Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Bersabarlah. Kau masih punya sisa tenaga untuk bangkit. Bukan untuk sekedar kembali menunggu, Tapi bangkit lalu berjalan pergi untuk kembali melanjutkan hidup.
Meski tidak lagi dengan hari-hari yg kau harapkan. Percayalah, kau akan bahagia saat sudah mampu merelakan. Hidup hanya akan terus berlanjut saat kau mau belajar ikhlas. .
Meski hatimu menangis dan meraung tak karuan. Cobalah untuk sedikit lebh keras mendidik hati. Agar hatimu tak terlalu cengeng hanya karena sedikit tergores. .
Bukankah hari-harimu sudah memberikan banyak pelajaran. Bukankah hatimu sudah cukup sakit berkali-kali. Bukankah selama ini sudah cukup pecahan yg melukai hatimu.
Mau sampai kapan? Apa tak cukup pelajaran yg slma ini kau terima? Apa hatimu belum cukup retak? Apa menunggu hatimu hancur hingga tak mampu disatukan?
Ayolah. Cukup Allah beri sedikit teguran kepadamu. Jangan sampai Dia marah dengan harapanmu yg terlalu besar hanya untuk seorang makhluk yg tak ada apa-apanya dimata-Nya.
Kau memiliki Tuhan yg punya segalanya. Kau hanya perlu sedikit lebih dekat dengan-Nya. Berharap hanya pada-Nya. Dan berserah diri pada-Nya.
Lepaskanlah. Dan lihat keajaiban yg sebentar lagi datang menyembuhkan lukamu.
Cerpen Wisnu Sumarwan (Kompas, 02 Juli 2017) Perihal Tanda-tanda ilustrasi Ledek Sukadi/Kompas
Aku selalu penasaran bagaimana nenekku bisa selalu benar tatkala
menduga bahwa kematian akan datang pada suatu malam, pagi, siang, petang
atau dini hari.
Pertama kali aku mengetahui bakat semacam itu adalah saat nenek
berkata bahwa seorang yang dekat tapi jauh akan pergi bersama
orang-orang asing yang tak diketahui selain nama mereka. Pamanku yang
termuda mengatakan bahwa seluruh orang dekat kami berkumpul dekat-dekat
saja, tiada yang jauh, jadi tidak akan ada orang mati. Empat bulan
kemudian paman termuda itu mati saat kapal laut yang ditumpanginya
menuju perairan Filipina lenyap ditelan badai. Ia baru bekerja sebagai
seorang mualim kapal ikan. Kami semua sudah lupa bahwa nenek pernah
mengatakan tentang itu sebelumnya.
Berikutnya, enam bulan sebelum kakek meninggal, nenek berkata bahwa
akan ada pergantian kapten kapal karena kapten yang lama harus segera
berpindah kapal, burung-burung akan mengiringinya. Lagi-lagi, tiada satu
pun anggota keluarga kami yang bekerja di kapal selain paman termuda
yang telah meninggal lebih dulu dan dia bukan kapten. Ternyata, benar
terjadi pergantian kapten dalam bentuk seumpama. Saat lebaran, kapal
besar keluarga kami tak lagi berkumpul di rumah kakekku sebagai tetua
yang tertua dan ganti berkumpul di rumah adiknya yang sejak itu jadi
orang tertua di keluarga sepeninggal kakek. Lagi-lagi, kakek meninggal
saat kami sudah lupa bahwa nenek pernah berkata sesuatu tentang itu.
Kakek meninggal ketika membeli makanan burung di seberang pasar. Kami
bilang ia meninggal dalam damai, yang lain bilang kalau kakek meninggal
begitu saja tanpa tanda-tanda.
“Kehidupan adalah menanak nasi,” ucap nenek saat upacara kematian
ibuku sedang berlangsung, “tak tercium wanginya sampai sesaat menjelang
harus diangkat, bau kematian adalah nasi yang hampir tanak.”
Kematian di sini memang selalu wangi, penuh bunga-bunga dan cacahan
daun pandan yang ditebarkan dalam peti atau keranda. Mungkin, untuk
menutupi bau mayat yang bisa mengungkit kesedihan. Atau, supaya kematian
tidak cuma berwarna hitam.
Aku berusaha mengingat kata-kata nenek seperti kamus mengingat lema,
namun tetap saja di saat-saat terakhir selalu saja terlupa sampai ada
seorang kerabat yang meninggal. Mungkin, karena otak tak sudi
mengingat-ingat kematian. Lalu aku ingat bahwa nasi yang sedang dimasak
sudah mulai tanak, baunya bisa tercium, terasa segar dan baru. Seperti
inikah bau kematian? Nenek hanya mengernyitkan bibirnya sambil
mengangkat dandang dari atas tungku kayu kemudian memindahkan nasi
setengah matang ke dalam kukusan bambu untuk sekali lagi dimasak dengan
cara diuapkan di atas air panas yang menggelegak. Wanginya menyebar.
“Sudah, nenek tak usahlah repot di dapur,” ujar seorang kerabat, “biar kami saja yang mengurus makanan.”
Namun nenek berkeras untuk tetap berada di pawon dengan alasan:
inilah kali terakhir ia bisa memasak untuk putrinya tercinta—ibuku. Tak
ada sedikit juga raut kesedihan di matanya, mungkin karena ia sudah
lebih dulu tahu perihal kematian itu. Ia juga pasti sadar kalau nasi
yang ia masak pada kenyataannya takkan pernah dimakan oleh putrinya,
melainkan masuk ke perut orang-orang yang cuma melayat mayatnya,
banyaknya bukan orang yang akrab. Tapi, bukan itu masalahnya. Nenek
tetap menganggap bahwa kerepotannya ini (yang ia anggap tidak
merepotkan) adalah untuk putrinya sebagaimana sebelumnya ia telah
memasak nasi untuk suami dan putra bungsunya saat mereka meninggal.
Memasak nasi adalah mengolah kehidupan. Mungkin, pikir nenek hingga
tak berhenti memasak nasi meski sedang berdiri di hadapan kematian suami
atau anaknya.
Sebaliknya, aku takut pada saat-saat begini. Nenek akan mulai meracau
tentang tanda-tanda kematian seseorang yang tak diketahui, lalu
berikutnya aku lupa.
Aku takut kalau aku lupa bahwa ia pernah berwasiat tentang
tanda-tanda. Aku tak takut jadi tua, tapi aku takut jadi tua dan pikun
hingga melupakan perihal tanda-tanda. Apakah saudara-saudaraku takut
jadi pikun juga? Sepertinya tidak. Mereka lebih takut pada kematian
dibanding kepikunan. Menurutku, kepikunan bisa lebih berbahaya dari
kematian. Manusia disebut sebagai manusia karena kelahiran dan
ingatan-ingatannya. Tanpa ingatan, manusia takkan mengetahui apa-apa
tentang siapa dirinya. Manusia yang tak punya kenangan atas dirinya,
masihkah bisa disebut manusia? Atau mayat hidup saja layaknya.
Kerabat-kerabat—walau iba pada nenek yang bekerja keras memasak saat
ada saudara meninggal, juga enggan untuk berada dekat-dekat, sebisanya
menjaga jarak. Rupanya mereka begitu khawatir pada racauan nenek perihal
tanda-tanda yang hampir tak pernah meleset (aku tak ingat kapan
racauannya pernah meleset). Mereka bersyakwasangka tentang siapa yang
dimaksudkan dalam ucapan itu. Bisa ayah mereka, ibu, paman, adik, kakak,
atau diri mereka sendiri. Sehingga, ketika hanya aku yang cukup berani
dekat-dekat nenek dalam jangka waktu lebih lama, akulah yang jadi
sasaran pertanyaan-pertanyaan mereka. Rahasia kematian selalu jadi
sumber rasa penasaran, bagaimanapun ditolak kehadirannya.
“Nenek bilang apa? Siapa yang akan mati berikutnya?”
“Nenek takbilang apa-apa,” jawabku, “lagi pula, mana pernah dia menyebut nama.”
“Iya, tapi tak mungkin ia tak bilang apa-apa. Pasti kau yang tak peka terhadap ucapannya,” balas sepupuku.
