Daftar Blog Saya

Senin, 19 Juni 2017

Masjid Wali


Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 28 Mei 2017)
Masjid Wali ilustrasi Rendra Purnama- Republika
Masjid Wali ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Pertunjukkan orkes dangdut sangat meriah.Pentas digelar di halaman depan rumah Haji Wahdi, pesta khitanan putra bungsunya. Penyanyi semok berkostum seksi mendendangkan tembang dangdut koplo goyang rancak. “….Gak mau pulang, maunya digoyang. Gak mau pulang…, eh, eh, Bang Jono, lama abang gak pulang- pulang…”
Penonton beragam usia menonton dengan antusias. Barisan teruna ngibing, berjoget dangdut beragam gaya khas. Ada yang angguk-angguk kepala, geleng- geleng, geol bokong, sampai cukup goyang ibu jari.
Sam, Rino, dan Helmi, tiga sekawan asal Dukuh Pungruk, turut merayakan tontonan gratis. Tiga jantan lulusan MTs itu sengaja datang dari kampung ke tempat hajatan yang berjarak 25 km. Naik motor berboncengan tiga, alias cenglu. Semua dilakukan demi bisa nonton dangdut. Menikmati suara biduan yang mendayu, juga goyang yang bikin serser darah muda. “…langit hang dadi saksi, bumi milu nyakseni,…sun linglung koyo wong edan turun.”
Sambil berjoget, mereka menenggak minuman beralkohol yang dijual di sekitar area pentas. Serasa melayang, nggeleyang, asoi asyiknya.
Pertunjukkan orkes berakhir pukul dua belas tengah malam. Sam, Rino, dan Helmi mampir ke warung kucing, menyantap beberapa bungkus nasi, sate besusul, mendoan, dan minuman penyegar. Sebelum lima belas menit kemudian motor mereka menerabas jalanan.
Gara-gara pengaruh minuman keras, ngebut, motor meleng, dan menabrak pohon di pinggir jalan. Ketiganya tersuruk di sawah yang berlumpur kerontang.
Helmi sempoyongan. Rino mendorong motor. “Motornya soak,” kutuknya.
Sam membersihkan lumpur di celana jeans-nya. “Kita mesti nuntun. Siapa tahu di depan ada bengkel.”
Sepanjang jalan yang ditemui hanya lahan empang dan pesawahan. Langkah mereka berhenti ketika bersua sebuah masjid yang terletak di atas tanah berbukit.
“Kita istirahat di masjid aja,” usul Sam.
“Mau ngapain?” gumam Rino.
“Sembahyanglah. Gini-gini, aku masih suka sembahyang meski kadang mabuk dan nonton orkes,” Sam menjawab dengan gerakkan menirukan orang mabuk yang melakukan sembahyang.
“Iyalah. Setuju. Kita mampir di masjid. Capek juga nih nuntun motor.”
“Akur!”
Rino menghentikan menuntun motor. Helmi celingukan. Sam menemukan engsel pintu gerbang masjid kuno. Sepasang pohon balsia memayungi masjid yang luas. Pekarangan rimbun, daun-daun berjatuhan, tak ada yang membersihkan.
Sam merebahkan pantat di ubin masjid. Ubin kuno dan dingin. Pada serambi masjid terdapat beduk berukuran besar. Rino tanpa melepas sandal melangkah ke masjid. Jejak lumpur tergores di lantai. Rino hanya nyengir saat Sam mengingatkan. Sementara Helmi memilih melepas sandal, tapi hasilnya sama saja, kakinya berlumpur, hingga ceceran peceren sawah tertoreh di lantai.
“Kalian jorok,” gumam Sam.
Enggak apalah, Bro. Kan enggak ada yang lihat,” elak Rino. “Besok ada marbut yang bersihin.”
Rino dan Helmi berlarian lomba melangkah cepat. Ternyata mereka sama-sama kebelet buang air kecil. Sesampai di tempat wudhu, Rino pun membuang hajatnya. Helmi berbuat sama. Hmm… rasanya lega melepas ketegangan kandung air kemih. Saat mereka sedang pipis, Sam ternyata menyusul. Sontak Sam kaget melihat ulah dua karibnya.
“Heh, mengapa kalian buang air kecil di sini?! Ini kan tempat whudu. Kalian enggak lihat tuh ada tulisan dilarang kencing di sini.”
“Kita tadi enggak baca, Bro. Lagian tulisannya kecil,” kilah Helmi merasa tiada bersalah.
“Saya tadi kebelet, Bro. Ya, udah, salurkan saja, si Helmi ikut-ikutan.”
“ Hehehe, bukankah kau yang memberi contoh buruk? Ya, udah, aku meniru.”
“Kalian sama-sama jorok,” Sam buru-buru mengambil air wudhu. Sesaat melangkah ke serambi masjid. Berniat sembahyang jamaah. Tapi di sana yang dilihatnya si Roni sudah mengorok, sementara Helmi malas-malasan tiduran.
“Hel, ayo shalat,” ajak Sam
“Enggaklah, lagi ‘m’…”
“M… apaan?”
“Malas.”
“Si Rino tadi udah shalat?”
“Shalat apaan. Habis buang air kecil, bersuci pun tak. Hahaha.”
“Sudah. Saya mau shalat. Kalau mau ikut kita bisa jamaah.”
Enggak deh. Aku titip salam aja sama Allah.”
“Sam tak menggubris omongan temannya yang ngawur. Ia sembahyang Isya, kemudian berdoa. Sesaat ia menghampiri Helmi yang belum tidur. Tiduran di lantai serambi masjid.
“Belum tidur, Hel?” Sam merebahkan diri di dekat Rino. Menumpukan tangan untuk bantal.
“Belum nih. Nyamuk banyak banget,” gumam Helmi. Plak-plak-plak! Sibuk menepoki nyamuk. Beberapa gepeng di tangannya. Helmi tersenyum puas. Tapi tak lama ia mengaduh, mengumpat sial, saat nyamuk mengigitnya.
“Sialan, banyak banget nyamuk. Kayak di kebun aja.”
“Iyalah, namanya juga tidur di masjid,” Sam memiringkan tubuh. Sekilas ia melihat Rino yang sudah tidur mengorok, tak peduli nyamuk menggigit. Sam perlahan bangkit dan menepuk nyamuk yang tengah menggigit lengan Rino. Nyamuk gepeng, memuncratkan darah di tangan. Rino sekilas bangun, menguap, terjaga, menggaruk lengannya yang gatal, ia kemudian tidur lagi.
“Belum tidur, Bro?” tanya Helmi, yang mulai menguap, menutupi tubuh dengan jaket. Namun apa daya, jaketnya kekecilan. Hanya sebagian tubuh tertutupi. Ini alamat ia bakal diserbu nyamuk.
“Aku belum ngantuk,” cetus Sam. Ia kembali tidur telentang. Kali ini memandang langit kamar masjid. Bangunan terbuat dari kayu kuno. Beberapa kelelawar bersarang di atap-atap masjid. Mengapa dibiarkan.
“Kayaknya…,” Sam ingin mengatakan sesuatu pada Helmi.
“Aku mau tidur, udah mengantuk,” tukas Helmi.
“Ya, udah tidurlah. Biar saya yang jagain.”
“Bangunin sebelum subuh, ya. Sebelum subuh kita cabut dari masjid ini,” pesan Helmi mulai memejamkan mata. Tak peduli nyamuk yang menggigit. Toh kalau ia tidur nanti tak terasa digigit nyamuk, pikirnya.
“Tentu setelah sembahyang Subuh,” Sam berkata. Ia memang tak merasa mengantuk.
Entah. Ia tak terbiasa bisa tidur lena di tempat asing.
“Terserah deh. Udah mengantuk nih,” kata Helmi benar-benar memejamkan mata.
Sesaat suara napasnya mengalun lembut. Sekilas Sam melirik. Ia memilih bangkit, wudhu, dan hendak menjalankan shalat Tahajud. Ia berencana begadang malam ini. Kalaupun mengantuk mungkin hanya ‘tidur-tidur ayam.’
***
Dingin air memercik tubuh. Dingin. Sungguh menggigit. Ah, siapa sih yang iseng-iseng memercikkan air ke tubuhnya. Sam membuka mata. Ranting pohon menyeruak dan embun menetes. Sam mengucek mata. Ia berada di mana? Bukankah tadi ia tiduran di serambi masjid, mengapa kini ia berada di atas pohon, telanjang pula?
Sam terlongong mencari di mana Rino dan Helmi. Demi masa, Sam serasa tak percaya saat melihat Helmi dan Rino telanjang dan tiduran di bibir sumur besar di serambi kiri masjid. Ya, Allah siapa yang memindahkan mereka?
Sam berteriak, hendak memanggil Helmi dan Rino, bersamaan Rino dan Helmi yang membuka mata. Mereka tertegun. Tertidur pada bibir sumur kuno. Helmi menggeliat. Ia menggelinding dari bibir dan meluncur ke dalam sumur. Rino turut menggeliat, dan plung, ia pun jatuh ke dalam sumur!
Pagi jelang Subuh itu di sebuah masjid kuno—yang di plang depan tertulis ‘Masjid Wali’—terdengar teriakan minta tolong seorang lelaki belia telanjang yang kebingungan berlari bolak-balik mengeliling masjid, seraya berteriak- teriak histeris, Tolong. Tolong.
Temanku kecebur sumur. Tolong-tolong-tolong!

