Daftar Blog Saya

Senin, 17 Juli 2017

Kasandra


Cerpen Dinar Rahayu (Koran Tempo, 15-16 Juli 2017)
Kasandra ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.png
Kasandra ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Cerita ini sudah sering diungkapkan. Homeros barangkali termasuk yang pertama mengisahkannya walau ia hanya menyebut dua kali dalam kitab tentang peperangan itu. Untuk seterusnya buih ludah dan anggur dan berbagai kepentingan si pencerita akhirnya membuat cerita beranak cucu.
Ini adalah salah satu versi, yang penuh kepentingan si penulis.
Perlu diketahui bahwa semesta tidaklah tunggal melainkan seperti serbuk sari ditiup angin-berasal dari tempat yang sama dan bertualang sendiri-sendiri sesuai dengan nasibnya.
Ini cerita tentang sesudah perang itu, ketika seorang perempuan dibawa ke tanah jauh sebagai seorang budak. Seorang perempuan yang disangka gila karena pada dirinya karunia berubah menjadi kutuk: ia dapat meramalkan masa depan secara tepat tapi tak seorangpun mempercayai ramalan itu. Apalagi yang lebih tepat istilahnya selain: gila.
O, adakah nasib yang lebih buruk dari itu? Tentu ada, yaitu menceritakan kisah tersebut dan tak seorangpun mau mendengarkannya. Karena itu pula aku duduk di sini bercerita padamu tentang kisah ini.

Tanpa melihat ke luar jendela, Priam tahu bahwa Troya sedang terbakar dan hidupnya tinggal sejenak lagi. Ia menengok ke arah pojokan kamarnya yang remang. Tertutup selubung kain, sesosok tubuh berdiri mematung. Lengan dan kakinya terlihat. Sebab, selubung itu tidak menutup sempurna sehingga menunjukkan kulit yang halus, tapi tak sepenuhnya kulit manusia. Terlalu mulus.
Priam, Raja Troya, melepaskan kalung yang melingkari lehernya, kemudian melepaskan liontin dari kalung itu. Ia menggenggam erat liontin sambil mendekati sosok di pojokan dan menarik selubung yang membungkus sosok tersebut. Selubung kain melorot perlahan menyapu seluruh permukaan sosok tersebut sebelum bertumpuk di bawah.
Sosok itu berbentuk perempuan yang dipahat sesuai imaji ideal bentuk tubuh perempuan. Priam mendekati, meraba sosok tersebut dan menekan bagian pusarnya. Terdengar bunyi desir halus, sebuah kotak pipih menonjol. Rupanya pusar sosok tersebut semacam tombol yang merupakan bagian dari kotak.
Priam membuka liontinnya. Di dalamnya ada sebuah batu berbentuk prisma. Tanpa memegang, ia menjatuhkan batu itu ke bagian dalam kotak yang berupa pasangan bentuk batu prisma dan ia mendorong kembali pusar perempuan itu sampai ke tempatnya semula. Tak lama kemudian terdengar bunyi mendesing halus. Tangan Priam yang masih meraba bagian pusar perempuan tersebut perlahan merasakan sosok tersebut menghangat. Tidak lagi sedingin patung-patung pualam penghias kebun dan ruangan-ruangan di istananya.
Sejurus terdengar suara jeritan dan dobrakan logam beradu di ruangan bawah. Priam memperhatikan dada sosok di depannya turun naik mengembang dan mengempis. Sosok itu bernapas dan tubuhnya sehangat tubuh manusia.
Bukanlah kehidupan sesungguhnya yang ia berikan, melainkan sekadar tampak hidup. Napas. Kehangatan tubuh. Sedikit tenaga yang berasal dari batu di dalam liontinnya. Batu Vulkan, demikian orang menamai batu tersebut.
Batuan tersebut menghasilkan panas dan tenaga, tetapi sudah banyak yang mati karena menambangnya. Juga karena menggenggamnya. Tapi Priam tahu tidak semua tenaga dari batu yang terpancarkan menembus semua bahan. Bila menabrak suatu logam lain maka tenaga batu itu hilang. Sejenis logam kelabu yang berat dan kusam. Timbal namanya. Priam membungkus Batu Vulkan itu dalam kotak liontin yang terbentuk dari timbal.
“Kasandra,” bisik Priam ketika kedua mata sosok itu terbuka.
“Kasandra,” sosok tersebut mengulangi apa yang dikatakan Priam. Suaranya menggerodak campuran suara mesin yang asing. “Kasandra,” ia mengulangi. Kali ini suaranya lebih halus.
Sejenak keduanya terdiam. Priam bisa mendengar dengus napas Kasandra yang sedikit lebih keras daripada manusia pada umumnya. Napas yang berasal dari putaran roda-roda mesin dan gerakan tuas di dalam tubuhnya. Seperti napas orang yang sedang sakit tenggorokan, tapi tidak terlalu mengganggu.
Priam memegang dada Kasandra yang turun-naik. Halus dan seperti gerakan dada manusia yang bernapas. Kasandra ciptaannya, jika ciptaan adalah menyusun dan merangkai. Di kamarnya perkamen-perkamen berisikan rancangan mesin-mesin dan berbagai perhitungan bertebaran. Bejana yang saling berhubungan, wadah gelas bertumpuk-tumpuk. Cairan tampak menggelegak di satu bejana dan menetes-netes di bejana lain.
Priam mengambil perkamen-perkamen dan segala catatannya dan melemparkan ke tungku pemanas. Terdengar bunyi berkeletak dan perkamen yang menciut, menguning, dan kemudian terbakar dalam api.
Ia mematikan api di bawah bejana tembaga dan kaca membuat cairan yang terkumpul berhenti menetes. Ia kemudian mengambil pedangnya dan menyabet wadah kaca, membentur bejana tembaga dan menumpahkan isinya. Serpihan kaca berterbangan. Bunyi bejana tembaga mengenai pualam mendentam berat.
“Kasandra, kau tahu apa yang harus kau lakukan?” tanya Priam.
“Ya, Tuanku,” jawab Kasandra. Makhluk itu—jika bisa dikatakan bahwa susunan mesin dan selaput pembungkusnya itu adalah makhluk ciptaan Priam—turun dari tempatnya. Ia melangkah dengan gemulai.
“Kini kau keluarlah, sambut mereka,” kata Priam sambil melemparkan sebatang kayu dari tungku ke tirai. Api segera melahap tirai itu dengan rakus.
Priam, raja tua itu, mati bunuh diri dengan cara membakar dirinya sendiri, demikianlah cerita bergulir. Sebenarnya ia sudah mati sejak dulu ketika dari balik jendela ia harus melihat anaknya mati di medan perang. Jiwanya sudah mati duluan dan kini tubuhnya ikut mati karena tak punya lagi tujuan hidup.
Di dunia lain, makhluk seperti Kasandra dinamakan robot dengan kecerdasan buatan, tetapi makhluk jadi-jadian ini dengan jasad terdiri dari logam, karet, dan minyak mesin ini tak memiliki nama kecuali nama pemberian tuanya—itu pun bukan benar-benar namanya melainkan nama anak perempuan Priam yang sudah lama mati.
Kasandra, begitulah ia dikenal, bergerak seperti manusia tetapi tidak terlalu cerdas. Para pemenang perang yang menemukan Kasandra berdiri di depan pintu kamar Priam yang terbakar.
“Namaku Kasandra, aku anak perempuan Priam,” begitu sosok itu mengenalkan diri kepada Para Pemenang Perang. Tak ayal mereka menyeret Kasandra ke kapal mereka.
Di atas kapal mereka sadar anak perempuan ini tidaklah terlalu cemerlang, tetapi kemudian mafhum barangkali dulu kala permaisuri sedang ingin iseng dengan tukang kebun di taman dan Priam sedang pergi entah ke mana. Akibat perselingkuhan ini maka keturunannya pun tidaklah sempurna. Tetapi setidaknya budak Troya ini cantik, begitulah pikiran Para Pemenang Perang.
Setidaknya, walaupun berbicara aneh, bernapas seperti sedang berusaha menelan kulit kerang, sebagai budak Kasandra dapat menyajikan anggur. Semenjak di kapal pun, Sang Raja Pemenang sebagai kapten kapal dan awaknya suka membawa Kasandra ke pojok yang gelap.
Mereka tertawa-tawa dan mengatakan bahwa perempuan Troya itu bersuara dan bertingkah aneh, tetapi tidak mengapa. Tidak sepenuhnya manusia dan mereka menganggap itulah hasil perkosaan dewa atas manusia. Atau Priam sedang tidak berkonsentrasi ketika meniduri permaisurinya. Atau barangkali anak Priam dengan dayang-dayang atau dengan perempuan udik yang kurang waras. Mereka tertawa-tawa…

