Daftar Blog Saya

Kamis, 27 Juli 2017

Mencuri Matahari


Cerpen Irepia Refa Dona (Media Indonesia, 23 Juli 2017)
Mencuri Matahari ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia
Mencuri Matahari ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
AKU selalu menatap sayu matahari yang meluncur perlahan ke ufuk barat. Satu hal yang aku yakini bahwa matahari itu tidak terbenam, tapi berendam. Ia sengaja merendamkan dirinya dalam lautan karena kepanasan seharian memancarkan sinarnya.
Pernah suatu ketika aku berenang ke tengah lautan—menyelam jauh ke dasar laut, mencuri matahari yang sedang berendam. Tapi belum sampai beberapa jam, aku merasa kesusahan bernapas. Badanku terasa berat untuk digerakkan. Seolah ada tangan yang menahanku dan berangsur-angsur tangan itu menarikku jauh ke dasar lautan.
Aku tahu makhluk jenis apa yang menarikku. Kata orang, itu adalah hantu air. Aku mendengar cerita itu dulu. Saat berita duka yang membuatku mengubah cita-cita sederhanaku yang semula ingin menjadi guru di sebuah sekolah dasar menjadi pencuri matahari. Mungkin bagi anak-anak seusiaku, cita-cita memang sering kali berubah-ubah.
“Kenapa harus matahari, Ntur?” tanya guruku dengan nada yang aku tidak bisa mengartikannya. Yang jelas, nada bicaranya berbeda dari biasanya.
“Karena Ibu bilang matahari memancarkan cahaya sendiri,” jawabku biasa.
“Bintang juga memancarkan cahaya sendiri. Bintang banyak di langit. Jika kau mencurinya satu atau bahkan lebih, tidak ada yang tahu. Tapi jika matahari, saat kau mencurinya, orang-orang akan tahu.”
“Bintang tidak pernah turun ke bumi, Ibu. Aku juga tidak bisa memanjat langit. Aku tahu, bintang tidak pernah jatuh. Yang jatuh itu meteor.”
“Jadi kapan matahari jatuh ke bumi?”
“Pada saat sore dan pagi harinya. Sore ia akan berendam di lautan dan pagi sebelum ia terbit ia berada di pegunungan,” ujarku masih dengan nada biasa. Semua orang di dalam kelas itu tertawa mendengar jawabanku. Pun guruku. Aku tidak tahu kenapa mereka tertawa. Yang jelas aku dengar ada yang mengatakan kalau aku ada peningkatan dalam hal melucu sejak aku kehilangan ayahku.
***
Setiap sore aku berenang ke tengah lautan. Tidak ada yang melarangku. Mereka hanya menatapku biasa. Seperti biasanya seseorang yang sedang melihat sapi memakan rumput. Tapi aku tidak pernah berhasil menemukan di mana tepatnya matahari itu berendam. Mungkin barangkali aku kurang jauh. Bahkan aku belum sampai pada pertengahan lautan.
Hingga di sore itu aku memaksakan diriku untuk terus berenang. Aku mengabaikan lelah yang menyerang seluruh tubuhku sampai akhirnya aku tidak merasakan apa-apa lagi. Hanya kaku. Aku rasa aku sudah mati saat itu.
Tapi malamnya saat aku terbangun, aku menatap sekeliling. Bukan tanah yang berada di sampingku. Tidak ada cacing atau kalajengking yang bersiap menyantap tubuhku. Aku tidak berbaring di atas tanah dan diimpit oleh tanah. Aku berbaring di atas dipan, tempat di mana aku biasa tidur. Seingatku, aku telah mati tadi sore di lautan. Aku tidak tahu kenapa aku berada di sini sekarang. Aku berjalan menuju kamar ibu. Aku lihat ibu sedang tertidur pulas. Aku urung membangunkan ibu. Setidaknya saat tidurlah ibu terlihat lebih tenang.
Besok paginya aku tanyakan pada ibu perihal kejadian semalam. Ibu hanya menggeleng sambil mengatakan dua kata ‘tidak tahu’. Sejak saat itu aku mengubah ruteku. Aku tidak lagi mencari matahari saat sore. Saat ia membenamkan dirinya dalam lautan. Aku mulai mencarinya saat subuh, saat ia bersiap-siap terbit di ufuk timur.
***
Hari itu sekitar jam tiga pagi aku telah bangun. Aku melihat ibu di kamar. Ibu masih tidur nyenyak. Bukan takut ketahuan oleh ibu dan akhirnya ibu melarangku untuk mencari matahari, tapi aku takut langkah kakiku akan membangunkan ibu dari tidurnya sehingga aku usahakan untuk sepelan mungkin melangkah dan menutup pintu kembali.
Ini adalah pertama kalinya aku keluar saat malam. Di luar masih gelap. Hanya ada hening dan kesunyian. Barangkali jam segini orang-orang sedang nyenyak dalam tidurnya. Atau mungkin ada sebagian orang yang taat, ia sedang beribadah menghadap Tuhan mereka. Malam memang waktu yang tenang untuk beribadah. Tapi aku malah keluar dan mencari matahari.
Aku menjadi anak yang pemberani kecuali perihal bicara. Akhir-akhir ini frekuensiku bicara semakin berkurang. Aku hanya berpikir dan berpikir.
Tidak jauh perjalanan yang aku tempuh. Cahaya matahari berangsur-angsur mulai menyelimuti bumi. Aku rasa aku kurang tepat dalam menghitung waktu. Jika besok aku ingin menemukan matahari, mungkin aku harus berangkat lebih cepat dari hari ini. Aku tidak mungkin mencuri matahari yang sudah tinggi di atas langit. Aku tidak punya tangga untuk ke langit. Seandainya ada, orang-orang pasti akan membunuhku karena mereka juga tidak akan mau kehilangan matahari dalam hidupnya.
Hingga suatu ketika, aku mulai berangkat saat pagi. Aku menghabiskan beberapa hari di perjalanan. Aku telah berjalan jauh. Dan aku sudah tidak pulang ke rumah dalam waktu yang lama. Ibu tidak akan kehilanganku. Saat aku pulang, ibu juga tidak akan pernah bertanya ke mana aku selama ini. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal.
Aku memasuki hutan demi hutan. Aku memakan apa pun yang bisa dimakan. Aku menghindar dari binatang buas untuk menyelamatkan diriku agar tidak menjadi santapannya. Tapi tubuhku mengenal lelah juga. Hingga akhirnya aku terkulai lelah dan tertidur entah dalam waktu berapa lama. Saat aku terbangun, seekor singa telah menatapku dengan tatapan kelaparan.
Aku berlari sekuat tenaga. Singa mengejarku dengan lari yang tak kalah cepat. Dengan tubuh yang lelah, setidaknya aku hanya tidak boleh membiarkan diriku menyerah begitu saja. Mungkin menunda waktu makan singa, begitulah yang aku lakukan saat ini. Saat aku menoleh ke belakang untuk memastikan seberapa dekat jarak singa itu dariku, sesuatu menghalangi kakiku hingga membuat tubuhku terjatuh. Pandanganku mulai kabur. Aku masih bisa melihat singa yang dengan gagah menghampiri tubuhku yang lemah.
Di saat-saat gentingku, hanya satu hal yang bisa aku ingat. Ya, pesan ibu dulu saat ayah masih berada di antara kami. Ibu menyuruhku untuk rajin belajar supaya kelak bisa mendapatkan pekerjaan selain menjadi nelayan yang hanya mempertarungkan nyawanya. Tapi ibu tidak ingat satu hal, di atas rencana kehidupan yang seolah telah digambar ibu untukku, masih ada Tuhan yang mengatur tentang takdir manusia. Buktinya, aku hanya bisa bersekolah sampai sekolah dasar lantaran ayah mengakhiri ajalnya hanya dengan segulung ombak besar yang menerjang perahunya.
Sejak kepergian ayah yang ibu sendiri tidak menguburkan jasadnya layaknya orang lain, ibu menjadi perempuan tercengeng yang pernah aku temui. Dunia ibu terlihat gelap. Dan aku rasa ibu telah kehilangan matahari di matanya.
Setiap malam ibu menangis. Aku bertanya pada ibu kenapa ibu tidak berhenti saja menangis. Lagian ayah juga tidak akan kembali sekuat apa pun ibu menangis. Walau aku hanya menduduki kelas lima saja, setidaknya aku pernah belajar kalau orang mati itu tidak akan pernah hidup lagi. Tapi ibu tidak pernah menjawab pertanyaanku. Ibu hanya terus menangis. Aku bahkan yakin telah memakan nasi yang dicampur dengan air mata ibu.
Aku seolah menjadi seseorang yang bernyawa tapi tak berjasad. Aku seolah menjadi seseorang yang memiliki mulut untuk bicara, tapi tak pernah didengar. Aku muak. Dan sejak saat itu aku menjadi anak lelaki pemurung yang lebih memilih diam daripada bicara tapi lebih sering meneteskan air mata.
Tapi di sore yang aku sendiri tidak tahu harus aku bilang apa, ibu kembali dengan mata yang tidak lagi memancarkan kesedihan. Ibu tersenyum menatapku dan berjalan menujuku yang saat itu telah berdiri di halaman rumah dengan pakaian yang sangat kotor.
“Kau dari mana saja, Ntur?” ujar ibu dengan nada lembut sambil membelai rambutku yang kotor dan mungkin berbau busuk. Aku hanya diam.
“Kau baik-baik saja?” ibu bertanya lagi padaku.
“Kau lapar?” Semakin banyak pertanyaan yang keluar dari mulut ibu. Dan kau tahu, aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan dan gelengan. Mungkin sesekali mengatakan iya atau tidak.
Aku pikir, ibu tidak akan pernah membaik. Tapi aku lupa, luka seiring berjalannya waktu pasti akan kering. Dan aku yakin luka ibu sudah mulai membaik. Aku bahagia. Setidaknya aku tidak perlu lagi mencuri matahari untuk ibu karena matahari itu telah bersinar kembali di mata ibu. Tapi aku rasa, aku tidak bisa lagi menjadi anak lelaki periang. Aku sudah terbiasa dengan sifat bekuku.
Aku hanya menatap ibu datar. Ibu mengajakku masuk. Saat itu mataku menemukan seorang lelaki yang sedang berdiri di pintu rumahku. Ia menatapku tersenyum. Aku hanya diam. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku tidak bicara atau bertanya. Aku hanya mencoba berpikir. Sudah berapa lama aku pergi? Aku bahkan tidak bisa mengingatnya.

