Daftar Blog Saya

Minggu, 04 Maret 2018

Penulis di Kamar 04


Cerpen Badrul Munir Chair (Tribun Jabar, 25 Februari 2018)
Penulis di Kamar 04 ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Penulis di Kamar 04 ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar 
KECUALI namanya, hampir tidak ada yang kami ketahui tentang Bakdi. Di antara teman-teman Kos Rajawah, Bakdi adalah anak yang paling pendiam. Ia hanya sesekali menyupa kami ketika berpapasan di depan kos—yang itu jarang sekali terjadi karena ia sangat jarang keluar kamar. Interaksi yang ia lakukan dengan kami dapat dikatakan hanya sekadar basa-basi, sapaan singkat yang dijawab dengan singkat pula, pertanyaan basa-basi yang dijawab ala kadarnya. Nyaris seharian ia berada di dalam kamar. Entah apa yang dilakukannya di dalam sana. Ia hanya keluar kamar untuk makan dan ke kamar mandi. Dan anehnya, walau Pak Kos mengatakan bahwa Bakdi adalah mahasiswa di kampus yang sama dengan kami, kami hampir tidak pemah melihatnya pergi ke kampus setiap pagi.  
Ada sepuluh kamar di Kos Rajawali, yang semuanya sudah terisi. Bangunan kos yang kami tempati merupakan bangunan tingkat, yang berdiri tepat di samping rumah pemiliknya. Masing-masing kamar diberi nomor. Kamar nomor satu sampai lima ada di lantai dasar, sementara lima kamar yang lain ada di atas. Aku menempati salah satu kamar di lantai dasar, di kamar nomor 05.
Setiap awal bulan, kami akan mengetuk pintu rumah induk semang, membayar uang listrik bulanan di luar biaya sewa kamar yang dibayar satu tahun di awal. Dan setahu kami, di antara teman-teman kos yang lain, Bakdi adalah anak kos yang cukup sering membuat Pak Kos jengkel. Jika setiap bulan kebanyakan dari kami datang ke rumah Pak Kos untuk membayar uang listrik, khusus untuk Bakdi, Pak Kos-lah yang mendatangi kamarnya, menagih uang listrik, karena Bakdi sering telat membayar. Dan setiap keluar dari kamar Bakdi, wajah Pak Kos tidak menunjukkan raut yang menyenangkan, yang kemungkinan besar karena beliau gagal menagih uang dari Bakdi.
Sebagai anak kos yang tinggal tepat di sebelah kamar Bakdi, secara tidak sengaja aku sering mendengar percakapan antara Pak Kos dengan Bakdi ketika Pak Kos datang menagih. Selalu saja ada alasan yang diutarakan Bakdi. Sementara Pak Kos, dengan sedikit pemakluman atau mungkin juga disertai dengan rasa terpaksa, memberikan jangka waktu selama beberapa hari bagi Bakdi untuk melunasi uang listrik yang bagi kami jumlahnya sebenarnya tidak seberapa.
Aku cukup sering berusaha menjalin hubungan akrab dengan Bakdi, berusaha mengajaknya berbicara yang bukan sekadar obrolan basa-basi. Tapi lebih sering usahaku berujung dengan kegagalan. Sikap dingin Bakdi membuatku tidak bisa memaksa untuk lebih akrab lagi dengannya. Sebenarnya, aku sangat berharap bisa akrab dengan Bakdi, sebab di antara anak yang lain, hanya kamilah yang merupakan teman satu angkatan. Namun kekakuan dan sifat tertutup Bakdi membuatku menyerah untuk lebih akrab dengannya.
***
SUATU hari, aku mendengar suara batuk dari kamar sebelah, dari kamar nomor 04 yang ditempati Bakdi. Suara batuknya terdengar sepanjang malam. Karena batuknya kurasa sudah cukup parah, aku mengetuk pintu kamar Bakdi, menawarinya untuk mencarikan obat atau memberinya tumpangan jika besok ia perlu ke klinik untuk berobat. Kutawarkan tumpangan kepadanya sebab aku tahu di antara anak-anak kos sini, Bakdilah satu-satunya anak kos yang tidak membawa motor. Mendengar tawaranku, Bakdi tersenyum menggeleng, dan mengucapkan terima kasih, mengatakan bahwa ia terserang batuk karena cuaca yang dingin. Aku berlalu dari depan kamar Bakdi—bahkan ia tidak mempersilakanku masuk—untuk kembali ke kamarku.
Keesokan harinya, pagi-pagi ketika aku sedang bersiap untuk berangkat ke kampus, kudengar batuk Bakdi semakin parah, dan kali ini disertai dengan suara mual seperti mau muntah. Benar saja, tidak lama setelahnya kudengar pintu kamar Bakdi dibuka dengan sedikit keras yang disusul dengan suara tubuh terjerembap ke lantai. Aku bergegas ke luar kamar, dan kulihat Bakdi sudah ambruk di depan kamarnya.
Beberapa anak kos yang kebetulan belum berangkat ke kampus pagi itu mengusulkan untuk segera membawa Bakdi ke klinik. Aku menuruti usulan mereka, memapah Bakdi dan mendudukkannya di jok belakang motorku untuk kubawa ke klinik, sementara anak kos yang lain terkesan lepas tangan, mungkin karena merasa tidak akrab dengan Bakdi, atau mungkin karena alasan yang lain.
***
“ANDA temannya?” tanya perawat klinik kampus yang menangani Bakdi. Aku mengangguk. “Asam lambungnya sudah parah,” kata perawat itu menjelaskan sakit yang diderita Bakdi. Selanjutnya, perawat itu mengatakan bahwa Bakdi harus dirawat setidaknya sampai sore, sampai satu botol infus yang diberikan padanya telah habis.
Aku memutuskan tidak masuk kuliah hari itu, menemani Bakdi di klinik. Kulihat tubuhnya sangat lemas, bahkan untuk merespons perawat yang menyuapinya makanan berupa bubur halus pun seakan-akan bibirnya sulit untuk digerakkan. Berkali-kali kulihat Bakdi merasa mual seperti mau muntah.
Sore harinya, Bakdi diperbolehkan pulang. Karena melihat Bakdi masih sangat lemah dan sepertinya sulit untuk diajak berbicara—bahkan dalam kondisi sehat sekalipun, aku tahu sangat sulit untuk mengajaknya berbicara—akulah yang membayar seluruh biaya perawatan Bakdi. Kuitansinya kusimpan untuk diberikan padanya ketika ia sudah sehat nanti. Sebelum pulang, perawat berpesan padaku untuk memberikan makanan bubur saja kepada Bakdi sampai mualnya benar-benar hilang, tidak boleh makan makanan yang lain.
Ketika tiba di kos, aku kembali memapah Bakdi, kali ini membawanya masuk ke kamarnya. Ketika pintu kamar Bakdi terbuka, aku cukup terkejut dan takjub melihat dinding kamar Bakdi dipenuhi dengan rak-rak yang terisi penuh dengan buku-buku. Hampir seluruh satu sisi dinding dipenuhi dengan buku, sementara di lantai dan dekat tempat tidurnya menumpuk puluhan buku lainnya.
“Terima kasih,” ucap Bakdi ketika tubuhnya sudah kubaringkan di atas tempat tidur.
“Istirahatlah, kau terlihat sangat lemas dan perlu banyak istirahat. Nanti malam kucarikan bubur,” ucapku.
“Sekali lagi terima kasih. Sudah tiga hari aku tidak makan, baru kemasukan makanan ketika disuapi bubur di klinik tadi,” ucap Bakdi dengan lirih, kalimat terpanjang yang diucapkannya sejak aku mengenalnya, sebuah pengakuan yang membuatku benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan tiga hari tanpa makan dan hanya mengurung diri di dalam kamar?
Semenjak hari itu, hubungan pertemanan kami benar-benar berubah.
***
AKU merawat Bakdi hingga benar-benar pulih, membelikan bubur untuknya sehari tiga kali. Bakdi menanyakan berapa biaya perawatan di klinik yang sudah kubayar kemarin, menanyakan harga bubur yang kubelikan untuknya. Mungkin dalam hatinya ia sedang menjumlahkan utang yang harus dibayarkannya kepadaku. Dan ketika aku hendak berpamitan setelah mengantarkan bubur untuknya, Bakdi mencegahku, “Tolong catat utangku, aku janji akan kubayar nanti, kalau honorku turun,” ujarnya, kali ini dengan suara lirih namun penuh dengan keyakinan.
Aku mengurungkan niatku untuk kembali ke kamar, menanggapi obrolan Bakdi. Dari Bakdi, dengan suara lirih karena belum benar-benar pulih dari sakitnya, sedikit banyak aku tahu tentang kisah hidupnya. Ia lahir dari keluarga sederhana. Ketika Bakdi meminta izin pada keluarganya untuk kuliah, bapaknva menyerahkan sebagian besar uang tabungan yang dimilikinya kepada Bakdi— yang ternyata hanya cukup untuk membayar uang pendaftaran kuliah dan uang kos selama setahun. Untuk biaya hidup bulanan, Bakdi segan untuk meminta pada orang tuanya, sebab ia tahu orang tuanya harus banting tulang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka di kampung halaman.
Suatu hari, ketika putus asa karena kehabisan uang, seorang seniornya di kampus menyarankan agar sebaiknya Bakdi menulis saja agar bisa menghasilkan uang. Dari seniornya itu pulalah Bakdi mendapat informasi mengenai jenis tulisan apa saja yang bisa menghasilkan uang jika dimuat di koran. Sejak saat itu, Bakdi menulis bermacam-macam tulisan dan mengirimkannya ke berbagai koran. Mula-mula ia menulis opini, kemudian cerita pendek dan puisi. Suatu hari ia membeli buku baru dari uang honornya, dan memutuskan menulis resensi buku itu untuk dikirimkan ke koran.
Ketika resensi yang ditulisnya dimuat di sebuah koran, penerbit buku itu mengirimkan hadiah berupa beberapa judul buku baru kepadanya, buku-buku yang kemudian diresensi lagi oleh Bakdi. Resensi satu buku menghasilkan lima buku. Resensi lima buku menghasilkan puluhan buku lainnya. Buku-buku yang diperolehnya dari kiriman penerbit terus berlipat ganda. Tidak heran jika hanya dalam waktu kurang dari setahun, koleksi bukunya sudah memenuhi hampir seluruh bagian kamar. Menyadari bahwa dari menulis ia bisa bertahan hidup—walau honornya sering terlambat datang sehingga tidak jarang ia kelaparan—akhirnya Bakdi memutuskan untuk menjadi penulis. Sepanjang hari ia lebih banyak mengurung diri di dalam kamar, membaca buku atau menulis dengan menggunakan laptop yang berhasil dibelinya dari uang honor.
Kini aku bisa memahami alasan Bakdi lebih banyak nienghabiskan waktunya di dalam kamar. Semenjak kenal lebih dekat dengan Bakdi dan mengetahui tentang kisah hidupnya, entah kenapa aku sering cemas ketika Bakdi tidak terlihat selama beberapa hari. Setiap mendengar suara batuk dari kamar sebelah, aku benar-benar khawatir asam lambung Bakdi kembali kambuh. Sementara ketika seharian tidak kudengar suara apa pun dari dalam kamarnya, aku benar-benar khawatir sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Bakdi. Membayangkan dia sedang pingsan, atau jangan-jangan sudah mati.

