Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Cerpen Anton Erlangga Aditama (Kedaulatan Rakyat, 29 Oktober 2017) Bedhol Desa ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan RakyatINI hari ‘bedhol desa’ alias pindahan serentak
secara bersama-sama satu desa. Aku bukan main senangnya. Pagi-pagi
sekali, dengan kecepatan seorang pelari, aku mengepak semua
barang-barangku nyaris hanya dalam sekejap mata. Baju, komputer,
buku-buku pelajaran, semuanya sudah terbungkus rapi di dalam kardus dan
ditata sesuai ukuran.
Kulonprogo akan punya bandara baru. Aku dan keluargaku akan tinggal
di rumah baru. Lahan di desa kami “terpaksa” kena gusur, tapi aku
bersyukur sekali karenanya. Belum pernah aku sebahagia ini semenjak Ayah
membelikanku sebuah kamera Canon Rebel yang sudah lama kuidamkan!
Aku tidak mengerti mengapa orang-orang di desaku begitu sedih dengan
hal ini, sama halnya dengan seluruh anggota keluargaku. Baiklah, orang
lain mungkin punya rumah yang keren, dengan garasi dan langit-langit.
Tapi, siapa sih yang akan merindukan gubuk mereka ini?
Aku tahu Ibu, Ayah, dan kakakku berlama-lama mengepak barang-barang
mereka, tapi sekarang sudah jam sepuluh. Acara bedhol desa akan dimulai
setengah jam lagi, dan aku bahkan belum melihat satu kardus pun selain
milikku di teras rumah. Ini sudah kelewatan.
“Kau ngapain sih?” Aku mendamprat kakak perempuanku, Trisna, yang
bukannya melipat kaus kaki yang bertebaran di sekitarnya, malah duduk
melamun menatap kosong pada jendela. “Kenapa belum selesai?” tuntutku.
“Hampir,” katanya, tapi ia masih bergeming. “Mau kubantu?” Aku
mengusulkan, melangkah masuk. “Nggak, pergi sana.” Trisna tidak
menatapku ketika mengatakannya. Ia sengaja berlambat-lambat saat
memunguti kaus kaki.
“Cepatlah.” kataku tak sabar. Mungkin aku terdengar menyebalkan, tapi selama sepersekian detik aku benar-benar tidak peduli.
Lahan relokasi rumah kami berjarak kira-kira setengah jam perjalanan
dari sini. Sementara itu aku menunggu di ruang tamu yang kosong,
benar-benar tidak ada apa-apa di sana. Barang-barang lain yang lebih
berat telah dipindahkan sehari sebelumnya.
Sepuluh menit berlalu dengan lambat ketika belum ada tanda-tanda
bahwa orang tua atau kakakku akan segera selesai. Ada apa sih dengan
orang-orang ini?
Aku memandang berkeliling ruangan, dan pandanganku jatuh pada sebuah
celah selebar dua inci di bagian dinding yang retak. Dulu aku pernah
menyembunyikan surat cinta untuk Trisna yang dititipkan padaku dari
seorang pemuda yang tak bisa kuingat namanya. Ia marah besar ketika
tahu, tapi sudah terlambat bertahun-tahun hingga tak mungkin untuk
membalasnya
Dari dalam ruang tamu aku mengamati teras, di mana ibu biasa menunggu
tukang sayur sementara ia menjahit. Satu kali dulu, tepat di keset itu,
Trisna pernah menangis di pangkuan Ibu karena dia turun ke peringkat
dua di kelas. Jika aku berpikir aku takkan merindukan rumah ini,
ternyata aku keliru.
Ayah muncul dari ruang tengah, membawa sebuah kardus besar dan
segepok kunci. Dengan menghela napas ia meletakkan kardusnya dan menatap
kunci-kunci itu. Bandulnya di koleksi dari berbagai pasar malam yang
dihadiri kami.
Sejenak Ayah kelihatan ragu-ragu, apakah mereka perlu mengunci rumah?
Dan ekspresi yang tersirat di wajahnya membuatku tidak tahan.
“Kita akan tinggal di rumah yang lebih bagus,” kataku lirih, lebih kepada diri sendiri alih-alih untuk menghibur Ayah.
Ketika keluar lewat pintu depan rumah kami, aku menyadari bahwa itulah terakhir kalinya aku akan pernah melewatinya.
Aku takkan lagi berebut dengan Trisna untuk membukakan pintu ketika
Ayah pulang di hari Sabtu membawa martabak. Pintu itu telah menjadi
saksi pada banyak kesempatan di mana aku berpamitan dengan Ibu ke
sekolah, dan anak cucuku nanti takkan menyadari betapa bersejarahnya bel
pintu rumah kami karena besok pagi semua akan roboh, rata dengan tanah.
Aku duduk bersimpuh di antara kardus-kardusku dan menangis. Di teras
ini, takkan ada lagi permainan catur satu lawan satu antara aku dan
Ayah.
Aku takkan pernah lagi melihat Trisna pura-pura duduk memeluk buku,
sementara ia menunggu pemuda anak tetangga sebelah yang ditaksirnya
lewat. Ibu dan Ayah muncul dari dalam dan tersenyum penuh pengertian.
Trisna ada di belakang mereka. Lalu sebuah pemahaman lain muncul di
benakku.
Aku masih punya mereka, pikirku. Tak ada yang perlu disesali, rumah mereka nanti akan sama hangatnya dengan yang ini.
“Ya Tuhan,” Trisna geleng-geleng. Ia kelihatan puas sekali,
seringainya benar-benar menyebalkan. “Kupikir kau senang kita akhirnya
pindah?” Aku mengingatkan diriku untuk menggeplak kepalanya jika ada
kesempatan.
Sambil memunguti harga diriku yang berserakan, aku menyeka airmataku
dan mengangguk, “Memang,” kataku kaku. Aku bangkit dan berjalan
menenteng kardus dengan angkuh, memimpin rombongan. q-e
Cerpen Yetti A. KA (Jawa Pos, 29 Oktober 2017) Apa Nama Baumu? ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
MESIN pemotong meraung-raung di belakang rumah. Tetangga sedang
memotong rimbunan rumput liar. Bau rumput yang dipotong menguar. Aku
tidak bisa menjelaskan baunya itu. Bukan wangi seperti bau parfum. Bukan
busuk seperti bau bangkai.
Aku sering menemukan bau yang tak bernama. Bau hujan. Bau tanah
kering. Bau kayu tua. Bau buku. Kau juga adalah sebuah bau. Kau mirip
bau rumput yang dipotong itu. Bau yang membuatku mendadak sedih. Tidak.
Bau rumput itu tidak mengirimkan sesuatu yang ngilu. Namun, aku tetap
ingin menangis karena aku teringat kepada baumu.
Jadi apa nama baumu itu?
“Aku ingin mati,” katamu satu minggu sebelum kau ditemukan membeku
dengan gaun tidur putih tipis berpola dedaunan—foto gaun tidur itu
sempat kau pamerkan kepadaku ketika kau baru membelinya dari sebuah
butik—di ranjangmu.
“Aku ingin mati,” katamu berulang kali. Dan kau memang akhirnya mati.
Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat berada di ranjang itu dan kau
pelan-pelan membaringkan tubuhmu. Kau telentang, merapikan tangan di
kedua sisi tubuhmu, perlahan memejamkan mata, hingga kau memasuki
detik-detik kematianmu.
Aku sama sekali tidak tahu apa dadamu terlonjak keras pada saat
malaikat mencabut rohmu. Tidakkah ia—malaikat itu—melakukannya terlalu
keras? Apa kau menggumamkan sesuatu? Apa kau berteriak dan ketakutan?
Apa kau masih berkata untuk terakhir kali, “Aku ingin mati.” Siapa yang
kau ingat ketika itu? Apa kau menangis? Mungkin tidak. Aku tahu kau
sudah lama berhenti menangis.
“Apa air mata bisa habis?” tanyaku saat kau bilang hidupmu terlalu
kering dan kau bahkan tak lagi bisa mengeluarkan beberapa butir air
mata.
Seingatku, dari kecil aku terlalu banyak menangis. Teman-temanku
jahil semua. Mereka memecahkan balonku. Aku menangis. Mereka menarik
rambutku. Aku menangis. “Kau ini punya air banyak sekali, jangan-jangan
kau anak lautan ya?” tanya salah satu dari mereka sambil terkekeh-kekeh.
Aku belum pernah melihat lautan. Aku mengangguk begitu saja. “Ya, aku
anak lautan.”
“Kalau kau anak lautan berarti kau terbuat dari air. Ih, seram,”
timpal yang lainnya. Aku kembali menangis karena aku tidak pernah
menyangka kalau aku ini terbuat dari air dan itu menyeramkan. Dan air
mataku tidak henti-henti mengalir. Ibuku yang sudah mati dan fotonya
kutempel di dinding kamar, berkata, “Mereka hanya sekumpulan anak nakal.
Jangan didengarkan. Mereka sengaja mau menyakitimu.”
Aku memang sering mengadu kepada ibuku pada waktu itu dan aku sangat
percaya kepadanya. Orang yang sudah mati mana mungkin berbohong, karena
hal itu tidak akan berguna baginya, pikirku.
Akan tetapi, kali itu, ibuku ternyata salah tentang mereka.
