Daftar Blog Saya

Senin, 12 Maret 2018

Seraphim

Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 11 Maret 2018)
Seraphim ilustrasi Budiono - Jawa Pos
Seraphim ilustrasi Budiono/Jawa Pos
“MEREKA datang. Mereka sudah datang,” bisik Suralim seraya beringsut, memiringkan tubuhnya seperti orang jijik akan sesuatu. Liar matanya menelusuri kemungkinan jejak di dinding atau di keremangan yang bukan diciptakan oleh lampu redup di kamar ini.
Perempuan di sisinya tersentak bangun.
“Mereka siapa?” tanyanya cemas.
Suralim buru-buru menaikkan telunjuk dan menempelkan ke bibirnya. Ia mendesis, meminta perempuan di sisinya itu hening sejenak. Matanya tetap liar dan berputar-putar aneh, telinganya seperti berusaha menangkap suara.
Saripah bingung di sisi suaminya. “Mereka siapa?” ulangnya.
Wajah Suralim mengeras. “Bayangan-bayangan hitam dan kata-kata.”
Perempuan di sisi lelaki itu mendadak murung. Saripah sedih. Seperti malam-malam sebelumnya, tidur Suralim terus terteror oleh sesuatu yang tak bisa ia lihat.
#1
Saripah tak pernah mempersoalkan bagaimana cara Suralim mendapatkan semua tempe yang kini tersimpan di lemari. Suaminya itu terus saja meributkan tingginya harga kedelai. Saripah juga kadang tak peduli jika suaminya tak mandi berhari-hari dan aroma ketiaknya memenuhi rumah kecil ini. Tak pernah ada rahasia yang berhasil mereka simpan atau rahasia yang pergi diam-diam dari rumah petak 42 meter persegi berdinding semitembok ini.
Dinding yang selalu tak berhasil meredam lenguhan Neneng, tetangga rumah sebelah, saat didatangi Suryono. Dinding yang juga kerap mengirim tangis perempuan itu saat ditempeleng oleh lelaki yang sama. “Ia tak suka sarapan singkong rebus,” isak Neneng esok paginya, tentang alasan Suryono menamparnya.
Suryono memang bejat. Lelaki itu suka sekali memukuli perempuan. Padahal, Neneng hanya kekasihnya belaka. Ia kerap datang saat larut, lalu menginjak paha Neneng yang sedang terlelap. Belum lagi usai geriap mata perempuan itu, Neneng sudah ia paksa agar membuka kakinya. Tetapi pagi-pagi, Neneng sudah menangis.
“Mana si Suryono?” tanya Suralim.
“Sudah pergi,” tukas Neneng.
“Kau diapakan?”
“Ia menempelengku lagi.”
“Kenapa lagi dia itu?”
“Ia tak suka saat aku menolak membersihkan muntahan mabuknya.”
Suralim benci melihat Neneng diperlakukan begitu. Ia kemudian mengomel, mengomentari nasib perempuan tetangganya itu. Dua hal yang sering membuat Suralim mengomel: saat perempuan itu melenguhkan gairah dan saat ia menangisi tubuhnya yang dipukuli Suryono.
“Aku akan senang sekali jika nasib Suryono berakhir dalam koper di tempat sampah dan aku membaca tentang itu di halaman koran.”
“Bukankah kau tak suka baca koran?” tanya Saripah.
Suralim mengangguk cepat. “Ya. Walau aku tak suka baca koran.”
Itu keinginan paling mengejutkan dari Suralim selama mereka berumah tangga.
#2
Saat Saripah pulang dari pabrik, tak ditemuinya Suralim. Entah ke mana suaminya itu. Baru menjelang magrib, Saripah melihat suaminya melenggang masuk rumah. Suralim mendengus saat istrinya bertanya ke mana ia seharian ini.
“Mana ada sayur impor yang tak berpengawet. Tahan berminggu-minggu tak busuk dan orang-orang membeli karena harganya murah. Huh, itu tak sehat. Kita semua sedang diracuni,” Suralim mengomel lagi.
Ia seharian di pasar impres. Akibat kenaikan harga BBM, tomat lokal hilang dari lapak sayur, katanya. Kubis Vietnam Cuma 2.000 rupiah per ikat. “Gila itu! Petani di sini mana bisa memberi harga seperti itu. Rugi. Rugiii…!” omelnya.
Saat Saripah datang mengantarkan kopi, Suralim masih sibuk menjelaskan hitungannya. Harga kubis itu tak masuk akal, rutuknya. Tentu saja kubis dihargai murah begitu jika pemerintah membebaskan ongkos impornya. Suralim menduga, harga dasar kubis impor itu tak kurang dari 500 rupiah saja.
“Sebaiknya kau pergi mandi,” saran Saripah.
“Sebentar lagi.”
“Kau tadi memanggul kol busuk!”
“Kol lokal mudah busuk karena tak berpengawet,” sergah Suralim.
“Kau dibayar berapa memikulnya ke pembuangan di belakang pasar?”
“5.000 rupiah per karung.”
Saripah menutup hidungnya. “Mandilah. Baumu sudah persis kol-kol busuk itu.”
Suralim mengendus bau ketiaknya sendiri. Ia sambar handuk dan menuju kamar mandi.
#3
Selain mencemaskan si Neneng, kenaikan BBM dan harga-harga sayuran lokal di pasar impres, Suralim juga masih sering berteriak malam-malam. Mimpi yang sama selalu datang meneror tidurnya dan itu membuat istrinya ikut gusar.
Setiap kali Saripah membangunkannya, wajah Suralim seperti orang linglung. Tubuhnya mandi peluh. Jika dihitung-hitung, kamar kecil mereka di rumah petak ini sudah mengumpulkan banyak sekali cerita. Suralim mengoleksinya hampir tiap malam.
Berkali-kali Suralim harus minta maaf pada istrinya. Malam ini ia mimpi buruk lagi. Suralim duduk sambil menekuk kaki ke dada, gemetar ketakutan di ujung ranjang. Wajahnya pias seperti mayat. “Seraphim…!” desis Suralim.
Jika sudah begitu, Saripah kasihan sekali padanya. “Hah?”
“Mereka mengepung kota-kota dan membakar orang-orang…”
“Hah?”
Suralim mendekat dan bicara pelan di dekat wajah istrinya. “Tubuh para Seraphim itu menyala-nyala. Orang-orang belum pernah menemui makhluk cerdas sekaligus penipu seperti mereka. Orang-orang yang mengikuti, mereka bakar dengan kata-kata. Kau ingat ceritaku tentang Patmos?”
“Patmos?” Saripah makin bingung.
“Ya. Patmos. Berwujud kerbau, elang, singa, dan manusia. Masing-masing memiliki empat sayap. Empat makhluk jahat itu dari sebuah pulau kecil. Tapi mereka sudah di sini.”
Saripah tak tahu seserius apa mimpi-mimpi itu bagi suaminya. Suralim bukan seorang pengidap achluophobia. Sebagai istri, Saripah bisa memastikannya. “Sudahlah. Tidurlah lagi. Aku sudah berkali-kali bilang padamu agar tak mengudap ubi rambat sebelum tidur. Tadi kau menelan apa?”
“Cuma aspirin.”
“Dasar kepala batu! Kau benar-benar keras kepala.”
Pagi harinya, mimpi yang menakutkan semalam itu seperti menguap tanpa bekas dari benaknya. Tetapi Suralim tetap mengerutu. Ia tak menemukan berita tentang nasib Suryono di koran pagi ini.
#4
Pulang dari pasar hari ini, Suralim menggerutu dengan hebat.
“Kau ini kenapa lagi?” tanya istrinya.
“Menteri blusukan ke pasar. Ia bertanya macam-macam pada pedagang, bicara yang tak jelas soal mekanisme pasar global pada pedagang sayur dan ikan.”
“Baguslah itu,” sergah Saripah.
Langsung bengkok mulut Suralim, “Bagus apanya!? Sebelum ia datang dan setelah ia pergi pun harga-harga sayur masih tak berubah. Tetap tinggi. Apanya yang bagus itu?”
“Pasti menteri beli sesuatu dari pedagang, kan?”
Suralim menggeleng. “Mana ada menteri yang belanja sayur dan ikan.”
“Berarti yang belanja ibu menteri, kan?”
Raut muka Suralim langsung kusam. “Jangan mimpi! Orang-orang di pasar nyaris mengiranya wartawan. Ia ke sana-kemari sibuk memotret dengan kamera besar. Kalau saja tak dikelilingi polisi, ia tak beda dengan juru foto amatiran yang ikut berkerumun di sana.”
Orang-orang memang sudah meragukan si menteri. Banyak sekali kasus besar dikabarkan dari kantornya. Menteri yang suka mengeluh pada wartawan tentang setiap lekukan, sudut ruangan, bunga-bunga yang ia curigai telah dipasangai penyadap oleh petugas dari komisi anti korupsi.
Menteri itu pernah murka, saat seorang petani tua tak sengaja lewat di dekat panggung kehormatan di acara yang ia hadiri. Saripah mendengarkan kejengkelan Suralim, seraya bilang itu wajar, lalu mengutip sejarah Anwar Sadat yang tewas ditembak dalam sebuah parade militer. Ia sambung dengan kisah tentang Mahatma Gandhi yang dibunuh seorang lelaki karena dianggap terlalu memihak golongan tertentu. Saripah juga mengingatkan suaminya pada nasib John Lennon yang terkapar mati di luar apartemennya karena kegilaan seorang penggemar fanatik.
Tetapi, sebanyak itupun Saripah memberi contoh, tetap saja Suralim mengasihani petani tua yang pasti ketakutan setengah mati dan mengencingi celananya saat ditanyai para polisi. Wajah Suralim mendadak serius. “Ripah, ingatkah kau tentang Seraphim yang datang di mimpimimpiku?”
Istrinya mengangguk.
“Aku benar. Sudah kubilang mereka di sini sekarang. Tadi mereka kulihat ada di pasar. Mereka mengelilingi menteri, tertawa bersama menteri dan sibuk menjelaskan apa saja pada menteri.”
#5
Seperti pagi sebelumnya, Suralim masih menyukai harapan buruknya terhadap nasib Suryono. Tetapi di koran pagi tak ia temukan berita tragis tentang lelaki itu di koran hari ini. Suralim lalu gegas mandi sebelum pergi setelah sarapan pisang goreng dan segelas kopi.
Saat Saripah ke teras hendak menggantung jemuran, didapatinya Neneng yang sedang menyapu. “Mana Suryono?” tanya Saripah.
“Sudah berhari-hari ia tak ke sini,” jawab perempuan itu tenang. Saripah senang melihat wajah Neneng yang berseri-seri.
Hampir malam, saat Suralim tergesa memasuki rumah dengan koran di tangannya. Pada Saripah, ia tunjukkan berita yang sukar ia percayai. Di koran sore, di halaman kota, bersandingan kolom dengan berita menteri-menteri yang blusukan, ada berita-foto tentang mayat lelaki yang ditemukan dalam koper di tempat pembuangan sampah. Menurut saksi, koper itu dibuang seseorang dua hari lalu dan polisi sudah menangkap pelaku di tempatnya bekerja.
Suralim membanting koran ke meja. “Seharusnya lelaki bejat itu mati di koran pagi,” gerutunya, “Bukan di koran sore!” ***

