Daftar Blog Saya

Kamis, 09 November 2017

Kambing Hitam


Cerpen Indra Kurniawan (Media Indonesia, 05 November 2017)
Kambing Hitam ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia
Kambing Hitam ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
JUMAT Kliwon malam itu berhias benderang bulan purnama. Sebuah kampung di ujung timur Pulau Rote dibuat geger dengan temuan jasad seorang tokoh sepuh di sana. Wajah sang sepuh lebam-lebam. Leher sebelah kiri mengeluarkan darah segar seperti bekas terkaman hewan buas.
Ibu-ibu tampak histeris. Anak-anak menjerit ketakutan. Sekelompok lelaki dewasa mengurus jasad sang sepuh nahas tersebut. Tidak lama kemudian, seorang lelaki berteriak dari ujung jalan. “Kena. Sudah kena. Si jahanam Yanto pelakunya”, teriak si lelaki berkaus putih dengan bawahan sarung.
Sepetak perkebunan Jagung di ujung jalan kampung itu, Yanto dikelilingi segrombol lelaki yang sudah meledak amarahnya. Yanto tidak menggunakan baju, hanya menggunakan celana panjang berbahan katun. Celana Yanto pun nampak terkoyak-koyak, ibarat sebongkah bangkai sehabis diseret-seret beralas tanah bebatuan. Tubuh Yanto berlumur darah. Dari Mulutnya pun setali tiga uang.
Segrombol lelaki yang murka mengelilingi Yanto dengan cepat bertambah jumlahnya. Mereka berteriak-teriak. “Bunuh. Bunuh. Dasar binatang sakit jiwa.”
Yanto hanya diam. Matanya terbelalak lebar. Mulutnya menghembuskan napas teratur. Seolah-olah dia tidak punya salah. Seolah-olah hanya menjadi kambing hitam. Seorang lelaki berkaus hitam yang sedari tadi berdiri di samping kanan Yanto tetiba menghantam dengan balok kayu. Yanto jatuh pingsan dengan kepala bagian kanan atas tersobek. Berliter-liter darah mengalir deras dari kepala Yanto.
Pagi menjelang, Yanto terbangun dengan kondisi kaki dan tangan terpasung di sebuah kandang. Pemuka adat kampung itu yang karib disapa Mbah Reka menghembuskan asap rokok kretek seraya sesungut. “Tangguh juga binatang ini. Sudah dipukuli habis-habisan. Luka menganga di kepala. Masih hidup saja.”
***
Di atas kapal laut, Pastor Kornel sedang menanti Pulau yang hendak disandari. Pulau itu akan menjadi tempat bertugas Pastor Kornel selama lima tahun ke depan. Sesampainya di Pulau itu, Pastor Kornel bergegas menuju suatu kampung di mana sebuah Paroki sudah menunggu kedatangannya. Dengan cepat Pastor Kornel beradaptasi.
Lima bulan sudah Pastor Kornel berada di kampung itu. Suasana tenang dihiasi semilir angin pantai. Pastor Kornel merupakan didikan sekolah rohani di Pulau Jawa –tampak luwes membumi di kampung itu. Pukul 11 siang, Pastor Kornel melakukan aktifitas rutin, yakni mendatangi rumah-rumah di kampung tersebut untuk keperluan administrasi Paroki. “Bukan salah tempat ibadah kekurangan jemaat. Tapi kita, pengurusnya yang tidak sepenuh hati mengabdi,” kata Pastor Kornel pada suatu Sekolah Minggu di kampung itu.
Sampai di depan rumah dengan nomor 13, Pastor Kornel berbincang-bincang dengan pemilik rumah. Sesudah beramah-tamah di ruang tamu, Pastor Kornel punya firasat lain dari halaman belakang rumah tersebut. “Boleh saya lihat pekarangan belakang rumah?”
Meski sempat ragu-ragu, si pemilik rumah akhirnya setuju. Pastor Kornel langsung mengarahkan pandangan ke sebuah kandang. Pastor Kornel pun semakin curiga, kandang yang serba tertutup tanpa bahana suara hewan ternak. Alangkah kagetnya Pastor Kornel setelah membuka kandang tersebut. Yanto tanpa busana sehelai benang pun, meringkuk dengan tangan serta kaki terpasung. Rambut Yanto sudah panjang tak karuan. Sekujur tubuhnya berubah warna hitam legam dan mengeluarkan aroma busuk.
Amarah Pastor Kornel meledak. Dia terbingung-bingung dengan apa yang dia saksikan saat ini. Kemarahan Pastor Kornel sudah tak tertahan. Dia meminta pemilik rumah untuk melepas pasung yang membelit Yanto. Si pemilik rumah menolak dengan amarah yang juga meledak-ledak.
Tidak sampai setengah jam setelahnya, Pastor Kornel sudah bertamu di rumah pemuka Adat, mbah Reka. Pastor Kornel bersikukuh untuk melepaskan Yanto dari jerat pasung dan atap kandang. Mbah Reka dengan enteng menjawab.
“Tidak bisa. Anak pendatang itu sudah bikin kacau kampung ini. Dia gila. Sakit jiwa. Kita mau dia mati. Mati perlahan-lahan lebih bagus”. Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut mbah Reka membuat Pastor Kornel marah sejadi-jadinya. “Saya akan pulang ke Jawa, mencari bala bantuan. Yanto akan saya lepaskan dari pasung-pasung itu. Manusia macam apa kalian ini.”
***
Dua bulan setelah kepulangannya ke Pulau Jawa, Pastor Kornel kembali ke dermaga pulau Rote. Bersama lima orang berjubah putih-putih dan empat personel polisi, Pastor Kornel memimpin misi membebaskan Yanto.
Melihat seragam coklat kepolisian diapit lima pastor, si pemilik rumah tidak bisa bilang tidak. Yanto dilepaskan dari pasung. Dikeluarkan dari kandang kambing dengan kondisi tubuh kurus kering tinggal tulang. Pastor Kornel yang membantu pembebasan Yanto sudah tidak peduli dengan aroma busuk yang dihasilkan tubuh Yanto. Saat peristiwa pembebasan Yanto, mbah Reka tidak nampak batang hidungnya.
Sebelum diboyong ke Pulau Jawa, Yanto diurus sebaik mungkin oleh tim Pastor di sebuah bilik penginapan. Satu kali lagi, Yanto dimanusiakan selayaknya manusia. Di sesi potong rambut, berhambur keluar ulat belatung dari luka kepala Yanto yang membusuk. Pastor Kornel menangis saat membubuhkan obat ke belahan luka yang nyaris menampakkan isi kepala.
***
Di Kota Banyumas, Yanto membuka usaha warung internet. Sejak pertama kali menapaki kota tersebut, Yanto tidak bisa berbicara. Yanto hanya bisa menuliskan masa-masa kelam di kampung nan jauh di sana lewat medium kertas dan pena. Sebelum kembali ke Pulau Rote, Pastor Kornel menyambangi warnet milik Yanto.
Saat saling melepas kepergian, Yanto menyodorkan setumpuk kertas berukuran A6. Di halaman paling depan tertulis sebuah kalimat dengan tinta tebal. “Bacalah, wahai Saudaraku, sesampainya di Pulau tujuanmu.” Pastor Kornel dan Yanto saling memeluk erat. Pastor Kornel memberi kabar kepada Yanto bahwa masa tugasnya di Pulau Rote dinaikkan menjadi 10 tahun. Pastor Kornel berkali-kali minta maaf bila dalam waktu yang sangat lama tidak akan bisa mengunjungi Yanto.
***
Di atas Kapal Laut menuju Pulau Rote, Pastor Kornel tak tahan hendak membaca tumpukan kertas yang diberikan oleh Yanto. Perjalanan kapal laut yang dapat memakan waktu berhari-hari sebelum sampai tempat tujuan, membuat Pastor Kornel mengingkari janji. Tumpukan kertas dibaca satu per satu. Isinya sungguh di luar nalar kemanusiaan.
***
“Saya sedang dalam perjalanan pulang dari rumah kawan setelah berunding akan menjadi nelayan. Di persimpangan jalan, saya melihat mbah Reka bersama komplotannya sedang memperkosa gadis perempuan yang masih menggunakan seragam SMP.
“Saya berteriak, dengan harapan komplotan itu akan menjauhi gadis yang sudah tidak berdaya tersebut. Dari belakang, saya rasa hantaman kayu balok mendarat ke tengkuk. Tidak lama setelah saya jatuh, komplotan itu memukuli saya tanpa jeda. Mbah Reka datang menghampiri, tangan kanannya sudah berada di leher saya. Cekikannya luar biasa kuat. Saya rasakan tenggorokan ini remuk. Menelan tulang jakun sendiri sungguh tidak menyenangkan. Setelah itu saya diseret ke kebun jagung, tidak jauh dari situ”.
“Saya masih sadar, saya pula mendengar rencana mereka selanjutnya; Membunuh gadis malang tadi dan membuang jasadnya ke laut. Rencana kedua mereka adalah membunuh Mbah Toyo, pesaing Mbah Reka dalam ilmu penyembuhan di kampung. Mbah Toyo juga merupakan kerabat terakhir yang dimiliki gadis malang tersebut. Mungkin sekira satu jam saya ditinggal di kebun Jagung itu. Komplotan itu kembali lagi, mereka langsung mengelilingi saya. Yang saya ingat, saya dihantam lagi dengan kayu balok.”
“Saat terbangun, saya berada di dalam sebuah kandang. Saya kira ini adalah kandang kambing. Dan itu betul kiranya. Saya tidak bisa bergerak bebas. Tangan dan kedua kaki saya terpasung kayu balok. Pemilik kandang ini rupanya masih memiliki rasa iba. Setiap pagi, dia memberikan saya setumpuk daun basah untuk dimakan.”
“Tanpa alas atau bantal satu barang pun. Saya mesti tidur di atas genangan air kencing dan kotoran saya sendiri. Rasa-rasanya nyaris seperti seekor kambing. Tapi, seekor kambing masih punya sedikit rasa bebas, setidaknya untuk merasakan hangatnya sinar matahari.”
“Sesekali ada yang berkunjung. Mereka memanggil saya dengan sebutan kambing hitam. Mereka tidak sepenuhnya salah, warna kulitku memang berubah menjadi gelap selama terkurung di sini. Lagi pula saya juga sudah tak bisa menjawab ledekan mereka. Suara yang keluar dari mulut ini terdengar seperti orang yang sedang tersedak batu sebesar genggaman tangan dewasa.”
“Hari demi hari, saya hanya berbaring dan duduk bila terpaksa memakan dedaunan. Akal sehat saya juga mulai pudar. Saya sempat terpikir untuk menerima fakta dari orang-orang sekitar bahwa saya merupakan seekor kambing. Seekor kambing yang dikutuk menjadi objek humor mereka.”
“Wahai Saudaraku. Tanpa kedatanganmu, saya ini hanya akan terus hidup setingkat hewan ternak. Kata-kata terimakasih saya kira tidak akan cukup. Saya hanya bisa berharap pada Tuhan, wahai Saudaraku, diberkahilah umur panjang agar bisa membantu orang-orang bernasib serupa saya.”
***
Setelah membaca setumpuk kertas tersebut, sekonyong-konyong Pastor Kornel menangis. Pastor Kornel menyesal tidak bisa hadir lebih cepat. Tumpukan kertas itu  kini telah menjadi bagian dari lautan. Setumpuk kertas, berkisah tentang manusia yang disejajarkan dengan hewan ternak.

