Daftar Blog Saya

Minggu, 28 Mei 2017

Pesta Sate Daging Temuan


Cerpen Niar Cahyani (Suara Merdeka, 21 Mei 2017)
Pesta Sate Daging Temuan ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Pesta Sate Daging Temuan ilustrasi Suara Merdeka
Karip usul. “Masak gule sajalah kita!” ujar dia sambil mengenang kuah gule terakhir yang ia lahap saat Idul Adha tahun lalu.
Sodikin menepuk ujung topi kelabu yang bertengger di batok kepala Karip. “Gule, gundulmu! Apa kamu mau duit narikmu buat beli rempah?”
Tepukan kasar itu melenyapkan bayang-bayang gule kambing yang membuat lidahnya gemetar. “Bikin sate saja. Tidak perlu cari kompor. Modal tungku pakai arang, jadilah sudah! Nanti kubawakan bawang, garam, dan kecap.”
Kelima tukang becak yang sehari-hari mangkal di tepi Jalan dr Cipto itu pun bersepakat sudah. Sudah terang bagaimana nasib sekantong daging yang entah milik siapa.
Para lelaki paruh baya itu melangkah riang bak bocah hendak menyambangi toko kembang gula. Betis berwarna senada akibat bertahun-tahun mangkal di tempat yang sama itu berkumpul mengitari tungku. Sodikin datang menenteng kantong hitam hasil kemujuran. Sore itu Sodikin menjumpai jok becak tuanya ketiban berkah: sebuah kantong plastik hitam berisi segumpal besar daging. Kelima pria itu tak tahu ilmu matematika untuk menggambarkan seberapa banyak daging itu dengan satuan ukur. Yang jelas cukup untuk pesta semalaman. Mereka pikir, sesekali pantas rehat dari kesusahan hidup melarat.
Tak banyak ritual memasak mereka lakukan. Hanya mengiris daging tipis-tipis, membumbui dengan tumbukan bawang putih dan garam, siaplah daging tertusuk bilah bambu itu untuk mereka bakar. Riang hati mereka, sebab tahun ini taraf hidup mereka meningkat. Biasanya mereka makan daging setahun sekali, saat Idul Adha. Kini, mereka bisa makan daging setahun dua kali. Tak ada tuak atau tembakau lintingan sebagai pelengkap pesta, sebab mereka terlampau miskin buat sekadar beli beras dan sayur.
***
Dua hari selang pesta pora, kelima lelaki paruh baya itu kembali mengayuh becak. Mau panas, hujan, atau panas bercampur hujan, tetap saja mereka mengayuh, seolah-olah hidup mereka adalah sistem ber-setting pabrik.
Sodikin pasang tampang lesu hari itu. Keempat kawannya telah melanglang Jalan dr Cipto demi lembar-lembar uang ribuan. Namun ia cuma duduk dan menguap. Sesekali berteriak menawarkan jasa becaknya kalau-kalau ada angkot oranye terang berhenti di pangkalan.
“Mas, becak, Mas?” tawarnya pada penumpang angkutan jurusan Banyumanik-Johar yang turun di pangkalan.
Pria berambut tipis di dahi itu tampak ragu mendekati Sodikin. Sodikin tahu betul pria itu tinggal di salah satu gang yang berjarak satu kilometer dari pangkalan becak. Jadi sudah positiflah si pria calon penumpang becak yang potensial.
“Ayo becak, Mas! Mau ke Bugangan ta?” tawar Sodikin bersemangat.
