Daftar Blog Saya

Minggu, 18 Februari 2018

Dari Jendela di Cuaca yang Cerah


Cerpen Bayu Pratama (Pikiran Rakyat, 11 Februari 2018)
Sing Your Soul ilustrasi Magdalena - Pikiran Rakyat.jpg
Sing Your Soul ilustrasi Magdalena/Pikiran Rakyat
TELEFON berdering. Benjor tidak segera mengangkatnya. Dari jendela rumahnya, dia sedang sibuk memperhatikan cuaca: hari cerah. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempurna untuk perasaan bahagia. Sebentar lagi musim hujan datang dan musim kemarau pergi. Minggu terakhir bulan September jadi semacam waktu berdiskusi dua musim itu untuk menciptakan cuaca yang menyenangkan begini. Tidak terlalu panas dan kering, tidak terlalu dingin dan basah. Membuat orang jadi gampang melamun tentang hal-hal menyenangkan. Telefon terus berdering. Benjor tidak kunjung mengangkatnya sampai tiba-tiba hening.
BENJOR menoleh ke arah telefon. Dia tidak terlalu yakin berapa lama telefon berdering. Dalam benaknya Benjor bertanya-tanya, barusan ada telefon?
“Tidak ada,” sanggahnya sendiri. “Tapi mungkin ada,” sanggahnya lagi. Benjor menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian kembali memperhatikan cuaca.
Dari Jendela Benjor melihat anak-anak sedang memanjat pohon kers di depan rumahnya. Tidak jauh dari pohon kers itu, ada boks telefon umum. Kalau sedikit berusaha, siapapun bisa naik ke atas boks telefon itu. Di lingkungan rumah Benjor tidak banyak anak-anak. Benjor tidak terlalu tahu anak-anak itu datang dari mana—mungkin dari kampung di sekitar tempat tinggal Benjor atau jauh-jauh datang dari pinggiran kota. Yang mana pun bisa saja. Yang jelas jumlah mereka banyak sekali. Anak-anak itu naik-turun pohon kers dengan begitu menakjubkan. Beberapa naik ke atas boks telefon kemudian melompat turun seolah-olah itu hal paling menantang yang pernah diciptakan tuhan.
Dari jendelanya Benjor mengangkat tangan, melambai-lambai ke arah anak-anak itu. “Hallo,” kata Benjor sambil berteriak. Semua anak-anak itu menoleh ke arah Benjor. “Hati-hati,” kata Benjor berteriak lagi. Anak-anak itu saling menoleh. “Hari yang bahagia,” kata Benjor. Anak-anak itu saling menoleh dalam gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya. Setelah beberapa lama, tanpa menjawab pertanyaan Benjor, anak-anak itu kembali melompat-lompat dari boks telefon umum, naik-turun pohon kers dengan begitu menakjubkan.
Sambil masih mengangkat tangannya Benjor menunggu jawabanan dari anak-anak itu. Tapi tak satu pun jawaban yang kunjung datang. Benjor mematung. Berapa lama, dia tak ingat. Diturunkannya tangannya. Ada yang menyusup masuk ke dalam pikirannya. Tapi Benjor tidak terlalu yakin apa itu. Dilihatnya anak-anak itu. “Wah,” kata Benjor tiba-tiba. Benjor kembali diam beberapa saat. Ada suara dering telefon mengisi kepalanya. “Mungkin tadi ada telefon,” Benjor menggumam sendiri. “Tapi mungkin tidak,” sambungnya kemudian. “Siapa yang mau menelepon?” Benjor bertanya-tanya. “Ah! Jangan-jangan Jakob yang menelefon,” sambungnya kemudian setelah beberapa lama. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempuma untuk merasa bahagia.
Jakob adalah teman sejawat Benjor. Ketika Benjor pensiun beberapa waktu yang lalu dari perusahaan retail dan penerbitan tempatnya bekerja, Jakoblah yang menggantikannya. Mungkin Jakob menelefon untuk menanyakan satu-dua hal yang belum beres, pikir Benjor. Tetapi temannya itu sudah bersama Benjor selama hampir… selamanya. Mana mungkin ada yang belum diketahui Jakob. Tetapi mungkin saja ada hal yang Benjor tahu sedang Jakob tidak. “Ada saja yang belum beres kalau ditinggal begini,” kata Benjor kemudian. Benjor melihat jam tangannya kemudian berjalan ke arah telefon. Benjor tahu sekarang Jakob pasti masih di kantor. Sibuk dengan kertas-kertas di dalam ruangan berukuran delapan kali delapan meter—ruangan yang dulu adalah ruangannya. Kalau menelefon ke nomor kantor, pasti sekretaris yang menjawab. Karena itu Benjor langsung menelefon ke nomor pribadi Jakob.
Di samping telefon ada setangkai bunga aster kayu biru dalam wadah kaca. Di dasar wadah kaca itu ada sedikit air yang masih menggenang, digunakan untuk mempertahankan hidup bunga aster kayu biru itu. Kenapa cuma setangkai? Benjor tidak tahu. Siapa yang menaruhnya di sana? Benjor juga tidak tahu pasti. Bisa jadi itu istrinya atau pembantunya. Tetapi mungkin pembantunya. Kalau itu istrinya, Hermes atau Louis Voitton akan lebih masuk akal untuk ada di sebelah telefon. Telefon dalam nada tunggu. Benjor menatap aster kayu biru itu. “Mulai layu,” pikirnya.
Telefon tersambung. “Iya, Hallo. Bagaimana?” kata Jakob di sambungan telefon. Dia memang selalu bertanya ‘bagaimana’ tanpa benar-benar jelas bagaimana apa yang ditanyakannya.
“Ada apa?” kata Benjor.
“Maksudmu?”
“Tadi kau telefon?” kata Benjor. Sambil bertanya begitu, Benjor membayangkan Jakob sedang menelefon sambil menjepit telefon dengan bahu dan pipinya. Tangan kiri Jakob sedang sibuk berurusan dengan kertas-kertas sedang tangan kanannya sibuk dengan pena Parker seri Sonnet dengan lapisan emas.
“Ha? Siapa?”
“Kau. Tadi kau telefon ke rumah? Ada apa?”
“Lho, bukan. Dari tadi sibuk. Kau apa kabar? Kapan-kapan mampirlah kemari. Kita sedang ada tawaran bisnis baru dengan pabrik pembuat kadal plastik. Anak-anak zaman sekarang pasti suka. Prospeknya akan bagus, tetapi kalau kau lihat-lihat, mungkin kau ada pendapat lain.”
“Kadal plastik?”
“Iya. Kadal plastik.”
Benjor terdiam beberapa saat. Aster kayu biru di depannya tiba-tiba menyita perhatiannya. Aster itu bergoyang sedikit, mungkin karena angin—atau sesuatu yang lain. Salah satu kelopak bunga itu jatuh tiba-tiba. Terhuyung-huyung sampai akhirnya jatuh di atas meja. “Jadi tadi kau tidak telefon ke rumah?”
“Tidak. Siapa yang menelefon?”
Benjor ingin menjawab pertanyaan Jakob tapi Benjor mendengar suara gagang telefon dipindahkan. Benjor diam.
“Hallo,” kata Jakob.
“Iya, hallo. Bukan siapa-siapa. Tadi rasanya ada yang menelefon. Aku kira kau.”
“Bukan.”
“Baiklah.”
“Kapan-kapan mampirlah. Aku butuh saran untuk kerja sama dengan pabrik kadal plastik ini. Lebih baik kalau bicara langsung sekalian kau lihat-lihat keadaan baru.”
“Baiklah. Kapan-kapan aku mampir.”
“Ok. Baik.”
Jakob tiba-tiba menutup telefon tanpa mengucapkan sampai jumpa atau semacamnya.
Benjor teringat istrinya. Wanita itu harusnya sudah pulang sekarang. Istri Benjor dan pembantunya pergi sedari tadi. Mungkin berbelanja, atau mungkin yang lain—Benjor tidak terlalu yakin. Dilihatnya lagi jam tangan. Benjor menutup mata. Saat membuka mata, Benjor merasa dinding-dinding rumahnya bergerak menjauh dari dirinya. Aster kayu biru itu kembali bergerak sedikit. Salah satu kelopaknya jatuh lagi. Begitu tua dan menyedihkan, pikir Benjor. Benjor berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air keran untuk ditambahkan ke dalam wadah kaca tempat bunga aster itu. Diperbaikinya posisi bunga aster itu sampai dirasanya benar. Diambilnya tiga kelopak yang jatuh. Berjalan kemali ke dapur, Benjor meletakkan gelas pada tempatnya kemudian membuang tiga kelopak bunga aster itu ke dalam wastafel.
Benjor bertanya-tanya. Kenapa pula dia membuang kelopak bunga ke dalam wastafel! Benjor mengurut pelipisnya. Sebentar lagi musim hujan datang dan musim kemarau pergi. Minggu terakhir bulan September jadi semacam waktu berdiskusi dua musim itu untuk menciptakan cuaca yang menyenangkan. Samar-samar Benjor mendengar suara anak-anak yang sedang bermain di luar.
Benjor kembali berjalan ke jendela. Anak-anak masih memanjat pohon kers dan beberapa yang lain masih melompat-lompat dari boks telefon. Melihat anak-anak itu Benjor tiba-tiba menyungging senyum. Diperhatikannya anak-anak itu. Beberapa anak naik turun pohon kers dengan cara menakjubkan. Beberapa lainnya melompat-lompat dari boks telefon. Setelah lama mengamat-amati, Benjor menyadari salah seorang anak dari sekian banyak anak yang bermain itu ada di dalam boks telefon umum dan memencet-mencet tombol telefon. Jangan-jangan dia yang menelefon, pikir Benjor. “Hallo,” kata Benjor sambil berteriak. Melambai-lambaikan tangannya. Semua anak-anak itu menoleh ke arahnya, kemudian saling menoleh satu sama lain, kemudian kembali memanjat pohon kers dan melompat-lompat dari boks telefon—tidak ada yang menanggapi teriakan Benjor. Benjor menunggu, mematung. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempurna untuk perasaan bahagia. ***