Badrul Munir Chair lahir di Ambunten, Sumenep, 1 Oktober 1990. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi dimuat di sejumlah media massa. Bukunya yang sudah terbit antara lain kumpulan cerpen Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (2009); novel Kalompang (2014), dan kumpulan puisi Dunia yang Kita Kenal (2016). Saat ini tinggal di Semarang.

Bukan Pilih Kasih

Oleh Rosni Lim (Lampung Post, 25 Februari 2018)
Bukan Pilih Kasih ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Bukan Pilih Kasih ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post
Bu Herna sedang bingung. Darwin, putra bungsunya, akhir-akhir ini terkesan aneh. Dia menjadi suka marah-marah tanpa sebab yang jelas. Hal sepele saja membuatnya kesal dan merajuk. Bu Herna mencoba menebak, ada apa gerangan?
Darwin punya satu gadget untuk bermain game. Dua minggu lalu, gadget tersebut tak dapat digunakan karena rusak. Bu Herna berjanji memperbaiki gadget Darwin, tapi sampai dua minggu janji itu belum juga ditepati.
“Ma, belikan aku gadget yang baru saja,” pinta Darwin berharap. Selama dua minggu tidak bermain game, membuatnya bosan.
“Janganlah, Mama akan suruh teknisi memperbaikinya.”
“Tapi kapan, Ma? Aku bosan sekali sudah dua minggu tak ada kerjaan,” keluh Darwin.
“Ya kamu belajarlah, Win. Kan sebentar lagi ujian semester. Kebetulan tabletmu rusak, tangguhkan saja memperbaikinya. Dengan demikian, kamu punya banyak waktu untuk belajar,” kata Bu Herna.
Darwin melengos kesal. Dalam hati dia merasa mamanya tak adil. Untuk Elwin, abangnya Darwin, selalu dibelikan barang baru. Laptop baru, tablet baru, sampai ke HP Android baru. Sedangkan untuknya, selalu menerima barang bekas pakai dari abangnya. Bahkan baju seragam sekolah pun harus memakai bekas seragamnya Elwin. Karena tak dibelikan gadget baru dan gadget lamanya belum diperbaiki, Darwin menjadi uring-uringan. Bu Herna yang mulai mengerti kekesalan putra bungsunya itu, belum juga berniat membelikan yang baru. Dia berharap, Darwin bisa menggunakan waktunya yang sebelumnya bermain game untuk belajar. Bukankah beberapa hari lagi ujian semester?
Dua hari menjelang ujian, Darwin masih belum bersemangat belajar. Pikirannya terus melayang pada gadget-nya yang rusak dan keinginan untuk memiliki gadget baru.
Sore itu, Darwin berjalan ke kamarnya dan membuka lemari baju. Di bawah lemari baju itu dia menaruh celengan berisi duit yang disisihkannya dari uang jajan. Dibongkarnya celengan itu dan menghitung duit yang ada. Wah, lumayan, ternyata hampir lima ratus ribu rupiah tabungannya selama setahun.
Dengan tergesa-gesa, Darwin mengumpulkan uang kertas yang berserak di lantai. Diikatnya menjadi satu dan diselipkannya ke dalam saku celana. Dia berencana pergi ke kios ponsel yang terletak di ujung gang untuk membeli gadget baru. Gadget itu bisa digunakannya untuk bermain game.
Bu Herna curiga melihat putra bungsunya berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah sambil memegang saku celana. Beliau mengikuti langkah Darwin dari belakang. Ternyata tujuan Darwin adalah kios ponsel yang terletak di ujung gang.
Bu Herna melihat Darwin meminta penjaga kios mengeluarkan HP Android yang ditunjuknya. Melihat-lihatnya dan berbicara dengan penjaga kios. Tampaknya, Darwin sedang tawar-menawar harga dengan penjaga kios.
Dengan langkah perlahan, Bu Herna mendekati Darwin dan menepuk pundaknya dari belakang. “Darwin, ngapain kamu di sini? Ayo kita pulang!”
“Ma, aku lagi mau beli HP,” kata Darwin.
“Nanti Mama belikan, tapi jangan sekarang. Nanti, Darwin, setelah kamu menyelesaikan ujianmu di sekolah akan Mama belikan yang baru.”
“Tapi…”
“Ayo kita pulang!” tanpa menunggu Darwin menyelesaikan ucapannya, Bu Herna menarik tangan Darwin sambil meminta maaf pada penjaga kios ponsel.
Sesampainya di rumah, Bu Herna memberi penjelasan pada Darwin. Dia bukan tidak mau membelikan Darwin gadget baru, tapi tunggu sampai ujian selesai.
“Mama selalu pilih kasih. Untuk Bang Elwin, apa pun yang diminta langsung dibelikan. Semua yang baru. Mulai dari laptop, tablet, sampai HP,” kata Darwin hampir menangis.
“Mama tidak pilih kasih, Darwin,” kata Bu Herna. “Mama membelikan abangmu semua itu karena dia sudah kuliah dan membutuhkan barang-barang itu untuk keperluan kuliahnya. Sedangkan kamu kan masih kelas VI SD dan menggunakan tablet hanya untuk bermain game.”
“Itukah alasannya, Ma?” tanya Darwin tak jadi menangis.
“Iya, Darwin, itu alasan Mama,” jelas Bu Herna.
Darwin menunduk. Dia tak bersikeras lagi memaksa mamanya membelikan gadget baru. Dia hanya berharap, mamanya akan menepati janji, membelikannya gadget baru setelah dia menyelesaikan ujiannya di sekolah.

