Daftar Blog Saya

Kamis, 01 Februari 2018

Patah Hati, Klangonan, Langgam Umur 52, dan Lainnya

Puisi-puisi Mardi Luhung (Jawa Pos, 28 Januari 2018)
52 ilustrasi Google
52 ilustrasi Google

Patah Hati

: di rumah gus minin giri

Memang, di hutan yang gelap, cahaya kunang-kunang
demikian kecil. Tapi meski kecil, ikutilah dengan rela.
Meski merangkak. Meski mengingsut. Dan meski
suara-suara yang ada memanggil-manggil. Seperti
panggilan yang menjadikan dadamu terhisap.
Keinginanmu terbetot. Sebab, sekali berbelok, kau
akan kesasar. Dan kami pun patah hati. Merindukan
kembalinya dirimu.

Gresik, 2017

Klangonan


Pada setapak dia membaca. Pada batu, tanah, rumput, dan tebing dia membaca. Dan pada semua benda yang ditemuinya dia membaca. Dan dia membaca dengan suara yang lembut. Selembut ricik sungai. Ricik sungai yang dulu melarungnya ke samudera. Dan disua si ibu dermawan yang punya kapal jangkung. Si ibu dermawan yang kerap berdoa:
“Jauhkanlah kami dari segala yang menggantung. Kecuali jika itu makin mendekatkan pada-Mu.” Doa yang kelak membuat gunung kapur menjelma jadi lawang agung. Dan pena kering yang dilempar menjelma jadi segerombolan tawon. Tawon yang mengusiri niat buruk yang ingin menyergap secara diam-diam atau sebaliknya.
Dia, dia, memang membaca pada semua benda yang ditemuinya. Seperti membaca pada kenangan lama yang dirindukan. Kenangan lama yang menyimpan aromanya. Aroma ketika dia masih hijau. Dan ketika masih menyukai teka-teki tentang bebuahan: belimbing, mengkudu, delima, dan sawo. Teka-teki yang meski rumit tapi gampang diterkanya.
Segampang dia ketika menghadapkan wajah ke arah kiblat. Sebab ingin selalu menatap sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang pernah membuat sebatang palem berhikmat. Dan sekian batang pohon lain merunduk takzim. “Wahai, Sesuatu Yang Ajaib, biarkan aku sentuh ujung bayanganmu,” begitu yang ditukasnya berulang-ulang. Juga di setiap usai membaca Kitab Pembeda miliknya.

Gresik, 2017

Langgam Umur 52


Berdikit-dikit aku makin sepi. Makin sendiri. Dan percaya, jika aku mesti kembali ke masa kecil. Ke tempat dulu aku berada di teras rumah pecinan. Membaca komik. Dan merasa, jika jalan di depan rumah akan menuju ke padang rumput hijau. Dengan sebentang sungai jernih di pinggirannya. Juga dengan sepasang kupu-kupu sebesar piring yang riang beterbangan. Kupu-kupu berwarna kuning berbintik merah. Kupu-kupu, yang jika senja turun, akan menjelma jadi sepasang kunang-kunang. Yang juga sebesar piring. Dan malamnya, sepasang kunang-kunang yang sebesar piring pun mengikut ke mana saja aku bergerak. Jadinya, jika kau lihat dari jauh, aku seperti anak mambang yang punya mata tambahan yang sebesar piring menyala yang melayang. Anak mambang yang berjalan, berlari, dan berlompatan. Anak mambang, yang jika mengantuk, pun langsung menggelosor. Dan besoknya, tahu-tahu sudah di ranjang. Ranjang masa kecil. Ranjang, yang ketika aku sentuh di umur 52 ini, terlihat berkarat. Dingin. Dengan kasur yang mengeras. Tapi, aku merasa. Di ranjang itu, aku masih menitipkan sebagian badanku. Badan yang lengket. Badan yang tersenyum saat aku tepuk. Lalu menimpal: “Pada akhirnya memang begini. Kita terbelah. Dan selalu ingin disambung.”

Gresik, 2017

Tugu


Aku memanggilmu. Meski tahu suaraku tak akan sampai. Cuma jadi gaung. Gaung yang didengar oleh setiap yang menyeberangi sungai. Dan menyangka, jika itu adalah deheman hantu yang berdiam di tempat yang jauh. Hantu yang pernah disekap di dalam guci. Lalu dilepas oleh si pengelana. Hantu yang ingin menyamarkan semua sumur di hutan. Hutan, tempat si raja pilihan mengasah ilmu membidik, menunggang, dan mengucapnya. Dan si raja pilihan, yang ketika memasuki ujian akhir, menukas: “Kini, aku bukan lagi yang dulu atau nanti. Aku adalah yang pergi, juga sekaligus yang datang.”
Sekali lagi aku memanggilmu. Meski sekali lagi, tahu suaraku tak akan sampai. Dan kembali cuma jadi gaung. Gaung yang mengitari si raja pilihan ketika kembali ke singgasananya. Dan menyadari, jika kepala-kepala yang ada di dekatnya adalah kepala-kepala yang dulu pernah ditemuinya di hutan. Kepala-kepala yang berbulu, bertaring, dan bermoncong. Kepala-kepala yang setiap melengos, setiap itu pula, pintu-pintu tertutup. Lampu-lampu kedap-kedip. Dan ketika lubang-lubang yang ada ditelusupi kunci-kunci. Terus diputar bersamaan. Tak dapat dibuka. Meski dipaksa berulang-ulang. Berulang-ulang.

Gresik, 2017


Mardi Luhung, lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Dia lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Buku puisi tunggalnya: Terbelah Sudah Jantungku (1996), Wanita yang Kencing di Semak (2002), Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007), Buwun (2010), Jarum, Musim dan Baskom (2015), Teras Mardi (2015), serta Cum cum Pergi ke Akhirat (2017). Sementara itu, kumpulan cerpen pertamanya berjudul Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011).