Imajinasi-imajinasi Intim


Cerpen Anas S. Malo (Rakyat Sumbar, 10-11 Februari 2018)
Imajinasi-imajinasi Intim ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Imajinasi-imajinasi Intim ilustrasi Rakyat Sumbar
ANJING-ANJING liar itu terus menggonggong, memelototiku, seakan-akan hendak mencabik-cabik tubuhku. Sedangkan bocah di dekatku tidak menunjukkan rasa takutnya. Ia tetap pada posisi duduknya, bersandar di tembok kayu warung kosong. Ia terlalu sibuk dengan lamunan. Ia tetap diam. Matanya menerawang jauh menembus ranting-ranting pohon sampai ke bulan. Sementara hujan gerimis belum juga reda.
Bocah itu menatap bulan, seolah-olah ada sesuatu yang membuat ia tersenyum. Ia pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Bocah itu, tersenyum sendiri. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Sedangkan aku masih sibuk dengan menata napas dan jantungku. Keringat dingin mengucur. Malam, sunyi ditemani lolongan anjing liar adalah pengalaman pertama dalam sejauh umurku.
Malam bertambah dingin disertai selak anjing yang begitu mengerikan. Malam telah membakar rindu-rindu yang tak tersampaikan. Aku membeku, sementara anjing-anjing liar itu masih di depanku, berjarak beberapa meter dari tempatku. Anjing-anjing liar itu belum mau beranjak. Mereka melolong, ada juga yang berguling-guling.
“Hai… Bocah, memangnya kau tidak takut dengan anjing-anjing itu?” tanyaku.
“Namaku Alan. Hanya orang-orang penakut saja yang takut dengan anjing,” jawab bocah itu.
Ketakutanku semakin menjadi-jadi ketika terselip ingatan tentang aroma mistis membumbui malam itu. Kata kakek, ketika anjing-anjing melolong pertanda bahwa roh-roh halus akan muncul. Kata orang-orang tua dahulu, roh-roh halus itu akan bergentayangan untuk menakut-nakuti manusia. Roh-roh halus atau yang disebut oleh kebanyakan orang-orang hantu. Orang-orang takut dengan hantu. Aku sebenarnya belum pernah sekalipun melihat hantu. Hanya melihat di layar televisi hitam putih milik tetangga. Setiap malam Jumat terkhusus malam Jumat Kliwon akan sensasi yang berbeda. Biasanya aku dan beberapa tetangga lain duduk di tikar yang sudah disiapkan oleh Pak Sukmo.
***
Alan sering mendengar hikayat tentang bulan. Ibunya pernah mendongengi sejarah bulan kepadanya. Dongeng itu masih tersimpan rapi dalam ingatan bocah itu. Baginya melihat bulan adalah sesuatu yang membahagiakan, karena bulan tercipta dari keindahan. Bulan tercipta dari kebahagiaan. Kata ibunya, jika tak ada bulan maka malam akan gelap. Malam akan kelam. Kekelaman akan membawa kesedihan. Ibunya pernah mengatakan kepada bocah itu, jika bulan itu seperti kasih sayang seorang ibu.
Bocah itu hidup di sebuah rumah sederhana, bisa dibilang kecil dan kumuh bersama ibunya serta kedua adiknya. Sebagai seorang yang sulung, setiap hari ia membantu ibunya ke hutan untuk mencari kayu dan memetik cabai di ladang. Mencabut singkong dan memetik daunnya untuk dijadikan urap atau dijadikan sayur lodeh.
Biasanya mereka ke ladang ketika sore hari. Jalan kaki dua kilo meter. Alan memakai kaos hitam bergambar yang sudah pudar. Celana pendek berwarna cokelat. Jari kakinya menjepit sepasang sandal. Serampatnya sudah berganti-ganti. Sedangkan ibunya untuk melindungi kepalanya, ia memakai topi beranyaman bambu. Di balik topinya terpasang jilbab putih kusam, dipadu oleh kerut yang belum penyeluruh. Dengan memakai baju abu-abu lengan panjang. Bekas sobek pada ketiaknya terlihat jelas. Rok panjang hitam terlihat membelah rumput-rumput di pinggir jalan yang seperti garis, karena sering diinjak sehingga tidak tumbuh rumput. Dihias oleh peluh, sebutir-butir kacang hijau. Membawa tas berbahan karung goni. Terselip parang, tali dan air minum berwadah botol air mineral.
Terus menyusuri jalan setapak demi setapak. Untuk sampai ke hutan mereka berdua harus melewati jalan berbukit dan berbatu. Melewati Danau Sarean yang konon menurut cerita orang-orang, setempat mandi para bidadari. Tetapi itu hanyalah sebuah mitos, tak perlu dipercaya sepenuhnya. Tak percaya sedikit pun tidak berdosa. Airnya biru. Membuat semua orang penasaran akan ke dalaman danau itu. Agak membuat merinding ketika melihat air danau itu dari permukaan.
Bocah berusia 11 tahun itu terus menoleh ke arah danau itu, meskipun tetap berjalan beriringan bersama ibunya. “Kau sudah lelah,Nak?” suara itu terdengar pelan nyaris lirih, menusuk sunyi. “Kalau lelah, kita istirahat saja di bawah pohon beringin dekat sungai itu,” tawar ibunya.
“Tidak, Bu. Aku hanya penasaran dengan air Danau Sarean yang airnya biru,” jawab bocah kecil itu. Sesekali melemparkan kerikil ke arah danau itu, sambil mengira-ngira apa yang ada di dasar danau itu.
“Nak, jangan iseng begitu. Kita tidak boleh saling mengganggu,” tutur ibunya.
“Memangnya siapa yang terganggu, Bu?”
“Dulu kakekmu pernah bilang, jika danau adalah tempat tinggalnya para bangsa jin. Jadi ibu minta, jangan iseng atau terhadap apa pun yang ada di lingkungan sekitar kita. Siapa tahu ada yang terganggu,” lanjut ibunya.
Dalam diamnya, Alan menjelajah dengan imajinasinya yang tak terjangkau oleh logika. Ia terus menggali pikirannya untuk memecahkan misteri danau itu. Jika ia memandangi air danau itu, ia membayangkan bahwa di dasar danau itu terdapat istana para jin sama dengan apa yang sudah ditonton di televisi di rumah tetangganya.
Akhirnya mereka sampai di hutan setelah menempuh perjalanan dengan jalan kaki. Ibunya mencari ranting-ranting kering. Kalau pun ada jamur yang tumbuh, ia akan mengambilnya untuk dibawa pulang atau apa pun yang bisa untuk digunakan untuk memperpanjang hidup.
Sedangkan Alan, mengambil daun singkong untuk dijadikan sayur. Ia berjalan ke utara untuk mencari daun singkong sementara ibunya masih di tempat semula, mengumpulkan ranting-ranting kering untuk dijual atau untuk digunakan sendiri.
Alan telaten memetik daun singkong yang masih muda. Ia memilah-milah daun yang akan dipetik. Tiba-tiba ada suara jeritan. Memekik. Suara itu datang lagi dengan jeritan memanggil namanya. Ia bergegas kembali ke arah ibunya. Lari. Sendalnya putus. Terinjak duri, berlari terpincang-pincang. Ibunya sudah pucat dan membiru. Napasnya sesak. Ada bekas patokan ular di mata kakinya. Bocah itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan kecuali berteriak meminta tolong, tetapi mungkin jarang ada orang di hutan. Ia terus berteriak sampai seorang menolongnya. Sampai akhirnya ibunya dibawa pulang tetapi sesampainya di rumah, ibunya telah tewas.
Kedua adiknya ikut bersama pamannya di Bojonegoro, sementara Alan ikut bekerja di pabrik tempe di kampung seberang. Ia menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia selalu ikut di setiap kali para orang-orang dewasa berkumpul. Ngopi, bermain kartu, mendem. Adapun yang mereka bahas setiap kali berkumpul tentang pengalaman hidup atau wanita. Ia sering berbicara jorok yang tidak lazim diucapkan seorang bocah.
Setiap malam menjelang, ia selalu akan duduk di ruang terbuka, menatap bulan. Bulan pun seolah-olah mengayun mendekat, kemudian ia seperti ditarik oleh kekuatan yang mengajaknya melayang naik ke bulan. Ia pun bermandikan cahaya. Setiap ia melihat bulan, ia merasa dilihat oleh ibunya. Ia pun meyakini, jika ibunya berada di bulan. (*)

