Daftar Blog Saya

Minggu, 14 Januari 2018

Kutipan The Grand Sophy

“Kita selalu melihat betapa anak perempuan seringkali begitu mirip dengan ibu mereka. Bukan pada wajah, tapi pembawaannya. Kau tentu sudah memperhatikannya.” (hlm. 179)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Kita memang mudah sekali lupa. (hlm. 6)
  2. Kita hidup pada masa yang ganjil. (hlm. 18)
  3. Jangan menipu dirimu sendiri. (hlm. 37)
  4. Orang-orang dari strata kita tidak menikah hanya untuk menyenangkan diri sendiri. (hlm. 40)
  5. Sangatlah keji untuk memaksakan seorang gadis menikah di luar keinginannya. (hlm. 93)
  6. Apakah kau tidak punya kehalusan pikiran? (hlm. 109)
  7. Sangat tidak pantas kau membicarakan persoalan keluarga di tempat orang lain bisa menguping. (hlm. 171)
  8. Sungguh jahat berusaha memaksakannya menjalani pernikahan lain, dan amat keji jika kau berupaya melakukannya. (hlm. 175)
  9. Berusaha untuk berbincang dengan seseorang pada saat semestinya kau memperhatikan orang itu adalah tindakan yang selalu fatal, percayalah! (hlm. 263)
  10. Jangan terlihat begitu patah semangat. (hlm. 435)

Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing

Puisi Bresman Marpaung (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018)
Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Pekan-pekan Terbetik Mati Terasing

: Onan na Marpatik [1]

tiga parsinggungan, onan parsaoran
antaran na bidang, lobuan na godang
pardomuan ni raja, parsaoran ni akka dongan [2]

aku mengais tanda-tanda kisah lama
dari sepuhan masa ini
yang terlukis sempat tabah
dan pernah membubung niat bulat raja-raja

kuusik sebiji asam jungga
tak kukira masih menyimpan asam-pahit petaka
kumat dari mati suri, memercik nyeri
di lahir anak-anak raja terkucil

di pekan-pekan, kisah tua bertuah
sejak dikebiri
kini dihayati hanya tersisa
satu hari yang setia
tersiksa menampung hiruk-pikuk
dalam kerumunan simpang-siur harga

patik tak lagi marka ditohok menjorok
sedalam jari-jemari beringin
tak ada sumpah yang kepingin tumbuh bercagak
merelakan urat menjuntai berurai dari tungkai
martir menopang patik tiga [3]
ikatan mata seksama hari lepas ari

penyerbu ganjil menumpang di celah sakal
telah menang bertaji akal

ikatan gigih temali jerami
terkikis dipantik jemari pengusik
bersama singgasana raja
sungguh hangus dilucuti bara

muncul penyaru hitam dari debu kematian
senyap keliling sebagai cara berganti faham
berlagak bertaruh sekukuh pengaruh baginda
cuma disepuh sembarang datu
duduk tak setenung raja meramu rambu dari bambu

tapi saudagar-saudagar lekas mengira
bisik-bisik separuh diam tanda tenang pemenang
yang pantas memetik upeti
upah perang yang damai
makhluk terutus dimenangkan bermain patuk api

ada pula nasehat tuan Padri ikut menyudahi,
“segara niat ramai
mesti dicuci di bejana suci
dicicil di satu per satu hari terpuji

walau menalak hantu derita
dipantang di onan bercanang perjamuan
sebab segala bekal bukan umpan berkah
mendinginkan amarah hari membara
jika berkurung jampi-jampi”

maka sekumpulan penunggu
yang sesungguhnya tak bernafsu pengganggu
lintang pukang dari seluas rindang hariara [4]
sebab tengah menjulang dirongrong
dipaksa kurban dijatuhkan doa bersekutu

bersama ruh pengasuh
yang tertuding mengasah dosa-dosa
lekas menggelinding dari sanubari onan
meninggalkan irama derap gaduh
tanda mati tak sudi
dicaci-caci di hari suci

warisan pelik perih dan ricuh peluh
dipicu mendidih
setumpah hawa nafsu di hari ketujuh
di luar batasan tanpa palungan keluh

beringin berhati dingin
kini hanya berakar di makam-makam tua
berangan mempertahankan setia
meninggikan harkat paduka
empat yang terjengkang dari pekan
sejak hilang singgasana

Balige 2017

Keterangan:
[1] Onan na Marpatik adalah salah satu dari dua jenis pekan di tanah Batak yang merupakan pusat perdagangan dan hubungan lain di antara sesama orang yang tergabung di daerah cakupannya.
[2] Adalah salah ungkapan Batak Toba terkait dengan onan (pekan).
[3] Patik tiga adalah peraturan pasar (Rule of the market).
[4] Hariara adalah sejenis pohon yang menjadi ciri khas dalam budaya Batak. Sebelum masuknya agama samawi di Tanah Batak, masyarakat mempercayai pohon ini sebagai penentu kehidupan dan pengambil keputusan.


Bresman Marpaung dilahirkan di Pematang Siantar pada 15 April 1968. Puisinya dipublikasikan di berbagai media massa dan antologi bersama. Ia bergiat di Komunitas Omong-Omong Sastra Medan.