Kota Ukir, 09-13 Februari 2017
Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1970. Cerpen, puisi, esai dimuat di media cetak dan daring. Buku fiksi Perjaka, Balada Orang-orang Tercinta, dan Bintang Panjer Sore. Bermukim di Jepara, bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).

Derai-Derai Cemara [1]


Cerpen Wawan Setiawan (Jawa Pos, 28 Mei 2017)
Derai-Derai Cemara ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos
Derai-Derai Cemara ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
“Untuk menghindarinya, aku pergi ke tempat-tempat sepi. Tapi ternyata, di tempat-tempat sepi itu pula aku bertemu dengannya lagi. Malah lebih sering. Ternyata dia tidak hanya suka tempat-tempat ramai.”
Itulah gumamku suatu malam. Akhir-akhir ini tak banyak yang kulakukan selain bergumam, menggumamkan sesuatu yang tak jelas, atau agak jelas. Dan aku bergumam sepanjang jalan itu, jalan cemara berjajar yang lampunya sering padam, mengingatkanku pada suatu masa kecil agraris.
Di masa kecil itu, hati tenteram. Seolah hidup tanpa persoalan. Yang ada hanyalah kenikmatan demi kenikmatan. Kedua orang tua selalu mengayomi. Udara bersih. Air sungai jernih. Di sana-sini sawah menghijau lalu menguning. Oh, nasibku kini.
Tapi, baik lampunya gelap atau terang, aku tetap suka keduanya dengan selisih yang sedikit. Karena kalau melihat langit malam, manusia dikepung kegelapan, bintang-bintang seakan kalah oleh kegelapan. Karena itu, jangan benci atau terlalu benci pada kegelapan.
Saat enaknya berjalan sendirian itu, ada lemparan kerikil ke pundakku. Orang usil rupanya. Jangan-jangan aku di kira waria. Kukejar orangnya yang segera menghilang ke arah selatan, ke kompleks makam Kembang Kuning yang lebih gelap. Orang sinting dia atau hantu penasaran. Malam-malam sepi begini, mestinya orang tidur atau nonton TV, atau main kartu, atau kegiatan yang lain, untuk bisa menikmati hidup sesuai kondisinya masing-masing. Memang, sebenarnya tak boleh ada orang mengganggu. Tapi untung aku tadi masih dilempar kerikil, bukan batu; kena pundak, bukan kepala.
“Jangan mimpi terus. Kalau kamu ingin sehat, kamu diberi penyakit. Kalau kamu ingin uang, kamu diberi pekerjaan. Kalau kamu ingin tempat sepi, kamu dilempar kerikil. Dan kalau ingin Tuhan, kamu dikasih setan.” Gumamku tetap tak jelas. Tapi apa salahnya orang bergumam. Hanya bergumam saja kok. Bergumamlah apa adanya atau seadanya. Dunia tak akan hancur oleh orang yang bergumam, atau berbisik, apalagi setelah lama diam dalam bahasa pohon.
“Citra… engkaulah bayangan,” ada suara sayup. Suara itu muncul dari arah cemara paling tua. Biasanya di bawah cemara tua itu ada warung rokok. Penjual rokok suka nyetel lagu-lagu nostalgia kalau malam dari pemancar radio terdekat. Rombongnya ditutup dan ia lelap dalam rombong itu. Ia lupa mematikan radio. Dari dalam rombong itu lalu keluar lagu sendu itu.
“Citra…. suratan yang duka,” lirik lagunya menyayat. Tapi ketika cemara tua itu kuhampiri, tak ada orang di dalam rombong. Hanya cemara saja dan ditemani rombong kosong. Jangan-jangan orang melempar kerikil tadi yang menyanyi. Tapi, tidak, yang menyanyi tadi wanita dari sebuah radio.
“Lho, yang lempar kerikil tadi kamu kira pasti pria? Bisa juga perempuan yang lempar. Sekarang kesetaraan gender.”
Aku kembali jalan sesuai arahku. Malam-malam begini agak gerimis. Aku harus berteduh di mana? Rumah-rumah sepanjang jalan ini selalu lelap, tak mungkin salah satunya mau membuka pintu atau jendela. Maklumlah mereka orang rumahan, sedang aku orang jalanan.
Aku suka keluar malam sampai menjelang subuh untuk berburu udara segar. Malam-malam hening begini terjadi peralihan udara. Setelah siangnya diaduk seperti kopi, malam serbuknya mengendap ke bawah. Udara kotor menjadi udara bersih. Maklum, jejak karbon selalu sepanjang hari.
Memang sudah cukup lama di dalam diriku terjadi perubahan, dari bukan pemuja pohon menjadi pemuja pohon. Biarlah perilakuku dianggap aneh. Daun-daun gugur kukumpulkan, kumasukkan tas ransel. Aku yakin di dalam daun-daun gugur yang setengah kering itu masih ada zat hidup, yaitu oksigen, lumayan untuk persediaan.
Aku terus berjalan. Aku terus menembus malam. Jalan besar, yaitu Jalan Diponegoro, masih cukup jauh. Jalan kecil bercemara ini, yaitu Jalan Amir Hamzah, cukup panjang. Di ujung timurnya ketemu Jalan Prapanca, belok kiri ketemu Jalan Chairil Anwar. Barulah, dari Jalan Chairil Anwar ke timur aku ketemu Jalan Diponegoro.
Kutinggalkan tangan usil dan lagu “Citra”. Keduanya konkret sekaligus abstrak. Lemparan kerikilnya konkret, pelemparnya abstrak. Suara lagu “Citra” itu? Wa duh, aku bingung dibuatnya. Kasus lagu itu konkret atau abstrak, ya? Dan sebelumnya, karena masalah konkret dan abstrak ini, makanku sering tak enak, tidur tak nyaman.
“Kalau aku disuruh memilih, aku lebih suka memilih jadi Ontorejo, dewa bumi, dewa tanah. Tahu-tahu muncul di suatu tempat, tanpa disangka-sangka. Tentu karena ada panggilan tugas. Ia muncul dari permukaan tanah. Bagaimana cara ber napasnya, ya?”
Gumaman-gumaman itu terus menampari kepala. Kucari kenikmatannya, belum ketemu. Tubuhku mulai kembali segar setelah kakiku melangkah beberapa ratus meter. Gara-gara lemparan kerikil tadi langkah kakiku di Jalan Amir Hamzah terganggu. Aku minta maaf kepada arwah Amir Hamzah, kudoakan dia tinggal di surga termulia. Juga doaku untuk pacarnya ketika Amir Hamzah kuliah di Solo, Ilik Soendari. Kasih tak sampai. Oh, aku tak mampu membayangkan revolusi sosial di Kesultanan Langkat. Terlalu keji. “Mangsa aku dalam cakarmu,” [2] kata Amir dalam puisinya.
***
SEKARANG aku mulai masuk Jalan Chairil Anwar. Aku mengawalinya dari arah Jalan Kembang Kuning, belok kanan ketemu Jalan Chairil Anwar. Di jalan ini, hampir semua cemaranya tua-tua. Batang-batangnya besar-besar. Daun-daunnya lebat bersatu menjulang ke langit, seperti orang yang menagih janji.