Dari Tambo Buah Anggir, Pengantar Terakhir Burung Layang-layang

Puisi-puisi Nermi Silaban (Koran Tempo, 03-04 Maret 2018)
Dari Tambo Buah Anggir, Pengantar Terakhir Burung Layang-layang ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.png
Dari Tambo Buah Anggir, Pengantar Terakhir Burung Layang-layang ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo 

Dari Tambo Buah Anggir


Sebab moyang mewarisi kami
tata cara menyembelih
maka dengan pisau sepipih
kami sibak petaka
di balik kasat mata ini
menoreh gurat nasib
di urat leher ayam jantan merah.

Hati kami adalah api di tungku batu
dari sedu kayu kemarau, dan
setakar sayur tuaian dengan rempah
menguarkan aroma utang adat kami.

Sementara doa bukan embik domba
yang dielus-elus ayat, bikin lutut kami
terantuk di antara kaki meja ibadat.

Meski kami dicela mungkar
sebab moyang bertungkai empat
bulu bergurat belang dan mata
yang selalu berkilau itu-tentu kami
mengerti hari depan persis datu
menerawang biji-biji anggir
pada latar air di cawan putih.

Maka kami tiada goyah
menoleh dari halus jubah
dan jasad kayu itu yang
semata belas kasih
untuk tiang dosa kami.

2015-2018
*Anggir dalam masyarakat batak adalah Jeruk purut

Pengantar Terakhir Burung Layang-layang

-untuk Reda dan Jubing

Dari lintang kabel-
garis paranada itu,
seayunan sayap burung layang-layang
telah digenggam angin.

Pesawat kertas lepas
dari tangan masa kecil,
derit papan ayun di taman bermain
tinggal sepoi napas irama.

Dari jendela masa tuamu
memori menerbangkan
sekawan burung layang-layang
pada biola tengah dibelai

tangan-busur yang lirih
mengiring rinai senar gitar
dipetik bagai kereta pengantar terakhir
dari pelantun yang getir

mengalunkan rindu
bagimu tak lain hanya
bayang-bayang sayap di lantai cahaya
panggung ingatan itu.

Sejenak tersadar
kedua telapak tangan
tersingkap di wajah-kau telah abadi
disembunyikan waktu.

2017


Nermi Silaban dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 17 Juli 1987. Buku puisinya bertajuk Bekal Kunjungan (2017).

Kelopak di Tangan Rancunit

Cerpen Toni Lesmana (Koran Tempo, 03-04 Maret 2018)
Kelopak di Tangan Rancunit ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.jpg
Kelopak di Tangan Rancunit ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo 
Setiap pagi, Rancunit selalu bangun tepat ketika ayah dan ibunya sudah siap berangkat bekerja. Suara mesin mobil gemuruh di garasi yang terletak di samping kamarnya. Dari jendela ia masih sempat melihat ayah dan ibunya melangkah bergegas. Lantas hilang ditelan pintu mobil. Rancunit segera akan berlari dengan baju tidur dan rambut yang kusut. Terburu-buru membuka pintu rumah dan berdiri menatap mobil yang pergi lenyap. Mereka akan lenyap sampai malam. Malam sekali. Pulang dan tidur. Bangun dan pergi.
Setiap pagi. Seperti pagi ini. Rancunit melambaikan tangan ke arah pintu pagar yang terbuka. Terus melambai sampai sepasang tangan menariknya masuk rumah. Tangan yang kemudian membilas tubuhnya dengan sabun. Tangan yang menyisir rambutnya. Tangan yang menyuapinya. Tangan yang mengelusnya. Tangan yang menyalakan televisi. Tangan yang telunjuknya sering teracung kaku dan runcing ke arahnya. Tangan yang sesekali menamparnya.
Jika tangan itu sudah terlihat asyik menari di layar gawai dan tangan yang lain memainkan remote televisi, diam-diam Rancunit akan pergi ke dalam kamar. Seperti pagi ini, ia mengendap dari dapur, kali ini dengan tangan tersembunyi ke belakang punggung, pelan memasuki kamar dan hati-hati mengunci pintu. Duduk gemetar di sudut kamar. Menunduk menatap telapak tangannya sendiri. Menatap kelopak-kelopak menggeliat. Kelopak yang bangkit dari garis-garis tangan mungilnya. Kelopak yang terbuka. Mekar. Seperti pintu. Pintu bagi mereka yang tersembunyi dalam dirinya. Mereka adalah teman-teman Rancunit. Teman setia 24 jam. Para penculik yang dinantinya.
Mula-mula mereka kecil sekali. Sebagian merayap, sebagian terbang. Rancunit kemudian meniup mereka pelahan. Setiap tiupan membuat mereka semakin besar. Menjelma tangan-tangan yang berjalan di atas jari. Lucu dan unik. Tangan-tangan itu mempunyai mata, hidung, bibir, telinga, tangan, dan kaki. Sayap. Rancunit terus meniup mereka sambil menari. Makin besar. Berlompatan. Hap. Sebentar saja kamar menjadi ramai.
Rancunit bernyanyi. Tangan-tangan bernyanyi dan menari.
“Uniiit! Jangan berisik!” Pintu digedor dari luar.
Rancunit melempar bantal ke pintu.
“Sssst!” jari Rancunit menempel rapat di bibirnya.
Tangan-tangan yang sedang menari dan bernyanyi langsung diam. Serentak jari-jarinya menutup seperti kuncup kembang. Segera mereka menjelma kepal. Bulat. Menggelinding di atas kasur. Saling bertubrukan.
Pecah tawa Rancunit. Tergelak-gelak. Menjatuhkan diri dan ikut bergulingan.
Bulatan kepal seperti bola yang lincah. Lebih lincah dari bola bekel. Menggelinding jatuh. Memantul tinggi. Terus memantul. Ke lantai, ke dinding.
Rancunit bersorak sambil melompat-lompat riang di atas kasur. Menubruk ke sana kemari, berusaha menangkap dan memeluk bulat kepal tangan yang menggoda dengan membuka kepal setiap kali melayang di udara. Dari kepal yang terbuka itu muncul gelembung-gelembung udara warna-warni. Muncul pelangi. Lengkung pelangi di mana-mana. Memenuhi udara kamar Rancunit.
“Uniiiiiit!” gedoran semakin keras seperti ancaman.
Rancunit berdiri mematung. Kepal-kepal menjatuhkan diri rapat di lantai. Pelan terbuka dan menjelma perahu yang bergoyang lambat layaknya di atas gelombang laut. Laut. Perahu-perahu yang beriringan kemudian bersatu menjadi perahu besar.
“Ayo, kita berlayar!” seru seseorang dari dalam perahu.
Perahu yang merapat ke arah ranjang. Rancunit tersenyum lagi. Hati-hati duduk di atas perahu. Perahu yang berayun dan melayang.
