Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Jika manusia melarikan diri karena melupakan cinta, ia harus pulang karena mengingat cinta. (hlm. 174)
“Tapi ini harga diri. Darah kita bukan darah bangswan. Kamu mau
Bapak keluar uang, beli darah supaya bisa ko menikah sama dia? Kita
injak-injak harga diri-ta? Untuk apa? Cinta?” (hlm. 32)
“Ini bukan masalah uang. Bukan masalah darah. Atau harga diri.
Ini masalah cinta. Kita ini orangtua. Tugas kita adalah mencintai anak
kita. Meridai mereka, seberapa pun bodohnya pilihan mereka.” (hlm. 56)
Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
Restu ibu itu kunci surga. (hlm. 21)
Tidak ada cinta yang salah. (hlm. 63)
Seringkali waktu menjadi jawaban bagi banyak keraguan. Tidak
seharusnya waktu hanya berfungsi membuat kita menua. Ia seharusnya
mematangkan. Mendewasakan. (hlm. 81)
Kesedihan ternyata tak harus selalu diwakili oleh sedu-sedan. (hlm. 113)
Kalau bukan karena cinta, untuk apa saya tinggalkan itu semua? (hlm. 133)
Bukan darah dan uang yang menyelamatkan sebuah keluarga, tapi cinta. (hlm. 134)
Tak ada yang bisa menggambarkan perasaan ibu yang menihilkan dosa yang dibawa pulang anaknya. (hlm. 187)
Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:
Untuk apa menikahi sesama bangsawan kalau tidak cinta? (hlm. 22)
Apakah memang pernah ada jawaban yang pasti untuk cinta? (hlm. 31)
Untuk apa hidup kalau tanpa cinta? (hlm. 40)
Ini bukan masalah harga diri. Ini masalah cinta. (hlm. 48)
Adat itu peninggalan leluhur. Dibuat untuk kebaikan manusia. Untuk apa kaulawan? Kau tidak akan menang. (hlm. 92)
Dimana letak kebaikannya melarang orang menikah karena beda derajat? (hlm. 93)
Tak ada laki-laki dan perempuan yang bisa bersahabat sedemikian
dekat tanpa jatuh cinta. Tak ada. Mereka bersahabat, mereka jatuh cinta.
Sesederhana itu mematikannya. Namun, tidak sesederhana itu dampaknya.
(hlm. 115)
Waktu dan kemiskinan memang kejam pada tubuh manusia, keduanya sanggup menyulap siapa pun jadi tampak buruk rupa. (hlm. 145)
Adat mengajarkan anak meminta maaf pada orangtua dengan mencium lutut mereka. (hlm. 186)
Cerpen Teguh Afandi (Pikiran Rakyat, 29 Oktober 2017) Perjalanan ilustrasi Fahrul Satria Nugraha/Pikiran Rakyat
“AKU pasti pulang, Ibu.”
Tanpa harus kusampaikan, janji itu kutanam bersama dengan sebiji
randu di pekarangan depan. Kuharapkan janji itu akan tumbuh bersama
akar-akar randu. Menguat dan kokoh tidak goyah. Lalu pada masanya ketika
dia pulang, pohon itu akan tumbang bersama rindu yang sudah lunas
terbayar. Semacam dendang gembira Pak Tani mendorong luku di persawahan.
KUDEKAP erat potret sepia terbingkai figura. Beberapa bagian geripis
digerus usia. Kuelus sebingkai foto, seperti mengelus pipinya yang
gempil dan jerawat ranum yang tumbuh di sekitar hidung. Rindu sudah
sedemikian menyerangku. Aku tak lagi bisa mengontrol jatuhnya air rnata.
Hingga tanpa harus terisak-isak dan meraung-raung, air mataku menuruni
tulang pipi hingga membasahi dagu. Aku benar-benar rindu.
Walaupun rabun, masih bisa kuamati saksama pohon randu yang
sedemikian tua itu. Pohon randu alih wujud gundukan rinduku padanya.
Akarnya mulai keropos dan berongga. Kadang kala kusaksikan dari rongga
di pokok randu itu, muncul hewan melata. Mungkin sanca atau boa yang
menyeret hasil buruan berupa tikus dan anak ayam. Kapuk-kapuk yang
dahulu biasa kupanen dan kujual sebagai isian kasur bantal, kini sudah
lama tidak muncul. Memang masih berbunga, tetapi usia tua seolah tak
lagi kuasa menjaga karuk yang merimbuni dahan. Kini pohon randu hanya
menyisakan ranting-ranting kering dan lelah menopang sisa daun. Hijau
keabu-abuan.
“Lik Pasini, bagaimana boleh ditebang?”
Lamunanku buyar. Kuletakkan figura di meja hati- hati. Tanganku
bergetar. Menik berdiri di depan pintu menunggu jawabanku. Tangannya
disangkutkan di pinggang. Dia sudah berkali-kali menyampaikan, mau tidak
mau, pohon randu itu akan ditebang. Apa gunanya menyimpan sebatang
pohon randu yang untuk mempertahankan hidupnya saja sudah kembang
kempis? Pohon randu itu juga sudah urung menghasilkan kapuk. Pohon tua
tak berbuah tak elok dipertahankan lama-lama. Seperti memelihara babon
ayam tanpa pernah menghasilkan telur. Tak menguntungkan. Justru bisa
mencelakakan.
Menik berhasrat sekali merubuhkannya. Rumah Menik bersebelahan dengan
rumahku. Hanya dibatasi pagar dari perdu beluntas yang menempel di toko
kelontong dan gudang gas elpiji miliknya. Setiap hari Selasa, akan ada
truk besar datang mengganti tabung kosong dengan tabung hijau-biru baru.
“Menik, anakku belum kembali.” Aku membela.
“Kalau nanti pulang, suruh dia menanam durian saja. Atau jati. Harganya jutaan bila dijual,” tukas Menik.
Kukulurn bibir bawah. Kurasakan kasar keriputnya. Dulu bibir ini
biasa kupulas gincu. Banyak lelaki tertarik dengan ranum bibirku.
Sekarang, tidak ada yang suka dengan bibir kering dan keriput meski
dipulas dengan rona merah merona.
“Menik, kalau kamu butuh untuk kayu bakar, ambil saja. Suruh suamimu memotong dahan-dahan tua.”
“Lik Pasini, sekarang sudah nggak zaman pakai kayu bakar. Gas yang lebih bersih. Anti jelaga.”
“Kalau begitu, tunggu saja sampai anakku kembali. Biar dia yang menebangnya sendiri.”
“Pohon itu sudah tua, Lik Pasini.”
Tetapi kenangan dan sedompol rinduku masih ada di pohon randu itu.
Kalimat itu berhenti di langit-langit mulut. Dan yang keluar justru,
“lalu untuk apa harus ditebang buru-buru?”
“Apa membuat anak tertimpa sempalan batang dan harus dijahit
kepalanya, atau jadi sarang sanca, tidak cukup untuk membuatmu rela
merubuhkannya? Bisa jadi pohon randumu jadi istana genderuwo dan
wewegombel.” Kalimat Menik terdengar sangat keras. Dadaku sesak
mendengarnya, seperti ada ketam yang diam-diam mencungkili setiap
bagiannya.
