Daftar Blog Saya

Minggu, 07 Januari 2018

Laci Rahasia, Lima Lampiran, Kamal, dan Lainnya

Puisi-puisi Mardi Luhung (Koran Tempo, 07-08 Januari 2018)
Teras Mardi ilustrasi Google.jpg
Teras Mardi ilustrasi Google

Laci Rahasia

: dari saadi shakur chishti

Semestinya, langkah yang panjang, hanya layak untuk hati yang panjang. Sebab, tak ada kerangkeng bagi yang bergerak. Oleh karenanya, si tukang yang mahir membikin lemari, tak lupa menyediakan sebuah laci rahasia. Laci rahasia bagi penyimpanan sesuatu. Agar para penerus di kemudian hari bisa tahu, bahwa tak semua yang terlihat, pantas diperlihatkan. Dan tak semua yang dapat diomongkan, layak untuk diomongkan. Dan si tukang yang mahir membikin lemari itu, pun berpesan: “Jika mengulurkan tangan kanan, jadikan tangan kiri buta dan tuli.”

Lalu, lewat hikmah yang hampir terlalaikan, tersimaklah kisah seperti ini. Dulu, ada si tukang kebun yang bekerja dengan baik. Tapi apa yang ditanamnya selalu gagal. Hal ini ditanyakan pada si guru. Oleh si guru dijawab: “Ceritakan padaku, apa yang telah kau lakukan selama ini.” Si tukang kebun pun berkata: “Sehabis menanam benih aku risau. Takut jika benih yang aku tanam itu mati. Karenanya, setiap malam aku kembali ke kebun. Dan menggali benih itu. Hanya untuk membuktikan, apa benih itu masih baik atau tidak. Terus menguruknya ulang.”

Si guru pun tersenyum. “Betapa rumitnya memahami laci rahasia sebuah lemari.”

(Gresik, 2017)

Lima Lampiran

: belajar dari gus mus

Di pesisir, Wak Huda adalah pendekar pencak. Khususnya pencak macan. Wak Huda juga punya group. Namanya: Group Pencak Macan. Group yang sigap jika ditanggap. Ditanggap untuk mengarak mempelai lelaki ke rumah mempelai wanita. Atau untuk kemeriahan malam kenduri sunatan. Wak Huda orangnya pendek tapi gempal. Segempal petinju yang kau lihat di televisi. Petinju yang matanya dalam. Sedalam laut di sana.

Wak Huda bisa menulis. Tapi tulisannya kaku. Sekaku cagak. Cagak pengikat perahu. Cagak yang mesti rajin ditelisik. Biar tetap aman. Biar perahu tidak lepas. Dan biar hati tenteram. Ketika si pemilik perahu tidur di balai. Tidur berbantal potongan bambu. Bersebelahan dengan orang-orang main sekak. Baik main berdua. Atau keroyokan. Riuh. Seriuh pasar burung. Yang berseberangan dengan lapak tukang sulap dan jamu.

Wak Huda tak suka pamer. Selalu bertempat di belakang. Cuma bergerak, dan bergerak. Dan semuanya beres. Beres dalam ketenangan. Beres dalam kesendirian. Karenanya, banyak yang menyebut: Wak Huda sebagai dapur yang selalu mengepul. Yang siap untuk menghidangkan santapan bagi yang bekerja. Baik yang bekerja ogah-ogahan atau sebaliknya. Karenanya, oleh orang-orang awas, dapur dianggap kamar kebaikan tersembunyi.

Suatu hari, Wak Huda bertanya: “Kau lihat mendung tebal itu. Apa hujan akan turun atau tidak?” Tentu saja aku jawab: “Sepertinya akan turun.” Wak Huda mesem: “Kita tunggu nanti.” Dan ternyata hujan tak turun. Mendung tebalnya bergeser. Tambah Wak Huda lagi: “Kenapa hujan tak turun? Karena tak ada semut yang keluar dari sarangnya. Dan untuk merasakan turunnya hujan atau tidak, semut lebih peka ketimbang kita.”

Kini, setiap ketemu semut, setiap itu pula aku teringat Wak Huda. Pendekar pencak macan di pesisir. Pendekar pencak macan, yang sebelum berpisah denganku, berbisik: “Banyak sekali yang disebut pendekar. Tetapi pendekar yang sebenarnya, adalah yang mampu mengalahkan yang di sini,” sambil menunjuk dadaku. Dada yang mengeras. Setiap ada yang menantang. Dan dada yang melagak. Setiap ada yang memuji nama diri.

Wak Huda, pencak macan, semut, dada, dan nama diri, adalah lima lampiran di pesisir. Pesisirku. Terimalah.

(Gresik, 2017)

Kamal

: bersama set & aji

Dengan nama yang berlari di urat dagingku. Melompat ke penampang ususku. Dan berenang di kedalaman darahku.
Darah yang mengalir seperti aliran selat yang kau temui di dalam mimpi. Aliran selat yang kau angankan menjemputmu.
Terus mengajakmu meluncur ke tempat-tempat yang mempunyai matahari, bulan, awan, dan bintang yang berbeda.
Dan juga pagi, siang, sore, dan malam yang berbeda.
Sampai apa-apa yang kau temui selalu merucut ketika dipanggil.
Sebab selalu muncul dengan rupa yang membuatmu tercekat. Terus diam-diam merasa ada yang berubah di nalarmu.
Yang semula pendek jadi panjang. Yang semula miring jadi imbang. Dan yang semula semburat jadi melingkar. Semuanya bening sekaligus kenyal. Dan kenyal sekaligus berongga.
Lihat, siapa dan apa yang sesekali mengintip dari rongga itu?
Kau pun cuma bisa menggumam. Apalagi, dalam sepuluh detik ke depan, melintas sepasang lembu karapan. Sepasang lembu karapan yang mempunyai sayap di unggungnya. Terus disusul dengan sekian pasang lembu yang lain. Yang lain. Dan yang lain lagi. Apa kau ingin memegang mereka? Jangan. Apa kau ingin menangkap mereka? Juga jangan. Biarkan mereka melintas. Sebab setelah itu, seperti gerbang, kau pasti tahu, ada yang akan terbuka diam-diam. Dan ada juga yang akan tertutup diam-diam. Lumrah. Selumrah waktu-lain yang pernah kau sangka tak ada. Waktu-lain yang tak bisa ditimbang.

(Gresik, 2017)

Urai Mardi

: rawon bagi si penjenguk

Aku mencintaimu dengan cara tidak genap. Sebab cinta bagiku bukanlah kangen yang mesti ketemu. Tapi kerling mata yang mengambil jarak. Dan terus-terusan mengambil jarak. Sampai apa yang terlihat menjadi tipis. Dan lenyap. Untuk kemudian mencintai lagi. Tapi, apakah ini kewarasan?

Oh, siapa yang mampu menjawabnya. Sebab, bagi yang mencintai, kewarasan bukanlah yang bisa dihitung. Atau ditakar dengan garis lurus. Tapi, hal yang rumit dan berlompatan. Dicegat sini, melompat ke sana. Dicegat sana, melompat ke sini. Seperti kelinci yang muncul dari topi si tukang sulap.