Padang, 2017
Irepia Refa Dona merupakan anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatra Barat. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama Mimpi Merah Hari ke-40 (Lomba Menulis Cerpen) dan Kasam (20 Cerpen Terbaik Sayembara Cerpen Sumatra Barat).

Mbah Nu Menangis Tersedu


Cerpen Mukti Sutarman Espe (Suara Merdeka, 23 Juli 2017)
Mbah Nu Menangis Tersedu ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Mbah Nu Menangis Tersedu ilustrasi Suara Merdeka
“Innalilahi wa’innailahi rajiun! Telah meninggal dunia dengan tenang….”
Dengan saksama dia dengar pengumuman berita duka dari pengeras suara musala kampung. Kata demi kata dia cermati sungguh-sungguh. Ketika suara penyampai berita menyebut nama, dia menghela napas panjang, sebelum mengembuskan dengan kuat.
“Ternyata kamu dulu yang dipanggil, Met,” gumam Mbah Nu berkali-kali. Gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Air mata bahkan meleleh di pipi.
Siapa pun di kampung itu tahu mengapa setiap kali mendengar siaran berita duka dari musala, Mbah Nu selalu begitu; bergumam berkali-kali, sebelum berurai air mata. Usia Mbah Nu kini 79 tahun. Usia yang tergolong istimewa. Sembilan tahun di atas rata-rata harapan hidup orang negeri ini. Apalagi pada usia itu kesehatannya relatif masih baik. Badannya masih kekar dan bugar. Hampir semua indra, kecuali penglihatan, masih berfungsi sebagaimana mestinya.
Di kampung, Mbah Nu orang paling tua. Semua teman segenerasi sudah meninggal, sehingga tak ada lagi kawan sebaya yang bisa diajak ngobrol, membunuh waktu. Slamet, yang lima tahun lebih muda, sore tadi meninggal dan beritanya barusan dia dengar.
Mbah Nu kesepian. Darsih, anak tunggal yang hidup serumah, sudah sakit-sakitan. Asep, sang menantu, selalu pulang malam. Pekerjaan sebagai pedagang keliling memaksa dia menghabiskan banyak waktu siang hari dalam perjalanan. Situasi itu membuat Mbah Nu merasa begitu sulit melupakan Mbah Mur, almarhumah istrinya.
“Kelak bila tiba saatnya dipanggil Allah, semoga aku lebih dulu, Mbah!” kata Mbah Nu, suatu petang, ketika dia dan Mbah Mur duduk-duduk di beranda, usai mendengar kabar kematian salah seorang tetangga yang disiarkan dari musala.
“Kok begitu, Mbah?” tanya Mbah Mur sembari mengupas pisang rebus kesukaan Mbah Nu.
“Karena hidupku sangat bergantung kepadamu, Mbah.”
“Lo, aku pun begitu. Aku juga bergantung pada sampean.”
“Kukira tidak sepenuhnya begitu. Benar, kita memang saling bergantung. Namun bila ditimbang, bobotnya jauh lebih berat ketergantunganku kepadamu, Mbah.”
Mbah Mur menyodorkan pisang rebus yang sudah terkupas pada suaminya. Petang itu hanya mereka berdua di rumah. Darsih sedang tetirah ke rumah mertua. Beberapa bulan terakhir ini kesehatannya menurun. Penyakit TBC membuat keadaannya bertambah parah.
“Saya atau sampean yang nanti kepundhut dulu, kita serahkan sepenuhnya pada Allah, Mbah,” ucap Mbah Mur sambil beranjak, membawa gelas yang tinggal berisi endapan ampas kopi ke dalam rumah.
Sekalipun Mbah Nu setuju ucapan istrinya, dalam hati dia berharap dialah yang kelak lebih dulu dipanggil Allah. Dia tidak sanggup membayangkan, pada usia senja, hidup sendirian, tanpa Mbah Mur di sisinya. Namun Mbah Mur ternyata lebih dulu dipanggil Allah, meninggal mendadak akibat serangan jantung.
Tak alang-kepalang dukacita Mbah Nu. Sang istri pergi selamanya tanpa didahului pertanda apa pun. Berbulan-bulan dia larut dalam kesedihan. Mbah Nu tak doyan makan. Badannya kurus dan layu. Nyaris setiap saat dia berdoa sambil menangis. Berdoa, memohon Allah segera memanggil, menyusul istrinya.
Pagi, siang, sore, malam, Mbah Nu menunggu panggilan itu. Manakala yang ditunggu tak datang juga, dia pun putus asa dan kehilangan akal sehat. Beberapa kali Mbah Nu bertindak nekat. Sekali dia gantung diri. Gagal, sebab tali yang mengikat leher putus.
Sekali waktu, dia menghilang beberapa malam, sebelum ditemukan tertidur pulas di samping kuburan Mbah Mur. Terakhir, ketika mengantarkan jenazah seorang tetangga ke pemakaman, tiba-tiba Mbah Nu menjatuhkan diri ke liang lahat.
Tak pelak, orang sekampung geger. Ada yang iba, ada yang terharu, bahkan tak sedikit yang tertawa tertahan. Aneka perasaan yang sama mungkin dialami sebagian warga kota lain yang membaca koran atau menonton televisi yang memberitakan perbuatan nekat Mbah Nu.
Untuk mencegah peristiwa serupa terulang, Pak Darto, ketua RT, mengundang pengurus. Pertemuan itu untuk menindaklanjuti surat perintah Kepala Desa agar pengurus RT segera bertemu keluarga Mbah Nu. Bermusyawarah dengan agenda tunggal, mencari solusi tepat dan terukur—begitu istilah Kepala Desa—untuk mengatasi perilaku Mbah Nu. Menurut info bocoran dari Kepala Desa, pemberitaan soal Mbah Nu di koran dan beberapa stasiun televisi membuat Camat dan Bupati tidak nyaman hati.
“Bapak-bapak, para petinggi kabupaten dan Kepala Desa khawatir, kalau tidak segera kita hentikan, kelakuan Mbah Nu akan menjadi-jadi,” kata Pak Darto. Langsung menyasar ke inti pertemuan.