“Sungguh. Nenek memang tak mengucapkan apa-apa. Paling tidak, belum.”
“Kau menutup-nutupi saja karena kau sebenarnya tahu dan tak mau kami khawatir.”
“Tidak.”
“Ayolah, ceritakan.”
“Tidak ada yang bisa diceritakan. Kalau kalian mau dengar ucapannya, kenapa tak dekat-dekat nenek saja?”
Baru mereka semua diam dan aku kembali ke pawon menemani nenek bekerja.
Rapal doa-doa adalah suara lebah dalam sarang yang berdengung-dengung. Lalu nenek meracau lagi.
“Sebenarnya, beras sudah jadi nasi, tinggal dihidangkan. Perjalanan
sudah selesai. Kita mulai makan, kemudian yang kita ingat berikutnya
rasa nasi saja. Beras yang sudah jadi nasi kemudian keluar dari perut,
jadi tai yang dimakan lele. Kehidupan tak berhenti pada kematian,
melainkan jadi kehidupan yang lain. Saat waktunya tiba, kita lupa pada
nasi yang baru saja kita makan, atau beras.”
Benarkah nenek bisa lupa pada kematian orang-orang yang dicintainya?
Aku tak bisa membayangkan apa rasanya jadi nenek yang terus menua sambil
menyaksikan suami dan anak turunannya mati satu per satu. Usianya sudah
lebih dari sembilan puluh tahun—nyaris seratus, kurasa—dan nasinya tak
tanak juga, sementara nasi yang lain sudah selesai dihidangkan. Apa
rasanya jadi dia? Aku tak mengerti.
“Menyedihkan rasanya,” ucap nenek, “seperti melahirkan kematian. Dan
lebih menyedihkan lagi ketika semua itu tak bisa ditolak. Pasrah saja
kita bisanya.”
Untuk banyak hal, ingatan nenek masih tajam, namun saat ia berbicara
kematian ia seperti lupa bahwa orang yang dia bicarakan adalah
kerabatnya sendiri yang kerap terhubung darah sangat dekat. Seperti saat
kami mendengar ia berkata tentang meninggalnya seorang keponakan.
“Bunga bisa gugur sebelum mekar, tapi tetap saja bunga,” ucapnya
waktu itu, “kalau sudah gugur, biarkan saja. Nanti akan ada kuncup
baru.”
Baru delapan bulan kemudian keponakan itu meninggal bahkan sebelum
lahir. Sepupuku keguguran di bulan keenam kehamilannya. Nenek sudah
meramalkan kematian sebelum ada kelahiran, bahkan sebelum sepupuku itu
menikah. Ketika ia mengatakan itu, kami semua tahu bahwa akan ada
kematian lagi, namun lagi-lagi kami lupa sampai kematian itu benar-benar
terjadi. Buatku ini mengerikan, namun aku juga tidak bisa mengingat
untuk bersiap-siap atau paling tidak mengingatkan seseorang agar
bersiap-siap menunda kematian. Ini yang paling masuk akal buatku. Bahwa,
segala ucapan nenek adalah peringatan agar sesuatu bisa dibendung
kedatangannya. Tapi, bisakah kematian dibendung?
“Nek, bagaimana nenek bisa tahu akan ada kematian?” tanyaku untuk menutup rasa penasaran.
“Nenek tidak tahu,” jawabnya.
“Tapi, nenek selalu mengucapkan sesuatu sebelum ada orang meninggal.”
“Mengucapkan apa?”
“Macam-macam.”
“Tidak. Nenek tidak pernah berucap apa-apa,” sanggahnya lagi.
Lalu aku menceritakan kejadian-kejadian yang lalu. Nenekku lagi-lagi
cuma mengernyitkan bibirnya sambil menggeleng-geleng dan berkata,
“Tidak. Nenek tak pernah mengucapkan itu semua.”
Aku diam. Apakah nenek sudah pikun?
“Nenek tidak sadar bahwa dia sudah mengucapkan itu semua,” bisikku pada sepupu-sepupu.
“Maksudmu, nenek kesurupan?”
“Hus! Jangan sembarangan!”
“Apakah kau ingat, apakah nenek pernah berkata sesuatu tentang kematian ibumu?”
Aku diam lagi, mencoba mengingat-ingat. Aku lupa. Aku tak ingat
apa-apa. Lalu, sepupu terkecil berkata, “Nenek pernah bilang: ‘Maling
bekerja dini hari, saat semua orang tertidur. Yang diambil adalah
perhiasan keluarga paling berharga’. Diucapkan padamu.”
“Kau ingat?” tanyaku.
“Tiba-tiba saja ingat, Kak.”
Ibuku meninggal dini hari, dan dia perhiasan keluargaku. Aku
mengingatnya dengan jelas. Membayangkan bahwa aku melupakan betapa
berharganya sesuatu, sungguh bukan bayangan yang menyenangkan. Lagi-lagi
aku teringat pada nenek yang gemar menanak nasi, menikmati harumnya
sambil melupakan tanda-tanda yang diucapkannya sendiri.
Udara dari pawon menembus ke ruang makan. Aku mencium bau nasi hampir
tanak. Aku sangat ingin mengaduk nasi setengah matang lalu
menuangkannya ke dalam kukusan. Tapi, ternyata semua nasi sudah
diangkat. Mungkin, sisa-sisa bau saja, karena dari jauh kulihat nenek
sudah duduk tenang di teras belakang.
“Apa kau bilang?” sepupuku bertanya.
“Aku tidak bilang apa-apa.”
“Kau baru saja bilang: ‘Akhirnya, nasi yang ditanak nyaris seratus tahun matang juga’. Nasi apa yang ditanak seratus tahun?”
Aku diam sambil berjalan ke teras di belakang dapur dan duduk di samping nenekku.
“Kau mau menanak nasi?” tanya nenek dengan suara pelan, “kalau sudah matang, jangan lupa diangkat. Waktunya selalu tepat.”
Aku menggeleng. Aku tak mau menggantikan nenek menanak nasi. Aku tak mau tua, pikun lalu lupa perihal tanda-tanda.
Keterangan: Pawon: dapur.
Wisnu Sumarwan, bernama lengkap Wisnu
Suryaning Adji Sumarwan. Lulusan Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta.
Pernah jadi direktur program sebuah radio dan usahawan kuliner.
Pemenang 1 Lomba Cerpen Nasional #MyCupOfStory 2016 Nulisbuku.com
dan Giordano Indonesia. Peserta Workshop Cerpen Kompas 2016 dengan
mentor Agus Noor, Linda Christanty, dan Putu Fajar Arcana. Cerpennya
termuat dalam antologi cerpen Kelas Cerpen Kompas 2016 Cerita Para Perambah.
Cerpen Syaiful Irba Tanpaka (Republika, 02 Juli 2017) Sepasang Mata yang Menyala ilustrasi Da’an Yahya/Republika
Untuk ketiga kalinya Bongkot melihat sepasang mata itu. Sepasang mata
yang memancarkan cahaya dengan indahnya.Sepasang mata dengan tatapan
yang memesona. Sepasang mata yang penuh misteri, dan karena itu, menurut
Bongkot, memiliki daya tarik luar biasa.
Pertama kali Bongkot melihatnya di pelataran Masjid Nabawi. Di saat
ia melaksanakan ibadah umrah. Sepasang mata itu melintas dan berpapasan
dengannya. Sepasang mata itu sempat melirik dan memandang kepadanya.
Ketika tatapan sepasang mata itu tepat membidik kedua matanya, tiba-tiba
Bongkot seperti tersihir. Sungguh!
Bongkot merasa tidak sekadar melihat bola mata yang berbinar-binar
mengilaukan cahaya, tapi di lingkaran hitam bola mata itu ada semacam
lorong yang melingkar-lingkar jauh, dan di ujungnya terlihat sebuah
taman yang indah. Begitu indah. Sebuah pemandangan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya.Ya!
Maka kemudian Bongkot merindukan kembali untuk dapat menatap sepasang
mata itu. Dan ternyata, doa dan harapannya dikabulkan Tuhan. Bongkot
kembali melihat sepasang mata itu melintas di pelataran Masjid al-Haram.
