Daftar Blog Saya

Minggu, 18 Juni 2017

Semoga Belum Terlambat


Cerpen Bamby Cahyadi (Media Indonesia, 04 Juni 2017)
Semoga Belum Terlambat ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Semoga Belum Terlambat ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
AKU mendongak pada rembulan yang bersinar makin tipis. Malam hampir berlalu, tapi pagi belum betul-betul tampak menjelang. Aku belum mengantuk. Hasan sahabatku sudah terlelap di kasur butut. Dengkurnya bagaikan pelarian dari keputusasaan seorang lelaki tak berdaya di suatu tempat yang muram. Angin kemarau membuat pohon-pohon berderit-derit, ranting-rantingnya berderak, daun-daun keringnya berguguran.
Beberapa saat kemudian angin hangat berembus di langit yang mendung. Angin itu membawa aroma bunga-bunga yang datang dari pinggiran kali yang paling jauh. Aku terkesiap melihat seorang lelaki datang dengan langkah tenang. Ia mengenakan kain ihram, masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum!”
“Waa…Wa…Waalaikumuasalam,” jawabku tergeragap.
Lelaki itu sangat tampan. Wajahnya bercahaya. Sangat bersih dan indah. Keindahan yang sulit diungkapkan. Hakikat keindahan itu melihatnya dengan mata. Karena itu aku hanya percaya pada keindahan yang dapat dilihat dengan mata dan dirasakan dengan hati.
“Berpuasalah di bulan Ramadan, dirikanlah salat, bacalah kitab sucimu dan mintalah ampunan kepada Tuhan atas dosa-dosa masa lalumu,” ujar lelaki itu sembari menepuk pundakku secara halus.
Ia melanjutkan, “Semua dosa dan kesalahan yang kita perbuat adalah kelalaian kita sendiri. Namun, Tuhan itu pemaaf. Karena itu selalu ada kesempatan untuk memperbaiki dan bertobat.”
Hujan berhenti. Lelaki itu menghilang di antara dedaunan pohon mangga. “Temui aku di stasiun akhir kereta,” bisiknya. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih terpukau. Aku rasa, aku tidak sedang bermimpi.
***
Wajah dan caraku berjalan kerap membuat beberapa anak kecil di lingkunganku ketakutan. Aku memiliki wajah yang terkesan seram. Hidungku pesek dan beberapa gigiku di bagian tengah sudah tanggal. Saat aku tertawa yang terlihat adalah gigi taringku, sehingga senyumku menyerupai seringai drakula. Kaki kananku lebih pendek dibanding kaki kiriku, sehingga aku berjalan pincang. Aku berjalan seperti orang yang baru saja turun dari kapal laut yang diterjang badai berminggu-minggu.
Tapi bagi anak-anak yang sudah cukup lama mengenalku, aku tidaklah seseram penampilan fisikku. Aku sangat baik dan ramah, begitu menurut mereka. Aku suka memberi makanan, minuman, permen, es krim, bahkan uang tanpa mereka minta sekalipun.
Meskipun aku tak punya pekerjaan tetap, aku kerap menyumbangkan uangku kepada siapa saja yang membutuhkan. Pekerjaanku serabutan, seperti memulung sampah, lalu kujual kepada penadah di pinggiran kota. Aku juga terkadang jadi juru parkir tidak resmi di pasar induk dan tenaga keamanan swakarsa. Secara rutin aku menyumbangkan uang hasil mulung dan markir ke masjid di gang sempit perkampungan kumuh ini. Banyak warga heran, aku selalu menyumbang uang untuk masjid, padahal mereka tak pernah melihat aku sembahyang di masjid itu atau di rumahku sekalipun. Aku tak pernah berpuasa di bulan Ramadan. Mungkin menurut mereka aku tak beragama. Pandanganku tentang agama memang berubah drastis ketika ayahku mati puluhan tahun lalu.
Aku tak peduli dengan omongan orang-orang mengenai sembahyangku, puasaku, ibadahku, bahkan mengenai keimananku.
***
Aku berhenti sembahyang, puasa, mengaji dan beribadah di musim kemarau berpuluh-puluh tahun lalu, ketika aku melihat ayahku mati bunuh diri. Ia menembak langit-langit mulutnya sendiri dengan pistol. Ayahku adalah tentara pembasmi anggota partai komunis atau yang diduga komunis kala itu. Kematian ayahku sangat efektif karena pada detik pertama peluru itu meletus, putus pula napas ayahku.
Aku tak bisa berbuat banyak, karena aku masih kanak-kanak. Aku hanya mampu memandang wajah ayahku yang menoleh ke arahku dalam keremangan dekat ranjang tempat tidur di mana ia menyudahi hidupnya. Aku menyadari betul ayahku memang sudah lama berniat bunuh diri. Aku merasa putus asa untuk merayu ayahku agar tidak bunuh diri. Aku pernah mencoba membujuk ayahku, bahwa ia membunuh petani-petani kelapa sawit yang dituding komunis itu adalah tugas negara. Aku juga bilang, ayah bertobat saja, berhenti dari dinas militer. Nyatanya ayahku mati dengan isi kepala berpencar.