Molenvliet, Januari 2018
Ilham Q. Moehiddin. Satiris, menggemari Ambrose Bierce Gwinnett. Menulis banyak cerpen.

Minggu, 11 Maret 2018

Kutipan Your Lies

Jangan fokus sama kerjaan melulu. Enjoy your life, cari pacar, jalan. (hlm. 32)

eberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Di balik laki-laki hebat, selalu ada perempuan-perempuan hebat. (hlm. 158)
  2. Sabar ya, rezeki mah nggak kemana. (hlm. 221)
  3. Cinta tidak bisa memilih. Kalau mau tahu, cinta itu bukan dilihat, tapi dirasakan. (hlm. 231)
Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Kuliah semester akhir dan bergelut sama skripsi bikin stress. Dosen susah banget dimintain ACC, ada aja yang kurang. Tanda baca salah satu doang, langsung ngambek. Boro-boro dibaca selanjutnya. Padahal tinggal sedikit lagi, bisa langsung ke kesimpulan. (hlm. 15)
  2. Bandung yang dulu bukanlah yang sekarang. (hlm. 21)
  3. Namanya juga mahasiswa, yang gratisan selalu terasa istimewa. (hlm. 22)
  4. Udah lah, resign aja kalau memang enggak betah kerja di sana. (hlm. 26)
  5. Udah sayang-sayangnya, jalan ke mana-mana bareng, apa-apa saling bayarin, ujungnya putus. (hlm. 32)
  6. Barang kan bermanfaat kalau dipakai, kalau dipajang gini nggak ada manfaatnya. (hlm. 46)
  7. Dibandingin sama Kendall. Siapa pun kebanting, lah, kalau dibandingin sama dia mah. (hlm. 49)
  8. Mana ada laki-laki normal yang sama sekali enggak pernah pacaran dengan serius seumur hidupnya? (hlm. 51)
  9. Ngapain dipacarin kalau nggak suka? (hlm. 51)
  10. Penting mana kesehatan dan nyawa lo kalau dibandingin sama duit? (hlm. 53)
  11. Murah amat harga diri lo ya? Permen yupi gini udah bisa bikin lo senyum. (hlm. 63)
  12. Gue nggak bisa bohog, takut kualat. (hlm. 76)
  13. Dasar laki-laki! Enggak ada peka-pekanya! (hlm. 103)
  14. Gue beneran salut sama betis cewek yang kuat berdiri lama buat belanja. (hlm. 107)
  15. Mending diajak nikah muda. Biar nggak banyak dosa. (hlm. 141)
  16. Apa sedang banyak orang yang lagi cemburu hari ini sehingga mereka butuh jus untuk mendinginkan hati? (hlm. 154)
  17. Barang baru terasa berharga kalau udah hilang atau direbut orang. (hlm. 160)
  18. Orang marah rentan kehilangan akalnya, dan memungkinkan dia untuk melakukan hal-hal di luar batas. (hlm. 180)