“Bawa aku ke Sorenza!” Rancunit berlagak seperti seorang kapten kapal. Satu tangan menjelma teropong, tangan lainnya seperti sedang mengangkat pedang.
“Sorenza, Sorenza, Putri di Itali yang jauh!” teriak seseorang dari dalam perahu yang berlayar keliling kamar dan berlabuh di sudut kamar. Perahu yang kemudian pecah berhamburan menjadi telapak tangan yang beterbangan, dan bersatu kembali membentuk sebuah puri.
Sebuah puri dengan lubang besar di salah satu dindingnya. Rancunit mendekatkan wajah ke arah lubang itu, seperti mengintip seseorang yang berada di dalam puri.
“Sorenza, Putri Sorenza! Bangunlah. Seseorang mencuri sebelah sepatumu. Seseorang yang telah melubangi dinding purimu, seseorang yang akan melubangi juga dinding hatimu. Bangunlah, Sorenza! Ayo, berlayarlah, bertualanglah ke desa-desa, carilah pencuri itu. Jangan lupa kenakan topeng, sebab orang-orang akan tersihir kecantikanmu.” Rancunit terus berbisik melalui lubang-lubang puri di sudut kamarnya.
Tiba-tiba puri itu hancur berkeping-keping menjadi telapak-telapak tangan yang beterbangan dan bersatu kembali menjadi sebuah permadani yang melayang-layang nakal dan menggoda.
Rancunit bersorak. Melompat ke atas ranjang, lantas meraih tepi permadani, menaikinya sambil bernyanyi-nyanyi.
“Bawa aku ke padang pasir, bawa aku ke Syahrazad!” Rancunit duduk bersila seperti seseorang yang sedang bertapa. Kedua tangannya di dada, matanya terpejam.
“Syahrazad, Syahrazad, Putri cantik pemilik istana cerita!” teriak permadani sambil meliuk-liuk membawa Rancunit ke hadapan cermin. Permadani yang tiba-tiba berlepasan kembali menjadi telapak-telapak tangan yang beterbangan riang ke mana-mana, lantas bersatu kembali menjelma sebuah jendela dengan bulan dan bintang.
“Syahrazad, Putri Syahrazad! Teruslah bercerita. Teruslah bercerita…!”
Gedoran keras di pintu menghancurkan segalanya yang sedang bergerak di dalam kamar. Gedoran yang terus-menerus makin cepat dan makin keras. Makian memberondong seperti salak anjing.
Rancunit menunduk sambil memeluk lutut di sudut kamar. Tubuhnya gemetar. Tangan kirinya diangkat dan ditatapnya telapak tangan dengan mata sembap. Seperti becermin. Telapak tangannya bergetar. Garis-garis di telapak tangannya bangkit. Membentuk beragam gambar. Kemudian mekar kembali menjelma kelopak-kelopak bunga. Kelopak yang terbuka seperti pintu.
Tangan-tangan yang terkapar di lantai kamar pelan bergerak. Melayang dan berhinggapan, seperti burung, di tubuh Rancunit.
Ada banyak tangan lainnya beterbangan dari kelopak yang terbuka itu. Tangan-tangan bersayap. Terbang. Bergantian mengelus halus wajah Rancunit. Rancunit tersenyum. Tangan-tangan terus berhamburan. Mengelus tubuhnya. Bernyanyi-nyanyi dan menari. Rancunit terus tersenyum dan menunduk. Kelopak itu merekah mekar semakin besar. Pintu itu juga semakin luas.
Tangan-tangan yang mengelus itu pelan menarik tubuh Rancunit memasuki kelopak yang terbuka di telapak tangannya. Mula-mula rambutnya. Lantas kepalanya. Menyusul tubuhnya. Terakhir sepasang kakinya. Tubuh Rancunit dibawa tangan-tangan terbang masuk ke kelopak. Kelopak bunga di telapak tangannya. Kelopak bunga itu kemudian jatuh di sudut kamar. Tetap terbuka.
“Ke sini, Unit!”
“Nyanyian ibu di sini, Unit!”
“Dongeng ayah di sini, Unit.”
Rancunit sudah berada di pinggir sungai. Sungai yang airnya berwarna merah muda. Mengalir tenang. Sebuah perahu berlayar. Perahu berwarna biru, layarnya kuning keemasan. Sebuah lagu mengalun lembut dari dalam perahu. Tangan-tangan beterbangan menuju perahu.
Sepanjang pinggir sungai berjajar pohon-pohon berwarna putih. Semuanya putih. Batang, dahan, ranting, dan daun-daunnya. Di setiap pohon juga banyak tangan-tangan hinggap dan beterbangan. Bernyanyi. Merdu.
Rancunit berlari riang. Rancunit berlari di atas air. Dari dalam air tangan-tangan melompat. Berenang. Rancunit melompat dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Tangan-tangan itu kemudian bersatu. Rancunit berdiri di atasnya. Meluncur menuju perahu.
Perahu yang terus melaju di sungai merah muda itu pelan-pelan terangkat.
“Wah, anak manis sudah besar! Ayo kita berlayar lagi!” sebuah suara merdu menyambut Rancunit yang baru saja menginjak perahu. Perempuan dengan gaun hijau yang cemerlang.
“Ibu!” teriak Rancunit sambil melompat ke dalam pelukan perempuan yang kemudian lenyap begitu saja. Rancunit hanya mendapat pelukan tangan-tangan.
“Wah, anak manis sudah besar! Ayo, bertualang!” suara lain memanggilnya dari arah kemudi. Lelaki dengan pakaian bajak laut.
“Ayah!” pekik riang Rancunit sambil berlari naik ke arah kemudi. Tapi lelaki itu kemudian pecah berhamburan menjadi tangan-tangan.
Tangan-tangan itu terus bergantian menjadi ibu dan ayahnya. Ibu dan ayah yang memanggil kemudian pecah. Rancunit tak bosan mengejar. Terus mengejar hingga ke puncak tiang layar. Terus mengejar hingga ke langit. Langit yang merah muda.
“Uniiiiit!” dari balik langit suara-suara memanggilnya. Suara ibu. Suara ayah. Merdu.
Rancunit terus menembus langit ditemani puluhan tangan. Ratusan tangan. Ribuan tangan. Mereka melayang. Jumpalitan. Lapis demi lapis langit. Langit yang makin merah. Semakin merah.
“Uniiiit! Buka pintu! Jangan main-main dengan pisau! Cepat, kembalikan!” bentakan dan gedoran semakin gemuruh. Sampai akhirnya pintu itu jebol.
Rancunit masih di sudut kamar. Duduk hampir memeluk lutut. Tubuhnya gemetar. Wajahnya masih menatap telapak tangan kirinya. Menatap garis-garis di telapak tangan kirinya. Garis-garis yang tersayat. Berdarah. Rancunit masih becermin pada garis-garis di telapak tangan kirinya. Garis-garis yang terlukis entah oleh siapa. Garis-garis yang kemudian ia iris untuk menggambar ibu, menggambar ayah. Mengupas kelopak yang terus mekar membuka gerbang.
“ Ayah. Ibu.” Begitu bisik Rancunit berulang-ulang.

