Daftar Blog Saya

Minggu, 07 Januari 2018

Setrika Arang, Kamera, Nasi Goreng untuk Abban, dan Lainnya

Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dan A Muttaqin (Kompas, 07 Januari 2017)
Valley Working ilustrasi Cuauhtemoc Velazquez - Kompas.jpg
Valley Working ilustrasi Cuauhtemoc Velazquez/Kompas

Setrika Arang


ayam jago itu masih bertengger di situ
menunggu tanganmu memasukkan bara
hidup membosankan dimulai
mondar-mandir dari pakaian satu ke pakaian lain
dari kenangan satu ke kenangan lain

mungkin suatu waktu
tanganmu akan berhenti
pada lipatan saku baju
memeriksa rahasia
yang sembunyi

di ujung setrika arang
yang setia hanya ayam jago
begitu sabar menunggu tanganmu
ia berkukuruyuk dari masa lalu
berharap dunia tidak sekelam
abu dalam setrika

2017

Kamera


tak ada yang lebih indah
selain matamu, kamera
gambar-gambar tak kukenal
membentang bagai fatamorgana

pohon-pohon bercahaya
seakan dilahirkan matahari pagi
seorang bocah duduk
di atas bongkah batu
menatap sungai
yang mengalir ke dalam dirinya

aku tak mengenali mataku lagi
semua muncul begitu saja
serupa bayang-bayang
di penghabisan siang

tak ada yang lebih indah
selain matamu, kamera

kucipta gambar dari kelam
agar mereka paham
apa yang semayam
di kedalaman jiwa

2017

Mesin Tik


mesin tik karatan bergumam:
sungguh letih menjadi tua
jari-jari gemetar, suara parau,
napas tersengal

seperti mesin tik lainnya
ia mengenang suatu masa
puisi-puisi lahir seirama
nyanyian tombol-tombol huruf
surat-surat pun bertaburan
dari negeri-negeri jauh

kini, ia hanya membisu dan makin renta
tak ada lagi mata kagum melihatnya
tak ada tangan rindu menyentuhnya

ia tahu sebentar lagi tuan rumah
membawanya ke tukang loak
berkumpul bersama besi-besi tua lainnya
menatap hampa pada atap seng gudang kumuh
berhimpitan dengan sepi dan dingin malam

tentu ia telah siap dilebur dalam tungku api
lahir kembali menjadi bentuk berbeda
tapi, hanya satu pintanya:
tak ingin menjadi mesin tik lagi

2017

Telepon


kuangkat gagang telepon
“hallo, ini siapa?”
tak ada suara di seberang
jam dinding berdetak lambat
gerimis bernyanyi lirih
bersama daun-daun

“hallo, hallo…”
tak ada suara menyahut
kutaruh gagang telepon
dingin malam membekas
di meja kayu

telepon kembali berdering
“halloo, siapa di sana?”
tak ada suara. hening
malam sedingin pualam

gagang telepon menempel di kupingku
berdebar aku menunggu suara di seberang
hanya gemerisik angin terdengar

2017

Jam Dinding


sebelum malam usai
dalam halusinasi
jantung jam dinding itu
berdetik berkali-kali
ia tahu kau akan pergi

ketika kau buka pintu
dan melangkah ke beranda
mata jam dinding itu
menatap lekat tengkukmu
ia mengasihi denyut nadimu

terdengar bunyi pagar dikunci
mendadak jam dinding itu
berhenti menghitung waktu
yang meleleh di lantai

tak jadi pergi
kau termangu
menatap jam dinding
berdetik-detik seirama
debar hatimu

2017

Wayan Jengki Sunarta lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Di antara sejumlah kumpulan puisinya adalah Pekarangan Tubuhku (2010) dan Montase (2016). Ia tinggal di kota kelahirannya.