Harin Botan

Cerpen Jemmy Piran (Koran Tempo, 10-11 Maret 2018)
Harin Botan ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo-ECB
Harin Botan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Wanita beraroma kerang, apa kamu masih menunggu saya dalam laut?
Berdiri di bibir pantai ini sambil memandang pada kejauhan, bayangan perempuan itu memenuhi kepala saya. Pertemuan pertama, secara tidak sengaja itu, masih saya rahasiakan dari sesama teman penyelam. Memang sudah saya pikirkan, saya tetap merahasiakan dari mereka. Karena, jika saya menceritakan, mungkin sekali mereka akan memilih berhenti menjadi penyelam. Memilih bercocok tanam untuk menyambung hidup, barangkali. Atau memilih pekerjaan selain menjadi penembak ikan. Atau, jika saya bercerita, mereka akan menuduh saya tidak beres. Mereka sendiri belum tentu menerima kenyataan bahwa ada perempuan cantik yang selalu saya temui setiap kali turun menyelam. Di dalam laut di hadapan saya inilah segala cerita tentang pertemuan, percintaan, dan perayaan pernikahan yang meriah telah berlangsung. Semua tetap rahasia dan akan tetap saya rahasiakan dari siapa pun.
Hasrat saya selalu membuncah setiap menelusuri kedalaman laut dangkal, karena di sana saya berjumpa dengan perempuan itu. Yang berdagu tirus dan berbibir lembap beraroma agar-agar ketika saya telusuri dengan ciuman. Aroma asin selalu membuat saya ingin kembali dan membiarkan kepalanya bersandar di dada ringkih saya. Atau membiarkan bibirnya menghunjam sekujur tubuh saya dengan hasrat yang penuh. Tapi, kini, laut di hadapan saya ini bagai bara dan, ketika saya menyentuhnya, tubuh saya panas.
***
Mula-mula saya tertegun oleh sekelabat bayang yang melintas cepat. Dada saya bergetar, dan saya tidak bisa memastikan. Semuanya kembali seperti biasa. Saya kembali ke permukaan laut. Mengelap kacamata selam yang sudah tampak tua dan kabur, lantas kembali meluncur ke bawah dengan cepat. Saya memburu seekor ikan kakap yang terlepas dari mata panah. Saya menelusuri sisi batu dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Jika sekelebat ikan dengan gesit berlari menghindar, saya pastikan, tidak pernah bisa terlepas dari bidikan. Saya belum bisa tenang jika ikan yang pernah terlepas dari mata panah saya belum menemukan ajalnya di ujung tombak ini lagi.
Sebagai lelaki yang sudah lama menyelam, saya tahu bagaimana cara mengambil sudut terbaik untuk membidik seekor ikan yang berada di bawah terumbu karang. Itulah sebabnya mengapa jiwa ikan selalu berakhir di tangan saya.
Tapi, ada satu hal aneh yang sampai sekarang belum saya pahami. Bahwa sepertinya ikan dengan suka rela menyerahkan nyawanya tanpa harus bersusah memburunya dengan terburu-buru. Semakin ke sini, ikan-ikan tidak lagi menghindar, malah justru semakin berkitaran di sekitar saya. Dan, tak sampai sejam, tali sepanjang sedepa sudah penuh dengan ikan-ikan kakap. Saya tidak bersusah payah mengejar ikan. Atas dasar itulah hasrat saya selalu membuncah untuk turun ke laut. Dan, melihat tangkapan saya selalu melimpah, warga lantas menyandar gelar baru untuk saya sebagai penembak sejati.
Pada suatu petang, saat matahari tenggelam dalam genggaman awan. Saat memanah ikan terakhir, sebelum saya kembali ke permukaan untuk mengambil napas, seorang perempuan berdiri di sisi batu, menatap saya.
Saya terkejut. Jantung saya bergetar hebat. Saya mengumpulkan kekuatan pada kaki, lalu dengan satu hentakan, saya mengambang ke permukaan. Saya tidak percaya.
Setelah mengambil napas, saya menenggelamkan kepala ke dalam laut. Ia masih berdiri di sana, menatap saya dan memberikan sebuah senyuman. Menawan sekali. Saya percaya, siapa pun akan luluh dan bersedia bertekuk lutut pada kecantikannya.
Begitu saja ia merentangkan tangannya, seperti hendak mengundang saya agar mendekat. Saya merasa seperti ditarik oleh sebuah kekuatan mistis, dan begitu saja diluar kendali, saya berenang ke arahnya. Saat saya hendak mencapainya, ia berenang menjauh, bersembunyi di balik batu, melongokkan kepala, lalu memberikan senyum yang begitu menawan. Senyuman mengundang.
Saya mengejarnya. Ia semakin gesit menghindar.
Ia menghilang di balik batu. Saya putus asa, dan hendak kembali ke permukaan, dari arah belakang ada tangan mungil, lembut, menangkap dan memeluk saya. Rambutnya beraroma kerang. Wangi yang menenteramkan.
“Dapat kau,” bisiknya dekat daun telinga. Ia tertawa. Saya bergidik. Tangan saya langsung memegang tangannya. Ia semakin erat memeluk saya.
“Siapa kamu?”
“Kekasihmu.” Tanpa beban ia berujar. Saya agak terkejut, tapi bisa menguasai diri. Sebelum saya menyeringai, ia sudah mencium saya. Lelaki mana yang bisa menolak sebuah ciuman dari wanita asing yang berparas menawan? Wanita yang seolah siap menyerahkan dirinya dengan utuh untuk dijamah. Saya membalas ciumannya dengan rasa gugup.
Setelah ciuman panjang, ia berujar manja, “Apa kamu mencintaiku?”
“Saya mencintaimu.”
“Apa kamu percaya bahwa ada sesosok makhluk yang menjaga segala sesuatu di dalam laut? Katakan saja seperti ini, dia yang mengendalikan alam dalam air. Hmm, ya, semacam makhluk tak kasatmata.”
Saya berpikir sejenak. “Antara percaya dan tidak, Nona. O, ya, kita belum berkenalan, nama kamu siapa? Apa saya panggil dengan sebutan nona saja?”
“La Calca. Rerata nama kami di sini menggunakan nama ilmiah. Dari nama Latin.”
“Nama yang manis.”
Kami terdiam cukup lama. Saya tidak tahu apa yang ia pikirkan. Saya hanya diam dan sesekali menatapnya.
“Saya ingin memperkenalkan kamu ke orang tua.”
Usai berkata demikian, ia menggandeng tangan saya, lalu kami berenang dan terus berenang. Sesekali saya menoleh ke belakang dan menemukan segerombolan ikan mengikuti kami dari belakang. Ikan-ikan itu tampak bahagia.
“Apa yang mereka inginkan dari kita?” tanya saya sambil menunjuk ke arah ikan di belakang.
“Mereka bahagia karena kehadiran kita,” ia berkata tapi seperti ada yang tidak selesai dalam nada kalimatnya. Saya tidak sempat bertanya lagi karena sudah memasuki sebuah gerbang. Di sisi kiri dan kanan gerbang, para penjaga menghormat takzim begitu kami lewat. Mereka menyambut kami dengan wajah berbinar.
Begitu pintu dibukakan, seorang lelaki dan perempuan duduk manis di atas takhta, menyambut kami. Dari pancaran wajah, saya menduga mereka sudah mengetahui kedatangan kami. Sang lelaki segera turun dan merentangkan tangannya. Kami berpelukan, dan begitu juga dengan sang wanita.