Bertahun-tahun setelah itu, aku mencari lautan dan aku masuk ke dalamnya
dan aku merasa menemukan diriku yang seutuhnya. Aku pun berubah menjadi
lautan dengan ombak dan karangnya, pasir dan binatang-binatang laut,
rumput dan ikan-ikan, perahu-perahu nelayan mengapung dan kapal-kapal
besar berlayar menuju samudera luas. “Kau terus berpikir menjadi
lautan?” tanyamu sebelum kau sampai pada hari-hari yang membuatmu ingin
mati dan ingin mati saja.
“Ya,” jawabku malu karena mungkin kau menganggap aku ini anak kecil. Pipiku yang gelap mungkin bertambah gelap.
Kau tidak mengatakan apa pun. Kau memang tidak banyak bicara. Temanmu
sedikit sekali. Mungkin hanya ada lima di dunia ini. Aku salah satunya.
Saat pertama kali bertemu, kau berumur 35, aku 25. Kau bilang, “Waktu
seusiamu, aku merasa bisa menjadi apa saja, termasuk mengubah diri
menjadi bermacam-macam binatang atau benda-benda. Tapi kemudian aku
memilih menjadi malam.”
“Kau memilih menjadi apa?” tanyaku kurang yakin.
“Malam. Malam yang gelap,” katamu.
Lalu kau mati. Lalu aku tak pernah lagi mendengar suaramu dan yang
tertinggal hanya ingatan tentang baumu yang aku tidak tahu namanya itu.
***
IA tidak suka diberi nama Lonely. Rasanya, dunia ini
bertambah sepi sejak ia mulai memikirkan namanya itu. Orang-orang dalam
kehidupannya terlalu sibuk. Bapak harus segera ke kantor. Kakak ada
rapat di komunitas. Adik ingin jalan-jalan. Ibu ada janji dengan teman
di restoran untuk urusan bisnis. Papa pulang dan pergi ke kantor lagi.
Adik mau makan nasi goreng di luar. Kakak mau sate di warung Y karena
rasanya enak sekali. Adik ingin jalan-jalan ke pantai. Kakak mau nonton
pertunjukan seni. Di akhir pekan Bapak dan Ibu mesti menghadiri
pernikahan A, B, C. Ah, masih ada pernikahan D di luar kota.
“Lonely, cepatlah! Kau ikut tidak?”
Lonely tidak suka buru-buru. Ia sedang memperhatikan bercak putih di kukunya.
“Lonely, kita terlambat!”
Lonely melihat seekor kelelawar menggantung di cabang pohon seri dari
jendela kamarnya. Kelelawar yang berwarna malam. Bagaimana kelelawar
bisa tiba di tengah kota yang sesak oleh bangunan ini? Lonely tak habis
pikir.
“Kau sedang apa sih, Lonely? Huh, kok, lama sekali!”
Lonely kembali memperhatikan kukunya. Bercak putih itu seperti sebuah
noda yang lahir dari rasa sepi. Aku sepi sekali, desah Lonely murung.
Suara-suara yang memanggil namanya hilang. Lonely bangkit, melongokkan
kepalanya keluar. Ia tak menemukan dunia masa kanak-kanaknya yang riuh
itu dan seketika ia telah berdiri dengan sepasang kaki yang panjang—kaki
perempuan dewasa berumur 25 tahun.
Ia pikir kakinya itu akan mampu membawanya ke tempat yang ramai oleh
suara lain, suara yang tak buru-buru, dan sangat banyak warna, yang tak
memungkinkannya merasa sendirian, yang membuatnya melupakan keinginannya
berubah menjadi malam. Aku akan menggenggam semuanya! Aku akan bergembira selamanya! Lonely
tersenyum semringah. Ia memoles kukunya dengan cat warna merah.
Kuku-kukunya seketika menjadi buah stroberi yang masak sempurna. Mata
Lonely terbuka karena takjub. “Rasa sepi sama sekali tak boleh pergi
bersamaku,” katanya saat tak lagi menemukan noda putih di kuku yang
mengganggu perasaannya. Lonely menutup jendela cepat-cepat dan kelelawar
itu masih menggantung di sana dengan warnanya yang makin hitam.
Lonely berjalan. Terus berjalan. Ia sudah melewati seluruh tempat
keramaian di kota. Namun, tidak ada tempat yang tak membuatnya merasa
sepi. Kenapa aku bernama Lonely? protesnya dalam hati. Malam begitu
cepat tiba. Ia merasa tak ingin kembali. Ia berjalan lagi. Ia masuk ke
dalam pub yang memutar musik ingar-bingar dan kebanyakan orang di
dalamnya dilahirkan dengan hati sepi. Ia tak bisa bertahan lama. Ia
meninggalkan pub itu dan berada di pesta sekelompok anak muda yang gagal
membahagiakan diri sendiri dan berencana membuat keributan di kota
menjelang pagi. Ia menelepon pacarnya, tapi cepat ditutupnya kembali,
karena ia tahu lelaki itu bahkan mesti menelan berbutir-butir pil untuk
berdiri di depan orang lain tanpa rasa hampa.
Ia tegak di tepi jalan. Orang-orang berlalu lalang, tapi tak seorang
pun melihatnya. Di kota ini, mata tak lagi digunakan untuk melihat orang
lain. Ia sudah lama tahu itu. Dari kecil ia sudah mengerti mata
bapaknya lebih senang menekuri kertas-kertas tugas kantor yang dibawa
pulang ke rumah ketimbang menatap ia yang berdiri dengan baju tidur dan
sebuah bantal.
“Kembali ke kamar dan tidur lagi sana, Lonely,” kata bapaknya tanpa memandang kepadanya.
“Lonely, ini sudah malam, cepat tidur ya,” kata ibunya sambil membuat coretan-coretan pada bundalan kertas di depannya.
Lonely menghapus sebutir air mata terakhir yang jatuh di pipinya.
Semua sama saja, pikir Lonely. Tak ada orang yang menyenangkan di kota
ini. Tak ada tempat yang tak membuatnya merasa sepi. Ia duduk di trotoar
dan mulai membayangkan apa saja yang bisa ia lakukan. Ia benar-benar
ingin berubah menjadi malam saja. Ia tidak tahu apakah menjadi malam
akan menyenangkan baginya. Ia sudah pernah pura-pura menjadi babi, lalu
badak, lalu cacing, lalu burung, lalu semut, lalu meja, lalu bolpoin
bapaknya, lalu panci di dapur, lalu ia ingat lagi kelelawar di batang
pohon seri kecil di dekat kamarnya. Kelelawar yang sehitam malam. “Aku
mau menjadi malam saja biar bisa sembunyi dalam warnanya yang gelap,”
katanya pelan, merasa tenteram.
***
Aku datang ke rumahmu yang diselimuti rasa duka. Saat itu, aku belum
mencium bau apa-apa. Suamimu meneleponku saat aku berada di lautan.
Lelaki itu meninggalkan pesan dan aku segera membacanya saat aku selesai
mencopot baju lautku yang selama ini memungkinkan aku menjelajahi
duniaku yang maha dalam dan luas. Ia mati. Begitu isi pesan itu. Aku membacanya sekali lagi. Ia mati.
Aku mulai bertanya-tanya, dengan cara apa kau mengakhiri hidupmu? Apa
kau minum puluhan pil atau sebotol cairan kimia seperti yang sering kau
katakan kepadaku? Ia mati. Kubaca sekali lagi.
Air mataku mulai menetes. Kau benar-benar mati. Aku tidak akan lagi
melihatmu. Aku tidak akan lagi mendengar atau membaca pesanmu yang tiada
henti itu: aku ingin mati.
Bagaimana rasanya mati? pikirku. Apa saat mati kau membayangkan
dirimu segumpal malam yang terbang sangat perlahan ke ketinggian dan
memilih tak kembali lagi? Apakah kau membawa serta perasaanmu yang
selalu merasa sepi itu? Atau kau menjadi dirimu yang benar-benar
berbeda? Kukemasi peralatan lautku dengan cepat. Aku tidak ingin
ketinggalan. Aku ingin melihatmu terakhir kali sebelum kau
diberangkatkan ke tempat tinggalmu yang baru. Kau akan dimasukkan ke
dalam tanah. Apa kau sama sekali tidak cemas? Apa kau tidak keberatan
bertetangga dengan begitu banyak cacing yang rakus dan berusaha keras
berada sedekat mungkin denganmu? Di sana pasti saja tidak ada udara.
Dadaku menjadi sesak memikirkanmu.
Lalu aku telah berdiri di dekat peti jenazahmu yang berwarna hitam
dan tampak licin karena sentuhan pelitur. Kau tampak tenang sekali.
Bibirmu terkatup kaku, tapi sama sekali tidak tampak murung. Kelopak
matamu kelihatan lembut, serupa dua kelopak mawar yang tertelungkup.
Suamimu berkata di belakang telingaku, “Dia mati.”
Lelaki itu pasti saja terpukul. Ia tak percaya kau melakukannya. Kau
menyimpan dengan sangat baik bagian tersepi dari hatimu. Kau tak pernah
membiarkan orang lain benar-benar masuk ke dalam hidupmu selain aku.
“Kenapa aku?” tanyaku waktu itu. “Karena kau anak lautan,” katamu, “dan
aku adalah malam. Kita sama-sama orang yang aneh.”