Gempa dan Tsunami di Kepala Kami

Cerpen Raflis Chaniago (Rakyat Sumbar, 06-07 Januari 2018)
Gempa dan Tsunami di Kepala Kami ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Gempa dan Tsunami di Kepala Kami ilustrasi Rakyat Sumbar
HAH, gempa? Aku dan seisi rumah berhamburan ke luar rumah. Tetanggaku juga. Gempa itu membuat rumahku bergetar beberapa kali. Bergetar sekali, diam. Bergetar sekali lagi, diam. Begitu beberapa kali. Kaca jendelaku selalu bersuara “rrrrr” setiap getaran itu terjadi.
Setelah berada di luar umah, istriku berteriak, “Minyak motor penuh, Uda?”
“Penuh,” jawabku.
Ini gempa yang aneh, pikirku. Biasanya getaran gempa itu hanya terjadi sekali sampai dua kali. Sekarang, kenapa terjadi berkali-kali? Kutelepon beberapa orang teman dan familiku yang tinggal di tempat berbeda, apakah di tempat mereka juga terjadi gempa. Ada yang kutelepon temanku yang tinggal di Padang Panjang, Bukittinggi, Bayang, dan Painan.
“Halo, Sutan.”
“Ya. Halo juga Bandaro. Apa kabar?”
“Di tempat aku sedang terjadi gempa. Bagaimana keadaan Gunung Marapi? Aman-aman saja? Apakah di Padang Panjang juga terjadi gempa?”
“Gempa? Tidak. Di sini tak ada gempa. Gunung Merapi aman-aman saja. Tak ada apa-apa. Emangnya di tempat Bandaro ada gempa?”
“Ya. Malahan bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Gempa, berhenti. Gempa lagi, berhenti lagi. Jadi, di Padang Panjang tak ada gempa, ya?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, terima kasih Sutan. Asalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
“Halo, Uni. Assalamualaikum! Apakah Uni merasakan gempa?” tanyaku kepada kakak perempuanku.
“Tidak. Memangnya di sana ada gempa?”
“Ya. Bahkan getarannya tidak hanya sekali. Berulang kali.”
“Tak ada. Di sini aman-aman saja. Tidak ada gempa.”
“Kalau begitu, assalamulaikum, Ni.”
Kutelepon pula temanku di Painan. Dia juga mengatakan tidak ada gempa. Padahal jarak Painan dari tempat tinggalku hanya sekitar 4 km. Aneh.
Berbicara masalah gempa, semenjak terjadinya gempa 26 Desember 2004 berkekuatan 9 SR, aku bahkan banyak orang mengalami trauma. Trauma itu disebabkan oleh dua hal, yaitu banyaknya bangunan yang runtuh dan terjadinya tsunami di Aceh yang memorak-porandakan Aceh dan menelan korban sekitar 115.229 jiwa. Di Padang ketika itu banyak pula bangunan termasuk hotel ambruk. Ada orang yang bisa menyelamatkan diri ada pula yang tidak. Dan cara menyelamatkan diri itu ada dengan cara wajar, ada pula yang tidak.
Menyelamatkan diri dengan cara wajar, misalnya berlari ke luar rumah dan berdiri di tempat yang lapang. Ada pula yang memacu kendaraannya ke kawasan yang lebih tinggi seperti ke arah Indarung untuk menghindari tsunami. Namun, karena banyak yang berbuat begitu, jalan menjadi macet. Boro-boro menyelamatkan diri, bergerak pun tak bisa. Itu terjadi baik waktu gempa di siang hari maupun di malam hari. Yang menyelamatkan diri dengan cara tak wajar karena kaki terjepit dalam sebuah bangunan dilakukan seorang buruh yang sedang menggergaji kayu, terpaksa memotong kakinya sendiri dengan gergaji yang sedang dipergunakannya itu.
Bagi masyarakat desa seperti aku dan keluargaku mulai saat itu setiap terjadi gempa selalu menyelamatkan diri ke luar rumah sampai lari ke puncak bukit atau ke tempat-tempat tinggi lainnya sampai anak anggota masyakat ada yang meninggal dalam kandungan. Pemerintah membantu masyarakat dengan menyediakan berbagai macam tempat evakuasi yang merata di berbagai tempat dan selter di tempat-tempat tertentu. Alarm tsunami di tempat-tempat tertentu dipasang. Tenda-tenda dan dana disediakan. Jalan-jalan menuju lokasi evakuasi itu masih dapat dilihat sampai sekarang.
Waktu menyelamatkan diri ke luar rumah pun terjadi berbagai macam hal. Biasanya kalau gempa terjadi, lampu listrik langsung mati. Di malam hari ada yang menyimpan kunci rumah di bawah bantal dengan rencana begitu goncangan terasa, kunci di bawah bantal langsung bisa diambil. Tahu-tahunya begitu goncangan tiba, lupa di mana kunci diletakkan. Ada pula kunci sudah di tangan, tidak kunjung menemukan lubang kunci karena gelap. Kadang-kadang setelah kunci masuk ke dalam lubangnya, memutar pun tidak sanggup karena tangan gemetar. Ada pula yang sudah sampai di luar, tapi tak sadar bahwa dia sedang memeluk bantal guling. Di samping itu, yang tragisnya ada wanita baik masih gadis maupun yang sudah bersuami hanya keluar dengan memakai bra dan celana hawai. Bila gempa terjadi waktu siang atau sore, ada yang lari ke luar rumah hanya dengan memakai handuk karena sedang mandi. Yang lebih lucu lagi ada pula yang lari dengan memakai handuk dan kepala penuh dilumuri busa shampoo.
Di samping peristiwa-peristiwa biasa, aku juga mendengar berita misteri tentang stunami Aceh. Ada sebuah keluarga Aceh yang tinggal di desa tetanggaku. Menurut pengakuan tetangganya, pagi mereka menyaksikan pohon kuini di halaman depan rumah keluarga Aceh itu terguncang-guncang sendiri. Angin tidak, gempa pun tidak. Sorenya menurut pengakuan kerluarga Aceh itu, mereka dapati kuini mereka melayu. Besoknya baru mereka dapat berita bahwa Aceh diluluhlantakkan stunami. Hal itu itu membuat mereka ingin terbang ke Aceh, tapi tak bisa. Mereka hanya bisa terbang sampai Medan. Dari Medan mereka berangkat dengan taksi dan mereka saksikan seluruh keluarganya menghilang ditelan tsunami. Anehnya katanya, sekian banyak mereka melangkahi dan menyingkapkan mayat dalam rangka mencari mayat-mayat keluarganya, tak semiang pun bau busuk singgah di hidung mereka. Aneh, mayat-mayat yang bergelimpangan sudah beberapa hari, tak satu pun yang berbau.
Tentang upaya menyelatkan diri, aku teringat pada suatu ketika. Waktu itu tahun 2007. Aku sedang menunggu istriku yang sedang sakit di rumah sakit. Dia ditempatkan di atas ranjang beroda. Waktu itu gempa besar mengguncang bumi. Para pengunjung rumah sakit baik yang sedang berobat maupun yang sedang menunggu pasien dengan bayangan stunami di kepala masing-masing berlari tak tentu arah. Para perawat menghilang. Pesien diselamatkan keluarga masing-masing seperti yang terjadi pada diriku. Aku mendorong ranjang istriku ke luar kamar rumah sakit sendirian. Kudorong ke kiri, yang di depan nyelonong ke kanan. Kutarik dari depan, yang di belakang nyelonong ke kiri. Dengan perjuangan yang luar biasa, alhamdulillah akhirnya sampai juga istriku di luar. Istriku sampai di luar kamar, gempa reda dan setelah itu, para perawat baru kelihatan puncak hidungnya mencari pasien yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Rupanya waktu gempa terjadi tadi, masing-masing mereka pun menyelamatkan diri mereka.
Akhirnya tiba perintah agar semua pasien dibawa kembali ke kamar masing-masing. Besoknya gempa susulan terjadi. Aku kembali mendorong ranjang istriku ke luar. Kali ini aku sudah dibantu oleh salah seorang saudaraku. Sayang, ranjang itu tak mau beringsut sedikit pun. Dengan bantuan saudaraku, istriku terpaksa digotong dan infus dipegang mertuaku. Setelah gempa reda, istriku kukembalikan ke ranjangnya. Tak lama kemudian, perawat masuk. Dia perintahkan agar istriku dibawa ke tenda yang sudah disiapkan di halaman rumah sakit. Kulaporkan kepadanya bahwa ranjang tak bisa didorong. Dia membantu. Dia tekan sesuatu pada roda dengan kakinya. Rupanya ketika didorong tadi rem roda sedang terpasang.
Besoknya helikopter kelihatan mondar-mandir di atas udara kampung kami. Ada yang berputar-putar kemudian menghilang. Ada pula yang menuju ke arah Bengkulu. Rupanya menurut informasi itu adalah helikopter kepresidenan yang membawa Presiden SBY setelah meninjau Padang dan Mentawai menuju Bengkulu.
Kali ini aku dan keluargaku takut kalau-kalau peristiwa itu terjadi lagi. Karena getarannya tiada henti-hentinya, aku naik ke atas balkonku. Kuintip keadaan sekeliling komplek belakang rumahku melalui jendela. Ibarat pepatah Minang “ditukiakkan pandangan nan dakek, dilayangkan pandangan nan jauah” (ditukikkan pandangan yang dekat, dilayangkan pandangan yang jauh). Begitu kuedarkan, pandanganku langsung tertumbuk pada sebuah mesin giling yang mondar-mandir sedang mengaspal jalan. (*)

