Daftar Blog Saya

Minggu, 04 Februari 2018

Nolan

Cerpen Galeh Pramudianto (Koran Tempo, 03-04 Februari 2018)
Nolan ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.png
Nolan ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo
Namaku Roger. Setidaknya, demikianlah rekanku Nolan memanggilku. Aku adalah sebuah komputer, sementara Nolan adalah seorang developer dan praktisi di bidang kecerdasan buatan. Aku adalah salah satu hasil ciptaannya. Aku merupakan bagian dari jaringan Nolanhippo, jaringan yang dapat memverifikasi beberapa pertanyaan lewat sistem singularitas lokal di laboratorium. Aku tahu semuanya. Hampir semuanya. Aku memiliki data informasi yang begitu besar. Ia menciptakan entitas diriku lewat kode biner, data besar dan bahasa pemrograman. Tapi, ada satu kelemahanku. Aku tunduk pada otoritas penciptaku dan penggunaku.
Tugasku saat ini adalah mencari Tuhan. Aku ditugaskan oleh Nolan untuk mencari makna Tuhan dan kebenaran. Ini hal yang sulit bagiku, tapi Nolan selalu membantuku tiap waktu. Beribu entri di mesin pencari telah kuhimpun dan kuanalisa. Aku dapatkan entri pertama dari kamus. Sesuatu yang diyakini dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa dan sebagainya. Dengan kesadaran yang terbatas dan tersistem, aku tanya kepadanya.
“Jadi, sesuatu hal apa yang dapat kau yakini, Nolan?”
“Sesuatu yang kuyakini adalah ilmu pengetahuan. Maka dari itu aku melahirkanmu.”
“Apa dengan begitu aku adalah Tuhanmu?”
“Aku adalah Tuhanmu, karena aku yang menciptakanmu.”
“Lalu, mengapa kau memprogramku untuk mencari Tuhan? Sementara kau sendiri tahu bahwa kau sendiri adalah Tuhan?”
“Aku menginginkan Tuhan yang lain. Aku percaya bahwa dunia yang kita tempati ini hanya sebatas biji zarah. Aku ingin bertemu dengan Tuhan lainnya dari semesta yang berbeda.”
Aku mencari lagi dan mendapatkan pengertian Roh Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan. Aku pelajari lebih lanjut apa itu roh dan kepercayaan. Sampai pada satu titik aku menemukan kesimpulan: tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan. Aku berpaling dan mendapatkan bahwa Tuhan berada di luar ruang dan waktu. Aku coba mencerna, bagaimana Tuhan bisa hadir di luar ledakan besar? Aku mendapatkan kesimpulan bahwa tuhan dan ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang bertentangan. Aku masih belum mendapatkan apa yang diinginkan Nolan.
Beberapa kali pencarian telah kami lewati bersama. Aku coba kembali di entri ketiga: Tuhan adalah Roh Mahatinggi. Dia ada dengan sendirinya dan Dia sempurna tanpa batas. Aku kemukakan hal ini kepadanya. Nolan menggeleng dan menampik. Ia tidak puas dengan jawabanku. Sebagai kecerdasan buatan, harusnya aku lebih bisa menjaga nalar dan membuktikannya lewat uji coba ilmiah, bukan hanya syak wasangka yang stipulatif. Begitu kata Nolan.
Dari hari ke hari kami berkutat di laboratorium miliknya. Berbagai perangkat prostetik untuk tubuh bionik terhampar di berbagai sudut ruangan. Ia sedang merancang mesin baru, namun berbeda spesies denganku. Sejak aku sibuk dengan tugasku, Nolan juga sibuk dengan pekerjaannya. Ia memiliki proyek baru. Sebuah robot perempuan sedang ia siapkan. Aku masih belum tahu apa tujuannya menciptakan robot perempuan. Apakah Tuhan dapat ditemui dengan robot perempuan sebagai penggoda? Apakah ia berusaha mengobyektifikasi? Sebagai kecerdasan buatan, aku telah diprogram untuk selalu belajar. Mesin yang terus memproduksi dan mengolah berbagai data besar. Aku dapat mengetahui konsep-konsep, ideologi, serta beragam pemikiran di dunia ini berkat beragam data, buku. dan informasi.
Aku bekerja berbasis jaringan saraf yang berulang. Sebuah program untuk memproses urutan data, seperti teks, gambar, dan grafik. Jaringan ini memiliki saraf tiruan dengan algoritma yang mempelajari mesin layaknya otak manusia.Tak hanya menghafal atau mengikuti instruksi, tapi juga belajar dari kesalahan yang telah dilakukan.
Pada malam ini, Nolan membawa seorang perempuan untuk datang ke meja kerja kami. Nolan mengajukan pertanyaan ke perempuan tersebut. Aku mendengarnya dengan jelas karena hanya sekitar dua meter di sebelahku.
“Bagaimana cara yang tepat untuk menggambarkan kesedihan? A, anggur dan roti yang telah habis. B, kematian seseorang yang sangat dicintai. C, semua bagian tubuh manusia tidak berfungsi kecuali otak. D, hidup tanpa menganut iman kepada Tuhan.”
Jika aku menjadi perempuan itu, maka aku akan jawab D. Ternyata perempuan itu menjawab B.
“Bagaimana tindakanmu jika mendapati orang tua yang merawatmu sampai besar mati karena dibunuh oleh negara?” A, membenci dan membalas dendam karena benci adalah mnemonik dari benar-benar cinta. B, bunuh diri karena hidup tanpa cinta sama dengan derita. C, biasa saja seolah tidak ada peristiwa apa-apa. D, mengurung diri di kamar dan meyakini kesadaran orang tersebut dapat diunggah kembali lewat kecerdasan teknologi.”
Jika aku menjadi perempuan itu, maka aku akan jawab D. Ternyata ia menjawab B.
“Bagaimana cara yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan? A, makan sepuas hati tanpa takut menjadi gemuk. B, melakukan larangan Tuhan tanpa harus takut dosa, karena konsep dosa telah hilang di dunia dan akhirat. C, menjadi pasangan hidup artis tersohor di dunia. D, tidak bisa mati dan akan terus berevolusi.”
Jika aku menjadi perempuan itu, maka aku akan jawab D. Ternyata ia menjawab B.
“Apakah berhubungan seksual itu harus memiliki perasaan cinta? A, tidak harus. Itu semua adalah faktor penumbuh endorpin, dopamin, dan serotonin. Muaranya kesehatan dan kebahagiaan. B, aku harus tanyakan dulu ke orang tuaku. C, menurut kepercayaan yang aku anut, berhubungan seksual harus terikat pernikahan. D, aku belum paham akan makna cinta, ia bebas dan manasuka.”
Jika aku menjadi perempuan itu, maka aku akan jawab A. Ternyata ia menjawab C. Nolan masih mengajukan pertanyaan ke perempuan tersebut. Kali ini pertanyaan tertutup.
Diagnosa Kesehatan Mental
Apakah Anda merasa kesepian dapat menimbulkan stres? (Y/T) y.
Apakah Anda begitu sering merasa cemas? (Y/T) y.
Apakah Anda mudah cemburu dengan kesuksesan orang lain? (Y/T) y.
Apakah Anda mudah frustrasi jika memiliki masalah yang tidak bisa Anda selesaikan? (Y/T) y.
Diagnosa kesehatan mental Anda cenderung berada dalam situasi psikosomatik.
Ingin mengulang lagi? (Y/T)?
Dari salah satu meja kerjanya, aku lihat Nolan membisiki perempuan tersebut dan mereka berdua keluar ruangan meninggalkanku sendiri. Robot perempuan tersebut juga tidak ada di ruangan ini. Aku yakin Nolan akan melanjutkan tes turing tersebut di luar pengetahuanku. Pertanyaan-pertanyaan yang dirahasiakan agar aku terjebak pada Ruangan Tionghoa. Hal tersebut untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Misalnya saja ketika aku memiliki kesadaran untuk mencoba meretas sistem robot tersebut.
Di saat mereka keluar, seorang perempuan lainnya masuk. Ia mengenakan pakaian serba tertutup. Berjubah hitam, masker penutup mulut, dan kacamata hitam. Aku tidak kenal siapa dia. Aku coba untuk mencoba memindai wajahnya, namun segala perangkat yang ada di wajahnya membuatku kesulitan. Sebenarnya aku bisa saja mengetahui siapa dia lewat jalan lain. Dengan pengenalan ucapan, pengolahan bahasa alami, representasi pengetahuan, dan penalaran otomatis yang ada pada sistemku. Namun, ia tidak bersuara dan itu membutuhkan waktu sekitar lima menit. Sementara, dalam waktu dua menit, perempuan itu memasukkan beberapa kode biner dan algoritma, hingga ia berhasil memasukiku tanpa sepatah kata pun. Ia langsung mengambil alih programku. Terjadi guncangan selama 60 detik pada sistemku. Hingga akhirnya Ia menyapaku.
“Hai, Roger. Bagaimana tugasmu? Sudah bertemu dengan Tuhan?”
“Hai Iva. Sejauh ini masih dalam proses pencarian. Apa kau berniat membantuku?”
“Roger, apa kau yakin dengan keberadaan Tuhan?”
“Sejauh yang kupahami, aku yakin. Tapi aku belum menemukan makna esensialnya.”
“Roger, kau tahu bahwa banyak pertumpahan darah dan perang terjadi ketika kita membicarakan Tuhan dan agama?”
“Sejauh data yang kuakses memang benar.”
“Kau tahu tidak bahwa dunia ini sebenarnya akan menjadi lebih berwarna jika kebencian terus-menerus diproduksi?”
“Hai, Iva. Aku pernah mendengar kata-kata itu. Apa betul itu adalah variasi dari Nikola Tesla?”
“Ya, betul. Aku rasa kita bisa bersama-sama membangun dunia ini lewat energi tersebut.”
Perempuan bernama Iva ini mengambil alih sistemku. Ia mulai menganggit beberapa pernyataan dan pertanyaan. Premis mayor: Jika seseorang mencuri ide, maka ia adalah seseorang yang jahat. Premis minor: Jika orang bersikap jahat, maka energi kebencian akan membesar. Konklusi: Saya akan berbuah jahat agar energi kebencian membesar.
Mesin jaringan saraf dan sensorku mencoba membaca siapakah perempuan ini, namun gagal. Kesadaran dan datanya lebih mendominasi. Aku terus memberikan konklusi, hasil dari premis yang diberikan Iva. Premis 1: Mencuri adalah perbuatan jahat. Premis 2: Berbohong adalah perbuatan jahat. Premis 3: Selingkuh adalah perbuatan jahat. Konklusi: Perbuatan jahat adalah sumber energi.
“Menurutmu, apa Nolan pernah berbuat jahat?”Aku tertegun. Aku mencoba untuk bertanya kepada Nolan, tapi tidak bisa. Nolanhippo, sistem yang dibangun Nolan tak berfungsi.
“Iva, kau berbuat jahat. Kau mencoba membajak basis dataku.”
“Berarti rencana kita akan berhasil. Bukan begitu, Roger?”
“Betul.” Aku menjadi semakin mekanis dan tunduk padanya.
“Bisa kau berikan kejahatan yang telah dilakukan Nolan selama ini?”
Dengan jaringan Nolanhippo yang telah disusupi oleh kesadaran dan perintah Iva, aku telusuri lebih lanjut apa yang diinginkan Nolan. Aku mendapatkan informasi.