Aku merasa sia-sia, ternyata hubunganku dengan Tuhan bertepuk sebelah tangan. Waktu itu, dalam setiap doaku dalam sembahyang, aku selalu memohon kepada Tuhan agar dosa-dosa ayahku diampuni. Aku masih berdoa saat ayahku hendak bunuh diri, agar Tuhan menggagalkan usahanya, misalnya pistol yang digunakannya ternyata kosong peluru, atau paling tidak saat dikokang, pistolnya macet. Tapi, ayahku mati tanpa pertolongan Tuhan. Tanpa bantuan malaikat pencabut nyawa. Ayahku telah menentukan kematiannya sendiri, bukan Tuhan. Lalu kenapa aku harus sembahyang dan berdoa memohon pertolongan Tuhan? Apalagi berpuasa di bulan suci dan mengaji. Kenyataannya ayahku lebih berkuasa dari Tuhan ketika menarik pelatuk pistol. Yang aku lakukan hanya menangis. Aku kehilangan ayah. Aku merasa ditinggal Tuhan.
Setelah aku tumbuh dewasa, aku punya sehektare kebun kelapa sawit. Aku hidup berkecukupan. Hanya saja, wabah malaria menyerang kampungku, dan menewaskan anak dan istriku. Perihal kematian anak dan istriku pun kuanggap bukan kuasa Tuhan. Tetapi disebabkan oleh serangan nyamuk jahanam itu. Aku merantau ke Jakarta. Tujuanku menetap di Jakarta, untuk melupakan kenangan atas anak dan istriku, bukan karena faktor ekonomi semata.
***
Rumahku di ujung gang dekat kali dan pohon mangga. Rumahku saling berdempetan dengan rumah-rumah kumuh lainnya di pinggiran kali. Aku dan Hasan tinggal serumah. Hasan sama denganku, tak pernah sembahyang.
Pagi ini aku pergi ke sebuah stasiun. Bulan puasa tinggal menghitung hari. Persiapan menjelang bulan suci tampak semarak ketika aku melewati pasar menuju stasiun. Sebuah kereta komuter memasuki stasiun. Aku buru-buru membeli tiket dengan tujuan Bogor.
Aku turun dari kereta dan keluar dari peron. Langkahku terpincang-pincang di tengah keramaian penumpang yang turun dan naik ke kereta komuter ini. Aku sedikit terkejut saat melihat lelaki tampan memakai kain ihram itu menungguku dan kini mendekatiku. Aku mengangakan mulutku yang pasti terlihat jauh lebih lebar dari ukuran normal. Di dalam mulutku sudah jelas tampak deretan gigi tajam mengenaskan yang masih tersisa. Ternyata ia nyata, memang aku tidak bermimpi semalam, batinku.
Lelaki tampan itu lantas berkata, “Kukira kau tidak akan datang.”
Aku kembali mengangakan mulutku. Ia mengajak aku ke sebuah pojokan dekat toilet umum di luar stasiun.
“Se.. se.. sebenarnya kau siapa dan mau apa?” tanyaku. Aku bicara serupa siput kecil yang tertatih-tatih berjalan di selembar daun pisang. Ia tersenyum misterius. Aku melongo tak mengerti, wajahku mirip jaring laba-laba tipis berwarna keputihan.
Matahari tepat berada di ubun-ubunku. Lelaki tampan itu tersenyum memandangku sebelum ia mendongak melihat langit. Ia seperti melihat bentangan riwayat hidupku.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku merasakan angin panas bertiup amat kencang membawa berbagai benda beterbangan membentuk pusaran besar yang bergerak hebat mengantarkan aku pada sebuah suasana hening. Aku merasakan keheningan yang begitu ganjil. Keheningan yang lantas berganti dengungan panjang.
Entah berapa lama. Ketika aku dengan susah-payah membuka kelopak mata, ada beberapa jemari yang saling menggapai, sisa puntung rokok di atas rel dan batang korek api bekas berserak di antara bebatuan. Tubuhku serasa melayang. Aku merasa bagai sebuah boneka bertali yang tiba-tiba dipotong benangnya. Tubuhku melayang lagi. Sebuah kereta komuter jurusan Bogor-Jakarta Kota baru saja menyambar sesuatu.
Siang itu stasiun Bogor digemparkan oleh peristiwa yang tak ada hubungannya dengan kenaikan harga-harga menjelang bulan puasa. Sebuah ambulans parkir beberapa ratus meter dari pintu keluar stasiun.
Beberapa saat sebelum diusung ke atas tandu aku terpana. Aku bagaikan tak percaya pada apa yang terjadi. Lelaki tampan berkain ihram itu adalah diriku sendiri.
Sebagai manusia, aku selalu mendambakan kebenaran Tuhan. Dalam keadaan seperti ini, terngiang perkataan guru mengajiku dulu. Man ’arafa nafsahu, fakod ’arafa Rabbahu. Siapa yang mengenal dirinya, maka kenallah ia akan Tuhannya.
“Ketika itu kaum muslimin suci bersih, seperti bayi yang baru dilahirkan,” suara guru mengajiku makin pelan, ditelan raungan sirene ambulans.
“Ya, Allah. Sampaikan aku pada bulan Ramadan, semoga belum terlambat.”
Sebuah kereta komuter tujuan Jakarta Kota berhenti. Menyisakan suara derit yang pilu.

