Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Bahkan aku lupa. Mengapa aku pernah memiliki rasa itu untukmu? Wajahmu pun enggan ku tatap seperti dahulu, walau hanya sekedar gambar dirimu yang cukup banyak wanita lain yang memuji parasmu. Bahkan ketika ada yang menyebut namamu. Itu telah menjadi hal yang biasa untuk diriku. . Mungkinkah. Allah telah memainkan skenario-Nya? Seperti aku yang selalu meminta tuk bisa mengikhlaskanmu? Tetapi. Menghilangkan rasa bukan berarti aku meminta tuk bisa membuat diri ini membenci. Bukan berarti pula aku meminta tuk bisa membuat diri ini lari saat engkau hadir ditempat yang sama sepertiku. . Jujur, untuk mengikhlaskanmu. Aku memulainya dari berpura-pura melepaskanmu. Hingga waktu membuatku lupa. Bahwa dibalik sandiwaraku itu. Aku pernah melupakanmu dengan cara yang nyata.
Lelucon Para Koruptor ilustrasi AG Rama Dalem/Kompas
Ada yang tak disampaikan ketika ia masuk penjara: mesti menyiapkan banyak lelucon. Mungkin Join Sembiling SH lupa soal itu. Pengacara yang menangani kasusnya itu hanya mengatakan kalau ia tak usah terlalu khawatir selama menjalani 8 tahun masa tahanannya karena segala sesuatunya sudah ada yang atur dan urus. “Percayalah, penjara bukanlah tempat yang menyeramkan bagi koruptor,” katanya setengah tertawa.
Kehilangan kebebasan, bagaimanapun membuatnya merasa tertekan. Ia membayangkan kehidupan yang begitu membosankan dan akan mati kesepian. Tapi pengacara berpenampilan perlente itu, yang sudah menangani puluhan kasus korupsi, menenteramkannya, “Anggap saja kau hanya pindah tempat tidur. Kau tetap bisa menjalankan bisnismu dan menikmati hal-hal yang kau sukai seperti biasanya.”
Ia kini benar-benar percaya dengan semua yang dikatakan pengacaranya. Ia tak perlu pusing memikirkan kebutuhan hidup bulanan istrinya karena sudah ada yang menanggung, juga biaya sekolah anak-anaknya. Kawan-kawan dan atasan yang merasa diselamatkannya—karena ia tak menyebutkan nama mereka selama persidangan—telah diatur oleh Join Sembiling SH agar membantu semua kebutuhan rumah tangganya sebagai “ucapan terima kasih”. Bahkan, ia masih bisa berkomunikasi dengan mereka, dan istrinya bisa sewaktu-waktu menemuinya bila memang ia membutuhkan untuk “menyelesaikan hasratnya”. Bila merasa bosan dan pengin sedikit refreshing berjalan-jalan di luar, semua “prosedur formal akan dibereskan dengan biaya secukupnya”. Bila kangen makanan kesukaan, tinggal telepon dan akan segera ada yang mengantarnya.
Yang menggelisahkan justru karena ia mesti menyiapkan lelucon. Ini ia ketahui setelah dua minggu dalam penjara. Ia diundang mengikuti pertemuan dengan para penghuni lama. “Ini pertemuan yang rutin diadakan tiap malam Rabu,” ujar Sarusi, kawan satu selnya, anggota dewan yang tertangkap tangan karena kasus suap reklamasi. “Kau bisa berkenalan dengan orang-orang terhormat di sini. Kesempatan langka, yang mungkin tak akan bisa kau dapatkan bila kau masih di luar sana.” Sarusi tersenyum. “Siapkan saja satu lelucon paling lucu yang kau punya, yang bisa menentukan martabatmu.” Ia bingung saat itu.
***
Akhirnya ia tahu. Setiap yang hadir bergiliran menyampaikan satu lelucon. Yang paling lucu akan naik martabatnya karena akan dilayani oleh yang kalah, yakni yang dianggap paling tak lucu. Menjadi raja dalam seminggu, yang boleh memerintah atau mengerjai siapa pun yang kalah, misalkan menyuruh berdiri dengan satu kaki, menangkap seekor kecoa, dicoreng wajahnya dengan spidol dan tak boleh dibersihkan selama seminggu, memijiti tiap malam, dan bahkan menyuruhnya membersihkan sel.
Lelucon-lelucon itu menghiburnya, sekaligus membuatnya mati kutu. Saat pertama kali hadir dalam pertemuan itu, ia dianggap paling tak lucu dan disuruh menyanyikan lagu nasional yang didangdutkan sambil goyang ngebor. Sialan! Rupanya semua telah sepakat untuk memplonconya sebagai warga baru karena ia tahu, sebenarnya lelucon Pak Hakil lebih tak lucu dari leluconnya.
Pak Hakil, mantan hakim konstitusi, sebenarnya tak pernah bisa membuat lelucon lucu. Leluconnya nyaris sudah basi dan garing. Tapi semua yang mendengar selalu tertawa. Misal, suatu kali Pak Hakil melontarkan tebak-tebakan, “Kenapa di rel kereta api selalu ditaruh batu? Karena kalau ditaruh duit, pasti habis diambil kita semua.” Ia tahu, itu hanya lelucon lama yang dimodifikasi, tapi semua tertawa. Bahkan, ketika Pak Hakil menceritakan lelucon usang soal “kereta api yang berhenti di stasiun karena rodanya kempes”, semua tertawa ngakak. Apa lucunya? Kemudian Sarusi membisikinya, “Kau harus tertawa meski tak lucu. Pak Hakil sudah cukup menderita karena divonis seumur hidup, jadi anggap saja kita sedekah tawa karena ingin membuatnya terhibur. Ingat, menyenangkan orang lain itu dapat pahala. Ha-ha….”
Kemudian, ia memahami, soal masa hukuman itu termasuk hal penting yang harus dihormati. Semakin lama masa hukuman, maka akan semakin tinggi kehormatannya. Yang lebih rendah vonis hukumannya harus menghormati yang dihukum lebih lama di atasnya. Bila lebih dari 15 tahun penjara, ibaratnya berpangkat setingkat jenderal. Yang dihukum seumur hidup langsung dapat gelar jenderal bintang lima anumerta. Kalau cuma dua tiga tahun, itu kelas kopral.
Jumlah yang dikorupsi juga menentukan martabat. Bung Jayus, pegawai pajak yang masih muda tapi menilep miliaran, dipandang lebih terhormat dari Pak Muad Arim, bupati yang sudah berumur 70 tahun, tetapi hanya kesandung uang recehan ratusan juta. Makin banyak uang makin terpandang dan disayang. Setidaknya makin disayang para sipir penjara, kata Mas Unas, mantan ketua sebuah partai. Mas Unas tetap merasa dirinya hanya dikorbankan. “Saya tak bersalah. Terbukti saya tidak menerima satu rupiah pun…, sebab yang saya terima dalam bentuk dollar.” Lelucon-leluconnya sering mengejutkan.
Di pertemuan malam Rabu itulah—yang sering dibilang Mas Unas sebagai “tadarus lelucon”— setiap yang hadir seperti ingin saling menghibur, tetapi kadang juga terasa ingin meneguhkan kehormatan dan martabatnya dengan saling sindir saling ledek. Dan Mas Unas kerap menjadi bintang dengan lelucon-leluconnya. Bung Jayus sering kena sasaran. “Kamu tahu, pajak itu mudah, yang sulit membayarnya,” kata Mas Unas. Semua tertawa. Bung Jayus mesam-mesem. “Orang pajak itu paling pelit. Saya punya kawan, perempuan yang pacaran dengan pegawai pajak. Tiap makan, selalu perempuan itu yang bayar. Ketika perempuan itu kesal, pegawai pajak itu bilang, ‘tenang, kamu yang bayar makannya, saya yang urus pajaknya’.” Kembali semua tertawa.
“Tapi harus diakui, di antara kita semua, pegawai pajak yang akan gampang masuk surga. Ketika mau masuk gerbang surga, tiap orang akan ditanyai malaikat. Nah, ketika sampai di gerbang surga, justru pegawai pajak yang malah menanyai malaikat, ‘Tolong perlihatkan SPT pintu gerbang surga ini?! Apakah sudah melunasi pajak pintu gerbang surga?’ Mendengar itu, malaikat cepat-cepat menyuruh pegawai pajak itu masuk surga biar urusan pajak nggak diungkit-ungkit.”