Kami cepat akrab dengan obrolan-obrolan tentang ikan-ikan yang berada di dalam laut. Sang lelaki mengisahkan kepada saya tentang perburuannya. Ia pernah menjadi seorang pemukat dan pernah dibenci oleh orang-orang hanya karena tangkapannya selalu melimpah. Tapi ia tidak pernah membenci orang-orang yang menaruh benci terhadap dirinya. Dengan dada terluka karena cacian warga, ia masih sempat menjelaskan kepada mereka bahwa menangkap ikan itu tidak hanya menggunakan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memanfaatkan warisan turun-temurun.
Usai bercerita, saya dan La Calca berkeliling. Saya sangat takjub dengan tata ruang di tempat ini. Dengan singkat kata bisa dikatakan seperti ini: segala yang ada, yang tampak kasatmata adalah sebuah perpaduan yang memanjakan mata.
“Sepertinya kamu harus kembali dulu,” ujarnya.
“Ikutlah bersama saya.”
“Nanti ada waktunya saya akan ikut bersama kamu, Sayang.”
Sepertinya ia tak ingin melepaskan saya, ia cemberut. Tapi cepat ia menguasai diri agar terlihat biasa.
“Besok saya menunggu kamu di sini.”
***
Sejak pertemuan dalam laut yang tidak pernah saya duga itu, saya merasa ada keterikatan penuh dengan laut. Ketika saya berada di darat, saya merasa ia seperti terus mengikuti ke mana langkah bergegas. Dan, setiap kali turun menyelam, saya selalu bertemu dengan wanita itu. Ia selalu menunggu saya di tempat kami bertemu pertama kali.
Ia senang menemani saya menembak ikan. Dan, yang paling saya senang dari kehadirannya di sisi saya adalah ikan-ikan seperti begitu jinak. Ia hanya merentangkan tangan maka segerombolan ikan akan mengitari kami. Lalu selanjutnya ia akan menyuruh saya memilih untuk menembak ikan yang mana.
Sesekali ia mengajak saya berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah saya singgahi. Ia selalu berhasil memenangkan hati saya dengan keindahan bawah laut. Bahkan pernah saya tinggal bersamanya beberapa hari. Kami dibiarkan tidur bersama oleh orang tuanya.
Di tanjung, kami duduk berdua sambil memandang senja yang kuning berkilauan. Saya tidak tahu di mana tepatnya kami saat ini. Tapi, yang pastinya ini bukan dunia khayalan karena saya bisa mendengar dengan jelas debur ombak di bawah sana. Sebelum matahari tenggelam tadi bisa saya rasakan hangatnya.
La Calca melirik ke arah saya, kemudian memandang jauh ke depan, mendesah, seolah-olah ia seperti sedang menanggung beban yang amat berat. Setelah diam beberapa saat, ia menarik lengan saya lebih mendekat.
“Apa yang kamu pikirkan?”
Ia menarik napas panjang, mengembuskan, lalu bertanya, “Apa kamu percaya bahwa dalam hidup ada kebetulan?”
Saya menggangguk tapi ragu.
“Kamu tidak ingin hidup di sini? Maksudnya bersama kami dalam laut.”
Saya tercengang mendengar pertanyaannya. Kenapa sekarang ia meminta saya tinggal bersamanya di dalam laut? Kenapa? Apa karena kami telah menikah? Sebelum menemukan jawaban, ia sudah memandang ke arah mata saya. Lama sekali. Saya juga memandangnya. Dan saya menemukan sesuatu dalam liang matanya. Mata yang sarat dengan luka.
“Ceritalah apa yang ingin kamu bagikan.”
Sekali lagi ia menarik napas, mengembus ke arah wajah saya.
“Saya tidak percaya akan adanya kebetulan. Perjumpaan kita bukan kebetulan. Sejak dulu leluhurmu selalu memerhatikan kehidupan kami di sini. Dan, itu membuat kami cukup bahagia dan tetap melimpahi berkah-berkah dari laut untuk kehidupan mereka. Tapi, setelah generasi leluhurmu berlalu, perlahan-lahan orang-orang mulai melupakan kami. Itu menyedihkan.
“Dan, mungkin ini kedengaran kejam: kamu adalah hadiah atas keserakahan orang-orang terhadap laut. Itu sebabnya kenapa saya berkata perjumpaan kita bukan kebetulan. Pernikahan kita adalah perayaan terbesar yang pernah terjadi karena kamu adalah satu-satunya orang yang bersedia dengan tulus untuk dinikahkan dengan putri dari ayah saya.”
Ia memberi jeda, menelan ludah.
“Apa kamu tahu siapa saya?”
“Tahu.”
“Lantas?”
“Saya tidak peduli. Saya sudah membutakan dan menulikan mata dan telinga. Kalau kamu berkenan, kita pergi ke kampung, tinggal di sana.”
“Dunia kita tetap berbeda.”
“Bukankah kita sudah menikah?”
“Kita hanya terikat secara jiwa. Saatnya nanti, jiwamu yang telah diikatkan itu akan menyatu kembali dengan tubuhmu. Mau tidak mau, kamu akan meninggalkan sanak kerabat di kampung dan akan bergabung bersama kami di sini.
“Kami sudah melakukan pertemuan akbar membicarakanmu. Dalam pertemuan itu mereka menghendaki agar kamu menjadi seperti yang mereka inginkan. Saya keberatan. Saya meyakinkan mereka bahwa saya bisa berbicara baik-baik, mengajakmu kemari dan tinggal bersama kami selamanya. Tanpa harus membuat dirimu terseret arus, atau tali membelit sekujur tubuhmu, atau menenggelamkan tubuhmu dalam gulungan ombak sampai kamu meregang nyawa. Mereka setuju dengan usulan saya. Dan, mereka menawarkan segala kenyamanan untuk kamu. Kamu hanya perlu hilang selama-lamanya dari kehidupan di kampungmu, dari rutinitasmu sebagai manusia yang membosankan itu.”
Ia menggenggam tangan saya. Saya menatap matanya, tapi pikiran saya mengambang. Saya mengusap matanya karena matanya berair. Mungkin perasaan haru menyergap dirinya.
“Apa kamu tidak ingin hidup dan tinggal bersama kami?”
Sekali lagi saya menatap matanya. Saya temukan ada sesuatu yang pasti dari sorot matanya. Seperti sesuatu yang bisa membebaskan jiwa saya dari segala keterikatan. Di ujung bisu saya mengangguk pasti.
Setelah menghilang dua hari dari kampung dan ditemukan kembali oleh salah seorang warga di dalam tubuh pohon bakau, rumor langsung beredar. Mereka terang-terangan mengatakan bahwa jiwa saya telah “diikat” oleh harin botan. Saya tidak menjawab.
Tetua di kampung langsung melakukan ritual pembebasan jiwa saya dan menangkal agar saya dijauhi dari segala pengaruh. Saya hanya diam. Saya tahu mereka tidak bisa mengembalikan jiwa saya. Mereka membuang semua peralatan menyelam milik saya.
Kini, saya tidak lagi melaut karena hamparan laut di depan saya terlihat bagai bara dan terasa panas saat disentuh. Tapi, hasrat untuk datang ke pantai ini selalu membuncah, mengalahkan larangan itu. Walau mereka sudah menangkal dengan ritual-ritual yang tiap bulan dilarungkan ke laut, saya yakin ia, kekasih saya, akan membawa saya ke dunianya, dunia bawah air. Sebuah dunia yang tidak perlu menuntut saya untuk bekerja lebih keras karena semuanya telah disediakan. Bagaimana juga, suatu saat saya akan ke sana, sebab mereka telah mengikat jiwa saya.
“Apakah ritual yang mereka lakukan membuat jalanmu kepada saya untuk bertemu di pantai ini secara diam-diam telah tertutup? Jangan khawatir, saya akan menemuimu dengan cara apa pun, bukan hanya karena kita telah terikat, tapi sebagai hadiah agar orang-orang saya tahu bahwa ada kehidupan lain dalam air, yang selalu menjaga keseimbangan laut.”
Wanita beraroma kerang, apa kamu masih menunggu saya dalam laut?