“Anu, Pak…,” sahut si calon penumpang. “Apa Sabtu kemarin saya naik becak Bapak?” tanya si pria.
“Lo, ya iya ta. Kan sampean langganan mbecak saya. Ayo saya antar! Hari ini saya beri diskon.”
“Apa Sabtu kemarin ada barang saya tertinggal?”
“Barang apa? Seingat saya tak ada barang tertinggal, Mas.”
“Waduh, bagaimana ya? Saya harus cari ke mana lagi?”
“Memang barang apa yang tertinggal?”
“Barangnya terbungkus plastik hitam.”
Hati Sodikin langsung mengerut bak balon tertusuk jarum mendengar jawaban si calon penumpang. Teringat sebuah kantong plastik hitam yang ia temukan.
“Sabtu kemarin saya pergi mengantarkan Kakak ke pengobatan alternatif di Jatingaleh. Mbah yang mengobati itu sakti betul! Tanpa operasi, beliau bisa mengangkat penyakit kakak saya. Namun kalau bungkusan itu tidak saya temukan, saya tak bisa melakukan ritual pengobatan yang Mbah sarankan.” Wajah si calon penumpang tampak bingung sambil menggaruk tengkuk.
“Wah, saya ndak tahu di mana bungkusan itu,” Sodikin berusaha menutupi kegugupan sekaligus penyesalan sebab merasa telah berpesta-pora dengan daging yang seharusnya jadi obat bagi seorang penderita penyakit berat.
“Sampean betul-betul ndak lihat ya, Pak? Bungkusan plastik hitam kira-kira sebesar ini,” si calon penumpang berusaha mendeskripsikan besar bungkusan dengan tangannya. “Itu berisi tumor kakak saya yang diangkat secara supranatural oleh Mbah.”
“Isi apa, Mas?!” Sodikin terkejut.
“Tumor. Tumor itu seharusnya dikubur bersama daun keluwih, daun dadap serep, daun kara, daun cangkring, daun walikukun di sebelah barat rumah, kemudian….” Si calon pembeli menghentikan ucapan sebab Sodikin telah berjongkok membelakangi sambil memuntahkan isi lambung. Lambung yang sejak pagi hanya terisi kopi pun kembali kosong.
***
Atmoko adalah pengayuh pertama yang sampai di pangkalan. Dadanya masih terasa nyer-nyeran selepas adu mulut dengan penumpang pertama yang menawar jasa dengan harga supersadis. Lima ribu rupiah di kantong, keringat di dahi.
“Sepi sekali ya, Kin?” sapa Atmoko.
Si lawan bicara bergeming. Bibirnya yang memutih berkerut saja sejak tadi.
“Kenapa? Habis didatangi tukang tagih utang?” goda Atmoko. Senyum tersungging. Pertunjukan gigi ompong terselenggara dalam tempo singkat.
“Kita akan mati, Ko….”
“Hati-hati bicara! Kalau punya firasat mati, jangan ajak-ajak!”
Atmoko kaget bukan kepalang. Dia teringat mimpinya tiga hari lalu. Deret giginya yang tak utuh tiba-tiba rontok berjamaah. Tak habis-habis rerontokannya serasa sedang mengulum ratusan batu akuarium. Dia pikir mimpi itu pertanda akan ada kabar duka dari sanak-saudara. Namun ia akan kaku sekaku-kakunya bila kabar lelayu justru menimpa Atmoko.
“Sate yang kita telan kemarin, Ko…. Ternyata itu milik penumpang. Isinya tumor, bukan daging. Kita sudah menelan penyakit,” ujar Sodikin.
