Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
“Kita selalu melihat betapa anak perempuan seringkali begitu mirip
dengan ibu mereka. Bukan pada wajah, tapi pembawaannya. Kau tentu sudah
memperhatikannya.” (hlm. 179)
Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:
Kita memang mudah sekali lupa. (hlm. 6)
Kita hidup pada masa yang ganjil. (hlm. 18)
Jangan menipu dirimu sendiri. (hlm. 37)
Orang-orang dari strata kita tidak menikah hanya untuk menyenangkan diri sendiri. (hlm. 40)
Sangatlah keji untuk memaksakan seorang gadis menikah di luar keinginannya. (hlm. 93)
Apakah kau tidak punya kehalusan pikiran? (hlm. 109)
Sangat tidak pantas kau membicarakan persoalan keluarga di tempat orang lain bisa menguping. (hlm. 171)
Sungguh jahat berusaha memaksakannya menjalani pernikahan lain, dan amat keji jika kau berupaya melakukannya. (hlm. 175)
Berusaha untuk berbincang dengan seseorang pada saat semestinya kau
memperhatikan orang itu adalah tindakan yang selalu fatal, percayalah!
(hlm. 263)
Puisi Bresman Marpaung (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018) Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing
: Onan na Marpatik [1]
“tiga parsinggungan, onan parsaoran antaran na bidang, lobuan na godang pardomuan ni raja, parsaoran ni akka dongan [2]
aku mengais tanda-tanda kisah lama
dari sepuhan masa ini
yang terlukis sempat tabah
dan pernah membubung niat bulat raja-raja
kuusik sebiji asam jungga
tak kukira masih menyimpan asam-pahit petaka
kumat dari mati suri, memercik nyeri
di lahir anak-anak raja terkucil
di pekan-pekan, kisah tua bertuah
sejak dikebiri
kini dihayati hanya tersisa
satu hari yang setia
tersiksa menampung hiruk-pikuk
dalam kerumunan simpang-siur harga
patik tak lagi marka ditohok menjorok
sedalam jari-jemari beringin
tak ada sumpah yang kepingin tumbuh bercagak
merelakan urat menjuntai berurai dari tungkai
martir menopang patik tiga [3]
ikatan mata seksama hari lepas ari
penyerbu ganjil menumpang di celah sakal
telah menang bertaji akal
ikatan gigih temali jerami
terkikis dipantik jemari pengusik
bersama singgasana raja
sungguh hangus dilucuti bara
muncul penyaru hitam dari debu kematian
senyap keliling sebagai cara berganti faham
berlagak bertaruh sekukuh pengaruh baginda
cuma disepuh sembarang datu
duduk tak setenung raja meramu rambu dari bambu
tapi saudagar-saudagar lekas mengira
bisik-bisik separuh diam tanda tenang pemenang
yang pantas memetik upeti
upah perang yang damai
makhluk terutus dimenangkan bermain patuk api
ada pula nasehat tuan Padri ikut menyudahi,
“segara niat ramai
mesti dicuci di bejana suci
dicicil di satu per satu hari terpuji
walau menalak hantu derita
dipantang di onan bercanang perjamuan
sebab segala bekal bukan umpan berkah
mendinginkan amarah hari membara
jika berkurung jampi-jampi”
maka sekumpulan penunggu
yang sesungguhnya tak bernafsu pengganggu
lintang pukang dari seluas rindang hariara [4]
sebab tengah menjulang dirongrong
dipaksa kurban dijatuhkan doa bersekutu
bersama ruh pengasuh
yang tertuding mengasah dosa-dosa
lekas menggelinding dari sanubari onan
meninggalkan irama derap gaduh
tanda mati tak sudi
dicaci-caci di hari suci
warisan pelik perih dan ricuh peluh
dipicu mendidih
setumpah hawa nafsu di hari ketujuh
di luar batasan tanpa palungan keluh
beringin berhati dingin
kini hanya berakar di makam-makam tua
berangan mempertahankan setia
meninggikan harkat paduka
empat yang terjengkang dari pekan
sejak hilang singgasana
Balige 2017
Keterangan:
[1] Onan na Marpatik adalah salah satu dari dua jenis pekan
di tanah Batak yang merupakan pusat perdagangan dan hubungan lain di
antara sesama orang yang tergabung di daerah cakupannya.
[2] Adalah salah ungkapan Batak Toba terkait dengan onan (pekan).
[3] Patik tiga adalah peraturan pasar (Rule of the market).
[4] Hariara adalah sejenis pohon yang menjadi ciri khas
dalam budaya Batak. Sebelum masuknya agama samawi di Tanah Batak,
masyarakat mempercayai pohon ini sebagai penentu kehidupan dan pengambil
keputusan.
Bresman Marpaung
dilahirkan di Pematang Siantar pada 15 April 1968. Puisinya
dipublikasikan di berbagai media massa dan antologi bersama. Ia bergiat
di Komunitas Omong-Omong Sastra Medan.
Cerpen Afrizal Malna (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018) Papan Tulis Tak Berwarna ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Bangkai ayam yang pernah diciptakan Sutardji Calzoum Bachri, dalam
sebuah cerpennya, masih teronggok, abadi, dalam ruang rapat Dewan
Kesenian Jakarta. Ruang itu usianya hampir 50 tahun, usang, memanjang,
muram. Lembaga kesenian yang selangkah lagi masuk ke dalam tragiknya
sendiri, bangkrut.