“Mas Unas,” timpal Bung Jayus, “semua orang itu jujur, kecuali soal pajak.”
Kelebihan lain Mas Unas ialah piawai memberi konteks leluconnya dengan apa yang aktual. “Saya baru baca berita, kalau saat ini jumlah orang miskin hampir 100 juta. Sementara ekonomi hanya dikuasai oleh 10 orang terkaya. Menurut saya, ini berita bagus.”
“Lho kenapa?”
“Artinya, di negeri ini lebih gampang jadi orang kaya ketimbang jadi orang miskin. Kalau mau jadi orang miskin, harus bersaing dengan 100 juta orang. Tapi kalau mau jadi orang terkaya, saingannya hanya 10 orang. Artinya, kalau nanti kita keluar, kita masih tetap punya harapan untuk makin kaya karena hanya bersaing dengan 10 orang itu.”
Semua nyengir.
***
Menyiapkan lelucon seminggu sekali menjadi hal yang paling menggelisahkannya dalam penjara ini. Memikirkan lelucon yang harus disiapkan untuk pertemuan Rabu malam itu saja sudah membuat perutnya mual. Ia selalu tak pernah bisa yakin dengan lelucon yang ia anggap lucu. Barangkali lelucon itu memang lucu, tapi ia tak pernah bisa menyampaikannya sebagai kelakar yang menarik. Ia pasti langsung keringat dingin ketika sampai gilirannya.
Hal yang semakin membuat gelisah, ia selalu merasa, apa pun leluconnya, tak pernah ada yang menganggap lucu. Ia pernah menceritakan lelucon politik paling lucu tentang Stalin yang setiap pagi selalu mengulangi lelucon yang sama pada para pengawalnya, dan para pengawal itu tetap tertawa; sebab bila ada yang tak tertawa, langsung ditembak. Itu satir, tapi tak seorang pun tertawa ketika ia menceritakannya. Lalu, di pertemuan berikut ia memilih humor asosiatif dan menyerempet porno. Jangankan ada yang tertawa, tersenyum tidak. Malah ia jadi bahan ledekan. Ia juga sudah mencoba teka-teki konyol, tetap saja dianggap kalah lucu dengan lelucon Pak Hakil yang sama sekali tak lucu.
Bahkan, yang membuatnya tak paham sekaligus geram, ia pernah dengan sengaja memilih lelucon yang sama dengan lelucon Pak Hakil: tentang kenapa anak babi selalu jalan tertunduk sebab malu punya ibu babi. Ketika Pak Hakil yang cerita, semua tertawa terbahak. Tapi saat ia menceritakan lelucon yang sama itu, semua diam. Ia tak bisa marah kepada Pak Hakil sebab sebagaimana “kode etik” sesama tahanan, Pak Hakil lebih terhormat (hukumannya lebih lama) dan lebih bermartabat (jumlah korupsinya lebih banyak).
Selama setahun mengikuti malam lelucon itu, ia tak pernah terpilih sebagai yang paling lucu. Ia menyampaikan rasa penasarannya kepada Sarusi, tapi rekan satu selnya menghindar menjawab. Ia yakin Sarusi menyembunyikan rahasia. Ia selalu memancing agar Sarusi menjelaskannya.
“Kau tak tahu?” kata Sarusi suatu malam, saat ia terus mendesaknya. “Kamu menutupi banyak fakta, hingga hanya kamu sendiri yang masuk penjara. Kamu melindungi semua atasanmu yang terlibat. Oleh mereka yang diselamatkanmu, kamu dianggap hebat, pahlawan penyelamat. Tapi bagi kawan-kawan di sini, kamu hanyalah seorang pengecut. Karena tak pernah berani menyebutkan nama-nama yang ikut korupsi bersamamu.” Sarusi menatapnya. Ia merasakan kesunyian yang membuatnya kehilangan semua kebanggaannya.
Membayangkan sisa hukuman dengan harus memikirkan dan menyiapkan lelucon setiap minggu sungguh-sungguh menjadi siksaan yang lebih mengerikan dibanding hukuman dalam penjara yang mesti dijalani. Membuatnya merasa seperti pecundang yang sedang dihukum dengan lelucon-leluconnya sendiri.
Jakarta, 2016-2017
Agus Noor, belakangan lebih dikenal sebagai sutradara dan penulis lakon dalam seri pertunjukan Indonesia Kita. Dikenal piawai menggabungkan para talent dalam satu gagasan cerita yang utuh dan menawan. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Bapak Presiden yang Terhormat, Memorabilia, Selingkuh Itu Indah, Rendezvous, Matinya Toekang Kritik, Potongan Cerita di Kartu Pos, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, dan Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan. Agus berdomisili di Yogyakarta, tetapi lebih sering bekerja di Jakarta.
Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 22-23 Juli 2017)
Bero dan Keluarganya ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo
Bero muncul di kaki bukit bersama Miseno dan Jibat—yang memikul seekor babi hutan gemuk—berikut anjing-anjingnya. Luka yang menganga di bagian kepala dan perut hama perusak itu masih meninggalkan bercak-bercak merah di semak-semak rendah jalan setapak. Dua atau tiga ekor anjing yang tertinggal dari kawanannya berhenti untuk mengendus-endus bercak-bercak darah itu sampai tuan mereka—Bero—memanggilnya dengan sebuah suitan panjang yang terdengar lamat-lamat sampai ke ujung kampung.
“Cepatlah sedikit. Sebentar lagi gelap,” ujar Bero.
Miseno dan Jibat mendengus seraya menggegaskan langkahnya. Beban di pundak mereka terasa semakin berat ketika menapaki jalan setapak yang becek dan mendaki. Itu gumuk terakhir, sebelum mereka melalui jalan setapak menurun menuju kampung.
Hari itu, tenaga mereka lebih banyak terkuras. Seekor rusa jantan—yang semakin jarang terlihat—telah membawa mereka masuk jauh ke hutan. Namun mereka tak berhasil menangkapnya. Bero menyesali dua ekor anjingnya yang hari itu tak bisa ikut berburu—beberapa hari sebelumnya seorang pemuda kampung telah merajam dua anjing itu dengan alasan tak jelas. Akhirnya, mereka memburu dua ekor babi hutan yang sedang beristirahat di sebuah ngarai bersemak tinggi di hutan itu. Satu pejantan yang lebih gesit berhasil lolos dari kepungan mereka. Tapi lemparan tombak Bero memang jitu, sehingga berhasil meredam keberingasan seekor lainnya yang lebih gemuk.
“Kalian teruslah ke sungai,” ujar Bero saat mereka tiba di ujung kampung. “Saya langsung ke rumah. Nanti saya suruh Jimah menyusul ke sana.”
Miseno dan Jibat berbelok ke arah sungai. Mereka akan membersihkan babi hutan itu di sana. Bero mengambil jalan lurus ke rumahnya diikuti lima ekor anjing. Sedangkan tiga ekor lainnya telah mendahului Miseno dan Jibat ke arah sungai. Namun, ketika sebuah suitan panjang terdengar kembali, anjing-anjing itu segera berlarian dan berkumpul di sekitar kaki Bero seperti sekelompok serdadu yang sigap dan patuh begitu saja kepada komandannya.
Setiba di rumah, Bero langsung menuju halaman belakang. Sebelum berangkat pagi itu, Bero mengikat kedua anjingnya di tiang jemuran. Ia berpesan kepada Jimah agar memboreh luka-luka anjing itu dengan kunyit yang sudah dikukus.
“Jimah, bagaimana anjing-anjing itu?”
Jimah yang sedang termenung di dekat sumur terkaget oleh kedatangan Bero. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia menunjuk dua sosok binatang yang membujur kaku di dekat kakinya. Melihat keduanya, Bero tak bisa menahan kesal yang berkecamuk. Ia menggoyang-goyangkan tubuh dua anjing itu sambil memaki-maki tak keruan. Setelah reda beberapa saat, ia bertanya kepada Jimah dengan suara gemetar.
“Apa yang sudah kamu lakukan seharian tadi, Jimah?”
Jimah menatap anjing yang sudah mati itu dengan perasaan sedih dan takut. Bibirnya bergerak-gerak hendak menjelaskan sesuatu, namun yang terdengar hanya dengung tak jelas yang membuat Bero semakin bingung.
