Daftar Blog Saya

Minggu, 07 Mei 2017

Mak Merindukan Purnama


Mak Merindukan Purnama ilustrasi Rukii - Media Indonesia.jpg
Mak Merindukan Purnama ilustrasi Rukii/Media Indonesia
PADA sore yang berkabut itu, dia terbungkuk-bungkuk menuruni lereng Sungai Kuranji. Pinggangnya yang seminggu belakangan sakit, sesekali dielusnya. Jalan tanah menuju sungai hanya jalan kecil. Berkelok-kelok dan sedikit licin. Sangat hati-hati dia melangkah. Dia tidak ingin terpeleset lalu jatuh ke sungai. Tangan kanannya menjinjing baskom kecil untuk membawa air.
Mata air hanya dua meter dari lereng ujung jalan di bawah sungai. Tatkala sudah berada di bawah sungai, dia langsung duduk di depan mata air itu. Dijulurkan dua tangan ke dalam kolam kecil tempat mata air mengalir, dan dia meminum air di telapak tangannya. Dahaga setelah menyantap sepiring nasi telah terlunaskan. Ya, dia lupa persediaan air minumnya tadi sudah habis. Dia baru menyadarinya setelah makan. Meminum air dari mata air itu tanpa dimasak sudah biasa baginya.
Di langit kabut masih berputar. Angin menggoyang-goyang ilalang yang tumbuh mengitari Sungai Kuranji. Di belakangnya, air sungai mengalir deras. Dia mulai memasukkan air ke dalam baskom kecilnya dengan gayung yang selalu disimpannya di dekat mata air.
Seorang laki-laki, entah siapa, dari atas tebing mendongakkan kepalanya.
“Hoi Mak, cepatlah naik! Lihat, langit sudah berkabut. Nanti air besar datang!” seru laki-laki itu.
Dia menengadah. Melihat siapa yang bersorak. Laki-laki berkepala botak. Berbaju hitam. Dan, dia mencibir.
“Sudah lama aku makan asam garam, kau mengajariku pula, tahulah aku segala makna,” jawabnya pelan. Dia terus saja memasukkan air ke dalam baskomnya. Tak peduli pada laki-laki itu.
Dia kembali menengadah, mencoba menemukan laki-laki tadi, tapi dia tidak lagi melihatnya.
***
Persis pada lengkingan anjing hitam yang keempat dia menyelesaikan salat Magrib di atas rumah kayu miliknya. Dia mengucapkan salam. Ketika matanya mengarah ke sisi kanan, dia melihat si lelaki berkepala botak yang sore tadi menyorakinya dari atas tebing, sedang tidur tengkurap. Dia tidak langsung membuka mukenanya. Dia berdoa sejenak.
Lelaki itu tampak nyenyak sekali. Sesekali mulutnya berdesis. Seperti ular lapar. Setelah berdoa dia kemudian melemparkan sebelah sandal yang mengenai kepala si lelaki. Si lelaki tersentak. Siapa yang melempar? Dalam remang cahaya laki-laki itu melihat seorang perempuan berdiri dan menantangnya.
“Kau memang tak punya otak, mungkin memang tak punya benak. Dari tadi kulihat kau tidur saja. Angkat kakilah dari rumahku ini! Aku muak! Dasar laki-laki botak,” bentaknya.
Laki-laki itu mengusap-usap matanya sejenak, “Jangan mengusirku, Mak. Aku menantu Amak.”
“Aku merasa kau bukan menantu, tapi hantu. Botak!”
“Jaga mulut, Mak!” Ia mulai berdiri.
“Kenapa? Kalau tidak aku jaga kenapa?”
Laki-laki itu amat tersinggung. Baru kali ini ia dicaci.
“Kalau Amak marah padaku biarlah aku pergi.”
“Pergilah! Dan, jangan pernah kembali!”.
“Pasti aku kembali Mak, sebab aku menantu Mak.”
“Jangan pernah kembali. Selama anakku belum kembali kau bukan menantuku.”
“Mak…”
“Kenapa? Kau tak suka? Kau memang tak punya benak. Sedikit pun kau tak peduli pada anakku. Dia hilang tak berkabar, apa yang kau lakukan? Kau hanya bisa bersenang-senang. Kau tak pernah memikirkannya.”
“Bukan begitu Mak. Ke mana aku harus mencarinya. Negeri itu terlalu jauh. Mana bisa aku ke sana,” katanya.
Sekali lagi anjing hitam itu terdengar menyalak dari bawah kandang. Suaranya mengejutkan perempuan tua itu.
“Anjing tak punya otak!” katanya.
Dilemparnya anjing itu dengan sepotong kayu. Bunyi berderak menimpa kandang. Anjing itu melolong, dan menjauh.
“Sudah berulang kali kuusir, tapi kembali datang. Bila dapat kupotong kakinya.”
“Dia anjingku, Mak.”
“Aku tak peduli. Kau lebih menyukai anjing daripada anakku. Kenapa dulu kau tak kawin saja dengan anjing itu.”
“Mak…”
“Sudah, pergilah, anakku sudah lama tak kembali. Sebaiknya kau jangan pulang. Apa pula kata orang. Aku takut kau mabuk sehabis minum tuak, lalu aku pula yang akan kau tiduri,” katanya sambil memasuki biliknya.
Laki-laki itu menarik sarungnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala.
“Dasar perempuan tua! Dikiranya aku berhasrat pula menidurinya.”