Waimana I, September 2017

Catatan:
Harin Botan: makhluk penjaga laut yang berwujud perempuan cantik.

Jemmy Piran lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI Universitas Nusa Cendana, Kupang. Beberapa tulisannya, puisi dan cerpen, tersiar di sejumlah media. Kini ia tinggal di Waimana 1, Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Hantu Pelakor

Cerpen Mashdar Zainal (Kedaulatan Rakyat, 11 Maret 2018)
Hantu Pelakor ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat-ECB.jpg
Hantu Pelakor ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
Dikampung kami, para istri selalu cemas ketika melepaskan suaminya keluar  rumah. Lantaran, beberapa bulan terakhir, tersiar kabar perihal hantu perempuan yang suka memangsa para lelaki beristri. Hantu itu bernama Pelakor. Tak seorang pun pernah menjumpai penampakan hantu perempuan itu. Konon, mereka hantu yang pandai bersolek, ahli merayu dan berkata manis, sebelum menjerumuskan para lelaki ke tempat lain. Hantu perempuan itu adalah hantu yang paling pandai berkedok.
Lelaki yang sudah dirasuki hantu Pelakor akan menghilang perlahan-lahan dari  adapan istrinya. Ciri-ciri lelaki yang sudah dirasuki hantu Pelakor adalah, mereka tidak pernah betah berlama-lama di rumah. Kata-kata dan sikapnya menjadi dingin. Serta kehilangan selera bercinta dengan istri sendiri. Kalau suamimu di rumah mulai dijangkiti hal-hal semacam itu, maka kau patut was-was. Sebab, ruh suamimu sudah dibawa dan disembunyikan oleh hantu Pelakor. Sosok lelaki yang ada di hadapanmu itu cuma jasad. Dan tak lama lagi, jasad itu pun bakal pergi seutuhnya dari hadapanmu. Meninggalkanmu. Pergi dan menjadi budak hantu yang telah memegang ruhnya.
Hal seperti itu sudah terjadi di kampung kami. Persis. Tiga hari lalu, suami Bu Dewi pergi membawa koper meninggalkan rumah. Untuk pindah ke rumah hantu perempuan yang telah membawa jiwanya. Betapapun usaha Bu Dewi mempertahankan suaminya, suaminya tetap saja tak sudi kembali. Bu Dewi sempat adu mulut dengan suaminya di teras rumah, hingga menjadi tontonan orang-orang. Menjadi bahan rumpian para tetangga.
“Kasihan Bu Dewi, ya.”
“Betul, kasihan sekali.”
“Jadi, bagaimana sebenarnya cara melindungi suami kita dari hantu Pelakor?”
“Caranya sebenarnya gampang, kita para istri, harus pandai-pandai menjaga suami. Dengan cara memusatkan perhatian. Fokus. Memuaskan suami, lahir dan batin. Tidak usah terlalu cerewet dan menuntut pada suami. Dan tentu saja, harus pandai merawat diri sendiri. Meski di rumah, perempuan harus tampil cantik. Rajin maskeran. Sisir rambut yang betul. Pakai minyak wangi. Jangan kentut sembarangan di muka suami. Intinya jangan sampai pesona kita kalah dengan pesona hantu Pelakor.”
“Tapi, meski perempuan sudah melakukan itu semua, kadang para lelaki tetap saja didatangi dan mendatangi hantu Pelakor.”
“Betul juga. Bu Dewi contohnya, kurang apa coba. Sudah cantik, bahenol, pandai memasak sampai punya restoran lima cabang. Tapi tetap saja suaminya hilang.”
“Jadi, menurutku, sebenarnya bukan cuma perempuan yang harus waspada. Laki-laki pun juga demikian. Laki-laki itu nafsunya kecil, tapi buas. Sedikit saja nafsu itu dibiarkan terjaga, hantu Pelakor datang langsung sikat, dikira istrinya.”
“Betul itu, rumah tangga kan bukan cuma milik perempuan, tapi juga milik laki-laki. Jadi, dua-duanya harus saling menjaga. Ketika sosok mempesona datang menjelma orang ketiga, para pasutri ini harus benar-benar ingat, bahwa di belakang mereka ada orang-orang yang mengandalkannya, ada pasangan masing-masing, ada anak-anak, ada orang tua, ada mertua, dan semuanya punya hati, dan tak suka dikhianati. Masa iya, rumah tangga harus hancur gara-gara sesosok hantu yang menjelma orang ketiga.”
“Tapi mungkin juga tidak semudah itu. Sebab, dalam beberapa hal, kadang manusia tak bisa berbuat banyak. Diketeki sama nafsunya sendiri.”
Semenjak ditinggal suaminya, Bu Dewi mulai malas kumpul-kumpul dengan tetangga. Ia enggan datang ke arisan, tidak pula ke pengajian. Pekerjaannya cuma bermuram durja di dalam rumah. Sekalinya keluar rumah, Bu Dewi tidak pulang selama beberapa hari. Anak-anaknya dititipkan ke pembantu. Kata pembantunya, Bu Dewi pelesir keluar kota buat menghibur diri. Kelewat bulan, tak ada lagi orang yang memerhatikan kehidupan Bu Dewi. Hingga suatu malam, keributan kembali terjadi. Seorang wanita paruh baya, melabrak rumah Bu Dewi dan menyerapahi Bu Dewi sebagai hantu perempuan perebut laki orang. Kami tak pernah tahu bahwa hantu Pelakor bisa saja menulari korbannya.
Semakin hari, hantu Pelakor pun semakin memakan banyak korban. Di kampung kami, dari hari ke hari. Semakin banyak perempuan yang kehilangan suami. Semakin banyak rumah tangga yang porak poranda gara-gara hantu satu itu. Bahkan belakangan, muncul fenomena hantu baru. Hantu laki-laki yang suka merasuki istri orang. Hantu itu bernama Pebinor. Modusnya sama dengan Pelakor. Yang satu korbannya laki orang, dan yang satu korbannya bini orang. Kedua hantu itu konon semakin sakti dan merajalela. Hingga tak bisa lagi dibedakan. Kadang korban hantu Pelakor adalah hantu Pebinor itu sendiri. Atau, korban hantu Pebinor adalah hantu Pelakor itu sendiri.
Begitu rumit dan bersilang sengkerutnya kehidupan rumah tangga yang dijangkiti hantu-hantu menyeramkan semacam itu. Hantu yang telah ada sejak zaman primitif, dan akan terus berevolusi menjadi hantu-hantu baru dengan nama-nama baru.q– g

Malang, 6 Maret 2018
Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya “Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran”, 2018. Kini bermukim di Malang.