Indra Kurniawan. Lahir di Sorong, Papua Barat. Mahasiswa Program Studi Komunikasi di Kota Bandung. Novel perdananya segera terbit dengan tajuk Keturunan Terlarang.

Rabu, 08 November 2017

Kutipan A Thing Called Us

Ada hubungan di dunia ini yang tak bisa dijelaskan hanya dengan satu kata ‘suka’ (hlm. 89)

Ada segelintir orang yang tidak bisa ditolong karena tidak mau ditolong, memilih berkubang di dalam lumpur. (hlm. 241)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Jangan ragu untuk mengungkapkan perasaanmu kepadanya. (hlm. 86)
  2. Kau juga berhak untuk bahagia. (hlm. 135)
  3. Kita juga berhak untuk bahagia. (hlm. 141)
  4. Waktu akan menyembuhkan luka. (hlm. 170)
  5. Tidakkah kau berpikir bahwa kau sudah manis untuk makan makanan manis? (hlm. 186)
  6. Lebih baik dikerjakan oleh banyak tangan daripada memikirkannya sendirian. (hlm. 196)
  7. Orang bilang cinta bisa mengalahkan segalanya. (hlm. 272)
Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Kadang keadaan terasa rumit. (hlm. 25)
  2. Murung tidak akan menyelesaikan masalah, kan? (hlm. 48)
  3. Ada segelintir orang yang tidak ingin dibantu. (hlm. 51)
  4. Kita tidak bisa melakukan apa-apa jika kita menyukai seseorang, kan? (hlm. 61)
  5. Kebingungan ini tak tertahankan, bagai sebuah benang kusut yang tak punya ujung dan pangkal, tak punya ujung dan pangkal, tak akan pernah bisa diuraikan. (hlm. 113)
  6. Apa kau tidak pernah berpikir bahwa bersikap diam itu membuat orang lain tak nyaman? (hlm. 131)
  7. Jangan terlalu percaya diri. (hlm. 161)
  8. Jangan bercanda tentang orang yang sudah berduka. (hlm. 198)
 

