Daftar Blog Saya

Rabu, 12 Juli 2017

Senyum Lastri di Cangkir Kopi


Cerpen Amir Syam (Suara Merdeka, 09 Juli 2017)
Senyum Lastri di Cangkir Kopi ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Senyum Lastri di Cangkir Kopi ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka
Suhari termangu. Kini, di teras rumah ia suka menghabiskan waktu. Sepanjang pagi hingga malam ia bersarung, duduk tafakur dibungkus sepi. Menanti seseorang dari pohon mangga dekat pagar rumah. Sesekali tetangganya yang lewat menyapa. Ada yang berniat basa-basi atau mengajak Suhari ke warung kopi. Namun ia tak terbit selera.
Sudah hampir sebulan senyum di wajah Suhari redup. Pudar dikunyah Lastri, sang istri. Semenjak kepergian Lastri entah ke mana, Suhari seolah-olah tak bergairah lagi hidup. Ia tak lagi ke sawah merawat padi yang siap diketam atau ke ladang untuk mengurus pisang dan ubi kayu.
Dia cerup lamat-lamat rokok kreteknya. Pikirannya terus bertanya, di manakah gerangan Lastri berada. Tatap matanya kosong, melanglang lepas melewati pagar, pucuk daun, membubung di genting tetangga, lalu jauh ke ufuk senja tak bertepi. Sungguh, kasihan Suhari. Raut mukanya menampakkan tulang pipi. Kulitnya menghitam. Kumis dan jenggotnya memutih tak terawat.
“Mengapa ia tega sekali meninggalkanku?” batinnya membuncah.
Dulu, Suhari pekerja keras. Pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke sawah. Pulang selalu dengan perasaan senang disapa Lastri.
“Lihat apa yang Abang bawa, Lastri.”
“Banyak sekali pisang dan singkongnya, Bang. Bisa untuk makan sebulan.”
Ia teringat istrinya. Sontak dia campakkan puntung rokok, lalu berjalan gontai meninggalkan teras. Bayang-bayang Lastri acap menyergapnya. Tak kenal lelah.
Semua bermula saat ia pulang dari sawah siang itu. Entah angin apa yang berembus. Lastri mendadak ingin pulang menemui orang tuanya. Ibunya sakit. Suhari pun mengizinkan. Gugus waktu luruh. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Lastri tak kunjung pulang. Ia lalu berangkat ke kampung Lastri. Betapa terkejut ia setiba di sana.
“Kalau begitu ke mana Lastri pergi? Sudah sebulan lalu ia pamit padaku, katanya ingin menengok Ibu yang sakit.”
Suhari tergeragap. Panik. Bingung. Dia tak mendapati Sulastri. Keluarga Lastri kalang-kabut.
“Apakah kau ada masalah dengan Lastri?” tanya ibu mertuanya.
“Tak ada sedikit pun masalah antara aku dan Lastri, Bu.”
“Lalu ke mana Lastri?”
Seketika air mata ibu mertuanya pecah. Merintih. Tersengut-sengut. Suhari tak bisa menjawab. Ia kalut. Mengapa semua ini menimpanya? Sejak menikah lima tahun lalu, tak pernah ada cekcok luar biasa antara ia dan istrinya. Rukun sentosa. Beribu tanda tanya bergelayut dalam benaknya. Tak mungkin Lastri setega itu? Tak mungkin ia lari dengan selingkuhannya? Apakah ia diculik? Apakah ia pergi bekerja ke luar negeri? Beragam pertanyaan yang tak tentu arah menohok hati dan pikirannya.
Orang-orang kampung penasaran atas kepergian istri Suhari. Sesekali jika ada yang bertanya, ia hanya menjawab istrinya sedang pulang kampung. Namun lama-kelamaan mereka pun tahu Suhari berdusta.
Saban hari ia termenung di teras. Sesekali paras Lastri hadir kala ia menyeruput secangkir kopi. Cangkir itu dibelikan istrinya dulu saat baru menikah. Ah, pikirannya tergiring. Sosok Lastri seolah-olah menghampiri, menyodorkan secangkir kopi terbalut senyum, lalu duduk di sampingnya. Dia mencium kening Lastri. Lalu beranjak meraih cangkul, keranjang serta air minum yang selalu disiapkan Lastri sebelum ia berangkat ke sawah. Suhari rindu masa-masa itu.
“Hati-hati, Bang. Jangan lupa makan siang di rumah. Nanti Lastri buatkan tempe dan sayur asam kesukaan Abang.”
Jika mengenang-ngenang, betapa manis Lastri. Namun ia tak habis pikir, kenapa bisa istrinya yang tak pernah sekalipun dia caci dan pukuli itu pergi meninggalkannya. Ia kembali menangis. Meratap sesenggukan. Tersedu-sedu. Tak mampu lagi ia membendung air mata. Semua tumpah. Susah hati. Kopinya dingin.
***
Genap dua bulan Lastri meninggalkan Suhari. Hening dan kosong. Suhari tampak kurus kering, rambutnya makin lebat. Ia seolah- olah hilang harapan.