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam [3]

Masih kuingat suara guru bahasa Indonesia ketika membacakan salah satu bait dari puisi Chairil Anwar yang paling indah itu. Ketika itu aku masih kelas dua SMA, guru bahasa Indonesiaku yang tampan ternyata fanatik dengan puisi yang ada cemaranya itu, sampai aku hafal aksen suaranya. Karena seringnya sang guru membacakannya di kelas, akhirnya aku ikut-ikutan menyukai puisi itu.
Dan, ternyata, ikut-ikutanku tidak sepenuhnya gagal. Malah sebaliknya, menjadikan puisi sebagai kebutuhan. Dan, ternyata kemudian, aku juga gandrung lirik lagu-lagu pop. Bukankah lirik-lirik lagu itu juga puisi? Salah satunya lagu “Citra” Rafika Duri yang terdengar dari radio yang tak kutemui letaknya itu.
Memang, di Jalan Chairil Anwar ini cemaranya tua-tua. Tegar dalam kesunyian. Kadang sedikit bergoyang untuk menghormati angin. Senang bergaul dengan mereka. Terasa sekali kebijakan mereka. Teduh rasanya. Ketenteramannya mendalam. Kudekati salah satu pohonnya. Kucium batangnya dengan gemas. Tak kupikirkan lagi bahwa di tiap pohon ada penunggunya.
“Wahai cemara tua, memang indah dan dalam akhir hidupmu. Karena itu, penyair sekaliber Chairil Anwar kepincut sama kamu. Sampai akhirnya, gara-gara kamu, dia dapat menulis puisi terindah dalam hidupnya. Kamu wajib bersyukur, meski kamu hanya sebatang pohon,” begitu bisikan hatiku.
Rumah-rumah di Jalan Chairil Anwar tetap model kuno seperti rumah-rumah di Jalan Amir Hamzah. Cuma, bedanya, rumah-rumah di Jalan Chairil Anwar ada renovasi di sana-sini, namun tetap menjaga keaslian masing-masing. Tampaknya, meski tanpa komando, ada keseragaman dalam merenovasi. Kebanyakan rumah-rumah itu ada tambahan tiga puluh persenan dari kondisi aslinya.
Yang mencolok adalah tanaman bunga-bunganya di setiap halaman. Secara serempak pula, seolah mereka sama menganggap bahwa sang penyair suka bunga atau suka wanita. O ya, sejarah mengatakan kesukaan Chairil pada wanita ada yang bersifat platonis, ada yang bersifat materialis. Yang platonis, contohnya, pada wanita Sri Ayati. Sang penyair hanya menggaulinya secara emosional dan intelektual. Hal ini disebabkan Sri Ayati sudah ditunangkan oleh orang tuanya. Tunangannya seorang dokter, ganteng. [4]
Salah satu wanita riilnya dapat dilihat pada pergaulan Chairil Anwar dengan pelukis Aff andi. Setelah berhubungan dengan seorang perempuan, Chairil meninggalkan alamat pelukis Affandi di bawah bantal. Tak ayal, sang perempuan langsung ke rumah Affandi, menagih uang lelah.
Kurang jelas, berapakah jumlah perempuan fisikal, termasuk pacar-pacarnya, yang digauli sang maestro ini? [5] Namun para pengagumnya memaklumi. Ada pendapat, kalau tidak demikian, Chairil tak dapat menciptakan puisi-puisi cemerlang.
Isi otakku terlalu penuh sehingga tubuhku mudah lelah dan wajahku tegang. Sudah ada komputer tapi isi otak tetap meluber. Kenapa isi otak itu tidak disimpan di tas lalu ditaruh di almari? Kalau butuh sewaktu-waktu bisa diambil seperlunya.
Aku tadi berpikir Amir Hamzah di Jalan Amir Hamzah, berpikir Chairil Anwar di Jalan Chairil Anwar. Memangnya dua penyair besar itu pernah tinggal di dua jalan itu? Mereka tinggal di otakku dan otak orang-orang lain. Nama kedua jalan itu digoreskan untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa mereka dalam menyemarakkan semangat kemanusiaan dan hidup berketuhanan.
Tubuhku bergerak-gerak seperti ondel-ondel meninggalkan Jalan Chairil Anwar. “Ini muka penuh luka, siapa punya?” [6] Chairil Anwar menodongku dengan kalimat-kalimat jitu. Memang aku sering ditodong kalimat-kalimat jitu oleh para penyair.
***
Setelah keluar dari Jalan Chairil Anwar yang inspiratif, aku masuk jalan utama yang penuh kenangan, yaitu Jalan Diponegoro. Jalan utama ini kembar. Sisi yang satu dari Pasar Kembang ke arah arah Terminal Joyoboyo. Sisi satunya dari Joyoboyo ke Pasar Kembang. Di sepanjang jalan kembar ini menyabang sejumlah jalan. Nama-nama jalan ada yang berhubungan dengan nama-nama pahlawan dan sungai-sungai.
Kakiku melangkah menuju Joyoboyo, terminal legendaris milik Surabaya. Ternyata terasa bukan Jalan Diponegoro kalau malam. Pohon-pohonnya besar-besar, pohon cemara dan sono seakan bersaing memamerkan oksigen. Kendaraan sepi, hanya satu dua yang larinya bak setan mabuk.
Ada sirine mobil ambulans, dari arah Pasar Kembang ke Joyoboyo. Larinya luar biasa kencang, diikuti dua motor yang juga kencang dan knalpotnya meradang. Setelah bunyi sirine dan knalpot, kembali sunyi berkuasa. Dari sunyi ke bunyi, lalu kembali ke sunyi. Bunyi apa yang dapat mengalahkan sunyi?
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, ke belakang, tak ada orang sama sekali. Ketakutan menyerbuku, tapi aku melawannya dengan cara membiarkannya. Lalu kudengar derap-derap kaki kuda Sang Pangeran, begitu gagahnya. Sang Pangeran dan kudanya, Kyai Gentayu, dipertemukan di paro pertama abad sembilan belas. Sang Pangeran yang suka berkuda ini memiliki enam puluh perawat kuda. Namun, dari sekian banyak kuda, Kyai Gentayulah yang paling disayang.
Pertempuran hebat selama lima tahun terjadi, sampai akhirnya melalui tipu daya, tentara Belanda berhasil menangkap dan mengasingkannya ke Manado, dan dipindah ke Makassar sampai wafat. Untunglah selama di pembuangan Sang Pangeran ditemani istrinya yang paling muda, RA Retnoningsih. [7]
Terbayang pula tujuh istri Sang Pangeran yang cantik dan jelita. Istri keempat yang paling dikasih, Roro Ayu Maduretno. Aku selalu gagal membayangkan kecantikannya, karena terlalu cantiknya. Apakah wajahnya seperti Ratu Ken Dedes, sang putri dari Singosari itu?
“Apa saja bisa tumbuh subur di tanah Jawa,” ucap Sang Pangeran suatu ketika. Sang Pangeran yang suka berkebun, minum anggur, makan sirih, jalan kaki dan berkuda ini memang luar biasa kharismanya.
Kudengar derap-derap kaki kuda di aspal jalan, di bawah bulan, memecah kesunyian malam. Derapnya kadang mendekat, kadang menjauh, kadang cepat, kadang pelan. Terdengar pula ringkiknya, ringkik kesetiaan. Itulah ringkik Kyai Gentayu yang merana karena berpisah dengan Tuannya.***

Surabaya, Desember 2016

Catatan:
  1. Judul puisi “Derai-Derai Cemara” karya Chairil Anwar, dari buku: Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, oleh H.B. Jassin.
  2. Dari puisi Amir Hamzah, “Padamu Jua”, dalam kumpulan puisinya, Nyanyi Sunyi.
  3. Salah satu bait puisi “Derai-Derai Cemara”, lihat catatan nomor 1.
  4. Adri Darmadji Woko, “Biografi Sri Ajati.”
  5. Arief Budiman, Chairil Anwar Sebuah Pertemuan, 2007.
  6. Puisi Chairil Anwar, “Selamat Tinggal”.
  7. “Pangeran Diponegoro dan Wanita-Wanita Cantik” oleh Fadjriah Nurdiasih, 27 April 2016, 20.51 WIB, Liputan 6. Hasil wawancara tertulis dengan Peter Carey, penulis biografi Pangeran Diponegoro, Selasa, 26 April 2016, Liputan6.com.

