Mengenang S.P.L. Sorensen di Logo Google
-
[image:
http://www.thehindu.com/sci-tech/science/k938lm/article24020451.ece/alternates/FREE_660/doodle]
Hari ini, Selasa 29 Mei 2018, Google Doodle menamp...
Ya Allah, Aku Jatuh Cinta
.
Duhai Rabb, cinta yang Kau titipkan, hanya ingin kutumpahkan pada yang halal.
.
Wahai Rabb, rasa itu halus, hanya Kau yang sanggup mendengarnya, tolong
bisikkan hanya pada yang halal.
.
Rabb, cinta ini masih perawan dan ku mohon, Kau berikan cinta ini kepada yang
halal untukku.
.
Duhai Rabb, jika aku memang sedang jatuh cinta, aku hanya ingin cinta itu tak
lebih dari aku mencintaimu, ya Rabb.
.
Duh Rabb, aku memohon jika aku jatuh hati, maka jatuhkanlah hati hanya kepada
yang terbaik dari sisi-Mu, Rabb.
.
Ya Rabb, Kaulah pelindung hati ini, jika engkau ridha, aku hanya mohon berikan
hatiku kepada yang halal bagiku.
.
Rabbku, pintaku berikan yang terbaik yang Kau ridhai agamanya. Bantu aku
menjaganya hingga halal.
Aamiin
Kau mungkin tak
selalu bisa melihat bagaimana aku merapikan sebuah nama yang sangat ku rindu
itu.
Kau juga mungkin tak selalu bisa menatapku disini, bagaimana aku menahan segala
tentang rasaku.
Aku ingin benar-benar jatuh pada hati seperti yang ku pinta pada-Nya, semua
dariku agar dijaganya baik-baik. Cara hatinya memuliakan cinta di hadapan Sang
Maha cinta.
Untuk sebuah anugerah terindah yang Allah ciptakan.. Biarkanlah keikhlasan kita
mempercayai janji-Nya. Ketahuilah Allah lah yang nanti memilihmu untuk
mencintaiku. Dan Allah jualah memilihku untuk melabuhkan hati ini padamu.
Untuk sebuah nama yang nantinya kan tercipta di secarik kertas hatiku,
percayalah bahwa nanti kan menetap satu hati yang sebenarnya begitu rapuh. Maka
rawatlah hati itu dengan ketulusanmu, siramilah ia dengan hujanan kasihmu
karena-Nya, temani dia selalu dalam pelukan doa, genggam dia erat-erat menuju
taat pada-Nya dan bimbinglah dia hingga menjadi teman sehidup sesurgamu kelak.
Kuatnya keyakinan hati yang ingin saling mencintai hanya mencari jalan pahala
dan ridho-Nya. Sungguh menentramkan, hati yang hanya inginkan kehalalan cinta
dan banjiran pahala-Nya. .
Sebab seseorang yang bermakna dalam hidupku adalah dia yang mau bersamaku dan
merubahku menjadi lebih baik.
.
Begitulah motivasi meraih cinta hingga Jannah-Nya. Semoga Allah membingkai hati
yang kuat dan penuh keimanan. Percayalah, sambil tersenyum sebenarnya Allah
selalu menatap rindu pada setiap hati para hamba-Nya ingin saling mencintai
karena-Nya. . .
Harta Karun di Hutan Lotus ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka
Putri Karina merasa bingung. Pagi-pagi sekali ia mendapatkan sebuah
surat misterius berbunyi: Hutan Lotus, Harta Karun, 630. Dahinya
berkerut. Apa maksudnya? Benarkah ada harta karun di sana? Tanyanya
dalam hati. Seingatnya, Hutan Lotus adalah sebuah hutan yang berisi
aneka tumbuhan lebat dan terkenal angker. Banyak masyarakat yang tidak
berani ke sana.
Tapi, jika memang ada harta karun yang tersimpan di sana, Putri
Karina berharap harta karun tersebut bisa digunakan untuk membayar
hutang ke Kerajaan Alyoska, kerajaan yang sekarang sedang menawan
ayahnya. Jika dalam kurun waktu satu tahun ke depan kerajaanya yaitu
Kerajaan Kiryosi tidak bisa melunasi hutang, maka ayah akan dijadikan
tawanan seumur hidup dan Kerajaan Kiryosi akan menjadi milik Kerajaan
Alyoska. Putri Karina tidak menginginkan itu. Ia kemudian memacu kudanya
dengan cepat. Ia tidak boleh membuang waktu.
***
Hutan lebat, suasana mencekam, dan membingungkan. Putri Karina
memasuki Hutan Lotus dengan hati bergetar. Dilihatnya sekeliling.
Sepertinya pohon-pohon di Hutan Lotus tidak tumbuh sembarangan, hutan
tersebut diatur sedemikian rupa agar manusia yang masuk akan kebingungan
dalam memilih jalur. Karena itu, banyak cerita yang beredar bahwa tidak
ada orang yang bisa keluar dengan selamat jika sudah memasuki hutan
tersebut.
Putri Karina menghela nafas. Ia tidak mau mati sia-sia di hutan ini.
Ia harus memecahkan misteri dari surat yang diterimanya. Hutan Lotus,
Harta Karun, 630. Apa maksudnya ini? tanyanya dalam hati. Di tengah
kebingungannya, Putri Karina menunggang kuda tanpa arah. Tanpa sengaja
ia menemukan sebuah kolam yang ditumbuhi aneka bunga lotus. Putri Karina
terkesima. Tanpa pikir panjang ia kemudian turun dari kuda dan
mendekati bunga lotus paling besar yang berada di ujung kolam. Namun
ketika ia hampir mendekati ujung kolam, kakinya tiba-tiba terperosok
masuk ke dalam jurang. Sepertinya ada jebakan!
***
Putri Karina tersandung. Dirasakan perih di kakinya. Suasana sepi sunyi. Ternyata Putri Karina terperosok ke dalam gua.
“Halo, apakah ada orang?” Putri Karina berteriak.
Tapi yang terdengar hanyalah gaung dari suaranya sendiri. Putri
Karina kemudian berjalan menyusuri lorong gua sambil meraba dinding gua.
Ada yang aneh dari salah satu dinding gua. Dinding tersebut tidak rata
seperti yang lain. Apakah ini pintu rahasia? Tanyanya dalam hati. Putri
Karina kemudian mendorong dinding tersebut. Dinding itu bergeser dan
terhamparlah buku-buku yang tersusun rapi dalam barisan rak.
Perpustakaan! Pekiknya dalam hati. Ia tak menyangka ada perpustakaan
di dalam gua. Putri Karina lalu menyalakan obor dan masuk ke dalam.
Dilihatnya buku-buku yang sudah berdebu. Buku-buku tersebut
diklasifikasikan menurut subjeknya dengan sistem penomoran tertentu.
Hutan Lotus, Harta Karun, 630. Putri Karina mangulang isi surat
misterius itu dalam hati.
630, 630?! Putri Karina terperanjat ketika sampai di kelas 630.
Jangan-jangan itu adalah kode dari sistem penomoran buku perpustakaan!
Dilihatnya buku-buku di kelas itu. Kelas tersebut memuat tentang
pertanian, peternakan, dan teknologi yang berkaitan dengan kedua hal
itu. Putri Karina lalu membacanya. Kemudian ada yang menghentak hatinya.
“Ini bukan jebakan, ini adalah sebuah petunjuk!” cetusnya dalam hati. Tiba-tiba ia mendapat ide.
***
“Aku ingin kalian mempelajari buku-buku yang ada di perpustakaan
Hutan Lotus dan mengajari apa yang kalian ketahui kepada rakyat,” ucap
Putri Karina setelah menceritakan perihal penemuannya di Hutan Lotus.
Para cendekiawan dari berbagai bidang mengangguk-angguk setuju dengan
ide yang dilontarkan oleh Putri Karina.
Perpustakaan di Hutan Lotus kemudian dibuka dan dipelajari dengan
tekun oleh para cendekiawan. Setelah merasa cukup, para cendekiawan
tersebut kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri untuk mengajari
rakyat tentang segala hal. Tidak hanya tentang pertanian dan peternakan
yang menjadi produk unggulan Kerajaan Kiryosi, tapi juga dari segi
ekonomi, bahasa, komunikasi, ilmu alam, bahkan sastra.
“Putriku, mengapa kau tidak mengajari mereka tentang teknologi
pertanian dan peternakan saja? Bukankah itu kode yang terdapat dalam isi
surat misterius itu?” tanya Raja Karen, ayah Putri Karina, ketika
beliau sudah terbebas dari tawanan dan kembali lagi ke Kerajaan Kiryosi.
Putri Karina tersenyum. “Tidak Ayahanda. Memang benar masalah kita
terletak pada produksi dan kualitas pertanian dan peternakan kita yang
jauh dari kerajaan lain, yang membuat kas keuangan kerajaan kita menurun
dan terlibat banyak hutang. Tapi menurut saya, letak masalah terbesar
rakyat kita adalah mereka kurang berpengetahuan tentang ilmu-ilmu lain.
Semua ilmu itu berkaitan Ayahanda. Jadi, selain bisa menghasilkan uang
dari produksi pertanian dan peternakan, saya juga ingin rakyat kita bisa
berbahasa yang baik, mengerti tentang alam dan menjaganya, serta
mengerti tentang keluhuran sastra. Dengan begitu, rakyat kita tidak
hanya bisa hidup sejahtera, tapi juga tidak mudah dibohongi. Dan tak
kalah penting, bermartabat,” ucap Putri Karina panjang lebar.
“Lalu, bagaimana caramu bisa keluar dari Hutan Lotus Anakku?” tanya Raja Karen menyelidik.
“Mudah saja Ayahanda. Semua pohon di sana diatur sedemikian rupa agar
orang yang masuk ke dalam sana bingung dalam memilih jalur. Tapi ada
satu pola yang berbeda, yaitu pohon beringin. Saya hanya mengikuti pola
pohon beringin yang lurus mengikuti pergerakan cahaya matahari. Dan
ternyata benar, pola itulah yang menjadi jalan keluarnya,” jelas Putri
Karina.
“Selain bijaksana, ternyata kau juga cerdas, Nak,” ucap Raja Karen kagum.
“Tapi apakah kamu yakin di Hutan Lotus benar-benar tidak ada harta karun?” tanya Raja Karen dengan senyum misterius.
“Maksud Ayahanda? Apakah di sana benar-benar ada harta karun?” tanya Putri Karina dengan dahi berkerut dan mata melebar.
Raja Karen tertawa.
“Hahaha. Kau telah menemukan harta karun yang sebenarnya Nak, yaitu
ilmu yang bermanfaat,” ucap Raja Karen sambil menepuk bahu Putri Karina.
Putri Karina tersenyum. Tentu saja, ilmu adalah harta karun yang paling
berharga. (58)
Masih kurahasiakan sebuah perasaan
Sebuah rasa yg hanya aku dan Rabbku yg tahu
Diam diam aku mengadu padaNya di tiap doaku
Andai dapat kuputar waktu dimana aku bisa lebih dulu mengenalmu
Ataukan dapat kumajukan waktu dimana aku bisa melihat masa depanku bersamamu
Semua kuserahkan padaNya
Aku senantiasa menanti waktu
Aku bahkan takkan pernah tahu siapa yang duluan menjemput
Akankah maut ataukah jodoh
Kupersiapkan diriku
Memperbaiki diri, menjaga hati, menjaga diri tuk segala kemungkinan yang
terjadi
Masih kutanamkan doaku untuk dipertemukan belahan jiwa
Semoga jiwa kelam ini bisa tergantikan oleh ketentraman dan warna cerita cinta
Jika jodoh yg menjemput aku berharap dia yang selalu aku doakan
Seseorang yang juga mendoakanku untuk segera dipertemukan
Doa doaku tetap terpatri
Tapi usahaku untuk dapatkanmu adalah dengan sebaris puisi yang kuuntaikan
kepadaNya
Mungkin tak dapat kau dengar dan rasakan
Biarlah..
Aku percaya takdir Tuhan itu yang terbaik
Hanya saja perlu kau tahu
Aku tetap menuggumu..
“Ya Allah, jika dia tidak
dikehendaki untukku, ku mohon hapuskanlah segala rasaku”
Terkadang, kalimat itulah yg ku pinta dalam sebagian do'a
Allah pasti mendengarnya, hanya saja Allah tentu punya rencana yang indah
Jujur saja, aku merasa sangat lelah
Aku terlalu dipermainkan oleh perasaanku sendiri
Kadang ingin tetap bertahan, kadang juga ingin berhenti
Kadang ingin menjauh pergi, tapi naluri meminta berjuang lagi
Padahal nyatanya, aku kembali berhenti di dalam duka seperti ini
Untuk kesekian kali, lagi, dan lagi
Aku tidak ingin mencintainya, jika pada akhirnya aku harus terluka
Aku tidak ingin mencintainya, jika pada akhirnya aku tidak bersamanya
Meski terkadang orang bilang, cinta yang tulus tak perlu balasan
Tapi rasanya itu semua hanyalah kebohongan
Siapapun, pasti ingin cintanya terbalaskan
Meski hanya sekedar mendapat pengakuan tanpa mampu digenggam
Kenapa aku harus mencintainya?
Kenapa aku harus menyayanginya?
Kenapa aku harus menginginkannya?
Kenapa aku harus selalu memikirkannya?
Kenapa rasa itu harus ada untuknya?
Sementara dia? Sama sekali tidak turut merasakannya
Aku bosan berteman dengan duka
Aku lelah menangis dalam asa
Aku ingin bahagia, sama seperti yang lainnya
Aku ingin cintaku utuh hanya untuk Allah semata
Sampai kapan aku harus berada dalam titik ujian?
Sampai berapa lama lagi aku hidup dengan penderitaan?
Tak pantaskah aku merasakan ketenangan?
Pertanyaan itulah yang selalu bergelut dalam fikiran kala hati mulai dipenuhi
rasa sesak dan luka yang cukup menyayat
Aku terlalu banyak dikelilingi pertanyaan yg sebenarnya tidak pantas ku
pertanyakan
Aku cukup sadar setelah aku merasa tenang, bahwa semua itu hanya sekedar emosi
sesaat,
Sedikit luapan atas setumpuk beban yg tak sanggup lagi ku tahan
Seketika nuraniku mengatakan bahwa aku harus banyak belajar
Entah itu belajar menerimima kenyataan,
Atau bersabar dalam menjadi pemeran skenario Tuhan
Untuk apapun itu, kelak pasti akan ku temukan jalan
Entah akan berujung kepadanya, atau seseorang yg lebih baik darinya
Meski hati menginginkan dia untuk melabuhkan rasa
Tetapi jika Allah tidak menghendaki, aku bisa apa?
Dulu, aku memang memiliki rasa
padamu
Rindu juga cemburu menjadi satu karenamu
Senyum juga tatapanmu membuatku luluh
Bahkan, hatiku tak pernah berdetak sewajarnya saat didekatmu
Dulu, aku merasa dihantui dengan rasa yang ada
Rindu seketika menjadi pilu saat dipendam
Cemburu menjadi api yang membakar
Semua berkolaborasi menghancurkan
Dulu, ada dua hal yang harus ku pilih
Aku yang terus menerus merasa sakit karena bahagiamu bukanlah aku
Ataukah mencoba kau mengerti akan rasaku
Kau tau apa yang ku pilih?
Pilihanku selalu sama dengan mengikhlasi
Tak memaksa perasaanmu untuk memahami
Aku tak egois hanya memikirkan diri sendiri
Karena, bahagiamu berada diatas rasa ini
Aku selalu membunuh rasa itu dengan sengaja
Bahkan dengan cara memaksa
Namun semuanya sia"
Aku malah terluka
Aku tak berputus asa
Ku coba membunuhnya dengan perlahan
Hingga rasaku padamu sekarang hilang
Walau berbekas kenangan
Aku merelakanmu pada sang waktu
Dan, berdo'a pada Rabb-ku
Semoga kau bahagia selalu
Walau alasannya bukanlah aku
Aku melupakanmu karena ini semua tak baik bagiku
Dan, juga kau bahagia tanpaku
Aku takut terbuai hingga jauh dari Rabb-ku
Ku pilih melupakan dengan mengikhlasimu
"Memang, melupakan bukanlah hal yang mudah
Namun, pasti bisa dilakukan walau perlahan
Dekatkanlah diri pada-Nya
Agar dipermudah kejalan-Nya
Yang tak terus-menerus berharap pada ciptaan-Nya"
Hingga kini, aku masih saja berada dalam mimpiku yg tinggi ini
Dan rasanya, diri ini terlalu banyak berangan-angan
Hingga saat ini membuatku enggan untuk beranjak
Terlalu indah mimpi-mimpi yg ku khayalkan sehingga aku melupakan sudah seberapa
jauh aku bermimpi dan berangan
Aku terlalu asyik dengan kisah yg ku ukir sendiri dalam mimpiku
Hingga aku pun melupakan bahwa ber-angan tanpa mengikut sertakan Allah itu akan
membuat aku terjatuh dan terasa menyakitkan saat akan beranjak dari itu
Aku bahagia ketika aku membayangkan hari-hari indahku, akan ku habiskan
bersamamu
Membina kasih sayang sembari menunggu Allah akan menjemput ajal salah satu
diantara kita
Bersama menjalin cinta halal hingga berusaha menuju Surga Allah
Salahkah aku dan harapku ini ?
Berdosakah aku dengan ingin ku ini ?
Jika namamu adalah yg selalu aku semogakan dalam alunan do'aku
Lalu adakah semoga yg engkau sertakan dalam namaku
Atau mungkin ada nama orang lain yg sedang engkau semogakan
Dan aku pun tak sanggup untuk membayangkannya apalagi menghadapinya
Jika memang dirimu bukanlah seseorang yg Allah jadikan pendamping hidupku
Semoga Allah hilangkan secepatnya rasa dan harap ku ini
Percuma saja, diriku pun tak kuasa untuk memaksakan cinta dari hati yg tak
mencintaiku
Aku tak bisa memaksakan tangan yg tak ingin memimpin tanganku