“Mengapa kau pergi meninggalkanku? Tak bahagiakah kau denganku? Adakah kata atau sikapku yang salah? Oh, Lastri, tega nian kau pada suamimu ini? Masih ingatkah kau saat-saat kita pergi ke pasar malam dulu? Lupakah kau masa-masa indah kita itu? Tak tahukah kau, rida Tuhan ada pada keridaan suamimu? Oh, Lastri, tak takutkah kau akan dosa atas kedurhakaan pada suami?”
Isi kepalanya berkecamuk.
Suhari memberanikan diri keluar rumah. Ia akan ke kota. Mencari Lastri. Andaikata ia mati di sana, dia ikhlas. Harga dirinya runtuh. Kini, dia tak tahu keberadaan istri yang menjadi tanggung jawabnya.
Dengan tekad kuat, Suhari berangkat ke kota. Pagi-pagi benar ia sudah naik bus selama delapan jam. Setiba di kota, ia bingung hendak memulai dari mana pencarian belahan jiwanya.
Langkahnya terseok-seok mencari Lastri. Sudah beberapa hari ia di kota. Putus asa menghinggapi diri. Lastri tak kunjung ada. Dia pegang foto Lastri kuat-kuat. Dia tunjukkan kepada siapa pun yang dia temui. Tak ada yang tahu. Malah sebagian orang memberikan uang.
Sudah hampir seminggu ia di kota. Tak ada hasil yang merekahkan kalbu. Suhari pasrah. Hidupnya sudah tak berarti lagi.
Oh, Tuhan, maafkan aku tak bisa menjaga amanahmu? Cabut saja nyawaku, Tuhan! Tak ada lagi artinya aku hidup tanpa Lastri.
Suhari mengutuki diri sendiri. Ia takluk di pusaran badai hidup. Kakinya tak mampu lagi melanglang mencari Lastri. Mungkin Lastri sudah mati. “Tak ada gunanya aku mencari di dunia ini. Lebih baik kususul ia ke dunia sana.”
Ia kembali lagi ke desa dengan tangan hampa. Nihil.
Kini dia sudah keukeuh memilih jalan. Bulat utuh. Sempurna. Tak bisa tidak. Mati jadi pilihan terakhir. Kepergian Lastri tak hanya merenggut senyumnya, bahkan akan menjemput nyawanya.
Malam itu, dengan memejamkan mata, sebilah pisau dia arahkan perlahan ke tubuhnya. Mulutnya terkatup. Ia menggerakkan pisau itu tepat ke pusar. Namun suara ketukan di pintu menggagalkan rencananya. Tergopoh-gopoh ia membuka pintu, berharap Lastri datang bak peri penyelamat.
“Ada apa, Sarmin, malam-malam begini kau ke rumahku hah?”
“Maaf, Bang Hari, aku ingin pinjam pacul.”
“Di sana. Kalau sudah kaupakai, taruh saja di tempat semula.” Suhari menunjuk ke samping rumah, menutup pintu, lalu beringsut masuk seperti keong. Lunglai. Pacul itulah yang ia gunakan untuk mengais rezeki. Menafkahi Lastri. Sejurus matanya berkaca-kaca. Malam itu ia terisak hingga pagi.
Mulai malam itu berulang kali ia hendak bunuh diri, tapi tak jadi. Dulu ia ingin bunuh diri di pohon. Gagal karena ada sarang lebah. Kontan ia lari terbirit-birit. Pernah juga ingin melompat dari kios kelontong lantai dua, tapi urung. Ia dipaksa turun oleh petugas keamanan. Pernah juga ia berniat melompat ke sungai. Batal. Baru hendak melompat, dia melihat seekor buaya di seberang. Ada juga rencana menenggak racun, tetapi kandas karena wajah Lastri menyemburat di botol racun. Suatu ketika ia menabrakkan diri di jalan raya. Waktu itu ia ditabrak motor dan hanya luka lebam di kaki dan tangan. Tak jadi mati. Ia mengutuki diri.
Akhirnya Suhari bertemu seorang kakek yang tak dikenal di warung kopi. Ia menyapa Suhari, lalu mereka berkisah. Suhari meluapkan kegundahan hati dan niat bunuh diri yang selalu patah pucuk di tengah jalan. Ia merasa betapa tak berharga. Ia tak layak hidup. Tuhan tak punya belas kasihan padanya.
“Aku paham bagaimana rasanya ditinggal istri, Suhari.” Kakek itu duduk memandangnya lekat-lekat. Sorot matanya berpaut pada Suhari. Suaranya parau. Suhari menyeringai datar, lalu tertegun. Diam. Membisu.
“Tapi hidup harus terus berjalan. Tak tahukah kau betapa murka Tuhan jika kau bunuh diri? Jahanam tempatmu, Suhari. Penderitaan tiada akhir di dunia hingga akhirat.”
Suhari menunduk.
“Tahukah kau betapa berharga dirimu itu?”
Suhari mendongakkan kepala. Hanya menatap sekilas. Lalu menyeruput kopi.
“Maukah kau menjual sepasang bola mata, jantung, hati, ginjal, dan kulitmu kepadaku?”
Suhari tergeragap.
“Akan kubeli semua lima miliar.”
Suhari terbelalak tak habis pikir. Kakek itu pun bercerita, saat ini sedang merebak kasus bunuh diri, penculikan anak, penjualan organ tubuh, hingga kasus korupsi. Tak lama lelaki tua itu pun pamit.
Suhari tertegun sembari memandangi punggung kakek itu yang bergerak menjauh. Lamat-lamat, makin jauh, lalu sirna bersama kesiur angin. Telunjuk Suhari mengitari bibir cangkir kopi. Ada senyum Lastri terukir di sana. Suhari pulang. (44)

