Daftar Blog Saya

Senin, 22 Mei 2017

Kakekku yang Lain


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 14 Mei 2017)
Kakekku yang Lain ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos
Kakekku yang Lain ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos
KAKEKKU yang lain, ayah dari mama yang biasa kami sebut ngoi akong [1] (kakek luar) adalah seorang dukun China. Di Bangka, orang-orang memanggil mereka sebagai sinsang. Xiansheng [2], apabila dieja dalam Mandarin.
Secara umum, xiansheng pada bahasa Mandarin berarti tuan atau bapak dalam bahasa Indonesia. Namun ia dapat juga dipergunakan untuk memanggil guru (laoshi) [3] dan dokter (yisheng) [4], atau katakanlah orang berilmu yang dihormati. Begitu pula halnya sinsang dalam bahasa Hakka. Hanya saja, di Bangka, panggilan sinsang sebagai tuan/bapak nyaris tak pernah dipakai. Lazimnya, kami menyapa sesama orang Tionghoa dengan panggilan kekerabatan seperti a suk, a khiu, a pak (paman), a ko (kakak), atau a ku (bung) jika sebaya. Panggilan sinsang dalam bahasa Hakka, di kampung kami, kurang-lebih semakna dengan panggilan sensei dalam bahasa Jepang, dan biasanya kami tujukan kepada para guru sekolah, dokter medis China (yang di Indonesia dikategorikan sebagai tabib dan sering pula disebut sinse), atau ya seorang dukun (nyaris pendeta) seperti ngoi akong.
Kata ibuku, ngoi akong mulai berpraktik sebagai sinsang setelah berhenti bekerja sebagai buruh parit penambangan timah akibat terkena mag akut. Usia akong ketika itu baru sekitar 40 tahun. Karena sebagian anak-anak mereka masih cukup kecil, nenek luarku—perempuan berkonde yang selalu mengenakan kebaya encim dengan sarung batik—akhirnya terpaksa mengambil alih mencari nafkah dengan menjadi pedagang keliling. Ngoi apho [5] mengambil pakaian dan kain dari toko-toko di Belinyu atau Sungailiat lalu menjajakannya ke kampung-kampung. Ta Kang Th eu [6], begitu istilahnya. Dan itu ia lakukan dengan bersepeda, terkadang berjalan kaki berpuluh-puluh kilo sambil menggendong buntalan.
Ya, bisa aku bayangkan kehidupan mereka yang tak gampang pada masa itu. Tetapi janganlah salah sangka, akong tidak pernah meminta bayaran apa pun dari orang-orang yang datang memohon bantuannya. Hanya saja, jika diberi, ia ambil. Jumlahnya pun terserah ke pada si pasien. Kadang banyak, kadang sedikit. Semua akan diterima akong dengan penuh syukur. Bahkan untuk orang-orang yang di ketahuinya memang kurang berpunya, akong selalu mengembalikan uang mereka. Cuma mengambil kertas merah pembungkusnya saja untuk menghargai niat tulus mereka.
“Kita tak boleh menyusahkan orang yang sudah susah. Tidaklah baik mencari keuntungan dari penderitaan orang lain. Para dewa akan marah. Akan ada karma,” ujar akong suatu kali. Kepada siapa, aku sudah lupa, tapi masih jelas terekam dalam ingatanku.
“Kemuliaan hati” ngoi akong membantu orang tanpa pamrih inilah yang membuat namanya terkenal luas ke mana-mana, tak Cuma di kampung Parit Empat dan daerah sekitarnya. Dan orang-orang selalu mengenal mama sebagai anak perempuannya. Begitu pula dengan diriku yang hanyalah salah satu cucu luar. “Oh! Cucunya Chen Sinsang!” begitulah kata orang-orang setiapkali aku menyebut nama ibuku.
Penampilannya senantiasa mengenakan celana ikat dan lebih sering tak berbaju, dengan badan yang kurus-jangkung dan janggut putih memanjang (yang kerap dielus-elusnya saat sedang berbicara) membuatku suka membanding-bandingkan sosok ngoi akong dengan para pendekar tua dalam film-film wuxia yang kutonton di bioskop atau para pertapa suci dalam cerita-cerita mitologi China yang didongengkan papa atau kakekku yang satu lagi. Ya, sosok dengan moralitas China lama yang rasa-rasanya memang hanya ada dalam dongeng-dongeng klasik. Karakter yang, kau tahu, sudah langka, sekalipun pada zaman kanak-kanakku. Namun demikian, kami –aku, keluarga besarku, dan orang-orang yang kenal pada akong—mengenang sosok dirinya.
***
NGOI akong bukanlah seorang pelaku ritual Tiao Thung yang lazim disebut Thung Se [7] seperti ketiga anak lelakinya, paman-pamanku. Tetapi ia membantu orang-orang berdasarkan pengetahuannya yang luas mengenai dunia gaib, alam ruh, dengan petunjuk dari kitab Thung Su [8] dan Sam Se Su [9].
Yang pertama adalah almanak China kuno yang telah dipergunakan selama berabad-abad dalam tradisi agraris peradaban Tiongkok dan terus diperbarui setiap tahun. Boleh dikatakan kitab ini merupakan semacam percampuran antara primbon dan tambo, dengan konsep dan perhitungan yang demikian rumit dan komplet perihal ruang-waktu. Termaktub di dalamnya antara lain metode ramalan ala Zhuge Liang yang termashyur.
Aku sempat membeli kitab ini di Hsinchu, Taiwan, saat diajak temanku Ajoku Lee menghadiri perayaan Yimin Chiat [10] pada bulan Agustus 2016. Namun yang kubeli tersebut merupakan edisi Taiwan. Sedangkan yang dipakai oleh ngoi akong adalah edisi Hongkong yang dengan mudah diperoleh di daerah Glodok. Kedua edisi ini memiliki perbedaan yang berarti. Edisi Taiwan tidaklah akurat dipakai di Nusantara lantaran perkara zona waktu cukup menentukan. Dalam sebuah obrolan di Facebook beberapa waktu silam, penyair Tionghoa Bali Tan Lioe Ie bahkan pernah menunjukkan padaku versi ringkas kitab ini dalam terjemahan bahasa Indonesia yang kukira tak bisa dipergunakan…
Sementara itu kitab kedua, Sam Se Su, secara harfiah berarti Kitab Tiga Kehidupan. Apabila Thung Su dipengaruhi oleh Taoisme, Sam Se Su jelas mengandung ajaran Budhisme yang kental. Tiga kehidupan yang dimaksud di sini adalah alam fana, alam baka, dan alam nirwana, dengan lingkaran waktu yang terus-menerus berkesinambungan, nyaris tak berkesudahan sebelum mencapai “pencerahan”.
Karena itu, untuk membaca, memahami, dan mempergunakan petunjuk dari kedua kitab ini tidak gampang. Selain memerlukan kecakapan dalam bahasa Mandarin (dan Hakka), juga dibutuhkan pengetahuan yang memadai mengenai astrologi China, mata angin, kelima unsur alam (api, air, udara, tanah, dan logam) yang semuanya saling kait-mengait, lengkap-melengkapi.
Ya, dengan berpegang pada kedua kitab itulah ngoi akong menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat dan para siluman, mengadakan kontak dengan orang-orang yang sudah meninggal, mencarikan hari baik untuk pernikahan-pemakaman atau mereka yang ingin membuka usaha, membuang sial dan sengkala, menentukan posisi rumah, dan kadangkala meramal nasib (meski yang terakhir ini jarang sekali ia lakukan).
Kepada orang-orang yang datang memohon bantuannya, biasanya (walaupun tidak selalu) ngoi akong memberikan mereka phu (atau ). [11] Akong menulis banyak phu, dan aku suka sekali memperhatikannya menulis phu di kelenteng kecilnya yang terletak di sudut kiri halaman depan rumahnya. Kelenteng kecil itu dibangun dari papan dan beratap genteng, hampir seusia rumah tua yang akong dan apho tempati bersama paman bungsuku beserta anak-istrinya.
Ada tiga buah kamar di rumah ngoi akong. Dua orang pamanku yang lain beserta anak-istri mereka juga pernah tinggal di sini sebelum mereka berhasil membangun rumah sendiri di sisa tanah pekarangan akong yang lumayan luas, di mana seorang saudara mereka, yakni paman tertuaku sudah terlebih dulu mendirikan rumah.
Akong tak pernah membeli tanah. Tanah itu dulunya hutan tak bertuan yang ditebasnya sendiri semasa muda. Pada masa itu, siapa pun boleh menebas hutan untuk kebun atau membangun rumah. Siapa yang dulu menebas, dialah yang punya. Maklum, kendati hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari Kota Kecamatan Belinyu, selama bertahun-tahun lamanya kampung Parit Empat tergolong daerah terpencil. Tanpa akses jalan beraspal, tanpa listrik. Barulah pada tahun 2000-an jalan diaspal oleh pemerintah dan PLN masuk untuk menancapkan tiang-tiang…
Hm, masih segar dalam ingatanku, bagaimana dengan sebatang kuas China yang dicelupkan ke dalam botol tinta merah buatan sendiri, tangan akong bergerak begitu lincah membuat goresan-goresan di atas tiga lembar kertas kuning yang diletakkannya berjajar di atas meja di depan altar Dewa Khi San Lo Mu. Banyak Th ung Se menulis phu menggunakan darah (dari lidah yang ditusuki jarum) dalam keadaan sedang trance dirasuki dewa. Namun untuk menulis phu-phu-nya, ngoi akong cukup menanyakan nama dan tanggal lahir para pasien (jika boleh disebut demikian), ditambah jam lahir apabila itu diketahui, lantas membuka Th ung Se atau Sam Se Su.
Ada beragam cara penggunaan phu. Tetapi, umumnya, ketiga lembar phu dari ngoi akong yang diberi nomor itu dibakar di atas gelas berisi air putih secara berurutan. Satu lembar diusapkan ke muka dan dada, lembaran kedua diminum beserta ampasnya, dan lembar terakhir dicampurkan ke dalam ember atau bak untuk dipakai mandi. Ada pula phu yang ditempel di atas pintu rumah atau pintu kamar sebagai penangkal bala dan ruh jahat, dan ada yang dilipat lalu di bungkus kain merah untuk dipakai di balik pakaian dengan peniti.