WAWAN SETIAWAN, cerpenis yang dosen di Universitas Negeri Surabaya

Bayi


Cerpen Yuditeha (Suara Merdeka, 28 Mei 2017)
Bayi ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka
Bayi ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka
Pagi ini aku bangun tergagap oleh suara tangis bayi. Di telingaku tangisan itu terdengar seperti suara rintihan yang menyayat hati. Ketika aku benar-benar sadar, suara tangisan itu sangat jelas terdengar. Rasa-rasanya bayi itu seperti berada di dekatku. Ya, aku merasa dia berada di belakangku. Aku sedang memunggunginya. Pada saat aku membalikkan badan, astaga, bayi itu benar-benar berada di situ. Spontan aku berteriak memanggil suamiku.
Suamiku tak segera muncul, sementara bayi itu makin keras menangis. Rasa ibaku tak kuasa kutahan. Kubopong dia, lalu kuelus-elus punggungnya perlahan. Bayi itu akhirnya terdiam dalam gendonganku. Aku mengamati dengan saksama. Bayi itu memakai kalung berbandul bentuk hati. Sembari menimang-nimang, kuraih bandul itu. Rupanya bandul itu bisa dibuka dan ketika aku membuka, kudapati sebuah potret bergambar dua wajah orang muda, lelaki dan perempuan. Aku mengira itu gambar orang tuanya. Sejenak aku tertegun, lalu pikiranku melayang menuju kisah semalam, mengingat lagi apa yang kupikirkan sebelum terlelap tidur .
Tadi malam hatiku telah mantap memutuskan untuk berpisah dari suamiku. Sebenarnya aku tidak menginginkan hal itu, tetapi aku merasa sudah tidak tahan atas kelakuannya. Banyak sikapnya yang tak pernah bisa kupahami. Sepertinya selama ini dia tidak pernah menganggapku ada.
Aku tak tahu pukul berapa persisnya kemarin dia pulang. Tahu-tahu kudapati dia sudah tidur pulas di kamar, yang sebelumnya menghilang begitu saja, pergi beberapa hari tanpa kabar. Sikap seperti itu sudah berulang kali terjadi dan aku bingung menghadapi. Bagaimana dia bisa seenaknya bersikap begitu, sedangkan jelas-jelas kini dia sudah tidak sendiri lagi, sudah ada aku sebagai istri. Namun tampaknya keberadaanku hanya dia anggap angin lalu. Jika aku bertanya, jawabnya selalu tidak mengenakkan hati dan sering kali justru menyulut emosi. Aku seperti tidak mengenali siapa sesungguhnya dia. Usia pernikahan kami baru dua bulan, tetapi aku merasa sudah tidak tahan.
Semasa pacaran dulu sama sekali aku tak pernah menangkap ada gejala-gejala perilakunya yang aneh. Jika pun aku diminta menyebutkan sesuatu yang sekiranya pantas dicurigai adalah dia mudah sekali terkejut. Dia hampir selalu kaget jika mendadak mendengar suara keras. Pada saat begitu sejenak kemudian dia seperti orang linglung. Dalam beberapa saat setelah terkejut dia bisa tiba-tiba berteriak histeris. Untuk masalah itu aku memang tidak begitu menggubris. Pikirku, itu hanya masalah kondisi fisik dan perasaan sesaat pada waktu itu juga. Lagipula aku meyakini setiap orang pasti punya sisi gelap. Karena itu, aku menganggap hal tersebut wajar sebagai manusia.
Namun begitu kami hidup serumah, kebiasaan mudah terkejut itu ternyata sering terjadi. Sesungguhnya aku ingin dia bisa berbagi cerita denganku tentang apa yang menyebabkan dia bisa mengalami kaget begitu rupa. Atau tentang perilaku-perilaku anehnya yang lain. Namun setiap kali aku mencoba mengajak bicara, dia selalu tak pernah mau menanggapi dan jika sudah begitu lantas dengan seenaknya dia akan pergi begitu saja tanpa pernah mau peduli padaku. Selain itu masih banyak lagi sikap yang menunjukkan dia tidak menghargaiku sebagai istri, antara lain sebuah ketentuan bahwa aku tidak boleh menyentuh barang-barangnya yang sengaja dia simpan, termasuk kotak kuno yang dia simpan di salah satu kamar. Jangankan membuka kotak itu, untuk masuk ke kamar itu pun aku dia larang.
Karena hal-hal itulah aku merasa sudah kewalahan memahami dia. Jadi apa yang akan aku putuskan bukan main-main, aku ingin berpisah dari dia. Ya, kupikir lebih baik aku pergi dari kehidupannya. Mungkin dia lebih senang sendiri. Mungkin selama ini kehadiranku mengganggu kenyamanannya. Dan pagi ini di saat aku akan menyampaikan maksudku, keburu dia pergi dan menciptakan masalah baru. Dia meninggalkan bayi di rumah. Bayi ini milik siapa dan apa maksudnya, aku tidak mengerti. Semua itu membuat keanehan-keanehan pada dirinya makin terasa ganjil.
Andai kemunculan bayi ini kulaporkan polisi, bisa jadi justru aku akan kerepotan untuk menjelaskan. Satu pertanyaan tentang bagaimana dia bisa tiba-tiba berada di rumahku saja sudah membuatku bingung. Jadi kupikir mau tak mau aku harus merawatnya. Untung, rumahku berada di daerah perkotaan, dengan tidak adanya rasa kepedulian antartetangga cukup menguntungkan dalam hal ini. Aku menjadi lebih nyaman, tak akan ada tetangga yang mencurigai. Tentang tangis bayi yang kadang meledak kusiasati dengan cara menghidupkan musik sepanjang waktu.
Kesibukan mengurus bayi rupanya justru melupakan permasalahan dengan suamiku. Untuk sejenak aku seperti tak peduli lagi pada dia. Terlebih sejak ada bayi itu, ada hal-hal lebih aneh telah terjadi tetapi keanehan itu selalu berhubungan dengan bayi itu. Beberapa kali aku bermimpi tentang penganiayaan seorang anak oleh orang tuanya dan pada waktu lain, saat aku sedang memandikan bayi itu aku menemukan beberapa luka di sebagian tubuhnya. Dan luka-luka itu tampak seperti akibat tindak kekerasan. Meski sebenarnya hal itu kuanggap peristiwa ganjil, pada saat itu aku lebih memikirkan tentang nasibnya, aku makin menaruh iba padanya dan muncul keinginan di dalam hatiku untuk sungguh-sungguh merawatnya. Meskipun begitu aku tetap sembari mencari informasi siapa orang tua kandungnya.
Pada waktu aku sibuk mengurus bayi itu, pada saat itu juga suamiku tidak pulang cukup lama. Lebih lama dari biasanya. Tidak adanya suamiku dalam waktu yang lama itu memancingku ingin tahu, sebenarnya apa yang dia sembunyikan dariku di kamar itu, atau yang lebih khusus di kotak itu, hingga pada suatu hari aku memberanikan diri membuka paksa pintu kamarnya dan mencongkel kunci kotak itu. Kotak itu berhasil kubuka. Di sana terdapat beberapa dokumen, antara lain surat-surat dan koran-koran usang. Ada juga beberapa foto lama. Sembari tetap merawat bayi itu, hampir seharian aku mengamati isi kotak itu.
Hasil pengamatanku dari membaca surat-surat dan koran-koran usang di dalam kotak dan melihat foto-fotonya aku menjadi tahu siapa sebenarnya jati diri bayi itu. Aku yakin bayi yang selama ini kurawat itu adalah suamiku. Dokumen-dokumen itu telah memberi tahuku banyak hal, bahkan salah satu foto di kotak itu ada yang persis dengan foto di bandul kalungnya. Ternyata versi penuhnya dari foto itu, sang ibu sedang menggendongnya. Ada satu bendel foto. Itu adalah foto-fotonya berurutan sejak dia bayi hingga dewasa. Hal itu termasuk meyakinkanku bahwa bayi itu adalah benar-benar suamiku. Dokumen-dokumen yang lain adalah sebuah bukti yang semuanya memberi tahuku betapa menderita dia pada masa lalu. Berbagai jenis kekejaman pernah menimpa dia dan pelaku utama penganiayaan itu adalah sang ayah. Dalam perenungan yang kulakukan, aku kini menyadari, mungkin karena penderitaan itulah dia tumbuh menjadi pribadi aneh. Mungkin pada saat dia bersamaku sudah berjuang mati-matian untuk bisa menjadi lebih baik.
Setelah aku tahu semuanya, rasanya aku menyesal pernah punya prasangka buruk kepada dia. Aku juga menyayangkan, mengapa dia tidak mengizinkan aku dulu mengetahui semuanya itu. Andai aku tahu sebelumnya, bisa jadi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa memahami dia. Kini, dia kembali menjadi bayi dan aku tak tahu lagi harus bagaimana. Namun paling tidak aku merasa tenang karena selama ini aku telah merawatnya dengan baik. Sekarang aku ingin melihat dia dan hatiku sangat berharap, semoga ketika aku melihat nanti dia sudah kembali seperti sediakala. Namun ketika aku sampai di kamar, aku tak melihat perubahan itu,  suamiku masih berwujud bayi. Bahkan ketika aku sampai di kamar itu dia sedang menangis. Tangisannya sangat keras .Aku meraihnya, menimang-nimang dia, menepuk-nepuk pantatnya perlahan dan tak lama kemudian dia telah terdiam dan akhirnya terlelap dalam gendonganku.
Saat ini adalah malam pertama setelah aku mengetahui bayi itu adalah suamiku. Pada malam itu juga aku berdoa dan berharap, semoga esok hari, pada saat aku bangun pagi nanti, aku akan mendapati suamiku telah kembali ke wujud semula. Aku akan berusaha menerima dia apa adanya. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik bagi dia. Aku akan memercayainya. Karena hal itu rasanya aku sudah tidak sabar menantikan kejadian itu. Sengaja aku segera membaringkan tubuhku. Aku ingin cepat tertidur dan pagi datang.
Aku membuka mata. Sepertinya pagi telah datang, tetapi aku merasa mataku belum sempurna membuka, karena aku merasa mataku belum bisa melihat dengan jelas. Aku juga ingin segera bangkit dan melihat apa yang terjadi, tetapi ketika aku ingin membangunkan badanku rasanya berat sekali. Aku hanya bisa berguling-guling. Pada saat itu entah bagaimana ceritanya aku jatuh ke lantai. Aku ingin mengaduh, tetapi mulutku seperti sulit mengucap itu. Yang bisa kulakukan hanya menangis. Aku ingin memanggil suamiku, tetapi hanya tangisan yang makin keras yang bisa kusuarakan. Tak lama kemudian, suamiku datang. Dia seperti terkejut melihatku. Lalu perlahan meraihku. Menimang-nimang aku. Dia mengelus-elus punggungku perlahan-lahan. Aku nyaman berada dalam gendongannya. (44)