Kelinci yang ketika purnama membundar, menangkup di tengahnya. Lalu, apakah ini kebahagiaan? Semestinya, ini tak perlu dilontarkan. Sebab, dengan melihat pipiku yang merona, siapa saja mafhum, bahwa bagi yang mencintai tentulah bahagia. Baik ketemu. Atau tidak. Baik mencintai dengan cinta.

Atau malah dengan sebaliknya. Baiklah, aku mencintaimu dengan cara tidak genap. Dan cara ini, akan membuat cintaku tumbuh, berkembang, gugur, dan kembali tumbuh. Tumbuh dalam rangkuman semesta. Semesta yang terlihat sederhana sekaligus rumit. Tergenggam sekaligus terurai.

(Gresik, 2017)


Mardi Luhung adalah nama pena dari Hendry. Lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Buku puisinya Buwun mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada 2010. Buku puisinya Teras Mardi menjadi buku yang direkomendasikan majalah Tempo pada 2016.

Menunggu Salju Turun di Jakarta

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe (Koran Tempo, 07-08 Januari 2018)
Menunggu Salju Turun di Jakarta ilustrasi Munzir Fadly.jpg
Menunggu Salju Turun di Jakarta ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo
Mereka tentu tidak mengerti tentang perasaan saya sekarang ini, Paul. Di mata mereka, barangkali, saya hanyalah seorang janda tua yang belum cukup menjadi dewasa. Seorang perempuan cengeng yang menolak kenyataan bahwa suaminya telah mati berbulan-bulan kemarin. Atau, mungkin saja, mereka sudah menganggap saya gila—sebab, tadi saya mengatakan pada mereka, saya akan menunggu salju turun di kursi bambu di pekarangan rumah. Dan saya yakin sekali, tadi itu, telinga mereka bagai tersengat tawon-tawon raksasa. Tapi, sudahlah, Paul, biarkan mereka menganggap saya demikian. Toh, mereka juga tidak salah sepenuhnya. Lagi pula, mana mungkin salju turun di kota ini. Di Jakarta? Rasa-rasanya itu mustahil, Paul Rainer. Kau jangan gila.
Meski saya berharap, salju akan turun di kota ini sekali saja, paling tidak untuk malam ini. Menemani saya mengenangmu kembali pada masa-masa itu. Masa-masa di mana saya baru saja mengenalmu di kota itu, empat puluh tahun yang lalu, kau ingat? Ketika itu, saya bersama kawan-kawan mahasiswa yang berkuliah di Wina—yang juga berasal dari Indonesia—datang menyaksikan pertunjukan opera di Wiener Staatsoper. Malam itu adalah malam yang paling menakjubkan dalam hidup saya. Menikmati keindahan penampilan para seniman panggung di Wiener Staatsoper? Oh, Paul, itu seperti mimpi. Mimpi yang sangat menyejukkan. Ya, walaupun itu semua saya nikmati dari sudut pandang yang terbatas. Seperti sama-sama kita ketahui, butuh keberuntungan lebih untuk mendapatkan kursi terbaik pada balkon yang tepat di Wiener Staatsoper, bukankah begitu, Paul? Atau, uang lebih tentunya, biar bisa merebutnya dari para calo tiket yang berjalan-jalan dengan jubah mereka di luar sana. Atau, bisa juga dengan tidak menggunakan kursi sama sekali; menyaksikan pertunjukan sambil berdiri agar lebih leluasa—ah, seandainya kami tahu di mana loket standing class itu dibuka pada waktu itu. Tapi, tidak mengapa, karena dengan begitu saya bisa berkenalan denganmu pada malam itu. Perkenalan yang mengesankan. Kau yang kerap melemparkan senyum kepada saya.
Empat puluh tahun sudah berlalu, Paul, dan saya masih mengingatnya. Dan, saya yakin, kau pun masih dapat mengingatnya: kencan pertama kita. Kau tentu ingat, seminggu setelah perkenalan kita di Wiener Staatsoper, kau memberanikan diri untuk datang ke kediaman Tuan dan Nyonya Ebner; tempat di mana saya menyewa sebuah kamar di rumah mereka. Kau berniat mengajak saya menemanimu menyaksikan kembali pertunjukan opera di gedung megah itu. Oh, Paul, betapa senangnya perasaan saya. Terlebih, demi mendapatkan izin dari Tuan dan Nyonya Ebner agar bisa membawa saya pergi, kau harus rela menerima tatapan garang dan penuh selidik dari pasangan suami-istri itu terlebih dahulu. Dan kau begitu gugup. Kau tampak manis sekali pada saat itu, Paul. Maaf, saya tidak bermaksud menertawakanmu. Hanya saja, kala itu, saya melihat Tuan dan Nyonya Ebner begitu mirip dengan kedua orangtua saya. Mereka begitu khawatir. Sebab mereka memang telah menganggap saya seperti putri mereka sendiri. Dan, kita mesti menghargai dan memaklumi hal itu, Paul. Karena mereka belum mendapatkan anugerah itu meski usia mereka hampir terbilang senja. Ya, saya tahu, kau sedikit kesal ketika Tuan Ebner memperingatkanmu tatkala kita hendak memasuki mobil—sesaat sebelum pergi—dia sempat berkata: “Jadi, Paul Rainer, jika memang benar itu namamu, perlu saya tegaskan sekali lagi di sini: saya kenal semua bajingan yang ada di setiap sudut kota ini, dan mereka bersedia melakukan apa saja untuk saya agar saya tersenyum. Kau mengerti, kan, maksud dari perkataan saya ini, anak muda?”
Beruntunglah kata-kata Tuan Ebner tidak membuatmu murung terlalu lama. Karena suasana kegembiraan yang tampak dari orang-orang yang akan menyaksikan pertunjukan opera di Wiener Staatsoper turut meluruhkan kekesalanmu pada Tuan dan Nyonya Ebner. Ya, segala aura negatif seharusnya memang tidak boleh ada, biar bagaimanapun, malam itu adalah kencan pertama kita. Ya, kencan pertama kita, yang tiba-tiba saja berubah dari rencana semula.
Mungkin karena tadi terlalu gugup, atau karena kecerobohan yang tidak perlu, kedua tiket itu hilang; terjatuh dari saku mantel, katamu. Kau buru-buru berlari ke sisi kanan, berharap masih ada tiket yang tersisa. Tapi, sia-sia. Kemudian, kau teringat, “Standing class!” Lalu kau bergegas ke loket standing class itu berada. Tapi, Paul, percuma saja, tiga puluh menit lagi pertunjukan ini akan segera dimulai, mustahil, kata saya tersengal-sengal—mencoba menyejajarkan langkah dengan langkah kakimu yang begitu cepat. Maaf, bahkan loket itu pun sudah ditutup, ucapmu dengan sangat menyesal. Oh, Paul, saya tidak menyalahkanmu. Kau tak usah sekecewa itu. “Pria berjubah!” pekikmu tiba-tiba. “Paul, hentikan!”
Tidak ada pertunjukan opera bagi kita pada malam itu. Tapi, bukankah kota itu adalah Wina, Paul? Ada banyak keajaiban yang disuguhkan di kotamu itu. Dan, lagi pula, malam itu adalah kencan pertama kita. Saya lega kau segera menyadarinya. Kau mengajak saya untuk menikmati suasana jalanan di kota itu. Menikmati suasana musim dingin di jalanan kota Wina. Menurut saya, itu suatu hal yang sangat menggembirakan. Seperti yang dulu pernah saya katakan padamu, saat malam itu: “Mari kita nikmati Wina malam ini! Fantastis!” Kau tahu kenapa saya begitu bersemangat, Paul? Oh, Paul, delapan bulan sudah saya berada di sana, tetapi, sekali pun belum pernah saya dengan sengaja meluangkan waktu untuk benar-benar menikmati suasana jalanan di kota Wina pada malam hari. Ya, me-nik-ma-ti Wina, Paul! Musim dingin! Desember! Apalagi cuaca cukup bersahabat ketika itu. “Siapa tahu, salju pertama akan turun malam ini!” betapa bahagianya saya membayangkannya kala itu, Paul.