Menjelang Bebas

Cerpen Sori Siregar (Kompas, 11 Februari 2018)
Menjelang Bebas ilustrasi I Komang Mertha Sedana - Kompas-ECB.jpg
Menjelang Bebas ilustrasi I Komang Mertha Sedana/Kompas
Dengan debar jantung seorang penderita aritmia, Hendar terus menatap ke luar jendela dari lantai dua rumahnya. Cemas menghantuinya sejak sebulan lalu. Ia tidak pernah membayangkan bahwa hari tuanya setelah ia pensiun akan terganggu seperti ini.
“Ayah tidak boleh terus-menerus ketakutan seperti itu. Putusan yang ayah jatuhkan benar-benar berdasarkan hati nurani dan sesuai dengan ketentuan undang-undang,” ujar putranya Hamonangan.
Hendar tampaknya tidak mendengar kata-kata anaknya itu. Atau pura-pura tidak mendengarnya. Ia terus menatap ke luar jendela. Kelihatannya ia menunggu sesuatu atau seseorang yang entah kapan munculnya.
“Ia tidak sejahat seperti yang ayah katakan. Ayah adalah temannya sejak sekolah dasar. Walaupun ia bekas kepala preman dan dikenal dengan sebutan Preman Besar, aku yakin ia tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan dirinya sendiri. Kebebasan yang akan diperolehnya tidak akan membuatnya gegabah. Percayalah, Ayah,” Hamongan melanjutkan.
Hendar mengalihkan tatapannya ke wajah anaknya. Namun, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tetap yakin, Gorga akan datang menemuinya dan melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Itu yang tak pernah terpikirkan olehnya selama lima tahun terakhir, selama Gorga disekap, sejak ia menjatuhkan putusannya. Karena keputusan itu pula banyak pujian yang dilontarkan kepadanya, termasuk dari berbagai media arus utama. Hendar dianggap berani, karena tokoh yang dihadapinya adalah orang yang terkenal berdarah dingin dan berani berbuat apa saja untuk kepentingannya.
Karena ayahnya tidak mengindahkan sarannya, Hamonangan meninggalkan orangtuanya seorang diri di lantai dua itu. Hamonangan merasa ia harus mengucapkan kata-kata yang sama keesokan harinya, keesokannya lagi dan hari-hari seterusnya.
Gorga bukan hanya sekali diajukan ke pengadilan. Tetapi ia senantiasa lolos, karena para hakim yang mengadilinya tetap mengeluarkan keputusan bebas murni. Desas-desus pun tak terelakkan. Keputusan bebas murni itu diberikan karena para hakim takut pada orang yang mereka adili. Hanya Hendar yang berani menjatuhkan putusan lima tahun penjara kepada Gorga, temannya sejak sekolah dasar itu.
Sebelum putusan mengejutkan itu diucapkan, Gorga sudah merasa Hendar akan berani mengambil keputusan sesuai dengan tuntutan jaksa. Gorga merasa seperti itu karena Hendar bukan orang mudah melumpuhkan hati nuraninya. Hati nurani itu tidak mengenal kompromi, teman, famili, atau ancaman. Apalagi ia sadar, putusan yang dijatuhkan bukanlah putusan yang diambilnya seorang diri, tetapi keputusan bersama dengan empat hakim anggota lainnya. Karena itu Gorga tidak berharap kali ini ia akan bebas dari hukuman. Ia akan menerima hukuman tersebut dan tidak akan berupaya untuk mengajukan banding, kasasi atau peninjauan kembali.
Hendar sendiri pun yakin, Gorga akan menerima hukuman seperti yang dijatuhkan kepadanya. Karena itu ia tidak pernah sedikit pun merasa takut untuk mengucapkan putusan yang telah disepakati bersama itu. Hendar sadar, ia dan Gorga berteman sejak sekolah dasar. Tetapi perjalanan hidup telah membuat mereka berada pada kutub yang berbeda dan tidak saling berkomunikasi selama bertahun-tahun. Tidak berkomunikasi bukanlah berarti mereka saling melupakan apalagi berseteru. Hendar tahu bahwa Gorga adalah raja dunia hitam yang ditakuti di kota mereka. Begitu pula Gorga. Ia tahu Hendar adalah penegak hukum yang tegas dan tidak jarang membuat terdakwa yang diadilinya gentar walaupun mereka didampingi penasihat hukum yang punya nama besar yang selalu memenangkan kliennya.
“Masih Gorga juga yang ditunggu?” tanya istrinya.
Hendar yang menghadapkan kursinya ke jendela rumahnya di lantai dua itu tidak merasa perlu menjawab pertanyaan istrinya. Ia merasa anaknya, Hamonangan, dan istrinya, Lumongga, hanya berupaya mengusir, paling tidak mengurangi rasa takutnya. Bisa saja mereka juga takut, tapi itu tidak mereka perlihatkan.
“Bapak dan teman-teman hakim pernah menjatuhkan hukuman yang sama beratnya kepada seorang tokoh politik, pemimpin partai dan pejabat penting. Tapi Bapak tenang-tenang saja sampai bekas pejabat penting itu dibebaskan. Apa bedanya dengan Gorga? Mengapa Gorga begitu menyiksa pikiran Bapak?”
Lalu lintas di jalan raya masih ramai dengan kekurangajaran pengguna jalan itu. Masing-masing saling mendahului, saling serobot dan saling menyalib. Hendar menyaksikan semua itu tanpa reaksi, karena hal itu memang telah menjadi kebiasaan pengguna jalan. Tidak ada yang perlu dirisaukan karena lalu lintas yang semrawut itu.
“Mengapa Bapak tidak menemui keempat hakim teman Bapak ketika menjatuhkan hukuman itu untuk mengetahui apakah mereka juga gusar dan takut karena Gorga akan bebas bulan depan? Bapak tidak perlu menanggung beban ini seorang diri,” tutur istrinya lagi.
Pemikiran yang baik, ujar Hendar kepada dirinya. Bisa saja teman-temannya yang menjatuhkan hukuman itu tidak merasa ada yang mengkhawatirkan yang akan terjadi. Apalagi mereka adalah hakim-hakim yang baik, jujur dan terpuji integritasnya. Tetapi mereka semua bukan teman Gorga sejak sekolah dasar. Bahkan, mereka tidak mengenal Gorga secara pribadi. Perlukah aku menemui mereka? Hendar bertanya kepada dirinya. Ah, tidak. Kerisauanku ini tidak perlu diketahui orang lain, selain istri dan anakku.
Hari pembebasan Gorga semakin mendekat. Kegalauan Hendar juga meningkat. Terkadang tengah malam ia membuka gorden jendela dan menatap jauh ke ujung jalan. Waktu tidurnya semakin berkurang dan tubuhnya semakin kurus. Tanpa ada yang menganjurkan akhirnya ia memutuskan untuk langsung menemui Gorga di penjara dan menghentikan aktivitasnya menunggu di depan jendela di lantai dua rumahnya.
“Aku akan ke penjara menemui Gorga,” katanya kepada istrinya setelah selesai sarapan pagi.
Istrinya yang tidak percaya pada pendengarannya itu, berpaling dan bertanya. “Menemui Gorga di penjara?”
“Ya.”
“Untuk apa?”
“Untuk meminta maaf.”
“Bapak tidak bersalah. Bapak telah mengambil putusan yang benar.”
“Ada wartawan yang mengatakan, Gorga menjadi korban peradilan sesat. Yang bersalah sebenarnya bukan Gorga, tetapi orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Orang itulah yang membunuh hakim pemberani itu. Gorga hanya menjadi korban dari orang yang akan menggantikannya.”
“Orang yang akan menggantikannya?”
“Ya, orang yang akan menggantikannya sebagai pelindung dan penyelamat orang-orang penting di kota itu. Sebelum ini mereka membutuhkan Gorga, belakangan mereka berpaling dari Gorga karena Preman Besar ini telah melanggar janji dan bersekutu dengan aparat.”
“Aku harap setelah menemui Gorga dan meminta maaf Bapak akan merasa lebih tenang.”
“Tidak jadi membesuk Gorga, Ayah?” tanya Hamonangan.
Hendar diam. Ia menunda kunjungan menemui Gorga diambilnya satu jam sebelumnya. Ia tidak yakin Gorga disekap di penjara yang akan dikunjunginya itu. Jangan-jangan Gorga telah dipindahkan entah ke mana, atau telah dilenyapkan. Kata kerja pasif “dilenyapkan” tiba-tiba seakan memberikan kekuatan kepadanya. Mudah-mudahan Gorga memang telah dilenyapkan. Dengan demikian sebuah dendam juga tak terbalaskan. Hendar kelihatan tenang. Ia telah menemukan jalan keluar. Mulai besok ia tidak akan duduk menunggu lagi di depan jendela di lantai dua itu karena Gorga telah tiada. Yang pernah ada telah menjadi tiada. Yang ditakutkan tidak pernah akan datang menyergapnya.
“Kan Ibu sudah lama mengatakan kepada Ayah, Gorga yang sering Ayah sebut itu tidak pernah dijatuhi hukuman dan tidak pernah disekap dalam bui. Ia teman Ayah, teman sejak sekolah dasar. Teman baik yang selalu datang bersilaturahim.”
“Kau yakin Gorga tidak pernah di penjara?”
“Sangat yakin. Lihat itu siapa yang datang.”
Hendar berpaling dan melihat ke halaman depan rumahnya.
“Gorga, ya Gorga.”
“Ayah dihantui pemikiran yang bukan-bukan setelah pensiun. Padahal Ayah tidak pernah menjadi hakim seumur hidup Ayah. Ayah hanya bekerja di Kementerian Kehakiman sebagai pegawai tata usaha.”
Hendar berupaya keras memanggil kembali ingatannya yang bersembunyi entah ke mana. Begitu ingatan itu kembali ke tempatnya, Hendar langsung bertanya, “Apa yang sebenarnya telah terjadi?”
Mendengar pertanyaan Ayahnya itu Hamonangan dengan tenang berkata:
“Berbagai pemikiran dan khayalan sering kali timbul setelah seseorang pensiun. Banyak yang seperti itu. Terutama buat orang yang tidak menjaga kejernihannya berpikir. Mengurus bunga-bunga di halaman yang luasnya tidak seberapa hanya dapat menolong sedikit. Kerja-kerja sepele juga tidak membantu banyak. Mengobrol setiap hari dengan tetangga juga membosankan. Pensiun bukanlah momok. Ini merupakan momen yang sangat baik untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya terlupakan, misalnya membaca. Ayah penggemar buku, tapi Ayah jarang sekali membaca karena rutinitas di kantor. Aku lihat Ayah terlalu banyak membuang waktu untuk menjelajah dunia khayalan yang begitu liar dan menakutkan. Temuilah Gorga, ia sudah duduk di ruang tamu.”
Tanpa membantah ia memasuki ruang tamu menemui temannya sejak sekolah dasar itu.
Gorga adalah satu-satunya temannya yang paling tidak seminggu sekali datang menemuinya. Di luar waktu satu kali seminggu itulah Hendar berselancar dengan khayalan-khayalan yang mengantarkannya kepada perilaku yang tidak biasa itu. Termasuk duduk di depan jendela di lantai dua rumahnya setiap hari. Dan, semua kata-kata anak dan istrinya yang menyusup ke telinganya adalah ciptaannya sendiri.