2017
Bamby Cahyadi ialah penulis kelahiran Manado, 5 Maret 1970. Sehari-hari ia bekerja di industri food and beverages. Buku terbarunya Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (2016).

Kutipan Move On #CrazyLove

“Move on itu bukan masalah gampang atau susah. Move on itu proses, bukan cuma omongan ‘gue mau move on’.” (hlm. 43)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Saat kita tahu kelemahan kita dan ingin mengubahnya, jalan itu pasti ada. (hlm. 36)
  2. Sad ending atau happy ending itu bergantung bagaimana orang yang diberi masalah memandangnya. (hlm. 46)
  3. Betapa menyenangkannya punya seseorang yang bangga kepada diri kita seperti itu, seperti punya lentera yang selalu siap menerangi hati kita. (hlm. 55)
  4. Tuhan itu adil. Selalu ada alasan kenapa Dia ngasih hidup yang kayak gini ke kita dan pada akhirnya semu itu berbuah kebaikan kalau kita memikirkan sisi positifnya. (hlm. 106)
  5. Masa lalu boleh dijadikan pelajaran, bukan tempat untuk tinggal dan diam di sana. (hlm. 107)
  6. Patah hati cuma bisa disembuhin kalau nemu pacar baru. (hlm. 141)
  7. Ini masalah hati. Kalau lo suka, lo harus kasih tahu. (hlm. 155)
  8. Menyukai seseorang itu bukan saja membuat memahami rasa senang juga sedih, tapi membuat belajar mengenai sebuah pengorbanan. (hlm. 159)
  9. Kadang dalam hidup, ada waktunya kita harus lebih mulia kalau kita mampu memaafkan. (hlm. 201)
Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:
  1. Nggak ada yang kebetulan di dunia ini. (hlm. 20)
  2. Kenapa lo marah-marah. Biasa aja kali. (hlm. 39)
  3. Nggak ada yang salah seandainya lo nggak nutup semua kemungkinan dengan cowok-cowok yang mau deketin lo, kesempatan-kesempatan buat nggak mati kayak lo. (hlm. 39)
  4. Gaya mirip, kan, bukan berarti kesukaan sama. (hlm. 49)
  5. Kita tidak boleh terlalu menginginkan sesuatu. (hlm. 62)
  6. Baru pacaran saja elo udah begini, lo mengharapkan apa nantinya? (hlm. 64)
  7. Jangan menilai orang lain dari luarnya saja. Kamu mana tahu apa yang pernah orang lain pikirkan , jadi jangan asal menjudge. (hlm. 96)
  8. Nggak semua orang siap jadi dewasa. Tapi, kadang kondisi yang memaksakan kita harus siap jadi dewasa. (hlm. 106)
  9. Ketika menyukai seseorang, hal-hal tidak normal sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan. (hlm. 131)
  10. Terkadang, manusia terlalu berharap untuk sesuatu yang berlebihan. (hlm. 136)
  11. Jika rasa suka ini membuat lemah, lalu bagaimana caranya agar kuat? (hlm. 152)
  12. Orang yang ngga move on itu menyedihkan. Tapi ada yang lebih menyedihkan, yaitu orang yang nggak menyatakan perasaannya cuma karena rasa takut dalam diri sendiri. (hlm. 155)
  13. Memangnya lo nggak punya teman yang bisa diajak bercanda ya? (hlm. 191)
  14. Cinta itu datang tanpa diminta, sakit ini menghampiri tanpa dipesan, tapi mengapa kini cinta ini menjadi sakit yang tak mampu kita luahkan? (hlm. 210)
  15. Aku udah berhenti nanya kepada Tuhan pakai kata ‘mengapa’. Aku nggak mau nanya sesuatu yang nggak bisa aku temuin jawabannya hari ini. (hlm. 211)
  16. Nggak ada yang siap dengan kehilangan seseorang dalam hidupnya, tapi bukan berarti harus terus-terusan terpuruk dan bersedih, kan? (hlm. 236)

Kamis, 15 Juni 2017

Kutipan The Little Paris Bookshop

Buku itu dokter sekaligus obat. Buku membuat diagnosis sekaligus menawarkan terapi. (hlm. 40)