Lantas kita menuju Jalan Operngasse dan menyusuri jalanan tersebut dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan itu pula kita melihat banyak orang mulai menghiasi tempat-tempat mereka: toko-toko, kantor-kantor, penginapan-penginapan, dan bahkan tiang-tiang penerang jalan juga turut bersiap-siap dengan kemeriahan. Ornamen-ornamen Natal mulai tampak jelas di sepanjang Jalan Operngasse. Dua minggu lagi hari istimewa itu akan datang, katamu bersemangat. Oh, Paul, sungguh kau keliru. Bagi saya, hari istimewa itu bahkan datang lebih cepat dari waktu yang semestinya. Dan kau adalah hadiahnya.
Dan kita menikmati suasana itu dengan saling bercerita. Saling mengutarakan. Saling menjajaki satu sama lain agar lebih saling mengenal. Dan, Paul, saya terkejut saat mendengar kau mengatakan ingin menjadi chef terbaik di Wina, bahkan di Austria. Oh, Paul, saya benar-benar tidak menyangka kau sangat mencintai dapur dan segala tetek-bengeknya. Jujur, tadinya saya mengira, kau bercita-cita menjadi seorang pemain opera di Wiener Staatsoper. Sebab, di mata saya, kau terlihat bagai seorang pangeran yang digandrungi oleh banyak putri dari berbagai kerajaan. Dan tentu saja itu bukan gombal, Paul. Saya berkata jujur. Apakah saya terlihat seperti sedang merayumu, Paul? Oh, Paul, kenapa pipimu tiba-tiba bersemu merah? Ya! Itu adalah balasan untukmu, Paul Rainer. Kau sempat membuat saya kesal waktu itu. Saat kau menanyakan makanan apa yang paling saya sukai di Indonesia. Dan saya menjawab, nasi goreng dan rendang. Lalu kau menanyakan kebisaan saya membuat kedua masakan tersebut. Tentu saja saya bisa membuat nasi goreng. “Bagaimana dengan rendang?”
Bersyukurlah Wina juga mempunyai para musisi jalanan. Berkat mereka, saya tidak perlu menjawab pertanyaanmu itu, Paul. Karena perhatian kita kala itu langsung tertuju pada tiga laki-laki dewasa yang sedang memainkan dua buah biola dan sebuah harmonika, serta sebuah drum bekas penyimpanan minyak yang telah dipotong setengahnya dan dijadikan sebagai perapian. Di situ-di dekat persimpangan jalan yang saya sudah agak lupa namanya—berkumpul orang-orang menyaksikan pertunjukan tiga musisi jalanan tersebut sambil bertepuk tangan dengan riangnya. Dan, di tengah-tengah mereka, tampak sepasang kekasih sedang berdansa penuh keceriaan. Kau pun meminta saya untuk menemanimu berdansa. Tapi, Paul, saya tidak bisa berdansa. Lagi pula, iramanya terlalu cepat—bisa-bisa saya mengacaukan semuanya. Kau bergegas membisiki salah seorang dari tiga musisi jalanan itu. Dan, kemudian, mereka memainkan musik dengan irama lambat. Oh, Paul, saya tidak memiliki alasan lain untuk menolaknya. “Viennese Waltz,” bisikmu lembut di telinga saya. Terbata-bata saya mengikuti gerak kakimu itu. Tapi saya senang, meski berulang-kali tanpa sengaja saya menginjak kakimu. Dan, terkadang, saya merasa malu bila mengingatnya lagi, Paul. Betapa konyolnya dansa saya waktu itu.
Lalu kita kembali ke Operngasse dan menyusuri jalan itu lagi. Kau membawa saya ke sebuah kafe: CafĂ© Museum. “Opera, musik, dansa, dan kopi. Itu artinya, kau benar-benar sedang berada di Wina,” ujarmu, lantas membantu melepaskan mantel saya dan menggantungkannya di sebuah kapstok yang terletak tidak jauh dari meja. Di tempat ini, rotinya enak-enak, katamu. Kemudian, kita duduk pada sebuah meja yang berada di dekat dinding kaca. Dari situ kita dapat melihat keadaan di luar sana. Dan, dari situ pula kita menyaksikan salju pertama itu akhirnya turun. Salju pertama yang tipis-tipis pada kencan pertama kita. Betapa indah.
Namun semua itu tidak lebih indah dari sebuah kebohongan yang telah kaulakukan, Paul. Saya tahu, sebenarnya kedua tiket pertunjukan opera itu tidak hilang. Kau sengaja berpura-pura menghilangkannya agar dapat mengajak saya berjalan kaki dari Wiener Staatsoper ke kafe itu, bukan? Kau sengaja melakukan itu supaya mempunyai banyak waktu untuk dapat mengenal saya, kan? Oh, Paul, kau sangat manis. Saya tahu tentang kebohongan yang romantis ini bahkan sejak malam itu. Kau ingat? Ketika hendak kembali ke area parkir di Wiener Staatsoper, kau mengenakan mantelmu pada saya. Dan, tanpa sengaja saya merogoh sakunya. Saya menemukan kedua tiket itu masih berada di sana. Kau ceroboh, Paul Rainer. Kau hampir saja membuat saya menangis haru pada malam itu. Bisa kaubayangkan apa yang akan terjadi bila Tuan Ebner melihat mata saya jadi sembap? Dia pasti mencarimu.
Oh, Paul, saya tak mampu menahannya lagi. Sekarang saya menangis. Saya merindukan kenangan kita pada malam itu. Dan, salju. Saya merindukan salju yang tipis-tipis itu. Seandainya saja perampok terkutuk itu tidak pernah beraksi di dekat rumahmu. Dan kau tak berlagak pahlawan yang ingin menyelamatkan nyonya kaya yang kesepian itu. Mungkin saat ini kau masih hidup. Dan, kita sama-sama bisa menunggu salju turun di Jakarta. Seperti janjimu dulu. Oh, Paul, sekarang saya benar-benar menangis. Mereka pasti tengah memperhatikan saya. Mereka jelas tidak mengerti tentang perasaan saya sekarang ini, Paul.
“Nyonya Herlambang, kemarilah. Kedua cucumu ini telah membuatkan ikan bakar yang lezat untukmu. Kemarilah, sebentar lagi kembang-kembang api itu akan dinyalakan. Kau tentu tidak ingin mengawali tahun dengan perut kosong, bukan? Lupakan saja tentang salju itu, dia tidak akan turun di sini. Di Jakarta? Tidak akan.”
Kau dengar, Paul? Tetangga saya itu begitu cerewet. Berani-beraninya dia bersekutu dengan cucu-cucu saya untuk memperolok-olok saya. Dasar, laki-laki peyot. Menyebalkan. Oh, Paul, sepertinya saya sudah harus menyudahinya sekarang. Saya tidak ingin mereka melaporkan saya pada kedua anak dan menantu-menantu saya. Mereka jauh lebih cerewet daripada laki-laki tua peyot itu. Terima kasih telah berbaik hati menemani saya, meski hanya dalam pikiran saya belaka. Dan, Paul, jika kau bertemu dengan suami saya di sana, tolong sampaikan padanya: “Terima kasih telah menjadi laki-laki dewasa untuk diri saya selama ini. Saya berutang banyak kebaikan kepadamu.” Sebagaimana kau, Paul, dia juga laki-laki yang sangat baik.