Saat itu usai shalat Maghrib. Di antara rembang malam, sepasang mata
itu memancarkan cahaya lebih terang dan berkilau-kilau. Bongkot terpukau
menatapnya.
Tersebab dari lingkaran bola mata itu kembali ia melihat semacam
lorong yang melingkar-lingkar jauh, dan di ujungnya terlihat sebuah
taman yang indah. Begitu indah. Bongkot mencoba mendekatinya. Sayang,
sepasang mata itu lesap di antara kerumunan orang-orang. Hingga beberapa
waktu Bongkot mencari-cari sepasang mata itu. Namun tak ia temukan.
Sampai Bongkot pulang umrah dan kembali ke kotanya. Hasrat kembali
bertemu dengan sepasang mata itu semakin menggebu-gebu. Dalam setiap doa
selalu ia bermohon kepada Tuhan agar dipertemukan lagi dengan sepasang
mata itu. “Ya, Tuhan. Engkau Maha Mengetahui segalanya. Maka berilah
hamba kesem patan dan pengetahuan untuk kembali bertemu dengan sepasang
mata yang menyala penuh misteri itu, amin….”
Jauh di dalam relung hatinya Bongkot sesungguhnya merasa heran;
mengapa kini ia begitu terpesona dan mengagumi sepasang mata itu.
Padahal sebelum melaksanakan umrah sepasang mata itu adalah hal yang
biasa saja buatnya. Bahkan ia sungkan memandangnya. Dan jika harus
berkata jujur maka kalimat inilah yang akan keluar dari mulutnya: Aku
tidak suka dengan sepasang mata itu!
Ya! Setiap kali ia melaksanakan shalat lima waktu berjamaah di masjid
di kotanya, ia kerap menjumpai sepasang mata itu. Dan Bongkot selalu
berpaling dari tatapannya. Menurutnya tidak ada yang istimewa dari
sepasang mata yang terlihat dari seorang wanita yang wajahnya ditutupi
cadar dan seluruh tubuhnya dibalut busana Muslimah.
“Keindahan apa yang bisa kita nikmati, Bung!” protes Bongkot.
“Gila kali kau ini. Kau catat, ya! Ia hidup bukan untuk kita. Ia
menjalani kehidupan untuk suaminya, kalau ia sudah bersuami, dan untuk
Tuhannya. Kenapa pula kau yang repot!” ujar seorang kawan yang diajak
Bongkot berbicara.
“Aii…, sudahlah! Cuma aku tak habis pikir, hari gini, dengan kehidupan yang serba modern ada wanita seperti itu. Apa yang ada di pikirannya?!”
“Kau tanya sendiri pada wanita itu. Setelah kau dengar jawabannya,
habis perkara! Jangan pula kau panjang-panjang kan cerita, bisa botak
kepalamu, hahaha….”
“Hahaha….” Bongkot tertawa lepas mengiringi tawa kawannya. Tak
sedikit pun terlintas rasa kagum dalam dirinya terhadap sepasang mata
itu. Bahkan walau sekadar untuk menghargai. Tapi mengapa sekarang
berbeda?
Bongkot merasakan bahwa kini ia sungguh-sungguh merindukan sepasang
mata itu. Sepasang mata yang terlihat dari seorang wanita yang wajahnya
ditutupi cadar dan seluruh tubuhnya dibalut busana Muslimah. Sepasang
mata yang memancarkan cahaya dengan indahnya. Sepasang mata dengan
tatapan yang memesona. Sepasang mata yang penuh misteri, dan karena itu
memiliki daya tarik luar biasa.
Apa yang tengah terjadi dengan diriku?
Bongkot bertanya-tanya dalam hati. Berhari-hari. Berpekan-pekan.
Berbulan- bulan. Waktu berlalu. Hingga lebih enam bulan setelah Bongkot
berada di kotanya. Di suatu malam, ketika ia pulang dari masjid, ia
diperkenankan Tuhan bertemu lagi dengan sepasang mata itu. Ya!
***
Pada kali yang ketiga ini, sepasang mata itu seakan sengaja
menghadang langkah Bongkot. Sepasang mata itu bergeming di depannya.
Kegelapan malam yang kental membuat sepasang mata itu seperti mengambang
di udara. Antara rasa kaget, tidak percaya, dan terpesona, Bongkot
memandang lekat-lekat sepasang mata itu. Bertambah lekat, dan semakin
lekat.
Belum sempat Bongkot menyapa, sepasang mata itu tiba-tiba memancarkan
sinar yang berkilau-kilauan. Sinar itu melingkar- lingkar bagai spiral
memasuki mata Bongkot. Tubuh Bongkot bergetar. Tak lama kemudian Bongkot
merasakan ada satu kekuatan yang begitu dahsyat membetot dirinya masuk
ke dalam bola mata yang berkilau-kilauan itu.
Lalu saat sinar yang berkilau-kilauan dan melingkar-lingkar membetot
dirinya berhenti, Bongkot mendapati dirinya tidak lagi berada di jalanan
dekat rumahnya, melainkan di sebuah taman yang indah. Begitu indah. Ya!
Bongkot memperhatikan sekeliling taman itu. Pepohonan dan bunga-bunga
yang ada tumbuh dengan harmonisasi warna yang begitu memesona.
Ada pohon yang berwarna hijau tua dengan daun-daun berwarna hijau
muda. Ada yang berwarna merah berpadu kuning dan jingga. Ada yang
berwarna biru bersanding nila dan ungu. Bunga-bunga bermekaran di
sana-sini. Bergoyang mengangguk- angguk dibelai hembusan angin semilir.
Dan desir angin yang lembut itu menebar wewangian tiada terperi. Seakan
menguap dari putik sari bunga-bunga.
Pohon-pohon dan bunga-bunga itu berseri disepuh cahaya yang berkilau-
kilauan. Cahaya yang datang entah dari mana. Karena setinggi mata
memandang cakrawala, tak ada matahari di sana. Cahaya itu seakan muncul
dari berbagai arah. Menyemburat dari langit. Menyeleret dari bukit.
Keluar dari lapisan bumi. Cahaya yang berwarna pelangi. Cahaya yang
teduh dan menyejukkan.
Di taman itu mengalir sebuah sungai kecil dengan air berwarna putih
serupa air susu. Bukan! Bukan hanya serupa, tapi air yang mengalir di
sungai kecil itu betul-betul air susu. Subhanallah! spontan Bongkot
berucap, “Di manakah hamba kini berada?”
“Inilah Taman Karomah.”
Tiba-tiba suara yang begitu syahdu menjawabnya dari arah belakang.
Bongkot sungguh-sungguh terkejut. Ia berbalik menghadap ke arah
datangnya suara. Dan Bongkot semakin dibuat terkejut. Di hadapannya
berdiri seorang gadis berparas jelita dan memesona.
Bagai bidadari dalam cerita-cerita negeri kayangan, begitu sempurna.
Anatomi tubuhnya sangat proporsional. Rambutnya tergerai hingga ke
rerumputan, hitam segar mengilaukan cahaya dengan mahkota kecil di
kepala. Busananya mewah bertabur berlian yang berkerlap-kerlip bagai bin
ang kejora serta indah menawan.
“Siapa kau??!” spontan Bongkot bertanya melepas keingintahuannya.
“Akulah sepasang mata itu,” jawab Sang Gadis dengan suara merdu.
“Kau…??!”
“Ya, aku!”
“Bagaimana mungkin?!”
“Jika kau percaya qada dan qadar segalanya menjadi mungkin,” tutur Sang Gadis.
“Jika Tuhan berfirman “Kun” (terjadi), maka “Fayakun” (terjadilah),” tambah Sang Gadis.
“Maaf, aku sungguh tidak mengerti!?”
“Tidak semua hal harus dimengerti. Itulah hukum kehidupan dunia yang
fana. Sebab tidak semua peristiwa yang terjadi melibatkan kau di
dalamnya. Banyak hal terjadi dengan atau tanpa dirimu. Jadi kau tidak
perlu khawatir dengan ketidak-mengertianmu. Kau paham?”
“Tidak….”
“Baiklah. Aku bertanya padamu: kenapa kau terobsesi dengan sepasang mata yang kini menjelma sebagai diriku?”