Selasa, 07 November 2017

Eliana


Cerpen Hary B. Kori’un (Jawa Pos, 05 November 2017)
Eliana ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Eliana ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
MATAHARI hampir tenggelam ketika aku tiba di Plaza de Espana. Aku duduk di pinggir sungai yang airnya membiru dan bening. Banyak perahu di sungai itu. Setiap perahunya diisi dua hingga tiga orang–kebanyakan berpasangan—dan masing-masing saling mengayuh. Aku merasakan suasana yang romantik penuh emosional.
Ada empat jembatan yang memghubungkan alun-alun luas berbentuk setengah lingkaran itu dengan bagunan megah yang juga berbentuk setengah lingkaran. Menurut cerita, masing-masing jembatan mencerminkan empat kerajaan zaman dahulu di Spanyol. Castille, Leon, Aragon, dan Navarra. Di sekeliling bagian depan bangunan ada 48 cerukan yang mencerminkan 48 provinsi di negeri matador itu. Arsitektur khas Spanyol yang memanjang berjejer saling terhubung satu dengan lainnya dengan ratusan pintu dan jendela yang terbuka. Ada beberapa menara di bagian paling kanan dan kiri, juga ada beberapa di tengah, terlihat menjulang gagah.
Beberapa pasangan terlihat berfoto mesra tidak jauh dari tempatku duduk. Mereka mengabadikan momen indah di tempat yang juga indah ini. Di tempat lain, tidak jauh jaraknya dariku, beberapa rombongan wisatawan juga terlihat berfoto. Mereka ada yang berbahasa Spanyol, juga terdengar ada yang berbahasa Inggris.
Di seberang, terlihat monumen sastrawan terkenal Spanyol di abad 14, Miguel de Cervantes Saavedra [1], penulis novel termashur, Don Quixote de la Mancha. Monumen itu merupakan bagunan yang lumayan tinggi dan terlihat dominan di tengah alun-alun, dengan beberapa patung di depannya. Letaknya tak jauh dari taman berpepohonan rindang yang ketika angin semilir datang seperti di musim semi ini, membuat hawa lumayan sejuk meski matahari yang hampir tenggelam masih terlihat di barat.
“Aku akan naik kereta api siang ini. Sore nanti sampai di Madrid. Sekitar lima jam perjalanan dari Barcelona,” katanya dalam pesannya siang tadi. “Nanti sesampai di Stasiun Atocha [2], aku akan naik taksi ke sana. Espérame en la Plaza de España…[3],” katanya lagi.
Aku menunggunya sambil jalan-jalan di lapangan luas itu.
Sejatinya aku tak mengenal dan belum pernah bertemu dengan wanita itu, yang berjanji akan bertemu di sini. Teman sekantorku, Bramono, yang merekomendasikan agar aku mengontak Maria Eliana Valverde sesampai aku di Madrid. Yang mengherankan, Barmono juga tak pernah bertemu dengan wanita itu. Mereka hanya intens berkomuniksi lewat media sosial dengan bahasa Inggris sekenanya. Maklumlah, Eliana sangat Spanyol, dan Bramono sangat Jawa.
“Dia tinggal di Barcelona, hanya lima jam perjalanan dengan kereta api ke Madrid. Ketika kukatakan padanya kalau ada temanku akan ke Spanyol, dia sangat antusias. Dia bilang, mengapa bukan diriku yang ke Madrid…,” kata Bramono sambil senyum-senyum.
Aku jadi penasaran. Lalu tanpa sepengetahuan Bramono, kubuka profi l Eliana di salah satu media sosial. Terlihat fotonya. Muda dan cantik dengan rambut warna hitam bergelombang. Kemudian aku mengirimkan pertemanan kepadanya. Setelah diterimanya, aku sering bertanya tentang Madrid dan Spanyol secara keseluruhan.
“Aku tak perlu bercerita banyak. Datanglah ke Spanyol, kau akan tahu sendiri seperti apa negeriku,” katanya.
“Iya, aku mendapat tugas ke Madrid. Aku segera ke Spanyol…” Aku tak menjelaskan untuk liputan apa padanya.
Aku baru mau duduk di bangku dekat sungai ketika dia datang. Dia bertanya apakah aku benar-benar orang yang dicarinya. Aku tersenyum dan mengajaknya bersalaman. Aku merasakan tangannya sangat dingin. Meski dia berusaha tersenyum lebar, aku juga merasakan senyum yang dingin di bibirnya. Kedua matanya yang cantik, juga kurasakan dingin pada tatapannya.
“Tarde era yo?” [4] tanyanya dalam bahasa Spanyol. Namun kemudian dia tersadar. “Sorry, apakah saya terlambat?” ulangnya dalam bahasa Inggris.
“Oh tidak. Tidak apa-apa…”
“Begitulah naik moda kereta. Kadang-kadang tidak sesuai waktu yang diperkirakan…”
Dia kemudian mengajakku minum di sebuah kafe tak jauh dari tempat kami bertemu tadi, Chocolateria San Gines. Dia memesan churros con chocolate [5]. Katanya di kafe yang berdiri sejak 1894 inilah churros con chocolate paling enak dan orisinal. Aku ikut saja apa yang dia pesan. Kafe ini berada di salah satu sudut di bangunan yang berjejer setengah lingkaran di Plaza de Espana itu. Kami mengambil satu meja kecil dengan dua kursi di beranda, tidak di dalam kafe. Banyak orang yang juga berada di sana.
Dia kemudian bercerita banyak hal: tentang Sungai Manzanares, sungai terbesar yang membelah Madrid menjadi dua bagian—yang di salah satu bagian di pinggir sungai tersebut berdiri megah Estadio Vicente Calderon, markas klub terkenal Atletico de Madrid; tentang karya-karya sastra Spanyol yang menginspirasi banyak orang; atau kota-kota indah yang membuat banyak turis seakan tak mau pulang dari negaranya.
“Aku suka membaca sastra, tetapi tidak banyak karya penulis Spanyol yang diterjemahkan di negaraku…,” ujarku.
“O, iya?”
“Mungkin aku yang tak banyak tahu. Aku hanya menyelesaikan satu novel karya penulis Spanyol…”
“Novel? Apa judulnya?”
“Keluarga Pascual Duarte. La Familia de Pascual Duarte… Camilo Jose Cela.”
“Cela orang sakral di Spanyol. Itu black story…,” katanya.
“Sakral?”
“Maksudku, sangat dihormati… Kalau Miguel de Cervantes?” katanya sambil menunjuk monumen di seberang kanan tempat kami duduk sekarang.
“Oh iya. Aku juga membaca Don Quixote. Di negaraku diterjemahkan menjadi Don Kisot. Sangat terkenal. Jadi aneh, seperti nama tokoh di Jawa. Semacam nama ejekan…,” kataku sambil tertawa.
“Hemmm… Kau harus tinggal lama di Spanyol. Tak cu kup hanya di Madrid, kota yang menurutku lumayan membosankan. Kau harus melihat keindahan kota-kota pantai seperti di kotaku, Barcelona, Valencia, Tarragona, Murcia, Almeria, Catello de la Plana, Huelva, atau Malaga di selatan dan tenggara. Di utara ada kota indah seperti Gijon, Coruna, Bilbao, Oviedo, Santander, Donostia, atau Pontevedra. Kau juga harus ke Pulau Mallorca. Bisa menyeberang dari Barcelona. Palma de Mallorca adalah salah satu tujuan utama turis dunia. Di hari-hari perayaan tertentu, kamu tak akan mendapatkan penginapan di sana dan harus menggelandang…”
Aku terpesona dengan kecantikannya, baik saat diam, tersenyum, atau ketika bicara panjang tadi. Angin senja yang sebentar lagi akan habis menguraikan rambut panjang hitamnya yang seperti siluet diterpa matahari senja yang tinggal sedikit.
“Kau mendengarkanku?” katanya membuyarkan lamunanku. Aku malu dan agak salah tingkah. Mungkin mukaku seperti kepiting rebus.
“Iya. Maaf… aku mendengar nama-nama kota itu seperti nama-nama klub sepak bola yang sangat digemari oleh banyak orang di negaraku…,” kataku mencoba menghilangkan rasa malu.
Dia tersenyum sebelum memasukkan churros ke cokelat panas itu, kemudian mengunyahnya. Di antara semua yang terlihat dingin di tatapan matanya maupun senyumnya, kecantikannya yang alami tak bisa ditutupinya.
“Memang, kota-kota itu memiliki klub-klub sepak bola dengan sejarah panjang. Aku tak perlu bercerita tentang klub-klub itu, kamu pasti sudah hapal. Di kotaku, Barcelona, ada pertarungan klasik antara Barcelona dan Espanyol. Itu kamu juga pasti tahu. Tetapi, kedua pendukung tak memiliki kebencian yang berlebihan. Setiap kedua tim bertemu, aromanya biasa saja. Ini mungkin karena kekuatan Barcelona tak diimbangi oleh Espanyol. Di sini, sejarah, prestasi, dan uang memang memihak Barcelona…”
“Kamu Barcelonistas?” tanyaku.
“Les Cules…,” jawabnya sambil tersenyum. Kali ini senyumnya agak melebar.
“Seorang musisi terkenal di negaraku membuat lagu berjudul Barcelona. Lagu yang sangat terkenal. Tentang seseorang yang jatuh cinta pada gadis Catalonia saat berada di Barcelona. Cintanya tertinggal di Barcelona…”
“So sweet… Aku ingin mendengar lagu itu…,” katanya dengan suara manja.
Aku mengambil handphone-ku dan membuka sebuah aplikasi video. Beberapa saat kemudian terdengar suara Fariz R.M. Eliana mendengarkan secara seksama, meski mungkin tak tahu artinya. Kemudian, katanya, “Musiknya enak. Bagus… Pasti dia sangat terkesan selama di Barcelona. Quiere usted bailar conmigo?” [6]
“Aku? Menari denganmu? Hahahaaa…”
“Malam ini aku akan menginap di Madrid. Aku ingin menemanimu jalan-jalan. Dari sini, nanti kita bisa ke banyak tempat. Kita bisa jalan kaki ke Palacio Real de Ma drid. Orang asing menyebutnya Royal Palace. Tak jauh. Nanti kita juga bisa ke Auditorio Nacional de Musica. Kabarnya ada pertunjukan musik kontenporer dari kelompok musik asal Huesca. Tak jauh dari situ ada Parque de Berlin, Taman Berlin. Di sana banyak orang berkumpul atau sekadar ngobrol. Bisa sampai pagi.”
“Kelompok musisi dari Huesca? Aku ingat sebuah puisi dengan judul itu… And if bad luck should lay my strength, into the shallow grave, remember all the good you can; don’t for get my love… , ” [7] kataku girang sambil membaca bait terakhir puisi itu.
“John Cornford?”
“Ya.”
“Dia pahlawan bagi kami orang Catalonia dan Basque…”
“Tapi dia orang Inggris, kan?”
“Dia mati muda, berjuang melawan fasis Franco. Franco musuh kami. Catalonia dan Basque tak pernah mengakui Franco. Juga Madrid!”
Ada penekanan ketika dia menyebut “Madrid” tadi. Terdengar suaranya dingin dan agak tertahan. Aku heran, mengapa setiap bibirnya menyebut “Franco” atau “Madrid”, ada yang terdengar gemeretak pada giginya. Matanya yang dingin, juga terlihat menyala.
Katanya, bagi masyarakat Catalonia, Barcelona bukan hanya sekadar klub. El Barca Es Mas Que Un Club. [8] Dia juga menjelaskan, kata-kata “Catalonia is Not Spain” yang ditulis di spanduk-spanduk para pendukung Barcelona baik saat bermain di Nou Camp maupun stadion lainnya, adalah bentuk perlawanan yang nyata. Keinginan untuk berpisah dari Spanyol.
“El amor es ciego, [9] Martin. Cinta kami memang buta untuk Barcelona. Buta untuk keinginan kami merdeka dari penindasan dan rasa terhina! Sesuatu yang mungkin aneh dan tak kau pahami.”
Lagi, suaranya terdengar sangat dingin, tetapi penuh dengan nyala api. Matanya juga terlihat menyala ke arah kiri, arah barat: Estadio Santiago Bernabeu. Kami sudah berada di Parque de Berlin. Kami tak jadi nonton pertunjukan karena tak dapat tiket. Dari Taman Berlin ini hanya satu blok lagi—dengan jalan kaki ke arah barat—sampai ke Santiago Bernabeu. Aku dikirim ke Madrid untuk nonton dan sekaligus meliput El Derbi Madrileño antara Real Madrid melawan Atletico. Ini sekadar hadiah dari prestasiku. Pertandingannya dua jam lagi. Aku belum mengatakan hal itu kepadanya.
“Dua jam lagi mereka akan bertanding di sana,” katanya sambil menunjuk Santiago Bernabeau dengan tatapan mata yang membara, hampir bersamaan dengan kata-kata yang ada dalam pikiranku.
“Aku ke Madrid untuk itu…,” kataku berusaha pelan.
“Impianku sepanjang hidup adalah berada di stadion itu, dalam pertandingan apa pun, melihat Real Madrid secara langsung…,” sambungku.
Eliana seperti tersengat. Dia berdiri dari bangku taman tempat kami duduk.
“Traidor! Fascista [10]!” katanya sambil berjalan cepat meninggalkanku. Aku tak berusaha mengejarnya karena aku tahu itu sia-sia. Aku hanya melihatnya dengan rasa kehilangan di dada. Ada yang hampa di sana.
***
AKU keluar dari Biblioteca Nacional de Espana atau National Library of Spain di
Paseo de Recoletos—bersebelahan dengan Museo Arqueologico Nacional (Museum Arkeologi Nasional), di seberang Plaza de Colon, masih di kawasan Salamanca—ketika hari mulai gelap. Udara yang dingin dengan embusan angin yang agak kencang membuat aku menggigil. Kunaikkan resleting jaket tebalku, dan kuketatkan tali ransel di kedua pundakku.
Bramono mengingatkanku lewat aplikasi pesan bahwa jangan pernah merasa pernah ke Madrid kalau belum menginjakkan kaki ke tiga tempat monumental: Estadio Santiago Bernabeau, Plaza de Espana, dan Biblioteca Nacional de Espana. Maka sebelum kembali ke Jakarta, kusempatkan mengunjungi arsitektur megah yang sangat artistik yang dibangun semasa Raja Philip V berkuasa pada 1712 itu.
Entah mengapa kuat keinginanku—seolah ada yang menuntun—menuju ke ruang arsip koran-koran lama. Beberapa saat kemudian, dadaku tiba-tiba berdegup kencang dan pikiranku entah ke mana ketika membaca halaman depan koran Mundo Deportivo tertanggal 18 Maret 1938, dua hari setelah Barcelona dibombardir oleh tentara Jenderal Franco. Judulnya: Maria Eliana Valverde, Franco víctimas de la bomba [11].
Aku menganggap itu kebetulan kalau foto hitam-putih yang memang sudah agak buram tidak memperlihatkan wajah Eliana yang kukenal tiga hari yang lalu, yang pergi dengan sangat marah—yang menuduhku pengkhianat dan penganut fasisme—saat tahu aku seorang Madridista. Artikel itu mengisahkan tentang gadis militan pendukung Barcelona yang pro-kemerdekaan Catalonia, yang ikut tewas bersama ribuan rakyat kota itu. Terlihat ada pin berlogo klub Barcelona di sweater yang dikenakannya.
Dan, kakiku seperti tak bisa kugerakkan ketika handphone-ku bergetar. Sebuah pesan masuk, pengirimnya Maria Eliana Valverde: “Martin, maafkan aku. Kau tak akan pernah paham arti Barcelona dan Catalonia bagiku. Bagi kami. Bagi Madrid, kami hanyalah parasit, dipandang sebelah mata. Melawan adalah cara kami, seperti para pemain Barcelona yang terus menyerang ketika bermain. Menang atau kalah. Aku senang bertemu denganmu, meski aku tahu kita berseberangan. Tapi, la vida es así, cada uno dejando… [12].’’
Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Nalar dan pikiran rasionalku mulai koyak-moyak. Aku teringat segala yang dingin pada dirinya: genggaman tangannya saat kami bersalaman, dua bibirnya yang manis, dan tatap matanya yang sering kosong, meski kadang terlihat membara.
Bayangan pertemuan dengan Eliana tiga hari yang lalu seolah-olah mengabur dan hilang ketika aku sudah berada di taksi menuju Puerta del Sol, tempat penginapanku selama di Madrid, yang berada di Titik Nol kota itu. Aku merasa pikiranku sudah tak normal lagi. Nyatakah wanita bernama Maria Eliana Valverde itu? Aku benar-benar tak paham. ***