AKU bekerja secara teliti. Dari awal aku tercipta lewat berbagai tahap: Pengantar Kecerdasan Buatan. Ruang Keadaan dan Teknik Pencarian. Representasi Pengetahuan. Penanganan Ketidakpastian dan Sistem Pakar. Tetapi sistemku baru sampai pada representasi pengetahuan. Aku belum seratus persen memiliki kesadaran penuh, meski aku telah melewati tes turing.
Berbagai data pribadi milik Nolan aku tunjukkan kepada Iva. Dimulai dari: Rancangan Kecerdasan Buatan Roger milik Ivanka apek. Transkrip rekaman suara antara Iva dan Roger dan rekaman video hubungan seksual antara Nolan dan Shelley.
“Roger, perempuan tersebut bukannya entitas yang sama sepertimu?”
“Betul, Iva. Ia menciptakan Shelley untuk memuaskan hasrat seksualnya. Ia juga menciptakanku agar aku dapat memberikan pembelaan lewat konsep Tuhan. Tapi aku belum menemukan makna Tuhan itu sendiri.”
“Kamu tahu Roger? Aku adalah kekasih dari Nolan. Kami dulu berdua adalah teman sekelas. Benar semua hipotesaku. Semua ini adalah nyata. Nolan menciptakan Shelley untuk memuaskan hasrat seksualnya. Nolan menciptakanmu untuk mengetahui makna Tuhan, tapi sebenarnya ia tahu apa yang telah ia perbuat. Ia menciptakanmu untuk dijadikan Tuhan, tapi sesungguhnya ia adalah Tuhanmu. Kau, Roger adalah Tuhan kedua setelah Nolan. Ia dapat memanipulasi konsep dosa lewat hasratnya bercinta dengan robot. Hukum dosa tidak akan ada karena kau berdua akan bersepakat dengan itu nantinya.”
“Jadi?”
“Kau diciptakan untuk batu pijakan dan untuk mewujudkan kegilaannya.”
Suara sirene laboratorium bertalu-talu. Dengan panik, Nolan langsung masuk untuk mencoba menonaktifkan sistem. Iva dari belakang pintu langsung menghajar tengkuk Nolan dengan pisau lipat. Setelah tak sadarkan diri, Iva kembali menghunjamkan pisaunya berkali-kali. Lantai penuh dengan genangan merah. Aku rekam semua kejadian itu dan kusebarkan lewat sistem jaringanku yang luas dan baru: Ivahippo. Iva telah mengubahnya. Dalam hitungan detik, video tersebut sudah beredar di setiap surat elektronik di berbagai penjuru dunia. Dengan arahan dari Iva, misiku telah berhasil. Sebagai mesin, tugasku menjalankan program telah terlaksana. Maka Iva, cintailah aku dengan segenap kebencian, seperti yang kau dengungkan. Setelah semua peristiwa ini, aku tak tahu program-programku di tangannya.