Di dunia ini nama penyakit tersebut adalah sifilis, tetapi di dunia itu mereka menyebutnya sebagai kutukan Dewa Tanah Jauh. Seperti wabah, penyakit itu hampir menghabiskan separuh penduduk kerajaan pemenang. Penyakit itu dibawa oleh budak bodoh dari Troya yang kini menghilang.
Walau sudah banyak persembahan di altar, penyakit itu tak kunjung habis. Sampai pada suatu malam sang permaisuri Raja Pemenang yang cerdas, atau barangkali mendengar suara Dewi Kesembuhan, mengambil obor dan membunuh semua laki-laki dan perempuan yang terkena penyakit itu, lalu membakarnya. Ia yang juga terkena kemudian mencemplungkan dirinya ke api unggun raksasa itu.
Orang-orang bilang sang permaisuri dirasuki setan atau mendengarkan bisikan dewa palsu dan malu sendiri. Ada juga yang bilang permaisuri Raja Pemenang membakar suami dan seluruh orang di istana dibantu oleh selingkuhannya dan para tentara. Mereka disuap dan dijanjikan emas permata hasil jarahan Tanah Jauh jika mau membantu melakukan kudeta. Namun kemudian si selingkuhan malah memperdaya Sri Ratu dengan melemparkannya ke dalam api dan ia lari dengan para tentara dan harta kerajaan.
Seperti wabah, gunjing berkembang biak dengan cepat. Merambat di udara dan berpecah seperti serbuk sari ditiup angin. Masing-masing dengan cerita sendiri-sendiri. Dan orang-orang pun melupakan budak bodoh yang dibawa dari Tanah Jauh. Yang kabur menghilang membawa penyakit itu.
Tetapi di dalam gua dekat hutan, tak jauh dari Kerajaan Para Pemenang, di dalam ceruk yang gelap, ia tinggal di sana. Dalam kegelapan dan dingin. Denyut napasnya berkurang, hangat tubuhnya berkurang, tetapi ia masih hidup. Berada dalam keadaan tidur panjang tanpa mimpi untuk seribu tahun ke depan, dengan botol-botol kecil di dalam dirinya berisikan wabah-wabah yang diciptakan Priam. Orang mengenalnya dengan sampar, sifilis, gonorea, ebola, zika, hanta.
Berbeda dengan Pandora yang juga membawa sepercik harapan dalam kotaknya, maka makhluk ini hanya membawa pesan dari tuannya.

Dinar Rahayu lahir di Bandung 9 Oktober 1971. Kumpulan cerpennya berjudul Lacrimosa (2009). Ia juga menulis novel bertajuk Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (2002).