“Gimana caranya, Pak?” Mas Jum, urusan keamanan RT angkat bicara.
“Itulah sebab Bapak-bapak saya kumpulkan. Kita bersama mencari solusi.”
“Bagaimana kalau dipasung saja?” usul Bang Bary, sekretaris RT.
“Jangan, Bang. Itu tindakan tidak bermartabat dan bertentangan dengan harkat kemanusiaan,” sergah Pak Basuki, bendahara RT, dosen di sebuah perguruan tinggi swasta.
“Sebelum memutuskan tindakan untuk Mbah Nu, mestinya dalam pertemuan ini dihadirkan pula keluarganya.” Pak Margono, wakil ketua RT yang sejak tadi diam saja, mengemukakan saran.
“Kepala Desa juga menganjurkan begitu, Pak Mar. Namun siapa yang akan kita undang? Bu Darsih sakit-sakitan, suaminya selalu pulang larut malam,” jawab Pak Darto dengan suara seperti mengeluh.
Sejenak sunyi menjalar di ruang pertemuan. Para petinggi RT 04 RW 02 Desa M terlihat sedang berpikir. Boleh jadi setiap orang sedang mencari gagasan yang tepat untuk dikemukakan. Sepiring pisang molen dan kacang rebus serta teh hangat di hadapan mereka sejenak terabaikan.
“Bagaimana kalau dibawa ke rumah sakit jiwa?” Suara lantang Bang Bary memecah kesunyian.
“Iya, setuju!” timpal Mas Jum dan Pak Margono, hampir serempak.
“Saya tidak sarujuk, Bapak-bapak. Kenapa mesti dibawa ke rumah sakit jiwa? Mbah Nu tidak gila!” tukas Pak Basuki dengan suara pelan, berwibawa.
“Kalau tidak setuju usul kami, usul kau apa, Pak?” Bang Bary menatap tajam Pak Basuki. Suaranya kering dan getas.
Pak Basuki menunduk. Sepertinya sedang berpikir keras. Seperempat menit kemudian dia berkata, “Bagaimana kalau kita membentuk tim khusus untuk mengawasi Mbah Ranu?”
“Tim khusus? Mengatasi masalah sepele begitu saja pakai tim khusus segala, Pak. Lagian siapa mau jadi anggota?” tukas Mas Jum sambil tertawa.
“Agar bisa lebih dimengerti, sila Pak Bas menjelaskan secara detail,” ujar Pak Darto.
“Begini, Bapak-bapak. Kita minta pihak desa ikut campur. Maksud saya, kita minta bantuan satu-dua orang hansip untuk mengawasi Mbah Nu. Hansip itu, ditambah beberapa tetangga, kita minta mengawasi segala gerak-geriknya.”
Malam beranjak. Jarum jam dinding menunjuk angka 12 dan 10. Di luar sepi mengental. Hanya sesekali terdengar suara penjual mi keliling memukul-mukul wajan, menawarkan dagangan.
“Setuju. Itu cara elok dan aman,” ucap Pak Darto. “Bagaimana, Bapak-bapak?”
“Yah, kita coba saja,” jawab Bang Bary. Sementara Mas Jum dan Pak Margono hanya mengangguk-angguk.
Keesokan hari hasil pertemuan dibawa ke balai desa. Tanpa banyak bertanya Kepala Desa menyetujui. Fauzi dan Sugeng, dua hansip desa, ditambah beberapa tetangga Mbah Nu, bersedia mengawasi semua gerak-gerik dan aktivitasnya.
Kini, sudah hampir satu setengah tahun Mbah Nu ditinggal Mbah Mur. Pada kurun masa itu banyak peristiwa terjadi. Anaknya, Darsih, meninggal. Asep, menantunya, kecelakaan dan nyawanya tak terselamatkan. Dan entah tahu diawasi atau karena hidup sendirian di rumah, kini Mbah Nu terlihat lebih tenang. Hal-ikhwal tentang dia berlangsung normal sebagaimana orang kebanyakan. Dia menghabiskan hari-hari dengan duduk mencangkung di beranda rumah sembari memandang ke kuburan desa.
Situasi itu membuat orang-orang yang bertugas mengawasi lengah. Suatu pagi yang lembap, sepulang menunaikan salat subuh, orang-orang kampung terkejut oleh berita duka dari musala.
“Innalillahi wa’innailahi rajiun. Telah meninggal dengan tenang Mbah Ranu Wiharjo atau Mbah Nu pada usia 79 tahun. Jenazah akan dimakamkan hari ini, Sabtu, 15 Juli 2017, pukul….”
Orang-orang yang mendengar kabar itu terperanjat, tidak percaya. Sebab, tadi masih banyak yang melihat Mbah Nu salat berjamaah di musala. Beberapa orang segera bergegas ke rumahnya. Sepi.
“Mbah Nu tak ada di rumah,” kata seseorang.
“Siapa tadi yang menyiarkan berita kematiannya?” tanya seseorang yang lain.
“Tidak tahu! Ayo, kita cek ke musala!”
Orang-orang bergegas menuju musala. Di sepanjang perjalanan orang yang bergabung bertambah hingga terbentuk barisan panjang, tak beraturan. Derap langkah kaki mereka memecah pagi dan membangunkan orang yang belum terjaga dari tidur.
Pada jarak pandang sekian meter dari musala terdengar beberapa seruan, “Bukankah itu Mbah Nu?”
“Ya, itu Mbah Nu!”
“Ya, benar. Itu Mbah Nu!”
Seruan menyebut nama Mbah Nu pecah, bersahut-sahutan. Tanpa dikomando mereka mempercepat langkah. Sampai di depan musala terjadi kegaduhan kecil. Orang-orang serta merta menumpahkan ragam perasaan dengan cara masing-masing. Ada yang beristigfar, ada yang menyumpah-nyumpah, ada yang tertawa, ada juga yang matanya berkaca-kaca.
Di ambang pintu musala Mbah Nu duduk mencangkung dan menangis tersedu. Pandang matanya tak lepas tertuju ke kuburan desa. (44)

Mlati Lor, 2017
– Mukti Sutarman SP lahir di Semarang, 6 Maret 1956. Puisinya dimuat antara lain di Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Solo Pos, Kedaulatan, Koran Amanah. Dia mendirikan Keluarga Penulis Semarang (KPS) bersama Bambang Sadono (1981) dan pernah menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah.