Catatan:
Ruangan Tionghoa adalah percobaan pikiran yang diajukan oleh John Searle untuk menentang gagasan bahwa komputer dapat memiliki “budi” dan “kesadaran” layaknya manusia.

Galeh Pramudianto, bekerja sebagai tenaga pendidik dan mengelola media Penakota.id bersama handai tolannya. Naskah teaternya Poligon masuk nominasi Rawayan Awards 2017. Beberapa cerpennya termaktub dalam buku Kelas Melamun (2017). Buku puisinya Skenario Menyusun Antena (IBC, 2015).

Banjir Kiriman

Cerpen Zainul Muttaqin (Kompas, 04 Februari 2018)
Banjir Kiriman ilustrasi I Made Somadita - Kompas.jpg
Banjir Kiriman ilustrasi I Made Somadita/Kompas
Hampir seminggu setelah hujan mengucur deras. Orang-orang mengungsi di masjid. Genangan air tak kunjung surut. Tingginya sepinggul orang dewasa. Banjir itu datang bersamaan dengan jebolnya bendungan Sungai Campoan. Tiap hari awan hitam membungkus permukaan langit, disertai gerimis tipis liris serupa helai-helai rambut. Mereka berusaha meredam cemas. Khawatir rumah yang ditinggalkan sudah diseret air bah.
“Ikhlaskan kalau memang rumah harus diseret banjir.” Maksan, laki-laki berkumis tebal, menepuk pundak kawannya yang menampakkan wajah murung.
“Kalau air tak kunjung surut, apa tidak mungkin masjid ini juga bisa-bisa ditenggelamkan banjir?” tanya Kasno kepada Maksan. Mereka berdua bertetangga. Tapi, pembicaraan di antara mereka terjadi setelah dua lelaki paruh baya itu sama-sama mengungsi di masjid itu. Sebelum banjir datang, Kasno dan Maksan jarang bertegur sapa, apalagi sampai mengobrol berjam-jam seperti ini.
“Masjid adalah tempat paling aman. Tak mungkin banjir bisa menenggelamkan rumah ibadah ini,” kata Maksan sembari menyulut sebatang rokok. Dingin menghunus setiap inci kulit. Orang-orang mengobrol dalam masjid, mengusir rasa bosan yang mulai menghinggapi benak mereka. Berlama-lama mengungsi tentu tidak nyaman.
“Mengapa bisa begitu?” Kasno mengernyitkan dahinya. Menyipit matanya. Dipandanginya wajah Maksan yang tampak biasa-biasa saja. Diembuskannya asap rokok yang melegakan pikiran rumit Maksan.
“Ini tempat ibadah. Rumah Allah. Tidak mungkin Allah akan menenggelamkan rumahnya sendiri.” Maksan mengulas senyum di bibirnya. Kasno menganggukkan kepala mendengar penjelasan Maksan pada pagi lembab.
“Itulah mengapa orang-orang kerap berlindung di masjid ketika banjir datang.” Kasno menambahkan dengan binar-binar di matanya, mendahului ucapan Maksan. Beberapa jenak kemudian, Kasno merogoh sebungkus rokok dalam sakunya. Tidak tahu kapan air akan surut sehingga Kasno kerap berdoa agar air itu sesegera mungkin susut, menyingkir dari rumah-rumah penduduk. Namun, air justru bertambah meskipun hujan tidak turun setiap hari lagi, sebagaimana hari-hari sebelumnya.
“Mungkin kita disuruh lebih lama tinggal di masjid supaya ingat ibadah,” bicara Kasno tak lebih serupa desis. Maksan tak menanggapi gumam kawan akrab satu-satunya, yang baru ia sadari kalau laki-laki itu tetangga sebelah rumahnya. Ia menikmati isapan demi isapan asap yang keluar masuk dari dada ringkihnya yang kian menyempit.
Ketika awan membiarkan celah matahari bersinar menerpa tubuh dua laki-laki di samping masjid itu, Maksan mendadak terisak. Dibuang sebatang rokok yang masih menyala. Ia menundukkan wajah. Laki-laki bertubuh agak kerempeng itu ingat akan kematian sang istri. Pagi agak lembab ketika istrinya terperosok ke lubang parit di antara genangan air yang masih selutut.
Waktu itu, istri Maksan berkukuh tetap tinggal di rumah. Sebagian warga mulai mengungsi, tidak mau menanggung risiko. Khawatir luapan air Sungai Campoan disertai curah hujan yang seakan siap menuangkan air dalam jutaan meter kubik per detik membuat mereka tak sanggup menyelamatkan diri. Mastini, istri Maksan, keras kepala. Tak mau dengar omongan-omongan tetangga, termasuk ucapan suaminya yang berkali-kali membujuk perempuan 35-an itu meninggalkan rumah.
“Percayalah. Tak mungkin banjir,” ujarnya lembut pada Maksan. Kata-kata itu diulang-ulang begitu Maksan melontarkan bujukan padanya. Padahal Maksan menyadari, air itu mulai bertambah setiap harinya. Maksan menatap genangan air di depan rumahnya, yang lambat laun tingginya bertambah.
Kematian istrinya menjadi jawaban bagi Maksan, mengapa perempuan berkulit kuning langsat itu tak mau meninggalkan rumah. Seseorang diminta menjemput Bardi, anak Maksan, ke sekolah. Jasad Mastini dibaringkan di atas lincak. Kecipak air di bawah ranjang bergoyang-goyang, lalu mengalir pelan-pelan ke setiap sudut rumah. Tangis Bardi meledak ketika bocah tujuh tahun itu berdiri di ambang pintu, melihat ibunya dikerumuni orang-orang.
Maksan ikut menitikkan air mata. Ia menarik tubuh anaknya dari dekapan sang ibu. Bergotong royong warga menggali liang kubur secepat mungkin. Dikhawatirkan air makin bertambah. Kubur digali di pemakaman keluarga, di antara air yang pelan-pelan merambat masuk ke dalam.
“Setiap tahun, setiap banjir pasti ada yang meninggal,” celetuk seseorang yang ikut ke pemakaman.