Papan Tulis Tak Berwarna

Cerpen Afrizal Malna (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018)
Papan Tulis Tak Berwarna ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Papan Tulis Tak Berwarna ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Bangkai ayam yang pernah diciptakan Sutardji Calzoum Bachri, dalam sebuah cerpennya, masih teronggok, abadi, dalam ruang rapat Dewan Kesenian Jakarta. Ruang itu usianya hampir 50 tahun, usang, memanjang, muram. Lembaga kesenian yang selangkah lagi masuk ke dalam tragiknya sendiri, bangkrut.
Sejak sore hari, sejumlah seniman sedang rapat di ruang itu, dengan bangkai ayam abadi teronggok di meja rapat yang memanjang. Sudah berantakan di antara gelas-gelas kopi, kertas, laptop, proyektor, HP, dan makanan kecil. 75% kegiatan kesenian masa kini adalah sejumlah rapat. Para seniman seperti sedang beralih peran menjadi manager-manager perusahaan; 25% lagi estetika. Istilah yang rasanya terdengar kian aneh di tengah teknologi penggandaan supercepat media digital.
Hari sudah menjelang pukul 11 malam. Hujan sebentar lagi akan turun. Aku menghembuskan asap rokok, berdiri di jendela ruang rapat. Menatap whiteboard: ruwet dalam alur agenda kesenian yang sedang disusun. Beberapa cahaya bintang masih tampak di balik awan tebal. Bangunan Institut Kesenian Jakarta, yang mirip sebuah kapal terdampar, masih hidup oleh beberapa mahasiswa yang masih beraktivitas.Terlihat dari jendela ruang rapat, di antara pohon tua yang rimbun dan purba.
Beberapa seniman peserta rapat, tampak sudah lelah. Beberapa tatapan gundah: bayangan menempuh jalan panjang untuk bisa mewujudkan program. Bau bangkai ayam menyelusup ke dalam angka-angka anggaran: “Seni dan ekonomi kreatif,” kata generasi masa kini. Setiap kami berhadapan dengan angka-angka, rasanya selalu berbau busuk.
“Beri aku parfum untuk anggaran kesenian dan bau busuk,” kataku memancing opini di sekitar politik anggaran untuk kesenian.
“Aku tidak rela negara mengeluarkan dana hampir 1 miliar untuk karya-karya sampah,” kata salah seorang peserta rapat dengan wajah gelisah, mulai terpancing.
“Itu sebuah tema,” kata yang lain. “Sebuah tema: Sampah dan Negara,” ulangnya. “Kita bawa program ini ke dalam tema itu,” lanjutnya serius.
Rasanya bau busuk bangkai ayam abadi itu kian keras tercium. Sebuah masalah sudah selesai di ujung rapat menjelang berakhir: Sampah dan Negara.
Hujan turun. Lembut. Malam yang berair.
Hari sudah menjelang jam 12 malam ketika aku sudah berada dalam taksi. Aku ingin tidur, istirahat dari kesenian. Tapi supir taksi terus bercerita mengenai dirinya.
“Nama saya ‘Aman’. Tapi hidup saya tidak aman,” kata supir taksi dalam ceritanya. “Beberapa kali usaha saya bangkrut. Pindah-pindah kerja, akhirnya hidup sebagai supir taksi. Padahal bapak saya memberi nama ‘Aman’ kepada saya, agar hidup saya aman. Ternyata tidak aman.”
Sisa-sisa rintik hujan masih menetes pada kaca jendela taksi. Supir taksi terus bercerita, seolah-olah aku adalah tamu yang dipesan untuk mendengar kisah-kisahnya yang berbau bangkai busuk. Mungkin bau bangkai ayam itu juga yang telah merancang dan menyusun hingga pertemuan dalam taksi ini terjadi.
Di perempatan Blok M menuju Jalan Fatmawati, langit seperti disayat-sayat oleh bangunan jalan layang untuk kereta yang hampir selesai. Lampu merah. Taksi berhenti. Beton-beton jalan, melayang di udara, mengubah garis kota.
Hari masih siang. Saya baru saja menghabiskan waktu tiga jam membawa taksi. Tapi tiba-tiba saya memutuskan untuk pulang ke rumah, walau seharusnya saya masih bekerja sampai jam 12 malam sebagai supir taksi. Hari itu, hati saya merasa tidak enak.
Sampai di rumah, suasana sepi. Pintu pagar tidak terkunci. Anak-anak sekolah. Istri masih di kantor. Rampok? Hati saya waswas.
Saya membuka pintu rumah yang juga tidak terkunci, dan terkejut. Di ruang tamu, saya melihat istri saya sedang bersetubuh dengan pacar lamanya. Saya panik. Segera menutup pintu, menguncinya dari luar. Saya tergopoh-gopoh meninggalkan rumah dengan hati gusar, melapor ke pak RT. Semuanya seperti sedang runtuh, diri saya juga sedang runtuh. Pak RT dan beberapa warga kemudian datang menyerbu rumah saya. Memukuli lelaki yang menyelingkuhi istri saya.Rumah berantakan. Benda apa saja yang ada di ruang tamu, digunakan warga untuk memukuli lelaki itu. Kaca jendela pecah. Pikiran saya juga pecah dan runtuh. Gelap. Getir. Tidak mengerti.
Stop.
Kami akhirnya bercerai. Anak-anak mengancam ibunya, mereka akan memutus tali kekeluargaan kalau ibunya menikah lagi.