Marabunta


Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 23 Juli 2017)
Marabunta ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos
Marabunta ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
KENANGAN seringkali merapuhkan hati. Sepuluh tahun sejak kepergian kakek, tidak lagi kunikmati aroma asin laut di Kali Mas, wangi hio di Sampho Kong, gurih cakue di Pecinan atau aroma manis gurih kuah lumpia di Pandanaran. Sebuah iklan baris di halaman belakang koran pagi membuatku seperti tersedot pusaran kenangan itu: Dicari! Freelancer untuk pekerjaan di Semarang. Hub. 081XXXX999
Iklan singkat itu seketika membiangkan ribuan pijar. Lahan basah yang menyemaikan kecambah di kepalaku. Tetapi, hal kedua, yang membuat aku tertarik pada iklan itu, adalah fakta: sudah enam bulan aku menjadi pengangguran. Rindu masa lalu hanyalah pelengkap penderita.
Maka, di sinilah aku. Duduk di dekat lengkung jendela, memesan kopi susu yang mereka beri nama latte macchiato, dan menunggu. Kulepaskan diri dari riuh bising lalu lintas, menyerah pada rengkuhan bangunan bergaya Spanish Colonial yang anggun. Sebuah pesan pendek berdecit: Seorang lelaki akan menemuimu.
Saat tengah kunikmati minumanku, lelaki berwajah cemerlang berjalan menuju mejaku. Tanpa ekspresi, ia duduk di hadapanku.
“Seberapa baik kau mengenal Kota Semarang?” Suaranya pecah di antara komposisi musik jazz tanpa vokal, The Shadow of Your Smile.
“Separo dari hidup saya tertambat di sini,” jawabku asal. Pria itu menatap wajahku telak, seperti hendak mengaduk-aduk isi kepalaku. Namun…
“Apa yang paling kau takutkan dalam hidup?” Kembali ia bertanya.
Banyak jawaban sudah kusiapkan di tenggorokan, namun yang berhasil keluar dari bibirku hanya: “Kemiskinan.”
Pria tampan itu tersenyum.
“Pekerjaan ini rumit. Butuh waktu lama. Dan mengandung risiko.”
“Senyampang uang bisa menjadi alasan, segalanya akan menjadi mungkin.”
“Bayaranmu seratus juta.”
“Tidak buruk.”
Bagaimana mungkin aku setabah ini mendengar kabar seratus juta. Tidak menjerit atau meloncat kegirangan. Layaknya pembunuh bayaran, kurasa sikapku sangat tenang. Profesional. Lelaki tampan itu mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana, menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat.
“Ini sebagai tanda jadi.”
Begitu saja ia memungkasi perjumpaan ini. Sangat efisien. Kami berpisah dan hatiku tertindas jejak hijau, sehijau lapangan bola yang baru saja dilindas mesin pemotong rumput. Segar. Aromatik.
Semalaman mendekam dalam kamar Hotel Pelangi Indah aku gagal memejam. Pikiran terakuisisi oleh pertanyaan tentang siapa lelaki tampan itu serta apa yang harus kulakukan. Tetapi enam bulan tanpa pekerjaan adalah neraka. Begitulah suara hatiku berperang sendiri. Jadi, apa pun pekerjaan itu, seratus juta layak diperjuangkan.
Fajar baru saja menetas, ketika sebuah pesan pendek berkata: “Temui seseorang di gedung yang dijaga semut raksasa.”
Demikianlah, kusibak pagi yang basah oleh embun. Berjalan kaki dari Hotel Pelangi Indah menuju gedung Marabunta. Kakek menyukai gedung itu dengan alasan romantis. Di situlah tempat kakek bertemu pertama kali dengan nenek. Cinta bersemi di gedung tua, kata romantis tak cukup mewakili.
“Gedung ini dulu bernama Schouwburg. Di sinilah keluarga priyayi dan kompeni menghabiskan akhir pekan bersama keluarga sambil menikmati pertunjukan balet, komedi, atau orkestra.” Setiap mengisahkan itu, cahaya terbit dari sepasang mata kakek yang kelabu.
“Temukan perempuan yang diabadikan dalam lukisan kaca.”
Aku mencari pintu masuk yang terdiri atas kaca-kaca patri berhias lukisan. Kemudian terpaku pada sepasang kaca patri dengan lukisan penari balet dan bulatan merah di atas kepala. Matahari.
“Margaretha Geertruida Zelle.” Kukirim gambar dan keterangan foto.
“Apa yang kau tahu tentang dia?”
“Setara dengan Madonna atau Evita Peron. Selalu ada perempuan dengan ambisi luar biasa untuk menaklukkan dunia.”
“Menurutmu dia apa? Penari? Pelacur? Matamata?”
“Tergantung angle yang kita gunakan.”
“Apakah menurutmu garis keturunannya masih ada?”
“Anak laki-lakinya meninggal di Sumatera ketika masih bayi. Anak perempuannya meninggal di Belanda pada tahun 1919 karena radang otak.”
“Sejarah tidak selamanya seperti apa yang kau baca. Matahari memiliki seorang cucu pe rempuan dari Jeanne Louise.”
“Louise meninggal dalam keadaan belum menikah.”
“Situasi politik saat itu tidak memungkinkan. Demi keamanan, keluarga memutuskan untuk merahasiakan kelahiran sang cucu.”
“Saya tidak percaya negara maju dapat membohongi publik.”
“Fakta yang benar adalah: Louise, anak perempuan Matahari, meninggal karena preklamsia. Bayi itu selamat, bersama ayahnya yang tak lama meninggal dalam sebuah perang. Ia dijaga oleh pengasuh yang setia pada sang kakek, Rudolph Macleod. Namanya Bernadette. Ia hidup berpindah-pindah antara Belanda, Paris, Indonesia, India, untuk menelusuri sejarah neneknya.”
“Matahari terlalu besar untuk dibuatkan opera sabun.”
“Bayaranmu mahal. Inilah tugasmu. Perempuan berambut kelabu di tangga balkon Marabunta akan membantumu.”
Seketika aku menoleh ke arah tangga setengah melingkar yang menghubungkan hall dengan balkon. Seorang perempuan berusia 60-an mengenakan shack dress berwarna hijau segar berdiri menunggu. Aku menghampirinya. Tepat dua anak tangga di bawahnya, aku berhenti.
“Bernadette was de naam van mijn moeder. Hij reisde de hele wereld naar landen die ooit bewoond door mijn oma, Margaretha . Hij stelde een boek dat niet werd voltooid tot aan de dood.” (Bernadette adalah nama ibu saya. Ia berkeliling dunia ke negara-negara yang pernah ditinggali oleh nenek buyut saya, Margaret. Dia menulis sebuah buku yang tidak selesai sampai ajalnya tiba).
Jadi perempuan ini anak dari Bernadette, sekaligus cicit dari Matahari? Jika benar, maka dunia telah tertipu.
“Namaku Margaretha II. Bernadette, atau ibuku, menikah dengan lelaki Semarang, melahirkan aku dan kakak lelakiku. Mereka bercerai saat aku berusia dua tahun. Mama membawa aku kembali ke Belanda, menikah lagi dengan pria Belanda sambil melanjutkan buku biografi itu: Blood Line of Matahari. The Untold Story.”
Perempuan itu melangkah turun perlahan, lututnya terlihat tidak sehat.
“Tugasmu adalah menemukan kakakku.”
Perempuan itu menyerahkan amplop cokelat besar.
“Ini ada sepuluh juta lagi buatmu.”
“Jika mereka kutemukan?”
“Kau akan menerima tiga puluh juta lagi.”
“Kenapa tidak seluruh pembayaran?”
“Karena masih ada tugas selanjutnya.”
***
Hingga pagi berikutnya aku masih terjaga dengan kabel-kabel menyala. Sebuah kesadaran tiba-tiba meletus dari kepalaku. Berkas dalam amplop ini menyesakkan dadaku. Foto-foto lama yang tidak asing, wajah yang melekat di kepalaku. Benang kusut itu akhirnya terkuak selapis demi selapis. Sebuah pesan kulayangkan:
“Aku menemukan puzzle yang Anda maksudkan.”
“Marabunta. Lunch time.”
Membayangkan angka tiga puluh juta akan kuterima siang ini serta tagihan kartu kredit dan cicilan apartemen, membuatku bergegas melesat. Perempuan berambut kelabu itu sudah di sana. Tersenyum kaku namun wajahnya cerah. Dia sendirian, berdiri menyandar pada sebuah sisi tangga menuju balkon. Sambil mengacungkan amplop di tangannya, ia berkata:
“Temukan kakak mamaku.”
“Sudah saya temukan. Anda menghendaki dipertemukan?”
“Kaulah yang akan menemuinya.”
Perempuan itu mengulurkan amplop cokelat dengan wajah dingin, tidak seperti kemarin. Ketika aku tak kunjung menerima amplop itu, dia maju selangkah menuruni tangga. Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Sambil menahan rasa gatal di dadaku, kuterima amplop itu dengan selapis curiga. Uang 30 juta tak seharusnya seberat ini. Dengan penasaran kubuka di hadapannya. Holly shit!! Uang merah tiga ikat sesuai janji dan sebuah pistol!! Perempuan berambut kelabu itu tersenyum dingin.
“Temukan dia dan gunakan pistol itu. Kemudian kau akan menerima bayaran sisanya.”
Jemariku bergetar. Gasing di kepalaku berputar cepat. Gemuruh di dadaku meletup. Bagaikan lava hendak meluap ke muka bumi, rasa marahku tak terbendung. Kuraih pistol itu, lalu mengaturnya dengan sederhana. Perlahan kuarahkan moncongnya lurus ke arah perempuan berambut kelabu. Tiba-tiba suara letusan pistol mengenai dadanya, sedangkan aku belum menyentuh pelatuk sama sekali. Perempuan itu roboh di tangga. Spontan aku menoleh ke belakang. Tepat di belakangku, lelaki tampan itu berdiri dengan pistol masih di tangannya. Darahku berhenti mengalir.
“Ayo segera kita tinggalkan tempat ini.”
Ia berjalan mendahuluiku setelah memasukkan pistol ke dalam saku dalam mantelnya. Pistol di tanganku segera kumasukkan ke dalam amplop, bergegas mengikutinya.
***
Kami duduk berhadapan di Spiegel Bistro. Ia memesan jus mangga. Aku hanya es teh sedikit gula untuk meredam dentam jantung. Saat kami mereguk minuman separo gelas, suara sirine ambulans dan mobil polisi meraung-raung. Pasti telah ditemukan tubuh berlumuran darah itu. Tanganku membeku oleh cemas dan ketakutan. Pasti polisi segera menangkap kami. Wajahku akan menyebar di berbagai media dengan status: pembunuh!
“Jangan cemas,” suara lelaki tampan itu menghentikan debarku. “Aku sudah mematikan CCTV di gedung itu.”
“Mengapa?”
“Karena aku sudah menduga Magaretha II palsu akan melakukan itu. Dia akan memberimu pistol untuk membunuh target, yang notabene adalah salah satu ahli waris Matahari.”
“Palsu?”
“Ya, dia telah membunuh Margaretha II asli. Mereka mirip, dan kemiripan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perempuan itu bernama asli Ludwina. Ahli sejarah dari Universitas Leiden yang membantu Margaretha II menyusun buku.”
“Dan kau…?”
“Aku Edward, staf pengacara yang menangani perihal warisan Tuan Rudolf McLeod.”
Sekarang tubuhku benar-benar beku. Haruskah kukabarkan kepada ayah bahwa kami adalah garis darah Matahari? ***