***
AKU sendiri pernah mengenakan phu yang dibungkus kain merah (dijahit dalam bentuk segitiga) sampai umur 13 tahun. Aku sudah lupa pada usia berapa aku mulai memakainya, tapi yang jelas setelah aku sembuh dari penyakit misterius yang (maaf) membuat “burungku” tiba-tiba menciut pada tengah hari.
Konon, menurut ngoi akong, aku digoda oleh Siluman Beringin berwujud sesosok gadis cantik yang berdiam di hutan belakang deretan ruko kami. Siluman ini memang sudah kerap mengganggu orang-orang. Ada seorang tukang daging babi yang mati tanpa sebab musabab sehari setelah ia melihat penampakan gadis itu dan membalas senyumnya yang menawan. Ibuku sendiri (dengan bakat melihat makhluk halus) pernah berkali-kali memergokinya memasuki dapur kami lalu menghilang di balik tungku. Jadi, bungkusan phu-ku itu adalah semacam azimat penangkal, dan lucunya aku sering mengenakannya bersama-sama dengan rosario pemberian pastor Belanda. Ibuku percaya, keduanya ditakuti oleh ruh jahat.
Sudah tak bisa dihitung lagi berapa sering aku minum ampas phu. Nyaris setiap kali aku sakit, mama selalu memaksaku menemui ngoi akong. Obat toko, obat herbal, obat dokter, obat tabib (papa lebih suka menyebut yang terakhir: dokter China!) hanya bisa mengobati penyakit fisik, tetapi takkan mampu mengatasi sakit akibat gangguan makhluk halus—demikian kilah mama berkeras.
Entahlah dari mana dan dari siapa, ngoi akong belajar membaca kitab Th ung Su dan Sam Se Su. Mama tidak pernah cerita, akong sendiri juga tidak. Tak seperti cin akong [12]—kakekku  yang di Belinyu, ngoi akong jarang berkisah dan tak pernah mendongeng untukku. Ia juga tidak membaca koran dan tak pernah terdengar membicarakan politik dengan siapa pun. Sejak tak lagi sanggup berkebun, ia lebih banyak bersantai di rumah jika tidak kedatangan “pasien”.  Setiap pagi ia akan duduk-duduk di bangku kayu panjangnya di teras sambil mengisap lintingan tembakau ditemani segelas arak putih.
Dugaanku, ngoi akong tak pernah mendapatkan pendidikan China modern seperti anak-anak lelakinya, dan jelas tak mungkin me nempuh pendidikan klasik Empat Kitab Lima Pustaka. Barangkali dulu ia hanya belajar baca-tulis sekadarnya di sekolah-sekolah China rendah yang—menurut data yang berhasil kuhimpun belakangan ini—telah tersebar di banyak permukiman Tionghoa sebelum Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) didirikan di Belinyu pada tahun 1908.
Sejujurnya aku memang tak tahu banyak tentang masa lalu ngoi akong. Mama hanya pernah bercerita kalau semasa muda ayahnya pernah belajar kanuragan dan ilmu kesaktian Mao San [13]. Ia berlatih pukulan Telapak Petir, kata mama ketika itu, yang membuatku tercengang dan seketika teringat buku-buku cerita silat populer yang kusewa di kios bacaan samping bioskop Gelora. Ya, sampai suatu hari ngoi akong menguji pukulan saktinya itu pada sebatang po hon duku…
“Batang duku itu hangus menghitam keesokan paginya seperti terkena sambaran petir, dan seorang kakakku meninggal tak lama berselang. Sejak itulah kakekmu memutuskan membuang ilmunya…,” kenang mama dengan nada getir. Sekali lagi aku tercengang.
Banyak orang yang sudah mati juga mendatangi ngoi akong untuk meminta bantuannya menyampaikan pesan kepada keluarga mereka yang masih hidup atau sekadar berkeluh-kesah. Umumnya mereka adalah arwah para tetangga, kenalan, atau yang masih terhitung sebagai kerabat kami. Tetapi sesekali ada juga arwah orang-orang yang tak dikenal oleh akong semasa mereka masih hidup. Kemunculan arwah-arwah itu biasanya menjelang dinihari ketika akong bangun untuk buang air kecil dan minum. Mereka menunggu dan menampakkan diri kepada akong di dapur.
Tidak semua arwah itu ditanggapi oleh akong. Terutama arwah-arwah yang agak menjengkelkan, yang muncul terus berulang-ulang dan mengeluhkan masalah itu-itu juga atau yang datang hanya untuk mengomel tidak keruan. Namun selebihnya mereka bersikap cukup sopan. Karena itu akong selalu mencoba mendengarkan mereka seperlunya lalu meminta mereka pergi baik-baik setelah berjanji akan menyampaikan pesan mereka.
Aku dan mama yang tidur sekamar dengan akong dan apho (di ranjang kecil di depan kepala ranjang besi akong) atau di dipan ruang tengah jika cuaca agak panas, kerap ikut terbangun. Maklum, kadangkala arwah-arwah itu lumayan berisik, bahkan ada sebagian kecil yang suka berbuat gaduh: membanting pintu atau menjatuhkan panci-panci dari gantungannya di dinding dapur.
“Sssttt… Itu cuma tikus, tidurlah lagi,” bisik mama sambil mendekapku. Tetapi aku tak mudah percaya begitu saja. Dari suara mama yang agak kecut, aku tahu kalau ibuku berbohong. Lagi pula bulu kudukku terasa berdiri. Maka aku menutup wajahku dengan selimut dan dalam kegelapan samar-samar aku mendengar suara ngoi akong bercakap-cakap dengan seseorang di dapur.
Rasa takut ternyata tak mampu mengalahkan rasa penasaranku. Suatu hari aku tidak bisa lagi menahan diri dan bertanya pada paman bungsuku tentang apa yang terjadi.
“Kakekmu kedatangan tamu,” jawab paman kalem. Dan aku terus mendesaknya, hingga akhirnya ia pun mengalah dan memberitahuku: “Itu hantu-hantu…” Aneh, alih-alih takut, saat itu aku malah merasa takjub. Aku tahu paman kemudian diomeli oleh nenekku karena menceritakan “kenyataan” yang tak baik diberitahukan kepada anak kecil.
Toh, pengalamanku dengan arwah-arwah di rumah ngoi akong tidaklah sampai di sini saja. Berkali-kali kemudian aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ngoi akong melakukan semacam “exorcism”, pengusiran hantu. Tak seheboh film-film Hollywood atau sinetron horor ala Indonesia, akong biasanya hanya mengajak mereka berkomunikasi, menanyakan kenapa mereka mengganggu orang hidup. Kali ini, tentu saja, mereka menjawab akong lewat mulut orang-orang yang dirasuki: para tetangga, orang-orang jauh, dan (sekali) salah seorang bibiku!
Ada beragam alasan yang diberikan arwah-arwah itu. Ada yang marah lantaran istrinya menikah lagi, ada yang merasa belum ingin mati, ada pula yang mengaku saat sakit tidak diurus dengan benar oleh menantunya, ada juga yang kecewa karena rumah warisannya dijual. Tetapi kebanyakan dari mereka mengaku merasa diabaikan oleh keluarganya: makamnya jarang diziarahi oleh anak-anaknya atau bahkan tidak lagi disembahyangi.
“Aku lapar, tidak punya uang, tidak punya baju baru. Putraku tidak pernah lagi membakar uang arwah dan pakaian untukku sejak ia masuk Kristen! Aku malu harus berhutang terus di alam sana…” Begitulah kurang-lebih pengakuan salah satu arwah lewat mulut “pasien” ngoi akong yang masih kuingat. Sebagian dari mereka menangis dan meratap-ratap memilukan saat disuruh pergi oleh akong. Tetapi yang paling susah diusir adalah mereka yang mati bunuh diri. Sehingga untuk jenis yang satu ini, akong terpaksa bertindak lebih tegas: membentak mereka dan mengancam akan membakar phu di atas kuburan mereka jika mereka tidak mau keluar.
Bertahun-tahun kemudian, setelah ngoi akong meninggal, aku melihat paman bungsuku, dalam keadaan tengah dimasuki oleh dewanya, mengusir arwah yang merasuki salah seorang sepupuku dengan pedang tajam mengilap…
***
KAKEKKU dari Belinyu terkadang datang mengunjungi besannya. Kedua akong-ku itu selalu tampak akur dan akrab. Yang satu rasionalis pengagum Mao yang “bertobat” jadi murid Kristus, sementara yang lain lelaki berjenggot panjang yang berkaul kepada para dewa China; yang satu China totok, yang seorang lagi China peranakan. Lucu rasanya jika diingat-ingat kembali sekarang. Namun keduanya tak pernah terlibat dalam perdebatan apa pun. Biasanya mereka cuma duduk-duduk mengobrol santai di teras sambil ngopi. Keduanya agaknya memang sama-sama berusaha mengelakkan pembincangan yang bakal menjurus kepada perbedaan.
Tetapi satu hal yang pasti, cin akong tak pernah mau berada dekat-dekat dengan kelenteng kecil itu. Terlebih jika kebetulan di sana salah satu pamanku sedang melakoni ritual Tiao Th ung. Atau, apabila ngoi akong kedatangan “pasien”, ia akan bergegas menjauh dengan berpura-pura mencari tempat yang nyaman buat merokok. Sampai kini aku tidak tahu apakah hal itu merupakan ekspresi imannya, atau hanya semacam penolakannya terhadap dunia mistik yang dilarang oleh Gereja Katolik Roma.
“Kalau ada akong di dekat kelenteng, dewanya tidak bakal mau datang,” demikianlah jawaban cin akong saat kutanya suatu hari. Namun ketika ia jatuh sakit parah pada umur 60-an, ngoi akong pun bergegas membuka kitab Sam Se Su untuk mencari petunjuk. Dan tatkala menemukan bahwa ajal besannya itu ternyata sudah mendekat, ia berupaya keras untuk menggeser garis waktu. Hasilnya: cin akong kembali segar-bugar sampai belasan tahun kemudian.
Aku sedang berada di dalam kelas mengikuti pelajaran ketika seorang guru memanggilku ke kantor dan memberitahu kalau ngoi akong meninggal dunia. Aku tidak begitu ingat, apakah saat itu aku kelas tiga atau kelas empat. Akong tidak sakit. Ia boleh dikatakan jarang sekali sakit, meskipun usianya sudah 92 tahun dan anak-anaknya selalu mencemaskan kesehatannya karena kebiasaannya merokok dan minum arak.
Ngoi akong meninggal karena tersedak kue thiam pan [14] pada Perayaan Thian Chon Ngit [15]. ***

