Daftar Blog Saya

Minggu, 14 Januari 2018

sebuah pintu di depan pintu, arsip kegelapan, (hamlet), dan lainnya

Puisi-puisi Afrizal Malna (Kompas, 13 Januari 2018)
Jaduh Legong Dancer Preparation ilustrasi Ngurah Darma - Kompas.jpg
Jaduh Legong Dancer Preparation ilustrasi Ngurah Darma/Kompas

seseorang yang mengapung di atas tubuhku


dia membuat sore dari sebuah rancangan busana
jahitan udara antara yang terbuka dan tertutup
guntingan pada bahu. kulit tropis di musim semi
buatlah aku dari air liur burung gereja
yang memberi minum anaknya, dan sebuah kamus yang
tak punya ancaman

jangan bercerita, ketika kupu-kupu terbang dalam suaramu
dan sebuah senja yang tak bisa dimasuki batas malam
tubuhnya mengapung di atas tubuhku
seperti laut pasang
bulan yang tergenang dalam cahayanya
buatlah aku kembali tidak mengerti apa itu takut
ketika menyusuri bibirmu, pelukan, yang meninggalkan senja
pada lampu jalan

sebuah kafe, belum tutup untuk seorang tamu
yang masih menyanyikan cinta. para pemusik
telah pergi meninggalkannya.
sebuah lagu elvis presley, fever,
link: https://youtu.be/dNsU5edolvk
seperti suara bibir dalam anggur merah

buatlah aku dari sebuah sudut malam
seolah-olah aku sedang menunggumu
di sebuah titik yang meledakkan garis pelarian
hingga aku tak tahu: sedang memeluk mayatku sendiri

sebuah pintu di depan pintu


aku seorang prajurit yang tidak mengenal
siapa komandanku
aku hanya menerima perintah
“rapat ke B rapat ke A. rapat.
kau adalah A atau B di antara C”

– sebuah ledakan di kampung melayu
– sebuah pameran evolusi busana
– pidato kebudayaan tentang bintang mati
– silsilah keluarga, bantu rumah sakit
– petemakan ayam untuk konsumsi kota

kau adalah A dengan wajah anti A
susunlah B dan C sebagai A dan tak tahu
mereka adalah A. ciptakan D sebagai lawan A
untuk menyaring seluruh anti A
targetnya: A adalah B

aku adalah A bukan B setelah C
intinya “ABC” tutup semua jendela. tutup
semua pintu. tutup hantu etimologi
topeng alfabet dalam viral riwayatmu

arsip kegelapan


dia meninggalkan kakinya di luar untuk berjalan ke dalam:
ginjal, empedu, jantung, sebuah ruang tamu dan seseorang
yang tak pernah ada. dia meninggalkan kepalanya di dalam
untuk berjalan ke luar: lemari, bantal dengan sisa rambut,
sabun mandi dan bau sperma dari tubuh yang tak pernah ada.
bagaimanakah ruang bekerja antara batas dan objek-objek, dan
sebuah badai yang mencari di mana arsip sinar matahari
tersimpan.

masuk dan keluar lagi, pintunya tertinggal di tempat tukang
servis radio, gelombangnya mencari lagu-lagu kenangan. aku-
lirik yang pingsan dalam sebuah buku kritik sastra tentang
seseorang yang tak pernah ada. kilometer-kilometer telah
berlalu, bangkai waktu dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas.

para pencuri masuk ke dalam perpustakaan, mencuri arsip,
menggantinya dengan tisu. mereka menemukan aku-lirik yang
sekarat dalam perpustakaan:
”beri aku bahasa
beri aku bahasa
untuk bernafas.”
jari-jari tangan mereka tertinggal dalam mesin tik tua. tata
bahasa berlalu, lidahnya bengkak oleh huruf-huruf kapital yang
cerewet tentang kata-kata yang tak pernah ada

dia berjalan ke dalam melalui jalan ke luar:
ladang kuburan arsip dalam kegelapan

(hamlet)

buat Imas Darsih, sutradara Miss Tjitjih
setelah pertunjukan hamlet dalam bahasa Sunda

koper itu telah terbuka
bau perjalanan bersarang dalam handuk lembab
matahari jam 9 pagi, rima dari sinar hangat
(pagi)
bau ikan asin dari penggorengan
batas antara bibir dan hantu-hantu kenangan
jemari tanganku sudah tak merasakan lagi
– rokok masih menyala yang kuhisap
(lepas):
bagaimanakah
bagaimanakah
bagaimanakah? membedakan
tubuh kekasih dan tubuh seorang ibu. bau yang telanjang
rute yang tidak pernah sama untuk
memelukmu: tutorial tentang cinta dan rahasia
di tangan para penjaga malam yang malam

asap tembakau keluar dari dalam koper
mengurai merkuri dari racun kenangan
tentang homo habilis
mereka sedang menghisapnya:
–           KTP
–           paspor
–           kartu nikah
–           potongan pajak puisi
–           NPWF
–           ATM dan sikat gigi
–           (:))

koper beri aku visa, koper
(hutan telah terbakar di depan istana)
singgasana yang cerewet dalam bau darah
Adegan yang Disensor:
– hamlet keluar dari pintu belakang/
– tapi dia juga keluar dari pintu depan/
– dia masuk lagi ke dalam yang di luar/

beri aku visa
: untuk pulang ke dalam rumah sendiri

di jendela pesawat


telah lama aku menunggumu
terlalu lama
sebelum kamu datang
sebuah mobil terbakar menuju bandara
bau besi hangus

apakah kematianku juga tak ada gunanya

rasa perih pada betis. kaki menjelang berdiri
otot kehilangan berbaring
tubuhku telah berhenti sebelum kamu datang
dan kamu memang tak pernah datang
sebagai kamu yang tak pernah ada
matahari akan bersinar lagi besok pagi
cerah. hangat. angin tipis
awan putih dan langit biru

kembang api di malam tahun baru

link: https://youtu.be/-pMlDnrZCYw

sudah malam, kau tidak lelah?