Pekanbaru, Mei 2017

Keterangan:
[1] Monumen Miguel de Cervantes Saavedra didesain oleh dua arsitek terkenal, Pedro Muguruza dan Rafael Martinez Zapatero, serta pemahat bernama Lorenzo Coullaut Valera pada tahun 1925. Setelah Lorenzo meninggal, pemahatan diteruskan oleh anak lelakinya, Federico Coullaut-Valera Mendigutia. (Wikipedia)
[2] Stasiun Atocha adalah satu dari dua stasiun besar di Madrid. Stasiun lainnya adalah Chamartin. Stasiun Atocha menghubungkan Madrid dengan beberapa kota besar lainnya seperti Seville, Toledo, Zaragoza, Lleida, Barcelona, dan Malaga.
[3] Tunggulah aku di Plaza de Espana (bahasa Spanyol).
[4] Apakah saya terlambat? (Spanyol)
[5] Perpaduan donat dan cokelat panas yang sangat kental. Cara makannya cukup mencelupkan donat yang bentuknya memanjang ke dalam cokelat panas tersebut.
[6] Apakah kamu ingin menari denganku? (Spanyol, lirik lagu “Barcelona” oleh Fariz RM)
[7] Puisi “Huesca” karya John Cornford, yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar dengan judul sama.
[8] Sebuah ungkapan perlawanan yang menjelaskan bagaimana Barcelona sebagai cerminan dari “pemberontakan”, perjuangan dari masyarakat yang terpinggirkan, tertindas secara sosial politik dari sebuah kekuasaan Kerajaan Spanyol yang dikuasai Jenderal Franco sejak menang Perang Sipil tahun 1937-1939. Franco berkuasa secara fasis dan otoriter.
[9] Cinta itu buta (Spanyol).
[10] “Pengkhianat! Fasis!” (Spanyol)
[11] Maria Eliana Valverde, korban bom Franco.
[12] Hidup memang begini, saling meninggalkan… (Spanyol)

HARY B. KORI’UN adalah wartawan Riau Pos (Jawa Pos Group) di Pekanbaru. Buku kumpulan cerpen tunggalnya Tunggu Aku di Sungai Duku (2012). Novel terbarunya, Luka Tanah (2014). Novel lainnya, Nyanyian Batanghari (2005), Jejak Hujan (2005), Nyanyi Sunyi dari Indragiri (2006), Malam, Hujan (2007), Mandiangin (2008), dan Nyanyian Kemarau (2010).