“Ayolah Jimah, bicara! Bicaralah saat seperti ini.”
Jimah kembali berdengung. Kali ini lebih tenang sambil membuat gerakan-gerakan tertentu dengan tangannya. Tentu Bero sudah tahu, Jimah tunawicara sejak kecil. Anak sulungnya itu bahkan sulit mengeluarkan suara tangis ketika dilahirkan.
“Jadi, kamu pergi ke pasar. Pulangnya, anjing itu sudah mampus!”
Jimah mengangguk pelan. Lalu ia melangkah ke sebuah lubang galian tempat sampah untuk mengambil sesuatu. Sebuah tulang binatang—sepertinya tulang paha seekor ayam—ditunjukkan kepada Bero. Tanpa ragu-ragu Bero mengambilnya dan mengendusnya untuk memeriksa baunya.
“Anjing ini pasti diracun. Keparat!” ujar Bero seraya mengeloyor ke dapur.
Bero kembali dengan sebuah cangkul dan menyuruh Jimah memindahkan dua ekor anjing yang sudah mati itu. Bero akan menguburkan mereka di bawah gerumbul pohon pisang di dekat kandang ayam yang tak terpakai.
“Sudah, sekarang bantu suami dan adikmu di sungai.”
Saat Bero mulai mengayunkan cangkul, matahari telah benar-benar lesap di balik hutan sebelah barat di mana segerombolan babi hutan mungkin sedang merencanakan perburuannya sendiri.
Keesokan harinya, Bero merasa tak perlu pergi ke hutan. Persediaan daging untuk anjing-anjing itu telah tercukupi. Di samping itu, ia masih berduka atas kematian dua ekor anjingnya. Hari itu, ia memutuskan untuk menjenguk istrinya di kampung sebelah. Bertahun-tahun lalu, ia tak bisa mengubur jenazah istrinya di kuburan kampung. Sekelompok pemuda yang—katanya—mewakili seluruh kampung, keras-keras melarangnya. Bero sangat terpukul dan hampir tak bisa menahan diri ketika itu. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin jenazah istrinya yang tak tahu apa-apa ditolak oleh segerombolan anak ingusan di kampungnya sendiri. Pada waktu yang sama, ia begitu sedih memikirkan bayi kembar itu—Jimah dan Jibat—yang tak akan pernah melihat ibu mereka sepanjang hidup. Sejak itu, Bero membesarkan kedua anak tersebut sendirian. Ia mengajari Jibat yang pendiam cara mengendalikan anjing-anjing dan berburu babi hutan. Jimah sendiri bertugas mengurus rumah dan mengantarkan daging buruan ke seorang pengepul di pasar desa.
“Sepi sekali, di mana anjing-anjing itu?” ujar Bero.
Miseno yang baru saja menandaskan kopinya menyahut dari dapur, “Mereka bersama Jibat ke sungai. Memasang bubu sepertinya.”
Di samping ikut berburu, sejak kecil Jibat memang senang memasang bubu di sungai. Meski begitu—entah kenapa, mungkin karena selalu memasang di tempat yang salah—ia jarang mendapatkan tangkapan yang diinginkan.
“Jimah, jangan lupa. Nanti pulangnya bawa ikan segar.”
Bero berkata sembari menyelipkan sebilah parang di pinggangnya. Bero selalu memesan ikan segar jika Jimah pergi ke pasar. Kecuali Miseno, tak ada yang makan daging di rumah itu. Apalagi Bero—makan daging binatang buruan hanya akan membuatnya teringat-ingat bagaimana cara membunuh sehingga merasa iba. Ia tak mau memiliki hubungan dekat dengan binatang yang diburu, dan memakan dagingnya akan membawa kemungkinan ke arah itu.
“Saya berangkat.”
Bero menoleh ke rumah sekali lagi, mengingat-ingat seolah-olah ada sesuatu yang terlupakan, tapi tak berhasil mengingatnya. Beberapa langkah kemudian, Bero baru tersadar bahwa ia selalu berjalan dengan anjing-anjingnya.
Jarak sepelemparan batu dengan kepergian Bero, Jibat datang dengan langkah gontai. Wajahnya pucat dengan kening berkerut-kerut seolah sedang memikirkan sesuatu yang teramat pelik. Miseno—yang memperhatikannya dari arah pintu dapur—tampak heran dibuatnya. Betapa pun pendiam, Jibat bukanlah pemuda yang murung. Miseno mencoba mencari tahu apa sebenarnya terjadi dengan wajah itu. Miseno baru tersadar bahwa Jibat tidak sedang bersama anjing-anjing itu.
“Kamu kenapa? Ke mana anjing-anjing itu?”
Jibat menghela napas panjang, lalu memberi isyarat kepada Jimah agar mengambilkan segelas air putih. “Bawalah cangkul, parang, atau apalah. Pergilah ke ladang di pinggir sungai. Anjing-anjing itu… mampus!”
“Mampus? Kamu yang mau mampus. Kamu ini!”
“Saya tak bergurau. Cepat ke sana, bereskan anjing-anjing itu. Besok, mungkin kita yang akan diracun!”
Miseno saling tatap dengan Jimah. Lalu ia kembali menatap Jibat dengan mimik tak percaya. “Panggil dia—Bero. Cepat, mumpung belum jauh!” ujarnya seraya menyambar cangkul dan berlari ke arah ladang.
Jibat segera bangkit menyusul Bero. Ia tak berani membayangkan wajah Bero yang akan murka. Sementara itu, Jimah masih termangu—ia ragu, apakah akan ke pasar atau bergabung dengan suaminya di ladang, mengurus bangkai anjing-anjing itu.
Mereka telah menguburkan anjing-anjing itu dalam satu lubang. Anjing-anjing itu terkapar saat Jibat mencari tempat untuk memasang bubu. Anjing-anjing itu telah menemukan tulang-tulang yang berserakan di ladang. Tulang-tulang binatang itu terlihat masih baru. Seseorang—atau sekelompok—sepertinya telah dengan sengaja membubuhi racun dan menyebarkannya di ladang.
Bero menjadi sangat murka setelah kejadian itu. Malamnya, ia berkeliling kampung dan mendatangi siapa saja yang tengah mengobrol untuk ditanyai perihal yang menimpa anjing-anjingnya. Tentu saja, tak ada satu pun yang mengaku.
Namun, di ujung malam yang muram itu, dua orang pemuda telah minum terlalu banyak dan berteriak-teriak di dekat pos ronda. Mereka menyebutkan soal manusia pemakan babi dan pemelihara anjing. Mereka menyebutkan tentang anjing-anjing yang mati.
“Mampus, kalian! Anjing-anjing najis!”
“Besok kita racun saja yang punya rumah….”
“He, mulutmu! Diam kamu comberan….”
“Dia yang comberan. Mana dia itu, tukang makan babi. Dasar anjing!”
Mendengar itu, Bero pun mendatangi mereka. Tanpa berpikir panjang, Bero menghajar dua pemuda mabuk itu. Namun mereka semakin brutal saja, berteriak-teriak, mengolok-olok sejadi-jadinya, hingga satu per satu warga kampung keluar untuk melerai. Saat kehebohan itu semakin tak terkendali, seorang laki-laki segera menarik Bero dari kerumunan dan menjauhkannya dari tempat itu.
“Bero, saya beri tahu kamu. Untuk sementara kamu pergi saja dari kampung ini. Mereka sudah merencanakan ini sejak lama,” ujar laki-laki itu.
“Jadi, keparat-keparat itu yang membunuh anjing-anjing itu?”
Laki-laki itu menggelengkan kepala.
“Pergilah. Saya tak bisa mengatakannya.”
Bero tak mau tinggal diam. Ia berniat mendatangi kerumunan itu lagi. Tapi laki-laki itu berhasil membujuknya sekali lagi. Bero pun menjauh dari kerumunan, pulang dan mulai berkemas. Keesokan harinya—pagi-pagi sekali—bersama Jibat dan sebuah buntalan besar, ia berjalan memasuki hutan dan tak pernah kembali. Rumah Bero yang selalu dijaga oleh anjing-anjingnya itu pun selalu terlihat sepi. Sekali waktu saja, Miseno dan Jimah datang untuk membuka pintu. Ada yang mengatakan, sepasang suami-istri itu sudah pindah ke kampung sebelah—tinggal di rumah orang tua Miseno.