Sindikat Pemalsu Kenangan


Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 02 Juli 2017)
Sindikat Pemalsu Kenangan ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Sindikat Pemalsu Kenangan ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
ADA yang diam-diam mencuri kenanganku, dan memberikannya pada orang lain.
Semula kusangka hanya kesalahpahaman karena pelayan kafe lupa mencatat, hingga meja yang kupesan sudah ada yang menempati. Penjelasan pelayan itu tak banyak membantu, dan membuatku semakin sebal, sementara perempuan itu bersi keras bahwa ia juga sudah jauh hari reservasi.
“Aku hanya ingin sejenak menikmati kenangan di meja ini. Semoga kau tak keberatan.”
Wajahnya yang murung seolah mengharapkan agar semua orang memahami kesedihannya. Caranya menatap membuat aku menjadi tak ingin mendebatnya. Mengenakan gaun hitam seperti orang yang sedang berduka, sepasang alisnya yang tebal terlihat seperti sayap burung yang murung. Rambut ikal panjangnya dibiarkan luruh menyentuh bahunya yang seakan tak lagi kuat menahan kesedihan yang ingin dilupakan. Kesedihan memang membuat kita ingin selalu dipahami.
Aku menerka, usianya mungkin lebih muda beberapa tahun dariku, tetapi tubuhnya yang lebih kurus membuatnya terlihat lebih tua. Ah, kesedihan memang tak mengenal usia.
“Aku hanya ingin menikmati kenangan.” Ia menatapku. “Duduklah, bila kau mau. Mungkin kita bisa berbincang. Lagi pula, meja ini cukup untuk kita berdua.”
Kemudian dengan suara pelan perempuan itu menceritakan perasaan kehilangan dan kerinduannya. “Kau tahu, hanya dengan kenangan kita bisa menikmati kembali kebahagiaan yang telah hilang. Karena itulah kita perlu merayakan kenangan. Lima tahun lalu lelaki yang kucintai melamarku di meja ini.” Ia memperlihatkan cincin di jarinya.
Saat itulah aku merasa ada yang aneh dan membuatnya curiga. Mendengar perempuan itu menceritakan kenangannya, aku seperti melihat kenanganku sendiri. Kenangan itu muncul kembali dihantar lagu lembut—lagu yang kudengar lima tahun lalu ketika Bram memberikan cincin melamarku. Juga pemandangan di jendela itu, langit sore yang bersih dibasuh hujan, hamparan pohon pinus basah dengan sungai kecil membelah lembah, segalanya tak berubah. Kenangan membuat segalanya abadi.
Perempuan itu memejamkan mata menikmati semua romansa yang diceritakannya, dan aku merasa berada dalam kenangan yang sama. Tapi, mungkinkah ada orang lain yang memiliki kenangan yang sama persis dengan kenangan kita? Tanpa sadar aku menyembunyikan tangan ke balik tas baguette di pangkuanku, ketika yakin cincin di jari perempuan itu sama persis dengan cincin yang kukenakan. Bisa saja orang memiliki cincin yang sama. Tapi bagaimana mungkin ia bisa memiliki kenangan yang sama persis dengan kenanganku? Bisa saja orang memiliki kenangan yang sama, tetapi tak mungkin hidup dalam kenangan yang sama! Aku mencoba menyembunyikan kegugupanku.
“Maaf, kalau boleh tahu, siapa nama suamimu?”
“Bram.”
Lalu ia menceritakan tentang suami yang begitu ia cintai itu. Suaminya meninggal ketika perkawinan mereka baru saja melewati tahun ketiga. Pagi itu dia mengeluh dadanya sesak, sempat minum segelas air putih, dan tiba-tiba jatuh bersandar ke dinding dan meninggal dalam pelukan perempuan itu ketika menuju rumah sakit.
“Kepalanya bersandar ke bahuku yang menyetir mobil sambil menangis,” katanya, sembari sekilas melirik. “Aku yakin, kau datang ke sini juga ingin menikmati kenanganmu, bukan? Kita selalu ingin menikmati kenangan, karena kita sebenarnya tak pernah siap menghadapi kehilangan. Kau bisa menceritakan kenanganmu, bila tak keberatan.”
Ini benar-benar gila! Kenapa semua begitu sama? Aku memandang keluar jendela, ke arah yang juga tengah diperhatikan perempuan itu. Rasanya, dibanding menghadapi kehilangan, kita lebih tak siap menghadapi pengkhianatan.
***
Vika tersenyum ketika aku menceritakan peristiwa itu.
“Barangkali selama ini kau memang keliru, Ren,” katanya.
Terus terang, sebenarnya yang kubutuhkan sedikit penghiburan, bukan pernyataan terus terang. Aku tak pernah sekali pun membayangkan Bram menyembunyikan perselingkuhan. Selama ini aku percaya, cinta bisa bertahan bukan hanya dengan perasaan, tetapi juga kesetiaan.
“Bagaimana kalau yang diceritakan perempuan itu adalah Bram yang lain? Banyak sekali laki-laki yang bernama Bram.”
“Semua yang diceritakan tentang suaminya, wajahnya, kegemaran dan kebiasaan-kebiasaan kecilnya, juga caranya bicara, sama persis dengan Bram suamiku. Bahkan caranya mengenang Bram persis seperti aku mengenang semua kebahagiaanku bersama Bram.”
“Lalu, kamu menduga, selama ini sebenarnya Bram menjalin hubungan dengan perempuan yang tak sengaja kau temui itu?”
“Mungkin selama ini aku terlalu memercayai Bram.”
“Itulah kekeliruan terbesarmu.” Vika tajam menatapku.
“Kamu bisa menganggap perselingkuhan adalah musuh terbesar perkawinan. Tapi percayalah, seperti banyak dibuktikan dalam sejarah, bagi kebanyakan lelaki perselingkuhan hanyalah sedikit kesenangan bagi mereka. Dan Tuhan tidak akan menyalahkan lelaki yang memberikan sedikit kesenangan untuk dirinya sendiri seperti itu.”
“Preeett!!”
“Itu pun aku hanya mengutip omongan seorang lelaki.” Vika tertawa.
“Kau harus bisa belajar menerima kenyataan, Ren. Kenangan hanyalah cermin dari kesepianmu.”
Ya, bila kenangan serupa cermin, pastilah ia cermin yang bisa menipu. Kenangan bisa saja menipu.
“Begini, bila kau memang penasaran, kenapa tak kau cari tahu saja kebenarannya? Siapa perempuan itu? Sejak kapan ia mengenal Bram, dan seterusnya…”
“Untuk apa?”
Mungkin selama ini aku memang keliru menganggap saat-saat bersama Bram adalah hal paling membahagiakan dalam hidup. Pada kenyataannya, kebahagiaan memang disediakan hanya untuk sedikit orang yang beruntung.
“Oke, kalau kau tak mau, biar aku yang mencari tahu.”
Aku hanya diam. Kupikir kebenaran tak bisa menyembuhkan perasaan sakit karena dikhianati.
***
Aku sebenarnya sudah tak tertalu memedulikan, ketika dua bulan kemudian Vika memberi tahu hal yang sama sekali tak pernah kuduga. Tak terlalu sulit Vika mengorek nomor telepon perempuan itu dari pelayan kafe, kemudian beberapa kali menghubungi dengan berpura-pura salah sambung, lalu pelan-pelan mulai mendekati hingga mendatangi langsung dengan alasan mendengar kalau rumah perempuan itu mau dijual.
“Dia sama sekali tak mengenal Bram!” Vika meneleponku.
“Suaminya pekerja tambang, mati karena ledakan gas. Tubuhnya melepuh dan gosong hingga ia tak berani melihatnya. Ia ingin mengenang suaminya tidak dengan bayangan yang mengerikan seperti itu. Lalu seseorang datang memberinya kenangan…”
“Maksudmu?”
“Sepertinya ada yang meng-copy kenanganmu, kemudian memberikannya pada perempuan itu.”
Vika seperti sengaja mengambil jeda. Aku bisa membayangkan, pastilah dia menyadari kebingunganku. Lalu suaranya kembali muncul di telepon genggamku.
“Aku juga tak percaya ketika ia menceritakan ini semua. Ia mendapatkan kenanganmu dari seseorang yang katanya kasihan karena melihatnya begitu menderita. Ia akhirnya membiasakan diri dengan kenangan itu—yang tak lain adalah kenanganmu—karena bisa membuatnya merasa bahagia. Kenangan itu baginya seperti obat penenang.”
Vika memintaku untuk bertemu di kafe di mana aku berjumpa dengan perempuan itu. “Semua cerita perempuan itu membuatku penasaran,” katanya. “Kupikir ia membutuhkan kenanganmu agar bisa berbahagia, Ren.”
Aku membayangkan orang-orang yang hidupnya sedih, begitu sedih, teramat sedih, hingga mereka menganggap tak ada kesedihan yang begitu menyedihkan selain kesedihan yang terus-menerus mereka rasakan, kemudian perlahan-lahan mulai memercayai, betapa satu-satunya cara untuk membebaskan diri dari kesedihan itu ialah dengan memiliki kenangan yang membahagiakan.
Sementara perasaanku telah berbeda saat duduk menatap langit yang basah dengan lanskap hutan pinus, dua cangkir kopi di meja, Vika justru begitu antusias memperhatikan ruangan kafe; mencermati foto-foto lama, lukisan abstrak, meraba kayu meja, seakan ingin meyakinkan bahwa semua yang dilihatnya bukanlah sekadar kenangan. Ia seperti detektif penasaran dengan kasus yang membingungkannya.
“Setidaknya kau bisa sedikit tenang, karena Bram tak pernah berselingkuh dengan perempuan itu. Bram setia denganmu.” Vika menelan ludah, aku menatapnya lama. “Maksudku, kau mestinya harus bersimpati pada apa yang dialami perempuan itu, Ren.”
“Kenapa?”
