Daftar Blog Saya

Kamis, 02 November 2017

Ide Cemerlang Nadia


Cernak Ari Vidianto (Padang Ekspres, 29 Oktober 2017)
Ide Cemerlang Nadia ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Ide Cemerlang Nadia ilustrasi Orta/Padang Ekspres
Panas yang begitu terik, membuat Nadia mempercepat langkah kakinya. Anak perempuan yang masih kelas empat SD ini ingin cepat-cepat sampai di rumah. Pelajaran hari ini cukup menguras tenaganya. Ada olahraga, matematika dan bahasa Indonesia. Nadia merasa lelah sekali. Akhirnya setelah lima belas menit perjalanan ia pun sampai di rumahnya yang indah dan sederhana.
“ASSALAMUALAIKUM!” seru Nadia memberi salam saat tiba di rumahnya.
“Waalaikumsalam!” jawab Mama sambil membukakan pintu. Nadia pun langsung bersalaman dengan Mamanya.
“Ma, hari ini Mama masak apa?” tanya Nadia.
“Oseng kangkung sama tempe goreng,” jawab Mama.
“Hmm…enaaak. Kalau ingat oseng kangkung jadi ingat nenek, Ma,”
“Oh, iya! Mama jadi ingat, tadi nenek telepon katanya hari Minggu besok kamu disuruh main ke rumahnya. Kakek dan nenek sudah kangen sama kamu. Kamu kan sudah satu bulan lebih tidak ke rumah mereka,” jelas mama panjang lebar.
“Oh, gitu ya, Ma. Ya sudah Minggu besok aku akan ke rumah mereka,” jawab Nadia bersemangat.
“Ya sudah sebelum makan kamu ganti baju dulu lalu salat Zuhur ya?”
“Oke, Ma! Siap laksanakan perintah bos!” jawab Nadia sambil berlalu menuju ke kamarnya yang bercat pink.
Mama hanya tersenyum melihat Nadia. Memang Nadia anak yang penurut sekali. Selain itu ia selalu mendapat rangking satu di sekolahnya.
Hari Minggu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah mandi, berdandan rapi dan sarapan. Ia pun mengeluarkan sepeda berwarna pink kesayangannya. Rumah kakek dan neneknya hanya berjarak satu kilometer. Oleh karena itulah Nadia menggunakan sepedanya. Nadia pun telah siap berangkat, ia lalu berpamitan dengan papa dan mamanya.
“Pa, Ma, Nadia berangkat dulu ya?”
“Iya Nadia, hati-hati di jalan ya?” jawab Mama.
“Salam untuk kakek dan nenek ya?” tambah Papa.
“Oke!” jawab Nadia singkat.
Ia pun bersalaman dengan kedua orang tuanya. Nadia pun segera mengayuh sepedanya dan berlalu dari rumahnya. Papa dan mama tidak ikut karena mereka mau menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor papa.
Di jalan menuju rumah kakek dan nenek terlihat hamparan sawah yang sangat luas. Banyak pohon-pohon rindang dan di sekitarnya juga banyak burung-burung yang hinggap dan bersarang di sana. Akhirnya setelah perjalanan hampir setengah jam, sampailah Nadia di rumah kakek dan neneknya.
“Kakek, Nenek! Nadia datang!” seru Nadia.
“Cucuku yang cantik sudah datang!” seru kakek dan nenek berbarengan.
Nadia pun memeluk keduanya dan berjabat tangan. Setelah itu mereka segera masuk ke dalam rumah. Bercerita dan bercengkerama melepaskan kerinduan antara mereka. Sampai-sampai Nadia tertidur di pangkuan neneknya. Karena Nadia tidur kakek pun berlalu, dia menuju ke teras rumah sambil memandang hamparan rumput hijau yang mengelilingi rumahnya. Rumput-rumput itu sudah panjang-panjang dan tumbuh subur. Karena kakek sudah tua dia pun tidak sanggup lagi memotong rumput-rumput itu dalam jumlah banyak.
“Pasti kakek lagi memikirkan rumput-rumput itu lagi,” dalam batin nenek.
Hampir satu jam tidur, akhirnya Nadia pun bangun juga. Ia pun melihat kakek dan neneknya sedang berada di teras rumah. Ia lalu menghampiri mereka.
“Lagi ngapain sih Kek, Nek?” tanya Nadia penasaran.
“Ini, kakekmu lagi bingung bagaimana caranya memotong rumput-rumput yang ada di sekitar rumah,” jawab nenek.
“Oh,” jawab Nadia singkat. Ia pun melihat hamparan luas rumput-rumput itu. Sejenak ia terdiam dan memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia mempunyai ide.
“Kek, Nek, Nadia punya ide nih,” girang Nadia.
“Apa itu Nadia?” tanya Kakek penasaran. Lalu Nadia pun membisikkan sesuatu ke telinga kakeknya. Neneknya pun tak mau ketinggalan dia menghampiri Nadia dan minta di bisikkan juga ide Nadia.
“Wah ide yang bagus cucuku,” girang kakek.
“Iya benar tuh,” tambah nenek.
“Terima kasih,” jawab Nadia sambil tersenyum senang.
“ Kalau begitu kakek pergi dulu ya?”
“Iya kek!” jawab Nadia.
Kakek pun berlalu, Nadia dan nenek menunggu di depan rumah. Akhirnya setelah setengah jam menunggu kakek pun datang bersama rombongan tetangga yang membawa kambing mereka masing-masing. Memang di sekitar rumah kakek banyak tetangga yang memelihara kambing.
Lalu kambing-kambing tersebut mereka lepas dan segera memakan semua rumput-rumput. Ternyata inilah ide cemerlang Nadia. Ia menyuruh kakeknya untuk membawa kambing-kambing tetangganya dan memakan rumput-rumput itu. Kambing-kambing tersebut makan begitu lahap, para pemiliknya pun senang. Karena mereka tidak perlu susah-susah mencarikan rumput untuk kambing-kambingnya.
Akhirnya setelah satu jam lebih, rumput-rumput itu pun habis. Semua tetangga segera mengucapkan terima kasih dan mereka bergegas pulang ke rumah masing-masing. Kakek dan Nenek pun merasa senang. Karena rumput-rumput itu sudah bersih di halaman rumah mereka. Ini semua berkat ide cemerlang Nadia.
“Wah cucuku memang pintar,” seru nenek sambil memeluk Nadia.
“Nanti kakek akan kasih es krim!” kata kakek.
“Horee…Asyiik!” girang Nadia. Ia pun merasa senang sekali karena telah membantu kakek dan neneknya. (***)

Qadam


Cerpen Budi Hatees (Padang Ekspres, 29 Oktober 2017)
Qadam ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Qadam ilustrasi Orta/Padang Ekspres
1
AKU mulai kisah ini dari dirimu. Semua ini memang tentang dirimu.
Kau mengendap-endap masuk ke surau ketika Subuh itu Kakek Nuridin sedang salat sunah. Setiap kali baru masuk ke surau, orang tua itu senantiasa mengawali aktivitasnya sebagai penjaga surau dengan salat sunah.
Semua orang di kampung tahu persis kebiasaan Kakek Nuridin. Dan Subuh itu kau tiba-tiba muncul di belakangnya. Sebatang kayu kau genggam. Saat ia rukuk, saat itulah kau hantam tengkuk tuanya. Dia jatuh dan mati.
Tetapi kau membantah semuanya. Ketika warga menemukan mayat Kakek Nuridin, kau yang menangis tersedu-sedu. Kau bilang sambil meratap, “Siapa yang tega membunuh orang sebaik Kakek Nuridin?”
Kakek Nuridin menatapku, lalu mengernyitkan keningnya. Orang tua itu mengejekmu. Sungguh, kau anak muda tak tahu malu.