Malam itu hujan deras disertai angin kencang. Orang-orang melongok sebentar ke jendela hanya untuk menutupnya kembali. Mereka memeriksa pintu-apakah sudah terkunci dengan baik-lalu kembali menarik selimut di tempat tidur. Tentu saja, tak ada satu pun yang keluar untuk memeriksa ladang mereka pada malam seperti itu. Pada saat itulah puluhan ekor babi hutan mendapat kesempatan. Babi-babi yang beringas itu menyantap dan menghancurkan apa saja yang ditemui di ladang. Hama liar yang mengamuk itu membikin ludes ladang sebagian besar warga kampung.
Seorang warga yang terbangun pagi-pagi dan memeriksa ladangnya menjadi murka, lalu segera mengabarkan bencana itu kepada yang lainnya. Warga kampung pun berkumpul dan bersepakat membalas kelakuan babi-babi itu. Hari itu juga mereka merangsek masuk ke hutan. Namun mereka tak bisa menemukan apa-apa selain rasa lelah dan putus asa.
“Tak ada satu pun yang punya anjing,” ujar salah seorang warga. “Parang sependek ini, bagaimana jika kita bertemu babi-babi sialan itu?”
“Tak ada tanda-tanda. Jangan-jangan itu babi hutan siluman,” ujar yang lainnya.
“Balas dendam. Mungkin keluarga Bero sedang balas dendam.”
Saat mendengar nama itu, orang-orang saling menatap—sudah lama tak ada yang pernah menyebut nama Bero dan keluarganya. Mereka tiba-tiba merasa gentar. Lalu satu demi satu mulai bersepakat kembali ke kampung untuk menyusun rencana berikutnya. Baru beberapa langkah mereka berbalik arah, sebuah suitan panjang menggema di antero hutan itu. Orang-orang itu berusaha tak menghiraukannya sambil terus bergegas. Namun ada suara-suara lain yang mengikutinya. Semakin dekat, suara-suara itu terdengar seperti derap sepasukan serdadu binatang yang siap menyerang mereka. Orang-orang itu semakin gentar dibuatnya.
Pagesangan, 4 Mei 2017
Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya telah dimuat di sejumlah media. Tinggal di Pagesangan, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Gunakan sabuk pengaman hatimu, jangan sampai sebuah benturan
mematahkannya dan membuat teman baikku larut dalam kesedihan. (hlm. 75)
Selalu ada sebab akibat, bahkan pada hal-hal sepele sekalipun.
Seperti awan yang terhampar memenuhi langit. Bermula dari uap air yang
berkumpul membentuk gumpalan-gumpalan putih, kemudian angin membawa
mereka mengelilingi luasnya alam, hingga tiba saatnya dijatuhkan kembali
menjadi tetesan-tetesan hujan. (hlm. 136)
Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
Seorang teman pasti mau membantu temannya. (hlm. 38)
Kita akan tahun jika suatu saat bersama dengan orang yang spesial, yang akan kita cintai selamanya. (hlm. 51)
Ketika kamu memutuskan untuk mempublikasikan sesuatu pada sosial
media, kamu harus siap dengan bumbu yang ditambahkan netizen sebagai
penyedap berita. Tinggal itu akan menguntungkan atau menjatuhkan kamu.
(hlm. 60)
Lebih memilihkan sesuatu untuk orang lain jika kamu mengetahui orang seperti apa dia. (hlm. 63)
Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, bukan yang kamu inginkan. (hlm. 101)
Takdir selalu berjalan dengan caranya sendiri. (hlm. 152)
Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:
Kisah cinta indah yang romantis dengan ending bahagia hanya ada dalam cerita novel. (hlm. 2)
Tidak mudah menemukan orang yang bisa membuatmu jatuh cinta,
terutama ketika kamu melihat kisah cinta sempurna orangtuamu dalam dua
puluh lima tahun kehidupanmu. (hlm. 9)
Hanya orang malas yang menolak pekerjaan. (hlm. 13)
Kita tidak pernah bisa mengontrol hati, dan terkadang itu menjerumuskan kita pada sebuah ketidakberdayaan. (hlm. 21)
Sepotong kata yang selalu menjadi pintu untuk sebuah rasa terlarang. (hlm. 26)
Kamu boleh saja membayar mahal, tapi hanya untuk sesuatu yang memang pantas mahal. (hlm. 34)
Seorang perayu cewek dengan kakak perempuan yang posesif, itu bukan hal yang menyenangkan. (hlm. 50)
Keuntungan hidup di zaman sekarang, orang-orang terlalu suka
mempublikasi apa saja yang mereka suka dan inginkan melalui media
sosial. (hlm. 52)
Sepertinya aku harus mengingatkan sabuk pengaman pada hatiku mulai dari sekarang. (hlm. 54)
Tidak ada manusia yang sempurna, siapa saja bisa berbuat salah. (hlm. 79)
Pernikahan bukan hal yang bisa dimainkan. (hlm. 143)
Buat apa merindukan laki-laki yang berkencan dengan wanita lain? (hlm. 197)
Cerpen Gusti Trisno (Republika, 16 Juli 2017) Mencari Ustaz ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Mail menahan sesak saat melintasi Mushala Nurul Iman di Kelurahan
Iman Sekali. Sungguh, pemuda yang belum genap dua tahun menikah itu tak
mengira tempat yang harusnya ramai suara lantunan ngaji anak kecil
berubah menjadi tempat kongkow-kongkow anak muda. Dalam hatinya timbul rasa sakit, melebihi sakitnya hati akibat istri merajuk meminta tambahan uang belanjaan.
Langkah kaki lelaki itu pun dijauhkan dari mushala tempatnya mengajar
dulu. Tapi, semakin jauh melangkah, semakin sesak merayapi dada. Sesaat
ia mengingat-ingat kejadian beberapa waktu lalu.
Semua dimulai ketika ia diancam oleh sekelompok pemuda untuk berhenti
mengajari ngaji. Mail bukannya takut, ia lebih memerhatikan keamanan
istrinya. Apalagi ancaman bukan hanya sekali-dua kali, tapi berkali-kali
ia rasakan. Mulai lemparan batu atau tulisan-tulisan bernada ancaman di
gedung rumahnya.
Tak ada satu pun tetangga yang tahu mengenai hal itu. Mengingat Mail
dan istrinya begitu menutup rapat. Akhirnya, setelah berembuk dengan
kekasih hatinya itu, Mail sepakat berhenti mengajar bocah-bocah
itu. Tapi, keberhentiannya tidak langsung ia lakukan. Melainkan secara
perlahan-lahan. Dimulai dengan tidak menghadiri mushala saat Ustaz Hari
yang mengajar. Akibat kejadian tersebut, Ustaz Hari yang seusia ayahnya
itu menegur dan menanyakan perihal ke anehan Mail.
Anehnya, Mail menjawab bahwa ia sudah tidak betah lagi mengajar
ngaji. Sontak Ustaz Hari marah besar, hingga membuat keduanya tak lagi
akur. Pun, Mail juga tak mau menerima zakat fitrah yang menjadi
miliknya.
Masalah kian runyam, setelah masalah dualisme ustaz itu terdengar
wali santri. Mereka pun secara perlahan menggiring anaknya belajar di
TPQ Bonafite. Padahal, demi mencapai TPQ tersebut jarak yang ditempuh
lumayan jauh. Tidak hanya itu, wali santri juga terprovokasi untuk
berdemo pada Ustaz Hari. Hingga benar-benar mushala itu tutup dan tak
lagi ada aktivitas.
Kecuali kini tempat kongkow-kongkownggak jelas.
Mail menghentikan langkahnya sejenak, ia lalu berbalik arah menuju
Mushala Nurul Iman. Di sana tampak beberapa pemuda yang pernah
menyuruhnya berhenti mengajar menyambut dengan tatapan penuh kemenangan.
“Terima kasih, Bos. Sudah menyediakan tempat kami!” seru Jurik sambil menepuk bahu Mail.
“Untungnya kamu mengikuti arahan kami, sehingga tidak bernasib sama dengan tua bangka itu!” Mardito menimpali.
Mail tak langsung menanggapi seruan dua pemuda itu, tapi di hatinya
ada bara api yang menyala-nyala. Beruntung, lelaki itu masih bisa
beristighfar sambil memejamkan mata. Hanya saja, ketika ia membuka mata,
lelaki yang baru saja menikah dua tahun itu menemui mata teduh
perempuan yang selama ini dihormatinya.