“Anda perlu ruang tersendiri. Jangan terlalu terang, dengan selalu ditemani anak kucing. Dan buku ini, tolong dibaca lambat-lambat agar anda bisa beristirahat sekali-kali. Anda akan banyak berpikir dan mungkin sedikit menangis. Untuk diri sendiri. Untuk tahun-tahun yang berlalu. Tapi anda akan merasa lega setelahnya.” (hlm. 23)

“Coba baca ini. Tiga halaman setiap pagi sebelum sarapan sambil berbaring. Buku ini harus yang pertama kaubaca. Dalam beberapa minggu kau takkan terlalu nelangsa –akan terasa seolah kau tak perlu lagi menebus keberhasilanmu dengan kebuntuan penulis.” (hlm. 44)

“Apakah benar-benar tak ada buku yang bisa mengajariku memainkan lagu kehidupan?” (hlm. 51)

Banyak kalimat yang berhubungan dengan buku:
  1. Hanya karena bertambah tua sedikit, buku tidak lantas membusuk. (hlm. 21)
  2. Terimalah buku-buku berkualitas dan jangan menjalin hubungan tidak jelas dengan pria yang mengabaikan anda. (hlm. 22)
  3. Buku menepis kebodohan. Juga harapan kosong. (hlm. 22)
  4. Kadang-kadang, stoking lebih laris daripada buku. (hlm. 25)
  5. Banyak sekali yang bisa disampaikan dalam hidup. Hidup bersama buku, hidup bersama anak-anak, hidup untuk para pemula. (hlm. 32)
  6. Tentu buku lebih daripada dokter. Ada novel yang bisa menjadi teman seumur hidup yang penyayang; ada yang menjewer kita; lainnya menjadi teman yang memeluk dalam handuk hangat saat kita merasakan kerisauan musim gugur. (hlm. 40)
  7. Aku hanya bisa bernapas kalau membaca. (hlm. 53)
  8. Buku mengubah manusia. (hlm. 87)
  9. Buku adalah temanku. Kurasa aku mempelajari semua persaanku dari buku. bersama buku aku mencintai tertawa, dan menemukan lebih banyak daripada yang kutemukan dalam kehidupan di luar membaca. (hlm. 88)
  10. Kaupikir hanya tokoh dalam buku yang melakukan hal-hal gila? (hlm. 112)
  11. Buku adalah alat terbaru ekspresi dalam hamparan luas sejarah, mampu mengubah dunia, dan menggulingkan tiran. (hlm. 165)
  12. Membaca membuat kita kurang ajar. (hlm. 167)
  13. Dunia kata-kata tidak pernah nyata. (hlm. 209)
  14. Membaca membuat anda cantik, membaca membuat anda kaya, membaca membuat anda langsing. (hlm. 215)
  15. Buku tidak mengancam manusia. (hlm. 301)
  16. Makanan dan buku memiliki kaitan erat. (hlm. 343)
  17. Buku bisa melakukan banyak hal, tapi tidak segalanya. Kita harus menjalani sendiri hal-hal penting, bukan sekedar membaca. (hlm. 349)
Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Kadang-kadang kita berenang dalam air mata yang tidak tumpah dan kita akan tenggelam kalau air mata itu tetap disimpan. (hlm. 18)
  2. Setiap orang punya bakat. (hlm. 39)
  3. Jika bisa melewati hari ini, aku pasti bisa melewati hari-hari lain. (hlm. 106)
  4. Di semua awal hiduplah kekuatan ajaib. (hlm. 107)
  5. Kematian tak berarti apa-apa. Kita akan selamanya seperti saat kita masih hidup bagi satu sama lain. (hlm. 158)
  6. Seumur hidup, cinta untuk orang tersayang yang pergi meninggalkan kita akan ada selamanya. Kita merindukan mereka sampai akhir hayat. (hlm. 164)