2
AGAR lebih jelas, aku mulai dari sebelum kau membunuh Kakek Nuridin.
Kau tak suka kepada orangtua itu. Soal itu sudah kau tunjukkan saat pertemuan di Balai Desa beberapa waktu lalu. “Kau cuma pintar bicara,” katamu, “Kalau kau dalam posisi aku, pasti kau pun tak bisa apa-apa. Dasar orangtua tidak tahu diri.”
Kau memaki orang tua itu di hadapan orang banyak. Tapi Ompu Nuridin malah tersenyum. Orang-orang yang menghadiri pertemuan itu kaget bukan main, tak menyangka kalau kau akan sekasar itu. Mereka lebih tidak menyangka lagi ternyata Kakek Nuridin juga sangat keras mempertahankan pendapatnya.
“Itu gunanya kau kami pilih.” Kakek Nuridin menebar tatapan ke setiap sudut ruangan, kuat kesan meminta dukungan orang-orang. “Kami berharap kau punya solusi kalau ada persoalan. Ternyata….”
“Ternyata apa?” Amarahmu meninggi, sampai sudah di ubun-ubunmu. “Ingat kalau kau tua. Jangan memancing aku supaya marah.”
“Baiklah.” Kakek Nuridin masih lembut. “Aku tak akan bicara lagi. Kau kelihatannya tak senang. Padahal apa yang salah dari ucapan aku?”
“Salah. Semua salah.” Tetapi kau tak melanjutkan kalimatmu, karena kau langsung ingat sedang berada di mana. Orang-orang bisa saja tahu penyebab kemarahanmu, lalu mereka mempergunjingkannya. Lalu….
Kau tidak ingin semua orang punya alasan sama untuk memusuhimu.
Tiba-tiba kau diam. Kau perhatian semua mata yang tertuju kepadamu. Semua ingin tahu penyebab meledaknya kemarahamnu. Lalu kau alihkan perhatian mereka kepada hal lain yang tak ada kaitannya dengan inti pertemuan itu.
Kau sengaja berbuat begitu, sebab bila tidak, semua akan terbongkar. Juga hal yang dikatakan Kakek Nuridin, hal yang membuat kau begitu tersinggung.
“Kita sudahi saja pertemuan ini. Semuanya sudah jelas bagi kita.” Kau pun menutup pertemuan, tak perduli orang-orang bertanya-tanya.
Kakek Nuridin tampak mau protes, tetapi kau segera memotongnya.
“Sudahlah Kakek Nuridin, aku tak mau berdebat lagi denganmu.”

3
Kakek NURIDIN itu penjaga surau. Dia bukan orang asli, tapi pendatang yang kesasar. Dia tiba-tiba sudah ada di surau, tertidur di sana. Kondisinya sangat memprihatinkan. Warga yang menemuinya memutuskan memberinya tempat di kampung. Dia mendapat tanggung jawab mengurus surau.
Dua hari sebelum pertemuan, Kakek Nuridin mendatangimu karena mendengar ada bantuan dana dari Gubernur untuk membangun surau menjadi masjid. Kau kaget, tak mengira laki-laki tua itu tahu soal bantuan itu.
Gubernur memberikan uang itu langsung ke tanganmu karena kau berjanji kepada Gubernur bakal mengajak seluruh warga untuk mencoblos gambarnya saat Pilkada nanti. Ketika pulang membawa uang itu, kau merancang-rancang rencana untuk menghabiskan semuanya. Kau berpikir uang itu pantas untukmu, karena Gubernur memberikanya hanya padamu. Tidak ada yang lihat, kau berpikir begitu sambil melangkah.
Tetapi laki-laki tua itu tahu. Bagaimana bisa dia tahu? Darimana dia tahu?
Kakek Nuridin mendatangimu dengan konsep pemikiran, bahwa surau itu sudah seharusnya diubah menjadi masjid karena jumlah warga yang akan ditampung semakin banyak.
“Bantuan itu cukup untuk mengubah status surau menjadi masjid,” kata Kakek Nuridin.
Kau kaget dengan tawaran Kakek Nuridin. Kau yakin Kakek Nuridin cuma menebak-nebak soal uang. Karena sejak uang kau terima, belum ada seorang pun yang kau beritahu. Bahkan, istrimu yang gendut tak tahu menahu. Kalau istrimu tahu, pastilah dia akan meminta bagian, lalu dia pergi menghabiskannya di pasar sambil bercerita kepada semua orang.
Kau tak ingin orang-orang tahu. Lalu, kenapa Kakek Nuridin tahu….
“Semua dana itu milik warga,” kata Kakek Nuridin, “kau harus pergunakan untuk kepentingan warga.”
Kau pun teringat pada ucapan Gubernur saat menyerahkan dana itu, sama persis seperti yang dikatakan Kakek Nuridin. Padahal, dana itu tidak ada kaitannya dengan program pembangunan daerah. Dana itu diambil Gubernur dari rekening pribadinya, diberikan kepada beberapa desa dengan maksud agar seluruh warga desa memilih Gubernur saat pilkada nanti.
“Uang apa?!” Kau melotot. Marah.
Kakek Nuridin tersenyum.
Sehari sebelum pertemuan di balai desa kau gelisah di dalam ruang tamu rumahmu.
Kau tetap bingung sampai besok harinya, sampai pertemuan di balai desa itu digelar. Rencanya kau akan mengajak seluruh warga memilih Gubernur saat Pilkada nanti. Kau ingin mengatakan kepada mereka betapa Gubernur itu sosok yang sangat pantas menjadi Gubernur. Kau mencoba mempengaruhi mereka dengan sekian banyak pujian terhadap Gubernur.
“Kenapa harus pilih dia?” Tanya salah seorang.
“Dia kasih apa?”
“Dia pantas untuk dipilih.”
“Ini bukan soal pantas, pasti ada hal lain.”
“Ada!” teriak Kakek Nuridin.
Saat itulah kau bilang tak suka pada Kakek Nuridin. Orang-orang heran pada sikapmu.