Krapyak Wetan, Jogjakarta, Maret 2017

Catatan:
Cerita ini merupakan kelanjutan dari himpunan cerita “Memoar Pulau Timah”.
[1]. Mandarin: 外阿公 [Wài āgōng].
[2] Mandarin: 先生 [Xiānshēng].
[3]. Mandarin: 老師 [Lǎoshī].
[4]. Mandarin: 醫生 [Yīshēng].
[5]. Mandarin: 外阿婆 [Wài āpó].
[6]. Bahasa Hakka. Saya tidak berhasil mencari padanannya dalam bahasa Mandarin.
[7]. Hakka: 跳童[Tiào Tóng] adalah ritual memanggil dewa merasuki tubuh; sering juga disebut Tatung atau Lok Thung. Pelakunya: Thung Se (Tóng Zǐ [童子]).
[8]. Mandarin: 通書 [Tōng Shū].
[9]. Mandarin: 三世書[Sānshì shū].
[10]. Mandarin: 義民節 [Yìmín Jié] atau Memorial Festival; yang jatuh pada setiap hari ke-20 bulan 7 kalender lunar merupakan festival masyarakat Hakka di Xin Pu, Xin Zhu, Taiwan untuk mengenang para veteran perang.
[11]. Mandarin: 符 [Fú]. Kertas kuning persegi panjang berisi mantra yang digunakan sebagai jimat untuk penangkal bala dan ruh jahat.
[12]. Mandarin: 真阿公 [Zhēn āgōng].
[13]. Mandarin: 茅山[Máoshān].
[14]. Hakka: 甜􄮁 [Tiám Bǎn]. Secara harfi ah berarti Kue Manis; di Jawa disebut Kue Keranjang.
[15]. Mandarin: 天穿日[Tiān Chuān Rì] atau 天穿節[Tiān Chuān Jié]. Hari Menambal Langit; biasanya dirayakan oleh orang Hakka setiap hari ke-20 bulan 1 kalender lunar.

Ketika Angina Tak Mampu Lagi Memasak


Cerpen Novita Hidayani (Suara Merdeka, 14 Mei 2017)
Ketika Angina Tak Mampu Lagi Memasak ilustrasi Suara Merdeka
Ketika Angina Tak Mampu Lagi Memasak ilustrasi Suara Merdeka
Energi Angina terkuras memikirkan apa yang harus dia hidangkan di meja makan nanti malam. Meja di hadapannya terlihat sangat angkuh, seperti wajah istri yang menantang perempuan yang mengancam keutuhan rumah tangganya. Ia ingin menaklukkan meja makan itu. Ia ingin menyuguhkan piring-piring berisi aneka rupa masakan yang mampu membuat lidah siapa saja yang mencicipi takluk, tak mampu bergerak mengucap sepatah kata pun, selain mengecap makanan yang dia buat.
Perempuan kurus berwajah tirus itu duduk dengan posisi tangan di atas meja seperti orang memohon. Ia menatap lekat-lekat bayangan hitamnya di meja kayu mahoni yang mengilat karena telah dia lap berkali-kali tadi. Seolah-olah meja itu akan berbicara dan memberi tahu masakan apa yang harus dia masak kali ini.
Pertama-tama Angina harus memikirkan konsep apa yang tepat untuk acara makan malam nanti. Membuatnya romantis dengan lilin-lilin atau hangat dengan suasana kekeluargaan? Tidak, tidak! Angina ingin makan malam nanti mencerminkan dirinya. Ia ingin siapa pun yang hadir bisa merasakan perasaannya.
Telapak tangan Angina terasa basah. Memikirkan hal itu kembali membuat dia gugup dan jantungnya berdetak tak keruan. Ia bangun dari kursi dan berjalan cepat menuju jendela. Ia merasa lebih baik memikirkan hidangan apa saja yang akan dia masak. Konsep bisa menyusul belakangan. Selain itu tentu dia harus mendiskusikan dengan Yuba lebih dahulu.
Lonceng jam yang berdiri gagah di ruang tamu berdentang empat kali diikuti sedikit suara instrumen pendek yang menandakan waktu saat ini. Suaranya menggema sampai ke dapur tempat Angina, hingga ke seluruh ruangan di rumah itu. Kecuali sebuah ruangan terpisah cukup jauh di halaman belakang rumah. Sudah pukul empat sore dan Angina belum tahu akan memasak apa. Ia duduk di jendela dapur yang cukup lebar dan rendah, menatap hampa ke arah ruangan terpisah yang jadi gudang penyimpanan peralatan berkebun ayah Yuba. Semenjak kematiannya dua tahun lalu, tak ada yang menggunakan alat-alat itu lagi. Hanya ia dan Yuba yang masih sering mengunjungi ruangan itu.
Angina menimbang-nimbang apakah akan memasak masakan tradisional yang kaya rempah-rempah atau western yang tidak terlalu merepotkan. Namun ibunya dulu pernah memberi tahu, kemampuan seseorang dalam memasak baru terbukti ketika lihai mengombinasikan rempah-rempah menjadi hidangan lezat di lidah dan hangat di perut. Sementara masakan western tak banyak menggunakan rempah-rempah. Hanya mengunggulkan keju, sosis, dan mayones.
Ya! Sepertinya ia akan memasak masakan tradisional. Untuk makanan pembuka, ia akan membuat puding. Bukankah itu sangat tepat disandingkan dengan makanan berat, hidangan yang tidak memakan banyak waktu pembuatan. Jadi ia memiliki waktu lebih untuk memasak masakan utama. Meracik bumbu setepat mungkin agar tercipta hidangan yang mampu membuat lidah siapa saja yang mencicipi takluk, tak mampu bergerak mengucap sepatah kata pun, selain mengecap masakannya seperti yang dia angan-angankan. Selain itu, ia sangat percaya diri dengan puding kurma buatannya.
Angina bergegas ke dapur. Dengan cekatan dia mengeluarkan rempah-rempah serta ayam, daging, sayur-sayuran dari lemari es beserta seluruh wadah yang akan digunakan di meja dapur. Namun tiba-tiba ia termenung di hadapan bahan yang tersebar di hadapannya itu. Yuba sangat menyukai sushi buatannya. Ia selalu memuji Angina setiap kali membuatkan sushi.
“Sushimu benar-benar lezat, Angina. Aku tak habis pikir kenapa kau bisa begitu lihai memasak.” Yuba sering mengatakan itu padanya.
Apa tidak sebaiknya ia memasak sushi?
Beberapa detik berlalu sebelum Angina menggeleng cepat. Kali ini ia memasak bukan untuk memuaskan Yuba dan mendapatkan pujian dari laki-laki itu seperti biasa. Ia memasak untuk menunjukkan siapa dirinya. Ia ingin menunjukkan seberapa hebat dia pada Yuba dan perempuan yang akan dibawa nanti. Ia ingin menunjukkan seberapa kuat dia dibandingkan keputusan yang telah dibuat Yuba dan perempuan itu. Bahwa ia sungguh tak apa-apa atas kehadiran perempuan di tengah-tengah kebersamaannya dengan Yuba.
Angina menghela napas panjang sembari menguatkan diri. Ia mengambil pisau besar yang menggantung di hadapannya dan daging ayam tanpa kepala dan kaki dari lemari es. Angina mengayunkan pisau sekuat tenaga, sehingga ayam itu terbelah jadi dua bagian seketika. Seakan-akan seluruh perasaannya terkumpul di pisau itu. Ketika sebuah ingatan tiba-tiba berputar di kepala, mendadak ia merasakan tenggorokannya sakit.
Ia mengingat ciuman pertama dengan Yuba karena andil seekor ayam. Saat itu Angina hendak mengambil telur ayam yang akan dia masak dari kandang ayam tepat di samping gudang penyimpanan alat-alat berkebun ayah Yuba. Ayah Yuba yang baru selesai berkebun menyarankan memakai telur di lemari es saja, tetapi Angina bersikeras menggunakan telur ayam itu. Telur ayam kampung adalah telur paling sempurna untuk dicampurkan dalam sup jagung manis, katanya.
Dan ketika Angina menjulurkan tangan mengambil beberapa butir telur di kandang ayam yang semula sepi, tiba-tiba induk ayam datang entah dari mana dan menggempur Angina. Angina yang menggunakan tangga untuk mencapai kandang ayam seketika kehilangan keseimbangan dan jatuh. Untung Yuba mengikuti. Laki-laki itulah yang menyangga tubuhnya.
Saat itu ia merasakan hangat dan sedikit aliran listrik di dada. Waktu seakan melambat sekali bergerak dan semua menjadi bisu, hingga ia bisa merasakan jantung Yuba berdetak cepat di dadanya. Saat itulah laki-laki itu kali pertama menyentuh bibirnya dan memeluk erat. Ciuman lembut itu pelan-pelan menjadi tak terkendali. Hingga keduanya beralih menuntaskan segala yang mendesak di gudang penyimpanan peralatan berkebun ayah Yuba.
Pisau yang dipegang Angina kini mendarat lemah di atas ayam itu. Tangannya bergetar ketika ingatan kebersamaan dengan Yuba menyerbu dari segala penjuru dapur yang kerap menjadi saksi bisu keduanya saat bercumbu sembunyi-sembunyi dari ayah Yuba yang sibuk berkebun di halaman belakang dekat gudang.
Angina mengingat semua itu dengan jelas, bahkan sentuhan-sentuhan Yuba terasa hadir bersamanya. Terlebih pelukan yang selalu terasa hangat membenamkan dia dalam perasaan nyaman dan aman. Kata-kata manis Yuba saat memuji dia dan mengatakan sangat mencintai dia juga terngiang-ngiang di telinganya. Namun ketika Angina menutup mata, bayangan wajah Yuba saat mengatakan akan menikahi perempuan lain menari-nari di pelupuk matanya. Angina menggenggam gagang pisau itu kuat-kuat.
“Aku mencintaimu, Angina. Aku masih mencintaimu. Aku akan tetap mencintaimu.” Kata-kata Yuba berdengung di telinga Angina. Pisau yang semula dia genggam erat di tangan, kini terlepas begitu saja dan jatuh dengan suara cukup keras membentur lantai. Suaranya menggema di antara lorong-lorong dapur.
Suara bisikan Yuba juga kembali terngiang di telinganya. “Tak akan ada yang berubah, meski aku menikahi perempuan itu. Kita akan terus bersama bukan? Kau bisa tetap bekerja di sini. Memasak untuk kami. Tak akan ada yang berubah. Hanya kita akan melakukan sembunyi-bunyi seperti saat ayahku masih ada dulu. Jadi apa yang kaukhawatirkan?”
Angina menghela napas lagi. Kali ini lebih panjang dan berat. Tenggorokannya makin terasa sakit. Matanya juga terasa memanas. Ia akan tinggal bertiga di rumah ini. Ia, Yuba, dan perempuan itu. Ia tak akan jadi satu-satunya lagi. Ia membayangkan Yuba dan perempuan itu melakukan hal-hal yang biasa Yuba dan dia lakukan di rumah ini. Tangisnya tumpah. Angina terisak beberapa waktu. Di hadapan dua belah ayam yang semula dia potong, rempah-rempah, sayur-sayuran, telur, dan wadah-wadah kosong yang belum dia gunakan.
Matahari di luar diam-diam turun meninggalkan dia. Makin gelap saja dapur tempat dia berdiri. Lonceng jam di ruang tamu berdentang enam kali diikuti suara instrumen yang telah melekat erat dalam ingatannya layaknya seluk-beluk rumah ini beserta seluruh isi dan kenangannya. Makan malam akan berlangsung sejam lagi dan ia belum memasak apa pun.
Ia berjalan menuju bak cuci piring, menyalakan keran dan mencuci tangan serta wajah. Kemudian ia bergegas menuju telepon rumah di antara dapur dan ruang tamu. Lantas segera menekan beberapa digit angka yang telah dia hafal luar kepala.
“Halo, KFC Delivery? Iya. Saya pesan tiga paket ayam komplet untuk Jalan Kalelui Nomor 25. Dalam tiga puluh menit bisa? Iya. Terima kasih.”
Suara air dari keran yang belum dia matikan terdengar lebih jelas. Senggukan Angina tinggal satu-dua yang masih terdengar. Di situ, di tengah ruangan yang makin pekat itu. (44)