Sori Siregar lebih dikenal sebagai penulis cerpen, walaupun ia juga menulis novel dan sejumlah tulisan di rubrik kolom berbagai media. Ia pernah dua kali mendapat penghargaan Dewan Kesenian Jakarta untuk novel-novelnya. Beberapa cerpennya juga terpilih dalam kumpulan cerita pendek Pilihan Kompas. Kini ia menetap di Jakarta. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
I Komang Mertha Sedana, biasa disapa Mang Gen, lahir di Tabanan, Bali. Ia menjadi salah satu penggagas Komunitas Djamur, sekelompok seniman street art di Denpasar. Ia pernah menjadi juara I Lomba Mural Kutabek 2007, juga menjadi juara I Lomba T-Shirt Panting Kutabek.

Ulat Mata

Cerpen Zainul Muttaqin (Radar Surabaya, 04 Maret 2018)
Ulat Mata ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Ulat Mata ilustrasi Fajar/Radar Surabaya
Penyakit yang menyerang Sulaep bukan penyakit biasa, semacam penyakit kiriman. Awalnya gatal biasa dari mata yang kiri hingga mata sebelah kanan. Tak dinyana, rasa gatal itu berubah jadi nanah. Lama kelamaan pecah jadi borok. Dan tiba-tiba saja ulat-ulat berdatangan secara ajaib, tanpa diketahui muasalnya.
“Penyakitnya tidak biasa.”
“Tidak biasa bagaimana?”
“Mata Sulaep digerogoti ulat. Makin hari mata itu membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap.”
“Sudah diperiksakan ke dokter?”
“Lebih tiga dokter mengobatinya. Tapi, tidak ada hasil.”
“Pasti penyakit kiriman.”
“Huss…. Jangan ngawur!”
“Aku yakin itu penyakit kiriman. Mata Sulaep menguarkan bebabuan tak sedap.”
“Allah yang memberi penyakit. Dia pula yang memberi obat. Kau tak perlu menyebar isu, biar tak ada prasangka yang bukan-bukan.”
“Orang-orang percaya kalau Sulaep kena santet. Penyakitnya tak lazim.”
Kurang lebih tiga bulan Sulaep menderita sakit mata. Tak ada yang bisa dilakukannya, kecuali terkulai di atas ranjang. Sebab sepasang matanya digerogoti ulat. Matanya bernanah dan menguarkan bebauan tak wajar. Ulat-ulat datang silih berganti menerkam dua bola mata Sulaep. Ia tidak lihai lagi memainkan persendiannya. Ulat-ulat itu melumpuhkan sekujur tubuhnya.
Pada waktu yang jauh sebelum kabar tentang santet dihubungkan dengan penyakit mata Sulaep itu menyebar. Malam sehabis waktu Isya, Sulaep berseteru dengan Arsap. Kedua lelaki itu saling menyumpal, menyerapahi satu sama lain. Gerimis jatuh di antara pertengkaran yang tak tanggung-tanggung seperti gelegar petir yang membelah angkasa. Sulaep mengayunkan celuritnya, hingga ujung celurit berlaras panjang tersebut berhasil merobek lengan kiri Arsap.
“Jaga baik-baik matamu! Aku tak suka kau lama-lama menatap istriku. Kalau tidak, kucongkel matamu!” Arsap berhasil membanting celurit tersebut. Lalu jari telunjuknya menodong mata Sulaep.
“Cuah!” Sulaep melempar ludah ke arah Arsap.
“Lihat saja. Kubuat busuk matamu! Bangsat! Awas kau!” Arsap mengancam. Nyala di matanya meradang.
“Kau ada-ada saja. Hahahah,” Sulaep melenggang pergi, meninggalkan Arsap sendirian dengan luka sabetan celurit di tangan sebelah kiri.
Hari kesekian belas sehabis pertengkaran itu. Tiba-tiba Sulaep merasakan gatal-gatal di mata sebelah kiri, lama-lama merambat ke mata sebelah kanan. Laki-laki berusia senja itu mengira kalau itu hanya penyakit mata biasa. Namun, lama kelamaan mata yang mulanya gatal berubah menjadi borok dan mengeluarkan darah berbau tak sedap.
Sulaep merasakan hebatnya sakit pada kedua matanya. Mata itu tak kunjung sembuh, malah penyakit itu semakin parah menggerogoti kedua matanya. Suatu malam yang larut, tubuh Sulaep menggigil. Mulutnya tak henti-henti mengumpat. Ulat-ulat berkeliaran di kedua matanya. Ulat-ulat itu seperti punya dendam tersendiri pada Sulaep.
“Kubalas kau Arsap!” kutuk Sulaep meledak-ledak.
“Arsap dukun santet. Awas saja kau!” mulut Sulaep kembali meradang, menyerapahi Arsap berkali-kali.
Sementara Arsap sudah lama menjadi seorang dukun. Tetapi tidak ada satu pun orang yang tahu apakah benar laki-laki pendatang biasa itu seorang dukun santet seperti yang dikoarkan Sulaep. Orang-orang hanya datang padanya bila mereka diserang penyakit gaib. Semisal kesurupan atau penyakit lainnya yang berhubungan dengan persoalan jin.
Kelebihan Arsap membaca perkara gaib tidak lagi diragukan. Saat langit menggaris senja. Anaknya Lessap yang sedang bermain perang-perangan bersama kawan- kawannya seketika kejang-kejang. Tubuhnya membiru. Matanya membelalak. Tangannya mencakar-cakar. Bocah laki-laki berumur belasan tahun itu berteriak tak karuan. Mengetahui anaknya kesurupan, Lessap bersigegas mendatangi Arsap.
“Pulang saja. Anakmu sudah tiada,” kata Arsap tiba-tiba.
“Apa yang kau maksudkan?” Lessap seketika cemas. Laki-laki itu pulang.
Apa yang dikatakan Arsap mendapat pembenaran setelah Lessap tiba di rumah. Anaknya memang sudah tidak kejang-kejang lagi. Matanya benar-benar terpejam. Tubuhnya berubah dingin. Bocah laki-laki itu meninggalkan raganya saat langit tengah menurunkan gerimis.
“Tak mungkin kalau Arsap dukun santet.”
“Tapi, tak mungkin juga kalau Sulaep berbohong apalagi memfitnah.”