Yuditeha, aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku terbarunya kumpulan cerpen Balada Bidadari (Penerbit Buku Kompas, 2016). Kumpulan cerpen Kematian Seekor Anjing pun Tak Ada yang Sebiadab Kematiannya akan diterbitkan Basabasi.

Anne Ahira Newsletter

Think & Succeed!
----------------------------------

Dear Hanihyung yang setia...

Dalam sebuah hubungan agar bisa
berjalan dengan lancar dibutuhkan
sebuah komitmen yang besar. Bukan
sekedar sebuah pernyataan bahwa Anda
menyukai hubungan ini dan ingin
menjalaninya.
Sangat mudah untuk berkomitmen dalam
hubungan ketika hubungan itu berjalan
lancar, menyenangkan, atau
memabukkan.
Namun ketika hubungan itu mulai
menemui masalah, tantangan, ganjalan,
tidak sedikit yang berucap, "aku
serius dengan hubungan kita,
sayangnya hubungan ini tidak berjalan
lancar seperti yang diharapkan."
Komitmen sejati dalam sebuah hubungan
adalah ketika Anda mau berkorban di
dalamnya.
Sangat mudah untuk meminta pasangan
untuk berubah, namun apakah Anda
bisa berubah juga? Cobalah untuk
berubah terlebih dahulu, lalu
lihatlah bagaimana hal tersebut
membawa perbedaan.
Untuk membangun komitmen dalam sebuah
hubungan diperlukan 3 hal yang
sederhana namun tidak mudah
dilakukan, yaitu: kerja keras, waktu,
dan kejujuran.
Hanihyung, sahabatku, maukah Anda
melakukannya dalam hubungan Anda?

Minggu, 18 Juni 2017

Jebakan untuk Pangeran


Dongeng Hana Eka Ferayyana (Suara Merdeka, 28 Mei 2017)
Jebakan untuk Pangeran ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Jebakan untuk Pangeran ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka
Paman Lorenzo terkejut. Lagi-lagi, taman istana yang ia rawat dan dijaga agar tetap indah kini berantakan. Tak terbayang murkanya jika Raja Leonel tahu bahwa taman kesayangannya rusak.
“Ini pasti ulah Pangeran Julian,” gerutu Paman Lorenzo.
Pangeran Julian memang suka usil merusak taman. Tidak hanya taman, di sekolah kerajaan dan di istana juga tak luput dari keusilannya. Sudah sering ia dinasihati, tapi tak pernah digubrisnya. Paman Lorenzo mendesah. Tiba-tiba terlintas ide untuk membuat Pangeran Julian jera.
Pagi-pagi sekali Paman Lorenzo membuat jebakan berupa tanah becek berisi cacing yang di atasnya diberi rumput, tujuannya agar Pangeran Julian tidak curiga. Paman Lorenzo berharap Pangeran Julian jera merusak taman jika ia terperosok masuk ke dalam tanah tersebut dan melihat cacing yang mengerubuti tubuhnya. Ia pasti akan ketakutan dan tak berani lagi masuk ke dalam taman.
“Paman Lorenzo…,” tiba-tiba terdengar suara Pangeran Julian memanggil Paman Lorenzo.
Paman Lorenzo langsung bersembunyi di balik pohon.
“Paman…” Pangeran Julian kembali memanggil. Langkahnya riang memasuki taman.
“Sedikit lagi, sedikit lagi…,” ucap Paman Lorenzo dalam hati sambil melihat gerak langkah Pangeran Julian yang semakin mendekati tanah jebakan.
Dan, satu langkah lagi! Byurr… Pangeran Julian masuk ke dalam tanah jebakan. Tubuhnya belepotan tanah becek dan dikerebuti cacing. Paman Lorenzo menahan napas. Ia sudah bersiap-siap berlari menolong Pangeran Julian jika tiba-tiba menangis kencang karena ketakutan. Ia juga sudah menyiapkan nasihat agar kali ini Pangeran Julian tidak lagi usil merusak taman.
Namun ternyata dugaannya keliru. Belum sempat Paman Lorenzo melangkahkan kaki untuk menghampiri Pangeran Julian. Pangeran Julian tiba-tiba saja berteriak kegirangan.
“Horee… cacing!” teriak Pangeran Julian sambil melempar-lemparkan cacing ke segala arah. Paman Lorenzo melongo. Jebakan pertamanya gagal.
***
Hari berikutnya, Paman Lorenzo memasang jebakan baru. Kali ini ia memasang sarang lebah di pohon apel. Pangeran Julian suka sekali memanah. Tak terhitung lagi banyaknya buah-buahan di taman yang ia bidik dan ia tinggalkan begitu saja. Membuat buah-buahan tersebut cepat membusuk dan terjatuh sia-sia.
“Paman Lorenzo…,” Pangeran Julian menghampiri taman sambil membawa panah.
Ngungunnngggg…
Tiba-tiba terdengar suara lebah dari arah pohon apel. Pangeran Julian melangkahkan kaki ke asal suara dan melihat sarang lebah yang bergelantungan. Tanpa pikir panjang, Pangeran Julian langsung membidik sarang lebah tersebut.
Wush… Anak panah itu tepat menyentuh sasaran. Lebah-lebah pun berhamburan dan tanpa diduga bersatu mengejar Pangeran Julian. Pangeran Julian terkejut, ia lari pontang-panting dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam yang ada di taman.
Beberapa detik lamanya Pangeran Julian tidak muncul di permukaan. Paman Lorenzo menghela napas. Ia sudah bersiap-siap masuk ke dalam kolam untuk membantu Pangeran Julian keluar dari kolam sambil menyiapkan nasihat bahwa lebah saja tidak suka jika rumahnya diganggu, begitu juga dengan Paman Lorenzo yang tidak suka jika taman yang susah payah ia rawat dan ia jaga tiba-tiba ada yang merusaknya.
Namun belum sempat Paman Lorenzo melangkah, Pangeran Julian tiba-tiba muncul dari dasar kolam lalu berenang dengan gesitnya. Sesampainya di daratan, Pangeran usil itu terkekeh-kekeh senang sambil mengepalkan tangan.
“Yess!” teriak Pangeran Julian.
Melihat itu, Paman Lorenzo tahu, jebakan keduanya pun gagal.
***
Hari ketiga, Paman Lorenzo memasang kawat berduri di sepanjang taman dan memasang pintu yang ia kunci rapat agar Pangeran Julian tidak bisa menerabas masuk ke dalam taman.
Setengah hari berlalu, Paman Lorenzo senang karena tidak ada gangguan sama sekali. Sampai akhirnya terdengar suara pintu diketuk.
Dok dok dok…
“Paman Lorenzo, ayo bermain,” terdengar suara Pangeran Julian yang mencoba masuk ke dalam taman. Paman Lorenzo diam saja. Pangeran Julian terus saja memanggil.
“Paman Lorenzo, Paman…,” Pangeran Julian lagi-lagi memanggil.
Namun tak ada sahutan dari dalam taman. Pangeran Julian terus saja memanggil. Sampai akhirnya, suara Pangeran Julian semakin lama semakin melemah, kemudian terisak.
Mendengar itu, Paman Lorenzo langsung membuka pintu taman.
“Kenapa Pangeran menangis?” tanya Paman Lorenzo.
“Karena tidak ada yang mau bermain denganku Paman,” jawab Pangeran Julian.
“Jika tidak ada yang bermain dengan Pangeran Julian, itu karena Pangeran Julian usil. Coba kalau tidak usil. Pasti banyak yang mau bermain dengan Pangeran,” ucap Paman Lorenzo.
“Nah, sekarang Pangeran boleh bermain dengan Paman, tapi Pangeran tidak boleh usil merusak taman ya?”
“Benarkah? Baik Paman, aku janji,” ucap Pangeran Julian dengan mata berbinar.
Akhirnya setelah mendengar nasihat tersebut, Pangeran Julian tidak lagi usil seperti dulu. Ia kini disayang guru dan teman-temannya di sekolah kerajaan. Para dayang dan pengawal kerajaan pun tak lagi sebal seperti dulu. Dan Raja Leonel senang melihat perubahan putra kecilnya itu. (58)

Daun-daun Beluntas

Cerpen Tjak S Parlan (Media Indonesia, 28 Mei 2017)
Daun-daun Beluntas ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia
Daun-daun Beluntas ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
LATIFA sedang memetik daun-daun beluntas, saat Masirah datang merengek-rengek, memamerkan boneka terbarunya, yang tangannya patah sebelah.
“Patah lagi, ya?”
Masirah mengangguk dengan sisa tangis yang tertahan.
“Sudah, tak apa-apa. Nanti Ibu akan menjahitnya lagi. Nah, sekarang bantu Ibu, ya,” ujar Latifa seraya mengusap cairan bening yang keluar dari hidung anaknya.
Bocah perempuan itu segera menirukan apa yang dilakukan ibunya. Jari-jari mungilnya berusaha menggapai-gapai, memetik daun-daun beluntas. Ia tampak riang kembali. Hilang sudah rasa kalah dan marah yang dibawanya dari rumah kawan sepermainan yang kerap menjahilinya. Kini, ia seolah telah mendapatkan mainan kegemarannya.
“Bu, Siya mau main belanja-belanjaan. Uang Siya sudah banyak.”
Seraya menggenggam daun-daun beluntas tua, Masirah berlalu ke teras rumah. Biasanya ia akan berlama-lama di sana, sendirian melanjutkan permainan apa saja yang disukainya.
Saat genggaman tangannya sudah penuh, Latifa memindahkan daun-daun beluntas muda itu ke nampan kecil. Dua genggaman lagi, ia akan membersihkan daun-daun beluntas itu. Saat memasak air tadi pagi, Latifa melihat masih ada sepapan tempe di dapur, sisa belanja di pasar kemarin. Jika dipadukan dengan tiga genggam daun beluntas muda, pastinya akan menjadi menu sederhana yang tak kalah nikmatnya. Untuk ke sekian kalinya Latifa akan memasak botok tempe beluntas—resep turun-temurun yang digemarinya sejak ia kembali ke rumah ini.
Setiap kali memasak botok tempe beluntas, Latifa selalu teringat ayahnya. Ayah Latifa telah mengalami sakit yang panjang, sebelum akhirnya meninggal.  Ketika itu gundukan perut Latifa semakin membesar dan tak ada satu pun hal yang bisa menutupinya. Adik perempuannya diam-diam menuduhnya bahwa salah satu penyebab kematian ayah mereka adalah karena tak sanggup menanggung aib yang menimpa Latifa. Ibunya sendiri lebih banyak diam sejak Latifa kembali.
“Ibumu itu pandai memasak beluntas. Ayah selalu suka. Anehnya, ibumu justru kurang menyukainya,” ujar ayahnya suatu kali.
Ayah Latifa memang menyukainya. Mungkin karena itulah, ayahnya memagari pekarangan rumahnya dengan beluntas. Pada hari-hari tertentu ketika cabang-cabang beluntas itu mulai meninggi dan terlihat liar ke sana kemari, ayahnya akan memangkasnya, membuatnya rapi kembali.
“Fa, tak bosan-bosannya kamu memasak itu,” ujar ibunya yang muncul dengan sebuah rantang.
Latifa menoleh ke arah ibunya sebentar dan berusaha tersenyum. Mungkin ibunya baru saja pulang dari rumah adik perempuannya. Biasanya adik perempuannya itu akan membekali ibunya lauk pauk tertentu. Adik perempuannya yang belum lama menikah itu memang pandai memasak.
“Ikannya untuk Ibu dan Masirah saja,” ujar Latifa seraya memilah-milah kembali daun-daun beluntas muda.
Sebenarnya Masirah tak begitu menyukai ikan, kecuali jika Latifa membujuknya dengan iming-iming sesuatu. Bocah perempuan itu memiliki kecenderungan seperti dirinya. Masirah selalu berselera ketika Latifa menghidangkan menu botok tempe daun beluntas. Dulu sekali, semasa ia beranjak remaja, ayahnya sering mengatakan padanya bahwa daun beluntas bisa menghilangkan bau badan yang kurang sedap. Ia sendiri tak terlalu peduli sebenarnya. Ia merasa tak ada masalah dengan bau badan. Kalau pun ia menyukainya, itu karena memang masakan ibunya lezat. Namun sejak ia kembali ke rumah dengan segala hal yang harus ditanggungnya, daun-daun beluntas itu seolah telah menjadi keluarga terdekat, atau semacam teman setia untuk mengusir segala hal yang berbau busuk dalam dirinya.
“Besok pagi, Bibi Rahma akan kemari, Fa. Melanjutkan pembicaraan soal Masirah. Ibu setuju, demi kebaikannya. Tapi, terserah kamu,” ujar ibunya saat Latifa melintas di teras rumah.
Sesampai di dapur, Latifa segera membereskan daun-daun beluntas itu. Ia mencucinya dalam sebuah ember plastik, sebelum kemudian menyiapkan segala sesuatunya untuk mulai memasak. Latifa melakukan semua itu sembari memikirkan apa yang dikatakan ibunya. Bagaimanapun ia tidak rela jika Masirah harus hidup bersama Bibi Rahma, adik kandung ibunya. Ia teringat apa yang telah dikatakan perempuan itu ketika perutnya semakin membuncit. Dari bibir perempuan itulah ia mendengar bahwa anak yang dikandungnya itu kelak harus dijauhkan dari keluarga untuk menghindari rasa malu yang lebih besar. Sekarang, ketika Masirah mulai tumbuh besar dan menjelma gadis kecil yang cantik, perempuan itu berniat mengadopsinya dengan berbagai macam alasan yang menyudutkan Latifa.
***
Keesokan harinya, ketika bibinya pulang kembali dengan tangan hampa,ibunya mencoba memberikan beberapa penjelasan kepada Latifa.
“Bibimu punya niat baik, Fa. Setidaknya jika tinggal di sana, akan lebih terjamin segala sesuatunya. Sekolahnya, lingkungannya…”
“Saya bisa menyekolahkannya, Bu. Saya akan pergi bekerja kembali.”
“Seluruh kampung ini terlanjur tahu. Anak-anak kecil juga tahu. Ibu juga sakit hati kalau melihat Masirah selalu menangis setiap pulang bermain. Ibu juga sedih.”
“Masirah tak akan tinggal di sini, Bu. Tidak juga bersama Bibi.”
Percekcokan kecil itu menyulut kembali ingatan Latifa tentang masa lalunya. Setiap kali itu terjadi, ia merasa sekujur tubuhnya berbau busuk. Ia merasa bodoh, karena tak berdaya melawan sosok iblis yang mencederai kehormatannya sebagai perempuan. Namun ia terus bertahan, sebab bagaimanapun ia harus tetap hidup.  Ia tak ingin mati sia-sia di negeri orang. Ia merasa bersyukur karena dirinya telah berhasil membatalkan niatnya merusak janin itu. Dengan terus berusaha bersikap wajar, ia akhirnya bisa meninggalkan negara petrodolar itu.
Namun tak ada yang mudah bagi dirinya. Kepulangannya disambut kasak-kusuk seisi kampung. Dalam keluarga besarnya sendiri, Latifa merasa seperti bangkai busuk yang harus dijauhi. Pada saat-saat seperti itulah, ia sebenarnya justru lebih dekat dengan kedua orangtuanya—terutama ayahnya yang menderita sakit menahun. Namun sayang, kedekatan itu tak berlangsung lama. Ayahnya meninggal tepat dua hari sebelum ia melahirkan Masirah.
Latifa menyayangi anak malang itu. Anak yang membuatnya selalu merasa berbau busuk saat dalam pikirannya terlintas seorang laki-laki yang tak diinginkannya. Setiap kali itu terjadi, Latifa selalu ingin muntah. Perutnya kerap mual tak berkesudahan seperti saat hamil. Jika itu terjadi, satu-satunya hal yang lebih mudah dan cepat mengobatinya adalah daun-daun beluntas itu. Ia sering membuatnya sebagai lalapan, juice, botok,  atau jenis masakan yang lainnya.
Sekarang, ketika Masirah semakin tumbuh besar, setiap kali melihat bola matanya yang bulat bening, alisnya yang hitam tebal, hidungnya yang lebih mancung dibanding teman-teman sepermainannya di kampung, Latifa hanya ingin melindunginya dengan caranya sendiri.
***
Setelah mengurus segala sesuatunya, Latifa memanggil seorang perempuan yang telah ditunjuk mendampinginya sejak kedatangannya di tempat itu. Latifa mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari tasnya dan menyerahkannya pada perempuan itu.
“Maaf, Bu. Jangan lupa, tolong ini berikan padanya pada saat makan siang nanti. Dia sangat menyukainya,” ujar Latifa.
“Baik, akan saya usahakan, Bu. Kalau boleh tahu, ini apa?” tanya perempuan itu.
“Oh, itu botok tempe beluntas, kesukaannya,” jawab Latifa.
Perempuan itu segera mengemasi barang-barang Masirah dan membawanya ke sebuah ruangan. Latifa tetap diam di tempatnya berdiri, ia melayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Matanya mulai terasa panas, dadanya sesak. Untuk sementara, itu hal terbaik yang bisa dilakukannya untuk Masirah. Latifa berjanji akan bekerja sebaik-baiknya dan lebih berhati-hati di tempatnya yang baru nanti.
Saat perempuan itu kembali menawari Latifa untuk melihat-lihat seisi asrama sekali lagi, Latifa menolaknya dengan sopan. Ia justru bertanya di mana pintu keluar terdekat dari asrama itu. Latifa mengikuti petunjuk yang disampaikan perempuan itu. Saat ia bergegas menuju sebuah pintu, lamat-lamat ia mendengar suara Masirah sedang bercakap-cakap dengan teman-teman barunya.
“Kenapa dengan bonekamu itu?”
“Oh, ini. Tangannya patah.”
“Kasihan, ya?”
“Tak apa-apa. Nanti Ibuku akan menjahitnya.”
Latifa mempercepat langkahnya. Di sepanjang jalan belakang Panti Asuhan yang lengang itu, tubuh Latifa berguncangan oleh sedu sedan.

2017
Tjak S Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya tersiar di sejumlah media. Ia bermukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Nyonya Durina Mawarni


Cerpen Harris Effendi Thahar (Kompas, 04 Juni 2017)
Nyonya Durina Mawarni ilustrasi Juni Adhitya Wulandari - Kompas
Nyonya Durina Mawarni ilustrasi Juni Adhitya Wulandari/Kompas
Nyonya Mawar baru saja pergi. Kursi tempat duduknya masih panas ketika Pak Wa, suami Nyonya Durina Mawarni, memasuki ruangan dengan wajah sumringah.
“Hai, Zul. Bagaimana rencana kita? Jadi?”
“Eh, ya. Bapak. Ee, barusan ibu ke sini. Ketemu di luar?”
“Ndak, tuh. Ada apa ibu ke sini cari saya? Saya baru saja dari rumah.”
“Lho? Katanya Bapak sejak sore kemarin belum pulang.”
“Ah, lupakanlah. Saya juga heran. Sejak ibu dipensiun dari pegawai bank, ibu tampak terpukul sekali. Tidak siap. Kesepian. Saya memang pulang agak malam. Tapi, yang bukakan pintu tadi malam ‘kan dia.”
Pak Wa mengambil kursi bekas duduk istrinya tadi sambil merogoh kantong. Sepertinya mau merokok. Tapi, kelihatan mengundurkan niatnya merokok ketika sadar sedang berada di ruang ketua jurusan yang sejuk oleh pendingin udara. Pak Wa memang dosen yang suka merokok sekali pun tidak bisa digolongkan sebagai perokok berat. Sepertinya Pak Wa penasaran oleh kedatangan istrinya ke kantor jurusan.
Zul tampak bingung mau berkata apa, meski tetap memperlihatkan wajah cerah selaku ketua jurusan yang baru saja terpilih, termasuk oleh Pak Wa, senior Zul yang memilihnya. Zul masih menunggu-nunggu Pak Wa bertanya lebih lanjut tentang kedatangan istrinya. Tetapi, setelah beberapa jenak Pak Wa cuma termangu. Zul mulai mengerti bahwa Pak Wa tidak ingin membuka percakapan lebih lebar mengenai istrinya. Cukuplah menjadi rahasia pribadinya sendiri, bagai jelaga di sudut-sudut plafon rumahnya yang tak terjangkau, sesekali berayun ditiup angin yang lewat kisi-kisi jendela.
Zul menjawab pertanyaan pertama Pak Wa ketika masuk ruangan itu.
“Saya sudah wajibkan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kritik Sastra membeli buku novel baru. Masing-masing satu judul untuk dikritik sendiri, seperti yang Bapak usulkan. Tapi, itu baru satu kelas. Kelas yang satunya, belum.”
“Bagus!” Suara Pak Wa bersemangat, “biar mahasiswa diajak membaca novel yang banyak. Nanti mereka disuruh baca novel milik temannya secara bergantian. Minimal semester ini masing-masing sudah membaca lima novel. Sip! Ide bagus. Kelas yang satunya biar saya yang perintahkan. Nanti siang giliran saya masuk bukan?”
“Kita juga harus baca novel-novel terbaru itu ‘kan Pak?”
“Ya, sudah barang tentu. Nanti, sewaktu ujian akhir semester, semua novel dikumpul. Kita pilih yang terbaru untuk dipinjam atas nama jurusan agak satu semester untuk dibaca. Ha? Bagaimana?”
“Setuju. Cuma kita berdua dosen Kritik Sastra di Universitas ini. Masa bisa ketinggalan baca karya-karya sastra terbaru?”
***
Hampir satu jam lamanya Nyonya Mawar curhat pada Zul, berdua saja di ruang itu. Mulanya Zul kaget, Nyonya Mawar datang ke kantor jurusan kurang satu menit setelah Zul tiba. Begitu menjabat tangan Zul, langsung sesegukan. Menangis.
“Apa yang bisa saya bantu, Bu?”
Nyonya Mawar belum menjawab. Menyeka air matanya dengan tisu. Mencoba menenangkan dirinya, lalu memulai berusaha tersenyum ke arah Zul.
“Maafkan saya, mengganggu Pak Zul pagi-pagi. Saya memang tidak punya orang lain untuk mengadu, selain Pak Zul.”
“Silakan Ibu. Saya dengarkan baik-baik.”
“Bapak semalam tidak pulang.”
“Kira-kira Ibu, Bapak nginap di mana? Apa selama ini pernah?”
“Biasanya di hotel, kalau rapat sampai malam. Itu setahun sekali saja pun jarang,” Nyonya Mawar seperti mengingat-ingat.
“Ibu bertengkar?”
“Ah, tidak. Cuma lebih suka diam-diaman.”
“Atau bertengkar diam-diam? Bertengkar dalam hati, maksudnya.”
“Lagi malas ngomong sama dia saja.”
“Tentu ada sebabnya, Bu?”
Nyonya Mawar terdiam sambil mempermainkan jejari tangan kanannya seperti sedang menghitung lembaran uang. Zul juga terdiam, tampak sedang berpikir tentang sebuah kalimat yang pas untuk melayani curhat istri kolega seniornya itu. Nyonya Mawar menarik napas panjang seperti mau memulai suatu gerakan senam aerobik yang sulit.
“Dulu, kami punya pembantu di rumah. Masih gadis, cekatan, dan santun. Namanya Ipit. Hanya hari Sabtu dan Minggu Ipit datang membantu, mencuci, setrika, memasak, dan membersihkan rumah. Selebihnya rumah kosong karena kami sama-sama bekerja. Untuk makan malam kami langganan catering. Ipit bisa datang sewaktu-waktu apabila ditelepon sebelumnya, kalau diperlukan selain Sabtu dan Minggu. Sudah seperti saudara, sudah lima tahunan Ipit bekerja di rumah kami. Ipit juga punya kunci sendiri. Tiga tahun lalu, tiba-tiba Ipit pamit mau ke Malaysia menjadi TKW. Katanya, diajak sepupunya yang sudah sukses di sana. Sejak itu kami tidak punya pembantu lagi. Semua pekerjaan rumah terpaksa kami bagi berdua.”
Pak Zul belum dapat menduga-duga arah cerita Nyonya Mawar. Dia tidak berani memotong. Membiarkan Nyonya Mawar melanjutkan ceritanya.
“Kira-kira sebulan lalu, Ipit datang ke rumah di pagi hari Minggu. Menggendong seorang anak perempuan berusia sekitar dua tahunan. Ia mengaku di-PHK di Malaysia dan menikah dengan orang Malaysia, namun setelah punya anak satu, ia disia-siakan suaminya itu. Ipit minta dibelaskasihani demi anaknya, minta bekerja sebagai pembantu rumah tangga lagi.”
“Sekarang Ipit masih bekerja Sabtu Minggu di rumah Ibu?”
“Tiap hari.”
“Lalu?”
“Anak perempuannya itu…”
“Kenapa anaknya? Sakit?”
“Bukan.”
“Ibu keberatan kalau dia bekerja membawa anaknya?”
“Bukan itu.”
“Lalu? Ipit sekarang sudah tidak cekatan lagi?”
“Bukan itu soalnya,” Nyonya Mawar seperti mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. “anaknya itu, entah mengapa ya, anaknya itu, kok mirip sekali dengan Pak Wa…”
“Wah? Masa Bu?”
“Iya, Pak Zul. Mata saya belum begitu tua untuk melihat sesuatu dengan jelas dan benar.”
“Bukankah suaminya orang Malaysia? Bisa jadi suaminya itu mirip Pak Wa.”
“Membuat cerita itu kan gampang, Pak Zul. Saya jadi ingat, mengapa tiba-tiba Ipit minta pamit ke Malaysia. Sebelumnya, dia belum pernah cerita. Padahal, dia itu suka cerita apa saja dengan saya. Entah dia memang ke Malaysia atau sembunyi melahirkan anak hasil hubungan gelapnya dengan…”
“Wow, Ibu terlalu bawa perasaan. Itu cuma perasaan Ibu saja.”
“Itu satu-satunya yang masih saya miliki Pak Zul. Sebagai wanita. Perasaan!”
Keduanya terdiam. Seperti saling menyalahkan diri masing-masing. Nyonya Mawar mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan sebuah handphone dan memain-mainkan jarinya di permukaan layarnya, lalu menyodorkannya ke Pak Zul. Pak Zul memperhatikan dengan saksama, foto seorang bocah perempuan yang sedang digendong seorang ibu muda.
“Itu dia, Ipit dan anaknya itu. Mirip Pak Wa ‘kan?”
“Ah, bukan. Mirip ibunya.”
“Coba perhatikan betul. Mirip ibunya ya jelas. Tapi, alis mata dan matanya itu? Dagunya? Mirip kan?”
“Kalau memang mirip?”
“Nah, sekarang Pak Zul sependapat dengan saya bukan? Dia memang mirip Pak Wa. Tidak pantaskah seorang istri yang sudah bergaul 30 tahun dengan suaminya curiga? Pak Zul ini bagaimana? Membela Pak Wa selaku seniornya ya? Membela korps ya?”
“Bu, saya sependapat dengan ibu. Anak itu memang mirip dengan Pak Wa. Tapi saya belum sependapat kalau itu anaknya sebelum dilakukan tes DNA. Sekarang, apa yang dapat saya bantu? Maaf, Bu. Sebentar lagi saya harus masuk kelas. Mengajar.”
Tanpa bicara lagi, Nyonya Mawar berdiri, merapikan kursi dan meninggalkan Pak Zul begitu saja. Begitu mendekati pintu, ia berbalik, “Tolong Pak Zul hubungi saya kalau-kalau perempuan itu Pak Zul lihat datang mencari Pak Wa ke kampus ini. Mulai kemarin perempuan itu sudah saya pecat!”
***
Pagi itu, sekitar pukul sepuluhan, putri Ipit yang belum tiga tahunan itu rewel. Menangis terus minta ibunya yang sedang sibuk bekerja menyetrika seabrek pakaian di lantai dua rumah itu. Nyonya Mawar mencoba membantu menenangkan Vita, putri pembantunya itu. Tapi Vita tetap menangis dan meronta.
“Barangkali dia ngantuk. Minta dikeloni ibunya,” Pak Wa berkomentar. “Atau dia lapar.”
“Tau apa situ? Kaya orang yang pernah punya anak saja.”
“Oo, jadi situ pernah punya anak ya?” sahut Pak Wa dalam hati saja. Kalimat itu tetap tinggal dalam hatinya terdalam. Sebab, jika sempat keluar dari sarung hatinya, kalimat itu tidak saja akan melukai istrinya, tapi juga dirinya.
Vita tetap saja menangis, sementara Ipit tetap melanjutkan pekerjaannya di lantai atas. Mungkin dia tidak mendengar suara tangis anaknya di bawah yang sedang dicoba membujuknya oleh Nyonya Mawar.
“Coba, aku pengin coba menggendongnya.”
Nyonya Mawar menyerahkan Vita pada Pak Wa. Vita mau digendong Pak Wa dan terdiam sambil mulai memejamkan matanya. Pak Wa mengayun-ayunkan kakinya dengan lembut seperti sedang berdansa. Vita cepat tertidur dalam gendongan Pak Wa. Lambat-lambat, penuh kasih Pak Wa membawa Vita ke kamarnya, lalu menidurkannya di ranjangnya.
“Sst, nanti dia ngompol! Taruh di lantai saja,” ujar Nyonya Mawar.
Nyonya Mawar buru-buru mencari tikar dan bantal untuk digelarnya di lantai. Setelah itu, Vita diturunkannya dari ranjang dan dibaringkan di atas tikar di lantai kamar itu. Pak Wa memperhatikan wajah Vita dari jauh. Ketika Pak Wa mulai lagi membalik koran edisi Minggu, terdengar lagi tangisan Vita dari dalam kamar. Nyonya Mawar sudah tidak di kamar, mungkin di lantai atas mendampingi Ipit.
Spontanitas Pak Wa membuatnya masuk ke kamar dan mencoba mengusap-usap kepala Vita yang sedang menangis itu. Pak Wa mendekat, mengambil posisi tidur di samping Vita sambil menepuk-nepuk pantat Vita. Vita kembali tertidur. Pak Wa tetap tiduran di samping Vita di atas tikar di lantai kamar hingga ikut tertidur.
Saat melihat suaminya tidur berdua dengan Vita, perasaan Nyonya Mawar bergejolak. Tiba-tiba, ia mengambil handphone-nya dan mengabadikan kedua makhluk yang sedang tidur itu dalam beberapa kali jepretan foto. Lama Nyonya Mawar mematut-matut foto-foto itu. Dalam kecemburuan hatinya, ada sebutir rasa iba menyelip terhadap suaminya, Pak Wa. Sepertinya Pak Wa sedang menikmati bagaimana rasaya punya anak. Atau, barangkali cucu untuk orang seusianya. Tapi, bagaimana mungkin punya cucu kalau sebelumnya tidak punya anak?
Rasa iba itu hanya sekelabat, lalu sirna oleh setumpuk rasa curiga Nyonya Mawar terhadap Pak Wa yang menurutnya begitu bernafsu untuk menguasai keinginannya merasakan memiliki seorang anak. “Jangan-jangan, Vita ini memang anak dia,” getar hatinya. “Memang mirip, kok.”
Sejak hari itu, Nyonya Mawar begitu membenci Vita. Tiap sebentar Vita dibelalakinya. Bila Vita ketakutan, Pak Wa langsung menggendongnya. Bahkan mengajaknya keluar naik mobil sambil membeli es krim. Tapi, akibatnya Nyonya Mawar makin uring-uringan.
“Barangkali dia memang anak hasil hubungan gelapmu ya?” suatu kali Nyonya Mawar memulai menabur duri di rumah itu.
“Kalau memang iya, memangnya kenapa?” jawab Pak Wa dalam hati saja. Itu tidak pernah diucapkannya.

Harris Effendi Thahar, lahir di Tembilahan, Riau, 4 Januari 1950. Bekerja sebagai Guru Besar Pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Sejumlah cerpennya termuat dalam sepuluh antologi tahunan cerpen pilihan Kompas. Dua buku kumpulan cerpennya, Si Padang, 2003 dan Anjing Bagus, 2005 diterbitkan Penerbit Buku Kompas.