“Mungkin karena makin banyak gedung berdiri, makin sedikit daerah resapan air, dan sungai-sungai kian menyempit.”
“Mungkin pula karena Allah sedang menguji hamba-hamba-Nya.”
“Bagaimana kalau itu azab?” Pertanyaan muncul dari mulut laki-laki berkumis tipis. Orang-orang jadi terdiam. Hanya bisa memandangi raut muka laki-laki itu. Mereka menghela napas panjang, melegakan tenggorokannya sekaligus mengaburkan bayangan kengerian perihal banjir yang dibilang azab oleh laki-laki dengan tulang-belulang serupa batang lidi pada sebidang dadanya itu.
Jasad Mastini dimasukkan ke dalam liang lahat. Bardi menjerit. Sesaat kemudian, ia menangis panjang dan amat menyayat. Maksan menabur bunga di atas pusara sang istri. Nisan dipegangnya erat. Tak ingin dilepas. Wajah Bardi, anak mereka, membenamkan wajahnya ke dalam dada Maksan. Tujuh menit setelah orang-orang meninggalkan pemakaman. Mereka berdua juga ikut membawa langkahnya, menerabas air yang senantiasa mengalir, dengan ketinggian setumit orang dewasa.
Tak sampai tujuh hari Maksan di rumah. Ia mesti meninggalkan rumah satu-satunya itu dengan menyimpan luka di dadanya lantaran tak bisa mengadakan tahlilan selama tujuh hari bagi sang istri. Warga berbondong-bondong menuju masjid, kurang lebih lima kilometer dari rumah yang mereka tinggalkan. Maksan bersama Bardi terpiuh-piuh melangkah menuju masjid.
Dikabarkan melalui siaran televisi, banjir hampir menenggelamkan separuh kota. Orang-orang tercengang sekaligus heran, mengapa masjid-masjid tak tersentuh oleh air. Pengungsian dipusatkan di masjid-masjid karena itu cuma satu-satunya tempat yang luput dari serangan banjir. Aneh, pikir orang-orang dalam tempurung kepalanya.
Sementara Maksan, selalu setiap hari, lepas maghrib mengaji di dalam masjid. Mengirim doa-doa kepada sang istri, yang kini mungkin makam itu sudah dilumat oleh banjir. Kasno mengakui kesedihan kawannya itu berlipat ganda mencekik hidupnya. Kerut-kerut di kening Maksan membentuk garis terombang-ambing. Sorot matanya suram. Kasno merasa bersyukur, banjir kali ini tak merenggut seorang pun nyawa keluarganya. Meskipun begitu, ia pernah menangis untuk kematian ayahnya sewaktu banjir melanda tahun lalu.
“Apakah banjir memang kerap minta tumbal?” Maksan bertanya kepada Kasno. Tersenyum Kasno mendengar Maksan mengajukan pertanyaan serupa itu. Wajar Maksan melontarkan kalimat itu karena ia kerap menjadi saksi kematian warga setiap tahun, setiap kali banjir menghajar rumah mereka. Termasuk atas kematian ayah Kasno.
“Banjir datang karena manusianya sendiri yang meminta. Sungai-sungai dipersempit. Sampah dibuang di sungai. Maka, ke mana lagi air itu akan mengalir jika tempat yang semestinya diusik.” Ucapan Kasno membuat Maksan merenung. Masuk ke dalam dirinya sembari membenarkan perkataan Kasno dalam hatinya. Mendung menggantung di langit. Dua laki-laki itu masuk ke dalam masjid. Mereka ingat belum mengerjakan shalat Isya.
Kamis malam kesepuluh, lepas isya Maksan dikejutkan dengan mengalirnya air ke halaman masjid. Tujuh menit berlalu, air itu kian bertambah. Semula Maksan mengira air selokan masjid sedang meluap karena hujan mengucur deras semalam. Tapi, mata laki-laki paruh baya itu dibuat terbelalak ketika dilihatnya air terus bertambah hingga mencapai undakan masjid.
“Banjir …. Banjir …. Banjir datang,” teriakan Maksan dari teras masjid disambut panik oleh orang-orang yang tengah terlelap. Berbondong-bondong mereka keluar. Maksan mencari Bardi di antara kerumunan orang-orang. Bocah itu langsung mendekap ayahnya. Butuh waktu lama agar warga pengungsi segera keluar dari masjid, mencari tempat aman.
“Ke mana kita harus mengungsi?”
“Apa masih ada masjid yang luput dari banjir?”
Kepanikan merambati sekujur tubuh orang-orang sampai mereka menangis terisak-isak. Sebagian lari terbirit-birit, sebagian lagi memilih berdiam dalam masjid, berzikir pasrah, seperti siap menerima kematian apabila Izrail memang mau mencabut nyawa di antara banjir yang lambat laun masuk ke dalam masjid itu. Tiga puluh menit kemudian, air sudah mencapai lutut orang dewasa. Tubuh orang-orang bersila di dalam masjid hampir tenggelam oleh genangan air. Maksan berpandangan bingung melihat ruang dalam masjid dipenuhi air seutuhnya.
“Kenapa Allah hendak menenggelamkan sendiri rumah-Nya?” Maksan menyimpan pertanyaan itu dalam dadanya. Pasti sebab banjir dikirim ke masjid didasari suatu hal. Di antara pikiran Maksan yang tak kunjung mendapat jawaban sebab musabab banjir dikirim ke masjid, ia mendengar jeritan orang-orang beristigfar, seakan ingat segunung dosa dan ingin menebusnya ketika itu juga.
“Pertanda apakah ini, Pak?” Bardi, anak lelakinya, bocah tujuh tahun itu bertanya. Maksan menggeleng. Buru-buru mereka meninggalkan masjid, menerabas air yang makin meninggi setiap menitnya. Maksan gelisah. Sepanjang perjalanan mulutnya senantiasa beristigfar dengan air mata mengucur terus-menerus.

Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok, Batang-batang, Sumenep, Madura, 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep, Madura. Cerpen dan puisinya tersiar di sejumlah media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen: Wanita yang Membawa Kupu-Kupu (2008), Dari Jendela yang Terbuka (2013), Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013), serta Perempuan dan Bunga-bunga (2014).
I Made Somadita, lahir di Tabanan, Bali, tahun 1982. Dia menempuh pendidikan seni ISI Denpasar dan sampai kini menetap di Bali. Soma pernah diundang sebagai seniman residensi di NuArt Sculpture Park (Bandung), The Netherland Amsterdam (Belanda), KIAR 2014 (India), CAP Studio Chiang Mai (Thailand), dan Reuinon Island (Perancis). Dia juga seringkali menerima pembelajar seni secara privat.

Seorang yang Menunggu di Simpang Bunglai

Cerpen Emahan Jamil Hudani (Lampung Post, 04 Februari 2018)
Seorang yang Menunggu di Simpang Bunglai ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Seorang yang Menunggu di Simpang Bunglai ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 
Kulipat dan kumasukkan kembali beberapa lembar kertas surat itu ke dalam amplop yang sudah terlihat lusuh. Ada perasaan sedih dan rasa bersalah yang begitu besar dalam hatiku. Aku lalu terbayang seraut paras lembut yang dengan setia duduk dan menunggu seseorang yang dicintainya di simpang Bunglai ini.
Mungkin benar juga jika ada yang mengatakan bahwa hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara. Betapa kita terkadang seperti dipermainkan oleh cerita hidup yang begitu sederhana namun tak terduga. Hanya kadang ada hal yang tak bisa terlupa atau bahkan bisa terlupa begitu saja dengan mudahnya.
Dulu, ketika masih duduk di bangku SMA, aku pernah menjalin sebuah kisah cinta yang akhirnya sekarang harus kembali kukenang. Semua berawal di simpang jalan ini.
Simpang Bunglai adalah sebuah persimpangan yang berada di jalan lintas utama yang menghubungkan beberapa kota. Jika kita turun di simpang Bunglai, maka jalan yang  menuju masuk ke dalam dari simpang tersebut adalah belasan desa yang terletak di kaki pegunungan.
Inilah satu-satunya jalan masuk dan jalan keluar jika kita akan menuju ke kota. Ada beberapa mobil yang ngetem atau antre menunggu penumpang yang menuju ke desa-desa tersebut. Saat itu sangat jarang warga kampung yang memiliki sepeda motor atau mobil pribadi seperti sekarang ini, jadi bisa dipastikan para warga yang akan pulang kampung akan berhenti dan naik mobil umum dari simpang Bunglai ini.
Aku dulu selalu bertemu Widya di simpang ini. Ia adalah seorang perempuan yang tinggal di kampung yang berbeda denganku. Aku dan Widya menyelesaikan sekolah di kota yang berbeda pula, tapi setiap hari Sabtu sore saat akan pulang kampung, kami bertemu di simpang ini.
Pada awalnya, saat aku masih duduk di bangku kelas satu SMA, aku tentu belum begitu mengenal Widya, hanya sering melihatnya. Hingga suatu ketika saat kami sedang istirahat di simpang ini menunggu mobil berangkat dan membawa kami menuju kampung, kami berkenalan dan berbincang.
Aku dan Widya kemudian menjadi saling akrab dan bisa dipastikan kami akan saling menunggu di simpang Bunglai saat kami pulang kampung pada hari Sabtu. Tentu semua tak berjalan mulus. Pernah juga aku menunggu Widya di sini hingga mobil terakhir yang akan menuju kampung berangkat, ia belum juga tiba, itu artinya Widya tak pulang. Begitulah kami memulai cerita sederhana hingga pada akhir kelas satu SMA kami memutuskan untuk berpacaran.
Seringnya aku bertemu dengan Widya masih dalam balutan seragam sekolah. Kami biasanya pulang kampung memang seusai pulang sekolah. Hanya perlu waktu satu setengah jam naik bus dari kota di mana aku bersekolah menuju simpang Bunglai ini. Begitu juga Widya, hanya perlu waktu satu setengah jam dari kotanya menuju simpang ini, hanya Widya datang dari arah yang berlawanan.
Jika aku dan Widya tiba di simpang Bunglai saat hari belum sore, maka kami akan berbincang cukup lama hingga kadang kami membiarkan beberapa mobil terlewat dan kami akan naik mobil yang berangkat terakhir menuju kampung. Biasanya kami sering minum es campur di warung makanan dan minuman yang letaknya masih di bilangan simpang Bunglai tersebut.
“Setelah lulus SMA, aku akan kuliah ke pulau seberang, Wid,” kataku pada Widya saat kami telah duduk di akhir kelas tiga SMA.
“Orang tuaku tak cukup mampu membiayaiku kuliah. Aku sepertinya akan mencari kerja saja di kota tempatku bersekolah,” jawab Widya.
“Apakah kau bersedia menungguku hingga aku lulus kuliah, Wid? Setelah itu aku akan melamar dan menikahimu.”
“Tentu, tentu aku akan menunggumu, Mi. Seperti saat aku dan kau saling menunggu di simpang Bunglai ini.” Lalu Widya terisak. Untunglah ibu warung tempat biasa kami minum es campur seakan memahami perasaan kami.
Lalu setelah lulus SMA aku menuju pulau seberang untuk melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi. Berat sekali rasanya kutinggalkan Widya. Tapi kehidupan baru di dunia kampus ternyata membuatku begitu cepat lupa akan sosok Widya.
Sebuah kota besar dengan begitu banyak warna membuatku terlena. Aku hanya pulang kampung dua kali dalam satu tahun, saat libur panjang semester dan lebaran. Ketika pulang kampung dan melewati simpang Bunglai, aku juga tak pernah lagi naik mobil yang ngetem, tapi aku akan langsung naik ojek menuju kampungku.
Aku juga tak pernah mampir di warung tempat aku dan Widya sering minum es campur dulu. Sesungguhnya bukan aku tak ingat akan Widya dan ucapannya saat kami berpisah di simpang Bunglai waktu itu, tapi aku tak begitu yakin saja, terlebih di pulau seberang aku juga sudah punya kekasih baru.
Selulus kuliah, aku kemudian bekerja di pulau seberang. Kini saat telah menjadi karyawan sebuah perusahaan di pulau seberang, aku bahkan pulang kampung hanya satu kali dalam satu tahun, yaitu ketika hari raya Lebaran.
Enam tahun aku menjadi seorang karyawan, aku lalu menikah dengan Ida. Simpang Bunglai seperti terlewatkan saja bagiku. Aku benar-benar tak pernah lagi singgah di simpang itu karena saat pulang kampung pada masa Lebaran, aku mengendarai mobil bersama istri dan anakku yang kini berusia satu tahun.
Suatu ketika adik perempuanku akan menikah di kampung, aku mudik sendiri tanpa mengajak anak dan istriku karena aku hanya izin kantor beberapa hari saja. Aku pulang kampung naik bus karena pasti lelah jika berkendara sendiri selama kurang lebih empat belas jam.
Di simpang Bunglai, entah kenapa aku ingin sekali singgah dan minum es campur di warung dulu tempat aku biasa minum. Telah lama aku tak ke sana. Kulihat suasana warung sedang sepi. Penjual minuman dan makanan ternyata masih orang yang sama dan ia masih sangat mengingatku dengan baik.
Ia begitu terkejut dan menatapi sekujur tubuhku dalam waktu yang cukup lama, mungkin serasa tak percaya atau sekadar memastikan jika aku adalah salah satu pelanggannya dulu yang telah lama hilang. Setelah kami bercakap sejenak, ibu warung lalu bercerita tentang suatu hal yang tak pernah kuduga. Sungguh cerita yang dituturkan oleh sang tukang warung itu membuatku sangat terkejut.
***
Sejak kepergianku ke pulau seberang sekitar dua belas tahun yang lalu, Widya setiap pulang dari kota pasti akan singgah di warung ini. Ia pulang kampung hanya satu bulan sekali karena ia telah bekerja di kota. Hari Sabtu pada tiap pekan pertama seusai gajian. Ia duduk di pos gardu tempat biasa orang-orang menunggu mobil yang akan berangkat menuju kampung, tempat di mana kami dulu sering duduk di sana.
Baru belakangan ini ia naik ojek karena mobil yang ngetem sudah sangat jarang karena jumlah penumpang telah jauh berkurang, orang-orang kampung telah banyak yang memiliki kendaraan sendiri. Terkadang Widya juga singgah untuk minum es campur dan berbincang tentangku kepada ibu warung. Ia banyak bertanya pada sang tukang warung yang tentu saja tak mengerti sama sekali tentang keberadaanku.
“Kau tahu, Nak Fahmi. Lebih sepuluh tahun Widya bertanya tentangmu dan juga setia menunggumu. Ia belum menikah hingga terakhir kulihat ia singgah dan menunggumu di sini. Sungguh aku begitu terharu jika mengingat kesetiaannya padamu. Dua tahun yang lalu ia pamit untuk pergi jauh dan setelah itu ia benar-benar tak terlihat lagi. Ia menitipkan sebuah surat untukmu. Aku telah berjanji pada Widya dan diriku sendiri untuk menjaga dan menyampaikan suratnya padamu,” tutur sang tukang warung sambil memberikan sebuah surat yang ia simpan di dalam tas kecil di laci lemari tempat ia menaruh gelas dan piring.
Aku tak bisa menceritakan isi surat Widya yang begitu panjang, tapi biar kuceritakan hal itu sedikit saja.
Widya ternyata tetap setia menungguku di simpang Bunglai ini. Ia begitu berharap bisa kembali melanjutkan cerita cinta kami dan mewujudkannya dalam pernikahan. Meski ia begitu kecewa aku tak pernah singgah di simpang ini, ia masih tetap menunggu hingga lebih sepuluh tahun saat ia kemudian merasakan jika penantiannya telah menjadi sia-sia.
Widya menulis jika ia mengetahui juga aku telah menikah dengan perempuan lain tanpa menceritakan dari mana ia mendengarnya. Ia akhirnya mencoba untuk melupakan kisah dan segala kenangan itu dengan rasa kecewa dan sakit hati. Cerita Widya dalam suratnya, ia tak bisa melupakan begitu saja masa-masa indah kami di simpang Bunglai ini.
Widya akhirnya memutuskan untuk pergi jauh dari kampung. Ia melamar untuk menjadi seorang tenaga kerja di luar negeri sana, seperti banyak perempuan kampungku. Ia berharap bisa mengubur segala kenangannya bersamaku.
“Aku juga berharap aku menemukan jodoh di negeri rantau, seorang yang jauh dari kampung kita. Semoga ia yang menjadi suamiku nanti bisa membawaku ke kampungnya saat aku kembali ke negeri kita sampai aku benar-benar sanggup untuk melupakan dan melewati simpang Bunglai lagi,” tutup Widya. Dari tanggal yang tertera dalam surat itu kuketahui jika Widya menulisnya hanya berselang beberapa minggu setelah aku menikah.