“Memangnya apa yang dikatakan Sulaep?”
“Katanya, Arsaplah yang menyebabkan matanya membusuk. Ia mengaku kalau Arsap yang menyantet dirinya.”
Mata Sulaep mengucurkan darah dengan bau busuk yang sangat menyengat. Ulat-ulat berdatangan satu demi satu memenuhi mata tersebut. Mata itu dimakan ulat, mulai mata sebelah kiri hingga mata sebelah kanan. Sulaep menahan hebatnya rasa sakit. Ia menjerit berkali-kali. Tetapi ulat-ulat itu seperti semakin buas mencabik mata Sulaep.
Belakangan ini Suminah, istri Sulaep itu berencana meminta Arsap mengobati suaminya. Tidak ada jalan lain. Satu-satunya dukun sakti yang belum dicoba hanya Arsap. Sudah banyak dokter dan dukun sakti dari semua pelosok angkat tangan pada penyakit yang terus bersarang di kedua mata Sulaep. Semua menyerah. “Bukan penyakit biasa!” kata mereka setelah berulangkali memeriksa mata Sulaep yang justru tambah membusuk itu.
“Arsap itu tukang santet. Jangan pernah kau memohon padanya!” kata Sulaep kepada Suminah sambil menahan nyeri di kedua matanya.
“Tak ada pilihan lain. Hanya Arsap harapan kau sembuh. Kalau pun ia tak bisa menyembuhkan, setidaknya Arsap memiliki jalan keluar atas penyakitmu itu.” Suminah membersihkan darah yang merembes lagi dari mata Sulaep. Selalu ada bau busuk setiap mata itu mengeluarkan darah.
“Lebih baik berkalang tanah dari pada harus berobat sama Arsap,” tukas Sulaep bengis. Bara dendam meletup-letup di dadanya. Pikirannya menuduh ulat-ulat yang menggerogoti matanya tak lain adalah kiriman dari Arsap.
Menjelang petang, Sulaep tertidur di atas ranjang. Suminah melangkah hati-hati menembus hujan yang baru saja turun. Kakinya melangkah begitu lekas menyibak genangan air yang setumit orang dewasa. Tujuannya cuma satu, rumah dukun sakti bemama Arsap. Setelah kurang lebih lima belas menit susah payah melangkah, ia tiba di halaman rumah Arsap. Dari ambang pintu Arsap mempersilahkan istri Sulaep itu masuk.
“Mata Sulaep kian hari semakin membusuk. Mungkin kau bisa menyembuhkannya. Semua sudah menyerah pada penyakit gaib tersebut. Hanya kau satu-satunya harapan Sulaep sembuh,” kata Suminah menjelaskan. Matanya berkaca-kaca. Air matanya tertahan.
“Separah apa penyakitnya?”
“Sangat parah. Mata Sulaep diserang ulat bertubi-tubi, ulat-ulat itu tak henti-henti menerkam,” suara Suminah terdengar merinding.
“Itu bukan penyakit biasa,” tukas Arsap enteng.
“Apa itu penyakit kiriman?”
“Ya, betul,” tukas kembali Arsap dengan nada ringan.
“Siapa yang menyantetnya?”
“Bukan. Bukan santet. Itu penyakit kiriman. Kiriman dari Allah.” Arsap menegaskan.
“Bukankah semua penyakit datangnya memang dari Tuhan?”
“Ya, betul.”
“Lantas, bagaimana menyembuhkan penyakit mata Sulaep? Ulat-ulat itu tak kunjung hilang. Selalu datang tiba-tiba. Menyerang dan terus menyerang tanpa rasa ampun,” suara Suminah bergetar. Ia menjatuhkan air matanya. Pada malam-malam tertentu, ulat-ulat itu memang datang memakan daging di bagian mata tersebut. Setelah merasa kenyang ulat-ulat itu tiba-tiba saja menghilang. Dan akan datang lagi pada malam-malam yang tak bisa diduga.
Sulaep tergolek kaku di atas ranjang. Mata itu tak habis-habisnya mengeluarkan darah. Sulaep merinding karena luka di kedua matanya adalah perkara amat besar baginya. Bukan masalah hebatnya sakit yang kerap menyerang, tapi lebih karena seolah tak mungkin bisa disembuhkan dengan apa pun dan siapa pun.
Tidak ada yang tahu bagaimana ulat-ulat itu datang. Tiba-tiba saja ulat-ulat yang ukurannya lebih kecil dari semut itu ada setelah malam ketiga penyakit itu tumbuh. Ulat yang tidak biasa. Ulat yang tiba-tiba datang, dan tiba-tiba pula menghilang.
“Ulat-ulat itu hanya suka menyerang mata yang selalu menggoda istri orang. Tak ada obat, kecuali taubat,” demikian kata Arsap, tanpa punya perasaan apapun.
Setibanya di rumah. Istri Sulaep tersebut kaget bukan kepalang. Matanya terbelalak. Urat di tubuhnya seketika melumpuh bersamaan dengan ulat-ulat yang mengoyak mata sang suami. Dua bola mata Sulaep dibanjiri ulat-ulat buas yang jumlahnya ribuan dan tak henti-henti menerkam. (*)

Pulau Garam, 2017
Penulis adalah lulusan Studi Tadris Bahasa Inggris STAIN Pamekasan.

Rabu, 07 Maret 2018

Kutipan Second Chance Series: Replace

“Ada kekuatan di balik setiap kata-kata. Kata-kata yang lahir dari hati yang paling dalam bisa menembus langit dan terkabulkan.” (hlm. 280)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Hidup penuh dengan hal yang tidak masuk akal. (hlm. 280)
  2. Kamu punya hak memilih untuk jalan hidupmu sendiri. (hlm. 345)
Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Memang susah ya, kalau orang diterima bekerja bukan karena kemampuannya. Tapi cuma titipan. (hlm. 12)
  2. Apa semua kakak perempuan selalu menyebalkan? (hlm. 21)
  3. Kalau memang itu maumu, jangan menyerah dong. Usaha terus. Dan jangan kebanyakan mengeluh. (hlm. 23)
  4. Berhentilah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu buat sendiri. (hlm. 214)
  5. Menyanyilah untuk mendamaikan hatimu, bukan untuk melampiaskan kemarahan. (hlm. 223)