Aku mafhum sifat dan tujuan Menik menebang pohon randu. Wataknya
tidak jauh berbeda dengan ibunya yang culas. Meskipun aku dan Menik
tetangga berimpit, tetap saja aku jadi sasaran perilaku licik Menik. Dia
selalu berusaha mengambil untung dariku yang meski lemah tetapi belum
pikun ini. Aku memang sudah lemah untuk menjaga tanah dan merawat rumah.
Menik memanfaatkan semua itu. Merasa berada di atas, ketika harus
melawanku.
Dulu pernah beberapa petugas listrik dan telefon berseragam
mendatangiku. Mereka meminta izin untuk menebang pohon nangka dan pakel
di pekarangan sisi jalan besar. Akan didirikan tiang listrik dan telepon
baru. Aku setuju saja. Kesempatan itu menguntungkan Menik. Kedatangan chain saw,
dimanfaatkan Menik untuk menggunduli lima batang pohon jati di halaman
belakang. Lalu tanpa meminta izin, menjualnya sebagai modal mendirikan
warung. Aku lebih memilih diam. Buat apa beradu mulut dengan Menik yang
sudah kupastikan akan menang bila melawanku? Aku lebih ingin legawa
dengan tidak membebani perasaanku sendiri.
Maka keinginannya menebang pohon randu tentu memiliki motif yang
menguntungkan baginya. Saat pohon randu besar yang tepat di pagar antara
rumahku dengan Menik tumbang, dia tentu dengan leluasa menggeser patok
tanahnya. Bisa kupastikan setelah pohon randu tua itu menghilang, luas
tanah Menik akan bertambah luas.
“Pohon itu sudah membahayakan banyak orang,” Menik menguatkan. Kini
nada bicaranya diperhalus. Tapi semakin direndahkan, nadanya menghunjam
ke dadaku.
Seminggu lalu seorang tukang tambal panci mengomeliku. Batang randu
yang melengkung di jalan tiba-tiba sempal dan jatuh tepat di depannya.
Meski batang itu tidak sempat membuat kepalanya robek, tetapi ranting
yang mencuat menjatuhkan topi dan membuatnya kaget dan memaki. Dia
mengatakan kalau sudah tua dan tidak lagi bisa digunakan, sebaiknya
ditebang. Buat apa memelihara pohon randu tua yang aku sendiri tak mampu
menjaganya dan justru jadi petaka bagi orang lain. Aku hanya diam.
Kalimat-kalimat cadasku sudah habis. Hanya tersisa kalimat maaf yang
terus kuulang agar tukang tambal panci itu mengikhlaskan salahku.
“Menik, tunggulah. Sebentar lagi anakku pulang.”
“Kapan?”
Aku bisu.
“Lik Pasini, sebelum musim penghujan pohon itu harus ditebang. Kalau
tidak, bisa membahayakan. Pohon tua itu bisa rubuh diterjang angin.”
***
ANAKKU tak ubahnya anak-anak muda di kampung ini. Beranggapan bahwa
kota akan membuat mereka kaya. Sawah, ladang, dan kebun tak menjanjikan
di mata mereka. Biarlah orang-orang tua, semacam aku, yang mengurus dan
bila sudah tak mampu, tanah-tanah itu akan dijual pula oleh mereka yang
mencintai kota melebihi kasur tempat darahnya tumpah pertama.
Aku sadar betul, meski dia lahir dari rahimku. Dia sejatinya anak
alam dan nalurinya adalah mengembara. Apa yang bisa aku pertahankan,
bila kemerdekaan baginya adalah muara kebahagiaan?
Janji untuk sesekali pulang, janji untuk sesekali mengirimi pesan,
janji untuk kembali turun ke persawahan. Semua seperti gelembung sabun
yang diembus angin. Dia yang kusayang-sayang, bahkan tak tampak membela
saat Menik semakin merangsek memaksakan kehendak.
“Lik Pasini!” Menik teriak dari pekarangan.
Aku berjalan perlahan menahan kakiku yang gemetar. Aku berdiri bersandar di pintu.
“Ini lihat. Suamiku menangkap kobra dari rongga pohon randumu.”
Bangkai ular itu digenggamnya. Lalu dilempar persis di depan kakiku.
Itu bukanlah ular yang kecil dan bisanya tentu cukup mengakhiri nyawa
belasan orang.
“Lusa mereka akan datang. Mau tidak mau pohon randu itu harus
ditebang. Aku tidak mau anakku dipatok ular atau kejatuhan cabang
pohon.”
“Menik….” Belum rampung kalimatku, Menik sudah menimpali dengan kalimat-kalimat bernada tinggi.
Menik melengos balik, menuju rumahnya. Aku tidak enak hati menjawab
semua perkataannya. Mata para tetangga seperti besi berani yang jeli dan
teliti menangkap semua berita. Dengan tidak sabar lantas menyebarkannya
ke semua penjuru.
Seharian aku duduk menatap pohon randu itu. Semakin lama waktu
memaksa semuanya menjadi tua. Hanya sekantung rindu yang kutanam yang
akan terus menunggu kapan dia pulang.
***
DI luar, suara mesin mobil berhenti. Itu pasti penebang sewaan dengan chain saw
suruhan Menik. Puluhan tahun lalu ketika aku masih segar bugar saja,
tidak bisa kutahan anakku pergi jauh. Dan tidak kembali. Apalagi
sekarang. Mana mungkin aku bisa menghentikan semua keinginan Menik,
ketika kakiku goyah tak mampu menopang badan.
Dengan tenaga yang tak seberapa, aku pergi keluar. Ingin kusaksikan
pohon randu itu jatuh. Ingin kulihat bagaimana wujud rindu yang dahulu
kutanam bersama biji randu.
Suara mesin gergaji menderu. Tambang-tambang dikaitkan agar pohon
randu itu jatuh di pekarangan rumahku yang lapang. Jangan sampai
merubuhi warung Menik atau melintang di jalan. Tak butuh berjam-jam,
mesin chain saw berhasil membuat pokok randu goyang. Lalu
sebentar sudah benar-benar jatuh berdebam di pekarangan. Ranting-ranting
dipotong-potong. Menik dan suaminya mengumpulkan potongan-potongan itu
dengan rupa bahagia. Dalam hati pasti mereka bahagia, karena semua
berjalan sesuai rencana.
Air rnataku jatuh. Rindu itu sekarang sudah rubuh. Aku tidak tahu apa
yang harus kulakukan untuk menanti dia pulang dan menjaga rindu di
tunggak randu. Dadaku penuh oleh kesedihan. Dari pokok rindu itu
terlihat sayap-sayap kecil beterbangan.
“Kok randu ini beraroma wangi?” Menik sekilas mencium aroma itu.
Namun dada Menik sudah kadung dibuncahi bahagia, hingga enggan
memedulikan wangi itu terlalu lama menusuk indera penciuman. Bahkan
Menik tak lagi mau melirik diriku.***
Catatan: Luku: alat bajak. Karuk: nama bunga pohon randu.