Kedungpanjang 2018
Toni Lesmana, buku terakhirnya adalah kumpulan puisi Tamasya Cikaracak (2016) dan kumpulan cerpen Tamasya Kota Pernia (2018). Kini dia tinggal di Ciamis.

Kue Itu Memakan Ayahku

Cerpen Guntur Alam (Kompas, 04 Maret 2018)
Kue Itu Memakan Ayahku ilustrasi Amrizal Salayan - Kompas.jpg
Kue Itu Memakan Ayahku ilustrasi Amrizal Salayan/Kompas 
“Pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.”
Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya. Awalnya aku bingung, kok bisa ayah menjadi juru potong kue, padahal kata ibu, ayah seorang akuntan yang hebat.
“Di kantor, kita bisa menjadi apa saja,” terang ayah saat aku mengemukakan kebingunganku. “Kadang-kadang, seorang sarjana ekonomi bisa menjadi tukang ketik surat. Sarjana teknik sipil bisa jadi tukang fotocopy.” Aku ingat persis, ayah tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat itu padaku.
Aku melipat kening, “Kok, bisa?”
Ayah terkekeh. “Lah, namanya saja bekerja, ya tergantung bos butuh tenaga kita sebagai apa.”
“Jadi, bos ayah butuh tukang potong kue?”
Ayah mengangguk. Aku bergidik. Dalam benakku, bos ayah pasti seseorang bertubuh tambun, mempunyai pipi chubby, bibir tebal, mulut lebar yang tak berhenti mengunyah dan jari-jari tangan pendek nan gemuk. Namun, seminggu setelah itu, khayalanku tentang bos ayah buyar, saat kami secara tak sengaja bertemu dengannya di pusat perbelanjaan. Dia laki-laki kurus dengan kulit kisut, rambut beruban dengan gaya jabrik—yang kupikir tidak cocok dengan umurnya, dan selalu tertatih-tatih mengikuti istrinya yang sibuk memasuki toko demi toko, seolah di sepasang kaki perempuan itu sudah tertanam baterai dengan daya listrik full.
“Itu istri ketiganya,” bisik ayah. Dan aku hanya melongo mendengarnya. Kuharap, ibu tak pernah mendengar ucapan itu.
***
“Mula-mula, kue itu memakan otak ayah. Kemudian mata, lidah dan mulut.” Ucapan itu ayah utarakan saat kami duduk berdua di teras belakang, selepas hujan jelang magrib dan ayah baru saja menerima telepon dari bosnya. Tepat sebulan setelah ucapan pertama ayah.
“Ayah pikir, setelah itu, dia akan memakan hati dan jantung ayah.”
Aku gemetar mendengarnya, “kalau semua dimakan, ayah bisa mati,” mataku berkaca-kaca. Lututku gemetar di bawah meja.
Ayah tergesa menoleh, menautkan pandangan di wajahku yang pasi. Dia berusaha tersenyum, tapi aku mengenali senyum ayah. Ulasan di bibirnya petang itu terlihat penuh beban, sangat dipaksakan, sepertinya kue itu telah memakan bibir ayah secara perlahan, membuat ayah tak bisa tersenyum semanis yang kukenal.
“Ayah harap tidak,” suaranya serak, “bila ayah mati dimakan kue itu, bagaimana kau dan ibu? Ayah tentu tak akan pernah meninggalkan kalian.”
Aku hampir saja menangis mendengar ucapan ayah itu, tapi tergesa tersenyum lantaran ayah tersenyum demikian manis. Lalu ayah bangkit dari kursinya dan berlutut di depanku. Tiba-tiba saja ayah memelukku. Aku dapat mendengar debar jantungnya. Pelukan ayah begitu erat dan perlahan aku mendengar isak lirih di telingaku, pundak ayah terguncang.
***
“Apa kau tahu kalau ibu dan ayah berkencan pertama kali di kafe yang terkenal dengan kuenya?”
Ibu menceritakan ini padaku saat kami sibuk di dapur, memasak bolu nanas favorit ayah. Aku tergesa menggeleng dan berkata, “ayah belum pernah bercerita.”
Ibu melirik padaku dan tersenyum simpul.
“Dia mungkin lupa,” tangan ibu kembali mengaduk adonan kue. Aku meratakan selai nanas di atas plastik yang nanti akan dipasang pada setiap lapis kue bolu ini. “Kau tahu kan, kalau ayah suka sekali dengan kue?”
Aku mengangguk. Kami semua tahu itu, ayah menyukai kue. Dulu, nenek, almarhum ibu dari ayah, seorang pembuat kue. Ayah kerap bercerita padaku bagaimana mahirnya nenek membuat berbagai kue yang akan dijual di teras rumah setiap pagi. Dan kue favorit ayah adalah kue bolu nanas. Cara membuatnya mirip dengan kue lapis, tapi bedanya di kue bolu nanas, setiap akan dituang adonan baru, akan dipasang terlebih dahulu selai nanas.
“Saat itu ibu memesan brownies kukus,” lanjut ibu.
“Kenapa?”
Ibu tergesa menoleh padaku. “Kenapa apanya?”
“Kenapa brownies kukus?”
“Oh,” ibu tersenyum, lucu sekali. “Karena kafe itu terkenal dengan brownies kukusnya yang enak. Jadi ibu dan ayah ingin membuktikannya. Apa kau ingin tahu komentar ayahmu saat pertama kali menggigit kue itu?”
Mata ibu berubah jenaka. Aku menegakkan punggung, “apa? Apa?”
Ibu tertawa kecil, “kata ayah, nggak enak banget. Lebih enak buatan ibuku.”
Aku sudah menduganya. “Ibu percaya begitu saja?”
“Oh, tidak,” ibu tergesa menggeleng.
“Lalu?”
“Ibu meminta ayahmu membuktikannya?”
“Caranya?”
“Tentu saja membawa ibu ke rumahnya dan mengenalkan ibu pada nenekmu.”
“Aahh!” aku menjentikkan jemari sembari mengedipkan mata. “Ibu nakal sekali. Dengan begitu, ayah langsung mengenalkan ibu sebagai belahan jiwa pada nenek.”
Wajah ibu memerah dan dia tergesa membuang muka, tangannya pura-pura sibuk mengaduk adonan kue. Aku tergelak.
***
“Tolong, singkirkan itu dari meja,” ayah menunjuk piring kecil berisi kue bolu nanas yang dihidangkan ibu bersama secangkir teh.