Tukik Pulau Sangalaki

Oleh Yessi (Kompas, 07 Januari 2018)
Tukik Pulau Sangalaki ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg
Tukik Pulau Sangalaki ilustrasi Regina Primalita/Kompas 
WENDY beserta Kak Diva dan Papa Mamanya pergi berlibur ke Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur. Dengan menggunakan speedboat, pada sore hari menjelang malam, mereka tiba di Pulau Sangalaki. Mereka sekeluarga berencana menginap di sebuah resor di pulau tersebut.
“Yihuui…” Wendy bersorak gembira. Ia menanggalkan sandalnya di atas pasir. Ia ingin merasakan pasir pantai yang lembut. Meski hari sudah mulai malam, Wendi bersama Kak Diva tak sabar ingin bermain di tepi pantai.
Pasir di Pulau Sangalaki memang lembut dan bersih. Pasir tersebut cocok buat penyu betina untuk bertelur. Oleh sebab itu, penyu hijau suka bertelur di pulau ini.
Wendy dan Kak Diva lalu melihat seorang pria yang membawa ember berisi puluhan anak penyu (tukik). Dia adalah Pak Linu, petugas pos penangkaran penyu hijau di pulau itu.
“Wow…!” seru Wendy dan Kak Diva terkagum-kagum melihat tukik-tukik yang mungil itu.
“Adik-Adik, ayo kita bantu tukik-tukik ini untuk mencapai pantai,” ajak Pak Linu.
Wendy dan Kak Diva mengangguk. Wendy lalu berjongkok mengambil satu tukik. Kulit tukik itu berwarna hitam. “Hihii, lucunya mereka, Kak,” kata Wendy saking gemasnya.
“Pak, kok malam-malam baru melepas tukik?” tanya Kak Diva penasaran.
“Lebih bagus malam hari begini, Dik. Supaya mereka tidak dimangsa sama elang atau kepiting pada siang hari,” Pak Linu menjelaskan.
“Oh …” seru Kak Diva dan Wendi bersamaan.
Pak Linu lalu berkata kembali, “Tukik ini saat masih menjadi telur, juga sering menjadi incaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab.”
Wendy lalu teringat, Papa pernah bercerita bahwa dahulu telur penyu hijau ini banyak diperjualbelikan untuk dikonsumsi. Padahal, penyu merupakan hewan yang dilindungi.
“Jadi, kita tidak boleh makan telur penyu yaa, Pak?” sahut Kak Diva.
“Betul, Dik. Dengan tidak memakan telur penyu, berarti kita sudah ikut menjaga populasi penyu hijau ini,” jawab Pak Linu.
“Tukik, oh, tukik!” kata Wendy kepada si anak penyu yang digenggamnya. Ia lalu menurunkan tukik itu ke pasir. Secara naluri tukik bergerak menuju ke pantai.
“Kak, kayaknya aku mau membawa pulang beberapa bayi-bayi penyu ini. Aku mau pelihara di rumah,” ujar Wendy kemudian.
“Tapi, habitat penyu di laut, Wen! Kasihan mereka makin hari makin punah,” jawab Kak Diva.
Pak Linu lalu berkata, “Benar. Bahkan sekarang ini, untuk bertahan hidup di laut pun, peluang tukik semakin menipis. Karena itu, kita harus betul-betul menjaga binatang ini dari kepunahan.”
“Iya, sih.” Wendy mengangguk.
Wendy lalu melihat, beberapa tukik berhasil menyentuh bibir pantai lalu berenang di laut lepas. Dalam hatinya ia berjanji, untuk turut menjaga penyu-penyu hijau ini dari ancaman kepunahan. *