Bongkot diam. Ia merasa tidak dapat segera menjawab. Hingga beberapa
saat kemudian, kesedihan merona di wajahnya. Dan tak lama ia mulai
terisak. Bongkot menangis. Ya!
“Duhai! Siapa pun kau adanya; dengarlah ratapan penyesalanku.”
“Kau menyesal?”
“Sungguh!”
“Mengapa?”
“Karena aku punya pikir, tapi pikirku tak bermata. Karena aku
punya hati, tapi hatiku tak bermata. Karena aku punya cinta, tapi
cintaku tak bermata. Karena aku punya mata, tapi mataku tak ber-Ca haya.” [1]
“Kau termasuk orang yang tidak bersyukur.”
“Begitulah, Jelita. Dan kini, lihatlah butiran air mataku. Butiran
air mata dari seorang lelaki pendosa. Lelaki yang telah menistakan
dirinya sendiri dengan kegelapan matanya. Jelata hina dina yang menatap
kefanaan penuh jumawa. Lelaki dhuafa yang sekarang mengemis-ngemis
kemurahan Tuhannya. Bisakah aku datang pada-Nya dengan jiwa yang
compang-camping ini?”
“Tuhan Maha Mengetahui.”
“O, Jelita! Lihatlah butiran air mataku. Ia terus mengalir, tak akan
berhenti. Tak bakal berhenti. Sampai seluruh hasrat dan nafsuku
tenggelam. Hingga jiwaku bening berkilau. Sebab hanya dalam air mata ini
bebanku menjadi ringan. Dan aku merasa akan dapat bertemu Tuhan.”
“Tuhan menerima taubat orang yang Dia kehendaki, Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” [2]
“O, Jelita! Perkataanmu membuatku tenang. Aku merasa terlahir
kembali. Mataku kini menjadi terang benderang. Aku dapat memandang
semesta dengan penuh kasih sayang.Tuhan, di mana Engkau?!”
“Dia lebih dekat daripada urat lehermu!”
“O, Jelita! Tiada lagi yang kurindukan kini selain cinta-Nya. Cinta
yang tumbuh dan berkembang di setiap jiwa makhluk dan benda-benda.
Cinta tak berperi. Cinta yang menjadikan aku kekasih-Nya.”
“Maka berbahagialah engkau.”
Belum sempat Bongkot kembali berkata, Sang Gadis tiba-tiba raib, lalu
muncul pancaran sinar yang berkilau-kilauan. Sinar itu
melingkar-lingkar bagai spiral memasuki mata Bongkot. Tubuh Bongkot
bergetar. Tak lama kemudian Bongkot merasakan ada satu kekuatan yang
begitu dahsyat membetot dirinya masuk ke dalam sinar yang
berkilau-kilauan itu. Bongkot melayang. Melayang-layang. Berputar.
Berputar-putar. Hanyut mengikuti lekukan lorong yang melingkar-lingkar
bagai spiral. Terus melayang. Melayang-layang. Terus berputar. Berputar-
putar. Melayang-layang dan berputar-putar.
Lalu saat sinar yang berkilau-kilauan dan melingkar-lingkar membetot
dirinya berhenti, Bongkot mendapati dirinya kembali berada di jalanan
dekat rumahnya. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi.
Ia teringat akan sepasang mata itu.
Sepasang mata yang menyala dari seorang wanita yang wajahnya ditutupi
cadar dan seluruh tubuhnya dibalut busana Muslimah. Sepasang mata yang
memancarkan cahaya dengan indahnya. Sepasang mata dengan tatapan yang
memesona. Sepa sang mata yang penuh misteri, dan karena itu memiliki
daya tarik luar biasa. Bongkot membatin, “Betapa ingin aku menanamkan
sepasang mata itu di wajah putriku tersayang.” Untuk Syana Salsabila
Nanpermai.
Medinah-Bandarlampung,11/5-11/12. 2016
Catatan:
[1] petikan sajak Buku Harian Seorang Serdadu di Medan Perang (sit, 1991)
[2] Terjemah QS at-Taubah [9]: 27
SYAIFUL IRBA TANPAKA Lahir di Telukbetung,
Bandar Lampung, 9 Desember 1961. Menggeluti dunia sastra sejak
1981.Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, cernak, esai, opini, dan
artikel lainnya pernah diterbitkan di media nasional dan daerah.
Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
(1)
Saat Dum masuk ke sebuah kafe sambil menodongkan sebuah pistol, para
pengunjung di sana sebetulnya sedang dalam keadaan santai menikmati
suasana malam Minggu yang syahdu. Di Meja 1 misalnya, kita bisa melihat
di sana ada seorang pria bau tanah dengan kulit yang kisut dan telah
mengendur di beberapa bagian, sedang duduk dengan seorang gadis seksi
berpakaian serba minim yang usianya dapat kita perkirakan sekitar 21
tahun. Apa yang mungkin dapat kita pikirkan dari deskripsi semacam itu
mengenai hubungan mereka? Tak perlu rasanya diperpanjang bahasan
mengenai hal tersebut karena kita sekarang bisa melihat Dum telah
berjalan menuju meja kasir sambil terus menodongkan pistol ke setiap
orang yang dilihatnya. Seorang lelaki di Meja 2—yang berperawakan agak
besar dengan luka codet di pelipisnya—berdiri dan sontak membuat Dum
agak panik. Dum mengarahkan moncong pistolnya di hidung si lelaki sambil
memegangi gagangnya dengan agak gemetaran.
“Kau sedang apa? Cepat duduk Bajingan!”
“Ada ide?”
“Ide apa, cepet duduk Anjing!”
“Aku sudah selesai makan, dan seperti selayaknya pengunjung yang
baik, setelah selesai makan harus membayarnya. Atau kamu mau
membayarnya?”
Dum melangkah lebih dekat, kali ini ia benar-benar telah mengarahkan
moncong pistolnya tepat di dahi si lelaki dan bukan di hidung. Si
lelaki, meski menyadari bahwa nyawanya sedang terancam, tampak sama
sekali tak gemetar. Ia dapat menguasai dirinya dengan baik dan dalam
waktu sepersekian detik, si lelaki menyambar pistol yang dipegang Dum.
Ia kemudian melakukan sebuah gerakan menekuk pergelangan tangan Dum dan
dengan tenaga yang sangat minimal, ia bisa membanting Dum hingga
terjerembab ke meja. Kini si lelakilah yang menodongkan pistol ke batok
kepala Dum.
Lelaki itu bisa kita sebut dengan nama Rak.
Rak meraih badan Dum dan menendang bagian belakang lutut sehingga
kini Dum dalam posisi setengah duduk dengan lutut sebagai penyangga. Dum
sedikit menangis, asal kalian tahu, ini adalah pengalaman pertama Dum
melakukan suatu perampokan dan sialnya, ia langsung mendapati situasi
yang mengenaskan di pengalamannya yang pertama ini.
“Kau tadi bilang apa? Bajingan ya kalau tidak salah?”
Tubuh Dum bergetar hebat. Rasa-rasanya sekarang ia ingin sekali
berteriak sekencang-kencangnya sambil pipis di celana jinsnya
sebebas-bebasnya. Tapi dia menahan rasa kebelet itu sekuat tenaga sambil
dengan agak merintih ia memohon ampun kepada Rak. Rak adalah seorang
lelaki yang memiliki harga diri tinggi. Ia sudah berulang kali
keluar-masuk penjara dan pada saat ini ia sedang ingin menunjukkan
kepada orang-orang bahwa keberanian yang ada pada dirinya sama sekali
tak berkurang sedikit pun. Rak, tanpa rasa ragu sedikit pun, menembak
batok kepala Dum dan membuat lantai kafe penuh dengan cipratan darah.
Merasa tak cukup sampai di situ, si Rak, yang memang sedari tadi
sangat terganggu dengan pemandangan yang dilihatnya di Meja 1, segera
melangkah menuju ke meja tersebut dan lagi-lagi melesatkan sebutir
peluru ke kepala seorang pria bau tanah yang dapat kita sebut dengan
nama Hem. Hem seketika menggelepar dengan batok kepala bolong tertembus
peluru. Si wanita menjerit. Rak tak peduli. Ia lekas melangkah keluar
dari kafe dan menaruh selembar uang di atas mejanya.