Langsung terasa asin dan masam lidah Atmoko. Perutnya bergejolak, tetapi tak bisa muntah. Ketiga teman pengayuh becaknya merasakan hal yang sama setelah kembali ke pangkalan.
“Pantas bau anyirnya lebih tajam. Seratnya amat lembek seperti gajih,” ucap Karip pasrah.
Akhirnya Mursidi berhasil memuntahkan isi lambung, selepas mendengar ucapan Karip. Santoso menyusul akibat melihat cairan beraroma asam lambung Mursidi.
Astaghfirullah,” batin kelima pria paruh baya itu, mengucapkan zikir yang sama. Batin yang sudah lama tak pernah diingatkan oleh kumpulan kalimat bernuansa ketuhanan.
***
Le, apa yang terjadi kalau manusia menelan tumor? Apa bisa tercerna sampai jadi kotoran?” tanya Sodikin pada Opik, anak bungsunya yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.
Muncul kerut di dahi si bocah. Otaknya berusaha mengais-ngais ilmu pengetahuan alam yang pernah ia pelajari entah di kelas berapa.
“Kalau sayur dan buah bisa dicerna, Pak. Kalau daging tidak begitu. Nanti gizinya terserap ke dalam tubuh,” Opik menjelaskan dengan bahasa semampunya.
“La terus, kalau tumor? Bagaimana nasibnya di pencernaan? Tumor itu kan bukan daging?”
“Tumor bukan tumbuhan, Pak. Jadi tak mengandung serat. Lagipula orang tolol mana mau makan tumor?”
“Ya ndak tahu! Wong Bapak cuma nanya-nanya pelajaranmu. Nilai kamu yang bagus pelajaran apa ta?” Sodikin agak gugup, berusaha menutupi ketololan dari sang anak.
Opik manggut-manggut. Dia menatap rambut ikal keperakan. Rambut sama dengan warna berbeda yang ia warisi dari si bapak. “Aku suka pelajaran agama, Pak.”
“Bapak tanya lagi sekarang,” mata Sodikin berbinar, “apa hukumnya makan tumor? Haram atau halal?”
Opik bergidik membayangkan bagaimana jaringan tubuh diolah dan dikonsumsi manusia. “Aku ndak tahu. Yang jelas haram itu babi, Pak.”
Sodikin menghela napas.
“Tapi makanan curian juga haram,” sambung Opik.
Sodikin melotot, seakan-akan ketahuan maling oleh buah hatinya.
***
Lima hari selepas pengurasan isi lambung, sudah jarang terdengar tawa yang mencairkan kehidupan lima pengayuh yang terlampau susah. Lima hari itu mereka bersikap seolah-olah terjangkiti demam dari negeri Rusia. Lemas, gontai, tak ada gairah, sedikit-sedikit terbatuk. Bicara miris seakan esok bakal mati. Nyeri-nyeri serta meriang memang mereka rasakan. Bukan akibat konsumsi daging abal-abal, melainkan akibat sugesti mereka selepas menelan daging temuan.
Lepas tiga puluh lima hari, selembar koran tertiup di Jalan dr Cipto. Lembar koran kusam yang hanya dihiraukan oleh pemulung. Andai mampu mengaji alfabet, si pemulung akan tertegun dan membaca keras-keras berita di koran ibu kota provinsi itu: Polisi menyita 17 kilogram daging celeng. Seorang penyembuh alternatif mengaku mampu mengangkat tumor dan kanker dengan kekuatan supranatural tanpa operasi.(44)