4
SETELAH pertemuan di balai desa itu, kau semakin gelisah. Kau sangat khawatir Kakek Nuridin akan membongkar soal uang itu. Kalau itu terjadi, kau tak akan mendapat apa-apa, kecuali caci maki.
Kau tahu, seluruh warga tak suka pemimpinnya berwatak jahat. Mereka ingin seorang pemimpin yang jujur, transparan, dan tak memanfaatkan warganya. Bukankah itu alasan mereka saat memilihmu dalam pikades. Ketika itu, kau seorang yang jujur, sopan, santun, dan…
Kau menang sedangkan kau tak pernah bermmpi menjadi kepala desa. Lalu, semua berubah. Kau menjadi sombong. Kau menjadi….
Semua warga menyesal memilihmu. Mereka merasa telah tertipu oleh wajahmu yang lugu. Mereka…. Tak pernah warga merasa begitu tertipu dalam hidup mereka.
Seperti warga lain, Kakek Nuridin juga merasa sangat tertipu. Sebagai satu-satunya orang paling tua di desa, Kakek Nuridin merasa kau tidak lagi menghormatinya.
Selama ini, semua warga menghormatinya, bukan saja karena ia sangat berusia. Tetapi juga karena ia seorang yang alim, yang menghabiskan sisa umurnya untuk mengurusi surau, mengajak setiap orang beribadah, dan memberikan ceramah agama. Suaranya yang serak dan parau sering bergema di lingkungan desa saat membacakan Alquran.
Seluruh warga mencintai Kakek Nuridin dan menghormatinya sebagai orangtua. Kau tahu kenapa? Karena ada manusia yang diberi Allah kelebihan yang tak dimiliki manusia lain. Kakek Nuridin memiliki itu, kelebihan itu. Akulah kelebihannya, dan aku pula yang memberitahu soal uang dari Gubernur itu. Aku mengikuti Kakek Nuridin karena ia seorang yang alim.
Semula Kakek Nuridin tidak percaya, tetapi aku meyakinkannya. Ketika ia menjumpaimu dan menyampaikan rencana-rencananya untuk mengubah surau menjadi masjid, saat itu ia hanya ingin memastikan kebenaran informasiku. Ternyata, kau kaget dan tak sengaja, Kakek Nuridin menangkap perubahan pada kulit wajahmu. Aku bilang pada Kakek Nuridin, “Lihat, ia jadi pucat. Ia heran kenapa Kakek Nuridin tahu.”

5
BEGITULAH, kau pun penasaran dan ketakutan. Kau merencanakan akan membuat Kakek Nuridin diam. Aku sudah mengingatkan Kakek Nuridin, tetapi laki-laki tua itu sangat percaya kepada Alllah.
“Allah sudah menentukan semuanya?” katanya.
Subuh itu aku sangat khawatir. Aku tak ikut salat sunnah. Hanya Kakek Nuridin dan aku mengawasinya sambil berpikir apa yang akan kau lakukan padanya.
Tak lama berselang, aku lihat kau memasuki surau. Kau membawa sepotong kayu. Aku mencoba menghalangimu, tetapi aku tidak bisa. Setiap kali aku coba menyentuhmu, aku hanya menyentuh ruang kosong. Aku mencoba mengingatkan Kakek Nuridin, tetapi aku tunda karena laki-laki tua itu sangat khusuk.
Saat Kakek Nuridin rukuk, kau pun muncul dan menghantam tengkuknya. Kau tersenyum melihat tubuh tua itu terjerembab. Tetapi aku justru tersentak karena Kakek Nuridin ternyata tetap berdiri, meskipun ada tubuh yang tergeletak di sajadah itu. Sosok itu jelas sosok Kakek Nuridin, tetapi ada sosok Kakek Nuridin yang lain.
Aku lihat kau begitu gugup. Kau seret tubuh yang tergeletak itu keluar surau, entah kemana. Aku tidak perduli, karena bagiku Kakek Nuridin tidak pernah pergi. Lalu, aku lihat Kakek Nuridin memberi salam. Setelah itu ia melihat kepadaku.
“Kau tak salat sunnah?” tanyanya.
Aku mengangguk dan mulai salat sunnah. ***