Biyung

Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 07 Januari 2018)
Biyung ilustrasi Sunaryo - Kompas
Biyung ilustrasi Sunaryo/Kompas 
Semalam Biyung datang lagi dalam mimpinya. Seperti waktu-waktu lalu, kali ini pun Biyung hanya tersenyum, memandangnya dengan mata yang pendarnya seperti cahaya timur. Sekar kangen, Biyung…
Tapi Sekar tak mampu menatap Biyung lama-lama. Matanya terhalang silau cahaya. Dia ingin memeluk Biyung erat-erat seperti di masa kanak-kanak, saat dia merasa takut kehilangan Biyung. Dia ingin menaruh kepalanya di pangkuan Biyung seperti dulu, kalau sedang sedih.
Biyung seperti tahu apa pun yang terjadi pada Sekar, sejak Sekar kecil. Dia tak pernah mengusiknya dengan pertanyaan.
Sepanjang hidupnya, Sekar tak pernah bicara tentang apa pun yang sedang dihadapinya. Tetapi, anehnya Biyung selalu tahu. Dalam surat pendek yang dituliskan tetangga setiap bulan setelah Sekar mengirim wesel, kadang tertulis antara lain, “… Biyung melihat kamu sedang ndak keruan Ndhuk. Kemarin Biyung caos dahar, nyala menyannya mobat-mabit ndak karuan…”
Kali lain, Biyung hanya menanyakan, “Kamu sedang sedih ya Ndhuk?”
Caos dahar adalah ritual yang dilakukan Biyung seminggu sekali, kadang dua kali, lengkap dengan sesajian. Begitu cara Biyung berhubungan dengan leluhurnya. “Ndak boleh lupa leluhur, Ndhuk, ndak boleh lupa asal-usul,” begitu pesan Biyung,
Kalau memasuki kompleks pemakaman, Biyung selalu membuka kasutnya dari mulut jalan masuk, dan membersihkan setiap makam dengan khidmat.
Nyekar. Itu yang diikuti Sekar sampai hari ini.…
Biyung hampir tak pernah menyentuh tempat tidur. Sampai enam bulan menjelang kepergiannya, Biyung masih tidur beralas tikar dan bantal tipis di lantai depan pintu masuk. “Biyung jangan tirakat lagi. Mosok seumur hidup tirakat terus.”
Tapi Biyung selalu menjawab, “Tirakat itu selesainya kalau kita sudah ditimbali, Ndhuk.”
Ngéné ya Ndhuk… tidur di bawah supaya slamet, nir-sambekala….”
Cara itu yang diikuti Sekar kalau merasa gelisah.
Lalu Biyung berbisik, “Biyung tidur di bawah supaya kamu bisa tidur di atas….”
Bisikan itu terdengar seperti genta saat Sekar semakin jauh meninggalkan Biyung.
Sekar juga tidak tahu kapan Biyung makan dengan benar karena hari-harinya diisi puasa. Dari puasa Senin-Kamis, mutih, ngrowot, ngepel, ngasrep, wungon, ngidang, dan entah apa lagi, Sekar sudah banyak lupa penjelasan Biyung tentang semua itu.
Dan, tentu saja, puasa khusus setiap weton Sekar: Sabtu Pahing.
Lalu setiap tengah malam, menjelang dini hari, kalau terbangun, Sekar selalu melihat Biyung duduk bersimpuh di ruang tempat dia biasa caos dahar, diam, seperti tidak bernapas, kaotak dang terdengar suara halus yang tak bisa dia tangkap dengan telinga kecilnya secara sempurna.
Hooooonnng….
***
Sekar tumbuh di antara bau kemenyan dan bunga, khususnya kenanga dan kantil, semua bau yang kata orang, punya aura mistik. Semakin dewasa dan hidup jauh dari Biyung, bau-bau itu yang mengembalikannya kepada masa lalu, dan di luar sadar, Sekar mencari parfum dengan wangi Cananga Odorata atau Michelia Alba atau Styrax
Hubungan Sekar dan Biyung sebenarnya tak mesra-mesra amat. Ketika mendapat kabar Biyung berpulang, Sekar dalam perjalanan pulang dari tugasnya, di Afrika Selatan. Biyung meninggalkannya. Nglimpé, kata orang Jawa. Artinya, mencuri waktu, tak ingin diketahui.
Biyung tahu, aku tidak mencintainya sebesar dia mencintaiku….
Sekar mulai merasa bersalah.
Sekar menggaji Mbak Sum untuk menemani Biyung. Betapa pun, jauh di hati kecilnya, Sekar khawatir kondisi Biyung. Ingin dia merawatnya, membawanya tinggal bersamanya, tetapi bayangan masa lalu itu menghalanginya.
Biyung berpulang dalam tidur. Terlihat sangat tenang dan tersenyum tipis. Kata dokter, Biyung berpulang dini hari, begitu bunyi teks yang dikirim Mbak Sum.
Teks selanjutnya terbaca, “Kemarin sore, Biyung cuci rambut. Mandinya lama sekali. Abis itu Biyung tampak segar, terlihat lebih muda. Lalu masuk kamar, tidak mau diganggu….”
Biyung pernah cerita, orang-orangtua dulu seringkali tahu kapan saat pulang tiba. Kata Biyung, dekat-dekat weton harus banyak tirakat karena biasanya pada rentang waktu itu orang dijemput.
Dalam letih menunggu pesawat lanjutan ke Jakarta, dia membuka internet untuk melihat penanggalan Jawa.
Sekar terpana. Hari kepulangan Biyung jatuh pada weton-nya….
Tanpa sadar matanya basah…. Biyung mempersiapkan semuanya untuk menyambut Sang Cahaya.…
Setelah Biyung berpulang, Sekar baru merasa ada yang hilang dari hidupnya, yang secara fisik tak akan pernah dia temui lagi. Makin jauh, bayangan Biyung terasa semakin dekat.
Beberapa kali Biyung datang dalam mimpinya. Seribu hari setelah kepulangannya, Sekar bermimpi mengantar Biyung naik kereta. Biyung menatapnya tersenyum, tetapi tidak membalas lambaian tangannya.
Kali lain Sekar bermimpi berada di satu pesawat ruang angkasa, melihat Biyung dalam wujud yang berbeda sama sekali, tetapi mata batinnya mengenali perempuan tinggi besar bermata tajam itu Biyung.
Kali lain lagi, Sekar melihat dirinya sebagai Sekar kecil yang memegangi tangan Biyung erat-erat. Namun, yang paling sering, Biyung datang dengan tersenyum, menatapnya dengan mata berpendar.
Sekar memanggil ibunya, Biyung…. Sebutan yang indah, menurut Sekar kecil.
Sekar kecil sering membelai wajah Biyung dan tidur meringkuk dalam dekapan Biyung. Posisi tidur mlungker itu membuatnya merasa aman. Kalau Biyung sakit, Sekar menunggui Biyung sambil terisak, “Sekar saja yang sakit. Jangan Biyung. Kalau Biyung meninggal Sekar ikut siapa?”
Dalam kondisi tubuh yang lemah, Biyung selalu membesarkan hati Sekar. “Biyung cuma sakit Ndhuk. Biyung mau nunggu sampai Sekar besar. Boleh Biyung ikut kamu Ndhuk?”
Sekar tak paham mengapa Biyung menanyakan hal itu. Tentu saja. Bukannya aku anak satu-satunya? Aku akan buat Biyung bahagia. Begitu pikir Sekar sambil menciumi Biyung.
Sekar tak pernah memenuhi janji pada dirinya untuk Biyung.
Semakin besar, dia semakin tertutup, menganggap Biyung yang tak bisa baca-tulis itu tak paham apa-apa. Pernah setahun hanya sekali menengok Biyung dengan alasan klise: sibuk.
Dia merasa telah memenuhi kewajibannya dengan kirim uang. Sampai suatu hari Biyung bilang, “Biyung ndak butuh uangmu, Ndhuk.”
Biyung seperti masa lalu yang ingin dia lupakan. Dia ingin memisahkan masa lalu dari masa kininya.
Ada bayangan yang terus mengikutinya seperti hantu.
Sekar tak berani menghadapinya.
Tapi, masa lalu yang ingin dia buang selalu bertabrakan dengan kerinduan yang mendalam. Keduanya ada dalam diri Biyung.
Banyak sekali ingatan tentang Biyung yang membuatnya selalu merindukan Biyung, merindukan suapan nasi dari jari-jemari tangannya yang ringkih, merindukan bau kain yang dipakainya, merindukan semuanya.
Sekar ingat jawaban Biyung saat ditanya kemana bapaknya. Jawaban itu selalu sama: Kalau Biyung masih sama bapakmu, kamu ndak akan sampai di tempatmu sekarang.
Ketika didesak, jawaban Biyung cuma: Yen ora ngono, ora ngéné.
Kalau tidak begitu, tidak begini.
Jauh sesudahnya baru dia paham maksud dari jawaban Biyung.
Sekar kecil membawa terus ingatan saat diusir kerabat Biyung, karena tak punya uang untuk membeli sop panas dari restoran mereka. Biyung sakit, ingin makan panas-panas, tetapi tak punya uang karena tak bisa jualan di pasar.
Usianya enam tahun waktu itu.
Banyak peristiwa kemudian yang membuatnya merasa ditolak. Sekar tumbuh menjadi perempuan cerdas, tetapi pemurung selalu curiga. Dia menolak filosofi Jawa, bobot, bibit, bebet, yang biasa ditanyakan calon mertua kepada calon menantu.
Sekar memilih hidup sendiri.
Satu lagi peristiwa yang lekat dalam ingatannya. Suatu hari, Biyung menggamitnya berjalan melipir sungai kecil yang melintasi kampung, tiba di seberang pegadaian. Di situ Biyung menggadaikan tiga kain batik tulis warisan.
“Buat bayar uang sekolahmu. Nunggak berapa bulan Ndhuk?”
“Tiga bulan, Biyung.” Sekar tak berani menatap mata Biyung, menahan sedu.
Biyung membelainya dan berbisik, “Besok kalau Biyung sudah punya uang, bisa diambil. Kamu sekolah saja. Wis meneng… aja nangis….”
Kadang Biyung mengajaknya nonton wayang wong. Dia suka mengulang-ulang cerita Sumantri Ngenger, tentang Sukrasana, si raksasa cebol yang begitu mencintai kakaknya.
Akang Ati… aku ilu Akang Ati….”
Kakang Sumantri, aku ikut, Kakang.…
Tapi, Sumantri mengibaskannya.
Sekar merasa dirinya tak berbeda dengan Sumantri….
***
Setelah Biyung berpulang, Sekar terus berusaha meminta maaf pada Biyung dengan cara apa pun yang bisa dia lakukan. Tetapi, entah, hatinya seperti diberati sebongkah batu. Pikirannya terbebani oleh sesuatu yang dia tidak tahu.
Sampai suatu malam, saat hening, Sekar memasuki suatu wilayah kedalaman yang tidak biasa. Di situ, dia seperti melihat gambar di layar kaca. Mata Biyung digelayuti rasa sedih yang tak terjelaskan saat melambaikan tangan, sementara Sekar tidak menengok lagi. Mobilnya melaju, meninggalkan rumah Biyung.
Kepedihan yang tak terperi menusuk sampai ke ulu hati. Sekarang Sekar merasakan perasaan Biyung saat itu. Air matanya tumpah. Dia tersedu-sedu sambil bersujud di kaki Biyung.
Saat terbangun dari hening panjang itu, kepalanya sakit tetapi dadanya lega, seperti ada beban puluhan ton tercabut dari dirinya.
Setelah itu, dalam mimpinya, Sekar berani menghadapi bayangan laki-laki yang sering memaksanya duduk di pangkuannya dan mempermainkan alat kelaminnya.
Biyung mengira, laki-laki itu menyayangiku, begitu pikir Sekar.
Tidaaak Biyung. Dia orang jahat. Dia orang jahaaaatttt.
Sekar ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat.
Saat itu usianya 10 tahun. Sekar memendam kemarahan tak hanya pada laki-laki itu, tetapi juga pada Biyung.
Sampai Biyung berpulang, dia merahasiakan semuanya.
Selama puluhan tahun, Sekar merasa bagian bawah tubuhnya kotor dan masa lalu ada di bagian itu. Itu sebabnya, untuk bertahun-tahun setelah peristiwa itu, dia bisa mandi tujuh sampai delapan kali sehari. Dia ingin memotong tubuhnya menjadi dua.
Tadi, dia hadapi bayangan itu. Dia cabik-cabik, dan hancurkan sampai keping terakhir meruap ke udara. Tapi dia juga melihat gambar lain: dirinya sebagai laki-laki dewasa yang bermain dengan anak kecil, memberi mainan dan membujuk mereka untuk dipangku.
Sekar terperangah. Dia merasa tubuhnya luruh, tetapi pikirannya menjadi jernih.
Lalu semuanya menjadi jelas. Sekar merasa yang hilang tak hanya rasa ketakutan, tetapi juga kemarahan, kesedihan, juga perasaan tidak berharga.
Dalam heningnya, ada perasaan lain yang muncul di antara semerbak harum bunga dan wangi kemenyan, yang entah dari mana datangnya.
Sekar seperti menaiki kereta kencana yang membawanya melayang menembus awan.
Di antara kilau cahaya, dia melihat Biyung tersenyum. Sekar juga melihat laki-laki itu di kejauhan, tetapi matanya teduh. Laki-laki yang sama, tetapi berbeda.
Lalu dia lihat dirinya.
Gadis kecil bermandi cahaya.…

Catatan:
Ndhuk, atau gendhuk, panggilan sayang orangtua di Jawa kepada anak perempuannya.
Slamet, nir-sambekala, selamat, terhindar dari bahaya.
Ditimbali, dalam konteks ini artinya dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Hidup.
Weton, hari lahir dengan pasarannya (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) dalam penanggalan Jawa.