Dum, berusia 21 tahun, seorang mahasiswa, tewas. Hem, 54 tahun, seorang pengusaha, tewas.
(2)
Rak menghentikan langkahnya setelah sekitar 600 meter berjalan
meninggalkan kafe yang baru didatanginya. Ia kencing sebentar di
pelataran sebuah rumah yang dijaga oleh seekor anjing penjaga. Si anjing
langsung menyalaki Rak habis-habisan, tapi si Rak tampak makin
bersemangat untuk menggoda anjing tersebut. Ia mengarahkan kencingnya
tepat di muka si anjing dan itu membuat si anjing naik pitam. Dengan
mengerahkan segenap tenaganya, si anjing bisa melepaskan diri dari tali
kekang, melewati celah pagar yang kebetulan sedikit longgar, dan dengan
ketangkasan yang luar biasa segera menggigit penis Rak. Rak, yang meski
adalah seorang lelaki pemberani tulen dan berkali-kali telah mendekam di
penjara karena mencari masalah dengan orang-orang yang sering
dianggapnya biadab, seketika berteriak sekencang-kencangnya menyadari
harta paling berharganya kini telah raib dari tempat yang seharusnya.
Rak berguling-guling di jalanan sambil terus berteriak kesakitan dan
pistol yang ada di sakunya jatuh ke jalan dan lekas diambil oleh si
anjing dengan cara menggigit gagangnya.
Si anjing bisa kita sebut dengan nama Rem.
Rem membawa pistol itu ke dalam rumah. Rak berguling-guling sambil
berteriak-teriak dan segera memancing masyarakat yang tinggal di sekitar
keluar dari rumah mereka sambil membawa tongkat bisbol. Sekarang pukul 1 dini hari dan siapapun yang mengganggu di jam-jam tidur ini, mesti diberi pelajaran.
Rak, 24 tahun, menderita luka lebam dan kehilangan harta yang paling penting dalam hidupnya.
(3)
Rem menaruh pistol itu di dalam keranjang mainan. Ia rebahan di atas
sebuah karpet beludru berwarna merah, tepat di sebelah kasur anak
majikannya yang usianya masih balita. Sekitar beberapa menit setelahnya,
si anak balita bangun dan berjalan menuju keranjang mainan. Si anak
balita melihat Rem telah terlelap, ia berniat mengerjai Rem dengan salah
satu mainannya. Mainan apa ya yang cocok? Kurang lebih begitu
barangkali apa yang tengah dipikirkan oleh si anak balita.
Ia lantas memutuskan untuk mengambil tiga benda; mobil-mobilan,
robot-robotan dan pistol. Si anak balita terdiam sejenak,
menimbang-nimbang manakah mainan yang mesti ia gunakan untuk mengerjai
Rem. Tapi dalam beberapa detik kemudian ia merasa sudah mantap memilih
pistol sebagai pilihan terbaiknya.
Pistol itu terasa agak berat, lebih berat ketimbang yang biasa ia
gunakan untuk bermain. Bahkan untuk menarik pelatuknya saja, ia mesti
menggunakan dua jarinya dengan susah payah sampai berhasil. Meski terasa
berbeda, ia tetap saja sudah terlatih menggunakan pistol karena ia
sudah memiliki pengalaman cukup banyak untuk bermain pistol-pistolan
dengan pistol mainan yang memang dibuat semirip mungkin dengan yang
asli.
Selanjutnya, seperti yang dapat kita terka, si anak balita
mengarahkan moncong pistol ke badan Rem. Melesatlah sebutir peluru
menembus anjing berbadan ceking dengan bulu-bulu putihnya yang lembut
itu. Si anak balita amat terkejut melihat apa yang baru saja terjadi. Ia
bengong lama, dan setelah itu berteriak sambil merengek dengan suara
keras dan membuat papa dan mamanya tergesa-gesa menghampirinya.
“Apa yang terjadi ini, Ma?”
“Ya, mana tahu, Pa. Coba tanya saja sendiri sama anak kita.”
“Kamu gila, Ma?”
“Kamu yang gila, Pa. Makanya, anak itu ya diperhatikan dengan baik.”
“Maksudmu apa? Kamu kan mamanya! Ya harusnya kamu yang ngurus, kok bisa-bisanya nyalahin aku.”
“Kamu pikir aku gak capek, Pa, kerja dari pagi sampai malam? Jadi
suami yang pengertian sedikit dong. Lagian yang beli rumah ini aku, yang
beli perabotan aku. Kamu lupa, Pa? Kerjaanmu gak cukup untuk biaya
hidup kalau aku juga gak kerja.”
Si papa naik pitam. Ia menyambar pistol yang masih digenggam anaknya dan menembak si mama dan anaknya dengan gelap mata.
Dor. Dor.
Si papa—yang memiliki nama asli Wiw—lalu mengarahkan moncong pistol
ke mulutnya dan dengan perasaan kalut, segera menarik pelatuk.
Sayangnya, peluru sudah habis. Ia gagal membunuh dirinya sendiri.
Di depan jasad anak dan istrinya, ia menangis sekencang-kencangnya.
Meh, 4 bulan, seorang anak yang masih polos, meninggal. Tek, 23 tahun, seorang wanita pegawai dinas perpajakan, meninggal.
(4)
Tetangga Wiw menelpon polisi setelah mendengar suara tembakan. Saat
terjadi kegaduhan tersebut, si tetangga ini sedang pulas-pulasnya tidur
bersama selingkuhannya, sampai akhirnya suara tembakan membangunkan
mereka berdua. Karena rasa kesal itulah, ia memutuskan langsung menelpon
polisi tanpa merasa perlu mengecek lebih dahulu apa yang terjadi
sesungguhnya di sana.
Sekitar setengah jam setelahnya, terdengar suara sirene mobil polisi
datang. Tetangga Wiw yang merasa lega segera melanjutkan kegiatan
mencumbu selingkuhannya lagi.
Ternyata hanya ada satu polisi yang datang ke kediaman Wiw. Si polisi
ini—yang memiliki rambut cepak dan dengan badan yang proporsional—lekas
turun dari mobil dan menerobos masuk ke dalam rumah yang ternyata tidak
terkunci. Di pelataran rumah ia bisa melihat dengan jelas ada bekas
darah dan sepotong penis tergeletak begitu saja seperti sepotong sosis
goreng dengan saus tomat.
Ini adalah pertanda yang tidak baik, pikirnya.
Dengan keberanian sebagai seorang penegak keadilan ia dengan tangkas
masuk ke rumah dan mulai menyiapkan sebuah pistol untuk mengantisipasi
hal-hal yang tak terduga. Ia sadar sedang berhadapan dengan seorang
pembunuh sadis sekaligus psikopat berdarah dingin dan ia tak boleh
melakukan kesalahan ataupun lengah sedetik pun. Selama di akademi, ia
sering dilatih untuk menangani situasi semacam ini dan ini adalah
pertama kalinya ia berkesempatan untuk mempraktikannya sendiri, dengan
tanpa teriakan atau sumpah serapah dari pelatihnya.
Pertama yang harus dilakukan adalah berada dalam kondisi siaga. Ia
mengacungkan pistol dan melangkahkan kakinya dengan hati-hati juga tak
lupa memasang kuda-kuda yang sempurna. Ia mulai membuka pintu dengan
tangan kanan sambil tangan kirinya tetap memegang pistol. Saat pintu
telah sedikit terbuka, si polisi begitu terkejut melihat Wiw yang sedang
berdiri di depan pintu sambil menodongkan pistol ke arahnya. Secara
refleks, si polisi melesatkan peluru ke jantung Wiw karena merasa
nyawanya sedang terancam.
Ini tindakan yang tepat batinnya.
Membunuh seorang psikopat akan membuat karirnya naik dan ini berarti
ia akan berpeluang mendapat kenaikan pangkat. Kekasihnya pasti senang
sekali mendengar kabar semacam ini.
Wiw, 25 tahun, seorang penulis, meninggal dengan segenap kehormatannya sebagai seorang lelaki yang terenggut.
(5)
“Apa-apaan kau? Mengapa kau di sini? Dan siapa lelaki ini?”
“Heh, jawab, Jalang!”
“Memangnya kenapa? Apa urusanmu?”