buat Kedung Darma Romansha

ia bertanya kepada “siapakah”
yang telah mengarang tubuhnya di panggung ini
panjang rambutnya melebihi
batas kau bisa mengukur merunduknya padi
menjelang panen. seorang aku-lirik mabuk
dalam bau kematian yang membiusnya
dia mencari tubuh-puisi yang lain – dan dia pikir
– itu sejenis luka pada tanda baca. siapakah namamu?
(ayo, bos, sawernya mana)
tatapannya: membakar untuk setiap lelaki padam
dan setiap gesekan padang pemburuan
uang, kejantanan yang goyah, cinta yang liar
dalam mikrofon setelah panen

dia seorang utami. suaranya berongga
tempat kau bisa menghilang tanpa frekuensi
– (terima kasih. sawer lagi dong, bos)
sebuah tawaran politik di bawah tangan
setelah panen. dan jerami dalam kenangan hutang keluarga
dia seorang dewi, suaranya adalah:
kau akan gagal menatapku dengan kekuasaan
ia menggerakkan pinggulnya di atas ujung telapak kakinya
– (goyang dong), dan seekor kuda berlari
jejak-jejak keringat melekat di lehernya
menembus rahasia sebuah hutan
dia seorang penyanyi:

kau tawar-tawar
cinta (siapa) – rindu (siapa)
(link: https://youtu.be/oFJObnoTIug)

ada apa ini? lelaki saling mengejar, memukul
seperti kawanan hewan yang merobek rumah
ia memanggil lelaki seperti anak ayam untuk makan
ladang kecantikan seorang dewi di atas pantura yang demam
dan mereka menciumi tangannya. perempuan suci
nyai ronggeng dan cahaya malam dari tubuhnya
petani antara harga beras dan tanali
antara desa yang runtuh dalam spiker


Afrizal Malna kini kian tidak tahu batas-batas puisi. Merasa lebih bekerja sebagai seorang “bekas penyair”; membuat jejaring lain antara irisan-irisan imaji, tanda baca, dan bahasa sebagai elemen imaterial dalam ruang tipografi tata letak. Pada Batas Setiap Masa Kini (2017) adalah buku mutakhirnya.