Rumah Tanpa Jendela

Cerpen Syahril Sugianto (Pikiran Rakyat, 28 Januari 2018)
My Intuition ilustrasi Fahrul Satria - Pikiran Rakyat.jpg
My Intuition ilustrasi Fahrul Satria/Pikiran Rakyat
LALU ia berubah menjadi logam dan terbang ke angkasa. Kembali aku tertegun saat cahaya masuk melalui lubang pintu dan meninggalkan garis cahaya dengan debu-debu yang beterbangan, pada saat yang sama cahaya berhasil sedikit masuk dari bawah celah antara pintu dan lantai. Tinggal di rumah ini membuatku sedikit gila. Rumah kayu tanpa sekat, hanya kamar mandi yang diberi sekat dan pintu, juga sebuah meja dan kursi buatan tangan yang keropos dan rumah busuk tanpa jendela.
***
SAAT aku mulai tertekan aku selalu mengintip keluar lewat lubang kunci. Melihat bunga yang kata Ayah namanya bunga matahari, mengikuti gerak bunga matahari yang berayun disapa angin dan gerakannya yang selalu menguntit matahari. Kurasa itulah yang menjadi dasar penamaan bunga ini.
Oh yah, soal Ayahku, aku tak pernah melihatnya hampir sebulan ini. Mungkin ia datang setelah aku tidur, lalu pergi bekerja setelah menyiapkan makan sebelum aku bangun, mungkin. Satu yang pasti selama ini Ayahku tak pernah membiarkan aku keluar, tak tahu karena apa, entah.
Tapi aku ingin keluar menyapa bunga matahari, lalu bersama-sama pergi mengikuti arah cahaya dan tak pernah kembali. Kupikir tak ada jalan keluar dari sini, pintu ini selalu dikunci. Tapi aku ingin melihat dunia, meski lewat jendela. Kuputuskan untuk mengambil spidol lalu menggambar jendela dengan gambar bunga matahari di tembok samping pintu. Setelah gambar selesai, aku masih ingin keluar.
***
AKU masih ingin keluar, ini jam sembilan malam dan aku akan bicara pada Ayah, aku akan menunggunya pulang. Sudah tiga jam berlalu mungkin ia tak tahu jalan pulang dan tersesat di jalan, atau ia telah pergi bersama hilangnya cahaya dimakan malam. Waktu makin buatku mengantuk. Aku tertidur.
Praaaang!
Suara piring jatuh membangunkanku, saat itu berdiri seorang perempuan menata makanan di atas meja.
“Siapa kau?”
Ia langsung pergi menembus pintu, kulihat dari lubang kunci kalau orang itu sedang berdiri lalu ia berubah menjadi logam dan terbang ke angkasa.
Sepertinya mataku menipu, atau ini hanya mimpi yang jika aku merasa ingin pipis aku akan terbangun. Tapi kabar buruknya ini bukan mimpi. Sial! Aku takut, otot leherku menegang, apa yang harus kulakukan. Mati? Aku hanya perlu setetes keberanian lagi untuk itu dan dengan itu aku dapat terbang mengikuti cahaya seperti bunga matahari. Tapi itu bukan jawaban, kupukul wajahku sendiri agar pikiran bunuh diri tak merasuk lagu dalam kepalaku.
***
INI siang hari dan aku belum makan apa pun, dan aku tidak mungkin memakan apa yang sosok itu taruh di atas meja. Aku hanya bisa tertegun, mungkin hanya itu yang kubisa dan satu-satunya keahlian yang kupunya. Saat tertegun aku berpikir berarti yang menyiapkan makanan untukku makan selama sebulan ini adalah sosok itu, dengan memikirkannya perutku tiba-tiba terasa panas. Tetapi kenapa dia menyiapkan makanan untukku? Di mana Ayahku yang berarti satu bulan ini ia tak pernah pulang? Aku harus menemui sosok itu lagi dan memuntahkan segala pertanyaan di otakku.
Sekarang tengah malam dan aku menanti sosok itu, mungkin ia takut dan takkan kembali lagi, pikirku. Satu menit kemudian ia benar-benar datang dengan menembus pintu dan membawa makanan di tangannya.
“Siapa kau?”
“Mau apa kau ke sini?”
“Sekarang di mana Ayahku?”
Dari raut wajahnya aku tahu dia tak punya niat untuk menjawab pertanyaanku. Setelah menyimpan makanan di atas meja, ia berjalan menuju pintu.
“Berhenti bodoh!” kuberlari sambil memegang tangannya.
“Aaaaahhhh…” ia berteriak tanda kesakitan.
Tangannya yang kupegang menimbulkan luka seperti luka bakar, makhluk macam apa dia? Berarti dengan memegang seluruh tubuhnya aku dapat membunuhnya.
“Tunggu jika kau ingin mengetahui jawaban dari semua jawaban itu tunggulah sampai jam sembilan pagi, akan aku buka pintu rumahmu agar kau mengetahui jawabannya.”
Aku pun mengangguk setuju. Setelah itu ia pergi menembus pintu lalu ia berubah menjadi logam dan terbang ke angkasa.
Mungkin sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak, tapi otakku selalu berspekulasi tentang apa yang akan terjadi esok pagi. Sial! Hanya saat ini kurasa jarum jam malas untuk bergerak seperti seorang pekerja yang mengetahui gajinya bulan ini akan telat dibayarkan.
Aku bangun, setelah akhirnya dapat tertidur karena terlalu lelah menanti waktu. Lima menit lagi dan segala pertanyaan yang berkumpul di kepalaku akan terjawab. Aku harus menyiapkan hatiku sembari berdiri di depan pintu.
Klik!
Perlahan pintu terbuka, mataku silau karena tak pernah menerima cahaya sebanyak ini sebelumnya. Aku buru-buru keluar dan kudapat Ayahku telah mati tergeletak, posisinya tepat pada tembok yang kugambar jendela di sisi dalam rumah. Dan mungkin sosok itu adalah makhluk yang diutus langit untuk menjagaku setelah Ayahku tiada. Kesedihan mendera setiap sel dalam tubuhku, kesedihan menggerogoti setiap inci dari tubuhku. Oh, andai saja sebulan yang lalu rumahku punya jendela. ***

