Daftar Blog Saya

Senin, 22 Mei 2017

Kota Kami


Cerpen Lena Hanifah (Media Indonesia, 14 Mei 2017)
Kota Kami ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia
Kota Kami ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia
TAK ada peristiwa besar yang memungkinkan wajah kota kami muncul di halaman utama surat kabar nasional. Kota kami tak pernah dilanda bencana yang meluluhlantakkan segenap bangunan, menghalau warganya ke tenda-tenda pengungsian, lalu dibanjiri cahaya kamera. Sungai di kota kami hanya sesekali memuntahkan air, menggenangi jalan, dan muntahan itu kami sambut dengan keriangan seperti piknik.
Tidak pula kota kami pernah menyelinap dalam ucapan lantang seorang tokoh yang kami harapkan berkata; “saya berasal dari kota B.” Atau yang diam-diam kami doakan berada di jalur kunjungan Bapak Presiden, sehingga akan tersiar secara viral berita tentang salah satu keponakan kami, yang dengan semringah tersenyum di televisi, sambil menggandeng sepeda baru.
Tidak! Kota kami tak semewah itu. Bahkan jika seseorang cukup berani untuk membanggakan pada kenalan barunya, yang muncul ialah kernyitan di dahi. “Di mana itu?” Orang itu lalu berusaha menunjukkan di mana kota kami berada di peta digital. Tapi, alih-alih aplikasi itu memperlihatkan posisi tepatnya, yang muncul adalah kota dengan nama yang mirip di negara antah berantah. Tapi jangan khawatir, andai suatu saat kau berkenan, senanglah aku membawa kau berkeliling di kota kami. Menuju ke sana tidaklah terlampau sulit. Eh? jangan membayangkan kau harus menaklukkan semak belukar dan binatang buas, meski kau sering mengejekku dengan bercanda bahwa aku berasal dari hutan belantara.
Jalan menuju ke sana cukup bagus. Lima jam perjalanan melalui jalan beraspal yang cukup membuat petualanganmu selama ini tidak berarti apa-apa dibanding terpacunya adrenalin saat diapit truk-truk besar pengangkut batu bara dan semen. Salah seorang sahabatku dari Amerika (keren bukan?) yang pernah berkunjung menolak memejamkan mata untuk beristirahat barang sejenak. Dia bilang tidak mau mati dalam keadaan penasaran. Jadi, aku biarkan saja dia sebentar-sebentar mencengkram tas tangannya karena kecemasan yang berurat berakar di perutnya. Lalu muntahlah ia. Mabuk darat.
Transportasi umum? O, tentu ada. Murah. Sekitar tiga puluh lima ribu sampai empat puluh lima ribu rupiah, sepertinya. Tak seberapa bukan? Ada hiburan musik dangdut koplo tersedia. Jendelanya akan menyiarkan hamparan ladang berdebu dengan sebaris sukarelawan yang meminta sumbangan untuk langgar di tepi jalan. Sopirnya sering merokok, dan ramah menjawab setiap perbincangan sambil mengepulkan asapnya ke wajahmu yang mungkin akan terbatuk-batuk. Sopir taksi colt yang menuju kota kami rata-rata adalah saudara kami juga. Kau bisa tahu itu dari garis wajah mereka yang lumayan menarik, meski mereka lelah dan cemas karena penumpang yang makin berkurang.
Kenapa katamu? Sederhana saja, orang-orang di kota kami senang memiliki kendaraan. Kau akan takjub melihat betapa anak SD dengan jumawa mengendarai sepeda motor. Jangan tanya soal mobil. Mobil apa yang tidak ada di kota kami. Dari mobil paling mewah sampai buruk ada, dan mereka tentu lebih senang naik kendaraan pribadi ketimbang naik kendaraan umum untuk bolak-balik menuju ibu kota provinsi. Jadi tidak perlu cemas, kita pasti sampai kesana meski kau harus menahan kentut dan sakit perut karena kita tidak bisa sembarangan meminta berhenti pada sopir. Semua tentu ingin cepat sampai. Jadi, jangan mengganggu dengan minta berhenti di toilet atau di mana pun. Jangan pula kau sembarangan melepas kentutmu itu. Bisa kau bayangkan bagaimana jadinya jika ada angin busuk menyebar di dalam colt sempit yang penuh dengan penumpang. Mereka sudah cukup muak mengutuk dan berkeringat. Jangan kau tambahi penderitaan mereka.
Omong-omong tentang garis wajah yang menarik, kau tahu bahwa gadis dan bujang dari kota kami memiliki wajah cantik dan molek. Hal itu sudah menjadi buah bibir di provinsi kami. Jadi, kami cukup memiliki sesuatu yang membanggakan juga. Kelebihan fisik yang mungkin tercipta karena posisi kota kami yang berada di lembah yang sejuk.  Ditambah lagi dengan kegemaran mereka menggunakan ramuan tradisional pupur dingin untuk perawatan wajah.
Dingin dan lamban. Ya, kota kami tumbuh lamban, seperti caramu menyisir tepi jurang yang dalam pada salah satu petualanganmu. Satu-satu dan hati-hati. Bangunan tua membusuk dan bangunan baru merayap seperti bayi sembilan bulan. Di tiga puluh tahun pertama usiaku, tidak ada gedung baru dibangun sebagai mercusuar kota. Bioskop lama dan satu-satunya di samping gedung pegadaian tempat ibu kami menggadaikan cincin kawinnya dulu, konon sudah digantikan oleh warung anak muda dengan musik yang melantun keras menantang zaman.