“Apa urusanku? Aku yang sebentar lagi melamarmu, Bajingan!”
“Hei, hei hei, sebentar, Kawan. Seorang lelaki sejati tak membentak-bentak wanita. Apa kau tidak malu dengan seragammu?”
“Bajingan!”
…
“Kalian berhenti tolong plis! Kalian plis berhentilah… tolong… berhenti…”
Dor. Dor. Dor.
…
Seorang lelaki masuk ke dalam sebuah rumah. Di sana ia melihat ada
tiga jasad teronggok begitu saja di lantai. Ia tak ambil pusing dengan
jasad itu, ia bahkan tak peduli dengan penyebab mengapa ketiga orang itu
mati sedemikian rupa. Si lelaki hanya berjalan dengan mantap menuju
jasad seorang lelaki berseragam polisi dan mengambil sebuah pistol yang
jatuh di dekat tubuh si polisi itu.
Si lelaki itu, seperti yang kita tahu, kelak akan membawa pistol itu
ke sebuah kafe, dan kita juga tahu bahwa ia memiliki nama yang agak
aneh, yakni Dum. *
Aris Rahman, lahir di Sidoarjo, 12 Juli 1995. Mahasiswa Universitas Airlangga Jurusan Antropologi. Cerpennya, berjudul Seekor Kuda Melesat di Angkasa dan Rekaman-Rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan, terpilih masuk cerpen pilihan UNSA 2015 dan Kampus Fiksi Emas 2017.
Cerpen Gus tf Sakai (Koran Tempo, 08-09 Juli 2017) Lima Kisah Mimpi Kanak ilustrasi Munzir Fadly/Koran TempoSatu, tentang Hoja
Jauh di kedalaman tidur, mimpi kanak-kanakmu melekap, melekat, tak
mau berpisah dari kisah-kisah masa lalu yang kelak enggan kau ingat.
Maka, mimpi kanak-kanak itu pun berpegang bergelantungan pada lengan
Hoja, memaksa lelaki dari Akshehir itu tak balik pulang ke dunia nyata.
Tetapi Hoja, yang di dunia nyata memang kau kenal sebagai tukang
cerita, seperti biasa, lugu berkata, “Lalu eh, bila selamanya aku berada
dalam mimpimu, bagaimana aku bisa dikenal sebagai Nasruddin?”
Kau pun tertegun, terdiam, tak bisa membantah Hoja. Maka, dengan
perasaan kesal luar biasa, engkau, engkau kanak-kanak itu, memutuskan
untuk memilih hanya seratus dari lebih seribu kisah. Pekerjaan tak
mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, “si seratus” akhirnya terpilih;
dan engkau pun remaja.
Saat kembali membaca “si seratus”, tak mudah bagi engkau remaja untuk
menerima keseratus kisah itu dan memutuskan untuk memilih hanya
sepuluh. Pekerjaan yang tambah tak mudah. Berbulan-bulan,
bertahun-tahun, “si sepuluh” akhirnya terpilih; dan engkau pun dewasa.
Saat kembali membaca “si sepuluh”, tak mudah bagi kau dewasa untuk
menerima kesepuluh kisah itu, dan memutuskan untuk memilih satu.
Pekerjaan yang tambah-tambah tak mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun,
“si satu” belum juga terpilih. Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, “si
satu” masih tetap belum terpilih.
Dan kau tiba-tiba sadar: telah tua. Dan, tak kalah kesal dibanding
ketika kau kanak-kanak dulu, engkau tua pun tak peduli. Dan lalu
melupakan. Ditulis atau tidak, dikisahkan atau tidak, terserah Hoja. Dua, tentang Gravitasi
Empat belas tahun setelah Einstein meninggal, partikel subatomik
ternyata masih bisa dibagi menjadi Kuark dan Gluon. Dalam mimpi
kanak-kanakmu, kau melihat Einstein kecil duduk menunggang Gluon,
menggesek biola dengan kompas kantung diikatkan tergantung di leher
biola.
Senarnya, tali gravitasi itu, bergetar, menggema halus ke lorong
telinga. Gluon terus berputar mengelilingi Kuark. Di lapis luar,
Elektron terus berputar mengelilingi Kuark dan Gluon. Semua berputar,
semakin besar. Gravitasi menjulur, semakin lebar.
Dalam mimpi kanak-kanakmu itu engkau tertidur. Dan lalu terbangun
dalam skema ini: Engkau, bersama Einstein, duduk menunggangi “sesuatu”
berputar mengelilingi Bumi. Terus berputar. Di lapis luar, “sesuatu”
bersama Bumi terus berputar mengililingi Matahari. Terus berputar.
Di lapis luarnya lagi, “sesuatu” dan Matahari terus berputar
mengelilingi Bimasakti. Terus berputar. Di lapis luar-luarnya lagi,
“sesuatu” dan Bimasakti terus berputar mengelilingi gugus galaksi. Terus
berputar. Di lapis luar-luar-luarnya lagi, “sesuatu” dan gugus galaksi
terus berputar mengelilingi … ah, tali gravitasi itu, getar yang semula
halus mengelus telinga, perlahan meninggi, terus meninggi, dan lalu
menghentak, nyaring, lengking, memekak bagai memecah gendang telinga.
Semua gemetar.
Dengan mata kepala sendiri, engkau melihat jarum kompas kantung yang
tergantung di leher biola Einstein seperti menggigil, lalu bergerak
kacau tak tentu arah. Di satu titik, kompas itu meledak, hancur, bersama
Einstein, bersama dirimu-bersama semesta, bersama mimpimu, dan lalu
terbangun dalam mimpi kanak-kanak itu. Mimpi kanak-kanak yang, saat kau
terbangun, kembali melihat Einstein kecil menggesek biola menunggang
Gluon. Tiga, tentang Kotak Mainan
Pada malam orang bernama Ibnu Rusyd itu pertama masuk ke mimpi
kanak-kanakmu, siangnya ada dua pertanyaan yang dimasukkan Ibu ke kotak
mainan. Pertanyaan pertama: Bagaimana kau bisa percaya kepada orang yang
mempercayai kebenaran, tanpa orang itu pernah mencarinya? Pertanyaan
kedua: Kau gunakan ukuran-ukuran sendiri untuk hidupmu, tidakkah itu
juga berarti ada ukuran-ukuran lain untuk kehidupan lain?
Maka begitulah, semua mulai tampak jelas. Semua kini, setelah kau
jadi seorang kadi sama seperti orang berjenggot-berjambang dalam mimpi
kanak-kanak itu, satu demi satu, lapis demi lapis, mulai terkelupas.
Kupas pertama: bentuk tidak sama dengan isi. Kupas kedua: isi tidak
serta-merta menunjukkan inti. Kupas ketiga: inti tidak muncul berupa
wujud, melainkan maujud. Kupas keempat: tersebab maujud, semua adalah
gerak. Kupas kelima: gerak adalah kadim. Kupas keenam … ah jangan, cukup
dulu.
Bagaimana kau bisa sampai kepada kadim, pada saat kau hanya seorang
kadi? Maka kau lalu surut ke kupas keempat dan, saat kali kedua orang
berjenggot-berjambang itu masuk ke mimpi kanak-kanakmu, engkau melihat
dirimu yang bocah dalam pemandangan ini: setiap ditatah dituntun Ibu
mengajar cara berjalan, engkau merenggut menarik melepaskan tangan
kembali tengkurap menghela perut-bergerak melata seperti ular.
Pikirmu, toh engkau telah bergerak. Riangmu, toh engkau telah
beranjak. Gerak yang tak kalah cepat, dan bahkan sangat cepat, jauh
lebih cepat dibandingkan gerak manusia yang berdiri berlari dengan kedua
kaki. Begitulah engkau terus bergerak. Begitulah engkau menyangka terus
beranjak.
Dan sialnya, si orang berjenggot-berjambang dalam mimpi kanak-kanakmu
itu, di matamu, juga tampak bergerak seperti ular. Ular besar. Ular
sangat besar yang, seperti kelak siapa pun tahu, memagut membelit
dunia-menghubungkan Yunani dengan Eropa.