Bandung, 30 Agustus 2017

Radio Bapak

Cerpen Rifat Khan (Padang Ekspres, 28 Januari 2018)
Radio Bapak ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Radio Bapak ilustrasi Orta/Padang Ekspres
BAPAK hanya lulusan SD, tak bisa membaca dan hanya bisa berhitung. Umurnya kini sudah 60 tahun. Setiap pagi Bapak duduk di beranda belakang rumah, menatap daun-daun kemangi. Daun yang harumnya akan sampai ke penciuman Bapak jika angin berhembus sedikit kencang. Biasanya adik perempuanku, Minah, akan datang menyuguhkan teh hangat untuk Bapak.
Tapi pagi ini Bapak menolak, gula darahnya agak tinggi. Bapak bicara pelan dan mengisyaratkan Minah untuk balik membawa teh itu. Minah pun dengan tersenyum membawa kembali segelas teh tadi ke meja dapur.
Sehabis meletakkan segelas teh itu, Minah kembali mendekati Bapak yang masih duduk seperti merenung. “Bapak baik-baik saja kan?” Minah bicara selepas duduk di kursi kayu samping bapak. Bapak hanya tersenyum. Sesaat Ia menatap jauh.
“Hanya sedikit pusing. Pusing biasa. Cuma tadi pagi Bapak cek gula darah dan agak tinggi,” Bapak menerawang jauh. Minah pun hanya terdiam menatap Bapak. Bapak biasa melakukan cek gula darah sendiri. Alat itu dibelikan oleh Alif, kakak lelakiku.
“Bapak yakin gak perlu kontrol ke dokter?” Minah mencoba memberi saran. Bapak hanya geleng-geleng. “Nggak perlu Minah, ntar juga denger radio, pusingnya hilang.” Bapak tersenyum dan meyakinkan Minah bahwa kondisinya baik-baik saja. “Kalo kolesterolnya berapa Pak?” Minah kembali bertanya. Aroma daun kemangi semakin menyeruak, sebab angin bertiup lebih kencang.
“Sudah normal. Pegal yang kemarin di leher Bapak sudah agak ringan,” Bapak menjawab dengan tenang. Sesaat Ia bersiul kecil saat dua burung hinggap di dahan mangga. Ada satu pohon mangga di belakang rumah, umur pohon itu sudah dua puluh tahun, sama seperti umur radio kesayangan Bapak. Begitu yang sering Bapak bilang. Pohon mangga dan radio itu sudah banyak menjadi saksi peristiwa di rumah ini. Mulai dari saat mendiang Ibu wafat sore hari saat adzan berkumandang dari musholla Baiturrahman. Juga peristiwa ketika Bapak memutuskan berhenti jualan sebab bangkrut.
Minah mengangguk, dan mohon pamit ke Bapak untuk kembali ke dapur mencuci piring. Belum sempurna Minah beranjak dari duduknya. Bapak bicara lagi.
“Bisa ambilkan radio kecil Bapak di samping ranjang!”
Minah mengangguk lagi dan segera ke kamar Bapak mengambil radio berukuran kecil itu. Bapak tak biasanya mendengarkan radio di beranda belakang. Biasanya sehabis duduk di beranda, sekitar jam 8 pagi Bapak akan masuk kamar dan mendengarkan radio. Radio Bapak akan terus berbunyi sampai menjelang adzan Zuhur. Kemudian Bapak sholat, makan siang dan masuk lagi ke kamar mendengarkan radio kesayangannya.
Tapi pagi ini Bapak ingin mendengar radio di beranda. Sesaat suara radio terdengar, sebuah lagu dangdut lawas yang penyanyinya sudah almarhum. Bapak terlihat khusuk mendengar lagu dangdut itu. Kepalanya sesekali mengangguk-angguk mengikuti irama itu. Gerimis tampak turun. Burung-burung beranjak mencari tempat berteduh. Bapak masih diam saja di Beranda. Aroma kemangi menembus ruang tengah rumah ini.
Aku ingat beberapa kisah tentang Radio Bapak dan apa yang sering Bapak bilang. Yang pertama kisah ketika aku pulang sekolah dan mencari makan di dapur. Aku tak memperhatikan Radio Bapak di pinggir meja makan. Aku tergesa sebab lapar dan tanpa sengaja menyenggol radio itu sampai jatuh. Antena-nya patah. Bapak marah bukan main. Satu jam Ia ngomel tak karuan sambil terus mengutak-atik radionya. Besoknya, Bapak bawa ke tukang servis. Si tukang servis menyarankan Bapak untuk beli radio baru saja. Bapak marah. Bapak mengambil radionya dan membawanya ke tukang servis lain. Lusa, radio itu kembali normal. Bapak tak keberatan saat tukang servis itu meminta bayaran yang lebih mahal dari harga radio itu sendiri.
Sejak kejadian itu Bapak menaruh radionya di kamar, tempat yang paling aman menurutnya. Bapak bilang, lewat radio itu Ia banyak belajar. Mulai tentang obat-obatan herbal untuk mengurangi penyakitnya, juga tentang berita politik di daerah. Bapak tau semuanya, meski hampir setahun terakhir Bapak tak pernah keluar rumah sebab kondisi tubuhnya semakin lemah saja.
“Han, radio ini adalah kehidupan. Radio ini banyak merekam peristiwa bersejarah. Bapak tidak tau musti ngapain jika saja radio ini tak ada. Dua puluh tahun radio ini setia menemani Bapak. Kau lihat Han, suara radio ini sangat bersih, meski cuaca apapun, saat badai sekali pun. Saat hujan lebat, angin kencang, suaranya tetap jernih Han”
Pernah Bapak bilang begitu, beberapa waktu lalu saat aku duduk di samping ranjangnya usai memberinya minum obat. Saat itu aku meminta Bapak mematikan radionya, namun Bapak malah ngomong panjang lebar. Omongannya terus memuji-muji radio kesayangannya itu.
Memang benar, radio Bapak gak ada matinya. Sejak aku kelas 1 SD dulu, suaranya tetap jernih, aku semasa kecil sering mendengar lagu India lewat radio itu. Pernah suatu hari, akibat letusan asap gunung agung, cuaca teramat buruk, bahkan sinyal HP sama sekali tak ada, namun radio Bapak suaranya tetap bening dan lantang. Bapak manggut-manggut, “kau dengar sendiri kan Han, radio Bapak tetap jernih” Kembali Bapak memuji-muji radionya.
***
Gerimis masih turun, Bapak masih duduk di beranda belakang. Suara radionya terdengar lantang. Kali ini yang terdengar adalah lagu Barat. Sebuah lagu tentang pertemuan dan kenangan di Tokyo. Bapak suka lagu itu, Ia bisa melantunkan iramanya meski tak akan pernah bisa liriknya. Aku mengintip Bapak dari ruang tengah. Minah yang duduk di sampingku pun tersenyum melihat gelagat Bapak. Bapak bersiul mengikuti irama lagu itu. Sesekali kepalanya digerakkan mengikuti irama. Kami terpingkal-pingkal tanpa sepengetahuan Bapak. Lima menit lagi azan Zuhur akan berkumandang, biasanya bapak akan mematikan radio dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu’.
“Bapak sepertinya keasyikan tuh, sampai lupa bentar lagi adzan,” Minah berbicara sambil menuangkan teh untukku.
“Biarkan saja. Bapak bahagia dengan kesendiriannya,” Aku menjawab Minah, mataku tetap memperhatikan gelagat Bapak. Bapak bersandar pada korsi kayu tua, mulutnya terus bersiul-siul. Tiba-tiba terdengar memutar tombol untuk mencari saluran lain. Terdengar lagi suara nyanyian pop lama, tembang miliknya Poppy Mercuri. Tangan Bapak berhenti memutar tombol radionya. Sesaat Bapak termenung, sepertinya khusuk mendengar lagu tadi. Minah masih saja tersenyum. Teh hangat aku seruput sebentar. Adzan terdengar menggema dari musholla Baiturrahman.
Bapak masih bersandar, diam. Minah beranjak dan berjalan pelan mendekati Bapak. Sepertinya Bapak ketiduran. Minah memegang pundaknya, menyebut namanya dua kali. Namun tak ada respon. Suara lagu pop tadi tiba-tiba mengabur, berganti suara gelombang angin yang cukup besar. Sepertinya sinyal tak ada, dan ini kali pertama aku mendengar suara radio Bapak hanya suara angin. Minah menggerakkan pundak bapak beberapa kali. Namun tak pernah ada jawaban. Aku pun berjalan mendekati Bapak. Aku memanggilnya berulang, memegang pundaknya dan mendekatkan wajahku di wajah Bapak. Tetap tak ada jawaban. Suara gelombang angin semakin besar. Ribut.
Mata Bapak tetap saja terpejam. Kami berdua terus memanggil sembari menggerak-gerakkan badannya. Tak ada respon sama sekali. Minah menangis, pikirannya mulai tak karuan. Sampai Ia teriak menyebut nama Bapak, Bapak hanya diam saja kaku.
***
Aku tak menyangka, Bapak pergi selamalamanya, menyisakan tangis kesedihan bagi kami yang menyayanginya. Sampai sekarang, radio Bapak masih terpajang di ruang tamu. Tiap kali aku nyalakan, hanya terdengar suara gelombang angin. (***)