Ibu Pergi Memancing


Cerpen Mashdar Zainal (Lampung Post, 11 Februari 2018)
Ibu Pergi Memancing ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Ibu Pergi Memancing ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post
PEREMPUAN tak pergi memancing. Mereka pergi ke pasar, berkerumun di arisan, dan kadang merumpi dengan para tetangga. Tapi ibuku tidak. Ibuku pergi ke kali. Menggendong adikku yang hampir dua tahun. Membawa tongkat pancing yang dibuatnya sendiri.
Sebelum sampai ke kali, ibu mampir ke sawah terlebih dahulu untuk mencari cacing-cacing kecil bakal umpan. Cacing-cacing itu ia kumpulkan dengan segumpal lumpur, lalu ia buntal sedikit renggang dengan selembar daun talas. Aku pergi ke sekolah, dan ibu pergi memancing.
Pada hari pertama ibuku pergi memancing, kawan-kawanku mengobral omong tak henti-henti. Membuat telingaku panas.
“Kulihat ibumu pergi ke kali membawa pancing,” kata yang satu.
“Perempuan kok pergi memancing, sudah besar pula. Aneh!” kata yang lain.
Lalu mereka tertawa bersama-sama. Mereka menertawakan ibuku. Kata mereka, ibuku kurang kerjaan, seperti anak kecil. Beberapa kawan yang lain bilang, ibuku seperti lelaki. Begitulah, kata mereka, perempuan memang tak pergi memancing, apalagi kalau ia ibu-ibu.
Pada hari pertama ibu pergi memancing itu, aku pulang sekolah dengan dada dongkol. Ingin rasanya kutumpahkan kedongkolan itu ke muka ibu, sesegera mungkin. Sampai di rumah, ibu menyuruhku berganti pakaian, lalu makan. Tapi aku tak menghiraukan, aku segera melabrak ibu, sambil berseru, “Ibu jangan pernah pergi memancing lagi. Jangan pernah.”
Ibu membalas seruanku dengan tatapan bingung, lalu geleng-geleng, kembali menyuruhku berganti baju, lalu makan. Tapi aku tidak menggubris. Aku langsung beringsut ke arah meja. Di atas meja makan tanpa kursi itu, sebakul kecil nasi terhidang, ditemani beberapa ekor ikan badar goreng, daun singkong yang direbus, serta sambal kemangi. Aku makan dengan lahap. Setelah makan, ibu menatapku dan berkata, “Ikan yang kau makan itu hasil dari ibu pergi memancing.”
Ibu berkata soal memancing, dan itu kembali mengingatkanku pada ejekan teman-teman. Dongkol di dadaku kembali.
“Tapi perempuan tak boleh memancing, apalagi ibu sudah besar,” tukasku.
“Seandainya ayahmu bisa pergi memancing, ibu tak akan pergi memancing. Kalau kau mau tahu, sejujurnya ibu lebih suka memasak dan membersihkan rumah sambil momong adikmu.”
Aku tak menjawab. Tentu saja ayah tak bisa pergi memancing. Sebab ayah sudah dikuburkan dua tahun silam, ketika usiaku masih delapan tahun. Kaki ayah terlindas mesin pembajak sawah, lalu bengkak, tak sembuh-sembuh, tak bisa jalan berbulan-bulan, badannya sering panas-dingin, hingga akhirnya sakit parah dan meninggal. Sejak itu, ibu bekerja keras seorang diri, kadang bantu-bantu cuci dan setrika di rumah Bu Haji. Kadang membantu Mak Siti memanen kangkung dan bayam, mengikatnya sampai bertumpuk-tumpuk lalu membawanya ke pasar dengan naik becak.
Waktu itu adikku masih dalam perut. Hingga adikku lahir, dan ibu tidak bekerja apa pun. Setelah adikku berumur beberapa bulan ibu kembali ke rumah Bu Haji, tapi Bu Haji sudah punya orang baru buat bantu-bantu. Tenaga ibu tak diperlukan lagi. Satu-satunya pekerjaan ibu adalah membantu Mak Siti berjualan sayur. Bila musim sedang baik, sayur-sayur itu pun akan tumbuh degan baik, bisa dipanen banyak-banyak, dan ibu juga bisa mendapatkan upah yang cukup. Namun, kata ibu, musim suka datang tak menentu. Hujan kerap turun di musim kemarau. Ladang Mak Siti yang di seberang sungai kerap terendam banjir, dan sayur-mayur tak bisa dipanen. Dan sebab itulah, ibu pergi memancing. Kata ibu, ketika sungai surut selepas banjir, ikan-ikan baru diantar Tuhan dari hulu.
“Tapi agak aneh ibu-ibu pergi memancing,” aku bersikeras, mempertahankan pendapat teman-temanku.
“Lebih aneh lagi, kalau seorang ibu tidak bisa memberi makan anak-anaknya,” balas ibu. Lantas ibu mengomeliku panjang-panjang. Kata ibu, di rumah cuma ada beras, itu pun tak sampai satu timba (ibu selalu menyimpan beras dalam timba). Dan semoga, beras itu cukup untuk makan sampai beras baru datang diupayakan ibu dan dikirim Tuhan.
Pundi ibu melompong, receh pun tak ada, yang artinya tak ada pula duit buat membeli tahu tempe, atau sekadar kerupuk. Ibu tak mau mengemis ke para tetangga. Apa-apa yang dimakan anak-anaknya, menjadi darah dan daging anak-anaknya, harus sesuatu yang bersih dan murni dari keringat ibu sendiri.
Ibu bisa memetik daun singkong di pekarangan belakang, menyayur pepaya muda, atau membuat botok kembang pisang. Tapi ibu juga mau sekali-kali anak-anaknya makan makanan amis yang jelas gizinya dan menyenangkan di lidah.
“Sambil meramban daun singkong di belakang rumah, ibu melamun, ibu melihat kali di kejauhan, dan ibu baru sadar, Tuhan menyuruh ibu pergi ke kali untuk mencari lauk yang pantas buat kalian.”
Hari itu, ibu menggeledah sisa-sisa senar kail milikku—yang pernah kupakai memancing. Jelang petang, sambil menggendong adik, ibu menyisik buluh dan membuat gagang pancing. Pagi harinya, ketika aku hendak pergi ke sekolah, ibu telah siap pergi ke kali. Ibu pergi memancing.
Mendengar penjelasan ibu, kedongkolan di dadaku mereda. Apa yang salah dengan ibu memancing? Aku memakan lahap ikan hasil tangkapan ibu, dan aku menyuruh ibuku berhenti memancing, kupikir itu kurang adil. Kata ibu, Tuhan menyuruh ibu pergi ke kali, mencari lauk-pauk yang pantas untuk anak-anaknya. Tuhan saja tak melarang ibu pergi memancing. Mengapa aku melarangnya.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, aku melihat seorang perempuan, paruh baya, menggendong bayi di punggungnya. Duduk di tepi kali. Menatap senar kail yang tak bergeming. Aku tahu kisahnya. Perempuan itu ibuku. Puluhan tahun lalu.
***