Sejak sore hari, sejumlah seniman sedang rapat di ruang itu, dengan
bangkai ayam abadi teronggok di meja rapat yang memanjang. Sudah
berantakan di antara gelas-gelas kopi, kertas, laptop, proyektor, HP,
dan makanan kecil. 75% kegiatan kesenian masa kini adalah sejumlah
rapat. Para seniman seperti sedang beralih peran menjadi manager-manager
perusahaan; 25% lagi estetika. Istilah yang rasanya terdengar kian aneh
di tengah teknologi penggandaan supercepat media digital.
Hari sudah menjelang pukul 11 malam. Hujan sebentar lagi akan turun.
Aku menghembuskan asap rokok, berdiri di jendela ruang rapat. Menatap whiteboard:
ruwet dalam alur agenda kesenian yang sedang disusun. Beberapa cahaya
bintang masih tampak di balik awan tebal. Bangunan Institut Kesenian
Jakarta, yang mirip sebuah kapal terdampar, masih hidup oleh beberapa
mahasiswa yang masih beraktivitas.Terlihat dari jendela ruang rapat, di
antara pohon tua yang rimbun dan purba.
Beberapa seniman peserta rapat, tampak sudah lelah. Beberapa tatapan
gundah: bayangan menempuh jalan panjang untuk bisa mewujudkan program.
Bau bangkai ayam menyelusup ke dalam angka-angka anggaran: “Seni dan
ekonomi kreatif,” kata generasi masa kini. Setiap kami berhadapan dengan
angka-angka, rasanya selalu berbau busuk.
“Beri aku parfum untuk anggaran kesenian dan bau busuk,” kataku memancing opini di sekitar politik anggaran untuk kesenian.
“Aku tidak rela negara mengeluarkan dana hampir 1 miliar untuk
karya-karya sampah,” kata salah seorang peserta rapat dengan wajah
gelisah, mulai terpancing.
“Itu sebuah tema,” kata yang lain. “Sebuah tema: Sampah dan Negara,”
ulangnya. “Kita bawa program ini ke dalam tema itu,” lanjutnya serius.
Rasanya bau busuk bangkai ayam abadi itu kian keras tercium. Sebuah
masalah sudah selesai di ujung rapat menjelang berakhir: Sampah dan
Negara.
Hujan turun. Lembut. Malam yang berair.
Hari sudah menjelang jam 12 malam ketika aku sudah berada dalam
taksi. Aku ingin tidur, istirahat dari kesenian. Tapi supir taksi terus
bercerita mengenai dirinya.
“Nama saya ‘Aman’. Tapi hidup saya tidak aman,” kata supir taksi
dalam ceritanya. “Beberapa kali usaha saya bangkrut. Pindah-pindah
kerja, akhirnya hidup sebagai supir taksi. Padahal bapak saya memberi
nama ‘Aman’ kepada saya, agar hidup saya aman. Ternyata tidak aman.”
Sisa-sisa rintik hujan masih menetes pada kaca jendela taksi. Supir
taksi terus bercerita, seolah-olah aku adalah tamu yang dipesan untuk
mendengar kisah-kisahnya yang berbau bangkai busuk. Mungkin bau bangkai
ayam itu juga yang telah merancang dan menyusun hingga pertemuan dalam
taksi ini terjadi.
Di perempatan Blok M menuju Jalan Fatmawati, langit seperti
disayat-sayat oleh bangunan jalan layang untuk kereta yang hampir
selesai. Lampu merah. Taksi berhenti. Beton-beton jalan, melayang di
udara, mengubah garis kota.
Hari masih siang. Saya baru saja menghabiskan waktu tiga jam membawa
taksi. Tapi tiba-tiba saya memutuskan untuk pulang ke rumah, walau
seharusnya saya masih bekerja sampai jam 12 malam sebagai supir taksi.
Hari itu, hati saya merasa tidak enak.
Sampai di rumah, suasana sepi. Pintu pagar tidak terkunci. Anak-anak sekolah. Istri masih di kantor. Rampok? Hati saya waswas.
Saya membuka pintu rumah yang juga tidak terkunci, dan terkejut. Di
ruang tamu, saya melihat istri saya sedang bersetubuh dengan pacar
lamanya. Saya panik. Segera menutup pintu, menguncinya dari luar. Saya
tergopoh-gopoh meninggalkan rumah dengan hati gusar, melapor ke pak RT.
Semuanya seperti sedang runtuh, diri saya juga sedang runtuh. Pak RT dan
beberapa warga kemudian datang menyerbu rumah saya. Memukuli lelaki
yang menyelingkuhi istri saya.Rumah
berantakan. Benda apa saja yang ada di ruang tamu, digunakan warga
untuk memukuli lelaki itu. Kaca jendela pecah. Pikiran saya juga pecah
dan runtuh. Gelap. Getir. Tidak mengerti.
Stop.
Kami akhirnya bercerai. Anak-anak mengancam ibunya, mereka akan memutus tali kekeluargaan kalau ibunya menikah lagi.
Sejak peristiwa itu, rumah celaka itu saya jual. Saya tidak bisa
menanggung ruang yang telah merekam tubuh istri saya bersama lelaki
lain. Saya tidak menikah lagi, bekas istri saya juga tidak menikah lagi.
Saya kemudian berinisiatif untuk rujuk kembali dengan istri saya demi
kepentingan masa depan anak-anak kami. Tapi sejak peristiwa kekerasan
itu, istri saya yang sudah kembali ke rumah orang tuanya, tidak pernah
bicara sedikit pun. Bisu. Seseorang telah pergi meninggalkan bahasa.
Seolah-olah, setiap kata hanya akan kembali melukai dirinya. Dia telah
jadi bagian dari massa diam yang personal, internal, masuk ke lorong
gelap dirinya sendiri.