Mataram, 3 Januari 2017
Novita Hidayani lahir di Kediri, Lombok Barat, 29 November 1993. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Mataram ini belajar di Komunitas Akarpohon Mataram. Cerpen-cerpennya disiarkan sejumlah surat kabar.

Robot Idaman

Cernak Lish Adnan (Suara Merdeka, 14 Mei 2017)
Robot Idaman ilustrasi Suara Merdeka
Robot Idaman ilustrasi Suara Merdeka
Danu ingin sekali memiliki robot-robotan. Teman-teman di sekolahnya banyak yang  sudah mempunyai. Hampir setiap jam istirahat, mereka membicarakan soal robot miliknya yang hebat.
Siang ini, mereka sudah janjian akan ke rumah Andi untuk bermain robot-robotan. Danu yang tidak memiliki robot menjadi sedih. Tapi dia tetap akan datang ke rumah Andi.
Setelah makan siang di rumah, Danu pamit kepada Ibu untuk ke rumah Andi.
Rumah Andi sudah ramai oleh anak-anak. Ternyata tidak hanya anak laki-laki, ada anak perempuan juga. Tapi anak perempuan tidak membawa robot. Mereka hanya ingin menyaksikan para robot beraksi seperti halnya Danu.
Ciuuu… Ciuuu… Drottotototot….
Fire, fire…
Suara robot di halaman rumah Andi terdengar ramai sekali. Anak-anak berkerumun melihat aksi para robot. Danu melongo saat melihat robot milik Andi beraksi.
“Koda siap bertugas,” suara robot milik Andi yang bernama Koda. Usai mengeluarkan kata-kata seperti itu, robot tersebut memberi hormat lalu mulai berjalan dan mengeluarkan bunyi tembakan.
“Wah keren sekali robot milikmu, Andi,” komentar Reza.
“Iya, ia bahkan bisa berbicara,” kata Danu.
Anak-anak yang lain juga dibuat takjub dengan robot milik Andi. Robot itu bisa berjalan ke segala arah. Saat ada benda di depannya, robot tersebut bisa berputar sendiri mencari jalan lain.
***
Di rumah, Danu terus teringat dengan robot Andi.
“Ibu, Danu minta belikan robot-robotan dong! teman-teman Danu sudah punya,” pinta Danu.
“Kamu main pakai robot yang dulu saja, ya!” balas Ibu.
“Tapi, Bu, robot Danu yang dulu kan nggak bisa bergerak sendiri. Kalau yang sekarang lagi ngetren itu robot yang bisa berjalan sendiri, bisa mengeluarkan suara juga, Bu. Danu nggak mau main robot yang dulu. Belikan ya, Bu. Masa cuma Danu yang nggak punya,” rengek Danu.
“Uang Ibu nggak cukup buat beli robot seperti itu, Danu,” jawab Ibu sembari menyetrika pakaian.
“Ibu kamu benar, Danu. Lagi pula, mainan seperti itu biasanya kan musiman. Nanti ada lagi mobil-mobilan terbaru, kamu minta beli lagi. Sayang uangnya,” ujar Bapak yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Danu dan ibu.
“Kenapa sih, Bapak nggak kerja di kantor saja? Jadi kan punya uang yang banyak,” ucap Danu.
“Bekerja itu yang penting halal. Bekerja sebagai tukang servis lebih baik daripada Bapak nggak punya pekerjaan?” ucap Bapak terkekeh.
Bapak memang orang yang sabar. Tapi tidak dengan Danu. Dia malah manyun mendengar jawaban Bapak dan segera pergi ke kamarnya.
***
Gara-gara tidak dibelikan robot, Danu ngambek. Ia jadi jarang berbicara dengan ibu dan bapak.
Setelah dua hari ngambek, Danu tak tahan juga. Dia akhirnya meminta maaf.
“Sudah capai ngambeknya?” ledek Bapak.
“Hehee… ngambek itu nggak enak, Pak,” balas Danu.
“Jadi kamu sudah melupakan mainan robot itu?” tanya Ibu.
Danu menggeleng dengan cepat sambil tersenyum.
“Danu akan menabung. Kata Bu Guru, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Jadi, sebagian uang saku Danu akan ditabung. Nanti kalau sudah satu bulan, uangnya buat beli mainan robot yang keren,” jelas Danu dengan semangat.
Ibu dan Bapak mendukung Danu untuk menabung.
Sebelum berangkat sekolah, Danu memasukkan setengah dari uang sakunya ke dalam celengan. Dia takut kalau sudah dibawa ke sekolah akan dipakai untuk jajan.
Dua minggu sudah Danu menabung. Dia tidak jajan banyak di sekolah. Akibatnya, Danu cepat merasa lapar. Dia langsung makan setelah pulang sekolah.
Siang itu, saat Danu sedang menonton TV, Bapak pulang dan duduk di samping Danu.
“Danu, ini buat kamu!” kata Bapak sambil memberikan sebuah kantong plastik kepada Danu. Bapak tersenyum ceria saat memberikannya.
“Ini apa, Pak?” tanya Danu penasaran.
“Buka saja!” kata Bapak.
Danu bertanya-tanya apa sebenarnya isi dari kantong plastik yang diberikan Bapak. Seperti ada kotak di dalamnya. Jarang sekali Bapak memberikan sesuatu seperti itu. Padahal hari itu juga bukan ulang tahunnya.
“Woah, Pak, ini robot-robotan buat Danu?” teriak Danu kegirangan.
“Iya, itu buat kamu.”
“Terima kasih ya, Pak. Danu senang sekali. Ini bahkan ada remot kontrolnya. Keren sekali!” ucap Danu sembari mengamati robot yang berada di tangannya.
“Iya. Bapak juga bahagia bisa memberikanmu mainan seperti itu,” ucap Bapak dengan mata berkaca-kaca.
Ibu datang menghampiri. Rupanya Ibu sudah tahu perihal robot itu.
“Ada yang memberikan robot itu pada Bapak sewaktu membetulkan radio miliknya. Katanya robot-robotan itu milik anaknya yang sudah SMA. Robot itu juga sudah rusak. Bapak coba membetulkannya dan ternyata bisa,” cerita Bapak panjang lebar.
“Danu senang sekali, Pak. Maafkan Danu karena pernah merendahkan pekerjaan Bapak sebagai tukang servis barang elektronik,” kata Danu sambil memeluk Bapak.
“Bapakmu itu memang hebat. Kamu juga hebat karena mau menabung,” ucap Ibu bahagia.
Danu bahagia sekali. Robot idaman sudah berada di tangannya. Uang yang sudah ditabung selama ini akan dia simpan untuk keperluan lain. (58)