Malang, 21 Mei, 2017

Kue-kue Emak


Oleh Alby Syafie (Lampung Post, 11 Februari 2018)
Kue-kue Emak ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Kue-kue Emak ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post
PERNAHKAH kalian membayangkan makan kue setiap hari? Kue dengan berbagai macam rasa. Pasti sungguh enak dan nikmat makan kue-kue itu. Tapi tidak dengan Nia. Nia hanya bisa melihat dan membayangkan. Membayangkan makan kue-kue setiap saat. Apalagi Nia hanya tahu namanya. Tapi tidak tahu bagaimana rasanya. Ada kue yang bentuknya bulat kulit seperti dikerubuti semut. Kata Emak itu namanya onde-onde.
Lalu ada yang bentuknya seperti ban sepeda. Bulat tapi lubang tengah dengan taburan gula-gula atau cokelat dan keju. Namanya donat. Ada kue yang warna-warni seperti pelangi yang menurut Emak itu namanya kue lapis. Ada bolu keju, pisang molen dan berbagai macam kue lainnya. Hanya sesekali Nia bisa makan kue. Itu pun hanya pisang goreng sisa jualan Emak.
Nia hanya bisa menelan air liurnya jika ingin mencicipi kue-kue tersebut. Karena makan artinya dia harus bayar. Karena itu bukan kue jualan Emak Nia sendiri. Melainkan milik Bu Haji dan Emak hanya mengambil upah sedikit dari hasil jualan tersebut.
Tiap pagi Emak selalu pergi ke rumah Bu Haji untuk mengambil kue-kue. Setelah itu Emak akan keliling kompleks atau bahkan ke sekolah-sekolah. Jika libur sekolah, Nia membantu ikut jualan kue. Nia membantu Emak berjualan kue di lapangan. Karena kalau hari libur, di lapangan banyak anak-anak bermain. Jadi semua dagangan Emak akan cepat habis. Pernah Nia menanyakan pada Emak, kenapa tidak buat kue sendiri dan menjualnya.
“Dari mana kita dapat uang buat beli bahan. Lagi pula Emak tidak tahu cara buatnya,” ujar Emak saat itu.
“Emak bisa minta resepnya sama Bu Haji,” usul Nia kala itu.
“Tentu saja tidak, Nia. Tidak enak sama Bu Haji. Apalagi Bu Haji sudah baik sama Emak.”
“Tapi Nia kasihan sama Emak. Tiap hari jualan kue, tapi upahnya sedikit. Padahal semua kue-kue itu selalu habis terjual,” kata Nia ngotot.
Emak hanya tersenyum dan mengacak poninya.
“Emak, bahan-bahan untuk membuat kue itu biasanya terbuat dari apa, sih?” tanya Nia.
“Dari tepung, mentega, telur, dan banyak lagi bahan-bahan lainnya,” ujar Emak.
Keesokan harinya Nia ke rumah Bu Haji. Nia bilang pada Bu Haji ingin membantunya bikin kue sekaligus ingin belajar. Tapi Bu Haji malah menyuruhnya ke toko. Nia diminta untuk beli bahan-bahan kue. Berbekal catatan yang Bu Haji berikan, dengan cakatan Nia ke toko. Membeli semua bahan kue sesuai dengan pesanan Bu Haji.
Ada telur, tepung, gula, mentega, cokelat, vanili, dan beberapa bahan lainnya. Setelah semua selesai, Nia menyerahkan hasil belanjaan pada Bu Haji. Bu Haji memberi Nia duit sepuluh ribu sebagai imbalan. Tapi Nia tidak diperbolehkan membantu memasak dan bikin kue. Katanya sudah ada bagian yang masak. Gagal sudah rencana Nia untuk belajar bagaimana caranya membuat kue.
Saat menuju pulang, Nia bertemu dengan Tita teman sekolahnya. Nia melihat Tita habis membeli tepung dan telur.
“Kamu mau buat kue, ya?” tanya Nia melihat barang belanjaan Tita.
“Iya. Ibu mau buat pisang goreng.”
“Wah, pasti pisang gorengnya enak. Boleh ikut? Nia ingin tahu bagaimana caranya buat pisang goreng,” pinta Nia.
Tita mengangguk. Nia ikut bersama Tita ke rumahnya. Sampai di rumah, Tita menjelaskan pada ibu tentang keinginan Nia. Ibu Tita memperbolehkan Nia ikut membantu bersama Tita. Saat ibu Tita mencampur adonan untuk bahan pisang goreng, Nia melihatnya. Ternyata sangat gampang. Tepung, telur, gula, dan sedikit garam. Setelah itu baru pisang dimasukkan kemudian di goreng. Nia jadi semangat membantunya.
Saat ibu Tita menyuruhnya mencicipi pisang goreng, rasanya enak sekali. Rasanya tidak sama seperti jualan Emak milik Bu Haji. Pisang goreng buatan ibu Tita lebih gurih.
“Tante, kalau uang sepuluh ribu, bisa tidak beli bahan-bahan buat pisang goreng,” celetuk Nia tiba-tiba.
“Pasti bisa, Nia. Apa Nia mau buat pisang goreng juga?” tebak ibu Tita yang membuat Nia tersipu malu. “Ini ada sisa pisang dan tepung, bisa Nia bawa pulang. Nanti coba masak di rumah,” lanjut ibu Tita lagi.
Dengan perasaan senang, Nia pulang membawa pemberian ibu Tita. Nia akan buat pisang goreng buat Emak. Setelah itu, Nia akan minta Emak buat pisang goreng sendiri. Kemudian menjualnya. Nia yakin, pisang goreng buatan Emak pasti akan laris. Apalagi resepnya Nia dapatkan dari ibu Tita yang tadi sempat Nia cicipi.