Tanganku yang hendak terangkat menjangkau kue itu seketika turun kembali. Kutatap ibu, yang ternyata memandangku.
“Ini kue kesukaan ayah,” suaraku lirih.
“Ayah sedang tak ingin makan kue,” ayah membuang muka.
“Kenapa?”
Ayah bergeming. Dia memandang jauh, menyeberang halaman belakang dan melewati rumput, seolah dia tenggelam di sana. Dan aku serta ibu ada di dunia lain, yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Itu kejadian pertama ayah menolak kue yang biasanya menemaninya menghabiskan petang usai penat di kantor. Mula-mula, aku dan ibu menduga, ayah hanya bosan. Dia sedang tak ingin makan kue. Namun dugaan kami itu sirna. Ayah bukan hanya tak ingin makan kue lagi, tapi dia terlihat takut melihat kue.
Pernah ayah terlonjak kaget, dia langsung berdiri dari kursi ketika ibu menghidangkan kue brownies untuk ayah. Kata ibu, “mungkin saja ayah suka. Kan kami punya kenangan manis dengan brownies,” sembari mengedipkan mata nakal padaku. Dan aku terkekeh geli melihatnya.
Namun sayang, dugaan ibu meleset jauh. Ayah histeris dan refleks mendorong piring kue itu hingga jatuh berkeping-keping di lantai dapur rumah kami.
Aku dan ibu tertegun. Syok melihat reaksi ayah yang menurutku sangat berlebihan.
“Sori,” ayah mendesis dengan tangan gemetar ketika melihat aku dan ibu ketakutan. Ibu bahkan tergesa menarikku untuk berlindung dalam pelukannya.
“Sori,” ayah berdiri dari duduknya, langkahnya gemetar, juga tangannya. Dia merentangkan kedua tangan, memeluk kami yang terdiam. Tak ada yang bicara. Namun kesunyian telah menerangkan kepadaku dengan sangat benderang; ayahku telah berubah. Dia bukan berubah menjadi power rangers atau superman seperti serial kartun yang sering kutonton saban hari Minggu. Bukan. Ayah berubah dalam arti lain. Sesuatu yang tidak pernah bisa kupahami. Aku hanya tahu satu saja; ayahku tidak lagi menyukai kue, dia justru membencinya sekarang. Dan aku tak tahu alasannya.
***
“Ayah pikir, ayah akan segera mati dimakan kue-kue ini.”
“Kenapa bisa begitu?” aku menatap ke dalam bola mata ayah yang beriak.
“Apa sebuah kue bisa membunuh?”
“Bisa,” desisnya. “Bahkan kue yang ayah potong-potong di kantor itu telah membunuh banyak orang.”
Aku terdiam. Kutatap ayah dengan saksama. Wajahnya keruh. Seperti ada sesuatu yang menghimpit jantungnya.
“Kau tahu rumah sekolah yang atapnya ambruk kemarin itu?” tanya ayah, tiba-tiba.
Aku berpikir, mengingat-ingat. “Oh ya,” aku menjentikkan jemari. “Itu sekolah Ridwan. Untungnya Ridwan terkena campak, jadi dia nggak masuk sekolah. Padahal kelasnya yang roboh.”
Aku ingat. Ibu membahas cerita heboh itu saat makan malam. Mulanya ayah tak bereaksi apa pun, dia makan seperti biasa. Tapi ketika ibu menyebutkan kata-kata, “kok bisa ya, padahal baru dibangun setengah tahun lalu.” Tiba-tiba saja ayah menggebrak meja makan, isi mangkuk kuah terciprat, membasahi taplak meja. Aku kaget, pun ibu.
“Jangan banyak bicara saat makan!” suara ayah menggeram. Aku mengkeret di kursiku.
Padahal dulu, di meja makan, kami bebas menceritakan apa pun. Ibu mengisahkan kegiatan hariannya di rumah, bersama ibu-ibu tetangga bahkan gosip-gosip dengan tukang sayur yang kerap menyajikan rumor-rumor miring penghuni komplek. Aku juga sering bercerita tentang sekolahku. PR dari guru. Bahkan tentang teman sekelas yang diam-diam kusukai. Ayah pun selalu membagikan cerita di kantornya. Tentang teman-teman kantornya, bahkan tentang gosip para lajang di departemennya yang acapkali membuat ibu tertawa cekikikan. Entah apa yang lucu. Kadang-kadang aku bingung sendiri.
“Kenapa dengan sekolah itu?” aku tak tahu hubungannya dengan kue yang dipotong-potong ayah di kantornya. Apa hubungan kue dan atap sekolah yang ambruk?
“Itu karena kue yang ayah potong-potong.”
“Apa ayah yang memotong kue tart saat peresmiannya?”
Ayah menghela napas. Dia menggeleng.
“Lalu?”
Sekali lagi, dia mengembuskan napas.
“Kelak, kalau kau sudah besar, kau akan paham.”
Dan petang itu, cerita ayah tentang kue-kue yang perlahan menggerogotinya, menjadi cerita misteri yang akhir kisahnya ditulis secara menggantung, membuatku penasaran dan malamnya pikiran kanak-kanakku berkelana, mencari-cari akhir cerita itu sendiri. Aku juga membayangkan bentuk kue itu. Apa dia sebuah kue yang menyeramkan? Mungkin dia punya mulut dengan gigi taring yang tajam, sehingga dia bisa membunuh banyak orang, termasuk ayahku–kelak.
***
Pagi ini, aku terbangun karena mendengar jeritan histeris ibu. Tergesa aku melompat dari tempat tidur dan menemukan ibu yang gemetar di dapur rumah kami. Di lantai, aku melihat ayah tergeletak kaku. Diam. Mulutnya berbusa. Di tangan kanannya masih ada sepotong kue brownies buatan ibu. Di ujung kakinya, aku melihat botol pembasmi nyamuk.
Ibu luruh di lantai, menangis. Aku perlahan mendekat. Kulihat wajah ayah, bola matanya telah hilang. Kepalanya terbelah, otaknya kosong. Kulihat juga dadanya. Ada bolong besar di sana. Jantung dan hatinya juga telah raib. Aku jadi ingat ucapan ayah seminggu setelah dia diangkat bosnya menjadi juru potong kue di kantornya, “pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.”
Dan pagi ini, ucapan ayah terbukti.