Sejak peristiwa itu, rumah celaka itu saya jual. Saya tidak bisa menanggung ruang yang telah merekam tubuh istri saya bersama lelaki lain. Saya tidak menikah lagi, bekas istri saya juga tidak menikah lagi. Saya kemudian berinisiatif untuk rujuk kembali dengan istri saya demi kepentingan masa depan anak-anak kami. Tapi sejak peristiwa kekerasan itu, istri saya yang sudah kembali ke rumah orang tuanya, tidak pernah bicara sedikit pun. Bisu. Seseorang telah pergi meninggalkan bahasa. Seolah-olah, setiap kata hanya akan kembali melukai dirinya. Dia telah jadi bagian dari massa diam yang personal, internal, masuk ke lorong gelap dirinya sendiri.
Pak Aman, sang supir taksi, mengakhiri ceritanya. Aku tidak mengerti, kenapa harus menerima cerita seperti ini dalam sebuah taksi. Terperangkap dalam sebuah cerita yang tidak aku pesan.
Papan Tulis Tak Berwarna—begitu judul cerpen ini.
Kisah muram itu, secara sewenang-wenang, tanpa minta izin kepada supir taksi, aku pindahkan ke dalam cerpen ini. “Apa hakku mengambil kisah orang lain, dan menjadikannya sebagai konsumsi publik? Tetapi aku juga tidak pernah memesan kisah muram itu kepada supir taksi. Aku hanya memesan mengantarku untuk pulang.”
Kami menghirup red whine manis dalam sebuah makan malam para sahabat di rumah seorang sahabat, Hanafi. Merayakan awal tahun baru. Ge’eng, Utuy, Acep, Adinda, Heru, dan Hanafi bergantian menyanyikan berbagai lagu dangdut koplo, sekali-kali memainkan lagu beberapa band indie, Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, bahkan Doel Sumbang, di antara celotehan untuk saling menghibur.
“Apakah keluarga supir taksi itu merupakan korban dari praktik ruang sejarah yang tunggal?” kataku, melempar kisah ini kepada mereka. Aku berharap mereka bisa memberikan opini.
“Lihat,” kata Heru, serius. “Dari sudut pandangan sang suami: sang istri hanyalah seorang istri, tidak ada sub-subyek yang lain. Begitu pula dari sudut pandangan anak-anak mereka: sang ibu hanyalah seorang ibu, tidak ada sub-subyek yang lain. Gila! Lihat itu. Kita tidak pernah tunggal. Keluarga, negara, lembaga apa pun tidak punya hak untuk membuat kita semata sebagai individu tunggal yang terkunci dalam peran yang tunggal.”
“Ya, jelas, dong, itu produk pandangan sejarah yang tunggal. Mari kita tinggalkan sejarah yang gelap,” celetuk Ge’eng dengan ekspresinya yang lucu. “Jangan lihat sejarahnya, dong, tapi lihat, siapa yang telah menciptakan sejarah itu.” Ge’eng kemudian menyanyikan sebuah lagu Sunda klasik: Bubuy Bulan. Kami semua bernyanyi, menikmati syairnya yang indah: bulan … laut … dan air yang telah kering dalam panci mendidih.
21 Januari 2018, Nurjana, nama istri sang supir taksi, akan merayakan ulang tahun ke-37. Pak Aman sudah menunggu hari ini. Dia menyiapkan pakaian pengantin yang pernah dikenakan istrinya pada pesta pernikahan mereka, 17 tahun yang lalu.
Dengan langkah pasti, Pak Aman memasuki rumah bekas mertuanya untuk bertemu dengan bekas istrinya. Nurjana tampak masih cantik, seolah-olah tidak ada masa lalu yang pernah melukainya. Pak Aman memberikan bekas pakaian pengantin itu sebagai kado ulang tahun. Kado itu diterimanya, Nurjana membuka isinya. Namun perempuan itu tetap bisu, masuk ke dalam kamar dengan pakaian bekas pengantin yang dipeluk ke dadanya. Tampak Nurjana berusaha menahan emosinya, meredam desakan gelap dan padat yang hampir meledak dalam dirinya.
Dengan gundah, Pak Aman menunggu Nurjana keluar dari kamarnya. Dia tidak bisa menduga-duga, apa yang akan terjadi selanjutnya. Nurjana kini seperti berada dalam sebuah alam yang tidak bisa dijangkaunya, bahkan tidak ada kendaraan yang bisa membawanya kembali untuk bertemu dengan bekas istrinya … air yang telah kering dalam panci mendidih.
Tidak beberapa lama, Nurjana keluar dengan pakaian pengantin yang sudah kembali membungkus tubuhnya. Sang pengantin. 17 Tahun telah berlalu. “Orang seperti aku, rasanya tidak pantas untuk berpikir tentang arti waktu,” pikir Pak Aman. Istrinya, yang kini telah berdiri dengan pakaian pengantin 17 tahun yang lalu, bukanlah waktu, pikirnya. Tidak ada bekas waktu pada tubuh istrinya.
“Maafkan aku, Nurjana,” kata Aman memandangi istrinya. “Waktu tidak akan pernah bisa menyentuh kecantikanmu,” katanya. Dia tak mengerti, bagaimana tiba-tiba dia bisa memiliki kalimat seperti ini. Kalimat indah yang menyembunyikan tragedi dalam keindahannya.
Tiba-tiba Nurjana berbicara dalam bahasa Minang kepada bekas suaminya. Bahasa yang tidak dimengerti oleh Pak Aman. Nurjana merasa nyaman, kembali berada dalam pelukan bahasa ibunya. Bahasa yang hanya diciptakan untuk para perempuan.
Aku menghabiskan sisa red whine. Acep, entah mengapa, tiba-tiba menyanyikan lagu Kepada Paduka Yang Mulia. Sebuah lagu politik yang indah, pernah dinyanyikan Lilis Suryani, untuk Manipol Usdek yang menggelegar dalam pidato Sukarno. Merayakan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1959. Apakah artinya waktu? 59 tahun telah berlalu.