Majidi, Januari 2018
Rifat Khan. Lahir di Pancor NTB pada tanggal 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat Metro Riau, Majalah Cempaka, Suara NTB, Radar Surabaya, Harian Waktu, Lombok Post, Harian Rakyat Sumbar, Satelit Post, Bali Pos, Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Riau Pos dan Republika. Bermukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

Rabu, 31 Januari 2018

Kutipan The Storied Life of A. J. Fikry

Kita bukan novel. Kita bukan cerpen. Pada akhirnya kita adalah kumpulan karya. (hlm. 263)

Ada juga selipan kalimat-kalimat yang beraroma buku:
  1. Terkadang buku-buku tidak menemukan kita hingga saat yang tepat. (hlm. 101)
  2. Sebuah tempat kurang sempurna tanpa toko buku. (hlm. 212)
  3. Buku jauh lebih memuaskan bagi pembacanya jika kau tahu. (hlm. 215)
  4. Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian. Kita tidak sendirian. (hlm. 263)
  5. Kita bukan novel. Kita bukan cerpen. Pada akhirnya kita adalah kumpulan karya. (hlm. 263)
Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Beberapa orang memiliki talenta yang hebat. (hlm. 76)
  2. Tidak ada orang yang sempurna. (hlm. 109)
  3. Kita adalah yang kita cintai. Kita menjadi diri kita karena kita mencintai. (hlm. 265)
  4. Kita bukan hal-hal yang kita kumpulkan, dapatkan, baca. Selama ada di sini, kita hanya mencintai. Hal-hal yang kita cintai. Orang yang kita cintai. (hlm. 265)
Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Jangan memperlakukan orang yang berbaik hati kepadamu dengan buruk. (hlm. 11)
  2. Sulitnya hidup sendirian adalah kau harus membereskan sendiri semua kekacauan yang dibuatnya. (hlm. 23)
  3. Orang jahat pantas menerima ganjaran mereka, tapi kita sungguh-sungguh tidak suka kesepian. (hlm. 83)
  4. Hampir semua hal buruk dalam kehidupan diakibatkan waktu yang tidak tepat, dan semua hal baik disebabkan waktu yang tepat. (hlm. 113)
  5. Seluruh kehidupan ada dalam memoar olahraga. (hlm. 115)
  6. Ketakutan tersembunyi bahwa kita tidak patut dicintailah yang menyebabkan kita terisolasi. (hlm. 167)
  7. Cantik bukan alasan bagus untuk berpacaran dengan seseorang. (hlm. 219)
  8. Segala sesuatu yang baru tidak lebih buruk dibandingkan dengan sesuatu yang lama. (hlm. 225)

Air di Dalam Teko

Oleh Amika An (Padang Ekspres, 28 Januari 2018)
Air di Dalam Teko ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Air di Dalam Teko ilustrasi Orta/Padang Ekspres
Panen bawang kali ini bertepatan dengan musim kemarau. Di satu sisi, panen di musim kemarau menguntungkan karena bawang-bawang yang baru di panen bisa langsung dijemur dan cepat kering. Sementara di sisi lain panen pada musim kemarau membuat para petani cepat lelah. Debu-debu dan racun bawang akan beterbangan. Petani harus selalu menutup mulut dan hidung dengan masker supaya kulit tidak mengelupas dan debunya tidak terhirup. Mereka juga menggunakan sarung tangan dan sepatu bot supaya kulit tidak terbakar sinar matahari langsung. Di bawah kaki Bukit Okoh, para petani bawang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ada yang mencabut bawang dari tanah, ada yang menjalin tangkainya, ada yang memasukkannya ke dalam karung ada pula yang hilir mudik mengangkutnya ke dalam truk. Panen selalu dilaksanakan dengan sistem gotong royong dan kali ini adalah jatah ladang Mak Min.
Aku yang baru pulang sekolah, diminta ibuku untuk mengantarkan satu teko air ke ladang Mak Min, tidak jauh dari rumah kami. Lagi pula aku juga sering ke sana. Selain mengantarkan air, ibu juga kerap menyuruhku ke ladang Mak Min untuk memetik daun singkong, memetik cabai, bunga kol atau seledri jika sewaktu-waktu ibu kekurangan bahan masakan. Aku segera bersiap-siap dan berangkat.
“Hati-hati ya, Nak,” pinta ibu sambil memasang tutup teko.
“Baik, Bu,” balasku sambil merapikan topi.
Aku lalu memasang sendal dan menuju ladang Mak Min.
Mak Min adalah petani ulung. Selain menanam bawang, Mak Min juga menanam wortel dan sayur-sayuran yang lain. Mak Min memanfaatkan setiap bagian ladang yang kosong. Mak Min punya anak bernama Hafiz, dia seusia denganku. Biasanya kami berangkat ke ladang berdua, namun kali ini sepertinya Hafiz sudah sampai dulu di sana. Aku bisa melihat itu dari topi koboi yang digunakannya.
Dua hari yang lalu, ladang Mak Min tampak seperti karpet hijau yang membentang luas. Daun bawangnya muda. Mak Min pandai memperhitungkan pupuk dan racun apa yang diberikan kepada tanaman bawangnya hingga bawang-bawang Mak Min tumbuh sehat dan subur. Namun karpet hijau di pinggir danau itu sekarang sudah gundul. Satu persatu tangkai bawang sudah dicabut dari tanah.
“Mak Miiiin,” teriakku pada Mak Min sambil mengangkat teko yang kubawa dengan kedua tanganku, menandakan bahwa sudah waktunya minum dan beristirahat. Mak Min melambai-lambai. Aku menuju pondok dan meletakkan teko di atas meja.
“Mak Min, istirahat dulu,” kataku.
“Iya, iya, sebentar,” Mak Min lalu melepas maskernya.
Beberapa menit kemudian, orang-orang yang membantu Mak Min ikut menuju pondok.
Kutuangkan air di teko ke dalam gelas satu persatu.
“Hausnya luar biasa,” cetus Pak Ali, teman Mak Min yang baru saja meneguk satu gelas air.
“Tambah sedikit lagi, Zaki,” sambung Pak Ali sambil menampung gelasnya.
“Baik, pak,” jawabku patuh. Air dari teko kutuangkan lagi ke dalam gelas Pak Ali.
Orang-orang dewasa kemudian beristirahat sambil bercerita sementara aku dan Hafiz beralih mengumpulkan bawang-bawang yang tercecer di tanah.
***
“Zaki, Hafiz, kemarilah,” kata Mak Min ketika senja menjelang dan orang-orang sudah pulang. Jika sudah begini, seperti biasa Mak Min akan bercerita dan kami bersemangat mendengarnya.
“Masih ada air di dalam teko?” tanya Mak Min membuka cerita.
“Sudah habis, Mak Min, tapi bisa diisi lagi,” aku dan Hafiz saling berpandangan, kami mungkin akan disuruh ke rumahku untuk menambah air minum.
“Tidak, tidak usah ditambah,” timpal Mak Min menenangkan.
“Begitulah. Air di dalam teko ibarat rezeki yang diberikan Tuhan kepada manusia. Jika kita membagi rezeki kita kepada orang lain, maka Tuhan akan menggantinya dengan rezeki yang baru dan bahkan lebih banyak. Bayangkan apabila air di dalam teko tidak pernah dituangkan sama sekali, maka sampai kapanpun dia akan tetap begitu, bahkan teko tersebut bisa berlumut, lalu akan muncul jentik nyamuk,” terang Mak Min. Aku dan Hafiz mengangguk paham.
“Kita harus rajin bersedekah ya, Mak Min?” tanyaku memastikan.
“Dan berbagi kebaikan kepada orang lain, Ayah?” imbuh Hafiz.
“Kalian cerdas sekali, itu maksudnya,” simpul Mak Min.
Langit senja semakin tampak jingga. Gema suara murotal dari masjid sudah terdengar. Kami harus segera berkemas, waktu mengaji sebentar lagi. Aku dan Hafiz sama-sama berjanji bahwa kami tidak akan seperti teko yang diam, namun akan meniru sifat teko yang selalu menuangkan air-airnya untuk sesama. Aku membawa teko yang sudah kosong itu pulang, untuk esok diisi air dan kembali dibawa ke ladang. (*)