“Dia mati,” kata lelaki itu lagi, dan kali ini lebih bergetar. “Ia
begitu bahagia. Ia masih tertawa bersama anak-anak pada pagi hari. Ia
singgah ke toko buku. Ia mau membuat pesta ulang tahunku bulan depan. Ia
berencana membuka usaha baru. Ia orang yang sangat bersemangat selama
aku mengenalnya.” Bahu lelaki itu terguncang-guncang dan ia berhenti
bicara saat tangisnya terlepas.
Kau pernah bilang, “Suamiku lelaki baik.” Kini aku melihat air mata
lelaki yang baik hati itu berjatuhan. Aku bisa mencium bau air matanya.
Bau yang tidak aku tahu namanya. Pelan-pelan aku juga mencium baumu.
Bukan bau peti jenazahmu, melainkan betul-betul baumu. Bau yang mungkin
akan kuingat selamanya. Bau itu, hari ini, menguar dari batang-batang
rumput yang dipotong di belakang rumah persinggahanku sebelum aku
kembali ke lautan.
Apa nama baumu itu? Katakanlah sesuatu biar aku tak perlu lagi
bertanya-tanya. Katakanlah sesuatu biar aku berhenti berpikir ingin
mencopot baju lautku dan menenggelamkan diriku di lautan, sebab aku
terlalu lelah memikirkan baumu, yang bisa muncul di mana-mana, di kapal,
pasir, bunga, keong, daun, baju, sepatu, pindang ikan, bakso, minuman
bersoda, kebun sayur, dan bau rumput yang dipotong itu, makin segar,
makin aneh. Apa nama baumu? ***
Rumah Kinoli, 2017
YETTI A.KA, buku kumpulan cerpen terbarunya Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017)
Cerpen Arsyad Salam (Suara Merdeka, 29 Oktober 2017) Suamiku Ingin Mati di Wawonii ilustrasi Suara Merdeka
1/
Pukul satu siang.
Duduk menyandar pada tumpukan dos mi instan, perempuan itu tampaknya
sedang asyik dengan diri sendiri. Pandangannya tak pernah lepas dari
layar ponsel yang terkoneksi dengan headset di kupingnya. Namun
saya yakin ia tidak bisa fokus mendengarkan lagu. Meskipun duduk di
bagian paling atas Kapal Fajar Fadilah, ia pasti terganggu oleh suara
mesin yang mulai menaikkan gas. Sebentar lagi kapal berangkat. Kembali
mengarungi lautan Kendari-Wawonii. Suara percakapan para penumpang
hilang tertelan suara mesin. Begitulah memang setiap kali kapal hendak
berangkat.
Rasanya saya kenal perempuan itu. Entah di mana. Sepertinya saya
pernah tahu siapa dia. Atau paling tidak pernah berbicara dengannya.
Sayang, ingatan tak selamanya panjang.
Pasti ada di antara kalian bertanya, cantikkah perempuan itu? Berapa
usianya? Bagaimana postur tubuhnya? Langsing? Kurus? Gemuk? Yang
bertanya begitu bisanya laki-laki. Entah kenapa laki-laki di mana pun
lebih mengutamakan detail fisik perempuan daripada soal lain. Apakah ia
cerdas? Apa kelebihannya? Itu jarang ditanyakan.
Terus terang saya tak bisa menjawab pertanyaan kalian. Seperti sudah
saya singgung, saya tak kenal dekat perempuan itu. Apakah ia cantik?
Mungkin. Namun bukankah definisi cantik dan tampan sangat relatif?
Artinya berbeda bagi setiap orang.
Ketika Pulau Hari di kanan dan Pulau Saponda di kiri telah terlewati,
saya perhatikan tidak terjadi perubahan pada wajah perempuan itu.
Biasa-biasa saja dan terus mengawasi laut dengan ekspresi sangat wajar.
Mungkin kedua pulau itu sudah terlalu biasa bagi dia, tak lagi membawa
kesan mendalam. Mungkin ia seperti saya juga, melewati pulau itu hampir
tiap pekan. Bolak-balik Kendari-Wawonii. Rutinitas membosankan. Tapi mau
apalagi. Saya memang harus menempuhnya demi tugas dan tanggung jawab
sebagai aparat negara.
Perempuan itu masih juga memandang laut. Tiba-tiba ia berdiri,
melangkah hati-hati mendekati tempat saya duduk di samping tumpukan
jerigen solar. Saya berdebar oleh tingkah yang mendadak itu. Bajunya
tersibak angin. Jilbabnya juga.
“Bapak masih ingat saya?”
Saya memandang cukup lama seraya mengumpulkan ingatan yang berserakan
tentang sosok perempuan yang sekarang berdiri di hadapan saya.
“Saya Nining, Pak.”
“Nining?” saya membalas ragu. Dan ia tahu saya ragu. Ia meneruskan.
“Dulu kita sama-sama naik Kapal Wawonia ke Kendari.”
“Ah, kenapa sekarang sulit sekali mengingat orang?” batin saya. Namun yang keluar dari mulut saya hanya sahutan pendek, “Oh ya?”
Saya memang tidak dikaruniai kefasihan mengingat segala kejadian.
Saya nyaris lupa semua kejadian yang telah lewat, meskipun baru sepekan
lalu. Mungkin benar ia pernah sekapal dengan saya. Entahlah. Namun
mungkin juga ia cuma mengarang-ngarang, mencari alasan bisa mengobrol
dengan saya. Saya tak tahu.
Saya perhatikan perempuan itu lebih cermat. Ada sesuatu yang menarik
dalam dirinya. Sesuatu yang saya tak tahu. Dan saya bingung tak bisa
menunjukkan hal menarik itu. Saya pernah membaca sebuah buku filsafat.
Saya lupa judulnya, tetapi ada yang tidak bisa saya lupakan dalam buku
itu; bahwa saat kita melihat sebuah objek, sudah berbeda bila melihatnya
waktu lain. Perbedaan waktu itulah yang membuat objek berubah.
Saya dan Nining terlibat percakapan. Ia bercerita dulu mengajar di
sebuah sekolah dasar dekat Tumburano di Wawonii Utara. Namun sejak empat
tahun lalu, ia menikah dan tinggal di Kendari.
“Baru hari ini saya kembali ke Wawonii setelah menikah dengan Rustam.”
“Empat tahun?” tanya saya agak heran.
Ia mengangguk mantap.
“Suami kamu sekarang di mana?”
“Di kapal ini.”
“Di kapal ini? Di mana?”
“Di kamar ABK.”
“Kenapa?”
“Ia sakit. Saya membawanya ke kampung untuk berobat.”
“Kenapa kamu di atas sini? Kenapa tidak menjaganya?”
“Ia sedang tidur sekarang. Biarlah ia istirahat.”
Sebenarnya banyak yang saya ingin tanyakan. Namun, entahlah, saya hanya mampu membisu seraya menatap ombak berkejaran.
2/
Tiga jam sebelumnya.
“Tahan sakitnya ya, Rus, sebentar lagi kita ke pelabuhan,” bujuk Nining.
Rustam diam, tak menyahut atau mengangguk. Di dalam taksi sepanjang
perjalanan, Nining berusaha menghibur sang suami. Ia mengajak Rustam
bicara dengan nada manis. Sesekali tangannya mengusap pelipis dan rambut
Rustam yang acak-acakan. Sopir taksi yang mereka tumpangi, lelaki gemuk
yang tampak baik hati, cuma sesekali melirik mereka lewat kaca spion.
“Sejak dulu kan aku sudah bilang, kita berobat ke Makassar saja, tapi
kamu maunya ke kampung. Memang di kampung ada yang bisa mengobatimu?”
Nining terus bicara sendirian. Rustam tergolek tanpa daya di jok
belakang, di sampingnya.
Nining menyuruh sopir taksi mempercepat laju kendaraan, khawatir
ketinggalan kapal. Ia tahu jadwal berangkat kapal kayu ke Pulau Wawonii
tak pernah tepat. Kadang lebih cepat, kadang juga terlambat berjam-jam.
Dalam hati ia berdoa semoga kapal belum berangkat. Kalau ia ketinggalan,
pupuslah harapan membawa pulang Rustam ke kampung.
Memasuki pintu gerbang pelabuhan, Nining sedikit lega ketika dari
jauh melihat Kapal Fajar Fadilah masih tertambat di dermaga. Orang ramai
naik-turun kapal. Pedagang asongan di mana-mana, berteriak menjajakan
nasi bungkus, jagung rebus, dan air mineral.
Nining minta tolong sopir taksi membantu membopong Rustam ke kapal.
Dalam hati ia berharap semoga tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya
ia lakukan. Sengaja ia menutup kepala Rustam dengan kain panjang supaya
tak terkena sinar matahari. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu
ramai membicarakan keadaan Rustam yang telah lama diketahui sakit dan
tidak sembuh-sembuh sampai sekarang. Orang-orang di pelabuhan siang itu
dan hari-hari lain kebanyakan orang Wawonii juga. Mereka kenal Nining.
Juga Rustam tentu saja.
“Kasihan ya,” kata seseorang.
“Memang ia sakit apa?”
“Saya dengar ia sakit jantung.”
Rustam dimasukkan dalam kamar kosong, kamar seorang anak buah kapal.
Nining lega. Kembali ia mengusap kepala suaminya penuh kasih sayang.
Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan agar perbuatan itu tidak diketahui
penumpang lain di kapal. Apalagi sampai diketahui juru mudi. Bisa gawat
urusan nanti. Tadi ia berdebar ketika seorang ABK berkata tubuh Rustam
sudah pucat, mirip mayat.
“Jangan-jangan ia sudah mati,” kata orang itu.
Nining menyahut cepat, Rustam cuma tak sadarkan diri. Penyakitnya
memang gawat. “Ia pernah pingsan dua hari,” ucap Nining untuk
menenangkan diri sendiri.
3/
Dermaga Langara sudah tampak. Kami berhenti bercakap-cakap. Nining
lekas berdiri dan minta diri untuk ke bawah, ke kamar sang suami
berbaring. Ia menatap saya agak lama, membuat saya agak heran seraya
berpikir pasti ada rahasia yang hendak ia katakan. Saya memberanikan
diri bertanya.
“Ada apa?”
Ia mendekat lagi, mendekatkan mulut ke kuping saya. Suaranya halus dan dalam, meskipun agak gemetar.
“Suamiku ingin dikuburkan di Wawonii. Ia ingin mati di pulau itu.”
“Lantas apa masalahnya? Kan kamu membawanya pulang untuk berobat?”
“Ia sudah meninggal, sudah mati sejak dari rumah di Kendari.”
“Hah?”
“Jangan bilang-bilang ya,” bisiknya dengan wajah agak sedih.
“Soalnya kapal-kapal di sini dilarang membawa mayat. Pemali, kata
mereka. Saya pun terpaksa melakukan ini untuk melaksanakan wasiat suami
saya yang ingin dikuburkan di Wawonii.”
Saya belum mampu mencerna apa yang sesungguhnya terjadi ketika dari
bawah terdengar teriakan seorang anak buah kapal. “Ada mayat dalam kapal
ini! Siapa keluarganya? Siapa bertanggung jawab?” (44)
– Arsyad Salam, menulis novel dan cerpen. Novel yang telah terbit Kidung dari Negeri Apung (2015), Jejak Manusia Langit (2016), dan Lintasan Menikung (2017). Kumpulan cerpennya Pasung Jiwa Merpati Putih (2016). Kini, dia tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Cernak Wahidatun Nisai Fauziyati (Suara Merdeka, 29 Oktober 2017) Mimpi Sekejap ilustrasi Suara Merdeka
Kamis malam Jumat, Akbar mengunjungi pengajian peringatan Isra Mikraj
di mushala bersama Kak Yusuf. Tetangga rumah berbondong-bondong menuju
mushala dengan membawa jajanan pasar. Bakda magrib acara dibuka dengan
pembacaan surat Al-Fatihah. Akbar antusias mengikuti rangkaian acara
meskipun didera kantuk.
“Kak, Kiai Hamzah kapan mulai ceritanya sih? Akbar mengantuk,” tanya Akbar ke Kak Yusuf.
“Sabar Akbar, kan baru saja dimulai,” jawab Kak Yusuf singkat.
Kiai Hamzah merupakan pemuka agama yang sangat disegani. Tausiyah
yang disampaikan mudah dipahami dan mengena di hati. Akbar menantikan
kisah-kisah yang biasa disampaikan ketika mengaji.
Akbar mengamati sekeliling ruang utama mushala. Orang-orang terlihat
khusyuk merapalkan doa. Suasana yang khidmat membuat Akbar semakin
mengantuk. Segera Kak Yusuf memintanya untuk mencuci muka. Akbar menuju
tempat wudhu untuk mencuci muka dengan harapan kantuknya hilang.
Saat menuju ke tempat wudhu, tiba-tiba ada Raka yang mengajak Akbar untuk bergabung bermain gerobak sodor.
“Akbar main yuk. Gabung ke tim aku, kurang satu orang nih,” pinta
Raka ke Akbar. Akbar pun tergiur untuk ikut bermain. Padahal Kak Yusuf
sudah berpesan agar ia mengikuti pengajian hingga tuntas. Namun, untaian
doa-doa yang mendayu serta suasana khidmat membuat kantuk semakin
parah.
“Bosan menunggu lama, lebih baik ikut bermain saja,” bisik Akbar.
Akhirnya Akbar memutuskan untuk ikut bermain bergabung bersama tim
Raka yang akan melawan tim Mario. Permainan dimulai, tim Raka yang akan
berjaga dengan susunan Akbar-Rio-Arkhan-Raka.
Mudah saja bagi Akbar untuk mematikan lawan dengan menangkap si
gembul, Naufal. Poin pertama untuk tim Raka disumbangkan oleh Akbar.
Sementara kedudukan satu nol untuk kemenangan tim Raka atas tim Mario.
Giliran tim Raka yang akan menjadi penyerang melewati penjaga untuk
mencapai garis finish. Penyerang pertama adalah Akbar, ia dikenal
sebagai pelari yang cepat. Tak heran lawan mewaspadai gerak-gerik Akbar.
Tubuh mungilnya meliuk-liuk menghindari sergapan penjaga. Akbar pun
mampu mencapai garis finis dan kembali menyumbangkan poin untuk tim
Raka.
Sementara itu, Raka dan Rio masih terjebak dalam kepungan para
penjaga. Gemuruh sorak anak-anak yang menonton membuat suasana menjadi
tegang dan seru.
“Raka masuk ke kanan…kanan…kanan..awas ada Naufal…awas!” sorak salah satu penonton.
“Rio ayo ..cepat…cepat..cepat masuk… Awas..” teriak histeris para penonton.
Teriakan anak-anak ini terdengar hingga ke ruang utama mushala.
Datanglah Pak Haji Salman di antara anak-anak tersebut. Mereka terkejut.
Tatapan mata yang tajam, tangan berkacak pinggang serta kumis tebal
melengkung ke atas menjadikan kesan garang. Seketika anak-anak tak
berkutik. Mereka diam. Namun, rupanya Akbar tidak mengetahui kedatangan
Pak Haji Salaman. Dengan semangat, ia masih terus berteriak, “Masuk
kanan Ka..Raka ke kanan…kanan si Naufal…ayo masuk kanan…cepat…cepat!”
Arkhan segera memberi kode, tapi Akbar tak menghiraukannya hingga jeweran mengenai telinganya.
“Dasar anak-anak yang bandel. Sudah diperingatkan berkali-kali tetap
saja teriak-teriak di mushala. Bermain boleh saja tapi nanti setelah
pengajian. Mengganggu orang yang sedang beribadah itu tidak baik,” tegur
Pak Haji Salman, Akbar pun terkejut dan mengerang kesakitan.
Dan… Jeweran Pak Haji Salman rupanya membangunkan Akbar dari mimpi
buruk petang itu. Tidak ada Pak Haji Salman di sampingnya, tidak ada
teman-teman di sekelilingnya.
Akbar terduduk di kursi tempat wudhu karena kantuk yang tak tertahan.
Akbar lalu mengusap seluruh muka dengan air dan menutup keran air
tersebut. Segera ia kembali ke ruang utama mushala karena suara merdu
Kiai Hamzah mulai menggema di telinganya. Tidak akan ia lupakan mimpi
sekejapnya itu. (58)
Cerpen Hajriansyah (Kompas, 29 Oktober 2017) Kalau Kau Memandang dengan Mata Terpejam ilustrasi Niluh Pangestu/Kompas
Birin mengucek matanya yang merah darah. Semakin dikuceknya semakin
perih. Jari-jarinya basah. Agak samar ia melihatnya berwarna darah.
Sementara pecahan kaca semakin menempel, perih makin parah. Ibunya yang
melihatnya terpekik. Hening sesaat, lalu ia berteriak, “Usuuup!” Rumah
lanting berayun, tanda seseorang menjejak dengan kaki yang tergesa.
Pamannya itu bereaksi cepat, ia tangkap tangan Birin yang masih
mengucek, digendongnya anak kecil itu dan berlari membawanya ke mantri
terdekat. Ibunya rebah di atas kaki bertelimpuh, hilang tenaga. Ibu-ibu
tetangga datang menghiburnya.
Peristiwa hilangnya penglihatan Birin itu terjadi saat umurnya belum
genap lima tahun. Menjelang usia sekolah. Kini ia telah memasuki usia
remaja, waktu sepuluh tahun berlalu seperti air sungai mengalir menuju
muara. Kadang terasa kadang tidak. Birin menjalaninya dengan tabah. Tapi
tidak bagi ibunya. Orangtua yang malang itu sering menangis di malam
hari. Suaranya samar-samar ditangkap telinga adiknya, Usup, yang tidur
berbatas dinding tripleks kusam. “Ya Tuhan, ambillah mataku ini,
penglihatanku ini, dan berikan untuk anakku….”
Doa-doa yang perih itu seiring isak tangis ditahan yang menyayat
hati. Wanita separuh baya yang baru menikmati menimang anak di usianya
yang menjelang 40 tahun itu kehilangan suaminya saat Birin baru berusia
belum dua tahun. Buruh penggergajian kayu di tepi Sungai Jagabaya itu
tewas di tempat kerja, saat balok kayu besar yang baru digergajinya
separuh jatuh menumbuk kepalanya ketika ia sedang makan siang di sisi
panggung penggergajian. Kesedihan wanita itu makin dalam saat
menyaksikan anaknya tak dapat melihat seperti anak-anak kebanyakan, dan
merelakannya tak dapat sekolah. Setahun lewat berjalan setelah Birin
kehilangan penglihatan, wanita penuh kasih itu meninggalkan anaknya
semata wayang. Usuplah yang kemudian menggantikannya, menjadi
ibu-menjadi ayah bagi anak buta yang tak pernah menangis itu.