Mustikajati, Mei 2017
Niar Cahyani, alumnus Politeknik Negeri Semarang. Kini, pekerja swasta ini tinggal di Ambarawa.

Anne Ahira Newsletter

Dear Hanihyung,

Keluarga rukun adalah awal
ketenangan. Kerja tekun adalah
pangkal kemenangan.
Nah, penataan dan pembinaannya
harus dimulai dari diri sendiri, baru
kita bisa membina yang lain untuk
rukun dan penuh santun.
Jika semua itu kita lakukan,
insyaallah semua kegiatan bisa
sukses, lancar, dan anggun.
Ada pepatah mengatakan:

"Kebenaran dasar tentang kehidupan
adalah bahwa setiap orang selalu
mendekat pada mereka yang
meningkatkan mereka, dan menjauh dari
siapapun yang merendahkan mereka"
- John C. Maxwell
Hanihyung, temanku yang luar biasa...
Pribadi yang baik adalah pribadi yang
mampu mengerti dan memahami dirinya
sendiri. Pribadi yang baik adalah
mereka yang mengetahui apa yang
diinginkan, dan tau apa yang menjadi
visi dan misi dalam hidupnya.
Nah, dalam hubungan sosial, marilah
kita untuk tidak selalu menunggu
dipedulikan orang lain, baru kita
peduli. Dengarkanlah terlebih dahulu
orang lain, pahami kondisi dan posisi
mereka. Pahami apa yang menjadi
keinginan mereka, maka dengan
sendirinya kita akan dipedulikan.
Pribadi yang dicari adalah pribadi
yang mampu memahami dan mengerti
orang lain terlebih dahulu, bukan
pribadi yang mengedepankan egoisme,
memaksakan kehendak, atau merasa
paling benar.
Marilah kita untuk TIDAK menunggu
contoh, baru bergerak mengikuti, tapi
mari kita bergerak terlebih dahulu,
dan jadilah contoh yang baik untuk
orang-orang di sekelilingmu.

Jumat, 26 Mei 2017

Jarak

Aku tak akan menyalahkan jarak... Sebab ia ada agar kita mempunyai batas pemisah untuk sementara waktu dan melatih kesabaran kita dalam melawan rindu. Karena bukan tidak mungkin bila saat ini jarak bukan menjadi penghalang kita untuk bertemu,kita malah terjerumus dalam kemaksiatan dan rasa cinta semu. Tentu itu bukan yang kita inginkan.Karena niat kita adalah untuk menjalin ikatan yang di ridhoi Nya,bukan ikatan yang mengundang murka Nya ◾ Aku tidak akan menyalah kan waktu... Karena ia ada agar kita masing masing saling menatap cermin untuk bisa berkaca memantaskan diri. Sudah pantas kah aku untuk mendampingi mu? Sudah siap kah niat ku untuk memulai babak episode baru? Dan sudah mantap kah iman ku untuk bisa kuat memikul tanggung jawab baru? Itu semua pastilah butuh proses persiapan diri.Dan tentu proses itu memerlukan waktu bukan? ◾ Dan tentu aku tidak akan menyalahkan rasa... Karena,bagaimana mungkin aku menyalahkan nya,sedang ia menjadi benang merah dari semua rindu yang ada. Namun tentu,rasa itu bukan menjadi alasan bagiku untuk berani lantang menyuarakan tentang apa yang kurasa berkecamuk dalam jiwa. Dan untuk saat ini biarlah rasa yang tersimpan rapi ini ku biarkan bergema di angkasa setiap sepertiga malam bersama ribuan pinta yang ku kemas dalam bulir bulir doa. ◾ Bersabarlah... Karena akan ada saat dimana jarak itu terlipat,dan kita bisa selalu bersama tanpa sekat. Karena akan ada saat dimana sang waktu berlalu cepat,dan mempertemukan kita dalam kematangan iman dan sama sama taat. Dan karena akan ada saat dimana rasa itu akan sama sama saling terucapkan dalam sebuah janji ikatan halal yang kita impikan. Bersabarlah Bila saat ini Allah belum mengizinkan kita untuk bersatu,marilah saling belajar memantaskan diri dan belajar untuk meningkatkan kualitas diri. Dan kita tentu yakin,bahwa Allah tidak akan menyia nyiakan hamba Nya yang senantiasa bersabar.

Kamu

Kamu, seseorang yang tak pernah ku duga-duga Seseorang yang aku belum tahu siapa dan bagaimana dirimu, Seseorang yang ternyata begitu istimewa, Seseorang yang tak pernah terlintas dalam fikiran, ingatan dan benakku, Sosok yang tak pernah aku duga yang akan menjadi pendamping hidupku

 