Korea, 21 Maret 2017
Amir Syam adalah nama pena Amir Tjolleng. Pria kelahiran Manado, 12 Januari 1992, ini sedang menempuh studi S-3 di Jurusan Teknik Industri Universitas Ulsan, Korea Selatan.

Perilaku Aneh Paman Go

Cernak Sulistiyo Suparno (Suara Merdeka, 09 Juli 2017)
Perilaku Aneh Paman Go ilustrasi Suara Merdeka
Perilaku Aneh Paman Go ilustrasi Suara Merdeka
Paman Go dari Negeri Tiongkok bertubuh pendek dan gemuk. Rumahnya mungil di tengah kebun apel. Paman Go pandai bermain sandiwara.
Ia sering berperan sebagai seorang kakek. Konon, suatu hari ketika sedang menjual apel ke kota, Paman Go menonton pementasan sandiwara. Paman Go menemui ketua rombongan sandiwara itu dan menyatakan ingin ikut bermain sandiwara. Setelah itu Paman Go sering bermain sandiwara bersama grup tersebut. Tetapi, beberapa bulan ini Paman Go tidak mendapat panggilan untuk bermain sandiwara.
Paman Go sering berdiri di depan pintu rumah, menanti seseorang membawa undangan bermain sandiwara. Paman Go lelah menanti, wajahnya murung. Beberapa tetangga sering bertanya kapan Paman Go akan bermain sandiwara lagi. Mereka senang menonton Paman Go berperan sebagai kakek di panggung. Paman Go menggeleng menjawab pertanyaan mereka.
“Jangan kalian tanyakan itu lagi, atau kalian akan melihatku bertingkah aneh,” kata Paman Go kepada para tetangga yang bertanya padanya.
Suatu hari seorang tetangga melihat Paman Go bertingkah seperti anak kecil. Paman Go berbicara pada pohon apel dengan suara yang kecil seperti suara anak berusia 10 tahun.
“Aku melihat hal aneh pada Paman Go. Ia bertingkah seperti anak kecil, melonjak-lonjak seperti seorang anak mendapatkan permen dari ibunya,” kata Re, seorang pemuda tetangga Paman Go.
“Paman Go lama tidak bermain sandiwara. Itu sangat mengganggu pikirannya. Apakah Paman Go telah menjadi gila?” sahut pemuda Ma, tetangga lainnya.
“Kasihan Paman Go. Kita harus menghiburnya,” kata Re.
Re dan Ma segera berkunjung ke rumah Paman Go. Dua pemuda itu ingin menghibur Paman Go. Setidaknya mereka akan mengobrol dengan Paman Go. Siapa tahu dengan mengobrol, beban pikiran Paman Go bisa berkurang.
“Selamat sore, Paman Go,” sapa Re dan Ma bersamaan.
Paman Go yang sedang berdiri menghadap pohon apel, segera menoleh dan berkacak pinggang.
“Kalian rupanya. Mengapa kalian datang lagi? Pergilah, aku tak akan menjual kebun apelku pada kalian. Pergi!” kata Paman Go membentak.
Re dan Ma bergegas pergi. “Paman Go sudah gila,” kata Re.
“Kasihan Paman Go,” sahut Ma.
***
Suatu hari, kampung mereka kedatangan rombongan sandiwara. Mereka akan mementaskan sandiwara berjudul “Seorang Kakek dan Kebun Apel”. Orang-orang datang untuk menonton.
“Apa Paman Go datang menonton?” tanya Ma.
“Entahlah. Kukira, orang gila tak akan menonton sandiwara,” sahut Re lalu tertawa.
Pementasan pun dimulai. Sandiwara malam itu berkisah tentang seorang kakek yang gigih mempertahankan kebun apelnya yang akan dibeli oleh raja yang serakah. Di panggung tampak seorang pemain bertubuh pendek, gemuk, dan berhidung besar berperan sebagai si kakek. Si kakek sedang bermain dengan tiga orang cucunya. Si kakek melonjak- lonjak menghibur ketiga cucunya.
“Sepertinya aku pernah melihat gerakan kakek melonjak-lonjak itu. Tapi di mana, ya?” kata Re.
“Mungkin dalam mimpimu,” sahut Ma tersenyum.
Adegan demi adegan terus berlalu. Tibalah adegan dua prajurit kerajaan datang menemui si kakek. Si kakek tampak berkacak pinggang dan mata melotot, lalu berkata lantang, “Kalian rupanya. Mengapa kalian datang lagi? Pergilah, aku tak akan menjual kebun apelku pada kalian. Pergi!”
Di kursi penonton, Re dan Ma terkejut.
“Sepertinya aku pernah mendengar ucapan si kakek itu. Tapi di mana, ya?” kata Re.
“Kau benar. Aku pun seperti pernah mendengarnya,” sahut Ma.
Pementasan telah usai. Semua pemain berkumpul di panggung, lalu bersama-sama mereka membungkukkan badan pada penonton. Pemeran kakek melepas rambut palsu dan hidung palsunya.
“Aha!” seru Re dan Ma bersamaan.
Re dan Ma bergegas ke belakang panggung. Di sana mereka bertemu dengan Paman Go.
“Paman Go luar biasa,” kata Re.
“Paman Go pemain sandiwara yang hebat,” sahut Ma.
Paman Go tersenyum.
“Terima kasih,” kata Paman Go. “Aku minta maaf pada kalian karena telah membentak kalian tempo hari. Saat itu aku sedang latihan peran untuk pentas malam ini.”
“Kami juga minta maaf, Paman Go,” sahut Re. “Kami sempat mengira Paman Go telah gila.”
“Benar, Paman Go,” kata Ma menimpali.
“Maukah Paman Go memaafkan kami?”
“Tentu saja,” jawab Paman Go.
“Memaafkan merupakan hal yang bisa membuat hidup kita bahagia. Bukankah begitu, Kawan?”
Paman Go merangkul Re dan Ma. Mereka tertawa penuh keakraban. (58)

Awas: Fitnah!