“Ia hanya ingin menghapus kenangan buruk dalam hidupnya. Tak ada yang lebih mengerikan dari kenangan buruk. Karena kenangan buruk akan menjadi hantu yang selalu mencemaskanmu. Begitu pun dengan perempuan itu. Makanya ia ingin memiliki kenangan yang indah. Bagaimanapun kita semua ingin kenangan yang menyenangkan, bukan?!”
Barangkali Vika benar, kita memang butuh kenangan yang menyenangkan untuk sekadar bisa merasa bahagia.
***
Karena penasaran, ditenami Vika, aku menemui perempuan itu. Mendengarnya bercerita membuatku bisa memahami kenapa seseorang memilih hidup dalam kenangan palsu seperti itu.
“Kupikir ia tukang foto keliling, karena ia menjinjing kotak hitam yang mirip kamera,” kata perempuan itu.
“Ia bilang bisa menghapus kenangan burukku, dan menggantinya dengan kenangan yang indah. Semula aku tak percaya, tetapi orang dengan jubah kelabu itu meyakinkan bahwa ia juga telah melakukan hal serupa pada banyak orang yang membutuhkan kenangan. Ia menyuruhku memejam, bernapas tenang, dan segalanya perlahan menjadi begitu hening. Rasanya seperti sebuah papan tulis yang pelan-pelan dihapus. Mula-mula terasa kelabu, kemudian menjadi bersih dan terang. Ketika membuka mata, tak lagi kulihat hal-hal buruk itu. Aku masih takjub dengan kenangan baru yang kumiliki, ketika kulihat orang itu berjalan menjauh, menghilang di ujung gang dengan bayangan yang terasa seperti gema panjang.’’
Semua itu mungkin hanya omong kosong agar tak terlalu merasa bersalah, karena aku mendatanginya seperti orang yang ingin menggambil kembali barang yang telah dicurinya.
“Pasti kau meragukan ceritaku.” Perempuan itu memandang dengan tatapan agar aku mau memahaminya. “Tapi aku tak sendiri. Aku kenal seorang ibu yang anaknya diculik, dan sampai kini mayatnya tak pernah ditemukan. Kabarnya, anaknya yang aktivis itu mati mengenaskan karena berhari-hari dibaringkan telanjang di atas balok es. Kau pasti bisa merasakan betapa menderitanya hidup dengan ingatan seperti itu. Ibu itu ingin mengenang anaknya dengan cara yang membahagiakan. Lalu orang berjubah kelabu itu muncul, memberinya kenangan seorang anak berwajah ceria yang selalu datang setiap sore ke rumahnya. Sampai saat ini ibu itu hidup dengan kenangan seperti itu. Merasa bahagia melihat anaknya pulang dalam kenangannya. Aku bisa menceritakan yang lainnya, bila kalian mau.”
Aku dan Vika hanya saling pandang. Perempuan itu menyebut perkumpulan orang-orang yang hidup dengan kenangan yang telah dipalsukan seperti dirinya. “Pada waktu-waktu tertentu kami bertemu, sekadar untuk saling meyakinkan betapa kami tetap bisa merasa bahagia meski hidup dengan kenangan palsu.”
Ia kemudian menyebut seorang ibu yang anak gadisnya diperkosa ramai-ramai di depan matanya. “Bisa kau bayangkan, betapa tersiksanya setiap kali mengingat kejadian itu. Wajah dingin para pemerkosa itu tak bisa dilupakan dan membuatnya selalu dihantui kecemasan sewaktu-waktu mereka akan muncul kembali. Lalu, bisakah kamu hidup dengan ingatan darah yang menggenangi lantai dari leher anakmu yang digorok oleh perampok? Aku juga mengenal seorang ibu yang nyaris gila, umurnya sudah 70 tahun, tetapi ia tak bisa melupakan kejadian mengerikan ketika suaminya diciduk tentara karena dianggap terlibat gerakan yang ingin menggulingkan negara.”
Perempuan itu terisak. Aku bisa memahami apa yang di rasakannya, karena aku pun pasti tak ingin hidup dengan setumpuk kenangan buruk. Begitu banyak yang ingin menghapus kenangan buruk seperti itu atau menggantinya dengan kenangan yang membahagiakan. Tuhan menciptakan kenangan, tetapi tak pernah memberi tahu kita bagaimana cara menghapusnya. Lalu pemalsu kenangan itu muncul seperti malaikat penolong: menawari kenangan yang membahagiakan.
Mengingat begitu banyak orang yang membutuhkan kenangan membahagiakan dalam hidupnya, pastilah pemalsu kenangan itu tak sendirian. Mungkin mereka adalah gerombolan, atau sindikat pemalsu kenangan, yang berjalan keliling mendatangi siapa pun yang ingin mengganti kenangan buruk dalam hidupnya. Istri yang bertahun-tahun hidup disiksa suaminya yang pemarah, seorang anak yang tak bisa melupakan ayahnya yang mati disiksa dalam penjara hanya karena mencuri sebatang kayu jati, seorang ibu yang menyaksikan bayinya mati kelaparan dalam pelukannya, atau kekasih yang ingin merasakan kembali ciuman kekasihnya yang hilang ketika terjadi kerusuhan.
Para pemalsu kenangan itu mungkin sudah ada sejak dahulu kala. Mereka seperti serombongan penjaja keliling yang mendatangi rumah-rumah, mendatangi orang-orang yang hidup dengan kesedihan yang tak tertanggungkan. Selama ini kita tak pernah menyadari keberadaan sindikat pemalsu kenangan itu karena mereka terorganisir rapi, nyaris tak akan terkenali, seperti persaudaraan Illuminati yang ingin menghapus semua kenangan buruk manusia, dan hanya mendatangi orang-orang yang membutuhkan.
Mungkin suatu hari mereka pernah melintas di depan rumahmu, ketika kau merasa sedih, dan ia tersenyum kepadamu sebelum akhirnya menghilang begitu saja. Mungkin ia pernah menyaru sebagai seseorang yang duduk di sampingmu ketika suatu senja kau menikmati kopi di sebuah kedai yang sepi. Entah bagaimana cara mereka bekerja memalsukan kenangan. Mungkin mereka menyadap atau menyalin kenangan, diam-diam merekam kenanganmu ketika kau tertidur, kemudian meng-copy-nya untuk diberikan pada orang lain yang membutuhkan.
Aku membayangkan sindikat pemalsu kenangan itu, yang setiap saat terus berkeliling menjajakan kenangan, tak peduli hujan badai atau kemarau panjang, dalam situasi apa pun, tak pernah lelah membagikan kenangan. Dunia yang penuh penderitaan ini memang membutuhkan mereka. Barangkali mereka datang dari Negeri Kenangan. Barangkali juga di dunia ini ada mesin raksasa yang diam-diam merekam semua kenangan manusia.
***
KUPIKIR, beruntunglah mereka yang bisa bertemu dengan pemalsu kenangan. Setidaknya mereka punya kesempatan untuk mengganti kenangan buruknya dengan kenangan yang lebih menyenangkan. Kupikir, hidup dengan kenangan palsu setidaknya lebih menyenangkan daripada terus-menerus disiksa kenangan buruk. Bila dikalkukasi, jumlah kenangan buruk di dunia ini pastilah jauh lebih banyak daripada jumlah kematian. Orang hanya mati sekali, tapi bisa memiliki kenangan buruk berkali-kali. Semakin banyak orang yang hidupnya tak bahagia, akan semakin banyak yang membutuhkan kenangan. Sungguh, dunia ini membutuhkan banyak kenangan yang membahagiakan. Bagaimanapun kita ingin bahagia, bukan? Dan kebahagiaan, serapuh apa pun, tetap menyenangkan dalam kenangan.
Betapa ingin aku bertemu dengan salah satu dari sindikat pemalsu kenangan itu. Kuharap suatu hari ada pemalsu kenangan mengetuk pintu rumah, atau menyapaku ketika aku sendirian di kedai kopi dan ia menawariku botol-botol kecil berisi kenangan yang bisa kupilih sendiri.
Ya, andai kita bisa memilih kenangan kita sendiri. Aku memang telah cukup bahagia dengan banyaknya kenangan indah yang kumiliki bersama Bram. Bila Vika berkunjung ke rumahku, setelah kematian Bram, aku akan memperlihatkan hadiah-hadiah yang pernah diberikan Bram untukku: jam tangan keemasan untuk ulang tahunku yang ke-32, lukisan bunga matahari dari bulu yang dibeli saat bulan madu, patung kuda dari porselin, dan pernak-pernik yang tersimpan rapi dalam buffet kaca; atau menceritakan bagaimana Bram selalu melimpahiku dengan perhatian dan ciuman-ciuman kecil yang membahagiakan, membangunkanku setiap pagi dengan usapan lembut, atau menanggapi obrolan yang paling tak penting sekali pun dengan senyum sabar.
Aku punya banyak kenangan yang membahagiakan dengan Bram, yang tak pernah bosan aku ceritakan pada Vika. Yang tak pernah kuungkapkan adalah perasaan sedih setiap kali mengenang itu semua. Selalu ada kesedihan yang tersembunyi dalam kenangan. Selalu ada yang tak bisa diceritakan di balik kebahagiaan. Aku berharap suatu hari ada sindikat pemalsu kenangan yang menemuiku.
Setiap orang memang punya kenangan sedih yang ingin disembunyikan. Betapa aku ingin menghapus dan mengganti kenangan buruk yang tak pernah berani aku ceritakan pada Vika, yang membuatku selalu harus pura-pura bahagia dengan perkawinanku karena juga tak ingin membuat Vika bersedih. Bagaimana pun ia sahabat terbaik yang kumiliki. Tak pernah aku punya keberanian menceritakan ini pada Vika, betapa suatu malam aku memergoki Bram seranjang dengan seorang lelaki.
Dan, lelaki itu suami Vika.