Tetapi untunglah ada makhluk itu, makhluk yang seumur-umur tak pernah
berjenggot-berjambang; makhluk yang suka memasukkan
pertanyaan-pertanyaan rumit ke kotak mainanmu; makhluk yang selalu
menjagamu bahkan pada saat kau sedang tidur dan, tentu saja, tahu bahwa
kau tengah terjebak terperangkap dalam mimpi kanak-kanak yang buruk.
Dan ia pun lalu membangunkanmu: menjulurkan tangan, tak bosan,
mengajak belajar berjalan. Dan engkau lalu jadi ingat, pada malam orang
bernama Ibnu Rusyd itu kali kedua masuk ke mimpi kanak-kanakmu, siangnya
ada salah satu dari pertanyaan itu kembali dimasukkan Ibu ke kotak
mainan. Pertanyaan itu: Kaugunakan ukuran-ukuran sendiri untuk hidupmu,
tidakkah itu juga berarti ada ukuran-ukuran lain untuk kehidupan lain? Empat, tentang Jalan Utama
Tak ada satu perasaan pun yang benar-benar bisa engkau rasakan dalam
semua mimpi kanak-kanakmu. Riang hanya semacam getaran, sedih seolah
hanya denyutan, dan cemas tak lebih cuma letupan. Tetapi, untuk mimpi
kanak-kanak yang satu itu, apa yang kau rasakan tak pernah bisa engkau
lupakan. Tak getar, tak denyut, dan jauh dari letupan, engkau bagai
tenggelam bagai megap-megap dalam genangan.
“Genangan duka,” begitu orang itu berkata; orang yang seperti tak
pergi-pergi. Atau yang seolah pergi tetapi selalu dan selalu kembali di
sela-sela. Atau di antara mimpi-mimpi kanak-kanak lain yang bahkan mimpi
tentang apa atau tengah bertemu dengan siapa pun kau tak lagi ingat
sama sekali.
Orang itu, si “genangan duka” itu, di luar mimpi kau kenal sebagai
seorang pangeran. Tetapi yang dalam mimpi kanak-kanakmu tak lain ialah
seorang miskin, seorang jelata, seorang papa, yang menggigil dan jatuh
demam hanya karena “empat penampakan”.
Empat penampakan itu, di luar mimpi kanak-kanakmu, dalam dunia nyata,
adalah sesuatu yang sungguh sangat biasa: seorang tua, orang sakit,
sesosok mayat, dan orang suci. Tetapi, dalam mimpi kanak-kanakmu itu,
entah kenapa pula, engkau lalu menangis, meraung-raung, terbangun, tidur
dan mimpi lagi, menangis lagi, meraung-raung lagi, tidur lagi, mimpi
lagi, menangis lagi meraung-raung lagi …
Bahkan terus menangis, terus meraung-raung, pada mimpi di mana orang
itu menjelma jadi sosok entah siapa yang bukan dirinya. Bahkan terus
menangis meraung-raung pada mimpi di mana orang itu menjelma jadi sosok
entah siapa yang diciptakan orang-orang ribuan tahun lalu. Sosok yang
menguasai daratan, menguasai lautan, yang memisahkan bumi dari sorga;
sosok teragung, adi-insani, yang menjaga kesuburan, kehidupan kekal,
menguasai dunia orang mati, penyelamat segala mara segala bahaya,
penyembuh segala yang sakit.
Engkau tetap tahu dan bisa mengenali sosok itu seperti apa pun ia
beralih rupa, tak lain, karena batu tapakan di kedua kakinya. Batu
tapakan itu selalu ada, tak lain pula, karena bila kakinya langsung
menjejak mencecah sesuatu, maka segala atau setiap apa pun yang dijejak
dicecah itu akan hancur-menjelma jadi debu.
Dan di suatu mimpi kanak-kanak lain, seperti orang itu, kau pun jatuh
demam. Bukan karena “empat penampakan”, melainkan karena apa yang
disebut orang itu sebagai “jalan utama berunsur delapan”.
Tetapi begitulah, setelah kau masuk ke jalan itu, sebuah jalan tua
yang sudah terbentang sejak ribuan tahun lalu; setelah kau mengenal
delapan unsur itu, unsur yang jauh lebih tua dari segala unsur kimia dan
segenap turunannya di sekolah remajamu, engkau pun lalu sembuh. Dan
bukan hanya sembuh. Karena, setelahnya pula, kau tak menangis lagi. Tak
menangis lagi tak meraung-raung lagi. Lima, tentang Godaan
Di luar semua hal aneh dan mengherankan, apakah yang paling tak masuk
akal dari mimpi kanak-kanakmu? Sebelum mengabaikan atau tergoda untuk
tak memberikan jawaban, engkau berkata: masuklah ke dalam mimpiku, maka
pertanyaan itu akan hilang dari kepalamu. Atau: berdirilah kau di sini,
di tempatku berdiri, karena pertanyaan itu lahir di sana, di tempat
engkau berada.
Dan begitulah semua tak bisa dilihat dari masuk akal atau tidak. Apa
yang ada di dunia nyata, bisa menjelma jadi tak ada, atau sebaliknya.
Apa yang kau sebut mimpi kanak-kanak, bisa jadi adalah mimpi dewasa,
atau, jangan-jangan, sebenarnya, adalah mimpi tanpa usia.
Maka begitulah, dalam suatu mimpi kanak-kanakmu, kau lihat orang yang
bernama Hawking itu, dengan wajah sangat polos seperti kanak-kanak,
ataukah sebenarnya sangat serius seperti orang dewasa, enteng berkata,
“Kita, akhirnya, menemukan sesuatu yang tidak memiliki penyebab karena
tak ada waktu untuk suatu penyebab berada di dalamnya.”
Kita, akhirnya, menemukan sesuatu yang tak masuk akal karena tidak
ada waktu untuk sesuatu yang masuk akal berada di dalamnya. Sangat
sederhana.
Gus tf Sakai lahir dan menetap di Payakumbuh, Sumatera Barat. Buku kumpulan cerpennya antara lain Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004) meraih SEA Write Award dari Kerajaan Thailand dan Perantau (2007) meraih Khatulistiwa Literary Award. Ia juga dikenal sebagai penyair.
Cerpen Miranda Seftiana (Kompas, 09 Juli 2017) Sekuntum Melati Ibu ilustrasi M Dwi Pradipta/Kompas
Aku mengenal ibu sebagai perempuan yang ceria. Dia sering tertawa,
meski aku tidak benar-benar mampu mengeja apakah karena gemar saja atau
dia memang sedang bahagia. Satu hal yang pasti, banyak lelucon yang
sedatar papan sekali pun mampu memantik gelaknya. Persis seperti bocah
usia di bawah lima tahun yang menganggap anjing tercebur ke kubangan
lumpur bukan sebagai masalah, melainkan ajang bermain air dan sabun.
Pekerjaan menyebalkan bagi sebagian orang dewasa karena mesti mengulang
aktivitas yang sama padahal bisa dilakukan sekali saja dalam seminggu.
Tapi aku suka ibu. Suka melihat sudut bibirnya yang tertarik nyaris
mencapai tulang pipi. Suka melihat retinanya yang coklat mengembun
seperti daun ketika pagi hari. Segalanya lebih menarik. Tentu. Daripada
kau melihat sepasang bahu yang berguncang atau lima jari yang membekap
mulut dengan rapat. Aku tidak suka itu dan mungkin ibu juga begitu.
“Kana, ambilkan arang dan sekam!” suara Ibu merambati udara. Beradu
deru mesin alkon yang melewati sungai Pangambangan di belakang rumah
kami.
Aku yang sedang memandangi buah-buah rambutan bergegas menuju teras.
Di sudut tempat yang menjadi transisi antara pekarangan dan pintu rumah
tergeletak sekarung kulit padi yang telah menghitam, juga beberapa
bungkus arang yang biasa digunakan untuk membakar ayam atau ikan. Ibu
meletakkan di sana, di tempat teduh oleh bayangan dahan belimbing wuluh.
Sengaja katanya, agar tidak mengganggu estetika. Karena menurut
kepercayaan ibu, sesuatu yang kotor mesti dirahasiakan sebagaimana yang
dilakukan Tuhan terhadap kesalahan manusia.