Pasangan Bahagia


Cerpen Yetti A.KA (Suara NTB, 28 Oktober 2017)
Pasangan Bahagia ilustrasi Suara NTB.jpg
Pasangan Bahagia ilustrasi Suara NTB
Ia tidak mengerti bagaimana dapat hidup bersama orang yang selalu ingin melihatnya bahagia. Aku tak ingin bahagia, itu yang sering ia katakan, tanpa pernah bosan, dan tanpa sekali pun ada yang mau paham. Setiap ia berkata begitu, orang-orang justru terpingkal dan mengatakan betapa lucu dan menghibur apa yang ia katakan, tapi tetap mengkritik selera humornya itu seperti mereka memberi tahu kesalahan-kesalahannya dalam memilih jenis aksesori dan terus-menerus berusaha meyakinkannya bahwa di dunia yang sempurna ini tak satu pun orang (selain kamu, Tali!) yang berani bermain-main dengan kehidupan.
Aku tidak bermain-main dengan kehidupan, itu kemudian yang ia katakan saat suaminya memandanginya dengan mata dipenuhi pertanyaan. Ia jengah dipandangi oleh mata yang serupa cahaya malaikat itu setiap pagi, setiap ia habis minum segelas air putih untuk membasahi kerongkongannya yang kering, setiap ia mencelupkan telunjuknya ke dalam sisa air di gelas, lalu mengusapkannya ke kelopak mata—sebuah kebiasaan baru yang sangat senang ia lakukan di meja makan.
Lantas apa yang kau kerjakan selama ini? tanya suaminya begitu tenang. Lelaki itu meletakkan sendok—dan itu nyaris tanpa bunyi—di pinggir piringnya yang telah kosong. Ia memang selalu sarapan tepat pukul tujuh dan selesai sepuluh menit kemudian.
Hanya melakukan apa yang kuinginkan. Hanya mau merasakan hidup tidak bahagia. Ia mencelupkan telunjuknya lagi dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedikit emosional. Jangan memaksa dirimu mengerti kalau kau memang tidak bisa.
Suaminya tidak tertawa seperti orang-orang lain. Ia lelaki paling baik hati di dunia dan tidak pernah menertawakan orang lain seolah-olah orang itu memang pantas menjadi bahan tertawaan. Ia juga bukan lelaki yang sembarang menganggap sesuatu sebagai humor kecuali orang itu memang sengaja berdiri di panggung atau memakai baju badut untuk menghibur dan itu harus dibayar dengan selayaknya. Mengapa itu yang kauinginkan? tanya suaminya lembut tanpa bermaksud menyindir atau menyudutkannya sekaligus tanpa benar-benar menuntut jawaban. Setelah satu menit tanpa ada yang bicara, lelaki itu berdiri dan pergi ke kamar untuk memasang dasi sebelum nanti berangkat ke kantor. Hidup lelaki itu sangat tertata. Semua diatur dengan ketat. Berapa lama ia menghabiskan waktu di luar dan berapa lama kehidupannya milik keluarga. Ke mana saja ia akan pergi dan kapan harus kembali. Ia tak pernah melakukan sesuatu di luar jadwal-jadwal yang telah ia buat. Lelaki itu tak sekali pun mengingkari janji—kecuali kalau ada pertemuan mendadak dan ia akan memberi tahu dengan cara sebaik-baiknya tanpa membuat orang merasa diabaikan atau merasa tidak berarti. Ia tidak tahu apa itu sebuah keberuntungan atau sebaliknya. Namun, yang ia rasakan, ia tak pernah benar-benar ada dalam kehidupan bersama lelaki itu. Ia tak bisa menerima kesempurnaannya. Semakin ia mendapat kebaikan lelaki itu, maka ia kehilangan kesempatan untuk merasakan sesuatu yang lahir dari dalam dirinya sendiri.
Ia mengangkat wajahnya dan memperhatikan punggung yang telah menjauh itu. Sepertinya punggung itu lebih lebar dua senti dari biasa dan ia tidak tahu sejak kapan mulai terjadi (betapa payahnya kamu, Tali). Padahal, di punggung itu ia sering menempelkan kepala saat ia benar-benar merasa pikirannya amat berat. Di punggung itu ia kerap berkata, Kenapa ya aku bisa-bisanya berpikir tidak ingin bahagia? Lelaki itu akan balik bertanya, Apa kau merasa kehidupanmu yang ini sebuah kesalahan, Tali? Kau mau membantuku untuk memahami ini semua? Apa kau tetap bisa bersamaku meski bukan ini yang sungguh-sungguh kauinginkan? Apa yang belum kuberikan kepadamu? Namun, setelah sekian lama, pertanyaan-pertanyaan itu tak lagi ia dengar. Suaminya lebih banyak membiarkannya saja, sebab lelaki itu mungkin berpikir, memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan, semua sudah diberikan, tak ada yang kurang sama sekali. Hidup mereka sempurna.
Mereka tidak pernah bertengkar. Sekali saja tidak. Lelaki itu bilang, Begitulah harusnya hidup pasangan yang bahagia. Dua anak mereka tumbuh ceria dan nyaris tanpa mengalami masalah apa-apa. Mereka dua bocah lelaki yang periang, baik di rumah maupun di sekolah. Mereka seperti kendaraan yang melintas di jalan bebas hambatan, tumbuh tanpa kendala, selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ia sama sekali tidak iri kepada dua anak lelakinya itu. Masa kecilnya juga sama seperti itu. Ia lahir dalam keluarga yang memberi segalanya. Seorang bapak yang memastikan ia tidak kekurangan apa-apa. Seorang ibu yang mengatur segala sesuatu yang terbaik bagi masa depannya. Ibu dan bapaknya pasangan paling bahagia dibanding orang tua teman-temannya. Pasangan yang membuat orang terkagum-kagum dan sering memuji mereka. Dulu ia bangga sekali memiliki orang tua seperti itu. Ia merasa betapa beruntungnya ia ketimbang keluarga teman-temannya yang punya banyak masalah. Ia merasa satu-satunya tujuan orang hidup di dunia ini adalah mencari kebahagiaan dan ia bahkan tak perlu melakukan apa-apa lagi untuk mendapatkannya. Kau cukup menurut dan jadi anak manis, Tali, kata ibunya sambil mengelus rambutnya. Ia tahu apa yang pertama sekali harus ia lakukan: jangan membantah. Seorang anak yang suka membantah, bisa membuat ia kehilangan segala-galanya, suara ibunya jernih dan hangat. Aku tak akan melakukannya. Bagus, Tali. Kau akan bahagia seumur hidupmu.
Ia kembali mencelupkan telunjuknya ke dalam gelas, lalu mengusapkannya ke kelopak mata yang berat. Sudah bertahun-tahun ia mengalami kesulitan tidur. Seolah-olah otak abu-abunya ditumbuhi anak-anak rumput yang berimpitan dan semakin bersesakan dari hari ke hari. Ia kembali belajar menggambar dengan maksud menenangkan pikiran. Namun, ia menyerah di bulan pertama, tangannya tak pernah dengan baik menjalankan apa yang ia perintahkan dan hampir semua kertasnya berisi gambar anak-anak rumput dalam bentuk dan ukuran yang sama, dalam sebuah keteraturan yang dibencinya.
Jika kau akan pulang malam lagi, jangan lupa bawa baju hangat dalam tasmu, hujan sering turun pada sore hari, suaminya muncul kembali dengan pakaian kantor yang sudah lengkap dan rapi.
Ia mengerjapkan matanya bagai bocah yang baru terbangun di tempat tidur pada pagi hari dan menerima kecupan buru-buru di kening dan mendengar langkah teratur lelaki itu menapaki lantai rumah menuju pintu utama. Setelah bunyi mesin mobil lelaki  itu meninggalkan garasi, rumah kembali sunyi. Dua anak lelakinya sudah diantar ke sekolah oleh sopir pagi-pagi sekali. Dua orang pekerja rumah tangga berada di ruang belakang, bersiap membersihkan segala sesuatu. Ia sendiri tidak benar-benar tahu apa yang ingin dilakukan hari ini selain keluar rumah dan menjauh dari kehidupan yang bahagia, dari semua yang menampakkan kesempurnaannya.
Kenapa orang begitu sulit memahamiku? Ia bertanya-tanya sambil mulai memasukkan potongan-potongan buah ke dalam mulutnya. Ia hanya ingin hidup normal.
Hidup normal itu memangnya yang seperti apa lagi? tanya teman bisnisnya. Bagi temannya itu, bila kau bisa menikah dengan orang kaya dan kau dapat membeli apa yang kauinginkan maka tak ada hidup yang lebih normal itu. Ia menggigit bibirnya yang sekarang beraroma buah. Bukan, sama sekali bukan itu yang ia inginkan tentang hidup ini. Kau hanya perlu menurut dan tidak membantah, Tali, kata ibunya dan kata-kata itulah yang membuat ia menikah dengan lelaki itu sebab ia tahu apa pun yang diberikan ibunya pasti sesuatu yang baik dan itu memang benar adanya, lelaki itu selalu ingin membahagiakannya dan tak sekali pun menyakiti hatinya.
Ia menusuk-nusuk potongan buah dengan garpu dan merasa putus asa. Ke mana lagi ia harus berlari dari kehidupan bahagia ini? Di manakah ia bisa mendapatkan luka? Cukup beberapa buah luka. Sesulit itukah ia mendapatkannya?
Kalau mau, kau boleh ikut bersamaku, kata anak lelaki yang berdiri dengan satu kaki dan sebelah badannya ditopang oleh tongkat kayu. Anak lelaki itu tinggal tidak jauh dari rumah mereka dan sering mengikutinya saat ia main sepeda. Kata ibunya, Tali, hati-hati dengan anak itu, dia bukan orang baik, dia bisa melukaimu. Ia tidak melihat ada yang salah dengan anak lelaki itu, tapi ia tahu apa yang dikatakan ibunya pasti benar. Ia tidak pernah lagi main sepeda. Lelaki itu berhenti menantinya di pinggir jalan. Ia meneruskan hidupnya yang bahagia dan berteman dengan orang-orang yang sempurna. Bahagia selamanya, doa ibu dan bapaknya di hari pernikahannya. Bahagia selamanya, doa semua orang yang datang. Dan pada hari itu tidak ada yang tahu jika perasaannya sangat hambar menerima doa semacam itu, sebab ia ingin sekali merasakan hidup yang seutuhnya, merasakan senang dan sakit, merasakan menang dan kalah.
Potongan buah di piringnya sudah hancur. Ia tak berselera lagi memasukkannya ke mulut. Sambil menarik napas, ia berdiri dari kursinya. Hari ini ia akan kembali keluar—dan mungkin selama beberapa hari dan ia tak perlu memberi tahu suaminya. Lelaki itu memaklumi apa saja yang ia lakukan. Lelaki itu sudah lama tidak mempermasalahkan apa pun. Asal kau bahagia, kata lelaki itu setiap mereka membincangkan tentang kepergian-kepergian mendadak yang sering ia lakukan. Aku bukan mencari kebahagiaan, katanya dalam hati dan sengaja tidak mau berbantahan di waktu yang tidak tepat karena pertengkaran tidak boleh terjadi dalam keluarga mereka yang sempurna.
Ia sedang tak mau mengurus apa-apa dan pergi jauh dari kehidupannya merupakan perjalanan yang paling sering ia inginkan. Bisnisnya berjalan baik di bawah pengawasan rekan sekaligus temannya—seandainya berjalan tidak baik pun, ia tak mau peduli. Ia justru senang jika ada bagian dari hidupnya yang sedikit hancur, meski tentu saja suaminya tak akan membiarkannya merasakan kehancuran itu dan buru-buru membantu menyelesaikan semuanya tanpa pernah tahu kalau itu tidak diharapkannya.
Satu-satunya kesempatan baginya untuk membuat ia tidak bahagia adalah berada jauh dari pasangan baik hatinya, dari dua anak lelaki yang sedang gemar-gemarnya main sepeda, dari teman-teman yang menganggap apa-apa yang ia pikirkan tidak masuk akal,  dari ibu atau bapaknya yang tak henti-henti mengucapkan doa terbaik untuk hidupnya.
Ia pun bangkit dari kursinya. Ia berpikir harus segera berkemas dan keluar. Mungkin ia harus pergi lagi ke sebuah pulau. Ia telah terlalu sering membayangkan mengapung di atas lautan dan serombongan hiu menyerangnya. Ia belum pernah berhadapan dengan ancaman sebesar itu. Ia mungkin akan menangis karena akhirnya ia merasa ketakutan setengah mati dan  hatinya betul-betul menjadi tidak bahagia.
Hiu-hiu masih berkeliaran dalam pikirannya, bahkan bertambah banyak, saat seseorang membunyikan bel di pintu pagar rumahnya. Ia bergerak keluar dan berseru, Siapa?
Seorang pengantar paket membawa sebuah kejutan berupa buket bunga raksasa yang disertai tulisan: semoga bahagia selalu, Tali. (*)

Rumah Kinoli, 2017

Rabu, 01 November 2017

Kutipan Silariang

Jika manusia melarikan diri karena melupakan cinta, ia harus pulang karena mengingat cinta. (hlm. 174)

“Tapi ini harga diri. Darah kita bukan darah bangswan. Kamu mau Bapak keluar uang, beli darah supaya bisa ko menikah sama dia? Kita injak-injak harga diri-ta? Untuk apa? Cinta?” (hlm. 32)

“Ini bukan masalah uang. Bukan masalah darah. Atau harga diri. Ini masalah cinta. Kita ini orangtua. Tugas kita adalah mencintai anak kita. Meridai mereka, seberapa pun bodohnya pilihan mereka.” (hlm. 56)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Restu ibu itu kunci surga. (hlm. 21)
  2. Tidak ada cinta yang salah. (hlm. 63)
  3. Seringkali waktu menjadi jawaban bagi banyak keraguan. Tidak seharusnya waktu hanya berfungsi membuat kita menua. Ia seharusnya mematangkan. Mendewasakan. (hlm. 81)
  4. Kesedihan ternyata tak harus selalu diwakili oleh sedu-sedan. (hlm. 113)
  5. Kalau bukan karena cinta, untuk apa saya tinggalkan itu semua? (hlm. 133)
  6. Bukan darah dan uang yang menyelamatkan sebuah keluarga, tapi cinta. (hlm. 134)
  7. Tak ada yang bisa menggambarkan perasaan ibu yang menihilkan dosa yang dibawa pulang anaknya. (hlm. 187)
Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Untuk apa menikahi sesama bangsawan kalau tidak cinta? (hlm. 22)
  2. Apakah memang pernah ada jawaban yang pasti untuk cinta? (hlm. 31)
  3. Untuk apa hidup kalau tanpa cinta? (hlm. 40)
  4. Ini bukan masalah harga diri. Ini masalah cinta. (hlm. 48)
  5. Adat itu peninggalan leluhur. Dibuat untuk kebaikan manusia. Untuk apa kaulawan? Kau tidak akan menang. (hlm. 92)
  6. Dimana letak kebaikannya melarang orang menikah karena beda derajat? (hlm. 93)
  7. Tak ada laki-laki dan perempuan yang bisa bersahabat sedemikian dekat tanpa jatuh cinta. Tak ada. Mereka bersahabat, mereka jatuh cinta. Sesederhana itu mematikannya. Namun, tidak sesederhana itu dampaknya. (hlm. 115)
  8. Waktu dan kemiskinan memang kejam pada tubuh manusia, keduanya sanggup menyulap siapa pun jadi tampak buruk rupa. (hlm. 145)
  9. Adat mengajarkan anak meminta maaf pada orangtua dengan mencium lutut mereka. (hlm. 186)

Selasa, 31 Oktober 2017

Pohon Randu Wangi


Cerpen Teguh Afandi (Pikiran Rakyat, 29 Oktober 2017)
Perjalanan ilustrasi Fahrul Satria Nugraha - Pikiran Rakyat.jpg
Perjalanan ilustrasi Fahrul Satria Nugraha/Pikiran Rakyat
“AKU pasti pulang, Ibu.”
Tanpa harus kusampaikan, janji itu kutanam bersama dengan sebiji randu di pekarangan depan. Kuharapkan janji itu akan tumbuh bersama akar-akar randu. Menguat dan kokoh tidak goyah. Lalu pada masanya ketika dia pulang, pohon itu akan tumbang bersama rindu yang sudah lunas terbayar. Semacam dendang gembira Pak Tani mendorong luku di persawahan.
KUDEKAP erat potret sepia terbingkai figura. Beberapa bagian geripis digerus usia. Kuelus sebingkai foto, seperti mengelus pipinya yang gempil dan jerawat ranum yang tumbuh di sekitar hidung. Rindu sudah sedemikian menyerangku. Aku tak lagi bisa mengontrol jatuhnya air rnata. Hingga tanpa harus terisak-isak dan meraung-raung, air mataku menuruni tulang pipi hingga membasahi dagu. Aku benar-benar rindu.
Walaupun rabun, masih bisa kuamati saksama pohon randu yang sedemikian tua itu. Pohon randu alih wujud gundukan rinduku padanya. Akarnya mulai keropos dan berongga. Kadang kala kusaksikan dari rongga di pokok randu itu, muncul hewan melata. Mungkin sanca atau boa yang menyeret hasil buruan berupa tikus dan anak ayam. Kapuk-kapuk yang dahulu biasa kupanen dan kujual sebagai isian kasur bantal, kini sudah lama tidak muncul. Memang masih berbunga, tetapi usia tua seolah tak lagi kuasa menjaga karuk yang merimbuni dahan. Kini pohon randu hanya menyisakan ranting-ranting kering dan lelah menopang sisa daun. Hijau keabu-abuan.
“Lik Pasini, bagaimana boleh ditebang?”
Lamunanku buyar. Kuletakkan figura di meja hati- hati. Tanganku bergetar. Menik berdiri di depan pintu menunggu jawabanku. Tangannya disangkutkan di pinggang. Dia sudah berkali-kali menyampaikan, mau tidak mau, pohon randu itu akan ditebang. Apa gunanya menyimpan sebatang pohon randu yang untuk mempertahankan hidupnya saja sudah kembang kempis? Pohon randu itu juga sudah urung menghasilkan kapuk. Pohon tua tak berbuah tak elok dipertahankan lama-lama. Seperti memelihara babon ayam tanpa pernah menghasilkan telur. Tak menguntungkan. Justru bisa mencelakakan.
Menik berhasrat sekali merubuhkannya. Rumah Menik bersebelahan dengan rumahku. Hanya dibatasi pagar dari perdu beluntas yang menempel di toko kelontong dan gudang gas elpiji miliknya. Setiap hari Selasa, akan ada truk besar datang mengganti tabung kosong dengan tabung hijau-biru baru.
“Menik, anakku belum kembali.” Aku membela.
“Kalau nanti pulang, suruh dia menanam durian saja. Atau jati. Harganya jutaan bila dijual,” tukas Menik.
Kukulurn bibir bawah. Kurasakan kasar keriputnya. Dulu bibir ini biasa kupulas gincu. Banyak lelaki tertarik dengan ranum bibirku. Sekarang, tidak ada yang suka dengan bibir kering dan keriput meski dipulas dengan rona merah merona.
“Menik, kalau kamu butuh untuk kayu bakar, ambil saja. Suruh suamimu memotong dahan-dahan tua.”
“Lik Pasini, sekarang sudah nggak zaman pakai kayu bakar. Gas yang lebih bersih. Anti jelaga.”
“Kalau begitu, tunggu saja sampai anakku kembali. Biar dia yang menebangnya sendiri.”
“Pohon itu sudah tua, Lik Pasini.”
Tetapi kenangan dan sedompol rinduku masih ada di pohon randu itu. Kalimat itu berhenti di langit-langit mulut. Dan yang keluar justru, “lalu untuk apa harus ditebang buru-buru?”
“Apa membuat anak tertimpa sempalan batang dan harus dijahit kepalanya, atau jadi sarang sanca, tidak cukup untuk membuatmu rela merubuhkannya? Bisa jadi pohon randumu jadi istana genderuwo dan wewegombel.” Kalimat Menik terdengar sangat keras. Dadaku sesak mendengarnya, seperti ada ketam yang diam-diam mencungkili setiap bagiannya.
Aku mafhum sifat dan tujuan Menik menebang pohon randu. Wataknya tidak jauh berbeda dengan ibunya yang culas. Meskipun aku dan Menik tetangga berimpit, tetap saja aku jadi sasaran perilaku licik Menik. Dia selalu berusaha mengambil untung dariku yang meski lemah tetapi belum pikun ini. Aku memang sudah lemah untuk menjaga tanah dan merawat rumah. Menik memanfaatkan semua itu. Merasa berada di atas, ketika harus melawanku.
Dulu pernah beberapa petugas listrik dan telefon berseragam mendatangiku. Mereka meminta izin untuk menebang pohon nangka dan pakel di pekarangan sisi jalan besar. Akan didirikan tiang listrik dan telepon baru. Aku setuju saja. Kesempatan itu menguntungkan Menik. Kedatangan chain saw, dimanfaatkan Menik untuk menggunduli lima batang pohon jati di halaman belakang. Lalu tanpa meminta izin, menjualnya sebagai modal mendirikan warung. Aku lebih memilih diam. Buat apa beradu mulut dengan Menik yang sudah kupastikan akan menang bila melawanku? Aku lebih ingin legawa dengan tidak membebani perasaanku sendiri.
Maka keinginannya menebang pohon randu tentu memiliki motif yang menguntungkan baginya. Saat pohon randu besar yang tepat di pagar antara rumahku dengan Menik tumbang, dia tentu dengan leluasa menggeser patok tanahnya. Bisa kupastikan setelah pohon randu tua itu menghilang, luas tanah Menik akan bertambah luas.
“Pohon itu sudah membahayakan banyak orang,” Menik menguatkan. Kini nada bicaranya diperhalus. Tapi semakin direndahkan, nadanya menghunjam ke dadaku.
Seminggu lalu seorang tukang tambal panci mengomeliku. Batang randu yang melengkung di jalan tiba-tiba sempal dan jatuh tepat di depannya. Meski batang itu tidak sempat membuat kepalanya robek, tetapi ranting yang mencuat menjatuhkan topi dan membuatnya kaget dan memaki. Dia mengatakan kalau sudah tua dan tidak lagi bisa digunakan, sebaiknya ditebang. Buat apa memelihara pohon randu tua yang aku sendiri tak mampu menjaganya dan justru jadi petaka bagi orang lain. Aku hanya diam. Kalimat-kalimat cadasku sudah habis. Hanya tersisa kalimat maaf yang terus kuulang agar tukang tambal panci itu mengikhlaskan salahku.
“Menik, tunggulah. Sebentar lagi anakku pulang.”
“Kapan?”
Aku bisu.
“Lik Pasini, sebelum musim penghujan pohon itu harus ditebang. Kalau tidak, bisa membahayakan. Pohon tua itu bisa rubuh diterjang angin.”
***
ANAKKU tak ubahnya anak-anak muda di kampung ini. Beranggapan bahwa kota akan membuat mereka kaya. Sawah, ladang, dan kebun tak menjanjikan di mata mereka. Biarlah orang-orang tua, semacam aku, yang mengurus dan bila sudah tak mampu, tanah-tanah itu akan dijual pula oleh mereka yang mencintai kota melebihi kasur tempat darahnya tumpah pertama.
Aku sadar betul, meski dia lahir dari rahimku. Dia sejatinya anak alam dan nalurinya adalah mengembara. Apa yang bisa aku pertahankan, bila kemerdekaan baginya adalah muara kebahagiaan?
Janji untuk sesekali pulang, janji untuk sesekali mengirimi pesan, janji untuk kembali turun ke persawahan. Semua seperti gelembung sabun yang diembus angin. Dia yang kusayang-sayang, bahkan tak tampak membela saat Menik semakin merangsek memaksakan kehendak.
“Lik Pasini!” Menik teriak dari pekarangan.
Aku berjalan perlahan menahan kakiku yang gemetar. Aku berdiri bersandar di pintu.
“Ini lihat. Suamiku menangkap kobra dari rongga pohon randumu.”
Bangkai ular itu digenggamnya. Lalu dilempar persis di depan kakiku. Itu bukanlah ular yang kecil dan bisanya tentu cukup mengakhiri nyawa belasan orang.
“Lusa mereka akan datang. Mau tidak mau pohon randu itu harus ditebang. Aku tidak mau anakku dipatok ular atau kejatuhan cabang pohon.”
“Menik….” Belum rampung kalimatku, Menik sudah menimpali dengan kalimat-kalimat bernada tinggi.
Menik melengos balik, menuju rumahnya. Aku tidak enak hati menjawab semua perkataannya. Mata para tetangga seperti besi berani yang jeli dan teliti menangkap semua berita. Dengan tidak sabar lantas menyebarkannya ke semua penjuru.
Seharian aku duduk menatap pohon randu itu. Semakin lama waktu memaksa semuanya menjadi tua. Hanya sekantung rindu yang kutanam yang akan terus menunggu kapan dia pulang.
***
DI luar, suara mesin mobil berhenti. Itu pasti penebang sewaan dengan chain saw suruhan Menik. Puluhan tahun lalu ketika aku masih segar bugar saja, tidak bisa kutahan anakku pergi jauh. Dan tidak kembali. Apalagi sekarang. Mana mungkin aku bisa menghentikan semua keinginan Menik, ketika kakiku goyah tak mampu menopang badan.
Dengan tenaga yang tak seberapa, aku pergi keluar. Ingin kusaksikan pohon randu itu jatuh. Ingin kulihat bagaimana wujud rindu yang dahulu kutanam bersama biji randu.
Suara mesin gergaji menderu. Tambang-tambang dikaitkan agar pohon randu itu jatuh di pekarangan rumahku yang lapang. Jangan sampai merubuhi warung Menik atau melintang di jalan. Tak butuh berjam-jam, mesin chain saw berhasil membuat pokok randu goyang. Lalu sebentar sudah benar-benar jatuh berdebam di pekarangan. Ranting-ranting dipotong-potong. Menik dan suaminya mengumpulkan potongan-potongan itu dengan rupa bahagia. Dalam hati pasti mereka bahagia, karena semua berjalan sesuai rencana.
Air rnataku jatuh. Rindu itu sekarang sudah rubuh. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menanti dia pulang dan menjaga rindu di tunggak randu. Dadaku penuh oleh kesedihan. Dari pokok rindu itu terlihat sayap-sayap kecil beterbangan.
“Kok randu ini beraroma wangi?” Menik sekilas mencium aroma itu. Namun dada Menik sudah kadung dibuncahi bahagia, hingga enggan memedulikan wangi itu terlalu lama menusuk indera penciuman. Bahkan Menik tak lagi mau melirik diriku.***

Catatan:
Luku: alat bajak.
Karuk: nama bunga pohon randu.

Pohon Belum Bersirkus


Oleh Udji Kayang Aditya Supriyanto (Koran Tempo, 07-08 Oktober 2017)
Sirkus Pohon ilustrasi Bentang.jpg
Sirkus Pohon ilustrasi Bentang
Nama Andrea Hirata masih menjanjikan. Novel terbarunya, Sirkus Pohon, sudah laris bahkan sejak novel tersebut belum berjudul. Novel itu diluncurkan pada 15 Agustus lalu dan pada tanggal itu juga judul novel Andrea baru diungkapkan.
Sebelumnya, novel itu sudah ramai dipromosikan meski memakai nama sementara: #KaryaKe10Andrea. Promosi novel Andrea meliputi agenda Berburu Karya Andrea dan Nyanyian untuk Pak Cik. Kendati khalayak sama sekali belum tahu novel seperti apa yang dikarang Andrea, mereka banyak yang tertarik dan memesan (pre-order) novel semata-mata karena “nama besar” pengarangnya!
Memang, Andrea mesti diakui sebagai pengarang penting di Indonesia, walau ia cenderung berjarak dari lingkungan sastra kita. Andrea menempuh pendidikan ekonomi, alih-alih sastra, bahasa, apalagi filsafat. Namun ia dianugerahi keberuntungan ilahiah, langsung dari Tuhan, yakni dilahirkan di Gantung, Belitung Timur. Dengan itu, ia tumbuh dalam konteks sosial yang menarik untuk dinarasikan melalui novel. Tak pelak, Laskar Pelangi (2005) yang ditulisnya meraih perhatian luar biasa di dalam dan luar negeri, entah oleh pembaca maupun penonton film yang diadaptasi dari novel itu. Kesuksesan Laskar Pelangi kemudian Andrea jinjing melulu, disematkan sebagai instrumen promosi novel-novel berikutnya, termasuk Sirkus Pohon.
Konon, menurut keterangan Andrea, Sirkus Pohon itu novel terbaik yang pernah dikarangnya. Ia mengakui, “Buku ini memberi saya kesan this is it, memberi saya kesan apa yang ingin saya sampaikan selama ini sebagai seorang penulis, memberi saya kesan sudah lama saya ingin menulis seperti ini.” Novel yang nantinya terbit sebagai trilogi itu dikerjakan dalam tempo relatif panjang. Andrea memerlukan riset selama empat tahun, sampai-sampai mesti berkunjung ke Tahiti untuk belajar tentang pohon delima. Proses penulisan sendiri berlangsung selama dua tahun. Enam tahun waktu pengerjaan itu pun dibayang-bayangi kesuksesan Laskar Pelangi. Novel-novel sebelum Sirkus Pohon terbukti gagal melampaui pencapaian novel perdananya itu.
Sirkus Pohon, sebagai “this is it” Andrea, menanggung beban berat untuk menjaga reputasinya yang bertaraf internasional. Hanya, tak banyak hal baru yang Andrea tawarkan dalam novel itu. Sirkus Pohon masih berlatar tempat di kampung Melayu pedalaman. Andrea lagi-lagi mengisahkan perjalanan menuju sukses dari bocah hingga dewasa. Bedanya, jika Laskar Pelangi bertokoh bocah-bocah yang dapat lanjut sekolah, Sirkus Pohon mengisahkan mereka yang putus sekolah. Dalam hal ini, rasionalitas menjadi tantangan besar Andrea. Sebab, ia telah memilih jalur realisme, yang dalam terminologi Andrea sendiri, “fiksi, cara terbaik menceritakan fakta.” Meski begitu, sekian peristiwa dalam Sirkus Pohon terasa picisan dan sulit diterima sebagai fakta sosial yang mungkin terjadi.
Kebaruan yang ditawarkan Andrea barangkali pretensinya berbicara politik, meski dalam lingkup kampung. Politik bukan semata-mata selipan atau selingan. Politik hadir di sekujur novel, sebagai pangkal peristiwa dalam Sirkus Pohon. Politik dimaknai Andrea secara praktis, yakni pemilihan kepala desa Kampung Ketumbi. Kendati begitu, peristiwa hidup Sobridin (tokoh utama novel) sendiri sebetulnya ditentukan oleh konspirasi politis Taripol Mafia dan Abdul Rapi. Andrea mempertemukan kita pada peristiwa yang mengesankan dan cukup memberikan efek kejut di akhir novel. Sayangnya, humor-humor yang bertaburan di sela-sela peristiwa tak begitu mengundang tawa. Andrea cenderung mengulang beberapa humor yang sama, Debuludin yang “berdebu-debu” misalnya.
Kebaruan lain yang Andrea tawarkan adalah teknik. Ia tidak menggunakan teknik komparasi dan analogi sebagaimana novel-novel sebelumnya, melainkan teknik yang ia sebut “sintesis”. Andrea memberi penjelasan, “Novel ini tidak bisa digambarkan dengan gamblang karena menulisnya dengan teknik ‘sintesis’. Maksud saya adalah, ini sudah membandingkan hal-hal yang tidak berhubungan.” Andrea menyajikan sekian peristiwa yang berlainan ruang dan waktu, masing-masing bertokoh Sobridin, Dinda, Tara beserta ibu dan sirkus keliling, Tegar, Gastori, dan Taripol. Sekian peristiwa bergantian tampil. Memang, dari peristiwa satu ke peristiwa dua dan seterusnya, terasa tidak berhubungan. Namun Andrea justru meruntuhkan ketakterhubungan itu sendiri di akhir novel untuk menunjukkan bahwa setiap peristiwa sebetulnya berhubungan.
Penentuan judul Sirkus Pohon sebetulnya problematis. Dalam novel itu memang ada pohon dan ada sirkus, bahkan menjelang akhir novel ditunjukkan pohon untuk berada di tengah-tengah sirkus. Namun penampilan pohon delima dalam novel itu kurang atraktif untuk mendefinisikan Sirkus Pohon. Sebetulnya, Andrea menyatakan, “Novel ini merupakan Laskar Pelangi dalam bentuk lain, bukan dalam karakter utama Ikal, Mahar, dan Lintang. Namun Laskar Pelangi dengan karakter utama sebatang pohon delima.”
Pernyataan Andrea bahwa tokoh utama Sirkus Pohon adalah sebatang pohon kurang bisa diterima. Pohon agak terlambat dihadirkan sebagai entitas penting. Pohon itu pun kurang berperan penting. Kalaupun berperan, pohon itu cuma dijadikan instrumen, bukan tokoh utama sebagaimana yang Andrea nyatakan.
Ada baiknya Andrea agak rendah hati dan mau belajar kepada novelis muda, semisal Faisal Oddang atau Ziggy Zezs yazeoviennazabrizkie, dalam menarasikan pohon. Meski tetap ada cela pada setiap novel mereka: Puya ke Puya (2015) dan Semua Ikan di Langit (2017), toh Faisal dan Ziggy relatif sukses menarasikan pohon sebagai tokoh dengan baik. Ziggy mengizinkan pohon dalam novelnya berdialog dengan tokoh-tokoh lain, sedangkan Faisal sanggup menempatkan pohon pada posisi sentral dalam kisah. Dua penulis muda itu menautkan pohon pada hal-ihwal religius, menarasikan proses kehidupan dan penciptaan. Andrea justru mengaitkan pohon dengan industri hiburan, dan risikonya adalah ketidaksanggupan mengagungkan pohon di semesta Sirkus Pohon. Jika benar nantinya Sirkus Pohon mewujud trilogi, kita doakan saja agar Andrea mampu menambal lubang-lubang Sirkus Pohon di novel berikutnya.