Kota Kami


Cerpen Lena Hanifah (Media Indonesia, 14 Mei 2017)
Kota Kami ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia
Kota Kami ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
TAK ada peristiwa besar yang memungkinkan wajah kota kami muncul di halaman utama surat kabar nasional. Kota kami tak pernah dilanda bencana yang meluluhlantakkan segenap bangunan, menghalau warganya ke tenda-tenda pengungsian, lalu dibanjiri cahaya kamera. Sungai di kota kami hanya sesekali memuntahkan air, menggenangi jalan, dan muntahan itu kami sambut dengan keriangan seperti piknik.
Tidak pula kota kami pernah menyelinap dalam ucapan lantang seorang tokoh yang kami harapkan berkata; “saya berasal dari kota B.” Atau yang diam-diam kami doakan berada di jalur kunjungan Bapak Presiden, sehingga akan tersiar secara viral berita tentang salah satu keponakan kami, yang dengan semringah tersenyum di televisi, sambil menggandeng sepeda baru.
Tidak! Kota kami tak semewah itu. Bahkan jika seseorang cukup berani untuk membanggakan pada kenalan barunya, yang muncul ialah kernyitan di dahi. “Di mana itu?” Orang itu lalu berusaha menunjukkan di mana kota kami berada di peta digital. Tapi, alih-alih aplikasi itu memperlihatkan posisi tepatnya, yang muncul adalah kota dengan nama yang mirip di negara antah berantah. Tapi jangan khawatir, andai suatu saat kau berkenan, senanglah aku membawa kau berkeliling di kota kami. Menuju ke sana tidaklah terlampau sulit. Eh? jangan membayangkan kau harus menaklukkan semak belukar dan binatang buas, meski kau sering mengejekku dengan bercanda bahwa aku berasal dari hutan belantara.
Jalan menuju ke sana cukup bagus. Lima jam perjalanan melalui jalan beraspal yang cukup membuat petualanganmu selama ini tidak berarti apa-apa dibanding terpacunya adrenalin saat diapit truk-truk besar pengangkut batu bara dan semen. Salah seorang sahabatku dari Amerika (keren bukan?) yang pernah berkunjung menolak memejamkan mata untuk beristirahat barang sejenak. Dia bilang tidak mau mati dalam keadaan penasaran. Jadi, aku biarkan saja dia sebentar-sebentar mencengkram tas tangannya karena kecemasan yang berurat berakar di perutnya. Lalu muntahlah ia. Mabuk darat.
Transportasi umum? O, tentu ada. Murah. Sekitar tiga puluh lima ribu sampai empat puluh lima ribu rupiah, sepertinya. Tak seberapa bukan? Ada hiburan musik dangdut koplo tersedia. Jendelanya akan menyiarkan hamparan ladang berdebu dengan sebaris sukarelawan yang meminta sumbangan untuk langgar di tepi jalan. Sopirnya sering merokok, dan ramah menjawab setiap perbincangan sambil mengepulkan asapnya ke wajahmu yang mungkin akan terbatuk-batuk. Sopir taksi colt yang menuju kota kami rata-rata adalah saudara kami juga. Kau bisa tahu itu dari garis wajah mereka yang lumayan menarik, meski mereka lelah dan cemas karena penumpang yang makin berkurang.
Kenapa katamu? Sederhana saja, orang-orang di kota kami senang memiliki kendaraan. Kau akan takjub melihat betapa anak SD dengan jumawa mengendarai sepeda motor. Jangan tanya soal mobil. Mobil apa yang tidak ada di kota kami. Dari mobil paling mewah sampai buruk ada, dan mereka tentu lebih senang naik kendaraan pribadi ketimbang naik kendaraan umum untuk bolak-balik menuju ibu kota provinsi. Jadi tidak perlu cemas, kita pasti sampai kesana meski kau harus menahan kentut dan sakit perut karena kita tidak bisa sembarangan meminta berhenti pada sopir. Semua tentu ingin cepat sampai. Jadi, jangan mengganggu dengan minta berhenti di toilet atau di mana pun. Jangan pula kau sembarangan melepas kentutmu itu. Bisa kau bayangkan bagaimana jadinya jika ada angin busuk menyebar di dalam colt sempit yang penuh dengan penumpang. Mereka sudah cukup muak mengutuk dan berkeringat. Jangan kau tambahi penderitaan mereka.
Omong-omong tentang garis wajah yang menarik, kau tahu bahwa gadis dan bujang dari kota kami memiliki wajah cantik dan molek. Hal itu sudah menjadi buah bibir di provinsi kami. Jadi, kami cukup memiliki sesuatu yang membanggakan juga. Kelebihan fisik yang mungkin tercipta karena posisi kota kami yang berada di lembah yang sejuk.  Ditambah lagi dengan kegemaran mereka menggunakan ramuan tradisional pupur dingin untuk perawatan wajah.
Dingin dan lamban. Ya, kota kami tumbuh lamban, seperti caramu menyisir tepi jurang yang dalam pada salah satu petualanganmu. Satu-satu dan hati-hati. Bangunan tua membusuk dan bangunan baru merayap seperti bayi sembilan bulan. Di tiga puluh tahun pertama usiaku, tidak ada gedung baru dibangun sebagai mercusuar kota. Bioskop lama dan satu-satunya di samping gedung pegadaian tempat ibu kami menggadaikan cincin kawinnya dulu, konon sudah digantikan oleh warung anak muda dengan musik yang melantun keras menantang zaman.
Kafe. Katamu. Bukan warung. Ya, kafe. Tempat baru untuk para keponakan dan sepupu kami yang muda-muda. Tapi, mereka lebih senang pergi ke ibu kota provinsi dan sebisa mungkin tidak kembali lagi. Pulang hanya untuk berlibur dan membanggakan logat baru mereka. Apalagi jika mereka tinggal di ibu kota negara. Susah payah mereka mengingat arti susunduk lawang atau lulungkang. Kata panggil aku dan kamu pun berganti dengan kata ganti aku-kamu ala ibu kota. Kami terkagum-kagum memandanginya. Ikut bersorak pada setiap kisah kemenangan. Ikut bersedih pada tiap kisah kemalangan. Mereka tampak menakjubkan. Keponakan dan sepupu lain, kami tahu, dalam hati berharap bisa mengikuti jejak mereka. Jika tidak bisa, cukup puaslah mereka menghabiskan malam di kafe baru tadi.
Jika kau tidak suka kafe tadi, mari kita beranjak pergi. Berhadapan kita akan duduk di warung mie tua yang sudah ada sejak aku belum lahir. Warung mie yang merupakan satu-satunya kemewahan di masa kecilku. Yang hanya buka di atas jam sembilan malam dengan antrean mengular tanpa henti. Aku yakin kau akan terheran-heran dan bertanya apa yang istimewa dengan warung mie itu sehingga antreannya bisa berjam-jam. Aku akan tersenyum sambil melayangkan pandang pada lelaki tua berkulit hitam yang mengaduk-aduk mie di penggorengan besar. Cat kuning yang mengelupas di dinding warung itu berbaur dengan kalender basi yang sudah tahunan tak pernah diganti. Anak kecil yang menangis karena mengantuk, lapar, dan lelah. Gadis muda yang sesekali menghentakkan kakinya karena kenyamukan. Perempuan berkerudung dan laki-laki berkopiah putih yang masing-masing memberengut pada telpon genggamnya. Sementara di tak jauh dari situ, menunggu pula serombongan lelaki bergamis putih yang baru pulang pengajian, bersandar di dinding warung rokok yang ditunggui perempuan tua sambil mengunyah sirih.
Kau mengehela napas. Tidak, sayang. Jangan memandang remeh begitu. Meski jarang diingat, begini-begini kota kami melahirkan banyak tokoh dari rahimnya yang perih karena ketertinggalan. Mereka yang pergi dan tak kembali. Atau mereka yang mencoba kembali, lalu putus asa, dan pergi lagi secepat yang mereka bisa. Atau mereka yang kembali dan tetap tinggal, yang dengan sisa idealisme merasuk ke partai-partai. Kota kami dengan sayang akan tetap memeluk siapa pun yang bertahan, juga mengirimkan mimpi bagi mereka yang berlari pergi.
“Sudahlah, Bu…” Kau berkata sambil menyalakan pemanas untuk menghangatkan tubuhku. Aku terdiam. Rambut pirangmu yang tak pernah merasakan hembus angin dari kota kami bergoyang perlahan. Aku ingin menyahut, memaksamu agar kembali duduk mendengarkan cerita kota kami yang kutinggalkan berpuluh tahun yang lalu karena semua yang tersisa dari ayah kami kakekmu dirampas. Diambil paksa oleh adik kandungnya karena tak satu pun kakak atau adik lelaki yang kupunya. Meninggalkan aku terkaing di jalan. Menyeretku ratusan ribu kilometer jauhnya dari rumah masa kecil. Mendamparkan aku di sini. Kota asing yang bukan kota kami. Kota yang menawarkan gemerlap dan kemerdekaan. Kota yang mengulurkan tangganya agar kunaiki, yang dipuncaknya berdiri ayahmu. Bermata cokelat seperti kastanye. Rambut pirang dengan senyum kekanak-kanakan yang jenaka. Kota yang dikelilingi seribu pantai, tapi tak satupun yang bisa kulabuhi meski ada ayahmu sebagai kapten.
“Tapi ini kotaku,” ujarmu.
Aku tahu kau akan berkata begitu. Tali pusarmu ditanam di sini, di bawah senyum geli ayahmu. Tak ada yang menanam tali pusar di sini. Tapi ia membiarkanku melakukan itu. Tali pusarku ditanam di kota kami. Di salah satu pojok halaman belakang rumah kami. Di bawah senyum ayahku dan lembut belai ibuku. Ia merajutkan benang tak kasat mata ke segala penjuru di mana aku berada. Menjalin simpul laba-laba abadi yang tak bisa kurenggut dari pusarku.
Dari jendela terlihat pohon Jacaranda yang ditanam ayahmu, mulai berbunga, menyerukan musim semi. Lelaki bermata kastanye itu tak sempat memenuhi janjinya membawaku kembali ke kota kami. Ia juga tak sempat mengantarkanmu di pernikahanmu sebulan lalu. Ia sudah tiada.
Aku berjanji akan menyusulnya saat simpul tali pusar itu terputus. Saat ini aku akan tetap berada di sampingmu. Mungkin menunggu sampai kau memberiku cucu yang juga tak akan mengenal kota kami. Aku terbatuk. Memandang sepi. Aku ingin pulang…

Sydney, 2017

Catatan:
*Susunduk lawang: sebutan untuk palang pintu tradisional yang digunakan di rumah di wilayah Kalimantan Selatan.
*Lulungkang: jendela

Lena Hanifah, akademisi yang menyukai sastra. Ia mengajar di Fakultas Hukum, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Kini, sedang menyelesaikan studi doktoral di UNSW, Australia.