“Ibu, tunggu!”
Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Mail, sambil mengejar perempuan bermata teduh itu.
***
Perempuan itu telah masuk dalam rumahnya dengan bersimbah air
mata. Mail kembali memeras rasa sabar. Ia mengucap salam dan mengetok
pintu, tapi tak ada sahutan dari pemilik rumah.
Migran lelaki itu mendadak kumat. Seolah-olah ada kunang-kunang betebrangan di atas kepalanya.
Dan ia kembali mengingat semuanya dengan lebih detail.
Saat itu, Mail masih kecil. Ia tinggal dengan kedua orang tua tak
jauh dari lingkungan pondok pesantren. Ayahnya yang memiliki rambut
gondrong itu merupakan salah satu ustaz sebuah mushala baru yang
mengajar baca tulis Alquran. Akibat hal itu, ketentraman dalam rumah
selalu tercipta.
Tapi, tak dinyana keindahan itu berlangsung sementara. Ada beberapa
pejabat kabupaten yang datang mengunjungi ayahnya. Tentu selaku tuan
rumah, tamu perlu di istimewakan. Apalagi ada sebuah pandangan jika
dengan bertamu dan menerima tamu menambah rezeki. Hal itu ternyata
benar-benar terjadi.
Si Pejabat Kabupaten itu memberikan beberapa juta demi pembangunan
mushala. Sungguh, ayah Mail langsung menerima. Sekalipun ibu Mail tak
menerima akibat takut jika uang tersebut merupakan suap demi tercapainya
kepentingan Si Pejabat. Tapi, ayah Mail bersikukuh menerima pundi-pundi
rupiah.
“Si Pejabat itu memberikan hal tersebut katanya sebagai nazar ketika
terpilih. Dan bukankah pemilukada telah berakhir. Jadi, apa yang perlu
ditakutkan.”
Mendengar penjelasan itu, Mail kecil dan ibunya menjadi
lega. Pembangunan mushala pun langsung dilakukan. Mushala yang awalnya
hanya berupa ayaman kayu berubah menjadi bangunan permanen dengan
baluran semen. Akibatnya, santri di tempat tersebut bertambah.
Selain rezeki tersebut, ayah Mail juga membangun rumahnya dari uang
menjual tanah di kota lain. Dan hal tersebutlah yang menjadi masalah.
Beberapa warga ada yang berspekulasi bahwa uang Si Pejabat itu dikorupsi oleh pengajar ngaji
itu. Fitnah terus bergulir, semakin banyak masyarakat yang ingin
mengusir keluarga itu. Rumah dan mushala dipenuhi coretan kata-kata
kotor yang luar biasa. Anak-anak yang terbiasa mengaji dicegat dan
disuruh pulang.
Kejadian tersebut membuat masyarakat di wilayah yang tak ingin
diingat Mail itu terpecah menjadi dua, yakni kelompok yang pro dengan
keluarga Mail dan kelompok kontra. Walaupun begitu, kelompok kontra
memiliki massa yang demikian lebih banyak.
Mail kecil sudah dihadapkan pada trauma yang sedemikian berat
itu. Mengingat bukan hanya ayahnya yang mendapatkan ancaman akan
dibunuh, tetapi juga dirinya sendiri. Si Ayah bahkan harus menabahkan
Mail berkali-kali, bahwa perjalanan yang mereka lakukan itu sebenarnya
adalah ujian.
Dari ayahnya pula, Mail belajar tersenyum sekalipun nyawa mereka selalu diancam.
Tepatnya pada malam jahanam itu, kerusuhan pecah menuntut keluarga Mail
pergi dari desa itu. Guna mengurangi amuk masa, keluarga Mail diamankan
oleh kepolisian. Sekalipun keesokannya muncul rumor bahwa keluarga
tersebut di pukuli hingga babak belur. Apalagi, sejak kejadian itu
mereka tak pernah kembali ke rumah dan mushala yang dibangun dengan
berdarah-darah.
Polisi sebenarnya berupaya melakukan mediasi, tapi keluarga Mail
menolak untuk hal tersebut. Mereka lebih memilih hijrah ke tempat lain,
sekalipun nahas sebelum menggapai tanah itu. Ayah dan ibu Mail dipanggil
oleh Sang Pencipta.
Mail pun merasakan kesakitan dan kehilangan yang
berlipat-lipat. Untungya, ia ditemukan oleh orang pesantren teman orang
tuanya di jalan. Hingga ia bisa terus mendoakan kedua orang tuanya. Dan
satu hal yang tak disangka-sangka Mail, jalan hidupnya kini tak jauh
dari kejadian yang pernah menimpa orang tuanya.
Hanya saja, ia memilih jalan aman untuk menuruti permintaan preman
yang merasa terganggu dengan kegiatan mengaji itu. Semua demi istrinya,
juga demi menghilangkan rasa trauma sewaktu ia masih kecil.
Kenangan hitam itu benar-benar merasuki pikiran Mail. Bak sebuah film
yang diputar jelas di depan matanya. Sungguh, ia merasa begitu kerdil
dibandingkan usaha dan kegigihan ayahnya dalam berdakwah.
***
“Anakku.”
Suara seorang lelaki yang begitu menggetarkan tubuhnya.
Mail langsung bangkit mendengar suara itu, ia segera memeluk Ustaz
Hari. Mereka menangis sesungguhkan. Lalu, keduanya kembali bernostalgia
saat membangun Mushala Nurul Iman secara bersama.
“Kamu tidak salah,” tegas lelaki tua itu sambil melepaskan pelukan.
“Rasa trauma yang dialamimu sewaktu masa kecil itu membuatmu melakukan hal tersebut.”
Mail melongo tak percaya penjelasan lelaki yang memiliki tahun lahir
sama dengan ayahnya itu. Bukan apa-apa, sejauh ini tak ada satu pun yang
tahu atas rasa trauma itu. Kecuali dirinya sendiri. Lantas dari mana
Ustaz Hari mengetahui hal tersebut.
“Waktu kamu kecil, saya juga ada di tempat kejadian itu. Fitnah yang
dialami orang tuamu itu jauh lebih kejam dibandingkan kita. Ayahmu tak
hanya melawan preman yang merasa terganggu dengan aktivitas mengaji, ia
juga melawan kelompok kecil yang iri dengan perkembangan
pengajiannya. Dalam hal ini, tempat mengaji yang lain.”
Kening Mail berkerut mendengar penuturan Ustaz Hari yang dirasa tak masuk akal itu.
“Tapi, Allah membalas kelakuan mereka. Lambat laun fitnah itu hilang
dengan sendirinya. Dan mereka yang memfitnah ketahuan juga
aibnya. Sayangnya, masyarakat yang penuh penyesalan itu tak pernah
bertemu keluargamu lagi.”
“Lalu, bagaimana mungkin saya tidak mengingat Ustaz sama sekali.”
“Karena kamu masih kecil, apalagi wajahku dulu begitu tampan dan
tanpa kerutan seperti sekarang,” Ustaz Hari menjawab penuh tawa.
Mail sedikit lega mendengar penuturan Ustaz Hari. Ia juga sadar bahwa
perjuangan yang dialaminya belum seberapa dibandingkan ayahnya. Oleh
karena itu, timbul azzam di hatinya untuk kembali ke mushala.
“Sebentar lagi Ramadhan menjelang. Mari kita sama-sama memenuhi
mushala dengan kalam-Nya. Aku akan kembali ke Mushala Nurul Iman,” jelas
Ustaz Hari disambut senyum mengembang di bibir Mail.
Mail pun segera meminta diri. Di hatinya, ia merasa seperti lahir kembali.
Dan ketika Ramadhan datang, Mushala Nurul Iman kembali dipenuhi sesak
orang yang mau terawih. Pada hari pertama itu, Ustaz Hari menjadi imam
salat, sedangkan Mail memilih menjadi muazin.
Begitu mereka akan menunaikan salat terawih, suara orang-orang bersahutan di luar mushala membuat jamaah berhamburan keluar.
“Kita harus mengamankan diri!” seru seorang bapak yang tak kuat lagi akan panas api yang menjalar di balik tembok mushala.