Afrizal Malna menulis puisi, cerita pendek, novel, kritik sastra dan teater, skenario dan naskah teater, di samping menyunting sejumlah buku. Kini ia tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

Selusin Catatan Sang Pejalan

Oleh Bandung Mawardi (Koran Tempo, 13-14 Januari 2018)
Catatan Pinggir 11 dan 12 ilustrasi Koran Tempo.png
Catatan Pinggir 11 dan 12 ilustrasi Koran Tempo
Pada 1982, buku perdana Catatan Pinggir terbit. Isinya kumpulan esai-esai Goenawan Mohamad yang tersaji rutin di majalah Tempo. Kini, 35 tahun sesudah kelahirannya, keluarga buku kumpulan tulisan itu telah genap selusin dengan kehadiran Catatan Pinggir 11 dan Catatan Pinggir 12. Si penulis menua, tapi tulisan-tulisannya terus dipersembahkan kepada pembaca Tempo. Pada 2017, tulisan-tulisan Goenawan sudah melebihi seribu.
Th Sumartana menulis pengantar dalam edisi perdana yang berjudul “Sebuah Refleksi, Dengan Jarak”. Dia mengatakan, Goenawan, melalui kolom Catatan Pinggir di majalah Tempo, sengaja mengadakan refleksi bersama pembaca. Adapun penerbitnya menyebutkan Goenawan berusaha menulis refleksi tentang kemanusiaan, kemasyarakatan, politik, sejarah, masa depan, dan lain-lain. Harga buku setebal 628 halaman itu ditetapkan Rp 7.500.
Sebelum diterbitkan dalam bentuk buku oleh Grafitipers, banyak pembaca yang mengumpulkan kolom Catatan Pinggir dari majalah Tempo, lalu dijual. Lucunya, penawaran penjualan bundel Catatan Pinggir ada yang ditampilkan di rubrik Surat, majalah Tempo. Misalnya, pengumuman Danurdono asal Solo pada edisi 24 Maret 1979. Tertulis: “Tersedia bundel Catatan Pinggir, Tempo. Diketik rapi, bersampul tebal, dilapisi plastik kaca. Tiap bundel 20 Catatan Pinggir. Harga tiap bundel Rp 1.250 termasuk ongkos kirim.”
Puluhan tahun berlalu, pada 2017 terbitlah Catatan Pinggir 11 dan Catatan Pinggir 12. Tiap jilid dihargai Rp 100 ribu. Dua buku tebal itu adalah sebuah penegasan bahwa Goenawan belum lelah menulis. Dia boleh semakin tua, tapi keranjingannya mempersembahkan esai tak jua surut.
Intan Paramaditha memberi pengantar berjudul “Catatan Si Pejalan”. Ia mengartikan catatan pinggir sebagai perjalanan menelusuri rekaman sejarah. Esai-esai Goenawan, kata Intan, membawa kita turut serta dalam penjelajahannya sebagai seorang pejalan yang mengunjungi serta merenungi beragam pengalaman dan wacana.
Pejalan itu mungkin memiliki sekoper bahasa dan tema, tak lelah dan habis dituliskan menjadi Catatan Pinggir, menempuh tahun demi tahun. Coba lihat tulisan berjudul “Koper” dalam Catatan Pinggir 11. Goenawan menceritakan dan menafsir ulang novel Jejak Langkah dan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer. Pilihan jatuh pada adegan Minke membawa koper tua saat ditahan polisi dan kembali dari pengasingan. Adegan mengacu pada buku Situated Testimonies garapan Laurie Sears. Polisi mengira Minke bakal memiliki bawaan selain koper. Minke menjawab singkat: “Semua sudah kubawa dalam kepalaku.” Si polisi kolonial tak usah membantu untuk membawa “milik” Minke.
Pada Catatan Pinggir 12, Hamid Basyaib memberi pengantar yang dimulai dengan usul agar Catatan Pinggir mendapat Guinness World Records. Tumpukan pujian disajikan Hamid, mengacu pada ketekunan Goenawan selama 40 tahun menulis Catatan Pinggir.
“Ia terutama menyumbang besar dalam bentuk presentasi ide dengan warna sastra yang kuat, dan menjadikan pemaparan gagasan dalam bahasa Indonesia terasa modern, cerdas, dan memenuhi persyaratan kompleksitas yang selayaknya ada pada pemaparan ide yang berkualitas,” katanya. Pujian itu terasa “sah” jika pembaca sempat mengamati foto Goenawan Mohamad di sampul belakang: lelaki berwajah tua mengenakan kacamata dan jam tangan. Ia tampak bijak di sana.
Kita simak saja tulisan berjudul “Nostalgia” dalam Catatan Pinggir 12. Pada pembuka tulisan yang diambil dari majalah Tempo edisi 14 Februari 2016 itu, Goenawan membuat pengakuan: “Pada umur 75, masa depan saya jauh makin sedikit ketimbang masa lalu saya. Pada umur ini orang lazimnya akan gugup dengan masa kini, karena di abad ke-21 masa kini kian didera masa depan.”
Kalimat-kalimat yang mengandung resah, tapi Goenawan tetap pemilik masa lalu dan masa depan. Ia pun seperti mengutuk pembaca untuk merampungkan selusin buku yang berasal dari masa lalu sampai sekarang.

Catatan Pinggir 11 dan 12
Penulis : Goenawan Mohamad
Penerbit : Pusat Data dan Analisa Tempo
Cetakan : I, 2017
Tebal : 442 halaman dan 438 halaman


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi.