Oleh Setta SS (Eramuslim, 16 Januari 2007)
Awas Fitnah iluistrasi google
Awas Fitnah iluistrasi http://www.google.com
SAYA tersentak kaget ketika bangun dini hari dan menemukan sebuah SMS nyangkut di hp saya, yang berbunyi:
“Ya Allah, beritahukanlah pada orang yang bernama… (nama saya yang penulisannya salah), bahwa tidak baik bersikap seolah belum bersuami kepada wanita yang telah bersuami. Apakah menurutnya itu baik?”
Dari nama pengirim yang tertera di inbox, saya langsung bisa menebak dari siapa SMS bernada menuduh itu berasal. Tapi saya membutuhkan waktu cukup lama untuk mengingat kembali tentang apa gerangan yang telah saya lakukan pada istri dari laki-laki yang mengirimi saya SMS itu sebelum membalasnya. Sungguh, saya tidak pernah menyangka akan mendapat SMS yang membuat denyut jantung saya langsung bertambah begitu cepat dalam beberapa detik saja.
Reflek, otak saya memutar ulang memori yang telah lalu. Semua hal yang berhubungan dengan wanita yang suaminya barusan mengirim SMS itu.
Sekitar tiga bulan sebelumnya, tepatnya di pertengahan bulan Ramadhan, seseorang yang tidak saya kenal memanggil ke hp saya saat waktu sahur tiba. Saya telepon balik ke nomor itu, tetapi tidak diangkat. Sepulang dari jamaah Shubuh di masjid, saya dapati sebuah SMS masuk ke hp saya dari nomor yang sama. Berisi permohonan maaf karena dia mengaku salah panggil ke nomor saya. Saya pun memaklumi kealfaanya itu. Mungkin nomor yang akan dihubunginya hanya berbeda satu angka saja dengan nomor saya.
Tetapi, SMS pertama itu ternyata terus berlanjut dengan SMS-SMS berikutnya. Mulai dari sekadar say hello, tanya seputar fikih Ramadhan, dan… curhat masalah pribadi. Hingga pada akhirnya, saya tidak hanya tahu siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya, tetapi juga hal-hal pribadi tentang dirinya. Ia sudah menikah dan suaminya bekerja di pelayaran yang jarang sekali pulang. Karena suaminya sibuk dengan pekerjaannya, awalnya ia curhat pada kakak laki-lakinya. Namun, karena kakak lelakinya juga mulai sibuk, ia mencari orang lain untuk berbagi. Ia juga mengakui bahwa ia mengetahui nomer hp saya dari teman akrabnya yang kebetulan menyimpannya.
Dan, saya pun membalas hampir semua SMS darinya meskipun tanpa ada tendensi apa-apa. Hanya untuk menghargainya. Hal inilah yang di kemudian hari, setelah saya renungkan dengan pikiran jernih, saya sadari sepenuhnya sebagai letak kesalahan saya yang sesungguhnya.
***
Suatu hari di penghujung November 2005, sebuah SMS darinya masuk ke hp saya. Ia mengabarkan akan berangkat ke Surabaya untuk bertemu dengan sang suami yang kapalnya akan berlabuh di Tanjung Perak.
Setelah itu, ia masih mengirim SMS dua kali, pada awal Desember dan tepat tiga hari menjelang pergantian tahun. Saat itu, ia menulis sedang berada di Bau-bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, ikut berlayar bersama suaminya. Saya masih ingat, saya hanya mengetikkan kalimat, “Selamat melihat tanda-tanda kebesaran Allah di belahan bumi-Nya,” setelah menjawab pertanyaan say hello-nya.
Terakhir kali saya mendapat SMS darinya berupa ucapan selamat hari raya ‘Idul Adha, yang kemudian hanya saya balas dengan kata, “Amin.” Hingga sampailah SMS yang melonjakkan denyut jantung saya dua kali lipat dalam sekejap itu.
Setelah membaca kembali beberapa kali SMS dari suaminya dan berusaha menenangkan pikiran, saya pun membalas SMS itu. Saya mengucapkan terima kasih atas SMS-nya yang—bagaimana pun, telah mengingatkan saya. Saya juga mengklarifikasi tuduhannya dengan menjelaskan apa adanya.
Bahwa sejak pertengahan Ramadhan, istrinya beberapa kali mengirim SMS pada saya menanyakan seputar hukum shalat Tarawih dan itikaf, yang saya jawab dengan posisi balligh ‘annii walau aayah (sampaikan dariku walau hanya satu ayat). Tidak lebih.
Beberapa jam kemudian, kembali hp saya berdering. Sebuah balasan dari nomer yang sama. Tapi kali ini isi pesannya berbeda. Ia menulis:
“Saya yang salah. Sebagai suami mungkin selama ini jarang memperhatikan istri karena pekerjaan. Maaf beribu-ribu maaf karena telah salah paham. Sudikah kiranya Saudara memaafkan saya?
Alhamdulillah, masalah ini sudah tuntas.
Namun, ada satu hal yang sangat membekas pada diri saya setelahnya. Di waktu yang akan datang, saya harus lebih berhati-hati dalam berhubungan dengan orang lain, siapa pun dia. Karena saya yakin, seperti kata pepatah, tak akan ada api jika tidak ada yang menyulutnya. Tak akan muncul suatu masalah jika tak ada yang memulainya. Dan, hal itu bisa saja berawal dari sekadar mengirim SMS pada orang lain yang bahkan mungkin sangat kita kenal.
Hati-hati! (*)

Keimanan per Kapita


Oleh Setta SS (Eramuslim, 31 Agustus 2011)
Keimanan per Kapita ilustrasi google
Keimanan per Kapita ilustrasi http://www.google.com
I
ADALAH Da’tsur, seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Jabir r.a., seorang Arab badui. Sekembali Rasulullah Saw. dari perang Dzatir Riqa’, beliau berhenti di sebuah hutan yang banyak pohon durinya, berteduh di bawah pohon. Datanglah Da’tsur, menghunus pedangnya di hadapan Rasulullah Saw.
“Hai, Muhammad, siapakah yang akan menolongmu dari (tebasan) pedangku ini?”
“Allah!”
Seketika Da’tsur gentar dan gemetaran. Dan pedangnya terjatuh.
Rasulullah Saw. mengambil pedang Da’tsur dan balik mengacungkan pedang itu ke lehernya.
“Sekarang siapa yang akan menyelamatkan nyawamu dari sabetan mata pedang ini?”
II
UMAR bin Khattab berkisah. Saat berkecamuk perang Tabuk, Rasulullah Saw. memerintahkan kami untuk mendermakan harta. Kebetulan aku memiliki harta, dan aku bertekad untuk bisa melampaui kedermawanan Abu Bakar. Maka, aku datang kepada Rasulullah Saw. untuk menginfakkan separuh dari harta milikku.
“Apakah engkau menyisakan harta untuk keluargamu?”
“Ya, wahai Nabi Allah.”
Tidak lama berselang. Abu Bakar datang membawa hartanya.
“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”
“Aku hanya sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka,” jawab Abu Bakar.
III
DARI Madinah menuju Mekah, pada suatu hari, Abdullah bin Dinar dan Khalifah Umar bin Khattab. Di salah satu jalan, keduanya berhenti untuk istirahat. Di kejauhan, tampak seorang pemuda penggembala kambing turun dari gunung mengiringi kambing-kambingnya yang banyak.
“Wahai penggembala, juallah kepadaku seekor kambing dari gembalaanmu itu,” bujuk Khalifah Umar, mengujinya, setelah jarak mereka dekat.
“Kambing-kambing ini bukan milikku, namun milik majikanku.”
“Tidak akan tahu tuanmu jika hanya hilang satu ekor. Katakan saja pada majikanmu bahwa kambingnya dimakan serigala!”
Pemuda gembala itu diam. Lama. Lalu bertanya tegas, “Kalau begitu, di manakah Allah?”
IV
SENIN malam, 22 Agustus 2011. Bapak teman sekamar saya di kamar nomer 3003 sebuah hotel di Jalan Gajah Mada, Semarang, berpamitan hendak ke tempat saudaranya dan bermalam di rumahnya. Sendirianlah saya.
Di kamar luas itu, tersedia fasilitas sambungan internet full 86.400 detik per hari dengan kecepatan akses 100 MB per second dan TV kabel aneka channel dari dalam dan luar negeri. Lengkaplah sudah. Saya sejatinya bebas menekan tombol channel TV mana pun yang sedang menayangkan acara apa pun yang saya kehendaki. Atau mengakses situs internet apa pun yang saya maui dengan laptop yang saya bawa. Sebuah pilihan kebebasan perilaku dalam kesendirian?
V
MAKA, buah ranum pesantren Ramadhan tak lain adalah saripati ketiga kilasan kisah dahsyat pertama di atas. Kontinuitas dzikrullah, pengorbanan tanpa batas, dan al-ihsan—kau menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya, dan jika kau tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka kau membayangkan bahwa Allah selalu melihat setiap gerak-gerikmu.
Semoga, pasca Ramadhan kali ini, terjadi kenaikan signifikan tingkat keimanan per kapita di sekitar kita. Amin. (*)

Selasa, 11 Juli 2017

Mata Merindu

Cerpen Irwan Kelana (Republika, 09 Juli 2017)
Mata Merindu ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Mata Merindu ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Pesawat Citilink yang aku naiki bersama dengan anakku, Khalid, mendarat mulus di Bandara Lombok Praya. Aku melirik jam tangan. Pukul 09.05 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Pesawat tiba tepat waktu. Pesawat berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta pukul 05.45. Ada perbedaan waktu satu jam.
Inilah untuk pertama kalinya dalam setahun ini aku keluar kota. Sejak istriku, Rindu Ramadhan, meninggal setahun lalu, tepat pada malam Nuzulul Quran 17 Ramadhan, aku tak pernah mau menerima undangan ceramah ke luar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Aku pun hanya menerima undangan ceramah siang hari.
Aku tak ingin meninggalkan Khalid, anakku satu-satunya yang baru berusia lima tahun, sendirian di rumah pada malam hari. Ia baru saja kehilangan ibu yang dicintainya, seorang Muslimah yang salehah, adik kelasku di Al Azhar.
Kalau pada akhirnya aku memutuskan mau datang ke Lombok karena info dari Mansur, wartawan Republika yang juga sama-sama aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Aku di Komisi Fatwa, sedangkan Mansur di Komisi Budaya bersama dengan sastrawan yang juga sama-sama alumnus Al Azhar, Mesir. Seperti Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy, Mansur juga alumnus Al Azhar yang memilih sastra sebagai medan dakwah.
“Kang, Tuan Guru yang meminta Akang untuk mengisi ceramah Ramadhan di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center NTB, Mataram. Ini merupakan rangkaian acara Pesona Khazanah Ramadhan 1438 yang diadakan sebulan penuh. Event yang baru pertama kali diadakan di NTB, bahkan di Indonesia ini merupakan kerja sama Pemda NTB dengan Harian Republika.
Pemda NTB mengundang empat imam besar dari Suriah, Lebanon, Maroko, dan Mesir. Masing-masing bertugas selama satu minggu. Kegiatan keempat imam besar ini yaitu mengimami shalat serta memimpin tadarus dan doa pada malam Ramadhan. Juga memberikan kuliah Ramadhan bakda shalat Zhuhur.
Selain itu, Pemprov NTB juga mengadakan sebanyak 28 kegiatan lainnya seperti festival kuliner, pameran buku, ekonomi kreatif, diskusi panel Rembuk Republik, meet and greet dengan penulis, hijab tutorial, serta ceramah Ramadhan, ceramah Zhuhur, ceramah Nuzulul Quran, dan tausiyah zikir.
Tuan Guru ingin sekali Kang Fajar mengisi ceramah Ramadhan yang diadakan bakda shalat Isya, menjelang shalat Tarawih,” kata Mansur saat menemui aku pekan lalu di kantor MUI.
Tuan Guru yang dimaksudkan oleh Mansur adalah Tuan Guru Bajang (TGB), gubernur NTB saat ini. Nama aslinya adalah Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Zainul Majdi. Ia boleh dikatakan satu-satunya gubernur yang merupakan doktor tafsir lulusan Al Azhar, hafiz Alquran.
Aku adik kelasnya tujuh tahun di Al Azhar. Namun, aku masih sempat beberapa kali bertemu dengannya. Hal yang paling mengesankan, dan juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak mahasiswa Indonesia di Mesir, adalah ketika Zainul Majdi berhasil menyelesaikan disertasi dan ujian doktoralnya di Al Azhar di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai gubernur NTB. Sempat aku dengar informasi, Zainul Majdi menyelesaikan disertasinya itu selama dua tahun, 2009-2011. Tiap malam ia mengerjakan disertai tersebut dari pukul satu malam sampai menjelang Subuh. Luar biasa. Aku menyusul diwisuda sebagai doktor tafsir tiga tahun kemudian.
“Baiklah,” kataku kepada Mansur, “Tapi aku ambil yang hari Sabtu malam Ahad. Pulang hari Senin pagi. Tapi aku mengajak Khalid, boleh?”
“Siap, Kang. Tuan Guru pasti senang. Kalau Akang pulang Senin pagi, Akang bisa ceramah Ramadhan pada malam Ahad dan kuliah Zhuhur pada hari Ahad. Ajak Khalid, Kang. Semoga perjalanan ini jadi obat bagi hatinya,” kata Mansur.
***
Ketika aku dan Khalid berjalan menuju pintu keluar bandara, Mansur sudah menunggu.
“Assalamualaikum, Kang Fajar dan Khalid. Selamat datang di Lombok. Bumi Seribu Masjid. Kenalkan ini Eki, sopir yang akan mengantar dan melayani Kang Fajar dan Khalid selama berada di Lombok,” ujar Mansur.
“Assalamualaikum, Ustaz,” kata Eki seraya mencium tanganku.
Kami naik Innova seri terbaru yang sudah diparkir di depan gerbang keluar bandara.
“Terima kasih lho, Kang, sudah berkenan hadir memenuhi undangan Tuan Guru,” kata Mansur.
“Terus terang, saya juga kangen kepada Tuan Guru. Makanya saya datang,” sahutku.
“Kang, biasanya para tamu atau pembicara menginap di Hotel Santika. Akang pun kami pesankan kamar di sana,” kata Mansur.
Antum menginap di mana?”
“Saya dan teman-teman Republika menginap di Fave Hotel. Letaknya dekat dengan Islamic Center. Hanya sekitar 100 meter. Jadi, bisa jalan kaki dari hotel ke Islamic Center.”
“Boleh tidak kalau saya pindah ke Fave Hotel? Supaya lebih dekat dengan Islamic Center?”
“Oh, bisa, Kang. Sebentar saya koordinasikan dengan rekan saya, Indra.”
Mansur kemudian menelepon rekannya. Tak lama kemudian dia berkata, “Beres, Kang.”
“Mas Eki, kita langsung ke Fave Hotel ya,” kata Mansur.
Perjalanan dari bandara ke Kota Mataram lancar. Lombok boleh dikatakan tidak kenal macet seperti halnya ibu kota Jakarta. Namun, yang membuat aku selalu kagum dengan Lombok adalah masjid bertebaran di berbagai tempat. Ke manapun kita memandang, mata kita akan melihat masjid. Masjid-masjid yang indah, dengan bentuk kubah dan menara mirip Masjid Nabawi.
Sore hari Mansur mengajak aku dan Khalid ke Islamic Center. Selesai shalat Ashar berjamaah, dia mengajak aku keliling Masjid Hubbul Wathan tersebut.
“Islamic Center dan Masjid Hubbul Wathan yang ada di dalamya pertama kali di gunakan pada MTQ Nasional ke-26 yang diadakan di Lombok, pada 2016,” kata Mansur.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah poster raksasa. Isinya tentang talk show hijab dan kosmetik halal bersama Presiden Direktur Wardah Cosmetics Nurhayati Subakat. Acara tersebut akan digelar Ahad sore.
Yang membuatku terkejut adalah di situ ditulis nama moderatornya adalah Ziza Almeyda. Dia adalah staf di kantor MUI Pusat. Di baliho itu ada foto Nurhayati Subakat, ada pula foto Ziza.
“Mansur, besok Ziza jadi moderator?” tanyaku tidak senang.
“Iyyya, Kang,” jawab Mansur agak gugup.