Pak Aman, sang supir taksi, mengakhiri ceritanya. Aku tidak mengerti,
kenapa harus menerima cerita seperti ini dalam sebuah taksi.
Terperangkap dalam sebuah cerita yang tidak aku pesan. Papan Tulis Tak Berwarna—begitu judul cerpen ini.
Kisah muram itu, secara sewenang-wenang, tanpa minta izin kepada
supir taksi, aku pindahkan ke dalam cerpen ini. “Apa hakku mengambil
kisah orang lain, dan menjadikannya sebagai konsumsi publik? Tetapi aku
juga tidak pernah memesan kisah muram itu kepada supir taksi. Aku hanya
memesan mengantarku untuk pulang.”
Kami menghirup red whine manis dalam sebuah makan malam para
sahabat di rumah seorang sahabat, Hanafi. Merayakan awal tahun baru.
Ge’eng, Utuy, Acep, Adinda, Heru, dan Hanafi bergantian menyanyikan
berbagai lagu dangdut koplo, sekali-kali memainkan lagu beberapa band
indie, Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, bahkan Doel Sumbang, di antara
celotehan untuk saling menghibur.
“Apakah keluarga supir taksi itu merupakan korban dari praktik ruang
sejarah yang tunggal?” kataku, melempar kisah ini kepada mereka. Aku
berharap mereka bisa memberikan opini.
“Lihat,” kata Heru, serius. “Dari sudut pandangan sang suami: sang
istri hanyalah seorang istri, tidak ada sub-subyek yang lain. Begitu
pula dari sudut pandangan anak-anak mereka: sang ibu hanyalah seorang
ibu, tidak ada sub-subyek yang lain. Gila! Lihat itu. Kita tidak pernah
tunggal. Keluarga, negara, lembaga apa pun tidak punya hak untuk membuat
kita semata sebagai individu tunggal yang terkunci dalam peran yang
tunggal.”
“Ya, jelas, dong, itu produk pandangan sejarah yang tunggal. Mari
kita tinggalkan sejarah yang gelap,” celetuk Ge’eng dengan ekspresinya
yang lucu. “Jangan lihat sejarahnya, dong, tapi lihat, siapa yang telah
menciptakan sejarah itu.” Ge’eng kemudian menyanyikan sebuah lagu Sunda
klasik: Bubuy Bulan. Kami semua bernyanyi, menikmati syairnya yang
indah: bulan … laut … dan air yang telah kering dalam panci mendidih.
21 Januari 2018, Nurjana, nama istri sang supir taksi, akan merayakan
ulang tahun ke-37. Pak Aman sudah menunggu hari ini. Dia menyiapkan
pakaian pengantin yang pernah dikenakan istrinya pada pesta pernikahan
mereka, 17 tahun yang lalu.
Dengan langkah pasti, Pak Aman memasuki rumah bekas mertuanya untuk
bertemu dengan bekas istrinya. Nurjana tampak masih cantik, seolah-olah
tidak ada masa lalu yang pernah melukainya. Pak Aman memberikan bekas
pakaian pengantin itu sebagai kado ulang tahun. Kado itu diterimanya,
Nurjana membuka isinya. Namun perempuan itu tetap bisu, masuk ke dalam
kamar dengan pakaian bekas pengantin yang dipeluk ke dadanya. Tampak
Nurjana berusaha menahan emosinya, meredam desakan gelap dan padat yang
hampir meledak dalam dirinya.
Dengan gundah, Pak Aman menunggu Nurjana keluar dari kamarnya. Dia
tidak bisa menduga-duga, apa yang akan terjadi selanjutnya. Nurjana kini
seperti berada dalam sebuah alam yang tidak bisa dijangkaunya, bahkan
tidak ada kendaraan yang bisa membawanya kembali untuk bertemu dengan
bekas istrinya … air yang telah kering dalam panci mendidih.
Tidak beberapa lama, Nurjana keluar dengan pakaian pengantin yang
sudah kembali membungkus tubuhnya. Sang pengantin. 17 Tahun telah
berlalu. “Orang seperti aku, rasanya tidak pantas untuk berpikir tentang
arti waktu,” pikir Pak Aman. Istrinya, yang kini telah berdiri dengan
pakaian pengantin 17 tahun yang lalu, bukanlah waktu, pikirnya. Tidak
ada bekas waktu pada tubuh istrinya.
“Maafkan aku, Nurjana,” kata Aman memandangi istrinya. “Waktu tidak
akan pernah bisa menyentuh kecantikanmu,” katanya. Dia tak mengerti,
bagaimana tiba-tiba dia bisa memiliki kalimat seperti ini. Kalimat indah
yang menyembunyikan tragedi dalam keindahannya.
Tiba-tiba Nurjana berbicara dalam bahasa Minang kepada bekas
suaminya. Bahasa yang tidak dimengerti oleh Pak Aman. Nurjana merasa
nyaman, kembali berada dalam pelukan bahasa ibunya. Bahasa yang hanya
diciptakan untuk para perempuan.
Aku menghabiskan sisa red whine. Acep, entah mengapa,
tiba-tiba menyanyikan lagu Kepada Paduka Yang Mulia. Sebuah lagu politik
yang indah, pernah dinyanyikan Lilis Suryani, untuk Manipol Usdek yang
menggelegar dalam pidato Sukarno. Merayakan Proklamasi Kemerdekaan, 17
Agustus 1959. Apakah artinya waktu? 59 tahun telah berlalu.
Afrizal Malna menulis
puisi, cerita pendek, novel, kritik sastra dan teater, skenario dan
naskah teater, di samping menyunting sejumlah buku. Kini ia tinggal dan
bekerja di Yogyakarta.