Usup sendiri bekerja serabutan. Keterampilannya melukis dan menulis
puisi membantunya mendapatkan uang. Bila-bila ia jadi tukang cat
dinding, di lain waktu membantu temannya yang pemborong membuat taman.
Bila tak ada pekerjaan di luar ia membuat lukisan wajah pesanan, dan
saat malam sendirian ia menulis puisi atau cerita pendek.
Suatu hari Birin menegurnya dari belakang. Kemenakannya yang buta itu
tidur di kamar dulu ibunya tidur, di sebelah kamar Usup yang sama
kecil.
“Paman sedang menulis puisi, ya?”
Usup berpaling memandang wajah kemenakannya yang polos itu. Ia
menjawab dengan sepenuh kasih yang dapat diberikannya. “Iya. Kenapa
semalam ini kau belum tidur?”
“Aku baru berbincang dengan Kakek Jibu.”
Dahi Usup mengernyit, tapi segera ia acuh. Bukan sekali ini Birin
berkata ia baru bertemu atau berbincang dengan Kakek Jibu. Usup sudah
terbiasa meski awal-awalnya ia heran juga, siapa Kakek Jibu. Pikirnya,
Birin hanya berhalusinasi dan mengisi kekosongan waktunya dengan
cerita-cerita yang tak mudah dicernanya itu. Konon, Kakek Jibu adalah
jelmaan buaya penguasa Sungai Jagabaya.
“Paman, aku ingin menulis buku. Maukah paman membantu menuliskannya untukku?”
“Sangat mau, nak. Sini, duduk di samping paman,” kata Usup menarik tangan Birin. “Berceritalah, paman akan menuliskannya.”
Anak buta itu duduk perlahan di sisi pamannya. Ia menoleh ke arah
pamannya yang telah siap meletakkan jemarinya di atas tombol-tombol
huruf. Notebook hasil dari honor beberapa juara lomba menulis
puisi itu mendongak ke atas, seperti menantang atap rumah mereka yang
tak berplafon.
“Kasih ibu seperti sungai yang menampung deras aliran bawah sungai.
Tahukah Kau, arus bawah itu sangatlah kencang? Aku tahu. Kakek Jibu yang
mengatakannya padaku. Begitu pula yang kurasakan saat merendamkan kaki
di sisi buaya tua itu. Bagaimana Paman, menarikkah kata-kata pembuka
ini? Sudah kau tulis bukan.”
“Iya. Teruskanlah!”
“Ibuku adalah wanita yang teguh. Seperti sungai yang tebing-tebingnya luruh, ia tetap menjagaku sepenuh hatinya….”
Malam itu luruh bersama cerita Birin. Usup mengetik setiap kata
dengan sabar. Air matanya merembes dari ujung kelopaknya. Perlahan,
tangis tanpa suara, tanpa sengguk, tanpa jeda. Waktu sekian jam habis
untuk satu bab cerita, enam halaman. Tertulis di sana tepat 2.100 kata.
“Mengapa paman menangis?”
“Ah, kata siapa paman menangis.”
“Aku merasakannya. Setiap tetes di pipi paman aroma asinnya sampai ke hidungku.”
“Ah, itu perasaanmu saja. Aku tak menangis.” Usup menyapu pipinya.
Tiba-tiba tangan Birin juga menyeka air matanya, Usup terkejut, seketika
itu langsung memeluk kemenakannya.
“Paman tak perlu malu untuk menangis. Setiap tetesnya membasuh luka
di hati kita. Semua orang, tak besar tak kecil menangis, paman. Orang
kaya menangis, yang miskin pun menangis. Yang berilmu menangis, yang
bodoh begitu pula. Alasannya bisa berbeda, namun tangis menjadi obat
bagi sesak di dada.”
“Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu, anakku?”
“Aku tak pernah berdusta.”
“Benarkah?” Usup menarik tubuhnya, tangannya tetap memegang pundak
Birin. Ia mengambil jarak, benar-benar merasa heran. “Sekali pun kau tak
pernah berdusta?”
“Ya, aku tak pernah berdusta. Juga tentang Kakek Jibu, meskipun paman tidak memercayainya.”
Kali ini Usup benar-benar kagum sekaligus penasaran. Kemenakannya ini seperti tahu isi hatinya.
“Paman ingin kukenalkan dengan Kakek Jibu? Kemarilah!”
Kali ini Usup yang dituntun Birin. Mereka membuka pintu rumah lanting
yang menghadap ke sungai. Kaki Usup yang ragu terasa berat, namun tetap
diikutinya langkah kecil di hadapannya. Setiap jejakan iramanya
mengayun rumah kecil di atas sungai itu.
Dua beranak paman dan kemenakan itu duduk mencangkung di atas papan
yang disangga bambu dan batangan pohon berlumut itu. Tangan Birin
menepuk-tepuk permukaan sungai, mulutnya memanggil lirih, “Kakek Jibu,
Kakek Jibu, datanglah. Pamanku ingin berkenalan denganmu.”
Waktu melambat bagi Usup. Pikiran dan perasaannya di antara percaya
dan tidak percaya, tapi ia mau bersabar kali ini. Tak berselang lama,
permukaan sungai bergelombang. Sebuah benda sebesar batang ulin
berdiameter sehampir satu meter menyembul dari bawah sungai. Tepatnya,
seekor binatang. Buaya! Warnanya persis batang taradam dengan
lumut-lumut hijau tua.
Usup hampir terjatuh dari jongkoknya. Refleks tangannya menahan
tubuhnya yang terasa berat. Ia benar-benar percaya, namun tak sepenuhnya
ingin percaya. Matanya dikuceknya. Birin menahan posisi pamannya yang
ingin berdiri. “Jangan takut, Paman. Kakek Jibu baik, ia tidak memakan
manusia. Kitalah manusia, yang sering menakut-nakuti makhluk selain
kita. Kemarikan tanganmu, belailah ia!”
Usup benar-benar percaya, meski tak ingin sepenuhnya percaya. Telapak
tangannya membelai kepala sebesar ember itu. Binatang itu diam, matanya
yang nyalang. Usup seperti mendengar suara yang menjalar lewat
tangannya.
“Namaku Kakek Jibu. Kau mungkin sudah sering mendengarnya dari
kemenakanmu. Aku pun tahu nama dan kebaikanmu darinya. Aku makhluk Tuhan
Yang Esa, sepertimu. Kau mungkin heran, tapi percayalah kuasa Tuhan
yang mengalir lewat kepolosan hati kemenakanmu. Aku adalah penjaga
keluargamu. Datukmu yang bernama Harun, seorang Paaliran, yang pertama
memeliharaku. Sampai ke generasi ayahmu, tak ada lagi yang mau
bersahabat denganku. Kakak ayahmu yang tertua yang telah menalak
persahabatanku dengan keluargamu. Tak mengapa bagiku.
Aku paham zaman telah berganti. Orang-orang tak perlu lagi
persahabatan dan perlindungan makhluk semacamku. Tak mengapa bagiku.
Cukuplah kasih dan pemberian keluargamu hingga kakekmu.
Karena kebaikan merekalah, kini aku menemani kemenakanmu. Sebenarnya
aku tak benar-benar menjaganya. Aku hanyalah perantara, karena kasih dan
kebaikan yang mengalir lewat tangan orang-orang yang baik hati, kasih
dan kebaikan Tuhan Yang Esa menjaga keturunan mereka.”
Tangan Birin masih memegang tangan pamannya. Ia turut mendengar suara itu.
“Birin, ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir kita. Setelah
ini, pamanmu yang akan sepenuhnya menjagamu sampai kau kembali ke
pangkuan ibumu. Selesaikanlah ceritamu, sampaikan kisah tentang kasih
dan cinta kepada manusia.”
Birin mengangguk-angguk, ia tampaknya paham maksud pembicaraan itu.
Bibir pamannya hanya sanggup menyuarakan “iya”, meski ia tak tahu, “iya”
untuk apa dan ke mana maksud tujuan pembicaraan dari suara yang
menjalar di tangannya.
Sejak malam itu dua beranak paman dan kemenakan itu tenggelam dalam
ketik kata dan suara lirih yang keluar dari mulut kecil penuh cinta itu.
Dari kata-kata yang seperti aliran sungai itu ia baru menyadari,
ternyata banyak sekali yang ia tak dapat rasakan dan tahu sementara
kemenakannya lebih memiliki kesadaran. Cerita tentang keluarga mereka
yang pedih. Tentang ayahnya, Haji Isam, juragan kayu yang bangkrut
bahkan jauh sebelum peraturan larangan illegal logging diterapkan
pada masa Presiden SBY, karena ditipu. Ya, ia tahu ayahnya dulu orang
kaya. Tapi ketika itu ia masih remaja dan tak mau ambil peduli keadaan
mereka, mengapa mereka kemudian harus pindah ke rumah lanting yang
dihibahkan rekan kerja ayahnya, persis di belakang rumah mereka yang
besar di darat. Ia hanya tahu ayahnya meninggal tak lama setelah
bangkrut. Ibu tirinya meninggalkan mereka, hingga Isah, kakaknya
satu-satunya bersama suaminya, ayah Birin, yang menggantikan ayahnya.