Ajakan tersebut membuat bapak-bapak yang lain untuk menerobos ke
barisan jamaah perempuan. Mereka tak hanya berusaha menyelamatkan diri
sendiri, tapi juga anak-istrinya.
Sementara itu, api semakin melahap semua yang ada dalam mushala.
“Mas…!”
“Bapak…!”
Sahut-menyahut kedua istri ustaz itu memanggil nama suaminya
masing-masing. Tapi, suara itu tak segera ada jawaban. Hanya kobaran si
jago merah yang menambah menyala-nyala.
Sejak itu, jamaah mushala yang baru hidup kembali itu tersadar bahwa kedua ustaz mereka masih ada dalam mushala.
Mereka pun segera berusaha memadamkan api, tak peduli keselamatan
diri. Mengingat mencari ustaz tak mudah bagi lingkungan yang begitu siap
terkobar api permusuhan.
Situbondo, 10 Juni 2017
Gusti Trisno. Aktif menulis cerpen, puisi,
novel, dan resensi. Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo ini lahir
di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini, ia menjadi
mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember.
Ia pernah menjadi juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa
Jawa Timur 2016. Tulisannya dalam bentuk cerpen dan esai telah dimuat di
beberapa media.
Cerpen Syafaati Suryo (Suara Merdeka, 16 Juli 2017) Dua Pria Muda yang Membicarakan Kematian ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka
Ruangan empat kali empat meter di tepi lampu merah itu tak ubahnya
bilik sauna yang memeras keringat akibat pendingin udara yang sedang
rusak. Dua pemuda berseragam cokelat duduk di dalamnya sembari menyesap
kopi dan mengunyah bakwan hangat. Handy talky yang digenggam
salah satu pemuda sesekali berbunyi menyampaikan pesan atau
kelakar-kelakar ringan. Dua pemuda itu membicarakan kematian.
“Aku rindu kampung halaman,” ujar Hendro tiba-tiba setelah meletakkan handy talky di atas meja.
“Ambil cuti dan pulanglah,” sahut Gofur.
“Ya, mungkin usai Lebaran nanti. Entahlah, tiba-tiba aku ingin sekali mengunjungi makam ibuku di kampung.”
Hendro, lelaki 26 tahun itu, kembali termangu. Mengingat peristiwa
setahun lalu saat menemukan ibunya tak sadarkan diri di kamar mandi
rumahnya di kampung. Darah segar mengucur dari kepala ibunya. Ibunya
terjatuh setelah mendadak sakit kepala hebat ketika berjalan menuju
kamar mandi. Ibunya terpeleset hingga membentur bak mandi.
“Oh, iya, kau sudah takziah ke rumah si Syarif belum?” tanya Hendro kemudian.
“Sudah malam tadi. Kasihan istrinya, lagi hamil muda.”
Gofur lantas menyandarkan punggung dan melipat kedua tangan di dada.
Matanya menerawang memancarkan rasa empati pada kawan satu angkatannya
yang tewas kala baku tembak dengan perampok. Salah apa Syarif? Begitu
batinnya kerap bertanya.
“Begitulah risiko pekerjaan kita. Maut mengintai di mana-mana. Mau
tak mau, kau harus siap jika esok hari ususmu terburai atau kepalamu
pecah ditembak orang tak dikenal,” ucap Hendro. Ia lalu meneguk kopinya
yang telah dingin dan nyaris tandas.
“Apa pun profesi kita, di mana pun kita berada, meski kau membangun
benteng setinggi Burj Khalifa sekalipun, meski kau sedang bersantai di
ruang tengah rumahmu, jika memang sudah waktunya, mati juga kau,” papar
Gofur.
“Hmm, ngomong-ngomong, kalau seandainya bisa memilih, kau ingin mati dengan cara seperti apa, Fur?”
“Kau ini, siang hari berbicara soal kematian. Mengapa tidak membahas
Liverpool yang sukses masuk Liga Champions usai melibas Middlesbrough
saja? Atau Raisa yang kabarnya akan segera dipinang.”
“Hahaha. Entahlah… Aku hanya sedang membayangkan ingin mati di tempat
tidur yang empuk. Di senja hari yang damai. Di sisi istriku.
Dikelilingi anak-anak dan cucuku kelak,” Hendro memandangi jalanan
dengan tatapan kosong. Lalu ia melirik ke sisi trotoar. Ada seorang pria
berbalut jas abu-abu melangkah tergesa-gesa. Ada dua wanita muda asyik
mengobrol sambil berjalan dan menggenggam es kopi. Ada dua rekannya
sesama polisi tengah mengatur jalan.
“Kau sedang ketakutan, ya? Tenanglah kawan. Kematian adalah sukacita.
Kau bisa berjumpa dengan Ibumu di sana. Surga menanti orang-orang
ikhlas dalam bekerja dan mengabdi pada masyarakat sepertimu.”
“Ah, kau, bisa saja. Jadi kapan kau akan melamar guru TK itu?”
Wajah Gofur lantas memerah. Bibirnya merekah. Dua biji matanya
berbinar-binar. “Nanti malam aku akan ke rumahnya untuk mengutarakan
niat baikku. Doakan ya, Bro!”
Dan bulir-bulir keringat luruh di balik seragam cokelat keduanya.
Enam tahun lalu, setamat pendidikan di Jawa Tengah, mereka mulai
mengenakan seragam itu. Setiap hari semenjak hari itu, kembang
kebanggaan tiada pernah layu di sekujur kalbu.
Sebab apa yang paling membanggakan selain cita-cita semenjak kecil
yang kemudian nyata saat dewasa? Mimpi yang sederhana bagi sebagian
orang, namun menurut keduanya lebih berharga dari memperoleh segenggam
berlian. Betapa menyenangkan dapat bermanfaat bagi orang lain dan
lingkungan. Itulah kebahagiaan yang tak direka-reka. Apa adanya. Puas
dengan hal-hal yang biasa-biasa saja. Bahkan mereka yang berlimpah harta
pun belum tentu benar-benar bahagia.
Separuh rekan seprofesinya kerap mencibir. Menyematkan predikat sok
idealis dan terlampau naif. Lantaran bersetia pada etika dan norma.
Segala rupa suap enggan diterima. Meski harus rela membawa pulang gaji
yang tiada besar setiap bulan.
Mereka pun manusia biasa. Kadang mengeluh juga. Pekerjaan mereka
bukan tanpa risiko. Letih sudah barang tentu. Berjibaku di bawah panas
terik atau derai hujan setiap waktu. Tekanan dari atasan maupun senior
sudah jadi makanan baku.
Tapi setiap kali ingin mengeluh lebih jauh dan merasa lelah, mereka
selalu ingat bahwa setiap tetes keringat adalah pahala dan harus menjadi
berkah. Pun membanding-bandingkan hidup dengan orang lain adalah
tindakan yang salah.
Mereka tak peduli pada dagelan politik di negerinya. Mereka hanya
fokus mengatur lalu lintas, menangkap penjahat, menjaga segala aksi
unjuk rasa atau membantu nenek-nenek menyeberang jalan. Mereka juga tak
peduli pada berbagai aliran agama ataupun percekcokan yang membawa-bawa
agama.
Azan zuhur pun mulai berkumandang. Seorang rekan mereka masuk ke
dalam ruangan itu. Hendak menggantikan Hendro dan Gofur yang pamit pergi
ke musola di belakang pusat perbelanjaan.
Keduanya pun mulai melangkah melintasi pintu. Sementara seorang laki-laki di seberang sana tak henti-hentinya mengamati mereka.
***
Enam jam sebelumnya, Gofur berdiri berhadap-hadapan dengan ibunya di
selasar rumah. Lengan kirinya menggenggam sesuatu yang telah disimpannya
sejak seminggu terakhir dengan amat waspada sebagaimana ia menjaga
dirinya sendiri.
“Bu, doakan aku. Cincin ini akan aku persembahkan pada Siti malam
nanti,” katanya memohon restu. Ia menunjukkan sebongkah cincin emas yang
diletakkan pada kotak merah mungil itu kepada ibunya.
“Gadis seperti Siti pasti akan menerima pemuda sepertimu sebagai
suaminya. Ibu saja bangga punya kamu,” tutur ibunya sambil tersenyum.
Diusapnya pipi anak kesayangannya itu dengan cinta yang melimpah.