Oleh Udji Kayang Aditya Supriyanto (Koran Tempo, 07-08 Oktober 2017) Sirkus Pohon ilustrasi Bentang
Nama Andrea Hirata masih menjanjikan. Novel terbarunya, Sirkus Pohon, sudah
laris bahkan sejak novel tersebut belum berjudul. Novel itu diluncurkan
pada 15 Agustus lalu dan pada tanggal itu juga judul novel Andrea baru
diungkapkan.
Sebelumnya, novel itu sudah ramai dipromosikan meski memakai nama sementara: #KaryaKe10Andrea. Promosi novel Andrea meliputi agenda Berburu Karya Andrea dan Nyanyian untuk Pak Cik. Kendati khalayak sama sekali belum tahu novel seperti apa yang dikarang Andrea, mereka banyak yang tertarik dan memesan (pre-order) novel semata-mata karena “nama besar” pengarangnya!
Memang, Andrea mesti diakui sebagai pengarang penting di Indonesia,
walau ia cenderung berjarak dari lingkungan sastra kita. Andrea menempuh
pendidikan ekonomi, alih-alih sastra, bahasa, apalagi filsafat. Namun
ia dianugerahi keberuntungan ilahiah, langsung dari Tuhan, yakni
dilahirkan di Gantung, Belitung Timur. Dengan itu, ia tumbuh dalam
konteks sosial yang menarik untuk dinarasikan melalui novel. Tak pelak, Laskar Pelangi (2005)
yang ditulisnya meraih perhatian luar biasa di dalam dan luar negeri,
entah oleh pembaca maupun penonton film yang diadaptasi dari novel itu.
Kesuksesan Laskar Pelangi kemudian Andrea jinjing melulu, disematkan sebagai instrumen promosi novel-novel berikutnya, termasuk Sirkus Pohon.
Konon, menurut keterangan Andrea, Sirkus Pohon itu novel terbaik yang pernah dikarangnya. Ia mengakui, “Buku ini memberi saya kesan this is it,
memberi saya kesan apa yang ingin saya sampaikan selama ini sebagai
seorang penulis, memberi saya kesan sudah lama saya ingin menulis
seperti ini.” Novel yang nantinya terbit sebagai trilogi itu dikerjakan
dalam tempo relatif panjang. Andrea memerlukan riset selama empat tahun,
sampai-sampai mesti berkunjung ke Tahiti untuk belajar tentang pohon
delima. Proses penulisan sendiri berlangsung selama dua tahun. Enam
tahun waktu pengerjaan itu pun dibayang-bayangi kesuksesan Laskar Pelangi. Novel-novel sebelum Sirkus Pohon terbukti gagal melampaui pencapaian novel perdananya itu. Sirkus Pohon, sebagai “this is it” Andrea,
menanggung beban berat untuk menjaga reputasinya yang bertaraf
internasional. Hanya, tak banyak hal baru yang Andrea tawarkan dalam
novel itu. Sirkus Pohon masih berlatar tempat di kampung Melayu
pedalaman. Andrea lagi-lagi mengisahkan perjalanan menuju sukses dari
bocah hingga dewasa. Bedanya, jika Laskar Pelangi bertokoh bocah-bocah yang dapat lanjut sekolah, Sirkus Pohon mengisahkan
mereka yang putus sekolah. Dalam hal ini, rasionalitas menjadi
tantangan besar Andrea. Sebab, ia telah memilih jalur realisme, yang
dalam terminologi Andrea sendiri, “fiksi, cara terbaik menceritakan
fakta.” Meski begitu, sekian peristiwa dalam Sirkus Pohon terasa picisan dan sulit diterima sebagai fakta sosial yang mungkin terjadi.
Kebaruan yang ditawarkan Andrea barangkali pretensinya berbicara
politik, meski dalam lingkup kampung. Politik bukan semata-mata selipan
atau selingan. Politik hadir di sekujur novel, sebagai pangkal peristiwa
dalam Sirkus Pohon. Politik dimaknai Andrea secara praktis,
yakni pemilihan kepala desa Kampung Ketumbi. Kendati begitu, peristiwa
hidup Sobridin (tokoh utama novel) sendiri sebetulnya ditentukan oleh
konspirasi politis Taripol Mafia dan Abdul Rapi. Andrea mempertemukan
kita pada peristiwa yang mengesankan dan cukup memberikan efek kejut di
akhir novel. Sayangnya, humor-humor yang bertaburan di sela-sela
peristiwa tak begitu mengundang tawa. Andrea cenderung mengulang
beberapa humor yang sama, Debuludin yang “berdebu-debu” misalnya.
Kebaruan lain yang Andrea tawarkan adalah teknik. Ia tidak
menggunakan teknik komparasi dan analogi sebagaimana novel-novel
sebelumnya, melainkan teknik yang ia sebut “sintesis”. Andrea memberi
penjelasan, “Novel ini tidak bisa digambarkan dengan gamblang karena
menulisnya dengan teknik ‘sintesis’. Maksud saya adalah, ini sudah
membandingkan hal-hal yang tidak berhubungan.” Andrea menyajikan sekian
peristiwa yang berlainan ruang dan waktu, masing-masing bertokoh
Sobridin, Dinda, Tara beserta ibu dan sirkus keliling, Tegar, Gastori,
dan Taripol. Sekian peristiwa bergantian tampil. Memang, dari peristiwa
satu ke peristiwa dua dan seterusnya, terasa tidak berhubungan. Namun
Andrea justru meruntuhkan ketakterhubungan itu sendiri di akhir novel
untuk menunjukkan bahwa setiap peristiwa sebetulnya berhubungan.
Penentuan judul Sirkus Pohon sebetulnya problematis. Dalam
novel itu memang ada pohon dan ada sirkus, bahkan menjelang akhir novel
ditunjukkan pohon untuk berada di tengah-tengah sirkus. Namun penampilan
pohon delima dalam novel itu kurang atraktif untuk mendefinisikan Sirkus Pohon. Sebetulnya, Andrea menyatakan, “Novel ini merupakan Laskar Pelangi dalam bentuk lain, bukan dalam karakter utama Ikal, Mahar, dan Lintang. Namun Laskar Pelangi dengan karakter utama sebatang pohon delima.”
Pernyataan Andrea bahwa tokoh utama Sirkus Pohon adalah
sebatang pohon kurang bisa diterima. Pohon agak terlambat dihadirkan
sebagai entitas penting. Pohon itu pun kurang berperan penting. Kalaupun
berperan, pohon itu cuma dijadikan instrumen, bukan tokoh utama
sebagaimana yang Andrea nyatakan.
Ada baiknya Andrea agak rendah hati dan mau belajar kepada novelis
muda, semisal Faisal Oddang atau Ziggy Zezs yazeoviennazabrizkie, dalam
menarasikan pohon. Meski tetap ada cela pada setiap novel mereka: Puya ke Puya (2015) dan Semua Ikan di Langit (2017),
toh Faisal dan Ziggy relatif sukses menarasikan pohon sebagai tokoh
dengan baik. Ziggy mengizinkan pohon dalam novelnya berdialog dengan
tokoh-tokoh lain, sedangkan Faisal sanggup menempatkan pohon pada posisi
sentral dalam kisah. Dua penulis muda itu menautkan pohon pada
hal-ihwal religius, menarasikan proses kehidupan dan penciptaan. Andrea
justru mengaitkan pohon dengan industri hiburan, dan risikonya adalah
ketidaksanggupan mengagungkan pohon di semesta Sirkus Pohon. Jika benar nantinya Sirkus Pohon mewujud trilogi, kita doakan saja agar Andrea mampu menambal lubang-lubang Sirkus Pohon di novel berikutnya.
