Surakarta. Katanya, bila raja kembali, negara bisa rusak oleh
perang. Tampaknya ini sesuai dengan perkiraanmu, Winer,” ujar
Macgillavrij.
“Saya kira tugas terpenting sekarang adalah menangkap raja. Apakah ia
sedang bertemu untuk menghimpun sisa pendukung Diponegoro atau tidak,
nyatanya ia pergi tanpa izin. Itu sudah cukup untuk menghukumnya,” sahut
Winer yang mulai tak sabar.
Macgillavrij memaklumi jalan pikiran Winer yang serdadu, segera
bergerak lalu selesaikan. Namun, bagi seorang residen seperti dirinya,
asal memberi hukuman bisa menjadi masalah. Apalagi yang mendapat hukuman
adalah raja. Hukuman apa pun, bila itu dikenakan kepada raja dan ia
masih berada di kerajaannya, sudah pasti mengundang risiko buruk.
Bukan tidak mungkin hukuman itu menimbulkan simpati. Selama raja
masih dekat dengan para kawulanya, simpati itu bisa menjadi bara
penyulut perang. Macgillavrij tak mau mengambil risiko itu, sementara di
saat yang sama peristiwa ini adalah kesempatannya menunjukkan taji
kekuasaan kepada para pribumi agar bara sisa Perang Diponegoro
benar-benar padam.
Ia berpikir keras untuk bisa segera mengambil keputusan. Hingga
kemudian ia mulai mendapat siasat. Ikuti pikiran Winer untuk segera
menangkap raja, lalu membawanya ke Semarang, menyerahkannya kepada
gubernur. Dengan begitu, gubernur di Semarang yang akan mendapat
tanggung jawab atas hukuman kepada raja. Kalaupun orang-orang raja
menyerbu, prajurit di Semarang jauh lebih kuat dibandingkan pasukan di
Solo.
“Biar orang-orang di Semarang yang memutuskan. Mereka pasti akan
meminta pertimbangan Batavia. Apa pun hukumannya, aku cukup menyebut
bukan aku yang mengambil keputusan,” batin Macgillavrij.
“Baiklah. Cari dan bawa dia ke Klaten. Dari Klaten, biarkan ia
istirahat di sana sementara, kau harus segera mengabariku. Aku akan
memberi kabar kepada gubernur di Semarang,” perintah Macgillavrij kepada
Winer.
***
Suara jerit para wanita di dalam keraton mengusik tenangku di gedung
pusaka. Aku mencium ketakutan yang datang bersama embusan cemas.
Tangisan Ratu Anom setelah pembesar kompeni memaksa masuk ke kamar Sunan
dan mendapati tempat tidur kosong masih belum kering saat gaduh makin
menjadi. Para pangeran dan pembesar kerajaan yang panik mengingatkanku
pada Kadipaten Jipang sesaat sebelum Penangsang berangkat menuju
Bengawan Sore.
Mungkinkah aku kembali turun ke palagan? Keluar dari warangka dan
menyatu dengan kehendak menang pemilikku? Menebas ketakutan lalu menusuk
nasib lawan? Seperti apa rasa darah manusia kini? Apakah masih sama
dengan darah yang dulu pernah melumuri tubuhku? Ah, kerinduan ini
membuatku makin gelisah di tengah dingin gedung pusaka.
Hingga kemudian aku melihat perempuan tua anak turun Juru Martani
membuka pintu gedung pusaka. Sangat aneh. Bukankah cuma raja sendiri
atau abdi peletak sesajen saja yang boleh masuk ke ruangan ini? Untuk
apa ibu dari raja yang memilikiku itu kini berada di depanku? Aku
mencium aroma kemarahan dan ketakutan yang terbungkus putus asa bersama
kenekatan di wajahnya.
***
“Pakubuwono VI sudah kami tangkap di Mancingan, tak jauh dari gua
Langse. Bersama dua abdinya, ia berada di gigir laut selatan itu setelah
singgah di Imogiri. Ia tidak melawan saat kami bawa,” lapor Winer
kepada Macgillavrij.
“Seperti perintah Tuan, raja tidak kami bawa ke Surakarta. Kini ia
berada di Klaten. Ia sudah kami beri tahu bahwa tidak akan kembali ke
keratonnya dan memilih pasrah. Ajakan perlawanan dari dua abdinya tak ia
gubris. Kami menunggu perintah,” lanjutnya dengan tetap berdiri dalam
sikap sempurna.
Macgillavrij berdiri dari kursinya. Wajahnya secerah pagi yang baru
datang menyapa Solo hari itu. Kabar yang datang bersama Winer membuat
harinya makin terang dan hangat.
“Nah, bagus. Utusan gubernur dari Semarang baru saja pergi sebelum
kau tiba. Duduklah,” sahut Macgillavrij sembari menunjuk kursi di depan
mejanya.