Umar, ayah Birinlah yang bekerja sementara kakaknya membuat anyaman
tanggui untuk membantu penghasilan suaminya yang tak seberapa dari
memburuh di bekas penggergajian kayu milik ayah mereka. Usup terlalu
asyik dengan teman-temannya yang seniman. Ia hanya merasa pedih sesaat
dan kemudian tak mau ambil peduli lagi. Ia menjalani hidupnya seperti
arus sungai mengalir di bawah rumah mereka.
Tepat pada malam ke-40 cerita Birin selesai. Pandangan anak kecil
yang buta matanya itu ternyata lebih dewasa dibandingkan Usup sendiri.
Setiap cerita yang didengarnya direkamnya begitu kuat, dan detail.
Termasuk cerita ngalor-ngidul di warung tentang keadaan
masyarakat dan politik negeri ini. Dan untuk itu semua, Birin hanya
punya satu kata: Cinta. Sesederhana itu saja, meski tak sesederhana itu
menurut Usup.
Malam-malam berikutnya adalah malam yang penuh panas demam bagi
Birin. Keadaan itu tak juga membaik meski Usup telah mencoba membawanya
ke mantri atau puskesmas terdekat. Obat telah diminum, tapi kesehatan
Birin terus memburuk. Perlahan Usup mulai paham maksud pembicaraan Kakek
Jibu. Mungkin, inilah kesudahannya. Birin meninggalkan Usup, untuk
selamanya, di pangkuannya.
Orang-orang datang melayat dan membantu penguburannya. Remaja buta
yang selalu membawa keceriaan di mana saja ia bersinggungan dengan
tetangganya itu diantar orang banyak sekali. Usup bahkan tak menyangka
akan sebanyak itu yang datang dan membantu. Ia baru tahu, ketika
ditinggal bekerja, ternyata Birin sering keluar rumah beramah-tamah dan
membantu orang-orang. Ia yang kecil dan seolah tak berdaya, bahkan lebih
kuat dari Usup yang tua membujang itu.
Ketika membaca kembali tulisan Birin, yang dipikirkannya akan
diusahakannya dicetak jadi buku ke temannya yang penerbit, Usup berhenti
pada dua kalimat, dan benar-benar merenungkannya:
“Kalau kau memandang dengan mata terpejam, akan lebih banyak hal yang
dapat kau lihat. Terutama kasih yang datang dari cinta kepada sesama,
semuanya memenuhi semesta.”
Catatan:
Paaliran: Pawang buaya
Batang tarandam: Kayu gelondongan yang terendam di sungai
Tanggui: Caping khas Banjar yang biasa digunakan para pengayuh perahu
Hajriansyah, menulis puisi dan cerpen, tinggal di Banjarmasin. Karya cerpennya sudah dibukukan dalam Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami (Frame Publishing, 2009) dan Kisah-kisah yang Menyelamatkan (Tahura Media, 2016). Ia mengikuti program Kelas Cerpen Kompas 2017.
Cerpen Kaka Clearny (Republika, 29 Oktober 2017) Surga di Formosa ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Embusan sapu-sapu angin November membawaku terbang kembali memunguti
serpihan asa yang pernah terberai. Tergoda oleh iming-iming gaji tinggi
yang ditawarkan seorang calo TKI, aku memilih Negeri Formosa, Taiwan,
untuk mengadu nasib, menggantungkan harapan-harapan pada koin-koin NT.
Dengan semangat super meluber-luber, jiwa dan ragaku lesap menuju negeri
empat musim bersama maskapai Eva Air, meliuk di birunya angkasa,
menyelinap di antara gumpalan putihnya mega.
Kedua mataku berbinar. Aku merasakan angin daratan Cina menyapa
lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu,
saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit
Buddist Tzu Chi di Xindian sesaat setelah oto berpelat nomor aksara Han
Zi itu memboyongku untuk menemui majikan. Aku tidak sendiri, ada Mr Chen
yang notabene sebagai agenku.
Ada sesuatu yang membuncah isi kepalaku, hatiku membelungsing. “Bukankah aku sudah medical check-up, mengapa harus ke rumah sakit lagi?” gumamku dalam hati.
Meski begitu, aku tetap mengekor mengikuti jejak Mr Chen menuju
lantai 7, ruangan nomor 23. Aroma pekat obat begitu kuat di dalam
ruangan itu. Terdapat tiga ranjang pasien. Langkah kami lurus menuju
ranjang yang memangku jendela.
Sontak perhatianku mengarah pada sosok pria yang tergolek pulas di
atas ranjang. Terlihat kedua tangannya dalam keadaan terbungkus dan
terikat pada masing-masing sisi ranjang. Separuh batok kepalanya
terbalut perban dengan bercak darah. Di hidungnya terpasang selang
makan. Di lehernya terdapat lubang sebagai saluran sedot dahak. Di
dadanya terpasang alat pendeteksi detak jantung. Dan di bagian bawah
ranjang terdapat kantong kencing.
Kondisi pria itu sungguh memprihatinkan. Ini pemandangan pertama yang
mengerikan sepanjang hidupku. Terdapat dua wanita yang berdiri di
masing-masing sisi ranjang. “Selamat petang, Nyonya Ma,” suara Mr Chen
menyapa wanita di depannya memecahkan lamunanku akan sosok pria yang
tergolek di atas ranjang.
“Petang, Mr Chen.” Salah satu wanita menjawab sapaan agen perekrutku.
Wanita paruh baya, bertubuh kurus. Tingginya kurang lebih sama denganku
150 cm kurang sesenti. Tergambar jelas guratan-guratan penuh beban di
wajahnya, kusam. Matanya terlihat lelah.
“Namanya Nana, baru datang dari Indonesia pagi ini,” tambah Mr Chen.
“Nana, ini nyonyamu,” ungkap Mr Chen padaku.
“Selamat petang, Nyonya,” sapaku padanya sambil menganggukkan kepala.
Ada sedikit rasa gugup meski ini bukan kali pertamanya aku bekerja
menjadi pembantu.
“Selamat datang,” jawab Nyonya, diikuti seraut senyuman hambar dari wajahnya.
“Nana, tugas utamamu menjaga Tuan Ma.”
“Beliau baru saja operasi di bagian kepala akibat kecelakaan.” Mr Chen memberi penjelasan singkat padaku.
Perkenalan dilanjutkan dengan penjelasan tugas dan kewajibanku yang
Nyonya paparkan panjang lebar. Aku sedikit tergemap. Keadaan seperti ini
bagai membeli kucing dalam karung. Aku tidak membaca dengan seksama isi
lembar hijau yang telah terbubuh oleh tanda tanganku itu.
Tepatnya, semasa pelatihan di asrama perusahaan jasa tenaga kerja
Indonesia (PJTKI), sebelum terbang ke Taiwan. Yang ada di benakku saat
itu hanya ingin segera bekerja di Taiwan, tanpa memilah-milah bagaimana
kondisi kerjanya. Pekerjaan kali ini sungguh berbeda dengan sewaktu di
Singapura yang kukira berkutat dalam urusan dapur dan kebersihan rumah.
Tapi, berurusan dengan pesakit dan rumah sakit.
Meski begitu, aku harus tetap konsisten, semua sudah telanjur.
Terikat perjanjian utang bank selama sembilan bulan, aku harus
melunasinya. Aku harus tetap bekerja demi pulang membawa uang. Mr Chen
pamit undur diri, sepesan wejangan dia wariskan padaku.
“Kerja baik-baik ya.”
“Kalau ada apa-apa, hubungi aku,” pesannya sambil menepuk ringan pundakku.
“Terima kasih,” ungkapku sambil mengangguk.
Mr Chen berlalu meninggalkanku. Semen tara, sesosok wanita lain yang
bersama Nyonya adalah yang merawat Tuan sebelum aku tiba. Namanya Ms
Anggie. Perawakannya tinggi besar. Wajahnya sinis menatapku. Untuk
sementara, dia juga yang akan mengajariku bagaimana merawat Tuan.
“Nyonya, kecil sekali dia!”
“Apa dia mampu menjaga Tuan?” ungkap wanita itu pada Nyonya sambil sesekali melirikku.
“Nana pernah bekerja di Singapura selama empat tahun.” Nyonya mencoba membela.
Maghrib menjelang, senja di ufuk barat menyemburatkan asa yang segera
tenggelam dalam dekapan malam langit Negeri Formosa. Nyonya pun telah
berpulang ke kediamannya dan memercayakanku merawat tuan di bawah
pengawasan Anggie yang memang sudah berpengalaman.
“Kamu bisa sedot dahak kan?”
“Coba kamu praktikkan sekarang!” Suruh Anggie dengan nada agak
tinggi. Entah apa yang terjadi, sejak awal kedatangan dia
memperlakukanku dengan sinis. Aku cuaikan saja. Toh dia bukan majikan.
“Aku bisa, Nona Anggie,” jawabku lirih.
“Selamat malam, Tuan.”
“Namaku Nana.”
“Nantinya, aku yang akan merawatmu.”