Minggu, 05 November 2017

Mbah Dlimo

Cerpen A Muttaqin (Kompas, 05 November 2017)
Mbah DLimo ilustrasi Jeihan Sukmantoro - Kompas.jpg
Mbah DLimo ilustrasi Jeihan Sukmantoro/Kompas
Bila kau ingin bertemu Kiai Amuni, datanglah ke Warung Kopi Kotok di sore hari, sekitar jam empat sampai jam lima sore. Di sana, akan kau dapati lelaki tua, dengan jenggot yang sederhana, memakai sarung palekat, baju batik dan songkok kuno, duduk di pojok warung dengan wajah sumringah. Betul, dialah Kiai Amuni. Orang sini biasa memanggilnya Mbah Dlimo, lantaran ia pemilik pohon delima yang ajaib dan terkenal di kampung kami.
Tentu semua orang sini mengenal Mbah Dlimo. Ia adalah lelaki tertua di kampung kami. Umurnya sudah seratus tahun lebih. Bila kau tanya kepastian tanggal dan tahun kelahirannya, maka orang sekampung kami akan menggeleng. Atau paling-paling menunjuk Damar Kurung yang dipajang di pinggir jalan sepanjang kampung kami. Banyak orang percaya, Mbah Dlimo sepantaran dengan almarhumah Sriwati Masmundari, pelukis asli Gresik pencipta Damar Kurung, yang oleh Tuhan Pengasih juga dianugerahi umur seratus tahun lebih.
Kini Mbah Dlimo masih tetap hidup dan sehat. Masih menjadi imam salat, muruk ngaji di langgar, bahkan tiap sore selalu cangkruk di Warung Kopi Kotok ini, dengan rokok klobot-nya yang berbau khas. Bagi kami, Mbah Dlimo adalah berkah dan kegembiraan yang melimpah ke warung ini. Kehadirannya selalu dinanti. Setiap masuk warung, perihal yang tidak pernah ia lupa adalah memberi salam lalu berucap: “Malaikat memohon ampun untuk para peminum kopi.” Aku tak tahu, itu sabda Nabi atau hanya karang-karangan Mbah Dlimo sendiri. Tapi, jika sudah begini, kami biasanya akan senang sekali, menemani Mbah Dlimo yang duduk di pojok warung.
Mbah Dlimo biasanya akan menceritai kami macam-macam. Dari cangkruk dengan Mbah Dlimo inilah kami tahu kisah para sesepuh yang mbabat alas Gresik, kisah wali-wali “penjaga” pulau Jawa beserta tempat munajatnya yang rahasia, atau kisah seorang Kompeni semprul yang suka mengobral zakarnya pada perawan desa yang sedang mandi. Dari Mbah Dlimo pula kami mengenal asal-usul nama kampung sekitar sini, nama jalan, nama jajanan, nama dolanan, sampai nama-nama jin yang menurut Mbah Dlimo mbaurekso kampung kami.
Terus terang, kami sering dibuat heran oleh Mbah Dlimo. Kendati usianya sudah sangat tua, ia memiliki ingatan cukup kuat dan akurat. Ia bahkan masih menyimak kisruh politik hari ini. Ia tahu cekcok ketua partai A dan partai B. Ia tahu kiai dan dukun yang malu-malu mendukung partai C. Ia tahu pelawak yang nantinya bakal dicapreskan partai D. Ia juga tahu rencana-rencana edan partai E, kongkalikong partai F dan partai G dan seterusnya. Selain itu, Mbah Dlimo adalah penikmat kopi yang jeli. Ia bisa menjabarkan secara rinci beda rasa kopi toraja, kopi aceh, kopi bali sampai kopi arab. Kendati demikian, ia mengatakan kopi kotok di warung ini tak kalah baiknya. Selain rasanya yang khas, penyajiannya juga unik, tumbukan biji kopinya dibiarkan kasar, dengan saringan mini untuk menyaring dedak kopi sebelum diminum.
Kadang kami tak percaya, Mbah Dlimo, orang yang kami temui hampir tiap sore ini umurnya sudah seratus tahun lebih. Banyak orang percaya, rahasia umur panjang dan kesehatan Mbah Dlimo adalah delima di depan rumahnya. Pohon delima yang umurnya mungkin setua pemiliknya itu tergolong pohon yang langka. Ia berbuah tiada henti. Bahkan, di bulan Ramadhan, jika kau datang ke kampung kami, kau akan mendapati pohon delima itu dipenuhi buah hingga ranting dan cabangnya seolah tak kuat menyangga berkah buahnya. Kendati semua orang percaya hubungan gaib antara umur Mbah Dlimo dan pohon delima itu, setiap kali kami tanyakan perihal ini, Mbah Dlimo tak lupa menunjuk ke atas seraya menambahkan bahwa umurnya memang anugerah Tuhan lewat buah delima yang ia makan setiap pagi dan sore hari.
Ah, betulkah buah delima yang membuat Mbah Dlimo awet dan sehat seperti ini? Sebagai buah, delima memang punya daya magis tersendiri. Buah yang konon aslinya berasal dari Persia ini juga dipercaya bisa mengobati banyak penyakit, mulai gangguan perut, gangguan jantung, kanker, rematik, kurang darah sampai diabetes. Bahkan, bangsa Moor memberi nama salah satu kota kuno di Spanyol, yaitu Granada, berdasarkan nama buah ini. Kendati begitu, kami tetap ragu dengan pengakuan Mbah Dlimo. Apalagi pohon delima itu jelas bukan jenis pohon delima sembarangan. Ia terus berbuah. Tak mengenal musim. Buahnya besar-besar. Rasa sangat manis, seperti dicampur gula saja. Penduduk kampung ini pasti pernah mencicipi buah delima Mbah Dlimo. Buah itu biasa dibagi-bagi kepada orang kampung sini. Dan waktu masih bocah, kami juga sering mencurinya, saat melewati rumah Mbah Dlimo sepulang ngaji.
Kendati orang kampung kami percaya buah delima itulah rahasia umur panjang Mbah Dlimo, tapi aku curiga sebaliknya: jangan-jangan Mbah Dlimolah yang sakti, bisa nyuwuk pohon delima di depan rumahnya menjadi pohon ajaib. Apalagi, setelah mendengar cerita getok-tular sekitar pohon delima itu yang aneh-aneh. Alkisah, ketika terjadi pelebaran jalan kampung, pohon delima itu akan ditebang. Namun, tak ada satu pun alat tebang yang mampu menumbangkan pohon itu. Parang, perkul, bendho dan gergaji sudah dicoba, tapi pohon delima itu seperti menjelma besi. Mungkin ini yang menyebabkan cerita-cerita perihal pohon delima Mbah Dlimo jadi macam-macam.
Menurut sebagian sesepuh kampung kami, di tempat tumbuhnya pohon delima itu dahulunya adalah makam seorang syekh. Ketika pada suatu malam makam itu digali oleh gerombolan maling yang hendak mencuri rambut sang syekh untuk jimat, ternyata tak ada rambut, bekas jasad atau tulang belulang sang syekh tersebut. Setelah lebih dalam digali, di lubang itu justru ditemukan biji-biji delima. Gerombolan perampok yang tak menemukan rambut sang syekh itu pun pergi, meninggalkan makam yang masih menganga dengan butiran biji delima yang kini tumbuh menjadi pohon legendaris di depan rumah Mbah Dlimo.
Banyak yang percaya, pohon delima itu tak lain adalah reinkarnasi sang syekh, yang sepanjang hidupnya juga seperti pohon delima itu, memberi manfaat tak henti-henti bagi masyarakat sini. Tentu cerita begini ini sukar dipercaya. Apalagi jika kita melihat fakta bahwa tak ada warga di kampung kami yang lebih tua dari Mbah Dlimo. Dengan demikian, tak ada saksi sahih yang bisa menjelaskan asal-usul pohon delima itu. Namun ketika perkara ini kutanyakan kepada Mbah Dlimo, dengan enteng ia berkata: “Biasa juga begitu, Mas Takin. Jangan dikira, syekh atau wali-wali yang sepanjang hidupnya ngabekti itu mati. Tidak. Ia hidup dan Tuhan memberinya rizki.”
Penjelasan Mbah Dlimo ini tentu tidak sepenuhnya kami mengerti. Ketika aku dan teman-teman yang duduk semeja dengan Mbah Delimo kembali minta penjelasan tambahan tentang ini, Mbah Dlimo langsung menunjuk Damar Kurung di seberang warung ini. Mbah Dlimo kemudian menjelaskan kenapa Masmundari diberi umur panjang. “Selain tentu karena rahmat Tuhan,” kata Mbah Dlimo, “itu lantaran ia tak beda dengan Damar Kurung ciptaannya, memberi terang dan keindahan ke jalan yang kita lewati. Masmundari itu ibarat jalan berhiaskan Damar Kurung. Dan seperti sebuah jalan yang panjang, umurnya juga panjang, bukan?”
“Lalu, bagaimana dengan umur Sampean Mbah?” tanyaku, mengejar penjelasan Mbah Dlimo yang kian tak kupahami itu.
Tak terasa, warung telah sepi, tinggal kami yang duduk mengapit Mbah Dlimo, seperti para murid Yesus, dalam lukisan Leonardo da Vinci, “Perjamuan Terakhir”.
Sayangnya, sebelum Mbah Dlimo memberi jawaban yang memuaskan perihal ini, terdengar azan maghrib dari langgar. Mbah Dlimo tersenyum, lalu membayar kopi dan buru-buru meninggalkan warung, sebab ia harus menjadi imam salat dan muruk ngaji seperti biasanya.
Setelah Mbah Dlimo pergi, kami pun membayar kopi. Teman-temanku yang tadi datang ke warung memakai sarung, langsung menyusul Mbah Dlimo ke langgar. Sementara aku yang memakai celana-cekak, menghabiskan rokokku sembari pelan-pelan berjalan pulang melewati rumah Mbah Dlimo. Dalam naungan temaram sore hari, aku melihat sepuluh, seratus, atau mungkin seribu kunang-kunang, mengitari buah-buah delima Mbah Dlimo. Dalam kitaran kunang-kunang, buah-buah delima itu sungguh mirip Damar Kurung ciptaan Masmundari.
Sejenak aku berhenti.
Kupandang buah-buah delima yang bergelantungan dikepung kunang-kunang itu. Kupandang buah itu satu-satu. Kuhadapkan wajahku ke buah yang lebih tinggi, dan aku tersentak, melihat Mbah Dlimo tengah salat di atas helai daun-daun delima itu.

A Muttaqin lahir di Gresik dan tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Ia mengarang puisi dan cerita pendek. Buku puisinya yang telah terbit, antara lain, Pembuangan Phoenix (2010), Tetralogi Kerucut (2014), dan Dari Tukang Kayu sampai Tarekat Lembu (2015). Cerpennya terkumpul dalam Klub Solidaritas Suami Hilang, cerpen Kompas pilihan 2014.