Macgillavrij kembali duduk di kursi jabatannya lalu membeberkan warta
dari Semarang yang baru didapatnya kepada Winer. Gubernur di Semarang
setuju bahwa tindakan meninggalkan keraton tanpa izin adalah pelanggaran
berat yang harus mendapat hukuman. Gubernur juga setuju untuk
menjauhkan raja dari kawulanya sebagai bentuk hukuman berat. Ia harus
diasingkan. Soal di mana lokasi pengasingan masih akan menunggu perintah
Batavia. Selama perintah dari Batavia belum tiba, raja harus berada di
Semarang agar tak bisa berhubungan dengan kawulanya di Solo.
“Dari Klaten, Pakubuwono kita bawa langsung ke Semarang. Ia harus
diasingkan sejauh mungkin dari kawulanya. Sudah tentu bukan ke Ayah atau
Onrust. Itu terlalu dekat,” kata Macgillavrij.
Ayah terletak di mancanegara kulon di antara Purworejo hingga
Cilacap. Daerah ini adalah tempat pembuangan bagi para pejabat kerajaan
yang dianggap melawan raja dan kompeni.
Patih Mangkupraja I dan Sasradiningrat I adalah dua nama yang pernah
mengalami pengasingan di Ayah. Begitu pula dengan Onrust. Pulau penjara
untuk para penderita lepra di utara Batavia itu adalah pengasingan bagi
para ulama pemicu peristiwa Pakepung di masa Pakubuwono IV.
“Aku yakin raja akan berada di Semarang cukup lama. Batavia pasti
akan menghitung biaya pengasingan. Rasanya sulit untuk mengasingkannya
ke Ceylon di masa kas kosong akibat ulah Diponegoro seperti sekarang
ini,” lanjut Macgillavrij kepada Winer yang duduk di depannya.
“Lalu ke mana ia akan diasingkan?” Winer penasaran.
“Celebes dan pulau-pulau sekitarnya mungkin akan jadi tempat
pengasingannya. Seperti yang dialami Diponegoro dan Kyai Mojo. Kita
lihat saja,” kata Macgillavrij.
“Tuan, raja sudah jelas tidak melakukan perlawanan. Ia begitu pasrah
dengan hukuman. Namun, ia meminta sejumlah pengikut dan keris pusaka
bernama Setan Kober untuk ikut meninggalkan Surakarta,” tutur Winer.
“Penuhi saja. Ia boleh mengajak dan membawa setan mana pun asal bukan
meriam. Namun, batasilah jumlah dan saring siapa pengikut yang ia pilih
untuk ikut meninggalkan keraton. Segera sampaikan permintaan itu kepada
keraton dan mari kita atur perjalanannya ke Semarang,” sahut
Macgillavrij.
***
Aku sangat kecewa dengan raja yang satu ini. Aku menyaksikannya
kehilangan daya tanpa ada darah tertumpah. Ia bukan Penangsang yang
beringas. Tuanku kini adalah raja yang tak suka dengan kekerasan. Di
tangannya, aku abadi sebagai jimat belaka tanpa pernah memenuhi takdirku
sebagai senjata! Aku menjadi serupa rajah yang memang tak pernah mampu
menjadi senjata pembunuh mematikan.
Apa yang kurang dari nasib buruknya? Dilucuti mahkotanya, diusir dari
istananya, lalu diasingkan ke seberang lautan. Sungguh celaka, nasib
yang begitu buruk ternyata tak mampu menyulut keberaniannya mengeluarkan
aku dari warangka. Setan macam apa aku ini hingga tak mampu membuatnya
sempat menghunusku dalam situasi serunyam itu? Aku Setan Kober! Mengapa
tak kau hunus bilahku?
Sejak ibunya mengambilku dari gedung pusaka dan aku berangkat menuju
Semarang, aku sudah membayangkan kesegaran darah. Nyatanya? Aku sekarang
terdampar di Batu Gajah tanpa pernah menyecap darah. Dan di bumi
bernama Ambon ini, aku malah menjadi saksi raja tanpa mahkota itu jatuh
cinta dengan perawan sipit anak Babah Ke Hing dari Pecinan. Ah, aku
setan yang sial! Siaaal!
***
“Dor!” ***
Catatan: Sapardan atau Pakubuwono VI atau Sunan Bangun Tapa meninggal
dalam pengasingannya di Ambon pada tahun 1849. Belanda melaporkan ia
meninggal karena kecelakaan di laut. Pada 1957, pemindahan kerangka
Pakubuwono VI ke Imogiri mendapati bekas lubang peluru di tengkoraknya.
Letak lubang peluru itu menunjukkan ia bukan mati bunuh diri atau
kecelakaan di laut. Diperkirakan, raja yang bertakhta pada 1823-1830 itu
terbunuh oleh peluru senapan yang mengarah ke dahinya. Setelah muncul
dalam Babad Nitik Sinuhun Bangun Tapa, keris pusaka Setan Kober hingga
kini tak diketahui keberadaannya.
Hendromasto Prasetyo. Penulis budaya, tinggal di pinggiran Jakarta.