Sebuah Taman, Sebuah Pertemuan

Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Januari 2018)
Sebuah Taman, Sebuah Pertemuan ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Sebuah Taman, Sebuah Pertemuan ilustrasi Suara Merdeka
JADI, sudah berapa tahun kita tidak bertemu?”
Mereka berjalan pelan. Menyusuri taman. Seperti sepasang kupu-kupu yang terbang hati-hati mencari tempat teduh.
“Maksudmu, sudah berapa tahun kita berpisah?”
“Sama saja.”
Mereka tahu, hari-hari yang telah lewat seperti bui yang tidak tampak. Jiwa mereka terkurung. Satu sama lain.
“Aku lupa, mungkin hampir sepuluh tahun.”
“Cukup lama juga ternyata.”
Sekarang, sesaat, mereka merasa bebas. Menikmati cahaya senja yang tumpah di rerumputan.
“Apa kau merasa tidak enak kita bertemu di sini?”
“Tidak juga.”
Di antara langkah kaki itu, mereka mendapati sesuatu yang masih utuh, sesuatu yang menyala-nyala. Mereka heran dan hati mereka berdebar-debar.
“Apa suamimu tak akan marah?”
“Ia sudah tahu. Aku sudah bilang, sepulang kerja aku akan bertemu seseorang, teman lama.”
“Apa kau bilang teman lamamu itu laki-laki?”
“Ya.”
“Dia tidak marah?”
“Dia bukan tipe lelaki seperti itu, yang mudah curiga atau cemburu.”
“Apa kau yakin, ia mencintaimu?”
Ada sebuah pertanyaan yang rasanya keliru dan tidak pantas dilontarkan, tapi bibir itu tak mampu menahan getar hingga limbung dan ada yang terpeleset keluar dari liang ucap. Pertanyaan itu.
“Pertanyaan macam apa itu?”
“Maaf. Lupakan saja.”
“Tidak apa-apa. Lagipula mencintai atau tidak mencintai bukanlah masalah bagi kami. Prioritas kami sekarang anak-anak, bukan cinta. Mungkin kami cukup bahagia.”
Mungkin kami cukup bahagia. Kata-kata itu mendedas isi kepala. Namun langkah mereka masih terus terayun. Meski pelan sekali. Ada percik serupa kembang api yang mencubit perasaan mereka. Entah apa.
“Jadi, apa alasanmu datang ke kota ini lagi?”
Ketika mereka melewati serumpun mawar yang berbunga setinggi pinggul, perempuan itu menghentikan langkah, dan memetik sekuntum. Lantas dia cium mawar itu penuh hasrat. Mereka berjalan lagi. Masih pelan sekali.
“Cuma urusan pekerjaan yang sebaiknya tidak kuceritakan. Aku yakin, kau akan bosan mendengarnya.”
“Kau benar. Aku tak tertarik sama sekali pada pekerjaanmu. Aku lebih tertarik mengetahui bagaimana kabar rumah tanggamu.”
Laki-laki itu menunduk, mengamati langkah sepatunya yang saling mendahului. Lantas ia mengangkat wajah dan menatap ke depan. “Rumah tanggaku? Baik-baik saja.”
“Istrimu?”
“Istriku juga baik-baik saja. Dia wanita karier yang sibuk.”
Perempuan itu memutar-mutar tangkai mawar yang ia pegang, tanpa sadar sehelai kelopak merah pekat terlepas.
“Jadi, berapa anakmu sekarang?”
“Istriku belum mau kami punya momongan.”
“Mungkin istrimu punya alasan.”
“Mungkin. Kau… bagaimana kabar anak-anak?”
“Anak-anakku? Mereka anak-anak yang menyenangkan.”
“Ya, anak-anak selalu menyenangkan, tak seperti orang dewasa.”
“Begitulah.”
“Sepertinya kehidupan rumah tanggamu baik-baik saja, bahkan menyenangkan.”
“Ya, mungkin itu patut disyukuri.”
“Apa kau tidak ingin duduk?”
“Boleh.”
Dua anak manusia yang lupa usia itu menghentikan langkah, dan duduk hampir bersamaan di sebuah bangku beton di pusat taman. Angin semilir. Menghanyutkan.
“Taman ini masih seramai dulu ya?”
“Dulu kapan maksudmu?”
“Seingatku, sewaktu kita masih kuliah, kita sering sekali mengunjungi taman ini.”
“Kau masih ingat rupanya.”
“Ingatanku cukup bagus.”
“Coba kaulihat gadis itu.”
“Gadis itu siapa?” Menoleh kiri kanan.
“Itu! Yang duduk sendirian dan membawa novel The Orange Girl Jostein Gaarder.”
“Gadis di bawah pohon mimosa itu maksudmu?”
“Ya. Dia.”
“Apa kau mengenalnya?”
“Tidak. Hanya gadis itu mengingatkanku pada puluhan tahun lalu ketika aku masih belia, mungkin seusia dia.”
“Memang ada apa dengan gadis itu?”
“Tidakkah kaulihat ia tampak begitu gelisah menunggu seseorang. Lihatlah buku yang dia bawa itu, cuma dia bolak-balik, dia tutup lagi, dia buka lagi. Buku itu sekadar teman untuk mengalihkan kejenuhan menunggu seseorang.”
“Aku yakin, dulu kau pernah melakukan hal yang sama.”
“Gila! Apa kau lupa, kau selalu datang terlambat.”
“Benar. Aku sudah lupa.”