Bali, 2017
AGUS NOOR, kelahiran Tegal, 26 Juni 1968. Buku yang sedang dia siapkan, Barista tanpa Nama. Dia juga menyiapkan banyak pertunjukan tahun ini. Yang terdekat adalah Pesta Para Pencuri bersama Indonesia Kita.

Kelelawar Malam


Cerpen Bernando J. Sujibto (Jawa Pos, 09 Juli 2017)
Kelelawar Malam ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Kelelawar Malam ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
AKU terus memegang kedua telapak tangannya dengan erat, menatap lekat matanya yang berpijar, lalu memeluknya dengan hangat. Dua senjata api M4A1 dengan kantung peluru yang melingkar di tubuh kami, empat bom Molotov, dan dua pistol di selempang saku menjadi saksi bagi gelora yang berdebar di jiwa kami. Aku sangat mencintainya, dia pun tahu itu. Dari matanya, ketulusan itu kutangkap begitu dalam.
“Muaz, kamu harus kembali.”
Kalimat itu selalu terucapkan menjelang kita berpisah untuk tugas masing-masing. Di tengah tugas gerilya wajahnya selalu hadir setiap kali kutarik pelatuk senjata api dan lalu diikuti oleh rentetan tembakan balasan dari arah-arah yang sulit kutebak. Saat begitu, yang paling dekat dalam hidupku, selain senyum seorang ibu yang sudah berpulang dua tahun silam, adalah wajah perempuan bermata ela gözlü itu.
Setiap kali mendengar kalimat itu, aku membalasnya dengan senyum dan dua jari yang kuangkat ke atas, sembari meriakkan “her biji Kurdistan!”
Dia membalas dengan isyarat yang sama. Lalu diimbuhi senyum. Ya, senyum tulus yang selalu membuatku merasa ada di tengah-tengah perjuangan keras seperti ini.
Kali ini, di dalam bungker yang kami buat tepat di pintu keluar Kota _ırnak, untuk kali pertama kami berada dalam satu titik pertempuran. Serangkaian serangan sengit semalam telah membuat kami harus menyelamatkan diri ke tempat-tempat persembunyian di tengah kota. Kami tahu kapan harus bersembunyi dan kapan harus keluar bagai singa kelaparan dan menembak habis pasukan tentara Turki. Eyyup, Gizem, Murat, dan anggota lainnya dari pasukan kami juga telah menyelamatkan diri masing-masing. Dan aku—entah bagaimana takdir merencanakannya—bisa berdua dengan perempuan yang sudah lima tahun lebih kukenal ini. Selama itu, kebersamaan menyemaikan rasa cinta yang dalam. Cinta kami tumbuh subur di dalam gua di pegunungan tandus di kamp pelatihan perang.
Anda mungkin mengenali kami sebagai kelompok pemberontak Turki, atau apa pun istilahnya yang biasa diberitakan oleh media. Aku, lebih tepatnya kami, tidak pernah memedulikannya. Kami mempunyai cinta yang sama kepada tanah kelahiran yang harus dibela. Entah menurut Anda, tentu semuanya berbeda memaknai cinta kepadanya. Yang kami tahu makna cinta adalah cara bertaruh nyawa dan darah. Tanpa darah, cinta kepada tanah kelahiran adalah cerita fiksi. Cinta kami demi menyongsong keadilan, kebebasan, kemerdekaan, dan mengakhiri monopoli kelompok-kelompok persetan yang terus menginjak dan menggencet kami, rakyat jelata yang lahir di luar kelompok mereka. Di tanah ini cita-cita kemerdekaan tanpa penindasan akan segera terbit bersinar bersama matahari yang tak pernah ingkar seperti bendara kami.
Hari ini cinta itu bersatu di dada kami, hati dua pecinta yang berada dalam satu nasib dan pertaruhan. Aku menatap wajahnya yang tegas dan pemberani. Tak ada tanda menyerah atau keragu-raguan di sana. Dia sudah mengabdi menjadi martir lebih dari lima tahun untuk tanah Kurdistan.
Aku mengenal perempuan di depanku ini sebagai kelelawar pembunuh, karena kemampuannya melumpuhkan tentara Turki di malam hari. Sudah tak terhitung berapa tentara yang meregang nyawa di tangannya. Setiap kali pulang dari gerilya, dia tersenyum puas, “Lima biji zaitun sudah runtuh,” ujarnya. Kami paham, itu kode bahwa tangannya telah mengantarkan takdir kematian kepada lima tentara Turki.
Setiap kali mengingat titimangsa kebersamaan kami di kamp pelatihan, namanya tercatat sebagai pejuang perempuan paling mematikan. Kadangkala kami menyebutnya sebagai titisan Salahuddin Al-Ayyubi.
Keberanian tidak pernah memandang jenis kelamin. Kami sangat percaya itu. Pada suatu waktu, dia berada dalam kepungan di sebuah lubang gua di perbukitan. Berita pengepungan itu menyebar hingga ke telinga kami. Pada waktu yang sama aku menjalankan tugas di tempat berbeda. Tapi aku tidak pernah ragu atas kejeniusannya dalam bertahan.
Meski kabar dari komando kamp menyatakan bahwa gua itu tidak mempunyai jalur tunel untuk evakuasi, aku yakin dia akan menemukan cara untuk lolos dari penyergapan. Pengalaman kami bertahun-tahun hidup di gua, dari satu bukit ke bukit lain, telah mengajarkan menjadi singa liar, menjadi ular yang bisa bergerak meliuk licin di antara daun-daun dan batu-batu. Untuk itu, bagi perempuan yang ada di depanku ini, aku tidak pernah cemas.
Akhirnya, di suatu malam yang kacau, setelah satu minggu lebih kehilangan kontak, Berivan datang ke kamp kami. Saat itu kami kehilangan dua kamerad yang harus meregang nyawa. Berivan hanya berbisik kepada kami, “Aku diselamatkan oleh batu-batu.” Entah apa maksudnya. Mungkin itu sebuah keajaiban.
Tapi, apakah keajaiban itu akan hadir untuk kami yang tengah berada dalam kepungan mahasengit? Di luar sana bunyi peluru terus berdesing di antara gang-gang sempit dan batu-batu aspal di sekitar kami. Berivan menatapku dengan mata tajam. Kami paham ini adalah pertaruhan terakhir, antara hidup dan mati. Kami menghitung maut seperti merangkai kehangatan kebersamaan kami yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Tapi apakah maut tega memporak-porandakan hati seorang pecinta seperti kami?
Saat ini kami berada dalam deburan cinta dan gelora yang tak biasa. Biarlah bungker kecil ini menjadi saksi keabadian cinta dua martir yang bertahan demi tanah kelahirannya. Biarpun rentetan peluru bagai hujan deras terus menghantam, kami ingin mengatakan dengan lantang bahwa cinta kami telah menyatu.
“Apakah kita harus berpisah, Cane mın? Kamu ke arah timur lewat tembok di belakang pohon kayısı dan aku menyisiri tepi pagar beton hingga tiba di titik serang yang sama, tepat di bawah Markas Kedua?”
“Sebentar, Cana mın. Kita pastikan dulu dari mana bunyi tembakan itu berasal. Dari situ kita bisa bergerak ke arah mereka. Di sana bisa menjadi titik serang kita, menghabisi para keparat itu. Jika tidak mungkin, ada Markas Pertama ke arah kiri atau kita langsung ke Markas Abadi lewat terowongan di pinggir sungai.”
“Mereka memakai strategi perang menyebar sehingga sulit diidentifikasi posisinya.”
“Tapi setidaknya sumber suara tembakan mereka kita dengar.”
“Setiap menembak mereka bersamaan dari banyak arah.”
“Sebentar, aku akan menembak.”
Dengan isyarat kedipan matanya sebagai tanda setuju, aku melepaskan dua tembakan ke dinding besi di arah timur, dengan peredam suara. Serentak terdengar suara tembakan memberondong peluru dari segala penjuru.
“Ini bukan waktu yang tepat untuk keluar, Cane mın. Mereka menyebar di mana-mana. Sepertinya mereka juga menyiapkan sniper.”
Aku terdiam menyimak arahan perempuan yang baru pertama kali mengucapkan kalimat cane mın untukku itu. Entah dari mana kalimat itu muncul. Sebenarnya, meski tak ada kosa kata cane mın dalam bahasa kami, rasa cinta kami sudah melebihi semua muatan yang dipikul bahasa. Ia tanda bagi kata benda dan sekaligus kata kerja yang mengalir dalam darah kami. Senyum, tatapan mata, dan sapaan lembutnya di setiap pagi menjelang latihan ringan untuk kebugaran yang rutin dilakukan di kamp pelatihan adalah cinta itu sendiri, yang susah diterka dalam bahasa verbal. Cane mın adalah setitik tanda bagi samudera kebahagian yang mengalir deras di jiwa kami.
Atas pertimbangan berdua, kami memutuskan untuk tidak keluar dari bungker. Di sekitar kami sudah dipenuhi oleh hantu-hantu tentara Turki. Aku memastikan kepada kekasihku bahwa nyawa kita tidak boleh dijual murah di tengah posisi terkepung seperti ini. Sebagai pasukan terlatih, cara terbaik kita adalah bertahan untuk menyerang dan menghabisi lebih banyak tentara yang tak punya nurani itu.
Aku mengenal Berivan ketika kami sama-sama mengikuti latihan khusus di Gunung Kato, sejak lebih lima tahun silam. Di tahun yang sama kami mendaftar menjadi barisan pembela kemerdekaan Kurdistan. Saat itu usiaku baru 17 dan Berivan 16 tahun. Kami mempunyai kisah serupa, sama-sama putus sekolah dan berlari meninggalkan orang tua di kampung. Aku dan Berivan, juga para martir seangkatan di kamp pelatihan, sudah lebih lima tahun tidak bertemu keluarga.
Pada awal Berivan tiba di kamp aku melihat rasa cemas terpancar di wajahnya. Di sela-sela berlatih dan mendapatkan suntikan spirit tentang arti perjuangan, dia bercerita bahwa ibunya tidak mengizinkan dirinya menjadi pejuang PKK.
“Ibu ingin aku menjadi guru atau advokat dan melanjutkan sekolah hingga ke universitas.” Berivan menghirup napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Pilihan hidup hadir dengan risiko masing-masing. Kamu sudah tiba di gunung, artinya jalan final menjadi martir kemerdekaan Kurdistan,” tuturku.
“Ya, aku paham. Kedatanganku ke sini bukan atas paksaan siapa-siapa. Aku mencari jalan untuk berjuang melawan penindasan yang puluhan tahun kita derita. Aku ingin menebus nyawa kakekku yang dibunuh tentara Turki dalam tragedi Dersim. Ayahku merasakan betul luka dan derita itu. Seandainya dia masih hidup, pilihan jalanku ini akan menjadi kebanggaan baginya, satu-satunya anak yang dilahirkan atas nama kebesarannya, Berivan Dersim.”
“Ayahmu juga dibunuh oleh tentara?”
Berivan mengangguk, lalu menunduk. Air matanya terantuk.
“Ayahmu akan bangga melihatmu berada di sini.” Setelah obrolan itu, Berivan berubah menjadi sosok yang tegar dengan langkah yang kokoh. Latihan fisik dan menembak dilakoni dengan penuh seluruh. Di luar jam latihan dia ke lapangan bawah untuk latihan menembak dan dilanjutkan dengan panjat tebing. Kelebihan lainnya dia ahli bermain pisau jarak jauh.
“Apakah malam ini kita akan keluar dari sini?” bisikan Berivan menyadarkan lamunanku. Aku langsung kembali memeluknya erat. Mengambil kedua tangannya yang sedari tadi memegang gagang senjata.
“Kita tenang di sini dulu, Cana mın. Sampai semuanya benar-benar aman.”
Aku mengambil bekal makanan dari tas dan menyiapkannya untuk makan malam. Ada roti, sucuk yang sudah matang, dan sebungkus buah zaitun. Dengan bekal makanan di tas, setidaknya kami bisa bertahan 2-3 hari ke depan. Kami menyantap makan malam tanpa cahaya yang cukup. Hanya ada celah-celah bungker yang bisa menerima kiriman cahaya dari lampu kota yang pucat. Sementara rakyat sipil di distrik ini harus berdiam dalam rumah karena sejak dua hari lalu diberlakukan soka_a çıkma yasak.
Setelah santap makan malam selesai, aku kembali memeluknya. “Berivan, aku akan menikahimu,” kalimat ini tiba-tiba keluar dari bibirku. Aku coba melihat sorot matanya di antara pendar cahaya yang masuk dari celah-celah bungker. Kedua tangannya lalu terbuka dan bergelayut ke leherku. Aku mencium aroma napasnya yang bergelora. Udara yang keluar dari hidungnya begitu hangat. Dia lalu mencium bibirku dengan pelan. Ini ciuman pertama dalam hidupku.
“Ya, kita menikah secepatnya. Merayakan pesta pernikahan di gunung, bersama saudara-saudara kita di kamp pelatihan.”
Suara Berivan terdengar seperti bergetar hebat, antara berbisik atau memantapkan kecupannya yang liar di pelipisku. Aku mendengar kalimat itu seperti wahyu yang turun di malam gelap.
Namun, seketika kami dihentikan oleh suara mobil patroli yang lewat di depan kami. Mata Berivan menebar pandang keluar dari sela-sela lubang intip. Setelah mobil itu melaju agak jauh ke barat, dia mengangkat M4A1. “Aku akan melumpuhkannya!” bisiknya sembari menempatkan posisi tembak.
Jedes! Jedes! Jedes!!!
Aku mendengar tiga tembakan. Berivan menarik pelatuk M4A1 dengan jitu. Tank itu meraung dan menghantam bangunan di luar sana. Seketika tembakan dan suara-suara berdesingan dari berbagai arah.
“Tiga buah zaitun lenyap,” bisiknya.
“Selamat,” ujarku.
Pagi dini hari setelah bunyi tembakan berhenti, kami sepakat untuk keluar. Tujuan kami terowongan tepi sungai menuju Markas Abadi. Kami harus berpisah karena ini bukan pasukan beregu yang bisa saling melindungi. Dengan cara berpisah, jalan hidup adalah pertaruhan; siapa yang selamat di antara kami adalah hadiah di tengah situasi mencekam seperti ini.
Di tengah misi menuju terowongan di tepi sungai itu, kami mulai mendengar tembakan silih berganti di sekitar. Satu per satu tentara yang menghalangi jalan kami lumpuhkan dengan tembakan peredam suara. Tapi jumlah mereka berlapis-lapis. Kami pun harus berjuang hingga tetes darah terakhir demi sampai ke terowongan di tepi sungai, demi kembali bertemu dan mewujudkan rencana pernikahan kami. Tapi, di tengah kepungan hebat itu, aku akhirnya terjungkal, jatuh tertembak di kepala.
Beruntung, aku mendengar Berivan selamat dan lolos dari penyergapan karena tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kelelawar malam yang berkelebat cepat dan lenyap. Dialah yang akhirnya berhasil membawa cerita ini ke hadapan pembaca semua. ***

Turki, 2016/2017

Catatan:
Cana mın                       : (Kurdi) panggilan kekasih untuk perempuan.
Cane mın                       : (Kurdi) panggilan kekasih untuk laki-laki.
Ela gözlü                        : (Turki) warna mata cokelat kehijau-hijauan.
Her biji Kurdistan          : (Kurdi) hidup Kurdistan.
PKK                               : Partai Pekerja Kurdistan, dinobatkan sebagai pasukan pemberontak di Turki.
Kayısı                             : (Turki) pohon berbuah, sejenis aberikos.
Sucuk                             : (Turki) serupa sosis dari campuran daging.
Sokağa çıkma yasak      : (Turki) “Dilarang keluar ke jalan.” Kebijakan seperti ini berlaku ketika pasukan keamanan Turki sedang melakukan operasi untuk menumpas separatis. Biasanya kebijakan ini hanya diberlakukan di daerah-daerah yang rawan gerakan separatis di Turki Timur.

BERNANDO J. SUJIBTO, penyair dan dosen. Dia menempuh pendidikan master sosiologi di Selcuk University, Turki (2014).