Mayat-mayat yang Hilang

Cerpen Felix K. Nesi (Koran Tempo, 04-05 November 2017)
Mayat-mayat yang Hilang ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.png
Mayat-mayat yang Hilang ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Sangkanya anak-anak kampung itu baru saja meringkus pencuri mayat yang telah mereka sasar berbulan lamanya. Saat langit tak berbintang dan dingin musim hujan bersekongkol membekukan seisi kampung, saat ia baru saja akan mendaki puncak kesenangan bersama istrinya, seorang pemuda tanggung digiring ke rumahnya. Neno, demikian pemuda itu disebut, telah mendapat hajar sesudah aksi kejar-kejaran yang panjang, sebab mulutnya nyonyor berdarah-darah dan tubuhnya yang hampir telanjang itu penuh luka gores, peninggalan semak duri lantana.
“Inikah orang yang mencuri mayat-mayat di kampung kita?” Rafael mengusap matanya sambil bertanya, sebelum menguap dua kali, berpura-pura baru saja terbangun dari mimpi malamnya.
Anak-anak muda yang memegang kelewang dan lentera itu saling pandang, sebab tak sempatlah mereka merencanakan jawaban. Seorang yang janggutnya dikucir baru saja ingin membuka mulut, ketika istrinya muncul dari balik pintu kamar dan bertanya dengan suara serak, apakah perlu ia membuatkan kopi.
“Tidak perlu, Bu Lurah,” seorang yang lain menjawab. “Kami tidak akan lama.”
Tentu saja mereka akan lama, sebab mereka baru saja menggiring kemari seorang pelaku kejahatan, dan akan ada banyak hal untuk dibicarakan. Namun mereka tak ingin membuat perempuan muda itu menyalakan api jam sebelas malam, saat tungku dapur tak lagi menyisakan bara.
Istrinya menyibak kain pintu dan kembali lagi ke kamar. Sementara Rafael melepas tengkuk halus itu dengan tatapan ingin yang tertunda, sebab kepalanya masih berdenyut-denyut oleh sesuatu yang tidak sempat terselesaikan.
“Mayat siapa yang ia curi?” Rafael bertanya kembali, sesudah istrinya menghilang di balik pintu.
Neno tidak mencuri mayat, anak yang baru saja menolak tawaran minum itu menjawab: “Ia baru saja bersetubuh dengan pisang,” sambungnya.
Rafael merasa kepalanya membesar dan kulit wajahnya menebal. Tak pernah sebelumnya ia bayangkan, sebagai lurah ia akan ikut memikirkan hal sekonyol itu. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Tanah Jawa, dan kembali ke Timor dengan cita-cita mulia ingin menjadi anak yang mengabdi kepada orang tuanya. Kuliah yang lama telah membuat ayahnya miskin dan hilang kepercayaan padanya, meski lelaki tua itu tetap berusaha mencintai anak-anaknya. Setelah dua tahun lamanya ia ikut mengurusi surat kabar kecil dan memenangi kursi bupati untuk sepupu dari garis keturunan neneknya, ia ditunjuk menjadi lurah. Bukan di kampung halamannya, tapi di pedalaman selatan kabupaten itu, di suatu perkampungan yang baru saja dikukuhkan menjadi kelurahan.
“Tempatnya memang jauh,” demikian sepupunya itu berkata. “Tapi, jika bekerja dengan baik, kau mempunyai kesempatan untuk menjadi camat.”
Ia tak yakin bisa menjadi lurah, sebab sembilan tahun lamanya ia belajar ilmu komunikasi, dan selalu bercita-cita menjadi wartawan. Selain itu, ia dibesarkan di pinggiran kota/kabupaten dan tak begitu yakin akan mampu berbaur dengan orang-orang kampung. Tapi posisi camat selalu menggiurkan sejak kecil, sebab hanya pak camat yang mempunyai mobil dinas dengan seorang sopir, dan tiap hari Natal selalu membagi-bagikan beras dan kue kering bagi setiap orang yang bertandang. Jika beruntung, lepas menjadi camat ia akan menjadi bupati, membuktikan kepada ayahnya bahwa ia bisa dipercaya.
Maka dikuburkannya mimpi dan cita tentang surat kabar itu, dan dilantiklah ia menjadi lurah. Enam bulan kemudian, ia dinikahkan dengan seorang bidan desa lulusan sebuah sekolah tinggi di Kediri, dan hidup berbahagialah ia, setidaknya sampai masalah-masalah konyol ini menghadang.
Awalnya ia berpikir, menjadi lurah di pedalaman Timor hanya akan membuatnya berurusan dengan administrasi yang tidak begitu membikin pusing, selain ikut mengatur masalah-masalah remeh seperti lepasnya sapi ke ladang, serangan belalang kembar, pencurian kayu cendana, dan hal-hal kecil lain. Baru setahun sesudah dilantik, ia dikagetkan dengan kasus pencurian mayat, yaitu kasus yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah orang-orang Timor. Sebelum ini, orang-orang Timor selalu menghormati mayat, sebab mereka percaya bahwa jiwa orang mati berkumpul bersama leluhur, dan mempunyai hak untuk mengatur orang-orang hidup. Tapi waktu berputar sangat cepat dan dunia ikut berubah. Dalam waktu tiga bulan, sudah ada tujuh mayat perempuan yang hilang.
“Ada ilmu hitam dari Pulau Alor yang pengikutnya membutuhkan mayat,” demikian Naef Ataet, dukun kampung itu, berkata sesudah meludahkan sirih-pinang ke tempurung kelapa. “Siapa yang bisa memelintir kepala mayat dengan giginya, akan kebal pada senjata tajam.”
Ia pernah mendengar ilmu sejenis itu dalam perantauannya di Tanah Jawa, dan ia tidak begitu yakin bahwa orang-orang Alor mempunyai ilmu yang sama. Namun, bersikap lebih tahu dari dukun kampung tentang persoalan mistis hanya akan membuat ia kehilangan wibawa.
“Pertama, mereka membunuh perempuan-perempuan kita. Kedua, mereka mencuri mayatnya,” demikian sang dukun berkata.
Memanglah akhir-akhir ini banyak perempuan Timor yang mati. Baik mati saat melahirkan maupun mati sebagai tenaga kerja di negeri seberang, dikirim pulang dalam peti mayat dengan isi perut kosong melompong. Sejak kehilangan mayat yang ketiga, Rafael selalu memerintahkan penjagaan ketat, tiap ada perempuan yang mati lagi. Bukan hanya oleh satgas hansip, melainkan oleh anak-anak karang taruna, yang seharian tidak melakukan apa-apa selain menjadi ojek dan menunggu jadwal pesta dansa. Malam ini, anak-anak itu datang kepadanya, di tengah malam buta, bukan dengan pencuri mayat, tapi dengan seorang pemuda tanggung yang menyetubuhi batang pisang.
“Apa yang harus kami lakukan padanya?” anak yang janggutnya dikucir itu bertanya.
Rafael melangkah keluar dari rumah dan berjalan ke lopo [1]. Anak-anak muda itu mengikutinya tanpa suara. Ia menyuruh mereka menyalakan lentera yang tergantung di empat tiang lopo, sementara ia bersila di dipan. Anjing melolong di kejauhan dan burung hantu menangis sendu setiap dua menit. Angin berembus pelan dan dingin merasuk sampai belulang.
“Tutupi Neno dengan bete’ [2]-mu,” katanya kepada seorang anak yang sedang membetulkan bete’-nya: “Tak pantas membiarkan manusia telanjang, sejahat apa pun dia.”
Anak yang ia tunjuk itu melepaskan bete’ yang melingkari pinggangnya, dan bercelana pendek, ia menutupi tubuh Neno. Neno, dengan wajah bersalah dan ketakutan, tak henti menatap Rafael, meminta kasihan dan pengampunan. Rafael membuang muka, namun hatinya telah jatuh iba.
“Bagaimana kata kalian?” ia berkata sesudah lentera-lentera bernyala terang dan anak-anak muda itu mengerumuninya di sekitar dipan. “Ia bersetubuh dengan pisang. Baik. Ia sudah melakukan hal itu. Jika ia menyesal, mari kita biarkan ia pergi. Jangan sampailah masalah ini diketahui lebih banyak orang. Ini sangat memalukan. Bagaimana? Sanggupkah kalian menanggung malu sebesar itu?”
Neno menatapnya dengan terima kasih, tapi ia bisa melihat beberapa orang mencibir, di antara wajah-wajah yang terangguk-angguk.
“Tadinya kami ingin melakukan hal itu, Pak Lurah,” laki-laki lain lagi menjawab. Anjing masih melolong di kejauhan. “Tapi bukan pisang sembarang pisang yang ia kerjai. Itu pisang di mata air suku Ahoenulan, di dekat lembah sekitar Kali Nunhala. Ia telah menodai tempat keramat suku Ahoenulan. Taef Ahoenulan, anak Uis Ahoenulan, sang kepala suku Ahoenulan, tadinya bersama kami. Ia yang menelanjangi dan memukuli anak ini, dan sekarang sedang memanggil ayahnya. Saat kita berbicara ini, mungkin mereka sudah setengah jalan menuju tempat ini. Kita tidak bisa lagi membiarkan Neno pergi begitu saja.”
Rafael menarik napas panjang-panjang dan menatap langit-langit lopo sebelum mengembuskannya. Kulit jagung menyembul dari celah papan di langit-langit, yang tua dimakan serangga. Ini lopo peninggalan lurah sebelumnya dan sebelumnya lagi, dan mestinya ia tidak menaruh hasil panen di situ, sebelum memastikan bahwa langit-langitnya tidak sedang digerogoti serangga.
“Pak Lurah,” orang yang tadi memberi bete’-nya membuka suara. “Jika saya boleh bicara, anjing itu melolong sejak kami memergoki Neno. Kami pikir, tentulah si Neno ini sedang mencari le’u-le’u [3]. Siktus anak Tua Kolo telah kami suruh memanggil Naef Ataet untuk memeriksanya.”
“Kono!” Neno menghardik. “Aku tidak mencari le’u-le’u. Kau mengenalku, aku tidak mungkin begitu!”
Rafael mengusap wajahnya. Semua tiba-tiba menjadi lebih rumit dari apa yang ia bayangkan. Saat kuliah di Tanah Jawa, buku-buku membuat ia berhenti percaya pada segala macam sihir dan le’u-le’u di kampungnya. Tapi, baru beberapa waktu menjadi lurah di kampung ini, hal-hal tidak masuk akal membuat keyakinannya pada buku dan ilmu pengetahuan meluntur perlahan. Bagaimana menjelaskan patah tulang yang tersambung kembali hanya dengan mantra dan ludah sirih-pinang? Bagaimana menjelaskan perihal hujan yang terhenti setelah dihardik Naef Ataet dengan mengacungkan aluk [4]-nya? Bagaimana menjelaskan perihal belalang yang menyerang seisi kampung, tepat sesudah suku Anikaliti merobohkan rumah adatnya tanpa upacara yang benar? Dan masih panjang daftar hal-hal yang tidak bisa ia cerna, yang tidak pernah ia temukan penjelasannya di kuliah mana pun.
Dari tikungan dekat kapel kecil, di seberang jembatan kayu yang hampir roboh dimakan usia, dua lentera berjalan beriringan dengan lima bayang panjang manusia dalam balutan kaos partai warna-warni dan lilitan bete’ di pinggang. Uis Ahoenulan berjalan di depan, diikuti Naef Ataet, dan tiga pemuda yang gegas. Begitu memasuki lopo, tanpa berkata apa-apa, Uis Ahoenulan, sang kepala suku Ahoenulan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menampar wajah Neno. Barulah sesudah pemuda malang itu tersungkur di lantai beralas debu tanah, Uis Ahoenulan membuka mulutnya.
“Kau mempermalukan dirimu sendiri, dan mendatangkan amarah atas nenek moyang kami. Kampung ini akan mendapat kutuk!”
Neno tetap menunduk, kebingungan antara harus membetulkan selimut atau menghapus darah yang kembali muncrat dari bibirnya. Satu-dua pintu rumah mulai terbuka, dan orang-orang laki-laki berdatangan oleh keributan kecil itu.
Setelah seorang hansip dibantu dua anak lain mengeluarkan kursi plastik dari dalam rumah Rafael, duduk melingkarlah mereka di lopo itu. Rafael, Naef Ataet, dan Uis Ahoenulan bersila di dipan, sementara Neno bersimpuh di lantai tanah yang berdebu. Orang-orang laki-laki yang lain melingkarinya; duduk di kursi atau berdiri di tirisan lopo. Perempuan dan anak-anak hanya melihat dari kejauhan tanpa ada keberanian untuk mendekat.
Naef Ataet mengambil sirih-pinang dari aluk-nya, mencampurkannya dengan kapur dan beberapa akar pohon sebelum mengunyahnya. Uis Ahoenulan membuka aluk-nya, menawarkan sirih-pinang dan kapur kepada Rafael. Rafael menolak dengan sopan, sebab ia telah menggosok gigi sebelum mencumbu istrinya.
Beberapa jurus kemudian, Naef Ataet meludahi telapak tangannya, dan dengan ludah merah darah itu, ia mengusap wajah Neno. Neno bergeming. Naef Ataet mendekatkan mulutnya ke telinga pemuda itu, yang kiri dan yang kanan, meniupnya dalam satu embus napas panjang, membaca beberapa mantra lagi, meniup lagi, lalu menarik kembali tubuhnya.
“Tak ada kejahatan dalam dirinya,” demikian ia bergumam dalam bahasa Dawan [5]: “Anak ini tidak bersekutu dengan iblis, sekarang dan kemarin. Ia tidak bertalian dengan le’u-le’u mana pun. Hatinya bersih bagai kapas dan para leluhur mencintainya.”
Sesudah Naef Ataet kembali duduk, semua mata tertuju kepada Rafael. Rafael sadar, itu adalah waktu untuk ia mengambil alih, menunjukkan wibawanya sebagai lurah. Ia membersihkan tenggorokannya dengan deheman kecil, tiga atau empat kali, sebelum membetulkan duduknya. Burung hantu kembali mengirim gidik, tapi anjing telah berhenti melolong.
“Jika hatimu bersih dan kau dicintai leluhur, mengapa kau melakukan hal itu, Neno?”
Antara takut dan malu, Neno mengedarkan pandangannya. Angin dingin berembus dan mata tiap laki-laki berkilat di bawah lampu, menantangnya. Beberapa detik kemudian, apa yang keluar dari mulutnya membuat orang-orang menjadi iba sekaligus geli: “Saya hanya ingin sifon [6].”
“Sifon? Sama pisang?” Rafael bertanya lagi, tak percaya pada apa yang ia dengar.
Tak ada jawaban. Neno melihat ke lantai tanah berdebu dan menggerak-gerakkan kakinya.
“Di mana kau disunatkan?”
Tak ada suara.
“Di mana kau disunatkan, Neno?” Rafael mengulangi pertanyaannya.
“Di Naef Ataet,” Neno menjawab. Lirih dan ketakutan.
Orang-orang melihat Naef Ataet. Naef Ataet melihat aluk-nya dengan wajah setenang sungai, sambil terus memamah.
“Kenapa kau sifon ke batang pisang, Neno?”
Neno menatap Rafael dengan ketakutan.
“Neeta yang biasa menjadi tempat sifon telah mati sesudah melahirkan,” suaranya pelan dan lirih. “Tak ada perempuan untuk bisa dijadikan tempat sifon lagi, sementara waktu untuk sifon hampirlah habis. Luka saya hampir sembuh total. Jika tidak segera di-sifon, kemaluan saya akan mati membusuk,” sambungnya.
“Tapi, kenapa batang pisang?”
Beberapa laki-laki tersedak menahan tawa, tapi Rafael mulai terlihat marah.
“Naef Ataet menyarankan mayat, tapi saya memilih batang pisang,” Neno menjawab lagi, pelan dan ketakutan.
Rafael merasa puluhan kunang-kunang terbang mendatanginya, menyerangnya. Gumam orang seramai lebah. Kepalanya berdenyut ingin meledak. Sempat ia melirik ke samping, melihat Naef Ataet mengucapkan sesuatu yang tidak ia pahami, yang memuncratkan rintik-rintik ludah sirih-pinang ke wajahnya. Selebihnya ia tidak ingat apa-apa lagi.