Ahimsa Marga adalah nama pena wartawan senior Maria Hartiningsih. Bukunya, Jalan Pulang, diterbitkan KPG setelah menjalani masa pensiunnya di harian Kompas. Menulis fiksi adalah bagian dari caranya merawat imajinasi sebagai penulis.

Kalender Baru

Cerpen A. Warits Rovi (Kedaulatan Rakyat, 07 Januari 2018)
Kalender Baru ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Kalender Baru ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
AKU hanyalah kertas yang memuat catatan tanggal bagi orang-orang. Demi kepentingan mereka, demi memanja mereka. Sehingga dengan angka-angka di tubuhku ini, mereka dengan mudah dapat menyusun rencana atau membangkitkan kenangan. Temanku hanya sebatang paku karat yang menancap di tembok kusam. Setengah meter di atasku ada jam yang terus membisikkan jeritan-jeritan zaman.
Seminggu sebelum pergantian tahun, lelaki pemilik rumah ini memasangku di pagi yang gerimis. Ia memukul pangkal paku karat berkali-kali dengan palu besi, setelah ujungnya melewati celah lingkar logam yang lekat sebagai gantungan di bagian atas tubuhku, lantas ia tersenyum menatapku, seraya tangannya cekatan membetulkan posisi paku yang agak miring karena datar tembok tua yang sedikit retak. Setelah agak lama menatapku, lelaki itu lalu keluar ruangan ini sembari menutup pintu dengan gerak yang pelan.
Sebagai benda baru, aku berkenalan dengan benda-benda di ruagan ini, harum sisa cetakan tubuhku menyebar di udara, dihirup benda-benda lain hingga mereka mengucapkan selamat datang kepadaku. Kami saling cakap dan tertawa, menertawakan keganjilan manusia yang hidupnya sibuk karena diatur oleh waktu yang dibuatnya sendiri. Adapun kami makhluk yang berupa benda meski setiap detik hanya diam mematung, sebenarnya punya kemerdekaan yang sejati, karena kami tak diatur oleh waktu.
Aku terkejut saat seorang perempuan masuk kamar sambil menarik lengan lelaki yang memasangku beberapa waktu lalu. Perempuan itu mencak-mencak, melotot, ngomel nyerocos sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
Berkali-kali tangannya hendak menjangkauku dengan gerak yang kasar, tapi lelaki yang ternyata suaminya itu berhasil menggagalkannya. Mereka adu mulut, saling tuding, wajahnya sama-sama merah.
“Kalender ini bergambar orang buka aurat, kalau tetap ditaruh di sini, malaikat tidak akan masuk ke ruangan ini. Pokoknya kalender ini harus segera dibuang,” ucap perempuan itu dengan suara menyentak.
“Tidak! Aku tidak akan mengganti kalender ini!”
“Ganti! Kalau tidak diganti, akan kubakar kalender ini.”
Suami-istri itu terus bertengkar mempermasalahkanku. Kegaduhannya memecah suasana pagi. Aku gemetar dan ketakutan, membayangkan sakitnya tubuh ini jika benar-benar dibakar.
***
Perempuan itu kembali masuk ruangan malam-malam. Menatapku dengan bola mata elang dan napasnya mendengus penuh amarah. Wajahnya tampak berparas api, api yang bahkan bisa melalap bulan. Ada selembar kalender di tangan kanannya. Aku semakin gemetar, rasa takutku kian bertambah.
Tak lesat lagi dugaku, perempuan itu mengambilku dengan kasar, meremas-remas tubuhku penuh amarah, lalu mencampakkanku ke tempat sampah. Ia kemudian memasang kalender baru, warna hijau, bergambar kaligrafi. Ia tersenyum bahagia, seolah kalender itu umpan bagi para malaikat untuk datang ke ruangan.
Aku menangis di tempat sampah, dalam segala sakit dan remuk yang kurasa. Kuamati tubuhku yang bergambar wanita-wanita hot. Aku sadar, beginilah memang nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar. q-e

*) A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura.