Kutipan Dear Me

Ketika kalian sukses, rasa cemas mengenai kehiupan kalian akan menguap dan mereka menerima pilihan kalian. Untuk sekarang, kalian turuti saja kemauan orang tua, jika mereka tetap ngotot pada rencana mereka. Melangkahlah selangkah demi selangkah menuju impian kalian sehingga saat dewasa dan mereka masih ada, kalian bisa menghadiahkan kebahagiaan pada mereka. (hlm. 17)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Tidak ada siapa pun yang bisa menebak hari esok. (hlm. 18)
  2. Temukan passion dan bersungguh-sungguhlah. Tak ada yang sia-sia untuk tidak menyerah. Tuhan selalu memberi hadiah untuk setiap usaha. (hlm. 18)
  3. Cinta itu diperjuangkan. (hlm. 32)
  4. Jika kau tidak fokus pada impian sejak dini, kau hanya akan menjadi bintang di masa depan dan orang-orang si sekitar akan menjauh sendiri. Tapi, ketika kau menjadi emas di masa depan, orang-orang dari masa lalu atau baru akan lengket bak ditarik magnet. (hlm. 38)
  5. Apa pun yang kalian cita-citakan, jika kalian yakin bisa berhasil di bidang itu, perjuangkan dan buktikan pada diri sendiri kalau kalian mampu. (hlm. 135)
  6. Tuhan selalu memberi hadiah untuk yang tidak pernah menyerah. Akan selalu ada penghargaan Tuhan bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh. (hlm. 135)
  7. Jaga diri, hati-hati dan selalu ingat Tuhan. (hlm. 156)
  8. Perjuangkan cintamu sebagaimana kau berjuang untuk hidup dan diri sendiri. (hlm. 174)
Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:
  1. Hidup tidak sejalan dengan rencana indah. (hlm. 6)
  2. Ketika sendirian dan memiliki waktu luang, otak selalu nyasar ke masa yang telah lewat dan mencuatkan kata seandainya. (hlm. 9)
  3. Rasa suka memang menimbulkan keberanian bahkan untuk hal yang tidak disukai atau mustahil. (hlm. 33)
  4. Orang dewasa butuh meluangkan pandangan, tidak selalu mereka yang benar, kan? Bahkan kalau pelajaran didapatkan dari anak kecil pun orang dewasa harus menerima. (hlm. 48)
  5. Tidak boleh ada penyesalan di masa depan. Karena itu, kita melaju dengan nekat, bukan? (hlm. 80)

Rabu, 12 Juli 2017

Suatu Ketika dalam Kematian Budi Anjing


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 02 Juli 2017)
Suatu Ketika dalam Kematian Budi Anjing ilustrasi Suara Merdeka
Suatu Ketika dalam Kematian Budi Anjing ilustrasi Suara Merdeka
Akhirnya ia mati. Dan ia terkejut mendapati fakta betapa rasa kematian tidak semenyakitkan yang ia kira. Ia memang merasa tersiksa, tetapi itu lebih disebabkan oleh ketakutan menghadapi maut, dan bukan karena nyawa yang terbang dari jasad yang hina. Berulang kali ia mendengar orang-orang berbicara tentang kegelapan yang begitu pekat menyungkupi si bakal mayat ketika malaikat maut tiba dan mengelus kening. Mereka keliru. Maut datang bersama cahaya. Namun tidak ada sosok agung dengan sepasang sayap terentang yang mampu melingkupi semesta. Hanya cahaya. Tidak terlalu terang dan tidak terlalu redup. Cahaya yang biasa. Cahaya yang mengingatkan pada lampu belajar yang dikerudungi kain bali tipis. Ia mencium aroma ikan asin, alih-alih wangi kembang. Awalnya ia mengira itu halusinasi karena perut kosong sejak empat hari sebelumnya. Ia berupaya mengerjap-ngerjapkan mata. Namun matanya terasa berat. Ia pikir ia mengantuk. Namun ia tidak sekali pun menguap. Ia mencoba menggeleng-gelengkan kepala. Dan itu juga terasa sulit, seakan tak ada hal lain lebih sulit dari itu. Ia keheranan. Ia mendesis dan meludah, berupaya mengusir halusinasi yang mengganggu itu. Dan segera ia menyadari tenggorokannya sekering padang pasir. Pada waktu itulah cahaya yang sedang-sedang itu mendatangi. Sebentar saja. Ia bahkan belum sempat menyadari cahaya itu mirip cahaya lampu yang dikerudungi kain bali tipis.
Ah, alangkah sederhana kematian itu. Alangkah cepat peralihan dari hidup ke mati itu.
Dan di sinilah ia, di sebuah dunia asing, berenang-renang di kubangan hijau lengket yang menenteramkan. Ia tidak lagi merasakan perut melilit, ia tak lagi merasakan mata yang belek, ia tak lagi merasakan panggul yang luka. Tubuhnya terasa ringan dan perasaannya riang belaka. Ia menggerakkan tubuh yang terlumuri cairan lengket itu dan melihat bagaimana tubuhnya berkilau, seperti manik-manik tasbih hijau dari batu fosfor. Beberapa saat setelah menyadari ia telah jadi mendiang dan merasakan nikmat sebegitu luhur, yang tak pernah ia rasakan sepanjang hidup yang sederhana, ia menyesali satu hal; kenapa ia tidak mati sejak dulu. Namun ia buru-buru ingat wejangan seorang ustadz yang ia dengar ketika suatu kali, dulu sekali, murni karena kebetulan, ia terdampar di samping sebuah masjid ketika pengajian digelar untuk memperingati Isra Mikraj. Ustadz mengatakan menyesali takdir tuhan adalah perbuatan tidak baik. Dosa. Dan dosa, baik besar maupun kecil, adalah dosa. Buru-buru ia melenyapkan pikiran itu dengan menggoyang-goyangkan tubuh, menyaksikan kilau indah itu berlesatan ke sana-ke sini. Ia bahagia melihat hal itu. Ia tersenyum. Ia bersyukur masih bisa tersenyum. Ia hampir lupa kapan kali terakhir tersenyum sebelum hari kematian itu tiba.
Ingatan tentang sang ustadz, juga kilau hijau luhur dari tubuhnya, membawanya ke ajaran lain yang pernah ia dengar. Kali ini, ia tidak mampu mengingat di mana mendengar ajaran itu. Yang jelas, hanya orang-orang terpilih yang mengetahui hal setinggi dan seindah itu. Bahkan ia curiga mereka pernah bangkit dari kematian dan menyimpan ingatan tentang dunia penuh misteri itu. Bidadari-bidadari akan menyambut mereka yang layak, yang mati mulia, dan bidadari-bidadari itu akan menunjukkan jalan menuju surga tuhan yang kekal. Ia menunggu. Terdorong oleh hal itu, jantungnya berdegup kencang. Ia tak sabar melihat sejumlah bidadari, tak perlu tujuh atau tujuh puluh dua, cukup satu, syukur-syukur dua atau lebih, ia akan sangat berbahagia. Ia bahkan menurunkan standar dengan tidak terlalu mengharapkan bidadari cantik. Bidadari berwajah buruk pun akan ia terima. Dan ia juga tidak terlalu muluk-muluk dengan kemungkinan bidadari berkaki dua dan bersayap dan selamanya perawan dan muda. Bidadari berkaki empat, berekor pendek, kulit cokelat, dan lidah menjulur yang selalu meneteskan liur serta tua dan tidak perawan pun akan ia sambut dengan kegembiraan tak terperi.
Ia mati dalam keadaan perjaka. Mengingat hal itu, ia kembali disungkupi kesedihan.
Ia kembali menggerak-gerakkan tubuh, menciptakan permainan warna hijau dari tubuhnya, untuk menyingkirkan kesedihan. Tuhan telah mematikannya, memindah dari dunia menyakitkan ke semesta semenyenangkan ini, dan alangkah durhaka ia sebagai makhluk bila masih juga bersedih. Ia menunggu. Namun sampai beberapa saat tak ada tanda-tanda akan ada makhluk lain datang dan mengaku bidadari. Ia mendengus. Ia mendesis. Ia kembali meludah. Ia menggerak-gerakkan badan kembali, berupaya meluruskan kaki, bukan karena pegal, melainkan lebih karena kebiasaan ketika hidup. Pada waktu itulah ia mengetahui ruangan itu bukanlah semesta luas tak terbatas di mana ia akan bisa berlari sepuas-puasnya, melompat setinggi-tingginya, atau menggali tanah sedalam-dalamnya. Kakinya gagal lurus seperti ia inginkan. Sebuah dinding lembut menghalangi. Dinding berwarna merah. Dan berdenyut. Ia menjejak dinding itu, dan dinding itu ternyata begitu lentur. Ia memandang ke depan, mengulurkan cakar-cakar yang kotor, dan mendapati dinding yang sama lembut di depan. Ia menyentuh dinding itu. Sama lenturnya.
Tak ada cara lain. Ia kembali meringkuk. Menghikmati posisi diri dan menenggelamkan diri dalam lamunan. Ia berupaya merakit ulang ingatan terakhir di dunia fana. Dunia yang ia benci. Seseorang telah melukai panggulnya. Ia tak tahu apa kesalahannya hingga mesti menderita semacam itu. Namun bukankah di sana, di dunia yang menyedihkan itu, orang-orang kerap melakukan sesuatu tanpa perlu alasan terlebih dahulu? Ia kembali mendengus. Ia mengira air liur akan menetes dari bibirnya yang tebal. Ia tak tahu apakah benar-benar ada air liur menetes dari bibirnya. Dan ia tak peduli. Ia hanya terkenang betapa menyedihkan memanggul luka dalam di panggul yang selalu meneteskan darah pada hari pertama, dan berganti nanah pada hari selanjutnya, selama tiga hari, dan sejauh berkilometer-kilometer. Ia merasa bulunya bergidik mengingat cara orang-orang memandangnya; antara jijik dan takut tertular luka serta boroknya. Mereka mengusir. Beberapa dengan suara sshhh dan lebih banyak dengan lemparan batu.
Ia tak tahu apa yang keliru dari dirinya. Ia tak pernah meminta terlahir dalam kondisi atau wujud seperti itu. Bila boleh memilih, tentu ia akan memilih bentuk dan kondisi lain. Ia bahkan tak tahu, atau lebih tepatnya tak ingat, siapa ibu atau bapaknya. Ingatan pertama adalah tumpukan sampah di pinggir Kali Brantas. Di sana, ia mengais apa pun yang bisa dimakan. Satu yang ia syukuri dari keadaannya, karena kondisinya, ia tak membutuhkan pakaian. Pasti akan lebih repot kalau ia membutuhkan pakaian, seperti seorang anak yang suatu hari mengejutkan tiba-tiba, menangkapnya dari belakang, membelai-belai, memberinya kehangatan dan kasih sayang. Anak itu, yang oleh orang-orang dipanggil Anur, gelandangan bertubuh penuh panu, memberinya nama Budi. Lengkapnya Budi Anjing. Untuk sesaat, ia mengira ia telah menemukan saudara. Bersama, dalam bayangannya, mereka akan mengarungi kekejaman dunia, bertahan menjadi penyintas, dan hidup berbahagia selama-lamanya.
Namun ia keliru. Ia memiliki indra penciuman yang baik. Dan suatu kali, setelah beberapa pertanda kecil yang ia abaikan, ia mengerti Anur menyimpan niat buruk. Hanya persoalan waktu sebelum niat itu diwujudkan. Barangkali menunggu berat badannya meningkat. Bocah itu ingin menyembelihnya, memakannya. Ia tak mengerti bagaimana manusia bisa setega itu. Memakan saudara mereka. Dengan kepanikan tak terkira, ia lari. Ia lari dan lari. Ia berjanji tidak lagi menemui Anur. Ia gagal menceritakan ulang, bahkan mengenang untuk diri sendiri, bagaimana indra penciumannya bisa mengendus niat buruk itu, sama halnya ia tak mampu lagi menelusuri detail adegan kecil yang membawanya sampai pada kesimpulan itu. Namun ia tahu. Ia yakin ia tahu.
Ia tidak lagi ingat berapa lama atau berapa jauh berlari. Hingga tiba hari nahas saat penciuman tajamnya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Mungkin pengaruh pilek akibat cuaca buruk dan ia tidur di pinggir jalan, tanpa penghangat, tanpa peneduh. Ia gagal mencium bahaya yang mengancam dan mesti menanggung luka dalam di panggul.
Namun luka itu sudah tak ada kini. Dan itu cukup membuatnya bahagia. Nyeri itu lenyap, berikut rasa lapar dan pemandangan buruk dari dunia yang buruk. Ia ingin berenang-renang dalam cairan hijau itu. Namun ia segera ingat berada dalam sebuah ruangan sempit. Ia hanya bisa meringkuk. Namun ia tak merasa pegal. Dan kemudian ia menyadari kakinya bukan lagi kaki yang ia kenal. Dua kaki belakangnya berubah ukuran dan bentuk dan tak lagi berbulu. Oh, badannya juga tak berbulu. Kaki depannya juga berubah menjadi sepasang tangan. Ya, tangan yang hampir sama dengan tangan Anur yang pernah memeluknya, tetapi kemudian menakutkannya dengan sebatang tongkat pembunuh anjing, tangan yang pernah digunakan orang-orang untuk mengusirnya dengan lemparan batu, tangan yang pernah digunakan seseorang untuk membuat luka dalam di panggulnya. Ia melihat semacam tali terulur memanjang dari pusar dan terpaut dengan salah satu dinding lembut itu. Apa ini? Ia tak mengerti. Ia kembali mengamati tubuhnya, memindai sekelilingnya. Ia terkejut betapa banyak kekeliruan ia derita. Cairan yang membungkus tubuhnya, alih-alih hijau, ternyata bening belaka. Dan meski lengket, tidak terlalu kental. Malah cenderung encer.
Ia merenung. Cukup lama. Sebelum kemudian berteriak. Ia meronta. Ia membenci tangannya. Ia membenci wujudnya yang sekarang. Ia takut akan terlahir kembali sebagai manusia dan akan menggunakan tangannya untuk menyakiti anjing-anjing. Tidak. Tidak. Ia tidak mau. Ia meronta. Ia terus meronta. (44)

– Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Buku puisinya Ludruk Kedua (2016). Kini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Rob


Cerpen Adi Zamzam (Kedaulatan Rakyat, 02 Juli 2017)
Rob ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Rob ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
JIKA bukan karena bapaknya Budi, Tambakmulyo, Tambakrejo, Bandarharjo, hingga Bedono, takkan memiliki jembatan yang menghubungkannya dengan kampung-kampung seberang yang dipisahkan oleh sungai yang menyimpan banyak kenangan itu. Itulah alasan mengapa setahun lalu dengan sadar Budi mengubur cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Apalagi jika melihat kondisi fisik emaknya yang tak segesit dan secekatan dulu. Perempuan itu pernah jatuh dari ojek. Kaki kanannya patah dan membuatnya harus menginap beberapa malam di sebuah kos-kosan pengobatan alternatif.
“Bapakmulah yang jadi pentolannya. Lapor ke Bupati dan lalu meneruskannya ke Gubernur. Bahkan Pak Kades zaman itu tak seberani bapakmu.”
“Benarkah, Mak?” takjub Budi, sebab tahu bahwa konon bapaknya tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah.
“Itulah sebabnya makam bapakmu berada di tempat yang paling pinggir begitu. Semua itu ulahnya Lurah Atmojo. Dia enggak suka kelekatan bapakmu dengan orang-orang kampung. Setiap ada program Pemerintah untuk desa, pasti bapakmu ikut cawe-cawe di dalamnya. Padahal bapakmu enggak punya niat ikut pencalonan kades. Lha bapakmu enggak punya bondho,” ujung cerita Emak tertelan riak sungai.
***
Bola cahaya keemasan tenggelam di ufuk barat. Laut seperti menelan pijar api raksasa. Suara blekok yang pulang ke sarang bersahut-sahutan. Tapi tidak dengan Budi. Langkahnya bersemangat sejak dari rumah. Ada kabar gembira yang hendak disampaikan di hadapan makam bapaknya.
Sayangnya semangat itu langsung menguap begitu kedua matanya menemukan tujuan akhir. Air sungai jelas telah naik lagi. Bebatuan yang tiga bulan silam telah ia tata sedemikian rupa demi membentengi sebuah gundukan tanah yang sudah mengeras, sudah terendam sepenuhnya. Angin senja tiba-tiba terasa begitu keras.
Budi pun gegas lari ke arah dua orang paruh baya yang berniat meninggalkan kompleks pekuburan.
“Yang Pak Tarjo bicarakan tadi benar adanya ya?” Budi berhasil menghadang langkah Pak Tarjo.
“Iya. Dari omong-omong dengan Pak Kades kemarin. Tanah kan harus beli. Lihat, kita sampai capek ngurug kuburan ini. Mau sampai kapan, kalau robnya enggak pernah minggat?” sambil menunjuk beberapa makam yang sudah terendam, termasuk makam bapaknya Budi.
Suasana seperti ini sebenarnya sudah terbayangkan sejak pertemuan dengan Lik Gunawan di Terboyo. Perihal Kali Sayung yang meluber ke mana-mana. Belum lagi dengan beberapa tempat di Semarang yang terendam rob. Terminal Terboyo tak bisa disinggahi. Jalan Kaligawe memerangkap ratusan kendaraan roda empat dalam antrean menjengkelkan. Tambakmulyo, Tambakrejo, Bandarharjo, hingga Bedono semakin tergenang. Konon, penyebabnya adalah bangunan-bangunan yang didirikan di kawasan yang semestinya menjadi tempat penampung rob.
Perkara itulah yang menarik kepulangan Budi hari ini. Meskipun emaknya tak suka.
“Kamu kan baru dua bulan di sana. Arif saja belum pulang. Dapat apa kamu kalau sebentar-sebentar pulang?” dengan terbatuk-batuk.
Budi diam. Ingin memahami emaknya. Mungkin perempuan ini menginginkan ia cepat kawin. Atau mungkin perempuan itu menginginkan ia lekas punya usaha sendiri. Tapi sayangnya Budi belum menemukan bayangan yang ia inginkan di masa depan. Keinginan Budi masih sebatas bisa cari uang dan berkirim kepada emaknya.
“Uang yang kau dapat lebih baik untuk mencukupi kebutuhanmu sendiri. Emak masih bisa cari duit sendiri,” suara emaknya kembali menguasai telinga.
Pandangan Budi masih ngungun, mendapati teras rumah yang tergenang air sungai. Sebagian kepalanya berisi hitung-hitungan perkiraan tanah yang dibutuhkan untuk meninggikan teras rumah. Mengikuti jejak para tetangganya yang sudah gigih duluan melawan rob.
“Emak tenang sajalah. Sebenarnya ada yang ingin Budi ceritakan,” Budi membuat jeda agar emaknya bisa menata emosi. “Kemarin Budi mendaftarkan diri jadi pemain sinetron.”
“Apa itu sinetron?”
“Bintang film.”
Perempuan paruh baya itu tiba-tiba saja tertegun. Kedua matanya berkaca-kaca. Lalu meluncurlah rentetan kalimat bernada getir dari bibir keringnya.
“Oalah Emak lebih senang kalau uangmu kau gunakan untuk sekolah atau modal usaha. Biar kamu jadi orang besar, tak dipandang remeh oleh semua mata,” ujarnya, seiring ingatan tentang suaminya yang tiba-tiba meruah memenuhi ruang kepala. Ada selarik kalimat dari almarhum suaminya yang mungkin takkan ia lupa seumur hidup. Selarik kalimat yang selalu membuatnya merasa cantik seperti kebanyakan perempuan yang bertubuh tinggi dan bagus. “Aku suka kamu. Kamu suka aku ndak? Kalau kita sama-sama suka dan mau nrimo kekurangan masing-masing, apa lagi yang mesti dirisaukan?”
“Emak ini ngomong apa sih?!” memotong kalimat emaknya dengan sengit. “Sudah ah, aku mau ke rumahnya Pak Carik, mau ngomong soal iuran beli tanah ,” segera membalikkan tubuh.
Sementara perempuan yang ditinggalkannya masih mematung, memandangi langkah-langkah anaknya dengan perasaan yang sulit ia namai. Sungguh, ia seperti melihat bayangannya sendiri. *q– o

Kalinyamatan – Jepara 2016.