Mencintaimu

Mencintaimu dalam diam bagaikan harus memeluk duri, semakin aku mencintai mu maka duri itu semakin menampakkan rasa sakit pada diri ini. Kadang, semuanya menjadi tentang dirimu. Namamu selalu menjadi yang pertama di dalam hati. Apakah aku melakukan kesalahan? Kesalahan di hadapan sang maha pemberi rasa? Aku takut, saat mencintaimu diri ini lupa akan keberadaanNya, lupa pada siapa aku memintamu hadir di duniaku, menjadikan dirimu seseorang yang memiliki posisi tersendiri didalam hati ku. Mungkinkah aku telah melakukan zina? Zina hati dan pikiran selalu aku jalani dan susah tuk ku hindari, hati yang berlebihan tuk mencintaimu dan pikiran yang tak henti-hentinya memikirkan tentang mu. Padahal, mendekati zina saja sudah mendapatkan dosa apalagi kalau sudah melakukan zina. Jika memang mencintaimu hanya memberi ku rasa sakit dan menambah sebuah dosa? Mungkin aku akan melangkah tuk menjauhi dirimu. Kini, sebaiknya aku menghapus rasa ini, walau tak segampang orang-orang berkata "ikhlas" kepadaku, tapi memang seperti itu. Ikhlas tak memiliki defenisi yang jelas namun ikhlas identik dengan tujuan tuk melupakan. Dari pada aku kehilangan cinta dari Allah ﷻ‎ saat mencintaimu? lebih baik aku mengikhlaskan rasa yang belum tentu akhirnya seperti apa dan bagaimana.

Untukmu

Untukmu yang dulu pernah datang dan kini pergi . kebodohanku, pernah terkesima denganmu membolehkan rasa ini tumbuh terselip rapat dihatiku. hingga angan harapan bahkan janji bersemai begitu saja, kita sebut itu cinta yang semestinya taku ada . kesalahanku, begitu saja percaya manisnya tuturmu tersuratnya janji yang kau bilang pasti, kau tak tepati. sukmaku retak remuk berkeping . Dengan sigap ku tata kembali kepingan hati dengan lantunan sepertiga malamku, hingga ku tersadar aku telah jauh melewati rambu agama-Mu . Janji kita belum selayaknya hadir, kecuali telah berpatri dengan akad yang sah. kepingan hatiku kembali menyatu, karena aku mulai lapang dengan ketetapan-Nya . Khilafku, mengizinkanmu mengisi penuh ruang hati serta fikiranku dengan sejuta bayang tentangmu, lagi-lagi kita sebut itu cinta . Ya, itu masa lalu ku. kini aku hidup dimasa sekarang yang jauh dari masa laluku, semua ketidak warasanku dimasa lalu ku bayar dengan hijrahku . Namun tak ku pungkiri, sosokmu pernah menjadi tentang yang terindah dalam hidupku. karena datang dan pergimu menyadarkanku untuk kembali membaca rambu-rambu ajaran-Nya, tentang apa-apa yang boleh tentang apa-apa yang belum seharusnya kuhadirkan . Dan selepas ini, tak ada kata semanis syukur karena pergimu telah ku gantikan dengan hadir-Nya kembali, yang kini semakin erat terasa. juga kata terimakasih teruntuk mu karena melaluimu, kutemukan hidayah ini yang DIA amanahkan untuku. Semoga dapat ku jaga . . .

Sang Pemberi Rasa ( Allah Swt )

Semoga kamu tau kenapa aku lebih suka menenggelamkan apa yang aku rasa, kemudian aku layangkan setinggi-tingginya lewat doa. Hingga tak seorang pun tau apa yang aku rasa, selain Sang Pemberi Rasa. Menyulitkan memang harus menahan apa yang sangat ingin kita keluarkan. Sakit memang harus membungkam apa yang seharusnya disampaikan. Tapi mau bagaimana lagi, sungguh aku sangat takut jadi ceroboh. Dengan mudah mengungkapkan apa yang aku rasa, kemudian kamu, dia, dan mereka mengetahuinya. Sedangkan untuk mengganti siang dan malam, mematikan dan menghidupkan seisi dunia, memisahkan dan mempertemukan siapa saja Allah sangat mudah melakukannya, apalagi sekedar mengubah rasa yang Dia titipkan. Khawatir hari ini aku berbunga melihatmu, namun esok aku sudah tak ingin mendengar namamu. . .