Surat untuk Anak Perempuanku

Cerpen Tenni Purwanti (Kompas, 14 Januari 2018)
Surat untuk Anak Perempuanku ilustrasi Nyoman Sani - Kompas.jpg
Surat untuk Anak Perempuanku ilustrasi Nyoman Sani/Kompas
Saat aku menulis surat ini, seorang istri di Bali sedang kesakitan karena kakinya ditebas dengan parang hingga putus oleh suaminya sendiri. Alasannya, hanya karena cemburu. Seorang perempuan lain di Tangerang menanggung malu karena ditelanjangi, dipukuli, dan dibawa berkeliling oleh warga akibat dituduh berbuat mesum dengan pasangannya sendiri. Perempuan 14 tahaun di Kendari diperkosa bergilir oleh 14 laki-laki. Perempuan lain di Jakarta, dihujat karena keputusannya melepas jilbab. Tiba-tiba saja aku berpikir untuk menulis surat untukmu. Jika aku tak berumur panjang dan tak sempat melihatmu setelah kau lahir, setidaknya aku punya sesuatu yang bisa kuceritakan, melalui surat ini.
Sebelumnya aku ingin menyampaikan bahwa aku bersyukur mengetahui bahwa bayi yang kukandung berjenis kelamin perempuan. Bertahun-tahun sebelum aku mengandungmu, teknologi sudah memungkinkan para orangtua mengetahui jenis kelamin anak mereka sebelum mereka lahir. Aku yang sejak dulu menginginkan anak perempuan, memanfaatkan teknologi ini untuk segera mengetahui jenis kelaminmu. Tapi di malam-malam menjelang kelahiranmu aku justru khawatir dengan masa depanmu. Apalagi, jika aku sampai tak sempat melihatmu sejak kau dilahirkan. Sebagai ibu, apa bekal yang bisa kuberikan untukmu menjalani kehidupan?
Aku tak akan menyebut diriku sendiri dengan ibu, mama, bunda, umi, atau apa pun sebutan yang mungkin akan kau sebutkan untukku. Kau boleh memanggilku dengan apa saja, selama kau menyayangi dan menghormatiku dari hatimu sendiri. Maka di surat ini aku lebih nyaman menyebut diriku dengan aku. Semoga kau nyaman dengan komunikasi kita ini. Dan aku akan memanggilmu dengan inisial dari nama yang telah kusiapkan untukmu. Kau bahkan boleh mengganti namamu jika kau mau.
R, seperti yang kusebutkan di awal surat, aku menulis surat ini sambil menanti kelahiranmu, di usiaku yang sudah 29 tahun. Usia yang rentan ditanya kapan menikah kalau aku melanjutkan hidup di Indonesia. Dan aku meminta ibuku untuk memberikan surat ini saat kau berusia 17 tahun, dengan harapan kau sudah beranjak dewasa (bukan sekadar tumbuh besar) dan bisa mengerti apa yang hendak kusampaikan. Mungkin kasus-kasus yang kusampaikan di awal surat sudah lewat 17 tahun, tetapi sangat mungkin terulang kepada perempuan lain.
Berdasarkan survei pengalaman hidup perempuan tahun 2016 yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun, atau sekitar 28 juta orang, pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual. Total jumlah kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2016 berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) sebanyak 259.150 kasus. Sebanyak 245.548 kasus diperoleh dari 358 Pengadilan Agama dan 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 provinsi. Dengan kecanggihan teknologi di zamanmu, kau pasti bisa menelusuri sendiri perkembangan kekerasan terhadap perempuan di negeri ini dan angkanya di tahun saat kau membaca surat ini. Kau juga bisa mencari arsip-arsip lama tentang kekerasan terhadap perempuan jika kau berminat.
Aku tak hendak menakutimu yang telanjur terlahir sebagai perempuan. Surat ini hanya ingin membuka matamu bahwa tidak mudah menjadi perempuan di negeri dengan riwayat kekerasan yang tinggi ini. Aku hanya ingin memberimu gambaran mengapa kekerasan bisa terjadi terjadi terhadap perempuan.
Salah satunya akibat patriarki. Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti. Dalam keluarga, patriarki menempatkan sosok ayah sebagai sosok yang memiliki otoritas terhadap istri, anak, dan harta benda. Aku lahir di keluarga yang kental dengan patriarki. Ayahku (kakekmu) adalah seorang yang mendominasi semua hal yang terjadi di dalam rumah. Anak perempuan sepertiku harus belajar mengurus rumah dan melayani ayah dan saudara-saudara laki-lakiku. Sementara anak laki-laki bisa terbebas dari hal-hal remeh seperti mencuci piring atau pakaian sendiri. Aku, anak perempuan satu-satunya di rumah itu yang harus mengurusi itu. Padahal menurutku anak lelaki pun harus bisa mengurus urusan domestik karena mereka juga kelak akan jadi suami dan ayah. Kalaupun tidak, mereka juga kelak akan hidup berpisah dari orangtua dan harus bisa mengurus diri sendiri, bukan?
Kau mungkin bingung bagaimana patriarki bisa melahirkan kekerasan? Aku dipukuli ayahku karena pulang setelah magrib dan tanpa izinnya. Ia menganggap anak perempuan harus berada di rumah sebelum magrib dan harus minta izin ke mana pun hendak pergi. Sementara saudara-saudara laki-lakiku bebas pergi ke mana saja hingga larut malam.
Dalam hal pendidikan, mereka anak-anak laki-laki didahulukan sebab mereka harus menjadi ‘orang’ di masa depan dan akan menafkahi istri serta anak-anak, sementara aku harus fokus mengurus dapur dan sumur, sebelum nanti melayani suamiku di kasur. Kau bisa melihat bagaimana patriarki bisa menciptakan ketidakdilan terhadap perempuan? Ini baru di sebuah keluarga kecil. Belum lagi kalau kita bicara negara. Kuota 30 persen di parlemen saja hingga surat ini kutulis, masih belum terpenuhi. Di beberapa kota di Indonesia, perempuan masih sulit menjadi pemimpin karena terganjal dominasi agama tertentu yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin.