Selasa, 30 Januari 2018

Rintik-rintik Kuning

Cerpen Elfi Ratna Sari (Lampung Post, 28 Januari 2018)
Rintik-rintik Kuning ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Rintik-rintik Kuning ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post
Ketika seekor merpati mengepakkan sayap lalu santai nangkring di kabel listrik, riang bercuit-bercuit dengan kawannya, aku sedang menikmati secangkir rosella yang asapnya mengepul. Mataku menatap lepas ke jalanan, memerhatikan lebih saksama dari bingkai jendela. Yang lama kelamaan malah memunculkan kenangan tentang hujan, kau, aku, dan sebuah janji.
Kutarik napas sejenak. Mengisi paru-paru dengan oksigen penuh. Biar nyaman. Biar tenang. Lalu mataku mengitar. Mamandangi segala sudut yang ada dalam ruangan. Dan ketika sampai pada satu sudut yang menghentikan korneaku untuk melanjutkan gerak, ada hasrat hebat yang memaksa memfokuskan pandangan ke tumpukkan buku berdebu di rak pojok kamar.
Kegiatan itu berlanjut pada keinginan untuk mendekati dan meraih buku bersampul batik cokelat itu. Aku tahu, jika membukanya, boleh jadi akan menggali sebuah luka baru dari kejadian yang sudah lama dikubur paksa. Tidak perlu ditanyakan itu buku apa. Jelas saja kau tahu jika itu berisikan coretan kisah antara kau dan aku dulu. Ya, kau dan aku yang sempat disebut kita.
Kubuka. Bau khas menyeruak, menggatalkan indra penciuman. Bersin sudah pasti tak terelakkan. Ah, memang sudah risikonya jika membuka buku yang bertahun-tahun hanya di tumpuk di rak pojok ruangan. Dibiarkan tidak tersentuh dan dikerubungi debu. Tapi keadaan itu sedikit pun tak membuatku mengurungkan niat. Aku tetap membukanya.
Tak lama setelah kubuka sempurna halamannya, yang kutemukan tidak lain hanya barisan tinta hitam yang telah menguning termakan waktu. Tentu saja. Apa lagi? Itu adalah buku dengan tulisan tangan, jadi tidak heran jika setelah bertahun-tahun akan seperti itu jadinya
Kubolak-balik pelan, memandangi jajaran tulisan di sana—yang lebih mirip sandi rumput. Tulisan seorang gadis yang pernah menjadi kekasihmu.
Kepada Diary yang senantiasa menemani. Jiwaku dikerubungi duka. Sebuah nestapa menyapa siang tadi, di saat sorot matahari kilaukan bekas hujan di jalanan. Aku teramat heran. November yang harusnya berduyun gerimis, kini terik. Walau begitu, hujan tangisku membanjir deras, teramat sangat deras. Aku masih diam, ketika pandangannya menunduk sendu dengan sepasang mata yang memerah. Tergambar jelas bekas air mata menggantung di sana.
“Ada apa? Mengapa wajahmu tak secerah biasanya, Syam? Padahal lihatlah! Matahari di atas sana riang sekali bersinar.”
Dia diam. Menunduk. Bahkan seolah tak berani membalas pandangan hangatku. Kau tahu mengapa, Diary?
Dia mengusap rambut dari dahi ke belakang. Aku paham betul, tindakan itu hanya dilakukan jika dia sedang sangat putus asa. Dan jelas saja, aku dibuat semakin bingung. Apa sebenarnya yang membuatnya putus asa?
Lemas dia berjalan menghampiriku yang duduk agak jauh darinya, kemudian menempatkan diri di sampingku. Kulirik wajah tertunduk itu.
“Apakah kau bertengkar dengan Kakakmu lagi?”pertanyanku selanjutnya.
Padahal, pertanyaan sebelumnya pun belum sempat dia jawab, atau barang kali malah takkan terjawab.
Dia menggeleng. Kemudian menghela napas panjang. Aku tambah khawatir akan sikapnya itu. Sikap yang begitu aneh. Sikap yang sangat membingungkan.
“Ra, apakah kau masih mencintaiku?”
“Tentu saja, Syam.”
“Kalau begitu, maafkan aku.”
Apa maksudnya? Kalimatnya semakin membuatku bingung. Tubuhku mematung menatapnya, ada banyak pertanyaan yang berloncatan di dalam kepalaku dan memaksa untuk keluar. Aku benar-benar butuh penjelasan.
“Maaf untuk apa, Syam? Kau adalah laki-laki terbaik yang pernah kumiliki.”
“Ma-maafkan aku harus meninggalkanmu.”
“Meninggalkanku?”
Dan untuk entah ke berapa kalinya, aku semakin bingung atas ucapannya—walau sebenarnya sebagian pikiranku yang lain sudah dapat mengartikan dengan baik ucapannya. Bersamaan dengan itu, tanggul air mataku jebol. Lantas tak menunggu lama, membanjirlah air mata membasahi pipi.
“Aku sangat mencintaimu, Ra. Tapi takdir harus menghentikan cinta kita, cukup di sini.”
“Apa salahku, Syam?”
“Kau tak salah, Ra. Hanya saja aku ingin mengakhiri hubungan kita. Hai! Sudahlah jangan menangis! Bukankah pacaran memang tidak boleh? Ra, percayalah! Kelak … bila kita berjodoh, sudah pasti akan ada jalan untuk pertemuan yang indah.”
Hendak dia usap genangan air di pipi, namun tersadar dengan ucapan ustaz dan ustazah yang pernah didengar, kita bukan mahram. Maka dia mundur. Menyodoriku sebuah sapu tangan putih.
Tapi apa balasanku? Bukannya meraih sapu tangannya, malah meraih pisau buah di meja. Aku tak rela hubungan ini karam begitu saja. Takkan kurelakan dia meninggalkanku.
Scrat …!!! Cucuran merah menetes. Kugigit bibir bawahku menahan perih. Dia menatap pasi. Wajahnya pucat seketika. Sama sekali tak sempat mencegah kelakuan di luar nalarku. Bahkan aku yakin dia tidak pernah berpikir aku akan segila ini.
“Hai, kenapa kau sakiti dirimu sendiri?”
“Ini hanya sakit fisik, Syam. Tak sesakit hatiku karena kau putuskan secara sepihak.”
Kuraih lantas kubentang sapu tangan miliknya di pangkuan. Tergoreslah ‘I Will Always Love You’ dengan telunjuk yang tadi kulukai. Tenang, Diary …. Aku tak segila itu sampai mau memotong urat nadi.
“Simpanlah! Ingat, bahwa kau akan kembali untukku. Benar-benar kembali untuk menjabat tangan ayahku dan diijabah sah oleh saksi,” ucapku lantang dan yakin. Yakin bahwa dia benar akan kembali. Padahal …. entahlah, aku tidak tahu. Siapa pula yang tahu apa yang akan terjadi di masa selanjutnya? Lagi pula, aku yang memintanya berjanji, bukan janji atas keinginannya sendiri.