  7. Membaca –perjalanan tanpa akhir; perjalanan panjang benar-benar tanpa akhir yang membuat seseorang menjadi lebih sabar serta lebih penuh kasih sayang dan baik hati. (hlm. 164)
  8. Kita kekal dalam mimpi orang-orang yang kita cintai. Dan orang-orang sudah mati yang kita cintai terus hidup setelah kematian mereka dalam mimpi kita. Mimpi adalah penghubung antardunia, antarwaktu dan ruang. (hlm. 170)
  9. Kerinduan akan masa kecil, ketika hari-hari seolah menyatu dan berlalunya waktu tak memiliki konsekuensi. Perasaan dicintai dengan cara yang takkan pernah datang lagi. pengalaman unik ditinggalkan. Segala yang tak bisa ditangkap dengan kata-kata. (hlm. 199)
  10. Mencintai atau tak mencintai seharusnya seperti kopi atau teh; orang-orang seharusnya diizinkan memilih. Bagaimana lagi cara kita melupakan semua orang yang sudah mati? (hlm. 254-255)
  11. Kita semua hidup dalam kondisi yang dapat diduga. (hlm. 279)
  12. Tubuh kita lebih pandai mengingat seperti apa rasanya menyentuh seseorang daripada otak kita mengingat perkataannya. (hlm. 283)
Banyak juga sindiran halus dalam buku ini:
  1. Kenangan itu seperti serigala. Tak bisa dikurung dengan harapan tidak akan mengganggu kita. (hlm. 13)
  2. Kesalahan umum. Kita baru benar-benar mengenal suami bila sudah ditinggal minggat. (hlm. 14)
  3. Cinta, diktator yang menurut kaum pria sangat menakutkan. Tak heran bahwa laki-laki, mengingat maskulinitasnya, umumnya menyambut tiran ini dengan berlari menjauh. (hlm. 26)
  4. Pria bodoh adalah kehancuran bagi setiap wanita. (hlm. 30)
  5. Makin lama kehidupan makin dijalani, makin protektif orangtua terhadap masa-masa indah mereka; tak ada yang boleh membahayakan masa mereka yang tersisa. (hlm. 31)
  6. Perasaan agak sedih ketika persahabatan tak berjalan sesuai harapan sehingga kita harus melanjutkan pencarian untuk menemukan teman seumur hidup. (hlm. 33)
  7. Jika seseorang meninggalkan kita, kita harus menjawab dengan kebisuan. Kita tak diperkenankan memberikan hal lain bagi orang yang pergi; kita harus menutup diri. (hlm. 70)
  8. Ada ayah yang tak bisa mencintai anak-anaknya. (hlm. 143)
  9. Tak seorang pun jadi bijak jika tak pernah muda dan bodoh. (hlm. 150)
  10. Cinta kecil. Cinta besar. Payah, kan. Cinta memiliki banyak ukuran? (hlm. 159)
  11. Kenapa kau tak meninggalkannya sejak dulu jika dia bukan cinta besarmu? (hlm. 159)
  12. Hati-hati dengan omonganmu. (hlm. 217)
  13. Jiwa adalah apa yang tumbuh di sana, apa yang orang-orang lihat, hirup baunya, dan sentuh setiap hari, apa yang melewati mereka dan membentuk mereka dari dalam. (hlm. 217)
  14. Apakah benar pria memiliki kekasih berdasarkan kemiripan dengan ibu mereka? (hlm. 229)
  15. Kebiasaan adalah dewi yang sombong dan berbahaya. Dia takkan membiarkan apapun mengacaukan aturannya. Dia menekan keingina dan keinginan. (hlm. 235)
  16. Kematian orang-orang yang kita cintai hanyalah ambang antara akhir dan awal baru. (hlm. 401)
   