Wina Bojonegoro, pengarang Surabaya. Bukunya yang sudah terbit, Moonlight Sonata, The Souls, Episode Surat Kejantanan, dan Negeri Atas Angin.

Selasa, 25 Juli 2017

Angka Kematian


Cerpen Amir Syam (Republika, 23 Juli 2017)
Angka Kematian ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpeg
Angka Kematian ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Ia terlahir ke dunia ini dengan nama Aji. Ya, panggil saja Aji. Pria yang satu ini benar-benar senang berhitung. Ia akan menghitung apa saja yang ditangkap oleh matanya, direkam oleh te linganya, dan dikecap oleh hatinya. Misal, mengkalkulasi tapak kakinya ke sekolah, lalu mencacah burung dissermurus paradiseus yang meliuk-liuk di langit cerah, menganalisa sebaran awan putih yang terkatung-katung di langit biru, meramal peluang hujan, membilang banyaknya dedaunan yang gugur per satuan waktu, dan entah apa lagi.
Semua itu akan ia hitung sebisa mungkin. Pria dengan binar mata yang selalu liar dan tajam menerobos apa saja itu kerap berhitung dengan mulut kadang terkunci, komat-kamit, atau kombinasi keduanya. Kebiasaannya ini diakari oleh rasa cintanya pada ilmu hitung yang bergejolak sejak kecil. Hati dan pikirannya telah tertambat kuat pada hal yang kadang tak disukai oleh teman-temannya.
“Berapa lama waktu tempuhmu hari ini?” tanya Badrun saat Aji memasuki ruang kelas yang masih sepi. Pagi itu, Badrun belum lama tiba bersama Indra.
“12 menit lebih 15 detik,” sahut Aji mantap seraya melirik arloji hitam di tangan kirinya. Tanpa membuang tempo, ia kemudian menghitung banyaknya petak-petak lantai berbentuk persegi 30 cm x 30 cm yang ditapakinya.
“Hei, Aji! Bisakah kau sehari saja tidak berlaku aneh seperti itu?” pekik Indra. Suaranya memecah keheningan kelas pagi itu. Lengang patah. Damai pagi ternodai.
“Aku tak peduli dengan kata-katamu! Berhentilah mengurusi kelakuanku!” Aji mengaum geram. Badrun kaget. Terperanjat. Indra tersudut.
Aji sudah akrab betul dengan kata-kata Indra itu. Sejurus, ia menyapu Indra dengan pandangan tajam. Sesuatu bergetar di dasar dadanya. Mula-mula getarannya lemah. Tapi makin lama getaran itu kian mendesir-desir dalam darahnya.
Kesiur angin pagi berhembus seolah ingin melumuri kalbu yang sesak. Sesaat senyap pun hadir. Mereka berada pada pikirannya masing-masing. Badrun terpaku. Indra membisu. Aji mengurai detik yang luruh.
***
Malam ini resah menggelayuti Aji. Sindiran Indra itu masih mengiang-ngiang di telinganya. Kata-kata itu menelusup perlahan ke ceruk-ceruk pikirannya, membuatnya mengail-ngail sesuatu yang terasa menikam-nikam. Ia tak mampu memejamkan mata. Ah, ia mencoba menghitung sesuatu, berharap bisa tertidur.
“Di mana aku? Mengapa aku berada di tempat seperti ini? Tempat apa ini? Tolong keluarkan aku dari sini!”
Lima….lima….lima….. Mengapa banyak sekali angka lima di tempat ini? Ah… makhluk apa itu? Tiiidaaak….” Aji terjaga dari tidurnya. Ia tergeragap. Keringat dingin pun mengucur deras. Mukanya pucat pasi. Dipandangnya jam dinding kamar menunjukkan pukul 03.37 dini hari. Batin dan benaknya berletupan. Baru kali ini ia bermimpi seaneh dan sekejam itu. Ia limpung seketika.
***
“Aku seperti terjebak di dalam ruangan gelap yang dipenuhi oleh begitu banyak angka 5. Apa kau tahu arti mimpiku itu?”
“Selain angka 5, aku juga melihat seorang lelaki berpakaian hitam terus mengejarku. Aku takut jika sesuatu yang buruk akan menimpaku.” Aji gundah. Air mukanya tak menentu.
“Aku tidak begitu mahir menafsirkan mimpi, Ji. Tapi yang kutahu angka 5 itu sering disebut sebagai bintang jahat. Bintang yang tidak menguntungkan setiap orang. Angka 5 adalah angka yang paling susah dikombinasikan dan dipercaya membawa gangguan penyakit. Dalam ilmu Feng Shui angka ini selalu diperangi, Ji.” ujar Badrun.
“Ceritakan padaku lebih banyak lagi tentang angka 5, Drun! Apa lagi yang kau tahu tentang angka 5?” desak Aji penasaran berbaur khawatir. Ada yang terasa berat menyesak.
“Jika angka itu muncul bersamaan dalam bagan tahunan dan bulanan maka sangat diyakini akan menciptakan kecelakaan fatal.” Badrun mengeluarkan isi otaknya dengan hati-hati.
“Ada yang lebih menakutkan selain angka 5, Ji. Yaitu angka 4. Angka yang satu ini sering disejajarkan dengan huruf ‘D’ yang merupakan huruf ke-4 dalam Alphabet. ‘D’ sendiri adalah huruf awal dari kata ‘Death’ atau ‘Die’ sehingga angka ini dianggap sebagai angka kematian. Angka yang juga bisa berasal dari penjumlahan bilangan sial 13, Ji.”
“Jadi, angka 4 lebih sial dari angka 5? Begitu kanmaksudmu, Drun?”
“Ya, Ji.” Aku pernah membaca bahwa sebagian bangsa-bangsa di Asia, khususnya di bagian utara mulai dari daratan Cina ke timur, angka 4 dipercaya merupakan simbol bencana, tidak mendatangkan keberuntungan, dan berbagai kepercayaan yang mengarah pada sebuah kegagalan. Jika suatu saat nanti kau pergi ke Korea, jarangkan kau temui gedung bertingkat dengan nomor lantai 4.” Badrun mencoba meyakinkan Aji.