Mereka tertawa ringan dan sama-sama diam beberapa saat. Cahaya senja tumpah di wajah mereka. Berkilap-kilap.
“Baiklah, kau belum menceritakan bagaimana kehidupanmu sekarang.”
“Bukankah tadi sudah kuceritakan. Kehidupanku baik-baik saja, dan istriku wanita karier yang sibuk.”
“Apa kau mencintainya?”
Pertanyaan semacam itu lagi. Sebuah pertanyaan yang rawan.
“Aku tak tahu.”
“Lalu apa prioritasmu hidup dengannya? Oke, kita tidak membahas siapa mencintai siapa. Tapi, dalam hidup, setidaknya kau harus punya prioritas. Dan anak-anak terkadang menjadi prioritas paling tepat untuk tetap hidup dengan seseorang yang mungkin tak kaucintai.”
Obrolan makin rawan dan kedunya tampak makin menikmati. Nyala api yang timbul-tenggelam itu.
“Entahlah.”
“Hei, lihat gadis itu. Tampaknya kekasihnya tengah menelepon dan memohon maaf karena datang terlambat.”
“Mungkin kekasihnya tak akan datang.”
“Kalau aku jadi dia, aku sudah enyah dari taman ini.”
“Mengapa dulu kau tak melakukannya?”
“Aku kasihan padamu.”
“Aku yakin alasanmu bukan itu.”
“Terserah.”
“Lihatlah, gadis itu sekarang menangis.”
“Benarkah?”
“Pasti kekasihnya tak jadi datang.”
“Belum tentu.”
“Buktinya ia masih tergugu di situ.”
“Mungkin gadis itu memang bodoh.”
“Hus, tak baik membodoh-bodohkan orang.”
“Setidaknya jika masih ingin menunggu, ia tak perlu menangis.”
“Kupikir yang dimiliki perempuan memang cuma tangisan.”
“Dan yang dimiliki laki-laki cuma pengkhianatan.”
“Tidak semua. Buktinya, dulu, kau mengkhianatiku.”
“Jika kau berada di posisiku, mungkin kau akan melakukan hal yang sama.”
“Mungkin.”
“Jadi yang kulakukan bukan pengkhianatan. Hanya sebuah pilihan.”
“Aku senang kau mengambil pilihan yang tepat.”
“Iya. Aku juga lega melihat ayahku bisa pergi dengan tenang.”
“Kupikir, dulu, ayahmu cuma menggertakmu dengan penyakitnya itu.”
“Aku tahu. Tapi, bagaimanapun, ayah tetaplah ayah.”
“Aku maklum, meski rasa sakit itu terkadang masih kerap datang.”
“Itu sudah puluhan tahun berlalu.”
“Celakanya, ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa dihapus oleh waktu.”
“Hmm…. Sebaiknya kita membicarakan hal lain saja.”
“Ya.”
Mereka terdiam. Saling menyelami kedalaman pikiran masing-masing. Namun, di sebuah tempat yang tak mereka yakini keberadaannya, sesuatu itu masih berdenyar dan menyala-nyala. Hingga seolah mereka tak sanggup lagi berkata-kata.
“Kau bekerja, suamimu bekerja. Anak-anak?”
“Ada seorang asisten rumah tangga di rumah.”
“Pukul berapa biasanya suamimu pulang kerja?”
“Mungkin sekarang ia sudah sampai di rumah.”
“Apa tidak sebaiknya kita pulang saja?”
“Mengapa terburu-buru?”
“Aku tak enak pada suamimu.”
“Sudah kubilang, suamiku bukan tipe-tipe lelaki pencemburu. Lagipula aku sudah bilang akan pulang telat.”
“Kalau aku jadi suamimu, pasti aku sudah membunuhmu.”
“Dan kau…. Kira-kira apa yang akan istrimu lakukan jika ia tahu diam-diam kau menemui seorang wanita dengan dalih dinas keluar kota.”
“Sudah kubilang, istriku wanita karier yang sibuk. Ia tak akan punya waktu memikirkan itu.”
“Kalau aku jadi istrimu, pasti aku sudah membunuhmu.”
Mereka tertawa bersamaan. Ada sesuatu yang tiba-tiba mencair. Mereka lekas menyadari sesuatu; selama ini mereka tak pernah sebahagia itu.
“Lihat, kekasih gadis itu akhirnya datang juga. Ia membawa bunga sebagai ungkapan maaf. Tampaknya ia perayu yang baik.”
“Mana?”
“Kalau boleh menebak, pasti gadis itu perempuan simpanan. Lihatlah, lelaki itu tampak jauh lebih tua. Meski ia memang masih tampan.”
“Lelaki itu?”
“Ia masih mengenakan pakaian kantor. Berani taruhan, dia pasti sudah punya istri.”
“Dia?”
“Kenapa? Apa kau mengenalnya?”
“Oh, tidak. Aku tidak mengenalnya.”
“Sebentar, sebentar, tapi sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana, ya? Hei, kenapa kau menangis?”
“Mataku kelilipan. Entahlah. Sebaiknya kita segera pergi dari sini.”
“Hei, ada apa? Mengapa tiba-tiba kau….”
“Lelaki itu… kau memang pernah melihatnya… dan aku bohong kalau aku tak mengenali ayah anakku.”
Mereka membatu memperhatikan dua sejoli yang berpeluk dan berjalan pelan, meninggalkan taman. Sepi. Senja seolah redam. Lampu-lampu taman menyala. Ada yang tertahan. Sesungguhnya mereka ingin berpelukan. Tapi mereka hanya diam. Menahan sesuatu yang kian berdenyar dan menyala-nyala. (44)