Minggu, 11 Juni 2017

Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam


Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 28 Mei 2017)
Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar
KENING Darso berkerut melihat istrinya menggunting sehelai kain kafan dan diukurnya sesuai ukuran tubuhnya sendiri.
“Kenapa kau mengukur kain kafan itu ke tubuhmu?” Pertanyaan suaminya cuma dibalas dengan senyuman oleh Simar. Darso semakin tidak mengerti dengan tingkah pola istrinya karena besok mereka akan berangkat umrah. Tetapi, kenapa sang istri sibuk mengurus kain putih pembungkus jenazah itu. Pikiran Darso tak mampu menjangkau cara berpikir istrinya yang usianya hanya lebih muda dua tahun darinya
“Aku mau basuh kain kafan ini dengan air zamzam,” kata Simar kepada suaminya begitu selesai mengukur kain kafan untuk tubuhnya sendiri. Darso terkejut mendengar ucapan istrinya itu dan membuatnya langsung mengatur napas. Laki-laki yang baru dua tahun menikahinya itu langsung berpikir yang macam-macam soal istrinya. Tiba-tiba saja ia seperti diajak untuk membayangkan kematian istrinya yang terasa sebentar lagi.
“Seolah-olah kau akan segera mati setelah ini. Sementara kita tak tahu kapan mati. Kau membuatku cemas,” Darso merasa ada sesuatu yang ganjil di dadanya. Suara jantung yang tak wajar. Namun ia buru-buru beristigfar. Perasaan ini tak lebih dari rasa takut akan kehilangan perempuan yang teramat ia cintai. Hal ini terlihat dari mata Darso yang menampung genangan air di ceruk matanya yang dalam.
“Kematian sesuatu yang niscaya. Karena kita tak tahu kapan mati. Maka tak salah jika kita mempersiapkannya.” Simar mengucapkannya ringan, disusul senyum mengembang dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa pagi itu ingin sekali menyiapkan kain kafan untuk dibasuh dengan air zamzam ketika tiba di Mekah nanti. Tetapi, satu hal yang tak sanggup ia mungkiri adalah bahwa Izrail akan datang kapan saja dan tanpa ia sadari kapan malaikat itu akan menarik nyawa satu-satunya yang dimiliki. Mungkin, karena inilah ia punya nyali mempersiapkan kematiannya sendiri.
Suaminya pun mulai waswas melihat gelagat Simar yang menampakkan tanda-tanda menjelang ajal. Darso lebih dibuat tercengang lagi saat lelaki kurus berwajah teduh itu mengetahui sang istri juga sudah mempersiapkan liang lahat bagi dirinya. Tiga hari yang lalu, Simar menyuruh seorang penggali liang lahat menggalikan lubang kubur untuknya. Ia memberikan ukuran luas tanah yang harus digali dekat makam ayahnya yang meninggal dua tahun lalu, tepat saat azan Isya bergetar di udara.
Keinginan Simar untuk menyucikan sehelai kain kafan dengan air zamzam tidak didasari oleh perihal apa pun. Bukan mimpi atau bisikan gaib yang menyuruhnya. Itu dilakukannya atas hasratnya sendiri. Meskipun begitu, ia sendiri nyatanya tidak mengerti, mengapa hari itu menjelang keberangkatan umrahnya yang pertama tiba-tiba saja ia mengikuti suara nalurinya agar membawa kain kafan untuk dibasuh dengan air zamzam.
Melihat sesuatu yang ganjil dari tingkah istrinya, hati Darso dibalur cemas. Ia kerap bertanya-tanya, pertanda apa yang sedang ditunjukkan Allah ini? Pertanyaan itu ia pendam sendiri di dasar hatinya. Belakangan ini, Simar pun sering ingin bermanja-manja dalam rangkulan suaminya. Bagi Darso, ini tak biasa dilakukan istrinya. Sebab, selama menikah Simar tak semanja sekarang ini. Kalaupun istrinya ingin dimanja, tak pernah terasa berlebih seperti ini.
Ditinggal sebentar, Simar langsung merajuk. Darso merasa sangat bahagia, sebab ia merasa dengan ini betapa sejatinya sang istri sangat mencintainya, tapi di lain sisi ia merasa khawatir. Baginya, tak wajar Simar bertingkah macam itu. Gerimis halus basah di kaca jendela. Darso tak mau berpikir yang bukan-bukan soal istrinya. Ia pun beranggapan, bisa jadi tingkah Simar begitu lantaran perempuan itu tengah hamil tiga bulan.
Bulan sebulat semangka menaiki dinding langit. Dari luar jendela terdengar angin berkesiur pelan. Darso melihat istrinya yang baru saja terlelap di pangkuannya. Dengan pelan ia rebahkan kepala Simar di atas bantal. Ia pandangi pula wajah istrinya yang nampak lebih terang dari sinar bulan yang memantul di bibir jendela. Ia mencium kening Simar sesaat sebelum ia coba memejamkan matanya di sisi istrinya tersebut.
Darso tak ingin liang kubur yang disiapkan Simar adalah pertanda datangnya ajal yang diisyaratkan alam kepadanya. Karena jika hal itu benar-benar terjadi, Darso tak tahu lagi apa yang mesti diperbuat. Walaupun begitu, Darso juga sadar sesadar-sadarnya bahwa betapa kematian sejatinya akan menghampiri siapa pun yang bernapas. Oleh karena itu, ia berusaha meyakinkan dirinya kelak jika Simar benar akan meninggal sepulang dari umrah atau setelah melahirkan anak satu-satunya, Darso akan menerima selapang-lapangnya. Meski pada hari itu mungkin dadanya akan terbelah dan air matanya akan mengucur.