Kafe. Katamu. Bukan warung. Ya, kafe. Tempat baru untuk para keponakan dan sepupu kami yang muda-muda. Tapi, mereka lebih senang pergi ke ibu kota provinsi dan sebisa mungkin tidak kembali lagi. Pulang hanya untuk berlibur dan membanggakan logat baru mereka. Apalagi jika mereka tinggal di ibu kota negara. Susah payah mereka mengingat arti susunduk lawang atau lulungkang. Kata panggil aku dan kamu pun berganti dengan kata ganti aku-kamu ala ibu kota. Kami terkagum-kagum memandanginya. Ikut bersorak pada setiap kisah kemenangan. Ikut bersedih pada tiap kisah kemalangan. Mereka tampak menakjubkan. Keponakan dan sepupu lain, kami tahu, dalam hati berharap bisa mengikuti jejak mereka. Jika tidak bisa, cukup puaslah mereka menghabiskan malam di kafe baru tadi.
Jika kau tidak suka kafe tadi, mari kita beranjak pergi. Berhadapan kita akan duduk di warung mie tua yang sudah ada sejak aku belum lahir. Warung mie yang merupakan satu-satunya kemewahan di masa kecilku. Yang hanya buka di atas jam sembilan malam dengan antrean mengular tanpa henti. Aku yakin kau akan terheran-heran dan bertanya apa yang istimewa dengan warung mie itu sehingga antreannya bisa berjam-jam. Aku akan tersenyum sambil melayangkan pandang pada lelaki tua berkulit hitam yang mengaduk-aduk mie di penggorengan besar. Cat kuning yang mengelupas di dinding warung itu berbaur dengan kalender basi yang sudah tahunan tak pernah diganti. Anak kecil yang menangis karena mengantuk, lapar, dan lelah. Gadis muda yang sesekali menghentakkan kakinya karena kenyamukan. Perempuan berkerudung dan laki-laki berkopiah putih yang masing-masing memberengut pada telpon genggamnya. Sementara di tak jauh dari situ, menunggu pula serombongan lelaki bergamis putih yang baru pulang pengajian, bersandar di dinding warung rokok yang ditunggui perempuan tua sambil mengunyah sirih.
Kau mengehela napas. Tidak, sayang. Jangan memandang remeh begitu. Meski jarang diingat, begini-begini kota kami melahirkan banyak tokoh dari rahimnya yang perih karena ketertinggalan. Mereka yang pergi dan tak kembali. Atau mereka yang mencoba kembali, lalu putus asa, dan pergi lagi secepat yang mereka bisa. Atau mereka yang kembali dan tetap tinggal, yang dengan sisa idealisme merasuk ke partai-partai. Kota kami dengan sayang akan tetap memeluk siapa pun yang bertahan, juga mengirimkan mimpi bagi mereka yang berlari pergi.
“Sudahlah, Bu…” Kau berkata sambil menyalakan pemanas untuk menghangatkan tubuhku. Aku terdiam. Rambut pirangmu yang tak pernah merasakan hembus angin dari kota kami bergoyang perlahan. Aku ingin menyahut, memaksamu agar kembali duduk mendengarkan cerita kota kami yang kutinggalkan berpuluh tahun yang lalu karena semua yang tersisa dari ayah kami kakekmu dirampas. Diambil paksa oleh adik kandungnya karena tak satu pun kakak atau adik lelaki yang kupunya. Meninggalkan aku terkaing di jalan. Menyeretku ratusan ribu kilometer jauhnya dari rumah masa kecil. Mendamparkan aku di sini. Kota asing yang bukan kota kami. Kota yang menawarkan gemerlap dan kemerdekaan. Kota yang mengulurkan tangganya agar kunaiki, yang dipuncaknya berdiri ayahmu. Bermata cokelat seperti kastanye. Rambut pirang dengan senyum kekanak-kanakan yang jenaka. Kota yang dikelilingi seribu pantai, tapi tak satupun yang bisa kulabuhi meski ada ayahmu sebagai kapten.
“Tapi ini kotaku,” ujarmu.
Aku tahu kau akan berkata begitu. Tali pusarmu ditanam di sini, di bawah senyum geli ayahmu. Tak ada yang menanam tali pusar di sini. Tapi ia membiarkanku melakukan itu. Tali pusarku ditanam di kota kami. Di salah satu pojok halaman belakang rumah kami. Di bawah senyum ayahku dan lembut belai ibuku. Ia merajutkan benang tak kasat mata ke segala penjuru di mana aku berada. Menjalin simpul laba-laba abadi yang tak bisa kurenggut dari pusarku.
Dari jendela terlihat pohon Jacaranda yang ditanam ayahmu, mulai berbunga, menyerukan musim semi. Lelaki bermata kastanye itu tak sempat memenuhi janjinya membawaku kembali ke kota kami. Ia juga tak sempat mengantarkanmu di pernikahanmu sebulan lalu. Ia sudah tiada.
Aku berjanji akan menyusulnya saat simpul tali pusar itu terputus. Saat ini aku akan tetap berada di sampingmu. Mungkin menunggu sampai kau memberiku cucu yang juga tak akan mengenal kota kami. Aku terbatuk. Memandang sepi. Aku ingin pulang…