Malang, 2014
Mashdar Zainal, lahir di Madiun, Jawa Timur, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.

Ada Apa dengan Mimo?

Oleh Miranda Seftiana (Suara Merdeka, 14 Januari 2018)
Ada Apa dengan Mimo ilustrasi Suara Merdeka
Ada Apa dengan Mimo ilustrasi Suara Merdeka 
Sore baru saja menjelang. Menggeliat, seorang anak laki-laki bertubuh gemuk bangun dari tempat tidur berbentuk mobil balap dengan warna biru muda. Mimo, nama anak lelaki itu. Usianya baru delapan tahun, sekarang uduk di kelas dua sekolah dasar.
“Mimo … ada Irham, Aldi, dan Dion menunggu di depan,” Bunda berteriak dari dapur.
“Iya, Bunda,” jawab Mimo seraya beranjak dari tempat tidurnya.
Namun, langkah Mimo terhenti. Perutnya mendadak sakit seperti melilit-lilit. Segera Mimo menuju ke kamar mandi.
Di kamar mandi, perut Mimo tak juga kunjung berhenti terasa melilit. Padahal sudah tiga kali Mimo bolak-balik ke kamar mandi. Sebelum keluar, Mimo teringat kejadian saat disekolah tadi. “Aduuuuhhhh … kok perut Mimo sakit sekali ya?” rintih Mimo sambil memegangi perutnya.
Baru saja Mimo duduk di samping tempat tidurnya, tiba-tiba perutnya merasa ingin ke belakang lagi. Mimo setengah berlari menuju kamar mandi untuk kali keempat.
Mimo meringis saat di kamar mandi. Ia teringat saat di sekolah jajan banyak sekali.
Mulai dari siomay, gorengan, dan es sirup kesukaannya. Bahkan, Mimo menjadi lupa dengan bekal dari Bunda akibat makan jajanan tersebut.
***
“Mimo, ada Irham, Aldi, dan Dion. Mereka sudah menunggu lama di bawah. Katanya mau mengajak Mimo main bola di lapangan,” ucap Bunda saat memasuki kamar Mimo.
“Mimo tidak bisa ikut main, Bunda,” jawab Mimo seraya meringis menahan sakit perutnya.
“Lo, kenapa Mimo? Kamu sakit?”
Mimo mengangguk sembari memegangi perutnya yang melilit-lilit.
“Mimo tadi makan apa? Bekal yang Bunda bawakan juga tidak habis.”
“Hikss … hiks … Mimo jajan es sirup, siomay, dan gorengan, Bunda,” kata Mimo lirih sambil terisak.
“Maafkan Mimo, Bunda. Mimo janji tidak akan jajan sembarangan lagi.”
Bunda tersenyum. Dirangkul Bunda tubuh gembul Mimo, seraya berkata, “Ya sudah tidak apa-apa, Mimo. Sesekali boleh saja jajan di luar, asal jangan terlalu sering. Bukankah lebih baik makan bekal yang dibawa dari rumah? Selain sehat juga hemat. Uang jajan Mimo kan bisa ditabung untuk membeli barang lain?”
“Hiks … Hiks… Iya Bunda, mulai sekarang Mimo janji untuk lebih sering makan bekal dari Bunda dan tidak jajan sembarangan lagi,” ucap Mimo menyesal.
“Bagus! Itu baru anak yang hebat,” puji Bunda.
“Kalau begitu, Bunda ke luar dulu mau kasih tahu ke Irham, Aldi, dan Dion kalau Mimo tidak bisa ikut main hari ini. Sekalian Bunda ambilkan obat untuk Mimo.”
“Terima kasih, Bunda,” ujar Mimo sembari menghapus air matanya.
***
Keesokan harinya, bel istirahat berbunyi. Mimo memilih untuk tetap tinggal di kelas. Irham yang duduk satu meja dengan Mimo menatap bingung sebelum menyusul Aldi dan Dion yang sudah lebih dulu keluar kelas.
“Kamu kenapa tidak jajan, Mo?”
Mimo menggeleng, lalu membuka bekal makanan dari Bunda.
“Wah lucu ya Mo, nasi kamu jadi kayak beruang,” seru Irham dengan mata berbinar.
“Kata Bunda ini namanya bento. Nasi dan lauknya sengaja dibuat mirip beruang biar aku semangat makan,” kata Mimo bangga. Irham yang melihat bekal Mimo jadi tergoda dan ingin ikut menyantapnya.
“Besok aku mau bilang Mama ah biar dibikinin bekal kayak kamu, lucu dan enak sepertinya,” kata Irham kepada Mimo. Mimo pun tersenyum dan di dalam hatinya berterima kasih kepada Bunda. Bunda memang hebat. (58)

sebuah pintu di depan pintu, arsip kegelapan, (hamlet), dan lainnya

Puisi-puisi Afrizal Malna (Kompas, 13 Januari 2018)
Jaduh Legong Dancer Preparation ilustrasi Ngurah Darma - Kompas.jpg
Jaduh Legong Dancer Preparation ilustrasi Ngurah Darma/Kompas

seseorang yang mengapung di atas tubuhku


dia membuat sore dari sebuah rancangan busana
jahitan udara antara yang terbuka dan tertutup
guntingan pada bahu. kulit tropis di musim semi
buatlah aku dari air liur burung gereja
yang memberi minum anaknya, dan sebuah kamus yang
tak punya ancaman

jangan bercerita, ketika kupu-kupu terbang dalam suaramu
dan sebuah senja yang tak bisa dimasuki batas malam
tubuhnya mengapung di atas tubuhku
seperti laut pasang
bulan yang tergenang dalam cahayanya
buatlah aku kembali tidak mengerti apa itu takut
ketika menyusuri bibirmu, pelukan, yang meninggalkan senja
pada lampu jalan

sebuah kafe, belum tutup untuk seorang tamu
yang masih menyanyikan cinta. para pemusik
telah pergi meninggalkannya.
sebuah lagu elvis presley, fever,
link: https://youtu.be/dNsU5edolvk
seperti suara bibir dalam anggur merah

buatlah aku dari sebuah sudut malam
seolah-olah aku sedang menunggumu
di sebuah titik yang meledakkan garis pelarian
hingga aku tak tahu: sedang memeluk mayatku sendiri

sebuah pintu di depan pintu


aku seorang prajurit yang tidak mengenal
siapa komandanku
aku hanya menerima perintah
“rapat ke B rapat ke A. rapat.
kau adalah A atau B di antara C”