Kamis, 04 Januari 2018

Mahar yang Tertinggal

Cerpen Krismarliyanti  (Republika, 31 Desember 2017)
Mahar yang Tertinggal (Bagian 2) ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Mahar yang Tertinggal (Bagian II) ilustrasi Rendra Purnama/Republika
(Bagian II)
Dengan alasan ingin mandiri, kami pun memutuskan untuk membangun rumah di sebelah kediaman ibu dan bapak. Keputusan yang kami rasa cukup adil karena rumah kami hanya terpisah tembok. “Nanti ibu dan bapak kan bisa tiap hari mengunjungi Biyan. Tinggal buka pintu pagar saja kok, Bu,” senyumku berusaha membuat ibu mengerti. “Iya, Bu, cuman dipisah tembok saja kok. Airin sudah besar sekarang, biarkan mereka menikmati rumah sendiri,” timpal bapak. Dan sepertinya ibu pun tidak punya alasan lain untuk menolak rencana kami.
Tahun berlalu, aku pun menjalani kehidupan rumah tanggaku dengan bahagia. Tidak lagi aku mengenang Ardi, mungkin dia sudah menemukan pujaan hatinya, batinku. Dan aku sadar bahwa aku sekarang telah menjadi istri Mas Hemi. Apalagi dengan kehadiran Biyan, hidupku semakin bahagia.
Mas Hemi suami yang baik. Dengan kesabarannya menghadapi ibu yang terkadang berusaha mengatur kehidupan kami. “Turuti saja ibu, Rin, namanya juga sudah sepuh,” kata Mas Hemi ketika ibu mengutarakan keinginannya untuk membuat pintu tembus ke halaman belakang kami.
Hingga sekitar empat pekan lalu, ibu dikejutkan oleh seorang tamu yang tidak kami sangka sama sekali. Sore hari, seperti biasa ibu selalu meminta pengasuh anakku membawa Biyan ke rumahnya. Aku yang masih bekerja pun dengan senang hati meluluskan permintaan ibu.
“Assalamualaikum.” Ibu yang tengah bersenda gurau dengan cucunya pun dikagetkan suara laki-laki muda yang pernah dikenalnya. Laki-laki muda yang tampak gagah dengan kemeja berwarna biru langit dan celana katun berwarna abu-abu. Kulitnya bersih terawat, rambutnya yang hanya bersisa 5 cm, serta mata coklat yang berbinar.
Butuh beberapa saat buat ibu mengenali tamu itu, sampai akhirnya ibu teringat mata coklat yang selalu dilontarkan ibu kepadaku.
“Walaikumsalam … sebentar-sebentar, ibu tidak salah lihat kan?” Dengan mata tuanya ibu berusaha keras memastikan siapa laki-laki muda yang berdiri tersenyum di depannya.
“Tidak, Bu, saya Ardi. Ibu masih ingat saya?” katanya sambil tersenyum lalu meraih dan mencium tangan ibu.
“Tentu saja. Ya ampun, kamu sekarang ganteng … mari masuk.” Semburat bahagia pun tampak jelas di wajah ibu. Terlihat jelas kerinduan seorang ibu terhadap anak laki-lakinya.
“Bukannya saya ganteng dari dulu, Bu?” Ardi selalu berhasil membuat orang lain tertawa, termasuk ibuku. Ardi memang sangat dekat dengan ibu dan bapak. Maklum saja kami berteman dari kecil dan Ardi memang tidak pernah mengenal sosok ibu sejak bayi. Menurut bapaknya, ibu Ardi meninggal ketika melahirkan Ardi.
Sebetulnya ibu sudah menggodaku tentang Ardi. Teringat pembicaraan ibu beberapa tahun lalu, “Rin, kamu pacaran sama Ardi?” Entah kenapa sepertinya ibu tahu perasaanku. “Ah! Enggak kok, Bu, kami hanya berteman.” Dan ibu hanya tersenyum.
“Ardi itu baik ya, sopan, pintar, ganteng pula. Kulitnya saja bersih terawat. Sama itu loh, ibu suka matanya Ardi coklat.” Aku pun hanya melongo ketika ibu menggambarkan Ardi secara rinci. Ternyata bukan aku yang menyukai mata coklat Ardi, ibu diam-diam memuja matanya.
Seperti biasa, pulang kerja aku selalu mampir ke rumah ibu untuk menjemput Biyan. Dan sore itu sungguh tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku. Senja ketika Ardi kembali hadir di dekatku. Aku sangat yakin, aku tertegun cukup lama di depan pintu pagar ibu ketika kulihat sosok bertubuh bidang yang telah merebut perhatianku bertahun-tahun. Wajahku pucat pasi, kukucek mataku berulang kali. Lututku rasanya tidak mampu lagi menopang tubuhku . Aku betul-betul tidak memercayai apa yang aku lihat di depan mataku.
Ya, laki-laki yang sedang memangku anakku dan bersenda gurau dengan ibuku itu adalah Ardi. Tidak, aku harus bersikap biasa saja. Ayo, Airin. Dia hanya temanmu, Airin. Tuhan, please, tolong aku.
Kubulatkan tekadku untuk terus melangkah dan bersikap sewajarnya. Kutenangkan degupan jantungku yang semakin kencang. Dan kuatur napasku yang semakin memburu.
“Apa kabar Airin?” sapa Ardi dengan senyum yang sama sekali tidak berubah.
“Baik, kamu ke mana saja, Di? Lama menghilang. Aku kira kamu sudah lupa sama kami,” kataku dengan wajah yang terasa kaku dan tegang. Aku sadari sepenuhnya ada nada kecewa ketika kuucapkan kalimat itu. Dan sore itu menjadi senja yang dipenuhi gemuruh rasa kecewa, bahagia, dan canggung.
Malam itu pun aku dan suamiku mengundang Ardi untuk makan malam di rumah kami. Beruntunglah, suami dan sahabatku menemukan bahan pembicaraan yang membuat mereka cepat akrab. Ditambah dengan bapak yang selalu mengenang masa kecil kami dulu. Sehingga rasa rikuhku pun terobati.
“Rin, aku mau menikah,” katanya suatu siang saat dia mengajakku makan siang. Kebetulan kantor di mana dia bekerja hanya beberapa blok dari gedung di mana aku bekerja. Sungguh, aku merasa sangat bodoh sampai tidak mengetahui kalau selama ini dia begitu dekat.
“Oh … Selamat ya. Akhirnya kamu laku juga,” jawabku sambil tertawa hambar.
Entah apa yang aku rasakan, sejak kedatangannya kembali, hatiku seperti sakit dan hampa. Ada rasa menyesal dengan perjodohan orang tuaku, walaupun aku sendiri tidak tahu apa yang Ardi rasakan kepadaku setelah lama berpisah.
“Ya mau gimana lagi, masa iya aku harus menunggu jandamu,” jawabnya sambil menyeruput minuman dingin yang dipesannya. Wajahnya terlihat tidak peduli sama sekali.
“Maksudmu? Gak lucu tahu, sama saja kamu mendoakan aku cerai kalau begitu. Sembarangan!”
Aku cukup terbelalak dengan ucapannya hingga nada jawabannku sedikit tinggi dengan tampang yang jengkel. Sedangkan dia hanya senyum-senyum tidak peduli dan dengan mudahnya mengganti topik pembicaraan. Apa maumu, Ardi? batinku sembari terus memeperhatikan sikapnya yang terlihat acuh.
Hari pun berlalu, dan Ardi semakin rajin menyapaku lewat telepon ataupun pesan singkat. Pikiranku dipenuhi tentang teka-teki perasaan antara aku dan ardi. Aku terlihat sering banyak melamun dan kosong. Bahkan, pernah satu kali Mas Hemi menegurku saat aku melamun cukup lama di depan komputer. Bahkan, sering kali aku tidak fokus ketika diajak bicara suamiku.
Ada rasa takut menyusup, takut Mas Hemi mengetahui perasaanku terhadap Ardi. Dan aku selalu berusaha bersikap wajar ketika di rumah. Bagaimanapun aku harus menjaga keutuhan rumah tangga kami. Aku tidak akan rela jika Biyan harus tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh.
Sore itu, dua minggu setelah kedatangannya, dia meneleponku dengan nada yang sangat serius. Pembicaraan yang membuka lebar perasaan yang telah terkubur dalam, syahdu dan membiru. Dadaku selalu sesak dan anganku melayang setiap kali Ardi menelponku.
“Rin, aku bicara penting sama kamu.”
“Ada apa, Di?”
“Tentang kita.”
Aku semakin gelisah. Badanku bergetar, mecoba menebak apa yang akan dia utarakan. Lagi, dia membuatku terhenyak. Diri ini pun masih belum percaya dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Lalu sekarang dia telah menyeretku pada kotak masa lalu yang telah aku kunci rapat.
Aku menjauh dari meja kerjaku dan menghindari kesenyapan agar leluasa bicara dengan Ardi. Tidak mampu kusembunyikan debaran jantungku yang semakin cepat. Aku gelisah dan keringat dingin pun membasahi tubuhku.
“Rin, aku mencintaimu … ”
“Apa maksudmu?”
“Aku mencintaimu sejak di bangku sekolah.”
“Ardi, aku sudah menikah. Kamu jangan konyol.”
“Aku serius. Aku hanya ingin jujur sebelum aku mengakhiri masa lajangku. Aku tidak mau menyesal dan menyimpan ini sendiri.”
“Kamu egois! Kamu pikir kamu siapa? Sekian tahun tidak ada kabar lalu sekarang kamu dengan seenaknya mengganggu hidupku!”
“Maafkan aku, Airin. Aku Hanya ingin jujur.”
“Aku menunggumu tetapi tak satu pun kabar yang aku terima. Dan kamu tahu, aku tidak mampu menyakiti ibu dan bapak. Aku bahagia dengan kehadiran Biyan.”
“Kamu mencintai Mas Hemi kan, Rin? Dia suami yang baik.”
“Jangan pernah tanyakan tentang perasaan kepadaku, Di. Kamu tidak tahu apa pun tentang cinta. Kamu pengecut!”

Krismarliyanti adalah seorang penulis yang lahir di Rangkasbitung, Banten. Hobi membaca dimulai sejak sekolah dasar dan mulai menulis dari tahun 2000. Dunia seni sudah dikenalnya sejak usia remaja dan menjalani serius dunia teater ketika kuliah di Yogyakarta. Mulai menulis dengan naskah drama lalu kemudian tertarik menulis puisi. Salah satunya puisinya sudah dimuat di buku Medan Puisi, antologi puisi Sempena the 1st International Poetry Gathering yang diadakan di Medan pada tahun 2007. Buku kumpulan puisinya yang berjudul Poetry Anthology Lentera telah terbit pada tahun 2016. Selain menulis, Krismarliyanti pun seorang perupa. Hasil karyanya telah dijadikan sebagai cover dan ilustrasi di buku antologi pertamanya. Beberapa karya tulis dan lukisan serta drawing art dapat dinikmati di FB: htttps://www.facebook.com/krisdonaldson; https://thelantern07.blogspot.co.id atau Instagram @KrisDonaldson.

Pangrukti Laya

Cerpen Hendromasto Prasetyo (Jawa Pos, 31 Desember 2017)
Pangrukti Laya ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Pangrukti Laya ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
Setiap ada orang mati, ibu selalu mendatangi. Tak pernah ada ketakutan yang menyertai. Tiga kotak kapas, dua botol alkohol 70 persen, dan seperangkat piranti rias wajah menjadi bekal ibu.
ENTAH bagaimana mulanya ibu bisa menjadi seorang perias jenazah di kelompok pangrukti laya [1] gereja kami di Margoyudan. Sedari aku bisa mengingat dan sependek cerita bapak, ibu sama sekali bukan ahli merias wajah. Apalagi wajah orang yang sudah meninggal. Yang membuatku semakin heran, mengapa orang-orang di gereja begitu percaya dengan kemampuan merias ibu sementara ia sendiri tak suka memoleskan gincu di pipinya?
“Ini pelayanan, ini bentuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kamu mestinya mengerti apa arti kasih dan mengasihi.” Ibu selalu menyorongkan kalimat itu bila aku mulai bertanya buat apa menjadi perias mayat jemaat gereja. Tak mendapat gaji, tak boleh menerima amplop isi uang pula. Paling banter ibu hanya akan mendapat sekotak kue atau piring bertulis peringatan sekian hari matinya si ini atau si itu.
Alasan-alasan yang sangat Alkitabiyah lantas ia ucapkan sebagai dasar kesibukannya sebagai anggota pangrukti laya gereja kami. Ya, ibu memang aktivis gereja. Saking aktifnya, bapak sering menyebut ibu sebagai anggota panitia surga alias orang-orang di dunia yang terlalu sibuk dengan hal-hal surgawi tanpa pernah pusing kelak bisa jadi penghuni surga atau tidak.
Baik surgawi atau tidak, tetap saja aku tak habis pikir mengapa ibu yang tak suka bersolek dapat menjadi penata rias tubuh-tubuh tak bernyawa. Bagaimana bila ternyata bedak pada wajah mayat yang diriasnya tebal sebelah? Atau ada gincu menor di pipi beku tubuh tanpa nyawa itu? Lalu bagaimana bila kemudian mayat-mayat itu bangkit dari kubur untuk meminta ibu merapikan riasannya? Segala hal yang sulit kubayangkan ada pada ibu dan kesibukannya bersama kematian.
Le, tolong jemput Bude Rose. Nanti kamu mampir sekalian ke gereja. Pak Ayub dan Pak Switadi sudah menunggu. Ibu siap-siap dulu.”
Perintah dari ibu semacam itu adalah tanda ia mendapat panggilan duka dari warga gereja. Aku tak mungkin mengelak. Sejak menjadi penggangguran tak kentara setelah lulus kuliah tiga tahun lalu, aku adalah kaki bagi ibu. Ke mana ibu pergi, aku mengantarnya.
Bude Rose, Pak Ayub, dan Pak Switadi adalah pangrukti laya yang selalu bertugas bersama ibu. Bude Rose adalah ketua kelompok itu. Pengalamannya selama 30 tahun sebagai perawat rumah sakit Dokter Oen di Nji Seng Yan menjadi alasan utama mengapa Bude Rose jadi ketua. Ia paham benar bagaimana membersihkan mayat sebelum layak kubur. Maklum, separo lebih dari waktunya menjadi perawat adalah tugas di kamar mayat. Aku selalu ingin menyumpal mulutnya bila di dalam mobil ia mulai berkisah tentang pengalaman-pengalaman aneh di sekitar kamar mayat.
***
SETIAP kali aku menjadi sopir rombongan pangrukti laya, di saat itu pula aku mendengar pembagian tugas di antara mereka. Bila yang kehilangan nyawa adalah perempuan, maka ibu dan Bude Rose mendapat tugas lebih banyak. Mulai dari memandikan dan membersihkan jenazah, hingga memasangkan baju. Sementara itu Pak Ayub dan Pak Switadi bertugas merencanakan kebaktian bagi keluarga yang berduka.
Beda cerita bila yang kehilangan nyawa adalah laki-laki. Pak Ayub dan Pak Switadi yang akan memandikan dan membersihkan tubuh tak bernyawa itu, lalu memasangkan baju. Sedangkan ibu dan Bude Rose akan bertugas merencanakan kebaktian. Selain itu, tak peduli laki-laki atau perempuan, ibu juga bertugas merias wajah mayat-mayat itu.
Pembagian tugas tersebut akan berubah bila kematian tidak datang di rumah sakit. Bude Rose dibantu Pak Switadi dan Pak Ayub akan melakukan tugas-tugas pulasara [2] berupa memandikan dan mengeluarkan cairan-cairan dalam tubuh jenazah dengan tepukan-tepukan bagian perutnya.
Bila urusan pulasara sudah beres, ibu dan teman-temannya akan berkonsentrasi membersihkan tubuh yang mulai kaku itu. Memotong kuku, membersihkan dan merapikan bulu-bulu di tubuh mayat, lalu meriasnya. Selain pisau cukur dan gunting kuku, pekerjaan ibu dan teman-temannya di bagian ini sangat membutuhkan kapas beralkohol.
Kapas dan alkohol menjadi senjata untuk membersihkan daerah sekitar dubur, kelamin, pusar, mulut, hidung, telinga, mata, dan luka di bagian tubuh mana pun. Selain ketiak, titik-titik itu rawan menjadi sumber bau busuk tubuh manusia dan alkohol 70 persen sangat ampuh mengaburkan aroma-aroma itu.
Ibu dan teman-temannya selalu berkeringat bila mendapati tubuh kaku mengeluarkan aroma tak sedap yang bersumber di sekitar bagian ketiak. Tangan yang sudah mulai kaku terlipat di atas perut sangat sulit kembali direntangkan agar sumber bau bisa terjamah alkohol.
Tak seperti Pak Mahbub, ustad sebelah rumah, yang mengharamkan jenazah terkena alkohol, ibu dan tiga karibnya itu justru benar-benar mengandalkannya. Senyatanya, alkohol adalah senjata ampuh untuk membersihkan daki di sekujur tubuh, baik tubuh yang masih bernyawa atau tidak. Alkohol juga ampuh untuk sedikit mengendurkan urat-urat wajah mayat yang mulai kaku.
Pada mayat yang mati cemberut, olesan alkohol di sekitar bibir dapat sedikit melunakkan kekakuan hingga bisa ditarik ke samping agar roman wajah tanpa nyawa tak cemberut-cemberut amat. Begitu pula untuk mayat bermulut nganga. Olesan alkohol di bagian geraham hingga dagu dan ikatan ujung dagu ke atas kepala selama beberapa jam jadi cara mengatupkan mulut terbuka.