“Ah, ibu. Gofur kan cuma lulusan Bintara. Bukan calon Jenderal. Gofur
bukan orang kaya, Siti anak orang berada. Gofur yatim sejak kecil, tak
tampan dan tak punya apa-apa,” ucap Gofur memancarkan wajah lesu.
“Hush, yang diharuskan itu rendah hati, bukan rendah diri! Perempuan
baik tidak silau pada hal-hal duniawi. Ibu percaya, Siti bukan perempuan
yang menilai laki-laki dari rupa dan harta. Malah Ibu lihat, Siti sudah
kesengsem tuh sama anak Ibu,” tutur ibunya yang selalu pandai
membangkitkan kepercayaan dirinya. Menggelorakan api semangatnya.
“Percayalah, doa ibu selalu menyertaimu.”
Gofur merangkul tubuh wanita ringkih itu dengan erat. Gofur merasakan
ada rembesan air yang terasa hangat mengalir di saku bajunya. Ibunya
tak pernah mengalami gejolak haru sesentimental pagi itu. Sementara enam
jam sebelumnya di rumah Hendro, seperti biasa, istrinya yang cantik
menghidangkan segelas susu cokelat dan setangkup roti tawar. Hari itu
istrinya memilih selai kacang sebagai olesan. Hendro pun menikmati menu
sarapannya seraya menyimak berita korupsi di televisi.
Saat layar televisi tengah menayangkan iklan sabun mandi, maka dengan
penuh hati-hati, istrinya memulai percakapan. “Mas, kemarin Pak Dodo
datang kemari.”
Gerakan mulut Hendro pun sontak melambat. Nafsu makannya seketika lenyap.
“Ya, aku usahakan lunas pekan depan,” sahut Hendro.
“Mengapa tak kita jual saja cincin pernikahan kita? Harta berharga kita satu-satunya,” tanya istrinya.
“Jangan. Jangan pernah kau jual cincin pernikahan kita jika tidak
betul-betul mendesak. Uang lima juta rupiah masih bisa aku cari.”
“Baiklah,” istrinya lalu tersenyum, menampakkan dua buah lesung
pipinya. “Ya sudah, kau jangan sampai stres memikirkan hal ini ya.
Habiskan rotinya,” lanjut istrinya. Lalu dibelainya wajah Hendro dengan
lembut. Keduanya bersitatap. Saling melempar pesan yang entah apa dalam
diam, laksana telepati. Satu ciuman mendarat di bibir Hendro.
Sebelum keluar rumah, Hendro meraih anak satu-satunya yang masih
berusia delapan bulan dari ranjang di kamarnya. Dalam dekapannya, ia
mengecup pipi anak yang amat dicintainya itu. Bayi yang tampan dan
menggemaskan. Satu bulan lalu, anak itu baru saja menjalani operasi
kelainan jantung.
“Semoga kelak kau bisa jadi Jenderal,” bisik Hendro di telinga anaknya.
***
Lelaki berkaus hitam di seberang pos kian mendekat. Gofur meniliknya.
Sekonyong-konyong, tengkuknya merinding. Telapak tangannya dingin.
Perasaan apa ini? Begitu kata hatinya.
Hendro melempar pandangan ke arah trotoar. Ia tak sengaja melihat
seorang wanita renta yang rasa-rasanya tak asing bagi Hendro. Ya, Hendro
amat mengenali wajah itu.
“Ibu?” ucap Hendro lirih.
Waktu pun terasa begitu cepat berlalu. Semua menjadi kabur. Benar
kata Hendro, bisa saja usus Gofur terburai. Seperti saat itu, di jalanan
aspal siang itu. Sementara salah satu kaki Hendro terpisah dari
tubuhnya.
Asap hitam pekat membubung di udara. Api menjilat-jilat bangunan pos
polisi itu. Bunyi sirine menggema. Darah di mana-mana. Daging manusia
serupa daging sapi di pasar yang telah terpotong-potong. Berserakan.
Manusia berteriak dan berlarian. Tangis memecah langit. Semua mengutuk
siapa pun pelaku dan apa pun motif teror hari itu.
Keesokan harinya, pangkat mereka dinaikkan satu tingkat dari Brigadir
Polisi Satu menjadi Brigadir Polisi Anumerta. Gubernur menjanjikan
beasiswa pada anak Hendo agar kelak bisa jadi Jenderal. Siti menangis
tersengal-sengal.
Cerpen Sihar Ramses Simatupang (Media Indonesia, 16 Juli 2017) Surat dari Trowulan ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
KALAU kamu ternyata sudah pulang, Dik Ningsih, aku akan tetap
menemanimu. Percayalah. Anak-anak kini sudah besar. Sinta, anak
kita—yang engkau harapkan kesetiaannya bila dewasa kelak—telah tumbuh
jadi remaja yang cantik. Akan kau dapati keelokannya mewarisi dirimu.
Sungguh!
Lalu, kau tahu tentang anak kita yang kedua? Kunamai dia Janaka,
walaupun tanpa berunding dulu karena kau keburu ke Ibu Kota sebelum kita
sepakat memberi nama. Tapi aku berharap engkau suka nama Janaka. Maaf,
bila ternyata engkau tetap berkeras menamai putra kita itu dengan nama
lain, Arjuna.
Janaka pun tak apalah, ya. Nama Arjuna bagiku terlalu mentereng dan
rupawan. Sungguh, aku tak mengharapkan kerupawanan di wajah anak kita.
Justru yang kuharapkan dia dapat menjadi penjaga keluarga, seperti bakti
Janaka kepada Pandawa. Kau tentu ingat kesaktian panah pasopati
kesatria yang dikagumi itu.
Aku pun tak pernah tahu persis berapa usia anak kita itu, Ningsih.
Sama seperti tak tahunya aku berapa tepatnya usia Sinta. Yang kutahu,
Sinta kelahiran Selasa Legi, tahunnya sekitar 1990-an, sedangkan Janaka
dua atau tiga tahun setelahnya. Lahir dengan weton Kamis Pahing.
Ningsih, kau ingat pohon waru yang kita tanam di depan rumah? Yang
ketika kau pergi sudah sekitar setengah meter tingginya? Kini, pohon itu
sudah tinggi, lebat, dan rindang. Sangat gagah melindungi rumah kita
ini.
Aku pernah mendapati Janaka memanjat pohon itu hingga ke cabang
teratas. Anakmu, anakku itu, bahkan dengan berani bergelayut ke salah
satu rantingnya yang kuat. Nekat! Ningsih, tak sadarkah kamu, kalau
Janaka yang memanjat pohon itu telah dewasa dan kekar. Ditaklukkannya
pohon itu. Aku seperti ikut merayakan kemenangannya atas pohon itu.
Sekalipun aku agak waswas, kalau-kalau kakinya terpeleset dan jatuh.
Tapi jangan sangka aku tak menghormati pohon itu, Ningsih. Antara
Janaka dan pohon waru kuharapkan dapat menjadi sahabat yang melindungi
rumah ini, melindung Sinta.
Oh ya, di rumah kita yang dulu berdinding gedek, aku telah mengganti
dengan dinding semen. Aku membeli batu bata, pasir, semata-mata agar
anakku bangga pada rumahnya. Tempat tinggal kita, bahkan sekarang sudah
tak berlantaikan tanah lagi, Ningsih. Aku cor dengan semen. Hmmm, aku
jadi tersenyum sendiri waktu kau marah-marah, karena aku memungut ketela
goreng, yang terjatuh ke lantai tanah rumah kita. Lucu ya, Ningsih?
“Kamu jorok,” katamu ketika itu. Kau tak mau menegur aku dua hari,
sampai tak memperbolehkan aku tidur di dipan bersamamu selama tiga
malam. Aku jadi muring-muring enggak keruan—maklum ketika itu kita masih
muda, kan? Maka, pada malam keempat, kutubruk saja kamu. He he he,
akhirnya mau juga!
Lalu malam pun jadi hening ketika itu. Sinta masih berumur sekitar
tiga tahun, tidur pulas di kamar. Kita malah di ruang tamu, tidur berdua
di kursi panjang. Tak ada peristiwa cinta paling nikmat dan bahagia,
kecuali tidur berdua dengan istri, pilihan Gusti Allah. Di antara angin
malam, desir pohon jambu, cahaya bulan separuh yang menembus kisi
jendela kayu, aku memuja kecantikanmu.