Ditinggal Kenangan


Cerpen Beni Setia (Tribun Jabar, 14 Mei 2017)
Ditinggal Kenangan ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Ditinggal Kenangan ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar
–soreang on my mind–
SUDAH larut ketika aku naik ke kereta dan berjalan lesu mencari tempat duduk, dan kebetulan dua kursi di hadapan pintu tembus ke gerbong depan. Tepat di belakang WC, tepat depan lawang bordes, di balik pintu tembus, yang selalu tertutup demi stabilnya suhu ruang ber-AC. Menaruh tas di rak, di atas tempat duduk, menghenyak usai mengeluarkan botol minuman dan kemasan kue kering pabrikan—pengganjal lapar bila nanti terjaga. Nanti—mungkin mendekati Subuh, seperti mau sahur.
Gerbong lengang, banyak kursi kosong, sehingga penumpang bisa acak memilih kursi kosong—seperti aku, leluasa berada di dua tempat duduk gandeng. Menghenyak. Menjulurkan kaki, berselonjor setengah miring, dengan tumit—tanpa sepatu sandal—di sudut belakang kursi depan serta jendela. Terpenjam. Melamun: mendadak telah sampai meski loko baru mengubah pola kecepatan laju dari langsam. Apa dalam satu jam lagi bisa tertidur?
Entah. Mengeluarkan HP. Membuka FB, tanpa tahu akan mencari siapa dan baca apa. Iseng. Sekadar menunggu kantuk. Tapi apakah akan selamat sampai di T?
***
MENURUT trayek, kereta menuju B, dari poin setuntas Magrib akan tiba setelah Subuh. Tapi aku hanya akan turun di T, di tiba mendekati fajar rekah—jadi perjalanan kereta hanya sekitar 3 jam setelah S, serta sekitar 3 jam menjelang B. Seperti dikukuhkan kondektur pemeriksa tiket, yang ramah, yang membikin liang pertanda cek dengan alat mirip staples. Seusainya, setelah menata tiket di saku depan celana jins di dekat dompet—kantong kanan HP. Bersiap buat tidur karena merasa kewajiban penumpang telah dikukuhkan. Memang.
Menguap—meski tidak mutlak mengantuk. Terus terang, ada yang menyesakkan dengan perjalanan kali ini. Keinginan, seharusnya aku terus ke B—sebab telah 14 tahun tak pulang ke S. Dan bila dihitung lebih cermat, itu ada dalam rentangan 15 kali Lebaran, sehingga aku sering mimpi ditugaskan memeriksa keabsahan pembiayaan—sesuai bukti pengeluaran—ke kantor cabang di B. Minimal ke titik kantor lebih jauh dari T dan amat menjelang ke B, sehingga punya kesempatan mencuri waktu untuk mampir di S. Ke tempat 12 tahun, dulu, Ayah ditugaskan—kota kecil, sekitar 25 menit dari B. Tapi, selama 10 tahun ini, sampai sekarang aku hanya ditugaskan di T. Ya!
Sebenarnya selalu ada sisa waktu tiga hari itu buat mampir di S—meski itu memakan waktu tempuh 5 jam—tapi aku tak punya keberanian mencuri kesempatan bebas, sebab tiket selalu mengharuskan pulang di hari keempat bertugas—si tiket pulang telah dibeli, dan itu harus dilampirkan sebagai bukti riil laporan tugas luar. Sialnya, aku selalu merasa sudah harus berada di S pada hari itu—untuk segera menyeberang ke M, untuk di esoknya memeriksa pembukuan kantor cabang P. Dan dari mencuri waktu ke S yang pasti membuat aku lelah—meski dengan mencarter mobil—aku memilih lebih mencuri kesempatan untuk beristirahat di P atau malah di S sebelum menyeberang.
Lagi pula, aku hanya mendapat uang harian tiga hari ada di T, serta tiga hari ada di P; dan harus punya dua bukti tiket ke/dari T serta dua bukti tiket ke/dari P. Yang jumlahnya amat lumayan bagi karyawan bawahan seperti aku.
***
SEBENARNYA ada sebelas teman, ganti-berganti, meminta agar aku ikut reuni SMA di S—yang nanti akan ada bukti rekaman video kegiatan, potret, kaus seragam, pesta meriah, serta makanan yang memikat. Dan itu sangat menarik—menggiurkan—terlebih setelah kami terpisah selama 30 tahun—dengan sekitar 25 tahun aku berada di T, sekitar 12 jam dengan perjalanan kereta api dari B, dari tempat keremajaan mengecambah serta berkembang. Tapi, karena itu—kata mereka, sepakat—maka aku diharap buat ikhlas menyumbang Rp 250.000 buat biaya reuni—dan itu belum termasuk ongkos pergi-pulang pribadi.
Gila!—karena itu, meski mengikuti proses di FB, aku agak nonaktif berkomentar. Aku mengerti, pada dasarnya semua itu cuma: duit—semua punya bea. Tapi itu mencekik leher pekerja kecil dengan dua anak yang kuliah dan kos—di titik usia mereka sangat bergairah makan, jajan, dan mencari rujukan buat skripsi—di luar momen pacaran. Ya! Karena itu, si kenangan yang dijanjikan bisa direguk puas itu terasa jadi sangat mengerikan, menjadi monster yang amat mengerikan kalau aku bersengaja emosional mengaktualisasi diri dengan mengikutinya—setidaknya, biaya hidup untuk dua anakku akan minus 1.000.000 perak.
Ya! Karena itu, aku bersiasat, dengan meminta tidak dikirim ke T dulu—tapi ke P di M—lalu berbalik ke T. Jadi, sebenarnya, seusai bertugas di T: aku bisa ikut reuni di S—150 km dari T—memilih santai dengan kenangan, bahkan bisa ditambah dengan ajuan cuti pulang kampung, dan dengan si uang harian serta ongkos jalan yang melimpah. Tapi uang 1.000.000 perak itu pasti lebih berguna bagi kedua anakku, ketimbang snob memanjakan kenangan. Ya! Karena itu, daripada mengaktualisasi kenangan, akan lebih menyenangkan memilih tidak menyengsarakan kedua anakku. Dan terpikir—dengan komparasi—agar mereka yang lebih cepat sukses dan berhasil dari si yang nelangsa karena berlevel si pekerja recehan.
***
LEPAS tengah malam masih tak bisa tidur. Di selepas Y—dengan satu kali stop—aku terus terjaga, sampai di stasiun berikut. Kereta beberapa kali berhenti, karena KS harus membebaskan rel buat kereta dari barat yang cepat melaju. Aku tetap tidak bisa tertidur. Minum. Makan kue kering—bahkan memesan nasi rames dari restorasi lewat si penjaja keliling—tapi aku tetap tidak bisa tertidur. Aku berpikir sederhana, dengan matematika amat menghunjam-menyakitkan perasaan, bahwa akhir pekan ini, sekitar lima hari lagi, Angkatan 1985 SMA di S akan bereuni—akan ada kerumunan kawan lama dengan kilasan singkat masa lampau.
Ya! Tapi—sekaligus—aku tidak mampu menyisihkan 250.000 rupiah sampai di tiga minggu lalu, mesti minggu lampau mendapat kepastian tugas ke T dan P—seperti biasa. Dan, di sepanjang seminggu itu, aku tersenyum—pahit. Terpikir: Tuhan itu ironi—meski itu memang salah satu seni menyusun suratan nasib manusia, yang membuat si segala sesuatu jadi absurd, multitafsir, agar seseorang terjebak dalam komedi hitam.
Mungkin—pikirku. Dan semua rasionalitas dari manusia itu, sebenarnya, hanya pelabi dari semua fakta keinginan yang tak kesampaian, yang coba direkonstruksi agar jadi hal paling logis serta benar, sesuai keinginan.
Aku tersenyum dalam mengasihi diri—dengan mencoba menjenakakannya. Memenjam. Menyender di sudut ujung kursi dan kaca jendela, menyelonjorkan kaki agar tumit bisa bertumpu di lengkungan kursi depan di ujung belakang si kursi. Meregang di dalam merentang. Diam—dan sekilas lupa terlelap. Tersentak—terjerunuk dan tergagap. (Mungkin, yang benar: terjaga serta tersigeragap.) Dan di dalam ketersentak dan terlontarkan ke belakang, dalam terhuyung karena terjerunuk, serta sekuatnya menegakkan diri serta kembali ke dalam kesadaran ada dalam kereta yang terus terus melaju—menyeret semua terang cahaya, kota, rel, kenangan, dan ingatan. Dan aku seperti si tertinggal. Sendu dan sediri di kegelapan malam.
Kereta, bahkan si gerbong kenangan, menjauh, dan suaranya lamat menghilang. Meninggalkan aku di kekosongan, di tengah hamparan—ditandai terang mata rabun sebab malam kelam cuma diterangi kilau bintang tinggi—tanpa rel, tanpa gerbong kereta. Kosong—meski tetap ada sesuatu yang bisa membimbing ingatan akan kenangan. Aku celingukan di kekosongan tidak terbatas, di kedataran tanpa bukit, lembah, dan angin. Aku menggigil ketika semuanya tetap hanya remang, berselimutkan dingin membekukan. ***