“Lalu, aku harus bagaimana menghadapi semua ini?”
“Kau tak perlu takut berlebihan. Mungkin itu hanya akibat dari kebiasaanmu yang selalu menghitung apa saja yang tak penting untuk dihitung. Begitu banyak nikmat Tuhan untuk kita. Dan, kau tahu kan bahwa manusia tak mampu menghitung nikmat Tuhan? Syukur, itu kuncinya, Ji.” Badrun meluncurkan solusinya.
“Aku bingung memikirkan mimpimu itu, Ji. Mengapa kau tak bermimpi angka 1 yang dalam Feng Shiu dikenal sebagai bintang uang, angka 6 atau bintang surga, atau angka 8 yaitu bintang kekayaan? Mengapa harus angka 5?” Badrun kini bertanya pada Aji. Aji terdiam sejenak lalu mencoba menjawab.
“Kurasa itu masih lebih baik daripada angka 4,” ucap Aji lirih, menepis rasa takut.
“Ah, kau ini. Sudah lupakanlah semua itu. Kau tahu, kita tak boleh percaya dengan hal-hal tahayul seperti ini. Cukup tahu saja, Ji. Tak usah kita yakini. Lebih baik kau perbanyak shalat dan zikir. Dengan begitu, kuharap kau akan tenang.”
Aji termenung sejenak lalu matanya melalang lepas menghitung banyaknya dedaunan yang luruh dari atas pohon yang tegak menjulang di depannya.
***
Malam acap kali bergulir dengan mengukir mimpi angka 5 yang getir. Bunga tidur yang tak pantas disebut bunga itu tak hanya bertandang sekali, tetapi berepetisi. Pikirannya seolah terbebani oleh mimpi bintang penyakit itu. Belakangan ini, ia sering kalut kala terjaga dari tidurnya. Tapi herannya, semangat menghitungnya semakin menjadi-jadi. Kecintaannya pada angka kian bergelora penuh gairah. Aji menghitung tak kenal henti. Ketika mimpinya itu datang kembali, hati dan pikirannya disesaki dengan berbagai tanda tanya. Ia berusaha mengingat angka 1, 6, dan 8 di siang hari agar berharap bisa berselayar di dunia mimpi dengan angka-angka itu. Tapi usahanya itu sia-sia belaka. Mimpinya tetap saja menyodorkan angka 5.
Kembali malam ini matanya belum bernafsu untuk terpejam. Perasaannya berkata bahwa sesuatu yang luar biasa ganjil akan terjadi. Ia seperti mencium aroma angka 5 yang dibumbui bau penyakit. Nalarnya berkelana mengacak berbagai angka. Dibacanya berbagai buku yang terkait dengan angka. Lembar demi lembar buku The History of Mathematics: From Mesopotamia to Modernity karya Luke Hodgkin yang membongkar sejarah perkembangan matematika dari masa Mesopotamia hingga abad modern, ia santap habis-habisan. Tak cukup dengan buku itu, ia melahap juga buku Occult Numbers and Sacred Geometry yang mengupas tentang angka-angka gaib dan geometri keramat.
Tetapi tetap saja, perasaan itu masih terus bergelayut dalam dirinya.
Aji memacu otaknya mencari tahu apa tafsir mimpinya itu. Betapa tidak, sudah hampir sepekan ia merasa dihantui oleh angka 5. Ia mencoba menekan kegalauan yang terus menggendang benak dan sukmanya. Matanya makin ganas terbius oleh rasa penasaran. Gugus waktu luruh seiring keinginannya mencari arti mimpi itu. Diamatinya dengan sangat lekat semua benda yang bertuliskan angka 5. Mulai dari NIP guru-gurunya, plat nomor kendaraan yang tertera angka 5, baju pemain sepakbola dengan angka 5, nomor telepon instansi di papan reklame yang ada angka 5, sampai dengan berbagai hal yang tertera angka 5. Nalarnya terus bekerja hingga akhirnya pikirannya melayang pada alam yang belum pernah ia datangi.
***
“Kau mulai kurus. Wajahmu pucat. Apakah kau masih memikirkan mimpi itu? Berhentilah memikirkan angka 5 itu. Itu hanya akan membebani pikiranmu saja. Semoga kau cepat sembuh, Ji.” Kata-kata sayu Badrun mengusap-ngusap celah jendela salah satu ruangan rumah sakit jiwa. Kata-katanya beradu dengan tatapan kosong Aji. Beban pikiran yang tak mampu dibendung telah menggiring Aji mencicipi suasana rumah pesakitan itu.
Setelah hampir sepekan merasakan dinginnya kamar rumah sakit, akhirnya Aji diizinkan rawat jalan oleh tim dokter. Ia hanya butuh waktu sekitar tiga bulan untuk kembali sembuh. Tetapi ada yang berubah dari perangainya. Ia kini tak lagi senang berhitung. Ya, ia sekarang tidak lagi menghitung jejak langkahnya ke sekolah, mencacah burung dissermurus paradiseus yang melayang di langit cerah, atau menganalisis banyaknya dedaunan yang luruh seperti yang gemar ia lakukan dulu. Kini, ia seolah lupa pada kebiasaannya itu. Pikirannya tak tergerus lagi oleh hal yang beraroma angka. Semenjak kejadian itu, hidupnya terasa ringan tanpa beban. Namun, itu semua ternyata tak bertahan lama seiring kesibukannya mencari-cari sesuatu yang telah hilang dalam dirinya.
Pencariannya itu berlabuh pada suatu malam yang hitam lagi pekat ketika mimpi serupa yang pernah menyergapnya hadir kembali dengan angka baru, yaitu 4…4…4.

Amir Syam adalah nama pena dari Amir Tjolleng. Saat ini, ia tengah menempuh studi S3 di Jurusan Teknik Industri Universitas Ulsan Korea Selatan. Cerpen yang pernah ditulisnya yaitu “Senyum Lastri di Cangkir Kopi” (Suara Merdeka, 2017) dan “Di Antara Pilihan” (Balai Bahasa Sulut, 2008).