Keterangan:
[1] Lopo: Rumah tradisional penduduk Timor. Digunakan juga sebagai lumbung dan tempat pertemuan.
[2] Bete: Selimut panjang yang biasa dipakai laki-laki Timor.
[3] Le’u-le’u: Jimat.
[4] Aluk: Tas kecil dari kain tenun, digunakan untuk menyimpan sirih pinang dan barang-barang keramat.
[5] Bahasa Dawan: Bahasa daerah masyarakat Dawan, Pulau Timor.
[6] Sifon: Ritual persetubuhan wajib pasca-sunat pada masyarakat Dawan, Pulau Timor. Dilakukan sebelum luka sunat benar-benar sembuh.

Felix K. Nesi lahir di Timor, Nusa Tenggara Timur. Kumpulan ceritanya berjudul Usaha Membunuh Sepi (Penerbit Pelangi Sastra, 2016).

Kamis, 02 November 2017

Kutipan Love in Las Vegas

“Terkadang apa yang kamu inginkan sulit sekali digenggam. Justru yang tak terlalu kamu inginkan, mengemis-ngemis untuk dimiliki.” (hlm. 109)

Beberapa kalimat favorit buku dalam buku ini:
  1. “Cermin tidak pernah berbohong. Dia merefleksikan apa yang tersaji di hadapannya, di dunia ini, di kehidupan ini.” (hlm. 7)
  2. “Tuhan akan mendengar doa-doa ketika kita panjatkan kepada-Nya.” (hlm. 55)
  3. “Kenyataan terkadang terkumpul dari pilihan-pilihan masa lalu kita.” (hlm. 151)
  4. “Cinta itu bukan tergantung pada pasang surutnya hubungan dengan seseorang, tapi perasaan cinta yang ada di hati itu sendiri.” (hlm. 162)
  5. “Di dunia ini tak ada yang bisa mengenal diri kita seratus persen. Bahkan, diri kita sendiri.” (hlm. 183)
  6. “Hidup memang tak rumit. Jika manusia tetap berpikir positif, selalu ingin mengubah kehidupannya ke arah yang lebih baik.” (hlm. 214)
Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Sebagian besar kegagalan sebuah hubungan dikarenakan rasa ingin memiliki menduduki peringkat nomer satu sebagai langkah pertama yang harus dilakukan. (hlm. 15)
  2. Memiliki yang sempurna pun bukanlah memiliki secara utuh. Orang yang kita cintai itu punya hak atas dirinya. Begitu juga dengan Tuhan yang menciptakannya. Sewaktu-waktu, Tuhan boleh membolak-balikkan hatinya. (hlm. 16)
  3. “Kelamaan kalau harus memahami, memaklumi, memercayai dulu sebelum memiliki, keburu direbut orang nantinya!” (hlm. 16)
  4. “Cinta adalah kebebasan yang berkomitmen, hasrat yang bertanggung jawab, dan kasih yang tak mengenal pamrih.” (hlm. 16)
  5. “Jika cinta luntur, anak-anak yang menjadi beban.” (hlm. 22)
  6. “Lo yang bikin kisahnya lo, lo yang bikin warnanya, dan lo juga yang bikin ancurnya!” (hlm. 24)
  7. “Sudah hukum alam jika laki-laki itu mata keranjang dan perempuan itu mata duitan.” (hlm. 26)
  8. “Hati-hatilah kepada gadis yang sakit hati. Caranya balas dendam selalu tak disangka-sangka.” (hlm. 28)
  9. “Untuk menjadi laki-laki dewasa, carilah hubungan yg tak hanya membuatmu dewasa hasrat, tetapi juga akal pikiran dan iman.” (hlm. 28)
  10. “Tak ada yang bisa menjamin apakah hati seseorang sudah diselimuti iman atau belum.” (hlm. 54)
  11. “Kalau jalan lurus jelas-jelas tak bisa dipilih, bukankah berarti jalan pintas adalah satu-satunya pilihan?” (hlm. 79)
  12. “Terkadang, orang yang sudah meninggal itu tetap terasa dendamnya di dunia.” (hlm. 100)
  13. “Sesama manusia sombong dilarang saling mengolok!” (hlm. 138)
  14. “Jangan terlalu mencintai seseorang. Hanya ada satu orang yang patut kau sayangi.” (hlm. 161)
  15. “Kau boleh beranggapan bahwa cinta adalah gambling, tapi hati gadis bukanlah dadu atau uang taruhan!” (hlm. 173)
  16. “Bukankah manusia adalah pusatnya dosa dan kesalahan?” (hlm. 185)
  17. “Cinta tak hanya perihal saya cinta kamu atau kamu cinta saya.” (hlm. 201)