“Permisi Tuan, aku akan membantumu sedot dahak.” Aku memperkenalkan diri pada tuan sebelum melakukannya.
Tuan tak bersuara karena di bagian leher ada semacam lubang napas dan
itu dijadikan jalan saat sedot dahak, dia hanya mengangguk sebagai
tanda setuju. Sesekali, dia melirik ke arah Anggi. Sorotan mata Tuan bak
pisau tajam, penuh kebencian. Dahinya mengernyit, bibirnya komat-kamit
menyumpah serapah, tapi tak terdengar suara.
Kulakukan dengan perlahan penuh kehati-hatian. Aku ingat pesan Nyonya
yang menjelaskan mengapa kedua tangan Tuan terikat. Karena otak Tuan
bagian pengendali saraf motorik belum benar-benar pulih, hal ini
menimbulkan gerak refleks memukul, mencakar, mencabut apa saja yang ada
didekatnya dan dia tidak sadar akan hal itu.
Saat aku sedang menyedot dahak pada sedotan ketiga, tiba-tiba
pembungkus tangan Tuan sebelah kanan terlepas. Reflek tangan kanannya
menampar wajahku sangat kuat, aku tersungkur menepi ranjang.
Tangannya tak terkendali mencabut selang makan, menarik alat yang
terpasang pada lehernya. Seketika darah segar muncrat bak air mancur
dari lubang sedot dahak itu, tangannya tak berhenti mencakar-cakar
tubuhnya sendiri.
“Dokter!”
“Suster!”
“Tolong!” Terdengar teriakan Ms Anggie. Wajahnya menggambarkan ketakutan.
Aku dengan gegas memencet tombol darurat di tepi ranjang agar
pertolongan segera datang. Kuraih tangan kanan tuan. Ada sembilan
perawat, tiga dokter yang datang menanganinya. Sementara, aku lirik
Anggie yang berdiri menepi, terlihat sedang berbicara di telepon.
Tak lama, Tuan dibawa masuk ke ruang ICU. Pada waktu yang bersamaan,
Nyonya datang bersama kedua putrinya. Wajah mereka penuh kegelisahan
berderai air mata. Tapi, reaksi Nyonya membuatku nanap terpatung. “Pergi
kau, aku tak ingin melihatmu!” dengan suara yang begitu lantang hingga
beberapa penghuni ruang lantai 7 keluar menyaksikan pengusiranku.
Dia melempar tas yang berisi baju-bajuku, berserakan di lantai.
“Tapi, Nyonya…!” Aku berusaha menjelaskan, Nyonya berlalu tak
pedulikanku.
“Tak punya pengalaman, jangan ke sini,” ejek Anggie yang mengikuti langkah Nyonya.
Aku punguti baju-bajuku. Beberapa pasang mata mengawasiku penuh iba,
ada pula yang mencaci, menyumpah serapah. Selanjutnya, dalam lunglainya
tubuh ini, wajahku bagai tersulut api. Dadaku terpanggang.
Rasanya, seperti ada hawa panas berdesak-desak, menggerapai
kerongkongan, menggumpal di rongga hidung, berjalar pelan, lalu bermuara
di balik kelopak mata. Kubiarkan saja air mataku merembes mengalir
pelan di pipi. Mindaku seolah masuk dalam delusi dan berbisik agar aku
tak perlu takut.
Tanganku merogoh ke dalam tas, kuraih telepon genggam yang hanya
memiliki tiga fungsi, menelepon, mengirim SMS, dan mengajarkan
keikhlasan. Kutekan beberapa nomor dan mulai berbicara.
“Selamat malam, Mr Chen!”
“Aku….” Dengan nada terbata-bata aku mengubungi agen, tapi belum selesai berucap dia sudah memotong pembicaraan.
“Ya, aku sudah tahu.”
“Bermalam saja di rumah sakit.”
“Besok aku jemput.” Mr Chen berkata dengan nada ketus. Sepertinya,
dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia tak memberiku kesempatan berbicara
dan langsung mematikan telepon.
Bulir-bulir bening tak berhenti menetes. Isak tangis lirih memecah
keheningan malam yang semakin larut. Bahkan, satu-satunya pelindung di
negeri ini menelantarkanku. Aku ingat Ibu, ingin mengadu padanya. Tapi
tidak, ini kecerobohan yang kubuat sendiri. Aku tidak boleh
membebaninya. Aku tidak memahami isi kontrak kerjaku, ambisi untuk
segera mengeruk NT mematahkan nalarku, itu kelalaianku.
“Ibu, aku sudah sampai di Taiwan, majikanku sangat baik. Ibu doakan
anakmu ya?” Selayang SMS kukirim untuk Ibu, agar beliau tidak khawatir.
Dinginnya AC ruangan lobi rumah sakit membawa lamunku pada sebuah
perenungan. Kejadian hari ini akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur
hidupku. Belajar, belajar, dan belajar dari setiap skenario hidup yang
terjadi.
“Kamu pergi mandi dulu!” Seorang perawat tiba-tiba mendekatiku sambil mengulurkan sebungkus roti dan sekaleng susu.
“Malam ini, aku boleh bermalam di kursi ini?” izinku padanya.
Dia mengangguk tanda setuju. Kuhabiskan malam ini di bangku ruang
tunggu rumah sakit menunggu pagi menanti agen datang menjemputku.
Menjadi TKI itu bagai melempar dua sisi mata uang, mempertaruhkan nasib.
Entah, saat melemparkan mata uang, nasib akan jatuh di salah satu
sisi mana, nasib baik atau buruk. Namun, yang paling utama adalah
berharap kepada Sang Pencipta agar senantiasa memberikan hidayah dan
jauh dari putus asa. Semangat harus tetap ada, meski permasalahan selalu
berdatangan.
Hong Kong, 20 September 2016
Cerpen ini berhasil menjadi pemenang
pertama Bilik Sastra VOI Award 2017 yang ditulis oleh pemilik nama asli
Nila Noviana dengan nama akun Facebook sekaligus nama pena Kaka Clearny.
Dara Blitar kelahiran 17 Desember 1986, saat ini, aktif sebagai pekerja
migran di Negeri Beton. Pernah menjuarai lomba cerpen yang diadakan
KPKers Hong Kong maupun KPKers pusat. Masuk dalam 250 penyair terbaik
Indonesia versi Bebuku Publisher. Juara satu lomba menulis puisi tema
janji Penerbit Harasi. Karya-karya lain dibukukan dalam antologi bersama
baik cerpen maupun puisi. Alamat e-mail yang masih aktif nila00123@gmail.com.
Cerpen Istafid Al Mubarok (Media Indonesia, 29 Oktober 2017) Keinginan Angin ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
TERUS saja kupandangi perempuan itu. Rambutnya yang juntai bak
jembatan bambu keropos membentang sungai obsesi seorang pemimpin sejati.
Lalu, kerutan tipis-tipis di wajahnya yang terlalu dini menampak bagai
gumpalan mendung yang mengusik pesona jingganya senja. Sesekali gigil
mencuat dari gemetarnya bibir mungil yang mulai ungu dan jari-jemari
tangannya mencengkeram mencari perlindungan dari rasa pahit yang
membeku. Pandangannya kosong. Namun, tajam. Sejenak mata itu
binar-binar. Meleleh butiran-butiran bening nan mutiara. Aku selalu
menghormati perempuan itu, meski ia memutuskan untuk menangis.
Aku menyuruh Mega menggendong Jagad, lalu kuhisap dalam-dalam rokok
yang tadi sore kupungut dari jalanan sepulang mulung. Sambil kupijat
pelan kaki perempuan yang sepantasnya aku panggil kakak. Namun, hampir
tiga bulan ini aku sapa dia dengan sebutan ibu. Aku temukan jejak-jejak
perih di telapak kakinya. Hanya senyum yang sesekali terpaksa ia
lemparkan untuk menutupi setiap tikungan pedih dalam menapaki kehidupan
yang misteri. Karena bagi kami ketenteraman hidup dalam kehidupan adalah
jauh lebih nikmat dari pada hidup dalam kemewahan hasil penjarahan.
***
HARI sudah mulai malam, Kudengar derap langkah-langkah tergegas
waktu. Balik merehatkan tubuh. Ada juga yang bermula menanam
mimpi-mimpi. Dari seberang jalan nampak, Banyu dan Bumi menuju ke
kediaman kami yang remang-remang oleh biasan lampu jalan.
Kedua bocah yang kupanggil adik ini seperti ketakutan, wajahnya
memerah, matanya elang yang siap menikam mangsa, jantungnya bersuara
tanpa jeda. Nelungsep di pinggiran ketiak ibu.
“Banyu. Bumi, ada apa? Apa kalian dikejar-kejar segerombolan
srigala!” Tanya ibu sambil memposisikan tubuhnya setengah duduk setengah
tiduran, bersandar pada tembok kediaman kami.
“Tii…Tidak bu, kami menemukan dompet sewaktu mandi di MCK samping
Masjid Gede, dan ini bu.” Kalimat Banyu mengalir tak lancar bagai kali
hitam penuh limbah yang tersumbat segelintir pejabat tak punya adab,
meraba untuk kelanjutan yang tidak terungkap.