Aku tidak berani membantah. Sepanjang hidup pun tak pernah menganggap
ibu salah, terlebih jika sudah melibatkan Tuhan. Bapak juga begitu. Dia
tidak suka mendebat ibu. Paling tidak, demikianlah yang kutahu
sepanjang kebersamaan mereka sebagai orangtua. Meski dalam
kesehariannya, lelaki dengan kumis melintang di antara hidung dan katup
teratas bibir itu berbeda minat dengan ibu.
Bapak lebih suka tanaman yang bisa dimakan, terlepas dalam kondisi
mentah atau setelah diolah. Oleh karena itu, di halaman ini kalian bisa
melihat perbedaan keduanya yang kentara. Jika ibu memilih menanam
sepasang bunga kertas, putih dan merah sebagai gerbang, maka bapak
memilih menanam mangga di halaman depan. Bila ibu lebih suka menumbuhkan
bunga sri gading untuk mengawetkan pupur basah—bedak berbahan tepung
beras dan air—yang biasa dipakainya tatkala menjajakan kembang barenteng
dengan jukung hawaian, maka bapak condong menanam sepohon belimbing
wuluh di seberangnya.
Bapak suka menyantap ikan goreng, pepes, dan bakar dengan belimbing
wuluh yang dicampur irisan cabai serta bawang merah. Lantaran demikian,
hampir tak sekalipun buah bercitarasa asam sepat itu sempat menghujam
tanah. Bapak akan lebih dulu memetiknya tak lama setelah bakal bunga
menjelma buah. Ia akan menyusunnya ke dalam toples kaca, menyiram dengan
larutan garam, lalu menyimpan di rak gantung sekitar dapur. Sepanjang
tahun kalian bisa melihat deretan toples kaca berisi belimbing wuluh
lunak dan berwarna kecoklatan. Bapak suka itu, ia tidak pernah bosan,
tak mau digantikan. Kami menyebutnya jaruk balimbing tunjuk.
Selain belimbing wuluh, bapak juga menaruh perhatian istimewa pada
pohon rambutannya. Sekali dalam seminggu ia akan memupuk akar rambutan
yang menyembul ke permukaan dengan gula. Setiap pagi, sesuai menyesap
teh panas buatan ibu, ia akan menyiramkan sisanya ke pokok rambutan itu.
Kupikir tidak bisa benar-benar disebut sisa, sebab bapak seperti
sengaja menyisihkan tehnya lebih banyak untuk akar rambutan. Pada masa
berbunga, bapak akan lebih sering melakukannya.
Ibu tidak pernah keberatan gula sakarnya berkurang setengah kilo
setiap minggu. Seperti bapak yang juga tidak pernah marah simpanan arang
untuk membakar dan memepes ikan berkurang demi anggrek milik ibu. Sudah
kukatakan, mereka nyaris alpa dari berbantahan.
***
Bapak tidak suka bunga. Aku tahu. Ibu tentu lebih tahu. Tapi bapak
adalah lelaki manis seumpama rambutan jenis batukan yang tumbuh di
pekarangan kami. Konon menurut cerita bapak, rambutan ini tidak bisa
dipisahkan daging buah dan bijinya. Kalian hanya bisa menikmati dengan
cara mengemut hingga rasa manisnya menyisakan hambar. Meski seperti
tebu, rambutan ini tidak boleh terlalu banyak disantap karena bisa
menyebabkan batuk. Bisa jadi inilah muasal nama batukan yang disematkan
pada jenisnya.
Manisnya bapak bukan dengan kata cinta. Seumur kebersamaan dengan
mereka, aku tidak pernah mendapati keduanya bertukar panggilan sayang,
jelingan menggoda pun tidak. Ya, paling tidak, itulah yang kudapati dari
teras hingga dapur. Selebihnya barangkali menjadi rahasia yang disimpan
berdua oleh bapak dan ibu.
“Kenapa Ibu memanggil Bapak dengan sebutan Bapaknya Kana, bukan kanda atau sejenisnya?” usutku suatu waktu.
Ibu sedang merangkai kuntum melati dan kelopak mawar dengan sebuah
jarum dan benang dari serat pelepah pisang ketika aku bertanya begitu.
Maka dilepaskan segala kegiatan ke atas sebuah talam—nampan berbahan
kuningan. Ibu menatapku lama, tersenyum sesamar benang serat pelepah
pisang.
“Itu cara menyapa pasangan yang dicontohkan Penghulu Zaman,” ucap Ibu
lalu kembali menusuk kuntum melati dengan jarum yang tajam. Aku
meringis ngilu menyaksikannya, terlebih saat giliran kelopak mawar yang
lubangnya kentara.
“Bu, ini kembang barenteng ya?”
Dia menggeleng kecil. “Ini kembang nagasari.”
“Bukankah kembang nagasari semestinya menggunakan melati yang masih kuncup?”
Tunjukku pada kuntum-kuntum semerbak yang telah mekar sempurna. “Kalau begini lebih mirip kembang barenteng untuk ziarah.”
Ibu tidak menyahut, ia hanya memandangiku dengan nanar. Aku balik
menatap mata ibu, menelusuri kebohongan dari retina secoklat air rawa.
Tidak ada dusta di sana. Hanya rahasia yang terlampau dalam untuk
diselam.
***
Senampan ketan berhias nanas merah yang dibentuk bagai kepala merak
telah tersaji di depan pelaminan yang berhias arguci. Di sekeliling
ketan itu terselip daun pisang yang dilipat kerucut. Lalu di atas ketan
putih yang dimasak dengan santan berderet-deret irisan telur dadar tipis
membentuk gelombang. Kami menyebutnya lakatan hadap-hadap. Sajian wajib
di hari pernikahan perempuan Banjar.
Pada kiri dan kanan pelaminan berdiri kambang sarai—hiasan kertas
berwarna-warni yang dililit ke lidi—yang ditancap pada vas kuningan.
Kuning, merah, dan hijau menjadi warna dominan. Kuning bermakna sakral,
merah terselip makna kejujuran, sedangkan hijau berarti sejuk. Itu kata
pahiasan—perias pengantin tradisional Banjar—yang kini sedang berusaha
menyematkan kembang nagasari pada galung. Bunga ini istimewa,
dikumpulkan oleh bapak dan dirangkai oleh ibu.
“Beruntungnya suamimu, jujuran sapambari tapi mendapat melati yang
masih kuncup,” komentar pahiasan sembari mengangkat surai nagasari.
“Memang ada apa dengan melati yang masih kuncup?”
Perempuan jelmaan yang menuju senja itu menepuk kedua pundakku. Dia
menunduk, kami bertatapan sesaat di pantulan cermin meja rias yang
dihadiahkan calon suamiku sebagai tanda kesanggupannya memenuhi syarat
antaran tikar kalambu; mengisi kamar mempelai wanita dari teras hingga
langit-langitnya.
“Melati yang kuncup pertanda kau masih dara,” bisiknya membuat rambut halus di sekujur tengkukku meremang.
Mataku memicing tajam ke sudut dinding kamar. Di sana, foto
pernikahan bapak dan ibu terpajang, belum dipindahkan ketika pahiasan
meminta kamar mereka menjadi kamar pengantin. Sebab ukuran kamarku yang
sempit untuk tukang rias dan perlengkapannya masuk. Mendadak anganku
berterbangan.
Melati pada surai nagasari ibu yang telah mekar, akta kelahiranku
yang hanya memuat satu nama orangtua, ibu yang lebih suka menyatukan
kelopak bunga yang telah tercerabut dari kuntum, bapak yang sering
mengumpulkan bunga ranggas tapi sejujurnya lebih suka menumbuhkan taman
yang bisa ia makan. Aku sadar sekarang, mereka bukan selalu sepaham,
melainkan hampir tak pernah bercakap kecuali perihal anak. Adakah
seluruhnya kembang barenteng ibu; rangkaian bunga yang dibawa orang
berduka pada pemakaman orang tercinta?
Miranda Seftiana, lahir di Hulu Sungai
Selatan. Menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung
Mangkurat. Buku tunggalnya berjudul Senandung Cinta untuk Bunda (Leutika Prio, 2011). Karyanya berjudul Sebatang Lengkeng yang Bercerita terhimpun dalam buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015.