Khalwat

Cerpen Dadang Ari Murtono (Kedaulatan Rakyat, 14 Mei 2017)
Khalwat ilustrasi Joko Santoso -Kedaulatan Rakyat
Khalwat ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
AWALNYA, ia melangkah tanpa keraguan dari ruang makan ke kamarnya namun sesaat sebelum tangan kanannya meraih gagang pintu, ia berhenti, menoleh ke arah ibunya yang duduk menatapnya dari kursi ruang makan, seakan ada beban luar biasa yang menggelayutinya. Itu, kurang lebih, yang dikatakan sang ibu kepadaku kemarin, sebuah deskripsi singkat sebelum ia memutuskan berkhalwat, sewaktu aku dan sang ibu bertemu di supermarket tak jauh dari pondokanku di daerah Ngagel, Surabaya.
“Lihatlah,” kukutip utuh-utuh ucapan sang ibu, “Betapa yang terjadi di Jakarta, mengganggu kehidupan orang biasa seperti kami yang tinggal di Surabaya,” tambahnya. Aku melihat mata perempuan itu memerah. Reflek, aku mengulurkan tisu yang selalu tersedia di kantongku. Tapi beliau menolak. Kerut-kerut di sekitar mata dan bibir beliau beranak pinak secara luarbiasa dalam beberapa bulan terakhir. “Aku hanya ingin ini segera berakhir,” kata beliau lagi sebelum taksi online tiba dan membawanya pergi. Aku menitipkan salam untuknya dan sang ibu berjanji akan menyampaikan salam itu begitu waktunya tepat.
Aku kembali ke pondokanku, membuka semua akun media sosial yang aku punya melalui ponsel pintarku, mencoba menemukan akunnya. Tapi percuma. Dulu, di sekitaran Januari, ketika selama beberapa hari aku tidak menemukan postingannya di media sosialku, yang membuatku penasaran dan mencoba mencari namanya tapi tak menemukan apa yang aku harapkan, aku mengira telah berbuat keliru kepadanya dan ia memblokir semua akun media sosialku. Kecurigaanku bertambah-tambah lantaran ia juga tidak pernah muncul di Liberia, di mana kami pertama bertemu dan berkenalan dan selanjutnya lebih banyak berjumpa.
Namun kesibukan datang silih berganti membuat aku melupakannya untuk sesaat. Lagipula, media sosial menghadirkan banyak unggahan dari sekian banyak orang yang membuat ketidak-hadirannya tak ubahnya dengan peristiwa jatuhnya sehelai daun di Taman Bungkul; sepele dan seakan tak mengubah apa-apa.
Namun daun yang jatuh adalah daun yang jatuh. Ia pernah ada untuk kemudian tak ada. Dan itu berarti perubahan, sekecil apa pun artinya. Pertemuanku dengan ibunya di supermarket membuatku merenungkannya kembali. Dan cerita sang ibu, kini, ketika aku hendak tidur di pondokanku yang pengap, mengiang-ngiang di telingaku.
Aku tahu riwayatnya berdasarkan ceritanya sendiri. Ia seorang lelaki sepantaran denganku, pindah ke Surabaya dari Lamongan pada tahun 2013, sebulan setelah sang ibu berpisah dengan bapaknya karena tak mau dimadu. Berbekal pendidikan yang layak dan nasib baik, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi yang berkantor di Jalan Kayoon. Aku tak tahu apa jabatannya, namun sepertinya gajinya lumayan. Liberia bukanlah kafe dengan harga espresso yang terjangkau kantong pegawai rendahan. Setidaknya, dalam seminggu, ia tiga kali nongkrong di sana, asyik dengan buku-buku dan gawainya yang berganti-ganti menyita perhatiannya. Empat kali kami duduk di meja yang bersebelahan di ruang merokok, dan pada pertemuan kelima, kami terlibat pembicaraan ringan menyangkut buku-buku terbitan penerbit indie yang marak belakangan ini.
Rasa-rasanya, hanya buku dan perkembangan dunia literasi yang menarik minatnya. Ia fasih berbicara perihal novel-novel Pramoedya Ananta Toer atau Eka Kurniawan dan puisi-puisi Joko Pinurbo, dan tampak menghindar ketika aku menyinggung-nyinggung soal politik. Di kemudian hari, ketika semua akun media sosial kami telah terhubung, aku melihat lini masanya dipenuhi unggahan-unggahan soal literasi belaka dan kebanyakan temannya adalah pedagang buku, penulis, serta penerbit.
“Ia ingin berkhalwat sampai semua ini selesai,” kata ibunya tadi di supermarket. “Ia benci menyaksikan kawan-kawannya saling mencaci.”
Aku tak menduga ia akan melakukan hal sejauh itu. “Sebelumnya, ia menutup semua akun media sosialnya. Dan ia bahkan berhenti kerja,” tambah ibunya.
“Berhenti kerja?” aku mengulang, hampir tak percaya. Aku tahu bahwa dialah satu-satunya penopang kehidupannya beserta ibunya. “Lalu?”
“Ya mau bagaimana lagi? Ibu sekarang jualan jilbab online. Ia sesungguhnya juga tak menyukai apa yang ibu lakukan. Kau tahulah apa pendapatnya tentang itu. Apalagi sejak ribut-ribut akhir-akhir ini. Agama, uh… menurutnya telah berubah jadi barang dagangan. Tapi mau apa lagi? Kalau tidak begitu, bagaimana kami bertahan hidup. Ia benar-benar tidak mau keluar dari kamarnya. Ia tidak mandi, tidak berbicara dengan ibu. Setiap hari ibu mengetuk pintu kamarnya hanya untuk mengantarkan makanan. Ia tampak kurus dan tidak terawat. Rasa-rasanya, bajunya pun juga sudah lama tidak ganti. Rambutnya awut-awutan, cambang dan jenggotnya juga tumbuh sembarangan,” jawab sang ibu.
Secara singkat, dapat kukisahkan kepadamu berdasarkan cerita sang ibu bahwa ia, temanku itu, satu-satunya hal yang ia kerjakan di dalam kamarnya adalah menghitung waktu. Ia menatap pergerakan detik jam tangannya, mengamati baik-baik pergantian tanggal, dan mendesah dengan suara-suara yang tidak jelas. Sekali waktu, ia berteriak-teriak histeris meminta ibunya mematikan televisi, atau setidak-tidaknya, menurunkan volumenya hingga suara televisi itu tidak sampai ke kamarnya.
“Ibu sedang nonton berita Buni Yani,” kata ibunya.
Ibunya kemudian juga melanjutkan bahwa ia pernah keluar dari khalwatnya. Itu terjadi pada tanggal 15 Februari, sewaktu di Jakarta, orang-orang sibuk menunaikan hak pilihnya. Ia tidak menyentuh gawainya, namun ia tersenyum, mandi, ganti baju, dan makan banyak-banyak. Jam 9 malam, ia menumpahkan hasratnya bertemu keramaian yang telah diredamnya untuk jangka waktu yang lumayan panjang dengan pergi ke sebuah bar di Embong Kaliasin dan tiga jam kemudian, ia kembali pulang dengan muka lesu, jauh lebih lungsur dari sebelum ia memutuskan untuk berdiam dalam khalwatnya yang pertama.
Di bar itu, kata sang ibu, ia baru mengetahui, berdasarkan hasil hitung cepat, bahwa pilkada Jakarta akan berlangsung dua putaran. Dan dua lelaki mabuk terlibat baku pukul. Yang satu berulang meneriakkan frasa membela agama, yang lain, yang tak kalah mabuk, berbicara tentang kebhinekaan dan ketegasan seorang pemimpin.
Itulah menu pembicaaan terakhir antara dirinya dan sang ibu. Ia kemudian pergi ke kamarnya, menempuh khalwat sesi duanya hingga pilkada Jakarta ini benar-benar berakhir. “Ia tak peduli siapa pemenangnya. Ia tak pernah tertarik dengan hal itu. Tapi kau tahu lah…”
Aku tahu, tentu saja. Aku tahu sepasang kekasih di Mojokerto berpisah karena yang satu menyukai Ahok dan yang lain mendewakan Agus Yudhoyono, aku tahu penghuni kamar pondokan di sebelah kamar pondokanku memutuskan pindah lantaran ia menyukai retorika Anies Baswedan dan rekan sekamarnya menganggap ucapan Ahok di Kepulauan Seribu dipelintir oleh Buni Yani, aku tahu seorang ayah di Jombang berkelahi dengan anaknya karena sang anak melarangnya pergi ke Jakarta untuk berpartisipasi dalam aksi 212, aku tahu bagaimana orang-orang lebih pintar memaki di media sosial dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Dan kini, aku tiba-tiba dilanda ketakutan bahwa khalwatnya mungkin saja belum akan berakhir meski pilkada Jakarta telah selesai. Tak peduli siapa pemenangnya. Kebencian dan caci maki itu, rasanya, akan selalu menemukan jalaran untuk keluar. Sesaat sebelum terlelap, aku mencoba menghitung berapa jarak antara Surabaya dan Jakarta.

Asomatognosis

Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Koran Tempo, 13-14 Mei 2017)
Asomatognosis ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo
Asomatognosis ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Sebenarnya kau bukan pasien yang istimewa saat pertama kali dibawa oleh kerabatmu. Kami telah menangani banyak pasien dengan gejala yang sama denganmu. Keluargamu menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi padamu muncul setelah pemukulan yang kau alami beberapa bulan lalu. Sebelumnya kau adalah musisi yang berbakat, kami melihat ada gejala depresi dan kepanikan yang sangat jelas. Setelah serangkaian pemeriksaan yang kami lakukan, tim dokter memvonis bahwa kau mengidap cedera interacranial ringan. Kami berusaha memulihkanmu dengan prosedur standar. Pemberian obat-obatan pemulih fungsi otak, terapi bicara, dan lain sebagainya berjalan dengan baik. Tidak butuh waktu lama untukmu menyesuaikan diri dengan jadwal dan rutinitas penyembuhan hingga dalam waktu kurang dari delapan minggu kau sudah dipindahkan ke bangsal pemulihan. Emosimu tampak stabil dan mulai dapat berinteraksi dengan baik, hingga akhirnya tak lagi terlihat gejala panik yang berlebihan. Kau mulai bermain gitar dan bernyanyi untuk para pasien lainnya. Permainan gitar dan suaramu sangat menakjubkan. Across the Universe adalah lagu yang paling sering kau mainkan. Kau mengaku bahwa lagu itu adalah lagu kesukaanmu. Tidak sulit berbicara denganmu, aku hanya perlu membahas musik dan musik-musik itu akan menuntunku mengenalmu lebih dalam. Aku merasa ada sesuatu di dalam dirimu yang belum kami ketahui.
Musik yang kau mainkan mulai berubah ke nada-nada gelap dan kau selalu berbicara perihal kematian. Kau mulai terlihat lelah dan serangan panik mulai sering lagi mengganggu, membuatmu menggigil dan tak dapat tidur pada malam hari. Melihat perubahan yang semakin memburuk, aku meminta kepala perawat untuk menanganimu dengan lebih intensif. Obrolanku denganmu, tentang musik, tentang gitar, tentang semua hal yang kau sukai membuat aku merasa memiliki kedekatan yang baik denganmu. Awalnya aku hanya datang merawatmu, mulai pagi hari hingga jam kerja usai, saat itu kau masih dapat merespons perkataanku dengan baik. Aku menyiapkan obat-obatan untukmu, mengajakmu berbicara layaknya seorang teman. Beberapa hal kecil berubah dari perilakumu, kau menjadi lebih sering diam menatap langit-langit sambil berbaring. Matamu kosong. Aku merasakan napasmu dengan punggung tanganku, intensitas embusannya tinggi dan berat, hal ini menandakan bahwa kau sedang memikirkan sesuatu. Tidak seperti pasien penderita depresi lain yang menatap kosong dengan napas beraturan, kau terlihat sibuk dengan pikiran-pikiran luas tak terbatas, semua perubahan kecil pada gerak-gerikmu itu aku masukkan dalam laporan harian. Keadaan itu terus berlanjut hingga beberapa minggu, biasanya setelah menatap kosong pada langit-langit kau mulai mengalami serangan panik dan ketakutan. Ini terjadi lebih dari 15 menit dan beberapa kali dalam sehari, namun jika tidak sedang mengalami episode kau akan dengan tidak sabar menunggu untuk dipersilakan membaca halaman demi halaman-dengan sangat teliti-majalah musik yang terus-menerus kau baca. Sementara aku membersihkan ruangan, kau akan bercerita apa saja yang ada dalam otakmu.
“Lenin, apa kau menyukai lagu yang juga aku suka?”
“Maksudmu Across the Universe? Aku rasa aku menyukainya, kau tahu aku tidak terlalu baik dalam memahami musik, aku hanya menikmatinya. Maukah kau memberi tahuku apa yang membuatmu sangat menyukainya?”
“Banyak yang berbicara tentang makna yang coba diberikan oleh John dalam lagu itu. Tapi aku lebih menyukainya sebagai sebuah lagu yang menyuarakan apa yang tak dapat kita ucapkan, kau tahu? Saat mereka merekam lagu itu, Paul depresi karena selalu disalahkan. Kadang sangat sulit memberi tahu orang lain tentang apa yang terjadi pada sesuatu yang tidak tersentuh dalam diri kita hingga tak akan ada yang bisa mengubah dunia kita. Bahkan walaupun kau pergi menyeberangi alam semesta, dirimu akan selalu menjadi dirimu yang sama, bukankah begitu, Lenin?”
“Ya, menjelaskan pada orang lain tentang dirimu adalah hal yang sangat sulit, bahkan lebih sulit dari menjinakkan harimau, kau tahu?”
“Ha-ha-ha, ya, dan harimau itu adalah dirimu sendiri. Kemudian hal itu menjadi jauh lebih sulit, bukan?”
Aku mencatat semua percakapan kita, dan pada malam harinya aku menganalisis apa yang telah kau katakan. Hal ini sangat penting dilakukan guna menetapkan tindakan yang tepat untuk membantumu melewati episode panik itu. Tapi aku hanya melihat tanda-tanda depresi yang bisa ditangani dengan obat yang telah kami berikan. Namun episode itu tetap saja terjadi bahkan semakin memburuk hari demi hari. Semakin jelas terlihat bahwa kau mulai mengalami masalah yang serius dengan emosimu. Kau kehilangan kemampuan untuk menangis, tidak merasa lapar hingga menolak untuk memasukkan makanan ke dalam tubuhmu. Kau semakin sering mengatakan hal-hal mengerikan tentang kematian yang akan kau hadapi dengan tenang. Nada bicaramu berubah datar tak berekspresi. Tapi episode panik tetap terjadi. Dengan kondisi tubuh yang lemah, serangan panik dapat menjadi hal yang buruk. Para dokter mulai menambah dosis obat-obatan untukmu, itu adalah pertama kali dokter meningkatkan dosis obat-obatan. Tapi semakin sulit memaksamu menelan semua obat itu. Kondisimu sangat tidak stabil, kau mulai mengeluhkan banyak hal tentang kesedihan yang selalu menggantung di kepalamu, tentang semua rasa sakit yang tak ingin pergi. Ketika tengah malam tiba dan suasana begitu senyap kau akan mulai memasuki dunia lain yang membuatmu sangat ketakutan. Kau akan menangis untuk semua dosa-dosa yang telah kau perbuat dan mengutuk dirimu untuk semua kesalahan itu, untuk para pasien sakit jiwa yang sering kau lihat, untuk kelelahan para dokter yang merawatmu, untuk semua kenangan yang ada di dalam kepalamu, untuk kematian semua musisi yang kau cintai, untuk penderitaan jujur di balik semua keindahan yang pernah kau lihat dan rasakan.
Kemudian gejala asomatognosis tampak jelas. Kau mengatakan padaku bahwa tak lagi merasa sebagai dirimu. Banyak hal aneh yang terjadi kemudian. Kau mulai mengatakan bahwa semua dokter di sana tidak nyata. Aku juga tidak nyata, bahkan dirimu pun hanyalah sebuah proyek imajiner yang dibuat oleh sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Aku mulai kesulitan menanganimu. Kau menolak untuk makan dan meminum obatmu. Kau mengiba padaku, “Lenin, aku sakit karena mereka menghantuiku, jantungku telah berhenti berdetak, dan aku merasa hati dan perutku sangat sakit. Mereka mulai membusuk di dalam tubuhku, aku tak bisa lagi merasakan tubuhku dari dalam. Mengapa kau terlihat begitu jauh, Lenin? Aku sudah tak memiliki jantung.”
Episode depersonalisasi dan derealisasi yang terjadi padamu semakin memburuk. Tapi semua begitu alami. Dokter melakukan pemeriksaan kondisi limbic system dalam otakmu dan mengganti obat-obatan yang biasa kau konsumsi dengan 75 mg Amitryptiline dan 2 mg Risperidone. Di sini aku harus mengakui bahwa sesuatu yang mengganggu terjadi padaku setiap kali aku memaksamu meminum obat-obatan itu. Untuk saat itu kau mulai menyadari lingkungan sekitarmu, tapi justru kau menjadi jauh lebih menderita. Kau akan menatapku dan mulai menangis, kau mengutukku karena kebaikan hati yang kumiliki.
“Aku tak ingin kau menolongku Lenin. Apa alasannya? Apakah kau mempunyai alasan penting untuk menolongku? Selain tugas-tugas dan tanggung jawab pekerjaanmu itu? Aku tak dapat mengatakan apa pun padamu. Ini kemalangan selamanya dan akan sia-sia. Kau sungguh tak perlu melakukan semua ini.” Kemudian kau menangis dan aku merasa sangat lelah, duduk lemah di kursiku, menatapmu menangis menghadap ke langit-langit. Tangisanmu tak pernah terasa begitu menyedihkan seperti malam itu. Aku menatap langit-langit di mana kau menulis semua pikiranmu. Aku membaca hidupku, yang monoton dan bergerak seperti robot, lalu berpikir tentang sel-sel yang terus mati setiap hari dalam tubuhku. Rambut-rambut yang rontok dari kepalaku, darah yang dipompa jantungku terus-menerus, ginjal, hati, pankreas dan segalanya. Aku memahaminya, aku memahami mimpimu yang terus kau gambar pada langit-langit itu.
Pagi hari setelah aku renungkan malam yang buruk itu, aku putuskan untuk melakukan sesuatu. Aku akan membantumu melakukan apa yang kau inginkan. Membiarkanmu menikmati sensasi kehilangan, ketiadaan, dan kematianmu yang hidup. Aku tak pernah lagi memaksamu meminum obat-obatan. Kau mulai mengatakan bahwa walaupun dunia ini sudah tidak ada, itu tak akan ada artinya bagimu. Kemudian kau mengaku bahwa kau kehilangan tanganmu dan lidahmu membusuk. Tapi aku melihat ketenangan yang indah pada wajahmu. Aku melihatmu dalam keadaan “bahagia” saat itu. Aku tak pernah lagi melihatmu menderita karena ketakutan pada sesuatu yang tak pernah kau mengerti. Hanya ketenangan yang terus terpancar darimu.
Aku menulis kondisimu yang sebenarnya pada catatan harian dan berbohong bahwa aku memberikan obat-obatan itu padamu. Beberapa dokter kemudian datang terlalu sering dan melihat ketenanganmu yang indah sebagai sesuatu yang mengerikan. Mereka kembali meninjau semua catatanku dan melakukan pemeriksaan kepadamu. Saat itu aku harus meninggalkan rumah sakit untuk beberapa hari, dan tanpa sepengetahuanku para dokter meningkatkan dosis obat-obatan untukmu. Bahkan menambahnya dengan 10 mg Enalapril dan 30 mg Nifedipine. Aku sungguh tak dapat membayangkan apa yang terjadi padamu. Saat aku kembali ke rumah sakit, para polisi telah menungguku. Mereka menemukan fakta bahwa aku telah menahan obat-obatanmu dan aku terbukti memalsukan laporan tentang dirimu. Mereka mengatakan bahwa kau dipindahkan ke rumah sakit pusat karena dosis obat itu telah meracunimu. Aku hanya ingin tahu apakah kau telah memperoleh keinginanmu?


Maywin Dwi-Asmara, lahir di Mataram, Lombok, 3 Mei 1992. Tahun 2014 mendapat research fellow dari universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Cerpen-cerpennya terbit di sejumlah media cetak dan online.