– sebuah ledakan di kampung melayu
– sebuah pameran evolusi busana
– pidato kebudayaan tentang bintang mati
– silsilah keluarga, bantu rumah sakit
– petemakan ayam untuk konsumsi kota

kau adalah A dengan wajah anti A
susunlah B dan C sebagai A dan tak tahu
mereka adalah A. ciptakan D sebagai lawan A
untuk menyaring seluruh anti A
targetnya: A adalah B

aku adalah A bukan B setelah C
intinya “ABC” tutup semua jendela. tutup
semua pintu. tutup hantu etimologi
topeng alfabet dalam viral riwayatmu

arsip kegelapan


dia meninggalkan kakinya di luar untuk berjalan ke dalam:
ginjal, empedu, jantung, sebuah ruang tamu dan seseorang
yang tak pernah ada. dia meninggalkan kepalanya di dalam
untuk berjalan ke luar: lemari, bantal dengan sisa rambut,
sabun mandi dan bau sperma dari tubuh yang tak pernah ada.
bagaimanakah ruang bekerja antara batas dan objek-objek, dan
sebuah badai yang mencari di mana arsip sinar matahari
tersimpan.

masuk dan keluar lagi, pintunya tertinggal di tempat tukang
servis radio, gelombangnya mencari lagu-lagu kenangan. aku-
lirik yang pingsan dalam sebuah buku kritik sastra tentang
seseorang yang tak pernah ada. kilometer-kilometer telah
berlalu, bangkai waktu dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas.

para pencuri masuk ke dalam perpustakaan, mencuri arsip,
menggantinya dengan tisu. mereka menemukan aku-lirik yang
sekarat dalam perpustakaan:
”beri aku bahasa
beri aku bahasa
untuk bernafas.”
jari-jari tangan mereka tertinggal dalam mesin tik tua. tata
bahasa berlalu, lidahnya bengkak oleh huruf-huruf kapital yang
cerewet tentang kata-kata yang tak pernah ada

dia berjalan ke dalam melalui jalan ke luar:
ladang kuburan arsip dalam kegelapan

(hamlet)

buat Imas Darsih, sutradara Miss Tjitjih
setelah pertunjukan hamlet dalam bahasa Sunda

koper itu telah terbuka
bau perjalanan bersarang dalam handuk lembab
matahari jam 9 pagi, rima dari sinar hangat
(pagi)
bau ikan asin dari penggorengan
batas antara bibir dan hantu-hantu kenangan
jemari tanganku sudah tak merasakan lagi
– rokok masih menyala yang kuhisap
(lepas):
bagaimanakah
bagaimanakah
bagaimanakah? membedakan
tubuh kekasih dan tubuh seorang ibu. bau yang telanjang
rute yang tidak pernah sama untuk
memelukmu: tutorial tentang cinta dan rahasia
di tangan para penjaga malam yang malam

asap tembakau keluar dari dalam koper
mengurai merkuri dari racun kenangan
tentang homo habilis
mereka sedang menghisapnya:
–           KTP
–           paspor
–           kartu nikah
–           potongan pajak puisi
–           NPWF
–           ATM dan sikat gigi
–           (:))

koper beri aku visa, koper
(hutan telah terbakar di depan istana)
singgasana yang cerewet dalam bau darah
Adegan yang Disensor:
– hamlet keluar dari pintu belakang/
– tapi dia juga keluar dari pintu depan/
– dia masuk lagi ke dalam yang di luar/

beri aku visa
: untuk pulang ke dalam rumah sendiri

di jendela pesawat


telah lama aku menunggumu
terlalu lama
sebelum kamu datang
sebuah mobil terbakar menuju bandara
bau besi hangus

apakah kematianku juga tak ada gunanya

rasa perih pada betis. kaki menjelang berdiri
otot kehilangan berbaring
tubuhku telah berhenti sebelum kamu datang
dan kamu memang tak pernah datang
sebagai kamu yang tak pernah ada
matahari akan bersinar lagi besok pagi
cerah. hangat. angin tipis
awan putih dan langit biru

kembang api di malam tahun baru

link: https://youtu.be/-pMlDnrZCYw

sudah malam, kau tidak lelah?

buat Kedung Darma Romansha

ia bertanya kepada “siapakah”
yang telah mengarang tubuhnya di panggung ini
panjang rambutnya melebihi
batas kau bisa mengukur merunduknya padi
menjelang panen. seorang aku-lirik mabuk
dalam bau kematian yang membiusnya
dia mencari tubuh-puisi yang lain – dan dia pikir
– itu sejenis luka pada tanda baca. siapakah namamu?
(ayo, bos, sawernya mana)
tatapannya: membakar untuk setiap lelaki padam
dan setiap gesekan padang pemburuan
uang, kejantanan yang goyah, cinta yang liar
dalam mikrofon setelah panen

dia seorang utami. suaranya berongga
tempat kau bisa menghilang tanpa frekuensi
– (terima kasih. sawer lagi dong, bos)
sebuah tawaran politik di bawah tangan
setelah panen. dan jerami dalam kenangan hutang keluarga
dia seorang dewi, suaranya adalah:
kau akan gagal menatapku dengan kekuasaan
ia menggerakkan pinggulnya di atas ujung telapak kakinya
– (goyang dong), dan seekor kuda berlari
jejak-jejak keringat melekat di lehernya
menembus rahasia sebuah hutan
dia seorang penyanyi:

kau tawar-tawar
cinta (siapa) – rindu (siapa)
(link: https://youtu.be/oFJObnoTIug)

ada apa ini? lelaki saling mengejar, memukul
seperti kawanan hewan yang merobek rumah
ia memanggil lelaki seperti anak ayam untuk makan
ladang kecantikan seorang dewi di atas pantura yang demam
dan mereka menciumi tangannya. perempuan suci
nyai ronggeng dan cahaya malam dari tubuhnya
petani antara harga beras dan tanali
antara desa yang runtuh dalam spiker


Afrizal Malna kini kian tidak tahu batas-batas puisi. Merasa lebih bekerja sebagai seorang “bekas penyair”; membuat jejaring lain antara irisan-irisan imaji, tanda baca, dan bahasa sebagai elemen imaterial dalam ruang tipografi tata letak. Pada Batas Setiap Masa Kini (2017) adalah buku mutakhirnya.