JUDUL: Sirkus Pohon
PENGARANG: Andrea Hirata
PENERBIT: Bentang
CETAKAN: Pertama, Agustus 2017
TEBAL: 410 halaman
Udji Kayang Aditya Supriyanto, pembaca sastra dan pengelola Bukulah!
Cerpen Anton Erlangga Aditama (Kedaulatan Rakyat, 29 Oktober 2017) Bedhol Desa ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan RakyatINI hari ‘bedhol desa’ alias pindahan serentak
secara bersama-sama satu desa. Aku bukan main senangnya. Pagi-pagi
sekali, dengan kecepatan seorang pelari, aku mengepak semua
barang-barangku nyaris hanya dalam sekejap mata. Baju, komputer,
buku-buku pelajaran, semuanya sudah terbungkus rapi di dalam kardus dan
ditata sesuai ukuran.
Kulonprogo akan punya bandara baru. Aku dan keluargaku akan tinggal
di rumah baru. Lahan di desa kami “terpaksa” kena gusur, tapi aku
bersyukur sekali karenanya. Belum pernah aku sebahagia ini semenjak Ayah
membelikanku sebuah kamera Canon Rebel yang sudah lama kuidamkan!
Aku tidak mengerti mengapa orang-orang di desaku begitu sedih dengan
hal ini, sama halnya dengan seluruh anggota keluargaku. Baiklah, orang
lain mungkin punya rumah yang keren, dengan garasi dan langit-langit.
Tapi, siapa sih yang akan merindukan gubuk mereka ini?
Aku tahu Ibu, Ayah, dan kakakku berlama-lama mengepak barang-barang
mereka, tapi sekarang sudah jam sepuluh. Acara bedhol desa akan dimulai
setengah jam lagi, dan aku bahkan belum melihat satu kardus pun selain
milikku di teras rumah. Ini sudah kelewatan.
“Kau ngapain sih?” Aku mendamprat kakak perempuanku, Trisna, yang
bukannya melipat kaus kaki yang bertebaran di sekitarnya, malah duduk
melamun menatap kosong pada jendela. “Kenapa belum selesai?” tuntutku.
“Hampir,” katanya, tapi ia masih bergeming. “Mau kubantu?” Aku
mengusulkan, melangkah masuk. “Nggak, pergi sana.” Trisna tidak
menatapku ketika mengatakannya. Ia sengaja berlambat-lambat saat
memunguti kaus kaki.
“Cepatlah.” kataku tak sabar. Mungkin aku terdengar menyebalkan, tapi selama sepersekian detik aku benar-benar tidak peduli.
Lahan relokasi rumah kami berjarak kira-kira setengah jam perjalanan
dari sini. Sementara itu aku menunggu di ruang tamu yang kosong,
benar-benar tidak ada apa-apa di sana. Barang-barang lain yang lebih
berat telah dipindahkan sehari sebelumnya.
Sepuluh menit berlalu dengan lambat ketika belum ada tanda-tanda
bahwa orang tua atau kakakku akan segera selesai. Ada apa sih dengan
orang-orang ini?
Aku memandang berkeliling ruangan, dan pandanganku jatuh pada sebuah
celah selebar dua inci di bagian dinding yang retak. Dulu aku pernah
menyembunyikan surat cinta untuk Trisna yang dititipkan padaku dari
seorang pemuda yang tak bisa kuingat namanya. Ia marah besar ketika
tahu, tapi sudah terlambat bertahun-tahun hingga tak mungkin untuk
membalasnya
Dari dalam ruang tamu aku mengamati teras, di mana ibu biasa menunggu
tukang sayur sementara ia menjahit. Satu kali dulu, tepat di keset itu,
Trisna pernah menangis di pangkuan Ibu karena dia turun ke peringkat
dua di kelas. Jika aku berpikir aku takkan merindukan rumah ini,
ternyata aku keliru.
Ayah muncul dari ruang tengah, membawa sebuah kardus besar dan
segepok kunci. Dengan menghela napas ia meletakkan kardusnya dan menatap
kunci-kunci itu. Bandulnya di koleksi dari berbagai pasar malam yang
dihadiri kami.
Sejenak Ayah kelihatan ragu-ragu, apakah mereka perlu mengunci rumah?
Dan ekspresi yang tersirat di wajahnya membuatku tidak tahan.
“Kita akan tinggal di rumah yang lebih bagus,” kataku lirih, lebih kepada diri sendiri alih-alih untuk menghibur Ayah.
Ketika keluar lewat pintu depan rumah kami, aku menyadari bahwa itulah terakhir kalinya aku akan pernah melewatinya.
Aku takkan lagi berebut dengan Trisna untuk membukakan pintu ketika
Ayah pulang di hari Sabtu membawa martabak. Pintu itu telah menjadi
saksi pada banyak kesempatan di mana aku berpamitan dengan Ibu ke
sekolah, dan anak cucuku nanti takkan menyadari betapa bersejarahnya bel
pintu rumah kami karena besok pagi semua akan roboh, rata dengan tanah.
Aku duduk bersimpuh di antara kardus-kardusku dan menangis. Di teras
ini, takkan ada lagi permainan catur satu lawan satu antara aku dan
Ayah.
Aku takkan pernah lagi melihat Trisna pura-pura duduk memeluk buku,
sementara ia menunggu pemuda anak tetangga sebelah yang ditaksirnya
lewat. Ibu dan Ayah muncul dari dalam dan tersenyum penuh pengertian.
Trisna ada di belakang mereka. Lalu sebuah pemahaman lain muncul di
benakku.
Aku masih punya mereka, pikirku. Tak ada yang perlu disesali, rumah mereka nanti akan sama hangatnya dengan yang ini.
“Ya Tuhan,” Trisna geleng-geleng. Ia kelihatan puas sekali,
seringainya benar-benar menyebalkan. “Kupikir kau senang kita akhirnya
pindah?” Aku mengingatkan diriku untuk menggeplak kepalanya jika ada
kesempatan.
Sambil memunguti harga diriku yang berserakan, aku menyeka airmataku
dan mengangguk, “Memang,” kataku kaku. Aku bangkit dan berjalan
menenteng kardus dengan angkuh, memimpin rombongan. q-e
Cerpen Yetti A. KA (Jawa Pos, 29 Oktober 2017) Apa Nama Baumu? ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
MESIN pemotong meraung-raung di belakang rumah. Tetangga sedang
memotong rimbunan rumput liar. Bau rumput yang dipotong menguar. Aku
tidak bisa menjelaskan baunya itu. Bukan wangi seperti bau parfum. Bukan
busuk seperti bau bangkai.
Aku sering menemukan bau yang tak bernama. Bau hujan. Bau tanah
kering. Bau kayu tua. Bau buku. Kau juga adalah sebuah bau. Kau mirip
bau rumput yang dipotong itu. Bau yang membuatku mendadak sedih. Tidak.