Oleh Bandung Mawardi (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018) Catatan Pinggir 11 dan 12 ilustrasi Koran Tempo
Pada 1982, buku perdana Catatan Pinggir terbit. Isinya kumpulan esai-esai Goenawan Mohamad yang tersaji rutin di majalah Tempo. Kini, 35 tahun sesudah kelahirannya, keluarga buku kumpulan tulisan itu telah genap selusin dengan kehadiran Catatan Pinggir 11 dan Catatan Pinggir 12. Si penulis menua, tapi tulisan-tulisannya terus dipersembahkan kepada pembaca Tempo. Pada 2017, tulisan-tulisan Goenawan sudah melebihi seribu.
Th Sumartana menulis pengantar dalam edisi perdana yang berjudul
“Sebuah Refleksi, Dengan Jarak”. Dia mengatakan, Goenawan, melalui kolom
Catatan Pinggir di majalah Tempo, sengaja mengadakan
refleksi bersama pembaca. Adapun penerbitnya menyebutkan Goenawan
berusaha menulis refleksi tentang kemanusiaan, kemasyarakatan, politik,
sejarah, masa depan, dan lain-lain. Harga buku setebal 628 halaman itu
ditetapkan Rp 7.500.
Sebelum diterbitkan dalam bentuk buku oleh Grafitipers, banyak pembaca yang mengumpulkan kolom Catatan Pinggir dari majalah Tempo, lalu dijual. Lucunya, penawaran penjualan bundel Catatan Pinggir ada yang ditampilkan di rubrik Surat, majalah Tempo. Misalnya, pengumuman Danurdono asal Solo pada edisi 24 Maret 1979. Tertulis: “Tersedia bundel Catatan Pinggir, Tempo. Diketik rapi, bersampul tebal, dilapisi plastik kaca. Tiap bundel 20 Catatan Pinggir. Harga tiap bundel Rp 1.250 termasuk ongkos kirim.”
Puluhan tahun berlalu, pada 2017 terbitlah Catatan Pinggir 11 dan Catatan Pinggir 12.
Tiap jilid dihargai Rp 100 ribu. Dua buku tebal itu adalah sebuah
penegasan bahwa Goenawan belum lelah menulis. Dia boleh semakin tua,
tapi keranjingannya mempersembahkan esai tak jua surut.
Intan Paramaditha memberi pengantar berjudul “Catatan Si Pejalan”. Ia
mengartikan catatan pinggir sebagai perjalanan menelusuri rekaman
sejarah. Esai-esai Goenawan, kata Intan, membawa kita turut serta dalam
penjelajahannya sebagai seorang pejalan yang mengunjungi serta merenungi
beragam pengalaman dan wacana.
Pejalan itu mungkin memiliki sekoper bahasa dan tema, tak lelah dan
habis dituliskan menjadi Catatan Pinggir, menempuh tahun demi tahun.
Coba lihat tulisan berjudul “Koper” dalam Catatan Pinggir 11. Goenawan menceritakan dan menafsir ulang novel Jejak Langkah dan Rumah Kaca
karya Pramoedya Ananta Toer. Pilihan jatuh pada adegan Minke membawa
koper tua saat ditahan polisi dan kembali dari pengasingan. Adegan
mengacu pada buku Situated Testimonies garapan Laurie Sears.
Polisi mengira Minke bakal memiliki bawaan selain koper. Minke menjawab
singkat: “Semua sudah kubawa dalam kepalaku.” Si polisi kolonial tak
usah membantu untuk membawa “milik” Minke.
Pada Catatan Pinggir 12, Hamid Basyaib memberi pengantar
yang dimulai dengan usul agar Catatan Pinggir mendapat Guinness World
Records. Tumpukan pujian disajikan Hamid, mengacu pada ketekunan
Goenawan selama 40 tahun menulis Catatan Pinggir.
“Ia terutama menyumbang besar dalam bentuk presentasi ide dengan
warna sastra yang kuat, dan menjadikan pemaparan gagasan dalam bahasa
Indonesia terasa modern, cerdas, dan memenuhi persyaratan kompleksitas
yang selayaknya ada pada pemaparan ide yang berkualitas,” katanya.
Pujian itu terasa “sah” jika pembaca sempat mengamati foto Goenawan
Mohamad di sampul belakang: lelaki berwajah tua mengenakan kacamata dan
jam tangan. Ia tampak bijak di sana.
Kita simak saja tulisan berjudul “Nostalgia” dalam Catatan Pinggir 12. Pada pembuka tulisan yang diambil dari majalah Tempo
edisi 14 Februari 2016 itu, Goenawan membuat pengakuan: “Pada umur 75,
masa depan saya jauh makin sedikit ketimbang masa lalu saya. Pada umur
ini orang lazimnya akan gugup dengan masa kini, karena di abad ke-21
masa kini kian didera masa depan.”
Kalimat-kalimat yang mengandung resah, tapi Goenawan tetap pemilik
masa lalu dan masa depan. Ia pun seperti mengutuk pembaca untuk
merampungkan selusin buku yang berasal dari masa lalu sampai sekarang.
Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Januari 2018) Sebuah Taman, Sebuah Pertemuan ilustrasi Suara Merdeka
“JADI, sudah berapa tahun kita tidak bertemu?”
Mereka berjalan pelan. Menyusuri taman. Seperti sepasang kupu-kupu yang terbang hati-hati mencari tempat teduh.
“Maksudmu, sudah berapa tahun kita berpisah?”
“Sama saja.”
Mereka tahu, hari-hari yang telah lewat seperti bui yang tidak tampak. Jiwa mereka terkurung. Satu sama lain.