Rolly Penjaga Hutan


Dongeng Muhammad Fauzi (Suara Merdeka, 23 Juli 2017)
Rolly Penjaga Hutan ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Rolly Penjaga Hutan ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka
Wali Kota Kurcaci memberikan pekerjaan baru kepada Rolly kurcaci sebagai penanam pohon di hutan. Wali Kota prihatin karena pohon di hutan semakin berkurang. Akibatnya, cuaca menjadi panas. Warga kurcaci juga mengeluh pada Wali Kota karena debu dan asap yang menyesakkan dada.
Dengan senang hati Rolly menerima pekerjaan barunya. Setiap pagi, Rolly bergegas menuju hutan sambil membawa gerobak dorong berisi bibit pohon. Agar tidak bosan, Rolly bekerja sambil bernyanyi.
“Hai, Rolly…”
Tiba-tiba ada yang menyapa Rolly. Rolly mencari asal suara itu. Ternyata Pak Wood, si kurcaci penebang pohon. Selain menebang pohon, Pak Wood juga pandai membuat perabotan rumah tangga dari kayu.
“Selamat pagi, Pak Wood. Ada berapa pohon yang Pak Wood tebang pagi ini?” tanya Rolly.
“Aku akan menebang tiga pohon, Rolly. Ini untuk membuat lemari pesanan Nyonya Tarra,” jawab Pak Wood sambil memotong pohon menjadi bagian-bagian kecil agar mudah dibawa pulang.
“Baiklah, Pak Wood. Aku akan menanam lagi tiga pohon di hutan ini. Sampai bertemu lagi, Pak Wood,” Rolly bergegas pergi meninggalkan Pak Wood.
Setelah berjalan cukup jauh, langkah Rolly terhenti saat mendengar suara pohon yang ditebang. Rolly menajamkan pendengarannya sambil berjalan. Ternyata Pak Topan kurcaci dibantu kedua anaknya sedang menebang pohon.
“Selamat siang, Pak Topan. Berapa pohon yang Pak Topan butuhkan hari ini?” tanya Rolly.
“Sepertinya aku membutuhkan banyak pohon, Rolly. Besok aku akan membangun rumah baru di tepi danau. Rumah lamaku sudah rusak. Mungkin aku membutuhkan 10 pohon hari ini,” jawab Pak Topan.
“Baiklah, Pak Topan. Aku akan menanam 10 pohon di hutan ini. Selamat bekerja kembali, Pak Topan,” Rolly segera mengambil bibit pohon dari gerobak dorongnya. Satu jam kemudian, Rolly berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
***
Sebulan bekerja, Rolly mulai bosan. Ia merasa pekerjaannya tidak menguntungkan. Sejak Rolly bekerja menanam pohon, banyak kurcaci yang menebang pohon sesukanya. Akibatnya, pekerjaan Rolly semakin berat.
Seharian berpikir, Rolly akhirnya menemukan ide. Diam-diam Rolly tidak akan menjalankan tugasnya sebagai penanam pohon. Rolly jengkel karena pohon yang ditebang setiap hari semakin bertambah.
“Itu, kan sudah menjadi pekerjaanmu, Rolly,” jawab Wali Kota ketika Rolly menyampaikan idenya.
“Aku capai, Pak Wali Kota. Para kurcaci semakin ganas menebang pohon. Kita lihat saja reaksi warga setahun lagi. Aku yakin mereka akan segera sadar,” kata Rolly.
“Baiklah Rolly, aku mengerti maksudmu.”
***
Baru dua bulan Rolly berhenti bekerja, para kurcaci sudah mengeluh pada Wali Kota karena cuaca panas. Mereka protes karena tempat tinggal mereka yang dulunya sejuk menjadi gersang.
“Sepertinya Rolly tidak menjalankan tugasnya dengan baik, Pak Wali Kota,” lapor Pak Wood kesal.
“Sekarang hutan mulai gundul karena Rolly tidak menanam pohon lagi.”
“Betul, Pak Wali Kota. Rolly harus bertanggung jawab,” timpal Pak Bullo.
“Kami sebagai penebang pohon, bingung memilih pohon yang akan ditebang. Semua pohon di hutan masih muda. Kualitas kayunya tentu tidak sebagus kayu yang sudah puluhan tahun. Kalau Rolly tidak menanam pohon lagi, bagaimana nasib kami selanjutnya?” ucap Pak Topan geram.
Wali Kota yang bijaksana itu menjawab, “Seharusnya hutan menjadi tanggung jawab kita semua. Namun alangkah baiknya jika kita yang menebang pohon, wajib menanam kembali pohon di hutan. Bukannya membebankan tugas kepada Rolly. Ini semua memang salah saya. Sekarang, kalian semua sudah tahu pentingnya menjaga hutan. Mulai sekarang, yang menebang pohon wajib menanam pohon juga. Bagaimana, setuju?”
Para kurcaci tertunduk malu sambil mengangguk. Sekarang mereka sadar betapa pentingnya menjaga hutan. Rolly yang sejak tadi mengawasi di balik pagar, akhirnya bisa tersenyum lega. (58)