Raksasa Way Kambas


Oleh Elisa DS (Lampung Post, 18 Februari 2018)
Raksasa Way Kambas ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Raksasa Way Kambas ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post
Liburan akhir pekan ini, Lisa mengunjungi Paman Raka, adik ibunya yang berdomisili di Bandar Lampung. Meskipun perjalanan yang ditempuh dari Kota Liwa lumayan jauh, Lisa sangat menikmatinya karena ia bisa mencuci mata dengan melihat rimbunnya hutan dan jalanan yang berkelok-kelok.
Lisa menarik napas lega saat mobilnya berbelok ke sebuah halaman yang luas. Ia berdecak kagum melihat koleksi tanaman hias milik Paman Raka. Bugenvil, mawar, melati, euphorbia, nona makan sirih, dan aneka kaktus menghiasi taman yang berada di samping kolam ikan koi. Gemericik air mancur yang keluar dari bambu-bambu kecil membuat rumah paman yang asri bertambah indah.
Saat Paman Raka dan ibu berbincang-bincang melepas rindu di ruang tamu, Lisa duduk di teras sambil memandangi kecipak ikan koi di kolam. Angin sepoi-sepoi membelai pipinya. Beberapa kali kantuk datang menyerang, akhirnya ia pun bangkit dan mengambil buku cerita dari dalam tas, lalu membacanya sambil selonjoran di depan televisi.
Hampir tiga puluh menit Lisa tenggelam dengan bacaannya, hingga tak menyadari Paman Raka sudah duduk di sampingnya.
“Wah, Lisa suka membaca, ya?” tanya Paman Raka.
Lisa mengangguk sambil tersenyum.
“Sepertinya buku dongeng.” Paman mengamati buku yang dipegang Lisa.
“Iya, Paman. Ini dongeng tentang raksasa jahat yang ingin memangsa manusia bernama Timun Mas.”
“Raksasa sering digambarkan sebagai sosok jahat dalam dongeng, beda dengan raksasa teman paman. Dia baik sekali dan suka membantu manusia.”
“Ah, yang benar, Paman?” Lisa mendelik. “Raksasa kan cuma ada dalam dongeng.”
“Kata siapa raksasa cuma ada dalam dongeng?” Paman balik bertanya. “Di dunia nyata zaman sekarang pun masih ada raksasa. Salah satunya adalah teman paman.”
Lisa melongo keheranan.
“Kalau tak percaya, besok ikut ke tempat kerja paman. Nanti Lisa bisa berkenalan dengan raksasa Way Kambas.” Paman Raka mengedipkan matanya.
Lisa terlihat antusias. Ia pun memberondong pamannya dengan pertanyaan seputar raksasa tersebut, tetapi beliau tak mau menjawab. Ibu tertawa melihatnya.
Keesokan paginya, Paman Raka, ibu, dan Lisa menaiki Jeep menuju Labuhan Ratu. Kurang lebih tiga jam berikutnya, mobil memasuki gerbang bertuliskan Taman Nasional Way Kambas. Setelah memarkir kendaraan, mereka pergi ke sebuah tempat yang ramai oleh pengunjung.
“Tunggu di sini, ya. Ada kejutan buat Lisa.” Paman bergegas memasuki sebuah bangunan.
Tak lama kemudian, Paman Raka keluar dengan menunggang gajah. Lisa tercengang sekaligus senang karena binatang itu mengalungkan bunga ke lehernya. Ibu pun mengabadikan momen tersebut dengan kamera.
Setelah itu, tiga ekor gajah masuk arena dan melakukan atraksi memukau, mulai dari duduk berjajar, menari, dan bermain sepak bola. Lisa terlihat sangat menikmati pertunjukan binatang yang superbesar tersebut. Berkali-kali ia bertepuk tangan dan melihat dengan pandangan kagum ke tengah arena.
Selain menikmati atraksi menakjubkan dari salah satu satwa hebat Way Kambas, para pengunjung juga bisa berkeliling taman nasional dengan menunggang gajah.
“Paman curang, ah. Katanya raksasa, ternyata gajah.” Lisa mencubit pinggang paman saat mereka bersafari di atas punggung binatang hebat itu.
“Gajah kan sama dengan raksasa. Sama-sama bertubuh sangat besar.” Paman Raka terkekeh. “Gimana, raksasa teman paman ini…dia baik, kan?”
Lisa mengangguk. “Tetapi Lisa pernah lihat berita di televisi, ada gajah yang mengamuk dan merusak perkampungan. Berarti mereka jahat dong, Paman?”
“Tidak, Lisa. Justru yang jahat itu manusia yang sudah merusak habitat gajah. Mereka menebangi pepohonan untuk kepentingannya tanpa melakukan reboisasi atau penghijauan kembali. Akibatnya, gajah mengamuk karena tempat berlindung dan sumber makanannya berkurang drastis. Untuk itulah, Taman Nasional Way Kambas ini didirikan agar gajah-gajah liar bisa dilatih dan hidup berdamai dengan manusia.”
“Taman Nasional Way Kambas ini khusus untuk gajah saja ya, Paman?”
Paman Raka menggeleng. “Selain gajah, ada penangkaran satwa badak dan harimau sumatera, mentok rimba, juga buaya sepit. Di bagian pesisir yang berawa sering ditemukan berbagai jenis burung, contohnya bangau tongtong, sempi dan biru, kuau raja, dan pependang timur. Beragam tanaman pun bisa dijumpai di sini, seperti api-api, pidada, nipah, serta pandan.”
Lisa manggut-manggut. Selain wawasannya bertambah luas, ia sangat senang karena liburan akhir pekan kali ini bisa berinteraksi langsung dengan raksasa Way Kambas yang baik dan jinak.

Gresik, 7 Februari 2018

Pesta Kematian


Cerpen Muna Masyari (Koran Tempo, 17-18 Februari 2018)
Pesta Kematian ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo
Pesta Kematian ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Janda setengah tua itu telah merencanakan pesta untuk kematiannya sendiri. Lihatlah! Semur sapi kentang, rendang, daging bumbu rempah, kuah santan, daging kuah kuning, lodeh nangka muda, sate, telur rebus digoreng berlumur tepung, memanjakan selera pelayat yang tentunya sungguh sangat jarang menikmati masakan semacam ini, kecuali ada acara komantan [1] atau orang mati.
Ia, janda setengah tua itu, telah mengumpulkan uang untuk pesta kematiannya sejak bertahun-tahun lalu. Menyembelih sapi merupakan adat kematian yang disakralkan di kampungnya. Sembelihan sapi bisa menunaikan akikah untuk yang baru saja mangkat, menghargai pelayat dengan jamuan laik, sekaligus petuah nyata bagi yang masih hayat agar sifat pelit tidak menguasai tabiat.
Di bawah bantal, tempat kepalanya terkulai setelah roh dijemput malaikat ajal, ditemukan kantong kain kumal berisi sejumlah recehan dan lembar-lembar uang kucal. Sebagian uang itu sudah ditarik dari edaran beberapa tahun silam. Setelah dihitung, cukup untuk membeli dua ekor sapi besar dan kebutuhan dapur lainnya. Ditambah dengan hasil penjualan sepasang sentar [2]—yang kauhadiahkan pada malam pertama kita—berbungkus plastik bening yang ditemukan di antara tumpukan uang itu.
Tidak ada yang tahu pasti pada jam dan menit ke berapa ia meninggal. Tubuhnya ditemukan sudah terbujur kaku dan beku di atas lincak—tempat kita sering berbagi kehangatan dalam dingin malam pada musim hujan dan awal-awal kemarau—ketika istri tetangganya mengantarkan bumbu rempah, kemiri, cabai merah, kentang, dan minyak goreng, sepulang dari pasar. Padahal kemarin sorenya ia masih mendatangi rumah tetangganya itu untuk memesan barang belanjaan tersebut.
“Untuk apa belanja sebanyak ini?” istri tetangganya bertanya heran waktu itu.
“Ada perlu saja,” katanya.
Biasanya, ia hanya memesan tahu dan bawang merah. Kadang setumpuk teri basah seharga dua ribu rupiah. Tentu terkecuali menjelang Lebaran—dan saat mengenang tanggal dan bulan kematianmu yang tak pernah kulupa.
Saat menyerahkan uang itulah, tanpa sengaja istri tetangganya bersentuhan dengan tangan janda setengah tua itu.
“Tanganmu panas sekali. Bibbik [3] sakit?”
Tidak langsung menjawab. Hanya terbatuk. Patah-patah. Matanya basah memerah. Tampak rekat pada bulu mata.
“Mau dikerokin, Bik?”
“Besok saja, sepulang kau dari pasar,” ujarnya.
Ia pun pamit pulang dengan sesekali terbatuk hingga terbungkuk-bungkuk. Istri tetangganya menatap penuh iba.
Surut ke belakang, seminggu sebelum dijemput malaikat ajal, janda setengah tua itu meminta tetangganya menjual dua kambing yang dipelihara sejak suaminya masih ada. Itu pun setelah ayam-ayam di kandang juga habis terjual.
“Kenapa dijual semua?” tetangganya bertanya sambil menurunkan dua kambing dari tangga kandang.
“Capek mengurusnya,” tersengal batuk sebentar.
Sejak suaminya meninggal, hanya dengan ternak piaraan itulah janda setengah tua itu hidup. Berbagi sepi. Berbagi kasih.
Pada sepasang mata dua kambingnya ia melihat tatapan hangat lelaki yang telah meninggalkan dirinya pergi. Kenyinyiran mulutnya memberi kebahagiaan tersendiri, serasa mendengar omelan sang suami—tentu saat kau mengomel karena secangkir kopi tak segera terhidang, saat sayur keasinan, saat kehilangan korek sehabis makan hingga harus menyulut ujung rokok ke mulut tungku. Kau tahu? Saat mengomel wajahmu terlihat lucu. Lucu sekali!
Pun, keributan anak ayam saat berebut makanan mengingatkan impiannya pada bocah-bocah yang tak pernah ia lahirkan hingga usia pernikahannya terpenggal ajal.
Setelah ayam-ayam dijual, janda setengah tua itu seperti seorang ibu ditinggal anak-putu. Akan tetapi, ia memang tidak mau kematiannya menjadi kepergian yang piatu. Hasil penjualan ayam ia belanjakan barang kebutuhan untuk hari kematian nanti. Termasuk dua kambing betina-jantan yang telah menemani kesendiriannya, akan segera digiring ke pasar dan kepergian keduanya akan menggenapi kesepian.
Setelah diminumi air dedak, dipakani daun pisang hingga kenyang, si tetangga menyeret dua kambing gemuk itu ke pasar hewan. Hasil penjualannya disuruh belikan beras, gula, bawang putih, biji kopi, pada istrinya, atas permintaan si janda setengah tua.
Hari ini, ia telah sempurna merayakan kepergian dengan pesta kematian sebagaimana yang direncanakan. Jenazahnya diantar ke pekuburan dengan ruap aroma kembang seperti keberangkatan mempelai—apakah kau masih ingat aroma pernikahan kita dulu?
Sekembali pengantar jenazah dari pekuburan, tenda-tenda dibangun menyungkupi seluruh halaman, tempat penyambung tahlil nanti malam—dan malam-malam berikutnya—yang jumlahnya mencapai ratusan. Seekor sapi gemuk disembelih. Para ibu sibuk menyiapkan olah masakan yang sungguh sangat jarang dinikmati oleh si janda setengah tua semasa roh masih bersemayam di kandung badan. Tentu aku akan merasa bahagia dengan pesta kematian itu….