Namun, alkohol sama sekali tak mampu menunjukkan keajaibannya bila berjumpa dengan mayat yang sudah berumur lebih dari 12 jam. Mayat berumur setengah hari macam itu sudah menuju puncak kaku dan sulit disiasati. Setali tiga uang, alkohol juga tak berguna untuk mayat berumur 24 jam atau lebih.
Memuncaknya kekakuan yang terjadi pada umur sehari akan berlanjut dengan proses pembusukan berupa melemasnya kembali jaringan tubuh mayat tanpa pernah bisa kembali kaku. Tubuh tak bernyawa itu akan terus melembek, berangsur mengeluarkan cairan, lalu benar-benar busuk.
***
MENGANTAR ibu saat bertugas menjadi pangrukti laya adalah horor yang sesungguhnya buatku. Maklum, selain pembagian tugas, tak jarang rombongan ini membicarakan dugaan-dugaan atas mayat macam apa yang akan mereka hadapi di rumah duka. Biasanya, dugaan-dugaan itu berlanjut pada cerita menjahit wajah cuwil, merias wajah di kepala retak yang direkatkan lakban transparan, hingga menutup luka busuk oleh penyakit.
Bila sudah begitu, tak mungkin aku memutar kaset dan mengencangkan suaranya agar cerita-cerita itu tak sampai ke telingaku. Mau tak mau aku mendengarkannya walau rasa mual, seram, dan takut teramat leluasa menghunjam pikiranku. Mereka tak pernah tahu daya imajinasiku yang luar biasa kerap berujung pada ketakutan ke kamar mandi pada malam-malam usai mendengar cerita mereka. Aku memang penakut dan mereka sebetulnya paham benar soal itu.
Suatu kali Pak Switadi pernah berhalangan hadir untuk tugas pangrukti laya. Ibu, Bude Rose, dan Pak Ayub mendadak memintaku untuk menggantikannya. Di sepanjang jalan menuju rumah duka, diselingi tawa, mereka terus-menerus memintaku menggantikan Pak Switadi. Entah bercanda atau serius, aku menganggap permintaan itu dengan sangat serius. Mobil kutepikan, pintu samping kemudi kubuka, lalu aku pergi meninggalkan mereka. Selama dua jam mereka terdampar di jalanan hingga keluarga yang berduka datang menjemput. Sejak itu, mereka tak pernah lagi memintaku terlibat dalam urusan mayat walau hanya candaan. Cukup jadi sopir, titik.
Seperti siang itu, saat aku diminta mengantar rombongan pangrukti laya ke Bibis, sementara Pak Ayub tak bisa bergabung. Tak sepatah kata pun permintaan agar aku membantu mereka kudengar. Mereka sudah memutuskan untuk minta bantuan anggota keluarga yang berduka untuk mengganti peran Pak Ayub. Tentu saja keputusan itu membuatku nyaman dan sedikit tenang.
Seperti biasa, aku mengantar rombongan ibu hingga rumah duka. Kali ini rumah duka yang menjadi tujuan berada di tepi jalan besar utara Pasar Mebel. Segala jenis truk bebas berlalu lalang di jalanan sejajar Kali Anyar itu. Tak ada horor yang kudengar di sepanjang perjalanan. Kalaupun ada, sejak dari rumah aku sudah siap dengan walkman yang telah tersambung kabel-kabel pengantar lengking Phil Collins menutup telinga.
***
SAMPAI di rumah duka, aku ikut turun sebentar untuk minum teh dan camilan yang sudah disiapkan tetangga kiri kanan rumah duka. Sudah cukup banyak orang yang datang. Sebagian besar sibuk menata tenda, kursi, dan memasang bendera merah di halaman sebagai tanda rumah duka. Aku memilih segera menghabiskan teh lalu menyingkir. Tidur di dalam mobil yang terparkir di bawah rindang pohon jambu di pinggir jalan depan rumah duka adalah pilihan utama bagiku ketimbang ikut menata tenda dan kursi.
Di dalam mobil, cuaca bagian utara Solo yang begitu terik siang itu sama sekali tak membuatku berkeringat. Sebaliknya, aku sangat merasakan kesejukan pendingin udara yang dua hari lalu sudah berisi freon baru. Kaca jendela mobil kututup rapat agar udara dingin tak merembes ke luar percuma. Aku tak memusingkan bau knalpot bocor yang belum sempat kubereskan di bengkel meruap di dalam kabin mobil.
Aku benar-benar menikmati udara sejuk dengan sedikit bau asap knalpot di dalam mobil. Rindang pohon jambu yang menangkis terpaan matahari pada kaca mobil menyempurnakan kesejukan ini. Dan, pilihan lagu-lagu terkini di sela suara Herman Jambojay yang tengah siaran dari studio Radio SAS menjadi pengantar tidur siang itu. Tak butuh waktu lama untuk membuatku pulas di kursi belakang kemudi yang sudah kuatur sandarannya sedemikian rupa agar tubuhku nyaman.
Entah sudah berapa lama aku lelap di dalam mobil. Rasanya belum pernah aku tidur senyenyak ini. Pulasku masih panjang saat kurasakan dingin di sudut kiri kanan bibirku. Dingin itu diikuti pijitan lembut yang menarik sudut bibir ke kiri dan kanan ke arah samping. Aku tak peduli. Pulasku belum tanak.
Tak lama setelah hilang rasa dingin itu, aku merasakan sensasi lain. Wajahku seperti tersapu kuas lembut. Sapuan kuas itu berlanjut dengan aroma bedak. Tak lama setelah aroma bedak dan sapuan kuas itu hilang, aku kembali merasakan pipiku basah oleh air. Berkali kuusap, berkali pula basah itu datang. Aku semakin merasa basah. Kini tak lagi pipi, namun sekujur wajah kurasakan basah.
Aku terpaksa membuka mata. Namun, hanya gelap yang tampak. Aku makin bingung saat kusadari gelap itu berasal dari wajah ibu yang tengah mencium keningku. Ibu menangis. Linangan air matanya membasahi wajahku. Aku mencoba mendorongnya, ibu bergeming. Aku mencoba teriak namun ibu tetap menangis tepat di wajahku. Sekencang apa pun aku berteriak, ibu sama sekali tak mendengarnya.
Belum hilang bingungku, aku semakin tak paham saat dapat melihat diriku sendiri. Kulihat tubuhku terbujur di dalam peti di pendapa rumahku dengan wajah sedikit cemerut. Tak ada celana pendek dan kaus hitam yang kukenakan saat mengantar ibu ke rumah duka di utara Pasar Mebel. Aku justru melihat tubuhku terbalut jas milikku satu-satunya dengan tangan terlipat di depan perut menggamit kitab suci. Tepat di samping ibu aku melihat bapak yang bermata sembab mencoba menenangkannya. Kudengar lirih bapak menggumamkan penyesalan.
“Maafkan Bapakmu, Nak. Mestinya kita segera ke bengkel selagi sempat.”
Bapak tak mampu menahan air matanya. Ia menangis bersama ibu di depan peti berisi tubuhku. Aku mulai bisa meraba apa yang terjadi. Wajah-wajah kerabat yang hanya datang saat ada kematian menguatkan rabaanku. Mereka saling berbisik tentang bahayanya berada di dalam mobil berhenti dengan pendingin udara dan mesin yang menyala selama berjam-jam. Mereka juga menggunjingkan ibu sebagai pangrukti laya yang tetap tabah merias wajah anaknya sendiri yang sudah tak bernyawa. Ah… ***

Catatan:
[1] Pangrukti Laya: pengurus jenazah dan perkabungan
[2] Pulasara: merawat, membersihkan

Hendromasto Prasetyo, penulis budaya, tinggal di pinggiran Jakarta.