“Aku lupa, mungkin hampir sepuluh tahun.”
“Cukup lama juga ternyata.”
Sekarang, sesaat, mereka merasa bebas. Menikmati cahaya senja yang tumpah di rerumputan.
“Apa kau merasa tidak enak kita bertemu di sini?”
“Tidak juga.”
Di antara langkah kaki itu, mereka mendapati sesuatu yang masih utuh,
sesuatu yang menyala-nyala. Mereka heran dan hati mereka
berdebar-debar.
“Apa suamimu tak akan marah?”
“Ia sudah tahu. Aku sudah bilang, sepulang kerja aku akan bertemu seseorang, teman lama.”
“Apa kau bilang teman lamamu itu laki-laki?”
“Ya.”
“Dia tidak marah?”
“Dia bukan tipe lelaki seperti itu, yang mudah curiga atau cemburu.”
“Apa kau yakin, ia mencintaimu?”
Ada sebuah pertanyaan yang rasanya keliru dan tidak pantas
dilontarkan, tapi bibir itu tak mampu menahan getar hingga limbung dan
ada yang terpeleset keluar dari liang ucap. Pertanyaan itu.
“Pertanyaan macam apa itu?”
“Maaf. Lupakan saja.”
“Tidak apa-apa. Lagipula mencintai atau tidak mencintai bukanlah
masalah bagi kami. Prioritas kami sekarang anak-anak, bukan cinta.
Mungkin kami cukup bahagia.”
Mungkin kami cukup bahagia. Kata-kata itu mendedas isi kepala. Namun
langkah mereka masih terus terayun. Meski pelan sekali. Ada percik
serupa kembang api yang mencubit perasaan mereka. Entah apa.
“Jadi, apa alasanmu datang ke kota ini lagi?”
Ketika mereka melewati serumpun mawar yang berbunga setinggi pinggul,
perempuan itu menghentikan langkah, dan memetik sekuntum. Lantas dia
cium mawar itu penuh hasrat. Mereka berjalan lagi. Masih pelan sekali.
“Cuma urusan pekerjaan yang sebaiknya tidak kuceritakan. Aku yakin, kau akan bosan mendengarnya.”
“Kau benar. Aku tak tertarik sama sekali pada pekerjaanmu. Aku lebih tertarik mengetahui bagaimana kabar rumah tanggamu.”
Laki-laki itu menunduk, mengamati langkah sepatunya yang saling
mendahului. Lantas ia mengangkat wajah dan menatap ke depan. “Rumah
tanggaku? Baik-baik saja.”
“Istrimu?”
“Istriku juga baik-baik saja. Dia wanita karier yang sibuk.”
Perempuan itu memutar-mutar tangkai mawar yang ia pegang, tanpa sadar sehelai kelopak merah pekat terlepas.
“Jadi, berapa anakmu sekarang?”
“Istriku belum mau kami punya momongan.”
“Mungkin istrimu punya alasan.”
“Mungkin. Kau… bagaimana kabar anak-anak?”
“Anak-anakku? Mereka anak-anak yang menyenangkan.”
“Ya, anak-anak selalu menyenangkan, tak seperti orang dewasa.”
“Begitulah.”
“Sepertinya kehidupan rumah tanggamu baik-baik saja, bahkan menyenangkan.”
“Ya, mungkin itu patut disyukuri.”
“Apa kau tidak ingin duduk?”
“Boleh.”
Dua anak manusia yang lupa usia itu menghentikan langkah, dan duduk
hampir bersamaan di sebuah bangku beton di pusat taman. Angin semilir.
Menghanyutkan.
“Taman ini masih seramai dulu ya?”
“Dulu kapan maksudmu?”
“Seingatku, sewaktu kita masih kuliah, kita sering sekali mengunjungi taman ini.”
“Kau masih ingat rupanya.”
“Ingatanku cukup bagus.”
“Coba kaulihat gadis itu.”
“Gadis itu siapa?” Menoleh kiri kanan.
“Itu! Yang duduk sendirian dan membawa novel The Orange Girl Jostein Gaarder.”
“Gadis di bawah pohon mimosa itu maksudmu?”
“Ya. Dia.”
“Apa kau mengenalnya?”
“Tidak. Hanya gadis itu mengingatkanku pada puluhan tahun lalu ketika aku masih belia, mungkin seusia dia.”
“Memang ada apa dengan gadis itu?”
“Tidakkah kaulihat ia tampak begitu gelisah menunggu seseorang.
Lihatlah buku yang dia bawa itu, cuma dia bolak-balik, dia tutup lagi,
dia buka lagi. Buku itu sekadar teman untuk mengalihkan kejenuhan
menunggu seseorang.”
“Aku yakin, dulu kau pernah melakukan hal yang sama.”
“Gila! Apa kau lupa, kau selalu datang terlambat.”
“Benar. Aku sudah lupa.”
Mereka tertawa ringan dan sama-sama diam beberapa saat. Cahaya senja tumpah di wajah mereka. Berkilap-kilap.
“Baiklah, kau belum menceritakan bagaimana kehidupanmu sekarang.”
“Bukankah tadi sudah kuceritakan. Kehidupanku baik-baik saja, dan istriku wanita karier yang sibuk.”
“Apa kau mencintainya?”
Pertanyaan semacam itu lagi. Sebuah pertanyaan yang rawan.
“Aku tak tahu.”
“Lalu apa prioritasmu hidup dengannya? Oke, kita tidak membahas siapa
mencintai siapa. Tapi, dalam hidup, setidaknya kau harus punya
prioritas. Dan anak-anak terkadang menjadi prioritas paling tepat untuk
tetap hidup dengan seseorang yang mungkin tak kaucintai.”
Obrolan makin rawan dan kedunya tampak makin menikmati. Nyala api yang timbul-tenggelam itu.
“Entahlah.”
“Hei, lihat gadis itu. Tampaknya kekasihnya tengah menelepon dan memohon maaf karena datang terlambat.”
“Mungkin kekasihnya tak akan datang.”
“Kalau aku jadi dia, aku sudah enyah dari taman ini.”
“Mengapa dulu kau tak melakukannya?”
“Aku kasihan padamu.”
“Aku yakin alasanmu bukan itu.”
“Terserah.”
“Lihatlah, gadis itu sekarang menangis.”
“Benarkah?”
“Pasti kekasihnya tak jadi datang.”
“Belum tentu.”
“Buktinya ia masih tergugu di situ.”
“Mungkin gadis itu memang bodoh.”
“Hus, tak baik membodoh-bodohkan orang.”
“Setidaknya jika masih ingin menunggu, ia tak perlu menangis.”
“Kupikir yang dimiliki perempuan memang cuma tangisan.”
“Dan yang dimiliki laki-laki cuma pengkhianatan.”
“Tidak semua. Buktinya, dulu, kau mengkhianatiku.”
“Jika kau berada di posisiku, mungkin kau akan melakukan hal yang sama.”
“Mungkin.”
“Jadi yang kulakukan bukan pengkhianatan. Hanya sebuah pilihan.”
“Aku senang kau mengambil pilihan yang tepat.”
“Iya. Aku juga lega melihat ayahku bisa pergi dengan tenang.”
“Kupikir, dulu, ayahmu cuma menggertakmu dengan penyakitnya itu.”
“Aku tahu. Tapi, bagaimanapun, ayah tetaplah ayah.”
“Aku maklum, meski rasa sakit itu terkadang masih kerap datang.”
“Itu sudah puluhan tahun berlalu.”
“Celakanya, ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa dihapus oleh waktu.”
“Hmm…. Sebaiknya kita membicarakan hal lain saja.”
“Ya.”
Mereka terdiam. Saling menyelami kedalaman pikiran masing-masing.
Namun, di sebuah tempat yang tak mereka yakini keberadaannya, sesuatu
itu masih berdenyar dan menyala-nyala. Hingga seolah mereka tak sanggup
lagi berkata-kata.
“Kau bekerja, suamimu bekerja. Anak-anak?”
“Ada seorang asisten rumah tangga di rumah.”
“Pukul berapa biasanya suamimu pulang kerja?”
“Mungkin sekarang ia sudah sampai di rumah.”
“Apa tidak sebaiknya kita pulang saja?”
“Mengapa terburu-buru?”
“Aku tak enak pada suamimu.”
“Sudah kubilang, suamiku bukan tipe-tipe lelaki pencemburu. Lagipula aku sudah bilang akan pulang telat.”
“Kalau aku jadi suamimu, pasti aku sudah membunuhmu.”
“Dan kau…. Kira-kira apa yang akan istrimu lakukan jika ia tahu
diam-diam kau menemui seorang wanita dengan dalih dinas keluar kota.”
“Sudah kubilang, istriku wanita karier yang sibuk. Ia tak akan punya waktu memikirkan itu.”
“Kalau aku jadi istrimu, pasti aku sudah membunuhmu.”
Mereka tertawa bersamaan. Ada sesuatu yang tiba-tiba mencair. Mereka
lekas menyadari sesuatu; selama ini mereka tak pernah sebahagia itu.
“Lihat, kekasih gadis itu akhirnya datang juga. Ia membawa bunga sebagai ungkapan maaf. Tampaknya ia perayu yang baik.”
“Mana?”
“Kalau boleh menebak, pasti gadis itu perempuan simpanan. Lihatlah,
lelaki itu tampak jauh lebih tua. Meski ia memang masih tampan.”
“Lelaki itu?”
“Ia masih mengenakan pakaian kantor. Berani taruhan, dia pasti sudah punya istri.”
“Dia?”
“Kenapa? Apa kau mengenalnya?”
“Oh, tidak. Aku tidak mengenalnya.”
“Sebentar, sebentar, tapi sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana, ya? Hei, kenapa kau menangis?”
“Mataku kelilipan. Entahlah. Sebaiknya kita segera pergi dari sini.”
“Hei, ada apa? Mengapa tiba-tiba kau….”
“Lelaki itu… kau memang pernah melihatnya… dan aku bohong kalau aku tak mengenali ayah anakku.”
Mereka membatu memperhatikan dua sejoli yang berpeluk dan berjalan
pelan, meninggalkan taman. Sepi. Senja seolah redam. Lampu-lampu taman
menyala. Ada yang tertahan. Sesungguhnya mereka ingin berpelukan. Tapi
mereka hanya diam. Menahan sesuatu yang kian berdenyar dan
menyala-nyala. (44)
Malang, 2014
– Mashdar Zainal, lahir di Madiun, Jawa Timur, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.
Oleh Miranda Seftiana (Suara Merdeka, 14 Januari 2018) Ada Apa dengan Mimo ilustrasi Suara Merdeka
Sore baru saja menjelang. Menggeliat, seorang anak laki-laki bertubuh
gemuk bangun dari tempat tidur berbentuk mobil balap dengan warna biru
muda. Mimo, nama anak lelaki itu. Usianya baru delapan tahun, sekarang
uduk di kelas dua sekolah dasar.
“Mimo … ada Irham, Aldi, dan Dion menunggu di depan,” Bunda berteriak dari dapur.
“Iya, Bunda,” jawab Mimo seraya beranjak dari tempat tidurnya.
Namun, langkah Mimo terhenti. Perutnya mendadak sakit seperti melilit-lilit. Segera Mimo menuju ke kamar mandi.
Di kamar mandi, perut Mimo tak juga kunjung berhenti terasa melilit.
Padahal sudah tiga kali Mimo bolak-balik ke kamar mandi. Sebelum keluar,
Mimo teringat kejadian saat disekolah tadi. “Aduuuuhhhh … kok perut
Mimo sakit sekali ya?” rintih Mimo sambil memegangi perutnya.
Baru saja Mimo duduk di samping tempat tidurnya, tiba-tiba perutnya
merasa ingin ke belakang lagi. Mimo setengah berlari menuju kamar mandi
untuk kali keempat.
Mimo meringis saat di kamar mandi. Ia teringat saat di sekolah jajan banyak sekali.
Mulai dari siomay, gorengan, dan es sirup kesukaannya. Bahkan, Mimo
menjadi lupa dengan bekal dari Bunda akibat makan jajanan tersebut.
***
“Mimo, ada Irham, Aldi, dan Dion. Mereka sudah menunggu lama di
bawah. Katanya mau mengajak Mimo main bola di lapangan,” ucap Bunda saat
memasuki kamar Mimo.
“Mimo tidak bisa ikut main, Bunda,” jawab Mimo seraya meringis menahan sakit perutnya.
“Lo, kenapa Mimo? Kamu sakit?”
Mimo mengangguk sembari memegangi perutnya yang melilit-lilit.
“Mimo tadi makan apa? Bekal yang Bunda bawakan juga tidak habis.”
“Hikss … hiks … Mimo jajan es sirup, siomay, dan gorengan, Bunda,” kata Mimo lirih sambil terisak.
“Maafkan Mimo, Bunda. Mimo janji tidak akan jajan sembarangan lagi.”
Bunda tersenyum. Dirangkul Bunda tubuh gembul Mimo, seraya berkata,
“Ya sudah tidak apa-apa, Mimo. Sesekali boleh saja jajan di luar, asal
jangan terlalu sering. Bukankah lebih baik makan bekal yang dibawa dari
rumah? Selain sehat juga hemat. Uang jajan Mimo kan bisa ditabung untuk
membeli barang lain?”
“Hiks … Hiks… Iya Bunda, mulai sekarang Mimo janji untuk lebih sering
makan bekal dari Bunda dan tidak jajan sembarangan lagi,” ucap Mimo
menyesal.
“Bagus! Itu baru anak yang hebat,” puji Bunda.
“Kalau begitu, Bunda ke luar dulu mau kasih tahu ke Irham, Aldi, dan
Dion kalau Mimo tidak bisa ikut main hari ini. Sekalian Bunda ambilkan
obat untuk Mimo.”
“Terima kasih, Bunda,” ujar Mimo sembari menghapus air matanya.
***
Keesokan harinya, bel istirahat berbunyi. Mimo memilih untuk tetap
tinggal di kelas. Irham yang duduk satu meja dengan Mimo menatap bingung
sebelum menyusul Aldi dan Dion yang sudah lebih dulu keluar kelas.
“Kamu kenapa tidak jajan, Mo?”
Mimo menggeleng, lalu membuka bekal makanan dari Bunda.
“Wah lucu ya Mo, nasi kamu jadi kayak beruang,” seru Irham dengan mata berbinar.
“Kata Bunda ini namanya bento. Nasi dan lauknya sengaja dibuat mirip
beruang biar aku semangat makan,” kata Mimo bangga. Irham yang melihat
bekal Mimo jadi tergoda dan ingin ikut menyantapnya.
“Besok aku mau bilang Mama ah biar dibikinin bekal kayak kamu, lucu
dan enak sepertinya,” kata Irham kepada Mimo. Mimo pun tersenyum dan di
dalam hatinya berterima kasih kepada Bunda. Bunda memang hebat. (58)
dia membuat sore dari sebuah rancangan busana
jahitan udara antara yang terbuka dan tertutup
guntingan pada bahu. kulit tropis di musim semi
buatlah aku dari air liur burung gereja
yang memberi minum anaknya, dan sebuah kamus yang
tak punya ancaman
jangan bercerita, ketika kupu-kupu terbang dalam suaramu
dan sebuah senja yang tak bisa dimasuki batas malam
tubuhnya mengapung di atas tubuhku
seperti laut pasang
bulan yang tergenang dalam cahayanya
buatlah aku kembali tidak mengerti apa itu takut
ketika menyusuri bibirmu, pelukan, yang meninggalkan senja
pada lampu jalan
sebuah kafe, belum tutup untuk seorang tamu
yang masih menyanyikan cinta. para pemusik
telah pergi meninggalkannya.
sebuah lagu elvis presley, fever,
link: https://youtu.be/dNsU5edolvk
seperti suara bibir dalam anggur merah
buatlah aku dari sebuah sudut malam
seolah-olah aku sedang menunggumu
di sebuah titik yang meledakkan garis pelarian
hingga aku tak tahu: sedang memeluk mayatku sendiri
sebuah pintu di depan pintu
aku seorang prajurit yang tidak mengenal
siapa komandanku
aku hanya menerima perintah
“rapat ke B rapat ke A. rapat.
kau adalah A atau B di antara C”
– sebuah ledakan di kampung melayu
– sebuah pameran evolusi busana
– pidato kebudayaan tentang bintang mati
– silsilah keluarga, bantu rumah sakit
– petemakan ayam untuk konsumsi kota
kau adalah A dengan wajah anti A
susunlah B dan C sebagai A dan tak tahu
mereka adalah A. ciptakan D sebagai lawan A
untuk menyaring seluruh anti A
targetnya: A adalah B
aku adalah A bukan B setelah C
intinya “ABC” tutup semua jendela. tutup
semua pintu. tutup hantu etimologi
topeng alfabet dalam viral riwayatmu
arsip kegelapan
dia meninggalkan kakinya di luar untuk berjalan ke dalam: ginjal, empedu, jantung, sebuah ruang tamu dan seseorang yang tak pernah ada. dia meninggalkan kepalanya di dalam
untuk berjalan ke luar: lemari, bantal dengan sisa rambut, sabun mandi dan bau sperma dari tubuh yang tak pernah ada.
bagaimanakah ruang bekerja antara batas dan objek-objek, dan
sebuah badai yang mencari di mana arsip sinar matahari
tersimpan.
masuk dan keluar lagi, pintunya tertinggal di tempat tukang
servis radio, gelombangnya mencari lagu-lagu kenangan. aku-
lirik yang pingsan dalam sebuah buku kritik sastra tentang
seseorang yang tak pernah ada. kilometer-kilometer telah
berlalu, bangkai waktu dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas.
para pencuri masuk ke dalam perpustakaan, mencuri arsip,
menggantinya dengan tisu. mereka menemukan aku-lirik yang
sekarat dalam perpustakaan:
”beri aku bahasa
beri aku bahasa
untuk bernafas.”
jari-jari tangan mereka tertinggal dalam mesin tik tua. tata
bahasa berlalu, lidahnya bengkak oleh huruf-huruf kapital yang
cerewet tentang kata-kata yang tak pernah ada
dia berjalan ke dalam melalui jalan ke luar:
ladang kuburan arsip dalam kegelapan
(hamlet)
buat Imas Darsih, sutradara Miss Tjitjih setelah pertunjukan hamlet dalam bahasa Sunda
koper itu telah terbuka
bau perjalanan bersarang dalam handuk lembab
matahari jam 9 pagi, rima dari sinar hangat
(pagi)
bau ikan asin dari penggorengan
batas antara bibir dan hantu-hantu kenangan
jemari tanganku sudah tak merasakan lagi
– rokok masih menyala yang kuhisap
(lepas):
bagaimanakah bagaimanakah
bagaimanakah? membedakan
tubuh kekasih dan tubuh seorang ibu. bau yang telanjang
rute yang tidak pernah sama untuk memelukmu: tutorial tentang cinta dan rahasia
di tangan para penjaga malam yang malam
asap tembakau keluar dari dalam koper
mengurai merkuri dari racun kenangan
tentang homo habilis
mereka sedang menghisapnya:
– KTP
– paspor
– kartu nikah
– potongan pajak puisi
– NPWF
– ATM dan sikat gigi
– (:))
koper beri aku visa, koper
(hutan telah terbakar di depan istana)
singgasana yang cerewet dalam bau darah Adegan yang Disensor:
– hamlet keluar dari pintu belakang/
– tapi dia juga keluar dari pintu depan/
– dia masuk lagi ke dalam yang di luar/
beri aku visa
: untuk pulang ke dalam rumah sendiri
di jendela pesawat
telah lama aku menunggumu
terlalu lama
sebelum kamu datang
sebuah mobil terbakar menuju bandara
bau besi hangus
apakah kematianku juga tak ada gunanya
rasa perih pada betis. kaki menjelang berdiri
otot kehilangan berbaring
tubuhku telah berhenti sebelum kamu datang
dan kamu memang tak pernah datang
sebagai kamu yang tak pernah ada
matahari akan bersinar lagi besok pagi
cerah. hangat. angin tipis
awan putih dan langit biru
ia bertanya kepada “siapakah”
yang telah mengarang tubuhnya di panggung ini
panjang rambutnya melebihi
batas kau bisa mengukur merunduknya padi
menjelang panen. seorang aku-lirik mabuk
dalam bau kematian yang membiusnya
dia mencari tubuh-puisi yang lain – dan dia pikir
– itu sejenis luka pada tanda baca. siapakah namamu?
(ayo, bos, sawernya mana)
tatapannya: membakar untuk setiap lelaki padam
dan setiap gesekan padang pemburuan
uang, kejantanan yang goyah, cinta yang liar
dalam mikrofon setelah panen
dia seorang utami. suaranya berongga
tempat kau bisa menghilang tanpa frekuensi
– (terima kasih. sawer lagi dong, bos)
sebuah tawaran politik di bawah tangan
setelah panen. dan jerami dalam kenangan hutang keluarga
dia seorang dewi, suaranya adalah:
kau akan gagal menatapku dengan kekuasaan
ia menggerakkan pinggulnya di atas ujung telapak kakinya
– (goyang dong), dan seekor kuda berlari
jejak-jejak keringat melekat di lehernya
menembus rahasia sebuah hutan
dia seorang penyanyi:
ada apa ini? lelaki saling mengejar, memukul
seperti kawanan hewan yang merobek rumah
ia memanggil lelaki seperti anak ayam untuk makan
ladang kecantikan seorang dewi di atas pantura yang demam
dan mereka menciumi tangannya. perempuan suci
nyai ronggeng dan cahaya malam dari tubuhnya
petani antara harga beras dan tanali
antara desa yang runtuh dalam spiker
Afrizal Malna kini kian
tidak tahu batas-batas puisi. Merasa lebih bekerja sebagai seorang
“bekas penyair”; membuat jejaring lain antara irisan-irisan imaji, tanda
baca, dan bahasa sebagai elemen imaterial dalam ruang tipografi tata
letak. Pada Batas Setiap Masa Kini (2017) adalah buku mutakhirnya.