JUDUL: Sirkus Pohon
PENGARANG: Andrea Hirata
PENERBIT: Bentang
CETAKAN: Pertama, Agustus 2017
TEBAL: 410 halaman

Udji Kayang Aditya Supriyanto, pembaca sastra dan pengelola Bukulah!

Bedhol Desa

Cerpen Anton Erlangga Aditama (Kedaulatan Rakyat, 29 Oktober 2017)
Bedhol Desa ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Bedhol Desa ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
INI hari ‘bedhol desa’ alias pindahan serentak secara bersama-sama satu desa. Aku bukan main senangnya. Pagi-pagi sekali, dengan kecepatan seorang pelari, aku mengepak semua barang-barangku nyaris hanya dalam sekejap mata. Baju, komputer, buku-buku pelajaran, semuanya sudah terbungkus rapi di dalam kardus dan ditata sesuai ukuran.
Kulonprogo akan punya bandara baru. Aku dan keluargaku akan tinggal di rumah baru. Lahan di desa kami “terpaksa” kena gusur, tapi aku bersyukur sekali karenanya. Belum pernah aku sebahagia ini semenjak Ayah membelikanku sebuah kamera Canon Rebel yang sudah lama kuidamkan!
Aku tidak mengerti mengapa orang-orang di desaku begitu sedih dengan hal ini, sama halnya dengan seluruh anggota keluargaku. Baiklah, orang lain mungkin punya rumah yang keren, dengan garasi dan langit-langit. Tapi, siapa sih yang akan merindukan gubuk mereka ini?
Aku tahu Ibu, Ayah, dan kakakku berlama-lama mengepak barang-barang mereka, tapi sekarang sudah jam sepuluh. Acara bedhol desa akan dimulai setengah jam lagi, dan aku bahkan belum melihat satu kardus pun selain milikku di teras rumah. Ini sudah kelewatan.
“Kau ngapain sih?” Aku mendamprat kakak perempuanku, Trisna, yang bukannya melipat kaus kaki yang bertebaran di sekitarnya, malah duduk melamun menatap kosong pada jendela. “Kenapa belum selesai?” tuntutku.
“Hampir,” katanya, tapi ia masih bergeming. “Mau kubantu?” Aku mengusulkan, melangkah masuk. “Nggak, pergi sana.” Trisna tidak menatapku ketika mengatakannya. Ia sengaja berlambat-lambat saat memunguti kaus kaki.
“Cepatlah.” kataku tak sabar. Mungkin aku terdengar menyebalkan, tapi selama sepersekian detik aku benar-benar tidak peduli.
Lahan relokasi rumah kami berjarak kira-kira setengah jam perjalanan dari sini. Sementara itu aku menunggu di ruang tamu yang kosong, benar-benar tidak ada apa-apa di sana. Barang-barang lain yang lebih berat telah dipindahkan sehari sebelumnya.
Sepuluh menit berlalu dengan lambat ketika belum ada tanda-tanda bahwa orang tua atau kakakku akan segera selesai. Ada apa sih dengan orang-orang ini?
Aku memandang berkeliling ruangan, dan pandanganku jatuh pada sebuah celah selebar dua inci di bagian dinding yang retak. Dulu aku pernah menyembunyikan surat cinta untuk Trisna yang dititipkan padaku dari seorang pemuda yang tak bisa kuingat namanya. Ia marah besar ketika tahu, tapi sudah terlambat bertahun-tahun hingga tak mungkin untuk membalasnya
Dari dalam ruang tamu aku mengamati teras, di mana ibu biasa menunggu tukang sayur sementara ia menjahit. Satu kali dulu, tepat di keset itu, Trisna pernah menangis di pangkuan Ibu karena dia turun ke peringkat dua di kelas. Jika aku berpikir aku takkan merindukan rumah ini, ternyata aku keliru.
Ayah muncul dari ruang tengah, membawa sebuah kardus besar dan segepok kunci. Dengan menghela napas ia meletakkan kardusnya dan menatap kunci-kunci itu. Bandulnya di koleksi dari berbagai pasar malam yang dihadiri kami.
Sejenak Ayah kelihatan ragu-ragu, apakah mereka perlu mengunci rumah? Dan ekspresi yang tersirat di wajahnya membuatku tidak tahan.
“Kita akan tinggal di rumah yang lebih bagus,” kataku lirih, lebih kepada diri sendiri alih-alih untuk menghibur Ayah.
Ketika keluar lewat pintu depan rumah kami, aku menyadari bahwa itulah terakhir kalinya aku akan pernah melewatinya.
Aku takkan lagi berebut dengan Trisna untuk membukakan pintu ketika Ayah pulang di hari Sabtu membawa martabak. Pintu itu telah menjadi saksi pada banyak kesempatan di mana aku berpamitan dengan Ibu ke sekolah, dan anak cucuku nanti takkan menyadari betapa bersejarahnya bel pintu rumah kami karena besok pagi semua akan roboh, rata dengan tanah.
Aku duduk bersimpuh di antara kardus-kardusku dan menangis. Di teras ini, takkan ada lagi permainan catur satu lawan satu antara aku dan Ayah.
Aku takkan pernah lagi melihat Trisna pura-pura duduk memeluk buku, sementara ia menunggu pemuda anak tetangga sebelah yang ditaksirnya lewat. Ibu dan Ayah muncul dari dalam dan tersenyum penuh pengertian. Trisna ada di belakang mereka. Lalu sebuah pemahaman lain muncul di benakku.
Aku masih punya mereka, pikirku. Tak ada yang perlu disesali, rumah mereka nanti akan sama hangatnya dengan yang ini.
“Ya Tuhan,” Trisna geleng-geleng. Ia kelihatan puas sekali, seringainya benar-benar menyebalkan. “Kupikir kau senang kita akhirnya pindah?” Aku mengingatkan diriku untuk menggeplak kepalanya jika ada kesempatan.
Sambil memunguti harga diriku yang berserakan, aku menyeka airmataku dan mengangguk, “Memang,” kataku kaku. Aku bangkit dan berjalan menenteng kardus dengan angkuh, memimpin rombongan. q-e