Ia bergegas meninggalkan rumah itu dengan rasa kesal. Kantuknya hilang begitu cepat setelah mendengar kata-kata mertuanya itu. Ia menyusuri pekarangan rumah yang gelap. Langkahnya menuju sisi utara. Di kepalanya terbayang sebuah kedai. Tempat para lelaki melepas penat: bersenang-senang, bermain domino, menonton TV sambil meneguk bir, bahkan mabuk.
***
Dibukanya pintu bilik pelan-pelan, lalau menatap sekeliling. Akhirnya dia yakin laki-laki itu sudah pergi. Dia lega.
Dilepaskannya tatap pada pekat malam. Dia bergumam.
“Purnama, dari dulu sudah kukatakan, kau termakan kasih muda. Cintamu tak bermata. Benar dugaanku bukan? Jangan pernah menikah dengan laki-laki penyuka anjing. Kau akan terabaikan, tapi kau tak hirau.”
Matanya masih memandang ke luar halaman. Malam telah menyungkup pekarangan. Tak ada keremangan cahaya. Bulan telah mati di atas langit sana. Bintang-bintang telah raib. Angin leluasa meliuk-liukkan dahan-dahan pohon. Tapi dia menemukan wajah Purnama di balik itu semua. Malam yang pekat, angin yang dingin semakin membuat wajah Purnama seperti nyata di matanya. Dia ingat, di malam yang serupa ini, dia dan Purnama pernah berdebat, hingga menonjolkan urat-urat lehernya yang sudah tua.
“Bagaimana Amak bisa merestuimu Purnama? Kau akan kawin dengan Bigar, laki-laki yang tidak bisa menjamin masa depanmu.”
“Dia memang belum punya pekerjaan tetap Mak. Tapi dia akan mencari pekerjaan bila telah menikah nanti. Uda Bigar akan giat bekerja apa saja asalkan mendapatkan uang?”
“Bekerja apa saja? Apakah itu termasuk menyabung ayam dan berjudi Pur?”
“Mak…”
Apa yang dia rasakan biasanya tak pernah meleset dari kenyataan. Seperti mimpi yang datang, dia tahu apa yang terjadi keesokan. Kadang dia merasa seperti peramal. Maka tak heran, dia tidak merestui Purnama untuk bersanding di pelaminan.
Waktu terus berputar. Satu musim usai. Suatu hari dia terpaksa mengubah keyakinannya. Purnama harus segera dinikahkan dengan Bigar, jika tidak ingin malu. Purnama, gadis belia yang baru satu tahun menamatkan SMA, telah bunting. Dia merasa semakin tua.
Dia jalani waktu bagai belenggu. Anaknya yang berkepala batu telah hidup bersama Bigar.
Seperti ramalannya, memang tak pernah meleset. Bigar memang laki-laki bengal. Ia tak pernah menafkahi keluarga. Kerjanya cuma bersenang-senang. Sepanjang siang dia hanya tidur terlentang.
Pada awal Januari yang panas, cucunya lahir. Dia teramat senang. Kesenangannya seolah-olah menghilangkan kekecewaannya. Seiring dengan kehadiran cucu itu dia berusaha menerima Bigar sebagai menantunya, sepenuh hati. Tapi Bigar tidak berubah. Dia tetap saja suami yang pemalas.
Pertengkaran mulai terjadi. Purnama akhirnya tidak tahan juga menerima tabiat Bigar yang malas. Hampir tiap hari mereka bertengkar. Purnama tidak tega terus bergantung pada Maknya. Penghasilan Mak dari berjualan sayur di pasar tidak seberapa. Dia malu menyusahkan Maknya.
Suatu sore cucunya panas tinggi. Dia mengambil daun jarak dan mencelupkannya ke dalam air, lalu dia oleskan ke tubuh cucunya. Dia sangat cemas. Tapi, kesembuhan yang dibayangkannya tidak terjadi. Dua jam setelah itu, cucunya meninggal dunia. Dia merasa ditimpa puing-puing beton.
Purnama hilang kesadaran, jatuh pingsan menyaksikan anaknya telah tiada. Tulang-tulangnya terasa remuk. Kepalanya seperti menerima beban berat. Tapi Bigar, di sudut kamar, hanya terdiam dan tak henti-henti mengembuskan asap rokok.
Hidup memang telah digariskan. Seperti Purnama, mungkin frustrasi karena kehilangan anaknya, atau jenuh menerima suami yang pemalas, akhirnya berkeputusan meninggalkan kampung halaman.
Pasa suatu malam, ia sampaikan keputusan itu pada Maknya.
“Ini sudah keputusanku Mak, aku harus meninggalkan Mak. Biarlah aku jauh.”
“Jika keputusanmu hanya karena kau malu pada Mak, karena dulu tak hirau, Mak harap kau batalkan niatmu, Pur.”
“Benar aku malu pada Mak, tapi niatku tak bisa dihalangi.”
“Bagaimana dengan Bigar?”
“Aku tak hiraukan dia.”
Selama kepergian Purnama bekerja di Malaysia, yang bekerja entah apa, hanya dalam waktu tiga bulan anaknya itu sering meneleponnya, tapi setelah itu, Purnama raib tak berkabar. Kini sudah memasuki bulan keenam Purnama meninggalkan rumah.
***
Dia masih berdiri di pintu bilik kamarnya. Dia merasa malam ini hidup begitu kelam. Sekelam malam. Dalam kelam dia masih membayangkan wajah Purnama, cucunya, dan Bigar menantunya. Tapi dia tidak bisa mengingat wajahnya sendiri…

Farizal Sikumbang, cerpenis kelahiran Padang. Ia guru di daerah terpencil Kabupaten Aceh Besar. Buku terkininya Kupu-kupu Orang Mati (2017).


Rio Menjadi Serangga


Rio Menjadi Serangga ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Rio Menjadi Serangga ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar
SAAT mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku. Saya bukan pegawai rendahan yang oleh mantra Kafka kemudian menjadi kecoa. Juga bukan penulis muda yang oleh sihir Murakami dijadikan kambing yang dari perutnya beterbangan kunang-kunang. Saya kutu buku sedari dulu.
Di salah satu kios buku bekas, saya tinggal di antara lipatan-lipatan buku. Saya mencium dan kadang menemukan banyak kawan saya sesama kutu buku sekadar hidup dan makan. Lahir sebagai kutu buku adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Namun menjadi kutu buku bodoh, sekadar menggeripisi halaman demi halaman buku, dan menanti ajal mengundang adalah pilihan.
Di salah satu halaman ensiklopedia yang saya baca, serangga-serangga kecil seperti saya hidupnya tak lebih lama dari masa tanam pohon jagung. Bahkan bisa lebih pendek kalau wanita pemilik kios ini menyemprotkan obat antiserangga, memberi kapur barus, atau dengan kejinya menginjak tubuh-tubuh kami yang kecil hingga keluar semua isi perut kami.
Maka dari itu, saya ingin berkisah tentang bagaimana Tuhan dengan begitu senonoh menanamkan rasa cinta kepada saya. Cinta, baik di serangga maupun manusia, sama saja. Dia datang tiba-tiba dan kerap menggelapkan mata. Tapi berkat cinta juga, tubuh saya kerap memanas ketika yang saya cintai menampakkan wajahnya.
Saya bukan jatuh cinta kepada pemilik kios buku bekas saya. Dia seorang wanita tua yang bila tak ada pembeli datang akan tertidur sambil duduk di kursi plastik. Mendengkur dan sesekali saya saksikan tetesan liur membasahi blus hingga rok. Saya tak akan menyukai manusia yang tak pernah menghitung hari seperti dia.
Saya jatuh cinta kepada Rio. Saya tidak tahu nama lengkapnya. Saya juga sedikit ragu apakah nama itu benar namanya sungguhan atau sekadar nama asal yang ditemukan wanita tua penjaga kios buku.
Jam 9 lebih sedikit, hari Selasa, karena saya ingat dua hari sebelumnya gereja yang tak jauh dari pasar buku loak ini melantunkan senandung misa yang damai. Wanita tua itu diserang kantuk pagi. Kepalanya berkali-kali terantuk dengan dadanya sendiri.
Seorang lelaki mengangkat sebuah buku tua. Saya tahu buku itu tak pernah dipegang karena tak menimbulkan minat, dan dua kawan saya sesama serangga telah membuat lubang di seratus halaman terakhir. Tak banyak, tapi sudah cukup membuat buku itu cacat. Dia membuka-buka beberapa halaman dan kemudian terbatuk lantaran debu yang terselip di antara halaman-halamannya.
Suara batuknya mengagetkan wanita penjaga kios buku bekas.
“Nyari apa, Nak?” tanya wanit penjaga kios buku.
“Lihat-lihat saja,” jawabnya.
“Silakan,” wanita itu kemudian mengamati gerak-gerik calon pembelinya. “Dilihat-lihat kamu mirip banget sama Rio, pembalap itu!”
“Saya cuma mahasiswa yang belum lulus kuliah, Bu!” jawabnya.
“Beneran, kamu mirip banget sama Rio si pembalap. Putih, ganteng, dan keker banget!” wanita itu tertawa dan disusul lelaki yang semenjak itu kupanggil Rio. Saya tahu wanita itu hanya sedang meluncurkan rayuan agar Rio mau bertahan lebih lama di kiosnya dan kemudian tertarik membeli salah satu buku.
“Terserah Ibu saja!”
Wanita itu memberinya sesimpul senyum. Saya tersentuh oleh keuletan wanita itu menjerat Rio dan keramahan Rio yang tak jijik melihat wanita tua dengan keriput mirip kulit kayu jati.
Wanita itu menyodorkan buku-buku sembarangan. Ya, sebuah usaha untuk memancing ketertarikan Rio. Namun hanya dua kali menerima sodoran buku, kemudian Rio menjauh pamit.
Di pertemuan pertama itu saya rasakan ada yang berguncang dalam abdomen. Gejolak yang lembut namun kuat rambatannya. Aku sedang jatuh cinta.
Setiap pagi, pasca-pertemuan itu, saya berharap Rio datang sekadar melihat-lihat dan saya dapat melihat wajahnya yang halus dan lipatan ketiaknya yang menyimpan sebuah kehangatan. Entah mengapa, selain wajah Rio saya tertarik dengan bahu dan lipatan ketiaknya. Sebagai serangga yang menyukai hal-hal yang terimpit, saya jatuh cinta. Saya yakin akan ada kehangatan di dalam sana. Saya akan merasakan sesuatu yang tak lagi sedingin kios buku bekas ini kala malam dan wanita penjaga kios itu menutup kios untuk pulang.
Tetapi saya tetaplah seekor insekta yang tak punya kaki untuk mengejar Rio, tak bersuara lantang untuk menyuarakan kegalauan setelah aku bertemu dengannya tanpa sengaja. Jadi, yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa agar Rio kalau sedang senggang memikirkan kios buku tua ini.
Dan Tuhan benar-benar sedang tak bisa diajak kompromi. Rio ternyata datang hampir tiap hari ke kios, mungkin lebih tepat saya sebut pasar buku bekas ini. Memang Rio tak mengkhususkan untuk menuju kios tempat saya tinggal. Tapi tiap kali datang, saya bisa menyaksikannya dari kejauhan dan cukup senang bisa menyaksikan kembali wajah dan ketiak Rio.
“Ibu, saya sedang mencari buku,” Rio berhenti kembali di kios tempatku bersembunyi.
“Buku apa, Nak Rio?”
“Buku apa saja, yang penting tentang serangga dan anatominya,” jawab Rio.
Ibu itu gegas masuk ke tumpukan yang lebih rimbun. Saya tahu di dalam sana, buku-buku banyak tergeletak tidak jelas, beberapa masih teronggok di dalam kardus, diikat dengan tali rafia ala kadarnya, atau terdiam tersudut di pojokan kios. Oleh sebab itu tak heran bila banyak buku di kios ini menjadi sarang kutu buku, kecoak, bahkan kerajaan lipan.
Saya mengamati Rio. Melihat lekuk demi lekuk tangan dan bahunya yang kali ini ditutupi singlet. Saya terpesona dan sekaligus membayangkan bisa bersembunyi entah di ketiak kanan atau ketiak kiri.
Lima menit kemudian, wanita pemilik kios buku keluar. Lima buku kuno dengan kertas-kertas berwana kuning dan mulai geripis.
“Ini semua buku tentang fauna, serangga. Rata-rata usianya lebih tua dari kamu. Bahkan ada yang selisih setahun denganku. Jadi, ini selain buku ilmu juga buku kuno.”
Rio membalasnya dengan tersenyum. Manis. Ya, itu senyum manusia paling manis yang pernah saya temukan. Mungkin juga karena setiap hari saya hanya melihat wanita itu dan sesekali Rio.
Rio membaca judul-judul buku itu, kemudian membuka beberapa halaman. Sesekali tangannya menekuk untuk menutupi hidung dari serbuan debu yang tiap kali dia membuka buku debu beterbangan seolah terbebas dari kekangan.
Saya, yang dalam cerita ini satu-satunya tokoh yang jatuh cinta kepada Rio, mulai mendekatinya. Saya yakin, Rio dan semua manusia selalu abai dengan hal-hal kecil seperti serangga seperti saya. Jadilah saya mulai menyelinap di antara tumpukan buku, kemudian mendekati tubuh Rio yang mencagak di depan kios.
Saya mulai menaiki kaki dan kemudian menjalari ke tubuh bagian atas Rio. Seperti semula saya hanya jatuh cinta kepada ketiak Rio, jadilah tujuan utama saya bisa menyelinap di ketiak Rio. Setelah berusaha agar tak terlihat Rio dan tidak menimbulkan kecurigaan karena kadang kaki serangga bisa menumbuhkan rasa gatal. Kalau sudah demikian, bisa-bisa Rio menggaruk-garuk. Risiko terkecil aku terjatuh dari usaha menaiki tubuh Rio, dan skenario terburuknya kuku tangan Rio bisa-bisa membuat tubuhku meletus. Kaki saya entakkan perlahan. Berjingkat agar tak menimbulkan rasa-rasa lain, kulit Rio pastilah sesensitif kulit manusia yang lain.
“Saya ambil yang ini,” Rio mengangkat buku berjudul Ensiklopedia Serangga.
Sementara saya masih bersembunyi di ketiak Rio, dia membayar dan kemudian membawa pulang buku itu. Wanita itu tersenyum karena dia mendapat uang. Wajah Rio ceria karena yang dicari telah ditemukan. Dan saya sendiri bahagia dan berdebar karena berhasil menyusup dan tinggal dalam beberapa waktu di ketiak Rio.
Saya tak tahu berapa lama saya di dalam ketiak Rio. Namun ketika ada cahaya melintas masuk ketiak, saya tahu telah berada puluhan kilometer dari kios buku bekas. Kini saya ada di kamar, yang saya duga adalah kamar Rio.
Rio melepas baju dan menyalakan kipas angin. Saya masih diam di ketiaknya.
“Sayang, tunggu aku. Sebentar lagi aku akan menjadi serangga. Kita adalah sepasang serangga paling bahagia. Lupakan kehidupan manusia yang serba-dusta ini! Tuhan memang kurang kerjaan, mengapa aku harus jatuh cinta kepada serangga.” Rio merapal mantra sambil membaca-baca ensiklopedia serangga itu.
Dada saya bergemuruh. Mungkinkah Tuhan sedang ingin mempertemukan saya dengan Rio? Kalau Rio menjadi serangga, saya bisa bersua langsung dan kami akan jadi sepasang serangga, bercinta ala serangga, dan menghasilkan banyak larva. Kalau benar, itu akan membuat saya sebagai kutu buku paling beruntung.
Sebentar lagi saya bisa seperti yang dilakukan oleh dua spesies yang dimabuk cinta.
“Sayang, karena kamu telah berganti wujud menjadi kupu-kupu, aku akan menyusulmu menjadi kupu-kupu juga,” kalimat Rio seketika meruntuhkan.
Aroma hangat ketiak Rio yang semula hangat mendadak apak. Saya kembali menjadi kutu buku yang hanya hidup terimpit. Kemudian saya rasakan tubuh Rio menyusut, dan sedikit demi sedikit sayap tumbuh di punggung Rio. Rio sebentar lagi akan paripurna menjadi kupu-kupu demi kekasihnya. Dan saya tetap menjadi kutu buku. Sekali lagi, Tuhan menciptakan permainan demi kepuasan-Nya sendiri.

Terluka




Ketika terluka karena cinta pada makhluk-Nya sebelum menikah, Allah Swt hanya ingin mengenalkan pada cinta sejati, yaitu cinta kepada-Nya.

Allah Swt hanya ingin menunjukkan bahwa cinta sebelum halal hanyalah kamuflase nafsu semata. Tidak ada cinta tulus, cinta suci maupun cinta sejati di dalam hubungan haram itu.

Karna cinta itu fitrah jika menyikapi dengan aturan yg diridhai-Nya. Dan cinta itu bisa jadi fitnah jika mendahulukan nafsu rasa yg menggelora.

Karna cinta itu anugerah jika menyikapi dengan takwa. Maka bahagia pun datang tak terduga, dan insya Allah berakhir jannah-Nya.

Percayalah, Allah Swt tidak mengambil dari diri kita selain yg buruk. Termasuk jika cinta sebelum halal kita genggam erat pergi meninggalkan luka, maka beruntunglah.

Bersyukurlah. Itu awal mula kebaikan. Awal dari cinta sesungguhnya. Dan awal mula dari kebahagiaan yg diridhai-Nya.

Semangatlah dalam kesendirian yg penuh ketaatan menanti cinta yg diridhai-Nya.


Hikayat Moksa


Hikayat Moksa ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Hikayat Moksa ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat
KOTA kami bukan kota istimewa, tapi cuma kota kecamatan—dengan pasar dan kantor camat di pinggir jalan utama—, yang mendadak menjadi kota kabupaten karena pemekaran wilayah. Lokasinya yang membuat kota kami terpilih—dan kompleks kantor kabupaten, terletak di belakang kantor camat; bahkan si kantor camat itu dirombak jadi si rumah dinas bupati, lalu alun-alun dan seterusnya, sedang kantor camat pindah ke lokasi baru yang lebih ke dalam.
Bahkan proyek pertama, jauh sebelum pusat pemerintahan kabupaten pindah, adalah pembuatan jamban bersama. Tersebab mayoritas penduduk kota kami, dahulu, merupakan penjemur pantat di pinggir kali ketika buang air besar. Sigap bersijongkok menghadap ke dinding aluran—aurat teraling—, dan membiarkan anus dan kelengkapannya menyelesaikan impuls metabolisme. Ini tersebabkan, secara planologia, hampir separuh kota kami dikelilingi saluran irigasi. Dari selatan lurus ke utara, sejajar sungai kota, melintasi rel dan jalan provinsi, lantas membelok ke barat sampai ke ujung kota dan dipecah menjadi saluran-saluran yang lebih kecil.
Itu saluran bersejarah, karena dibangun di zaman Belanda ketika perkebunn tebu diunggulkan, serta dipaksakan penjajah yang mengerti besarnya keuntungan dari sewa sawah rakyat murah, dan karenanya sejak lama warga kota dilatih sering menganggur, banyak berkumpul di sore hari, berjudi serta minum-minum arak Jawa sambil sesekali menari Tayub. Karena itu, lahan selalu ditata kering agar tebu siap dipanen.
Jadi, bila sempat, mampirlah ke irigasi. Dulu, setiap orang memamerkan pantat sebagai kekayaan lokal—si cantik, jelek, tampan, atau cacat—, serta terkadang dengan membawa payung buat melabi wajah dan bagian depan tubuh dari banyak orang yang jalan di sempadan irgasi—kalau yang muda dan cantIk bergerak ke irigasi, maka setiap lelaki jadi beriringan lewat dan di ujung, di Pos Kamling sebelah jembatan, berdiskusi tetang pantat si bersangkutan. Topik yang tak pernah habis didiskusikan.
Hal itu membuat kota kami—sebagai si wakil kabupaten—: kalah ketika penilaian lomba Adipura, dianggap kota kabupaten yang tidak punya planologi lingkungan dan kesehatan. Jadi, setelah itu, Pemda membuat gebrakan: jamban bersama, nyaris di tiap titik sejarak 100 m, di kiri dan di kanan, tergantung di sebelah mana banyaknya rumah —si seterusnya ya sawah kering setelah panen dan siap ditanami lagi tebu, hingga warga kami sering menganggur sebelum di sana didirikan rumah, dan jadi anggota warga jamban terpanjang di dunia—oleh seorang teman disebut sebagai posmo, pos mod.
Tapi itu tidak pernah dipakai, orang terbiasa menghilirkan hajat, membasuh perlengkapan hajat, dan bergegas pulang tanpa harus menyiram. Jadinya banyak sekali bangunan jamban terlantar, meski tegakan sumur pompanya dimanfaatkan buat menyedot air. Meski bukan itu yang menyebabkan si jamban dihindari. Sebab, sebenarnya—cerita ini tak pernah sampai ke pihak berwenang—jamban yang tak punya penerangan itu, meski sebagian diberi listrik dari rumah penduduk, sering suram dan sangat kelam di malam hari. Katanya—terutama di jamban di dekat belokan irigasi pada titik paling timur-laut ketika alur dari selatan berkelok ke barat—di sana pernah terjadi beberapa orang hilang. Lenyap bagai diserap. Disedot kelam.
Seorang wanita muda, bersuamikan warga kami, serta ia berasal dari Surabaya, mampir dan tak kembali lagi; kemudian seorang lelaki tua, dan terakhir seorang anak kecil. Hal itu membuat semua orang percaya bahwa jamban itu merupaan sebuah altar kurban, buat memuliakan kejayaan orang besar—tanpa orang kota kami berani menyebutkan namanya—, dan karenanya, mendadak saja orang merubuhkan jejeran jamban itu—meski tetap membiarkan tegakan pompa airnya, atau memindahkan pompa airnya lebih ke dalam kampung—, terutama yang dibangun pada tanah milik penduduk, yang ngotot berencana akan membangun rumah di tempat itu. Deproyekisasi jadinya.
Memang, selain tegakan pompa air, masih ada jamban yang dipertahankan utuh, terutama yang terletak amat benderang—meski selalu dihindari banyak orang. Tapi bisa dikatakan bahwa proyek jambanisasi itu gagal, meski secara alami kebiasaan buat posmo di saluran irigasi itu menghilang. Disebabkan industri tanaman tebu rakyat—yang menghasilkan si tokoh paling kaya di kabupaten kami, yang akan diceritakan di kisah lain—tidak lagi bisa dipaksakan pada pemilik sawah, yang disewa murah dengan mempergunakan perangkat birokrat yang gila menyukseskan program intensifikasi tebu rakyat.
Kemudian perkembangan kota memaksa banyak warga memanfaatkan saluran irigasi itu buat membuang sampah dan segala bangkai, sehingga meski tak mengental menghitam saluran itu tidak lagi nyaman dipakai melamun sambil menjemur si pantat telanjang. Karenanya semua rumah tangga mendadak merasa perlu bikin kakus pribadi. Lucu juga. Jamban dihancurkan sebab tak berpenerangan dan katanya kekelaman dan kesuramannya suka menculik orang hidup, dan kala si jamban habis dirubuhkan, diprivatisasi, orang memilih membuat jamban pribadi karena saluran irigasi jadi tempat sampah terpanjang. Memang.
Tapi, kata orang, an urban legen tentang si tangan hitam yang suka mencekik orang yang tersembunyi dalam remang dan kemudian mencekiknya sehingga segera menyublim kehilangan cairan dan butiran fisiknya itu—jadi itu lebih rakus dari si laba-laba yang paling buas—, bahkan sebenarnya si itu menelan serta menyesap korbanya seperti amuba melakukan proses aneksasi dengan mengeksternalkan eksistensi korban ke dalam dirinya itu, terus berlanjut, meski tidak sering ada cerita jamban yang kelam menculik orang.
Katanya—sehingga orang sangat menghindar berjalan di pingir saluran irigasi biasanya setelah kelam turun, terutama kalau melewati di julangan rumpun bambu, pohon waru, kluwih dan seterusnya—, mulai lagi ada orang hilang di saluran irgasi. Katanya, ia bergegas lewat, sambil merokok serta satu tangan lainnya membawa lampu senter, yang digerak-gerakan membuat bulatan sinar ada di depanya, dan sesekali berkelebat di sampingnya pada semak dan aliran irigasi—sebelum ia membelok di ujung jembatan dan terus berjalan di jalur aspal. Tapi, katanya, ia tidak sampai di rumah yang akan ditujunya dan juga tak pernah kembali. Ketika dicari di semua warung kaki lima juga tak ada. Dan setelah lima hari dicari tidak pernah ketemu atau sekadar ada orang yang bilang telah melihatnya, maka pada hari keenam, lewat Magrib, diselenggarakan satu Tahlilan tanpa pernah melakukan penguburan. Memang.
Ia disebut dicerabut kelam, meski ada orang—temannya dari teman dari keluarga salah seorang warga kota kami—yang telah melihatnya jadi kuli di Selangor—tampaknya ia melarikan diri karena tak kuat membayar utang. Seperti si istri muda dari Surabaya yang kemudian dikenali sebagai TKW malang di Hongkong, yang mengalami kecelakaan, meninggal dan pulang sebagai mayat—meski yang dua orang lagi tidak pernah ditemukan lagi. Memang—mutlak ditelan kelam. q-c

Caruban, April 2017
*) Beni Setia, pengarang. Email: benisetia54@yahoo.com

Bertahan



Saat aku bercerita, terkadang mereka hanya bisa melontarkan kata sederhana, sabar
Lain dari itu, ada juga yang bilang bahwa aku cukup bodoh karena masih selalu bertahan pada cinta yang tidak harus ku kejar
Dan yang lebih menyedihkan, aku dianggap terlalu berlebihan
Semudah itukah kalian berkomentar

Aku hanya ingin didengarkan,
Tapi tak bisakah jika kalian berkomentar lebih sopan?
Agar tidak menyinggung atau bahkan melukai perasaan
Kalian bisa dengan mudah berkomentar karena kalian tidak sedang merasakan
.
“Tinggalkan dia! Lupakan saja! Masih begitu banyak orang yang lebih baik darinya!”
.
Itu pun juga sering ku dengar
Kalian kira itu mudah?
Jika hanya sekedar menuliskan/mengatakan saja, aku pun juga bisa melakukannya
Ketahuilah. Jika aku bisa, jika aku mampu, jika memang semua itu semudah apa yang kalian katakan, mungkin sedari dulu sudah ku lakukan
Tapi nyatanya? Dibalik keinginan, ada Allah yang menentukan
Termasuk juga hatiku sendiri, itupun sudah Allah rencanakan

Maaf, aku belum cukup mampu untuk mengendalikan rasa
Walau sebisa mungkin aku berusaha, sepertinya aku masih belum bisa
Aku hanya manusia biasa, yang harus tetap mengikuti alur ceritaNya
Itu sebabnya, sampai saat ini aku masih berusaha bertahan dengan perasaan yang sama, dan pada orang yang sama pula
Dia. Ya, seseorang yang selalu ku damba dan tak lepas dari do'a

Aku pun tidak ingin terus berlarut dalam perasaan seperti ini
Aku tidak paham, inikah cinta? Sekedar suka? Atau nafsu semata?
Kenapa harus dia orangnya?
Kenapa aku harus menaruh hati pada dia yang tidak menyukaiku sama sekali?
Itu yang selalu ku fikirkan dikala sepi
Tapi naluriku berkata, “ingatlah, dalam setiap kejadian akan selalu ada hikmahnya”

Aku berusaha untuk menjadi pemeran yang setia
Tanpa mengeluh, tanpa bersedih
Sekuat mungkin aku mencoba agar aku bisa
Meski tak jarang aku lalai dalam tekad yang ku rangkai


Kepada Sebuah Nama



Kepada sebuah nama,

Kamu, seseorang di sana. Entahlah ini perasaan atau apa, yang pasti, selalu ada denyut yang lebih kencang saat aku bertemu denganmu. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?
.
Tapi baik.
Cukup pertanyaan itu kulontarkan dalam hati saja. Tak perlu terkirim ke ponselmu. Perasaan ini sudah berulang kali hadir, hingga aku meyakini bahwa hati memang selalu berbolak balik.
.
Ketahuilah bahwa hubungan yang diawali dengan ucapan 'aku padamu' hanya kamuflase belaka. Jangankan Allah, bahkan negara pun tak sudi mengakuinya. Aku tidak ingin menjadi pacarmu.
.
Aku hanya akan menumpahkan semua rasa, asa, dan cinta pada ia yang jelas-jelas direstui oleh agama, negara, dan keluarga. Pada pasangan yang kelak di-ikat dengan janji suci berkalimat... qabiltu.
.
Sekarang, izinkan aku untuk menunduk saat kita berpapasan, ya. Aku memang selalu tersenyum padamu, tersenyum pada punggungmu. Walau aku harus mengakhiri senyuman itu dengan ucapan istighfar. Dan satu lagi, biarkan kontakmu kusimpan ,tanpa perlu bersaling sapa. Tanpa harus bertanya mesra. Walau sebenarnya ada sejuta kata yang ingin kusampaikan padamu.
.
Ketahuilah bahwa, boleh jadi perasaan kita memang sama, tapi jodoh tidak selalu sama. Aku takut kamu adalah taqdir orang lain. Pula, tak ada jaminan kalau akulah taqdir kamu.
.
Baiklah. Jika kita memang ingin tetap bersama, maka saat ini bersamalah dengan cara mengadah kepada Allah. Bermunajatlah dengan doa yang sama.
.
Apa?
.
Berdoalah, semoga perasaan ini bukanlah sebuah dosa. .

Anne Ahira Newsletter

Think & Succeed!
----------------------------------

 "Aku peringatkan kalian terhadap kata
'nanti', karena kata ini telah banyak
menjebak para pelaku untuk terhalang
dari kebaikan dan menunda-nunda
proses perbaikan diri" - Ulama
Dear Hanihyung, temanku yang tegar
dan berani...
Kita tidak akan pernah tahu apa yang
akan terjadi di masa depan jika kita
tidak memulainya sekarang dan hanya
menunggu.
Curahkanlah seluruh tenaga dan
pikiran untuk melakukan pekerjaan dan
kesempatan yang bisa dilakukan saat
ini.
Lakukanlah tugas sebaik-baiknya
selama kita memiliki waktu. Jangan
membiarkan waktu berlalu, dan
sia-sia.
Ambisi dan mimpimu adalah samudra.
Meski kadang terjadi pasang surut,
tapi takkan pernah surut airnya.
Oleh sebab itu, bersemangatlah
selalu, meski perkerjaannya sekecil
apapun. Jangan pernah menunda-nunda
apa yang bisa dilakukan hari ini.
Ingatlah, engkau insan manusia yang
luar biasa! Hindari selalu menunggu
motivasi untuk bergerak, tetapi
bergeraklah sekarang juga, dan dirimu
akan termotivasi dengan sendirinya!

Setiap insan manusia dilahirkan luar
biasa.
Kita semua sebenarnya diberi
kemampuan dan potensi yang besar dan
hebat.
Oleh sebab itu, kembangkanlah
setiap potensi yang ada semaksimal
mungkin, dan gunakan dengan tepat,
agar bermanfaat bagi sebanyak umat.