Bau rumput itu tidak mengirimkan sesuatu yang ngilu. Namun, aku tetap
ingin menangis karena aku teringat kepada baumu.
Jadi apa nama baumu itu?
“Aku ingin mati,” katamu satu minggu sebelum kau ditemukan membeku
dengan gaun tidur putih tipis berpola dedaunan—foto gaun tidur itu
sempat kau pamerkan kepadaku ketika kau baru membelinya dari sebuah
butik—di ranjangmu.
“Aku ingin mati,” katamu berulang kali. Dan kau memang akhirnya mati.
Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat berada di ranjang itu dan kau
pelan-pelan membaringkan tubuhmu. Kau telentang, merapikan tangan di
kedua sisi tubuhmu, perlahan memejamkan mata, hingga kau memasuki
detik-detik kematianmu.
Aku sama sekali tidak tahu apa dadamu terlonjak keras pada saat
malaikat mencabut rohmu. Tidakkah ia—malaikat itu—melakukannya terlalu
keras? Apa kau menggumamkan sesuatu? Apa kau berteriak dan ketakutan?
Apa kau masih berkata untuk terakhir kali, “Aku ingin mati.” Siapa yang
kau ingat ketika itu? Apa kau menangis? Mungkin tidak. Aku tahu kau
sudah lama berhenti menangis.
“Apa air mata bisa habis?” tanyaku saat kau bilang hidupmu terlalu
kering dan kau bahkan tak lagi bisa mengeluarkan beberapa butir air
mata.
Seingatku, dari kecil aku terlalu banyak menangis. Teman-temanku
jahil semua. Mereka memecahkan balonku. Aku menangis. Mereka menarik
rambutku. Aku menangis. “Kau ini punya air banyak sekali, jangan-jangan
kau anak lautan ya?” tanya salah satu dari mereka sambil terkekeh-kekeh.
Aku belum pernah melihat lautan. Aku mengangguk begitu saja. “Ya, aku
anak lautan.”
“Kalau kau anak lautan berarti kau terbuat dari air. Ih, seram,”
timpal yang lainnya. Aku kembali menangis karena aku tidak pernah
menyangka kalau aku ini terbuat dari air dan itu menyeramkan. Dan air
mataku tidak henti-henti mengalir. Ibuku yang sudah mati dan fotonya
kutempel di dinding kamar, berkata, “Mereka hanya sekumpulan anak nakal.
Jangan didengarkan. Mereka sengaja mau menyakitimu.”
Aku memang sering mengadu kepada ibuku pada waktu itu dan aku sangat
percaya kepadanya. Orang yang sudah mati mana mungkin berbohong, karena
hal itu tidak akan berguna baginya, pikirku.
Akan tetapi, kali itu, ibuku ternyata salah tentang mereka.
Bertahun-tahun setelah itu, aku mencari lautan dan aku masuk ke dalamnya
dan aku merasa menemukan diriku yang seutuhnya. Aku pun berubah menjadi
lautan dengan ombak dan karangnya, pasir dan binatang-binatang laut,
rumput dan ikan-ikan, perahu-perahu nelayan mengapung dan kapal-kapal
besar berlayar menuju samudera luas. “Kau terus berpikir menjadi
lautan?” tanyamu sebelum kau sampai pada hari-hari yang membuatmu ingin
mati dan ingin mati saja.
“Ya,” jawabku malu karena mungkin kau menganggap aku ini anak kecil. Pipiku yang gelap mungkin bertambah gelap.
Kau tidak mengatakan apa pun. Kau memang tidak banyak bicara. Temanmu
sedikit sekali. Mungkin hanya ada lima di dunia ini. Aku salah satunya.
Saat pertama kali bertemu, kau berumur 35, aku 25. Kau bilang, “Waktu
seusiamu, aku merasa bisa menjadi apa saja, termasuk mengubah diri
menjadi bermacam-macam binatang atau benda-benda. Tapi kemudian aku
memilih menjadi malam.”
“Kau memilih menjadi apa?” tanyaku kurang yakin.
“Malam. Malam yang gelap,” katamu.
Lalu kau mati. Lalu aku tak pernah lagi mendengar suaramu dan yang
tertinggal hanya ingatan tentang baumu yang aku tidak tahu namanya itu.
***
IA tidak suka diberi nama Lonely. Rasanya, dunia ini
bertambah sepi sejak ia mulai memikirkan namanya itu. Orang-orang dalam
kehidupannya terlalu sibuk. Bapak harus segera ke kantor. Kakak ada
rapat di komunitas. Adik ingin jalan-jalan. Ibu ada janji dengan teman
di restoran untuk urusan bisnis. Papa pulang dan pergi ke kantor lagi.
Adik mau makan nasi goreng di luar. Kakak mau sate di warung Y karena
rasanya enak sekali. Adik ingin jalan-jalan ke pantai. Kakak mau nonton
pertunjukan seni. Di akhir pekan Bapak dan Ibu mesti menghadiri
pernikahan A, B, C. Ah, masih ada pernikahan D di luar kota.
“Lonely, cepatlah! Kau ikut tidak?”
Lonely tidak suka buru-buru. Ia sedang memperhatikan bercak putih di kukunya.
“Lonely, kita terlambat!”
Lonely melihat seekor kelelawar menggantung di cabang pohon seri dari
jendela kamarnya. Kelelawar yang berwarna malam. Bagaimana kelelawar
bisa tiba di tengah kota yang sesak oleh bangunan ini? Lonely tak habis
pikir.
“Kau sedang apa sih, Lonely? Huh, kok, lama sekali!”
Lonely kembali memperhatikan kukunya. Bercak putih itu seperti sebuah
noda yang lahir dari rasa sepi. Aku sepi sekali, desah Lonely murung.
Suara-suara yang memanggil namanya hilang. Lonely bangkit, melongokkan
kepalanya keluar. Ia tak menemukan dunia masa kanak-kanaknya yang riuh
itu dan seketika ia telah berdiri dengan sepasang kaki yang panjang—kaki
perempuan dewasa berumur 25 tahun.
Ia pikir kakinya itu akan mampu membawanya ke tempat yang ramai oleh
suara lain, suara yang tak buru-buru, dan sangat banyak warna, yang tak
memungkinkannya merasa sendirian, yang membuatnya melupakan keinginannya
berubah menjadi malam. Aku akan menggenggam semuanya! Aku akan bergembira selamanya! Lonely
tersenyum semringah. Ia memoles kukunya dengan cat warna merah.
Kuku-kukunya seketika menjadi buah stroberi yang masak sempurna. Mata
Lonely terbuka karena takjub. “Rasa sepi sama sekali tak boleh pergi
bersamaku,” katanya saat tak lagi menemukan noda putih di kuku yang
mengganggu perasaannya. Lonely menutup jendela cepat-cepat dan kelelawar
itu masih menggantung di sana dengan warnanya yang makin hitam.