“Saya mau ke Jakarta, Kang Parwo. Cari kerja,” itulah ucapan
pertamamu yang kuingat, sebelum beberapa minggu kemudian engkau
menghilang di rimba metropolitan. Malam sunyi. Angin tak mendesir, bulan
penuh di langit. Berdasarkan almanak Jawa, itu pertengahan bulan,
sekitar tanggal lima belas.
Padahal, kau tahu, anak kita yang kedua pun baru saja lahir, dia
masih bayi ketika kau diam-diam meninggalkan kami, entah di wilayah
Jakarta yang mana, sebab aku buta Kota Jakarta.
Kau ingat ketika aku menolak niatmu ke Jakarta, Ningsih? Bukan, bukan
aku tak ingin kita makmur dan mapan. Tapi aku yang lanang pun, tak
berani ke Surabaya, apalagi Jakarta. Kota itu menyeramkan, Ningsih.
Terutama buat perempuan. Kau tahu tetangga kita? Yang berpakaian dan
berdandan mewah setiap pulang kampung? Ya, aku cuma menebak. Aku yakin,
ada yang tak beres pada dirinya.
Juga ketiga temanmu itu: Arum, Puji, dan Laksmi. Ah, tak kau
perhatikankah bedak tebal, parfum norak baunya, melihat lelaki dengan
pandangan mata kenes dan memancing.
Ningsih, baru sekarang kuungkapkan sebuah rahasia. Dulu, ingin
kuutarakan, tapi kau lebih dulu menghilang. Jangan marah, ya. Aku sempat
dicium Puji. Aku mau dipeluk, cepat-cepat aku pergi dan menghindar.
Dasar perempuan gila dia! Masak tahu-tahu muncul di tempat mandi
laki-laki, dekat pancuran kampung kita itu? “Aku ngesir awakmu, Mas,”
ujarnya, saat mau menyentuh aku. Eladalah, Gusti, nyuwun pangapunten.
Kontan saja, aku ngibrit pakai handuk. Pergi dari tempat mandi yang
sudah jadi kayak tempat mesum itu!
Aku malah enggak sempet nyiram busa sabun di tubuhku dengan air. Nah,
itulah, Ningsih. Itulah sebabnya, aku melarang kamu ke Jakarta. Apalagi
yang ngajak mereka bertiga. Ngeri, membayangin mereka gimana di Jakarta
saja, aku ngeri. Menyesal aku tak cerita soal di tempat mandi itu! Tapi
kalau kupikir-pikir, waktu aku utarakan kecurigaanku tentang mereka
kepadamu saja, kamu tak percaya. Eh, tau-tau malah minggat. Pergi sama
mereka dan menghilang tanpa pernah kembali.
Pasti kau pun tak akan percaya ceritaku tentang hari yang mesum itu.
Pasti malah nuduh aku bajul. Itu yang aku khawatirkan! Tahu enggak kamu,
Ningsih. Aku pernah marahi mereka habis-habisan, waktu mereka pulang
kampung saat hari libur panjang itu. Masak mereka bilang kamu kerja jadi
cewek genit di Jakarta. Oalah, Gusti. Enggak mungkin, kan, Ningsih?
Enggak mungkin, kan? Masak perempuan punya dua anak, berusia dua puluh
lima tahun lebih, mau melakukan hal seperti itu? Masak kamu yang punya
rumah tangga dan punya cinta suci sama aku, mau kerja terhina seperti
itu? Mereka saja yang perempuan genit! Bukan kamu!
Muncul peristiwa nahas. Pada suatu malam. Arum datang memberi tahu
berita itu. “Kang Parwo, aku sing ngerti. Ningsih udah jadi perempuan
rusak di Jakarta. Lha wong aku lihat sendiri. Sampeyan jangan protes dan
marah dong. Aku lihat sendiri. Dia juga sudah hebat, Kang. Makan tidur
di hotel. Malah sudah jadi simpanan Mister Rony, bule Australia.
Beneran! Sumpah!”
Wuihhh, aku tetap enggak percaya. Aku malah jadi marah. Kepalaku
pusing. Semua jadi hitam. Aku ngamuk! Perutnya aku tendang. Ningsih,
jangan kecewa ya sama aku, karena aku tiba-tiba jadi keras dan ngamukan
begitu. Lha wong sudah mata gelap. Begitu kutendang perutnya, kupukul
kepalanya. Pakai tangan, Ningsih. Enggak pakai senjata apa-apa. Aku
pukul tubuhnya yang agak gendut itu bertubi-tubi. Aku juga heran, kok
aku bisa begitu sama perempuan. Baru setelah dia tak bergerak, aku sadar
dan jadi ketakutan.
Dia mati, Ningsih sayang. Dia mati! Sejak itu, akangmu ini dituding sebagai pembunuh!
Sejak kita menikah dulu, aku seorang petani, Ningsih. Bapakku petani.
Bapakmu juga, kan? Aku cukup bangga pada darah yang mengalir di tubuhku
ini. Nyatanya, aku bisa bahagia dengan sawah seluas 1.500 meter itu,
Ningsih. Dari luas 500 meter, aku perlahan memperlebarnya. Karena itu,
kamu tak perlu khawatir tentang anak-anak kita, Sinta dan Janaka. Sinta
sudah menikah dengan Marwoto, Ningsih. Oh ya, Marwoto itu anaknya
Poniman yang buka warung! Iya, anak pertama Poniman, bahkan sering kau
marahi karena buang ingus di depan gedek rumah kita itu! Ingat? He he
he. Siapa nyangka dia jadi suami Sinta akhirnya!
Penduduk di desa kita, walaupun mulanya benci sama yang aku lakukan,
mereka akhirnya bisa menerima anak-anakku. Namanya orang mata gelap.
Lagi pula, mungkin karena tingkah laku Arum sudah sejak dulu mereka
benci. Sombong, godain suami orang. Makanya mereka jadi tak peduli pada
perbuatanku yang nekat, bodoh, dan laknat itu.
Tapi, Janaka, hebat, Ningsih. Tapi juga berhasil menutup aib ayahnya.
Dia menikah dengan anak Kepala Desa Martimo. Salatnya Janaka rajin.
Iyalah, masak anak penjahat pasti jadi penjahat juga. Enggak, kan?
Oh ya, kerjanya Janaka juga petani. Sama seperti aku. Tapi, sawahnya
sudah lebih luas lagi. Aku sendiri enggak tahu persis berapa hektare
luas tanah dan kebun yang dia miliki. Mana boleh, aku keluar penjara
cuma untuk ngukur tanahnya?
Jadi, karena semua itulah, aku tenang, Ningsih. Aku sudah minta maaf
pada Gusti Allah. Sudah sering salat. Walau aku kini sakit di penjara.
Penyakit tua. Katanya sesak napas di tenggorokan, sama satu lagi,
penyakit paru-paru basah. Tapi kok efeknya sampai enggak bisa bangun
lagi ya?
Ningsih, aku dulu tak pernah bikin surat, kan? Kamu tahu itu. Apalagi
di penjara. Andai pun ada kertas, buat apa aku menulis? Buat siapa?
Janaka dan Sinta saja sudah sering menengok aku. Apa lagi yang kurang?
Menulis itu, bagiku, cuma buat orang yang terlalu menderita. Atau juga
buat orang yang hidupnya selalu mapan dan bahagia.
Jadi, kalau aku sekarang sempat menulis setelah aku ditempatkan di
rumah sakit, ya karena itu keinginan Janaka. Katanya itu harus
dilakukan, agar aku bisa bahagia, setelah menulis surat buat dirimu.
Dia itu pintar lho, Ningsih. Cerdas, sekalipun sekolahnya cuma tamat
SMP. Itu lebih baik daripada kita yang sama-sama tak pernah makan bangku
sekolah.
Maka, aku tulislah surat ini. Walau aku tak berharap engkau akan
membacanya kelak. Kau pasti sudah tua juga sekarang. Entah sudah wafat,
ataukah masih hidup. Dalam keadaan bahagia, atau pun tersiksa. Entahlah.
Anggap saja ini cuma kegiatan membatin. Membatin pada dirimu, yang kini
tak tahu ada di mana.
Begitu dulu ya, Ningsih. Semoga Gusti Allah memaafkan kita. Di dunia, ataupun di akhirat kelak. Semoga.
Dari suamimu yang merindukanmu:
Parwo….