“Apa maksudmu? Engkau hendak mengejek saya ya? Setelah engkau melamar Ziza, sekarang engkau ingin menunjukkan Ziza kepada saya? Begitu?”
“Bukan begitu, Kang. Jangan marah dulu,” Mansur berupaya meredam amarahku.
Aku menarik napas panjang. “Ya, apa hakku marah kepadamu? Bukankah aku yang selama ini beberapa kali menyuruh engkau untuk mengkhitbah Ziza? Usianya sudah 30 tahun. Dia wanita yang salehah. Namun, sampai sekarang belum menikah. Selamat, Mansur. Engkau sungguh lelaki yang beruntung mendapatkan wanita sebaik Ziza,” kataku dengan suara getir.
“Terima kasih, Kang. Ziza datang besok pagi. Mohon izin, nanti saya pertemukan Ziza dengan Akang ya.”
“Ya, silakan.”
***
Sepanjang sore dan malam itu aku kepikiran Ziza terus. Ziza yang lembut. Ziza yang busananya selalu modis dan syar’i. Dia sangat pandai memadukan atasan, bawahan, dan kerudungnya. Apalagi kalau dia mengenakan overcoat warna hijau lumut atau sweter warna putih susu. Tak heran kalau dia menjadi salah seorang tokoh hijabers di Ibu Kota.
Terus terang, sejak Rindu meninggal dunia, aku menghindari untuk bertemu dan berbincang dengan dia. Kecuali kalau terpaksa dan terkait urusan dinas. Entah mengapa, setiap kali aku berbicara dengannya, dia langsung menundukkan wajahnya yang teduh.
Dia hanya berkata seperlunya.
Keesokan hari, Mansur mengajak aku, Khalid dan Ziza naik Menara 99. “Menara 99 atau Minaret merupakan menara tertinggi dari lima menara yang ada di Islamic Center. Sekaligus menjadi bangunan tertinggi di Kota Mataram. Sesuai namanya, menara ini setinggi 99 meter, sebagai perlambang Asma’ al-Husna atau 99 nama indah Allah SWT. Dari Menara 99 ini kita bisa memandang Kota Mataram dari ketinggian, baik saat siang maupun malam hari,” Mansur menerangkan.
Kami naik lift diantar petugas Menara 99. Ziza mengenakan setelan jilbab warna biru tua. Dia kelihatan sangat anggun. Apalagi postur tubuhnya tinggi semampai. Hidungnya bangir, mirip gadis-gadis Mesir. Berada di dalam lift, baru sekali ini aku berdiri begitu dekat dengan Ziza.
Tanpa sengaja aku dan Ziza beradu pandangan. Ia langsung menunduk, aku pun langsung menunduk.
Sampai di puncak tertinggi, kami keluar dari lift. Benar kata Mansur, dari puncak Menara 99 itu kita bisa memandang Kota Mataram yang dihiasi dengan taburan masjid di berbagai titik. Begitu indah.
“Kang Fajar, bolehkah saya mengatakan sesuatu tentang Ziza?”
“Apa, Mansur?”
“Sesuai saran Akang kepada saya untuk mengkhitbah Ziza, seminggu menjelang Ramadhan, saya bersama adik perempuan saya, Maryam, mengantar Ziza ke rumah orang tuanya di Cirebon.”
“Selamat ya, Mansur, dan Ziza,” kataku perlahan.
“Kang, sepanjang jalan aku banyak bertanya kepada Ziza tentang hubungan dia dengan keluarga Akang. Dia mengatakan bahwa dia sangat dekat dengan istri Akang, Teh Rindu. Bahkan dia mengatakan, bahwa Teh Rindu adalah tempatnya berbagi duka, terutama mengenai masalah jodohnya yang belum juga Allah berikan. Bagi Ziza, Teh Rindu bagaikan kakak yang sangat perhatian kepadanya. Teh Rindu banyak memberikan nasihat kepadanya agar sabar.
Lalu, aku tanyakan kepada Ziza, bagaimana kalau Ziza menikah dengan Ustaz Fajar? Mula-mula ia terkejut, dan berpura-pura menolak. Tapi aku katakan kepadanya, jangan pernah menolak seorang laki-laki saleh yang datang kepadamu untuk menawarkan pernikahan.
Aku pun bertanya kepadanya apakah dia menyimpan perasaan cinta kepada Akang? Dia menjawab dengan anggukan kepala kemudian menunduk. Maka aku katakan kepadanya, “Baiklah, Ziza. Saya mengantar Ziza ke Cirebon untuk meminta izin orang tua Ziza, bahwa saya akan mengkhitbahkan Ziza untuk Ustaz Fajar.”
“Apakah Ziza mau?” spontan aku bertanya.
Ziza tidak langsung menjawab. Hanya butiran air mata yang meleleh di pipinya ketika itu. Kemudian dia mengangguk.
“Kang Fajar, inilah usaha saya sebagai seorang sahabat untuk Akang. Semoga Akang dan Ziza memang digariskan Tuhan untuk memintal kehidupan penuh cinta, kasih dan, sayang dalam sebuah biduk bernama rumah tangga.”
***
Aku menatap Ziza.
“Ziza,” panggilku lembut.
“Ya, Ustaz.”
“Afwan, bolehkah saya meminta kamu memanggil saya, Kak Fajar?”
“Iyyyyaaa, Kak.”
Aku menggenggam tangan Khalid. Ziza, di hadapanmu ini ada seorang duda beranak satu. Dia bukan orang kaya. Dia hanya orang biasa. Tapi dia punya cita-cita besar membina keluarga yang takwa, mencetak para penghafal Alquran dan imam besar Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan masjid-masjid raya di berbagai belahan dunia. Maukah engkau mendampingi dan menemaninya mewujudkan cita-citanya itu?”
“Saya bersedia, Kak. Terima kasih Kak Fajar memilih saya untuk menjadi ibu bagi generasi Muslim yang hebat itu. Maafkan saya, saya mungkin tidak sebaik Teh Rindu,” tuturnya lembut.
“Saya yang berterima kasih kepadamu, Ziza. Engkau mau menerima saya apa adanya. Semoga Allah selalu memuliakan Ziza di dunia dan akhirat.”
Ziza dan Khalid asyik melihat-lihat dan memilih buku bacaan di tempat pameran buku. Aku menarik Mansur ke tempat pameran pedang Rasulullah yang berada di sebelah tempat pameran buku.
“Mengapa akhirnya engkau memutuskan untuk menjodohkan aku dengan Ziza?”
“Aku melihat mata Kang Fajar dan mata Ziza.”
“Ada apa dengan mata kami?”
“Setiap kali aku melihat Kang Fajar berbicara dengan Ziza, aku melihat mata Akang selalu gelisah. Begitu pula mata Ziza selalu gelisah. Akang dan Ziza kalau bicara hanya satu atau dua kalimat, namun aku menangkap bahasa tubuh dan sorot mata kalian berdua.”
“Terus?” aku jadi penasaran.
“Mata itu adalah mata yang merindu. Akang dan Ziza sesungguhnya saling mencintai, meskipun Akang tak pernah berterus terang kepada Ziza maupun sebaliknya. Tapi sorot mata Akang dan Ziza sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mengerti bahwa kalian saling mencintai.”
“Sok tahu kamu akh,” kataku pura-pura kesal.
“Aku kan novelis, Kang. Aku paham banget bahasa tubuh dan sorot mata seseorang.”
“Terus terang, aku ingin jawaban yang jujur, apakah kamu sama sekali memang tidak berminat kepada Ziza?”
“Tentu saja aku sangat ingin punya istri seperti Ziza. Laki-laki mana yang menolak mendapatkan jodoh wanita yang salehah, cantik dan lembut seperti Ziza? Tapi aku merasa sangat berdosa kalau aku mengkhitbah Ziza, sedangkan batinku mengatakan bahwa Akang dan Ziza saling mencintai? Biarlah untukku, Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang lain, yang semoga salehah juga seperti Ziza.”