Lonely berjalan. Terus berjalan. Ia sudah melewati seluruh tempat
keramaian di kota. Namun, tidak ada tempat yang tak membuatnya merasa
sepi. Kenapa aku bernama Lonely? protesnya dalam hati. Malam begitu
cepat tiba. Ia merasa tak ingin kembali. Ia berjalan lagi. Ia masuk ke
dalam pub yang memutar musik ingar-bingar dan kebanyakan orang di
dalamnya dilahirkan dengan hati sepi. Ia tak bisa bertahan lama. Ia
meninggalkan pub itu dan berada di pesta sekelompok anak muda yang gagal
membahagiakan diri sendiri dan berencana membuat keributan di kota
menjelang pagi. Ia menelepon pacarnya, tapi cepat ditutupnya kembali,
karena ia tahu lelaki itu bahkan mesti menelan berbutir-butir pil untuk
berdiri di depan orang lain tanpa rasa hampa.
Ia tegak di tepi jalan. Orang-orang berlalu lalang, tapi tak seorang
pun melihatnya. Di kota ini, mata tak lagi digunakan untuk melihat orang
lain. Ia sudah lama tahu itu. Dari kecil ia sudah mengerti mata
bapaknya lebih senang menekuri kertas-kertas tugas kantor yang dibawa
pulang ke rumah ketimbang menatap ia yang berdiri dengan baju tidur dan
sebuah bantal.
“Kembali ke kamar dan tidur lagi sana, Lonely,” kata bapaknya tanpa memandang kepadanya.
“Lonely, ini sudah malam, cepat tidur ya,” kata ibunya sambil membuat coretan-coretan pada bundalan kertas di depannya.
Lonely menghapus sebutir air mata terakhir yang jatuh di pipinya.
Semua sama saja, pikir Lonely. Tak ada orang yang menyenangkan di kota
ini. Tak ada tempat yang tak membuatnya merasa sepi. Ia duduk di trotoar
dan mulai membayangkan apa saja yang bisa ia lakukan. Ia benar-benar
ingin berubah menjadi malam saja. Ia tidak tahu apakah menjadi malam
akan menyenangkan baginya. Ia sudah pernah pura-pura menjadi babi, lalu
badak, lalu cacing, lalu burung, lalu semut, lalu meja, lalu bolpoin
bapaknya, lalu panci di dapur, lalu ia ingat lagi kelelawar di batang
pohon seri kecil di dekat kamarnya. Kelelawar yang sehitam malam. “Aku
mau menjadi malam saja biar bisa sembunyi dalam warnanya yang gelap,”
katanya pelan, merasa tenteram.
***
Aku datang ke rumahmu yang diselimuti rasa duka. Saat itu, aku belum
mencium bau apa-apa. Suamimu meneleponku saat aku berada di lautan.
Lelaki itu meninggalkan pesan dan aku segera membacanya saat aku selesai
mencopot baju lautku yang selama ini memungkinkan aku menjelajahi
duniaku yang maha dalam dan luas. Ia mati. Begitu isi pesan itu. Aku membacanya sekali lagi. Ia mati.
Aku mulai bertanya-tanya, dengan cara apa kau mengakhiri hidupmu? Apa
kau minum puluhan pil atau sebotol cairan kimia seperti yang sering kau
katakan kepadaku? Ia mati. Kubaca sekali lagi.
Air mataku mulai menetes. Kau benar-benar mati. Aku tidak akan lagi
melihatmu. Aku tidak akan lagi mendengar atau membaca pesanmu yang tiada
henti itu: aku ingin mati.
Bagaimana rasanya mati? pikirku. Apa saat mati kau membayangkan
dirimu segumpal malam yang terbang sangat perlahan ke ketinggian dan
memilih tak kembali lagi? Apakah kau membawa serta perasaanmu yang
selalu merasa sepi itu? Atau kau menjadi dirimu yang benar-benar
berbeda? Kukemasi peralatan lautku dengan cepat. Aku tidak ingin
ketinggalan. Aku ingin melihatmu terakhir kali sebelum kau
diberangkatkan ke tempat tinggalmu yang baru. Kau akan dimasukkan ke
dalam tanah. Apa kau sama sekali tidak cemas? Apa kau tidak keberatan
bertetangga dengan begitu banyak cacing yang rakus dan berusaha keras
berada sedekat mungkin denganmu? Di sana pasti saja tidak ada udara.
Dadaku menjadi sesak memikirkanmu.
Lalu aku telah berdiri di dekat peti jenazahmu yang berwarna hitam
dan tampak licin karena sentuhan pelitur. Kau tampak tenang sekali.
Bibirmu terkatup kaku, tapi sama sekali tidak tampak murung. Kelopak
matamu kelihatan lembut, serupa dua kelopak mawar yang tertelungkup.
Suamimu berkata di belakang telingaku, “Dia mati.”
Lelaki itu pasti saja terpukul. Ia tak percaya kau melakukannya. Kau
menyimpan dengan sangat baik bagian tersepi dari hatimu. Kau tak pernah
membiarkan orang lain benar-benar masuk ke dalam hidupmu selain aku.
“Kenapa aku?” tanyaku waktu itu. “Karena kau anak lautan,” katamu, “dan
aku adalah malam. Kita sama-sama orang yang aneh.”
“Dia mati,” kata lelaki itu lagi, dan kali ini lebih bergetar. “Ia
begitu bahagia. Ia masih tertawa bersama anak-anak pada pagi hari. Ia
singgah ke toko buku. Ia mau membuat pesta ulang tahunku bulan depan. Ia
berencana membuka usaha baru. Ia orang yang sangat bersemangat selama
aku mengenalnya.” Bahu lelaki itu terguncang-guncang dan ia berhenti
bicara saat tangisnya terlepas.
Kau pernah bilang, “Suamiku lelaki baik.” Kini aku melihat air mata
lelaki yang baik hati itu berjatuhan. Aku bisa mencium bau air matanya.
Bau yang tidak aku tahu namanya. Pelan-pelan aku juga mencium baumu.
Bukan bau peti jenazahmu, melainkan betul-betul baumu. Bau yang mungkin
akan kuingat selamanya. Bau itu, hari ini, menguar dari batang-batang
rumput yang dipotong di belakang rumah persinggahanku sebelum aku
kembali ke lautan.
Apa nama baumu itu? Katakanlah sesuatu biar aku tak perlu lagi
bertanya-tanya. Katakanlah sesuatu biar aku berhenti berpikir ingin
mencopot baju lautku dan menenggelamkan diriku di lautan, sebab aku
terlalu lelah memikirkan baumu, yang bisa muncul di mana-mana, di kapal,
pasir, bunga, keong, daun, baju, sepatu, pindang ikan, bakso, minuman
bersoda, kebun sayur, dan bau rumput yang dipotong itu, makin segar,
makin aneh. Apa nama baumu? ***
Rumah Kinoli, 2017
YETTI A.KA, buku kumpulan cerpen terbarunya Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017)
Cerpen Arsyad Salam (Suara Merdeka, 29 Oktober 2017) Suamiku Ingin Mati di Wawonii ilustrasi Suara Merdeka
1/
Pukul satu siang.