Guntur Alam, buku kumpulan cerpen gotiknya, Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama, 2015. Saat ini sedang menulis novel series tema urban legend bersama temannya dan diterbitkan Elex Media Komputindo, yang sudah terbit Arwah dan Tumbal (2018).
Amrizal Salayan, lahir di Bukittinggi tahun 1958. Menempuh studi seni rupa di FKSS IKIP Padang, lalu FSRD ITB Bandung, sampai ke jenjang pascasarjana. Amrizal dikenal sebagai pematung yang karya-karyanya terpasang di Maluku, Jambi, Bandung, Jakarta, Kalimantan Timur, dan Lampung. Bahkan, karyanya ditempatkan pula di Papua Niugini.

Seratus Tahun Berlari


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 04 Maret 2018)
Seratus Tahun Berlari ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Seratus Tahun Berlari ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Sudah tujuh hari, tujuh malam, ia terus berlari. Kakinya semakin ringan untuk melangkah. Tenaganya tidak juga habis. Pria itu hanya berhenti untuk minum dan makan. Itu pun jika ada seorang yang dengan rela memberi.
Kalau tidak ada, ia hanya minum. Dan itu sudah cukup baginya. Ia tidak ingin hidup manja atau terikat seperti kebanyakan orang. Ia ingin bebas dan terlepas dari segala belenggu pikiran serta kenyataan hidup yang pelik: tagihan listrik, tagihan air, dan segala beban hidup lainnya. Paling penting lagi, ia bermimpi menjadi manusia yang tak tersekap oleh hal-ihwal ketakutan segala kehidupan. Maka ia terus berlari.
Semua ini seperti berlari dari suatu realita—masalah-masalah yang menumpuk. Beban hidup selalu berganti setiap hari. Masalah terus terlahir dari rahim kesibukan masyarakat kota: takut terlambat masuk kantor, takut gaji dipotong, takut dimarahi istri, takut tak dapat membayar bulanan anak, takut ditinggal pacar simpanan, hingga istri kedua.
Tak ada masalah yang benar-benar dapat dituntaskan dengan penuh. Mungkin hanya Tuhan yang dapat melakukannya dengan mengakhiri dunia. Lalu hal yang dapat ia lakukan hanya belari. Ia tidak memiliki tujuan saat berlari atau kapan akan berhenti? Kedua kakinya seperti memiliki jalan berpikir sendiri untuk terus membawanya.
Hujan dan badai berkesiur diterjang. Terik matahari yang lekat, bulat tekat Tarno tak lelah. Ia berlari. Terus menyeret-nyeret kakinya ke suatu tempat di ujung dunia yang ia sendiri tak tahu. Kota dan pedesaan ia lalui. Kenyang ia melihat pemadangan gemerlap lampu-lampu, pekik tawa dalam pesta-pesta penuh hidangan lezat, atau rintih tengah malam para perempuan dari gedung-gedung gemerlap tempat para penjual cinta.
Sudah muak ia dengan semua itu. Demikian juga dengan kemalangan orang-orang pinggiran yang bertahan hidup: para petani yang kehilangan harapan karena musim kemarau, nelayan yang karam perahunya karena ombak. Tarno berpikir: Hidup ini sudah dirancang dengan semua kekacauannya. Tuhan sedang bermain-main dengan umat-Nya.
Tarno sudah lupa dari mana mulai berlari. Mungkin dari pintu kantornya, setelah ia jemu melayani atasanya yang banyak tingkah di kantor; tentang anggaran belanja kantor, gaji, dan segala kepentingan yang sebenarnya hanya menguntungkan pria tambun itu.
Yang lebih parah lagi, semua anggaran itu diambil dari uang pajak rakyat. Ia tidak sanggup melakukan semua itu. Ia lelah membayangkan hidup sengsara, tertimbun di rumah kontrakan kecil bersama seorang istri melar yang cerewet dan terus mendesaknya untuk melakukan korupsi seperti bosnya.
Namun ia tidak melakukan itu. Semuanya bertentangan dengan etika yang sudah ia bangun sejak kecil. Maka pilihan satu-satunya yang ia dapat lakukan hanya berlari sejauh mungkin. Hingga tidak ada masalah yang merentet di belakangnya.
Malam-malam yang panjang dilaluinya dengan terus berlari. Pagi dan siang yang membosankan ia hadapi dengan terus berlari. Tenaganya tetap sama. Tuhan bagai memberi keajaiban di tubuhnya yang tak pernah bisa lelah itu.
Namun, ketika berlari, terkadang juga terbetik pikiran, di mana batas semua kenyataan ini? Apakah kenyataan hidup memiliki batas yang nyata? Setidak-tidaknya, Tarno dapat rehat sejenak dari beban yang bisa setiap saat melintas; melejit menyudutkan hidup seorang. Tarno terus berlari menuju ujung dunia yang sebenarnya masih barang kali.
***
Kini di setiap kota yang dilaluinya berlari selalu ada orang-orang yang menyambut. Mereka menunggunya dipinggir jalan. Tarno bagai seorang artis yang dieluelukan setiap orang. Bahkan setiap hari, ada saja sebuah helikopter yang merekam khusus perjalanannya.
Namun Tarno tak peduli dengan semua itu. Ia terus berlari tanpa menghiraukan orang-orang yang menyorakinya. Terkadang juga ia malah menertawai orang-orang yang mengelu-elukannya, “Bodoh!”
Orang-orang itu tidak pernah tahu kalau sesuatu sedang mengintai mereka: kejemuan yang mengerikan. Rentetan peristiwa yang melulu dan membuat seorang jengah. Ia berlari untuk menyelamatkan diri dari semua belenggu itu.
Namun—anehnya—orang menganggap dirinya sebagai hiburan. Orang-orang kota yang terlalu sibuk dengan segala hal di luar dirinya, acap kehilangan gairah hidup. Ketakutan dan kemalangan orang bisa menjadi hiburan tersendiri. Begitu juga dengan Tarno. Setelah ia berhasil mengelilingi dunia dengan terus berlari tiada henti, dan menarik minat para agen stasiun televisi, lembar-lembar koran, dan siaran singkat di radio; ia mulai dielu-elukan sebagai seorang artis. Keganjilannya—berlari tanpa tujuan yang jelas—dianggap sebagai suatu kelebihan di dunia. Betapa hidup ini sudah kehilangan hiburan yang bermutu.
Bibir kamera terus merekam. Tidak ada yang luput darinya. Orang-orang memantaunya dari tabung televisi masing-masing di rumah. Ada juga satu stasiun televisi yang khusus—sepanjang hari—menayangkan Tarno yang berlari: melewati lembah-lembah, mengarungi sungai-sungai, dan meniti di kapal mengarungi laut.
Orang-orang bagai takut kehilangan sosok idola baru tersebut. Bahkan ada seorang wartawan khusus pula yang mencoba melakukan wawancara dengan Tarno. Dengan mobilnya, wartawan itu membuntuti dan melemparkan pertanyaannya.
“Apa tujuan anda berlari?” Tanya wartawan itu menyodorkan mikrofon.
Tarno tidak menjawab. Nyalang matanya menatap ke depan dan tak mau berpaling.
Si wartawan tidak menyerah. “Ke mana tujuan saudara sebenarnya?”
Tarno masih tidak mau menjawab. Mungkin memang tidak ada tujuan pasti ke mana ia akan berhenti. Tarno hanya ingin berlari sesuai kata hatinya. Kaki-kakinya seakan menciptakan takdir kehidupannya sendiri.
Tarno tanpa jengah, lincah mengayuh telapak kakinya. Langkah demi langkah hingga begitu jauh. Pun akhirnya bertahuntahun lebih wartawan itu mencoba mewawancarainya.
“Apakah ada seorang yang mengejar saudara, maka saudara terus berlari?” Wartawan itu sudah kehabisan pertanyaan. Namun satu patah kata pun belum terucap dari bibir Tarno. Merasa frustasi dan sia-sia, wartawan itu bertanya malas-malasan: “Apakah sebenarnya anda melakukan ini semua untuk lari dari kenyataan?”
Karena si wartawan sudah tidak lagi memiliki pertanyaan, tapi atasanya di kantor terus mendesak agar wartawan itu mendapat berita tentang Tarno; dengan ngawur dan serampangan wartawan itu bertanya macam itu.
Wartawan itu terbawa suasana hatinya. Perasaanya yang melankoli—karena rindu anak dan istrinya yang sakit di rumah—  terbawa. Bahkan hingga istrinya mati sakit keras, wartawan itu tetap dilimpahkan tugas oleh atasnya untuk meliput Tarno. Namun—setelah bertahun-tahun terus berlari tanpa henti—sejenak Tarno termenung. Ia memandang wartawan yang telah putus asa itu.
“Maukah kau ikut denganku?” Tukasnya kepada wartawan itu.
Dengan air muka keruh karena putus asa, wartawan itu menjawab. “Ke mana?”
“Entahlah. Yang jelas ke sebuah dunia yang jauh dari kenyataan!”
Pun akhirnya wartawan itu membanting mikrofon dan mengacungkan jari tengahnya ke kamera. Syahdan wartawan itu ikut berlari bersama Tarno. Juru kamera yang kebingungan pun menggantikan tugas wartawan tersebut. Sambil mengambil gambar nya sendiri, juru kamera mengabarkan situasi.
“Pemirsa di mana pun kalian berada, tak ada yang tahu ke mana pria itu akan berhenti untuk berlari. Mungkin mereka hanya akan berhenti pada suatu ujung kenyataan; akhir dari segala pertanyaan tentang hidup!”
Kamera itu mati. Karena juru kamera ikut berlari bersama Tarno.
***
Sudah tujuh kali ia mengelilingi dunia. Dan semakin banyak orang yang mengikuti Tarno di belakang. Kebanyakan dari orang-orang itu berlari karena jemu dengan hidup. Mereka ingin berlari terlepas dari belenggu-belenggu.
Namun tidak semua permasalahan hidup usai hanya dengan berlari. Selalu saja ada hal yang menggoyahkan hati para pelari itu untuk berhenti; singgah ke suatu hal yang membuat orang lena serta tinggal. Orang-orang yang berlari bersama Tarno tidak semuanya teguh pendirian, ada yang hanya ikut-ikutan.
Karena hampir setiap kali memasuki sebuah kota baru, rombongan pelari itu disambut elu-elu yang begitu meriah dari orang-orang kota yang sudah kehilangan hiburan yang mencerdaskan. Tarno terkadang hanya mengambil botol air atau potong roti yang diacung-acungkan kepadanya. Itu pun ia lakukan tanpa menoleh.
Begitu cepat Tarno menyambar. Tak ada selintas pikiran untuk berhenti berlari. Namun, ada juga dari rombongan itu yang singgah. Kebanyakan mereka terkena rayuan racun para wanita penjual cinta murahan di pinggir jalan. Dengan sekali sentuh, tekad mereka yang bulat pada awal, lumer menjadi gembur. Orang-orang itu lebih memilih berhenti menjual dirinya pada kenikmatan hidup yang fana.
“Singgahlah sebentar, Sayang!” Kata wanita penggoda. “Dan rasakanlah nikmat pelukan dan ciumanku!”
“Tubuhku hangat menunggumu, sayang!”
“Apa yang kalian cari di dunia ini? Tak ada yang benar-benar kalian cari di dunia ini,” rayu mereka terus. “Maka singgahlah dan nikmati kenyataan ini, sayang!”
Terkadang separuh dari rombongan ikut berhenti. Namun di suatu kota atau simpang jalan yang muram, orang-orang yang terhenti itu akan tergantikan dengan sosok-sosok baru. Mereka ikut berlari ke suatu tempat yang begitu jauh—hingga tak ada yang lebih jauh dari tempat yang ingin mereka capai.
Namun tak ada satu pun dari mereka yang tahu di mana tempat itu; sebuah batas dari kenyataan hidup tersebut; suatu akhir dari pertanyaan-pertanyaan ganjil hidup; tentang masalah-masalah yang memang tak akan pernah tuntas untuk diakhiri. Mereka terus berlari, ke lubang-lubang nasib yang kelam; seperti seorang musafir yang kehilangan rumah dan alasan.