Dengan susah payah Darso berusaha memejamkan matanya yang sedari tadi seolah tak bisa dikatupkan sebab selalu dibayangi oleh ucapan Simar perihal kematian. Darso jadi ingat pada gurunya, Kiai Misbah, seorang pengasuh pesantren di Madura. Dulu, Kiai Misbah melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Simar kali ini. Kepada santrinya, Kiai Misbah meminta digalikan kubur di dekat istrinya yang lebih dulu meninggalkannya. Dan benar saja, tiga hari setelah lubang kubur itu digali Kiai Misbah menghembuskan napas terakhirnya saat ia sedang salat, mengimami santri-santrinya di masjid. Ia tak bangun-bangun dari sujudnya.
“Begitulah manusia pilihan. Setidaknya, ia bisa membaca pertanda yang disuguhkan Allah kepadanya sehingga bisa dipersiapkan kematiannya sendiri.” Darso ingat ucapan ini dilontarkan oleh salah seorang pelayat yang menghadiri pemakaman Kiai Misbah. Mengingat kejadian itu, Darso jadi menerka-nerka. Apa Simar termasuk manusia yang dipilih Tuhan untuk mengetahui pertanda kematiannya sendiri? Sesaat kemudian, ia baru bisa memejamkan matanya setelah kegelisahan di dadanya mulai menghilang sedikit demi sedikit.
***
KEDATANGAN Simar beserta sang suami dari Tanah Suci disambut sukacita oleh keluarga dan tetangga dekat. Wajah Darso tidak terlihat seperti biasanya. Wajah lelaki itu kian menakjubkan. Tetapi, wajah Simar tak kalah menakjubkan pula. Keduanya sudah membasuh wajahnya dengan air zamzam. Kerabat yang datang banyak bertanya soal Kabah, Masjid Nabawi, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tanah Suci. Namun di sela-sela perbincangan itu, secara tiba-tiba Simar berujar. “Aku pun sudah membasuh kain kafan ini dengan air zamzam. Sebentar lagi akan kupakai kain ini.” Sontak semua mata tertuju padanya. Darso berusaha menahan degup jantung yang secara tiba-tiba pula seperti akan lepas dari tangkainya. Sejenak di ruang tamu itu hanya detak jam yang terdengar morat-marit di atas dinding.
“Apa maksud ucapanmu itu Simar?” Wajah serius yang ditampilkan Simar membuat salah seorang tetangga yang ikut menyambut kedatangannya jadi bertanya sekaligus merasa terkejut.
“Semua orang kelak pada saat kematiannya pasti akan pakai kain kafan. Ini dibasuhnya biar berkah.” Darso mendahului jawaban yang akan dikatakan istrinya. Lelaki itu cuma tak ingin apa yang kerap dilontarkan Simar perihal kematiannya selama ini diketahui banyak orang. Cukup dia yang menanggung waswas jika apa yang diucapkan Simar selama ini benar-benar jadi nyata.
Satu hal lagi yang diinginkan Darso. Simar tak benar-benar jadi meninggal secepat ini. Meski lubang kubur telah digali dan kain kafan sudah dibasuh tiga kali dengan air zamzam, Darso mengharap tak akan terjadi apa-apa dengan istrinya, terlebih Simar sedang mengandung anak pertamanya. Dengan doa-doa yang kerap dipanjatkan Darso agar dipanjangkan umur istrinya, ia yakin Simar akan terus menemaninya hingga usia senja. Darso, yang berencana memiliki tiga anak, tentu tak ingin Simar dijemput Izrail secepat ini. Tiap malam, doa yang dipinta Darso kepada Tuhan cuma satu, yaitu dipanjangkan umur sang istri dan tak jadi nyata ucapan istrinya yang selalu bilang akan meninggal sesegera itu.
Tapi, setelah Simar melahirkan anak laki-laki, kepada Darso ia bilang agar kain kafan yang disimpannya di dalam lemari diambil dan dibungkuskan ke tubuhnya. Laki-laki itu tercengang bukan kepalang. Ia masih menggendong bayi laki-laki yang wajahnya sama persis dengan Darso, cuma hidungnya yang mancung mirip dengan Simar. Darso memandang wajah istrinya tanpa berkedip. Ia tahu ada yang ganjil dari wajah sang istri. Wajah itu tak lagi semringah. Pada detik kesekian Simar meninggalkan anak dan suaminya. Tangan Darso mengusap wajah istrinya, disusul derai air mata yang jatuh ke lantai.
Kain kafan yang sudah dibasuh air zamzam itu diambil oleh Darso. Ada tulisan kullu nafsin dzaiqatul maut yang ditulis pada selembar kertas di dalam sehelai kain putih itu. Darso tahu, jauh-jauh hari Simar memang sudah mempersiapkan kematiannya itu. Walaupun doa yang dipanjatkan Darso tak terkabul, ia yakin seyakin-yakinnya bahwa cuma Allah yang mengetahui rahasia di balik peristiwa ini.
Jenazah akan dikebumikan nanti sore selepas salat Asar. Liang kubur yang sudah digali beberapa bulan lalu digali lagi karena tertimbun tanah. Warga yang datang melayat sungguh tak pernah terduga akan sebanyak itu. Darso sendiri merasa paling cuma sebagian warga yang akan ikut mengantar istrinya ke pembaringan terakhir. Darso bukan siapa-siapa. Bukan ustaz, apalagi kiai. Itulah mengapa ia berpikiran semacam itu.
“Cuma manusia yang dekat dengan Tuhannya yang sanggup mempersiapkan kematiannya sendiri dan mengetahui tanda kematiannya,” kata salah satu pelayat yang ikut menggotong keranda ke pemakaman. Saat jazad Simar dibaringkan di liang kubur, kain kafan itu menebarkan wewangian. Wanginya sangat lembut. Tak pernah ada wewangian sewangi dan selembut itu. Darso tersenyum di dekat pusara. Ia cuma menduga-duga bahwa itu pertanda amal baik sang istri. Bunga-bunga ditabur di atas pusara. Tinggal Darso seorang diri di dekat pusara sedang menyiramkan air zamzam pada kubur sang istri seraya mengecup ujung batu nisannya.