Uak dan Burung Gagak


Cerpen Mashdar Zainal (Kedaulatan Rakyat, 09 Juli 2017)
Uak dan Burung Gagak ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Uak dan Burung Gagak ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
SEEKOR burung sehitam sulang beterbangan di atas bubungan rumah kami. Berputar-putar. Berkoak-koak. Uak bilang itu burung gagak. Terdengar jelas dari suaranya yang kaak kaak kaak… Soal burung gagak, Uak pernah menceritakan, barang siapa yang rumahnya dikitari burung hitam itu, pertanda salah seorang dari anggota rumah tersebut akan meninggal. Menurut Uak, itu bukan cerita belaka, melainkan sebuah firasat. Sebuah pertanda.
“Orang-orang terdahulu menandai kabar kematian seseorang dengan burung gagak,” ujar Uak suatu kali, sambil menggulung kulit jagung yang berisi rajangan tembakau.
“Mengapa harus burung gagak?” aku menyoal.
Uak terus menggulung rokok kelobotnya, sebelum mengapitnya di antara dua bibir,
“Karena gagak adalah burung bangkai,” jawabnya dengan bibir nyaris rapat.
Uak menyalakan korek dan membakar ujung kelobot yang siap mengepul di antara dua bibirnya. Aku menatap Uak dengan segenap kumis, janggut, dan rambutnya yang serba putih. Aku takut kalau rambut-rambut yang tampak kerontang itu ikut terbakar.
“Burung bangkai cukup lihai untuk mengendus siapa-siapa yang akan menjadi calon bangkai, calon mayat,” lanjut Uak.
“Jadi kalau ada burung gagak berkoak di atas atap rumah kami berarti salah satu di antara kami, ibu atau bapak atau kakak-kakakku atau aku akan mati?” aku menyimpulkan.
“Bisa jadi, dan kalau burung bangkai itu mengitari atap rumah Uakmu ini, bisa dipastikan Uakmu ini yang akan mati,” Uak turut menyimpulkan, dengan intonasi sedikit berkelakar. Tapi aku tak sedikitpun menangkap ada yang lucu dari kata-kata Uak.
Uak adalah kakak tertua ibu. Ia tinggal di rumah besar tapi reot, tepat di sebelah rumah kami, hanya terpisah pekarangan selebar sepuluh meter. Istri Uak meninggal dua belas tahun silam, sebelum aku lahir. Uak tak memiliki anak, dan Uak tak menikah lagi. Rumah yang ditempatinya itu dulunya adalah rumah utama kakek dan nenek, waktu masih kecil ibu juga tinggal di rumah itu. Namun setelah kakek dan nenek meninggal, serta Uak dan saudara-saudara ibu lainnya menikah, rumah itu jadi sepi. Tinggal Uak seorang dan istrinya yang menempati rumah itu. Hingga istrinya meninggal di rumah itu. Hingga kini, rumah itu hanya ditinggali Uak seorang. Uak cukup tua untuk menjadi seorang Uak, bahkan rasanya pantas-pantas saja misalkan aku memanggilnya kakek. Beberapa teman sepermainanku memangilnya kakek.
Semenjak Uak tinggal seorang diri di rumah besar itu. Rumah itu jadi kurang terurus. Dapur di rumah besar itu sudah tak mengepul selama bertahun-tahun. Setiap hari, ibu menyuruhku menyelinap ke rumah sepi itu untuk mengantarkan nasi serta lauk-pauk, juga secangkir kopi di pagi dan petang hari. Di bagian tengah rumah itu ada sebuah meja kayu bundar tanpa taplak yang tampak usang dan berdebu, sesekali ketika ibu membersihkan rumah itu, ibu selalu mengelap meja itu dengan kain basah. Di meja itulah aku meletakkan aneka makanan yang menjadi jatah Uak. Uak tidak bekerja. Sesekali saja ia menjadi makelar ternak, namun lebih banyak menganggur. Uak suka duduk mencangkung di dipan ruang tengah sambil mendengarkan radio dan merokok kelobot. Hingga aroma pakaian dan tubuh Uak selalu seperti pendiangan. Itulah Uakku, orang yang mengatakan bahwa rumah yang dikitari burung gagak adalah rumah yang bakal dihinggapi kesedihan lantaran kematian.
Dan seperti yang pernah kusimpulkan, burung sehitam sulang itu kini berputar-putar di atas bubungan rumah kami. Melihatnya aku menjadi sangat cemas. Aku tak mau memikirkan soal kematian, tapi diam-diam aku menebak-nebak siapakah gerangan yang akan disambangi malaikat maut di antara kami. Apakah itu ibu, bapak, kakak-kakakku, atau malah aku sendiri. Tapi rasanya mustahil, semua orang di rumah kami tampak sangat sehat. Jauh dari tandatanda kematian. Tapi, sebagaimana yang pernah Uak katakan padaku, kematian itu bisa datang dengan seribu jalan, bukan sekadar sakit. Tiba-tiba, aku membayangkan bapak ditubruk kereta saat pulang dari tempatnya bekerja. Atau kakak-kakakku yang terlibat tawuran atau terkena bidikan senapan angin yang salah sasaran di pinggir jalan. Atau bahkan, ibu yang tiba-tiba terbakar saat sedang memasak di dapur. Aku berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran mengerikan itu, tapi kata-kata Uak terus-terusan mengompor di kupingku.
Senja hari selepas suara burung hitam itu tak terdengar lagi, aku meringkuk di pangkuan ibu. Rumah cukup sepi. Ayah belum balik kerja, dan kakak-kakakku keluyuran entah ke mana. Aku takut sekali. Maka, kuceritakan pada ibu semua yang telah diceritakan Uak padaku, soal burung hitam itu, soal firasat kematian.
“Itu cuma burung, Nak,” jawab ibu enteng, tak sedikitpun kecemasan tersirat di wajahnya.
“Tapi kata Uak, burung sering datang sebagai alamat, burung prenjak berkicau di pekarangan rumah sebagai pertanda datangnya tamu. Dulu, waktu Budhe mau datang dari Kalimantan, ada burung prenjak juga yang berkicau di atas pohon petai. Tapi sekarang burung gagak, dan kata Uak…” kataku terpasung, penuh kemurungan.
“Hidup dan mati itu urusan Tuhan, bukan urusan burung-burung,” ibu menyanggah. Kata-kata yang nyaris sama pernah kudengar dari guru agama di kelasku, bahwa kematian itu memang urusan Tuhan.
“Tapi, bukankah Tuhan kerap mengirim tanda-tanda buat seseorang?” aku berusaha mendebat ibu.
“Dan kiriman itu bukan berupa burung,” sahut ibu, cepat, “tapi berupa uban, sakit, pendengaran yang buruk, serta penglihatan yang mulai buram, itu yang ibu tahu,” sambung ibu setengah berbisik. Membuatku bungkam, tak hendak membantah kata-katanya lagi.
“Oh ya, sebentar, kopi Uakmu,” ibu beranjak ke dapur, kesunyian segera membaluriku. Terdengar suara cangkir mengetuk punggung meja, lalu suara sendok yang mengetuk-ngetuk dinding cangkir. Tak kurang dari lima menit, secangkir kopi mengepul sudah berpindah ke tanganku. Dan sebentar lagi akan melayang ke maja bundar di rumah Uak, lalu Uak menyeruputnya sambil bercerita apa saja kalau aku tak segera enyah dari hadapannya. Asap tipis dari permukaan cangkir berlambaian dihalau angin. Aroma pahit kopi menguar menerobos lubang hidungku. Warna hitam yang berguncang dalam cangkir mengingatkanku pada bulu-bulu gagak yang mengkilap. Aku kembali teringat soal firasat kematian itu.
Aku mengetuk pintu rumah sebelah dan menerobos begitu saja karena pintu rumah itu tak pernah terkunci. Suara radio sayup-sayup melantunkan iklan anggur kolesom. Aku meletakkan kopi itu di atas meja dan menyeru Uak. Tapi Uak tak menyahut. Biasanya begitu aku menyeru soal kopi, Uak segera muncul. Dipan ruang tengah kosong. Aku merunut muasal suara radio yang sudah berganti melantunkan lagu dangdut lawas. Suara itu jelas berasal dari kamar Uak. Benar. Dan di kamar itu, di atas dipan, di sebelah radio yang terus mengoceh, aku mendapati Uak berbaring miring memeluk lutut, berkemul sarung.
“Uak, kopinya…” kataku. Tapi Uak tak bergeming.
Aku menggoyangkan tubuhnya. Beberapa kali. Dan Uak tetap tak bergerak. Tubuhnya dingin dan sekaku kayu bakar. Aku menghambur menyeru ibu. Lalu silih ibu yang berlarian menyeru para tetangga dengan muka panik. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku mendengar suara sepiker memekik lantang dari bubungan surau. Nama Uak disebut di sepiker sebanyak dua kali. Sebagai si mati. Sebagai si mati. q-c

Malang, 2016
*) Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang