Daftar Blog Saya

Rabu, 05 Juli 2017

Hikayat Rumah Lanting

Cerpen Sandi Firly (Kompas, 18 Juni 2017)
Hikayat Rumah Lanting ilustrasi Reza Akil - Kompas
Hikayat Rumah Lanting ilustrasi Reza Akil/Kompas
“Kelak, apa yang aku kisahkan ini tinggal menjadi hikayat. Hikayat rumah lanting. Maka catatlah baik-baik setiap perkataan dan kisahku sebelum akhirnya nanti aku menutup mata, dan tak pernah lagi kulihat cahaya matahari pagi atau senja mengapung di sungai dari jendela ini.”
Kai Badar, yang usianya telah melampaui abad, mulai bercerita sembari berbaring di kasur lepek usang di samping jendela. Di luar, senja kuning mulai luruh. Aku menyiapkan buku catatan, dan meletakkan sebuah tape recorder di samping bahunya yang telanjang, kering, dan kurus. Meski sesekali diselingi batuk-batuk yang seolah keluar dari rongga dadanya yang tipis—sesungguhnya lebih mirip derit pintu yang engselnya tak pernah diberi minyak pelumas, ia bercerita cukup lancar, terkadang seolah memojokkanku walau kutahu ia tak bermaksud begitu. Entah karena batuk yang terasa menyayat, atau karena ia terharu, bulir bening mengembun di ujung matanya yang telah rabun.
Tak ada yang bisa aku lakukan untuk lelaki tua ini, selain hanya mendengarkan tutur dari mulutnya yang kosong tanpa gigi hingga menyerupai sebuah liang hitam—aku membayangkan suara-suara itu bukan berasal dari mulutnya, tapi lubuk jiwanya. Ia berkisah dengan seluruh semangat hidupnya yang masih tersisa, walau mungkin hanya tersisa sekecil nyala lilin yang bergeletar diembus angin. Ada nada marah, juga kecewa.
***
Sehari sebelumnya, Walikota Kota Air meninjau pembangunan siring beton yang telah berlangsung hampir tiga bulan. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, bertopi koboi, berkacamata hitam, dan didampingi beberapa anak buahnya.
Dari sini, tempat kami berdiri yang juga sebagian tepi sungainya telah disiring, ia memandang ke seberang, persisnya ke sebuah rumah lanting yang tampak menyolok karena satu-satunya bangunan kayu yang masih tersisa. Sementara deretan kiri kanannya yang dulu berdiri beberapa rumah lanting dan bangunan tua peninggalan zaman Belanda berbahan kayu, semuanya telah digantikan beton berpagar etnik Kalimantan; ukiran buah nanas lambang kesuburan.
Jelas sekali mata Walikota terganggu dengan rumah lanting satu-satunya itu. Sambil berkacak pinggang dan mengembuskan asap rokok ia berucap, “Mengapa rumah lanting itu masih berdiri di sana?”
Kepala Satpol PP, anak buahnya yang ditanya, lelaki berbadan besar dan berkumis tebal itu seketika terlihat menciut—sejak itu aku tahu lelaki yang tampak perkasa ketika ciut ia seperti balon yang mendadak kempis kehabisan angin. “Maaf, Pak Wali, pemiliknya tetap ngotot mempertahankan rumah lantingnya, walau sudah kita bujuk berkali-kali,” jawabnya gugup sembari membungkuk dan merapatkan kedua tangan di antara kedua pahanya yang juga dirapatkan.
“Ah…,” desah Walikota. “Begitu saja kalian tidak bisa mengatasi. Kan sudah aku bilang tawarkan ganti rugi tinggi, kalau perlu dua kali lipat dari nilai rumah reyot itu.” Walikota mengembuskan asap rokoknya keras-keras, yang kemudian dibawa terbang angin tepi sungai yang berembus semilir. Jelas sekali Walikota tidak senang mendengar laporan anak buahnya tadi.
Masih terbata-bata Kepala Satpol PP yang kumis tebalnya mendadak seperti layu itu menjawab, “Sudah Pak Wali. Malah kai tua pemilik rumah lanting itu tidak mau dibayar berapa pun.”
“Halahhh…. Mana ada orang yang menolak kalau dikasih uang banyak-banyak. Berapa sih dia mau? Setengah miliar, satu miliar? Kasihkan saja!”
“Benar Pak Wali. Kai itu bilang, berapa miliar pun ia tidak mau terima.”
Walikota tercenung sejenak. Asap rokok berebutan keluar dari mulutnya. “Yang begini inilah seringkali menghambat pembangunan,” ucapnya pelan. “Tapi saya tidak mau tahu, rumah lanting itu tetap harus dibongkar. Bagaimana pun caranya,” tandasnya agak keras.
Walikota berbalik melengos, dan saat itulah ia seperti baru sadar kalau sejumlah wartawan sejak tadi mendengarkan pembicaraannya dari belakang.
“Oya, kalian wartawan, pembicaraan tadi tidak untuk diekspos, off the record ya…,” katanya tersenyum ramah. Juga kepadaku.
“Terus bagaimana Pak kalau kai itu tetap tidak mau pindah?” tanya seorang wartawan televisi, kamera yang dibawa temannya menyorot wajah Walikota.
Dengan memasang wajah manis dan seakan-akan bijak, Walikota berkata penuh wibawa. “Kita akan tetap melakukan pendekatan persuasif. Akan kita jelaskan bahwa pembangunan siring ini demi kemajuan dan keindahan kota kita juga, seperti kota-kota luar negeri yang pernah saya kunjungi, Venesia, Belanda, atau Shanghai,” jelasnya dengan nada bangga. “Namun yang jelas, rumah itu tetap harus dibongkar,” tandas Walikota, lantas memasuki mobil dinas hitamnya.
Sore hari itu juga, sebuah alat berat penghancur bangunan perlahan mendekati rumah lanting di tepi sungai. Orang-orang berdiri menyaksikan dari atas jembatan. Tak ada yang bersuara. Tegang. Sementara alat berat seperti kepiting raksasa berlengan satu itu perlahan berjalan siap meluluh-lantakkan.
Orang-orang mendadak menjerit tertahan ketika sekonyong-konyong keluar dari balik pintu rumah lanting itu seorang kai bertelanjang dada—hingga jelas terlihat tulang-tulang rusuknya berbalut kulit tipis, kering dan keriput. Ia berdiri persis di depan kepiting besi itu, hanya berjarak satu meter. “Kalau kalian tetap menghancurkan rumah ini tanpa berperikemanusiaan, maka kalian juga harus menguburkanku bersamanya!” teriak kai itu lantang, namun samar ditelan deru mesin alat berat dengan tangan panjang yang terulur siap mencengkeram atap rumah lanting yang terbuat dari daun rumbia.
“Teruskan…! Teruskan…!” Kepala Satpol PP berteriak kepada petugas di atas alat berat. Tampak sekali keraguan di wajah lelaki gemuk di belakang stir alat berat. Tangan kepiting raksasa itu tertahan di udara, hanya berjarak sejengkal dari atap rumah lanting itu. Suasana kian tegang.
“Waduh…, Pak. Ini tidak bisa diteruskan. Bisa-bisa saya malah membunuh kai itu!” sahutnya setengah berteriak. Keringat bercucuran membanjiri kepala dan wajahnya.
“Haaahhh…!” Kepala Satpol PP menggaruk-garuk kepalanya yang botak setelah melepaskan topi.
Akhirnya mesin alat berat dimatikan, dan lelaki gemuk itu turun, pergi menjauh sembari geleng-geleng kepala dan menghapus peluh di kepalanya yang plontos. Orang-orang bertepuk tangan serta bersorak seolah memberikan selamat kepada kai yang perlahan kemudian memasuki kembali rumah lantingnya. Sementara tangan alat berat masih menggantung di atasnya, begitu dekat.
Kerumunan di atas jembatan perlahan membubarkan diri, dengan senyum dan napas lega. Arus lalu lintas yang sempat macet di atas jembatan kembali lancar. Esok harinya, gambar seorang kai berdiri merentangkan kedua tangannya yang kurus di depan rumah lanting, berhadap-hadapan dengan alat berat yang terkesan seperti raksasa kelaparan, menghiasi halaman-halaman depan koran di Kota Air. Tak terkecuali juga koran tempatku bekerja.
Sebab itulah aku diminta mewawancarai kai itu untuk menanyakan lebih jauh mengapa ia begitu gigih mempertahankan rumah lantingnya di tengah pengerjaan proyek siring di tepi sungai yang membelah kota.
***
“Orang-orang muda sekarang tidak pandai menghargai sejarah. Seolah sejarah adalah masa lalu yang harus dilupakan karena kuno, usang, dan tidak menarik. Seperti rumah lanting ini, yang tersisa satu-satunya di sungai ini pun ingin dihancurkan, ditenggelamkan, dimusnahkan.
“Kalian tidak pernah membaca. Tidak pernah mempelajari orang-orang tua dahulu.”
“Kalian menganggap sebuah kota yang indah adalah bangunan-bangunan beton yang tinggi, baliho-baliho yang menutupi langit, tiang-tiang antena yang menembus awan, dan rumah-rumah seperti istana raja. Lalu makanan-makanan mewah yang disajikan di piring-piring kaca berukir, minuman-minuman sari buah di cangkir-cangkir bening, serta barang-barang luar negeri. Semuanya kalian nikmati sembari menyaksikan tayangan-tayangan televisi yang menyajikan wajah-wajah cantik yang melenakan. Kalian juga menghibur diri di ruang-ruang yang bergemuruh dan penuh lampu warna-warni, bernyanyi keras-keras di kamar sempit dengan diapit wanita-wanita yang juga berpakaian sempit. Kalian dengarkan ceramah motivator-motivator untuk memperkaya diri.”
“Sementara itu, kalian mulai menyingkirkan peninggalan-peninggalan orang tua dahulu. Kalian hanya memahami arti kekayaan dan keindahan materi saja. Tapi tidak pernah memahami keindahan jiwa, kehalusan budi pekerti. Semuanya hanya kalian nilai dengan uang, uang, dan uang.”
“Tahukah kalian, mengapa orang-orang zaman dulu membangun rumah-rumah lanting ini? Membangun rumah di sungai, di tepian? Karena sungai inilah nadi hidup, ia bisa mengarus lambat, namun juga suatu waktu menderas, deras, bergejolak, melimpah menggenangi jalan-jalan hingga banjir di mana-mana. Tapi kami orang-orang dulu tidak pernah mengalami banjir itu meski air meluap setinggi apa pun. Rumah lanting kami bersahabat dengan sungai, sungai meninggi rumah kami tetap di atas tak pernah tertelan air, kami berjalan di atas air dengan jukung-jukung dan kelotok, kami bertukar bahan makanan di atas sungai. Kami hidup bersama sungai.”
“Kini kalian mencoba membendung sungai dengan beton-beton. Lalu rumah lanting kalian lenyapkan atas nama pembangunan, berdalih demi keindahan kota. Sementara itu kalian korbankan sejarah, kalian lenyapkan kearifan orang-orang tua dulu.”
“Tidak bisakah kalian membangun tanpa harus mengusir kami dari tepian sungai tempat hidup kami? Sebegitu sulitkah yang kalian sebut modernisasi berdampingan dengan tradisi-tradisi lama, seperti rumah lanting ini?”
Dengan perasaan malu aku meninggalkan rumah lanting Kai Badar senja itu. Dan entah mengapa aku merasa telah gagal mewawancarainya, kecuali hanya mendengarkan keluh kesah bahkan mungkin serapah dari seorang tua yang kecewa dan putus asa.
***
Senja ini seperti senja terakhir yang dilihat Kai Badar ketika aku ke rumah lantingnya kemarin. Dari atas jembatan samping Pasar Lama Kota Air, aku menatap rumah lanting Kai Badar yang hening, sesekali terayun-ayun dihela ombak kelotok yang membelah sungai.
Kai Badar telah dikuburkan sebelum ashar tadi. Dari para pelayat dan pengantar jenazah yang mendengar cerita dari Galuh, cucunya, semalam batuk Kai Badar nyaris tak henti, tubuhnya yang terguncang tak saja menggetarkan ranjang kayunya, tapi juga seolah melenggangkan rumah lantingnya. Usai salat subuh, ia kembali berbaring. Setelah itu tak terdengar lagi suara batuk. Dan pagi ketika Galuh telah menyiapkan nasi kuning untuk sarapan, Kai Badar telah wafat—mulutnya yang kosong setengah terbuka, dan mata terpejam rapat.
Setelah kepergian Kai Badar, aku tahu tak ada lagi yang bisa menghalangi penghancuran rumah lanting itu. Sebuah alat berat, entah sejak kapan, terlihat telah parkir tak jauh dari sana—mungkin malam nanti akan digerakkan, dan serupa hantu akan melumat satu-satunya rumah lanting yang tersisa itu. Seketika terlintas ucapan Kai Badar, “Kelak, apa yang aku kisahkan ini tinggal menjadi hikayat. Hikayat rumah lanting….”
Aku berjalan gontai sambil menggulung koran yang memuat kisah Kai Badar dan rumah lantingnya. Aku merasa telah gagal membantunya mempertahankan rumah lanting itu, kecuali hanya sebuah hikayat.
***
“Itukah rumah lanting yang dulu pernah kamu ceritakan kepadaku?”
Aku tersenyum nanar. “Bukan. Itu Restoran Terapung milik pemerintah,” jawabku kepada Jeanny, teman dari Jakarta yang kukenal lewat jejaring sosial internet sejak setahun lalu. “Rumah lanting kini hanya menjadi hikayat,” ucapku lagi, pelan.
Jeanny sekilas menatap ke arahku, agak bingung, lalu kembali mengarahkan perhatiannya ke bangunan yang mirip rumah, agak panjang, berdiri di atas sebuah kapal besi tongkang karatan—bukan batang-batang kayu bulat tempat dulu rumah lanting Kai Badar mengapung persis di situ.

Catatan:
Kai = Kakek
Jukung = Sampan
Kelotok = Kapal kecil bermesin

Sandi Firly, lahir 16 Oktober 1975 di Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Seusai studi di FISIP-Komunikasi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin, Kalimatan Selatan, pada 1999, bekerja sebagai wartawan.

Tamasya Kota Pernia

Cerpen Toni Lesmana (Kompas, 11 Juni 2017)
Tamasya Kota Pernia ilustrasi Komang Marna - Kompas
Tamasya Kota Pernia ilustrasi Komang Marna/Kompas
Aku sebenarnya tidak ingin membawamu setiap hari tamasya ke dunia ini. Tapi ke mana lagi. Tak ada tempat lain bagiku. Dongeng-dongeng indah yang menawan sudah habis dan kau menolak variasi apa pun, apalagi pengulangan. Ingatanmu kuat, hingga tak bisa kusiasati. Sejak tamat riwayat cerita-cerita, kau selalu saja mengajak bermain ke tempat-tempat baru. Kamar dan rumah tak pernah bisa membuatmu betah.
Setiap pagi, usai kau mandi, berpakaian, dan makan. Usai ibumu berdandan dan berangkat ke kantornya. Kau tahu, ibumu seorang pekerja keras dan pantang menyerah. Mirip denganmu, yang setiap pagi selalu punya cara untuk membujukku bermain ke tempat yang kau inginkan.
Mula-mula kau akan menarik-narik ujung celanaku, lalu mendaki kakiku, bernyanyi-nyanyi di pangkuanku, lancang menjambak rambut sambil memanjat ke pundak.
“Main lagi, main lagi. Orang-orang berkepala ayah! Orang-orang berkepala ayah!” bisikmu dengan irama yang jenaka.
“Tapi jangan bilang-bilang ibu.” Selalu begitu pintaku sebelum meluluskan permohonanmu. Kau akan mengangguk lucu, kau tahu anggukanmu itu adalah kunci untuk membuka pintu rahasia yang terletak di samping kepalaku.
Kau tetap di pundakku saat aku menunduk memasuki pintu, dan berjalan bebek sepanjang lorong. Dulu, pertama kuajak kau tamasya ke sini, tanganmu erat menjambak rambut. Tegang. Bisa kurasakan dari jepitan pahamu di leher serta gerak tumitmu yang menghantam-hantam dada.
Lorong ini tidak benar-benar panjang, hanya saja remang berliku dan menurun. Lantas meluncur. Nah, saat meluncur inilah keteganganmu mencair. Kau memekik riang. Tubuhmu mengentak-entak gembira. Pendar cahaya jamur yang bertebaran seperti sarang kunang-kunang mungkin membuatmu senang.
“Ayah, kita mau ke mana?” teriakmu saat itu.
“Tamasya.” Balasku ikut gembira.
“Ke mana?”
“Dunia bawah tanah.”
“Bukan tanah dongeng, kan?”
“Bukan!”
“Terus tanah mana, dong?”
“Tanah di dalam kepala ayah.”
Kau tertawa tergelak. Manis. Bernyanyi-nyanyi. Sementara aku meluncur semakin cepat, kemudian mendarat tepat di tengah sebuah kota. Aku memanggilnya Kota Pernia. Rumah-rumahnya bergoyang seperti ada per yang ditanam di fondasi-fondasinya. Begitu pula pohon-pohonnya, seakan-akan akarnya melingkar serupa pegas. Segalanya bergoyang seperti hendak berhamburan begitu saja. Jalanan, rumah-rumah, pohon, dan langit.
“Kenapa ada langit, Ayah? Lucu, langitnya seperti menari!” Kau bergulingan di atas jalanan yang bergerak seperti gelombang. Bulat matamu seperti meloncat saat terbaring memandang ke langit ungu.
“Apa saja ada di sini. Dan tak pernah sama dengan dunia di atas.” Jawabku sambil ikut terbaring. Bergulingan. Aku dan kamu terus bergerak dan bergoyang seperti juga Kota Pernia yang terus bergoyang dan bergerak. Hidup.
Kau begitu riang. Matamu takjub menatap setiap lekuk kota yang bergoyang. Berlari dan melompat-lompat. Menari berputar-putar.
“Kenapa kota ini terus menari, Ayah?” tawamu bertebaran. Kau berlari lagi mengejar tawa dan kata-kata yang beterbangan seperti capung, kupu-kupu, burung. Warna-warni. Di kota ini memang segala suara yang keluar dari mulut akan mewujud dan hidup.
“Karena ada lagu yang tak terdengar dan tak terlihat di sini. Seperti denyut jantung di tubuhmu.” Jawabku sambil menggenggam tanganmu. Dan mengajakmu berjalan sepanjang jalan yang bergoyang. Rumah-rumah yang hidup.
Tak pernah kulihat kegembiraan yang begitu indah dan memesona di rautmu. Wajahmu yang mirip wajah ibumu itu, memancarkan cahaya. Tatapmu bersinar di hadapan keajaiban.
“Ayah sejak kapan suka ke sini?”
“Sejak seusiamu.”
“Diajak kakek?”
“Tidak, sayang. Ayah berjalan sendiri.”
“Kok bisa?”
“Kan, ada dalam kepala ayah.”
“Ibu pernah diajak ke sini?”
“Tidak.”
“Kapan-kapan mesti diajak. Asyik. Ini ajaib.”
“Ssst, jangan pernah bilang ke ibu?”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan.”
Kau terkikik digelitik kata-kata yang berseliweran, menyambar nakal dan centil. Kata dan tawa beterbangan, sebagian melesat memasuki pintu dan jendela yang terbuka, sebagian hinggap di pohon-pohon.
“Mereka bikin sarang!” Kau melonjak di hadapan liuk sebuah pohon sambil menunjuk kata-kata yang memungut daun dan menyusunnya di atas dahan.
Aku menarik lembut tubuhmu, bersembunyi ke belakang pohon. Berbisik agar kau melihat ke arah jalan dan rumah-rumah yang terus bergoyang.
Kata-kata, tawa, dan nyanyian masih beterbangan. Meliuk-liuk di udara.
“Lihat!” ucapku memberi aba-aba.
Kau tiba-tiba melotot dan membekap mulut sendiri. Terkejut dan takjub. Kakimu mengentak-entak riang. Seperti menemukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan.
Kau terus melotot ke arah pintu-pintu dan jendela, di mana muncul orang-orang yang berjalan melompat-lompat. Orang-orang berhamburan dari setiap rumah, mengejar kata-kata yang terus mengepak nakal seperti ingin ditangkap. Orang-orang aneh. Sebagian lehernya begitu kecil dan panjang, hingga mirip benang, dan kepalanya mirip balon, melayang ringan di udara. Sebagian lagi menenteng kepalanya masing-masing, seperti menenteng kantong untuk tempat menyimpan hasil tangkapan.
Hewan-hewan berdatangan dari berbagai arah. Hewan-hewan dengan posisi kepala yang juga aneh. Kepala mereka bentuknya sama. Hewan apa pun kepalanya sama.
“Mereka menari, mereka menari!” kau memekik, lantas menangkap kembali kata-kata yang hendak terbang, digenggam dan dielus. Disembunyikan ke dalam kantong celananya. Seakan sayang jika mereka tertangkap orang-orang yang memenuhi dan menari di jalanan.
Kau menunduk dan mengajakku mengendap. Mendekati mereka.
“Kau takut?” tanyaku.
Kau menggeleng, “Mereka lucu! Apakah mereka jahat?”
“Tidak. Mereka hanya sunyi!”
“Apa itu?”
“Ya itu, tuh. Menari tanpa musik.”
Kau lagi-lagi tersenyum. Diam-diam meniru gerak mereka yang bergoyang dengan irama yang berbeda-beda. Ada yang lambat, ada pula yang cepat. Seakan-akan mereka mengikuti sebuah alunan musik, padahal di Kota Pernia yang ada hanya sunyi. Tak ada suara-suara terdengar.
Semakin dekat. Berlindung di sebuah tembok sebuah rumah. Kau menjulurkan kepala agar lebih jelas memandang. Kau tiba-tiba berbalik dan menoleh ke arahku. Aku khawatir aku akan menjerit, panik, dan histeris. Tapi kau, kau malah tergelak. Terpingkal-pingkal. Sampai terbungkuk-bungkuk.
Tawa berhamburan.
“Ada banyak Ayah di sana. Mereka semua adalah Ayah. Ini kota Ayah. Semuanya Ayah. Hewan-hewan juga berkepala Ayah.” Kau bersorak. Melompat ke arah pelukanku. Memeluk dan menciumi. Kemudian dengan penuh semangat menyeretku untuk berjalan ke arah mereka yang terus berburu kata.
Kupikir kau akan lekas mengajak pulang. Namun ternyata kau malah asyik menari-nari dengan mereka keliling kota. Sesekali kau sengaja bernyanyi, hingga nyanyian marak beterbangan di udara. Warna-warni. Sengaja agar mereka yang kepalanya persis dengan kepalaku itu berlarian mengejar dan memburu.
“Kenapa mereka tak bicara, Ayah?”
“Mereka tak punya kata-kata.”
“Oh, akan kuberi mereka kata-kataaa!”
“Jangan banyak-banyak nanti mereka rebutan terus berkelahi.”
“Tidak, dong, mereka baik, kok. Lucu dan kocak.”
“Kocak?”
“Ya. Kocak mirip Ayah. Kenapa mereka semuanya mirip Ayah.”
“Mereka memang Ayah, kok!”
“Dasar tukang ngarang. Kata ibu, pengarang itu suka ngibul.”
“Tapi senang, kan, di sini?”
“Senaaaang. Ayah punya rumah tidak di sini?”
“Kenapa memang?”
“Nanti kita berlibur di sini. Aku akan mendongeng buat mereka. Kasihan sekali, mereka kurang piknik.”
Untuk menghindari antusiasmu aku mengajakmu berkunjung ke setiap rumah. Rumah yang hidup, seperti mempunyai mata, hidung, mulut, dan telinga. Rumah yang bentuknya juga mirip kepalaku. Kau bermain dengan mereka tak puas-puas. Kau mendongeng berkeliling. Kata-kata tak habis-habis dari mulut mungilmu. Hingga selalu mesti kupaksa untuk pulang. Tentu saja, aku tak ingin kau masuk terperosok ke dalam lorong-lorong yang tersembunyi di banyak tempat di Kota Pernia. Lorong yang akan membawamu ke gua-gua paling kelam. Tempat-tempat yang kurahasiakan darimu. Selamanya.
Kau selalu terus berceloteh sepanjang perjalanan pulang yang cukup berat. Kau di atas pundakku. Merengek-rengek agar setiap pagi datang lagi dan lagi ke Kota Pernia. Kota yang segalanya bergoyang. Segalanya hidup.
Di mulut lorong tempat kita datang, sudah menunggu sulur-sulur yang meliuk. Aku memanjat seperti melayang, kau mengepak-kepak tangan seperti burung. Riang kau bernyanyi melebihi keriangan setelah kau bermain di alun-alun atau kolam renang atau taman bermain atau dongeng-dongeng.
Sampai kembali di kamarku. Kau tetap di pundak. Mengacak-acak rambut seperti mencari pintu rahasia. Sesekali mengetuk-ngetuk kepalaku.
“Kepala yang aneh tapi ajaib!” bisikmu sebelum turun ke pangkuan dan merosot ke kaki. Lantas kau akan mengambil buku-buku dan belajar membaca, seperti pesan dari ibumu, untuk belajar di rumah semenjak kau tak betah sekolah di taman kanak-kanak.
Siang hari kau ganti asyik dengan teman-temanmu yang datang mengajak bermain hingga ibumu pulang bekerja. “Main apa saja tadi pagi sama Ayah?” selalu begitu terdengar suara merdu ibumu.
“Kania belajar terus, Bu. Bentar lagi, kan, masuk SD. Ayah kerjanya cuma mengarang, tak mau mengajak bermain. Marah-marah kalau didekati.” Jawabmu dengan suara manja, sesekali sambil mengintip ke dalam kamarku.
Aku mengedipkan mata sambil berdebar dan bergetar menatap matamu yang menggoda. Jangan-jangan, suatu saat, kau akan bercerita tentang Kota Pernia pada ibumu. Kau menghilang dari pintu kamar. Barangkali masuk dalam peluk ibumu. Perempuan yang kita cintai. Selamanya.

Toni Lesmana, lahir di Sumedang. Menulis dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Salah satu cerpennya pernah masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas tahun 2011. Buku yang telah terbit Himpunan Cerpen Jam Malam Kota Merah (Amper Media, 2012), Kepala-kepala di Pekarangan (Gambang, 2015), Kumpulan Puisi Tamasya Cikaracak (Basabasi, 2016). Kini menetap di Ciamis, Jawa Barat.

Lelaki Itu Ingin Salat Id di Kampung Kelahiran

Cerpen Gunawan Budi Susanto (Suara Merdeka, 18 Juni 2017)
Lelaki Itu Ingin Salat Id di Kampung Kelahiran ilustrasi Suara Merdeka
Lelaki Itu Ingin Salat Id di Kampung Kelahiran ilustrasi Suara Merdeka
Perih! Itulah yang dia rasakan setiap kali menjelang lebaran. Sekarang, sudah dua puluh kali lebaran sejak dia menghilang. Dua puluh kali lebaran pula dia tak pernah pulang. Padahal, setiap kali lebaran menjelang, kerinduan selalu memberual.
Jauh dari kampung halaman, rasa sepi mengecambah, lalu pelan-pelan membelukar. Dan setiap kali lebaran, dia tersesat dalam belukar kesepian. Dia merasa tak berarti, merasa sia-sia.
“Pulanglah. Telah kelewat lama kau lari.”
Desakan ingin pulang makin hari kian kuat. Namun kenapa untuk meyakinkan diri pernah dan masih hidup mesti pulang ke tanah kelahiran?
“Kau pergi lantaran merasa tak mungkin hidup sebagaimana kauinginkan. Kini, setelah sekian lama menghilang, kau merasa bisa hidup sebagaimana kauinginkan. Orang pun mengenalmu sebagaimana kauinginkan. Namun kau justru merasa hampa, merasa tak berarti bukan?”
Dia merenungi perjalanan hidupnya, sekian lama jauh dari kehangatan keluarga, jauh dari canda tawa dan ledekan kerabat dan kawan. “Kenapa mesti pulang untuk meyakinkan diri aku ada? Kenapa aku berharap diterima saat pulang dan bisa hidup di kampung sebagai pribadi baru—yang mereka kenali berjejak jauh dari masa lalu?”
Dia tertunduk. Air matanya merebak. Dia menahan isak.
“Pulanglah. Kau butuh kepastian: hidupmu bukan kekeliruan. Kau butuh kesaksian dan pengakuan. Itu hanya bisa kau peroleh dari orang-orang terdekat, terutama Ibu dan Bapak. Jangan tunda lagi, sebelum terlambat dan kau bakal menyesal.”
Isaknya pecah. Dia menangis, tersengal-sengal. “Kenapa mereka tak mencariku? Apakah bagi mereka, lebih baik aku tak ada ketimbang ada tetapi tidak hidup sesuai harapan mereka?”
“Pulang dan kukuhkan: kau hidup sesuai dengan pilihanmu. Bukan berdasar kehendak orang lain, sekalipun mereka ibu dan bapakmu. Tak perlu ragu. Jika pulang, kau bakal tahu: mereka menerimamu apa adanya atau menganggapmu tak pernah ada.”
“Apa setelah itu aku bisa tetap hidup seperti sekarang? Atau harus mengubah diri seperti harapan mereka?”
“Pulanglah dan kau bakal tahu.”
***
Kini, di kamar hotel di kota kabupaten, dia mematut-matut diri di depan cermin. Pria tampan berbaju koko, bersarung palekat, dan berpeci hitam serbabaru itu tersenyum.
Lalu dia melepas peci, baju koko, sarung palekat dan menggantungnya di lemari. Dia ambil pakaian dari koper, memilih, dan berdandan. Di dasar koper tersisa mukena putih. Mukena lama, seusia masa pelariannya.
Dia letakkan mukena itu di kasur. Dia buka lipatan. Menguar bau kapur barus. Dia tempelkan mukena itu ke tubuh di depan cermin. “Cingkrang, kurang panjang, tapi masih bisa kupakai.”
Beberapa saat kemudian dia sudah mengarahkan mobil menuju kampung halaman. “Cuma 15 kilometer. Aku tak perlu tergesa-gesa.”
Memasuki jalanan desa, mobil memelan. Dadanya berdebar, hatinya berdenyar. Namun sekonyong-konyong kegugupan menyeruak. Dia menepikan mobil di jalan yang terapit hamparan sawah. Bulir-bulir padi kuning merunduk.
“Sebentar lagi panen,” gumam dia.
Turun dari mobil, dia berjongkok di tepi parit. “Bukan beras ketan.” Dia teringat, dulu saat bocah, ketika bulir padi merunduk, dia dan adik-adiknya acap ke sawah itu. Mereka mengambil setangkup, lalu memecah kulit padi, menggigit dan mencecap. Gurih!
Mereka juga membuat peluit dari dami, batang padi. Meniup berbarengan atau bergantian, unggul-mengungguli. Pemilik peluit bersuara paling keras dan panjang, boleh menggigit dan mengunyah bulir padi yang dikupas sang pecundang.
Dia seperti melihat kembali ketiga adiknya berseru-seru di ujung pematang. Menunjuk-nunjuk ke sesela rumpun padi. Dia turun ke lumpur. Adik-adiknya berseru riang.
“Itu, Mbak, itu di depanmu! Lagi, lagi…. Itu, Mbak, itu, di kiri!”
Matanya menerawang, jauh ke ujung jalan. Di sana, di pengujung jalan itulah rumah mereka. Di sana, di dapur rumah masa bocah itu, sepulang dari sawah mereka merebus keong sawah. Sedap!
Matanya berkaca-kaca. Dia gamang.
“Bangkitlah! Temui mereka!”
Dia bangkit, masuk ke mobil, memasuki desa. Jalanan teduh, terpayungi tajuk pohon besar trembesi di kiri-kanan. Menyegarkan.
Mobil memelan dan berhenti di depan balai desa. Beberapa lama dia masih terduduk. Sejenak ragu, tetapi akhirnya dia turun dan memasuki balai desa. Ah, dia baru ingat: ini Minggu. Pantas balai desa lengang. Cuma ada seseorang duduk di sana, membaca koran.
“Kula nuwun!
“Mangga!” sahut lelaki di balai desa itu sembari menurunkan koran.
Dia tersentak kaget. “Dwicipta?” desis dia seraya merandek.
“Mari, silakan masuk,” ujar lelaki itu berdiri, melipat dan meletakkan koran ke meja. “Maaf, Bapak siapa? Ada keperluan apa?”
Dia mendekat, mengulurkan tangan. “Saya Hendra. Kebetulan lewat desa ini, lalu teringat punya kawan SMA di sini. Memang sudah sangat lama, tapi siapa tahu bisa bertemu. Bapak…?”
“Dwicipta, kepala desa ini. Silakan duduk.”
“Oh!” Sembari menekan kegugupan, dia duduk. Sejenak dia tertunduk. “Dia tak mengenaliku!” batin dia.
“Kawan SMA? Siapa, Pak?”
“Reni. Dulu bapaknya lurah,” sahut dia. Dadanya berdegup kencang. Dia mengusap dahi yang membasah, berkeringat.
Lelaki di hadapannya terdiam. Menerawang ke kejauhan. Sejenak lelaki itu mendongak, menatap tajam, lalu berucap pelan, “Dia mbakyu saya. Kami tak tahu di mana dia sekarang. Sudah kami cari ke mana-mana. Dia menghilang. Tak pernah berkabar, tak pernah pulang.”
“Menghilang…?”
“Ya. Kini, Bapak dan Ibu sudah sepuh. Sebelum meninggal, mereka ingin bertemu. Namun….”
“Ah, maafkan saya. Saya pamit,” ujar dia tiba-tiba sambil bangkit. Sembari menahan gemuruh di dada, dia bersicepat melangkah, masuk mobil, dan melaju. Meninggalkan sang kepala desa yang terlongong.
Di kamar hotel, dia termangu di tepi pembaringan. “Mereka mencari-cari kamu kan? Apalagi yang kautunggu? Mau lari ke mana lagi!?”
Dia membaringkan diri, miring, menekuk lutut nyaris menyentuh dada. Mlungker. Matanya memejam. Segala kenangan berseliweran dalam benak. Silang-sengkarut, serupa gambar-gambar tumpang-tindih tak keruan.
“Berapa kali sudah kau diusir dari kos? Berapa kali lagi kau harus berurusan dengan polisi?” hardik sang ayah ketika dia pulang dengan wajah dan tubuh lebam. “Kaupikir dengan lagak jagoan, orang percaya kau lelaki jantan!? Copot celanamu, pakai rok! Kau kusekolahkan di kota bukan untuk jadi bergajulan macam itu. Melawan kodrat!”
Akhirnya, setelah terjadi berkali-ulang, dia tak lagi menggubris. Dia ganti pakaian, lalu kabur dengan motor protolan. Tak memedulikan tatapan sayu sang ibu yang menekan tangis. Berhari-hari dia tak pulang. Berbulan-bulan, bertahun-tahun. Dia menghilang, sampai sekarang.
***
Dia menekan perut yang melilit-lilit. Nyeri. Dia bangkit. Sambil menekan perut, dia terhoyong-hoyong masuk kamar mandi. Dan ah…, belum sempat mencopot celana, darah sudah membanjir.
Dia menggelosor di lantai bersandar dinding. “Kenapa Kau tak memberiku pilihan? Kenapa!?”
Sesaat kemudian dia keluar. “Halo! Mbak, bisa minta tolong room service membelikan pembalut?” ujar dia lewat saluran telepon internal.
“Bisa, Ibu. Nanti kami antar ke kamar.”
“Ya, Mbak, saya tunggu. Terima kasih.”
Dia naik ke pembaringan, bergelung telanjang di bawah selimut. Meringkuk, merutuki nasib. Kini, dia tak mungkin kembali ke tanah kelahiran untuk salat id saat lebaran. Jangankan dengan peci, sarung, dan baju koko serbabaru, salat dengan mukena lama pun musykil dia lakukan. (44)

Patemon, 14 Juni 2017: 04.30
Gunawan Budi Susanto berasal dari Blora, kini tinggal di Semarang. Buku cerpennya Nyanyian Penggali Kubur (2011, 2016) dan Penjagal Itu Telah Mati (2015). Kumpulan cerkak-nya, Cik Hwa, sedang dalam proses penerbitan.

Mata Ratri

Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 11 Juni 2017)
Mata Ratri ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Mata Ratri ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka
Di dunia ini akan selalu ada mata-mata yang mampu membuatmu menggigil. Mata-mata itu akan menatapmu hingga langit seolah memburam seketika, dipenuhi mendung yang bergulung. Ketika mata-mata itu menatapmu atau matamu yang menatap mata-mata itu, beberapa detik saja, jiwamu akan seperti dihujani gerimis yang runcing yang semakin lama semakin membabi buta, seperti ribuan jarum beku yang menelusup ke pori tubuhmu. Membekukan darah dan belulangmu. Membekukan saraf dan ingatanmu. Itu akan dingin. Sangat dingin. Hingga mungkin saja kau dibuat tak berdaya olehnya.
Di kampung tempatku tinggal, di bawah langit yang sama, aku menemukan mata itu di antara jutaan mata di luar sana. Mata dengan curah hujan tak terkilas, seperti daratan Alaska yang lembap dan dingin. Terlampau dingin, seakan tubuh yang menopang kedua mata itu tak pernah sanggup menopangnya. Tubuh itu seolah hanya jasad yang membeku karea terlalu lama menopang sepasang mata yang tak henti-henti mengucurkan hujan. Dan mata itu adalah mata Ratri.
Ratri tinggal di rumah petak kecil bersama ibu dan adiknya yang pendiam. Setiap kami melewati halaman depan rumah Ratri, tiba-tiba kuduk kami akan meremang. Seperti ada seseorang meniup tengkukmu. Ratri tak pernah mampu mengendalikan hujan dalam sepasang matanya. Dan kami mengira, hujan itu bermula sejak tiga orang bercadar menyusup ke dalam rumahnya di tengah malam, tiga tahun lalu. Konon, orang-orang bercadar itu menyekapnya. Sementara suaminya, yang mencoba melawan, rubuh bersimbah darah oleh sabetan parang tiga orang bercadar itu. Suaminya pun gugur sebagai mujahid di rumahnya. Di depan mata kepala Ratri. Seketika itu, di mata Ratri, dunia menjadi retak dan buram dengan warna merah.
Tubuh Ratri tak bisa bergerak. Tubuh ringkihnya dililit tali, sementara mulutnya disumpal lakban. Ratri lemas dan gemetar menyaksikan suaminya terbujur kaku bersimbah darah, juga bayinya yang berumur tujuh bulan menangis tak keruan dan merangkak ke sana-kemari mencari ibunya. Ratri juga menyaksikan orang-orang bercadar itu menggeledah setiap bufet dan lemari, menggondol sejumlah uang dan benda-benda berharga sebelum akhirnya membakar ranjang dan lemari di kamar Ratri. Orang-orang bercadar itu melesat pergi lewat jendela ketika api mulai membesar. Mungkin Ratri berontak sekuat tenaganya, tapi sia-sia. Ia menjerit-jerit dengan tangan terikat dan suara tercekat karena mulutnya tersumpal lakban.
Api membesar dan Ratri merangkak ke sana-kemari mencari bayinya. Mungkin detik itu Ratri sudah bersiap mati sambari memeluk bayi dan suaminya dengan keadaan paling miris. Api telah menjalar dari lemari ke atap, dari atap ke pintu. Hawa panas dan sesaknya asap membuat Ratri merasa seperti telah jatuh ke liang neraka. Pada detik ketika api seharusnya semakin menyala dan melumat seisi rumah, tiba-tiba hujan deras mengguyur, seperti ludah langit yang terpercik untuk mendinginkan luka bakar yang menganga. Ketika api itu padam, dan beberapa warga riuh mengitari rumahnya, Ratri sudah tak ingat apa-apa lagi.
Ketika Ratri siuman, bayi dan suaminya sudah hampir selesai dimandikan dan dikafani. Sejak itulah mata Ratri menjadi sangat dingin.
Seperti hujan pada malam kelam dan tak henti-henti. Sejak hari itu Ratri tinggal di rumah petak sebelah rumah kami ditemani ibu dan satu adiknya. Namun hidup Ratri telah berubah, ia lebih banyak diam.
Seakan ia tak lagi mengenal setiap orang yang mengajaknya bicara, bahkan ibunya. Dan semenjak peristiwa itu, kami tak pernah melihat Ratri keluar rumah, kecuali duduk tercenung di beranda sambil memandangi kamboja di dalam pot. Ibu Ratri pernah mencoba membawa Ratri ke dokter, tapi Ratri malah menjerit histeris seperti orang kerasukan. Dan akhirnya keluarganya tak punya pilihan lain selain membiarkan Ratri nyaman dengan hawa dingin dan mendung yang ia pilih sendiri.
***
Pada musim hujan, ketika dari petala langit di atas kampung kami hujan mulai turun—hujan dalam arti sebenarnya, konon, hujan di mata Ratri justru akan berhenti. Sepasang matanya akan menjadi sangat jernih seperti langit tanpa gumpalam awan. Namun, beberapa detik berikutnya mata itu tiba-tiba akan berubah merah, menjadi api yang berkobar. Ibu Ratri acap bercerita sambil menangis ketika bertandang ke rumah kami.
Tak seorang pun sanggup meraba isi kepala Ratri, sebagaimana orang-orang tak pernah sanggup meraba ke ketinggian mendung ataupun ke kedalaman api. Mungkin hujan yang turun itu mengingatkan Ratri pada hujan paling memilukan dalam hidupnya. Ataukah api dalam sepasang matanya itu terlahir dari apa yang telah tertanam telak dalam ingatannya yang paling bara.
Ratri seharusnya tahu bahwa semua yang ia lakukan adalah perkara mustahil dan sia-sia. Namun siapa yang tahu isi hati seseorang. Kami tak pernah mengalami kepedihan sekaligus kehilangan yang bercampur aduk seperti yang dialami Ratri. Kami hanya menerka-nerka bahwa hujan dan api adalah dua hal yang saling menyambar dan melilit jiwa Ratri dan membelenggunya. Jika dalam kepala Ratri muncul kobaran api yang menggila, mungkin sepasang mata Ratri akan menjelma menjadi hujan yang mengguyur api itu hingga padam. Atau, jika suatu ketika Ratri menggigil karena hujan yang tak ramah itu, sepasang mata Ratri akan menjelma kobaran api yang membakar hujan. Tak ada yang tahu.
Keluarganya sudah lelah dan tak bisa lagi membujuk Ratri untuk kembali pada kehidupan normal. Bujukan keluarganya pada Ratri tak ubahnya sepercik air yang ditumpahkan untuk memadamkan api yang membakar seisi belantara. Mustahil. Dan harapan Ratri untuk hidup normal tak ubahnya setongkat lilin yang ia nyalakan untuk membakar hujan. Juga mustahil. Seharusnya Ratri tahu, kobaran api yang paling besar sekalipun tak akan pernah mampu membuat hujan berhenti.
Dan begitulah, pada akhirnya, Ratri hanya bisa membiarkan hujan itu bersarang dalam sepasang matanya. Mata yang begitu dingin dan menderita. (44)

Malang, 2013
Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.

Ular dan Amarah

Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 11 Juni 2017)
Ular dan Amarah ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Ular dan Amarah ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
KOLAM itu sudah hampir mengering, tak ada lagi delapan ikan emas warna merah pembawa keberuntungan dan seekor ikan hitam penelan malapetaka. Lumut di dinding-dindingnya mengerak menjadi lapisan warna hijau kehitaman yang muram. Dulu ada dua penjaga di pintu pagar, dua patung singa sebesar anjing, masing-masing di sisi kiri dan kanan, dan sekarang binatang-binatang batu itu sudah tidak ada lagi di tempatnya, entah diambil oleh siapa.
Yang masih ada di rumah itu hanya kucing piaraan si peramal, binatang tua yang manja dan tidak lucu sama sekali. Si tua itulah satu-satunya penghuni rumah yang bisa dijumpai oleh Seto setelah terjadinya kerusuhan. Ia sedang rebahan di teras sore itu ketika Seto melintas dan berhenti di depan pagar; matanya sayu dan mengantuk dan penampilannya seperti monster kecil yang sudah kehilangan gairah. Tak lama lagi ia pasti mati.
Sebulan setelah kerusuhan, Seto mendapatkan kamar kontrakan barunya tak jauh dari rumah si peramal. Ia sengaja mencari tempat tinggal di daerah itu agar setiap saat bisa melintasi rumah si peramal, tempat ia pertama kali menginap setelah diusir oleh ayahnya. Ia sengaja memilih tempat tinggal di sana agar bisa mengamati para berandal yang menguasai wilayah itu. Mereka pastilah orang-orang yang paling beringas ketika terjadi kerusuhan. Mungkin merekalah yang telah membakar dan menghancurkan rumah si peramal. Ia ingin mengenali mereka satu per satu. Jika saatnya memungkinkan, ia akan membuat perhitungan dengan mereka.
Seto menyalakan sebatang hio yang ia temukan di antara puing-puing rumah si peramal. Hio yang sudah terbakar separo dan ia bakar lagi. Ia ingin berdoa untuk si peramal dan anak perempuannya, dua orang yang hanya sebentar dikenalnya, tetapi tak pernah bisa ia lupakan. Jika mereka telah mati terbakar bersama rumah mereka, semoga wangi asap hio yang dibakarnya mengantarkan mereka ke tempat yang mereka sukai. Entah surga atau apa pun namanya.
“Kau mendoakan Cina?” tanya seorang anak kecil. Seto tidak menyadari kehadirannya. Anak itu berdiri di depan pagar bersama tiga orang temannya; mereka memandangi Seto dengan tatapan heran.
“Kau tahu siapa yang membakar rumah ini?” tanya Seto pada anak kecil itu.
“Aku juga ikut membakarnya,” kata anak itu.
“Dia punya salah padamu?”
“Dia Cina.”
“Ya, apa salahnya?”
“Orang-orang juga membakar rumah ini karena dia Cina.”
Seto bangkit dari puing-puing dan meninggalkan mereka. Tiba-tiba ia tidak ingin melanjutkan percakapan dengan anak-anak itu, para berandal kecil yang ikut menyalakan api membakar rumah orang yang pernah berjasa kepadanya. Sempat terpikir olehnya untuk meminta mereka menunjukkan rumah orang-orang yang ikut membakar rumah si peramal, tetapi segera diurungkannya niat itu. Ia akan membuat perhitungan dengan orang-orang itu, tetapi tidak ingin melibatkan anak-anak.
Malam harinya Seto menyusuri jalan-jalan yang muram, melintasi toko-toko dan rumah-rumah di tepi jalan yang sebagian besar tidak menyalakan lampu. Toko-toko dan rumah-rumah yang baru saja dijarah dan dibakar tampak seperti deretan bukit yang gelap dan murung.
Ia merasakan dadanya pedih. Sang peramal dan anak perempuannya yang bisu harus kehilangan rumah karena mereka Cina. Ia membayangkan muka perempuan bisu itu, gadis lembut yang terlihat tua dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin gadis itu menangis di kamarnya ketika segerombolan orang beringas mendatanginya. Apa yang mereka lakukan terhadap gadis itu? Apakah mereka menyentuh kulitnya? Apakah mereka menyiksa ayah dan anak itu sebelum membakar rumah seisinya? Atau mereka bersembunyi di kolong, menghindari orang-orang yang mengamuk dan ikut terbakar bersama rumah mereka?
Gelisah oleh berbagai pertanyaan yang melingkar-lingkar di kepala, Seto merasakan ada sesuatu menggeliat di telapak tangannya. Ular di tapak tangannya seperti berontak dan tiba-tiba ia tak dapat mengendalikan diri. Kehendaknya makin kuat untuk mendatangi satu demi satu orang-orang yang telah membakar rumah si peramal. Ia ingin membuat perhitungan dengan mereka. Tapi siapa mereka? Siapa saja yang telah menyerbu rumah si peramal itu dan membakarnya?
Kini ia menyesal tidak menyeret anak-anak kecil yang dijumpainya di onggokan rumah si peramal untuk menunjukkan tempat tinggal para berandal penyerbu itu. Mestinya ia peralat saja anak-anak kecil itu. Mereka toh telah melibatkan diri dalam pembakaran, entah mereka menyadari atau tidak apa yang mereka lakukan.
Ditendangnya sekuat tenaga kaleng yang ada di hadapannya. Ditumpahkannya segala kemarahan pada kaleng tersebut. Kaleng itu terbang ke pekarangan rumah orang, tetapi hawa panas dan kemarahan di dadanya tidak hilang.
Seperti hantu yang menyusuri reruntuhan sebuah kota, Seto terhuyung-huyung dengan per tanyaan-pertanyaan yang memberati kepalanya. Sementara di dalam dadanya, kemarahan membeku dan akan bertahan di sana entah sampai kapan. Angin bertiup malas mengangkut bau alkohol. Di depannya ada tiga pemuda mabuk yang menenggak minuman di trotoar, di bawah sebatang waru yang rimbun. Reranting pohon itu menjulur di atas got yang airnya hitam.
Tiba-tiba ia meyakini bahwa mereka bertiga pastilah bagian dari orang-orang yang mengamuk dan membakar rumah si peramal. Dengan gerakan yang tak pernah diduga oleh para pemabuk itu, Seto mengayunkan kakinya, menendang botol-botol dan para pemuda mabuk tersebut.
Tidak sulit bagi Seto untuk menghadapi orang-orang mabuk. Nyali mereka memang menjadi lebih besar pada saat tempurung kepala mereka dipenuhi uap alkohol, setidaknya mereka bisa lebih nekat ketimbang jika tidak sedang mabuk, tetapi batang-batang kaki mereka goyah.
Mereka bertiga bangkit dengan gerakan oleng dan menyerang Seto secara kalap dengan pukulan yang mudah dihindari. Seto bahkan tidak menghindar. Ia membentur mereka dan mengirimkan ketiganya ke got dan meninggalkan mereka begitu saja. Seto tidak pernah tahu bahwa salah seorang yang dilemparkannya ke got mati dengan kepala retak dan paru-paru penuh lumpur.
Dua hari kemudian seorang wartawan menulis peristiwa kematian itu dalam sebuah berita sambil lalu. Kematian seorang pemabuk dalam perkelahian sesama gali memang bukanlah peristiwa penting. Seto tidak membaca berita itu, namun ia mendengar bahwa kematian gali itu menyulut ketegangan di antara dua kelompok gali. Pemimpin gali yang terbunuh di got itu merasa bahwa anak buahnya dibunuh oleh kelompok lain yang tak jauh markasnya dari mereka. Kedua kelompok itu memang telah berseteru sejak lama dan di antara keduanya sering terjadi ketegangan.
Dua orang yang tidak mati mengalami luka memar masing-masing di pipi dan dada. Pipi dan dada mereka biru lebam dan di tengah-tengah bagian yang lebam-lebam itu ada dua bintik kecil. Dukun yang mengobati mereka mengatakan bahwa kedua orang itu terkena gigitan ular, racunnya menjalar masuk ke tubuh mereka melalui dua bintik kecil itu.
Mengenai patukan ular yang membekas di tubuh para pemabuk yang dipukulnya, aku menanyakan kepada Seto apakah itu disebabkan oleh pukulannya atau karena kedua orang itu betul-betul dipatuk ular. “Mungkin di selokan itu memang ada ularnya,” kataku.
Seto mengamati-amati telapak tangannya, membolak-balik telapak tangan itu, lalu ia hadapkan telapak tangannya yang besar ke arahku. Aku melihat garis ular melintang di sana. Sekilas garis itu tampak biasa saja, tak jauh beda dengan garis yang melintang di telapak tangan siapa pun, tetapi garis itu memang lebih tegas dan di salah satu ujungnya ada bulatan seperti kepala ular. Itu adalah garis ular yang dulu pernah dibaca oleh si peramal.
“Kau mau mencobanya?” tanyanya.
Kubuka kancing bajuku dan kupamerkan dadaku.
“Aku sudah menelan delapan puluh satu gotri,” kataku sambil tertawa.
“Larimu pasti sekencang sepeda,” katanya.
“Jadi benar bahwa gigitan ular itu karena pukulanmu? Karena ular di telapak tanganmu?” aku mencoba mencari ja waban yang jelas.
“Aku tidak tahu,” kata Seto. “Mungkin mereka tertusuk oleh bagian lancip pada cincin akik yang kukenakan.”
Cincin akik yang ia dapatkan dari pemilik rumah judi masih melingkar di jari kelingkingnya. Aku tak melihat bagian-bagian yang tajam pada cincin itu. Tapi mungkin saja cincin itu yang meninggalkan bekas seperti gigitan ular.
“Tapi dukun itu bilang mereka kena racun ular,” kataku. “Apakah cincin akik ini mengandung bisa?”
“Entahlah,” kata Seto. “Mungkin air selokan itu beracun.”
Seorang bocah, berusia enam tahun, berlari mendekatinya.
“Kau bermain-mainlah dulu,” katanya. “Aku sedang ada tamu.”
Anak itu menggelendot sebentar dan kemudian berlari meninggalkan kami setelah Seto mengulangi permintaannya.
“Ia tampan,” kataku.
“Ayahnya memang tampan,” kata Seto. “Tapi ia berkhianat dan kau tahu apa yang harus dilakukan kepada pengkhianat.”
Aku sudah mendengar cerita pengkhiantan itu. Sebuah peristiwa yang tak mengenakkan untuk didengar sebetulnya. Aku akan menceritakan secara ringkas saja apa yang kutahu tentang peristiwa itu.
Seto mengambil sebuah album foto, membuka-buka dan kemudian menunjukkan kepadaku seorang lelaki seusianya yang ia sebut ayah si anak kecil tadi. Mereka berfoto bertiga: Seto, si pengkhianat, dan seorang lagi. Seto berdiri di tengah dan si pengkhianat di sebelah kanannya, rambutnya sebahu, sudut bibir kanannya sedikit tertarik ke atas: cara tersenyum yang akan banyak kau jumpai pada foto orang-orang masa itu. Tubuhnya pendek. Dengan sepatu bersol tinggi, lelaki itu hanya sejajar dengan kuping Seto.
Mereka bertiga berfoto di bawah sebatang pohon johar. Langit tampak pucat di foto itu dan ranting-ranting johar menjulurkan bunga-bunga berwarna kuning. Orang-orang memang suka berfoto di bawah sebatang pohon, tetapi tidak ada yang suka berfoto bertiga.
Seto dan Broto, si pengkhianat, sebenarnya hanya ingin berfoto berdua. Mereka sedang duduk-duduk di depan rumah, bercakap-cakap sembari memandangi orang-orang yang lalu lalang di jalan. Seorang tukang timbang badan melintas di depan mereka dan tak lama kemudian muncul seorang tukang foto keliling. Seto memanggil si tukang foto. Pada saat si tukang foto sedang mengatur-atur gaya mereka, seorang lagi muncul dan segera bergabung dengan mereka. Orang yang baru muncul itu menempatkan diri di samping kiri Seto dan langsung mengambil gaya; satu tangannya berkacak pinggang dan tangan yang lain lurus begitu saja. Ia sedikit menengok ke kiri, agak mendongak, seolah-olah sedang menyaksikan kedatangan malaikat yang melayang turun dari langit.
“Banyak yang percaya bahwa kita tidak boleh berfoto bertiga,” kata Seto. “Salah seorang pasti hilang.”
“Ya, banyak yang bilang seperti itu,” kataku.
“Kau percaya?”
“Aku tidak pernah berfoto bertiga.”
Seto mendongakkan kepalanya, mengambil napas agak panjang dan memejamkan mata seperti mengingat-ingat sesuatu.
“Ia sudah lama berkawan denganku. Lalu ia meninggalkanku beberapa hari untuk berkawan dengan orang lain,” kata Seto.
Dua tahun setelah mereka berfoto bertiga, seseorang melaporkan kepada Seto bahwa ia melihat Broto sedang bercakap-cakap di tempat minum bersama tiga orang dari kelompok lain. Mereka duduk di sudut yang agak remang, tetapi si pelapor yakin bahwa yang ia lihat dari jauh itu adalah Broto.
Ketika Broto datang lagi setelah menghilang beberapa hari, Seto mengajak kawannya itu bicara berdua di kamarnya. Ia menanyakan ke mana saja Broto selama beberapa hari dan Broto menjawab bahwa ayahnya sakit dan ia harus datang untuk menengok ayahnya di Klaten. Jawaban itu membuat Seto tidak senang.
“Ayahmu sakit dan kau tidak pernah bilang padaku,” kata Seto muram. “Kau sudah kuanggap saudara. Ayahmu kuanggap orang tuaku sendiri, tapi kau tak memberi tahu aku ketika dia sakit.”
“Hanya sakit ringan,” kata Broto.
“Jadi kau merasa tidak perlu memberi tahu aku?”
“Aku tak bermaksud begitu,” kata Broto.
“Lalu apa maksudmu?”
Broto sedikit kesulitan. Lidahnya tiba-tiba terasa kaku dan otaknya mampet. Kamar tempat mereka bicara tiba-tiba terasa olehnya seperti ruang pengadilan. Ia menggeser sedikit pantatnya. Asap rokok Seto membubung ke atap. Broto menatap wajah temannya; Seto mengarahkan pandangannya ke kaca jendela.
“Kau banyak urusan,” kata Broto hati-hati. “Aku tak mau mengganggumu untuk urusan sepele.”
“Ya, memang hanya urusan sepele,” Seto mengangguk-angguk. “Kau menghilang beberapa hari dan kau bilang itu urusan sepele.”
“Aku minta maaf.”
“Untuk kesalahan yang mana? Aku mendengar kau bicara dengan mereka. Kenapa kau tak bicara padaku lebih dulu sebelum bicara dengan mereka?”
“Hanya pertemuan kebetulan, Seto.”
“Kau pergi berhari-hari dan mengatakan itu hanya kebetulan. Kenapa, Broto? Kenapa kau berbohong kepadaku? Kenapa kau bawabawa ayahmu sebagai alasan? Kenapa kau tega menyakiti hatiku?”
Aku mendengar bahwa setelah itu Broto dihukum. Kedua tempurung kakinya dihantam remuk dengan palu pada Rabu pagi sebelum matahari terbit. Algojo yang melakukan eksekusi adalah adiknya sendiri. Ketika itu adik Broto baru bergabung dengan Seto beberapa bulan dan Broto sendiri yang membawanya kepada Seto.
“Ia sok jago,” kata Broto. “Minggu lalu ia menghajar gurunya dan tiga hari kemudian dikeluarkan dari sekolah.” Beberapa bulan anak itu menjalani tahap pengujian kesetiaan. Dan ujian terakhir baginya adalah meremukkan tempurung lutut kakaknya.
“Ini tugasmu yang pertama,” kata Seto kepada si adik. “Kau sanggup?”
Si adik mengangguk.
Seto memberikan palu besar kepadanya dan eksekusi berjalan beres di pekarangan belakang. Semua anak buah Seto membentuk lingkaran mengelilingi si adik yang akan menghantamkan palu ke tempurung lutut kakaknya. Pagi itu si adik menjalankan tugasnya dengan baik. Kedua tempurung lutut Broto remuk dan tiga hari kemudian, pada hari Sabtu pagi, ia ditemukan meninggal di kamarnya. Mayatnya dikubur hari itu juga. Seto datang melayat, mengenakan pakaian dan kacamata hitam.
Keesokan harinya istri Broto menemui Seto sambil mendekap anaknya yang masih berusia satu setengah tahun. Ia berdiri di depan Seto dengan mata yang masih sembab dan pandangan yang menusuk.
“Kau membunuhnya,” kata perempuan itu.
“Ia bunuh diri,” kata Seto.
“Tapi kau yang menyebabkannya. Kalian bersama-sama sudah lama dan kau tega membunuhnya. Sahabat macam apa?”
“Aku sangat menyayanginya,” kata Seto
“Kau selalu ingin menyingkirkannya. Ia merasa kau selalu ingin menyingkirkannya.”
“Aku betul-betul menyayanginya.’’
“Dengan membunuhnya? Begitukah caramu menyayanginya?”
Seto menarik napas dalam-dalam. Udara memberat; dengus napasnya memberat. Istri Broto menangis lagi; air matanya membasahi rambut anaknya. Seto bangkit dan memeluk perempuan itu, berusaha menenangkannya.
Setelah tangisnya agak reda, perempuan itu menyerahkan bocah yang digendongnya kepada Seto, satu-satunya anak hasil perkawinannya dengan Broto. Mata perempuan itu masih sembab ketika keluar dari kamar Seto. Malam berikutnya ia ditemukan mati menggantung diri di kamarnya. ***

A.S. LAKSANA, cerpenis kelahiran Semarang. Bukunya, antara lain, kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara (KataKita, 2004) dan novel Cinta Silver (Gagas Media, 2005). Bidadari yang Mengembara terpilih sebagai buku kumpulan terbaik 2004 pilihan Majalah Tempo. Sementara itu, Cinta Silver difilmkan dengan judul yang sama.

Orang Buta Menuntun Beruk

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 18 Juni 2017)
Orang Buta Menuntun Beruk ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos
Orang Buta Menuntun Beruk ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
ENTAH bagaimana mulanya, seorang laki-laki buta muncul di kampungku sambil menuntun seekor beruk. Ia muncul begitu saja, pada suatu pagi sehabis hujan gerimis. Orang-orang bertanya-tanya dalam hati, ini tukang beruk yang mana?
Tentu, semua masih ingat siapa-siapa saja tukang beruk di kampungku. Mulai Pak Mawan yang beruknya senang melawan. Lalu Pak Malus, Malin Gadang, Pak Ramin hingga Uncu Marin yang tak sabaran. Empat orang terakhir sudah lama menjual beruknya; sejak pohon-pohon kelapa menua dan kopra tak cukup berharga. Nama yang nomor dua sudah meninggal—dulu, ia langganan kakekku. Tinggal Pak Mawan yang sesekali berkeliling dengan penghasilan tak seberapa—karena itu hanya sebagai kerja selingan.
Tapi laki-laki buta itu tidak ada yang tahu. Ia seorang laki-laki paro baya, berkopiah lusuh, mengenakan celana gembrong dan baju lengan panjang yang juga lusuh. Meskipun terbilang cepat dan lancar, langkahnya terlihat penuh perhitungan. Setiap jengkal aspal yang ia injak seolah diawali kontak dengan mata batinnya. Angin mengisai sisa debu di jalan lembab-basah membuat debu itu menempel di baju dan celananya. Ia kisarkan.
Di kampungku warga memang mengandalkan tenaga beruk, sejenis kera terlatih, untuk memetik kelapa yang pohonnya tinggi-tinggi. Binatang itu cerdik dan gesit. Rantai kecil melingkar di lehernya, kemudian tersambung dengan tali panjang ke tangan tuannya. Sang Tuan atau yang lazim disebut tukang beruk, tinggal memerintahnya memanjat pohon kelapa yang ditunjuk. Si beruk naik dengan cepat, lalu memuntir buah kelapa dengan cekatan.
Tenang saja, ia tak akan salah. Buah-buah yang dijatuhkan pastilah buah yang sudah tua. Namun ia juga bisa menjatuhkan buah muda jika si empunya kebun ingin kelapa muda. Si tukang beruk tinggal berseru dari bawah, “Mudo!” Maka kelapa muda akan jatuh bergedebum dan pilihannya biasanya pas, isinya tidak keras dan tidak lunak.
Untuk berpindah pohon, beruk tak harus turun, cukup melompat dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa yang lain, kecuali yang jaraknya agak jauh atau tumbuhnya terpencil.
Pada masa kelapa masih jaya di daerah pesisir ini, tukang beruk termasuk profesi yang banyak digeluti warga. Mereka membawa beruk dengan becak, sepeda atau berjalan kaki berkeliling dari kampung ke kampung menawarkan jasa. Dari jasanya itu, si tukang beruk mendapat upah berupa kelapa, dihitung satu butir kelapa untuk delapan butir yang berhasil dipetik; tapi tak jarang mereka minta upah dalam bentuk uang.
Tukang beruk mendapat nafkah yang cukup, terlebih jika ada panen raya di kebun-kebun, maka butuh dua atau tiga hari bagi tukang beruk menengadah memetik buah-buah yang masak-tua. Beruk sendiri mendapat jatah sesisir pisang, buah nangka, sepinggan nasi gabah, sesekali telur dan susu buat stamina.
“Beruk itu seperti kita juga, kerja dulu baru makan, dan makan untuk kerja. Asal tak malas, kami rela berbagi upah,” kata Pak Mawan suatu kali.
Nah, tukang beruk buta itu muncul pada saat kelapa sudah tak berjaya! Banyak pohon tumbang ditebang buat kayu bangunan, sebagian habis disambar petir, sisanya deretan pohon kelapa tua yang buahnya tak selebat dulu. Satu per satu tukang beruk meletakkan keranjang, memintal tali beruk yang panjang, mengistirahatkan becak barang, dan menjual beruk-beruk mereka ke pasar hewan. Mereka lalu beralih turun ke sawah, beternak sapi atau kerbau, dan sebagian mencari ikan di muara atau menghela pukat di pantai.
***
HARI pertama laki-laki buta itu muncul tak ada tegur sapa dengan warga. Keesokkannya baru ada orang yang tersenyum, bahkan ada yang mulai memakai jasanya. Selanjutnya hal yang biasa melihatnya lewat. Kadang beruknya berjalan di belakang, namun adakalanya si beruk jalan di depan, dan kita tidak tahu persis apakah ia yang menuntun beruk atau beruk yang menuntun dirinya.
Begitulah ia berjalan terus dan di setiap tanah kosong yang ada pohon kelapanya, ia akan berdiri, menelengkan kepalanya seolah dengan cara itu matanya yang buta dapat menyesap seberkas cahaya. Lalu ia akan berseru, “O, orang yang punya kelapa! Ini kelapa sudah banyak yang tua, apakah mau saya ambilkan?”
Kalau si empunya kelapa ada di sana, akan dijawab, “Silahkan, Angku!”
Maka beruknya yang besar kelabu itu akan memanjat dengan cepat, berkelit dari pepatnya pangkal pelepah, memutar di antara mayang dan seludang. Tak lama buah-buah berjatuhanlah. Si buta memanfaatkan ketajaman telinganya mencari di mana kelapa itu jatuh, lalu dikumpulkannya di tempat terbuka. Dari situ ia tahu persis berapa ia mesti beroleh jatah atau upah. Ia biasa meminta uang saja, sebab dalam usia yang tak lagi muda akan payah baginya memanggul sekian butir kelapa, apalagi dalam keadaan mata yang buta.
Di mana ia tinggal dan dari mana ia berasal? Ternyata ia menumpang di rumah Uncu Suar, seorang pandai besi yang hidup di ujung kampung. Namun jika ada yang bertanya siapa dan dari mana tamunya itu, Uncu Suar tak bisa menjawab pasti. Ia pun berjumpa ketika orang buta itu beserta beruknya tampak kelelahan di depan rumahnya, senja hari. Uncu Suar mengajaknya berbuka puasa, lalu si tukang beruk minta bermalam.
Ia mengaku dari Biduk Batu, sebuah kampung di balik bukit kelabu, dan sebagaimana kesahajaaan orang kampung, tak ada seorang pun yang merasa perlu menyelidiki apakah asal-usul yang ia katakan itu benar. Yang jelas, sejak itu ia akan menuntun beruknya pagi-pagi dan kembali petang hari, kadang sampai jauh ke kampung sebelah.
***
NAMUN satu hal yang agak aneh, laki-laki buta itu seperti enggan menawari keluargaku untuk memetik kelapa juga—tak sekalipun ia! Ya, ia akan lewat begitu saja di depan rumah keluarga besar Datuk Bakar, pada hal dengan penglihatan mata batin yang tajam mestinya ia tahu bahwa pohon kelapa kami masih banyak dan lahannya cukup luas. Bahkan mungkin yang terluas. Maklumlah, itu merupakan kebun warisan kakek kami, Kakek Bakar gelar Datuk Malenggang. Ia lelaki tinggi besar yang masih sempat aku jumpai saat masih di bangku sekolah menengah. Makamnya masih terjaga di bawah pohon kelapa condong di belakang rumahku.
Sebenarnya, sejak leluhurku itu meninggal, lahan kami tak bisa lagi disebut kebun. Kecuali tanah belakang rumah yang agak luas serta sisa pohon-pohon kelapa tua yang hidup bertahan di sana. Sebagian besar kebun kakek sudah lepas ke tangan orang, dijual atau digadai, tempat rumah-rumah permanen tegak sebagai bagian pertumbuhan kampung yang makin padat.
Aku punya kenangan dengan kelapa-kelapa di belakang rumahku. Semua pohon seolah bisa kutandai. Pohon-pohon lain tumbuh dalam semak karimuntiang yang hanya tampak pucuknya di kejauhan. Dulu, kami sering naik pohon kelapa, dan memang tak perlu beruk untuk mengambil dua-tiga butir kelapa muda.
Hampir setiap anak di kampungku bisa memanjat secepat ia meniti sebuah jembatan kayu. Begitu pula aku. Bila haus dan ingin kelapa muda, tanpa membuka baju sekolah aku sudah sampai di atas pelepah. Saudara sepupuku yang lain, bahkan sengaja membawa golok ke atas pohon dan membuka buahnya di atas pelepah, sehingga airnya menetes-netes seperti kelapa yang dilubangi tupai.
Itu semua tidak mengapa. Namun sering cucu kakekku yang lebih tua seperti Wan Kodis bukan hanya mengambil kelapa muda, namun juga kelapa tua buat ia jual di warung Mak Incek. Kakek sering ngamuk kalau menemukan kelapa tuanya diambil tanpa izin. Pernah ia jumpai Wan Kodis sedang memuntir kelapanya nun di ketinggian, dan kakek menunggui di bawah sampai malam. Wan Kodis akhirnya menyerah seperti tupai yang jatuh ke tanah. Ia ditempeleng kakek dengan telapak sandalnya yang lebar. Namun di lain kesempatan, Wan Kodis yang ditunggui kakek berhasil lolos. Ia berpindah ke pohon sebelah dengan meniti pelepah yang berdekatan lalu meloncat seperti beruk melompat.
Cucu yang lain, Isul, kedapatan memanjat sebatang kelapanya yang terlebat. Kakek menarik celananya sampai lepas, tapi dengan celana kolor si cucu terus naik. Celana itu berakhir di semak-semak, dibakar Kakek Bakar sampai lumat, sehingga si cucu harus pulang tanpa celana, dan itu cukuplah sebagai hukuman.
Di waktu lain, Buyung, cucu yang lain lagi, kedapatan mengunduh kelapanya. Kakek tak hilang akal. Ia ambil sepeda Buyung, dan sepeda itu dibawa pulang ke rumah istrinya. Namun karena kakek sendiri membawa sepeda, sementara ia tak bisa membawa sepeda sambil menggandeng sepeda lain, maka kakek bolak-balik membawa kedua sepeda itu.
Mula-mula ia bawa sepedanya sejauh sekitar satu ki lometer, kemudian ia kunci. Lalu ia balik berjalan kaki menjemput sepeda Buyung, dan sepeda itu dibawanya lagi sampai melewati sepedanya sekitar satu kilometer, dikunci, lalu ia jemput lagi sepedanya yang tinggal. Begitu sampai kedua sepeda sampai di rumah istrinya dan sang cucu harus menebus jika menginginkan sepedanya kembali.
Cucu-cucu kakekku memang terkenal keras kepala, beberapa jadi begundal, dan aku tak bisa seperti mereka. Karena itu kakek cukup ramah kepadaku bahkan beberapa kali saat panen kelapa aku diberinya uang jajan. Sungguh pun begitu, kesan angker dan kerasnya tak lenyap di mataku. Dan semua orang tahu bahwa kakekku memang keras sampai adik perempuannya, Etek Bainas, senantiasa batal di pinang orang. Tak ada yang berani meminang karena takut dengan syarat dan lain-lain hal yang digariskan kakek. Apalagi setelah terkabar kakek pernah menghajar seorang pemuda yang mencoba mendekati sang adik.
Entah kenapa adiknya dijaga seperti nyaris dipingit. Tapi konon karena ia banyak kecewa dengan ipar-iparnya. Akibatnya, adiknya yang paling bungsu itu dijaga amat ketat. Jarang Etek Bainas ke luar rumah seperti ke pasar atau ke keramaian. Keseharian etek mengumpulkan pelepah dan seludang. Bagian atas pohon kelapa itu biasa jatuh ke tanah dihembus angin atau karena memang sudah tua.
Bila semalaman ada hujan badai, maka pagi hari pelepah dan seludang akan lebih banyak lagi berjatuhan. Pelepah dan seludang itulah yang dikumpulkan etek atau bibiku. Pelepah yang lurus panjang ia jadikan untuk kayu bengkawan, yakni kayu-tulang untuk membuat atap rumbia yang disulam dengan rotan dan dijual kepada Pak Gaek Sani atau Bilal Sulung, dua orang pengrajin atap rumbia. Si sanya bersama seludang dan sabut kelapa kering dijadikan kayu bakar.
***
WAKTU kebun kelapa kakekku masih luas, setiap panen tiba, ia akan mengupah tukang beruk dalam jumlah yang banyak. Lima orang tukang beruk di kampungku tidaklah sanggup memanen ratusan pohon kelapanya. Apalagi dua di antaranya beruk pemalas—karena beruk jantan—sehingga sering talinya disentak oleh Sang Tuan, Malin dan Uncu Marin.
Kakek menolak beruk pemalas dan lebih nyaman meng upah tukang beruk dari luar kampung. Sistem borongan. Tentu kakek tak mengenal semua tukang beruk yang datang sebab yang mengatur adalah Pak Malus, tukang beruk kepercayaan kakek. Pak Malus yang memanggil kawan-kawannya sesama tukang beruk entah dari kampung mana saja.
Ah, itu sudah lama berlalu. Tak ada lagi buah-buah kelapa yang diunduh dalam jumlah banyak di kampungku. Usaha kopra gulung tikar, ditandai lenyapnya kelapa cukil yang dijemur di tepi jalan. Gudang kopra kakek dibiarkan runtuh, dindingnya hilang satu-satu dijadikan kayu bakar. Lahan berganti rumah-rumah, dan kelapa yang tersisa cukuplah hanya buat kebutuhan memasak dengan santan yang gurih pekat—maklum kelapa tua yang rasanya tak tergantikan.
Tapi, pada suatu hari, lelaki buta yang menuntun beruk itu berhenti di muka rumahku dan dengan suara bergetar ia menawari apakah aku akan mengambil kelapa. Kebetulan aku memang butuh kelapa untuk membuat kue-kue Lebaran dan memasak lemang. Ini masakan tradisional dari beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu lalu diberi santan yang banyak, didiang dengan api cukup besar hingga masak—hidangan wajib kampungku tiap Lebaran! Sekalian aku juga ingin kelapa muda untuk berbuka puasa. Maka aku iyakan tawarannya, dan kami berdua segera ke belakang rumah mematut pohon mana yang hendak dipanjat.
Sambil menunggui beruknya memetik kelapa, tanpa diduga ia bercerita padaku. Aku heran karena ternyata dia bukan orang pendiam. Ia bercerita tentang seorang perempuan yang rajin mengumpulkan pelepah dan seludang kelapa. Badai atau tidak, katanya, perempuan itu tetap mengumpulkan pelepah tua dan seludang yang berjatuhan.
Meski tak menyebut nama, kuduga yang ia maksud adalah bibiku, Etek Bainas. Ciri yang ia sebut mirip dan alur ceritanya sayup-sayup pernah kudengar. Maka ketika ia bercerita, darahku tersirap, namun aku sengaja bersikap biasa saja supaya apa-apa yang dia katakan lancar belaka. Apalagi dari nadanya dapat kutangkap bahwa ia suka kepada perempuan itu.
(Ya, aku tahu, kadang di tengah hujan bibiku tetap turun ke kebun, tak peduli kilat petir menyambar-nyambar, ia seperti bersuka-ria mengumpulkan pelepah yang berjatuhan. Seolah dengan itu ada beban yang ia lepaskan, semacam keterhimpitan dari kakaknya yang keras!)
***
“AKU pernah merantau,” kata laki-laki itu, agak geli. “Tidak jauh, hanya ke Pariaman, tapi dengan itu aku sekalian bisa membawa berukku sebab kau tahu di daerah itu banyak pohon kelapa. Alhamdulillah, aku mendapat kerja yang baik di sana, terutama menjadi langganan memetik kebun Ajo Jazuli, pemilik kebun kelapa terluas di Pariaman. Beliau juga punya kebun di Air Haji, sehingga sering pula aku dan berukku dibawa ke sana.”
“Sayang, aku menderita sakit mata berkepanjangan, tak sembuh-sembuh. Ajo Jazuli kemudian berbaik hati membawaku ke rumah sakit di Padang. Ternyata ada syaraf mataku yang rusak sebab bekas pukulan di punggung. Lama-lama aku tak bisa lagi melihat dan kuterima itu sebagai ketentuan Yang di Atas. Untungkah aku masih terus diajak memetik kelapa karena memang tak mengganggu pekerjaanku. Itu artinya, sekali tiga bulan, enam bulan atau lebih, aku melewati kampung ini dengan naik truk ke selatan, memetik kelapa Ajo Jazuli di kebun Air Haji. Kami tinggal bermalam, kadang sampai sepekan.”
Aku diam, sambil mengingat cerita perihal kakek yang pernah memukul punggung seorang tukang beruk dengan pelepah kelapa yang masih basah. Hingga setengah remuk! Itu karena kakek mendapatinya berdua-duaan bicara dengan Etek Bainas di bawah pohon kelapa, sebagian menyebut di balik semak-semak. Bahkan beruk orang itu juga dipukuli kakek sampai menjerit-jerit. Kampung gempar sebentar, dan reda sendiri lantaran menyangkut Datuk Bakar.
Keluarga besarku sesekali menceritakan itu sekadar memancing kaji lama, gelak-tawa atau mengenang kekuasaan seorang datuk. Tapi aku tak berminat karena berbau kekuasaan. Hanya ibuku yang bercerita dari sisi berbeda, dan itu cukup kuminati. Menurut ibu, bibiku tak mau menikah sejak peristiwa menggemparkan itu terjadi. Padahal bibiku sangat mencintai laki-laki malang yang dipukul kakek.
Pernah, kata ibu, bibiku sangat rindu kepada laki-laki itu. Kebetulan Kakek Bakar sudah meninggal—sehingga tak ada lagi larangan—tapi harapan untuk bertemu tetap tak kesampaian karena laki-laki itu sudah pergi merantau sambil mencari obat punggungnya yang tak kunjung sembuh. Ternyata dia itu anak yatim piatu, kata ibu. Kabar tersebut bikin bibiku bertambah luluh dan memutuskan hidup selibat.
Laki-laki itu mendehem, sebagai isyarat supaya cerita selanjutnya tetap kusimak. Aku balik mendehem, “Ya, lanjutkan, Angku!”
“Biasanya aman-aman saja tiap kali aku lewat, baik saat pergi ke Air Haji maupun saat kembali. Aku biasa bertanya kepada kawanku sesama tukang beruk, apakah sudah masuk kampung Lansano. Jika dikatakan kami sedang melewatinya maka dari truk yang melintas aku akan menelengkan kepala menghikmati bahwa aku sedang melewati kampung di mana pada sebidang kebunnya ada seorang perempuan yang begitu gesit mengumpulkan pelepah dan seludang. Dan aku puas membayangkannya. Bahkan kemudian aku tak lagi bertanya, sebab dengan terlatihnya perasaanku, aku tahu sendiri telah memasuki Lansano cukup dengan merasakan kelok jalan dan guncangan sebuah jembatan yang rusak abadi.” Ia tertawa sedikit.
“Tapi tak pernah ada kejadian seperti dua pekan lalu. Hari itu, tiba-tiba saja berukku meronta-ronta di atas truk. Kadang diiringi jeritan seolah Si Limang sedang berteriak. Entah mengapa aku merasakan sesuatu, namun apa, aku tak tahu. Karena hatiku gelisah pula, aku sekalian minta berhenti dan minta turun. Sopir truk, ponakan Ajo Jazuli, tentu saja melarangku karena aku buta namun aku mampu meyakinkan bahwa aku punya saudara di sini. Padahal tak ada seorang pun yang akan kutuju. Tidak juga rumah perempuan yang kucintai lebih lima belas tahun lalu karena pastilah ia sudah beranak-berkeluarga. Akhirnya aku terdampar senja-senja di rumah Uncu Suar. Dari sana aku rancang rencana untuk berkeliling kampung menawarkan jasa berukku, tapi yang utama mencari tahu kabar perempuan pengumpul pelepah dan seludang itu. Aku juga tak akan bertanya apa-apa pada Uncu Suar karena aku berniat menyamar.”
Setelah siapa dirinya terkuak, kukira dia akan berhenti, namun segera mulai lagi dengan sedikit keluhan.
“Tapi setelah hampir dua pekan keliling kampung dan bolak-balik melintasi tempat ini, aku tak melihatnya sama sekali. Dan berukku terus saja gelisah. Ah, cukuplah kini! Hari ini kuberanikan diri menawari engkau untuk memetik kelapa supaya tahu apa yang terjadi.”
“Tentu saja tak ada yang Angku lihat karena Angku buta,” kataku akhirnya.
“Tapi seharusnya aku bisa mendengar suaranya. Jika pun bukan suaranya, desau pelepah yang dihela dengan lembut di atas rumput di bawah pokok kelapa, cukuplah melepas rinduku padanya,” ia menarik napas panjang.
“Dan apa hubungan dengan beruk Angku?” tambahku sambil ikut menahan perasaan.
“Sejak meronta di atas truk sampai sekarang ia tak tenang. Ia seperti manusia juga.”
Hati-hati aku bilang, “Kalau begitu, mungkin beruk Angku tahu bahwa orang yang Angku ceritakan sudah tiada.”
Ia terkejut. Seluruh syaraf mukanya kulihat mengumpul jadi satu lalu seperti menarik kedua matanya yang tak berkedip.
“Sudah dahulu, maksudmu, Anak Muda?”
“Ya, bibiku Bainas sudah mendahului kami semua. Dia yang Angku maksud, bukan?”
“Innalillahi… Kapan?!” nadanya menahan jerit, tak terlepaskan.
“Kurang tiga pekan sebelum bulan puasa. Itu, makamnya masih baru dan puring yang ditanam belum tumbuh.” Aku menunjuk ke sebidang tanah di bawah pokok kelapa condong. Kukira tentu ia tak akan melihat. Tapi ketika beruknya turun dari pohon, sang beruk—secara naluriah dan ajaib—menuntunnya melangkah ke makam yang kutunjuk.
Ada dua makam. Satu makam Datuk Bakar yang sudah tua berlumut, satu lagi makam bibiku Bainas yang masih cokelat tanah.
Orang buta itu mengangkat wajahnya, bola matanya yang putih bergerak-gerak liar, lalu perlahan padam bersama genangan yang menetes, ia hapus dengan lengan baju.
“Pantas ia meronta, dan kini terjawab sudah,” katanya pasrah.
Kemudian tanpa dikomando, beruknya melompat ke atas makam kakekku. Ia menggoyang-goyang batu nisan sehingga nyaris patah jika tak segera dihalangi tuannya.
“Sudah, sudah, Limang!” cegahnya pada sang beruk yang ia panggil Limang. Dan entah bagaimana ia tahu beruknya sedang berbuat sesuatu yang tak berkenan. Sang beruk berhenti menggoyang nisan, dan tuannya meminta maaf padaku. Si Limang lalu beralih melompat ke makam bibiku, menggaruk sedikit tanah, lalu menungging seperti menciumnya dengan takzim.
“Semoga di hari baik bulan baik ini, segala yang terjadi di antara kami pada masa lalu telah sama-sama diikhlaskan. Dan kiranya Allah memberi kami ampunan,” ia bergumam.
“Amiiin…,” ucapku setengah gigil.
Setelah itu si buta pamit menuntun beruknya atau beruk yang menuntun dirinya. Keduanya berjalan tersaruk di jalan berdebu, lama kupandangi seolah aku melihat dua manusia berjalan beriringan, dan sejak itu mereka tak pernah terlihat lagi. ***

/Rumahlebah Jogjakarta, Juni 2017
RAUDAL TANJUNG BANUA, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, 19 Januari 1975. Tinggal di Jogjakarta. Bukunya Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai serta Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan dalam persiapan terbit.

Tawanan

Cerpen Iksaka Banu (Koran Tempo, 10-11 Juni 2017)
Tawanan ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.png
Tawanan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Itu bukan suara sepatu beradu dengan tanah. Bukan! Alas kaki tidak terlalu akrab untuk sebagian besar dari mereka. Sialnya, meski sudah berulang kali menjadi topik bahasan maupun gurauan di lingkungan militer, baik di Breda maupun di Batavia, tetap saja kaki-kaki telanjang itu sanggup mengecoh kami. Membuat pemiliknya mampu melangkah sesenyap kucing saat melakukan aksi penyergapan, seperti yang terjadi tiga hari lalu.
Ya, bukan derap sepatu, melainkan suara tongkat kayu setebal ibu jari, yang diseret dan dipukul-pukulkan ke atas tanah berkerikil. Teror yang semakin mendekat itulah yang barusan membuatku terjaga. Ini sudah berlangsung tiga malam. Para jahanam itu sengaja melakukannya. Mereka tahu, suara tongkat yang datang pada jam selarut ini tak pernah gagal membangkitkan rasa gentar. Dan mereka benar. Tanpa bisa dicegah, badanku menggigil. Jantungku berdebur tak terkendali. Apalagi setelah pintu kayu berlapis seng di depanku terbuka.
Kaluar, siah! Belanda perdom! Ngeunah sare di kandang hayam?” seseorang menyorotkan senter ke arah mataku. Mereka bertiga. Kegelapan malam dan cahaya senter menghalangi pandangan. Tetapi dari suara dan siluet tubuh, mereka bukan orang-orang yang sama seperti kemarin. Mereka rajin menukar petugas. Siasat jitu membuat pesakitan seperti aku selalu berada dalam keadaan takut dan hanya bisa mengira-ngira, apakah mereka lebih ganas dibandingkan petugas sebelumnya?
Perlahan aku merangkak menuju pintu. Saat kepalaku menjulur keluar, seseorang menghantam dahiku dengan tongkat, membuatku ambruk mencium tanah.
Gancang! Tincak siah ku aing!” si pemukul menekan sebelah kakinya ke atas kepalaku.
“Sudah! Mati dia nanti. Biarkan bangun,” kata yang lain.
“Angkat kepala!” orang ketiga menungguku tengadah, lalu membebat mataku dengan kain. “Berdiri!” lanjutnya seraya menarik-narik kerah bajuku.
Aku terhuyung, mendorong tubuh ke atas. Kepalaku membentur kusen pintu yang memang terlalu rendah untuk ukuran tubuhku. Kandang ayam, kata orang tadi. Aku akan sangat bersyukur bila rongsokan yang menjadi atap tidurku selama tiga hari ini benar-benar sebuah kandang ayam. Setidaknya kandang ayam memiliki dinding yang terbuat dari jalinan kawat. Tidak pengap. Sementara bangunan berukuran sekitar dua meter persegi ini melulu tersusun dari batang bambu dengan atap seng. Mungkin awalnya ini tempat menyimpan perkakas pertanian. Tak ada jendela. Udara hanya lolos dari kuda-kuda penyangga atap atau batang bambu yang kebetulan tidak menempel rapat. Menciptakan neraka saat matahari berada di atas kepala.
Setelah berjalan sekitar lima menit, dan menerima sejumlah tendangan di pantat, aku diminta berhenti melangkah. Terdengar derit pintu dibuka. Tak lama kemudian, sepasang tangan menekan kedua bahuku, memaksaku duduk di atas sebuah kursi kayu. Lalu, kain penutup mataku dibuka.
Aku mengejap-ngejapkan mata. Sebuah ruangan cukup besar, agak remang-remang. Sumber cahaya berasal dari lampu minyak tanah berukuran kecil, menempel di tiga sisi dinding. Yang berikutnya hadir memenuhi rongga penglihatan adalah seorang pria berambut panjang, dengan bau ketiak menyengat. Ia yang memaksaku duduk. Dua lelaki lain berdiri di belakangnya. Salah seorang menggenggam tongkat kayu. Pastilah dia si bedebah yang tadi memukul wajahku. Mereka mengikat tanganku ke belakang sandaran kursi, lalu lenyap di balik tirai pintu, meninggalkanku sendirian di tempat itu.
Aku memandang berkeliling. Butuh sedikit waktu menangkap keadaan sekitar karena kelopak mataku terhalang daging kening yang membengkak sebesar telur angsa. Ini bukan kamar yang biasa dipakai menyiksaku. Tempat ini cukup bersih. Dindingnya dari anyaman bambu, lantainya tanah keras. Tak ada perabot lain kecuali sebuah meja kayu bundar dan empat buah kursi. Aku duduk di salah satu kursi itu. Kutengok lantai sekali lagi. Tak ada martil, catut, atau kawat pemelintir yang kemarin meremukkan jari kakiku. Tak kulihat pula kehadiran si kurus yang gemar menyulut lenganku dengan rokok menyala, atau pria kekar dengan cincin akik yang gemar menggocoh wajahku di setiap ujung pertanyaan yang tak bosan-bosannya ia lontarkan: “Di mana TNI ditawan? Di mana teman-teman kami?”
Aku sudah hampir setahun berada di Hindia. Bergaul cukup dekat dengan penduduk setempat dan tentara KNIL pribumi. Belajar bahasa Melayu ditambah beberapa patah kata dalam bahasa Sunda. Aku tahu yang mereka bicarakan. Namun untuk setiap pertanyaan, hanya kuberikan satu jawaban: “Weet ik veel!”
Akibatnya, setiap malam aku menjadi bulan-bulanan amarah mereka. Ya, bangsa yang katanya paling halus di dunia ini ternyata bisa menjelma menjadi setan-setan sadis. Namun nasib baik macam apa yang bisa diharapkan seorang tawanan di masa perang?
Tiga hari lalu, ada informasi bahwa rombongan TNI dari Jogyakarta dalam jumlah besar memasuki Desa Rancamanggung. Mereka prajurit Siliwangi yang kembali ke daerah asal setelah gagalnya pihak Belanda dan Republik mematuhi Perjanjian Renville. Dari mata-mata, diperoleh keterangan bahwa mereka menginap di Desa Ciseupan dan Pasirserah, yang merupakan wilayah militer kami. Tentu saja tak bisa dibiarkan.
Aku dan sejumlah pasukan dari sektor Cikaramas mendapat tugas mengusir mereka keluar dari daerah itu. Kontak senjata yang meletus pada pukul 05.00 pagi berhasil membuat mereka mundur ke arah Rancamanggung. Beberapa tewas, dan tiga orang kami bawa ke markas sebagai tawanan. Semula kami pikir mereka akan pergi meninggalkan kedua desa itu. Ternyata kami keliru. Pukul 08.00 pagi, mereka mengendap, menyerang secara mendadak saat kami sedang berkumpul di lembah, dekat sebuah empang. Banyak di antara kami, termasuk dua orang perwira, tewas di tempat.
Aku tak sempat meraih senjata dan terpisah cukup jauh dari pasukan. Tak berkutik di bawah todongan bedil. Mereka lalu memecah pasukan ke pelbagai jurusan. Mungkin untuk menghindari serbuan balasan. Agak sulit menebak di desa mana aku berada saat ini karena mereka menggiringku dengan mata tertutup seperti yang mereka lakukan belum lama tadi.
Goede nacht, Kapten Martijn van Oijen!” mendadak terdengar suara dalam bahasa Belanda bercampur logat setempat. Aku menoleh. Seorang pria pendek berbalut seragam TNI warna khaki menghampiriku seraya memasang senyum di bawah kumisnya yang tebal. Tanda pangkat di bahu menjelaskan ia seorang mayor menurut hierarki TNI. Di belakangnya, mengekor dua orang pengawal dengan senapan Lee Enfield di tangan. Boleh jadi itu hasil rampasan penyergapan kemarin.
“Maaf, saya dan rombongan terlambat datang, sehingga Tuan harus mengalami segala siksaan itu,” ia menarik kursi, duduk di seberangku.
“Tuan akan ditangani juru kesehatan. Dan saya akan memberi sanksi keras kepada para pelaku penyiksaan,” lanjutnya, masih dalam bahasa Belanda yang tak begitu lancar. Ia mengangkat telunjuk. Seorang pengawal maju, membuka ikatan tanganku.
“Nama saya Tatang,” ia menatap mataku. “Para penyiksa terbawa amarah karena kematian rekan-rekan mereka, sehingga berlaku liar. Kami tidak menanyakan di mana kalian menahan anggota TNI. Kami sudah tahu,” ia mengangsurkan dompet bambu berisi rokok kretek. Aku menarik sebatang, lalu memburu nyala korek api yang disodorkan olehnya. “Yang kami inginkan hanyalah tanda tangan Tuan di atas surat ini,” tangannya terulur. Kuamati kertas itu.
“Semoga Tuan mau bekerja sama,” Tatang bangkit, meraih lampu dari dinding dan menaruhnya di meja agar aku lebih jelas membaca. “Perang hampir usai. Permintaan kami tidak banyak. Tanda tangan dan nama Tuan di situ cukup menjadi jaminan penukaran kawan-kawan kami denganmu.”
Aku membisu cukup lama, sebelum menjawab: “Tuan baik sekali. Tetapi maaf. Kalau harus ditukar, tolong tambahkan satu persyaratan lagi bahwa seluruh senjata rampasan, termasuk dua buah mortar, dikembalikan kepada kami.”
“Tidak bisa, Kapten,” Tatang melipat tangan ke atas meja. “Yang dapat kami janjikan adalah, kami akan pergi secepatnya dari sini. Ya, seluruh pasukan, tanpa kecuali. Bukankah pihak Tuan sudah banyak mendapat daerah strategis dari Perjanjian Renville kemarin?”
“Maaf,” aku menggeleng.
Tatang menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursi.
“Baiklah,” katanya. “Memang sulit berunding dengan bahasa terbatas. Untuk itu, saya akan membiarkan teman saya mengambil alih peran. Ia jauh lebih fasih bicara Belanda. Sampai besok, Kapten! Jangan lupa tanda tangan,” Tatang melempar pandang satu kali kepadaku, sebelum masuk ke balik tirai pembatas ruangan tanpa diikuti kedua pengawalnya.
Aku masih termangu menatap asap putih yang meliuk-liuk dari ujung rokok di antara jemariku, ketika seraut wajah berkulit putih dan berambut pirang menjatuhkan tubuh ke atas kursi kayu di depanku.
“Kapten Van Oijen,” ia mengangguk.
“Siapa kau?” aku menarik tubuh ke arah sandaran kursi, sambil memastikan bahwa yang duduk di hadapanku dalam seragam TNI ini benar-benar seorang kulit putih yang bicara dalam logat Belanda asli.
“Panggil aku apa saja. Si Sontoloyo, atau Jan Kapir, seperti mereka memanggilku dulu. Tidak penting. Jauh lebih penting bagimu untuk mulai berpikir bahwa perang ini sia-sia. Sama sekali tidak terhormat,” kata orang itu sembari merogoh pipa gading dari saku baju. “Tempat ini sangat tersembunyi. Rekan-rekanmu akan sulit melacak. Semakin cepat engkau menorehkan tanda tangan di atas surat itu, semakin baik. Kau bisa kembali ke tengah kesatuan, dan kami dapat segera meneruskan perjalanan ke Bandung bersama tawanan pihakmu.”
“Kami? Apakah aku sedang bicara dengan seorang landverrader?” tanyaku. “Lihat baik-baik bajumu! Apakah engkau lahir di sini dan terlalu lama menetek kepada babu Jawa, sehingga hilang ingatan? Sadarlah. Kau sedang mencoreng martabat bangsamu sendiri!”
“Sekali lagi, silakan menyebutku apa saja,” Jan menyulut tembakau di dalam pipanya. “Tetapi martabat seperti apa yang sedang kau risaukan sebenarnya? Apakah pilot P-40 yang tempo hari menembaki rombongan tentara Siliwangi yang sedang melakukan long march itu punya martabat? Para pejuang Republik itu membawa anak-istri mereka, cita-cita mereka, masa depan mereka. Berjalan kaki sejauh 900 km dari Jogya, hanya untuk kemudian terkapar berserakan, mandi darah di sawah seperti hama tikus!”
“Teman-temanmu membantai kami tiga hari lalu. Dua perwira Belanda gugur, juga belasan lain. Kau tidak memikirkan keluarga dan masa depan mereka?” sahutku.
“Turut berduka. Tetapi para Belanda itu tidak membawa anak-istri saat ditembak. Itu beda!” balas Jan.
“Seharusnya kau tahu. Hal semacam itu disebut ekses,” kataku. “Reaksi di luar kendali. Maklum, kelakuan para ekstremis selalu sama: menghadang konvoi Belanda, melepas tembakan, lalu lari ke tengah perkampungan. Bisa juga ke tengah kerumunan long march itu. Memancing amarah dan rasa frustrasi kami. Lalu semua terjadi, tanpa kendali. Persis seperti kawan-kawanmu saat menyiksaku kemarin.”
“O, ya, ya. Tentu saja. Ekses!” Jan tertawa sinis. “Berapa umurmu, Kapten? Mungkin kita sebaya. Tetapi di manakah engkau saat Rotterdam dihujani bom dan diduduki Jerman? Main boneka bersama adik perempuanmu? Aku bersama pejuang bawah tanah kala itu.”
“Aku bukan pengkhianat seperti dirimu. Aku berjuang, ikut ke Maastricht,” jawabku geram.
“Baiklah, aku memang tidak melihat engkau memakai gaun. Jadi aku percaya kau ikut mengangkat senjata di sana,” Jan kembali terbahak, tetapi sebentar kemudian wajahnya berubah serius.
“Suatu petang, di Jembatan Oldenallerbrug, antara Putten dan Nijkerk, pecahan unit kami menyerang sebuah mobil patroli Jerman berisi dua perwira dan dua orang kopral. Salah seorang perwira luka parah kemudian mati, tetapi sempat memberi tahu rekan-rekannya.”
“Sebagai militer, kau tentu mendengar yang terjadi keesokan harinya,” Jan mengangkat tubuh dari kursi, lalu berjalan hilir-mudik. “Seratus rumah dibakar. Enam pria dan seorang wanita ditembak karena melawan. Ratusan sisanya dikirim ke tempat kerja paksa.”
“Itulah ekses!” Jan mendekatkan wajahnya hingga tinggal sejengkal di depan wajahku. “Yang terbunuh 1 orang, lalu muncul aksi pembalasan kelewat batas. Itu pun hanya 7 orang Belanda yang mati. Bandingkan dengan insiden di Karawang. Pernah mendengar yang terjadi di Kampung Rawagede saat berlangsung Operasi Produk 1947, Kapten?” asap pipa Jan memenuhi mataku. “Tidak ada penyergapan oleh tentara Republik sebelumnya. Hanya ada pertempuran singkat. Letaknya pun jauh, serta sudah lama berlalu. Tetapi suatu hari Belanda datang, lalu melampiaskan kekesalan ke sejumlah desa karena tidak menemukan senjata apa pun di situ. Berapa berapa ratus orang mati? Entah. Ada yang mengatakan 150 orang. Mereka diambil acak, dibariskan, lalu dibantai. Itu bukan ekses, tetapi sebuah aksi terencana. Contoh bagi desa lain supaya tidak melindungi TNI. Dan hari ini kau risau soal martabat?”
“Kau tak mengerti,” aku menggeleng. “Aku ditugaskan ke Hindia menemani ribuan pemuda belia, para wajib militer, untuk membebaskan tanah ini dari cengkeraman Jepang. Sebagian besar pemuda itu, seperti kau tahu, belum pernah memegang senjata. Apalagi membunuh orang.”
Aku berhenti sebentar. Jan masih berada dalam posisi berdiri. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak menunjukkan niat memotong kalimatku, maka segera kulanjutkan bicara.
“Setiba di sini, Jepang sudah lama angkat kaki, sementara garong dan ekstremis merajalela. Menindas penduduk tak berdosa. Engkau tahu garong? Tanyakan kepada penduduk, berapa banyak yang mengaku pejuang itu keluar-masuk desa. Merampok, membunuh, memperkosa. Maka tugas tentara Belanda dan KNIL bukan lagi mengusir Jepang, melainkan membantu penduduk. Mengembalikan mereka ke zaman normal yang tenang.”
“Kopi, Kapten?” seolah tidak menyimak kalimatku, Jan melangkah ke balik tirai, lalu keluar lagi membawa termos dan dua buah gelas.
“Tidak terlalu panas lagi, tetapi cukup menemani kita bicara,” ia memenuhi gelasku dengan kopi. Aku mereguknya seperti seorang pemadat bersua opium.
“Mengusir Jepang, melindungi penduduk,” Jan kembali menjejali pipanya dengan tembakau. “Aku pun dulu dicekoki doktrin seperti itu. Kita begitu naif.”
“Faktanya, penduduk tak ingin lagi Belanda tinggal di sini. Sama seperti kita menolak Nazi Jerman bercokol lebih lama di negeri kita. Mereka ingin merdeka. Dan orang-orang ini sama sekali bukan garong atau ekstremis. Kalau kau tinggal di tengah mereka, bernapas seperti mereka, ikut long march bersama mereka, bahkan kehilangan istri pribumi selamanya karena peluru Belanda, matamu akan terbuka. Betapa orang Belanda itu banyak lagak dan biadab.”
“Istrimu pribumi?” aku menyela.
“Saidah. Wanita mulia. Mencintaiku segenap jiwa,” mata Jan berkaca-kaca. “Sebuah granat jatuh di ruang tamu kami dalam sebuah penyisiran desa oleh marinir Belanda. Aku melompat ke luar, naik ke bukit, dan melihat rumahku diliputi asap. Ruang tamu berantakan. Masih pula diguyur mitraliur. Setelah serangan berakhir, aku mengais reruntuk, melongok sisa rumah. Kujumpai istriku tertelungkup penuh debu. Kepalanya berlubang kena peluru. Kukira bisa segera melupakannya. Ternyata tidak.”
Suasana berubah hening. Aku mengambil korek milik Jan, menyalakan kretek yang sempat padam di tangan.
“Perang dengan Jerman atau Jepang lebih mudah dibandingkan menuntaskan urusan di sini,” Jan memulai kembali percakapan. “Saat aku baru tiba, setiap hari yang kusaksikan hanyalah kekejaman mentor kami, para tentara KNIL. Pernah melihat mereka menyiksa tawanan? Siksaan yang kau terima kemarin belum separuh yang kusaksikan. Mengingatkanku kepada almarhum adik lelakiku. Punya adik pria, Kapten? Aku punya satu. Kira-kira seusia mereka,” Jan mengibaskan tangan ke arah dua pengawal di belakang kami.
“Suatu sore ia dan seorang rekannya ditangkap Jerman, dipukuli, disetrum alat kelaminnya, dicabuti kuku tangannya. Rekannya selamat, walau kemudian menjadi gila. Tetapi adikku tewas. Mayatnya teronggok dekat kanal, tak jauh dari rumah kami. Dibunuh hanya karena menempel poster anti-pendudukan Jerman, dan tidak mau menunjukkan siapa yang menitipkan poster itu. Maka, tidakkah engkau merasa aneh? Di sana kita berteriak-teriak anti-pendudukan, sementara di sini kita ingin kembali menguasai tanah tropis ini. Membantai rakyatnya. Itulah salah satu hal yang membuatku menyeberang dua tahun lalu,” Jan membuang abu pipa, kemudian bangkit berdiri.
“Terima kasih untuk percakapan malam ini. Kutinggalkan engkau di sini, Kapten,” ia menjabat tanganku. “Cermati kembali surat itu. Segera setelah engkau membubuhkan tanda tangan, kedua penjaga ini akan mengantarkanmu ke tempat baru. Sebuah kamar bersih dengan veldbed. Juru kesehatan akan menyusul. Pena kutitipkan kepada salah seorang penjaga.”
Aku tak menjawab. Kutatap tubuh jangkung Jan, sampai lenyap di balik tirai. Kuhela napas panjang. Masih kuperlukan sekitar setengah jam merenung, sebelum kubaca ulang surat yang tergeletak di atas meja. Rasanya aku bisa melupakan syarat pengembalian senjata itu.

Jakarta, 2 Mei 2017
Kepada ‘Poncke ‘ Princen

Kaluar: Keluar
Ngeunah sare: Enak tidur
Gancang! Tincak siah ku aing!: Cepat! Kuinjak kau!
Weet ik veel: Tidak tahu
Goede nacht: Selamat malam (sekitar jam 12 malam)
Landverrader: Pengkhianat

Iksaka Banu, lahir di Yogyakarta, 7 Oktober 1964. Salah satu penerima Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 untuk Semua untuk Hindia, dan Penghargaan Pena Kencana (2008 dan 2009). Ia bekerja sebagai praktisi periklanan.