Bunga Kering

Terkadang hati mencoba menutupi apa yang paling mengganggu pikiran seseorang.
Berpura-pura tak merasa, berpura-pura tak terganggu.
Namun, segala kepura-puraan akan sia-sia pada akhirnya.
Yang dirasa tetap akan terungkap, yang menganggu tetap akan diucap.
Aku sudah menjalani setengah perjalananku di sini. Hidup sendiri demi sebuah ambisi besarku, berjuang dengan semua kekuatan yang aku miliki untuk membuktikan bahwa aku mampu dan pantas mendapatkan mimpiku. Sebentar lagi, semua usahaku akan terbayar, impianku akan tercapai dan ambisiku akhirnya terpenuhi. Aku masih ingat ketika pertama kali akan melakukan perjalanan ini, dengan segala keegoisan dan sifat keras kepalaku, aku mengorbankan semua yang sudah aku miliki, aku mengabaikan semua orang terdekatku, aku hanya menuruti diriku sendiri.
Pengorbananku termasuk meninggalkan orang yang telah lama mendampingiku, berada di sisiku bahkan di masa-masa paling sulit dalam hidupku. Seseorang yang tanpa ragu mendukung semua impianku bahkan ketika impian itu membuatku harus meninggalkannya. Seseorang yang selalu aku sebut dalam doaku setelah nama kedua orangtuaku. Sebuah pilihan yang sangat berat untukku di kala itu. Namun, ada keyakinan dalam diriku yang berkata takdirku adalah miliknya dan begitu juga takdirnya adalah milikku. Keyakinan itu yang menguatkanku hingga hari ini, menenangkan hatiku yang terus memupuk rindu padanya. Jikapun keyakinan itu keliru, pada akhirnya aku hanya mengharapkan kebahagiaan melingkari kami berdua sebab siapa yang tahu soal takdir? Terlepas dari semua itu, aku bersyukur pernah menjalani hari-hari indah bersamanya, kini dia adalah bagian dari perjalananku yang sudah lalu, yang tersimpan rapi bersama ingatanku tentang rumah.
Saat ini, aku hanya ingin memfokuskan diriku pada perjalanan ini. Perjalanan yang tidak hanya memberikanku kehidupan baru namun juga memori-memori baru yang perlahan-lahan menggantikan memori lamaku. Setengah perjalanan sudah berlalu dan hingga hari ini hanya kebahagiaan yang mengisi hari-hariku di sini. Semua berjalan lancar tanpa hambatan yang berakibat fatal. Aku pun sangat mensyukurinya dan berharap semua akan tetap seperti ini hingga tiba saatnya aku pulang.
***
Aku baru saja terbangun saat membaca sebuah pesan dari teman lamaku di rumah. Ia memberi kabar tentang seseorang yang tak kuizinkan hadir kembali ke hidupku. Sakit, katanya dalam pesan itu. Sangat mengkhawatirkan, begitu yang dijelaskannya dan membutuhkan bantuanku. Seketika rasa kantukku hilang, berganti perasaan aneh yang menyelimuti hatiku. Aku membacanya sekali lagi, kemudian aku menghapusnya. Aku tidak peduli kataku pada diriku sendiri. Aku tak pernah lagi mencari tahu tentang orang itu. Sedikitpun tak ada celah yang kubuka untuk sekedar bertukar kabar. Barulah pagi ini, aku mendapat kabar tentangnya. Kabar yang sama sekali tak kuharapkan. Namun, aku putuskan untuk melanjutkan hariku seperti biasa. Aku memilih untuk tidak peduli sedikitpun.
Siang hari saat aku sedang beristirahat di kafetaria, ponselku berbunyi, sebuah panggilan video dari temanku yang aku abaikan pesannya tadi pagi. Aku memeriksa jam tanganku, sekarang jam 12 siang di Jakarta. Pantas saja, dia menelpon.
“Hei, aku menganggumu tidak?” katanya sesaat setelah tersambung.
“Tidak kok mba, aku lagi jeda” Jawabku sambil tersenyum.
“Kenapa pesanku tidak dibalas?” Menanyakan pesannya tadi pagi.
“Belum sempat, maaf. Hari ini, kelasku penuh dari pagi” Jawabku sambal menghela napas.
“Dia benar-benar membutuhkan bantuanmu, cuma kamu yang bisa bantu dia saat ini” Dari raut wajahnya aku melihat kekhawatiran yang mendalam.
“Tapi aku gak bisa, aku jauh di sini. Lagipula, kenapa harus aku? Keluarganya lebih memungkinkan untuk membantunya” Aku berusaha menjelaskan kondisiku.
“Aku gak tahu sejauh apa hubungan kalian dulu. Aku gak tahu, seberapa membekasnya kamu di hatinya. Sampai-sampai di kondisinya sekarang ini, cuma nama kamu yang bisa dia sebut” Dia menjelaskan dengan nada bicara yang penuh pengharapan.
“Kalau begitu, minta saja orang lain berpura-pura jadi aku” Dengan nada sedikit kesal aku mencoba memberi solusi yang tak sempat aku pikirkan.
“Hei, jangan begitu. Bagaimana jika ini seperti permintaan terakhirnya? Bagaimana jika ini terakhir kali kamu menolongnya?” Dia masih dengan sabar membujukku.
“Mba, yang kamu sebut kali terakhir itu sudah lampau bagiku. Aku sudah melewati terakhir kali itu dan saat itu aku minta agar dia tetap menjauh, jangan pernah kembali lagi. Lagipula sudah ada yang lain yang mendampinginya saat ini kan?” Kataku dengan memberi penekanan di akhir kalimat.
“Dan lagi, kondisiku gak memungkinkan untuk pulang. Jadwalku sedang padat karena sebentar lagi ujian dan mulai penyusunan tesis” Aku menambahkan.
“Hei dengar, semua orang di sini berharap sama aku untuk bisa membawa kamu ke sini. Karena yang punya kontakmu dan masih bisa menghubungimu, cuma aku. Dan aku berharap kamu bisa bantu. Kalau kamu gak mau melakukan ini untuk dia, lakukan untuk keluarganya, mereka pernah jadi bagian hidupmu juga dan lakukan untuk kamu juga, untuk ketenangan hati kamu” Dia masih berusaha membujukku agar mau menolong orang itu.
“Ketenangan hatiku ada di sini mba. Bukan di sana. Maaf, aku belum bisa bantu apapun selain doa. Semoga dia cepat pulih. Aku pamit dulu mba, ada kelas lagi nih. Terimakasih untuk kabarnya ya” Akhirnya aku memlih untuk menyudahi obrolan dengannya.
“Oke, nanti malam aku hubungi lagi ya. Tolong kamu pikirkan baik-baik, jangan lagi menyimpan dendam. See ya
Sambungan telepon sudah terputus, namun aku masih menatap layar ponselku. Seketika sekujur tubuhku lemas, rasa sakit itu kembali lagi, ingatan-ingatan tentang dia yang telah lama aku abaikan. Dua tahun sudah berlalu sejak aku memintanya untuk tetap menjauh dariku, membebaskan aku dari bayang-bayangnya dan membiarkan aku memilih orang lain yang lebih baik untukku. Tentu saja, aku tidak ingin kembali ke sana kepada orang yang paling tidak mensyukuri kehadiranku. Hidupku sudah tenang tanpa dia, hatiku sudah pulih dan sudah dapat ditinggali oleh orang yang lebih baik. Lalu, sekarang apa lagi yang dia inginkan dariku? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Sebelum bangkit dari kursi dan meninggalkan kafetaria ini, aku menghela napas panjang dan berdoa semoga sisa hariku tak terganggu oleh kabar tentang orang itu. Hari ini masih ada sebuah presentasi yang harus aku sampaikan dan malam nanti ada anak-anak yang menunggu ilmu baru dariku. Aku mohon, jangan lagi menganggu konsentrasiku atau merusak mimpi-mimpiku. Aku sudah tenang dengan hidupku sekarang. Aku bicara dalam hati seolah-olah orang itu dapat mendengarku dan entah bagaimana aku selalu yakin dia masih mendengarku.
Kadang hidup senang bergurau.
Memberi hiburan entah untuk siapa.
Mungkin untuk dirinya sendiri.
Atau mungkin untuk manusia yang seringkali berpikir dapat mengendalikan semua yang terjadi di dalam hidupnya.
***