Abdullah Salim Dalimunthe lahir di Medan, November 1982. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Kini ia tinggal di Bandung.

Setrika Arang, Kamera, Nasi Goreng untuk Abban, dan Lainnya

Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dan A Muttaqin (Kompas, 07 Januari 2017)
Valley Working ilustrasi Cuauhtemoc Velazquez - Kompas.jpg
Valley Working ilustrasi Cuauhtemoc Velazquez/Kompas

Setrika Arang


ayam jago itu masih bertengger di situ
menunggu tanganmu memasukkan bara
hidup membosankan dimulai
mondar-mandir dari pakaian satu ke pakaian lain
dari kenangan satu ke kenangan lain

mungkin suatu waktu
tanganmu akan berhenti
pada lipatan saku baju
memeriksa rahasia
yang sembunyi

di ujung setrika arang
yang setia hanya ayam jago
begitu sabar menunggu tanganmu
ia berkukuruyuk dari masa lalu
berharap dunia tidak sekelam
abu dalam setrika

2017

Kamera


tak ada yang lebih indah
selain matamu, kamera
gambar-gambar tak kukenal
membentang bagai fatamorgana

pohon-pohon bercahaya
seakan dilahirkan matahari pagi
seorang bocah duduk
di atas bongkah batu
menatap sungai
yang mengalir ke dalam dirinya

aku tak mengenali mataku lagi
semua muncul begitu saja
serupa bayang-bayang
di penghabisan siang

tak ada yang lebih indah
selain matamu, kamera

kucipta gambar dari kelam
agar mereka paham
apa yang semayam
di kedalaman jiwa

2017

Mesin Tik


mesin tik karatan bergumam:
sungguh letih menjadi tua
jari-jari gemetar, suara parau,
napas tersengal

seperti mesin tik lainnya
ia mengenang suatu masa
puisi-puisi lahir seirama
nyanyian tombol-tombol huruf
surat-surat pun bertaburan
dari negeri-negeri jauh

kini, ia hanya membisu dan makin renta
tak ada lagi mata kagum melihatnya
tak ada tangan rindu menyentuhnya

ia tahu sebentar lagi tuan rumah
membawanya ke tukang loak
berkumpul bersama besi-besi tua lainnya
menatap hampa pada atap seng gudang kumuh
berhimpitan dengan sepi dan dingin malam

tentu ia telah siap dilebur dalam tungku api
lahir kembali menjadi bentuk berbeda
tapi, hanya satu pintanya:
tak ingin menjadi mesin tik lagi

2017

Telepon


kuangkat gagang telepon
“hallo, ini siapa?”
tak ada suara di seberang
jam dinding berdetak lambat
gerimis bernyanyi lirih
bersama daun-daun

“hallo, hallo…”
tak ada suara menyahut
kutaruh gagang telepon
dingin malam membekas
di meja kayu

telepon kembali berdering
“halloo, siapa di sana?”
tak ada suara. hening
malam sedingin pualam

gagang telepon menempel di kupingku
berdebar aku menunggu suara di seberang
hanya gemerisik angin terdengar

2017

Jam Dinding


sebelum malam usai
dalam halusinasi
jantung jam dinding itu
berdetik berkali-kali
ia tahu kau akan pergi

ketika kau buka pintu
dan melangkah ke beranda
mata jam dinding itu
menatap lekat tengkukmu
ia mengasihi denyut nadimu

terdengar bunyi pagar dikunci
mendadak jam dinding itu
berhenti menghitung waktu
yang meleleh di lantai

tak jadi pergi
kau termangu
menatap jam dinding
berdetik-detik seirama
debar hatimu

2017

Wayan Jengki Sunarta lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Di antara sejumlah kumpulan puisinya adalah Pekarangan Tubuhku (2010) dan Montase (2016). Ia tinggal di kota kelahirannya.