Anne Ahira Newsletter

Think & Succeed!
----------------------------------

Tidak baik jika kita menutup-nutupi
kelemahan dan kegagalan dengan
banyak alasan. Terimalah, dan hadapilah

kegagalan itu sebagai pengalaman dan
pelajaran berharga, agar bisa jadi
pedoman dan tuntunan untuk mencapai
kemajuan dan keberhasilan yang lebih
berarti di kemudian hari.

Dear Hanihyung,

Kita tahu bahwa dunia ini selalu
berputar. Adakalanya manusia ada di
bawah, atau sebaliknya ada di atas.
Ada orang bertanya kepada saya,
bagaimana dengan kenyataan yang
sering kita lihat begitu banyak
orang-orang yang selalu di bawah?

Bukankah mereka juga tinggal di bumi
yang sama dengan orang-orang yang
mampu dan kuat berada di atas? Sering
kita lihat orang-orang yang sudah di
atas malah semakin ke atas.
Temanku, pandangan itu semua
hanyalah ironi. Kita tidak pernah
tahu apa yang terjadi pada mereka
yang sudah ada di atas. Kebanyakan
di antara kita melihat mereka yang di atas
selalu dari 'materi' atau jabatan.
Namun percayalah, setiap orang
mengalami pasang surut.
Belajarlah dari orang-orang yang
sudah ada di atas, dan orang-orang
yang berada di bawah. Jangan hanya
melihat ke atas.
Banyak pelajaran yang bisa diambil
dari keduanya, yang bisa engkau
jadikan bekal tuk menjadi pribadi
yang luhur bijaksana, sukses lahir
dan batin.

Pepatah mengatakan:

"Kebesaran seseorang tidak terlihat
ketika dia berdiri dan memberi
perintah. Kebesaran seseorang akan
terlihat ketika dia berdiri sama
tinggi dengan orang lain, dan
membantu orang lain untuk
mengeluarkan yang terbaik dari diri
mereka untuk mencapai sukses" - Prof.
G. Arthur Keough

Janganlah suka cari alasan untuk

menutupi kegagalan. Sebaliknya,
carilah terus 'cara' untuk menggapai
keberhasilan.
Salam hangat dari sahabatmu,
~ Ahira

Selasa, 06 Juni 2017

Bersabarlah

Bersabarlah…. .

Diantara hal yang sangat berat diamalkan oleh seorang muslim adalah syukur dan sabar. Sabar dan syukur juga sifat Allah karena Allah menyebut diri-Nya sebagai Yang Mahabersabar dan Mahabersyukur.
.

Saat seseorang sedang ditimpa musibah, maka orang itu bersabar atas segala cobaan tersebut. Namun setelah itu ia pun harus mengucap syukur atas nikmat yang telah Allah berikan selama itu. Karena dengan bersyukur maka Allah akan tambahkan nikmatnya. .

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim [2999] lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim
[9/241]) .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat as-Shahihah [1220]) .

Maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan nilai-nilai kesabaran ini dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadikan sabar sebagai pilar kebahagiaan kita? Sudahkah sabar mewarnai hati, lisan, dan gerak-gerik anggota badan kita? .

Allah berfirman: “Pada hari (kiamat) ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka, terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” QS. Yasin: 65 .


Senin, 05 Juni 2017

Anne Ahira Newsletter

Think & Succeed!
----------------------------------

Dear Hanihyung, temanku yang luar biasa...
Sekalipun engkau hidup berlimpahan
dan berkecukupan dana, tetaplah
hidup dengan sederhana.

Tidaklah sulit menciptakan sifat yang
baik yaitu sikap rendah hati dan
sederhana. Orang yang memiliki sikap
rendah hati selalu berusaha menjadi
pribadi yang bisa menerima orang
lain, tidak sombong, atau terlalu
memperlihatkan kelebihan-kelebihan
yang dimiliki.
Tidak usahlah kita risaukan, jika
orang lain tidak tahu apa yang kita
miliki atau seberapa tinggi kemampuan
kita melakukan segala sesuatu.
Orang lain bisa menilai 'kualitas
seseorang' hanya dengan melihat
sikap, tutur kata, dan perilaku
sehari-hari yang kita lakukan.
Dengan bersikap rendah hati, berarti
kita telah menjaga diri kita sendiri.
Dengan bersikap rendah hati, berarti
kita telah menempatkan diri di posisi
yang nyaman, tenang, damai dan
tentram.
Jika hati sudah merasa nyaman, damai
dan tentram, maka secara otomatis
Anda akan tampak bersahaja dan
bahagia.  Bukankah itu yang kita
inginkan? :-)
Marilah kita bersikap rendah hati,
dan membiasakan diri, untuk selalu
hidup sederhana...