Tak berselang lama, dia sudah tak peduli dengan dosa yang tadi dihindari. Kini jemariku yang memerah perih digenggamnya. Dia menyobek kemejanya untuk membalut lukaku. Lantas, jemarinya halus mengusap air mata yang menggenang di pipi.
“Maafkan aku telah menyentuhmu, Ra. Tapi aku merasa penting untuk melakukan itu. Kita sama-sama tahu hubungan kita masih haram. Mengapa keputusan yang sebenarnya baik ini malah kau tangisi? Terlebih malah membuatmu melukai diri sendiri. Kau terlalu jauh terperosok pada rayuan setan, Ra. Kau zalim. Tidak perlu seperti itu untuk menunjukkan perasaanmu padaku. Aku telah tahu kau amat cinta. Aku pun sama. Dengarkan, Ra. Kita akan bertemu lagi. Nanti … di saat jingga bercampur kuning di ufuk sana menghapus titik gerimis sesiangan. Di saat usia kita telah cukup untuk berumah tangga. Tanggal yang sama di tahun ke lima setelah kepergianku berlayar.”
Itu janjinya, janji yang akhirnya dia ucapkan atas keinginannya sendiri, bukan atas pintaku. Apakah aku masih pantas menangis, Diary? Kukira tidak lagi. Tentu dia akan kembali, bukan?
Kututup pelan buku yang masih kugenggam. Mataku kembali menyapu pendaran jingga di ufuk barat sana. Ini tahun kelima seperti yang kau janjikan. Akhirnya penantian panjangku selesai.
Kukenakan khimar, kini lengkap dengan cadarnya. Sudah kuputuskan, sejak kali pertama kepergianmu, aku memilih memantaskan diri. Tak ada kata pacaran dalam hidup. Cukup kau, kesalahan terindah yang mau kubenarkan. Dari yang awalnya hubungan haram tanpa ikatan, menjadi sebuah hubungan yang halal, yang sah secara agama dan negara. Iya, selayak janjimu.
Kini aku telah sampai, Syam. Di bawah gerimis kecil di ufuk senja. Di sebuah bukit yang akan mengikat cinta kita, tempat yang kita sepakati dulu untuk bertemu. Rona oranye menyemburat. Mengemaskan titik-titik air hujan sisa tadi siang. Aku juga heran, kenapa matahari mau muncul setelah mendung sesiangan. Seolah menghapus semua tangis yang ada. Tapi inilah yang kurindu, Syam. Suasana yang kutunggu selama ini. Menjalani hidup bertahun-tahun dalam kenangan, hanya demi satu pertemuan yang kau janjikan.
Gerimis sudah tak seperti awal kedatanganku. Walau sorot senja merona di ufuk sana, namun bersamaan pula, gerimis berganti nama menjadi hujan. Membuat tubuhku menggigil kedinginan. Entahlah apa namanya? Yang jelas matahari tidak mau kalah bersinar, walau hujan datang. Mungkin ini yang kau maksud dengan jingga yang bersatu dengan hujan, atau apa katamu dulu itu, aku sudah mulai sedikit lupa. Atau aku sudah lupa semuanya? Ini mulai terasa lucu. Iya, kan?
Namun tak berselang lama, langit mulai sendu, sungguh amat sangat sendu. Sesendu hatiku yang bertahun-tahun hidup dalam penantian. Dan aku mulai berpikir, seharusnya bila kau benar cinta, kau tidak akan menyuruhku menunggu selama itu. Yang boleh jadi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain. Tidak menjodohkan kita misalnya.
Sungguh aku lagi-lagi berbuat kesalahan. Harusnya tak kusandarkan harapan padamu. Dan apakah aku masih terlalu bodoh dengan keadaan menunggumu sampai masa megamerah datang? Yang boleh jadi takkan kentara karena hujan. Karena mentari mulai tertutup awan. Seperti senyum yang tertutup tangis. Karena nyatanya, belum ada tanda-tanda kedatanganmu.
“Mau pakai payung Sya?”
Korneaku menoleh. Gadis kecil berlesung pipi menyodorkan sebuah payung merah jambu miliknya. Sya? Nama yang cantik. Serta … entah mengapa sungguh mengingatkanku kepadamu. Ah, mungkin karena aku terlalu merindukanmu, jadi siapa pun yang kutemui mengingatkanku padamu. Masuk akal, kan?
Aku membalas ucapannya dengan senyum.
“Payung Sya dipakai saja. Tante suka hujan. Hujan selalu terasa menenangkan. Oh ya, Sya dengan siapa? Orang tua Sya mana?”
Sesingkat itu saja aku merasa begitu akrab dengan gadis bermata kejora ini. Seolah dia sudah lama sekali kukenal, dan matanya adalah bagian dari yang pernah kumiliki.
“Itu.”
Dia menunjuk seorang lelaki yang berdiri tegap di belakangku.
“Ayaaah ….”
Sya berlari memeluk sang Ayah. Aku terpasung ketika menolehkan pandangan untuk melihat rupa laki-laki pertama yang dikenal Sya itu.
“Ka-kau?” Gagap bibirku bertanya. Kaku hendak menyebut nama yang harusnya sangat mudah untuk kusebut.
Ayah? Kau dipanggil ayah oleh gadis kecil itu? Yang benar saja? Bukankah … bukankah itu artinya, kau datang namun ingkar? Ya Tuhan … kau datang untuk mengenalkanku dengan anak hasil pernikahanmu dengan perempuan lain? Tega! Benar-benar tega! Mana janjimu dulu yang akan datang untuk menikahiku di tahun kelima perpisahan kita? Mana? Kau memang datang, sungguh datang, tapi tidak dengan hatimu yang dulu utuh untukku. Kau jahat!
Aku menggeleng geram. Memilih hengkang dengan tangis berceceran. Tak kentara memang. Sebab sudah dari tadi pipiku basah oleh hujan.
Ya Tuhan … menyaksikan kepergianmu dulu saja aku sudah sangat sakit. Dan sekarang? Lagi-lagi kau membawa luka. Benar, seharusnya aku tak menyandarkan segala harapan padamu. Aku yang bodoh! Benar aku yang bodoh. Kau tidak pernah tahu, Syam, sudah berapa lelaki yang kutolak mempersuntingku, hanya karena aku terlalu yakin kau akan kembali untukku. Sungguh, penyesalan kini menyesak di hati.
“Ra!” teriakmu.
Tentu saja aku tidak akan memaafkanmu walau puluhan ribu kali kau mengatakannya. Tidak akan pernah.
***
“Ra, kau nampak lebih anggun dengan cadar di wajah.”
“Benarkah? Kau bergurau, Syam. Hahahaha …. Syam … Syam … nama yang bagus. Seperti seorang yang sudah lama kutunggu tapi tak datang-datang.”
Seseorang di dekatku yang mengaku Syam, ya Syam … namamu … itu menitikkan air mata didampingi gadis kecil bermata kejora yang kau ajari memanggilku Bunda, dan orang-orang berseragam putih.