DUDA tua itu tidak pernah ingin merencanakan pesta untuk kematian dirinya. Menurutnya, kepergian tidak harus dirayakan dengan penyembelihan seekor hewan dan membuat olah masakan yang beragam. Peran pelayat justru sebagai obat bagi keluarga yang ditinggal mangkat—meskipun aku tidak memiliki keluarga, bukan sekadar penikmat makanan lezat.
Ia memang tidak begitu merumitkan hidup—tentu saja berbeda dengan cara berpikirmu yang rumit itu. Semua dijalani seiring suara hati. Seperti air mengalir, dan tetap meyakini pemberhentian dalam kubangan yang tubirnya tidak akan bisa dipanjat; liang lahat.
Sejak ditinggal istri, hidup bersendiri membuat hari-harinya lebih banyak dihabiskan di pasar hewan dan warung yang menyediakan kopi, gorengan, serta sundal murahan–istilah yang kaugunakan untuk rokok lintingan noncukai, dengan rasa cemburu.
Duda tua itu ditemukan mati pada pagi hari, di serambi warung kopi. Puntung rokok berserakan di lantai, di antara dahak berdarah yang mulai dikerubung lalat. Orang-orang meyakini sangkaan sendiri; ia mati dengan penyakit paru parah yang tak pernah mencoba mengobati.
Semalam ia memang tidak beranjak pulang hingga semua pengunjung bubar. Batuknya senyinyir kambing lapar. Meskipun begitu, jemari tangannya tetap menjepit sebatang sundal murahan dan kepulan asap kian membuat napasnya sengal—ketika batuk separah itu biasanya kau segera mengambilkan air minum sambil berceramah panjang-lebar, menyuruhku berhenti merokok!
“Warung ini akan ditutup, apa kau tidak akan pulang?” perempuan pemilik warung bertanya dengan mata sipit terserang kantuk.
“Aku akan duduk-duduk di luar. Kau tutup saja!”
Ia pun beranjak meninggalkan bangku panjang dan cangkir kopinya yang tinggal ampas. Memungut korek di atas meja. Duduk di lincak serambi. Sendiri.
Semakin larut, dingin malam kian rapat meringkus badan. Pelepah nyiur di tepi jalan diam tak berkutik. Dadanya terasa sesak seperti ruang sempit dipenuhi gemulung asap. Batuknya tersendat. Suara-suara lesap.
Tiba-tiba ia merasa malam begitu sepi. Begitu sunyi. Sunyi yang mengepungnya dengan angkuh. Ia menjadi begitu rapuh. Luluh. Rubuh. Ingatannya melayang. Jauh ke masa silam. Aku teringat hari pernikahan kita. Tentang sampirmu yang sobek pada malam pertama. Denyit lincak yang terdengar lebih nyaring di sunyi malam dan sering menerbitkan kecemasan di matamu; malu di dengar mertua. Teringat aroma rambutmu yang basah di pagi hari dan membuatmu malu keluar kamar untuk segera membuatkan secangkir kopi.
Entah pada jam dan menit ke berapa hidupnya yang seperti air itu berhenti mengalir. Terjebak dalam kubangan curam tanpa dasar. Asing, tak bertuan. Berpusar-pusar.
Pemilik warung menemukan tubuhnya sudah beku dan kaku. Bergelung badan dalam sarung. Perempuan pemilik warung itu berteriak panik. Tetangga berdatangan dan memeriksa tubuh dingin berbau apak. Bau asap rokok, keringat, bau kambing, amis dahak, bersekutu menyengat. Mengaduk isi perut. Daki menempel tebal di ujung lengan dan kerah baju.
Jasad duda tua itu digotong ke rumahnya yang lebih mirip penyimpanan barang tak laik pakai. Baju-baju dan sarung bergelantungan di paku dinding. Sebagian lagi berserak di tempat tidur. Sarung bantal terlempar ke sudut lincak tanpa kasur. Kapuk keluar dari balik lubang guling yang bolong dimakan tikus. Plastik bungkus rokok dan puntung berserakan di lantai. Jaring laba-laba dan wang-sawang bergelayut di atap.
Tidak ada uang di bawah bantal. Tidak ada bahan-bahan masakan di dapur. Tidak ada sapi untuk disembelih sebagaimana adat kematian yang disakralkan. Hanya ada seekor kambing kurus di kandang dan lima anak ayam yang baru disapih. Itu pun harus dijual untuk membeli kain kafan dan melunasi utang tiga cangkir kopi, gorengan, dan sundal murahan di warung langganan.
Jasad duda tua itu dimandikan, dikafankan, lalu diusung ke pekuburan dengan ritual paling sederhana, seperti bocah piatu tanpa sanak keluarga. Tidak ada makanan lezat untuk merayakan kepergian. Tidak ada pesta kematian. Kematian piatu seperti itu apakah akan membuatku ingin menjadi pengantin kembali? Entahlah!
Sepasang suami-istri duduk di serambi, pada senja hari. Saling berbagi tentang bayang-bayang kematiannya sendiri di hari tua nanti.

Madura, Januari 2018

Catatan:
[1] pernikahan
[2] giwang
[3] Bibi

Muna Masyari, bermukim di Pamekasan, Madura. Cerpen-cerpennya dimuat di sejumlah media. Penulis Cerpen Pilihan Annida 2011.

Ziarah Kepayang


Cerpen Martin Aleida (Kompas, 18 Februari 2018)
Ziarah Kepayang ilustrasi K Nawasanga - Kompas.jpg
Ziarah Kepayang ilustrasi K Nawasanga/Kompas
Lima puluh tahun…! Rentang waktu sepanjang itu tak membawa perubahan di sini. Jembatan yang terbuat dari kayu besi, masih tegak seperti yang kukenal setengah abad lalu. Hitam legam. Penduduk yang akan membawa hasil bumi ke kota, sejauh tujuh kilo, di muara sungai, tetap harus mengalah. Menunggu air sungai surut supaya sampan yang sarat bisa melintas di kolong jembatan.
Jalan diapit sungai kecil, yang kami sebut bendar, tetap seperti ketika kulewati dulu. Jalan di mana orang-orang Tionghoa dari kota datang di musim berburu, dan pulang memanggul babi hutan yang masih berlumuran darah, hasil buruan yang ditinggalkan begitu saja oleh orang kampung yang mengharamkannya. Juga uangnya! Di jalan ini aku pernah terjerembab ditindih gerimis, mencium tanah, dalam perjalanan berkilo-kilo bersama Abang menuju pasar malam. Bau tanah liat di tapak kakiku masih seperti lima puluh tahun lalu.
Aku menyeberangi titian. Berhenti, merenung di depan gundukan tanah. Kata Emak, seminggu setelah aku lahir, pesawat tempur Jepang meraung-raung di langit. Untuk menyelamatkan diri, aku dia bopong dan sehari-semalam kami bersembunyi di rimbun pohon nibung di situ. Kini, pohon yang batangnya berduri itu sudah tiada.
Rumah di mana aku dilahirkan tak berbekas. Kuingat, dulu, di belakang rumah membentang lahan tempat ayah menjemur kopra. Dipagari batang-batang kayu untuk menghambat babi. Yang masuk melalui celah pagar itu malam hari, paginya ditemukan panik, tak bisa menyelusup keluar karena perut mereka buncit kekenyangan. Ayah dan Abang menemukan ladang perburuan yang mudah di situ. Mereka masuk bersenjatakan pentungan. Terdengarlah jerit kematian meringkik-ringkik menjemput datangnya pagi, bersipongang sampai jauh ke dalam hutan.
Beberapa ratus depa dari tanah di mana aku dilahirkan, yang menjadi tujuan ziarah ini, adalah rumah Atok yang ikut membesarkanku. Di sini pun tak ada yang tersisa. Juga tiga pohon durian yang mengelilingi rumah itu, dulu. Kecuali satu. Kolam tempat kami berkecipak-kecipung. Lama aku berdiri di tubirnya. Memungut dahan kering dan menyodokkannya berkeliling ke dasar kolam. Siapa tahu di situ aku akan menemukan sebuah beduk, yang juga terbuat dari kayu besi. Namun, ujung dahan tak menemukan artefak yang menjadi tanda yang tak bisa dilepaskan dari denyut kehidupan di hamparan kampung yang bernama Sungai Kepayang, di pesisir Sumatera Timur ini.
Aku tertanya-tanya bagaimana sepenggal kayu besi, keras seperti namanya itu, bisa dibolongi pinggangnya. Kalau dipukul suaranya yang bulat menggetarkan dan menggema jauh melampaui batas kampung. Aku juga tak tahu bagaimana beduk seberat itu digotong Atok menaiki anak tangga rumah panggungnya. Yang kuingat benar, beduk itulah yang jadi pusat peradaban kampung kami. Orang sekampung tidak lagi menduga-duga waktu dengan melihat jatuhnya bayangan pohon di tanah. Detak waktu berada di perut beduk itu. Atok memukulkan belantan kayu ke pinggang beduk sebagai penanda waktu. Jam-demi-jam. Tak kenal alpa! Mula-mula belantan dihantamkannya dengan cepat, tergesa-gesa, beruntun. Senyap beberapa detik. Lantas disusul dengan pukulan keras dalam jumlah ketukan sesuai dengan waktu yang mau dia kabarkan. Pedomannya ada pada jam swiss berbentuk bulat, berantai, yang terselip di saku ikat-pinggangnya. Jarumnya cuma satu, mengelilingi dua belas angka romawi.
Beduk itu tidak hanya menunjukkan waktu. Dia pengingat spiritual akan kebesaran Sang Pencipta. Lima kali sehari-semalam. Kalau sudah tiba saatnya, Atok menyentakkan ingatan dan iman penduduk dengan rentetan ketukan yang cepat. Hening sesaat. Dengan gemulai dia letakkan kedua tapak tangannya ke kuping. Menarik nafas dalam-dalam dan menyerukan asma Allah, mengingatkan seisi alam.
Atok bukanlah penganjur agama. Cuma pengembara. Dari Siabu di pesisir barat Sumatera Utara dia berjalan kaki berminggu-minggu menuju Tanah Deli di pesisir timur. Menyeberangi belantara tak bertepi. Penjelajahan itu dia putuskan setelah mendengar kabar-angin bahwa Belanda sedang membangun jalur kereta api menghubungkan Medan dengan kota-kota di sekitarnya. Dia ingin mengadu peruntungan, menjual tenaga sebagai pencari kayu bantalan.
Ketika berangkat, dia berbekal sebenggol-dua-benggol uang Belanda. Tetapi, modal utamanya, yang tak terlihat, tersimpan di dalam ingatannya: sejumlah doa, sejumlah jampi. Dia punya jampi untuk meluluhkan hati harimau. Juga meredakan amukan hujan dan badai. Kalau malam turun, dan tak mungkin lagi melanjutkan perjalanan, dia menghampiri rumah penduduk. Tak jauh dari kolong rumah, yang kami sebutkan tungkarang, dia mencabut selembar lalang. Melilitkannya di kelingking dan meniupkan jampi. Di dalam rumah, salah seorang penghuni kelabakan, lantaran perut sontak kejang-kejang. Dalam kebingungan, yang punya rumah turun mencari pertolongan. Nah, Atok menemukan pintu kesempatan.
“Mungkin saya bisa membantu. Boleh kutengok dulu?” begitu dia menawarkan jasa. Dia diundang naik ke rumah. Bersimpuh di samping si sakit, dia meminta disediakan segelas air putih. Merapal doa dan berkusip-kusip membacakan jampi. Diam-diam dia lepaskan ikatan lalang di kelingking. Si sakit dipersilakannya menghabiskan air segelas tadi. Orang itu pun pulih. Atok menolak imbalan, tetapi tidak menampik tawaran untuk tidur menunggu pagi di rumah itu. Begitulah dia menemukan penginapan.
Dari beberapa “ilmu” yang ingin dia wariskan kepada kami, sihir untuk membuat sakit dan menyembuhkannya lagi, diam-diam telah memicu hubungan tak nyaman di antara kami cucunya dengan Atok.
“Itu musyrik. Kejahatan,” kami memprotes.
Dia cuma nyengir. Pembangkangan, walau di dalam hati, membuat “ilmu” yang sudah kami terima akan luntur. Sakit hati kami mengingat berapa banyak yang jadi korban jampi-jampinya itu. Dan kami tak merasa kehilangan untuk menyerahkan kembali palias (merelakan), “ilmu” berserah diri terhadap serangan lawan, termasuk binatang buas. Sebrutal apa pun serangan akan lewat seperti angin.
Atok tetaplah sebuah pesona. Masih terang dalam ingatanku bagaimana kemampuannya berkomunikasi dengan harimau. Suatu malam aku dan Abang menginap di rumahnya. Gerimis sejak sore. Di luar, beberapa pohon durian menggoda dengan buah yang sudah matang, berat menggantung di dahan. Aku berharap sangat supaya angin menderas dan merontokkan durian yang sudah matang itu. Tambah larut malam, yang datang malah aum harimau. Suara alam yang tidak asing di kampung kami.
“Cobalah kau teriakkan ‘Morjuuuut …!’” katanya.
Aku berteriak sekuatnya: “Morjuuuut …!” Berdentam dadaku. Harimau tadi menyahut dengan aum yang lebih keras. Aku ketakutan, gemetaran, erat berpegangan pada tangan Abang. Tiang rumah terasa bergetar. Atok terkekeh-kekeh melihatku mengkret. “Sini,” bujuknya. “Ah .., jangan takut kau. Mengaum tak berarti marah.”
Dentum beduk dan azan subuh yang dikumandangkan Atok membangunkan kami berdua. Selesai shalat, kami bersiap-siap menuruni tangga.
“Eeee … Hendak kemana kalian? Memungut durian? Tunggu matahari terbit,” Atok menasihati. Dia bilang, berilah kesempatan Si Morjut makan lebih dulu. “Kecuali kalian berani mendekati dia sedang mengkubak durian,” katanya terkekeh.
Begitu pagi benderang, aku dan Abang menuruni tangga menuju pohon durian tak jauh dari kolam. Benar saja, di tanah yang lembab, di bawah pohon durian, berleret jejak kaki harimau. Juga kulit durian dengan bilik di mana dagingnya yang tergolek seperti tikus, licin bersih dijilatinya, melampaui kerapian manusia kalau makan.
Meskipun aku dan Abang berberat hati dengan ilmu hitam Atok, namun tak bisa disembunyikan kami bangga karenanya. Suatu masa, harimau mengganas di wilayah perkebunan karet, jauh dari kampung kami. Sejumlah penderes jadi mangsa. Diterkam harimau sebelum matahari terbit. Mereka menderes di pagi buta, karena saat itulah getah karet sedang deras-derasnya. Penduduk gelisah. Polisi cuma banyak cakap. Atok dipanggil. Kami tak tahu apa yang dia lakukan. Yang jelas setelah amukan harimau itu surut, beberapa kali polisi mendatangi Atok. Membujuknya supaya menerima beberapa stel kain pelekat dan teluk-belanga. Tapi Atok menampik.
Ilmunya itu membuat hidupnya tanpa pamrih. Begitulah, setelah beberapa lama membanting-tulang dalam pembuatan bantalan rel kereta-api di Deli, dulu, dengan uang yang dia tabung, Atok mengelana mencari lahan di mana dia akan menetap. Selain sebagai pengingat waktu dan saatnya shalat, dia juga memperkaya penduduk kampung dengan cara hidup yang baru. Selama ini, kalau memetik kelapa, mereka menggunakan bambu yang disambung-sambung sampai dua-tiga batang. Pengambil upahan, yaitu mereka yang bekerja berbagi hasil dengan yang empunya kebun, didesak keinginan untuk memetik lebih banyak, terkadang masih bekerja ketika matahari sudah di sumbu langit. Karena silau, kelapa yang jatuh jadi tak terlihat. Tak jarang menghantam kepala dan wajah mereka, mengakibatkan cedera parah.
Atok memperkenalkan budaya baru. Dia melatih beruk. Dengan seutas tali yang terhubungkan dengan pinggang hewan itu, Atok memberikan kendali dari bawah. Jika beruk itu sembarangan menjatuhkan kelapa muda, Atok akan menghardik, “Ah, janganlah begitu kau jang. Yang tua, yang tua …!” katanya. Dan, dengan beruntun seperti tak tertahankan jatuh bergedebamlah kelapa yang memang sudah waktunya dipetik. Sesilau bagaimana pun matahari tak ada halangan bagi penduduk untuk memanen kelapa.
Suatu ketika beruk itu betingkah. Gempar sekampung. Belantan pemukul beduk Atok dia larikan ke pucuk pohon durian. Ada yang memanjat pohon itu dan menghalaunya supaya turun. Beruk itu malah melompat ke pohon kelapa dengan belantan mendekap di dadanya. Sehari-semalam kampung tanpa penanda waktu. Ada azan, tapi tanpa beduk. Atok bilang beruk itu tersinggung karena pisang yang diumpankan kepadanya bukan pisang batu. Dia rupanya kehilangan keasyikan memilih biji pisang sebelum menyantapnya.
Hubungan Atok dengan penduduk sangat erat. Dan rasa hormat mereka kepadanya sedikit pun tak terganggu oleh perbedaan di kotak suara ketika pemilihan umum pertama berlangsung di republik ini. Cuma ada satu suara untuk gambar bulan-bintang. Dan itu pilihan Atok. Tak heran, pada masa kampanye, dia membujukku menempelkan poster partai rumahnya.
“Begitu banyak gambar, kenapa Atok memilih yang ini …?” desakku.
Seraya tertawa dia jawab: “Bulan dan bintang itu barang di langit. Yang lain buatan manusia. Palu-arit bikinan orang. Kerbau takkan bisa hidup hanya dengan kepala.”
Alkisah, hanyut oleh angan-angan, aku meninggalkan kedua orangtuaku di kota kabupaten awal 1960-an. Aku berkunjung ke kota itu 15 tahun kemudian untuk memastikan kepada Emak-Ayah, Atok-Nenek, dan sanak-saudara bahwa aku sehat walafiat setelah pengejaran berdarah terhadap ratusan ribu manusia menjelang akhir 1965.
Aku berhanyut-hanyut dalam sampan menemui Atok di hulu sungai. Usia menerbangkan semua giginya. Karena hanya akan mencederai kesyahduan, Atok memutuskan tidak mengumandangkan azan lagi. Beduk masih menggantung di ujung tangga, tetapi dibiarkan menganggur.
“Berapa cicit yang kau kasi aku?” tanyanya memelukku berlama-lama. Dia terkekeh ketika kuceritakan keadaan anak-istriku.
“Atok,” ucapku lembut. Dan kukeluh-kesahkan kepadanya, bahwa ketika terjadi pengejaran besar-besaran terhadap orang-orang komunis dan kiri lainnya akhir 1965, Kakak dan Abangku begitu khawatirnya, sehingga mereka membawa buku-bukuku ke seberang sungai. Dan menanamnya di kampung Cabang Kiri. Padahal, tak ada palu-arit di buku itu. Yang ada “Matinya Seorang Petani”, kumpulan puisi Agam Wispi. “Terowongan”, buku kecil berisi satu cerita pendek Gorki yang diterjemahkan begitu bagusnya oleh Iramani. Ada cerita pendek Guy de Maupassant, “Kalung”, yang kugunting dari majalah. Termasuk pula “Tenggelamnya Kapal van der Wijk” Hamka.
“Kakak, Abang tak mau menunjukkan di mana buku itu mereka tanam.”
“Sudah dikubur bertahun-tahun, kertasnya sudah lumat. Untuk apa kau lagi itu? Bukankah buku itu sudah ikut mendewasakanmu. Kau diantarkannya ke banyak benua dan daratan. Konstantinopel kau singgahi. Patung di Praha kau raba. Menara kembar Amerika kau panjat. Tapi, Noor, ada yang kau lupa. Lain kali, singgahlah ke Mekah. Tunaikan ibadah haji, satu dari rukun iman lima perkara yang tak kesampaian bagiku. Manakala kau tawaf, nanti, meskipun hitam, belailah hajarul aswad. Cium, bisikkanlah nama Atok sebanyak angka yang ditunjukkan jam di tanganmu. Panggillah namaku baik-baik: Abdul Hakim. Bukan Lebai Salawat, julukan yang diberikan orang se-Sungai Kepayang padaku. Aku sudah takkan sampai. Semoga bagi Allah mendengar namaku itu sudah lebih dari cukup sebelum aku mati.”

Martin Aleida, lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Dalam usia 73 tahun merayakan hidupnya dengan berkelana di beberapa negara Eropa. Pulang menuliskan naskah buku berjudul Tanah Air yang Hilang, tentang orang Indonesia yang tak bisa pulang ke tumpah darah mereka.
K Nawasanga, pelukis asal Desa Lod Tunduh, Ubud, Bali. Ia kerap menggelar workshop dan mengikuti residensi. Bulan Maret nanti, ia mengikuti program artist in resident di Wangga Wangga Regional Art Gallery, New South Wales, Australia.