Sydney, 2017

Catatan:
*Susunduk lawang: sebutan untuk palang pintu tradisional yang digunakan di rumah di wilayah Kalimantan Selatan.
*Lulungkang: jendela

Lena Hanifah, akademisi yang menyukai sastra. Ia mengajar di Fakultas Hukum, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Kini, sedang menyelesaikan studi doktoral di UNSW, Australia.

Ditinggal Kenangan


Cerpen Beni Setia (Tribun Jabar, 14 Mei 2017)
Ditinggal Kenangan ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Ditinggal Kenangan ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar
–soreang on my mind–
SUDAH larut ketika aku naik ke kereta dan berjalan lesu mencari tempat duduk, dan kebetulan dua kursi di hadapan pintu tembus ke gerbong depan. Tepat di belakang WC, tepat depan lawang bordes, di balik pintu tembus, yang selalu tertutup demi stabilnya suhu ruang ber-AC. Menaruh tas di rak, di atas tempat duduk, menghenyak usai mengeluarkan botol minuman dan kemasan kue kering pabrikan—pengganjal lapar bila nanti terjaga. Nanti—mungkin mendekati Subuh, seperti mau sahur.
Gerbong lengang, banyak kursi kosong, sehingga penumpang bisa acak memilih kursi kosong—seperti aku, leluasa berada di dua tempat duduk gandeng. Menghenyak. Menjulurkan kaki, berselonjor setengah miring, dengan tumit—tanpa sepatu sandal—di sudut belakang kursi depan serta jendela. Terpenjam. Melamun: mendadak telah sampai meski loko baru mengubah pola kecepatan laju dari langsam. Apa dalam satu jam lagi bisa tertidur?
Entah. Mengeluarkan HP. Membuka FB, tanpa tahu akan mencari siapa dan baca apa. Iseng. Sekadar menunggu kantuk. Tapi apakah akan selamat sampai di T?
***
MENURUT trayek, kereta menuju B, dari poin setuntas Magrib akan tiba setelah Subuh. Tapi aku hanya akan turun di T, di tiba mendekati fajar rekah—jadi perjalanan kereta hanya sekitar 3 jam setelah S, serta sekitar 3 jam menjelang B. Seperti dikukuhkan kondektur pemeriksa tiket, yang ramah, yang membikin liang pertanda cek dengan alat mirip staples. Seusainya, setelah menata tiket di saku depan celana jins di dekat dompet—kantong kanan HP. Bersiap buat tidur karena merasa kewajiban penumpang telah dikukuhkan. Memang.
Menguap—meski tidak mutlak mengantuk. Terus terang, ada yang menyesakkan dengan perjalanan kali ini. Keinginan, seharusnya aku terus ke B—sebab telah 14 tahun tak pulang ke S. Dan bila dihitung lebih cermat, itu ada dalam rentangan 15 kali Lebaran, sehingga aku sering mimpi ditugaskan memeriksa keabsahan pembiayaan—sesuai bukti pengeluaran—ke kantor cabang di B. Minimal ke titik kantor lebih jauh dari T dan amat menjelang ke B, sehingga punya kesempatan mencuri waktu untuk mampir di S. Ke tempat 12 tahun, dulu, Ayah ditugaskan—kota kecil, sekitar 25 menit dari B. Tapi, selama 10 tahun ini, sampai sekarang aku hanya ditugaskan di T. Ya!
Sebenarnya selalu ada sisa waktu tiga hari itu buat mampir di S—meski itu memakan waktu tempuh 5 jam—tapi aku tak punya keberanian mencuri kesempatan bebas, sebab tiket selalu mengharuskan pulang di hari keempat bertugas—si tiket pulang telah dibeli, dan itu harus dilampirkan sebagai bukti riil laporan tugas luar. Sialnya, aku selalu merasa sudah harus berada di S pada hari itu—untuk segera menyeberang ke M, untuk di esoknya memeriksa pembukuan kantor cabang P. Dan dari mencuri waktu ke S yang pasti membuat aku lelah—meski dengan mencarter mobil—aku memilih lebih mencuri kesempatan untuk beristirahat di P atau malah di S sebelum menyeberang.
Lagi pula, aku hanya mendapat uang harian tiga hari ada di T, serta tiga hari ada di P; dan harus punya dua bukti tiket ke/dari T serta dua bukti tiket ke/dari P. Yang jumlahnya amat lumayan bagi karyawan bawahan seperti aku.
***
SEBENARNYA ada sebelas teman, ganti-berganti, meminta agar aku ikut reuni SMA di S—yang nanti akan ada bukti rekaman video kegiatan, potret, kaus seragam, pesta meriah, serta makanan yang memikat. Dan itu sangat menarik—menggiurkan—terlebih setelah kami terpisah selama 30 tahun—dengan sekitar 25 tahun aku berada di T, sekitar 12 jam dengan perjalanan kereta api dari B, dari tempat keremajaan mengecambah serta berkembang. Tapi, karena itu—kata mereka, sepakat—maka aku diharap buat ikhlas menyumbang Rp 250.000 buat biaya reuni—dan itu belum termasuk ongkos pergi-pulang pribadi.
Gila!—karena itu, meski mengikuti proses di FB, aku agak nonaktif berkomentar. Aku mengerti, pada dasarnya semua itu cuma: duit—semua punya bea. Tapi itu mencekik leher pekerja kecil dengan dua anak yang kuliah dan kos—di titik usia mereka sangat bergairah makan, jajan, dan mencari rujukan buat skripsi—di luar momen pacaran. Ya! Karena itu, si kenangan yang dijanjikan bisa direguk puas itu terasa jadi sangat mengerikan, menjadi monster yang amat mengerikan kalau aku bersengaja emosional mengaktualisasi diri dengan mengikutinya—setidaknya, biaya hidup untuk dua anakku akan minus 1.000.000 perak.
Ya! Karena itu, aku bersiasat, dengan meminta tidak dikirim ke T dulu—tapi ke P di M—lalu berbalik ke T. Jadi, sebenarnya, seusai bertugas di T: aku bisa ikut reuni di S—150 km dari T—memilih santai dengan kenangan, bahkan bisa ditambah dengan ajuan cuti pulang kampung, dan dengan si uang harian serta ongkos jalan yang melimpah. Tapi uang 1.000.000 perak itu pasti lebih berguna bagi kedua anakku, ketimbang snob memanjakan kenangan. Ya! Karena itu, daripada mengaktualisasi kenangan, akan lebih menyenangkan memilih tidak menyengsarakan kedua anakku. Dan terpikir—dengan komparasi—agar mereka yang lebih cepat sukses dan berhasil dari si yang nelangsa karena berlevel si pekerja recehan.
***
LEPAS tengah malam masih tak bisa tidur. Di selepas Y—dengan satu kali stop—aku terus terjaga, sampai di stasiun berikut. Kereta beberapa kali berhenti, karena KS harus membebaskan rel buat kereta dari barat yang cepat melaju. Aku tetap tidak bisa tertidur. Minum. Makan kue kering—bahkan memesan nasi rames dari restorasi lewat si penjaja keliling—tapi aku tetap tidak bisa tertidur. Aku berpikir sederhana, dengan matematika amat menghunjam-menyakitkan perasaan, bahwa akhir pekan ini, sekitar lima hari lagi, Angkatan 1985 SMA di S akan bereuni—akan ada kerumunan kawan lama dengan kilasan singkat masa lampau.
Ya! Tapi—sekaligus—aku tidak mampu menyisihkan 250.000 rupiah sampai di tiga minggu lalu, mesti minggu lampau mendapat kepastian tugas ke T dan P—seperti biasa. Dan, di sepanjang seminggu itu, aku tersenyum—pahit. Terpikir: Tuhan itu ironi—meski itu memang salah satu seni menyusun suratan nasib manusia, yang membuat si segala sesuatu jadi absurd, multitafsir, agar seseorang terjebak dalam komedi hitam.
Mungkin—pikirku. Dan semua rasionalitas dari manusia itu, sebenarnya, hanya pelabi dari semua fakta keinginan yang tak kesampaian, yang coba direkonstruksi agar jadi hal paling logis serta benar, sesuai keinginan.
Aku tersenyum dalam mengasihi diri—dengan mencoba menjenakakannya. Memenjam. Menyender di sudut ujung kursi dan kaca jendela, menyelonjorkan kaki agar tumit bisa bertumpu di lengkungan kursi depan di ujung belakang si kursi. Meregang di dalam merentang. Diam—dan sekilas lupa terlelap. Tersentak—terjerunuk dan tergagap. (Mungkin, yang benar: terjaga serta tersigeragap.) Dan di dalam ketersentak dan terlontarkan ke belakang, dalam terhuyung karena terjerunuk, serta sekuatnya menegakkan diri serta kembali ke dalam kesadaran ada dalam kereta yang terus terus melaju—menyeret semua terang cahaya, kota, rel, kenangan, dan ingatan. Dan aku seperti si tertinggal. Sendu dan sediri di kegelapan malam.
Kereta, bahkan si gerbong kenangan, menjauh, dan suaranya lamat menghilang. Meninggalkan aku di kekosongan, di tengah hamparan—ditandai terang mata rabun sebab malam kelam cuma diterangi kilau bintang tinggi—tanpa rel, tanpa gerbong kereta. Kosong—meski tetap ada sesuatu yang bisa membimbing ingatan akan kenangan. Aku celingukan di kekosongan tidak terbatas, di kedataran tanpa bukit, lembah, dan angin. Aku menggigil ketika semuanya tetap hanya remang, berselimutkan dingin membekukan. ***

Khalwat

Cerpen Dadang Ari Murtono (Kedaulatan Rakyat, 14 Mei 2017)
Khalwat ilustrasi Joko Santoso -Kedaulatan Rakyat
Khalwat ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
AWALNYA, ia melangkah tanpa keraguan dari ruang makan ke kamarnya namun sesaat sebelum tangan kanannya meraih gagang pintu, ia berhenti, menoleh ke arah ibunya yang duduk menatapnya dari kursi ruang makan, seakan ada beban luar biasa yang menggelayutinya. Itu, kurang lebih, yang dikatakan sang ibu kepadaku kemarin, sebuah deskripsi singkat sebelum ia memutuskan berkhalwat, sewaktu aku dan sang ibu bertemu di supermarket tak jauh dari pondokanku di daerah Ngagel, Surabaya.
“Lihatlah,” kukutip utuh-utuh ucapan sang ibu, “Betapa yang terjadi di Jakarta, mengganggu kehidupan orang biasa seperti kami yang tinggal di Surabaya,” tambahnya. Aku melihat mata perempuan itu memerah. Reflek, aku mengulurkan tisu yang selalu tersedia di kantongku. Tapi beliau menolak. Kerut-kerut di sekitar mata dan bibir beliau beranak pinak secara luarbiasa dalam beberapa bulan terakhir. “Aku hanya ingin ini segera berakhir,” kata beliau lagi sebelum taksi online tiba dan membawanya pergi. Aku menitipkan salam untuknya dan sang ibu berjanji akan menyampaikan salam itu begitu waktunya tepat.
Aku kembali ke pondokanku, membuka semua akun media sosial yang aku punya melalui ponsel pintarku, mencoba menemukan akunnya. Tapi percuma. Dulu, di sekitaran Januari, ketika selama beberapa hari aku tidak menemukan postingannya di media sosialku, yang membuatku penasaran dan mencoba mencari namanya tapi tak menemukan apa yang aku harapkan, aku mengira telah berbuat keliru kepadanya dan ia memblokir semua akun media sosialku. Kecurigaanku bertambah-tambah lantaran ia juga tidak pernah muncul di Liberia, di mana kami pertama bertemu dan berkenalan dan selanjutnya lebih banyak berjumpa.
Namun kesibukan datang silih berganti membuat aku melupakannya untuk sesaat. Lagipula, media sosial menghadirkan banyak unggahan dari sekian banyak orang yang membuat ketidak-hadirannya tak ubahnya dengan peristiwa jatuhnya sehelai daun di Taman Bungkul; sepele dan seakan tak mengubah apa-apa.
Namun daun yang jatuh adalah daun yang jatuh. Ia pernah ada untuk kemudian tak ada. Dan itu berarti perubahan, sekecil apa pun artinya. Pertemuanku dengan ibunya di supermarket membuatku merenungkannya kembali. Dan cerita sang ibu, kini, ketika aku hendak tidur di pondokanku yang pengap, mengiang-ngiang di telingaku.
Aku tahu riwayatnya berdasarkan ceritanya sendiri. Ia seorang lelaki sepantaran denganku, pindah ke Surabaya dari Lamongan pada tahun 2013, sebulan setelah sang ibu berpisah dengan bapaknya karena tak mau dimadu. Berbekal pendidikan yang layak dan nasib baik, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi yang berkantor di Jalan Kayoon. Aku tak tahu apa jabatannya, namun sepertinya gajinya lumayan. Liberia bukanlah kafe dengan harga espresso yang terjangkau kantong pegawai rendahan. Setidaknya, dalam seminggu, ia tiga kali nongkrong di sana, asyik dengan buku-buku dan gawainya yang berganti-ganti menyita perhatiannya. Empat kali kami duduk di meja yang bersebelahan di ruang merokok, dan pada pertemuan kelima, kami terlibat pembicaraan ringan menyangkut buku-buku terbitan penerbit indie yang marak belakangan ini.
Rasa-rasanya, hanya buku dan perkembangan dunia literasi yang menarik minatnya. Ia fasih berbicara perihal novel-novel Pramoedya Ananta Toer atau Eka Kurniawan dan puisi-puisi Joko Pinurbo, dan tampak menghindar ketika aku menyinggung-nyinggung soal politik. Di kemudian hari, ketika semua akun media sosial kami telah terhubung, aku melihat lini masanya dipenuhi unggahan-unggahan soal literasi belaka dan kebanyakan temannya adalah pedagang buku, penulis, serta penerbit.
“Ia ingin berkhalwat sampai semua ini selesai,” kata ibunya tadi di supermarket. “Ia benci menyaksikan kawan-kawannya saling mencaci.”
Aku tak menduga ia akan melakukan hal sejauh itu. “Sebelumnya, ia menutup semua akun media sosialnya. Dan ia bahkan berhenti kerja,” tambah ibunya.
“Berhenti kerja?” aku mengulang, hampir tak percaya. Aku tahu bahwa dialah satu-satunya penopang kehidupannya beserta ibunya. “Lalu?”
“Ya mau bagaimana lagi? Ibu sekarang jualan jilbab online. Ia sesungguhnya juga tak menyukai apa yang ibu lakukan. Kau tahulah apa pendapatnya tentang itu. Apalagi sejak ribut-ribut akhir-akhir ini. Agama, uh… menurutnya telah berubah jadi barang dagangan. Tapi mau apa lagi? Kalau tidak begitu, bagaimana kami bertahan hidup. Ia benar-benar tidak mau keluar dari kamarnya. Ia tidak mandi, tidak berbicara dengan ibu. Setiap hari ibu mengetuk pintu kamarnya hanya untuk mengantarkan makanan. Ia tampak kurus dan tidak terawat. Rasa-rasanya, bajunya pun juga sudah lama tidak ganti. Rambutnya awut-awutan, cambang dan jenggotnya juga tumbuh sembarangan,” jawab sang ibu.
Secara singkat, dapat kukisahkan kepadamu berdasarkan cerita sang ibu bahwa ia, temanku itu, satu-satunya hal yang ia kerjakan di dalam kamarnya adalah menghitung waktu. Ia menatap pergerakan detik jam tangannya, mengamati baik-baik pergantian tanggal, dan mendesah dengan suara-suara yang tidak jelas. Sekali waktu, ia berteriak-teriak histeris meminta ibunya mematikan televisi, atau setidak-tidaknya, menurunkan volumenya hingga suara televisi itu tidak sampai ke kamarnya.
“Ibu sedang nonton berita Buni Yani,” kata ibunya.
Ibunya kemudian juga melanjutkan bahwa ia pernah keluar dari khalwatnya. Itu terjadi pada tanggal 15 Februari, sewaktu di Jakarta, orang-orang sibuk menunaikan hak pilihnya. Ia tidak menyentuh gawainya, namun ia tersenyum, mandi, ganti baju, dan makan banyak-banyak. Jam 9 malam, ia menumpahkan hasratnya bertemu keramaian yang telah diredamnya untuk jangka waktu yang lumayan panjang dengan pergi ke sebuah bar di Embong Kaliasin dan tiga jam kemudian, ia kembali pulang dengan muka lesu, jauh lebih lungsur dari sebelum ia memutuskan untuk berdiam dalam khalwatnya yang pertama.
Di bar itu, kata sang ibu, ia baru mengetahui, berdasarkan hasil hitung cepat, bahwa pilkada Jakarta akan berlangsung dua putaran. Dan dua lelaki mabuk terlibat baku pukul. Yang satu berulang meneriakkan frasa membela agama, yang lain, yang tak kalah mabuk, berbicara tentang kebhinekaan dan ketegasan seorang pemimpin.
Itulah menu pembicaaan terakhir antara dirinya dan sang ibu. Ia kemudian pergi ke kamarnya, menempuh khalwat sesi duanya hingga pilkada Jakarta ini benar-benar berakhir. “Ia tak peduli siapa pemenangnya. Ia tak pernah tertarik dengan hal itu. Tapi kau tahu lah…”
Aku tahu, tentu saja. Aku tahu sepasang kekasih di Mojokerto berpisah karena yang satu menyukai Ahok dan yang lain mendewakan Agus Yudhoyono, aku tahu penghuni kamar pondokan di sebelah kamar pondokanku memutuskan pindah lantaran ia menyukai retorika Anies Baswedan dan rekan sekamarnya menganggap ucapan Ahok di Kepulauan Seribu dipelintir oleh Buni Yani, aku tahu seorang ayah di Jombang berkelahi dengan anaknya karena sang anak melarangnya pergi ke Jakarta untuk berpartisipasi dalam aksi 212, aku tahu bagaimana orang-orang lebih pintar memaki di media sosial dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Dan kini, aku tiba-tiba dilanda ketakutan bahwa khalwatnya mungkin saja belum akan berakhir meski pilkada Jakarta telah selesai. Tak peduli siapa pemenangnya. Kebencian dan caci maki itu, rasanya, akan selalu menemukan jalaran untuk keluar. Sesaat sebelum terlelap, aku mencoba menghitung berapa jarak antara Surabaya dan Jakarta.

Asomatognosis

Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Koran Tempo, 13-14 Mei 2017)
Asomatognosis ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo
Asomatognosis ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo
Sebenarnya kau bukan pasien yang istimewa saat pertama kali dibawa oleh kerabatmu. Kami telah menangani banyak pasien dengan gejala yang sama denganmu. Keluargamu menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi padamu muncul setelah pemukulan yang kau alami beberapa bulan lalu. Sebelumnya kau adalah musisi yang berbakat, kami melihat ada gejala depresi dan kepanikan yang sangat jelas. Setelah serangkaian pemeriksaan yang kami lakukan, tim dokter memvonis bahwa kau mengidap cedera interacranial ringan. Kami berusaha memulihkanmu dengan prosedur standar. Pemberian obat-obatan pemulih fungsi otak, terapi bicara, dan lain sebagainya berjalan dengan baik. Tidak butuh waktu lama untukmu menyesuaikan diri dengan jadwal dan rutinitas penyembuhan hingga dalam waktu kurang dari delapan minggu kau sudah dipindahkan ke bangsal pemulihan. Emosimu tampak stabil dan mulai dapat berinteraksi dengan baik, hingga akhirnya tak lagi terlihat gejala panik yang berlebihan. Kau mulai bermain gitar dan bernyanyi untuk para pasien lainnya. Permainan gitar dan suaramu sangat menakjubkan. Across the Universe adalah lagu yang paling sering kau mainkan. Kau mengaku bahwa lagu itu adalah lagu kesukaanmu. Tidak sulit berbicara denganmu, aku hanya perlu membahas musik dan musik-musik itu akan menuntunku mengenalmu lebih dalam. Aku merasa ada sesuatu di dalam dirimu yang belum kami ketahui.
Musik yang kau mainkan mulai berubah ke nada-nada gelap dan kau selalu berbicara perihal kematian. Kau mulai terlihat lelah dan serangan panik mulai sering lagi mengganggu, membuatmu menggigil dan tak dapat tidur pada malam hari. Melihat perubahan yang semakin memburuk, aku meminta kepala perawat untuk menanganimu dengan lebih intensif. Obrolanku denganmu, tentang musik, tentang gitar, tentang semua hal yang kau sukai membuat aku merasa memiliki kedekatan yang baik denganmu. Awalnya aku hanya datang merawatmu, mulai pagi hari hingga jam kerja usai, saat itu kau masih dapat merespons perkataanku dengan baik. Aku menyiapkan obat-obatan untukmu, mengajakmu berbicara layaknya seorang teman. Beberapa hal kecil berubah dari perilakumu, kau menjadi lebih sering diam menatap langit-langit sambil berbaring. Matamu kosong. Aku merasakan napasmu dengan punggung tanganku, intensitas embusannya tinggi dan berat, hal ini menandakan bahwa kau sedang memikirkan sesuatu. Tidak seperti pasien penderita depresi lain yang menatap kosong dengan napas beraturan, kau terlihat sibuk dengan pikiran-pikiran luas tak terbatas, semua perubahan kecil pada gerak-gerikmu itu aku masukkan dalam laporan harian. Keadaan itu terus berlanjut hingga beberapa minggu, biasanya setelah menatap kosong pada langit-langit kau mulai mengalami serangan panik dan ketakutan. Ini terjadi lebih dari 15 menit dan beberapa kali dalam sehari, namun jika tidak sedang mengalami episode kau akan dengan tidak sabar menunggu untuk dipersilakan membaca halaman demi halaman-dengan sangat teliti-majalah musik yang terus-menerus kau baca. Sementara aku membersihkan ruangan, kau akan bercerita apa saja yang ada dalam otakmu.
“Lenin, apa kau menyukai lagu yang juga aku suka?”
“Maksudmu Across the Universe? Aku rasa aku menyukainya, kau tahu aku tidak terlalu baik dalam memahami musik, aku hanya menikmatinya. Maukah kau memberi tahuku apa yang membuatmu sangat menyukainya?”
“Banyak yang berbicara tentang makna yang coba diberikan oleh John dalam lagu itu. Tapi aku lebih menyukainya sebagai sebuah lagu yang menyuarakan apa yang tak dapat kita ucapkan, kau tahu? Saat mereka merekam lagu itu, Paul depresi karena selalu disalahkan. Kadang sangat sulit memberi tahu orang lain tentang apa yang terjadi pada sesuatu yang tidak tersentuh dalam diri kita hingga tak akan ada yang bisa mengubah dunia kita. Bahkan walaupun kau pergi menyeberangi alam semesta, dirimu akan selalu menjadi dirimu yang sama, bukankah begitu, Lenin?”
“Ya, menjelaskan pada orang lain tentang dirimu adalah hal yang sangat sulit, bahkan lebih sulit dari menjinakkan harimau, kau tahu?”
“Ha-ha-ha, ya, dan harimau itu adalah dirimu sendiri. Kemudian hal itu menjadi jauh lebih sulit, bukan?”
Aku mencatat semua percakapan kita, dan pada malam harinya aku menganalisis apa yang telah kau katakan. Hal ini sangat penting dilakukan guna menetapkan tindakan yang tepat untuk membantumu melewati episode panik itu. Tapi aku hanya melihat tanda-tanda depresi yang bisa ditangani dengan obat yang telah kami berikan. Namun episode itu tetap saja terjadi bahkan semakin memburuk hari demi hari. Semakin jelas terlihat bahwa kau mulai mengalami masalah yang serius dengan emosimu. Kau kehilangan kemampuan untuk menangis, tidak merasa lapar hingga menolak untuk memasukkan makanan ke dalam tubuhmu. Kau semakin sering mengatakan hal-hal mengerikan tentang kematian yang akan kau hadapi dengan tenang. Nada bicaramu berubah datar tak berekspresi. Tapi episode panik tetap terjadi. Dengan kondisi tubuh yang lemah, serangan panik dapat menjadi hal yang buruk. Para dokter mulai menambah dosis obat-obatan untukmu, itu adalah pertama kali dokter meningkatkan dosis obat-obatan. Tapi semakin sulit memaksamu menelan semua obat itu. Kondisimu sangat tidak stabil, kau mulai mengeluhkan banyak hal tentang kesedihan yang selalu menggantung di kepalamu, tentang semua rasa sakit yang tak ingin pergi. Ketika tengah malam tiba dan suasana begitu senyap kau akan mulai memasuki dunia lain yang membuatmu sangat ketakutan. Kau akan menangis untuk semua dosa-dosa yang telah kau perbuat dan mengutuk dirimu untuk semua kesalahan itu, untuk para pasien sakit jiwa yang sering kau lihat, untuk kelelahan para dokter yang merawatmu, untuk semua kenangan yang ada di dalam kepalamu, untuk kematian semua musisi yang kau cintai, untuk penderitaan jujur di balik semua keindahan yang pernah kau lihat dan rasakan.
Kemudian gejala asomatognosis tampak jelas. Kau mengatakan padaku bahwa tak lagi merasa sebagai dirimu. Banyak hal aneh yang terjadi kemudian. Kau mulai mengatakan bahwa semua dokter di sana tidak nyata. Aku juga tidak nyata, bahkan dirimu pun hanyalah sebuah proyek imajiner yang dibuat oleh sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Aku mulai kesulitan menanganimu. Kau menolak untuk makan dan meminum obatmu. Kau mengiba padaku, “Lenin, aku sakit karena mereka menghantuiku, jantungku telah berhenti berdetak, dan aku merasa hati dan perutku sangat sakit. Mereka mulai membusuk di dalam tubuhku, aku tak bisa lagi merasakan tubuhku dari dalam. Mengapa kau terlihat begitu jauh, Lenin? Aku sudah tak memiliki jantung.”
Episode depersonalisasi dan derealisasi yang terjadi padamu semakin memburuk. Tapi semua begitu alami. Dokter melakukan pemeriksaan kondisi limbic system dalam otakmu dan mengganti obat-obatan yang biasa kau konsumsi dengan 75 mg Amitryptiline dan 2 mg Risperidone. Di sini aku harus mengakui bahwa sesuatu yang mengganggu terjadi padaku setiap kali aku memaksamu meminum obat-obatan itu. Untuk saat itu kau mulai menyadari lingkungan sekitarmu, tapi justru kau menjadi jauh lebih menderita. Kau akan menatapku dan mulai menangis, kau mengutukku karena kebaikan hati yang kumiliki.
“Aku tak ingin kau menolongku Lenin. Apa alasannya? Apakah kau mempunyai alasan penting untuk menolongku? Selain tugas-tugas dan tanggung jawab pekerjaanmu itu? Aku tak dapat mengatakan apa pun padamu. Ini kemalangan selamanya dan akan sia-sia. Kau sungguh tak perlu melakukan semua ini.” Kemudian kau menangis dan aku merasa sangat lelah, duduk lemah di kursiku, menatapmu menangis menghadap ke langit-langit. Tangisanmu tak pernah terasa begitu menyedihkan seperti malam itu. Aku menatap langit-langit di mana kau menulis semua pikiranmu. Aku membaca hidupku, yang monoton dan bergerak seperti robot, lalu berpikir tentang sel-sel yang terus mati setiap hari dalam tubuhku. Rambut-rambut yang rontok dari kepalaku, darah yang dipompa jantungku terus-menerus, ginjal, hati, pankreas dan segalanya. Aku memahaminya, aku memahami mimpimu yang terus kau gambar pada langit-langit itu.
Pagi hari setelah aku renungkan malam yang buruk itu, aku putuskan untuk melakukan sesuatu. Aku akan membantumu melakukan apa yang kau inginkan. Membiarkanmu menikmati sensasi kehilangan, ketiadaan, dan kematianmu yang hidup. Aku tak pernah lagi memaksamu meminum obat-obatan. Kau mulai mengatakan bahwa walaupun dunia ini sudah tidak ada, itu tak akan ada artinya bagimu. Kemudian kau mengaku bahwa kau kehilangan tanganmu dan lidahmu membusuk. Tapi aku melihat ketenangan yang indah pada wajahmu. Aku melihatmu dalam keadaan “bahagia” saat itu. Aku tak pernah lagi melihatmu menderita karena ketakutan pada sesuatu yang tak pernah kau mengerti. Hanya ketenangan yang terus terpancar darimu.
Aku menulis kondisimu yang sebenarnya pada catatan harian dan berbohong bahwa aku memberikan obat-obatan itu padamu. Beberapa dokter kemudian datang terlalu sering dan melihat ketenanganmu yang indah sebagai sesuatu yang mengerikan. Mereka kembali meninjau semua catatanku dan melakukan pemeriksaan kepadamu. Saat itu aku harus meninggalkan rumah sakit untuk beberapa hari, dan tanpa sepengetahuanku para dokter meningkatkan dosis obat-obatan untukmu. Bahkan menambahnya dengan 10 mg Enalapril dan 30 mg Nifedipine. Aku sungguh tak dapat membayangkan apa yang terjadi padamu. Saat aku kembali ke rumah sakit, para polisi telah menungguku. Mereka menemukan fakta bahwa aku telah menahan obat-obatanmu dan aku terbukti memalsukan laporan tentang dirimu. Mereka mengatakan bahwa kau dipindahkan ke rumah sakit pusat karena dosis obat itu telah meracunimu. Aku hanya ingin tahu apakah kau telah memperoleh keinginanmu?


Maywin Dwi-Asmara, lahir di Mataram, Lombok, 3 Mei 1992. Tahun 2014 mendapat research fellow dari universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Cerpen-cerpennya terbit di sejumlah media cetak dan online.

Minggu, 21 Mei 2017

Anne Ahira Newsletter

Think & Succeed!
----------------------------------

Dear Hanihyung,

Mati adalah awal kehidupan. Hidup
adalah pangkal kematian. Hidup dan
mati, datang silih berganti, tidak
ada yang kekal abadi. Itulah hukum
alam yang hakiki. Oleh sebab itu,
jangan takut mati, jangan mencari mati.
Selama hidup, lebih baik bersegeralah
perbanyak kebaikan, syukuri diri
dalam keadaan apapun, dan tahu diri
di manapun. Bebas, lepas, tidak
terikat dan melekat, cerah ceria,
berpikir optimis dan positif setiap
saat, insyaallah hidup senang, mati
tenang. :-)

////////////////////////////////////////

Kisah Nyata...


Pagi itu seorang pria menjalani
rutinitasnya seperti biasa. Sebagai
seseorang yang mempunyai relasi luas
dan sibuk, ia selalu menyempatkan
diri untuk membaca kolom pengumuman
termasuk juga kolom berita kematian.
Tiba-tiba matanya membaca sebuah
berita, berita yang sangat
mengejutkan dan membuat bulu kuduknya
merinding. Ia sedang membaca berita
kematiannya sendiri.
Pria ini terhenyak, ia lalu bertanya
kepada dirinya sendiri, apakah ia
masih hidup? Apakah saat ini ia ada
di dunia atau di alam baka?
Saat ia menyadari bahwa ada sebuah
kesalahan dalam berita ini, mungkin
karena memiliki nama yang sama,
pastilah redaksi koran ini telah
melakukan kesalahan.
Namun karena rasa penasaran ia pun
melanjutkan membaca berita tersebut.
Ia ingin tahu apa tanggapan orang
mengenai dirinya.
Dalam artikel itu ia disebut dengan
panggilan 'raja dinamit' telah wafat.
Pada bagian lain ia juga disebut
sebagai 'partner dewa kematian'.
Ia terkejut bukan kepalang, apakah
seperti ini dirinya akan dikenang
oleh orang-orang?
Kejadian ini membuka pikirannya, ia
lalu memutuskan bahwa ia tidak ingin
dikenang seperti itu. Ia bertekad
mulai saat itu juga ia akan berjuang
demi kedamaian dan kemanusiaan.
Begitulah akhirnya, pria yang bernama
Alfred Nobel ini dengan tekadnya ia
berusaha hingga pada akhirnya namanya
diabadikan dalam hadiah
perdamaian--yaitu Nobel Prizes.
Bagaimana dengan Anda? Seperti apa
Anda ingin dikenang oleh orang-orang
yang Anda tinggalkan? Warisan apa
yang akan Anda sumbangsihkan demi
mashlahat umat banyak? Apakah
orang-orang akan mengingat Anda
dengan penuh cinta dan rasa hormat?
Mari kita bersegera lakukan sebanyak
kebaikan
, mulai hari ini, detik ini,
saat ini juga.


Salam hangat dari temanmu,
Ahira

Kamis, 18 Mei 2017

Faktor Penyebab Hati Gelisah Menurut Pandangan Islam



Pada dasarnya hati yang diselimuti oleh rasa gelisah secara tidak langsung akan berdampak buruk bagi diri sendiri. Ada beberapa hal yang dapat membuat dampak dari diri yang dilanda oleh kegelisahan antara lain, melemahnya daya kreatifitas, malas berpikir jernih, emosi yang tidak stabil. Nah, menurut Islam bagi seseorang yang sering dilanda oleh kegelisahan hati dikarenakan dirinya jauh dari Sang Pencipta atau karena dosa. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Kebajikan adalah akhlak mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah dan kamu tidak suka jika orang lain melihat apa yang kamu lakukan”. (HR. Muslim)
Kemudian menurut para ulama, orang yang hatinya masih sesuai dengan fitrah dan memiliki nilai keimanan yang cukup, maka ia akan merasakan kegelisahan dan akan selalu tidak tenag jika melakukan semua perbuatan yang dilarang atau perbuatan dosa. Menurut sabda hadist di atas maka sesuatu yang membuat hati dada sesak, gelisah dan tidak mau orang lain tahu apa yang telah ia lakukan. Tidak mau ketahuan istri, suami, orangtua, anak, tetangga, atau siapapun. Inilah salah satu pandangan Islam tentang sebab terjadinya hati yang cemas, takut dan gelisah.
Dari penjelasan di atas maka dapat dijelaskan pula tentang Faktor Penyebab Hati Gelisah Menurut Pandangan Islam antara lain:

1. Memudarnya tingkat keimanan

Penyebab utama dari hati yang mudah dan sering gelisah adalah memudarnya tingkat keimanan kepada Allah SWT. Jika tingkat keimanan seseorang melemah menandakan bahwa keimanan kepada Tuhan juga melemah. Sebagaimana kita tahu bahwa seorang yang iman lemah pasti hatinya akan merasa gelisah dan tidak tenang. Hal ini dikarenakan melemahnya iman berarti mengindikasi diri lupa terhadap Tuhan Yang Maha Segalanya, termasuk Maha Pemberi Pertolongan dalam menghilangkan rasa gelisah yang ada di dalam hati.

2. Banyak Ikut Campur Perkara Allah SWT

Mencampuri perkara-perkara yang sudah menjadi urusan Allah SWT, misalnya takdir adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan hati menjadi gelisah. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa takdir mutlak yaitu, Rejeki, Jodoh, dan Mati adalah takdir dari kehendak Allah SWT. Jadi, apabila kita terlalu mencampuri urusan-urusan tersebut jutru akan menyebabkan hati menjadi gelisah. Karena pikiran dan logika kita tidak akan mampu menjangkaunya. Sedemikian sehingga yang bisa dilakukan oleh kita sebagai makhluk-Nya kita hanya bisa dengan terus berusaha dan berdoa.

3. Kurang Sabar Menghadapi Ujian

Kegelisahan hati juga muncul karena kurangnya rasa sabar. Terutama ketika sedang menghadapi ujian. apabila ujian tersebut datang, maka kita harus mampu bersabar dalam menghadapi dan menjalaninya. sebab, jika kita tidak bersabar, justru akan menimbulkan rasa gelisah di dalam hati kita sendiri. Bahkan kita harus merasa beruntung jikalau Allah SWT masih mau menguji kita, karena itu menandakan bahwa Allah SWT masih ingat kepada kita sebagai salah satu hamba-Nya di dunia ini.

4. Sering Mengeluh

Jika anda sudah melewati ujian kesabaran namun masih mengeluh, maka kegelisahan hati masih kerap terjadi. Maka dari itu, lekaslah bangkit dari keluhan tersebut untuk kemudian berusaha mencari jalan keluar atau solusi dari ujian yang diberikan oleh Tuhan. Karena setiap ujian, cobaan, dan masalah yang diberikan oleh Allah SWT pasti ada solusi atau jalan keluarnya asalkan kita tidak berhenti berusaha dan berdoa kepada-Nya selaku Tuhan Semesta Alam.

5. Lupa Bersyukur

Yang terakhir ini adalah salah satu hal yang sering kali dilupakan oleh manusia. Bersyukur, ketika sudah mendapatkan banyak nikmat, namun hati masih saja gelisah itu sebabnya anda kurang bersyukur atas nikmat yang sudah Allah SWT berikan.
Semoga kita semua dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari hari ke hari. Dan jika hati sudah mulai dilanda rasa gelisah, maka segeralah memperbaiki apa yang telah kita lalaikan.

Beban



Terkadang kita menjadi lebih kuat justru ketika Allah karuniakan "beban" dalam kehidupan. Bukan saat mudah, justru saat sulit. Bukan saat lapang, justru saat sempit.

Bijaklah memaknai hidup ini. Tak selamanya yang tak kita sukai itu selalu berujung buruk. Pun tak selamanya yang kita suka itu berujung baik. Bisa jadi Allah hadirkan beda dengan yang kita duga agar kita lebih kuat menjalani kehidupan.

Bukankah dengan kalah kita jadi berubah? Bukankah dengan gagal kita bisa memperbaiki diri? Bukankah dengan sulit kita makin sabar?

Hidup bukan soal sesuai dengan harapan. Hidup bukan soal sesuai dengan keinginan. Karena nyatanya banyak orang hebat justru menjadi saat dia diberi sukit. Saat mereka memikul beban. Saat mereka menikmati ujian.

Kita bukan berharap untuk diuji, diberi sulit. Tapi saat itu terjadi, kita bisa mengambil peran terbaik, respon yang terbaik. Mengubah beban jadi latihan. Mengubah ujian jadi pertaubatan. Mengubah gagal menjadi perbaikan.

Karena sekali lagi, kadang Allah sengaja menghadirkan beban dalam hidup kita agar kita makin kuat, makin sabar, makin tahan, makin belajar dan memperbaiki diri.

Semoga . . .