Duduk menyandar pada tumpukan dos mi instan, perempuan itu tampaknya
sedang asyik dengan diri sendiri. Pandangannya tak pernah lepas dari
layar ponsel yang terkoneksi dengan headset di kupingnya. Namun
saya yakin ia tidak bisa fokus mendengarkan lagu. Meskipun duduk di
bagian paling atas Kapal Fajar Fadilah, ia pasti terganggu oleh suara
mesin yang mulai menaikkan gas. Sebentar lagi kapal berangkat. Kembali
mengarungi lautan Kendari-Wawonii. Suara percakapan para penumpang
hilang tertelan suara mesin. Begitulah memang setiap kali kapal hendak
berangkat.
Rasanya saya kenal perempuan itu. Entah di mana. Sepertinya saya
pernah tahu siapa dia. Atau paling tidak pernah berbicara dengannya.
Sayang, ingatan tak selamanya panjang.
Pasti ada di antara kalian bertanya, cantikkah perempuan itu? Berapa
usianya? Bagaimana postur tubuhnya? Langsing? Kurus? Gemuk? Yang
bertanya begitu bisanya laki-laki. Entah kenapa laki-laki di mana pun
lebih mengutamakan detail fisik perempuan daripada soal lain. Apakah ia
cerdas? Apa kelebihannya? Itu jarang ditanyakan.
Terus terang saya tak bisa menjawab pertanyaan kalian. Seperti sudah
saya singgung, saya tak kenal dekat perempuan itu. Apakah ia cantik?
Mungkin. Namun bukankah definisi cantik dan tampan sangat relatif?
Artinya berbeda bagi setiap orang.
Ketika Pulau Hari di kanan dan Pulau Saponda di kiri telah terlewati,
saya perhatikan tidak terjadi perubahan pada wajah perempuan itu.
Biasa-biasa saja dan terus mengawasi laut dengan ekspresi sangat wajar.
Mungkin kedua pulau itu sudah terlalu biasa bagi dia, tak lagi membawa
kesan mendalam. Mungkin ia seperti saya juga, melewati pulau itu hampir
tiap pekan. Bolak-balik Kendari-Wawonii. Rutinitas membosankan. Tapi mau
apalagi. Saya memang harus menempuhnya demi tugas dan tanggung jawab
sebagai aparat negara.
Perempuan itu masih juga memandang laut. Tiba-tiba ia berdiri,
melangkah hati-hati mendekati tempat saya duduk di samping tumpukan
jerigen solar. Saya berdebar oleh tingkah yang mendadak itu. Bajunya
tersibak angin. Jilbabnya juga.
“Bapak masih ingat saya?”
Saya memandang cukup lama seraya mengumpulkan ingatan yang berserakan
tentang sosok perempuan yang sekarang berdiri di hadapan saya.
“Saya Nining, Pak.”
“Nining?” saya membalas ragu. Dan ia tahu saya ragu. Ia meneruskan.
“Dulu kita sama-sama naik Kapal Wawonia ke Kendari.”
“Ah, kenapa sekarang sulit sekali mengingat orang?” batin saya. Namun yang keluar dari mulut saya hanya sahutan pendek, “Oh ya?”
Saya memang tidak dikaruniai kefasihan mengingat segala kejadian.
Saya nyaris lupa semua kejadian yang telah lewat, meskipun baru sepekan
lalu. Mungkin benar ia pernah sekapal dengan saya. Entahlah. Namun
mungkin juga ia cuma mengarang-ngarang, mencari alasan bisa mengobrol
dengan saya. Saya tak tahu.
Saya perhatikan perempuan itu lebih cermat. Ada sesuatu yang menarik
dalam dirinya. Sesuatu yang saya tak tahu. Dan saya bingung tak bisa
menunjukkan hal menarik itu. Saya pernah membaca sebuah buku filsafat.
Saya lupa judulnya, tetapi ada yang tidak bisa saya lupakan dalam buku
itu; bahwa saat kita melihat sebuah objek, sudah berbeda bila melihatnya
waktu lain. Perbedaan waktu itulah yang membuat objek berubah.
Saya dan Nining terlibat percakapan. Ia bercerita dulu mengajar di
sebuah sekolah dasar dekat Tumburano di Wawonii Utara. Namun sejak empat
tahun lalu, ia menikah dan tinggal di Kendari.
“Baru hari ini saya kembali ke Wawonii setelah menikah dengan Rustam.”
“Empat tahun?” tanya saya agak heran.
Ia mengangguk mantap.
“Suami kamu sekarang di mana?”
“Di kapal ini.”
“Di kapal ini? Di mana?”
“Di kamar ABK.”
“Kenapa?”
“Ia sakit. Saya membawanya ke kampung untuk berobat.”
“Kenapa kamu di atas sini? Kenapa tidak menjaganya?”
“Ia sedang tidur sekarang. Biarlah ia istirahat.”
Sebenarnya banyak yang saya ingin tanyakan. Namun, entahlah, saya hanya mampu membisu seraya menatap ombak berkejaran.
2/
Tiga jam sebelumnya.
“Tahan sakitnya ya, Rus, sebentar lagi kita ke pelabuhan,” bujuk Nining.
Rustam diam, tak menyahut atau mengangguk. Di dalam taksi sepanjang
perjalanan, Nining berusaha menghibur sang suami. Ia mengajak Rustam
bicara dengan nada manis. Sesekali tangannya mengusap pelipis dan rambut
Rustam yang acak-acakan. Sopir taksi yang mereka tumpangi, lelaki gemuk
yang tampak baik hati, cuma sesekali melirik mereka lewat kaca spion.
“Sejak dulu kan aku sudah bilang, kita berobat ke Makassar saja, tapi
kamu maunya ke kampung. Memang di kampung ada yang bisa mengobatimu?”
Nining terus bicara sendirian. Rustam tergolek tanpa daya di jok
belakang, di sampingnya.
Nining menyuruh sopir taksi mempercepat laju kendaraan, khawatir
ketinggalan kapal. Ia tahu jadwal berangkat kapal kayu ke Pulau Wawonii
tak pernah tepat. Kadang lebih cepat, kadang juga terlambat berjam-jam.
Dalam hati ia berdoa semoga kapal belum berangkat. Kalau ia ketinggalan,
pupuslah harapan membawa pulang Rustam ke kampung.
Memasuki pintu gerbang pelabuhan, Nining sedikit lega ketika dari
jauh melihat Kapal Fajar Fadilah masih tertambat di dermaga. Orang ramai
naik-turun kapal. Pedagang asongan di mana-mana, berteriak menjajakan
nasi bungkus, jagung rebus, dan air mineral.
Nining minta tolong sopir taksi membantu membopong Rustam ke kapal.
Dalam hati ia berharap semoga tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya
ia lakukan. Sengaja ia menutup kepala Rustam dengan kain panjang supaya
tak terkena sinar matahari. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu
ramai membicarakan keadaan Rustam yang telah lama diketahui sakit dan
tidak sembuh-sembuh sampai sekarang. Orang-orang di pelabuhan siang itu
dan hari-hari lain kebanyakan orang Wawonii juga. Mereka kenal Nining.
Juga Rustam tentu saja.
“Kasihan ya,” kata seseorang.
“Memang ia sakit apa?”
“Saya dengar ia sakit jantung.”
Rustam dimasukkan dalam kamar kosong, kamar seorang anak buah kapal.
Nining lega. Kembali ia mengusap kepala suaminya penuh kasih sayang.
Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan agar perbuatan itu tidak diketahui
penumpang lain di kapal. Apalagi sampai diketahui juru mudi. Bisa gawat
urusan nanti. Tadi ia berdebar ketika seorang ABK berkata tubuh Rustam
sudah pucat, mirip mayat.
“Jangan-jangan ia sudah mati,” kata orang itu.
Nining menyahut cepat, Rustam cuma tak sadarkan diri. Penyakitnya
memang gawat. “Ia pernah pingsan dua hari,” ucap Nining untuk
menenangkan diri sendiri.
3/
Dermaga Langara sudah tampak. Kami berhenti bercakap-cakap. Nining
lekas berdiri dan minta diri untuk ke bawah, ke kamar sang suami
berbaring. Ia menatap saya agak lama, membuat saya agak heran seraya
berpikir pasti ada rahasia yang hendak ia katakan. Saya memberanikan
diri bertanya.
“Ada apa?”
Ia mendekat lagi, mendekatkan mulut ke kuping saya. Suaranya halus dan dalam, meskipun agak gemetar.
“Suamiku ingin dikuburkan di Wawonii. Ia ingin mati di pulau itu.”
“Lantas apa masalahnya? Kan kamu membawanya pulang untuk berobat?”
“Ia sudah meninggal, sudah mati sejak dari rumah di Kendari.”
“Hah?”
“Jangan bilang-bilang ya,” bisiknya dengan wajah agak sedih.
“Soalnya kapal-kapal di sini dilarang membawa mayat. Pemali, kata
mereka. Saya pun terpaksa melakukan ini untuk melaksanakan wasiat suami
saya yang ingin dikuburkan di Wawonii.”
Saya belum mampu mencerna apa yang sesungguhnya terjadi ketika dari
bawah terdengar teriakan seorang anak buah kapal. “Ada mayat dalam kapal
ini! Siapa keluarganya? Siapa bertanggung jawab?” (44)
– Arsyad Salam, menulis novel dan cerpen. Novel yang telah terbit Kidung dari Negeri Apung (2015), Jejak Manusia Langit (2016), dan Lintasan Menikung (2017). Kumpulan cerpennya Pasung Jiwa Merpati Putih (2016). Kini, dia tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Cernak Wahidatun Nisai Fauziyati (Suara Merdeka, 29 Oktober 2017) Mimpi Sekejap ilustrasi Suara Merdeka
Kamis malam Jumat, Akbar mengunjungi pengajian peringatan Isra Mikraj
di mushala bersama Kak Yusuf. Tetangga rumah berbondong-bondong menuju
mushala dengan membawa jajanan pasar. Bakda magrib acara dibuka dengan
pembacaan surat Al-Fatihah. Akbar antusias mengikuti rangkaian acara
meskipun didera kantuk.
“Kak, Kiai Hamzah kapan mulai ceritanya sih? Akbar mengantuk,” tanya Akbar ke Kak Yusuf.
“Sabar Akbar, kan baru saja dimulai,” jawab Kak Yusuf singkat.
Kiai Hamzah merupakan pemuka agama yang sangat disegani. Tausiyah
yang disampaikan mudah dipahami dan mengena di hati. Akbar menantikan
kisah-kisah yang biasa disampaikan ketika mengaji.
Akbar mengamati sekeliling ruang utama mushala. Orang-orang terlihat
khusyuk merapalkan doa. Suasana yang khidmat membuat Akbar semakin
mengantuk. Segera Kak Yusuf memintanya untuk mencuci muka. Akbar menuju
tempat wudhu untuk mencuci muka dengan harapan kantuknya hilang.
Saat menuju ke tempat wudhu, tiba-tiba ada Raka yang mengajak Akbar untuk bergabung bermain gerobak sodor.
“Akbar main yuk. Gabung ke tim aku, kurang satu orang nih,” pinta
Raka ke Akbar. Akbar pun tergiur untuk ikut bermain. Padahal Kak Yusuf
sudah berpesan agar ia mengikuti pengajian hingga tuntas. Namun, untaian
doa-doa yang mendayu serta suasana khidmat membuat kantuk semakin
parah.
“Bosan menunggu lama, lebih baik ikut bermain saja,” bisik Akbar.
Akhirnya Akbar memutuskan untuk ikut bermain bergabung bersama tim
Raka yang akan melawan tim Mario. Permainan dimulai, tim Raka yang akan
berjaga dengan susunan Akbar-Rio-Arkhan-Raka.
Mudah saja bagi Akbar untuk mematikan lawan dengan menangkap si
gembul, Naufal. Poin pertama untuk tim Raka disumbangkan oleh Akbar.
Sementara kedudukan satu nol untuk kemenangan tim Raka atas tim Mario.
Giliran tim Raka yang akan menjadi penyerang melewati penjaga untuk
mencapai garis finish. Penyerang pertama adalah Akbar, ia dikenal
sebagai pelari yang cepat. Tak heran lawan mewaspadai gerak-gerik Akbar.
Tubuh mungilnya meliuk-liuk menghindari sergapan penjaga. Akbar pun
mampu mencapai garis finis dan kembali menyumbangkan poin untuk tim
Raka.
Sementara itu, Raka dan Rio masih terjebak dalam kepungan para
penjaga. Gemuruh sorak anak-anak yang menonton membuat suasana menjadi
tegang dan seru.
“Raka masuk ke kanan…kanan…kanan..awas ada Naufal…awas!” sorak salah satu penonton.
“Rio ayo ..cepat…cepat..cepat masuk… Awas..” teriak histeris para penonton.
Teriakan anak-anak ini terdengar hingga ke ruang utama mushala.
Datanglah Pak Haji Salman di antara anak-anak tersebut. Mereka terkejut.
Tatapan mata yang tajam, tangan berkacak pinggang serta kumis tebal
melengkung ke atas menjadikan kesan garang. Seketika anak-anak tak
berkutik. Mereka diam. Namun, rupanya Akbar tidak mengetahui kedatangan
Pak Haji Salaman. Dengan semangat, ia masih terus berteriak, “Masuk
kanan Ka..Raka ke kanan…kanan si Naufal…ayo masuk kanan…cepat…cepat!”
Arkhan segera memberi kode, tapi Akbar tak menghiraukannya hingga jeweran mengenai telinganya.
“Dasar anak-anak yang bandel. Sudah diperingatkan berkali-kali tetap
saja teriak-teriak di mushala. Bermain boleh saja tapi nanti setelah
pengajian. Mengganggu orang yang sedang beribadah itu tidak baik,” tegur
Pak Haji Salman, Akbar pun terkejut dan mengerang kesakitan.
Dan… Jeweran Pak Haji Salman rupanya membangunkan Akbar dari mimpi
buruk petang itu. Tidak ada Pak Haji Salman di sampingnya, tidak ada
teman-teman di sekelilingnya.
Akbar terduduk di kursi tempat wudhu karena kantuk yang tak tertahan.
Akbar lalu mengusap seluruh muka dengan air dan menutup keran air
tersebut. Segera ia kembali ke ruang utama mushala karena suara merdu
Kiai Hamzah mulai menggema di telinganya. Tidak akan ia lupakan mimpi
sekejapnya itu. (58)