Miss Gatal-gatal

Oleh Iskadarwati (Lampung Post, 28 Januari 2018)
Miss Gatal-gatal ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Miss Gatal-gatal ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post
“Teeeet… teeeeet… teeeet….” bel tiga kali tanda istirahat berbunyi.
Semua siswa bergegas ke kantin. Tetapi Arinal tetap berada di dalam kelas. Ia selalu membawa bekal dari rumah.
Tidak lama kemudian sebagian besar dari mereka berdatangan. Ternyata mereka ke kantin untuk membeli makanan lalu dibawa ke kelas. Karena mereka akan mendiskusikan tugas dari Bu Indri. Bu Indri memberi tugas membawa tanaman dalam pot. Maklumlah sekolah mereka di pinggir jalan dan halamannya sempit. Sekolah menghendaki ada lahan penghijauan supaya udara menjadi sehat. Satu-satunya jalan dengan menanam tanaman di pot.
“Arinal, kamu sama siapa?” tanya Ira melihat teman-temannya sibuk berdiskusi dengan kelompoknya masing-masing, tetapi Arinal sendirian. Sebetulnya Ira juga ingin berdiskusi, tetapi ketiga temannya yang satu kelompok tidak terlihat. Mungkin mereka masih di kantin.
Arinal cuma senyum-senyum sambil menikmati singkong goreng. Singkong goreng adalah salah satu jualan neneknya.
“Sama aku, Dewi, dan Agnes,” sahut Tyas yang duduk tidak jauh dari Arinal dan Ira.
“Tapi kami tidak mau satu kelompok dengan Miss Gatal-Gatal,” sambung Agnes.
“Miss Gatal-gatal?” tanya Ira heran. Arinal yang mendengar pembicaraan mereka langsung keluar kelas.
“Takut tertular,” jelas Dewi. Tentu saja Ira semakin heran.
“Kamu anak baru sih. Andai tahu, kamu pasti juga enggan berteman dengan Miss Gatal-gatal,” ungkap Dewi.
Semakin mendengar penjelasan mereka, Ira semakin bingung. Maklumlah, ia anak baru. Sebulan lalu ayahnya pindah tugas di kota ini. Maka ia juga harus pindah sekolah. Ira merasa kasihan, lalu menemui Arinal di luar. Ia berjanji akan meminta Bu Indri supaya dirinya satu kelompok dengan Arinal. Kemarin Bu Indri mengatakan jumlah anggota kelompok antara dua hingga empat anak. Beliau baik hati. Jika ada sesuatu hal, mereka boleh berpindah kelompok. Yang terpenting semua anak satu kelas harus memiliki kelompok.
Syukurlah, ketika Ira menceritakan tentang Arinal, Bu Indri mengizinkan.
“Ar, nanti kita satu kelompok. Aku sudah minta izin sama Bu Indri. Kelompokku juga tidak keberatan aku pindah dan bersamamu.”
Tentu saja Arinal senang mendengarnya. Ira anak baru dan baik hati. Kalau tidak bersamanya, Arinal sendirian.
Diam-diam Ira menyelidiki, mengapa teman satu kelas menjulukinya Miss Gatal-Gatal. Padahal Arinal anak yang baik. Selalu mengerjakan tugas sekolah. Setiap ulangan mendapatkan nilai di atas KKM. Ia tidak mencontek. Ternyata setelah diselidiki karena rambut Arinal banyak kutu. Tanpa disadari Arinal memang suka garuk-garuk kepala. Tapi Ira tidak menyangka kalau temannya itu banyak kutu. Maka ia dijuluki Miss Gatal-Gatal.
***
“Obat kutu rambut apa sih, Ma?” tanya Ira suatu saat.
“Memang kamu kutuan?” mama terheran balik bertanya.
“Tidak, Ma, ditanggung anak Mama bebas dari kutu rambut,” jelas Ira. Kemudian Ira bercerita tentang Arinal yang dijauhi teman-temannya karena banyak kutu. Padahal nenek sudah membelikan obat kutu rambut. Untuk itulah ia ingin menolong.
“Coba diberi kapur semut kemudian digosok-gosokkan pada kulit kepala. Anak teman Mama pernah kutuan. Mama beri resep itu, semua kutu hilang,” jelas mama. Ira manggut-manggut.
***
Sore ini Ira akan menemui Arinal. Mereka sudah berjanji bertemu untuk mengambil tanaman dari halaman rumah Arinal. Kemudian tanaman itu dipindah di pot. Halaman rumah Arinal banyak macam tanaman. Tapi sayang, tidak terurus. Maklumlah karena di rumah, Arinal hanya berdua dengan nenek. Kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, nenek berjualan makanan gorengan dari pagi hingga sore.
“Kamu sudah mencoba obat dengan kapur semut?” tanya Ira. Mereka akan mengambil pot yang sudah disimpan di belakang rumah Arinal.
“Paling kutunya masih, Ir,” jawab Arinal putus asa.
“Jangan putus asa, Ar, kamu harus coba. Ini kebetulan Mamaku sudah membelikan,” ungkap Ira sambil menyodorkan kardus kecil panjang berisi kapur semut dari saku bajunya.
“Mamamu baik sekali. Aku berutang budi padanya.”
“Ah, tidak berutang budi. Mamaku ikhlas membelikan ini. Kita memang harus tolong-menolong. Terimalah!”
Arinal pun mengucap terima kasih yang tak terhingga saat menerima kapur semut itu. Tidak lupa Ira menjelaskan cara menggunakan kapur semut itu.
Mereka segera mengerjakan tugas. Mereka memilih tanaman bunga sepatu. Lalu keduanya memindahkan tanaman bunga sepatu dari halaman ke dalam pot yang sudah diberi tanah terlebih dahulu. Setelah selesai Ira segera pulang dengan mengendarai sepeda. Hari hampir petang. Arinal bersedia membawa ke sekolah besok karena jarak rumahnya ke sekolah lebih dekat dibanding Ira.
Semenjak memakai kapur semut, kepala Arinal tidak lagi terasa gatal. Akibatnya ia tidak garuk-garuk kepala. Teman-temannya pun senang bergaul dengannya. Mereka berterima kasih kepada Ira. Mereka juga meminta maaf kepada Arinal yang tidak mau memberikan saran tapi malah mengejek.
Kini kelas mereka tidak ada lagi panggilan Miss Gatal-Gatal.