Sang Penyair


Cerpen Sri Wintala Achmad (Kedaulatan Rakyat, 23 Juli 2017)
Sang Penyair ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Sang Penyair ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
…. Bukankah anjing akan mencuri, bila dididik seorang maling?
SEREMPAK applause seluruh penonton baca puisi di dalam gedung pertunjukan. Fadal Lazuardi, penyair yang bernama asli Suwardi itu turun dari panggung dengan langkah senyap. Wajahnya dingin. Tak melontarkan sepatah kata pun ketika sebagian penonton menanyakan makna baris terakhir puisinya yang baru saja dipanggungkan bergaya seorang demonstran.
Fadal mengumpat setengah berbisik, “Bagaimana negeri yang melahirkan banyak maling ini dapat berubah, kalau orang-orang yang suka menonton penyair baca puisi tak paham simbol. Bagaimana mereka akan turut menjaga kekayaan negeri ini agar tak dijarah anjing-anjing berwatak maling, namun selalu menyebut dirinya sebagai penyelamat rakyat.”
“Tak sepantasnya kau bilang begitu!” Liztya Maimunah, istri Fadal mengingatkan. “Seharusnya sebagai penyair yang bijak, kau menjelaskan pada mereka tentang makna puisimu itu.”
“Kalau aku menjelaskan makna yang terselubung di dalam puisiku, tak perlu aku mencipta puisi.”
“Apa gunanya menjadi penyair, bila bahasamu hanya kau sendiri yang paham? Apa artinya kau berapi-api membaca puisi di atas panggung, bila hanya dapat tepuk tangan, pulang tak membawa amplop? Lebih baik jadi buruh aduk di bangunan. Bekerja konkret dan menghasilkan.”
Pertanyaan dan merangkap pernyataan Liztya yang melebar ke mana-mana itu dirasakan Fadal melampaui tikaman belati. Karena tak ingin berdebat di depan banyak orang, Fadal membawa istrinya meninggalkan gedung pertunjukan. Sepanjang perjalanan pulang, mereka tak saling bicara. Hanya suara mesin motor butut yang nyempreng. Mengharu-biru suasana malam yang mulai lengang.
Setiba di rumah, perang dingin antara Fadal dan Liztya masih berlanjut. Manakala Liztya memasuki kamar, Fadal masih duduk di ruang tamu. Menyedu kopi tanpa gula. Mengisap rokok tingwe. Dalam diam, ia merenungkan ucapan istrinya yang sejak mula tak sepakat bila dirinya menekuni profesi penyair.
Berlarut-larut direnungkan, ucapan Liztya semakin mengganggu pikiran Fadal. Hingga saat ia tertidur, ucapan istrinya itu telah menjelma menjadi hantu dalam mimpi. Mengejar-ngejarnya hingga ke kolong jembatan, ke lambung gua, dan ke sebalik rerimbun awan paling pekat. Sungguh malam itu, ia senasib seorang maling yang diburu-buru anjing gila.
***
Berhari-hari Fadal berhelat dengan pikirannya yang berkecamuk. Tak tega melihat Liztya yang bekerja siang-malam sebagai buruh pabrik tekstil untuk memenuhi kebutuhan dapur, Fadal memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan sebagai buruh aduk di bangunan. Melepas profesinya sebagai penyair dengan membakar seluruh puisinya.
Bosan sebagai buruh aduk, Fadal belajar menjadi tukang batu pada Kasmin. Karena bakatnya, ia menjadi tukang batu. Sesudah tiga tahun menjadi tukang batu, ia menekuni pekerjaan baru sebagai mandor bangunan. Dengan modal yang dikumpulkan, ia menjadi pemborong. Sejak itu, keadaan ekonomi keluarganya semakin membaik.
Setiap malam Minggu, Fadal yang baru sebulan memiliki Avanza second itu selalu membawa Liztya ke pantai. Mampir ke shopping center. Membeli baju, celana, gaun, beha, celdam, hingga sepatu bermerek. Mampir di restoran termewah untuk menikmati hamburger, sosis, dan fried chicken yang tak pernah dirasakan semasih menekuni profesinya sebagai penyair.
Habis mengantar istrinya pulang, Fadal melajukan Avanza second-nya ke kafe. Ngobrol bersama bos-bos pengembang. Berkaraoke bersama gadis-gadis lacur papan atas. Pulang sesudah teler berat. Tidur mendengkur serupa babi. Sampai lepas tengah siang.
***
Seratus delapan puluh derajad, kehidupan Fadal berubah. Oleh tetangga kiri-kanan, Fadal tak lagi diremehkan sebagai penyair kere, namun sebagai raja uang. Setiap barang yang diinginkan dapat dibelinya. Setiap tujuannya dapat diwujudkan. Tak heran jika ia berhasil menduduki jabatan Kades Slarangsari sesudah membeli 75 persen suara warga.
Sebagai istri yang mendapat sebutan “Bu Kades”, Liztya sangat bangga dengan apa yang dicapai Fadal. Namun kebanggaannya itu hanya seumur jagung, ketika Fadal yang ingin mengembalikan modal saat Pilkades itu terbukti melakukan korupsi dana desa. Setiap malam, ia meratapi nasib Fadal yang telah dicopot jabatannya sebagai lurah Slarangsari. Mendekam ke dalam penjara.
Sebagaimana Liztya, jiwa Fadal pun hancur berkepingan. Hari-hari dalam sel dirasakan Fadal seperti panjangnya waktu di dalam neraka. Setiap malam, ia tak dapat tidur. Hingga suatu waktu, ia ingin mengutuk dirinya dengan baris terakhir puisinya yang dihafal luar kepala, “Bukankah anjing akan mencuri, bila dididik seorang maling?” Membaca baris terakhir puisinya itu berulang-ulang di depan empat napi yang sesel dengannya.
Empat napi yang semuanya maling itu sontak berang ketika mereka dihubung-hubungkan dengan anjing. Serempak mereka menghunjamkan pukulan ke perut, dada, dan kepala Fadal. Seusai Fadal tak sadarkan diri, mereka merebahkan tubuh di lantai sel yang dingin. Tertidur. Malam hening.
Sore harinya, Fadal siuman. Wajahnya pucat, matanya tak bercahaya. Sering bicara, menangis, dan tersenyum sendiri tanpa sebab. Selalu mengigaukan baris terakhir puisinya yang dihafal luar kepala itu berulang-ulang saat tidur. Hingga sewaktu Liztya membezuk di penjara, Fadal telah dinyatakan gila oleh sipir. Mendengar pernyataan sipir itu, ia hanya dapat menghela napas panjang. Sontak, air mata meleleh di pipinya yang menyerupai langit kelabu. q-c

Cilacap, 29 Juli 201
Sri Wintala Achmad. Menulis dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia dan Jawa). Nama kesastrawanannya dicatat dalam: Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste).

Senin, 24 Juli 2017

JODOH

Akan ku serahkan semuanya pada Allah
Tentang semua resah, gelisah nan gundah
Tentang rasa yg kalah
Tentang luka yg begitu parah

Aku pasrah
Sabarku telah menyentuh langit dari laut
Aku tak ingin menjadi perahu tanpa penumpang
Aku tak ingin menjadi pesawat tanpa pilot

Jangan kau tanya kenapa
Pada perahu yg hanyut dihempas ombak, pada pesawat yg jatuh tanpa kendali
Itu karena pilotnya hilang tak bertanggungjawab

Jangan tangisi perahumu
Jika tak bisa lagi mengantarkanmu
Sebab, tenggelam lebih tenang dari pada mengapung

Selama ini aku berjuang tanpa terukur
Tawa tangis menemani rasa yg tersuhur
Terabaikan dalam perjuangan, ku rasa adalah hal yg wajar
Dan menghilang dari peredaran kini pilihan hatiku yg lelah mencari tempat bersandar

Aku memang pernah berkata akan memperjuangkanmu sebagai kasih yg ku cinta
Namun, akupun tak menyangka
Hati ini berhenti dari harap yg dangkal
Langkah ini patah di tikam acuh yg tak bisa ku bantah

Aku tak bisa berdiam menikmati luka
Sebab Allah memerintahkan untuk terus mencari obatnya

Mohon kembalikanlah seonggok daging hatiku
Biar aku meramu obat pada luka yg menganga dalam kesendirianku
Jangan menahan rasaku mengalir
Aku ingin labuhkan pada arus lurus ke hilir

Walau aku tak tau ujungnya dimana
Namun aku tau, Allah takan biarkan aku hanyut begitu saja

Seikat hening dari sisa perjuangan ini
adalah sebagai obat untuk proses sembuh
dan aku tak ingin perang pada rasa yg kedua kalinya salah

Aku selalu ingin esok yg lebih baik
Tersentuh hangat mentari di pagi hari
Tersenyum lepas di ufuk lelah pada sisa kisah
Tertawa tanpa akhir yg mengundang tangis
Seperti sedia kecil yg tak memikul beban dalam menjalani hari

Setiap malam aku terus merenung
Belajar menerima kenyataan yg terabaikan

Setiap malam doaku selalu untukmu
Semoga kau bisa menyebrangi lautan untuk pulang tanpa perahu yg kau tinggalkan
Atau kau terbang melintasi awan tanpa awak pesawat yg telah kau hancurkan

Aku rasa cukup sampai disini
Pada lelah hati yg cukup menyakiti

Perihal jodoh, biar itu skenario Allah
Entahlah, Kau yg akan kembali
Atau kau hanya sekedar pelajaran hidup yg begitu berarti.

 -/-

Terkadang kita harus paham,
Bahwa tak semua yang datang menjadi pasangan hidup nanti.
Bisa jadi mereka adalah ujian bagi hati.
.
Bukankah sudah tiada lagi rahasia bahwa perkara jodoh adalah suatu suratan dariNya?
Lalu apalagi yang harus kita cari setelah mengetahuinya?
.
Ya, kebanyakan dari kita.
Jatuh cinta dalam keadaan memaksa.
Memaksa agar siapa yang tengah kita jatuhkan hatinya adalah sepenuhnya milik kita.
Padahal? Tak pernah kepastian itu datang dengan cuma-cuma.
Nyatanya, tak semua yang datang adalah jawaban untuk menjadi penggenap agama.
Betulkan?
.
Lalu, kenapa masih terus memaksa hati untuk tetap tinggal dengan bayangan yang bahkan tak tau dimana muaranya.
Bukankah lebih baik, taruh hati kita pada sebaik baik pemiliknya?
Dan kamu tau siapa jawabannya.
Ya, Dia. Allah.
.
Ketahuilah, bahwa tak semua yang datang akan memberi satu kepastian membawamu pada sebuah tajuk pelaminan.
Ketahuilah, bahwa tak segala yang datang juga sepenuhnya akan meninggalkan.
Tapi setidaknya, kita harus paham.
Semua yang hadir dalam hidup, adalah sebuah ujian untuk pembelajaran.
Yang seharusnya jika itu tak indah, kita jadikan sebagai catatan, bukan sebuah penyesalan.