Ibu membuka dompet yang berpenghuni, dua lembar ratusan ribu dan
kartu identitas hak milik. Kurasa malam ini perut kami akan terisi
makanan yang mengenyangkan dan nikmat. Bukan makanan yang lezat. Orang
seperti kami memimpikan makan makanan yang lezat adalah suatu kedhoifan.
Cukup, bisa makan kenyang dan bercanda sedikit sebelum nyenyak dalam
tidur adalah surga yang terkirim lebih awal buat kami.
Oh…Ternyata persepsiku salah, setelah melihat dua lembar ratusan
ribu, Ibu membagikan satu-satu kepada mereka yang menemukannya dan
mengatakan besok mau dibelikan jaket di pasar loak agar kalau tidur
tidak kedinginan.
Mereka semua sudah pada lelap. Desir sepoi menggerayangi kulit
menerobos ke tulang kaki lalu naik ke seluruh tubuh kurusku. Sesekali
kulirik perempuan itu dalam ketenangan tidurnya. Ada kejanggalan yang
mengusik hati dan otak ini. Padahal kejanggalan semacam ini selalu
muncul dan selalu pula aku bisa meredamnya. Entah, kenapa malam ini
sesuatu yang mengusik isi batin serta otakku seakan-akan makin berpacu
menyeruak bersama dinginnya malam. Napasku putus-putus, jantungku tak
punya ritme. Aku coba untuk melangkah keluar, menepis gejolak yang
menganga mengalihkan pandangan mata ke ruas jalan nan sunyi menggulita.
Namun, beberapa jenak, derasnya hasrat tak lagi tertangkis. “Akankah
risalah baru tumpah malam ini, bagai hujan yang dirindukan petani.”
Perang dalam batinku bertalu-talu.
***
DENGAN jutaan rasa, aku belai pelan rambutnya mengumal, lalu jemari
ini berenang di pipi dan mungil bibirnya, saat tangan ini ingin menyelam
ke dasar gundukan salju. Tanganku tak bergerak, mukaku merah saat
dingin kurasa meremas jemariku.
“Aak akk aku, aku,” mulutku tertutup jarinya. Kemudian ia duduk dan
menawarkan air mineral setelah ia minum. Kugelengkan kepala tanpa kata,
jutaan rasa masih memumpa jantung tak berirama.
“Surya, tak usah kau malu, apa yang kau rasakan sebenarnya juga sama selama ini saya pendam.”
Napasnya terasa hangat saat kalimatnya mengurai. Tapi, di setiap kali
aku mau ngomong, mulutku selalu ditutup jemarinya. Ia meyakinkanku.
Badannya sudah pulih, kuat dan segar, sesegar mukanya yang terbasuh air.
Beberapa jenak kami tanpa kata, hanya pandangan mataku tak mau sekedip
pun lepas dari apa yang ia lakukan. Sesaat, aku di buat nyinyir, ngeri
olehnya. Kulit muka yang sengaja di kelupas tak membuat dia mengaduh.
“Lihat ini Surya!” sobekan kulit di tonjokkan di hatiku.
“Kenapa kau lakukan itu?”
“Tamati wajah saya dan pengang sobekan kulit ini,” pintanya sambil mengusap-usap basah wajahnya dengan kaos yang dipakainya.
“Kenapa saya lakukan hal demikian,” jelasnya dalam kepekatan malam
yang mulai memuncak, pipinya basah lagi, kali ini bukan oleh air dalam
botol minuman, tapi karena embun kepedihannya tak kuasa terbendung,
dalam kalimatnya yang terbata-bata, ia mengurai kepedihan-kepedihannya:
Pertama, kepedihan yang amat sangat perih saat ia didustai kekasihnya,
mengorbankan harum kelopak bunganya hambar sebelum waktunya merekah.
Kepedihan yang sengaja ia kelupas seperti kulit mukanya tadi adalah saat
ia memutuskan untuk lari dari rumah memilih mengadu nasib di ibukota.
Namun, Nahas, sepulang kerja di perkosa pemuda berandalan.
Ia berhenti sejenak, mukanya lebam memerah, hanya jeritan hatinya
yang kudengar menyayat-nyayat saat ia mendekap penuh kasih di tubuhku.
“Apakah kau masih ingin tahu kepedihan saya, Surya?”
Aku hanya diam. Rambutnya pun basah oleh tangisku juga.
“Sakitnya sembilu menusuk jantung mungkin tak seberapa dari pada
kepedihan saya saat pimpinan srigala berpura-pura baik membebaskan dari
operasi orang-orang gelandangan semacam kita, malam ini pimpinannya,
lalu malam berikutnya anak buahnya, hari selanjutnya temannya. Mereka,
srigala-srigala itu menikmati saya semaunya, sebebas makhluk menghirup
angin, maka itulah nama saya menjadi Angin dan saya tembel lem pada
wajah ini seperti dalam peran para aktor atau aktris di televisi.”
Tangisnya kembali tumpah, isyaknya yang tertahan memuncratkan darah dari
seseguk batuk tekanan, malam menjadi merah.
***
IZINKAN malam ini saya nyaman di pangkuanmu. Angin meminta saat
tangisnya reda, setelah menghabiskan minum dan membersihkan mulutnya.
“Inilah kediaman kita, mulai detik ini kau jangan panggil saya ibu,
karena kita adalah serpian debu dunia yang berwujud manusia gelandangan
yang kebetulan dipertemukan, kau dulunya bukan siapa-siapa saya, Bumi
dan Banyu saya temukan saat ia merengek kelaparan di stasiun, Jagad
adalah balita yang selalu digendong perempuan tua di bawah lampu merah.
Perempuan itu menyerahkan kepada saya saat ia menemui ajalnya. Sedang
Mega, kamu yang membawanya.”
“Oh ya, apa yang menyebabkanmu memilih kehidupan seperti ini, Angin?”
“Saya tak pernah memilih. Tapi aneh, di setiap saya mengiat-ingat
masa kecil, kepala ini berat rasanya lalu pingsan, pernah saya coba
mengingat siapa kedua orang tua saya, lagi-lagi pingsan. Dan anehnya
lagi, saya ingat peristiwa yang menyakitkan itu, tapi alamatnya di mana,
saya eror. Apa kamu masih ingat masa kecilmu, Surya?” Tanyanya balik.
“Masih, aku sering tidur di pasar-pasar, maling jajanan, bahkan pernah dipaksa….”
“Dipaksa apa, kok tidak dilanjut omongnya, Surya?”
“Emm…mm…dipaksa menindih mbak-mbak, tat, tt, tapi, tapi, waktu itu
jika aku tidak melakukan aku dihajar Abang-abang gendeng itu.” Jelasku
malu.
“Kok sama saya, kamu anteng. Kamu jijik ya dengan saya, kamu….” Angin
memotong kalimatnya lalu membalikkan tubuhnya dan mendekapku, kemudian
berbisik lirih dalam tangis yang kesekian kali, kalau dia tidak akan
pernah bisa memberi keturan karena pernah aborsi yang mengakibatkan
kefatalan di kandungannya yang harus disterilis tobektomi. Aku hanya
diam lalu kualihkan perhatiannya. Jujur aku tak kuasa melawan
kesedihannya yang secara perlahan membahur di otak dan meredam nafsu
kelakianku.
“Tapi kita nyamankan di kediaman bawah jalan tol yang bertembok beton ini?”
“Nyaman. Saya cukup nyaman bersandar dalam dekapmu. Karena, tak akan
pernah ada satu orang pun yang mau memedulikan kebahagiaan atau
kepedihan dari orang-orang gelandangan semacam kita. Kalau tidak kita
yang menciptakannya sendiri keindahan ini lantas siapa lagi, Tuhan pun
rasanya lupa kepada kita. Betulkan Surya?”
Tanpa ku balas, aku seakan terhipnotis kalimat-kalimatnya. Di
kejauhan kudengar kebisingan kendaraan mulai merangkak. Musik yang dari
tadi samar-samar entah dari cafe atau diskotek yang sempat mampir di
telinga, kini sudah redup tak terdengar.
“Kalau kamu, menginginkan apa, Angin?” Tanyaku.
“Hehe…Saya hanya ingin hidup layak seperti pada umumnya manusia.”
Tawanya hampa. Suaranya pelan sekali. Saat kutanya, apakah mulai
mengantuk, hanya gelengan kepala dan batuk-batuknya berkejaran dengan
suara angkutan kota. Bolehkah saya memimpikan? Kita bertempat tinggal di
rumah yang layak walau masih mengontrak, Surya. Tapi kapan?
Jujur, aku terenyuh dengan keinginan yang mulia itu. Aku mendongakkan
kepala sambil melepas keras napas ini. Lama kupandangi langit yang
hitam tanpa kerlip satu bintang pun.
Dingin kembali menampar muka, kurasakan genggaman Angin tak lagi
sekencang tadi. Lunglai tanpa rasa, kepalanya tak lagi tegak di dadaku.
“Angin! Angiin..! Bangun Angiiin..!” Darah terus kelur dari mulutnya.
Puluhan kali kugoncang-goncang tubuhnya, hanya darah dan darah yang
tanpa henti mengalir.
“Angiiiiiiiiiin……!” Teriakku disusul jerit tangis adik-adikku. [*]
Demak, 2017
Istafid Al Mubarok, lahir dari sastra Pesantren Mutakhorijein Ponpes Raudlotus-Salikin, Buko-Wedung-Demak.