Daftar Blog Saya

Rabu, 05 Juli 2017

Celeng

Cerpen Manaf Maulana (Koran Tempo, 17-18 Juni 2017)
Celeng ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.png
Celeng ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo
SEJAK duduk di kelas satu sekolah dasar, Nina gemar menggambar celeng. Anak kami semata wayang itu menggambar celeng hampir setiap hari. Padahal, kami keluarga muslim. Bagi kami, celeng adalah hewan yang najis, bahkan kadar najisnya mugholladhoh.
Di kampung kami, semua warga juga muslim. Dan bagi keluarga-keluarga muslim, celeng sangat menjijikkan. Jangankan makan daging celeng, menyentuh atau tersentuh kulit celeng saja dianggap sial. Pendek kata, celeng harus dijauhi sejauh-jauhnya.
Suatu siang, ketika aku masih kecil, kampung kami kemasukan seekor celeng. Maklumlah, kampung kami memang di pinggir hutan. Langsung hewan bermulut monyong itu diburu banyak warga untuk dibantai.
Ketika diburu banyak warga, celeng itu sempat berlari-lari menghindari sergapan warga. Celeng itu sempat menabrak beberapa jemuran pakaian warga di halaman rumah, maka pakaian yang tersentuh kulit celeng itu langsung dicuci dengan air bercampur debu oleh pemiliknya, padahal pakaian itu berwarna putih.
Mungkin dasar hewan, tak tahu sopan santun, celeng yang sedang diburu itu masuk ke dalam masjid dan berlari berputar-putar di atas karpet sebelum kemudian berhenti dan kencing di atas sajadah yang selalu tergelar di dalam mihrab.
Semua orang yang memburu celeng itu marah dan mengumpat-umpat.
“Celeng keparat!”
“Mungkin celeng itu jelmaan iblis dari neraka!”
“Celeng itu harus dibakar hidup-hidup!”
Karena celeng itu sudah terpojok di dalam mihrab, dengan mudah orang-orang yang memburunya langsung menyergapnya. Celeng itu babak belur dipukuli dengan kayu. Lalu, dalam keadaan sekarat, celeng itu diseret menuju kebun bambu di belakang masjid, dan kemudian dibakar hingga hangus.
Setelah itu, orang-orang langsung sibuk mencuci karpet dan sajadah di masjid yang telah diinjak-injak dan dikencingi hewan najis itu. Benar-benar pekerjaan yang sangat merepotkan.
“Kita harus memburu celeng yang mungkin jumlahnya sangat banyak di dalam hutan agar semuanya punah! Jangan sampai kampung kita kemasukan celeng lagi!” seru Pak Haji Saleh, tokoh masyarakat yang selalu menjadi imam salat berjemaah di masjid itu.
Pak Haji Saleh nampak murka karena sajadah di dalam mihrab yang biasanya dipakai untuk menjadi imam salat berjemaah telah diinjak-injak dan dikencingi oleh celeng.
Semua pria di kampung kami langsung membentuk satuan regu untuk memburu dan menumpas habis celeng yang mungkin banyak jumlahnya di dalam hutan.
Dengan membawa bambu runcing, arit, dan pedang, mereka masuk hutan. Ternyata di dalam hutan itu sangat banyak celeng berkeliaran. Dengan mudah, mereka menyergap dan membantai celeng satu per satu, hingga habis tak tersisa.
***
Sebagai seorang ayah, aku semakin resah melihat Nina gemar menggambar celeng. Suatu malam menjelang tidur aku menyuruh istriku untuk membujuk Nina agar tidak lagi menggambar celeng. Sudah banyak gambar celeng yang dibuat gadis kecil itu. Hampir semua halaman buku gambarnya penuh dengan gambar celeng. Gambar celeng di atas kertas karton yang dibuat Nina juga dipajang di dinding kamar tidurnya, di dinding ruang keluarga, dan dinding ruang tamu.
Suatu hari aku sudah pernah mencoba melarangnya menggambar celeng, tapi Nina justru semakin gemar menggambar celeng. Bahkan, gambar celeng itu dipajangnya di dinding kamar tidurku, seolah-olah Nina ingin menunjukkan sikap keras kepalanya sebagai pencinta celeng.
“Kamu harus mencoba bersikap keras melarangnya menggambar celeng lagi,” bisikku.
Istriku langsung menggeleng. “Aku tak mau membunuh bakat seni yang baru tumbuh di dalam jiwa Nina, Mas. Biarkan saja Nina mengembangkan bakat seninya. Siapa tahu kelak dia menjadi pelukis yang hebat,” tukasnya.
“Rasanya aneh jika Nina terus-menerus menggambar celeng. Kalau memang dia punya bakat seni, kenapa hanya celeng yang digambarnya, bukan hewan-hewan lain yang lebih menarik?” ujarku.
“Itulah uniknya kalau anak punya bakat seni, Mas. Tak usah heran. Bukankah ada pelukis yang terkenal karena gemar melukis kucing? Ada juga pelukis hebat karena melulu melukis bunga, atau melulu melukis burung, atau melulu melukis wanita-wanita telanjang.” Istriku nampak memperlihatkan sikapnya yang mendukung kegemaran Nina.
“Aku khawatir kalau masyarakat sudah tahu Nina suka menggambar celeng, kemudian mencelanya. Mereka bisa menuduh kita tidak mampu mendidik anak dengan baik. Bahkan, mereka bisa menuduh Nina punya bakat seni yang bisa merusak syariat Islam.”
“Jangan berpikir yang bukan-bukan, Mas. Celeng memang najis, tapi gambar celeng tidak najis.”
“Tapi masyarakat mungkin akan menuduh Nina menyukai sesuatu yang menjijikkan jika terus-menerus gemar menggambar celeng.”
“Jangan berprasangka buruk, Mas.”
“Aku akan mencoba melakukan sesuatu agar Nina tidak menggambar celeng lagi.”
“Apa yang akan kamu lakukan, Mas?”
“Aku akan membelinya, kalau Nina bersedia menggambar bunga atau kupu-kupu, misalnya.”
“Jangan lakukan cara licik seperti itu, Mas. Cara yang akan kamu lakukan itu sama dengan suap, Mas.”
“Tapi di dunia seni rupa banyak juga pelukis yang sudah biasa membuat lukisan pesanan.”
“Pelukis-pelukis yang melayani pesanan seperti itu biasanya disebut melacurkan diri, Mas.”
Dadaku langsung berdebar dan bulu kudukku langsung merinding begitu istriku menyebut istilah melacurkan diri. Sebagai seorang ayah, sudah tentu aku tidak sudi mempunyai anak gadis yang melacurkan diri atau menjadi pelacur.
“Sudahlah, Mas. Biarkan saja Nina menggambar sesuai minatnya. Kalau dia memang hanya berminat menggambar celeng, tak usah dipaksa menggambar obyek lain.”
Dadaku terasa sesak. Pikiran buruk mulai berlintasan di benakku. Ya, mungkin Nina tidak akan menggambar lagi, jika semua alat untuk menggambar miliknya kubuang dan kubakar di tempat sampah.
Setelah istriku terlelap, aku segera bangkit dan keluar kamar. Segera kuambil semua alat menggambar milik Nina dan juga semua gambar celeng yang telah dibuatnya, kemudian kubuang ke tempat sampah di belakang rumah. Lalu segera kubakar.
Sengaja pintu belakang tidak kukunci lagi, setelah aku masuk lagi sehabis membakar alat-alat menggambar dan sejumlah gambar celeng milik Nina di tempat sampah di halaman belakang. Dengan demikian, esok pagi istriku pasti akan menduga rumah kami telah kemasukan pencuri yang lewat pintu belakang itu. Maka, jika kemudian Nina mengeluh kehilangan semua alat menggambar dan semua gambar celeng miliknya, istriku akan menuduh si pencuri itulah yang menggondolnya.
***
Setelah bangun tidur, Nina langsung menangis dan mengadu kepada kami tentang hilangnya semua alat menggambar dan semua gambar celeng miliknya.
“Pasti semalam ada pencuri masuk dan menggondol alat menggambar dan semua gambar celeng,” ujarku.
“Pencurinya pasti gila, karena hanya masuk rumah untuk menggondol alat-alat menggambar dan semua gambar celeng milikmu, Nina,” ujar istriku sambil tersenyum sinis kepadaku.
Nina nampak sangat sedih dan dendam kepada si pencuri yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Aku merasa berdosa, karena telah membuatnya sedih dan dendam seperti itu.
“Dasar pencuri gila!” umpat Nina.
Untuk menghiburnya, aku kemudian membelikan alat-alat menggambar lagi untuk Nina. “Sebaiknya Nina tidak usah menggambar celeng lagi, agar tidak digondol pencuri.”
“Persetan dengan pencuri gila! Aku akan tetap menggambar celeng!” tegas Nina.
“Jangan keras kepala, Nina. Apakah kamu tidak takut kalau ada pencuri lagi dan menggondol alat-alat menggambar dan semua gambar celeng milikmu, bahkan juga menggondol kamu?” Aku mencoba mengintimidasi.
“Pasti pencuri itu tidak berani masuk rumah ini lagi, kecuali kalau benar-benar gila,” tukas Nina.
“Seharusnya kamu takut kepada pencuri yang mungkin benar-benar gila, Nina.” Aku tetap berusaha menakutinya. Tapi Nina nampaknya tidak takut. Dan kembali Nina menggambar celeng dengan kertas karton ukuran satu meter persegi, tidak menggambar lagi di buku gambar.
Gambar celeng dengan kertas karton satu meter persegi itu kemudian dipajang di dinding kamar tidurnya, di ruang tamu, di ruang keluarga, bahkan juga di dinding beranda depan. Nina seolah-olah ingin memamerkan gambar-gambar celeng itu kepada semua orang.
Setiap menatap gambar celeng itu, aku menahan rasa jijik dan muak. Rumah kami sering kubayangkan seperti kandang celeng yang jorok sekali. Tapi aku tidak mau lagi mencuri alat-alat menggambar dan gambar celeng milik Nina. Aku juga tak mau bicara lagi dengan istriku tentang kegemaran Nina.
Dan karena selalu jijik dan muak berada di rumah yang dipenuhi gambar celeng itu, aku tiba-tiba muntah-muntah sehabis makan malam.
“Mungkin kamu masuk angin, Mas. Sebaiknya dikeroki saja,” ujar istriku sambil mengambil sekeping uang logam dan balsem.
Ketika punggungku dikeroki istriku, aku mengeluh bahwa aku muntah-muntah karena jijik terhadap gambar-gambar celeng yang dipajang Nina di dinding-dinding itu.
“Tak usah terlalu fanatik, Mas. Dan jangan seperti kanak-kanak. Hanya melihat gambar celeng saja bisa muntah-muntah?!”
“Tapi aku tidak masuk angin. Buktinya, aku tidak kentut, juga tidak bersendawa, setelah kamu keroki?”
Istriku kemudian berhenti mengeroki punggungku. “Nampaknya kamu memang tidak masuk angin, Mas.”
“Nanti malam aku akan mencuri lagi alat-alat menggambar dan semua gambar celeng milik Nina,” ancamku.
“Eh, jangan, Mas. Kasihan Nina kalau sampai sedih kehilangan alat-alat menggambar dan semua gambar celeng miliknya.”
Aku tak peduli. Dan pada tengah malam, kembali aku mengambil semua alat menggambar dan semua gambar celeng milik Nina, lalu kubakar di tempat sampah.
Ketika pagi tiba, Nina bangun tidur dan langsung menangis karena kehilangan alat-alat menggambar dan semua gambar celeng miliknya. Tangisan Nina berkepanjangan. Dan sejak hari itu, Nina setiap hari suka duduk terpekur, kemudian menangis berlama-lama. Istriku menduga Nina mengalami cedera mental yang cukup serius.
Menjelang malam, Nina keluar rumah. Sambil berdiri di halaman depan, Nina tiba-tiba berteriak keras-keras memanggil celeng: “Celeng! Datanglah!”
Sekian menit kemudian, celeng dengan jumlah ratusan ekor tiba-tiba datang menyerbu kampung kami. Semua orang panik dan marah. Tapi Nina justru tertawa-tawa sambil mengelus-elus punggung celeng-celeng yang mendekatinya. Celeng-celeng itu nampak bersahabat dengan Nina.

Pondok Kreatif, 2017
Manaf Maulana menulis cerpen, puisi, dan esai yang dipublikasikan di sejumlah media.

Kartu Kilat ke Surga

Cerpen A Muttaqin (Media Indonesia, 11 Juni 2017)
Kartu Kilat ke Surga ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Kartu Kilat ke Surga ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
PADA malam Jumat legi, Kasdi yang mengidap insomnia,berdoa. Dan oleh Tuhan, doanya yang tulus dan serius itu dikabulkan, yaitu tidur jam sembilan malam.
Sayangnya Kasdi tidur hanya sebentar. Mendadak ia bangkit dari tidurnya lantaran mendapati mimpi mengerikan. Dalam mimpinya, ia dipaksa meniduri tujuh perempuan berwajah buruk. Satu per satu perempuan itu memaksa Kasdi menindih mereka. Dan, saat Kasdi menindih perempuan yang ketujuh, si perempuan berbisik di kupingnya: “Tugasmu selesai. Turunlah dari ranjang ini. Selamatkan rakyatmu sebelum datang banjir besar,” perempuan itu lalu menendang Kasdi.
Kasdi pun berteriak sekuat tenaga. Sebentar kemudian ia tersadar dan mendapati dirinya terjatuh di lantai. Kasdi bangkit. Sambil mengelus-elus sebagian jenggotnya, Kasdi mengingat-ingat mimpinya. Ia yakin betul, itu bukan mimpi sembarangan. Ia percaya mimpi itu adalah semacam wangsit. Karena itu, Kasdi berpikir keras mencari cara agar bisa menunaikan amanat si perempuan dalam mimpinya.
Setelah berpikir sejenak, Kasdi mengangguk-angguk kecil lalu tersenyum misterius dan bergegas mengambil kapak simpanannya. Sambil menggenggam kapak dan mengikat kepalanya dengan sehelai selendang, seperti Wiro Sableng, Kasdi segera pergi keluar kota untuk menebang pohon jati raksasa yang menjadi pembatas kotanya dan kota sebelah.
Sesampainya di sana, Kasdi langsung menebang pohon jati itu. Berhari-hari ia menebangnya dan hanya berhenti sebentar saat makan saja. Kasdi bekerja dengan sungguh-sungguh dan tepat di hari ketujuh, tumbanglah pohon jati itu. Setelah pohon tumbang, Kasdi mulai membuat perahu sembari membayangkan diri sebagai Nuh.
Rupanya, tujuh hari telah cukup membuat jenggot, kumis, dan jambang Kasdi memanjang. Tampangnya kini tampak berantakan. Namun Kasdi tak peduli dengan perubahan fisiknya. Seperti orang kesurupan, ia memotong-potong pohon jati besar itu menjadi beberapa bagian. Kasdi lalu menyusun kayu-kayu itu menjadi bentuk yang mirip perahu.
Harus diakui bahwa Kasdi sangat serius mengerjakan perahunya. Tatkala seorang pemulung mendekat dan bertanya, dengan ketus Kasdi meniru jawaban Nuh kepada kaumnya: “Aku membuat perahu untuk menyelamatkan umatku. Janganlah sekali-kali Sampean mengejek perahuku, agar Sampean tak termasuk golongan yang ditenggelamkan!”
Karena tak merasa mengejek, pemulung itu pun pergi. Kasdi kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, ketika ia tengah khusyu’ bekerja, seorang perempuan penjual jamu menghampirinya. Penjual jamu itu menawari jamu kuat terbaru. Tapi Kasdi langsung mendakwa: “Menyingkirlah kau setan. Aku tahu, kau hendak berak di perahu ini, bukan? Bajingan!”
Penjual jamu buru-buru pergi dengan gemetaran. Ia yakin, lelaki semprul itu tengah kerasukan jin. Setelah penjual jamu pergi, lewatlah seorang tukang becak. Namun sang tukang becak hanya melihat Kasdi sekilas sembari menggenjot becaknya. Tukang becak itu tak berani mendekat, sebab ia yakin Kasdi yang tengah menggarap perahunya itu pastilah orang senewen.
Setelah tukang becak menjauh, datanglah orang-orang yang lain. Ada yang mampir dan bertanya sekenanya. Ada pula yang sekadar melihat-lihat sambil lalu saja. Di antara mereka, kebanyakan bergegas dan mempercepat langkahnya sebab takut diamuk oleh Kasdi.
Hari-hari berlalu. Kasdi yang serius membuat perahu di pinggiran kota itu akhirnya menjadi buah bibir dan rasan-rasan yang menyebar ke seluruh kota. Ini terjadi lantaran sebuah stasiun TV swasta sempat iseng-iseng memberitakannya. Seperti ketiban ndaru, Kasdi mendadak jadi orang terkenal. Ia dibicarakan di mana-mana, di rumah, di pasar, di terminal, di gardu, di warung, di sekolah-sekolahan, bahkan di tempat-tempat ibadah.
Kini, hampir setiap orang mengenal Kasdi. Berbagai stasiun TV juga mulai berebut meliputnya. Bahkan, desas-desus yang mulai menyebar, Kasdi yang mirip orang gendeng itu sebetulnya adalah wali yang menyamar. Tak hanya itu, banyak orang mulai percaya, Kasdi memang mendapat wangsit untuk menyelamatkan warga kota. Tentu anggapan ini tidak sepenuhnya salah. Apalagi hujan masih sering turun dengan ganasnya. Banjir juga terus menghantui seluruh warga kota. Ketika hujan lebat bercampur petir menyambar-nyambar tak tentu arah, mereka makin yakin Kasdi bisa menyelamatkan mereka.
Tak heran jika Kasdi yang kini tersohor memiliki linuwih dan keramat itu memikat perhatian Dodot Kartompo. Ketahuilah, Dodot Kartompo semula adalah seorang penyair yang kemudian jadi makelar dan kini berhasil menjabat sebagai ketua partai besar. Dan, seperti yang gampang ditebak, Dodot Kartompo pun berniat merekrut Kasdi ke dalam partainya. Maka pada suatu sore yang longgar, dengan mengendarai Jaguar, Dodot Kartompo mendatangi Kasdi. Ketika sampai di sana, Dodot langsung mencium tangan Kasdi dan mengatakan maksud kedatangannya: “Monggo Romo Kasdi ikut kami. Mari berjuang menyelamatkan kota ini!”
Kendati kurang mengerti maksud Dodot Kartompo, Kasdi langsung menuruti. Dodod Kartompo kemudian menelepon ke kantor partainya dan menyuruh mereka menyiapkan truk besar untuk mengangkut perahu Kasdi. Tentu perahu Kasdi bukanlah perahu sebagaimana mestinya, hanya kayu-kayu kasar yang disusun sedemikian rupa. Namun bagi masyarakat yang terlanjur percaya karomah Kasdi, apalah pentingnya itu semua.
Sesampainya di kantor partainya, Dodod Kartompo segera menelepon sebuah stasiun TV dan dengan bangga mengabarkan kalau Kasdi telah sepakat berjuang bersama partainya. Berita perihal Kasdi yang masuk partai Dodot Kartompo pun segera menyebar. Stasiun TV itu juga menyiarkan, pada hari minggu nanti, partai Dodod Kartompo akan menyelenggarakan kampanye besar-besaran di alun-alun kota.
Begitulah. Hari Minggu yang dijanjikan itu pun tiba.
Seluruh penduduk kota berduyun-duyun mendatangi alun-alun. Di alun-alun itu, telah dibuat sebuah panggung besar. Di atas panggung, sebuah kursi tinggi juga telah diletakkan. Di atas kursi itu, Kasdi duduk tenang seperti seorang sultan.
Dengan berapi-api, Dodot Kartompo mulai berpidato. Dodot menghimbau warga agar di pemilihan nanti, mereka tidak salah pilih. Untuk itu, ia bersikeras meyakinkan bahwa Kasdi lah pilihan yang tepat.
Dodot Kartompo terus meyakinkan warga, bahwa Kasdi adalah penyelamat mereka. Kasdi bahkan telah membikin perahu ajaib yang siap mengangkut warga apabila banjir besar melanda. Dodot Kartompo menutup pidatonya dengan kabar gembira, bahwa partainya telah menyiapkan KKS, yaitu Kartu Kilat ke Surga. Hanya dengan kartu inilah, kata Dodot, mereka bisa mendapatkan ridha Tuhan, menjadi anggota PK atau Paguyuban Kasdiyesss dan naik perahunya apabila banjir besar datang tiba-tiba.
Pidato Dodot Kartompo itu lalu ditutup dengan yel pendek: “Hidup Kasdiyesss!”
Para hadirin bersorak, mengepalkan tangan dan serempak memekik: “Hidup Kasdiyesss!”
Dodot Kartompo lalu mempersilakan Kasdi turun dari kursinya dan menyampaikan sambutannya kepada warga kota. Kasdi pun turun dari kursinya, disambut pekikkan keras menyebut namanya. Dengan mantab, Kasdi melangkah menuju pengeras suara. Namun, sesaat sebelum Kasdi menyentuh mik itu, sebuah tembakan meletus melubangi jidatnya.
Mendengar bunyi tembakan, para hadirin yang tengah meneriakkan yel nama Kasdi itu bubar dan lari kocar-kacir.
Alun-alun menjadi kacau. Pohon-pohon dan rumputan rusak. Bunyi pekik ketakutan dan petir yang menyambar, membuat situasi makin mencekam. Hujan pun turun dengan lebatnya. Di tengah kekacauan itu, tak ada yang tahu, siapa yang menembak Kasdi. Orang-orang sibuk menyelamatkan diri. Bahkan Dodot Kartompo lari terpontang-panting sendiri, tanpa ada yang mengawalnya.
Air melimpah, menggenang ke mana-mana. Got-got mulai penuh dan meluap. Kota mulai banjir. Alun-alun tenggelam. KKS atau Kartu Kilat ke Surga yang tadi sempat dibagi-bagikan, menyembul di antara sampah, kotoran, dan mayat Kasdi.
Bersama kartu KKS, kotoran dan sampah, mayat Kasdi timbul-tenggelam mengikuti arus air, mengalir ke sana, mengantar mayat itu ke surga.

2017
A Muttaqin lahir di Gresik dan tinggal di Surabaya. Ia mengarang puisi dan cerita pendek. Buku puisinya yang telah terbit antara lain, Pembuangan Phoenix (2010), Tetralogi Kerucut (2014), dan Dari Tukang Kayu Sampai Tarekat Lembu (2016).

Para Pemudik yang Tak Pernah Kembali

Cerpen Zaenal Radar T (Media Indonesia, 18 Juni 2017)

Para Pemudik yang Tak Pernah Kembali ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Para Pemudik yang Tak Pernah Kembali ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
LEBARAN Idul Fitri sudah lewat dua bulan. Tapi jalanan Ibu Kota yang ditinggalkan pemudik masih lengang. Pom bensin yang biasanya sudah antre tetap kosong. Bahkan ada dua alat pengisian bahan bakar yang tidak digunakan karena katanya pegawainya belum kembali dari mudik. Ada pengumuman di dekat alat pengisian bahan bakar; ‘dibutuhkan lima karyawan baru untuk posisi operator. Yang berminat hubungi Satpam pom bensin’. Yang minat diminta menghubungi satpam, padahal tidak terlihat seseorang berseragam satpam. Jangan-jangan satpam pom bensin itu pun belum kembali dari kampung halaman?
Pagi yang basah. Di jalanan hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas. Saya bertemu mantan atasan saya, Pak Markum, di areal pom bensin itu. Pak Markum, manajer perusahaan minyak itu, nyetir sendiri. Dia bilang, si Handoko, sopir pribadinya, belum kembali dari kampung halamannya di Jawa Tengah.
“Saya pastikan si Handoko resign,” ucap Pak Markum datar, setelah saya menanyakannya.
“Handoko berjanji akan kembali lima hari setelah lebaran. Tapi sudah hampir Lebaran haji tidak muncul batang hidungnya.”
Bulan lalu, istri Pak Markum mengeluh pada istri saya. Tiga orang asisten rumah tangganya yang mudik tiga hari sebelum Lebaran tidak kunjung kembali sampai menjelang hari raya kurban. Hampir setiap hari Bu Markum menelepon, tetapi ponsel para asisten rumah tangganya tidak ada yang aktif. Padahal ketiganya sudah dibelikan telepon pintar oleh Pak Markum. Kini, mereka sulit sekali dihubungi.
Saya dan istri saya awalnya tidak terlalu terganggu dengan keadaan ini. Saya, istri, dan dua anak saya tidak pernah mudik karena tidak punya kampung halaman. Baik orangtua saya maupun mertua, semuanya tinggal di Jakarta. Paling jauhnya, ada keluarga dari keluarga saya dan keluarga istri menetap di pinggiran Ibu Kota. Selain itu, kami tidak punya asisten rumah tangga, yang kebanyakan pulang kampung saat Lebaran Idul Fitri tiba.
Kami sudah terbiasa dengan suasana sepi saat Lebaran Idul Fitri. Sudah lazim menghadapi toko-toko yang tutup, jalan protokol yang biasa hiruk pikuk berubah lengang. Raibnya suara knalpot bising dan asap knalpot selama liburan hari raya. Namun baru kali ini, sudah lebih dari dua bulan sejak Lebaran Idul Fitri, tak ada tanda-tanda orang-orang yang mudik akan kembali ke Ibu Kota.
Warung-warung makan pinggir jalan masih tutup. Setelah saya selidiki, pemilik berikut karyawan warung-warung itu ternyata belum kembali dari kampung halaman. Loh, loh…. Kenapa banyak sekali pemudik yang belum kembali? Siang itu juga saya berusaha mencari tahu lewat koran. Astaga, seingat saya, sudah lebih dari dua bulan sejak surat kabar libur dalam rangka hari raya Idul Fitri, koran tak pernah sampai ke teras rumah. Setelah saya tanya sana-sini, ternyata bukan cuma loper korannya yang belum ada, tapi para agen koran yang mudik belum kembali ke tempat kerja mereka.
Akhirnya saya nonton televisi, sesuatu yang jarang saya lakukan. Hanya ingin melihat berita. Ya, Tuhan. Hanya ada dua stasiun teve yang siaran. Stasiun lainnya masih gambar semut. Dan, dua stasiun teve yang ada hanya menyiarkan berita kemacetan. Sebelum saya tahu apa yang sesungguhnya terjadi, lampu PLN mati! Televisi tewas kehilangan setrum. Jangan-jangan para petugas PLN yang bertugas di salah satu gardu masih di kampung halaman mereka?
Saya nyalakan ponsel untuk browsing, tapi pulsa sudah seminggu habis. Tukang pulsa belum buka karena mudik. Saya ke ATM, ternyata ATM belum bisa digunakan karena uang di dalam kotak mesin ATM kosong dan belum ada petugas yang datang mengurusnya. Apa mereka juga masih belum kembali dari mudik?
Jalan protokol yang biasanya padat merayap benar-benar sepi. Jalan-jalan gang kompleks yang biasa digunakan untuk parkir mobil pun kosong melompong. Kantor kelimpungan babak belur karena OB dan satpam belum kembali bekerja. Dipastikan mereka semua masih di kampung halaman. Padahal, jatah cuti mereka sudah lama habis. McDonald dan KFC di dekat kantor sudah memberikan pengumuman, besok mereka akan tutup untuk sementara. Lima karyawan mereka ambruk kelelahan. Satu-satunya warung Padang, yang berhadap-hadapan dengan Warung Tegal di dekat gerbang kompleks, juga tutup dengan alasan pasar belum buka, stok sayuran habis, ikan dan daging belum ada yang mengantar. Kemana mereka semua? Apa mereka mudik dan tidak ingin kembali?
Beberapa orang yang tidak pulang kampung berkumpul dan berdiskusi. Apa yang akan kami lakukan seandainya orang-orang yang mudik tidak kembali lagi? Itu sampah rumah tangga teronggok di mana-mana, tidak yang mengangkut karena orang yang biasa mengurusi sampah, baik petugas kebersihan maupun sopir truk sampah, mudik semua dan belum kembali sampai hampir datangnya Lebaran Haji.
Supermarket dan minimarket yang biasa melayani warga satu per satu tutup. Keamanan tidak ada. Polisi-polisi yang biasa berjaga-jaga ternyata mudik bersama keluarga mereka masing-masing. Kami memutuskan untuk bertemu dengan Walikota. Tapi katanya Walikota belum kembali dari mudik, sejak dua bulan lalu. Pak Gubernur kabarnya masih di kampung halaman! Masya Allah!!!
“Lagian sih, pilih pemimpin bukan orang asli sini. Pilih dong orang daerah sendiri supaya enggak pakai pulang kampung kayak gini!”
Saya tidak mempedulikan gerutuan salah satu warga. Akhirnya beberapa warga sepakat untuk menghadap Presiden. Pak Presiden kan sudah biasa bertemu dengan rakyatnya. Sudah lazim Presiden ketemu rakyat kecil karena ia gemar blusukan. Namun, kabar datang dari istana, satu-satunya orang istana yang tidak mudik, mengabarkan bahwa Presiden mungkin masih di Solo.
Ada apa ini? Kenapa mereka masih mudik semua? Masak iya, mereka akan kembali setelah Lebaran haji?
Saya kembali menyalakan televisi setelah listrik menyala. Kini tinggal satu stasiun teve yang siaran. Dengar-dengar stasiun satunya sudah kehabisan karyawan. Karyawan belum kembali bekerja. Sementara karyawan yang ada ambruk semua.
Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari satu-satunya pembaca berita yang sudah loyo, wajah pucat pasi, bibir kering, dan mata celong. Mungkin dia tidak pernah ganti sif. Pembaca berita itu mengabarkan, “Pemirsa, para pemudik masih tertahan di pintu keluar tol Cipali sejak tiga hari sebelum Lebaran. Jalan jalur utara dan selatan seluruhnya macet total. Penyeberangan Bakaheuni terhenti total, mobil-mobil pribadi dan pemotor tidak bergerak. Kabarnya, mereka belum sampai ke kampung halaman. Kemacetan tidak hanya dialami rakyat biasa, tetapi juga menimpa sejumlah pejabat negara, termasuk beberapa orang wakil rakyat, Presiden, dan sejumlah menteri yang ingin merasakan jalan tol yang baru diresmikan untuk keperluan mudik tahun ini.
Saya jadi ingat ucapan Pak Markum. Istrinya sempat menerima telepon dari kampung para asisten rumah tangganya. Bahwa ketiga asisten rumah tangga itu belum sampai di kampung halaman mereka. Padahal mereka sudah izin mudik tiga hari sebelum Lebaran. Jangan-jangan para asisten rumah tangga itu masih terjebak kemacetan?
Setelah itu pembaca berita teve mengumumkan kepada pemirsa bahwa ini siaran terakhir mereka. Karena reporter dan sejumlah kameramen sudah tidak lagi mengirimkan berita. Dia sendiri sudah capai siaran sejak Lebaran karena rekan-rekan penyiar yang lain belum kembali bekerja.
Pembaca berita yang biasanya terlihat segar dan cantik itu kini sudah berwajah semrawut, berkulit kisut, berambut kusut, dan bersuara lemah. Namun dia masih sempat tersenyum sesaat sebelum mengakhiri berita, “Demikianlah berita-berita terakhir yang kami sajikan kepada Anda, pemirsa. Selamat malam. Sampai jumpa…. Kapan-kapan…”

2017
Zaenal Radar T. Menulis cerita yang termuat di media cetak dan televisi. Bukunya yang akan terbit, Si Markum dan Kisah-Kisah Peneguh Iman. Menetap di Tangerang Selatan.


Sit-Uncuing

Cerpen Yus R Ismail (Tribun Jabar, 11 Juni 2017)
Sit-Uncuing ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Sit-Uncuing ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar
SIT-uncuing bernyanyi di atas pohon. Tapi entah pohon yang mana. Nining sudah beberapa kali mengamati pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar rumahnya. Jambu air, sawo, mangga, rambutan, yang tumbuh di halaman belakang, diperhatikan sampai hafal jumlah dahan besarnya. Burung itu masih tidak tertemukan meski suaranya begitu jelas dan nyaring.
Pagi datang sedikit muram. Entah kenapa matahari yang tadi cerah tertutup lagi awan yang semakin tebal. Sepertinya gerimis sebentar lagi turun. Apakah ini pertanda dari pesan malapetaka sit-uncuing? Mungkin benar mitos itu, pikir Nining. Mitos bahwa bila burung sit-uncuing bernyanyi maka itu adalah nyanyian kematian. Ah, tapi ada atau tidak pun burung itu bernyanyi, kematian pasti datang. Pasti datang kepada yang dikehendaki-Nya.
Seandainya burung sit-uncuing itu tertangkap wujudnya, Nining ingin melemparnya, mengusirnya jauh-jauh. Tapi percuma bila hal itu dilakukannya. Karena kabar itu sudah datang. Nunung, kakak Nining satu-satunya, menjadi salah seorang korban kecelakaan kereta api. Hujan besar telah menyebabkan longsor yang menimpa rel di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Nunung, yang bekerja di Surabaya, rencananya pulang selama seminggu ke Bandung.
Semalam Nining menerima kabar dari orang yang mengaku Tim Pengendalian Bencana.
“Sebaiknya ada keluarga yang datang ke sini,” kata orang Tim Pengendali Bencana itu.
Mang Sakri dan Wa Enjum malam itu juga berangkat ke tempat bencana. Tugas Nining adalah menyampaikan kabar buruk itu kepada Ambu. Semua saudaranya, amang-ibi-alo-uwa sampai nini-akinya, merasa tidak sanggup menyampaikan kabar itu kepada Ambu. Nining, sebagai sarjana psikologi dan anak yang dekat dengan Ambu, mereka anggap akan lebih bisa menyampaikan kabar itu.
Menurut kabar televisi, kecelakaan kereta api itu menelan puluhan korban jiwa.
“Nunung mengalami patah tulang kaki dan tangan. Itu yang paling beratnya. Sementara di kepala, pinggul, tangan, tidak terlalu parah,” kata Mang Sakri melelui telepon genggam. “Kamu harus bisa menyampaikan kabar ini kepada Ambu, harus hati-hati.”
Ambu adalah ibu Nining dan Nunung. Usianya enam puluh satu tahun. Abah, suaminya, ayah Nunung dan Nining, sudah meninggal lima tahun yang lalu. Sejak Abah meninggal Ambu sakit jantung, sakit yang membuat wajahnya kurang segar. Tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh tertekan, tidak boleh terkejut. Menurut riwayat sakitnya, tiga kali mendapat serangan jantung parah. Penyebabnya hanya karena tertekan ada yang bertanya kenapa kedua anak gadisnya belum juga menikah, mendapat kabar kematian sahabatnya, dan jengkel karena anak tetangga semalaman menyalakan kembang api saat tahun baru.
***
SEKALI lagi Nining memandang Ambu yang sedang duduk di bangku taman. Tadi waktu Nining membawa susu hangat dan kue untuk sarapan, Ambu bertanya tentang Nunung. “Mestinya kakakmu itu datang pagi ini, ya? Tapi, kok, belum juga datang. Memangnya sekarang pukul berapa?” tanyanya.
Nining tidak menjawab apa pun. Ya, apa yang harus dijawabnya? Bagaimana menceritakan kabar buruk itu? Nining memilih menjauhi Ambu. Dan sekarang, setelah menatap Ambu sekian lama, Nining akhirnya masuk ke kamarnya.
Di kamar Nining mereka-reka apa yang ingin dikatakannya kepada Ambu.
“Ambu, ada beberapa hal yang kita sebagai manusia tidak bisa menghindarinya,” kata Nining sambil memandang bantal.
“Ya, iya, atuh, Ning. Kalau kita bisa menghindari semuanya, Ambu pasti ingin menghindari sakit jantung ini.” Sepertinya Ambu akan berkata seperti itu.
“Bukan hanya sakit, Ambu. Kecelakaan pun seringkali tidak bisa dihindari meski kita sangat hati-hati sekali”
“Iya, betul.” Ambu pantasnya sambil memandang Nining lebih tajam, mungkin mulai curiga kenapa Nining membicarakan itu.
“Kecelakaan itu sering terjadi, jadi tidak usah membuat kita terkejut.” Nining berhenti sebentar, memandang bantal lebih saksama seolah-olah bantal itu adalah Ambu. “Teh Nunung mengalami kec….”
Ah, Nining tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ambu pasti terkejut mendengar kabar seperti itu. Dadanya akan berdebar, napasnya turun-naik lebih cepat. Kalau sudah begitu, Nining pasti akan khawatir. Sebaiknya bukan begitu cara mengabarinya.
Sorenya Nining pergi ke taman kota. Dia bilang kepada Ambu akan membeli keperluan dapur sekalian membeli pulsa. Ambu tadi memintanya untuk menghubungi Nunung, tapi Nining beralasan pulsanya habis. Ambu sendiri, sejak mengidap sakit jantung itu, tidak lagi memegang HP sendiri, tidak juga boleh menonton televisi dan mendengarkan radio.
Di taman kota Nining duduk di bangku sambil membaca buku. Tepatnya pura-pura membaca buku. Karena pikirannya masih melayang kepada Ambu. Nanti malam, sebelum tidur, Nining akan menyampaikan kabar buruk itu.
“Waktu kecil Ambu selalu mendongeng buat Nining dan Teh Nunung. Kali ini Nining yang akan mendongeng buat Ambu.” Begitu Nining akan memulai pembicaraannya.
Ambu pantasnya akan tersenyum.
“Zaman Nabi Sulaiman as, ada seorang sahabat yang sangat besar jasanya. Suatu hari sahabat itu melihat kedatangan malaikat Izrail ke kotanya. Dia terkejut. Mau mendatangi siapa malaikat pencabut nyawa itu? Karena takut Izrail akan mencabut nyawanya, sahabat itu meminta Nabi Sulaiman as untuk menerbangkannya ke tanah India. Jarak dari Yerusalem tempat Nabi Sulaiman as berkuasa ke India tentu saja sangat jauh, dipisahkan lautan dan negara-negara Timur Tengah. Tapi sahabat itu yakin Nabi Sulaiman bisa meminta angin menerbangkannya ke India.”
Ambu pantasnya mendengarkan dongeng sambil membelai rambut Nining. Ambu berbahagia.
“Akhirnya Nabi Sulaiman as menerbangkan sahabatnya itu ke India. Selang beberapa menit malaikat Izrail yang menghadap Nabi Sulaiman as karena bingung. Bingung karena dalam catatan ketentuan, dia harus mencabut nyawa di India, tapi orangnya, kok, ada di Yerusalem? ‘Jangan bingung-bingung, Tuan Malaikat. Silakan saja Tuan pergi ke India, orang itu sekarang sudah ada di India,’ kata Nabi Sulaiman as.”
Ambu pantasnya akan tersenyum mendengar dongeng itu.
“Nah, Ambu, seperti juga kematian yang sudah ada catatannya, kecelakaan pun….”
Lamunan Nining berhenti sampai di sana. Mendongeng dan menyampaikan kabar buruk yang sebenarnya mempunyai ketegangan yang sangat berbeda. Nining lalu pulang berjalan kaki. Sepanjang jalan masih juga terpikir cara menyampaikan kabar buruk yang lain.
“Ambu, dari kemarin burung sit-uncuing bernyanyi di pepohonan. Kata mitos orang dulu, nyanyian burung kecil itu membawa pesan buruk. Tidak hanya pesan ada kerabat atau kenalan yang meninggal. Tapi juga pesan kabar buruk lainnya. Misalnya kecelakaan….”
Ah, Nining selalu tidak yakin, bagaimana menyampaikan kabar buruk yang sebenarnya? Apalagi saat sampai di rumah banyak saudara dan tetangga yang menengok Ambu. Teh Encih, Aa Ajim, Mang Iwan, Nini Jumsih, Aki Atang, Uwa Oo, Kang Asep, Pa Ujang; terlihat geumpeur dan menahan tangis. Ambu terbaring di kasur, napasnya turun-naik cepat. Tidak lama kemudian terdengar sirene ambulans. Ambu dibawa ke rumah sakit.
***
HANYA sehari Ambu di rumah sakit. Alhamdulillah, kata dokter tidak apa-apa. Selain didiagnosis jantungnya baik, Ambu ingin cepat pulang karena Teh Nunung pun rencananya pulang siang harinya.
Siang itu sekali lagi ambulans dengan suara sirene mencekam datang lagi ke rumah Ambu. Mang Sakri mendorong kursi roda Teh Nunung. Kaki dan tangan digips dan dibalut perban membuat Teh Nunung seperti setengah mumi. Tapi kali ini bukan waktunya tertawa. Teh Nunung menangis meski belum ketemu Ambu. Tangis yang semakin mengeras meski ditahan ketika bertemu tangis Ambu yang terbaring di kasur.
“Ambu, alhamdulillah Ambu sehat dan kuat mendengar kabar ini,” kata Teh Nunung sambil memeluk Ambu dengan tangan sebelah.
“Kabar kecelakaanmu menjadi tidak seberapa, Nung, setelah kemarin kabar Nining tertabrak mobil sampai meninggal.”
Tangis Nunung mengeras sebentar, setelah itu tidak ingat apa-apa. Nining, yang merasa berdiri di sebelah kakaknya, sama terkejutnya. Dia sudah meninggal kemarin tertabrak mobil? Dia sudah meninggal kemarin? Meninggal?

Kutipan Glaze

“Yah, aku hilang dari dunia ini sekarang. Kau boleh lega. Sekarang, hidupmu akan lebih mudah. Aku takut, Kalle. Bukan terhadap kematian, bukan. Aku takut meninggalkan orang-orang yang kusayangi. Dia, terutama. Aku tidak yakin dia akan baik-baik saja. Dia tidak bisa hidup sendiri. Di butuh seseorang. Kalle, tolong jaga dia untukku. Kalau bersamamu, dia pasti baik-baik saja. Anggap ini permintaan terakhirku. Namanya Kara.” (hlm. 49)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Kau sudah melalui banyak hal. Pasti tidak mudah untukmu. (hlm. 9)
  2. Ada lebih banyak kenangan yang menyenangkan daripada yang menyedihkan. (hlm. 14)
  3. Kehilangan seseorang tidak seharusnya mudah, bukan? (hlm. 92)
  4. Hanya seni yang membangkitkan perasaan seseorang. (hlm. 179)
  5. Karya adalah cerminan jiwa kita. (hlm. 365)
Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:
  1. Kita tidak bisa mencegah itu. Manusia lupa. Kau suka atau tidak, itu akan terjadi. (hlm. 130)
  2. Kau harus memilih: pemikiranmu atau kehidupan yang berkualitas. (hlm. 168)
  3. Kau merepotkan banyak orang. Apa kau sadar? (hlm. 168)
  4. Kenapa sih kau tidak percaya pada kemampuanmu? (hlm. 189)

Rabu, 21 Juni 2017

Keabadian Sirin


Cerpen Kiki Sulistyo (Tribun Jabar, 04 Juni 2017)
Keabadian Sirin ilustrasi Yuditax - Tribun Jabar
Keabadian Sirin ilustrasi Yuditax/Tribun Jabar
MIMPI pertama Sirin setelah bertahun-tahun tak melihat apa pun dalam tidurnya adalah bertemu dengan seorang pemimpin di sebentang padang pasir. Pemimpin itu—Sirin ragu, perempuan atau lelakikah ia—bertubuh sangat besar, berkulit hitam legam. Kepalanya ditutup oleh semacam topi tinggi dengan hiasan bulu burung. Pakaiannya tampak seperti percampuran antara lembar seng dan kanvas dengan lukisan abstrak yang dominan oleh warna-warna terang.
Pemimpin itu duduk di singgasananya. Sebuah kursi yang sama jangkungnya dengan Sirin dan terbuat dari perak murni. Ia sendirian di padang pasir itu, siulan angin berputaran di sekelilingnya. Cahaya redup kemerahan memancar entah dari mana, melaburkan aroma penderitaan. Seakan-akan seluruh padang pasir itu dihuni roh-roh yang tak diterima bumi dan langit. Ketika pemimpin itu berbicara, suaranya lembut namun terasa tajam. Seperti sebilah pisau baru yang siap dipakai menyayat leher ternak.
Sirin mendengar orang itu berkata, “Siapa yang telah mengutusmu?”
Malam akhir tahun memanggil gulungan angin untuk mengusir uap air yang menggumpal di awan-awan. Mars, si bintang merah, berkilau di kejauhan. Di dekatnya ada bintang lain berwarna putih, seperti sedang menjaga majikannya, planet yang nanti akan didatangi manusia dalam suatu ekspedisi besar-besaran setelah kiamat menimpa bumi. Sirin percaya bahwa pada hari kiamat ia akan dibawa oleh sejenis kapsul peluncur ke suatu tempat yang baru. Di mana pohon-pohon memiliki kekuasaan dan matahari bersinar dari bawah. Kepercayaan itu berdasar pada kepercayaan yang lain, bahwa Sirin hidup abadi.
Ada banyak manusia abadi di bumi, dari yang kelihatan sampai yang hanya ada dalam mimpi- mimpi. Sebagian dari mereka berumah di tanah-tanah tinggi, berkelana sebagai pendekar, dan sebenarnya tidak sungguh-sungguh abadi. Sebab, mereka bisa terbunuh oleh kaum sendiri, manusia abadi yang lain, dengan cara dipenggal kepalanya. Sebagian yang lain hidup di antara kita, tampak normal seperti manusia lainnya. Hanya saja, mereka tidak pernah menjadi tua, dan kalau diperhatikan, pada saat-saat tertentu mata mereka berkedip secara horizontal. Mereka yang berasal dari jenis ini adalah manusia-manusia yang tidak dilahirkan, melainkan diturunkan dari suatu tempat yang tingginya tak bisa dikira-kira.
Sirin bukan dari golongan keduanya. Dia mendapat nubuat bahwa dirinya abadi ketika berusia 7 tahun. Waktu itu ia sedang bermain-main di taman dekat rumah, ketika dilihatnya seekor ular melilit sebatang pohon tanpa cabang dan ranting. Pohon itu hanya memiliki satu batang, satu daun, dan satu buah, bagaikan sebuah tonggak yang ditancapkan secara gaib. Sirin mendengar ular itu berderik, ekornya bergerak-gerak, dan lidahnya yang biru terjulur. Perlahan ular itu melepaskan lilitannya pada batang pohon dan bergerak naik menuju sebutir buah yang bentuknya tak pernah dilihat Sirin sebelumnya. Kelak di kemudian hari, saat Sirin belajar biologi, ia melihat bentuk jantung manusia dan teringat pada buah itu.
Ketika sampai di dekat buah, ular itu menatap ke arah Sirin. Takjub dengan apa yang dilihatnya Sirin mendekati pohon, dan tepat pada saat itu buah itu jatuh dan dengan sigap Sirin menangkapnya. Buah itu berdenyut di tangannya, warnanya berubah-ubah; hijau, ungu, hitam, merah. Suatu suara yang seperti berasal dari jarak yang sangat jauh sampai di telinga Sirin, “Siapa yang telah mengutusmu?” Sirin melihat sekitarnya untuk memastikan siapa yang berbicara. Tetapi tak ada siapa-siapa. Dirasakannya cahaya pelan-pelan meredup, seperti terisap oleh lubang yang sangat besar. Udara bergerak menekan, dingin, semakin dingin membuat tubuh Sirin menggigil, giginya gemelutuk dan rasa takut mencekamnya sampai ke sumsum tulang. “Cepat, makanlah buah itu. Makan, atau kau akan tersesat di sini selama-lamanya.” Sirin menatap ke arah pohon, dari mana suara itu berasal. Dalam temaram ia lihat ular itu sudah tidak ada, yang ada adalah seseorang, bergelayut di batang pohon dengan kedua tangannya. Sirin tidak bisa memastikan apakah orang itu laki-laki atau perempuan, meskipun ia tahu orang itu telanjang bulat, cahaya yang semakin redup membuat Sirin tanpa berpikir lagi segera melahap buah di tangannya.
Seketika itu juga pandangannya menjadi benderang. Jernih dan tajam. Taman di mana ia berada terlihat dengan jelas, suatu pemandangan yang tidak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata meskipun semua bahasa yang pernah ada digabung menjadi satu. Pemandangan yang belum pernah tertangkap mata, terdengar telinga, bahkan tebersit di hati manusia.
Mungkin peristiwa itu hanya mimpi semata, sebab kemudian ayahnya menemukannya tertidur di bangku taman. Tapi semenjak itu Sirin tidak pernah lagi bermimpi. Tidurnya kosong tanpa gambar atau suara apa-apa. Seakan-akan apa yang semestinya dilihat dan dialaminya dalam tidur telah meloncat ke alam nyata. Ruang dan waktu tak memiliki ketetapan bagi Sirin. Bergerak tanpa aturan, menyeret sejarah, dongeng, angan-angan, dan mitos dalam satu tarikan bagaikan gelombang laut mengempas di bibir pantai dan menebarkan remah-remah cerita melalui benda-benda mati yang dibawanya.
Eksistensinya pun mengikuti gerak kacau itu. Suatu kali Sirin adalah seorang bayi laki-laki yang lahir di kandang ternak ketika pada suatu malam yang dingin dan kudus, sebutir bintang bersinar lebih terang dari biasanya. Kali lain Sirin adalah remaja yang melihat bagaimana ayahnya, yang wajahnya memancarkan iman sekaligus keraguan, dengan pisau bergetar di tangan, bersiap menyembelihnya di sebentang padang penggembalaan. Dan di waktu lainnya, ia seorang laki-laki tua yang dikejar-kejar suatu pasukan besar, lalu karena seberkas bisikan, tongkat di tangannya ia ayunkan dan tiba-tiba laut di hadapannya terbelah. Pun bisikan yang sama telah mendorongnya, di lain waktu, membuat bahtera besar, yang dapat menampung semua makhluk hidup yang ada, beberapa waktu sebelum banjir besar menerjang seluruh permukaan bumi.
Dalam pergerakan waktu yang kacau itu, Sirin mendengar atau membaca kembali semua kisah yang dialaminya, dari orang-orang, atau dari buku-buku yang dibacanya. Tetapi tidak satu pun dari cerita-cerita itu menyebut namanya.
Seluruh indranya semakin hari semakin tajam sehingga ia bahkan bisa melihat miliaran bakteri di udara. Ia bisa melihat sel yang melakukan pertarungan dengan alam, berevolusi menjadi aneka makhluk hidup. Ia ingin mengatakan pada orang-orang bahwa ada yang telah diturunkan dari suatu tempat yang tingginya tak bisa dikira-kira. Mereka melakukan invasi ke bumi dengan maksud menaklukkan penghuni sebelumnya dan menguasai planet kehidupan ini. Ia juga bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana proton, elektron, dan neutron membentuk atom. Memulai pertarungan yang membuat kecacatan dan melahirkan unsur kimia yang berbeda-beda.
Ia ingin mengatakan pada orang-orang, perihal semua yang dialaminya. Tapi Sirin tahu tidak akan ada yang percaya padanya.
Sampai ia nanti bertemu denganku.
Aku, makhluk lata tak berkelamin yang telah diutus menjadi pemimpin bagi mereka yang ingkar. Sebagian besar manusia telah mendengar dan meyakini keberadaanku. Mereka tahu bahwa kelak keturunan mereka akan melihatku, bila saatnya tiba, ketika kekacauan sudah tak bisa dikendalikan lagi dan manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membunuh. Sebagian lain tidak percaya bahwa aku benar-benar ada, meskipun mereka juga telah mendengar namaku disebut berkali-kali oleh orang-orang suci dan juru khotbah di mimbar-mimbar. Bagi mereka, keberadaanku sama omong kosongnya dengan kisah anak durhaka yang dikutuk menjadi batu, putri kerajaan tepi pantai yang berubah menjadi cacing laut untuk menghindari perang, atau kisah pemuda yang menikahi bidadari setelah mencuri selendangnya ketika bidadari itu sedang mandi.
Tapi takdirku sudah ditetapkan. Kaumku lahir satu per satu, jumlah mereka semakin banyak. Mereka menempuh suatu rangkaian pengalaman di muka bumi, sampai jiwa mereka menyatakan sumpah untuk masuk sebagai bagian dari kaumku. Mereka akan abadi setelah itu, terikat oleh seluruh kenistaan yang pernah ada. Mereka akan membuat semua manusia bersatu dalam ordo baru yang, kelak, dalam suatu upacara suci bakal dilebur kembali menjadi aku. Aku yang esa.
Aku telah menunggu sekian lama di padang pasir ini. Di atas singgasanaku, sebuah kursi jangkung dari perak murni. Aku mengenakan topi tinggi berhiaskan bulu burung. Ketahuilah, itu bulu burung Simurgh, sang raja yang telah kumusnahkan di masa lampau, dan membuat semua unggas di bumi tak bisa menemuinya lagi. Cahaya kejahatan menjadi pakaianku, cahaya yang berwarna terang. Tiap saat tubuhku kian membesar, kulitku kian legam terbakar dosa-dosa manusia. Aku menunggu saat ketika terompet ditiup di barat cakrawala. Kaumku akan keluar dari dalam tanah, memercik dari udara penuh racun kimia, melompat dari laut yang hanya bisa diduga kedalamannya.
Untuk sampai ke masa gemilang itu, aku hanya perlu mengulang satu peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya: pertemuan dengan Sirin. Makhluk yang diciptakan dari tragedi. Aku pernah bertemu dengannya di sebuah taman ketika waktu belum dibentuk. Aku tahu, di padang pasir ini, aku akan bertemu kembali dengannya. Ia akan menceritakan rahasia yang sudah lama ingin kuketahui. Perihal sebuah kapsul-luncur yang akan membawa kami kembali ke taman itu, mengembalikan ia ke dalam diriku. Hingga aku sempurna sebagai yang satu-satunya.
Tapi sebelum semuanya terjadi, aku harus bertanya padanya,
“Siapa yang telah mengutusmu?”

Menunggu Izrail


Cerpen Zainul Muttaqin (Kedaulatan Rakyat, 04 Juni 2017)
Menunggu Izrail ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Menunggu Izrail ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
TIDAK diketahui mengapa laki-laki tua itu menangis terisak-isak sampai badannya yang tampak seperti batang lidi berguncang-guncang di atas sajadah. Seorang takmir masjid, Kasdu mengajaknya bicara dan ia tetap pada posisinya, bersila di atas sajadah dengan pejam mata yang terus berair.
‘Saya sedang menunggu…’ laki-laki itu baru membuka mulutnya ketika Kasdu selesai mengumandangkan azan Subuh. Tidak berlanjut kalimat yang terlontar dari mulut laki-laki tua itu.
‘Apa yang kau tunggu?’ Kasdu mendesak jawaban. Laki-laki tua itu kembali menangis. Gemuruh di dadanya perlu ditenangkan. Sejenak ia mengatur alur napasnya.
‘Menunggu Izrail.’ jawabnya diantara tarikan napasnya yang terdengar goyah. Mendadak jantung Kasdu seperti akan copot dari tangkainya. Kasdu belum paham, apa maksud ucapan laki-laki tua itu? Apa ia berharap mati di dalam masjid? Lagi pula, apa untungnya mati dalam masjid, terlebih masjid yang ia tempati kini jarang didatangi warga, bahkan akhir-akhir ini tak seorang pun ada orang mau salat di masjid itu.
Satu-satunya orang yang tetap merawat masjid itu adalah Kasdu. Ia datang hanya untuk mengumandangkan azan setiap masuk waktu salat, itupun jika tidak berhalangan dengan pekerjaan lain di rumahnya. Terkadang Kasdu salat sendiri di masjid, terkadang pula lebih memilih salat jemaah di rumah bersama anak istri.
‘Kenapa kau memilih masjid ini? Saya khawatir…’ Kasdu mengambil napas dalam-dalam. Memandang wajah laki-laki itu sekilas, sebelum akhirnya berujar, ‘Saya hanya khawatir tak ada yang mengetahui kematianmu bila itu terjadi, sebab tak ada orang yang mau ke masjid ini kecuali saya.’
‘Saya lihat banyak rumah disini. Kenapa mereka menjauh dari rumah Tuhan?’ Pertanyaan laki-laki tua itu membuat Kasdu mengelus dada, coba menelusuri sebab musabab mengapa orangorang kampung tak lagi berbondong-bondong ke masjid, salat berjemaah sebagaimana dulu.
‘Semua orang di kampung ini sudah tidak ada, mereka pergi ke kota, diangkut truk. Mereka belum pulang.’ Tanpa bisa mengurangi debar-debar ketakutan di dalam dadanya, Kasdu melihat ke luar masjid dengan perasaan was-was.
‘Untuk apa mereka pergi ke kota?’ Laki-laki tua itu mengejar jawaban dari mulut Kasdu. Dengan mendekatkan mulutnya ke telinga si laki-laki tua, Kasdu berbisik ‘Membela Tuhan.’
Mendengar jawaban Kasdu, laki-laki tua itu tertawa terpingkal-pingkal. Kening Kasdu berkerut seperti garis yang terombang-ambing. Belum sempat Kasdu bertanya, mengapa ia tertawa? Laki-laki tua itu sudah mengajak Kasdu untuk salat berjemaah. Detak jam terseok-seok berbunyi di atas dinding. Tak lupa begitu mereka selesai salat, Kasdu langsung menyergap laki-laki tua itu dengan pertanyaan yang sejak semula ia simpan.
‘Kenapa kau tertawa?’ Kasdu menekan suaranya, bertanya.
‘Tuhan siapa yang dibela? Jika mereka yang kita caci, kita serang, kita bunuh masih satu Tuhan yang sama.’
‘Apa itu alasanmu tertawa?’
‘Tidak!’
‘Lalu?’
‘Izrail.’
‘Izrail?’
‘Tak sadarkah kau? Jika dari waktu ke waktu, dari menit ke menit, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, apa yang kita tunggu?’ Pertanyaan laki-laki tua itu dijawab gelengan kepala oleh Kasdu. Tasbih di tangan laki-laki keriput itu tetap berputar berseiring dengan suara jarum jam.
‘Kita hanya menunggu Izrail. Kematianlah yang kita tunggu.’ Laki-laki tua itu menjawab pertanyaannya sendiri.
‘Kenapa kau ingin menjemput ajalmu di masjid ini? ‘
‘Entahlah!’ Laki-laki itu mendesah. Kemudian berlinang air matanya, lirih ia berujar pada Kasdu, ‘Saya hanya berharap ada orang yang mau mensalatkan jenazah saya di masjid ini. Mungkin hanya ini satu-satunya masjid yang bisa mensalatkan jenazah saya nanti.’ q – g

Pulau Garam, Mei 2017
*) Zainul Muttaqin, Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (2013) Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013) Perempuan dan Bunga-bunga (2014).Gisaeng (2015). Tinggal di Madura.