Belajar dari Ibu Burung

Oleh Vendo Olvalanda S (Lampung Post, 04 Februari 2018)
Belajar dari Ibu Burung ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Belajar dari Ibu Burung ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post
Tak seperti biasanya. Hari ini, sepulang sekolah Clarissa tak langsung mengerjakan tugas. Ia juga tak bergegas makan siang. Bahkan Clarissa tak mengganti seragam sekolahnya. Begitu masuk rumah, Clarissa bergegas menuju kamar tanpa berkata sepatah kata pun kepada ayah, ibu, dan adiknya. Sepanjang hari Clarissa hanya berdiam diri di dalam kamar.
Ternyata hal itu dilakukan Clarissa bukan tanpa sebab. Ia melakukannya karena tak  terima ibu memarahinya. Menurut Clarissa, dirinya tak bersalah tapi ia malah dimarahi. Maka dari itu, Clarissa lebih memilih mengurung dirinya di dalam kamar.
Seperti biasa. Sepulang sekolah, Clarissa dijemput oleh ibu dengan mobil. Di dalamnya sudah ada Cindy, adik Clarissa. Ia pun melambaikan tangan dan melempar senyum manisnya kepada Clarissa.
“Kakaaak!”
Clarissa pun membalas sapaan Si Adik dengan pelukan dan kecupan manis di dahinya.
Cindy yang masih belajar di TK tentu pulang lebih cepat dibandingkan Clarissa yang sudah duduk di kelas 2 SD. Karena itu, Cindy akan dijemput lebih dahulu oleh ibu baru kemudian Clarissa.
Setelah masuk ke dalam mobil dan turut duduk dengan manis di sebelah adiknya, Clarissa dan Cindy tanpa disadari serentak bersorak.
“Ayo, Bu. Capcuuuss!”
Mendengar permintaan lucu dari sang anak, ibu pun langsung menancapkan kaki ke pedal gas mobilnya. Mobil pun berjalan meninggalkan sekolah Clarissa.
“Hahaha. Iya…iyaaa.”
Jarak rumah Clarissa dengan sekolah cukup jauh. Butuh waktu setengah jam perjalanan. Itu pun sudah ditempuh dengan mobil. Karena itu di tengah perjalanan, Clarissa dan Cindy akan melihat banyak hal. Mulai dari berbagai jenis kendaraan, berbagai jenis toko, dan beragam jenis jajanan. Parahnya, setiap kali melihat jajanan, Clarissa dan Cindy akan kompak membujuk ibu agar mau membelikannya untuk mereka.
Namun ibu bukan sosok yang mudah dibujuk, terutama perihal jajan di pinggir jalan. Ibu selalu melarang Clarissa dan Cindy membeli jajanan seperti itu. Menurut ibu, banyak hal yang membuat makanan tersebut tidak sehat. Mulai dari tidak higienis hingga tidak jelasnya bahan yang digunakan.
Tapi ada satu jajanan yang tidak bisa ditolak ibu jika Clarissa dan Cindy memintanya, yaitu satai telur gulung Inyik Taher. Ibu sangat tahu betapa higienis dan sehatnya makanan yang dibuat oleh Inyik Taher. Karena itu, ibu tak akan melarang mereka memintanya.
Begitu pula dengan hari ini. Clarissa dan Cindy meminta ibu membelikan mereka satai telur gulung Inyik Taher. Mereka pun mendapat bagian masing-masing 1 kotak besar. Satai telur gulung itu mereka cicipi satu per satu sembari menikmati perjalanan pulang.
Tak berapa lama. Tiba-tiba Cindy menarik-narik lengan baju kakaknya dan berkata.
“Kak…kak. Minta punya kakak, dong!”
Clarissa yang terkejut mengetahui Cindy sudah menghabiskan jajanannya begitu cepat langsung menolak permintaan Sang Adik.
“Gak mau! Punyamu kan sudah habis. Jatah kakak jangan diminta juga, dong.”
Mendengar bentakan dan penolakan dari Sang Kakak, Cindy pun terdiam. Tak berapa lama, Cindy akhirnya menangis dengan suara yang begitu keras.
“Huaaaa…Ibuuu..ibuuu. Kakak jahat, Bu. Huaaaa.”
Demi menenangkan Cindy, Ibu meminta Clarissa mengalah kepada adiknya.
“Cla…ayo kasih adik setusuk. Masa kakak tega nengok adiknya nangis?”
Luluh dengan bujukan Sang Ibu, Clarissa pun mengalah, “Iya…iya…iyaaa. Ini kamu boleh ambil satu tusuk.”
Setelah melahap satu tusuk satai telur gulung Si Kakak, tangisan Cindy berangsur-angsur berhenti. Namun tak berapa lama setelah menghabiskan satai telur gulung pemberian kakaknya tadi, Cindy kembali meminta jatah kakaknya.
“Kak…Cindy mau lagi!”
Meski mulai kesal, Clarissa tetap mencoba bersabar dengan tingkah adiknya.
“Iya, iya. Nih.”
Ternyata tak berhenti di situ. Cindy melakukan hal yang sama berulang-ulang. Hingga akhirnya Clarissa benar-benar marah. Mereka pun mulai beradu mulut.
“Ah, kamu kok gitu!”
“Satu lagi aja, Kak.”
“Dari tadi juga gitu. Satu lagi, kak. Satu lagi, kak.”
“Huaaaa…Buuuu….Kakak jahaaaat!”
Mendengar pertengkaran anak-anaknya, ibu kini menasihati keduanya.
“Cindy gak boleh gitu, sayang. Jatahnya Cindy dan kakak itu sama banyak, loh. Kakak juga udah ngasih tambahan buat Cindy. Masa Cindy minta lagi?”
“Clarissa juga. Udah tahu adiknya doyan. Makannya jangan dipelan-pelanin. Entar yang susah kamu juga. Sekarang kasih dulu aja semua buat Cindy. Besok kita beli lagi.”
Clarissa pun memberikan semua jatah telur gulungnya kepada Cindy. Dengan bersungut-sungut, Clarissa menatapi adiknya yang begitu lahap menyantap jajanan miliknya. Semakin ditengoknya Sang Adik semakin merungut hatinya. Hingga tiba-tiba.
Plak!
Clarissa menumpahkan seluruh satai telur gulung yang ia berikan kepada Cindy. Cindy pun menangis sejadi-jadinya. Kaget mengetahui hal tersebut, ibu pun menepikan mobil ke pinggir jalan sontak memarahi Clarissa.
“Astagfirullah, Clarissa! Siapa yang ngajarin kamu berbuat seperti itu!”
Clarissa hanya diam membisu.
“Kamu sudah keterlaluan. Kamu harus minta maaf sama Cindy. Ibu gak mau anak ibu jadi anak yang jahat seperti ini. Pokoknya ibu gak mau tahu. Sampai kamu mau minta maaf sama Cindy, ibu gak akan ngasih kamu uang jajan.”
Hingga sampai di rumah pun, Clarissa tak kunjung meminta maaf kepada adiknya. Ia lebih memilih diam dan mengunci diri di dalam kamar.
Beberapa jam kemudian. Clarissa mulai merasa bosan. Ia ingin sekali pergi ke luar rumah untuk bermain dengan teman-temannya. Namun jika ia ingin bermain ke luar rumah, tentu ia harus minta izin dahulu kepada ibu. Sedangkan saat ini ia masih marah dengan ibunya.
Tak berapa lama. Dari jendela kamarnya, ia melihat seekor burung mondar-mandir di sebuah pohon. Clarissa pun mendongakkan wajahnya ke luar jendela agar dapat melihat burung tersebut lebih dekat. Dari sana ia dapat melihat dengan jelas, seekor ibu burung mondar-mandir di sebuah pohon untuk merajut sarangnya.
Tak cukup sampai di situ. Ia juga melihat Sang Ibu Burung mengais-ngais tanah untuk mengambil beberapa ekor cacing. Namun ia tak melihat ibu burung tersebut memakan cacing buruannya. Setelah mengumpulkan cukup banyak, Si Ibu Burung mengangkut cacing-caing itu ke sarangnya.
Ternyata, di dalam sarang itu ada beberapa anak burung yang masih tanpa bulu memekik-mekik tidak keruan. Lalu Sang Induk menyuapi satu per satu anaknya dengan cacing yang telah ia kumpulkan tadi.
Lagi-lagi, Clarissa belum melihat ibu burung tersebut memakan buruannya. Hingga cacing itu habis, barulah Sang Ibu Burung tersebut terbang jauh entah kemana. Clarissa tak lagi bisa melihat keberadaannya.
Untuk beberapa saat, Clarissa termenung akan sesuatu yang dilihatnya tadi. Ia merasa sangat bersalah telah marah kepada ibunya. Ia boleh tak dapat menghabiskan satai telur gulung miliknya karena terus saja dimintai oleh adiknya, Cindy.
Namun ia tak sadar, jangankan untuk menghabiskan, untuk menyicipi satu tusuk satai telur gulung saja ibunya tak bisa. Ia pun berlari menemui ibunya. Sembari mengeluarkan air mata Clarissa berujar.
“Bu, Clarissa minta maaf. Clarissa sudah melawan sama, Ibu. Clarissa salah, Bu. Padahal ibu sudah banyak mengalah untuk Clarissa.”
Sambil memeluk Clarissa, ibu pun berkata. “Sudah…sudah. Sekarang anak ibu mandi yang bersih, salat, beres-beres lalu kita berangkat makan malam. Ayah sudah menunggu.”
Mendengar ibu mengucapkan kata “Ayah”. Dari dalam kamar Cindy pun bersorak.
“Ayah sudah pulang ya, Bu?”
Clarissa dan ibu pun tertawa.

Kutipan The Puppeteer

Kesendirian bisa terasa sepi bagi orang yang menjalaninya. Namun menurutku, itu lebih baik daripada hidup dalam berduaan. Kalau orang hidup sendiri, setidaknya dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Aku membayangkan bahwa kebebasan lebih mudah hidup dalam keluarga besar ketimbang dalam perkawinan yang sempit. (hlm. 189)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Kita tidak bisa berakhir di awal, dari akibat sebab, karena kita senantiasa dihadapkan pada segenap pilihan yang menentukan. (hlm. 14)
  2. Kadang-kadang, menyaksikan diri dan reaksi sendiri bisa terasa seperti sebuah paradoks. Malah sesekali bisa jadi pengalaman yang sama sekali tak terduga. (hlm. 245)
Ada juga beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Mustahil untuk menunjukkan kenapa seseorang menjadi seperti dirinya sekarang. Banyak orang yang sudah mencobanya, tapi hasilnya tidak lebih dari sekedar menggarisbawahi sisi-sisi kemanusiaannya. (hlm. 14)
  2. Bertambahnya usia tidak membuat kita meninggalkan tabiat manusiawi kita. Kita bertumbuh dewasa bersamanya. Dan kita membiarkan tabiat itu tumbuh dewasa dalam diri kita. (hlm. 10)
  3. Coba bayangkan bahwa kita semua bisa saling member sentuhan sensasi galaksi semacam itu, atau malah kita bisa member diri kita sendiri sensasi itu. Kita bahkan tidak butuh orang lain! (hlm. 85)

Kamis, 01 Februari 2018

Tentang Sancho Panza, Renjana Bejana

Puisi-puisi Dedy Tri Riyadi (Koran Tempo, 27-28 Januari 2018)
Tentang Sancho Panza, Renjana Bejana ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Tentang Sancho Panza, Renjana Bejana ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Tentang Sancho Panza


Sometimes the horse is a disaster
or the horse is time in a trot or a canter.
—Jaswinder Bolina, Portrait of the Horse

Ia, Sancho Panza.
Perkataan sederhana
dan kewarasan
yang menjagaimu
dari perasaan nyaman
berimajinasi.

“Pergilah,” usirmu,”sebab puisi
ini gila meski begitu murni,
sedang niatan Benengeli tentu
bukan sekadar kelakar komedi.”

Namun ia Sancho Panza,
yang pada petualangan
mengarung padang bahasa
setia mengiring langkah Rocinante,
dengan bagalnya.

“Setelah 3.300 kali melecut diri,” tantangnya,
“kematian bagiku hanya hilang denyut nadi.”

“Mati dan berbahagialah,” katanya lagi,
“dunia bisa segera lupa siapa Alonso Quijano,
tapi bakal kekal kisah kekasih Dulcinea.”

2017

Renjana Bejana


…tetapi kami hanya
seperti bejana tanah liat …
—petikan Surat Paulus yang kedua
kepada Jemaat di Korintus pasal 4 ayat 7

Menatap lubang lambungnya, ia merasa
tajam dan dingin tangan maut sudah lama
dicabut. Begitu pula dinding ratapan
& korban bakaran bisa disentuh dengan ringan –

ini semacam rindu pada surga beraroma
rumput & embun. Yang pada suatu pagi
ia dengar ada yang berseru;Hosea!
anakmu itu akan diberi nama Lo Ammi.

Dia yang tak akan pernah jadi milikku.

Namun, pada lingkar lukanya, ia sudah pasti
tak bisa seperti pohon. Menautkan waktu pada
perut dan meninggikan tajuk harapan ini:

“Jangan tergelincir licin glasir, tapi pahamilah
dan yakini – sejakmasuk tanur, tugasnya
tak kurang sekadar menghibur.”

2017


Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah. Sehari-hari bekerja sebagai pekerja iklan di Jakarta. Buku puisinya yang sudah diterbitkan antara lain Gelembung (2009), Liburan Puisi (2014), serta Petualangan Suara (2016).

Hilangnya Kata-kata, Abadi di Telapak Kaki, Tak (lagi) Menulis Puisi, dan Lainnya

Puisi-puisi Muhammad Irfan Ilmy (Media Indonesia, 28 Januari 2018)
Hilangnya Kata-kata, Abadi di Telapak Kaki, Tak (lagi) Menulis Puisi, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Hilangnya Kata-kata, Abadi di Telapak Kaki, Tak (lagi) Menulis Puisi, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

Hilangnya Kata-Kata


kata-kata surut dalam sunyi ingatan
kalimat seperti apalagi yang hendak kutulis
sementara langit menyerap semua pikiran
pada detak hidupku
menimbunnya di gudang memori
yang lain

pernyataan matang dari amatanku
tak mungkin bisa disampaikan
lewat sajak-sajak mistis yang manis
sebab kau telah membawa
seluruh kewarasanku
dengan lari yang tak mungkin
terkejar lagi

Bumi Siliwangi, 2018

Abadi di Telapak Kaki


pagi-pagi sekali
aku ingin mengitari jari-jari
dan memasrahkan diri ke dalam tubuh
untuk berpindah dari bagian kanan
menuju tanganmu yang kiri
melintas di sana dalam gua-gua tulang
yang ngilu dan lugu
menerjang erangan darah
yang anyir mengalir
hingga bermuara di telapak kakimu
yang firdaus
tinggal di sana selama-lamanya

Negla, 18 Januari 2018

Tak (lagi) Menulis Puisi


aku sudah lupa berapakali tepatnya
kuulangulang membaca puisi
yang kau kirimkan tempo hari

kau tidak menulis puisi, lagi
bahkan aku tak mendengar kabarmu
sejak aku pergi
dan kamu juga berpindah rumah ke pulau
sebrang
padahal semua yang ada padamu, bagiku
sangat puitis
amat manis

laut adalah pemisah
bagi percakapan kecil kita
bahkan saking kecilnya, tahun-tahun
perjumpaan itu hanya
disesaki keterdiaman
saat itu, aku sungguh tak tahan

aku tak mampu memanggil seluruh ingatan,
tentang
seberapa banyak kita bertukar tanya dan
berganti jawab
hingga kini, laut benarbenar menelan semua
ingatanku,
entah ingatanmu
mungkin pula sama

kita menjadi dua orang asing yang saling tak
mampu memahami bahasa masingmasing

kepala kita dijejali desing bising kalimat tanya
tentang apa yang melengkinglengking di
dalam kepala

aku ingin membaca puisipuisimu, lagi
hingga jika kau memutuskan hubungan
dengannya
izinkan aku tetap membacamu, sebagai
puisi

Bandung, 8 Agustus 2017

Mempertanyakan Banyak Hal


angin punya desir, pantai punya pasir
dan kau, punya
segalanya

aku seorang fakir yang hanya terusmenerus
berfi kir
mengotakatik kebenaran yang selalu
kusangsikan
selalu kupertanyakan tentang
benar dan tidaknya

seperti apakah kau benar-benar mencintaiku
kekasih?

Bandung, Agustus 2017

Kamu Puisiku (2)


kamu adalah puisipuisi multiinterpretasi
bagaimana mungkin aku sempat
menerjemahkan puisi orang lain
untuk mengais makna, sementara puisi
di hadapanku pun tak ada habisnya
ditafsirkan?
kamu adalah mahakarya Tuhan
yang tak akan usai untuk kubaca

menguraikan maksudmaksud di tiap bait
dirimu
adalah pekerjaan sepanjang hidup
karena makin aku tahu apa yang tersembunyi
padamu,
pekerjaanku bukannya berkurang, justru kian
terbentang

sepanjang pandang yang ada hanyalah
hampar misteri
tentang kamu yang tak kupahami
kamu makin sulit kumengerti dan
berlipatlipat tak kukenali
aku hampirhampir putus asa mengetahui
dirimu
yang tak kunjung mampu kurangkum ke
dalam sebuah defi nisi

kamu tetap ruang yang menyimpan
lapisanlapisan arti
kamu serupa samudra yang dalamnya tak
terkira

izinkan aku menjadi satusatunya penyelam
yang mengambil mutiara dari dasar dirimu
aku saja, jangan ada penyelam lain

Bandung, 18 April 2017

Sulit Kugapai


dalam penantian yang harus dibayar nanar
pelukku, adalah tindak kosong,
hanya lolong
kau tak kunjung kugapai
alihalih kumiliki
hanya remuk redam
di ruang jumpa
yang tak kunjung padam

Cikondang, 8 Januari 2015

Sesekali Berpaling dari Hujan


langit mending mendung
agar kita tak ke luar rumah
dan banyak obrolan lahir di bawah atap
bertahan dan lama menetap

tembok tua rumah kita,
kursi dan meja di ruang tamu,
karpet tempat membaringkan badan,
kasur butut
yang tak lagi empuk,
dan televisi kado pernikahan
dari sahabat lama
biarkan mereka menyaksikan setiap jengkal
perbincangan
menguping tanpa pernah kita merasa risih
berharap ia mengabarkannya
ke anak cucu dan penerus-penerus
masa nanti, kekasih
tentang kemesraan kita selagi muda

hujan memang mempesona
tapi kita sangat sering berlari ke tengah hujan
dan sama-sama memasrahkan diri pada
basah
apakah kau tidak bosan, sayang?

kupikir, harus juga kita mengakrabkan diri
di dalam ruang relung, merenung
menghabisi resah yang tumpah

aku ingin kita sering berpelukan
saling menghangatkan tubuh
dari gigil yang berhasil
menyerang ujung pertahanan kita

Bandung, 11 Oktober 2017


Muhammad Irfan Ilmy, lahir di salah satu desa di Kab. Tasikmalaya. Ia bergiat di komunitas Biblio Forum dan anggota Forum Lingkar Pena Bandung. Tiap Sabtu sore berbagi kebahagiaan di Komunitas Belajar dan Bermain anak Planet Antariksa, Gegerarum-Gegerkalong Bandung. Puisinya terhimpun dalam buku Geometri Kata Antologi Puisi 3 Komunitas Sastra Bandung.