Risda Nur Widia, buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Sangkar Perkawinan


Cerpen Muna Masyari (Media Indonesia, 04 Maret 2018)
Sangkar Perkawinan ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Sangkar Perkawinan ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
KAU mematung di halaman. Nanar menatap rumah kayu dengan serambi ditopang tiga pilar berukir, lima meter di depanmu.
“Tiga pilar itu adalah simbol penyangga perkawinan; jujur, setia, menerima,” ujar ibu mengurai makna, ketika baru pertama kali kau dituntun menginjak lantai serambi rumah yang baru kemarinnya selesai dibangun, disaksikan berpasang-pasang mata di halaman, seusai akad pernikahan. Tujuh tahun silam.
Pilar itu tidak terlalu gemuk. Berukir gelang-gelang lingkar pada pangkal dan ujung sepanjang dua jengkal, beraksen timbul seperti taburan permata pada gelang juragan genting (salah seorang tetangga), mengapit ukiran pelintir ubi bagian tengahnya. Selama ini, tiap kali menatap tiga pilar itu, seperti menyepuh kejujuran, kesetiaan, dan keikhlasan atas semua yang ada dalam perkawinanmu. Termasuk ikhlas menunggu kepulangannya selama lima tahun ini.
Pandanganmu beralih pada pintu berdaun dua yang dihiasi ukiran sulur gelung bercat cokelat tua. Dengan kebaya pengantin putih dipadu sampir batik, ibu terus menuntunmu memasuki lubang pintu itu.
“Bagi istri, selama tinggal di rumah hantaran, cinta dan kesetiaan harus tetap dipertaruhkan!” lanjut ibu, setelah memasuki rumah baru seluas 5×6 meter, tanpa bilik-bilik kamar itu.
Kau menyimak dalam diam.
“Apa kau tahu makna kelambu ini?” ibu bertanya setelah mendudukkanmu di tepi ranjang, seraya memegang kain kelambu putih dan memerhatikan serat-serat halusnya sebentar penuh kekaguman.
“Untuk melindungi dari gigitan nyamuk.”
Ibu tertawa tanpa suara. “Tidak sekadar itu bagi sepasang suami-istri.”
Kau menatap mata ibu penuh rasa ingin tahu.
“Kelambu adalah simbol satir kehidupan, agar sepasang suami-istri menjaga rahasia rumah tangga. Segala bentuk permasalahan cukup menjadi rahasia berdua, selesaikan bersama, tidak perlu dibeberkan pada orang luar, kecuali memang sangat membutuhkan saran dan nasihat orangtua atau saudara yang terpercaya.”
Kau manggut-manggut. Berusaha mencerna apa yang dijelaskan ibu baru saja.
Ibu mendekati lemari dan membuka pintunya yang ditempeli cermin bulat telur pada bagian muka, “Dan baju hantaran ini, tak sekadar baju baru yang biasa kaukenakan pada hari lebaran,” ibu mengambil sepotong baju dari kotak lemari, lalu dibawanya padamu.
Matamu membulat dan mulutmu setengah menganga. Belum pernah kau memiliki baju sebagus itu. Warnanya merah menyala berbahan brokat tipis dan bertabur payet lidi berbentuk kembang bagian dada. Baju itu terlihat lebih mewah dari baju pengantin yang sedang kaukenakan.
“Seorang istri adalah baju bagi suami. Begitu pun sebaliknya!” jelas ibu.
“Maksud Ibu?” keningmu mengerut.
“Seorang istri harus menjadi hiasan suami. Jadi pelengkap ketaksempurnaannya. Penutup celah kekurangannya!”
Ah, usia empat belas tahun terlalu dangkal untuk bisa memahami makna simbol-simbol perkawinan yang ibu tuturkan sejak tadi. Kau hanya tahu, selain cincin mahar, suamimu membawakan pakaian, perhiasan, perlengkapan bedak, dan rumah beserta isinya sebagai hantaran komantan. Tanpa semua hantaran itu, perkawinan bisa gagal meskipun penghulu sudah menunggu. Menikahkan anak perempuan tanpa barang-barang hantaran hanya mengundang cibiran. Dianggap lebih rendah dari harga hewan di bawah standar harga pasar.
Dari hantaran komantan nilai mempelai perempuan di kampungmu ditakar. Semakin mahal barang hantaran, semakin tinggilah nilainya dipandang.
Sebuah keberuntungan besar sekaligus kebanggaan karena kau dibawakan rumah kayu berukir dengan dinding papan berserambi lebar ditopang tiga pilar. Rumah itu diantar empat hari menjelang pernikahan. Langsung dibangun oleh pekerja yang ulet dan cekatan. Ranjang, lemari, dan kursi yang juga terbuat dari kayu kokoh berhias ukiran, dibawa bersamaan dengan kedatangan mempelai.
“Lihatlah, sangat jarang perempuan dibawakan hantaran semahal ini,” tambah ibu, kembali menyapu sekeliling; ranjang, lemari, kursi, luas rumah, lalu tengadah menyapu usuk-usuk atap dengan takjub, “dulu ibu hanya dibawakan rumah bambu dan kursi rotan. Ranjang dan lemarinya pun barang lama yang dicat ulang. Bahkan baju yang dibawa ayahmu hanya baju kodian,” ibu terkekeh.
Katanya, sejak menginjak remaja suamimu sudah jadi perantau ke Malaysia. Tak heran jika ia membawakanmu barang-barang hantaran senilai jutaan. Tapi apalah arti semua itu sekarang?
“Kalau sudah ‘lapar’ di sini, apa aku harus terbang ke Karangpenang untuk ‘makan’? Yang penting aku kan tidak ‘jajan’ di luar!”
Suara suamimu tadi di telepon terngiang. Sebuah pengakuan berdalih yang telah menuntaskan ketakpastian. Desas-desus para tetangga belakangan ini akhirnya terjawabkan. Benar, suamimu membelah rusuk di negeri seberang. Yang membuatmu serasa menelan kulit durian, begitu tenangnya ia menyampaikan pengakuan. Seperti menuang air ke dalam cangkir. Tanpa beban. Tanpa riuh gelombang.
Dan kalau aku yang ‘haus’, harus menunggumu pulang? Ingin kau pertanyakan itu, menuntut keadilan, namun lidahmu kelu.
Telepon dimatikan. Kau pun pulang dengan hati redam. Tidak kaudengar tegur-sapa orang yang kebetulan berpapasan saat turun dari ketinggian demi mencari sinyal.
Sesampai di halaman rumah, langkahmu terhenti. Nanar kautatap rumah hantaran yang selama ini mengurungmu dan menuntut kesetiaan, bagai sangkar perkawinan.
Yah! Rumah hantaran itu hanya sangkar perkawinan. Tak lebih!
Kau teringat nasib Maryam yang tak kunjung menikah lagi meskipun sudah mengantongi surat talak dari bekas suami. Alasannya, ia tidak memiliki rumah lain kecuali rumah hantaran yang zibawakan bekas suaminya dulu. Meninggalkan putri kecilnya di rumah itu sendirian dan ia ikut suami baru, jelas tak mungkin. Mengajak suami baru untuk tinggal bersama di sana hanya mengundang cecaran bekas suami dan keluarganya. Sampai saat ini Maryam terkurung dalam sangkar itu, mengutuk masa lalu. Tak ubahnya burung yang terbelenggu. Sementara bekas suaminya sudah beristri baru.
Nasib Jumarti beda lagi. Hubungannya dengan suami terkatung. Tak ada niat berpisah satu sama lain, namun sudah tidak ada sangkar perkawinan yang menyatukan. Kisah itu berawal ketika suami Jumarti terbakar cemburu, karena tiap kali pulang selalu mendapati rambut Jumarti tergelung basah.
Sebagai sopir pengantar genting, ia memang kerap pulang menjelang subuh jika rumah pelanggan cukup jauh.
“Siapa yang telah menidurimu semalam?” pertanyaan bernada tuduhan itu menyulut ribut besar suatu pagi buta, ketika kepala si suami sudah disesaki rasa cemburu dan curiga.
Beragam cercaan pun disemburkan pada Jumarti tanpa minta penjelasan. Ujung dari pertengkaran itu, rumah hantaran dirobohkan dan diangkut pulang.
“Daripada dijadikan tempat melacur,” ujar si suami dengan dada terbakar.
Jumarti kembali ke rumah orangtuanya dengan balita yang belum genap usia dua tahun. Tak lama dari kejadian itu, barulah kemarahan suaminya mereda setelah mendengar penjelasan Jumarti dari mulut tetangga; bahwa ia keramas tiap pagi karena kencing anak lelakinya selalu menyembur ke mana-mana ketika tidur.
Suami Jumarti menyesal. Namun untuk rujuk, rumah hantaran terlanjur diangkut pulang. Ujung-ujungnya, hubungan mereka terkatung hingga sekarang. Tak ada sangkar perkawinan yang bisa menyatukan, kecuali Jumarti dibawakan rumah hantaran lagi. Akan tetapi si suami merasa gengsi untuk melakukannya. Jadilah keduanya hidup terpisah tanpa ada yang mengalah.
Kau masih mematung di tempat. Meringkus sangkar di depanmu dengan sepasang mata yang terasa pedas. Seekor burung melintasi atap rumah. Melesat cepat. Tak seberapa lama, burung itu kembali menuju arah semula.
Tiba-tiba matamu melebar, menunggu burung yang hilang di balik rimbun pohon saga di belakang rumah itu kembali melintasi atap rumah. Kau mengusap mata yang merabun. Namun burung itu lenyap sama sekali. Tak kembali. Kau tercenung.
“Burung tak bertuan jika sudah tak bersangkar,” gumammu, seperti ujung janur kering disulut api.
Tiba-tiba kau melangkah cepat ke dapur. Mengambil parang yang disandarkan pada kaki lincak dan selalu kaugunakan membelah kayu bakar. Benda tajam itu kaubawa keluar. Matanya putih dan berkilat tajam.
Di serambi rumah, kau menatapi tiga pilar satu per satu. Jujur, setia, menerima! Demikian ibu memaknai ketiga pilar itu. Kakimu melangkah pelan mendekati pilar samping kanan, sementara gagang parang masih tercengkeram.
Inikah pilar kejujuran yang akan terus menopang sangkar perkawinan? Senyummu pahit. Berkelebat wajah suamimu di pelupuk mata. Sebentar kau menatap langit-langit serambi. Menimbang-timbang kekuatannya jika pilar penyangga tumbang satu per satu.
Tidak! Kejujuran itu terakui setelah terjadi pengkhianatan. Kau beralih ke pilar tengah. Merabanya sebentar. Ada getar-getar halus di dadamu. Kesetiaan sesuci apakah yang harus dipertaruhkan?
“Kalau sudah ‘lapar’ di sini, apa aku harus terbang ke Karangpenang untuk ‘makan’? Yang penting aku kan tidak ‘jajan’ di luar!”
Teringat kata-kata itu membuat napasmu memburu, lalu mengayunkan parang dengan keras. Simbol kesetiaan itu bergetar. ***

Madura, Februari 2018

Catatan:
Komantan = Barang bawaan mempelai pria untuk pengantin wanitanya

Muna Masyari merupakan cerpenis yang bermukim di Pamekasan, Madura. Karyanya terpilih dalam Cerpen Pilihan Annida 2011 dan Cerpen Pilihan Kompas 2016.