Aku kabur dari rumah setelah menamatkan SMA. Tepatnya mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Aku katakan kabur karena ayahku tidak setuju aku ke luar negeri untuk sekolah (padahal ia tak perlu repot-repot membiayaiku). Ibuku (nenekmu) membantuku mengurus surat-surat penting yang harus kuurus untuk kepergianku ke negeri orang. Aku berhasil kabur dan tak pernah kembali lagi ke Indonesia. Aku menamatkan pendidikan S1 dan S2 di California, Amerika Serikat, dari beasiswa. Lalu aku menjadi dosen di almamaterku. Singkat cerita, aku bertemu dengan ayah biologismu dan kami berhubungan selama dua tahun sampai akhirnya aku hamil tanpa menikah. Hubungan kami masih baik-baik saja sampai suatu hari ia cemburu pada profesorku di kampus dan meninggalkanku yang hamil tua karena menuduh anak yang kukandung bukan anaknya.
Aku memutuskan untuk tetap melahirkanmu tanpa memberitahukan tentang kehamilanku kepada orangtuaku. Aku sudah tahu pasti aku yang akan disalahkan atas semua ini. Aku sudah membayangkan bagaimana kemarahan ayahku dan bagaimana tetangga-tetangga akan menilaiku yang dianggap bergaul bebas di negeri orang hingga hamil di luar nikah. Prestasiku yang lulus S2 karena beasiswa di California akan dilupakan begitu saja dan aku akan diingat sebagai perempuan tak bermoral. Tetapi menjelang kelahiranmu, aku akhirnya memberitahukan kehamilanku kepada ibuku dan memintanya menemaniku di rumah sakit. Entah bagaimana caranya ia bisa tiba di California. Ia sedang tertidur di sofa di kamarku saat aku menulis surat ini.
Semoga kau bisa mengerti apa yang telah kusampaikan ini. Kau mungkin akan mencari tahu siapa ayahmu, tapi mungkin juga tidak. Kau juga mungkin akan membenci laki-laki setelah menyimak ceritaku. Apalagi kau dibawa ibuku kembali ke Indonesia dan mungkin kau akan tinggal di rumahku bersama kakekmu, sang penganut patriarki sejati. Tapi perlu kukatakan kepadamu bahwa tidak semua laki-laki jahat. Perempuan juga bisa jahat kepada laki-laki. Kekerasan dalam rumah tangga juga bisa dilakukan perempuan kepada suaminya.
Perempuan juga bisa menyakiti sesama perempuan. Contohnya perempuan-perempuan yang menghujat pilihan seorang presenter perempuan yang memutuskan untuk melepas jilbabnya, yang sudah kusebutkan di awal tulisan ini. Sesama perempuan bisa saling menghujat hanya karena perbedaan pilihan hidup. Kubu ibu bekerja sering berseteru dengan ibu rumah tangga. Ada yang menganggap menjadi ibu rumah tangga lebih mulia ketimbang mengejar karier karena dianggap egois. Ibu yang memberi ASI eksklusif juga berseteru dengan ibu yang memberi susu formula kepada bayi mereka. Kau juga mungkin akan mendengar perempuan-perempuan tetangga yang menghujat namaku meski aku telah tiada.
Aku tak ingin kau menjadi korban kekerasan, juga tidak ingin kau menjadi pelakunya. Kekerasan bisa berbentuk fisik dan non fisik, R. Kekerasan fisik adalah kekerasan yang bisa dilihat kasatmata, seperti menampar, memukul, menendang, hingga menebas anggota tubuh, seperti yang dilakukan suami kepada istrinya (sudah kusebutkan di awal surat ini). Selain itu, ada pula kekerasan nonfisik, yang terbagi menjadi dua, yakni verbal dan psikologis. Kekerasan verbal bisa berupa memaki, membentak, menjuluki, menghina, memfitnah, menghujat. Seperti yang dialami presenter perempuan yang melepas jilbab dan dihujat atas pilihannya (yang juga kusebutkan di awal surat).
Sedangkan kekerasan psikologis bisa berupa mengucilkan, mengancam, mendiamkan, yang dilakukan melalui bahasa tubuh. Perempuan yang ditelanjangi dan dipukul warga karena ketahuan berbuat mesum dengan kekasihnya di Tangerang mengalami kekerasan fisik dan verbal sekaligus. Tetapi kau juga bisa membayangkan bagaimana kondisi psikologisnya setelah menerima penghinaan itu. Ia digerebek karena pilihannya melakukan hubungan seksual dengan kekasihnya sendiri, sementara di tempat lain orang membiarkan kekerasan fisik dan seksual terjadi di dalam rumah tangga karena merasa itu bukan urusan mereka. Laki-laki berhak melakukan apa pun atas tubuh perempuan karena dia suaminya sehingga tetangga tak perlu ikut campur.
Aku lebih tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi fisik dan psikologis korban pemerkosaan yang dilakukan 14 laki-laki sekaligus. Satu laki-laki saja bisa meninggalkan trauma seumur hidup. Bagaimana dengan 14?
Kau harus menjaga dirimu agar tidak menjadi korban kekerasan, juga sekaligus tidak menjadi pelakunya. Apa yang perlu kau lakukan? Kau harus menjaga keamananmu sekaligus menjaga keamanan orang lain. Belajarlah ilmu bela diri untuk menjaga dirimu sendiri, tetapi jangan gunakan untuk mengintimidasi orang lain. Kau juga harus ingat bahwa tubuhmu adalah otoritasmu. Kau boleh melakukan apa pun terhadap tubuhmu, jika kau mau. Tapi kau harus melakukan itu atas pertimbanganmu sendiri, mengerti konsekuensinya dan siap menerima risiko yang mengikutinya. Jangan biarkan orang lain menyentuh bagian tubuhmu tanpa izinmu. Kau juga tak boleh menyentuh bagian tubuh orang lain tanpa izin mereka.
Kau harus menjaga kenyamananmu sekaligus menjaga kenyamanan orang lain. Jika kau tak suka dihujat, maka jangan menghujat orang lain. Jika kau ingin pilihan hidupmu dihargai orang lain, maka kau harus menghargai pilihan hidup orang lain. Jika kau tak ingin disakiti, jangan menyakiti orang lain. Namun, jika kau sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti orang lain, tetapi malah kau disakiti orang lain, tempuhlah jalur yang benar untuk menghadapinya. Bunuh mereka dengan kebaikanmu, atau tempuh jalur hukum jika itu sudah melanggar hukum. Bisa saja kau pesimis dengan hukum di Indonesia, tetapi mencari keadilan dengan caramu sendiri juga belum tentu memecahkan masalah.
Pada akhirnya, yang bisa kulakukan adalah memberimu bekal untuk menjadi manusia yang menghargai kemanusiaan. Kita melawan dominasi laki-laki bukan untuk mengubahnya menjadi dominasi perempuan, tetapi untuk membuat lelaki dan perempuan di posisi setara sebagai sesama manusia. Baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun terhadap laki-laki dan perempuan lain. Aku yakin kau tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mengerti apa yang kusampaikan.
Aku menyayangimu, R.

Tenni Purwanti, lahir 2 Mei 1986. Berprofesi sebagai wartawan sejak tahun 2011 hingga sekarang. Pernah menerbitkan kumpulan cerpen bertajuk Luka (2010) secara selfpublishing. Cerpennya pertama kali masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2014.
Nyoman Sani, perupa kelahiran Sanur, 10 Agustus 1975. Karya-karya alumnus ISI Denpasar ini banyak mengeksplorasi dunia perempuan berikut kondisi psikologis yang selalu membayangi kaum ini. Selalu ada upaya melawan dunia patriarki.

Anakonda

Cerpen Siwi Nurdiani (Media Indonesia, 14 Januari 2018)
Anakonda ilustrasi Media Indonesia.jpg
Anakonda ilustrasi Media Indonesia 
DI atas bed kamar VIP class, kantuk dan insomnia tak mau berdamai. Beda adat jadi sebab. Aku terbiasa gelongsoran di atas bale bambu beratap rerimbun daun, diterpa semilir angin samudera Hindia, bukan dinginnya AC 16 derajat Grand Senyiur Hotel ini. Ketika kantuk menang, justru ada yang memaksaku untuk tak jadi tidur. Wajah Yunan muncul dari balik pintu, memberi tahu untuk bergegas ke executif dining room.
Aku menyusup di antara peserta yang siaga dengan formasi pagar betis. Sebab yang akan hadir ini, seperti blue fire di Kawah Ijen, yang hanya muncul beberapa menit jelang fajar. Jangan bayangkan artis Korea yang digilai remaja Indonesia. Di ujung sana, seorang lelaki yang duduk di atas kursi roda sedang berjalan ke arahku. Kini, setiap orang meraih punggung tangannya, bersalam takdim. Ada yang tumpah ruah di dalam hatiku, saat sepasang mata benderang itu, kilat cahayanya membias di mataku. Kuraih jemari itu, hingga segenap inderaku bergerak menghirup spiritnya.
“Sop buntut…” sebuah nama hidangan yang sangat ia gemari itu menjadi password untuk kami sama tertawa. Tak kusangka, ingatannya sama kukuh dengan akar-akar pohon rimba Borneo. Seperti seorang ibu di Jawa, Pak Awan menghargai setiap persaudaraan itu dengan simbol citarasa lidah dan perut. Jiwa keakraban.
“Masih berani, Pak?” tanyaku nakal.
Pak Awan tergelak kini, mengangkat dua tangannya macam prajurit menyerah pada serdadu.
“Harus beralih, pizza growol!” celetuk Pak Awan menyebut kuliner tradisional rasa kekinian asal Kulon Progo.Aku mengangguk-angguk. Pak Awan menepuk-nepuk pundakku sebelum melanjutkan perjalanan menuju mimbar.
Ada yang menghentak dalam dada, melihatnya duduk di kursi roda di atas panggung. Hanya raga yang berbeda. Selebihnya, ia orator demonstrasi mahasiswa, ia tukang blusukan ke pelosok-pelosok, merangkai sayap dari bulu-bulu proletar. Kudengar suaranya yang besar dan lantang. Tempaan organisasi semasa di kampus, tak lekang. Seperti adonan, yang kian lama diuli, kian liatlah ia. Dia bisa abai, meski bellpalsy renggut kemerdekaan motoriknya. Dia masih berpikir untuk mengandalkan agar pemikirannya bisa tetap berjuang, dan sayap-sayap yang pernah ia rajut, akan terus membawanya terbang.
***
Senja renyah di tepian Mahakam ditemani sepiring camilan khas Borneo, mantau dan pisang gapit. Pertemuan bilateral itu terjadi antara junior dan senior, yang bersaudara semenjak saling memiliki sebab berada dalam pergerakan mahasiswa yang sama. Ini, pertemuan kedua, semenjak lima tahun lalu, saat aku ke Balikpapan dalam agenda serupa, kongres nasional. Teringat, saat Pak Awan secara khusus menyewakan sebuah home stay dan warung makan terenak di Balikpapan selama 15 hari, untuk menampung 15 orang rombongan dari Yogya. Malu rasanya, sebab agenda pemenangan Pak Awan untuk menjadi sekjen waktu itu, kandas.
“Maaf, jika kami gagal waktu itu,” ujarku.
Pak Awan menghirup teh tawar dari cangkirnya, seperti orang Cirebon menikmati teh dan itu, bagiku aneh.Menikmati teh dingin dan tawar. Biarlah itu jadi paradoks dengan lampu hias aneka warna sepanjang Tepian Mahakam ini. Kata Pak Awan, jam sebelas malam nanti, akan ada festival of light. Memang, Space ini baru saja diresmikan olehnya beberapa waktu. Dan sekarang menjadi destinasi favorit, apalagi kalau bukan kepentingan swafoto.
“Seperti ombak, ia melangkah surut kemudian maju lebih jauh,” ujarnya tersenyum. Matanya memandang lembayung di bentang langit ataukah laut, yang samar. Aku lakukan hal yang sama, entah untuk apa.
Pak Awan menyodorkan piring saji berisi mantau.
“Sudah lama saya tidak santap sop buntut Borobudur…” kenangannya pasti sedang mengembara saat ia masih ada di Yogya bersama teman-teman seperjuangannya. Ia tertawa, dan kulihat gelora di mata itu. Gelora seperti yang diceritakan senior-senior di Yogya. “Tepatnya sejak vonis dokter yang memaksaku duduk di kursi roda ini,” ketegaran yang tidak dapat kubayangkan lagi. Bagaimana bisa, sementara aku pikir, dunia ini kiamat ketika uang di ATM ku kerontang sebab potongan bank yang tak kenal toleransi.
“Dan kecemasan mereka itu hiperbolis,” sungguh, dari hatiku aku membelanya.
Ia manggut-manggut.
“Dua tahun lalu, bagian tubuh kiri saya ini tidak bisa digerakkan, bicara pun susah. Mereka semua menjauh dan seperti tidak pernah mengenal saya,” ujarnya.
Rambut memutih dan agak panjang itu bagiku menambah kharisma. Ia cermin yang sesungguhnya kubutuhkan, dalam jalan gelap yang lain, obor itu menyala-nyala. Tiga puluh tahun lagi, semua investasi kuyakini bakal terbayar.
“Apa pun yang pernah kita lakukan, jangan pikir bagaimana akan berhasil atau berimbas pada kehidupan kita,” gumaman itu, menenggelamkanku ke dasar Sungai Mahakam, melesap dalam pusaran tersembunyi.
Bagaimana ia tahu?
“Itu seperti berharap anggrek merah saat bulan sabit. ”Apa yang ia katakan, entah  bagaimana, seolah ditujukan untukku. Ah, mungkin karena memang ia seniorku dalam organisasi yang sama, spirit itu tentu terus berlaku turun temurun seperti fabel-fabel di zaman pra-Indonesia.
Sedari tadi layar smartphoneku berdenyar-denyar. Istriku, Aida. Tiga belas panggilan tak terjawab. Pasti aduan lagi, tentang kepanikannya harus mengembalikan tukin.
“Mata anakonda melirik-lirik, mengendap. Mengincar darah segar yang tepercik dari luka, meski selubang jarum…” kini Pak Awan mencengkeram sandaran lengan kursi rodanya, hingga jari-jemari itu bergetaran. Dadaku seperti baru saja tersabet ekor ular raksasa yang hanya tampak dalam film box office itu.
Harapan bagi mereka, anakonda bagiku. Mereka yang terbatasi oleh jam, ruang, gerak, dan pemikiran oleh seorang ‘serdadu’. Mendikte dan mempersempit pilihan hidup dalam lima opsi, sedang hidup ini adalah miliaran informasi acak yang berpeluang sama. Mereka yang dicetak untuk jadi jajahan. Zona yang kutawarkan itu, out of the box.
Transfer rupiah, pelatihan, seminar, sarasehan, lajur-lajur informasi bisnis. Itukah out of the box? Ugh! Sementara diriku yang lain, masih kuharap tatapan terima kasih atau investasi yang lebih panjang. Dukungan untukku.Inilah anakonda yang telah menyusup dalam pipa-pipa otakku. Aku akan menebasnya!
“Tunggu!”
Aku terhenyak.Kenapa menyergahku? Lagi-lagi ia seperti cenayang yang bisa membaca pikiran manusia. Aku menggigil, teringat teman santri jadug yang bisa menerawang seseorang. “Tanpa jadug atau indera keenam, saya tahu, dalam pikiran seorang Fitroh Wijaya ini, telah berkelebat samurai dan keris sakti untuk membunuh anakonda yang telah teridentifikasi,” Pak Awan berkata sambil menggeleng.
Apa maksudnya?
“Satu ekor terbunuh tapi ribuan ekor akan berkeliaran mencarimu, meremukkan tulang-tulangmu, menelanmu sebelum malaikat maut sempat menarik ruh dari ubun-ubun…,”
Tremor. Lemas, tak kuat kutahan beban satu gadget superslim. Benda itu melesat, melayang, dan mendarat di pinggir pagar. Sedetik kemudian tertelan dalam sunyi arus Mahakam.
***.
Peristiwa tenggelamnya HP, pertemuan bilateral antara aku dan Pak Awan jadi topik gathering di acara penutupan. Beberapa menanyakan soal nasib HP, apakah ada TIM  relawan SAR yang menyelam untuk mengambilnya, dan tentu kujawab dengan gelengan kepala. Pertanyaan konyol yang menyakitkan sedangkan ia tahu, derajat kepentingan HP itu di mata seorang Pak Awan. Ada pula yang nyeletuk jika sebentar lagi akan ada paketan HP berikut sinyal dan program anti-air atau outo-safety sehingga HP itu otomatis akan berubah mode kapal selam ketika jatuh di air, mode helikopter ketika jatuh di udara, dan mode pegas jika terjatuh di atas lantai.
Satu yang terasa mencolok, Yunan tampak seonggok batu di sana, tanpa ekspresi. Sekian banyak asumsi dalam benak ini mengalir deras, mulai dari manuver yang akan ia jalankan terhadap rekan-rekanku demi kepentingannya, siapa tahu! Sesekali aku masih ikut tertawa dalam candaan sarkastis mereka. Akan tetapi, aku lebih tertarik kesibukan Yunan  menerima telepon. Tiap ekspresi di wajah itu, bagiku satu kalimat tanya yang dituliskan ribuan kali.
“Pak Awan di rumah sakit. Besok pagi beliau sudah harus ada di Jakarta. Jadi sisa waktu pascaterapi rutin, benar-benar harus bed rest.” Yunan kembali ke kamar panitia di lantai satu. Lantas ia kembali duduk di sofa seberang meja. Diletakkannya satu buah kotak, bungkusan.
“Titipan dari Pak Awan,” ujar Yunan. Lidahku kelu.
Selama Mahakam masih mau menampung aliran-aliran kecil dari hulu dalam rimba Kalimantan, selama itu pula perahu perjuangan kami terus berpacu. Terus mendayung.
Ia berjanji akan mengunjungiku sepulang dari Jakarta esok. Ia ingin menikmati suasana di warung kopi dan angkringan yang sedang hits di Kulon Progo, ehm, salah satu usaha binaanku yang paling sukses. Kami akan mengobrol panjang lebar soal burung-burung besi yang kelak akan jadi hiasan abadi di atas langit-langit Menoreh, seperti yang terjadi di langitnya negeri anakonda. Ah, apalah itu. Lebih penting karena aku berjanji tidak akan menghidangkan sop buntut lagi. Aku akan memintanya untuk menyantap tumpeng growol dengan lauk thontho gembut.

Siwi Nurdiani merupakan guru bahasa Indonesia di salah satu sekolah Yogyakarta. Di waktu luangnya ia juga menjadi penulis cerpen.

Liburan Vaisal

Oleh Alby Syafie (Kompas, 14 Januari 2018)
Liburan Vaisal ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg
Liburan Vaisal ilustrasi Regina Primalita/Kompas
VAISAL sangat senang saat ayah mengajaknya berlibur ke Pulau Dewata, Bali. Vaisal dan ayah akan mengunjungi paman Vaisal yang tinggal di kota Denpasar. Vaisal senang karena bisa bertemu dengan sepupunya, Sigit. Hampir tiga tahun Vaisal tidak bertemu dengan sepupunya itu.
Vaisal sudah merencanakan ingin meminta Sigit untuk mengantarnya berkeliling ke seantero Pulau Bali.
Nah, pada hari pertama liburan di Bali, Vaisal diajak Sigit jalan-jalan ke salah satu pura di Kota Denpasar. Di sana, Vaisal melihat sekumpulan orang sedang melakukan suatu kegiatan di dalam area pura.
“Sigit, mereka sedang apa?” tanya Vaisal.
“Mereka sedang melakukan sembahyang di pura, Vaisal. Di Bali, orang-orang melakukan sembahyang di pura bagi yang beragama Hindu. Seperti kita sebagai orang Islam beribadah ke masjid,” jelas Sigit.
Vaisal pun manggut-manggut.
“Di Bali ini semuanya beragama Hindu, ya, Sigit?” tanya Vaisal lagi.
“Mayoritas atau sebagian besar memang iya, Vaisal. Tapi di sini ada juga warga yang bukan beragama Hindu. Seperti aku, beragama Islam dan ada juga teman-temanku yang beragama Nasrani di sini, juga agama lainnya.”
“Oh, begitu, ya.”
“Iya, di sini kita semua saling menghormati agama yang dianut oleh masing-masing warga. Misalnya saat kita orang Islam berpuasa di bulan Ramadhan, para warga di sini turut menghormati. Begitu juga saat warga beragama Hindu atau Nasrani sedang beribadah puasa sesuai ajaran agamanya, kita sebagai warga Muslim juga menghormatinya,” jelas Sigit lagi.
“Bagus sekali. Semua warga bisa hidup rukun dan damai,” kagum Vaisal.
Vaisal dan Sigit lalu melanjutkan perjalanan. Dan sampailah mereka ke suatu tempat yang sedang melangsungkan suatu upacara adat Bali.
“Itu ada kegiatan apa, Sigit?” tanya Vaisal.
“Itu upacara Ngaben, Vaisal,” ujar Sigit.
“Kamu tahu tidak, upacara Ngaben itu seperti apa?” Sigit berkata lagi.
Vaisal hanya menggeleng.
“Upacara Ngaben adalah upacara yang dilakukan masyarakat Bali beragama Hindu saat ada warganya yang meninggal dunia. Upacara ini adalah penyucian roh dengan cara membakar menggunakan api. Menurut kepercayaan mereka, pembakaran dengan api agar roh kembali pada Sang Pencipta. Karena api dipercaya adalah penjelmaan dari Dewa Brahma,” jelas Sigit panjang lebar.
“Wah, ternyata kamu tahu semua, ya, Sigit,” ujar Vaisal kagum.
“Biarpun kita berbeda agama, tapi setidaknya kita sekadar tahu adat upacara keagamaan yang lain. Tujuannya agar kita bisa saling menghormati antar-umat beragama dan suku yang berbeda,” jelas Sigit kemudian.
Vaisal menggangguk dan memandang kagum pada sepupunya itu. Sekarang Vaisal mendapatkan ilmu baru dari liburannya kali ini tentang sikap beragama yang baik.

Kalam Ilahi di Balik Jeruji Besi

Cerpen Julia Hartini (Republika, 14 Januari 2018)
Kalam Ilahi di Balik Jeruji Besi ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Kalam Ilahi di Balik Jeruji Besi ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Aku masih bertelut di hadapannya. Mencium setiap sudut kulit kakinya yang renta sambil menyatakan permohonan maaf berkali-kali. Aku tak ingin beranjak. Namun, seseorang menarik tubuhku kuat-kuat hingga aku terpaksa bangkit. Satu pukulan menghantam tengukku dengan cukup keras. Disusul amarah yang mendengung seisi kepala.

Mataku berkunang-kunang. Aku masih menangis. Disusul dengan isakan ibu dan makian Mas Har. Aku tertunduk karena tak berani melihat kedalaman mata ibu. Ada muara yang tak bisa kuseberangi. Luka yang ibu rasakan bisa membuatku gila selama menempuh masa hukuman ini. Kedukaan ini adalah milik kami. Sampai waktu yang tak bisa ditentukan penyesalan ini akan berkelindan seumur hidup.
“Kau tak pantas mencium kaki ibu,” suara Mas Har menggema sehingga menciutkan nyaliku untuk memeluk ibu.
“Aku khilaf. Aku berdosa. Maafkan aku,” lirih aku berkata.
“Seharusnya, kau bersyukur masih hidup. Jika bapak masih ada, beliau tak segan mengulitimu hingga kau mampus,” Mas Har mencengkeram pundakku dengan segenap tenaganya.
“Ampun-ampun, Mas,” aku terus memohon. Namun, tak ada rasa iba bagi seorang penjahat. Sebab, sejatinya, pelaku tindak kriminal harus dibumihanguskan dari muka bumi ini.
Tak ada jawaban kecuali sebuah tendangan Mas Har yang melayang ke arah perut. Aku bisa menahannya, tetapi tak sanggup melihat kesedihan ibu yang begitu dalam. Tak ada kata yang ibu sampaikan meski sebuah amarah seperti yang Mas Har lakukan. Dalam diam itu, ada ketakutan bagi nasib masa depanku. Aku adalah pemuda umur 25 tahun yang tak memiliki apa-apa lagi. Tidak harapan, tidak pula harga diri.
Masa depan adalah labirin yang akan akan kujangkau dengan kegelapan. Tak ada sesiapa. Buktinya, Mas Har dan ibu tak memberi maafnya. Jika aku tak diterima di keluarga sendiri, bagaimana lingkungan yang lain bisa menganggap kehadiranku kelak? Mas Har menyatakan, jika masih ada, tentu bapak akan membunuhku sebelum waktu yang akan menggerus usiaku di sel.
Ibu tak pernah mengeluarkan suara sejak teriakan malam itu saat polisi memborgol dan menyeretku dari rumah ke mobil tahanan. Beliau masih shock karena tak percaya anaknya adalah seorang pemakai sabu-sabu. Malam itu, ibu masih berada di sebelahku hingga akhirnya jatuh di pelukan Mas Har.
Setelah pertemuan itu, aku berjalan malas ke sel tahanan. Ibu dan Mas Har pergi dan tak berjanji mengunjungiku kapan lagi. Mungkin bulan depan, mungkin juga tidak akan pernah. Kendati demikian, harapan kemunculan mereka selalu kupupuk. Mereka datang memang tak pernah membawa apa-apa. Mas Har menuturkan bahwa dirinya yang melarang ibu memasak untukku.
Melihat rekan senasib yang juga tak memiliki masa depan, yang kami bicarakan adalah penyesalan-penyesalan yang akut. Sesekali mereka curhat soal kerinduan akan anak dan istri. Termasuk aku yang selalu menunggu senyum dan maaf ibu. Kami bernostalgia dengan masa lalu. Tawa dan kemalangan menjadi bagian dari cerita nahas kami berada di balik jeruji besi.
“Tak pantas kita membicarakan masa depan,” tutur Mas Nar, seorang residivis narkoba. Dia dituntut hukuman berkali-kali lipat karena mengulangi kesalahannya.
“Masa depan biarkan menjadi rahasia. Bukankah masa depan seperti kematian yang gelap untuk kita?” Mas Fai menimpali.
“Janganlah begitu. Kita ini tetap manusia. Tak dosa kan jika memiliki harapan. Siapa yang tak mau hidup senang di luar sana,” Mas Dim berusaha tegar.
Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit. Sambil membersihkan toilet dan mencabuti rumput pekarangan, aku tak kuasa menahan tangis yang sejak tadi ingin ambrol. Sejak penangkapan itu, aku memang lebih melankolis. Siapa yang tak termenung jika ingat kesalahan yang sulit dimaafkan ini.
Mungkin aku lebih beruntung daripada mereka, Mas Fai, Mas Dim, dan Mas Nar. Meskipun, sebenarnya, tak ada kata beruntung bagi penjahat seperti kami. Pertama, hukuman masa tahananku lebih pendek daripada mereka. Kedua, Aku tak harus digugat cerai oleh istri karena memang belum menikah. Ketiga, aku masih pernah dijenguk Mas Har dan ibu meski dengan siksaan berupa pukulan atau hinaan, sedangkan Mas Dim tak pernah dikunjungi sesiapa.
Mas Dim pernah bercerita bahwa dirinya adalah manusia bebas. Dia tak punya keluarga. Teman yang bisa dipercaya pun tak ada. Karena itu, selama ini, dia pindah dari kota satu ke lainnya sebagai pengedar narkoba.
Sudah cukup lama, Mas Dim kucing-kucingan dengan petugas kepolisian. Saat ada penggerebekan kontrakan yang ditinggalinya, Mas Dim sudah pindah tempat. Tak ada jejak yang ditinggalkan. Sebab, Mas Dim memang tak memiliki apa-apa kecuali baju yang melekat di tubuhnya. Setelah satu baju yang dipunya dirasa bosan, dia akan memberikannya kepada pengemis, lalu membeli lagi yang baru.
Mas Dim adalah pengedar kawakan. Mainannya tak hanya satuan gram, tetapi kilogram. Karena itu, dia divonis hukuman seumur hidup. Namun, sebebas-bebasnya manusia, tetap akan terjerat aturan. Mas Dim akhirnya ditangkap saat akan mengirim paket 1 kilogram sabu-sabu di tempat tak bertuan. Satu anak peluru menepi di betis kirinya. Mas Dim dilumpuhkan. Dia memang sudah masuk daftar pencarian orang (DPO). Sebagian besar pemakai pernah menyatakan namanya dalam BAP.
“Gih, jangan kau menangis lagi. Kalau kau sudah menjalani masa hukuman 6 bulan, kau akan mendapat remisi 15 hari. Asal kau berkelakuan baik,” teriak Mas Dim.
“Sabarlah, lima tahun akan segera berlalu. Kalau kau sudah bebas, jenguklah aku sesekali. Aku ingin merasakan bagaimana senangnya didatangi seseorang,” katanya meminta.
Aku memberikan anggukan kecil. Mas Dim adalah lelaki bertubuh gempal, berkulit sawo matang. Sudah sepuluh tahun dia mendekam di balik jeruji besi. Ada puluhan tahun lagi yang siap dihadapinya di tempat ini. Aku pernah bertanya kepadanya, apakah ada rasa bosan yang menghinggapi. Dia menyatakan tidak.
***
“Fa-ammaa-insaanu idzaa mabtalaahu rabbuhu fa-akramahu wana’aamahu fayaquulu rabbii akraman,” lantunan itu masuk ke gendang telingaku yang sedang tertidur pulas.
Setelah sebulan berada di hotel prodeo ini, ada seseorang yang mengaji saat subuh. Aku mengintip setelah mengendap-endap berjalan. Lantunan itu memberhentikan segala kesah yang terus membayangi. Suara itu mengingatkanku pada almarhum bapak. Sebelum beliau meninggal, aku sering mendengar lantunan ayat suci tersebut. Kini, aku sungguh menyesal karena selalu menolak saat bapak akan membawaku ke masjid atau mengajariku cara membaca ayat-ayat suci Sang Khalik.
“Gih, mari masuk,” suara itu yang kukenal sebelumnya memberhentikan ingatanku tentang bapak.
“Ngapain ngintip-ngintip. Sini ikut,” Mas Dim meraih tanganku dan memberikan sarung serta peci. Aku berjalan bingung. Bagaimana bisa di tempat lapas ini ada perkumpulan orang-orang yang belajar agama. Aku seperti tersentil dengan kejadian ini. Saat menginjak lantai ruangan ini, udara sejuk masuk dan mengahampiri aorta tubuh.
Wajah-wajah yang kukenali selama di penjara tersenyum. Mereka menyambutku. Selalu ada pintu pertobatan untuk manusia berdosa seperti kami, perkataan itu pernah dilontarkan ketua majelis hakim setelah membacakan hukuman vonis di persidanganku beberapa waktu lalu.
“Kau bisa membaca Alquran?” tanya Mas Dim.
“Belum,” malu-malu aku menjawab.
“Iqra?”
“Sedikit,” kataku ragu.
“Kukira kau fasih membaca Alquran. Pesantren di lapas ini didirikan dan sudah mendapat restu kementerian agama,” Mas Dim menjelaskan secara garis besar, lalu mengajakku untuk bergabung.
“Kami di sini akan sama-sama belajar. Tapi, ingat, dalam satu bulan kau harus sudah bisa menghafal satu ayat di luar kepala dan salat lima waktu jangan sampai ketinggalan. Jangan main-main dengan aturan di pesantren ini,” ucapnya panjang lebar. Aku mengangguk tanda mengerti.
Aku belum percaya bahwa Mas Dim adalah salah seorang guru mengaji di lapas tersebut. Mas Dim menceritakan, dulu saat hendak bunuh diri di penjara, dirinya melihat teman lainnya sembahyang pukul 02.00. Sejak itu, dia kembali mengenal agama setelah berbelas tahun tak percaya tentang kehidupan selain dunia yang ditempatinya.
Mas Dim berusaha menata hidup di penjara. Memperbaiki segala hal yang kedengarannya seperti sudah telat dilaksanakan.
“Aku melakukan aktivitas sambil terus bergumam satu demi satu ayat sepanjang hari selama masa penahananku,” ungkapnya.
“Ada yang meragukan Mas Dim bisa berubah?”
“Seisi dunia mungkin berkata begitu, tapi Tuhanku tak pernah meragukan kesungguhanku.”

Ruang semesta, Januari 2018
JULIA HARTINI lahir di Bandung, 19 Juli 1992. Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pernah berkegiatan di Arena Studi Apresiasi Sastra UPI dan Unit Pers Mahasiswa ISOLAPOS UPI. Tulisannya mendarat di media cetak maupun online. Selain itu, tulisan-tulisannya tergabung dalam beberapa antologi bersama, baik yang diterbitkan dewan kesenian kota/kabupaten maupun komunitas. Saat ini mengelola blog pribadinya di http://www.akujulia.tumblr.com agar karya yang lahir bisa diapresiasi pembaca.

Ziarah Bit

Cerpen Dadang Ari Murtono (Radar Surabaya, 14 Januari 2018)
Ziarah Bit ilustrasi Radar Surabaya.jpg
Ziarah Bit ilustrasi Radar Surabaya
Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20. Memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik, dan mulai merasa rikuh. Mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.
“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.
“Tapi, tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.
Dan mereka kembali tertawa.
Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun, semua tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair. Namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa, hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan puisi ke koran-koran dan majalah-majalah. Mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!
Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.
Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.
Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun, tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.
Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu. Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif itu, orang tua menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan kerasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.
Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.
Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.
“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu. Namun, tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah. Di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap. Namun, secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.
Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun, dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu, ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.
Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun, baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan, bila benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.
Namun, khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.
Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun. Begitu singun. (*)

Penulis lahir dan tinggal di Mojokerto.

Pidato Politik

Cerpen Asmadji As Muchtar (Kedaulatan Rakyat, 14 Januari 2018)
Pidato Politik ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Pidato Politik ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
PRASTOWO, sebagai pimpinan partai akan menggelar pidato politik dalam menyambut datangnya tahun politik. Karena Prastowo menjadi tokoh oposisi, pidato politiknya tentu sangat menarik perhatian publik. Semua media pun pasti akan meliput dan menyiarkannya langsung.
Selama menjadi elite politik, Prastowo dikenal suka menonjolkan sikap yang mengharukan. “Kalau hanya ingin menyampaikan keluhan, untuk apa menggelar pidato politik? Rakyat sekarang semakin cerdas, sudah mengerti mana keluhan yang mengada-ada dan mana keluhan yang memang layak untuk diutarakan,” tutur tokoh partai anggota koalisi yang mendukung pemerintah dalam wawancara yang disiarkan tv.
“Mudah-mudahan pidato yang akan disampaikan itu mencerminkan kedewasaan politik, bukan sebaiknya mencerminkan kekanak-kanakan dalam berpolitik,” ujar ketua partai lain yang mendukung pemerintah.
Dari Istana Negara juga muncul respons negatif terhadap rencana pidato politik yang akan digelar Prastowo.
“Apa yang perlu disampaikan lewat pidato politik? Keadaan bangsa dan negara saat ini baik-baik saja. Kalau pidato politik itu akan berisi pujian terhadap kinerja pemerintah, itulah yang kami harapkan. Sebaliknya, tentu akan kami sesalkan kalau isi pidato politik justru menghujat pemerintah sehingga berpotensi mengganggu kenyamanan bersama,” tutur Juru Bicara Kepresidenan.
Prastowo tersenyum ceria menyimak respons sejumlah pihak terkait rencana pidato politik yang akan digelarnya. Dia senang karena banyak pihak memperhatikannya. Itu artinya dia masih populer dan layak untuk maju sebagai calon presiden dalam pilpres mendatang.
***
Sehari menjelang digelarnya pidato politik, Prastowo menggelar rapat di kantor partainya. Dia meminta jajaran pengurus partai memberikan masukan terbaru untuk dijadikan materi pidato politiknya.
Tiba-tiba sekretarisnya mengusulkan agar pidato politik diundur satu bulan. Alasannya agar banyak pihak menanti lebih lama, sehingga terjadi diskusi-diskusi di tengah masyarakat yang akan makin memopulerkan nama Prastowo dan partai.
“Ini saatnya kita meningkatkan popularitas partai tanpa susah payah, cukup dengan menunda pidato politik selama satu bulan.”
Prastowo setuju. Rencana pidato politik ditunda satu bulan. Ketika penundaan itu disiarkan media, banyak pihak berkomentar macam-macam.
“Prastowo memang sejak dulu mengidap sikap ragu-ragu. Sekarang pun ternyata sikapnya tetap ragu-ragu, sehingga rencana pidato politik saja ditunda satu bulan.”
“Jangan mengira rakyat bodoh. Rakyat pasti tertawa. Memang lucu kalau rencana pidato politik saja ditunda satu bulan.”
“Apa jadinya bangsa dan negara ini kalau sampai dipimpin Prastowo? Lha mau pidato politik saja harus ditunda satu bulan? Itu membuktikan dia tak layak jadi pemimpin!”
Mendengar komentar macam-macam itu, Prastowo sedikit risau dan menyesal telah menunda rencana pidato politik. “Harusnya tidak ditunda. Tapi aku tidak akan mengubah lagi keputusan. Rencana pidato politik sudah telanjur ditunda,” Prastowo bergumam.
Namun, tiba-tiba muncul lembaga survei yang merilis hasil survei terbaru tentang respons masyarakat terhadap penundaan rencana pidato politik. Hasil survei itu betul-betul memukul Prastowo, karena 99 persen rakyat tidak akan memperhatikan pidato politik yang akan disampaikannya.
Hasil survei itu dianggap cukup valid oleh kalangan akademisi yang disampaikan dalam acara talk show di tv. Sedangkan menurut mereka, hasil survei itu bisa menjadi petunjuk untuk melihat peta politik yang sesungguhnya.
“Dengan melihat 99 persen rakyat tidak akan memperhatikan pidato politik Prastowo, maka kekuatan oposisi tinggal satu persen di negeri ini,” ujar seorang akademisi di acara talkshow.
Ketika menonton talkshow itu bersama istrinya, Prastowo bersungut-sungut. Istrinya segera mengajaknya masuk kamar.
“Ayolah kita tidur saja, Pak. Tak usah merisaukan omongan orang di tv. Semua bisa direkayasa oleh pihak yang berkuasa,” ujar istrinya sambil menarik lengannya. Prastowo terpaksa mengikuti istrinya masuk kamar.
Menit-menit berlalu, Prastowo berbaring di sisi istrinya dengan hati dirundung risau. Muncul keinginan di dalam hatinya agar rencana pidato politik dibatalkan saja.
Istrinya tampak tak sabar. “Kalau aku mengajak masuk kamar, bukan seperti ini yang kuharapkan.”
Prastowo tidak merespons kata-kata istrinya. Dia tetap berbaring dengan lemas.
Istrinya segera memejamkan mata setelah mematikan lampu kamar. Istrinya tahu, Prastowo tidak punya gairah lagi sebagai suami, kalau sudah merisaukan urusan politik.
Tiba-tiba Prastowo berujar sambil melepas baju dan memeluk istrinya. “Ketahuilah, apa isi pidato politik yang akan kusampaikan kepada rakyat: Aku akan mundur dari dunia politik!”
Istrinya terkejut. Dalam kegelapan kamar, Prastowo betul-betul sangat bergairah… -g

Kota Wali, 2018
 Asmadji As Muchtar. Dekan FIK Universitas Sains Al-Quran Wonosobo Jawa Tengah. Banyak menulis cerpen, esai dan puisi.