Lombok, Ramadhan 1438 H.
IRWAN KELANA, cerpenis, novelis, dan wartawan Republika.

RASA

Bagaimana mungkin aku bertahan dengan rasa.
Sedangkan disana, kau sudah melupa.

Hati yang pernah kau hujani kecewa.
Hati yang pernah kau beri lara.

Masihkah pantas aku bertahan dengan rasa?

Sudahlah.

Aku hanya tak ingin kembali terluka.

Ku pasrahkan semua rasa yang pernah ada kepada Sang Kuasa.
Biarkan DIA yang memainkan skenarioNya.

Aku yakin DIA lah sebaik-baiknya perencana.

Terima kasih sudah melupa.
Pastikan disana kau baik-baik saja.

Dariku,
Hati yang pernah kau beri janji.
Namun tak kau tepati.

Dariku,
Hati yang pernah kau bawa terbang tinggi sampai ke awan.
Namun pada akhirnya kau hempaskan.

Terima kasih sudah melupa.
Dan akan aku pastikan, disini aku baik-baik saja.

Dan benar.

Bagaimana mungkin aku bertahan dengan rasa.
Sedangkan disana, kau sudah melupa.

Untuk Hati yang (Sebenarnya) Hampir Hancur.

Bersabarlah.
Kau masih punya sisa tenaga untuk bangkit.
Bukan untuk sekedar kembali menunggu,
Tapi bangkit lalu berjalan pergi untuk kembali melanjutkan hidup.

Meski tidak lagi dengan hari-hari yg kau harapkan.
Percayalah, kau akan bahagia saat sudah mampu merelakan.
Hidup hanya akan terus berlanjut saat kau mau belajar ikhlas. .

Meski hatimu menangis dan meraung tak karuan.
Cobalah untuk sedikit lebh keras mendidik hati.
Agar hatimu tak terlalu cengeng hanya karena sedikit tergores. .

Bukankah hari-harimu sudah memberikan banyak pelajaran.
Bukankah hatimu sudah cukup sakit berkali-kali.
Bukankah selama ini sudah cukup pecahan yg melukai hatimu.

Mau sampai kapan?
Apa tak cukup pelajaran yg slma ini kau terima?
Apa hatimu belum cukup retak?
Apa menunggu hatimu hancur hingga tak mampu disatukan?

Ayolah.
Cukup Allah beri sedikit teguran kepadamu.
Jangan sampai Dia marah dengan harapanmu yg terlalu besar hanya untuk seorang makhluk yg tak ada apa-apanya dimata-Nya.

Kau memiliki Tuhan yg punya segalanya.
Kau hanya perlu sedikit lebih dekat dengan-Nya. Berharap hanya pada-Nya. Dan berserah diri pada-Nya.

Lepaskanlah.
Dan lihat keajaiban yg sebentar lagi datang menyembuhkan lukamu.