Gempa dan Tsunami di Kepala Kami

Cerpen Raflis Chaniago (Rakyat Sumbar, 06-07 Januari 2018)
Gempa dan Tsunami di Kepala Kami ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Gempa dan Tsunami di Kepala Kami ilustrasi Rakyat Sumbar
HAH, gempa? Aku dan seisi rumah berhamburan ke luar rumah. Tetanggaku juga. Gempa itu membuat rumahku bergetar beberapa kali. Bergetar sekali, diam. Bergetar sekali lagi, diam. Begitu beberapa kali. Kaca jendelaku selalu bersuara “rrrrr” setiap getaran itu terjadi.
Setelah berada di luar umah, istriku berteriak, “Minyak motor penuh, Uda?”
“Penuh,” jawabku.
Ini gempa yang aneh, pikirku. Biasanya getaran gempa itu hanya terjadi sekali sampai dua kali. Sekarang, kenapa terjadi berkali-kali? Kutelepon beberapa orang teman dan familiku yang tinggal di tempat berbeda, apakah di tempat mereka juga terjadi gempa. Ada yang kutelepon temanku yang tinggal di Padang Panjang, Bukittinggi, Bayang, dan Painan.
“Halo, Sutan.”
“Ya. Halo juga Bandaro. Apa kabar?”
“Di tempat aku sedang terjadi gempa. Bagaimana keadaan Gunung Marapi? Aman-aman saja? Apakah di Padang Panjang juga terjadi gempa?”
“Gempa? Tidak. Di sini tak ada gempa. Gunung Merapi aman-aman saja. Tak ada apa-apa. Emangnya di tempat Bandaro ada gempa?”
“Ya. Malahan bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Gempa, berhenti. Gempa lagi, berhenti lagi. Jadi, di Padang Panjang tak ada gempa, ya?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, terima kasih Sutan. Asalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
“Halo, Uni. Assalamualaikum! Apakah Uni merasakan gempa?” tanyaku kepada kakak perempuanku.
“Tidak. Memangnya di sana ada gempa?”
“Ya. Bahkan getarannya tidak hanya sekali. Berulang kali.”
“Tak ada. Di sini aman-aman saja. Tidak ada gempa.”
“Kalau begitu, assalamulaikum, Ni.”
Kutelepon pula temanku di Painan. Dia juga mengatakan tidak ada gempa. Padahal jarak Painan dari tempat tinggalku hanya sekitar 4 km. Aneh.
Berbicara masalah gempa, semenjak terjadinya gempa 26 Desember 2004 berkekuatan 9 SR, aku bahkan banyak orang mengalami trauma. Trauma itu disebabkan oleh dua hal, yaitu banyaknya bangunan yang runtuh dan terjadinya tsunami di Aceh yang memorak-porandakan Aceh dan menelan korban sekitar 115.229 jiwa. Di Padang ketika itu banyak pula bangunan termasuk hotel ambruk. Ada orang yang bisa menyelamatkan diri ada pula yang tidak. Dan cara menyelamatkan diri itu ada dengan cara wajar, ada pula yang tidak.
Menyelamatkan diri dengan cara wajar, misalnya berlari ke luar rumah dan berdiri di tempat yang lapang. Ada pula yang memacu kendaraannya ke kawasan yang lebih tinggi seperti ke arah Indarung untuk menghindari tsunami. Namun, karena banyak yang berbuat begitu, jalan menjadi macet. Boro-boro menyelamatkan diri, bergerak pun tak bisa. Itu terjadi baik waktu gempa di siang hari maupun di malam hari. Yang menyelamatkan diri dengan cara tak wajar karena kaki terjepit dalam sebuah bangunan dilakukan seorang buruh yang sedang menggergaji kayu, terpaksa memotong kakinya sendiri dengan gergaji yang sedang dipergunakannya itu.
Bagi masyarakat desa seperti aku dan keluargaku mulai saat itu setiap terjadi gempa selalu menyelamatkan diri ke luar rumah sampai lari ke puncak bukit atau ke tempat-tempat tinggi lainnya sampai anak anggota masyakat ada yang meninggal dalam kandungan. Pemerintah membantu masyarakat dengan menyediakan berbagai macam tempat evakuasi yang merata di berbagai tempat dan selter di tempat-tempat tertentu. Alarm tsunami di tempat-tempat tertentu dipasang. Tenda-tenda dan dana disediakan. Jalan-jalan menuju lokasi evakuasi itu masih dapat dilihat sampai sekarang.
Waktu menyelamatkan diri ke luar rumah pun terjadi berbagai macam hal. Biasanya kalau gempa terjadi, lampu listrik langsung mati. Di malam hari ada yang menyimpan kunci rumah di bawah bantal dengan rencana begitu goncangan terasa, kunci di bawah bantal langsung bisa diambil. Tahu-tahunya begitu goncangan tiba, lupa di mana kunci diletakkan. Ada pula kunci sudah di tangan, tidak kunjung menemukan lubang kunci karena gelap. Kadang-kadang setelah kunci masuk ke dalam lubangnya, memutar pun tidak sanggup karena tangan gemetar. Ada pula yang sudah sampai di luar, tapi tak sadar bahwa dia sedang memeluk bantal guling. Di samping itu, yang tragisnya ada wanita baik masih gadis maupun yang sudah bersuami hanya keluar dengan memakai bra dan celana hawai. Bila gempa terjadi waktu siang atau sore, ada yang lari ke luar rumah hanya dengan memakai handuk karena sedang mandi. Yang lebih lucu lagi ada pula yang lari dengan memakai handuk dan kepala penuh dilumuri busa shampoo.
Di samping peristiwa-peristiwa biasa, aku juga mendengar berita misteri tentang stunami Aceh. Ada sebuah keluarga Aceh yang tinggal di desa tetanggaku. Menurut pengakuan tetangganya, pagi mereka menyaksikan pohon kuini di halaman depan rumah keluarga Aceh itu terguncang-guncang sendiri. Angin tidak, gempa pun tidak. Sorenya menurut pengakuan kerluarga Aceh itu, mereka dapati kuini mereka melayu. Besoknya baru mereka dapat berita bahwa Aceh diluluhlantakkan stunami. Hal itu itu membuat mereka ingin terbang ke Aceh, tapi tak bisa. Mereka hanya bisa terbang sampai Medan. Dari Medan mereka berangkat dengan taksi dan mereka saksikan seluruh keluarganya menghilang ditelan tsunami. Anehnya katanya, sekian banyak mereka melangkahi dan menyingkapkan mayat dalam rangka mencari mayat-mayat keluarganya, tak semiang pun bau busuk singgah di hidung mereka. Aneh, mayat-mayat yang bergelimpangan sudah beberapa hari, tak satu pun yang berbau.
Tentang upaya menyelatkan diri, aku teringat pada suatu ketika. Waktu itu tahun 2007. Aku sedang menunggu istriku yang sedang sakit di rumah sakit. Dia ditempatkan di atas ranjang beroda. Waktu itu gempa besar mengguncang bumi. Para pengunjung rumah sakit baik yang sedang berobat maupun yang sedang menunggu pasien dengan bayangan stunami di kepala masing-masing berlari tak tentu arah. Para perawat menghilang. Pesien diselamatkan keluarga masing-masing seperti yang terjadi pada diriku. Aku mendorong ranjang istriku ke luar kamar rumah sakit sendirian. Kudorong ke kiri, yang di depan nyelonong ke kanan. Kutarik dari depan, yang di belakang nyelonong ke kiri. Dengan perjuangan yang luar biasa, alhamdulillah akhirnya sampai juga istriku di luar. Istriku sampai di luar kamar, gempa reda dan setelah itu, para perawat baru kelihatan puncak hidungnya mencari pasien yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Rupanya waktu gempa terjadi tadi, masing-masing mereka pun menyelamatkan diri mereka.
Akhirnya tiba perintah agar semua pasien dibawa kembali ke kamar masing-masing. Besoknya gempa susulan terjadi. Aku kembali mendorong ranjang istriku ke luar. Kali ini aku sudah dibantu oleh salah seorang saudaraku. Sayang, ranjang itu tak mau beringsut sedikit pun. Dengan bantuan saudaraku, istriku terpaksa digotong dan infus dipegang mertuaku. Setelah gempa reda, istriku kukembalikan ke ranjangnya. Tak lama kemudian, perawat masuk. Dia perintahkan agar istriku dibawa ke tenda yang sudah disiapkan di halaman rumah sakit. Kulaporkan kepadanya bahwa ranjang tak bisa didorong. Dia membantu. Dia tekan sesuatu pada roda dengan kakinya. Rupanya ketika didorong tadi rem roda sedang terpasang.
Besoknya helikopter kelihatan mondar-mandir di atas udara kampung kami. Ada yang berputar-putar kemudian menghilang. Ada pula yang menuju ke arah Bengkulu. Rupanya menurut informasi itu adalah helikopter kepresidenan yang membawa Presiden SBY setelah meninjau Padang dan Mentawai menuju Bengkulu.
Kali ini aku dan keluargaku takut kalau-kalau peristiwa itu terjadi lagi. Karena getarannya tiada henti-hentinya, aku naik ke atas balkonku. Kuintip keadaan sekeliling komplek belakang rumahku melalui jendela. Ibarat pepatah Minang “ditukiakkan pandangan nan dakek, dilayangkan pandangan nan jauah” (ditukikkan pandangan yang dekat, dilayangkan pandangan yang jauh). Begitu kuedarkan, pandanganku langsung tertumbuk pada sebuah mesin giling yang mondar-mandir sedang mengaspal jalan. (*)

Tukik Pulau Sangalaki

Oleh Yessi (Kompas, 07 Januari 2018)
Tukik Pulau Sangalaki ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg
Tukik Pulau Sangalaki ilustrasi Regina Primalita/Kompas 
WENDY beserta Kak Diva dan Papa Mamanya pergi berlibur ke Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur. Dengan menggunakan speedboat, pada sore hari menjelang malam, mereka tiba di Pulau Sangalaki. Mereka sekeluarga berencana menginap di sebuah resor di pulau tersebut.
“Yihuui…” Wendy bersorak gembira. Ia menanggalkan sandalnya di atas pasir. Ia ingin merasakan pasir pantai yang lembut. Meski hari sudah mulai malam, Wendi bersama Kak Diva tak sabar ingin bermain di tepi pantai.
Pasir di Pulau Sangalaki memang lembut dan bersih. Pasir tersebut cocok buat penyu betina untuk bertelur. Oleh sebab itu, penyu hijau suka bertelur di pulau ini.
Wendy dan Kak Diva lalu melihat seorang pria yang membawa ember berisi puluhan anak penyu (tukik). Dia adalah Pak Linu, petugas pos penangkaran penyu hijau di pulau itu.
“Wow…!” seru Wendy dan Kak Diva terkagum-kagum melihat tukik-tukik yang mungil itu.
“Adik-Adik, ayo kita bantu tukik-tukik ini untuk mencapai pantai,” ajak Pak Linu.
Wendy dan Kak Diva mengangguk. Wendy lalu berjongkok mengambil satu tukik. Kulit tukik itu berwarna hitam. “Hihii, lucunya mereka, Kak,” kata Wendy saking gemasnya.
“Pak, kok malam-malam baru melepas tukik?” tanya Kak Diva penasaran.
“Lebih bagus malam hari begini, Dik. Supaya mereka tidak dimangsa sama elang atau kepiting pada siang hari,” Pak Linu menjelaskan.
“Oh …” seru Kak Diva dan Wendi bersamaan.
Pak Linu lalu berkata kembali, “Tukik ini saat masih menjadi telur, juga sering menjadi incaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab.”
Wendy lalu teringat, Papa pernah bercerita bahwa dahulu telur penyu hijau ini banyak diperjualbelikan untuk dikonsumsi. Padahal, penyu merupakan hewan yang dilindungi.
“Jadi, kita tidak boleh makan telur penyu yaa, Pak?” sahut Kak Diva.
“Betul, Dik. Dengan tidak memakan telur penyu, berarti kita sudah ikut menjaga populasi penyu hijau ini,” jawab Pak Linu.
“Tukik, oh, tukik!” kata Wendy kepada si anak penyu yang digenggamnya. Ia lalu menurunkan tukik itu ke pasir. Secara naluri tukik bergerak menuju ke pantai.
“Kak, kayaknya aku mau membawa pulang beberapa bayi-bayi penyu ini. Aku mau pelihara di rumah,” ujar Wendy kemudian.
“Tapi, habitat penyu di laut, Wen! Kasihan mereka makin hari makin punah,” jawab Kak Diva.
Pak Linu lalu berkata, “Benar. Bahkan sekarang ini, untuk bertahan hidup di laut pun, peluang tukik semakin menipis. Karena itu, kita harus betul-betul menjaga binatang ini dari kepunahan.”
“Iya, sih.” Wendy mengangguk.
Wendy lalu melihat, beberapa tukik berhasil menyentuh bibir pantai lalu berenang di laut lepas. Dalam hatinya ia berjanji, untuk turut menjaga penyu-penyu hijau ini dari ancaman kepunahan. *

Biyung

Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 07 Januari 2018)
Biyung ilustrasi Sunaryo - Kompas
Biyung ilustrasi Sunaryo/Kompas 
Semalam Biyung datang lagi dalam mimpinya. Seperti waktu-waktu lalu, kali ini pun Biyung hanya tersenyum, memandangnya dengan mata yang pendarnya seperti cahaya timur. Sekar kangen, Biyung…
Tapi Sekar tak mampu menatap Biyung lama-lama. Matanya terhalang silau cahaya. Dia ingin memeluk Biyung erat-erat seperti di masa kanak-kanak, saat dia merasa takut kehilangan Biyung. Dia ingin menaruh kepalanya di pangkuan Biyung seperti dulu, kalau sedang sedih.
Biyung seperti tahu apa pun yang terjadi pada Sekar, sejak Sekar kecil. Dia tak pernah mengusiknya dengan pertanyaan.
Sepanjang hidupnya, Sekar tak pernah bicara tentang apa pun yang sedang dihadapinya. Tetapi, anehnya Biyung selalu tahu. Dalam surat pendek yang dituliskan tetangga setiap bulan setelah Sekar mengirim wesel, kadang tertulis antara lain, “… Biyung melihat kamu sedang ndak keruan Ndhuk. Kemarin Biyung caos dahar, nyala menyannya mobat-mabit ndak karuan…”
Kali lain, Biyung hanya menanyakan, “Kamu sedang sedih ya Ndhuk?”
Caos dahar adalah ritual yang dilakukan Biyung seminggu sekali, kadang dua kali, lengkap dengan sesajian. Begitu cara Biyung berhubungan dengan leluhurnya. “Ndak boleh lupa leluhur, Ndhuk, ndak boleh lupa asal-usul,” begitu pesan Biyung,
Kalau memasuki kompleks pemakaman, Biyung selalu membuka kasutnya dari mulut jalan masuk, dan membersihkan setiap makam dengan khidmat.
Nyekar. Itu yang diikuti Sekar sampai hari ini.…
Biyung hampir tak pernah menyentuh tempat tidur. Sampai enam bulan menjelang kepergiannya, Biyung masih tidur beralas tikar dan bantal tipis di lantai depan pintu masuk. “Biyung jangan tirakat lagi. Mosok seumur hidup tirakat terus.”
Tapi Biyung selalu menjawab, “Tirakat itu selesainya kalau kita sudah ditimbali, Ndhuk.”
NgĂ©nĂ© ya Ndhuk… tidur di bawah supaya slamet, nir-sambekala….”
Cara itu yang diikuti Sekar kalau merasa gelisah.
Lalu Biyung berbisik, “Biyung tidur di bawah supaya kamu bisa tidur di atas….”
Bisikan itu terdengar seperti genta saat Sekar semakin jauh meninggalkan Biyung.
Sekar juga tidak tahu kapan Biyung makan dengan benar karena hari-harinya diisi puasa. Dari puasa Senin-Kamis, mutih, ngrowot, ngepel, ngasrep, wungon, ngidang, dan entah apa lagi, Sekar sudah banyak lupa penjelasan Biyung tentang semua itu.
Dan, tentu saja, puasa khusus setiap weton Sekar: Sabtu Pahing.
Lalu setiap tengah malam, menjelang dini hari, kalau terbangun, Sekar selalu melihat Biyung duduk bersimpuh di ruang tempat dia biasa caos dahar, diam, seperti tidak bernapas, kaotak dang terdengar suara halus yang tak bisa dia tangkap dengan telinga kecilnya secara sempurna.
Hooooonnng….
***
Sekar tumbuh di antara bau kemenyan dan bunga, khususnya kenanga dan kantil, semua bau yang kata orang, punya aura mistik. Semakin dewasa dan hidup jauh dari Biyung, bau-bau itu yang mengembalikannya kepada masa lalu, dan di luar sadar, Sekar mencari parfum dengan wangi Cananga Odorata atau Michelia Alba atau Styrax
Hubungan Sekar dan Biyung sebenarnya tak mesra-mesra amat. Ketika mendapat kabar Biyung berpulang, Sekar dalam perjalanan pulang dari tugasnya, di Afrika Selatan. Biyung meninggalkannya. Nglimpé, kata orang Jawa. Artinya, mencuri waktu, tak ingin diketahui.
Biyung tahu, aku tidak mencintainya sebesar dia mencintaiku….
Sekar mulai merasa bersalah.
Sekar menggaji Mbak Sum untuk menemani Biyung. Betapa pun, jauh di hati kecilnya, Sekar khawatir kondisi Biyung. Ingin dia merawatnya, membawanya tinggal bersamanya, tetapi bayangan masa lalu itu menghalanginya.
Biyung berpulang dalam tidur. Terlihat sangat tenang dan tersenyum tipis. Kata dokter, Biyung berpulang dini hari, begitu bunyi teks yang dikirim Mbak Sum.
Teks selanjutnya terbaca, “Kemarin sore, Biyung cuci rambut. Mandinya lama sekali. Abis itu Biyung tampak segar, terlihat lebih muda. Lalu masuk kamar, tidak mau diganggu….”
Biyung pernah cerita, orang-orangtua dulu seringkali tahu kapan saat pulang tiba. Kata Biyung, dekat-dekat weton harus banyak tirakat karena biasanya pada rentang waktu itu orang dijemput.
Dalam letih menunggu pesawat lanjutan ke Jakarta, dia membuka internet untuk melihat penanggalan Jawa.
Sekar terpana. Hari kepulangan Biyung jatuh pada weton-nya….
Tanpa sadar matanya basah…. Biyung mempersiapkan semuanya untuk menyambut Sang Cahaya.…
Setelah Biyung berpulang, Sekar baru merasa ada yang hilang dari hidupnya, yang secara fisik tak akan pernah dia temui lagi. Makin jauh, bayangan Biyung terasa semakin dekat.
Beberapa kali Biyung datang dalam mimpinya. Seribu hari setelah kepulangannya, Sekar bermimpi mengantar Biyung naik kereta. Biyung menatapnya tersenyum, tetapi tidak membalas lambaian tangannya.
Kali lain Sekar bermimpi berada di satu pesawat ruang angkasa, melihat Biyung dalam wujud yang berbeda sama sekali, tetapi mata batinnya mengenali perempuan tinggi besar bermata tajam itu Biyung.
Kali lain lagi, Sekar melihat dirinya sebagai Sekar kecil yang memegangi tangan Biyung erat-erat. Namun, yang paling sering, Biyung datang dengan tersenyum, menatapnya dengan mata berpendar.
Sekar memanggil ibunya, Biyung…. Sebutan yang indah, menurut Sekar kecil.
Sekar kecil sering membelai wajah Biyung dan tidur meringkuk dalam dekapan Biyung. Posisi tidur mlungker itu membuatnya merasa aman. Kalau Biyung sakit, Sekar menunggui Biyung sambil terisak, “Sekar saja yang sakit. Jangan Biyung. Kalau Biyung meninggal Sekar ikut siapa?”
Dalam kondisi tubuh yang lemah, Biyung selalu membesarkan hati Sekar. “Biyung cuma sakit Ndhuk. Biyung mau nunggu sampai Sekar besar. Boleh Biyung ikut kamu Ndhuk?”
Sekar tak paham mengapa Biyung menanyakan hal itu. Tentu saja. Bukannya aku anak satu-satunya? Aku akan buat Biyung bahagia. Begitu pikir Sekar sambil menciumi Biyung.
Sekar tak pernah memenuhi janji pada dirinya untuk Biyung.
Semakin besar, dia semakin tertutup, menganggap Biyung yang tak bisa baca-tulis itu tak paham apa-apa. Pernah setahun hanya sekali menengok Biyung dengan alasan klise: sibuk.
Dia merasa telah memenuhi kewajibannya dengan kirim uang. Sampai suatu hari Biyung bilang, “Biyung ndak butuh uangmu, Ndhuk.”
Biyung seperti masa lalu yang ingin dia lupakan. Dia ingin memisahkan masa lalu dari masa kininya.
Ada bayangan yang terus mengikutinya seperti hantu.
Sekar tak berani menghadapinya.
Tapi, masa lalu yang ingin dia buang selalu bertabrakan dengan kerinduan yang mendalam. Keduanya ada dalam diri Biyung.
Banyak sekali ingatan tentang Biyung yang membuatnya selalu merindukan Biyung, merindukan suapan nasi dari jari-jemari tangannya yang ringkih, merindukan bau kain yang dipakainya, merindukan semuanya.
Sekar ingat jawaban Biyung saat ditanya kemana bapaknya. Jawaban itu selalu sama: Kalau Biyung masih sama bapakmu, kamu ndak akan sampai di tempatmu sekarang.
Ketika didesak, jawaban Biyung cuma: Yen ora ngono, ora ngéné.
Kalau tidak begitu, tidak begini.
Jauh sesudahnya baru dia paham maksud dari jawaban Biyung.
Sekar kecil membawa terus ingatan saat diusir kerabat Biyung, karena tak punya uang untuk membeli sop panas dari restoran mereka. Biyung sakit, ingin makan panas-panas, tetapi tak punya uang karena tak bisa jualan di pasar.
Usianya enam tahun waktu itu.
Banyak peristiwa kemudian yang membuatnya merasa ditolak. Sekar tumbuh menjadi perempuan cerdas, tetapi pemurung selalu curiga. Dia menolak filosofi Jawa, bobot, bibit, bebet, yang biasa ditanyakan calon mertua kepada calon menantu.
Sekar memilih hidup sendiri.
Satu lagi peristiwa yang lekat dalam ingatannya. Suatu hari, Biyung menggamitnya berjalan melipir sungai kecil yang melintasi kampung, tiba di seberang pegadaian. Di situ Biyung menggadaikan tiga kain batik tulis warisan.
“Buat bayar uang sekolahmu. Nunggak berapa bulan Ndhuk?”
“Tiga bulan, Biyung.” Sekar tak berani menatap mata Biyung, menahan sedu.
Biyung membelainya dan berbisik, “Besok kalau Biyung sudah punya uang, bisa diambil. Kamu sekolah saja. Wis meneng… aja nangis….”
Kadang Biyung mengajaknya nonton wayang wong. Dia suka mengulang-ulang cerita Sumantri Ngenger, tentang Sukrasana, si raksasa cebol yang begitu mencintai kakaknya.
Akang Ati… aku ilu Akang Ati….”
Kakang Sumantri, aku ikut, Kakang.…
Tapi, Sumantri mengibaskannya.
Sekar merasa dirinya tak berbeda dengan Sumantri….
***
Setelah Biyung berpulang, Sekar terus berusaha meminta maaf pada Biyung dengan cara apa pun yang bisa dia lakukan. Tetapi, entah, hatinya seperti diberati sebongkah batu. Pikirannya terbebani oleh sesuatu yang dia tidak tahu.
Sampai suatu malam, saat hening, Sekar memasuki suatu wilayah kedalaman yang tidak biasa. Di situ, dia seperti melihat gambar di layar kaca. Mata Biyung digelayuti rasa sedih yang tak terjelaskan saat melambaikan tangan, sementara Sekar tidak menengok lagi. Mobilnya melaju, meninggalkan rumah Biyung.
Kepedihan yang tak terperi menusuk sampai ke ulu hati. Sekarang Sekar merasakan perasaan Biyung saat itu. Air matanya tumpah. Dia tersedu-sedu sambil bersujud di kaki Biyung.
Saat terbangun dari hening panjang itu, kepalanya sakit tetapi dadanya lega, seperti ada beban puluhan ton tercabut dari dirinya.
Setelah itu, dalam mimpinya, Sekar berani menghadapi bayangan laki-laki yang sering memaksanya duduk di pangkuannya dan mempermainkan alat kelaminnya.
Biyung mengira, laki-laki itu menyayangiku, begitu pikir Sekar.
Tidaaak Biyung. Dia orang jahat. Dia orang jahaaaatttt.
Sekar ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat.
Saat itu usianya 10 tahun. Sekar memendam kemarahan tak hanya pada laki-laki itu, tetapi juga pada Biyung.
Sampai Biyung berpulang, dia merahasiakan semuanya.
Selama puluhan tahun, Sekar merasa bagian bawah tubuhnya kotor dan masa lalu ada di bagian itu. Itu sebabnya, untuk bertahun-tahun setelah peristiwa itu, dia bisa mandi tujuh sampai delapan kali sehari. Dia ingin memotong tubuhnya menjadi dua.
Tadi, dia hadapi bayangan itu. Dia cabik-cabik, dan hancurkan sampai keping terakhir meruap ke udara. Tapi dia juga melihat gambar lain: dirinya sebagai laki-laki dewasa yang bermain dengan anak kecil, memberi mainan dan membujuk mereka untuk dipangku.
Sekar terperangah. Dia merasa tubuhnya luruh, tetapi pikirannya menjadi jernih.
Lalu semuanya menjadi jelas. Sekar merasa yang hilang tak hanya rasa ketakutan, tetapi juga kemarahan, kesedihan, juga perasaan tidak berharga.
Dalam heningnya, ada perasaan lain yang muncul di antara semerbak harum bunga dan wangi kemenyan, yang entah dari mana datangnya.
Sekar seperti menaiki kereta kencana yang membawanya melayang menembus awan.
Di antara kilau cahaya, dia melihat Biyung tersenyum. Sekar juga melihat laki-laki itu di kejauhan, tetapi matanya teduh. Laki-laki yang sama, tetapi berbeda.
Lalu dia lihat dirinya.
Gadis kecil bermandi cahaya.…

Catatan:
Ndhuk, atau gendhuk, panggilan sayang orangtua di Jawa kepada anak perempuannya.
Slamet, nir-sambekala, selamat, terhindar dari bahaya.
Ditimbali, dalam konteks ini artinya dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Hidup.
Weton, hari lahir dengan pasarannya (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) dalam penanggalan Jawa.

Ahimsa Marga adalah nama pena wartawan senior Maria Hartiningsih. Bukunya, Jalan Pulang, diterbitkan KPG setelah menjalani masa pensiunnya di harian Kompas. Menulis fiksi adalah bagian dari caranya merawat imajinasi sebagai penulis.

Kalender Baru

Cerpen A. Warits Rovi (Kedaulatan Rakyat, 07 Januari 2018)
Kalender Baru ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Kalender Baru ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
AKU hanyalah kertas yang memuat catatan tanggal bagi orang-orang. Demi kepentingan mereka, demi memanja mereka. Sehingga dengan angka-angka di tubuhku ini, mereka dengan mudah dapat menyusun rencana atau membangkitkan kenangan. Temanku hanya sebatang paku karat yang menancap di tembok kusam. Setengah meter di atasku ada jam yang terus membisikkan jeritan-jeritan zaman.
Seminggu sebelum pergantian tahun, lelaki pemilik rumah ini memasangku di pagi yang gerimis. Ia memukul pangkal paku karat berkali-kali dengan palu besi, setelah ujungnya melewati celah lingkar logam yang lekat sebagai gantungan di bagian atas tubuhku, lantas ia tersenyum menatapku, seraya tangannya cekatan membetulkan posisi paku yang agak miring karena datar tembok tua yang sedikit retak. Setelah agak lama menatapku, lelaki itu lalu keluar ruangan ini sembari menutup pintu dengan gerak yang pelan.
Sebagai benda baru, aku berkenalan dengan benda-benda di ruagan ini, harum sisa cetakan tubuhku menyebar di udara, dihirup benda-benda lain hingga mereka mengucapkan selamat datang kepadaku. Kami saling cakap dan tertawa, menertawakan keganjilan manusia yang hidupnya sibuk karena diatur oleh waktu yang dibuatnya sendiri. Adapun kami makhluk yang berupa benda meski setiap detik hanya diam mematung, sebenarnya punya kemerdekaan yang sejati, karena kami tak diatur oleh waktu.
Aku terkejut saat seorang perempuan masuk kamar sambil menarik lengan lelaki yang memasangku beberapa waktu lalu. Perempuan itu mencak-mencak, melotot, ngomel nyerocos sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
Berkali-kali tangannya hendak menjangkauku dengan gerak yang kasar, tapi lelaki yang ternyata suaminya itu berhasil menggagalkannya. Mereka adu mulut, saling tuding, wajahnya sama-sama merah.
“Kalender ini bergambar orang buka aurat, kalau tetap ditaruh di sini, malaikat tidak akan masuk ke ruangan ini. Pokoknya kalender ini harus segera dibuang,” ucap perempuan itu dengan suara menyentak.
“Tidak! Aku tidak akan mengganti kalender ini!”
“Ganti! Kalau tidak diganti, akan kubakar kalender ini.”
Suami-istri itu terus bertengkar mempermasalahkanku. Kegaduhannya memecah suasana pagi. Aku gemetar dan ketakutan, membayangkan sakitnya tubuh ini jika benar-benar dibakar.
***
Perempuan itu kembali masuk ruangan malam-malam. Menatapku dengan bola mata elang dan napasnya mendengus penuh amarah. Wajahnya tampak berparas api, api yang bahkan bisa melalap bulan. Ada selembar kalender di tangan kanannya. Aku semakin gemetar, rasa takutku kian bertambah.
Tak lesat lagi dugaku, perempuan itu mengambilku dengan kasar, meremas-remas tubuhku penuh amarah, lalu mencampakkanku ke tempat sampah. Ia kemudian memasang kalender baru, warna hijau, bergambar kaligrafi. Ia tersenyum bahagia, seolah kalender itu umpan bagi para malaikat untuk datang ke ruangan.
Aku menangis di tempat sampah, dalam segala sakit dan remuk yang kurasa. Kuamati tubuhku yang bergambar wanita-wanita hot. Aku sadar, beginilah memang nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar. q-e

*) A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura.